• Tidak ada hasil yang ditemukan

1. Latar belakang

Pemerintah Indonesia baru-baru ini mencanangkan MP3EI (Master Plan for Acceleration and Expansion of Indonesia Economic Development) untuk melaksanakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, seimbang, adil, dan berkelanjutan melalui dua faktor utama, yaitu percepatan dan perluasan [MP3EI, 2011]. MP3EI merencanakan pembangunan nasional di 7 koridor ekonomi, dengan tujuan untuk menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi. Perguruan tinggi diharapkan dapat memainkan peran penting, tidak saja sebagai penyedia sumber daya manusia berkualitas, tapi juga menjadi dasar pengetahuan untuk daerahnya, sehingga daerah tersebut dapat mengembangkan kegiatan ekonomi yang bernilai tambah tinggi. Walaupun peran perguruan tinggi akan berbeda sesuai dengan kebutuhan daerahnya, pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi,

Tingkat 1: Bekerjasama dengan industri lokal (berpotensi) dan pemerintah untuk menghasilkan lulusan yang relevan.

Tingkat 2: Bekerjasama dengan industri lokal (berpotensi) dan pemerintah untuk mengembangkan strategi litbang yang bertujuan untuk merespon kebutuhan industri dan daerah.

Tingkat 3: Bekerjasama dengan industri lokal (berpotensi) dan pemerintah untuk mengembangkan program pasca yang relevan dengan kebutuhan industri dan berkontribusi pada penguatan kapasitas industri.

Dewasa ini tidak ada perguruan tinggi di Indonesia yang memiliki kapasitas untuk menjalankan peran tersebut. Ketidakmampuan untuk merespon tingkat 1 tercermin dari banyaknya industri yang mengalami kesulitan merekrut lulusan di luar Jawa. Sedangkan pada tingkat 2, sulit ditemukan pusat litbang di perguruan tinggi yang memiliki kerjasama dengan industri dalam bidang yang relevan dengan kebutuhan daerah dan industri. Pada tingkat 3 hampir semua kegiatan litbang di perguruan tinggi terkemuka masih berorientasi kepada indikator akademik. Penelitian S3 dirancang agar lulusannya bekerja di lingkungan akademik, dan minim sekali perhatian kepada kebutuhan masa depan sektor industri.

Saat ini peran tersebut tidak dijalankan dengan baik oleh perguruan tinggi, karena kapasitasnya memang terbatas. Amat penting untuk mendobrak tradisi perguruan tinggi yang terisolasi dari dunia industri, sehinggadapat menjadi lebih relevan terhadap kebutuhan masyarakat. Litbang terapan perlu digalakkan untuk memenuhi kebutuhan lokal daerah. Dengan meningkatnya minat industri terhadap kegiatan litbang, perguruan tinggi perlu untuk memanfaatkan momentum yang ada untuk merancang program pasca berbasis litbang untuk kemudian menjadi cikal bakal pengembangan kapasitas litbang di sektor industri.

Program ini memberikan hibah pada perguruan tinggi untuk mengembangkan kapasitasnya menyelenggarakan pendidikan dan riset yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, sesuai dengan interaksi dengan pelaku industri dan pemangku kepentingan di pemerintah.

2. Tujuan

Tujuan program ini adalah:

a) Meningkatkan kemampuan perguruan tinggi untuk berkerjasama dengan pemangku kepentingan di daerahnya, termasuk pelaku industri dan pemerintah dalam merencanakan pengembangan kapasitas; dan

b) Meningkatkan kemampuan perguruan tinggi untuk menyelenggarakan (i) program S1 dan Diploma yang relevan, (ii) kegiatan litbang terapan sesuai dengan kebutuhan industri agar mampu menghasilkan produk dengan nilai tambah yang tinggi; dan (iii) program pasca berbasis litbang sesuai dengan kebutuhan litbang industri.

3. Cakupan program

Penting bagi perguruan tinggi untuk memperoleh komitmen dari pemangku kepentingan, baik industri maupun pemerintah, untuk ikut serta dalam program ini. Program ini memberikan dukungan untuk beasiswa pasca, hibah litbang, permodalan start up, tenaga ahli domestik dan internasional, perjalanan, peralatan laboratorium, serta program kembaran (twinning) dengan institusi nasional dan internasional. Tergantung dari kelayakan proposal yang diajukan, dana yang dapat disediakan berkisar antara Rp 15-20 miliar untuk jangka waktu 3-5 tahun, tidak termasuk kontribusi mitra industri dan pemerintah daerah. Program kembaran (twinning) dengan perguruan tinggi atau institusi nasional dan internasional amat disarankan, bahkan diharuskan untuk perguruan tinggi dalam kelompok 1 dan 2.

4. Prasyarat pengusul

Prasyarat bagi pengusul berbeda untuk kelompok yang berbeda, seperti duraikan berikut ini:

Kelompok 1: hanya perguruan tinggi yang lokasinya di koridor ekonomi Sulawesi – Maluku Utara, Maluku – Papua, dan Kalimantan yang dapat menyusun proposal untuk kelompok ini. Proposal harus disusun bersama dengan pelaku industri dan pemerintah setempat.

Kelompok 2: hanya perguruan tinggi yang lokasinya di koridor ekonomi Sumatera, and Bali – Nusa Tenggara yang dapat menyusun proposal untuk kelompok ini. Proposal harus disusun bersama dengan pelaku industri dan pemerintah setempat.

Kelompok 3: hanya perguruan tinggi yang memiliki rekam jejak litbang yang baik yang dapat menyusun proposal untuk kelompok ini. Rekam jejak litbang dicerminkan antara lain dengan program pendidikan berbasis litbang, rekam jejak dan kualifikasi dosen, serta kredibilitas program pendidikan S3.

Kunci keberhasilan program adalah kemitraan antara perguruan tinggi, industri, dan pemerintah sejak dari tahap perencanaan dan penyusunan proposal. Oleh karena itu bila diperlukan dapat disediakan hibah pengembangan strategi untuk mendanai proses penyusunan proposal bersama kedua mitra lainnya. Hibah pengembangan strategi diberikan secara kompetitif berdasarkan pra proposal yang masuk. Sedangkan hibah pengembangan kapasitas untuk kemitraan UIP diberikan secara kompetitif berdasarkan proposal lengkap yang disampaikan.

Hibah pengembangan strategi yang dapat mencapai Rp 200 juta untuk jangka waktu 1-2 tahun ini dapat dimanfaatkan untuk mendanai antara lain honorarium staf, tenaga ahli nasional, lokakarya, dan perjalanan ke lokasi industri, misalnya perkebunan, pertambangan, persemaian, ataupun pembibitan. Pada kasus dimana dianggap dibutuhkan, Ditjen Dikti dapat memberi tugas kepada tenaga ahli yang ditunjuk untuk memberikan bimbingan dan pendampingan dalam penyusunan pra proposal.

Proposal lengkap harus menguraikan secara rinci kapasitas litbang dan program pendidikan yang akan dikembangkan, strategi pengembangannya, dan kontribusi apa yang direncanakan dapat diperoleh dari mitra industri dan pemerintah setempat.

5. Kerangka institusional

Sasaran program ini adalah pengembangan kapasitas perguruan tinggi yang belum pernah sebelumnya didukung secara sistematis dan terstruktur melalui program pendanaan yang memadai. Oleh karena

itu dibutuhkan rintisan untuk menguji kelayakan rancangan program, terutama dari aspek kerangka institusional yang mampu memberikan cukup keluwesan sesuai dengan dinamika kebutuhan industri. Besar kemungkinan akan adanya kerjasama kembaran (twinning) dengan organisasi internasional, sehingga tim studi menyarankan keterlibatan organisasi donor internasional, terutama agar kerangka institusional yang diujicobakan dapat menyerap pengalaman dan keahlian yang sudah diterapkan di tempat lain. Sumber dana utama akan diharapkan datang dari pemerintah, dengan kontribusi dari pelaku industri dan pemerintah daerah.

Untuk menjamin proses perencanaan dan pelaksanaan yang melibatkan keahlian interdisiplin berjalan mulus, maka disarankan untuk perguruan tinggi mendirikan unit atau organisasi baru. Unit ini mungkin pengelolaannya terpisah dari perguruan tinggi, seperti Fraunhoffer di Jerman. Walaupun seandainya unit atau struktur baru tidak/belum terbentuk, suatu Dewan Pengawas yang beranggotakan wakil dari tiga pemangku kepentingan yang bermitra akan berfungsi sebagai pemegang kendali tertinggi. Kerangka institusional diharapkan dapat menerapkan pengelolaan keuangan yang menaati peraturan perundangan, tetapi sekaligus pada waktu yang sama memberikan keluwesan dan kelonggaran untuk menampung dinamika proses industri.