• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Aquadest (Dirjen POM, 1979: 96)

Nama resmi : AQUA DESTILLATA Nama lain : Aquades, air suling. Rumus molekul : H2O

Rumus struktur :

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak mempunyai rasa

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik. Kegunaan : Sebagai pelarut.

2. Etil asetat (Rowe, 2009: 253)

Nama resmi : ETHYL ACETATE

Nama lain : Acetic acid ethyl ester, acetic ester, acetic ether, acetoxyethane, etil etanoat, etil asetat.

Rumus molekul : C4H8O2 Rumus struktur :

Berat molekul : 88,1

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, mudah menguap dengan aroma seperti buah, harum, mudah terbakar. Kelarutan : Larut dalam 10 bagian air pada suhu 25°C, etil asetat

lebih larut dalam air pada suhu yang lebih rendah dari pada suhu yang lebih tinggi. Larut dalam aseton, kloroform, diklorometana, etanol (95%), dan eter, dan beberapa pelarut organik.

Kegunaan : Sebagai eluen. 3. Metanol (Sweetman, 2009: 2024)

Nama resmi : METHYL ALCOHOL

Nama lain : Metanol, metanoli, methanol, methanolum Rumus molekul : CH3OH

Rumus struktur :

Berat molekul : 32,04

Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap, cairan higroskopis, mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah terbakar.

Kelarutan : Bercampur dengan air, membentuk cairan jernih tidak berwarna, larut dengan diklorometana, dengan alkohol, dengan eter, dengan benzena, dan dengan sebagian besar pelarut organik lainnya.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, jauh dari panas, percikan dan nyala api terbuka.

Kegunaan : Sebagai pelarut. 4. Kloroform (Dirjen POM, 1995: 206)

Nama resmi : CHLOROFORMUM

Nama lain : Kloroform, Triklorometana [67-66-3] Rumus molekul : CHCl3

Rumus struktur :

Berat molekul : 119,38

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, mudah mengalir, mempunyai sifat khas, bau eter, rasa manis dan membakar, mendidih pada suhu lebih kurang 61° dipengaruhi oleh cahaya.

Kelarutan : Sukar larut dalam air, dapat bercampur dengan etanol, dengan eter, dengan benzena, dengan heksana, dan dengan lemah dan minyak menguap.

Kegunaan : Sebagai pelarut.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, pada suhu tidak lebih dari 30°.

5. NaCl (Dirjen POM, 1995: 584)

Nama resmi : NATRII CHLORIDUM Nama lain : Natrium klorida

Rumus molekul : NaCl Rumus struktur : Na – Cl Berat molekul : 458,44

Pemerian : Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur putih, rasa asin.

Kelarutan : Mudah larut dalam air, sedikit lebih mudah larut dalam air mendidih, larut dalam gliserin, sukar larut dalam etanol.

Kegunaan : Sebagai medium perkembang biakan larva udang. Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.

6. N-Heksan (Sweetman, 2009: 2024)

Nama resmi : n –HEXANE

Nama lain : n-Heksane Rumus molekul : C6H14

Berat molekul : 86,18

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, mudah terbakar, mudah menguap dengan bau samar.

Penyimpanan : Dalam wadah kedap udara. Kegunaan : Sebagai pelarut dan eluen. 7. Ragi (Dirjen POM, 1995: 1153)

Nama resmi : Ekstrak ragi

Sinonim : Sari ragi

Pemerian : Kuning kemerahan sampai coklat, bau khas tidak busuk.

Kelarutan : Larut dalam air, membentuk larutan kuning sampai coklat, bereaksi asam lemah.

Penympanan : Dalam wadah tertutup baik.

Kegunaan : Sebagai pakan larva Arthemia salina L. D. Uraian Larva 1. Klasifikasi (Mudjiman, 1998) Filum : Arthopoda Divisio : Crustaceae Subdivisio : Branchiopoda Ordo : Anostraca Famili : Artemiidae Genus : Artemia

Species : Artemia salina L. 2. Morfologi (Mudjiman, 1998)

Udang (Artemia salina L) mengalami beberapa fase hidup, tetapi secara jelas dapat dilihat dalam tiga bentuk yang sangat berlainan, yaitu bentuk telur, larva

(nauplii) dan artemia dewasa. Telur yang baru dipanen dari alam berbentuk bulat dengan ukuran 0,2-0,3 mm. Telur yang menetas akan berubah menjadi larva. Telur yang baru menetas ini berukuran kurang lebih 300 µ. Dalam pertumbuhannya larva mengalami 15 kali perubahan bentuk yang merupakan satu tingkatan hidup, setelah itu berubah menjadi artemia dewasa.

Waktu yang diperlukan sampai menjadi artemia dewasa umumnya sekitar 2 minggu. Berbentuk silinder dengan panjang 12-15 mm. Tubuh terbagi atasl bagian kepala, dada dan perut. Pada bagian kepala terdapat 2 tangkai mata, 2 antena dan dua antenula. Dada terbagi atas 12 segmen yang masing-masing mempunyai sepasang kaki renang. Perut ternagi atas 8 segmen. Dapat hidup dalam air dengan suhu 25o -30oC dan pH sekitar 8-9.

3. Uraian Tentang Larva (Mudjiman, 1998)

Telur-telur yang kering direndam dalam air laut yang bersuhu 25oC akan menetas dalam waktu 24-36 jam. Dari dalam cangkangnya keluarlah burayak (larva) yang juga dikenal dengan istilah nauplius. Dalam perkembangan selanjutnya, burayak akan mengalami 15 kali perubahan bentuk (metamorfosis). Burayak tingkat I dinamakan instar, tingkat II instar II, tingkat III Instar III, demikian seterusnya sampai Instar XV. Setelah itu berubahlah mereka menjadi artemia dewasa.

Burayak yang baru saja menetas masih dalam tingkat Instar I bentuknya bulat lonjong dengan panjang sekitar 400 mikron (0,4 mm) dan beratnya 15 mikrogram. Warnanya kemerah-merahan karena masih banyak mengandung makanan cadangan. Oleh karena itu, mereka masih belum perlu makanan. Anggota badannya terdiri dari sungut kecil (antenula atau antena I dan sepasang sungut besar (antenna II). Dibagian depan diantara kedua sungut kecilnya terdapat bintik merah yang tidak lain adalah mata naupliusnya (oselus). Dibelakang sungut besar terdapat sepasang mandibula

(rahang) dan rudimenter kecil. Sedangkan dibagian perur (ventral) sebelah depan terdapatlah labrum.

Pada pangkal sungut besar (antena II) terdapat bangunan seperti duri yang menghadap ke belakang (gnotobasen seta) bangunan ini merupakan cirri khusus untuk membedakan burayak instar I, instar II dan instar III. Pada burayak instar I (baru menetas) gnotobasen setanya masih belum berbulu dan juga belum bercabang.

Sekitar 24 jam setelah menetas, burayak akan berubah menjadi instar II. Lebih lama lagi akan berubah menjadi instar III. Pada tingkatan II, gnotobasen setanya sudah berbulu tapi masih belum bercabang. Sedangkan pada instar III, selain berbulu gnotobasen seta tersebut sudah bercabang II.

Pada tingkatan instar II, burayak mulai mempunyai mulut, saluran pencernaan dan dubur. Oleh karena itu, mereka mulai mencari makan, bersamaan dengan itu, cadangan makanannya juga sudah mulai habis. Pengumpulan makanannya dengan cara menggerak-gerakkan antena II-nya. Selain itu untuk mengumpulkan makanan antena II juga berfungsi untuk bergerak. Tubuh instar II dan instar III sudah lebih panjang dari instar I.

Pada tingkatan selanjutnya, disebelah kanan dan kiri mata nauplius mulai terbentuk sepasang mata majemuk. Mula-mula masih belum bertangkai. Kemudian secara berangsur-angsur berubah menjadi bertangkai. Selain itu, dibagian samping badannya (kanan dan kiri) juga berangsur-angsur tumbuh tunas kakinya (torakopada). Mula-mula tumbuh dibagian depan kemudian berturut-turut disusul oleh bagian-bagian yang lebih ke belakang. Setelah menjadi instar XV, kakinya sudah lengkap sebanyak 11 pasang, maka berakhirlah masa burayak, dan berubah menjadi artemia dewasa.

BAB III

METODE PRAKTIKUM

Dalam dokumen ISOLASI IDENTIFIKASI KOMPONEN KIMIA DAN (Halaman 26-33)

Dokumen terkait