F. BARANG BUKTI
VII. ANALISA YURIDIS
2. Unsur “melakukan makar”
VII. ANALISA YURIDIS Majelis Hakim Yang Terhormat, Saudara Jaksa Penuntut Umum Yang kami Hormati, Panitera Pengganti Yang Kami Hargai.
Dalam Surat Tuntutan/Requisitoirnya yang dibacakan hari Selasa tanggal 5 Juni 2020 Sdr. Jaksa Penuntut Umum telah berpendapat bahwa terdakwa FERRY KOMBO telah terbukti bersalah melakukan Tindak Pidana “Makar”, sebagaimana yang didakwakan dalam Dakwaan Kesatu yaitu melanggar Pasal 106 KUHP Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHP. Setelah mengemukakan fakta-fakta persidangan, menganalisa fakta-fakta, maka sampailah kami pada analisa hukum, dimana dalam analisa hukum kami ingin mengaitkan antara unsur-unsur yang terkandung dalam pasal dakwaan yang kemudian dijadikan Tuntutan pidana oleh Saudara Jaksa Penuntut Umum dengan fakta-fakta obyektif yang terungkap dalam pemeriksaan di persidangan.
Sebagai bahan pemikiran dan Pembuktian terhadap analisa unsur-unsur dalam DAKWAAN KESATUhendaknya dilihat fakta persidangan yang terungkap, bahwa Terdakwa FERRY KOMBO tidak melakukan tindak pidana Makar seperti yang didakwakan oleh Jaksa Penuntut Umum.Hal ini dapat kami buktikan di bawah ini:
1. Unsur ‘Barangsiapa’
Didalam setiap rumusan pasal-pasal KUHP maupun tindak pidana, unsur (bestitelen) “Barangsiapa” merupakan sebuah kata yang penting di dalam melihat kesalahan dan pertanggungjawaban pidana. Sebagai sebuah kata “Barangsiapa” maka memerlukan kajian yang cukup serius dalam asas kesalahan dan pertanggungjawaban pidana dalam upaya pembuktian.
Bahwa unsur “Barangsiapa” disini adalah orang sebagai subjek hukum yang dapat dipertanggungjawabkan terhadap delik; yang dalam perkara ini Jaksa Penuntut Umum mengajukan Terdakwa FERRY KOMBO yang telah dilakukan penyidikan, maupun telah diperhadapkan dalam proses pemeriksaan di persidangan terhadap Dakwaan dan Tuntutan Pidana yang ditujukan kepadanya. Unsur “Barangsiapa” tidak dapat ditujukan kepada diri terdakwa karena menentukan unsur ini tidak cukup dengan menghubungkan terdakwa sebagai perseorangan sebagaimana manusia pribadi atau subyek hukum yang diajukan sebagai terdakwa dalam perkara ini, akan tetapi yang dimaksud “Barangsiapa”dalam undang-undang adalah orang yang perbuatannya secara sah dan meyakinkan terbukti memenuhi semua unsur dari tindak pidana. Jadi untuk membuktikan unsur “Barangsiapa” harus dibuktikan dulu unsur lainnya.
Dengan demikian Unsur “Barangsiapa”, yang didakwa dan dituntut kepada Terdakwa, belum terbukti dan terpenuhi secara sah menurut hukum, karena masih tergantung pembuktian unsur-unsur lainnya.
2. Unsur “melakukan makar”
Menurut R. Soesilo, (dalam KUHP serta Komentar-komentarnya, hal.109):
a. Tentang “aanslaag” (makar, penyerangan) dapatlihatpadapasal 87 KUHP yang berbunyi: Dikatakan ada makar untuk melakukan suatu perbuatan, apa bila niat
untuk itu telah ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, seperti dimaksud dalam Pasal 53”.
b. Obyek dalam penyerangan ini adalah kedaulatan atas daerah Negara Kedaulatan ini dapat dirusak dengan dua macam cara, ialah dengan jalan:
§ Menaklukkan daerah Negara seluruhnya atau sebagian kebawah pemerintah Negara Asing yang berarti menyerahkan daerah itu (seluruhnya) atau sebagian kepada kekuasaan Negara Asing misalnya daerah Indonesia (seluruhnya) atau daerah Kalimantan (sebagian) diserahkan kepada Pemerintah Inggris, atau
§ Memisahkan sebagian dari daerah Negara itu yang berarti membuat bagian daerah itu menjadi suatu Negara yang berdaulat sendiri, misalnya memisahkan daerah Aceh atau Maluku dari daerah Republik Indonesia untuk dijadikan Negara yang berdiri sendiri.
Perlu diketahui pula, bahwa kapan seseorang dapat dianggap telah melakukan makar (aanslag). Bahwa untuk dilakukannya makar itu, harus sudah ada perbuatan melawan (verzetsdaad) yang nyata.
Menurut (Moeljatno, 1982:13) delik makar merupakan turunan dari delik percobaan, hanya saja jika dalam delik percobaan memiliki tiga unsur yaitu “niat”, “permulaan pelaksanaan”, “berhentinya permulaan pelaksanaan bukan dari keinginan pelaku”. Makar berhubungan dengan integritas dan wilayah Negara, dengan membawa kebawah kekuasaan asing. Artinya ialah menyerahkan Negara kepada kekuasaan asing, sehingga ke daulatan negara sebagai suatu negara merdeka menjadi hapus. Negara dijadikan Negara jajahan atau dibawah kedaulatan Negara lain, sehingga Negara kehilangan sama sekali kemerdekaannya.
Berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di persidangan dari keterangan para saksi, ahli dan barang bukti serta keterangan Terdakwa: Bahwa aksi tanggal 19 Agustus 2019 dan tanggal 29 Agustus 2019 adalah respon terhadap aksi rasis yang terjadi di Surabaya terhadap mahasiswa Papua. Aksi ini bertujuan agar negara menghapuskan praktek rasisme dengan menghukum pelaku dan memberikan perlindungan terhadap orang Papua. Jika tidak ada aksi rasisme di Surabaya tentu tidak akan ada aksi menentang rasisme yang terjadi di berbagai kota di Papua termasuk di Jayapura.
Bahwa pada tanggal 18 Agustus 2019 Terdakwa FERRY KOMBO bersama saksi YAPPI PAHABOL mengikuti rapat yang dihadiri oleh BEM se Jayapura dan kelompok Cipayung untuk mempersiapkan aksi 19 Agustus 2019. Bahwa pada rapat tersebut menghasilkan pernyataan yang isinya:
- Stop intimidasi dan rasisme terhadap mahasiswa Papua
- Tangkap pelaku rasisme dan intimidasi mahasiswa di Surabaya
- Wakil Walikota Malang segera meminta maaf kepada mahasiswa dan rakyat Papua secara keseluruhan;
- Meminta kepada presiden untuk memberikan jaminan perlindungan keamanan terhadap mahasiswa Papua di seluruh Indonesia.
Bahwa dalam rapat spanduk yang disiapkan bertuliskan STOP INTIMIDASI DAN RASIS TERHADAP MAHASISWA PAPUA DI SURABAYA DAN BEBERAPA KOTA STUDY LAIN DIINDONESIA sedangkan pada saat aksi dilaksanakan secara spontanitas mucul poster-poster;
Bahwa aspirasi kepada gubernur Papua di kantor gubernur Papua.
Bahwa Terdakwa berkordinasi dengan Kasat Intel Polda Papua pada tanggal 19 Agustus 2019 jam 09.00 WIT saat massa aksi sedang berkumpul dan Kasat Intel Polda Papua mengatakan AKSI DAPAT DILAKSANAKAN TAPI JANGAN ANARKIS;
Bahwa saat aksi tiba di kantor gubernur, Terdakwa FERRY KOMBO mewakili BEM Se kota Jayapura menyerahkan pernyataan ke gubernur Papua setelah itu Gubernur membentuk tim dan Forkopimda Papua serta terdakwa dan saksi Alexander Gobay berangkat ke Surabaya untuk menyerahkan pernyataan ke Gubernur Jawa Timur;
Bahwa pada aksi tanggal 19 Agustus 2019 tidak ada bendera Bintang kejora di tiang kantor gubernur Papuasedangkan pada aksi 29 agustus 2019, Terdakwa tidak mengetahui siapa yang membawa bendera Bintang Kejora sepanjang aksi, siapa yang menurunkan bendera Merah putih dan kemudian menaikan bendera bintang kejora di kantor gubernur karena Terdakwa tidak merencanakan dan tidak hadir dalam aksi 29 agustus 2019. Ahli MUHAMMAD RULIYANDI, S.H.M. Ahli Hukum Tata Negara yang dihadirkan oleh JPU menerangkan bahwa terkait dengan pelanggaran terhadap bendera merah putih telah diatur dalam UU tersendiri yakni Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan “Setiap orang yang merusak, merobek, menginjak-injak, membakar, atau melakukan perbuatan lain dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Bendera Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf a, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)” yang merupakan sanksi pidana atas perbuatan menghina dan merendahkan kehormatan bendera negara Republik Indonesia. Oleh karenanya apabila ada pelanggaran terhadap bendera merah putih haruslah dikenakan UU ini, bukan dengan menggunakan pasal makar. Bahwa terkait bendera Bintang Kejora yang dikibarkan pada tanggal 29 Agustus 2019 terdakwa tidak mengetahui karena terdakwa tidak hadir, juga atas perintah atau inisiatif terdakwa. Bahwa di dalam Buku II Kejahatan Terhadap Keamanan Negara dari pasal 104 KUHP sampai dengan Pasal 129 KUHP tidak satupun yang menerangkan terkait pelanggaran terhadap bendera merah putih baik dalam bentuk penurunan, pengrusakan, pembakaran ataupun bentuk pelanggaran lainnya karena terkait bendera dan lambang negara diatur dalam UU tersendiri yakni UU Nomor 24 tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan sesuai dengan asas lex specialis derogat legi generalis, apabila ada pengrusakan atau penurunan bendera merah putih sebagaimana aksi pada tanggal 29 Agustus 2019 di Kantor Gedung Gubernur Papua maka yang digunakan ada ketentuan pidana yakni pasal 66 Undang-undang Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa dan Lambang Negara, serta Lagu Kebangsaan “Setiap orang yang merusak, merobek, menginjak-injak, membakar, atau melakukan perbuatan lain dengan maksud menodai, menghina, atau merendahkan kehormatan Bendera Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 huruf a, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah)” yang merupakan sanksi pidana atas perbuatan menghina dan merendahkan kehormatan bendera negara Republik Indonesia.
Bahwa aksi damai yang dilakukan tanggal 19 Agustus 2019 berjalan damai seabgai respon atas aksi rasisme yang terjadi di Surabaya dimana aksi damai tersebut tidak dapat dikatakan sebagai tindakan melawan negara. Hal ini bersesuaian dengan
pendapat ahli Psikologi Politik yang dihadirkan oleh JPU yakni Prof Hamdi Muluk yang menerangkan bahwa aksi damai tanggal 19 agustus 2019 sebagai respon terkait adanya tindakan rasisme di Surabaya terhadap mahasiswa Papua tidak dapat dikatakan sebagai tindakan insurgensi atau melawan negara;
Bahwa terkait dengan yel-yel Papua merdeka dan referendum, seringkali disampaikan pada setiap aksi atau kesempatan lainnya sebagai ekspresi kekecewaan orang Papua atau ketidakadilan hukum yang terjadi di Papua dan bukanlah makar. Hal ini bersesuaian dengan pendapat Ahli HAM dan Kebebasan Berekspresi Dr.Herlambang P.Wiratraman, S.H., MA juga menjelaskan terkait demo damai menentang rasisme, termasuk jika didalamnya ada teriakan yel-yel Papua Merdeka, Referendum dan Penentuan Nasib Sendiri merupakan kebebasan berekpresi yang dijamin oleh Deklarasi Umum HAM, Konvesi Sipol, UUD 1945, UU HAM danUndang-Undang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum sangat bias jika dikaitkan dengan makar, Ahli Pidana DR.Tristam Pascal Moellion, S.H., M.H., LLM yang berpendapat bahwa Pengalaman Indonesia dengan referendum adalah sebagai berikut: a. pelaksanaan referendum (penentuan pendapat rakyat/pepera) untuk meminta pandangan dan putusan rakyat Papua Barat (1969 sebagai implementasi Perjanjian New York; 1962); b. Pelaksanaan referendum Timor Timur (1999) sebagai implementasi Agreement between the Republic of Indonesia and the Portuguese Republic on the Question of East Timor (1999). Keduanya diselenggarakan di bawah pengawasan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ahli Politik dan Resolusi Konflik atas nama Dr.Adriana Elisabeth, M.Soc, Sc, menjelaskan ada konflik di Papua yang dipetakan oleh LIPI dalam Buku Papua Road Map, yakni 1). Diskriminasi dan Marjinalisasi Orang Papua, 2). Kegagalan Pembangunan, 3). Pelanggaran HAM, 4). Sejarah masa lalu Papua. Sedangkan Ahli Rasisme atas nama Dr. Benny Giay menjelaskan ada persoalan rasisme sebelum Zaman Belanda 1950 an, saat 1963, Pepera hingga saat ini telah terjadi praktek-praktek rasisme terhadap Orang Asli Papua dan tidak pernah diselesaikan secara serius oleh Negara, solusi yang ditawarkan ahli adalah penyelesaian Papua tidak bisa diselesaikan dengan proses hukum dengan pidana Makar, tetapi lebih mengedepankan keadilan bagi masyarakat Papua dengan cara Dialog untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang terjadi di Papua.
Dengan demikian unsur ‘makar” yang didakwa dan dituntut kepada Terdakwa, tidak terbukti secara sah dan menyakinkan menurut hukum.
3. Unsur “Dengan maksud supaya seluruh atau sebagian wilayah negara jatuh ke