• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uraian Materi

Dalam dokumen Seni Budaya SD - KK E (Halaman 29-38)

1. Sejarah Penemuan Alat dan Mesin Cetak

Sebelum orang mengenal kertas dalam bentuk seperti dikenal sekarang, kertas yang pertama kali dibuat oleh bangsa Cina pada tahun SM. Orang pada zaman tersebut menuliskan catatan atau pesan di atas barang lain. Misalnya, di

daun lontar siwalan , batu, anyaman batang tanaman air papirus yang dipipihkan, atau lembaran kulit binatang yang disebut perkamen. Sekalipun kertas sudah ditemukan, mula‐mula orang harus membuat naskah buku dengan ditulis tangan.

Teknik atau seni cetak agaknya mula‐mula dikuasai oleh orang Cina dan Korea sekitar . tahun yang lampau. Tetapi tulisan dan gambar masih diukirkan pada lempengan tanah liat atau kepingan logam dan papan, sehingga terbentuklah acuan cetak seperti stempel. Acuan itu dibaluri tinta, dan di atasnya diletakkan kertas yang kemudian ditekan secara merata. Garis‐garis ukiran itu pun melekat di kertas. Seni cetak melalui cara ini disebut xilografi

seni pembuatan ukiran atau cukilan kayu .

Cikal bakal teknik cetak yang kini lebih umum dikenal, yaitu teknik cetak dengan huruf‐huruf lepas yang disusun. Pada pertengahan abad ke‐ di Eropa, teknik ini disebut tipografi. Tipografi tidak hanya meliputi pekerjaan pengesetan atau penyusunan huruf‐huruf menjadi kata dan kalimat, melainkan seluruh proses sampai ke pencetakan. Tipografi pada mulanya dimaksudkan sebagai istilah bagi teknik pencetakan buku, tetapi sekarang tipografi telah berkembang menjadi istilah untuk menggambarkan teknik pencetakan apa pun. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, typos, kesan, gambar , dan graphos, tertulis.

Sampai sekarang tidak diperoleh kepastian siapa sebenarnya penemu pertama teknik cetak dengan huruf‐huruf lepas dari logam. Apakah Johannes Gutenberg yang mempunyai nama depan lain (enne , pSaudarai besi dan pencetak dari Mainz, Jerman, ataukah gurunya, Laurens Jansz Coster, pencetak buku dari (aarlem, BelSaudara. Siapa pun pelopor pertama di antara keduanya, yang terpenting mereka telah mengubah produksi salinan naskah secara grafis dari tertulis menjadi tercetak, sehingga sangat mempercepat perbanyakan. Coster

17

berikutnya. Penemuan alat cetaknya didasarkan pada alat pemeras buah‐ buahan. (uruf demi huruf dijajarkan menjadi baris‐baris kalimat dan diletakkan di atas sebidang kerangka atau bingkai dalam ukuran tertentu sesuai dengan luas halaman barang cetakan yang diinginkan. (uruf‐huruf dalam bingkai itu dibaluri tinta, di atasnya diletakkan selembar kertas, dan ditekan dari atas secara merata dengan bagian alat cetak yang serupa dengan alat pemeras buah‐ buahan dalam ukuran besar.

Setiap huruf dibuat pada stempel baja, dan stempel ini diterakan pada lempengan atau blok perunggu yang disebut matris. Matris dipasang pada acuan atau cetakan. Ke dalam acuan itu dituangkan cairan logam panas, yang setelah dingin dan kering membentuk huruf. Pemuatan gambar dilakukan dengan mengukirkan gambar itu pada kepingan atau blok kayu, yang dijadikan klise untuk perbanyakan gambar.

Penemuan alat cetak Gutenberg merupakan terobosan bersejarah dalam usaha percetakan. Cetak‐ mencetak jauh lebih cepat daripada pembuatan buku dengan tulisan tangan dan lebih efisien serta lebih cepat pula daripada xilografi. Ketika Mainz hancur akibat perang, para tukang cetak Gutenberg sejak tahun menyebar ke berbagai kota di Eropa. Ada lebih dari . perusahaan percetakan di seluruh Eropa pada tahun , dan hampir semua kota besar Eropa mempunyai percetakan pada abad ke‐ .

Berabad‐abad lamanya para pencetak menggunakan teknik cetak ini dengan tangan, sebelum ditemukan cara yang lebih cepat lagi dengan mesin. Teknik baru dengan mesin cetak berkecepatan tinggi ditemukan pada awal abad ke‐ , permulaan zaman industrialisasi di Eropa. Johannes Friedriech Konig bersama A.F. Bauer, masing‐masing pencetak buku dan ahli teknik Jerman, pada tahun di London, menciptakan mesin cetak silinder yang dijuluki mesin cetak cepat.

Jika alat cetak tangan hanya menghasilkan lembar surat kabar setiap jam,

mesin cetak silinder menghasilkan . lembar dalam waktu vang sama. Dua

tahun kemudian, mesin temuan mereka digunakan untuk mencetak surat kabar bergengsi TheTimes di London.

Sejak tahun , di Amerika Serikat dan Eropa diciptakan pula beberapa jenis mesin set penyusun huruf bernama monotip, intertip, dan linotip, yang cara kerjanya agak berbeda tetapi prinsipnya sama. Dengan menggunakan mesin‐ mesin otomatis ini, penyusunan baris‐baris kalimat dapat lebih cepat dan tidak perlu lagi dilakukan dengan tangan. Mesin‐mesin jenis ini masih banyak digunakan di )ndonesia sampai akhir tahun ‐an, tetapi sekarang mesin seperti ini sudah ditinggalkan, setelah ditemukan mesin‐mesin penyusun huruf berkecepatan lebih tinggi dan berukuran jauh lebih kecil, seperti mesin set

serupa mesin ketik dan, kini, komputer. http://arti‐definisi‐

pengertian.info/sejarah‐penemuan‐alat‐dan‐mesin‐cetak/

Cetak tinggi atau cetak timbul adalah cara membuat karya seni cetak dengan membentuk gambar pada permukaan media secara timbul. Contoh yang paling sederhana dari teknik ini adalah stempel atau cap. Media yang umum digunakan untuk membuat cetak tinggi adalah kayu lapis/triplek, hardboard, metal, karet

linoleum , dan papan kayu.

Teknik cetak tinggi yang paling popular yaitu pada seni grafis cukilan kayu

woodcut . Teknik ini telah dikenal oleh orang Koptia di Mesir pada abad ke‐ M. Orang Eropa menggunakan teknik ini untuk membuat hiasan pada kain tenun. Seni cetak ini juga dipakai sebagai media cetak huruf dan buku. Salah seorang pelopor yang berjasa dalam penemuan seni mencetak adalah Johanes

Gutenberg – dari Jerman.

Seni cetak tinggi yang masuk pada kelompok seni grafis merupakan salah satu bentuk ungkapan visual ke dalam bidang dua dimensi. Seni ini menjadi salah satu cara untuk menciptakan karya seni rupa yang memanfaatkan media cetak

19

Grien Jerman , Kastuhista (okusai, Ando (irosige Jepang . Adapun grafikus )ndonesia yang menggunakan cetak tinggi dalam berkarya antara lain Kaboel Suadi, Syahrinur Prinka, T Sutanto, Priyanto S, Setiawan Sabana, Edi Sunaryo, dan Saudarang Supriadi.

Cetak tinggi adalah proses pembuatan dari bahan yang di cungkil atau di cuil, sehingga permukaannya menjadi tinggi dan rendah, seperti relief pada candi borobudur. Pada bagian yang tinggi dilumuri dengan tinta cetak dan alat rol karet. Lalu dicetak pada lembaran kertas sehingga membentuk gambar. Acuan cetak tinggi itu serupa dengan panel ukiran atau panel relief. Oleh sebab itu, cetak tinggi disebut juga cetak relief. Acuan cetak tinggi dibuat dari bahan‐bahan keras dan lunak. Dalam pendidikan seni, kegiatan mencetak dilakukan oleh siswa. Bahan sederhana itu antara lain adalah umbi‐umbian, kayu lunak dan karet penghapus. Peralatan cukilnya pun sederhana, yaitu pisau pena dan sejenisnya.

Mencukil atau menoreh bukan satu‐satunya teknik untuk membuat acuan cetak tinggi, tetapi masih ada teknik yang lain, yaitu menempel. Cara pembuatan plat klise untuk cetak tinggi yaitu langkah pertama adalah membuat sket di atas plat atau klise tersebut. Kemudian mencungkil dengan pahat grafis atau pahat coret. Setelah itu, berilah tinta pada permukaan papan tadi dengan cara diroll lalu dicapkan pada permukaan kertas polos. Maka gambar yang ditoreh akan berpindah ke atas permukaan kertas. Cetak tinggi atau cetak timbul merupakan proses mencetak dengan memanfaatkan bagian yang paling tinggi dari alat cetak. Contoh alat cetak tinggi adalah stempel. (asil cetakan stempel berasal dari tulisan atau gambar yang timbul pada stempel.

Menurut Pamadhi : . seni mencetak adalah kegiatan membuat gambar

secara tidak langsung, yaitu memindahkan gambar dengan bantuan teknik, atau

alat tera atau klise. Sedangkan menurut Sumanto : mencetak

merupakan proses berkarya seni rupa yang bertujuan untuk menghasilkan karya dalam jumlah banyak dan memiliki wujud yang sama sesuai dengan alat cetak yang digunakan. Dari pengertian di atas maka dapat disimpulkan bahwa

mencetak merupakan suatu cara membuat gambar dengan alat cetak/acuan/klise. Alat cetak dapat diperoleh secara sederhana atau direncana. Dalam perkembangan seni rupa, mencetak biasa dikatakan dengan seni grafis, yakni merupakan karya dwimarta dua dimensi, dimensi datar yang dibuat untuk mencurahkan ide/ gagasan dan emosi seseorang dengan menggunakan teknik cetak, sehingga memungkinkan pelipatgSaudaraan karyanya. (asil cetakan menunjukkan kreativitas maupun ketrampilan penciptanya, karena dalam mencetak siswa dapat menuangkan ide dan imaginasinya. Siswa dilatih memadukan warna, bentuk cetakan, agar menghasilkan komposisi dan hasil yang baik dan serasi. Selain itu, ketelitian, kecermatan, dan ketekunan siswa dalam mencetak dapat terlihat pada waktu pelaksaaan dan hasil cetakan. Apakah hasil cetakan yang dibuat siswa rapi atau tidak.

Jenis kegiatan mencetak menurut Soeteja : . . adalah cetak tinggi, cetak timbul; cetak datar, cetak timbul; cetak dalam, cetak rendah, dan cetak tembus, cetak sablon, cetak saring. Dilihat dari prosesnya mencetak menggunakan beberapa komponen yaitu acuan cetak, tinta cetak/ cat, bahan yang dipakai untuk mencetak, lSaudarasan cetak dan bahan pelengkap lainnya. Secara umum urutan kinerja mencetak adalah sebagai berikut: pembuatan acuan,

pemberian tinta cetak/ cat pada acuan, pencetakan atau mencapkan acuan

yang sudah diberi tinta ke bahan yang dipakai mencetak, dan pemilihan hasil karya cetak, dan bila diperlukan diberi bingkai/ pigura Sumanto, : . Salah satu sifat seni grafis cetak tinggi cetak timbul atau cetak tinggi adalah bila acuannya sendiri diamati baik‐baik, maka permukaan acuan akan tampak sebagai permukaan yang berukir atau berelief karena itu cetak tinggi disebut pula sebagai cetak tinggi atau relief print Mutarto, .

Seni grafis cetak tinggi cetak tinggi memiliki beberapa keunggulan jika

21

dan kreasi di setiap tahap berkaryanya, yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menggambar, mencukil, dan mencetak

Mengekspresikan diri melalui teknik mencetak merupakan permainan menciptakan kreasi untuk memperoleh rasa kepuasan, memahami keindahan,

dan melatih imajinasi Soegiarty, : . Kegiatan mencetak bagi anak

merupakan kegiatan bermain dan berkreasi, yaitu dengan menghasilkan kembali sesuatu yang pernah dilihat dalam kehidupan sehari‐hari.Kegiatan mencetak juga dapat melatih anak untuk cermat, teliti, disiplin dan kreatif

(erawati dan )riaji, : .

2. TeknikCetakTinggiSederhana

Mencetak merupakan salah satu kegiatan dalam seni rupa untuk memperbanyak gambar dengan alat cetak/ acuan/ klise dengan cara menggores atau mencukil pada sekeping papan, gips, logam, atau bahan lainnya. Pada pertemuan ini, dijelaskan bahwa dalam membuat sebuah karya seni dengan teknik mencetak tinggi ini bukan hanya dapat dibuat dengan menggunakan stempel saja, namun bahan‐bahan alam juga dapat dimanfaatkan untuk membuat karya seni dengan teknik cetak tinggi ini. Teknik menggambar dengan cetak tinggi merupakan salah satu proses kegiatan mencetak seni grafis yang memanfaatkan bentuk yang paling tinggi untuk menghasilkan bentuk karya berupa gambar. Cetak tinggi atau cetak timbul merupakan proses mencetak dengan memanfaatkan bagian yang paling tinggi dari alat cetak dan apabila diberi tinta dan diletakkan di permukaan kertas serta bidang tersebut harus datar dan akan meninggalkan bekas yang sesuai dengan bagian yang timbul cetakan. Contoh alat cetak tinggi adalah stempel. (asil cetakan stempel berasal dari tulisan atau gambar yang timbul pada stempel.

Untuk membuat gambar menggunakan teknik cetak tinggi sederhana dapat menggunakan bahan sederhana antara lain adalah umbi‐umbian, kayu lunak dan karet penghapus. Peralatan cukil yang digunakan pun sederhana, yaitu pisau,

cutter dan sejenisnya. Untuk membuat pola dalam teknik cetak tinggi ini, bagian yang tidak digunakan dihilangkan dengan cara mencukil nya menggunakan

cutter. Biasanya teknik menggambar dengan teknik cetak tinggi sederhana ini dilakukan oleh siswa yang masih berada di Sekolah Dasar, akan tetapi dalam hal ini orang dewasa pun juga terkadang masih menggunakan teknik ini dalam mengambar sehingga menciptakan suatu karya seni. Selain menggunakan umbi‐ umbian, pelepah pisang juga dapat dimanfaatkan dalam pembuatan karya seni ini, karena dalam pelapah pisang sudah terdapat serat‐serat yang sudah berbentuk dengan indah. Dalam hal ini, kita sebagai manusia harus bisa mensyukuri segala anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan, karena itu pelapah pisang juga dapat digunakan dalam teknik mencetak ini, sehingga kita harus pintar‐pintar dalam mengolah bahan‐bahan tersebut hingga menjadi sebuah karya seni. Selain bahan‐bahan tersebut, kita juga membutuhkan pewarna sebagai pewarna dalam mencetak gambar. Warna yang digunakan bisa berupa tinta, pewarna makanan, cat air, maupun pewarna alami yang bisa kita buat sendiri. Untuk membuat gambar dengan teknik cetak tinggi ini, pada saat memotong bagian bahan yang akan digunakan, misalnya saja pelapah pisang harus datar agar pada saat ditempelkan pada buku gambar, hasil yang ditimbulkan merata. Begitu pula dengan bahan lain yang akan digunakan. Apabila pada saat memotong bahan tidak datar, maka kemungkinan besar hasil yang didapat kurang maksimal, bisa saja gambar yang dihasilkan tidak jelas dan ada bagian gambar yang tidak berisi warna.

Proses berkarya seni grafis cetak tinggi yang memiliki tahap kunci berkarya yang meliputi tahap perancangan desain, tahap berkarya yang meliputi pembuatan matrix, pengerolan, dan pengepresan, dan tahap pencetakan. Masing‐masing tahap memiliki kompetensi yang berbeda, tahap pembuatan sketsa merupakan tahap awal yang melSaudarasi proses berkarya selanjutnya, melalui proses pembuatan sketsa siswa menuangkan ide atau gagasannya dalam

bentuk visualisasi sketsa Schinneller, : ‐ . Dalam praktek

23

menggambar dengan teknik cetak tinggi tersebut. Dalam pertemuan sebelumnya, kami sudah diberitahukan untuk membawa bahan dan alat yang digunakan, seperti wortel, kentang, pelapah pisang, bantalan tinta ataupun pewarna lainnya, pisau atau cutter, dan buku gambar. Dalam kegiatan ini, kami diberikan kebebasan dalam memilih bahan yang akan digunakan dan gambar yang akan dibuat.

Berikut adalah beberapa cara yang dapat dilakukan dalam membuat gambar teknik cetak tinggi ini.

Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan.

Sediakan bantalan tinta atau wadah sebagai tempat untuk menaruh pewarna pada kegiatan ini, saya menggunakan pewarna makanan sebagai bahan pewarna .

Potonglah wortel dengan rata, kemudian buatlah pola pada wortel sesuai dengan keinginan.

Cukillah bagian‐bagian yang tidak digunakan, sehingga akan berbentuk pola yang sudah kita buat.

Celupkan bagian yang timbul pada wortel ke pewarna yang telah disediakan.

Tempelkan wortel pada buku gambar, usahakan pada saat menempelkan wortel ditekan lebih keras agar warna terlihat jelas. Buatlah pola‐pola tertentu dengan menggunakan wortel tersebut. Tunggulah hingga warna mengering.

http://enyrismayanti.blogspot.co.id/ / /teknik‐cetak‐tinggi sederhana.html

Dalam dokumen Seni Budaya SD - KK E (Halaman 29-38)

Dokumen terkait