• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS ISU-ISU STRATEGIS

4.1 Pemasalahan Pembangunan Masing-Masing Urusan

4.1.1 Urusan Wajib 1. Pendidikan

Permasalahan pembangunan pendidikan di Kota Tegal secara umum adalah belum optimalnya pelaksanaan dan pencapaian ketersediaan, keterjangkauan, kualitas, kesetaraan dan keterjaminan (5K) dalam pelayanan pendidikan di Kota Tegal. Secara rinci permasalahan tersebut adalah sebagai berikut:

1) Angka Partisipasi Kasar PAUD relatif rendah, pada tahun 2013 APK PAUD sebesar 30,80%.

2) Ruang kelas kondisi baik masih belum maksimal karena baru mencapai 80,32% pada tingkat SD/MI, 80,97% pada tingkat SMP/MTs, dan 86,22% pada jenjang SMA/SMK/MA.

3) Persentase lembaga PAUD dengan Kondisi layak relatif rendah, pada tahun 2013 persentase lembaga PAUD kondisi layak, sebesar 43, 07%

4) Angka putus sekolah jenjang pendidikan SMP dan SMA cukup tinggi yaitu 0,53% SMP dan 1,36% SMA pada tahun 2013, ambang batas angka putus sekolah SMP dan SMA adalah 0,12%.

5) Guru SD/MI tidak memenuhi kualifikasi pendidikan S1 dan D4 masih relatif tinggi (guru SD/MI dengan kualifikasi S1 dan D IV sebesar 66,66%) sehingga bisa mempengaruhi kualitas proses belajar mengajar dan Guru SD/MI yang bersertifikasi baru sebesar 72,3% pada tahun 2013.

6) Tingkat pemerataan pendidikan non formal belum optimal yang disebabkan “data base” kebutuhan pendidikan non formal belum dimiliki secara lengkap.

2. Kesehatan

kematian ibu. Sedangkan Angka Kematian Bayi tahun 2013 sebesar 12,38 per 1.000 kelahiran hidup. Secara nasional AKB di Kota Tegal telah mencapai target MDGs nasional pada tahun 2015 yaitu 23 per 1.000 kelahiran hidup dan dibawah target MDGs dalam Pergub No 20 tahun 2011 tentang Percepatan Pencapaian Target MDGs Provinsi Jawa Tengah yaitu sebesar 8,5 per 1.000 kelahiran hidup.

2) Masih tingginya prevalensi Balita gizi buruk dengan jumlah kecamatan rawan pangan sebanyak 1 kecamatan. Prevalensi Balita gizi buruk pada tahun 2013 sebesar 1,75%.

3) Masih belum optimalnya pelayanan kunjungan ibu hamil K4. Hal ini dapat dilihat dari masih belum tercapainya cakupan kunjungan ibu hamil K4 95,9%.

4) Masih tingginya penularan penyakit menular terutama DBD, TB BTA (+) dan HIV AIDS.

5) Masih belum optimalnya perilaku hidup bersih dan sehat hal ini dapat dilihat dari masih rendahnya cakupan bayi dengan ASI Eksklusif

6) Masih belum optimalnya pengembangan lingkungan sehat. Hal ini dapat dilihat dari masih kurangnya cakupan rumah sehat, pada tahun 2013 masih relatif kecil yaitu 89,17%.

3. Pekerjaan Umum

1) Belum optimalnya kondisi jalan dan jembatan di Kota Tegal dalam mendukung pengembangan wilayah. Hal ini terlihat dari kondisi jalan baik tahun 2013 sebesar 73,92%.

2) Belum optimalnya fungsi saluran drainase di Kota Tegal. Tahun 2013 kondisi drainase utama kondisi rusak sebanyak 56%. Sementara untuk kondisi saluran sekunder rusak sebanyak 44%. Kondisi saluran drainase tersier rusak sebesar 51%.

3) Belum optimalnya kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah berkaitan dengan penanganan jaringan irigasi dan drainase lintas wilayah kabupaten

4) Masih rendahnya akses masyarakat terhadap air minum. Ini terlihat dari cakupan pelayanan PDAM Kota Tegal Kota Tegal sampai tahun 2012 adalah 20,09%.

5) Belum optimalnya penanganan banjir. Tahun 2013 masih terdapat 10% kawasan yang masih tergenang banjir.

4. Perumahan

1) Masih banyaknya kebutuhan rumah yang belum dapat terpenuhi oleh pengembang maupun masyarakat, hal ini dapat diketahui dari masih banyaknya jumlah rumah tidak layak huni yaitu sebanyak 671 unit sampai tahun 2012.

2) Upaya untuk mewujudkan rumah tangga yang bersanitasi di Kota Tegal belum terwujud secara optimal, hal ini dapat diketahui dari

masih dijumpainya kawasan-kawasan pemukiman terutama diwilayah pesisir yang masih rendah sanitasinya. Kondisi tersebut dapat dilihat dari cakupan pelayanan sanitasi pada tahun 2013 baru mencapai sebesar 76,34%.

3) Masih terdapatnya lingkungan permukiman kumuh dibeberapa wilayah Kota Tegal, yang ditunjukkan dengan kondisi pada tahun 2013 persentase kawasan kumuh sebesar 4,01%.

4) Dukungan sarana dan prasarana untuk peningkatan kesiagaan dan pencegahan bahaya kebakaran belum optimal, hal ini dapat dilihat dari kualitas dan kuantitas sarana prasarana pencegahan bahaya kebakaran masih belum sesuai harapan. Sedangkan tingkat kepadatan penduduk Kota Tegal cukup tinggi. Persentase armada pemadam kebakaran yang mampu memuat 3.000-5.000 liter pada WMK baru 33,33%.

5) Ketersediaan lahan untuk pemakaman sangat terbatas, sementara itu kebutuhan akan pemakaman di Kota Tegal semakin meningkat. Hal ini ditunjukkan dari rendahnya rasio tempat pemakaman umum per satuan penduduk pada tahun 2013 hanya sebesar 0,96/1000 penduduk.

5. Penataan Ruang

1) Sampai pada tahun 2013, kawasan strategis di Kota Tegal belum memiliki RTBL.

2) Belum ditetapkannya Perda RDTRK. Pada tahun 2012 Pemerintah Kota Tegal telah menyusun dokumen materi teknis dan Raperda RDTRK untuk SPPK Kejambon dan SPPK Kraton, kemudian dilanjutkan pada tahun 2013 menyusun Raperda RDTRK untuk SPPK Sumurpanggang dan SPPK Bandung. Tetapi seluruh RDTRK SPPK belum ada yang ditetapkan menjadi Perda.

3) Masih kurangnya pemahaman masyarakat dalam memahami peraturan tata ruang.

4) Masih adanya alih fungsi lahan yang tidak sesuai dengan peruntukannya.

5) Belum optimalnya penegakan hukum bagi pelanggaran tata ruang. 6. Perencanaan Pembangunan

1) Belum optimalnya kualitas dokumen perencanaan pembangunan daerah sesuai amanat peraturan perundang-undangan.

2) Belum optimalnya keselarasan dokumen perencanaan dan penganggaran pembangunan daerah.

3) Belum optimalnya penyusunan dokumen perencanaan

pembangunan bidang ekonomi, sosial dan budaya sesuai dengan kebutuhan.

4) Belum optimalnya penyusunan rencana pembangunan di bidang prasarana wilayah dan sumberdaya alam.

7. Perhubungan

1) Belum adanya perencanaan penyelenggaraan perhubungan.

2) Rendahnya kualitas pelayanan angkutan umum (sarana prasarana dan aparatur). ketersedian angkutan umum pada seluruh ruas jalan baru mencapai 29,06%.

3) Masih kurangnya perlengkapan jalan yang terpasang. Tahun 2013 jumlah rambu lalu lintas sebanyak 1.543 unit, kondisi marka jalan 958 m2, 59 unit APILL, dan Guardrail 1000 m2.

4) Belum optimalnya prasarana perlintasan sebidang.

5) Belum optimalnya sistem pengujian kendaraan bermotor.

6) Jumlah pelanggaran kelaikan kendaraan bermotor cukup tinggi. Persentase KBWU yang lulus uji dibandingkan dengan KBWU yang diuji tahun 2013 sebesar 97,4%.

7) Masih rendahnya fasilitas terminal dan sumberdaya manusia. 8) Pelayanan dalam bidang perhubungan laut masih kurang.

8. Lingkungan Hidup

1) Masih belum optimalnya penanganan sampah yang terangkut. Pada tahun 2013, sampah yang mendapatkan penanganan baru 60,2%. 2) TPA Muarareja yang selama ini digunakan akan berakhir pada tahun

2015, sementara itu warga disekitar lokasi menolak untuk perpanjangan TPA.

3) Belum optimalnya pelaksanaan pengelolaan persampahan rumah tangga berbasis masyarakat dengan konsep 3R (Reduce, Reuse,

Recycle).

4) Tingkat informasi status kerusakan lahan dan/atau tanah untuk produksi biomassa sebesar 93% masih berada di bawah target SPM sebesar 100% tahun 2013.

5) Menurunnya luasan ruang terbuka hijau menjadi 31,15% meskipun persentasenya masih di atas standar.

6) Kurangnya kesadaran masyarakat untuk penyediaan ruang terbuka hijau oleh sektor privat.

7) Menurunnya kualitas lingkungan di wilayah pesisir ditandai dengan terjadinya rob, abrasi, berkurangnya tanaman bakau dan pengelolaan sampah di muara sungai.

8) Masih terbatasnya sarana monitoring polusi, pada tahun 2013 sarana yang tersedia baru mencapai 20%.

9. Pertanahan

1) Masih rendahnya kesadaran untuk mengurus sertifikat tanah oleh pemilik lahan, diperlihatkan dari rendahnya persentase lahan yang

bersertifikat dibandingkan luas daratan yaitu baru 30,38% pada tahun 2012.

2) Belum optimalnya pensertifikatan tanah milik pemerintah daerah, ditandai masih terdapat 55 bidang tanah yang belum bersertifikat.

10. Kependudukan dan Catatan Sipil

1) Belum seluruh bayi memiliki Akta Kelahiran, hingga tahun 2013 terdapat sebanyak 91% bayi yang memiliki akta kelahiran.

2) Masih terdapat penduduk yang belum memilki akte kelahiran, tahun 2013 terdapat 2,51% penduduk yang belum memiliki akte kelahiran. 3) Masih tingginya jumlah wajib KTP yang belum memiliki KTP, hingga

tahun 2013 jumlah penduduk yang rasio kepemilikan KTP mencapai 88%.

11. Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak

1) Belum optimalnya kelembagaan PUG dan PUHA. Hal ini dapat dilihat dari belum aktifnya Pokja PUG, belum terbentuknya focal point, masih dibentuknya forum anak di tingkat Kota dan 1 di Kelurahan. 2) Masih kurangnya kualitas hidup perempuan, hal ini dapat dilihat

dari rendahnya perempuan yang bekerja. Pada tahun 2013 persentase perempuan yang bekerja sebesar 57,53%

3) Belum optimalnya penanganan kekerasan perempuan dan anak. Hal ini ditandai dengan masih belum dilatihnya petugas kesehatan, petugas penanganan pengaduan kekerasan perempuan

4) Lemahnya jaringan dalam penanganan kekerasan perempuan, hal ini dapat dilihat belum terbentuknya forum gender di Kota Tegal. 12. Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera

1) Masih tingginya Unmeetneed yang menyebabkan masih banyak PUS yang belum mengikuti program keluarga berencana. Pada tahun 2013 unmetneed sebesar 15,21%, sementara target MDGs dan SPM pada tahun 2015 sebesar 4%.

2) Masih belum optimalnya PUS yang ber KB sebagai anggota UPPKS, hal ini dapat dilihat dari Cakupan PUS Peserta KB Anggota Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS) yang ber-KB sebesar 56,87%.

3) Masih belum optimalnya pembinaan peran serta masyarakat untuk ber KB secara mandiri.

4) Belum optimalnya pengembangan BKB Posyandu dan PADU dalam peningkatan partisipasi keluarga berencana, hal ini dapat dilihat dari Cakupan Anggota Bina Keluarga Balita (BKB) ber-KB masih 88,85% sedangkan target SPM adalah sebesar 100%

1) Belum optimalnya penanganan PMKS, tahun 2013 baru 8,79% yang tertangani

2) Rendahnya motivasi PMKS untuk berusaha.

3) Belum lengkapnya sarana dan prasarana tanggap darurat yang dimiliki oleh Pemerintah Kota Tegal,

4) Masih adanya penyandang cacat dan lansia tidak potensial yang belum menerima jaminan sosial.

5) Belum semua panti sosial memiliki sarana prasarana pelayanan kesejahteraan sosial secara lengkap.

6) Belum ada Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat

(WKBSM) yang menyediakan sarana prasarana pelayanan

kesejahteraan sosial, sementara target SPM sebesar 60% pada tahun 2015

7) Masih adanya PSKS tidak melaksanakan usaha kesejahteraan Sosial. Tahun 2013 baru sebesar 42,4% PSKS yang melaksanakan usaha kesejahteraan sosial.

14. Ketenagakerjaan

1) Masih terbatasnya jumlah pencari kerja yang ditempatkan, tahun 2013 baru sebesar 14,51%.

2) Terbatasnya jumlah tenaga kerja yang mengikuti pelatihan kerja. 3) Masih tingginya tingkat pengangguran terbuka, tahun 2013 sebesar

9,25%.

4) Belum optimalnya perjanjian bersama dalam menyelesaikan perselisihan buruh. Hal ini terlihat pada tahun 2013 baru sebesar 5% perselisihan buruh diselesaikan dengan perjanjian bersama

5) Masih adanya tenaga kerja yang tidak mengikuti program Jamsostek. Tahun 2013 baru sebesar 57,24% pekerja yang mengikuti Jamsostek 6) Masih adanya perusahaan yang belum dilakukan pemeriksaan terkait

keselamatan pekerja, tahun 2013 baru sebesar 83,77% perusahaan terdaftar yang telah diperiksa

7) Masih adanya peralatan yang terdaftar belum dilakukan pengujian, tahun 2013 baru sebesar 94,19%.

15. Koperasi dan Usaha Kecil Menengah

1) Menurunnya jumlah BPR/LKM Aktif. Terlihat dari capaian indikator di tahun 2011 sebanyak 4 BPR/LKM aktif dan di tahun 2013 menurun menjadi 3 BPR/LKM aktif.

2) Kemampuan pemasaran produk UMKM yang terbatas.

3) Belum terjalin dengan baik kemitraan saling menguntungkan antar pelaku Usaha (UMKM, Usaha Besar, dan BUMN)

4) Terbatasnya modal dan akses kepada sumber dan pelaku lembaga keuangan.

5) Belum semua koperasi di Kota Tegal berada dalam kondisi aktif dan sehat. Persentase koperasi aktif di Kota Tegal baru mencapai 71,64% dan koperasi sehat 92,86%.

16. Penanaman Modal Daerah

1) Belum optimalnya promosi investasi di Kota Tegal, secara kualitas dan kuantitas.

2) Belum disusunnya perencanaan pengembangan penanaman modal yang menggambarkan potensi dan peluang investasi yang dapat dioptimalkan di Kota Tegal.

3) Daya tarik investasi di Kota Tegal belum optimal karena informasi peluang usaha sektor/bidang usaha unggulan belum dikemas dalam informasi yang menarik.

4) Belum optimalnya kualitas dan kapabilitas SDM teknis pelayanan perijinan dan penanaman modal.

5) Belum optimalnya koordinasi pengendalian dan pengembangan penanaman modal terutama untuk investasi PMDN skala di bawah 10 milyar dan UMKM sesuai kewenangan daerah.

6) Belum optimalnya koordinasi dalam penyediaan sarana pendukung investasi.

7) Belum terusunnya regulasi yang pro investasi.

8) Peningkatan iklim kondusif terutama pada aspek keamanan dan kenyamanan berusaha.

17. Kebudayaan

1) Belum optimalnya pelaksanaan pelestarian benda cagar budaya di Kota Tegal, karena saat ini benda cagar budaya yang terdata baru 37 unit.

2) Belum optimalnya fasilitasi dan pembinaan pemerintah dalam upaya perlindungan, pengembangan, dan pemanfaatan seni budaya. Hingga tahun 2013, cakupan fasilitasi seni baru mencapai 28,57% dan pengkajin seni baru mencapai 13,33%.