• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelas I I Kelas III

GAP KEBUTUHAN STANDAR

6.5 Upaya Mengatasi Gap Dalam Standar

Berdasarkan hasil dari Gap Analisis diketahui bahwa antara SNI dengan standar internasional yang ada baik itu ISO, CODEX maupun standar nasional yang diterapkan oleh masing-masing negara partner dagang, terdapat gap positif maupun negatif. Secara umum, gap yang terjadi sebenarnya berada pada parameter yang relatif sama yaitu dari mulai bahan baku, proses pengolahan sampai masalah packing dan labeling. SNI pada parameter tersebut mempunyai kelebihan atau gap positif. Di sisi lain, SNI juga mempunyai kekurangan atau gap negatif (Gambar 6.2).

6.5.1. Upaya pemenuhan Gap Standar (Kondisi Gap Negatif)

Pada kondisi adanya gap negatif, terutama terkait dengan persyaratan standar yang ada di negara tujuan ekspor, langkah yang bisa dilakukan adalah dengan memenuhi gap positif tersebut. Sebagai contoh, untuk parameter bahan baku, SNI cenderung tidak memperhatikan asal-usul bahan baku, maka langkah yang harus dilakukan adalah dengan memperbaiki kriteria bahan baku.

Kemudian terkait dengan masalah penanganan dan pengolahan adanya gap negatif lebih dikarenakan kurangnya kontrol mutu seperti inventory control yang bagus yang dilakukan secara regular.

Gambar 6.4 Pemenuhan Gap Standar

Keterangan: * dilakukan oleh Pelaku usaha/eksportir/Importir, ** dilakukan oleh pemerintah

Standar Internasional (CODEX, HACCP, ISO, National Standard - Partners) Standar Nasional Indonesia (SNI)

Solusi/Bridging the Gap (Praktis)* Sortasi (grading) ulang terhadap bahan

baku, penanganan bahan baku,

 uji keamanan bahan baku di laboratorium yang terkareditasi,

menjamin kesegaran (freshness) bahan baku,

 memastikan proses produksi sudah sesuai dengan standar yang dipersyaratkan,

quality control yang ketat, melakukan final inspection, penanganan/perbaikan handing dan storage yang benar (sesuai standar)

 melengkapi persyaratan administrasi

Kebijakan Mengatasi Gap Standar** Gap positif

• Syarat bahan baku

• Penanganan dan pengolahan • Kadar histamin

• Syarat mutu dan keamanan pangan • Ketentuan mutu, klasifikasi mutu • Ketentuan mengenai penampilan • Penandaan dan pelabelan

Petugas pengambil contoh, kriteria petugas, cara pengambilan contoh

Gap negatif

• Syarat bahan baku

• Penanganan dan pengolahan • Pengemasan

• Syarat mutu dan keamanan pangan • Klasifikasi mutu, Penggolongan mutu:

(berdasarkan golongan konsumen) • Penanganan dan pengolahan • Penyimpanan

• Ketentuan mengenai penampilan • Syarat khusus

• Cara pengambilan contoh: sesuai ISO 874

• Higienitas: harus sesuai CODEX • Zat terlarang: cadmium, formalin,

Masalah penyimpanan juga masih ada gap negatif, terutama menyangkut masalah kelembaban, rotasi stok harus dijaga, isi dan kemasan yang harus terlindungi dan terpisah untuk menghindari kontaminasi. Kemudian gap negatif dalam masalah kemasan juga harus diperbaiki dalam SNI yang cenderung tidak diperhatikan yaitu bahan kemasan yang harus food grade dan menjamin higienitas produk yang ada di dalamnya.

Di samping itu upaya pemenuhan gap negatif adalah dengan memperhatikan persyaratan-persyaratan khusus yang diterapkan dalam standar nasional mitra dagang. Persyaratan khusus tersebut termasuk diantaranya keberadaan benda asing yang tidak boleh terdapat dalam produk yang dikemas, kadar kelembaban tertentu dan zat terlarang seperti pada kasus produk makanan yaitu: kadmium, formalin, dan kromium.

Upaya pemenuhan gap negatif ini lebih diarahkan pada peningkatan daya saing dan akses pasar produk ekspor Indonesia. Sehingga dengan pemenuhan gap yang ada, keberterimaan produk Indonesia di pasar luar negeri bisa ditingkatkan. Di sisi lain, upaya pemenuhan gap negatif ini juga bermanfaat pada peningkatan kepedulian dan peningkatan kualitas produk sejenis yang beredar di pasar domestik.

6.5.2 Upaya Pemenuhan Gap Standar (Kondisi Gap Positif)

Dalam kondisi adanya gap positif antara SNI dengan standar nasional yang diterapkan mitra dagang Indonesia, maka sudah seharusnya gap positif tersebut dipertahankan. Gap positif yang ada dalam SNI juga berada pada parameter bahan baku, proses pengolahan sampai pengepakan. Beberapa gap positif tersebut, khususnya produk makanan, adalah seperti masalah syarat mutu dan keamanan pangan yang tidak boleh ada cemaran bakteri dan benda asing, seperti cemaran E.coli, cemaran zat Timbal, dan cemaran logam Kadmium. Di sisi lain, rujukan kadar histamin yang ditetapkan dalam SI untuk produk perikanan juga lebih tinggi dari pada yang diterapkan negara lain, yaitu SNI mematok maksimal 100 mg/kg. Sementara negara lain lebih tinggi dari itu, bahkan ada yang lebih dari 500 mg/kg. Di samping itu, dalam hal pengklasifikasian produk, SNI lebih menekankan pada

pengklasifikasian berdasarkan mutu, sementara negara lain lebih cenderung berdasarkan pada golongan konsumen.

Esensi dari upaya mempertahankan persyaratan yang ada dalam SNI yang mempunyai standar yang lebih tinggi adalah merupakan upaya pemerintah untuk melindungi konsumen dalam negeri untuk memperoleh bahan yang lebih berkualitas dan memenuhi persyaratan K3L sekaligus melindungi produsen dalam negeri dari persaingan produk sejenis dengan standar yang lebih rendah.

6.5.3 Upaya Pemenuhan Gap Standar Secara Praktis Oleh Dunia Usaha

Berdasarkan survey, diperoleh informasi mengenai berbagai upaya yang dilakukan oleh para pelaku usaha di Indonesia dalam memenuhi standar yang diinginkan oleh negara mitra dagang, seperti yang diuraikan dalam sub-bab sebelumnya yaitu sub-bab 6.3. Secara umum, langkah pemenuhan gap tersebut adalah menyangkut masalah sortasi (grading) ulang terhadap bahan baku, penanganan bahan baku, uji keamanan bahan baku melalui laboratorium uji dalam perusahaan dan laboratorium yang terkareditasi, upaya melakukan quality control yang ketat, melakukan final inspection, penanganan/perbaikan handling dan storage yang benar (sesuai standar) dan upaya melengkapi persyaratan administrasi (seperti sertifikasi, termasuk pelabelan dan lainnya).

6.5.4 Upaya Pemenuhan Gap Standar Secara Strategis oleh Pemerintah

Upaya pemenuhan gap standar secara strategis ini bisa dilakukan oleh pemerintah dengan dukungan berbagai pihak/instansi terkait dengan masalah standar dan perdagangan. Dalam kondisi adanya gap negatif pada SNI untuk produk tertentu, maka pemerintah bisa mengajukan usulan perubahan/amandemen terhadap SNI yang ada. Pada prinsipnya SNI memang dimungkinkan dilakukan perubahan secara berkala (dalam kurun waktu setelah lima tahun). Usulan perubahan ini adalah menyangkut berbagai parameter yang ada dalam SNI yang tidak memenuhi persyaratan standar internasional yang ada khususnya standar nasional yang diterapkan oleh mitra dagang Indonesia.

Di samping itu, secara tidak langsung, upaya pemenuhan gap standar juga bisa dilakukan oleh pemerintah. Berbagai upaya pemenuhan standar secara tidak langsung tersebut diantaranya adalah upaya perbaikan sarana dan prasarana

laboratorium uji termasuk di dalamnya tingkat teknologi, kelengkapan sarana dan prasarana, kualitas sumber daya manusia dan juga kualitas pelayanan. Keberadaan infrastruktur ini sangat penting dalam upaya untuk membangun budaya standar sekaligus upaya mengatasi gap standar yang ada, sehingga pihak pengguna (pengusaha) bisa memanfaatkannya dalam upaya memenuhi standar yang dipersyaratkan.

Hal praktis lainya yang bisa dilakukan adalah dengan melakukan hal-hal khusus seperti penertiban eksportir dan importir yang temporer yang cenderung memiliki pengalaman dan pengetahuan yang terbatas. Di samping itu, mereka juga cenderung memiliki infrastruktur pendukung yang terbatas seperti gudang dan cold storage yang sangat diperlukan dalam menjaga kualitas bahan baku dan bahan jadi. Upaya pengawasan barang yang beredar, khususnya untuk memantau produk yang beredar di pasaran yang berasal dari impor yang tidak memenuhi standar SNI. Selama ini pengawasan barang yang beredar mungkin lebih ditekankan pada upaya pemenuhan K3L, tetapi dalam konteks standar ini, pengawasan harus diperluas pada upaya pemenuhan persyaratan yang ada dalam SNI. Upaya pembentukan lembaga Early Warning System untuk produk yang beredar di pasar bisa dibentuk untuk mengatasi permasalahan standar dalam upaya perlindungan konsumen dan peningkatan daya saing produk nasional.

BAB VII

Dokumen terkait