BAB III BATAS USIA NIKAH MENURUT PERATURAN PERUNDANG-
A. Batas Usia Nikah di Indonesia
3. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan anak pasal 1. Menjelaskan, bahwa anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih ada didalam kandungan. Dan perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-hanya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.68
Pada Bab IV Undang-Undang Perlindungan Anak juga dijelaskan tentang Kewajiban dan Tanggung Jawab Orang Tua yang terdapat pada Pasal 26 ayat (1) yang menjelaskan bahwa:
Orang tua berkewajiiban dan bertanggung jawab untuk: (a) mengasihi, memelihara, mendidik dan melindungi anak; (b) menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan bakat, dan minatnya; dan (c) mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.
Upaya perlindungan anak perlu diperhatikan sedari dini, sejak anak masih janin dalam kandungan hingga anak berusia 18 (delapan belas) tahun. Bertitik tolak dari konsepsi perlindungan anak yang utuh, menyeluruh, dan komprehensif, undang-undang ini meletakkan kewajiban memberikan perlindungan kepada anak berdasarkan asas-asas nondiskriminasi; kepentingan yang terbaik bagi anak; hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan penghargaan terhadap pendapat anak. Dijelaskan juga dalam ayat (2) Pasal 26 UU Perlindungan Anak Bab IV bahwa:
Dalam hal orang tua tidak ada, atau tidak diketahui keberadaannya, atau karena suatu sebab, tidak dapat melaksanakan kewajiban dan tanggung
68 https://www.jogloabang.com/pustaka/uu-35-2014-perubahan-uu-23-2002-perlindungan-anak. Di akses pada tanggal 12 Juni 2021 pukul 14.30 wib.
42
jawabnya, maka kewajiban dan tanggung jawab sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat beralih kepada keluarga, yang dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.69
Pembatasan usia nikah ini menjadi sebuah ketentuan yang sangat penting karena beberapa hal yang melatarinya. Terutama terkait dengan hak-hak perempuan dan anak itu sendiri. Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Pusat Studi Wanita (PSW) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, telah disebutkan rata-rata usia meikah yang idela bagi perempuan berkisar pada usia 19,9 tahun dan 23,4 tahun bagi laki-laki. Untuk ukuran ini, tidak semata menjadi sebuah pertimbangan secara biologis, akan tetapi terkait psikologis dan sosial. Kematangan usia ini merupakan akumulasi dari kesiapan fisik, ekonomi, sosial, mental atau kejiwaan, agama, dan budaya.70
Selain aspek yang telah disebutkan di atas, ada aspek lain yang kaitannya erat dengan batas usia perkawinan ini, yakni kehamilan. Kehamilan ini juga memiliki keterkaitan dalam berbagai aspek seperti kondisi sosio ekonomi dan kesehatan masyarakat. Tetapi, menurut banyak penelitian seperti yang dikutip oleh Erick Eckholom dan Khatleen Newland, kemungkinan seorang ibu meninggal atau anaknya meninggal atau menderita peyakit bertambah besar bila seorang ibu harus melahrikan terlalu dini atau terlalu lambat. Perempuan yang secara fisik belum matang akan menghadapi bahaya yang lebih besar ketika melahirkan dan kemungkinan besar akan melahirkan anak yang lemah dibandingkan dengan perempuan yang sudah benar-benar matang atau dewasa yang berkisar pada usia dua puluh tahun atau lebih. Penyebab dari terjadinya perkawinan dini antara lain, adalah terkait dari cara pandang masyarakat yang sangat sederhana terhadap perkawinan. Faktor pendidikan, ekonomi, keluarga, maupun kebiasaan masyarakat itu sendiri. Masih tingginya angka perkawinan dini ini merupakan gejala umum yang tidak hanya terjadi di Indonesia. Di beberapa
69 https://www.jogloabang.com/pustaka/uu-35-2014-perubahan-uu-23-2002-perlindungan-anak. Di akses pada tanggal 12 Juni 2021 pukul 14.33 wib.
70 Ahmad Tholabie Kharlie, Hukum Keluarga Indonesa, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), h. 204.
43
negara muslim yang melakukan pembaruan hukum keluarga dapat dikatakan angka praktik perkawinan dini pun tidak jauh berbeda dengan Indonesia.71
Banyaknya praktik pembatasan perkawinan di Indonesia. Meski dari angka statistik yang telah dikeluarka oleh BPS dari tahun ke tahun meunjukkan peningkatan usia, namun dalam praktiknya ternyata perkawinan usia dini masih banyak dilakukakn di Indonesia. Dalam kaitannya dengan pembahasan batas minim usia untuk nikah, ada baiknya disinggung sedikit tentang pendidikan orang yang hendak melangsungkan perkawinan tersebut. Kalau sistem pendidikan di Indonesia yang di jadikan acuan, maka jumlah pernikahan di bawah umur atau nikah pada umur yang telah di atur dalam Undang-undang Perkawinan, maka sama halnya menghancurkan masa depan anak itu sendiri.72
Didalam Undang-undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak, dalam Pasal 1 angka 2 menyatakan bahwa anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum pernah kawin. Dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia juga menyatakan dalam Pasal 1 angka 5 bahwa anak dalah setiap manusia yang berusia 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masi didalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.73
Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia, ada yang dikenal dengan Pendidikan Dasar sebagaimana tercantum di dalam Pasal 1 PP Nomor 28 Tahun 1990 yang disebutkan bahwa: “Pendidikan Dasar adalah pendidikan umum yang lamanya sembilan tahun, diselenggarakan enam tahun di Sekolah Dasar dan tiga tahun di Sekolah Lanjutan Pertama atau satu pendidikan yang sederajat”.74
Pada umumnya, seorang anak memasuki Sekolah Dasar pada usia 6 sampai 7 tahun, maka ketika anak berusia 15 atau 16 tahun ia baru saja menyelesaikan jenjang Pendidikan Dasar. Suatu hal yang naif bila seorang anak hanya dibekali dengan pendidikan dasar, seseorang sudah cukup untuk memahami arti penting
71 Ahmad Tholabie Kharlie, Hukum Keluarga Indonesia, h. 205.
72 Ahmad Tholabie Kharlie, Hukum Keluarga Indonesia, h. 147.
73 Definisi anak yang lain juga dapat dilihat dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak.
74 Pasal 1 Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1990 tentang Pendidikan Dasar.
44
tujuan pernikahan, termasuk dalam hal pendidikan rumah tangga. Rachmat Djatnika berkesimpulan bahwa hukum Islam di Indonesia dalam kehidupan masyarakat dilakukan dengan penyesuaian pada budaya Indonesia yang hasilnya kadang berbeda dengan hasil ijtihad penerapan hukum Islam di negeri-negeri Islam lainnya. Warisan, wakaf, hibah. Demikian pula penerapan hukum Islam dilakukan melalui yurisprudensi di Pengadilan Agama.75
Dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia (DUHAM) adalah sebuah deklarasi yang diadopsi oleh Majelis Umum PBB pada tanggal 10 Desember 1948 di Palais de Challiot, paris. Pasal 16 disebutkan bahwa:
(1) Laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa, dengan tidak dibatasi kebangsaan, kewarganegaraan atau agama, berhak untuk menikah dan untuk membentuk keluarga. Mereka mempunyai hak yang sama dalam perkawinan, di dalam masa perkawinan dan di saat perceraian. (2) Perkawinan hanya dapat dilaksanakan berdasarkan pilihan bebas dan persetujuan penuh oleh kedua mempelai. Dan mendapat perawatan dan bantuan istimewa. Semua anak-anak, baik yang dilahirkan di dalam maupun diluar perkawinan, harus mendapat perlindungan sosial yang sama.76
Tak hanya itu, secara umum Konvensi CEDAW (Concention On The Elimination of All Forms of Discrimination againts Women) mewajibkan negara-negara pihak untuk “mengejar kebijakan untuk menghapuskan diskriminasi terhadap perempuan melalui semua upaya yang tepat dan segera”. Upaya konkret tersebut dicantumkan pula dalam Lembar Fakta HAM Nomor 22 tentang Konvensi dan Komite Diskriminasi terhadap Perempuan bahwa negara-negara bersangkutan wajib mengupayakan kebijakan, meliputi:
(a) Memasukkan asas persamaan antara laki-laki dan perempuan dalam Undang-Undang Dasar atau perundang-undangan lain untuk menjamin realisasi praktis pelaksanaan dari asas ini; (b) Membuat peraturan perundang-undangan
75 Ahmad Rofiq, Hukum Perdata Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2013),h. 61-62.
76 Ahmad Tholabi Kharlie, Hukum Keluarga Indonesia, (Jakarta: Sinar Grafika, 2013), h. 271.
45
serta upaya-upaya lain,termasuk sanksi-sanksi, yang melarang semua diskriminasi terhadap perempuan; (c) Menetapkan perlindungan hukum terhadap hak perempuan atas dasar persamaan dengan kaum laki-laki, dan untuk menjamin perlindungan bagi kaum perempuan yang aktif dari setiap perilaku diskriminatif, melalui pengadilan nasional yang kompeten dan badan-badan pemerintah lainnya; (d) Menahan untuk tidak melakukan suatu tindakan diskriminasi terhadap perempuan, dan menjamin agar pejabat dan lembaga publik akan bertindak sesuai dengan kewajiban ini; (e) Mengambil semua langkah-langkah yang tepat untuk menghapus perlakuan diskriminatif trhadap perempuan oleh orang, organisasi atau lembaga apapun; (f) Mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mengubah dan menghapus undang-undang, peraturan, kebijakan, dan praktik-praktik yang ada yang merupakan diskriminasi terhadap perempuan; (g) Mencabut semua ketentuan pidana nasional yang merupakan diskriminasi terhadap perempuan.77