SATUAN PENDAMPINGAN
A. Satuan Pendampingan Pertemuan I I IDENTITAS
III. PROSES PERTEMUAN 1 Pembuka
2. Uraian Mater
a. Tanggapan Gereja Terhadap Media Komunikasi Internet
Mengawali pembicaraan materi tentang tanggapan Gereja terhadap internet peserta diajak untuk mensharingkan pengalaman mereka dalam menggunakan internet dengan panduan pertanyaan:
a. Apa yang anda pahami tentang internet?
b. Manfaat apa yang anda dapatkan dari menggunakan internet? c. Berapa lama anda mengakses internet?
Pembicara merangkum sharing peserta dan menanggapinya. Pembicara menjelaskan tanggapan Gereja terhadap internet. a. Internet Sebagai Peluang dalam Mewartakan Iman
Tahun 1999-2000 merupakan tahun dimulainya perkembangan internet dengan munculnya website-website baik itu untuk kepentingan perusahaan, perdagangan, jejaring sosial, email, serta blog juga mulai berkembang. Pada tahun-tahun berikutnya internet semakin berkembang.
Gereja memandang internet sebagai sebuah forum seperti jaman Romawi kuno. Mengutip yang disampaikan dalam Pesan Paus Yohanes Paulus II untuk Hari Komunikasi Sosial Sedunia yang ke-36, forum yang dimaksud adalah “sebuah ruang terbuka untuk umum tempat percaturan politik, kegiatan bisnis, ritual keagamaan, tempat interaksi kehidupan sosial kota, dan juga panggung tempat dipertontonkan segi- segi yang paling baik maupun yang paling buruk dari kodrat manusia”.
Oleh karena internet merupakan sebuah forum Gereja terpanggil untuk berkiprah dalam mendayagunakan segala potensinya untuk mewartakan Injil (Yohanes Paulus II, 2002 art.2).
Gereja mengingatkan bahwa internet adalah suatu sarana sebagaimana media komunikasi lainnya. Internet memberikan peluang besar dalam pewartaan Injil terutama dalam memberikan informasi dan menerbitkan hasrat mengenal dengan pesan-pesan kristiani khususnya bagi kaum muda yang semakin banyak mengunjungi internet. Selain itu internet juga dapat memberi tindak lanjut yang diperlukan dalam pewartaan Injil. Ketika kehidupan kristiani memerlukan pengajaran dan katekese yang berkesinambungan, internet mampu menyediakan sumber-sumber informasi, dokumentasi, dan pengajaran tentang Gereja, tentang sejarah dan tradisinya, doktrin-doktrin dan keterlibatannya dalam segala bidang kehidupan di seluruh dunia. Perlu dicermati bahwa internet tidak dapat menggantikan pengalaman yang mendalam akan Tuhan yang hanya bisa diberikan melalui penghayatan liturgis dan sakramental. Meskipun demikian internet mampu menyediakan pengganti dan pendukung yang unik dalam menyiapkan perjumpaan dengan Kristus dalam jemaat, dan dalam mendukung anggota beriman yang baru pada permulaan perjalanan imannya (Yohanes Paulus II, 2002 art.3).
Esensi internet adalah kemampuannya untuk menyediakan aliran informasi yang hampir tidak pernah terputus: sebagian besar
informasi itu lewat dalam sekejap. Karena sebagai sumber informasi yang sifatnya sementara orang bersikap mementingkan suatu hal saja dan bukan nilai yang terkandung di dalamnya. Nilai-nilai yang kurang diperhatikan menjadikan seseorang terjerumus dalam hal-hal yang merendahkan martabat manusia. Gereja memandang bahwa internet secara radikal mengubah hubungan psikologis seseorang dengan ruang dan waktu. Oleh karena itu, informasi yang disajikan oleh internet hendaklah menjadi suatu pengetahuan dan kebijaksanaan yang mampu memperkembangkan manusia secara utuh (Yohanes Paulus II, 2002 art.4).
Melalui internet jenis-jenis komunikasi dapat disajikan dengan cepat. Meskipun internet memberikan peluang yang menarik bagi pewartaan Injil, tetapi hubungan-hubungan melalui media elektronik tidak akan pernah menggantikan kontak personal yang diperlukan dalam penginjilan sejati karena pewartaan Injil selalu tergantung pada kesaksian personal dari orang yang diutus untuk mewartakan. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab bersama agar internet difungsikan demi globalisasi kemajuan dan solidaritas manusia yang merupakan tujuan yang erat terkait dengan misi pewartaan Gereja (Yohanes Paulus II, 2002 art.5).
b. Ajakan Memanfaatkan Media Baru (Internet) demi Pelayanan Sabda Menggunakan teknologi komunikasi baru merupakan hal yang perlu dalam menjawab secara tepat tantangan-tantangan yang dirasakan
kaum muda di tengah pergeseran budaya. Kemudahan mendapatkan teknologi baru yang semakin berkembang menuntut tanggung jawab yang besar pula dari orang-orang terpanggil untuk mewartakan Injil. Karena semakin intensifnya relasi lintas batas yang dibentuk oleh media komunikasi, para imam dipanggil untuk memberikan jawaban pastoral dengan menempatkan media secara secara berdaya guna demi pelayanan Sabda (bdk. Benediktus XVI, 2010: art.3).
Penyebaran komunikasi multimedia tidak dimaksudkan untuk sekedar menghadirkan para imam di internet atau menjadikan internet ruang untuk diisi. Para imam diharapkan menjadi saksi setia terhadap Injil di dalam dunia komunikasi digital dengan mengungkapkan dirinya dengan suara yang berbeda yang dihadirkan oleh perkembangan teknologi digital. Oleh karena itu para imam dituntut untuk mampu mewartakan Injil melalui media komunikasi digital yang sedang berkembang, sebagaimana yang disampaikan dalam pesan Paus Benediktus XVI dalam pesan Hari Komunikasi Sosial Sedunia ke-44 artikel 4: ”Para imam ditantang untuk mewartakan Injil dengan menggunakan generasi teknologi audio visual yang paling muktahir (gambar, video, fitur animasi, blog dan website) yang seiring dengan media tradisional dapat membuka wawasan baru dan luas demi dialog, evangelisasi, dan katekese”.
Adapun banyak manfaat dari penggunaan teknologi komunikasi baru bagi pewartaan Injil. Dengan menggunakan teknologi komunikasi
baru para imam dapat memperkenalkan kehidupan menggereja kepada umat dan membantu orang-orang jaman sekarang menemukan wajah Kristus (bdk. Benediktus XVI, 2010: art.5). Teknologi komunikasi baru juga bermanfaat untuk memperkenalkan kepada mereka yang mengalami ketidakpastian dan kebingungan bahwa Allah itu dekat, dan bahwa di dalam Kristus kita semua saling memiliki (bdk. Benediktus XVI, 2010: art.6). Media komunikasi juga mampu mempertahankan mutu interaksi manusia, menunjukkan perhatiannya bagi individu serta kebutuhan rohaninya yang sejati (bdk. Benediktus XVI, 2010: art.7). Selain itu, kehadiran pastoral di dunia komunikasi digital mampu mengantar setiap orang untuk berkontak dengan penganut agama lain, dengan orang-orang tak beriman dan orang-orang dari berbagai budaya (bdk. Benediktus XVI, 2010: art.8).
Melihat begitu banyak manfaat berkat penggunaan teknologi media komunikasi bagi pewartaan Injil, perkembangan dunia digital dan teknologi baru merupakan sumber daya yang besar bagi manusia dan setiap individu sebagai daya dorong untuk perjumpaan dan dialog. Secara khusus bagi para imam, media baru ini memberikan kemungkinan pastoral yang baru dan kaya, mendorong mereka untuk melibatkan diri ke dalam universalitas perutusan Gereja, membangun persahabatan yang luas dan konkrit serta memberikan kesaksian di dunia jaman kini (bdk. Benediktus XVI, 2010: art.9)
B. Satuan Pendampingan Pertemuan II