• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III EVALUASI IMPLEMENTASI

B. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI PERATURAN DAERAH NO. 1

4. Upaya Reintegrasi Sosial

Upayareintegrasisosial adalahprosespengembaliankepadakeluarga, dan ataumasyarakat sehinggadapat menjalankan fungsi-fungsisosialnya dengan baik sebagaimana masyarakatpada umumnya. Upaya reintegrasi sosial dilaksanakan melalui bimbingan resosialisasi; koordinasi dengan PemerintahKabupaten/Kota,Pemulangan, danpembinaan lanjutan.

Upaya reintegrasi sosial gelandangan dan pengemis eks psikotik dilaksanakan setelahmenemukan keluarga dansiap menjadipengampu. Apabilagelandangan dan pengemistidak mempunyaikeluargamaka UPTD terkait wajibmemberikanperlindungan sosialyang berkelanjutan.

Reintegrasi sosial gelandangan dan pengemis dari luar daerah dilakukan setelahselesai menjalani rehabilitasi awaldi RPS.Reintegrasi sosial tersebut dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut: koordinasi dengan pemerintah daerah asal, penelusuran keluarga, dan penyerahan.Reintegrasisosial bagi gelandangandan pengemisdari luar

daerahadilaksanakan olehSKPDyang memilikitugaspokokdanfungsi di bidangsosial.

Sebagaimana telahdijelaskandidalamPerda DIYNo.1 Tahun2014 bahwa reintegrasi sosial adalah proses pengembalian kepada keluarga, dan/atau masyarakatsehinggadapat menjalankan fungsi-fungsisosialnya dengan baik sebagaimana masyarakatpada umumnya. Reintegrasisosial merupakantahapan terakhir dalamupaya penanganan gelandangan dan pengemis.Padatahapini, setelahmereka merasa mampu untukhidup mandiri,makan akandilepasdengansyarat tidakakan kembali lagike jalanan. Mereka akan dikembalikan kepada keluarga bagi yang masih memilikikeluarga. Untuk yangtidak memilikitempattinggal dapattetap tinggaldidalam panti sampaimereka benar- benardapat hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat.

Dinas SosialP3A KabupatenBantul juga akanmemberikan modal untukberwirausaha,termasukperalatan yangmerekaterimasaat mendapat pelatihan.Tidaksampai disitusaja, merekajugamasihterus dipantau selama3 bulan kedepan. Apabila mereka benar-benar dapatmandiri maka akandilepas, tetapijika tidakmaka akan terus dilakukanpemantauan.

Untuk saatini, setelah adanya Perda tentang penanganan gepeng tersebut jauh lebihbanyak yang sudah kembali kepada keluarga masing-masing. Bagimereka yangsudahdapat dilepas akansepenuhnyadilepas, danlebihmemfokuskanpendampinganuntuk yangbeluminginberubah.

Dalamhalini dukungandari masyarakatjugasangat diperlukan. Sikapdari masyarakatdi lingkungantempat tinggaldari eksgepeng tersebut sangat berpengaruh terhadap kepercayaan diri mereka. Dengan begitu merekadapat kembali hidupnormal seperti masyarakatpada umumnya, dengan tidakmemandang statussosialataupun latarbelakang kehidupan merekasebelumnya.selayaknya sebagai seorangwarganegara Republik Indonesia.

Penanganan Gelandangan dan Pengemis. Razia dilakukan rutin minimal 1 kali dalam sebulan. Gepeng yang tertangkap selanjutnya diserahkan ke Dinas Sosial setempat dan didata, yang kemudian baru diserahkan kepada Dinas Sosial DIY untuk diberi pembinaan. Pada

kenyataannya,setelah dilakukan penjangkauandan pendekatan, mereka kembalilagikejalanansebagaipengamen danpeminta-minta.Haltersebut disebabkan mentalitas gepeng yang sulit dihilangkan ditambah dengan adanyasindikat ataujaringan yang mengelolagelandangan dan pengemis.

Pada di tahunsebelumnya, dan sebanyak 7 gepengdi tahun2015, sedangkandiYogyakarta Kota,dari 46gepeng yangadaditahun 2013turun sebanyak8orang,dan 6orang ditahun2015. Berbedadengan Bantul,Kulon Progo, Gunung Kidul, dan Yogyakarta Kota, Kabupaten Sleman yang menempati jumlah gepeng terbanyak kedua, mengalami peningkatan di tahun 2015 yakni sebanyak 5 orang, walaupun di tahun 2014 terjadi penurunansebanyak 8orang dari79gepengdi tahunsebelumnya.

Jikadihitungdaridatayangada,jumlahgepengdiKabupatenBantul danKulon Progo selama tahun 2013 hingga 2015mengalami penurunan yang lebihbesardibandingkan dengankabupaten/kota lain diDIY yaitu sebanyak33dan35orang.Meskipun sedikitlebih banyakKabupaten Kulon Progo,namun Kabupaten Bantul dirasa lebihkonsisten dalam penurunan jumlah gepeng yangada. Maka dari itu perlu dilihat bagaimana upaya pemerin tah Kabupaten Bantul yang senyatan ya

dalam melakukan penanga nan

terhadapgepengyangada wilayahKabupaten Bantul.

PenelitiSeniordari PSKKUGM Prof.MuhajirDarwinmengungkapkan selama ini adanya peraturan daerah tidaklah tampak mempengaruhi pemberantasan gepeng di wilayah DIY. Menurut dia, peraturan daerah tersebuthanya membahaspenindakan diranahhilir tanpamenjangkau para p e m a i n y a n g a d a d i h u l u . B e r i k u t p e n d a p a t n y a :

"

G e p e n g y a n g a d a d i j a l a n a n itu diorganisir oleh mafia-mafia di belakangnya, mereka dijual untuk menghasilkanuang. Tapimemangsampaisaatinihukumbelummenyentuh aktor-aktordi balik gepeng-gepengyangada dijalanan,iniyang seharusnya

diperhatikan betul," ungkapnya.

(http://www.krjogja.com/web/news/read/13034/Mafia_Gepeng_Harus_Diti ndak_Tegasdiaksespada 24Oktober 2016pukul21:10WIB)

Pemerintahdaerah KabupatenBantul jugadibantu olehsalahsatu organisasi sosial yang ada di wilayah tersebut dalam penanganan gelandangandanpengemis, yaitu pantisosial Hafara.Panti sosialHafara

telah menjadi supporting system dalam penyelenggaraan usaha kesejahteraansosial pada penyandang masalahkesejahteraan sosial (PMKS) dengan melakukan jejaring (network) baik kepada pemerintah provinsi maupun pemerintahdaerah serta jaringan lembaga-lembaga yang bergerak dibidangyangsama di Yogyakarta.Salah satubentuk aplikasidaritanggung jawab tersebut adalah kerjasama antara panti sosial Hafara dengan pemerintahkotamaupun kabupatenuntuk penjangkauananakjalanandan gepeng. (pantihafara.com)

Dalamrangka penanganananakjalanan, gelandanganpengemis, dan psikotikDinas Sosial (P3A) Kabupaten Bantul bekerjasamadenganDinas SosialDIY,SatPolPP KabupatenBantul,danPolresBantultelahmengadakan raziadengan ruteJalan Samas dilanjutkankawasan wisata Parangtritis, kemudian wilayah Jetis, Imogiri, Pleret, Banguntapan, Piyungan, dan kawasan ringroad selatan. (http://sosial.bantulkab.go.id/berita/190-razia-anjal-gepeng-dan-psikotik diakses pada 27 November 2016 pukul 11.38 WIB).

Selain itujugapada pusatkeramaian sepertiPasar Bantul, Pasar ImogiridanPasar Piyungan.AdapunbeberapatitikdiBantul yangsering menjaditempatberkeliaran gelandangandanpengemis,diantaranyasekitar perempatan DruwoJalan Parangtritis, Jalan ImogiriTimur, Jalan Imogiri Barat, dan sekitar perempatan Blok O wilayah Banguntapan. Razia dilakukansecara acakdantidakterjadwal,untukmenghindari kebocoran informasi pelaksanaan razia.

(

http://jogja.antaranews.com/berita/326449/bantul-jaring-61-gelandangan-dan-pengemis, diaksespada27November2016pukul11.38

WIB).

Permasalahan lain yang terjadi diBantul saat ini adalah sulitnya merazia gepeng yang beroperasi dari rumah ke rumah (door to door). Pasalnya,gepeng yang beroperasidengan meminta-mintadari rumahke rumahtidakmemilikiwaktuberoperasiyangpasti.Tidak sedikitpula gepeng yang mengatasnamakan yayasan maupun organisasi agama tertentu. Banyaknya laporan adanya gepeng door to door ini terjadi di wilayah perbatasan,seperti KecamatanKasihan, Bantul,Sewon, danBanguntapan.

Pihak pemerintahjuga terus menghimbau masyarakatuntuk tidak memberikanuangkepada gelandangandanpengemisdijalanan. Melihat banyaknyapendatang dari luardaerah yangbelummengetahui adanyaperda tentanglarangan memberi sedekahdijalanbagi gelandangan danpengemis yangadadi Yogyakarta. Jikamasyarakat tidakmemberikanapapunkepada paragelandangandan pengemis,makatidakakanadapemasukandarihasil meminta-minta.Denganbegitumerekaakanjeradengansendirinya. Apabila masyarakattetap membiasakan memberi uangkepada gelandangan dan pengemis, makasama sajadengan membiarkanmental paragepeng tetap menjadimentalpengemissehinggaakansulituntuk dihilangkan.

Melihat permasalahan yang ada, peneliti berkeinginan untuk mengetahui bagaimana upaya pemerintah yang senyatanya dalam melakukanpenanganan terhadapgelandangandanpengemisdi Kabupaten Bantul.Maka penelititertarik untukmelakukanpenelitiandengan judul “Implementasi Kebijakan Penanganan Gelandangan dan Pengemis di Kabupaten Bantul”. Peneliti ingin mengetahui dan memahami lebih mendalamapakah pelaksanaankebijakan tersebuttelah dandapat berjalan dengan semestinya. Selain untuk mengurangi jumlah gelandangan dan pengemisdiDaerahIstimewaYogyakarta, khususnyadiKabupatenBantul, juga untukmengembalikan gelandangan danpengemisdalam kehidupan yangbermartabatsehinggamenciptakan ketertibanumumdankenyamanan masyarakat.