MASYARAKAT MELAYU PANA
5.9 Upacara Adat Perkawinan Antara Tradisi dan Modernitas
Tradisi6 cenggok-cenggok berkaitan dengan kebiasaan yang diwariskan secara turun temurun, mencakup berbagai nilai budaya, adat istiadat, sistem
6
Menurut Sedyawati (1983:48) tradisi diartikan sebagai kebiasaan turun temurun yang masih dijalankan oleh masyarakat. Esten (1993: 11) menyatakan bahwa pengertian tradisi adalah kebiasaan turun-temurun sekelompok masyarakat berdasarkan nilai-nilai budaya masyarakat yang bersangkutan. Lebih lanjut Esten (1999:21) menyatakan tradisi merupakan suatu konvensi ketentuan atau kesepakatan yang menjadi pedoman dari masyarakat pendukungnya.
kemasyarakatan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, dan sistem kepercayan. Artinya adanya ketentuan atau kesepakatan yang membuat masyarakat Melayu Panai sebagai pendukung tradisi mematuhi ketentuan yang menghasilkan kesepakatan sampai saat ini. Dari pakaian yang digunakan, tempat duduk yang terpisah antara kaum laki-laki yang berada di halaman pada saat acara berlangsung, sedangkan perempuan berada di ruangan yang ada di dalam rumah. Gambaran ini memperlihatkan semua mempunyai konvensi dan kesepakatan dalam sebuah tatanan yang utuh untuk dipatuhi secara bersama-sama oleh masyarakat Melayu Panai sebagai pemilik tradisi.
Konvensi dan kesepakatan yang dipatuhi ini berkembang menjadi kaidah dan hukum dalam masyarakat Melayu yakni hukum adat yang berlandaskan pada adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah. Kenyataan ini merepresentasikan bahwa dalam budaya dan adat istiadat Melayu ajaran agama Islam adalah fondasi utama yang menjadi landasan di dalam budaya dan adat istiadat Melayu. Persoalan adat dan budaya dilakukan dan dilaksanakan secara lisan berdasarkan ajaran agama Islam dan hal ini terekam dalam ingatan kolektif masyarakat Melayu yang sudah diturunkan dari generasi ke generasi.
Saat ini keberadaan tradisi cenggok-cenggok dihadapkan pada persoalan modernisasi yang hampir melanda semua aspek budaya masyarakat di tiap daerah yang ada di Indonesia. Persoalan modernisasi membuat keberadaan tradisi ini mengalami perubahan di dalam perkembangannya sekarang. Hal ini sangat wajar
terjadi karena modernisasi memberi dampak terhadap tingkah laku masyarakat dalam menjalankan kehidupan duniawinya dan hal lain yang berdampak pada agama, kepercayaan dan sebagainya.
Melalui tradisinya, masyarakat Labuhanbatu menerapkan kepercayaan terhadap kosmologi yaitu mereka belajar menjaga hubungan dengan alam secara harmonis, memanfaatkan alam secara bijaksana serta mengatur hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam dan manusia lingkungannya. Sebagaimana yang dimaksud oleh Esten (1999:23) bahwa masyarakat tradisional melihat alam sebagai suatu tatanan yang selaras dan ada kekuatan yang mengatur diluar kekuatan manusia. Apa yang dikatakan Esten (1999:23) melahirkan suatu pengertian bahwa masyarakat tradisional melihat dirinya di dalam sebuah tatanan dapat memberi arti bahwa masyarakat merupakan bagian dari tatanan keseimbangan. Dari kearifan-kearifan masyarakat Melayu Panai lahirlah konsepsi-konsepsi yang disepakati untuk dipatuhi mereka. Kondisi saat ini sering terjadi pelanggaran terhadap sistem yang disepakati oleh komunitas maka hal ini adalah pelanggaran yang mengganggu stabilitas dan keseimbangan baik menyangkut hubungan mikrokosmos maupun hubungan makrokosmos.
Antara tradisi dan modernitas menjadi sebuah pertentangan ketika dihadapkan pada kemajuan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, dalam konteks ini tradisi yang sudah tersistem dalam perkembangannya mengalami proses perubahan, transformasi, dalam perkembangannya. Dikarenakan proses ini
menjadi sesuatu yang tidak dapat dihindari dari keberadaan sebuah tradisi yang merupakan bagian dari kebudayaan. Hal ini tidak dapat dipungkiri karena budaya yang secara etimologis berarti budhi dan daya diartikan sebagai hasil dari pemikiran manusia, pemikiran manusia itu sendiri berkembang sesuai perkembangan zaman, dengan demikian budaya yang merupakan produk pemikiran manusia juga mengalami perkembangan.
Keadaan ini mengakibatkan perlunya kompromitas di dalam mengkomunikasikan antara tradisi dan modernitas. Esten (1999:24) mengutip apa yang dikemukakan oleh Sumantri mengartikan modernitas sebagai suatu konsepsi kebudayaan yang tumbuh dalam peradaban manusia sebagai akibat kemajuan dari modernisasi dan penerapannya disesuaikan dengan pandangan dunia suatu masyarakat. Modernisasi ditandai dengan adanya pemikiran, kepercayaan, dan idiologi yang berbentuk kecerdasan, inovasi, pernyataan akal, dan praduga atau anggapan sosial pada umumnya (Bradbury dalam kutipan Esten, 1999:24). Menurut Kusumohamidjojo (2009:97), modernitas juga dapat ditandai dengan perubahan pola pikir, kesenian, gaya hidup, dan adanya usaha untuk keluar dar belenggu atau kungkungan masa lalu. Modernitas menjadi relevan bagi proses kemasyarakatan yang terjalin dalam kebudayaan tidak lain karena proses mengimplikasikan perubahan, kemajuan, revolusi dan pertumbuhan yang merupakan istilah istilah kunci dan kesadaran modern.
Keadaan ini sesuai bila dikaitkan dengan keberadaan tradisi cenggok-cenggok di Labuhanbatu sebagaimana yang dikemukakan oleh seorang informan, menurut Syahrian 56 tahun, seniman kesenian cenggok-cenggok dari Labuhan Bilik, nama cenggok-cenggok sendiri diambil dari salah satu judul lagu yang dinyanyikan pada pertunjukan tersebut. Kesenian khas Labuhan Bilik ini menurutnya saat ini di Labuhan Bilik ini kurang mendapat tempat bagi masyarakat Labuhan Bilik sendiri.
“Kami –kami ini sangat menyayangkan saat ini masyarakat tidak lagi meminati kebudayaan warisan leluhur ini yang sangat pentinglah untuk dilestarikan. Kini orang pesta lebih bangga menggunakan organ tunggal, daripada kesenian cenggok-cenggok”
Pria kelahiran Labuhan Bilik yang kini bermukim di desa Telaga Suka itu mengaku, sudah hampir 13 tahun terakhir sanggar seni cenggok-cenggok itu tak lagi mendapat undangan untuk acara-acara pemerintahan.
Padahal, dulunya kesenian ini menjadi kebanggaan masyarakat untuk digelar di pestanya. Bahkan cenggok-cenggok selalu mendapat kehormatan untuk menyambut pejabat yang bertandang ke Rantau Parapat Labuhanbatu di masa itu. “Terakhir kali saya mendapat panggilan itu dua belas tahun lalulah seingatnya, sampai saat ini sudah nggak pernah lagi,” katanya.
Anggota kelompok seni cenggok-cenggok ini juga menambahkan , saat ini orang berpesta lebih memilih menggunakan organ tunggal sebagai penghibur pestanya. Padahal lanjutnya dia, untuk mengundang cenggok-cenggok biayanya tidaklah mahal. Untuk mendatangkan hiburan ini, mereka biasanya dibayar Rp.600 ribu per malam pertunjukan . Uang itu kemudian dibagi untuk 12 orang pemain.
Sehingga rata-rata pemain hanya mendapatkan uang Rp 50 ribu. Sementara untuk mengundang organ tunggal saat ini rata-rata Rp 3-4 jutaan. Sulaiman (50 thn), seniman tradisi ini mengemukakan hal serupa. Bahkan saking lamanya tak pernah tampil, pria yang kini bekerja melaut sebagai nelayan ini mulai lupa dengan gerakan yang dibawakan dalam kesenian tersebut.
“Kami terkadang sedih saat melihat pesta, biasanya kami yang tampil di pesta itu, namun kini orang lebih senang melihat kibod, kata pria kelahiran Labuhanbilik 1965 itu”.
Pada awalnya pria yang akrab disapa Uncu itu punya keinginan menekuni kesenian tersebut. Namun saat cenggok-cenggok tak lagi mendapat tempat di hati masyarakat, dirinya terpaksa mencari alternatif usaha lain untuk kelangsungan hidupnya. Terlebih, pemerintah daerah juga tak begitu peduli dengan kebudayaan tersebut.
Kami sejak dulu jarang mendapat undangan dari pihak pemerintah daerah sini untuk menampilkan tradisi ini,” katanya.
Apa yang dikemukakan para informan diatas merupakan kenyataan yang tidak bisa dihindari dari keberadaan tradisi lisan saat ini ditengah derasnya arus globalisasi dan modernisasi yang sebagaimana telah dikemukakan diatas, bahwa modernisasi ditandai dengan perubahan pola pikir, kesenian, gaya hidup dan adanya usaha untuk keluar dari belenggu atau kungkungan masa lalu.