BAB VIII ILMU ASBABUN NUZUL
E. Urgensi Dan Fungsi Asbabun Nuzul
242 Muhammad ‘Ali al-Shabuniy, al-Tibyan fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut:
alMazra’ah Binayatu al-Iman, tt), h. 25
243 Subhi Shalih, Mabahits fi ‘Ulum al-Qur’an, op cit., 162
244 Al-Suyuthi, al-Itqaan, op cit., h. 92
245 Ibid., h. 94
130
Persoalan asbabun nuzul baru menjadi wacana hangat pada era tabi’in karena adanya kesulitan dalam memahami makna suatu teks sehingga diperlukan pemahaman sebab-sebab turunnya ayat.Pengetahuan tentang asbabun nuzul merupakan ilmu alat yang sangat penting dalam menetapkan takwil yang lebih tepat dan tafsir yang lebih benar mengenai ayat-ayat yang bersangkutan.Akan tetapi tidak semua ulama tafsir membenarkan statemen yang demikian.Sebagian ulama tafsir menganggap bahwa pengetahuan asbabun nuzul tidak begitu penting karena hal yang demikian hanya merupakan pengetahuan sejarah. Selain itu, selain jauh manusia dari zaman turunnya AlQur’an maka akan semakin sulit dalam mengetahui asbabun nuzul suatu ayat yang disebabkan semakin jauh dari sumber informasi yang valid.246
Walaupun demikian, banyak diantara pakar ilmu-ilmu al-Qur’an mengungkapkan dan menulis secara panjang lebar tentang manfaat mempelajari asbabun nuzul. Nama-nama seperti ‘Abdul
‘Adzim Zarqaniy, ‘Abdullah Zarkasyi, Jalaluddin Suyuthi, al-Wahidiy, Ibnu Taimiyah dan masih banyak lagi yang lainnya adalah orang-orang yang berkontribusi besar dalam menyingkap rahasia dan manfaat mempelajari ilmu ini.
Asbab an-nuzul mempunyai arti penting dalan menafsirkan al-qur’an. Seseorang tidak akan mencapai pengertian yang baik jika tidak memahami riwayat asbab nuzul suatu ayat. Dengan ilmu asbab an-nuzul, Pertama, seorang dapat mengetahui hikmah di balik syariat yang di turunkan melalui sebab tertentu.Kedua, seorang dapat mengetahui pelaku atau orang yang terlibat dalam peristiwa yang mendahului turunnya suatu ayat. Ketiga, seorang dapat dapat menentukan apakah ayat mengandung pesan khusus atau umumdan dalam keadaan bagaimana ayat itu mesti di terapkan. Keempat, seorang dapat menyimpulkan bahwa Allah selalu memberi perhatian penuh pada Rasulullah dan selalu bersama para hambaNya.247
Kajian asbabun nuzul merupakan media yang mampu menyingkap korelasi antara nash dan realitas serta menilik sejauh mana dialektika yang terjadi antara keduanya. Ilmu ini memberikan
246 Syamsul Bakri, Asbabun Nuzul: Dialog Antara Teks Dan Realitas Kesejarahan, Jurnal At-Tibyan Vol. I No.1 Januari–Juni 2016, h. 10
247 Pan Suaidi, Asbabun Nuzul: Pengertian, Macam-Macam, Redaksi dan Urgensi, Almufida Vol. 1 No. 1 Juli – Desember 2016, h. 119
131 pemahaman terhadap hubungan nash dan realitas. Bahkan mampu menguak hakikat dan latar belakang turunnya sebuah ayat; apakah ayat tersebut memberikan dukungan dan jawaban terhadap realitas yang terjadi ketika itu. Ilmu asbabun nuzul merupakan disiplin ilmu yang paling penting dalam menunjukkan hubungan dan dialektika antara teks dan realitas. Ilmu ini memberikan bekal kepada seorang mufasir mengenai materi yang merespons realitas, baik dengan cara menguatkan ataupun menolak, dan menegaskan hubungan yang dialogis dan dialektis antara teks dan realitas.248
Kaitannya dengan kajian ilmu shari’ah dapat ditegaskan bahwa pengetahuan tentang asbab an-nuzul berfungsi antara lain:
1. Mengetahui hikmah dan rahasia diundangkannya suatu hukum dan perhatian syara’ tehadap kepentingan umum, tanpa membedakan etnik, jenis kelamin dan agama. Jika dianalisa secara cermat, proses penetapan hukum berlangsung secara manusiawi, seperti pelanggaran minuman keras,misaalnya ayat-ayat al-qur’an turun dalam empat kali tahapan yaitu: QS. An-nahl: 67, QS. baqarah: 219, QS. An-nisa’: 43 dan QS Al-Maidah: 90-91.
2. Mengetahui asbab an-nuzul membantu memberikan kejelasan terhadap beberapa ayat. Misalnya. Urwah ibnu zubair mengalami kesulitan dalam memahami hukum fardu sa’i antara sofa dan marwa QS. Al-baqarah/2: 158.
3. Pengetahuan asbab an-nuzul dapat menghususkan (takhsis) hukum terbatas pada sebab, terutama ulama yang menganut kaidah (khusus as-sabab) sebab khusus. Sebagai contoh turunnya ayat-ayat dhihar pada permulaan surat almujadalah, yaitu dalam kasus aus ibnu as-samit yang mendzihar istrinya, khaulah binti hakam ibnu tha’labah. Hukum yang terkandung dalam ayat-ayat ini khusus bagi keduanya dan tidak berlaku bagi orang lain.
4. Yang paling penting ialah asbab an-nuzul dapat membantu memahami apakah suatu ayat berlaku umum atau berlaku khusus, selanjutnya dalam hal apa ayat itu di terapkan. Maksud yang sesungguhnya suatu ayat dapat di pahami melalui asbab an-nuzul.
248 Fakhruddin Faiz, Hermeneutika Qur’ani (Yogyakarta: QALAM, 2007), h.
102-103
132
5. Pengetahuan tentang asbab an-nuzul akan mempermudah orang yang menghafal ayat-ayat al-qur’an serta memperkuat keberadaan wahyu dalam ingatan yang mendengarnya jika mengetahui sebab turunnya. Sebab, pertalian antara sebab dan musabab (akibat), hukum dan peristiwa, peristiwa dan pelaku, masa dan tempatnya, semua ini merupakan faktor-faktor yang menyebabkan mantapnya dan terlukisnya dalam ingatan.
Secara global, urgensi asbabun nuzul dalam memahami dan menafsirkan al-Qur’an dapat disimpulkan sebagai berikut:
Pertama, mengetahui keagungan dan rahmat Allah dalam proses penetapan suatu hukum. Sebagaimana diketahui bahwa diantara cirri penetapan hukum dalam Islam adalah dengan cara tadriji (berangsur-angsur). Khamar misalnya, sebelum ditetapkan keharamannya, terlebih dahulu dijelaskan sifat dan karakteristiknya, barulah pada ayat terakhir ditentukan keharamannya. Tanpa mengetahui asbabun nuzul dan kronologi turunnya ayat-ayat tersebut, seseorang tidak akan mengetahui hikmah dan keagungan rahmat Allah dalam menetapkan syari’at.249
Kedua, mengatahui asbabun nuzul merupakan cara yang terbaik untuk mengetahui makna al-Qur’an dan menyingkap yang tersembunyi dalam ayat, tanpa bantuan ilmu asbabun nuzul seseorang tidak akan mampu menafsirkan ayat tersebut. Berkaitan dengan ini, al-Wahidiy mengeluarkan statemen “Tidak mungkin mengetahui tafsir ayat tanpa mengetahui kisahnya dan penjelasan turunnya”. Mengetahui sebab turun ayat membantu dalam memahami sebuah ayat, pengetahuan tentang sebab mewariskan pengetahuan tentang musabab, tulis Ibnu Taimiyah. Ibnu Daqiq al-’Id mengatakan
“penjelasan asbabun nuzul adalah cara yang tepat untuk memahami makna-makna al-Qur’an”250.
Ketiga, asbabun nuzul dapat menjelaskan tentang siapa ayat itu diturunkan sehingga ayat tersebut tidak dapat diterapkan kepada orang lain karena dorongan permusuhan dan perselisihan.
Keempat, apabila redaksi ayat bersifat umum, kemudian datang dalil yang mengkhususkannya, maka mengetahui asbabun nuzul membatasi pengkhususan itu kepada selain gambaran sebab.
249 Ibid.,h. 26
250 Manna’ al-Qaththan., op cit., h. 80
133
BAB IX
ILMU MUNASABAH AL-QUR’AN
A. PENGERTIAN MUNASABAH
Memahami keterkaitan (korelasi) antara yang satu dengan yang lain sebagai satu kesatuan merupakan sebuah keniscayaan. Dalam konteks Al-Quran, pemahaman terhadap ayat yang satu dengan yang lain, surah yang satu dengan yang lain sebagai sebuah kesatuan yang terkoneksi antara yang satu dengan lainnya adalah merupakan studi yang mesti dipelajari. Para Ahlinya mengisitilahkan studi ini dengan nama munasabah.251
Kata munasabah secara etimologi berarti almuqarabah (kedekatan), al-musyakalah (keserupaan) dan al-muwafaqoh (kecocokan).252 Dalam pembahasan qiyas Munasabah diartikan dengan kesesuian pada illat ) يققل لا ى يققبققققققساققل ( artinya sifat yang berdekatan dengan hukum, karena apabila diperoleh kedekatan melalui adanya dugaan tentang sifat, maka akan diperoleh hukum. Oleh karenanya muncullah sebuah ungkapan: هترلت لور لا ىلع ضنع اذإ لور ن أ يبقققسالنلا لوبرلاب.253
Sedangkan secara terminologi (istilah), munasabah dapat didefinisikan diantaranya menurut Az-Zarkasy,254 Munasabah adalah suatu perkara yang dapat dipahami oleh akal. Tatkala dihadapkan
251 Rahmat Sholihin, Munasabah Al-Quran: Studi Menemukan Tema Yang Saling Berkorelasi Dalam Konteks Pendidikan Islam, Journal of Islamic and Law Studies, Volome 2, Nomor 1, Juni 2018, h. 2
252 Ibrahim Anis dkk, Al-Mu’jam al-Wasith, (Beirut: Darul Fikr, 1972), h.
916
253 Ahmad Jamal al-Umary, Dirasah fi al-Qur’an wa al-Sunnah, (Cairo: Dar al-Ma’arif, 1982), h. 71.
254 Az-Zarkasyi, Al-Burhan fi “Ulum Al-Quran, (Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 1988), jilid l, h. 61.
134
kepada akal, pasti akal itu akan menerimanya. Sedangkan menurut Manna’ Al-Qathtan, 255 Munasabah adalah aspek yang punya keterikatan antara satu kalimat dengan kalimat lain dalam satu ayat, antara ayat satu dengan ayat lain dalam banyak ayat, atau antara surat dengan surah yang lain (di dalam Al-Quran). Berikutnya menurut Ibn Al-’Arabi, 256 Munasabah adalah keterkaitan ayat-ayat Al-Quran sehingga seolah-olah merupakan satu ungkapan yang mempunyai kesatuan makna dan keteraturan redaksi. Munasabah merupakan ilmu yang sangat agung. Dan menurut Al-Biqa’i257, Munasabah adalah suatu ilmu yang mencoba mengetahui alasan-alasan di balik susunan atau urutan bagian-bagian Al-Quran, baik dengan ayat, atau surat dengan surat.
Jadi, dalam kontaks ‘Ulum Al-Quran, munasabah berarti menjelaskan korelasi makna antarayat atau antarsurat, baik korelasi itu bersifat umum atau khusus; rasional (‘aqli), persepsi (hassiy), atau imajinatif (khayali); atau korelasi berupa sebab-akibat, ‘illat dan ma’lul, perbandingan, dan perlawanan.258