• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. Unit Kesehatan Anak 3. Unit Bedah

4. Bagian Kebidanan dan Penyakit Kandungan 5. Unit Bedah Saraf

6. Unit Ilmu Penyakit Telinga-Hidung-Tengorokan. 7. Unit Penyakit Mata

8. Unit Penyakit Gigi dan Mulut 9. Unit Penyakit Saraf

10.Unit Kedokteran Jiwa (Psikiatri) 11.Unit Penyakit Kulit dan Kelamin 12.Unit Radiodiagnostik

13.Unit Radioterapi 14.Unit Anestesiologi

15.Unit Rehabilitasi Medik (URM) 16.Instalasi Laboratium Klinik 17.Intalasi Patologi Anatomik 18.Instalasi Gawat Darurat 19.Instalasi Bedah Pusat 20.Instalasi Perawatan 21.Instalasi Farmasi

22.Instalasi Farmakologi Klinik 23.Instalasi Gizi

24.Instalasi Pemeliharaan Sarana 25.Instalasi Kamar Jenazah

Dari beberapa unit dan instalasi yang ada di RSCM, instalasi kamar jenazah merupakan obyek yang akan penulis teliti. Perkembangan Instalasi Kamar Jenazah dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu3;

1. Masa sebelum tahun 1970

Pada masa tersebut kamar jenazah merupakan tempat penampungan jenazah yang berasal dari yang meninggal di RSCM dan jenazah yang berasal dari luar RSCM yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memperoleh Visum et Repertum.

3

Kamar jenazah terdiri atas beberapa kamar tempat meletakkan jenazah sebelum diambil oleh keluarganya. Selain kamar-kamar itu terdapat pula tempat untuk membersihkan jenazah, tempat kereta jenazah dan kamar mandi sederhana. Di antaranya kamar-kamar itu terdapat lorong yang menghubungkan halaman Universitas Indonesia dengan RSCM. Pegawai yang berkerja terdiri atas 15 orang yang dikepalai oleh M.Yusa. secara bergiliran pegawai-pegawai ini menjaga Kamar Jenazah selama 24 jam. Tugas mereka hanyalah menjaga jenazah. Dia antara mayat-mayat yang berasal dari luar RSCM, ada yang tidak jelas keluarganya, atau ditemukan sudah dalam keadaan busuk.

2. Masa antara tahun 1970 sampai 1978

Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan yang mendasar, baik fisik maupun organisasi di kamar jenazah. Dengan tujuan agar bagian Patologi Anatomik bisa terlepas dari gangguan kamar jenazah, Prof. dr. Rukmono yang menjadi kepala bagian Patologi Anatomi minta kepada Direktur RSCM yaitu Prof. dr. Odang, agar diperbolehkan mengurus kamar jenazah. Tawaran ini tentu saja disambut gembira oleh Direktur RSCM. Dengan dibantu oleh dr. Sutjahjo Endardjo, salah satu asisten bagian Patologi Anatomik, Prof. dr. Rukmono mulai mengatur dan mengadakan perbaikan-perbaikan antara lain;

a. Membuat ketentuan bahwa jenazah yang sudah di kamat jenazah lebih dari 48 jam akan dikubur. Untuk ini diadakan kerjasama dengan pihak Pemerintah Daerah DKI.

b. Mengadakan perbaikan gedung kamar jenazah dengan dana dari RSCM atau dari Departemen Kesehatan RI.

c. Kamar-kamar tempat penyimpanan mayat dibongkar sama sekali dan pada naungan yang baru diadakan.

d. Tempat untuk menunggu jenazah yang sekaligus dapat dijadikan tempat untuk upacara.

e. Tempat untuk adminitrasi.

f. Tempat penyimpanan jenazah berupa lemari pendingin. g. Tempat memandikan jenazah.

h. Perbaikan pagar kamar jenazah yang merupakan sumbangan dari para ibu Angkatan Laut (Jalaselastri).

i. Mengadakan mobil untuk mengangkut jenazah. Karena dana yang sangat terbatas maka mula-mula yang digunakan sebagai mobil jenazah adalah mobil bekas dari dr. Tumbelaka ( Staf senior dari Bagian Ilmu Kesehatan Anak). Dengan sarana fisik yang serba sederhana dan adminitrasi yang mulai teratur kamar jenazah berhasil menghimpun dana yang berasal dari sewa kendaraan jenazah, dengan dana inilah perbaikan-perbaikan terus diadakan. Pada tahun 1973, Prof. dr. Rukmono diangkat menjadi Direktur RSCM, sehingga praktis kamar jenazah tidak ada yang mengatur. Dengan persetujuan Dekan Falkutas Kedokteran UI Prof. H. Djamaloeddin pada tahun 1973 menunjuk dr. I Made Nasar asisten di bagian Patologi Anatomi untuk menjadi Kepala Kamar Jenazah. Didalam pengelolaan keuangan kamar jenazah pada periode ini bersifat otonom, maka dari seluruh penghasilan

kamar jenazah dapat digunakan kembali untuk keperluan pelayanan dan pembangunan kamar jenazah serta pembelian sarana. Walupun bersifat otonom namun setiap bulan pengelola kamar jenazah diwajibkan membuat laporan keuangan kepada Direktur. Perubahan atau pengembangan penting yang terjadi pada masa ini ialah:

Tahun 1976:

a. Pembangunan bagian belakang kamar jenazah meliputi tempat pemandian jenazah, tempat peti, dan brankar jenazah.

b. Pembuatan lemari pendingin mayat sampai mencapai 4 unit, tiap unit dapat diisi dengan 3 mayat.

Tahun 1978:

a. Pembelian kendaraan jenazah 2 buah. b. Pemugaran ruang upacara.

Organisasi dikamar jenazah juga mulai lebih teratur, sejalan dengan jenis pelayanan yang dapat diberikan yaitu:

a. Memandikan mayat.

b. Persiapan sampai jenazah siap dikubur.

c. Membantu menguruskan surat jalan bila jenazah akan dibawa ke luar DKI sesuai dengan peraturan DKI.

d. Pengangkutan jenazah,dll.

3. Masa sesudah tahun 1978

Dengan keluarnya Surat Keputusan Menkes No.134 tahun 1978, tiap rumah sakit termasuk RSCM harus menyesuaikan organisasi maupun kegiatan dengan SK (Surat Keputusan). Dalam SK.134 ditentukan kamar jenazah merupakan suatu Instalasi. Dengan ditetapkannya kamar jenazah menjadi suatu Instalsi rumah sakit.

Instalasi Kamar Jenazah kemudian mendapat dana untuk perbaikan gedung dan pengadaan lemari pendingin mayat yang baru, tetapi di lain pihak Instalasi Kamar Jenazah harus memasukkan semua penghasilan ke Kas Negara sebagai bagian dari penghasilan RSCM. Sampai akhir tahun 1978, walaupun penghasilan telah disetor kepada Bendahara RSCM, namun Instalasi Kamar Jenazah masih diperbolehkan memakai uang setoran itu untuk keperluan di kamar jenazah sendiri.

a. Tahun 1982 kamar jenazah mendapat sebuah mobil jenazah dari RSCM. b. Tahun 1984 membeli mobil jenazah dengan uang penghasilan kamar jenazah. c. Tahun 1986 untuk terakhir kalinya membeli sebuah mobil jenazah lagi.

Mulai tahun 1988 Instalsi Kamar Jenazah sudah benar-benar merupakan suatu Instalasi Rumah Sakit, seluruh kegiatan pelayanan maupun pembangunan harus melalui perencanaan yang matang.

Saat ini Instalasi Kamar Jenazah telah mempunyai sarana untuk pelayanan berupa; a. 5 buah mobil jenazah.

c. Ruang untuk upacara. d. Ruang untuk adminitrasi. e. Musholla.

f. Tempat pemandian jenazah. g. Tempat penyimpanan peti. h. Tempat brankar.

i. Pelayana yang dapat dilakukan ialah : j. Pembuatan surat kubur atau Surat Kematian. k. Memadikan jenazah.

l. Penyimpanan jenazah. m. Pemulasaran jenazah. n. Pengangkutan jenazah.

o. Membantu pengurusan surat-surat jalan, pengawetan dan penguburan.

Pada saat ini terjadi beberapa peristiwa yang menimbulkan banyak korban, yaitu peristiwa ledakan pabrik mercon, kebakaran pabrik konfeksi dan terakhir kejadian kecelakaan kereta api di Bintaro. Pada kejadian-kejadian tersebut Instalasi Kamar Jenazah telah membuktikan dapat menyelesaikan dengan baik urusan jenazah secara massal.

Hingga pada tahun 2007, instalasi kamar jenazah bergabung dengan bidang Forensik dengan nama Departemen Forensik dan Medikolegal. Dengan bergabungnya dua instalasi tersebut dengan mempunyai cakupan ilmu dan tujuan yang sama di dalam memajukan visi dan misi untuk menjadi yang terunggul di asia

pasifik. Maka, tepatnya pada tahun 2007 diresmikanlah dengan nama Departemen Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo.4

Dokumen terkait