Pemakaian kalimat efektif dalam skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2013 sebagai wahana pemartabatan bahasa
Teks penuh
(2) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. SKRIPSI PEMAKAIAN KALIMAT EFEKTIF DALAM SKRIPSI MAHASISWA PROGRAM STUDI PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA LULUSAN TAHUN 2013 SEBAGAI WAHANA PEMARTABATAN BAHASA. Oleh:. Septi Sulistyorini NIM: 101224075. Telah disetujui oleh:. Dosen Pembimbing I. ii.
(3) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. iii.
(4) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. HALAMAN PERSEMBAHAN. Ucapan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan berkah serta kelancaran dalam menyelesaikan skripsi ini. Skripsi ini saya persembahkan untuk: Ibu dan Bapakku “Satu masa telah aku lewati dan satu impian telah aku raih untukmu. Perjalananku bagai cerita yang tak mungkin berakhir bahagia tanpa doamu, ibu dan bapakku. (OST. 9 Summer, 10 Autumn)”. iv.
(5) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. MOTTO Sesungguhnya dibalik kesulitan itu ada kemudahan (QS. Al-Insyirah, Ayat 5). Untuk mencapai hal-hal yang hebat, kita tidak hanya bertindak tetapi juga harus bermimpi, tidak hanya berencana tetapi kita juga harus percaya (Anatole France). Kemarin adalah sejarah, masa depan adalah misteri, hari ini adalah berkah (Film Kungfu Panda). v.
(6) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. PERNYATAAN KEASLIAN KARYA Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi yang saya tulis ini tidak memuat karya atau bagian karya orang lain, kecuali yang telah disebutkan dalam kutipan dan daftar pustaka, sebagaimana layaknya karya ilmiah. Yogyakarta, 6 Februari 2015 Penulis,. Septi Sulistyorini. vi.
(7) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS Yang bertanda tangan di bawah ini, saya mahasiswa Universitas Sanata Dharma: Nama. : Septi Sulistyorini. Nomor Mahasiswa. : 101224075. Demi pengembangan ilmu pengetahuan, saya memberikan kepada Perpustakaan Universitas Sanata Dharma karya ilmiah saya yang berjudul: PEMAKAIAN KALIMAT EFEKTIF DALAM SKRIPSI MAHASISWA PROGRAM STUDI PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA LULUSAN TAHUN 2013 SEBAGAI WAHANA PEMARTABATAN BAHASA Dengan demikian saya menyerahkan kepada Universitas Sanata Dharma hak untuk menyimpan, mengalihkan dalam bentuk media lain, mengelola dalam b e nt uk. pangkalan. data,. mendistribusikannya. secara. terbatas. da n. mempublikasikannya di internet atau media lain untuk kepentingan akademis tanpa perlu meminta izin dari saya maupun memberikan royalti kepada saya selama tetap mencantumkan nama saya sebagai penulis. Demikian pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya. Dibuat di Yogyakarta, pada tanggal : 6 Februari 2015 Yang menyatakan,. Septi Sulistyorini. vii.
(8) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ABSTRAK. Sulistyorini, Septi. 2015. PemakaianKalimat Efektif dalam Skripsi Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Lulusan Tahun 2013 sebagai Wahana Pemartabatan Bahasa. Skripsi. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD. Penelitian ini membahas penggunaan kalimat efektif dalam skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lulusan tahun 2013 yang berkaitan dengan pemartabatan bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud kebahasaan yang menunjukkan penyimpangan prinsip efektivitas kalimat dalam skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lulusan tahun 2013, serta mendeskripsikan upaya meminimalkan penyimpangan wujud kebahasaan yang tidak efektif bagi pemartabatan bahasa Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini merupakan skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lulusan tahun 2013 yang berjumlah tujuh buah skripsi, dengan data berupa kalimat yang terdapat pada skripsi tersebut. Instrumen dalam penelitian ini adalah skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2013. Metode yang digunakan untuk pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode kontekstual. Cara yang dapat dilakukan dengan metode kontekstual adalah dengan menerapkan dimensi konteks dalam menafsirkan data yang telah dikumpulkan, diidentifikasi, dan diklasifikasi. Simpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa masih ada penyimpangan terhadap prinsip-prinsip efektivitas kalimat yang meliputi penyimpangan prinsip kehematan kata, penyimpangan prinsip kecermatan, penyimpangan prinsip kesepadanan struktur, penyimpangan prinsip kepaduan makna, dan penyimpangan prinsip kelogisan makna. Adanya penyimpanganpenyimpangan prinsip efektivitas kalimat tersebut dapat dilihat bahwa bahasa Indonesia sebenarnya sudah bermartabat tetapi kurang optimal. Oleh karena itu, upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalisasi penyimpangan tersebut adalah dengan menggunakan metode-metode pembelajaran bahasa Indonesia. Kata kunci: martabat bahasa, kalimat efektif, prinsip-prinsip efektivitas kalimat.. viii.
(9) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. ABSTRACT. Sulistyorini, Septi. 2015.The Use of Effective Sentence in Students’ Theses of Psychology Study Program Sanata Dharma University Graduated In 2013 as the Way to Improve Language Prestige. Thesis. Yogyakarta: PBSI, JPBS, FKIP, USD. This study discusses the use of effective sentence in students’ theses of Psychology Study Program Sanata Dharma University Yogyakarta graduated in 2013 which is related to language prestige. This study is aimed to describe the form of language which shows the principle deviation of effectiveness sentence in students’ theses of Psychology Study Program Sanata Dharma University Yogyakarta graduated in 2013, and describe the effort to minimize the deviation of language form which is ineffective to indonesian language prestige. This research is descriptive qualitative research. The resources used in this research are students’ theses of Psychology Study Program Sanata Dharma University Yogyakarta graduated in 2013 which are 7 theses, which the data is in the form of sentences in that theses. The instruments of this study are students’ theses of Psychology Study Program Sanata Dharma University Yogyakarta graduated in 2013. The method used for collecting the data in this study is contextual method. The way to do with the contextual method is to apply the dimensions of context in interpreting the data tha thas been collected, identified, and classified. The conclusion of this study indicates that there are deviations of sentence effectiveness principles comprising the deviation of frugality word principle, the deviation of austerity word principle, the deviation of structural equivalence principle, the deviation of meaning coherence principle, and the deviation of logical meaning principle. The existence of deviations towards effectiveness sentence principle can be seen that the Indonesian language actually has been dignified but less optimal. Therefore, the efforts that should be done to minimize thedeviation is to use the methods in Indonesian language instruction. Keywords: language dignity, effectivesentence, effective sentence principles. ix.
(10) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. KATA PENGANTAR Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT, atas rahmat dan hidayahNya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Skripsi yang berjudul “Pemakaian Kalimat Efektif dalam Skripsi Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Lulusan Tahun 2013 sebagai Wahana Pemartabatan Bahasa” bertujuan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Pendidikan BahasaSastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik berkat bantuan serta bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Rohandi, Ph.D., selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. 2. Ibu Dr. Yuliana Setiyaningsih, M.Pd. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia. 3. Ibu Dr. Yuliana Setiyaningsih, M.Pd. dan Dr. R. Kunjana Rahardi, M.Hum., selaku Dosen Pembimbing 1 dan 2 yang telah membantu serta memberikan semangat dan nasehat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi. 4. Seluruh Dosen Program Studi Pendidikan BahasaSastra Indonesia yang telah memberikan ilmu pengetahuan yang berguna bagi penulis. 5. Bapak Robertus Marsidiq selaku Staf Sekretariat Program Studi Pendidikan BahasaSastra Indonesia yang telah membantu mengurus seluruh administrasi dan persyaratan sampai akhirnya penulis dapat mengujikan penelitian ini. 6. Ibuku, Bapakku, Mas Eko, Mbak Ina, dek Jihan, dan Mbak Sri yang selalu mengingatkan dan memberi dukungan kepada penulis untuk segera menyelesaikan skripsi ini.. x.
(11) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 7. Sahabat seperjuangan kelompok payung, Deny, Cecil, Lio, Sunti, terima kasih untuk dukungan dan kebersamaannya serta suka duka selama mengerjakan skripsi ini. 8. Sahabat-sahabatku, Devi, Yuni, Dinda, Mbak Etik, Nanda, Neo, Agus, Eko, Apri, Rian, Ronal, Ade, serta teman-teman PBSI Angkatan 2010 terima kasih atas kebersamaan dan suka duka yang telah kita lalui selama i ni . 9. Keluarga kost “Diva”, Astro, Mando, Sekar, Capcus, Tinatun, Mbak Lina, Elen, Anggit, Ika, Novi, terima kasih untuk semangat, kebersamaan, canda tawa, serta kekeluargaan yang kita lalui bersama. 10. Sahabatku dari SMA, Echank, Inka, Febri, Rocky, Alfan, dan Ella yang selalu mengingatkan perkembangan skripsi penulis setiap bulan, bahkan setiap minggu. 11. Para pengajar “Omah Pohon”, Dona, Carlo, Robby, Kak Angel, Mbak Zita, Mr.Rangga, Mas Indra serta murid-murid “Omah Pohon” yang selalu memberikan keceriaan di kala penulis sedang penat dengan skripsi. 12. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu, yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini. Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih kurang sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk menyempurnakan skripsi ini. Semoga skripsi ini dapat berguna dan menjadi kajian yang bermanfaat bagi pembaca pada umumnya.. Penulis,. Septi Sulistyorini. xi.
(12) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL ........................................................................................... i HALAMAN PERSETUJUANPEMBIMBING ................................................. ii HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii HALAMAN PERSEMBAHAN ........................................................................ iv HALAMAN MOTTO ........................................................................................ v PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ............................................................ vi PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS ....................................................................... vii ABSTRAK....................................................................................................... viii ABSTRACT........................................................................................................ ix KATA PENGANTAR ........................................................................................ x DAFTAR ISI .................................................................................................... xii BAB I PENDAHULUAN ................................................................................... 1 1.1 LatarBelakang ................................................................................................ 1 1.2 RumusanMasalah ........................................................................................... 4 1.3 TujuanPenelitian ............................................................................................ 4 1.4 ManfaatPenelitian .......................................................................................... 4 1.5 BatasanIstilah................................................................................................. 6 BAB II KAJIAN PUSTAKA ............................................................................. 7 2.1 Penelitian yang Relevan ................................................................................. 7 2.2 KajianTeori .................................................................................................... 9 2.2.1 MartabatBahasa........................................................................................... 9 2.2.2 RagamBahasa............................................................................................ 10 2.2.3 RagamBahasaIlmiah ................................................................................. 11 2.2.4 Kalimat ..................................................................................................... 12 2.2.5 Unsur-unsurKalimat .................................................................................. 13 2.2.6KalimatEfektif ........................................................................................... 16 xii.
(13) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 2.2.7Ciri-ciriKalimatEfektif ............................................................................... 18 BAB III METODOLOGI PENELITIAN ....................................................... 24 3.1 JenisPenelitian ............................................................................................. 24 3.2 Sumber Data dan Data Penelitian ................................................................. 25 3.3 TeknikPengumpulan Data ........................................................................... 26 3.4 InstrumenPenelitian ..................................................................................... 27 3.5 TeknikAnalisis Data .................................................................................... 28 3.6 Triangulasi ................................................................................................... 29 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN.................................. 30 4.1 Deskripsi Data ............................................................................................ 30 4.1.1 Kehematan Kata ....................................................................................... 31 4.1.2 Kecermatan ............................................................................................... 31 4.1.3 KesepadananStruktur ................................................................................ 31 4.1.3.1 PenyimpanganKonjungsi ........................................................................ 31 4.1.3.2 KetidakjelasanSubjek ............................................................................. 32 4.1.4 KepaduanMakna ....................................................................................... 33 4.1.5 KelogisanMakna ....................................................................................... 33 4.2 HasilAnalisis Data danPembahasan .............................................................. 34 4.2.1 PenyimpanganWujudKebahasaan.............................................................. 34 4.2.1.1 Kehematan Kata .................................................................................... 34 4.2.1.1.1 PenyimpanganPengulangan Kata ........................................................ 35 4.2.1.1.2 PenyimpanganMakna yang Sama ........................................................ 36 4.2.1.2 Kecermatan ............................................................................................ 37 4.2.1.2.1 PenyimpanganEjaan ............................................................................ 37 4.2.1.2.2 PenyimpanganDiksi............................................................................. 40 4.2.1.2.3 Penyimpangan Kata Baku ................................................................... 41 4.2.1.2.4 PenyusunanKalimat ............................................................................. 42 4.2.1.3 KesepadananStruktur.............................................................................. 43 4.2.1.3.1 PenyimpanganKonjungsi ..................................................................... 43 xiii.
(14) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 4.2.1.3.2 KetidakjelasanSubjek .......................................................................... 55 4.2.1.4 KepaduanMakna .................................................................................... 56 4.2.1.5 KelogisanMakna .................................................................................... 57 4.2.2 UpayaMeminimalisasiPenyimpangan ........................................................ 58 4.2.2.1 UpayaMeminimalisasiPenyimpanganKehematan Kata .......................... 59 4.2.2.2 UpayaMeminimalisasiPenyimpanganKecermatan .................................. 62 4.2.2.3 UpayaMeminimalisasiPenyimpanganKesepadananStruktur .................... 66 4.2.2.4 UpayaMeminimalisasiPenyimpanganKepaduanMakna ........................... 69 4.2.2.5 UpayaMeminimalisasiPenyimpanganKelogisanMakna ........................... 72 BAB V PENUTUP ........................................................................................... 79 5.1 Kesimpulan .................................................................................................. 79 5.2 Saran ........................................................................................................... 80 5.2.1 BagiPenelitiSelanjutnya ............................................................................ 80 5.2.2 Bagi Program StudiPsikologi .................................................................... 81 DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 82 LAMPIRAN ..................................................................................................... 85 Lampiran 1.Tabulasi Data .................................................................................. 85 Lampiran 2.Triangulasi Data............................................................................ 143 DAFTAR RIWAYAT HIDUP. xiv.
(15) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB I PENDAHULUAN. 1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa merupakan alat komunikasi yang penting bagi kehidupan manusia. Bahasa digunakan sebagai sarana berpikir, berekspresi, serta berkomunikasi antarsesama manusia. Tanpa adanya bahasa, manusia satu dengan yang lainnya tidak bisa berinteraksi dengan baik. Komunikasi yang lancar didukung oleh penggunaan bahasa yang baik dan benar agar mudah dipahami oleh kedua belah pihak (Rahayu, 2007:6). Bahasa Indonesia mempunyai kedudukan sebagai bahasa negara yang tercantum di dalam Undang-Undang Dasar 1945, pasal 36. Bahasa Indonesia sebagai bahasa negara berfungsi sebagai (1) bahasa resmi kenegaraan, (2) bahasa pengantar resmi di lembaga pendidikan, (3) bahasa resmi di dalam perhubungan tingkat nasional untuk kepentingan perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pemerintahan, serta (4) bahasa resmi dalam pengembangan kebudayaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan serta teknologi. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional berfungsi sebagai (1) lambang kebanggaan nasional, (2) lambang identitas nasional, (3) alat pemersatu masyarakat dengan latar belakang yang berbeda-beda, serta (4) alat perhubungan antar budaya dan antar daerah. Hal tersebut dinyatakan dalam ikrar Sumpah Pemuda pada Kongres Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 (Sugono, 2009:3).. 1.
(16) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 2. Selain menjadi bahasa nasional dan bahasa negara, bahasa Indonesia juga berfungsi sebagai bahasa pemersatu bangsa. Hal ini disebabkan oleh masyarakat Indonesia yang terlahir dari berbagai suku, budaya, serta bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, terciptalah bahasa Indonesia sebagai bahasa pemersatu bangsa, agar masyarakat Indonesia mampu berkomunikasi dengan baik terhadap orangorang yang berbeda suku dan bahasa. Setiap bahasa mempunyai ragam bahasa. Rahardi (2009:18) menyatakan bahwa ragam bahasa bila dilihat berdasarkan medianya dibagi menjadi dua macam, yaitu ragam bahasa lisan dan bahasa ragam tulis. Ragam bahasa lisan ditentukan oleh penggunaan aksen bicara atau penekanan tertentu dalam aktivitas bertutur dan pemakaian intonasi, sedangkan ragam bahasa tulis ditentukan oleh pemakaian tanda baca yang tepat, ejaan, kata, frasa, klausa, kalimat, paragraf, dan seterusnya. Ragam bahasa tulis yang memperhatikan penggunaan tanda baca, ejaan, kata, frasa, klausa, dan kalimat secara tepat merupakan ragam bahasa tulis baku. Ragam bahasa tulis baku sering digunakan di lingkungan akademis biasanya dalam hal penulisan karya ilmiah, laporan, skripsi, jurnal, dan sebagainya. Penulisan karya ilmiah harus menggunakan ragam bahasa tulis baku. Karya ilmiah tersebut dapat berupa makalah, skripsi, tesis, serta disertasi. Karya ilmiah harus disajikan dalam bahasa ilmiah, yang memiliki ciri-ciri bersifat lugas, mematuhi kaidah gramatika, kalimat bebas dari ambiguitas, serta keefektifan kalimatnya terpenuhi. Keefektifan kalimat menjadi kunci penting, agar pesan dalam kalimat tersebut dapat diterima oleh pembaca dengan baik (Chaer, 2011:2)..
(17) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 3. Suatu kalimat dalam ragam bahasa tulis harus memiliki unsur kalimat yang lengkap, seperti subjek (S), predikat (P), objek (O), pelengkap (Pel), dan keterangan (K). Jika unsur-unsur tersebut telah melengkapi suatu kalimat, kalimat itu akan mudah dipahami oleh pembaca. Rahardi (2009:93) mengemukakan bahwa kalimat yang mampu menimbulkan kembali gagasan atau ide yang ada di dalam diri penulis disebut dengan kalimat efektif. Pemakaian kalimat yang efektif merupakan hal penting dalam suatu penulisan karya ilmiah, terutama di perguruan tinggi. Mahasiswa di perguruan tinggi rata-rata kurang teliti dalam menggunakan kalimat efektif untuk menulis sebuah karya ilmiah. Penggunaan kalimat yang tidak efektif akan membuat pemartabatan bahasa menjadi kurang optimal. Rahardi (2006:5) berpendapat bahwa pemartabatan bahasa merupakan tinggi rendahnya derajat bahasa yang dilihat dari kacamata pemakainya. Bahasa yang bermartabat dilihat dari banyak segi, seperti kompleksitas tingkatan bahasa, tingkat kesantunan bahasa, kompleksitas susunan kalimat, serta kompleksitas susunan frasenya. Melihat hal tersebut, kalimat yang efektif dalam ragam bahasa tulis menjadi ciri penting untuk menentukan pemartabatan bahasa. Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin meneliti penggunaan kalimat yang tidak efektif dalam skripsi mahasiswa. Skripsi merupakan karya ilmiah yang disajikan menggunakan bahasa ilmiah dan wajib dibuat oleh para mahasiswa. Penggunaan kalimat yang efektif menjadi kunci penting dalam penulisan karya ilmiah. Namun, peneliti masih menemukan penggunaan kalimat yang tidak efektif dalam skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi. Oleh karena itu, penelitian ini dituangkan dengan judul Pemakaian Kalimat Efektif dalam.
(18) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 4. Skripsi Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Lulusan Tahun 2013 sebagai Wahana Pemartabatan Bahasa.. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang. di atas, rumusan masalahnya adalah: (1). wujud kebahasaan apa sajakah yang menunjukkan penyimpangan prinsip-prinsip efektivitas kalimat dalam skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lulusan tahun 2013?; (2) bagaimanakah upaya meminimalisasi penyimpangan wujud-wujud kebahasaan yang tidak efektif bagi pemartabatan bahasa Indonesia?. 1.3 Tujuan Penelitian Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai adalah: (1) Mendeskripsikan wujud kebahasaan yang menunjukkan penyimpangan prinsip-prinsip efektivitas kalimat dalam skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lulusan tahun 2013. (2) Mendeskripsikan upaya meminimalisasi penyimpangan wujud-wujud kebahasaan yang tidak efektif bagi pemartabatan bahasa Indonesia.. 1.4 Manfaat Penelitian (1) Bagi Peneliti Penelitian ini diharapkan mampu menambah wawasan dan pengetahuan penulis mengenai keefektifan kalimat serta kaitannya dengan.
(19) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 5. pemartabatan bahasa. Selain menambah wawasan dan pengetahuan, peneliti juga dapat mengambil manfaat adanya temuan-temuan baru dari berbagai data yang ditemukan oleh peneliti. (2) Bagi Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia Penelitian ini diharapkan dapat menambah informasi mengenai pemartabatan bahasa melalui pemanfaataan kalimat yang efektif pada skripsi mahasiswa. Oleh sebab itu, Program Studi Pendidikan Bahasa Sastra Indonesia dapat mengambil langkah untuk mencegah kurang optimalnya pemartabatan bahasa melalui pemberian materi kepada mahasiswa. (3) Bagi Program Studi Psikologi Penelitian ini diharapkan mampu memberikan informasi bagi Program Studi Psikologi mengenai pentingnya kalimat efektif dalam penyusunan skripsi mahasiswa serta kaitannya dengan martabat bahasa. Dengan adanya penelitian ini, mahasiswa dapat menambah wawasan dan pengetahuan mereka dengan melihat kesalahan-kesalahan yang ditemukan oleh peneliti. (4) Bagi Peneliti Lain Penelitian mengenai kalimat efektif serta kaitannya dengan pemartabatan bahasa ini perlu dikembangkan lebih lanjut agar menambah wawasan lebih banyak. Subjek dalam penelitian ini sebatas meneliti tentang skripsi mahasiswa. Peneliti lain yang ingin meneliti topik sejenis.
(20) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 6. mungkin dapat meneliti mengenai pemartabatan bahasa dalam media massa agar lebih berkembang.. 1.5 Batasan Ilmiah (1) Martabat Bahasa Martabat bahasa merupakan tinggi rendahnya derajat bahasa yang dilihat dari kacamata pemakainya (Rahardi, 2006:5). Menurut Soepomo (2001:29), martabat bahasa adalah tinggi rendahnya derajat bahasa di kalangan masyarakat pemakai bahasa tersebut serta banyak atau sedikitnya rasa hormat yang diberikan terhadap bahasa tersebut. (2) Kalimat Kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulis yang sekurang-kurangnya memiliki subjek (S) dan predikat (P), (Rahayu, 2007:78). (3) Kalimat Efektif Kalimat efektif merupakan kalimat yang dapat menimbulkan kembali gagasan atau ide pada diri pembaca sama seperti ide yang dimiliki oleh penulisnya sehingga gagasan tersebut dapat diterima pembaca dengan baik dan utuh (Rahardi, 2009:129)..
(21) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB II KAJIAN PUSTAKA. Bab ini akan menguraikan penelitian yang relevan serta landasan teori. Penelitian yang relevan berisi tentang topik sejenis yang dilakukan oleh peneliti lain. Landasan teori berisi tentang teori-teori yang akan digunakan sebagai landasan analisis dari penelitian ini yang terdiri atas teori pemartabatan bahasa, ragam bahasa, ragam bahasa ilmiah, kalimat, unsur-unsur kalimat, kalimat efektif, dan ciri-ciri kalimat efektif. 2.1 Penelitian yang Relevan Peneliti menemukan dua penelitian yang memiliki kesamaan dengan judul yang sedang diteliti. Penelitian pertama dilakukan oleh Anton Widiardianto (2006) dengan judul “Kesalahan Struktur Kalimat pada Karangan Argumentasi Siswa Kelas X SMA Bellarminus Jakarta Tahun Ajaran 2005/2006”. Penelitian kedua dilakukan oleh Retno Nathaliawati (2010) dengan judul “Pemakaian Kosakata dan Kalimat yang Kurang Tepat pada Karangan Siswa Kelas II SMP Stella Duce I Yogyakarta, Ditinjau dari Segi Efektifnya.”. Penelitian pertama dilakukan oleh Anton Widiardianto (2006) dengan judul “Kesalahan Struktur Kalimat pada Karangan Argumentasi Siswa Kelas X SMA Bellarminus Jakarta Tahun Ajaran 2005/2006” memiliki beberapa permasalahan yang telah dipecahkan diantaranya adalah kesalahan struktur kalimat yang dilakukan oleh siswa kelas X SMA St. Bellarminus Jakarta ditemukan sebanyak 77 kesalahan. Kesalahan tersebut meliputi kesalahan unsur. 7.
(22) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 8. kalimat terdapat 71 kesalahan, 3 kesalahan urutan unsur kalimat, dan 4 kesalahan urutan dalam frasa. Kesalahan kekurangan unsur kalimat masih dikelompokkan menjadi bagian yang lebih khusus, yaitu terdapat 71 kesalahan. Kesalahan tersebut adalah kesalahan kekurangan unsur subjek ada 42 kesalahan, kesalahan kekurangan unsur predikat ada 6 kesalahan, kesalahan unsur subjek dan predikat ada 18 kesalahan, dan kesalahan kekurangan unsur objek ada 5 kesalahan. Penelitian kedua dilakukan oleh Retno Nathaliawati (2010) dengan judul “Pemakaian Kosakata dan Kalimat yang Kurang Tepat pada Karangan Siswa Kelas II SMP Stella Duce I Yogyakarta, Ditinjau dari Segi Efektifnya”, menjabarkan beberapa kesalahan pemakaian kosakata dari 38 karangan siswa terdapat 63 kesalahan berdasarkan ejaannya dan 132 kesalahan berdasarkan pembentukan makna. Kesalahan pemakaian kalimat yang tidak efektif terdapat 177 kesalahan. Kesalahan pemakaian kosakata dan kalimat itu disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya faktor diri sendiri yang sering menggunakan bahasa campuran, sehingga siswa masih mencampurkan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia ke dalam karangannya. Selain faktor diri sendiri, ada juga faktor lingkungan sekolah dan lingkungan rumah, dimana para siswa sering menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia setiap harinya. Misalnya siswa sering mengucapkan “ndak ada”, seharusnya “tidak ada”. Contoh tersebut merupakan satu contoh yang tidak efektif. Kedua penelitian ini memiliki persamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti yang berjudul “Pemakaian Kalimat Efektif dalam Skripsi Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
(23) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 9. Lulusan Tahun 2013 sebagai Wahana Pemartabatan Bahasa”. Persamaan penelitian ini mengkaji mengenai kalimat yang efektif. Namun, perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang telah ada yaitu penelitian ini meneliti penyimpangan efektivitas kalimat yang berkaitan dengan martabat bahasa. Peneliti berharap semoga penelitian ini dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mengenai pemartabatan bahasa melalui pemanfaatan kalimat yang efektif.. 2.2 Kajian Teori 2.2.1 Martabat Bahasa Martabat bahasa merupakan tinggi rendahnya derajat bahasa yang dilihat dari kacamata para pemakainya. Para pemakai bahasa, di dalam bahasa Indonesia diartikan ada bermacam-macam jenisnya. Namun, secara umum pemakaian bahasa tersebut dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok anggota masyarakat bahasa Indonesia, serta orang asing yang lazim berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Martabat bahasa Indonesia lebih menunjuk kepada banyak atau sedikitnya penghargaan yang diberikan kepada bahasa Indonesia yang dipakai oleh penggunanya (Rahardi, 2006:5). Derajat martabat bahasa dapat dilihat dari pembakuan tata tulis, tata ejaan, dan aspek kebahasaan lainnya. Pemakaian bahasa baku secara luas akan membuat bahasa Indonesia mudah dipahami oleh orang banyak. Melihat hal tersebut, derajat bahasa Indonesia akan terlihat semakin tinggi martabatnya..
(24) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 10. Soepomo (2001:29) mengemukakan bahwa martabat bahasa adalah tinggi rendahnya derajat bahasa yang dilihat dari kacamata pemakainya, maupun orang asing. Bahasa diibaratkan sebagai manusia dan harta kekayaan. Manusia mempunyai derajat yang tinggi di mata orang lain, begitupun juga dengan bahasa. Bahasa akan bermartabat di mata orang lain apabila bahasa tersebut memenuhi kaidah-kaidah kebahasaan yang baik dan baku. Beberapa hal yang mempengaruhi pemartabatan bahasa, misalnya seperti kemampuan seseorang dalam berbahasa, pemakaian dan kreativitas bahasa, peradaban suatu bangsa untuk berbahasa, sistem tulis dan pembakuan bahasa, serta jumlah tutur pemakai bahasa tersebut.. 2.2.2 Ragam Bahasa Ragam bahasa dinyatakan dalam beberapa definisi. Chaer (2011:3) menyebutkan bahwa bahasa Indonesia mempunyai banyak ragam bahasa. Ragam bahasa tersebut terjadi karena ada banyak faktor yang terdapat di dalam masyarakat pemakai bahasa itu. Faktor tersebut bisa berupa usia, pendidikan, agama, serta latar belakang budaya daerah. Berdasarkan faktor tersebut, bahasa menjadi beragam variasinya. Adanya beberapa faktor tersebut maka bahasa Indonesia mempunyai banyak ragam bahasa. Ragam tersebut diantaranya, ragam bahasa bersifat perorangan, ragam bahasa sekelompok masyarakat dari wilayah tertentu, ragam bahasa masyarakat dari golongan sosial tertentu, ragam bahasa dalam kegiatan suatu bidang, ragam bahasa dalam situasi formal, ragam bahasa dalam situasi nonformal, serta ragam bahasa yang digunakan secara lisan (Chaer, 2011:3-4)..
(25) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 11. Menurut Rahardi (2009:13), ragam bahasa mempunyai jumlah yang banyak. Pertimbangan kepentingan dan perhitungan konteks menjadi faktor penting hadirnya ragam bahasa yang melimpah. Ragam bahasa tersebut dikategorikan menurut tiga komponen, yaitu ragam bahasa berdasarkan waktu, media, dan pesan komunikasinya. Kridalaksana (dalam Nasucha, dkk: 2009:12) mengatakan bahwa ragam bahasa merupakan variasi bahasa menurut pemakainya yang dibedakan menurut topik, hubungan pelaku, dan medium pembicaraan. Ragam bahasa diartikan juga sebagai variasi bahasa yang timbul menurut situasi dan fungsi yang memungkinkan adanya variasi tersebut.. 2.2.3 Ragam Bahasa Ilmiah Widjono (2008:26) mendefinisikan bahwa ragam bahasa ilmiah digunakan dalam kajian ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) yang terkait dengan penulisan upaya pencarian, penemuan, atau publikasi dalam bentuk proposal, penemuan teori baru, dan lain-lain. Ragam bahasa ilmiah disebut juga sebagai sarana verbal yang efektif, efisien, baik dan benar. Ragam ini biasa digunakan untuk mengkomunikasikan proses kegiatan dan hasil penalaran ilmiah yang berupa proposal kegiatan ilmiah, karya tulis ilmiah, serta laporan penelitian. Ragam bahasa ilmiah mempunyai ciri-ciri tersendiri, yaitu struktur kalimat jelas, struktur wacana bersifat formal, singkat, cermat, objektif, dan konsisten. Sementara itu, Rahayu (2007:24) menjabarkan ragam bahasa ilmiah merupakan salah satu ragam yang digunakan dalam menulis karya ilmiah, baik.
(26) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 12. tulis maupun lisan, dalam memaparkan suatu fakta ataupun konsep. Bahasa ilmiah harus mempunyai sifat lugas dan jelas. Bahasa ilmiah menggunakan kalimat yang baku, dan tidak boleh menggunakan kalimat ambigu dan fragmentaris. Chaer (2011:3) mengemukakan bahwa ragam ilmiah digunakan untuk melaporkan hasil kegiatan ilmiah yang akan dilakukan dalam suatu penelitian ilmiah. Laporan hasil penelitian ilmiah dalam buku ini disebut dengan karangan ilmiah. Karangan ilmiah ini banyak sekali macamnya, seperti makalah, skripsi, tesis, maupun disertasi. Penulisan karya ilmiah disajikan menggunakan bahasa yang ilmiah, dengan ciri-ciri memiliki sifat yang lugas, mematuhi kaidah gramatika, efektivitas kalimatnya terpenuhi, kalimatnya bebas dari ambiguiti, bebas dari makna kias dan figura bahasa, mematuhi persyaratan penalaran, serta mematuhi kaidah ejaan yang terdapat dalam EYD.. 2.2.4 Kalimat Kalimat menurut Sabarti (1988:116) merupakan suatu gagasan atau konsep yang dimiliki oleh seseorang yang dituangkan ke dalam bentuk kalimat. Suatu kalimat yang baik harus memenuhi kaidah persyaratan gramatikal. Kaidah tersebut meliputi, unsur penting yang harus dimiliki sebuah kalimat, aturan tentang Ejaan Yang Disempurnakan, serta cara memilih kata dalam kalimat (diksi). Sementara itu, Rahayu (2007:78) menyatakan kalimat adalah satuan bahasa terkecil, dalam wujud lisan atau tulis yang sekurang-kurangnya memiliki subjek (S) dan predikat (P). Kalimat bagi seorang pembaca merupakan kesatuan.
(27) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 13. yang mengandung makna atau pikiran, sedangkan bagi seorang penulis, kalimat merupakan satu kesatuan pikiran atau makna yang diungkapkan dalam kesatuan kata. Rahardi (2009:76) menjabarkan bahwa kalimat dapat dipahami sebagai satuan bahasa terkecil yang dapat digunakan untuk menyampaikan suatu ide atau gagasan. Tataran di atas kalimat masih terdapat satuan kebahasaan lain yang jauh lebih besar, sehingga kalimat dianggap sebagai satuan terkecil. Suatu kalimat relatif berdiri sendiri, mempunyai intonasi akhir, dan terdiri atas klausa.. 2.2.5 Unsur-unsur Kalimat Unsur-unsur kalimat menurut Wijayanti (2011:34) dan Rahardi (2009:77) hampir mempunyai pendapat yang sama. Unsur sebuah kalimat meliputi subjek dan predikat. Tanpa unsur-unsur tersebut kalimat tidak akan dapat terbentuk dengan baik. Unsur kalimat tersebut akan dijabarkan sebagai berikut. a. Subjek Menurut Wijayanti (2011:34), subjek merupakan bagian kalimat yang menandai apa yang akan dinyatakan oleh penulis. Selain itu, subjek juga dapat diidentifikasi dengan cara mengajukan pertanyaan dengan menggunakan predikat sebagai tumpuan. Kata tanya yang dapat digunakan adalah apa/siapa (yang) ...?. Rahardi (2009:77) menyatakan bahwa subjek tidak selalu berada di depan predikat. Ada cara yang digunakan untuk mengidentifikasi subjek, yaitu dengan menggunakan pertanyaan, siapa diikuti kata yang dan disertai predikat. Dari pengertian kedua ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa subjek.
(28) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 14. merupakan suatu bagian kalimat yang menandai apa yang akan dipikirkan oleh penulis, tetapi letak subjek tidak selalu berada di depan predikat. Selain itu, untuk mengetahui subjek dapat dilakukan dengan cara menggunakan pertanyaan yaitu siapa + yang + disertai predikat. Dengan demikian, subjek dapat diketahui keberadaannya. b. Predikat Rahardi (2009:80) menyatakan bahwa predikat merupakan unsur penting yang ada di dalam sebuah kalimat, sedangkan Wijayanti (2011:34) menyatakan bahwa predikat merupakan bagian kalimat yang menandai apa yang akan dinyatakan oleh penulis. Jadi, dari pedapat kedua ahli tersebut dapat dikatakan bahwa predikat merupakan unsur penting didalam sebuah kalimat yang bertujuan untuk memperjelas kalimat ketika ada subjek di dalamnya. Sama halnya seperti subjek, ada beberapa cara untuk mengetahui predikat. Cara yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan pertanyaan „bagaimana‟ atau „mengapa‟. Negasi adalah cara kedua untuk mengetahui predikat. Jika predikat dalam suatu kalimat berupa kata kerja dapat dinegasikan dengan kata „tidak‟, sedangkan predikat yang merupakan kata benda dapat dinegasikan menggunakan kata „bukan‟ (Rahardi, 2009:81). c. Pelengkap Wijayanti (2011:35) berpendapat bahwa pelengkap dalam suatu kalimat mempunyai persamaan dengan objek, tetapi pelengkap juga mempunyai perbedan dengan objek. Persamaan pelengkap dengan subjek adalah kedua unsur tersebut sama-sama berkategori nomina atau frasa nominal, sedangkan.
(29) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 15. perbedaan antara pelengkap dengan objek adalah pelengkap tidak dapat menjadi subjek jika kalimat dipasifkan. Persamaan dan perbedaan antara pelengkap dengan objek juga dibahas oleh Rahardi. Rahardi (2009:84) menyatakan bahwa persamaan pelengkap dengan objek adalah keduanya harus hadir untuk melengkapi kata kerja dalam kalimat dan keduanya tidak dapat diawali dengan kata depan. Hal itu berbeda dengan Wijayanti yang menganalisa persamaan pelengkap dan objek dilihat dari kategori jenis katanya, sedangkan Rahardi lebih menyoroti persamaan pelengkap dan objek dari sisi letaknya. d. Objek Objek merupakan bagian dari kalimat yang dapat melengkapi kata kerja (Wijayanti, 2011:36), sedangkan Rahardi (2009:82) berpendapat bahwa objek merupakan bentuk kebahasaan yang letaknya langsung berada tepat di belakang predikat. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa objek merupakan bagian dari kalimat yang letaknya persis di belakang predikat. Hal ini bertujuan untuk memperjelas dan melengkapi kata kerja dalam suatu kalimat. Di sisi lain, pendapat Wijayanti dan Rahardi mempunyai pandangan yang sama terhadap kategori objek. Kategori objek dapat berupa nomina atau frasa nominal dan terletak setelah predikat verba aktif ransitif. Predikat verba aktif transititf itu ditandai dengan –kan, me-, dan meN-..
(30) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 16. e. Keterangan Keterangan merupakan suatu unsur yang terdapat di dalam satu kalimat, tetapi bukan menjadi hal yang inti (Wijayanti, 2011:36). Senada dengan Wijayanti, Rahardi (2009:85) menyatakan bahwa unsur keterangan di dalam satu kalimat tidak wajib hadir. Oleh karena itu, berdasarkan pendapat kedua ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa keterangan merupakan suatu unsur yang terdapat di dalam kalimat, yang tidak selalu ada tetapi keterangan dalam kalimat akan membuat kalimat tersebut jelas maknanya.. 2.2.6 Kalimat Efektif Alek (2011:248) mendefinisikan bahwa keefektifan kalimat dapat diukur dari sudut pandangan banyak sedikitnya kalimat itu berhasil mencapai sasaran komunikasinya. Suatu kalimat yang dapat meyakinkan dan menarik pembaca dapat dikatakan sebagai kalimat yang efektif. Dengan adanya diksi atau pilihan kata yang jelas dan dapat dipahami, kalimat tersebut telah mencapai sasaran pembaca karena kalimat dapat dipahami secara mendalam. Hal ini menunjukkan bahwa kalimat tersebut efektif. Sementara itu, Rahayu (2007:78) menyatakan bahwa kalimat efektif adalah kalimat yang tidak hanya memenuhi syarat komunikatif, gramatikal, dan sintaksis, tetapi suatu kalimat harus hidup, segar, mudah dipahami, serta dapat menimbulkan daya khayal kepada pembacanya. Pengertian efektif dalam kalimat adalah ketepatan menggunakan kalimat dan ragam bahasa dalam situasi tertentu. Kalimat dibangun oleh isi dan bentuk. Isi merupakan pikiran penulis, sedangkan.
(31) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 17. bentuk merupakan kata-kata yang mewakili pikiran penulis. Isi dan bentuk dalam suatu kalimat menjadi kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun suatu kalimat. Kalimat efektif, menurut Widjono (2007:160) adalah kalimat yang singkat, padat, jelas, lengkap, serta dapat menyampaikan informasi secara jelas. Kalimat dinyatakan singkat karena hanya menggunakan unsur-unsur yang diperlukan saja. Suatu kalimat yang dapat mengomunikasikan pikiran atau perasaan penulis kepada pembaca secara tepat dinamakan kalimat efektif. Penggunaan kalimat yang efektif dapat membuat komunikasi antara penulis dan pembaca tidak mengalami salah komunikasi, atau salah pengertian. Jika kalimat yang terbentuk bertele-tele dan panjang, kalimat tersebut kurang tepat disebut sebagai kalimat efektif. Rahardi (2009:93) menyatakan bahwa kalimat efektif merupakan kalimat yang dapat dipahami dan membangkitkan gagasan yang ada di dalam diri penulis yang sama dengan gagasan yang dimiliki oleh pembacanya. Jadi, suatu kalimat tidak boleh dipahami hanya berdasarkan unsur pembentuk kalimat saja, yaitu subjek dan predikat. Namun, lebih dari itu suatu kalimat yang dapat dipahami dan membangkitkan gagasan itulah yang dikatakan sebagai kalimat efektif. Untuk membentuk kalimat yang efektif, ada beberapa prinsip yang harus dipahami untuk membuat kalimat yang efektif. Prinsip-prinsip tersebut harus diperhatikan ketika membuat kalimat efektif. Jika salah satu kalimat tidak memperhatikan prinsip keefektifan kalimat, suatu kalimat dapat dikatakan kurang efektif karena tidak dapat menimbulkan gagasan sama seperti penulisnya.
(32) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 18. 2.2.7 Ciri-ciri Kalimat Efektif Rahardi (2009:93) mengatakan bahwa kalimat yang efektif mempunyai beberapa prinsip. Prinsip yang harus dikuasai oleh seorang penulis adalah konstruksi kalimat tersebut disusun dengan mempertimbangkan kesepadanan bentuk dan unsurnya. Jika suatu kalimat tidak sesuai dengan prinsip dan pedoman yang berlaku, kalimat tersebut dinyatakan melanggar ketentuan prinsip efektivitas kalimat. Selain menggunakan kata yang baku, efektif, dan mudah dipahami, kalimat efektif juga mempunyai prinsip-prinsip. Berikut ini adalah prinsip efektivitas kalimat menurut Rahardi (2009:129). 1) Kesepadanan struktur Kesepadanan struktur merupakan keseimbangan antara gagasan dan pikiran yang ada di dalam kalimat (Rahardi, 2009:129). Kesepadanan tersebut mempunyai arti bahwa kalimat yang utuh terbentuk dari kuatnya ide atau gagasan yang dituangkan ke dalam kalimat tersebut. Pada prinsip kesepadaan struktur ini ada tiga hal penting yang menjadi tolok ukur efektivitas kalimat. Tiga hal tersebut adalah penggunaan konjungsi, kejelasan subjek dan predikat, serta tidak adanya subjek yang ganda. 2) Kehematan kata Kehematan kata mempunyai arti bahwa suatu kalimat yang seharusnya bisa dibuat pendek mengapa harus ditulis bertele-tele dengan menggunakan kata-kata yang mubazir (Rahardi, 2009:132). Prinsip kehematan kata sangat penting ditekankan. Ada tiga hal yang menjadi prinsip kehematan kata, yaitu.
(33) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. penghilangan. penggunaan. subjek,. penghilangan. superordinat,. 19. dan. penghindaran kesinoniman. 3) Kecermatan Kecermatan adalah kehati-hatian dalam menyusun kalimat agar tidak menimbulkan tafsir ganda (Rahardi, 2009:133). Kecermatan kalimat menjadi hal penting di dalam sebuah kalimat. Kalimat yang tidak cermat penyusunannya akan menimbulkan tafsir ganda atau bahkan tidak dapat dimengerti oleh pembaca. Dalam penelitian ini, peneliti menemukan beberapa penyimpangan kecermatan yaitu, penggunaan diksi, penulisan ejaan, penyimpangan kata baku, dan struktur penyusunan kalimat. 4) Kepaduan makna Kepaduan makna merupakan bentuk kebahasaan yang padu dan tidak terpecah belah (Rahardi, 2009:134). Maksud dari bahasa yang padu adalah bahasa tersebut saling berkaitan dan mempunyai kekuatan pada makna kalimat. Sebuah kalimat yang tidak padu akan mempengaruhi makna kalimat. Kalimat yang padu akan terlihat dari ide pokok atau gagasan yang disampaikan penulis, yaitu maknanya jelas. 5) Kelogisan makna Kelogisan makna adalah kalimat yang logis dan bernalar (Rahardi, 2009:135). Kalimat yang logis dan bernalar maksudnya adalah kalimat yang disusun dapat dipahami secara logis. Sebagai contohnya, di sini di jual sup buntut, sup brenebon, dan kaki sapi. Kalimat tersebut salah karena tidak memperhatikan prinsip kelogisan makna. Ketika contoh-contoh sup dituliskan.
(34) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 20. secara rinci, ada satu hal yang janggal yaitu kaki sapi, padahal sebelumnya dituliskan beberapa macam sup. Hal ini yang mengakibatkan kalimat tersebut melanggar prinsip kelogisan makna. Penulisan kalimat yang benar seharusnya adalah di sini di jual sup buntut, sup brenebon, dan sup kaki sapi. Pembenaran contoh tersebut termasuk kalimat yang logis.. Widjono (2007:160-164) menyatakan ciri-ciri kalimat efektif ada delapan macam, diantaranya adalah: 1) Keutuhan Kalimat yang utuh ditandai adanya kesepadanan dan kesatuan struktur serta makna kalimat. Kalimat bila dilihat dari segi gramatikal mungkin benar, tetapi maknanya bisa saja salah. Oleh karena itu, dibentuk kesepadanan dan kesatuan struktur makna kalimat agar menjadi kalimat yang utuh. 2) Kesejajaran Kesejajaran merupakan bentuk kata yang digunakan secara konsisten, misalnya seperti kesatuan, kemakmuran, kedamaian, serta perdamaian. Kesejajaran merupakan hal penting yang harus ada didalam prinsip kalimat efektif. 3) Kefokusan Kalimat yang efektif mampu memfokuskan pesan yang dianggap penting agar kalimat tersebut dapat dipahami maksudnya. Kalimat yang tidak fokus, artinya ide pokoknya kurang jelas maka makna dari kalimat tersebut akan sulit dipahami..
(35) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 21. 4) Kehematan Kehematan suatu kalimat dapat terjadi apabila setiap unsur kalimat berfungsi dengan baik. Unsur yang tidak mengandung makna kalimat (mubazir) harus dihilangkan. 5) Kecermatan dan kesantunan Kecermatan dalam suatu kalimat ditentukan oleh pemilihan kata. Pilihan kata menjadi hal penting bukan karena istilah tersebut sering digunakan orang banyak, tetapi istilah tersebut mempunyai daya tarik sendiri. Sementara itu, kesantunan kalimat dapat diartikan bahwa gagasan yang disampaikan dapat mengembangkan suasana yang baik, harmonis, dan akrab. 6) Kevariasian Kevariasian kalimat dapat dilakukan dengan memvariasikan struktur, diksi, dan gaya asalkan variasi tersebut tidak menimbulkan salah paham atau salah komunikasi. 7) Ketepatan Diksi Kecermatan diksi merupakan hal penting bagi pembentukan suatu kalimat. Oleh karena itu, penulis harus jeli dalam memilih kata yang akan dituangkan ke dalam kalimat yang efektif. 8) Ketepatan Ejaan Kecermatan ejaan dalam suatu kalimat dapat mempengaruhi makna kalimat. Pemakaian ejaan yang salah dan tidak tepat, maka akan membuat makna kalimat sulit dipahami..
(36) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 22. Wijayanti (2011:42-44) menyatakan bahwa kalimat efektif harus mempunyai ciri-ciri adanya kesatuan gagasan, kesepadanan, kehematan, kelogisan, kecermatan, serta kebervariasian. Ciri-ciri tersebut akan dibahas lebih rinci sebagai berikut. 1) Kesatuan gagasan Kalimat yang efektif hanya mengandung satu gagasan atau satu pikiran pokok. Jika dalam kalimat tersebut mengandung beberapa gagasan, kalimat tersebut bukan merupakan kalimat efektif. 2) Kesepadanan Kesepadanan merupakan keseimbangan pikiran atau gagasan dengan struktur kalimat. Kalimat yang sepadan akan menghasilkan kalimat yang indah bila memenuhi kriteria seperti kalimat memiliki subjek dan predikat yang jelas, kata depan tidak berada di depan subjek, konjungsi intrakalimat tidak dipakai dalam kalimat tunggal, serta subjek tidak ganda. 3) Keparalelan Keparalelan atau kesejajaran merupakan kesamaan bentuk atau makna yang digunakan dalam kalimat. Bentuk kalimat yang sejajar akan memudahkan pembaca untuk memahami maksud kalimat tersebut. 4) Kehematan Kehematan didefinisikan bahwa kalimat yang tidak seharusnya digunakan, lebih baik dihilangkan saja. Cara untuk menghemat kata tersebut adalah dengan tidak mengulang subjek, tidak memakai bentuk superordinat, todak menggunakan kata bersinonim, serta tidak menjamakkan kata-kata..
(37) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 23. 5) Kelogisan Logis memiliki arti bahwa kalimat dikatakan efektif jika dapat diterima oleh akal sehat. Kalimat yang logis dan bernalar akan memudahkan pembaca dalam memahami maknanya. 6) Kecermatan Kecermatan dalam kalimat efektif memiliki arti bahwa kalimat ditulis secara cermat, tidak menimbulkan tafsir ganda, dan tepat dalam pemilihan diksi atau pilihan katanya. 7) Kebervariasian Kalimat yang efektif menunjukkan bahwa penggunaan kalimat tersebut tidak monoton. Penulis yang mahir memvariasikan kalimat, maka kalimat tersebut akan terasa lebih hidup. Selain itu, variasi dalam panjang pendeknya kalimat di awal kalimat juga menandakan keefektifan suatu kalimat..
(38) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB III METODOLOGI PENELITIAN. Dalam bab ini akan dipaparkan mengenai metode penelitian. Hal-hal yang berkaitan dengan metode penelitian tersebut meliputi: (1) jenis penelitian, (2) sumber data dan analisis data, (3) teknik pengumpulan data, (4) instrumen penelitian, (5) teknik analisis data, dan (6) trianggulasi.. 3.1 Jenis Penelitian Penelitian yang berjudul Pemakaian Kalimat Efektif dalam Skripsi Mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta Lulusan Tahun 2013 sebagai Wahana Pemartabatan Bahasa merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi mengenai status suatu gejala yang ada, yaitu gejala apa adanya pada saat penelitian itu dilakukan (Arikunto, 2009: 234). Penelitian kualitatif merupakan penelitian untuk memahami fenomena yang dialami oleh subjek penelitian. Subjek penelitian tersebut dapat berupa perilaku, persepsi, motivasi, dan tindakan secara holistik dengan cara yang holistik dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada konteks yang alamiah dengan metode alamiah (Moleong, 2006:6). Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2006:4) menyatakan bahwa penelitian deskriptif kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku. 24.
(39) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 25. yang dapat diamati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tersebut secara holistik (utuh). Oleh karena itu, dalam hal ini tidak boleh mengisolasikan individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai bagian dari suatu keutuhan. Kirk dan Miller (dalam Moleong, 2006:6) mendefinisikan bahwa penelitian kualitatif merupakan tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung dari pengamatan. pada. manusia. baik. dalam. kawasannya. maupun. dalam. peristilahannya. Moleong (dalam Herdiansyah, 2012:9) mendefinisikan penelitian kualitatif merupakan penelitian ilmiah yang bertujuan untuk memahami suatu fenomena dalam konteks sosial secara alamiah dengan mengedepankan proses interaksi komunikasi yang mendalam antara peneliti dengan fenomena yang diteliti. Melihat definisi tersebut ada dua poin penting yang mendasari definisi tersebut. Poin pertama adalah ilmiah yang berarti bahwa penelitian kualitatif dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya dan dapat dipercaya kesahihannya (validitas dan reliabilitasnya). Poin kedua adalah konteks sosial yang berarti bahwa dalam penelitian kualitatif, fenomena yang diteliti merupakan satu kesatuan antara subjek dan lingkungan sosialnya.. 3.2 Sumber Data dan Data Penelitian Sumber data dalam penelitian ini berupa skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lulusan tahun 2013. Selanjutnya, data penelitian dalam penelitian ini berupa kalimat-kalimat yang.
(40) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 26. menyimpang dari ketentuan efektivitas kalimat yang terdapat dalam skripsi mahasiswa Program Studi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lulusan tahun 2013. Data tersebut diungkap dengan tujuan untuk mengetahui wujud-wujud kebahasaan yang menyimpang dari ketentuan prinsip efektivitas kalimat.. 3.3 Teknik Pengumpulan Data Sugiyono (2011: 225) menyatakan bahwa teknik pengumpulan data dapat dilihat dari dua segi, yaitu segi sumber data dan segi cara. Bila dilihat dari segi sumber data, teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan menggunakan sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer merupakan sumber yang di dapat secara langsung, sedangkan sumber sekunder merupakan sumber yang tidak di dapat secara langsung. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data sumber sekunder yang berupa dokumen skripsi. Guba dan Lincoln (dalam Moleong, 2006: 216) mendefinisikan dokumen adalah bahan tertulis yang disiapkan karena adanya permintaan dari penyidik. Dokumen sejak dulu sudah digunakan dalam penelitian sebagai sumber data, karena dokumen dimanfaatkan untuk menguji dan menafsirkan. Dokumen dibagi atas dua macam, yaitu dokumen pribadi dan dokumen resmi. Moleong (2006: 219) membagi dokumen menjadi dokumen internal dan dokumen eksternal. Dokumen internal dapat berupa memo, pengumuman, maupun instruksi dari suatu lembaga. Sementara itu, dokumen eksternal dapat berupa majalah, buletin, pernyataan, dan berita. Fungsi dari dokumen eksternal.
(41) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 27. yaitu dapat dimanfaatkan untuk menelaah konteks sosial, kepemimpinan, dan lainlain. Dalam penelitian ini, teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan menggunakan metode dokumentasi. Menurut Sugiyono (2011:240) dokumen merupakan catatan suatu peristiwa yang sudah berlalu. Penggunaan dokumen ini berkaitan dengan apa yang disebut analisis isi. Cara menganalisis dokumen tersebut adalah dengan memeriksa dokumen secara teliti. Pada penelitian ini dokumen yang digunakan adalah tujuh buah skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta lulusan tahun 2013.. 3.4 Instrumen Penelitian Moleong (2006:168) menyatakan bahwa instrumen penelitian merupakan alat pengumpul data atau alat untuk mengumpulkan data. Di sisi lain, Sugiyono (2012:102) menyatakan bahwa meneliti adalah kegiatan untuk melakukan pengukuran. Untuk melakukan pengukuran yang relevan dan valid, maka diperlukan alat ukur yang baik. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian biasanya dinamakan instrumen penelitian. Berdasarkan pendapat kedua ahli di atas dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian merupakan alat ukur untuk mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid dan relevan. Instrumen penelitian dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri. Maksud dari peneliti sendiri adalah peneliti bertugas.
(42) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 28. sebagai perencana kegiatan, pelaku pengumpulan data, menganalisis data yang telah ditemukan serta melaporkan hasil penelitian.. 3.5 Teknik Analisis Data Spradley (dalam Sugiyono, 2011:244) mendefinisikan bahwa analisis data dalam penelitian apapun merupakan cara berpikir. Hal ini berkaitan dengan pengujian secara sistematis terhadap sesuatu untuk menentukan bagian, hubungan antar bagian, dan hubungannya secara keseluruhan. Analisis data bertujuan untuk mencari pola. Sementara itu, Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2006: 248) menyatakan bahwa analisis data merupakan upaya mengolah data, mengorganisasikan data, memilahnya menjadi kesatuan data, mensitesiskan, mencari dan menemukan pola, menemukan sesuatu yang penting, serta memutuskan apa yang dapat dibagikan kepada orang lain. Langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk menganalisis penelitian ini adalah: (1) Peneliti mengumpulkan kalimat yang menyimpang dari prinsip efektivitas kalimat. (2) Peneliti mentranskrip kalimat tersebut. (3) Peneliti memasukkan kalimat ke dalam tabel tabulasi data dan analisis data yang berisi kalimat, jenis kesalahan dan perbaikannya. (4) Peneliti membuat triangulasi dan mengkonfirmasi pada ahli. (5) Peneliti mendeskripsikan data dan melakukan pembahasan..
(43) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 29. 3.6 Triangulasi Moleong (1989: 195) mengatakan bahwa triangulasi merupakan teknik pemeriksaan suatu data dengan memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data tersebut. Penelitian ini menggunakan teknik triangulasi untuk memeriksa sah atau tidaknya data yang telah diperoleh. Peneliti membuat triangulasi yang bertujuan untuk melakukan pengecekan terhadap validasi data yang berhasil ditemukan. Pengecekan keabsahan triangulasi dalam penelitian ini diperiksa oleh pakar atau ahli dalam penelitian kalimat efektif. Ahli atau pakar yang memeriksa data dalam triangulasi penelitian ini adalah Dr. Y. Karmin, M.Pd..
(44) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN. Bab ini berisi uraian tentang (1) deskripsi data, (2) hasil analisis data dan pembahasan. Deskripsi data berupa kalimat yang ada di dalam skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2013. Hasil penelitian berupa rincian penyimpangan efektivitas kalimat yang ditemukan dalam skripsi mahasiswa tersebut. Pada bagian pembahasan berisi uraian bahasan dari data yang telah disajikan.. 4.1 Deskripsi Data Data penelitian yang dianalisis berupa kalimat dalam skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2013. Data yang diambil dalam penelitian ini merupakan kalimat yang menyimpang dari prinsip efektivitas kalimat. Data penelitian yang terkumpul berjumlah 251 penyimpangan. Data yang berjumlah 251 penyimpangan tersebut sudah mewakili data kualitatif. Berdasarkan data penelitian, peneliti menemukan 251 penyimpangan dalam skripsi mahasiswa program studi Psikologi Universitas Sanata Dharma lulusan tahun 2013. Penyimpangan. yang berjumlah 251 itu meliputi. penyimpangan prinsip kehematan kata (47 penyimpangan), penyimpangan prinsip kecermatan (84 penyimpangan), penyimpangan prinsip kesepadanan struktur (87. 30.
(45) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 31. penyimpangan), penyimpangan prinsip kepaduan makna (19 penyimpangan), dan penyimpangan prinsip kelogisan makna (14 penyimpangan).. 4.1.1 Kehematan Kata Berdasarkan data penelitian, peneliti menemukan adanya penyimpangan prinsip kehematan kata. Penyimpangan kehematan kata tersebut meliputi penyimpangan pengulangan kata dan penyimpangan penggunaan makna yang sama (sinonim).. 4.1.2 Kecermatan Berdasarkan data penelitian, peneliti menemukan adanya penyimpangan prinsip kecermatan. Penyimpangan itu meliputi penyimpangan penulisan ejaan, penyimpangan penggunaan diksi, penyimpangan penggunaan kata baku, dan penyimpangan penyusunan kalimat.. 4.1.3 Kesepadanan Struktur Berdasarkan data penelitian, peneliti menemukan adanya penyimpangan prinsip kesepadanan stuktur. Penyimpangan itu meliputi penyimpangan konjungsi dan penyimpangan subjek. Penyimpangan tersebut dapat dirinci sebagai berikut. 4.1.3.1 Penyimpangan Konjungsi Peneliti. menemukan. penyimpangan. konjungsi. sebanyak. adanya. penyimpangan. Penyimpangan konjungsi tersebut meliputi penyimpangan.
(46) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 32. konjungsi intrakalimat, penyimpangan konjungsi antarkalimat, penyimpangan konjungsi korelatif, dan penyimpangan konjungsi ganda. Penyimpangan konjungsi intrakalimat meliputi penyimpangan konjungsi sedangkan, penyimpangan konjungsi sehingga, dan penyimpangan konjungsi kemudian, dan, padahal, dan bahkan. Penyimpangan konjungsi antarkalimat meliputi penyimpangan konjungsi akan tetapi, penyimpangan konjungsi jadi, penyimpangan konjungsi namun, penyimpangan konjungsi dengan demikian, penyimpangan konjungsi oleh karena, dan penyimpangan konjungsi selain itu. Penyimpangan konjungsi korelatif hanya terdapat satu penyimpangan saja, yaitu penyimpangan konjungsi baik…ataupun. Konjungsi tersebut yang benar adalah baik…maupun. Dalam skripsi tersebut peneliti hanya menemukan satu penyimpangan konjungsi korelatif. Penyimpangan konjungsi ganda meliputi penyimpangan konjungsi dengan demikian…maka, penyimpangan konjungsi jika…maka, penyimpangan konjungsi bila…maka, penyimpangan konjungsi apabila…maka, dan penyimpangan konjungsi jika…, baik…maupun.. 4.1.3.2 Ketidakjelasan Subjek Berdasarkan data penelitian, peneliti menemukan adanya penyimpangan subjek. Penyimpangan tersebut diantaranya adalah penyimpangan kalimat yang memang tidak bersubjek, penyimpangan kalimat tidak bersubjek karena penggunaan kata lalu, penyimpangan kalimat tidak bersubjek karena penggunaan kata maka, penyimpangan kalimat tidak bersubjek karena penggunaan kata agar,.
(47) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 33. penyimpangan kalimat tidak bersubjek karena penggunaan kata terkadang, penyimpangan kalimat tidak bersubjek karena penggunaan kata meyakini, dengan, yang, dalam, dan penyimpangan kalimat tidak bersubjek karena penggunaan kata yaitu.. 4.1.4 Kepaduan Makna Berdasarkan data penelitian, peneliti menemukan penyimpangan kepaduan makna. Bentuk kebahasaan yang padu menjadi ciri dalam prinsip kepaduan makna. Bentuk kebahasaan yang padu juga akan menambah makna kalimat menjadi mudah dimengerti oleh pembaca. Penyimpangan kepaduan makna tidak dispesifikasi menjadi beberapa kesalahan karena cakupannya cukup luas. Penjabaran hasil penelitian kepaduan makna akan dijabarkan ke dalam pembahasan.. 4.1.5 Kelogisan Makna Berdasarkan data penelitian, peneliti menemukan penyimpangan kepaduan makna. Kelogisan makna mempunyai ciri yaitu ‘bernalar’. Kalimat yang terbentuk tentunya berkaitan dengan nalar. Kalimat bernalar mempunyai arti bahwa kalimat tersebut ide atau gagasannya sejalan dengan akal sehat. Penyimpangan kelogisan makna mempunyai spesifikasi yang sama dengan kepaduan makna, yaitu tidak dapat dispesifikasi menjadi beberapa kesalahan. Penjabaran hasil penelitian kelogisan makna akan dijabarkan ke dalam pembahasan..
(48) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 34. 4.2 Hasil Analisis Data dan Pembahasan Analisis dari hasil penelitian ini menyajikan pembahasan tentang (1) penyimpangan wujud-wujud kebahasaan dan (2) upaya pemartabatan bahasa Indonesia. Data yang telah dibahas pada bab sebelumnya akan dibahas lebih mendalam pada bagian pembahasan ini. Data akan dibahas secara berurutan berdasarkan rumusan masalah yang sudah ditentukan. 4.2.1 Penyimpangan Wujud Kebahasaan Dalam skripsi mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Sanata Dharma lulusan 2013, peneliti menemukan banyak sekali penyimpangan terhadap prinsip efektivitas kalimat berdasarkan teori Kunjana Rahardi. Prinsip-prinsip itu adalah (1) kehematan kata, (2) kecermatan, (3) kesepadanan stuktur, (4) kepaduan makna, dan (5) kelogisan makna. Bentuk penyimpangan itu akan dibahas sebagai berikut. 4.2.1.1 Kehematan Kata Rahardi (2009) menyatakan bahwa kehematan kata merupakan bentuk kebahasaan yang sifatnya tidak bertele-tele dan kalimatnya tidak terlalu panjang. Bentuk kalimat yang panjang tentu tidak mengikuti prinsip kehematan kata. Dalam hal ini, kehematan kata bukan berarti merujuk pada kalimat yang bentuknya pendek-pendek saja. Peneliti menemukan dua penyimpangan prinsip kehematan kata, diantaranya adalah (1) pengulangan kata, dan (2) penggunaan makna yang sama. Penyimpangan prinsip-prinsip tersebut akan dibahas sebagai berikut..
(49) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 4.2.1.1.1. 35. Penyimpangan Pengulangan Kata. Penyimpangan pengulangan kata merupakan salah satu bentuk prinsip kehematan kata. Dalam hal ini kalimat yang terbentuk tidak boleh menggunakan kata-kata yang sama dan diulang secara terus menerus. Tentunya hal ini melanggar prinsip kehematan kata, dan menyebabkan kalimat tidak efektif. Peneliti menemukan contoh penyimpangan pengulangan kata yang terdapat dalam skripsi mahasiswa yang akan dijabarkan sebagai berikut: (a) Kemudian istilah ini mengalami perubahan istilah menjadi kesetaraan gender dengan indikator partisipasi dan akses, kontrol, dan manfaat. (Psikologi/13/Felicia/hlm.17) (b) Peneliti memilih menggunakan fasilitas Google Docs, karena Google Docs memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan situs penyediaan layanan survey online lainnya. (Psikologi/13/Felicia/hlm.36). Menurut Rahardi (2009) pengulangan kata pada suatu kalimat tidak efektif. Jika kalimat bisa dibuat pendek tanpa adanya kata yang diulang, kata-kata yang tidak perlu tersebut tidak perlu diulang sebanyak dua kali. Hal tersebut akan melanggar prinsip kehematan kata. Pada contoh kalimat pertama, terdapat pengulangan kata istilah sebanyak dua kali. Hal tersebut mengakibatkan kalimat kurang efektif, bertele-tele, dan terlalu panjang. Oleh sebab itu, kata istilah sebaiknya ditulis sekali saja agar menjadi kalimat yang efektif. Pada contoh kalimat kedua, terdapat pengulangan kata google docs sebanyak dua kali. Hal itu melanggar prinsip kehematan kata. Pada kalimat tersebut, google docs tanpa ditulis dua kalipun makna kalimat sudah jelas. Oleh sebab itu, sebaiknya kata google docs ditulis sekali saja. Pemakaian kata istilah dan kata google docs pada kalimat di atas yang benar adalah:.
(50) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 36. (a) Kemudian istilah ini mengalami perubahan menjadi kesetaraan gender dengan indikator partisipasi dan akses, kontrol, dan manfaat. (b) Peneliti memilih menggunakan fasilitas Google Docs, karena memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan situs penyediaan layanan survey online lainnya.. 4.2.1.1.2 Penyimpangan Penggunaan Makna yang Sama Penyimpangan penggunaan makna yang sama merupakan bentuk pelanggaran prinsip kehematan kata. Dalam hal ini kalimat yang terbentuk terdiri dari penggunaan kata yang berbeda tetapi memiliki arti atau makna yang sama. Hal ini tentu melanggar prinsip kehematan kata. Peneliti menemukan beberapa contoh penyimpangan penggunaan makna kata yang terdapat dalam skripsi mahasiswa yang akan dijabarkan sebagai berikut: (a) Bekerja pada masa sekarang ini adalah sebuah aktifitas atau kegiatan yang tidak asing lagi bagi manusia. (Psikologi/13/Felicia/hlm.1) (b) Masih adanya persepsi/anggapan di kalangan masyarakat bahwa wanita yang meniti karir sering menjadi biang keladi dari setiap keretakan keluarga dan ketidakharmonisan suami dan anak. (Psikologi/13/Felicia/hlm.11). Penggunaan bentuk kalimat seperti pada contoh di atas kurang tepat sehingga menyebabkan kalimat tidak efektif. Rahardi (2009) menjelaskan bahwa dalam prinsip kehematan kata terdapat hal-hal yang harus dihindari, salah satunya adalah penghindaran kesinoniman. Hal tersebut bertujuan untuk mengantisipasi penggunaan kata yang berbeda, tetapi memiliki arti yang sama. Pada contoh kalimat pertama, terdapat kata aktivitas dan kegiatan. Kata aktivitas mempunyai makna melakukan kegiatan atau bekerja (KBBI,2007: 23). Kata kegiatan mempunyai makna usaha atau melakukan pekerjaan (KBBI, 2007: 362). Jadi, kesimpulannya kedua kata itu mempunyai makna yang sama. Oleh sebab itu, penulisan kata aktivitas dan kegiatan cukup ditulis salah satu saja. Pada.
(51) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 37. contoh kalimat kedua, terdapat kata persepsi dan anggapan. Kata persepsi mempunyai makna anggapan atau tanggapan langsung (KBBI, 2007: 863). Kata anggapan mempunyai makna sangkaan, pendapat, atau pandangan (KBBI, 2007: 47). Jadi, kesimpulannya kedua kata tersebut mempunyai makna yang sama. Oleh sebab itu, salah satu kata saja yang ditulis agar menjadi kalimat yang efektif. Pemakaian kata aktivitas dan kegiatan, serta persepsi/anggapan pada kalimat di atas yang benar adalah: (a) Bekerja pada masa sekarang adalah sebuah kegiatan yang tidak asing lagi bagi manusia. (b) Masih adanya anggapan di kalangan masyarakat bahwa wanita yang meniti karir sering menjadi biang keladi ketidakharmonisan keluarga.. 4.2.1.2 Kecermatan Rahardi (2009) menyatakan bahwa kecermatan kata merupakan bentuk kehati-hatian dalam menuliskan susunan kalimat agar tidak terjadi penyimpangan prinsip kecermatan. Penyusunan kalimat agar tidak melanggar prinsip penyimpangan kecermatan bertujuan untuk menghindari makna ambigu atau tafsir ganda. Peneliti menemukan beberapa penyimpangan kecermatan, diantaranya adalah (1) penulisan ejaan, (2) penggunaan diksi, (3) penyimpangan kata baku, dan (4) penyimpangan penyusunan kalimat. Penyimpangan tersebut akan dibahas sebagai berikut. 4.2.1.2.1 Penyimpangan Ejaan Penyimpangan ejaan dalam penelitian ini terkait dengan penulisan kata atau tanda baca. Penyimpangan penulisan kata merupakan bentuk kebahasaan yang harus dihindari oleh para penulis. Jika dalam suatu kalimat terdapat.
(52) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 38. kesalahan penulisan, tentunya akan menyebabkan kalimat tidak efektif dan kesalahan penulisan akan terus terbawa jika kita tidak mengatasi kesalahannya. Peneliti menemukan beberapa contoh penyimpangan penulisan kata yang terdapat dalam skripsi mahasiswa yang akan dijabarkan sebagai berikut: (a) Bekerja pada masa sekarang ini adalah sebuah aktifitas atau kegiatan yang tidak asing lagi bagi manusia.(Psikologi/13/Felicia/hlm.1) (b) Lalu jaman berkembang, dan manusia mulai mencoba bercocok tanam untuk bisa makan. (Psikologi/13/Felicia/hlm.1) (c) Hak dan kewajiban bukanlah merupakan peraturan atau kaedah melainkan merupakan perimbangan kekuasaan dalam bentuk hal individu di satu pihak yang tercermin pada kewajiban pada pihak lain. (Psikologi/13/Yohanes/hlm.23) (d) Peneliti menggunakan sistem Tryout terpakai dikarenakan kegiatan organisasi kemahasiswaan yang dijadikan subjek oleh peneliti, merupakan kegiatan organisasi kemahasiswaan yang terjadi tidak setiap saat sehingga tidak dapat kembali. (Psikologi/13/Novianti/hlm.40). Penggunaan kalimat seperti contoh di atas kurang tepat dan tidak efektif. Pada contoh kalimat pertama terdapat penulisan kata aktifitas. Menurut pedoman EYD (2005), penulisan kata tersebut salah. Penulisan kata aktifitas yang benar adalah aktivitas. Pada kalimat kedua terdapat penulisan kata jaman. Hal itu melanggar prinsip kecermatan. Penulisan kata jaman yang benar adalah zaman. Selain itu, penulisan kata kaedah yang sesuai dengan KBBI adalah kaidah. Pada kalimat terakhir terdapat kata tryout yang tidak dicetak miring. Menurut pedoman EYD (2005: 26) huruf miring dipakai untuk menuliskan kata ilmiah atau kata asing kecuali yang telah disesuaikan ejaannya. Oleh sebab itu, karena kata tryout merupakan istilah asing maka harus dicetak miring penulisannya. Penulisan ejaan yang tepat pada kalimat di atas yang benar adalah: (a) Bekerja pada masa sekarang ini adalah sebuah aktivitas atau kegiatan yang tidak asing lagi bagi manusia. (b) Lalu zaman berkembang, dan manusia mulai mencoba bercocok tanam untuk bisa makan..
(53) PLAGIAT PLAGIATMERUPAKAN MERUPAKANTINDAKAN TINDAKANTIDAK TIDAKTERPUJI TERPUJI. 39. (c) Hak dan kewajiban bukanlah merupakan peraturan atau kaidah melainkan merupakan perimbangan kekuasaan dalam bentuk hal individu di satu pihak yang tercermin pada kewajiban pada pihak lain. (Psikologi/13/Yohanes/hlm.23) (d) Peneliti menggunakan sistem Tryout terpakai dikarenakan kegiatan organisasi kemahasiswaan yang dijadikan subjek oleh peneliti, merupakan kegiatan organisasi kemahasiswaan yang terjadi tidak setiap saat sehingga tidak dapat kembali.. Penggunaan ejaan tanda baca dalam sebuah kalimat tentunya sangat penting. Sebuah tanda baca juga mempengaruhi maksud kalimat. Dalam hal ini akan dijabarkan bentuk penggunan ejaan di dalam kalimat yang kurang tepat. Penggunaan ejaan yang kurang tepat tentu juga akan mengurangi keefektifan kalimat. Peneliti menemukan beberapa contoh penyimpangan ejaan dalam skripsi mahasiswa yang akan dijabarkan sebagai berikut: (a) “…baik melalui keterampilan maupun jasa/kepandaian yang mereka punyai. (Psikologi/13/Yohanes/hlm.18) (b) Dengan demikian sikap wanita karier terhadap emansipasi wanita dapat ditunjukkan secara lebih tegas. (Psikologi/13/Felicia/hlm.52). Penggunaan pola kalimat seperti pada contoh di atas kurang tepat. Menurut pedoman EYD (2005: 68) penggunaan tanda baca garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, sehingga penulisan di dalam kalimat yang benar menggunakan kata atau. Selain itu, Wijayanti (2011: 37) mengatakan bahwa ketika terdapat konjungsi antarkalimat penulisannya harus diikuti tanda baca koma. Pada. contoh. kalimat. pertama,. terdapat. kesalahan. penulisan. jasa/kepandaian. Hal itu tentu melanggar prinsip kecermatan terutama dalam hal penggunaan ejaan. Tanda garis miring dalam kalimat tersebut seharusnya ditulis dengan kata atau. Pada contoh kalimat kedua, terdapat penulisan konjungsi.
Dokumen terkait
Angket ini bukan tes psikologi dari atasan atau dan manapun, maka dan itu Bapak/lbu/Sdr tidak perlu takut atau ragu-ragu dalam memberikan jawaban yang sejujurnya Artinya semua
• Bila ada edema (bengkak di kaki), tekanan darah tinggi, perlu mengurangi garam dan menghindari bahan makanan sumber natrium lainnya, seperti minuman bersoda, kaldu instan,
Alasan lima responden menyatakan bahwa perubahan peraturan bagi UMKM yang saat ini belum ada kepastian hukum karena pegawai pajak memberikan informasi yang
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penerapan pendekatan saintifik berbasis Mind Mapping dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika siswa
Oleh sebab itu, penelitian ini akan menguji pengaruh opini audit tahun lalu terhadap kinerja pemerintah daerah se-Sumatera serta bagaimana pengaruh tingkat korupsi dalam
Tahap dalam perancangan dan pembangunan sistem dilakukan dengan merancang dan membangun sistem rekomendasi restoran menggunakan metode AHP dalam menghitung nilai bobot
Rahayuningsih, S.Pd., M.Pd Implementasi Metode simulasi dengan teknik VCT sebagai upaya dalam meningkatkan aktifitas dan hasil belajar peserta didik kelas XC tentang
Audit internal adalah suatu fungsi penilaian yang bebas dalam suatu organisasi, guna menelaah atau mempelajari dan menilai kegiatan-kegiatan perusahaanguna memberikan