HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Analisis Data dan Pembahasan
4.2.2 Upaya Meminimalisasi Penyimpangan
Berdasarkan data penelitian yang didapatkan, peneliti menemukan 251 penyimpangan wujud kebahasaan. Penyimpangan wujud kebahasaan yang berjumlah 251 data itu meliputi penyimpangan prinsip kehematan kata, kecermatan, kesepadanan struktur, kepaduan makna, dan kelogisan makna. Penyimpangan prinsip kehematan kata meliputi (1) pengulangan kata, dan (2) penggunaan makna yang sama. Penyimpangan prinsip kecermatan meliputi (1) penggunaan diksi, (2) penggunaan ejaan, (3) penggunaan kata baku, dan (4) penyusunan kalimat. Penyimpangan prinsip kesepadanan struktur meliputi (1) penyimpangan konjungsi, (2) ketidakjelasan subjek. Penyimpangan prinsip efektivitas kalimat selanjutnya adalah penyimpangan prinsip kepaduan makna dan penyimpangan prinsip kelogisan makna. Adanya penyimpangan tersebut menunjukkan bahwa martabat bahasa masih kurang optimal. Oleh karena itu,
diperlukan beberapa upaya untuk meminimalisasi pemartabatan bahasa Indonesia tersebut.
4.2.2.1 Upaya Meminimalisasi Penyimpangan Prinsip Kehematan Kata
Penyimpangan prinsip kehematan kata meliputi dua hal, yaitu (a) pengulangan kata, dan (b) penggunaan makna yang sama. Pengulangan kata merupakan salah satu bentuk prinsip kehematan kata. Di dalam satu kalimat tidak boleh menggunakan kata-kata yang sama dan diulang terus-menerus. Contoh pengulangan kata adalah sebagai berikut.
(a) Peneliti memilih menggunakan fasilitas Google Docs, karena Google Docs memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan situs penyediaan survey online lainnya. (Psikologi/13/Felicia/hlm.36).
Contoh kalimat di atas kurang tepat, karena menggunakan dua kata yang sama dan diulang. Kata yang diulang tersebut adalah google docs. Sebaiknya kata
google docs ditulis sekali saja agar kalimat lebih efektif. Selain itu, penggunaan
makna yang sama juga merupakan prinsip kehematan kata. Penggunaan makna yang sama mempunyai arti bahwa kata yang digunakan berbeda tetapi mempunyai makna yang sama. Contoh lebih jelasnya adalah sebagai berikut.
(b) Bekerja pada masa sekarang ini adalah sebuah aktifitas atau kegiatan
yang tidak asing lagi bagi manusia. (Psikologi/13/Felicia/hlm.1).
Contoh kalimat di atas kurang tepat karena kata yang dicetak tebal mempunyai makna yang sama. Kata aktifitas mempunyai makna melakukan kegiatan atau bekerja, sedangkan kata kegiatan mempunyai makna usaha atau melakukan pekerjaan. Oleh sebab itu, istilah yang digunakan sebaiknya ditulis salah satu saja.
Untuk mengatasi penyimpangan kebahasaan, diperlukan upaya untuk meminimalisasi penyimpangan kebahasaan tersebut. Upaya meminimalisasi penyimpangan yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan materi pembelajaran kepada mahasiswa. Selain itu, penggunaan metode pembelajaran juga sangat penting dalam proses pemberian materi.
Pada bagian upaya meminimalisasi penyimpangan prinsip kehematan kata, metode pembelajaran yang dapat dilaksanakan adalah dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah. Menurut Tan (dalam Rusman, 2013:232), pembelajaran berbasis masalah merupakan temuan baru dalam proses pembelajaran karena mengutamakan kemampuan berpikir siswa yang optimal melalui proses kerja kelompok sehingga siswa dapat mengasah, menguji, dan mengembangkan kemampuan berpikirnya. Adapun langkah-langkah yang dapat dilakukan dalam metode pembelajaran berbasis masalah adalah.
(1) Menentukan Masalah
Dalam proses pembelajaran berbasis masalah, proses penentuan masalah dapat diambil alih oleh guru maupun siswa. Masalah yang ditentukan tentu saja yang berkaitan dengan tema pembelajaran pada pertemuan itu.
(2) Analisis Masalah
Siswa melakukan analisis masalah secara individu berdasarkan masalah yang sudah ditentukan. Setiap individu menganalisa poin penting berdasarkan masalah yang diteliti.
(3) Pertemuan dan Laporan
Siswa dapat melakukan konsultasi terhadap guru yang berfungsi sebagai pembimbing dalam proses pembelajaran tersebut. Selanjutnya, siswa dapat mempresentasikan hasil penelitiannya di depan siswa lain.
(4) Penyajian Solusi
Solusi dapat disampaikan ketika masing-masing siswa menyelesaikan presentasinya. Guru atau siswa lain dapat memberikan solusi terhadap penelitian yang dilakukan siswa.
(5) Kesimpulan dan Evaluasi
Guru yang berperan sebagai pembimbing dapat memberikan kesimpulan serta evaluasi dalam proses pembelajaran yang dilakukan.
Langkah-langkah pembelajaran di atas merupakan langkah-langkah pembelajaran berbasis masalah. Untuk meminimalisasi penyimpangan kebahasaan, kegiatan pembelajaran dapat menerapkan metode pembelajaran berbasis masalah tersebut agar tercipta pembelajaran yang lebih terstruktur. Proses kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode pembelajaran berbasis masalah untuk meminimalisasi penyimpangan dapat dilakukan sebagai berikut.
Materi Metode Pengajaran Langkah-langkah Pembelajaran
Kehematan kata Pembelajaran Berbasis Masalah
Setiap mahasiswa mendapat satu contoh karya ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa lain.
Dosen menentukan materi tentang prinsip kehematan kata.
Mahasiswa melakukan analisis karya ilmiah berdasarkan prinsip
kehematan kata secara individu. Setelah menganalisis, mahasiswa
mempresentasikan hasil analisis prinsip kehematan kata di depan mahasiswa lain.
Mahasiswa lain ataupun dosen dapat memberikan solusi terhadap hasil penelitian prinsip kehematan kata yang telah dipresentasikan. Setelah semua mahasiswa
mempresentasikan hasil analisisnya, dosen menarik kesimpulan tentang prinsip kehematan kata.
4.2.2.2 Upaya Meminimalisasi Penyimpangan Prinsip Kecermatan
Prinsip kecermatan meliputi empat hal yaitu, (a) penulisan ejaan, (b) penggunaan diksi, dan (c) penggunaan kata baku, serta (d) penyusunan kalimat. Penyimpangan prinsip penulisan ejaan tidak hanya pada penulisan kata saja, tetapi juga pada penulisan tanda baca. Contoh penyimpangan prinsip penulisan ejaan akan dijabarkan sebagai berikut.
(a) Lalu jaman berkembang, dan manusia mulai mencoba bercocok tanam untuk bisa makan. (Psikologi/13/Felicia/hlm.1).
(b) Dengan demikian sikap wanita karier terhadap emansipasi wanita dapat ditunjukkan secara lebih tegas. (Psikologi/13/Felicia/hlm.1).
Kesalahan ejaan yang pertama adalah pada penulisan kata jaman. Menurut buku EYD (2005) penulisan kata jaman kurang tepat. Seharusnya penulisan kata
ejaan yang kedua adalah setelah penulisan konjungsi dengan demikian tidak diberi tanda baca koma. Pada teori konjungsi antarkalimat, penulisan tanda baca koma setelah penulisan konjungsi tersebut wajib hukumnya. Oleh sebab itu, setelah konjungsi dengan demikian seharusnya ditulis tanda baca koma.
Penyimpangan diksi menjadi hal penting kedua yang terdapat dalam prinsip efektivitas kalimat. Diksi atau pilihan kata merupakan senjata terbaik agar kalimat mempunyai martabat bahasa yang optimal. Namun, tidak semua kalimat mempunyai diksi yang tepat. Contoh penyimpangan diksi akan dijabarkan sebagai berikut.
(c) Proses ini dimulai sejak abad ke-18, oleh para pemikir awal feminis. (Psikologi/13/Felicia/hlm.3).
Penggunaan kata yang dicetak tebal kurang tepat. Oleh sebab itu, kata yang dicetak tebal seharusnya diganti dengan kata dimulai dari. Kesalahan dalam kalimat ini dapat dijadikan acuan sebagai pembelajaran berbasis masalah. Rusman (2013:232) menyatakan bahwa karakteristik pembelajaran berbasis masalah adalah permasalahan yang diangkat adalah permasalahan yang ada di dunia nyata. Seperti halnya kesalahan pada kalimat karya ilmiah mahasiswa merupakan permasalahan nyata yang ada disekitar lingkungan kita. Oleh sebab itu, metode pembelajaran ini sangat tepat diterapkan untuk meminimalkan penyimpangan wujud kebahasaan.
Penyimpangan prinsip kecermatan yang terakhir adalah penggunaan kata baku. Tidak semua karya ilmiah menggunakan kata baku. Buktinya dalam beberapa karya ilmiah mahasiswa masih ditemukan kalimat-kalimat yang tidak
menggunakan kata baku. Contoh penyimpangan penggunaan kata baku adalah sebagai berikut.
(d) Dari situ manusia mengambil sikap bukan saja terhadap dunia tetapi juga terhadap dirinya sendiri. (Psikologi/13/Yohanes/hlm.9).
Kata yang dicetak tebal tersebut kurang tepat dan melanggar prinsip penggunaan kata baku. Seharusnya kata tersebut diganti dengan dalam hal itu agar kalimat yang terbentuk lebih efektif serta jelas maknanya.
Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan cara atau metode pembelajaran yang efisien untuk meminimalisasi penyimpangan kebahasaan agar terwujud pemartabatan bahasa yang optimal. Metode pembelajaran yang dapat dilakukan dalam kegiatan pembelajaran minimalisasi prinsip kecermatan adalah metode pembelajaran kooperatif. Rusman (2013:202) mengatakan bahwa metode pembelajaran kooperatif merupakan konsep pembelajaran yang dibentuk secara kelompok. Pembelajaran dengan pembentukan kelompok ini bertujuan untuk memahami pikiran peserta antara yang satu dan yang lainnya. Langkah-langkah metode pembelajaran kooperatif adalah.
(1) Menyampaikan Tujuan
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang akan dilaksanakan pada hari itu. Selain itu, guru juga dapat memberikan motivasi kepada siswa sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
(2) Menyajikan Informasi
Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan memberikan bacaan artikel atau karya ilmiah.
(3) Membagi Kelompok
Guru dapat membagi siswa ke dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok diminta untuk menganalisis masalah yang sudah ditentukan.
(4) Membimbing Kelompok
Guru yang berperan sebagai pembimbing dapat membimbing siswanya ketika bekerja dalam kelompok. Hal ini bertujaun agar pembelajaran berjalan dengan efektif dan efisien.
(5) Evaluasi
Guru mengevaluasi terhadap hasil presentasi tiap-tiap kelompok di dalam kegiatan pembalajaran tersebut.
Untuk meminimalisasi penyimpangan prinsip kecermatan, upaya yang dapat dilakukan adalah menggunakan metode pembelajaran kooperatif dalam kegiatan pembelajaran. Proses kegiatan pembelajaran dengan menggunakan metode kooperatif dapat dilaksanakan sebagai berikut.
Materi Metode
Pengajaran
Langkah-langkah Pembelajaran
Kecermatan Pembelajaraan Kooperatif
Dosen menyampaikan tujuan
pembelajaran tentang prinsip kecermatan. Dosen memberikan materi mengenai
prinsip kecermatan.
Setiap mahasiswa mendapatkan satu contoh artikel atau karya ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa lain.
Setelah mendapatkan artikel, mahasiswa diminta untuk membentuk kelompok belajar.
Setelah membentuk kelompok, mahasiswa melakukan analisis terhadap
penyimpangan prinsip kecermatan. Setiap kelompok mempresentasikan hasil
penelitiannya terhadap prinsip kecermatan di depan kelompok lain.
Kelompok lain saling berdiskusi terhadap hasil penelitian yang dipresentasikan setiap kelompok.
Setelah kegiatan presentasi selesai, dosen dapat mengevaluasi jalannya kegiatan pembelajaran.
4.2.2.3 Upaya Meminimalisasi Penyimpangan Kesepadanan Struktur
Penyimpangan prinsip kesepadanan struktur meliputi penyimpangan konjungsi dan ketidakjelasan subjek. Penyimpangan konjungsi meliputi konjungsi intrakalimat, konjungsi antarkalimat, konjungsi ganda, dan konjungsi korelatif. Peneliti hanya akan menjabarkan beberapa kesalahan konjungsi yang ada, karena pembahasan mengenai konjungsi sudah dibahas pada bagian sebelumnya. Contoh penyimpangan konjungsi yang terdapat dalam skripsi mahasiswa adalah sebagai berikut.
(a) Sedangkan pengelolaan politik adalah peranan yang dilakukan pada tingkat pengorganisasian komunitas pada tingkat formal secara politik, biasanya dibayar dan meningkatkan status/kekuasaan. (Psikologi/13/Felicia/hlm.10).
Contoh yang dijabarkan di atas merupakan contoh konjungsi intrakalimat. Pada contoh tersebut penggunaan konjungsi intrakalimat kurang tepat penggunaannya, karena konjungsi sedangkan terletak di awal kalimat. Konjungsi
intrakalimat merupakan konjungsi untuk menghubungkan anak kalimat dan induk kalimat, sehingga jika penulisannya di awal kalimat melanggar prinsip kesepadanan struktur.
Ketidakjelasan subjek merupakan poin kedua dalam prinsip kesepadanan struktur. Suatu kalimat yang terbentuk tetapi tidak ada subjeknya akan mengakibatkan kalimat tersebut tidak dapat dipahami. Dalam karya ilmiah mahasiswa, ada beberapa kesalahan kalimat yang subjeknya kurang jelas. Contohnya adalah sebagai berikut.
(b) Jika dimungkinkan dikompromikan dengan budaya pendatang. (Psikologi/13/Yohanes/hlm.21).
Pada bagian yang dicetak tebal tersebut tidak jelas maksudnya. Yang
dimungkinkan pada kalimat tersebut tidak ada, sehingga pembaca akan
kebingungan ketika tidak ada subjek dalam kalimat itu. Oleh sebab itu, untuk meminimalisasi penyimpangan prinsip kesepadanan struktur diperlukan metode pembalajaran yaitu metode kooperatif model STAD (Student Teams Achievement
Division). Menurut Rusman (2013:214), metode pembelajaran kooperatif model
STAD merupakan konsep pembelajaran kelompok yang bertujuan untuk mendorong dan memacu siswa untuk menguasai materi yang diberikan oleh guru. Adapun langkah-langkah metode pembelajaran kooperatif STAD adalah.
(1) Menyampaikan Tujuan
Guru menyampaikan tujuan pembelajaran ayng akan dilaksanakan pada pertemuan tersebut. Selain itu, guru juga penting memberikan motivasi kepada siswa.
(2) Pembagian Kelompok
Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok secara acak agar tidak ada diskriminasi dalam pembagian kelompok tersebut.
(3) Presentasi dari Guru
Guru memberikan presentasi sebelum kegiatan pembelajaran dimulai. Proses presentasi yang dilakukan tentunya harus menggunakan media-media yang lengkap.
(4) Kegiatan Belajar
Siswa belajar dalam kelompok yang telah dibentuk oleh guru. Guru menyiapkan contoh-contoh masalah yang akan diteliti.
(5) Kuis
Kuis merupakan kegiatan yang berbeda dengan metode pembelajaran kooperatif. Di dalam pembelajaran kooperatif model STAD ini siswa diberikan kuis dengan tujuan untuk mengukur kemampuan siswa tersebut.
Untuk meminimalisasi penyimpangan prinsip kesepadanan struktur dapat dilakukan dengan metode pembelajaran kooperatif model STAD (Student Teams
Achievement Division). Hal ini bertujuan agar tercipta proses pembelajaran yang
efektif dan meningkatkan kefokusan mahasiswa. Langkah-langkah pembelajaran dengan metode kooperatif model STAD untuk materi kesepadanan struktur dapat dilakukan sebagai berikut.
Materi Metode Pengajaran Langkah-langkah Pembelajaran
Kesepadanan struktur
Metode Pembelajaran Kooperatif model STAD
Dosen menyampaikan tujuan pembelajaran tentang prinsip kesepadanan struktur.
Mahasiswa membentuk kelompok belajar secara acak.
Setiap kelompok mendapatkan satu contoh artikel atau karya ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa lain.
Setelah masing-masing kelompok mendapatkan contoh artikel, dosen memberikan materi tentang
kesepadanan struktur. Setiap kelompok meneliti
penyimpangan prinsip
kesepadanan stuktur pada artikel dan karya ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa lain.
Selama mahasiswa melakukan penelitian, dosen melakukan pengamatan dalam kelompok. Tidak ada presentasi dalam
kegiatan pembelajaran ini, tetapi dosen memberikan kuis kepada mahasiswa untuk mengukur kemampuan mahasiswanya.
4.2.2.4 Upaya Meminimalisasi Penyimpangan Kepaduan Makna
Penyimpangan prinsip kepaduan makna merupakan penggunaan kebahasaan yang padu, dan tidak terpecah belah. Kesatuan kalimat dan kepaduan yang terbentuk dalam kalimat akan mempengaruhi makna kalimat. Namun, ada
beberapa penyimpangan yang terdapat pada skripsi mahasiswa. Contohnya adalah sebagai berikut.
(a) Penelitian ini dapat memberikan gambaran mengenai sikap wanita karir di Indonesia terhadap emansipasi wanita. (Psikologi/13/Felicia/hlm.7).
Pada kalimat tersebut kata mengenai kurang tepat penulisannya sehingga kalimat tidak padu. Sebelum kata mengenai sudah terdapat kata gambaran, sehingga kata mengenai seharusnya tidak perlu dipakai lagi karena sudah ada kata
gambaran yang menjelaskan induk kalimat selanjutnya. Untuk mengatasi
penyimpangan-penyimpangan tersebut, upaya yang dapat dilakukan adalah dengan memberikan materi tentang kepaduan makna. Selain materi, kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan menggunaan metode pembelajaran inkuiri dalam kegiatan pembelajaran tersebut. Menurut Ellis (dalam Ngalimun, 2012:33), pendekatan inkuiri merupakan konsep belajar yang melibatkan siswa dalam kesempatan belajar yang tinggi melalui pengembangan dan informasi yang diguanakan dalam jangka waktu yang lama. Adapun langkah-langkah metode pembelajaran inkuiri adalah.
(1) Pendefinisian Masalah
Proses pendefinisian masalah diawali oleh rasa keingintahuan yang besar dari siswa. Ketika siswa mendapatkan masalah dan mengidentifikasinya, guru akan semakin beruntung kalau siswanya berpikir secara aktif.
(2) Pengembangan Hipotesis
Masalah yang sudah teridentifikasi dapat dianalisa oleh siswa. Setiap siswa berhak mendiskusikan hasil temuannya tersebut.
(3) Pengumpulan Data
Setelah masalah yang diidentifikasi ditetapkan sebagai dasar penelitian, maka guru harus menyiapkan beberapa data agar dapat dianalisis oleh siswanya. (4) Pengujian Hipotesis
Proses yang dilakukan setelah data terkumpul adalah dengan melakukan pengujian data berdasarkan teori yang sudah ada. Teori yang digunakan tidak hanya satu saja, tetapi menggunakan dua atau tiga teori cukup untuk menemukan temuan yang baru.
(5) Penarikan Kesimpulan
Setelah melakukan langkah-langkah di atas, siswa melakukan penarikan kesimpulan yang benar-benar valid berdasarkan teori yang sudah ditetapkan.
Untuk meminimalisasi penyimpangan kepaduan makna, cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan metode pembelajaran inkuiri. Proses pembelajaran yang dapat dilakukan dengan metode tersebut adalah.
Materi Metode
Pengajaran
Langkah-langkah Pembelajaran
Kepaduan makna Metode Pembelajaran Inkuiri
Setiap mahasiswa mendapat satu contoh artikel atau karya ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa lain. Dosen meminta setiap mahasiswa
menemukan penyimpangan prinsip kepaduan makna.
Mahasiswa menganalisis
penyimpangan prinsip kepaduan makna.
berupa artikel dan karya ilmiah dari mahasiswa lain untuk diteliti lebih banyak lagi oleh mahasiswa. Mahasiswa mulai meneliti
penyimpangan prinsip kepaduan makna berdasarkan teori para ahli. Setelah melakukan penelitian,
mahasiswa dapat menarik
kesimpulan berdasarkan teori yang sudah disepakati oleh kelompok.
4.2.2.5 Upaya Meminimalisasi Penyimpangan Kelogisan Makna
Penyimpangan prinsip kelogisan makna adalah suatu prinsip keefektifan kalimat yang berkaitan dengan nalar atau logika. Hasil analisis data menunjukkan bahwa ada beberapa kesalahan penyimpangan mengenai kelogisan makna. Contoh penyimpangan kelogisan makna tersebut adalah sebagai berikut.
(a) Hardanti (2002) menyimpulkan, secara umum ada tiga hal yang menyebabkan wanita melakukan karir, yaitu tuntutan ekonomi, dorongan
keinginan membentuk karir, serta pembangunan memerlukan tenaga kerja
dan wanita sebagai sumber daya pembangunan (Saljo, 1983; Suratiyah dkk, 1996). (Psikologi/13/Felicia/hlm.10).
Pada kalimat tersebut bagian yang dicetak tebal, yaitu melakukan karir seharusnya ditulis berkarir saja. Kata berkarir sudah mewakili makna melakukan pekerjaan untuk hidup yang lebih baik (KBBI, 2006:344). Selain itu, kata berkarir lebih efektif dan mempunyai prinsip kelogisan makna dibandingkan dengan kata melakukan karir. Selanjutnya, adalah dorongan keinginan lebih baik ditulis menjadi keinginan saja. Hal itu disebabkan oleh kata keinginan dan dorongan mempunyai makna desakan atau mempunyai hasrat (KBBI, 2006:202), sehingga
kata yang ditulis lebih baik salah satu saja. Untuk mengatasi hal tersebut, upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi penyimpangan kelogisan makna adalah dengan menggunakan metode kooperatif model investigasi kelompok. Rusman (2013:220) menyatakan bahwa metode pembelajaran kooperatif model investigasi kelompok merupakan konsep belajar dalam kelompok yang bertujuan untuk berbagi dan bertukar informasi. Langkah-langkah metode pembelajaran kooperatif model investigasi kelompok adalah.
(1) Mengidentifikasi Topik
Siswa dibebaskan dalam memilih topic. Guru tidak ada kewajiban untuk memilihkan topik.
(2) Merencanakan Tugas
Para siswa merencanakan kegiatan yang akan dilakukan. Kegiatan belajar ini harus disepakati oleh satu kelompok.
(3) Melaksanakan Investigasi
Siswa mencari data, menganalisisnya kemudian mendiskusikan. Selain itu, siswa juga dapat mengklarifikasi bila ada teori yang tidak cocok.
(4) Menyiapkan Laporan
Setiap kelompok mempersipkan presentasi yang akan disampaikan di hadapan teman lain.
(5) Mempresentasikan Laporan
Setiap kelompok harus mempresentasikan hasil penelitiannya di depan siswa lain.
(6) Evaluasi
Setiap siswa bertukar pikiran dan mengevaluasi hasil presentasi kelompok lain. Dalam hal ini, guru berfungsi sebagai penengah ketika proses evaluasi berlangsung.
Untuk mengatasi penyimpangan kelogisan makna, maka diperlukan materi serta metode pembelajaran yang efisien. Langkah-langkah yang dapat dilaksanakan untuk menerapkan proses pembelajaran metode kooperatif model investigasi kelompok adalah.
Materi Metode Pengajaran Langkah-langkah Pembelajaran Kelogisan makna Metode Pebelajaran Kooperatif model Investigasi Kelompok
Mahasiswa memilih topik yang akan dijadikan bahan penelitian, yaitu penelitian penyimpangan kelogisan makna.
Mahasiswa membentuk kelompok penelitian secara acak.
Setelah menyetujui tema dan pembentukan kelompok, langkah selanjutnya adalah merencanakan proses pembelajaran dalam kelompok.
Setiap mahasiswa dalam kelompok bertugas mencari penyimpangan kelogisan makna dalam artikel atau karya ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa.
Mahasiswa mulai mengumpulkan data, menganalisis, dan
mendiskusikan hasil penelitian didalam kelompok.
Setiap kelompok mempunyai pembicara untuk melaporkan hasil penelitian dalam bentuk presentasi. Pada kegiatan presentasi, mahasiswa
lain harus aktif menjelaskan hasil penelitiannya.
Mahasiswa dan dosen bersama-sama mengevaluasi hasil temuan yang telah diteliti.
Menurut Rahardi (2006:5) martabat bahasa adalah tinggi rendahnya derajat bahasa yang dilihat dari kacamata pemakainya. Semakin tinggi bahasa tersebut dalam menyampaikan pesan, semakin tinggi pula martabatnya. Tidak jauh berbeda dengan Rahardi, Soepomo (2011:29) menyatakan bahwa martabat bahasa merupakan derajat atau kedudukan bahasa baku untuk menambah nilai bahasa tersebut. Berdasarkan pendapat kedua ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa martabat bahasa merupakan tinggi rendahnya bahasa yang terdapat pada pemakai bahasa. Pemakai bahasa tersebut bermacam-macam jenis dan kedudukannya. Misalnya para mahasiswa, siswa, pegawai, usahawan, maupun para ahli bidang tertentu. Berangkat dari pemakai bahasa yang berbeda-beda tentu bahasa yang digunakan derajatnya juga berbeda. Bahasa yang digunakan seorang dosen tentu akan berbeda dengan mahasiswa, sehingga tinggi rendahnya derajat bahasa akan terlihat dari hal tersebut. Penggunaan bahasa yang baku dan tidak baku juga mempengaruhi tinggi rendahnya derajat bahasa. Bahasa Indonesia
merupakan bahasa nasional yang digunakan dalam tataran pendidikan, dan tataran lainnya sehingga wajar jika bahasa Indonesia harus mempunyai martabat yang tinggi.
Berdasarkan data-data penelitian ini dapat dikatakan bahwa martabat bahasa sebenarnya sudah ada, tetapi penggunaannya belum optimal. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan upaya-upaya untuk meminimalisasi penyimpangan agar mempunyai martabat bahasa yang baik dan optimal. Upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi penyimpangan tersebut adalah dengan menggunakan metode belajar yang cocok di perguruan tinggi. Metode belajar tersebut diantaranya adalah pembelajaran inkuiri, pembelajaran berbasis masalah, dan pembelajaran kooperatif.
Dalam buku Rahardi (2009) dijelaskan bahwa pada subbab buku tersebut memuat beberapa materi tentang karya ilmiah akademik. Skripsi merupakan salah satu karya ilmiah akademik yang disusun menggunakan kalimat baku, efektif, dan jelas supaya dapat dipahami oleh pembaca. Materi tentang karya ilmiah akademik yang ada di dalam buku Rahardi (2009) yang berjudul Bahasa
Indonesia untuk Perguruan Tinggi tersebut memuat beberapa materi tentang
karangan ilmiah, kalimat tesis, latar belakang masalah, rumusan masalah, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran karya ilmiah di perguruan tinggi sangat penting, terutama konsep materi tentang karya ilmiah. Adanya materi-materi tersebut tentunya dapat bermanfaat bagi mahasiswa ketika akan membuat karya ilmiah agar dapat membuat karya ilmiah dengan kalimat yang baku, efektif, serta jelas maknanya.
Selain buku-buku penulisan karya ilmiah seperti yang dibahas di atas, terdapat jurnal yang membahas strategi minimalisasi kesalahan berbahasa mahasiswa dalam menyusun karya ilmiah. Menurut Yuliana, Lucia, dan Kunjana dalam jurnalnya yang berjudul Tipifikasi Kesalahan Kebahasaan dalam Penulisan
Skripsi Mahasiswa Universitas Sanata Dharma dan Strategi Minimalisasinya sebagai Upaya Pemartabatan Bahasa Indonesia (2014:68), menyatakan bahwa
strategi untuk meminimalisasi kesalahan kebahasaan mahasiswa dalam menyusun skripsi dapat dilakukan melalui beberapa cara. Strategi tersebut akan dirinci