• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

2. UU RI No. 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan

Seperti halnya dalam KUHP, dalam UU RI NO. 21 TAHUN 2007 juga mengenal pengolongan pelaku antara lain :

1) Orang perorangan yaitu setiap individu atau perorangan yang secara langsung bertindak melakukan perbuatan pidana perdagangan orang.

2) Korporasi adalah kumpulan orang dan atau kekayaan yang terorganisir baik yang merupakan badan hukum maupun bukan merupakan badan hukum yang melakukan tindak pidana perdagangan orang.

Di Indonesia perkembangan Korporasi sebagai subyek tindak pidana terjadi diluar Kitab Undang Hukum Pidana (KUHP), yaitu dalam Perundang-undangan khusus, sedangkan KUHP sendiri masih menganut subyek tindak pidana berupa “orang” (lihat Pasal 59 KUHP), (Dwidja Priyatno, 2004 : 21).

Pasal 59 KUHP berbunyi “dalam hal-hal karena pelanggaran ditentukan pidana terhadap pengurus, anggota-anggota badan pengurus atau komisaris-komisaris, maka pengurus, anggota badan pengurus atau komisaris yang ternyata tidak ikut campur melakukan pelanggaran tidak dipidana”.

Dengan melihat ketentuan tersebut diatas maka penyusun Kitab Undang-Undang Hukum Pidana dahulu dipengaruhi oleh asas “societas delinquere non potest” yaitu badan-badan hukum tidak dapat melakukan tindak pidana. Menurut Enschede dan A Heijder ketentuan “societas delinquere non potest” adalah contoh kas dari pemikiran secara dogmatis dari abad ke-19, dimana kesalahan menurut hukum pidana selalu diisyaratkan dan sesungguhnya hanya kesalahan dari manusia, sehingga erat kaitannya dengan sifat individu KUHP.

Dalam Pasal 59 KUHP apabila dikaji memuat alasan penghapusan pidana (strafuitsluitingsgrond) yang dapat dilihat dari bunyi rumusannya yang menyatakan “maka pengurus, anggota

badan pengurus atau komisaris yang ternyata tidak ikut campur melakukan pelanggaran tidak dipidana” (Dwidja Priyatno, 2004 : 25).

Kesulitan yang dapat timbul dari rumusan Pasal 59 KUHP adalah sehubungan dengan ketentuan-ketentuan hukum pidana yang menimbulkan kewajiban bagi seorang pemilik atau seorang pengusaha. Dalam hal pemilik atau pengusahanya adalah suatu korporasi, sedangkan tidak ada pengaturan bahwa pengurusnya bertanggungjawab, maka bagaimana memutuskan tentang pembuat dan bagaimana pertanggungjawabannya (Dwidja Priyatno, 2004 : 26).

Menurut hukum pidana yang berlaku di negara kita dewasa ini yang menjadi dader suatu tindak tindak pidana itu hanyalah manusia.

Hal mana dapat diketahui dari beberapa kenyataan sebagai berikut ini (P.A.F Lamintang, 1997 : 599), yaitu :

a) Dari rumusan-rumusan tindak pidana didalam Kitab Undang Hukum Pidana yang sebagian besar dimulai dengan perkataan “Barang Siapa..” dan dari sejumlah unsur subyektif yang harus terdapat pada pelakunya (Opzet, Oogmerk, Culpa, dan Voornement).

b) Dari jenis-jenis hukuman yang telah diancamkan oleh Undang-Undang kepada para pelakunya seperti hukuman denda, hukuman penjara, atau hukuman kurungan yang semuanya itu hanya dapat dilaksanakan oleh manusia.

c) Dari ketentuan-ketentuan didalam hukum acara pidana, dimana orang tidak dapat menjumpai suatu ketentuanpun yang mengatur masalah penuntutan terhadap badan-badan hukum.

Subyek tindak pidana korporasi dapat ditemukan dalam UU RI NO. 21 TAHUN 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang.

Korporasi dapat menjadi pelaku tindak pidana perdagangan orang, berdasarkan Pasal 13, Pasal 14, dan Pasal 15 UU RI NO. 21 TAHUN 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. Adapun isi dari Pasal tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :

Pasal 13 ayat (1), “tindak pidana perdagangan orang dianggap dilakukan oleh korporasi apabila tindak pidana tersebut dilakukan oleh orang-orang yang bertindak untuk dan/atau atas nama korporasi atau untuk kepentingan korporasi, baik berdasarkan hubungan kerja maupun hubungan lain, bertindak dalam lingkungan korporasi tersebut baik sendiri maupun bersama-sama”.

Pasal 13 ayat (2), “dalam hal tindak pidana perdagangan orang dilakukan oleh suatu korporasi sebagaimana dimaksud pada ayat (1), maka penyidikan, penuntutan, dan pemidanaan dilakukan terhadap korporasi dan/atau pengurusnya”.

Pasal 14, “dalam hal panggilan terhadap korporasi, maka pemanggilan untuk menghadap dan penyerahan surat panggilan disampaikan kepada pengurus ditempat pengurus berkantor, ditempat korporasi itu beroperasi, atau ditempat tinggal pengurus”.

Pasal 15 ayat (1), ”dalam hal tindak pidana perdagangan orang dilakukan oleh suatu korporasi selain pidana penjara dan denda terhadap pengurusnya, pidana yang dapat dijatuhkan terhadap korporasi berupa pidana denda

dengan pemberian 3 kali dari pidana denda sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5,dan Pasal 6”. Pasal 15 ayat (2) “selain pidana denda sebagaimana dimaksud pada ayat (1), korporasi dapat dijatuhkan pidana tambahan berupa : pencabutan izin usaha, perampasan hasil kekayaan tindak pidana, pencabutan status badan hukum, pemecatan pengurus dan atau, pelarangan kepada pengurus tersebut untuk mendirikan korporasi dalam bidang usaha yang sama”.

Dari penjelasan yang telah disebutkan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan, bahwa subyek pelaku tindak pidana perdagangan orang dalam UU RI NO. 21 TAHUN 2007, dapat berupa orang perorangan (manusia) dan korporasi.

b. Penyelengara negara yaitu pejabat pemerintah, angggota Tentara Nasional Indonesia, Anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia, aparat keamanan, penegak hukum atau pejabat publik yang menyalahgunakan kekuasaan untuk melakukan atau mempermudah tindak pidana perdagangan orang.

Penyelengara negara dapat menjadi pelaku tindak pidana perdagangan orang, berdasarkan Pasal 8 UU RI NO. 21 TAHUN 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang. Adapun bunyinya :

Pasal 8 ayat (1),” setiap penyelengara negara yang menyalahgunaakan kekuasaan yang mengakibatkan terjadinya tindak pidana perdagangan orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat , Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6 maka pidananya ditambah sepertiga dari ancaman pidana dalam Pasal 2 ayat , Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, Pasal 6”.

Pasal 8 ayat (2), “selain sanksi pidana sebagimana dimaksud pada ayat (1) pelaku dapat dikenakan pidana tambahan berupa pemberhentian secara tidak hormat dari jabatannya”.

Pasal 8 ayat (3), “pidana tambahan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dicantumkan sekaligus dalam amar putusan Pengadilan”. c. Penganjur (Uitlokker) dan atau menyuruhlakukan (Doen pleger),

supaya melakukan tindak pidana perdagangan orang sebagaimana halnya yang dimaksud dalam Pasal 55 KUHP.

Penganjur (Uitlokker) dan atau menyuruhlakukan (Doen pleger), dapat menjadi pelaku tindak pidana perdagangan orang, berdasarkan Pasal 9 UU RI NO. 21 TAHUN 2007. Adapun bunyinya : “setiap orang yang berusaha menggerakkan orang lain supaya melakukan tindak pidana perdagangan orang, dan tindak pidana itu tidak terjadi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 6 (enam) tahun dan pidana denda paling sedikit 40 juta rupiah dan paling banyak 240 juta rupiah”.

d. Membantu melakukan (Medeplichtigheid) sama halnya dalam Pasal 56 KUHP

Membantu melakukan seperti yang disebutkan dalam ketentuan Pasal 56 KUHP yaitu “saat” kejahatan dilakukan atau “sebelum” kejahatan dilakukan

Dalam hal pembantuan dalam UU RI No. 21 Tahun 2007 ada penambahan yaitu pembantuan tidak hanya sebelum atau pada saat kejahatan perdagangan orang dilakukan tetapi juga sesudah kejahatan perdagangan orang

Membantu melakukan diatur dalam Pasal 10 dan Pasal 23 UU RI NO. 21 TAHUN 2007. Pasal tersebut merupakan “pembantuan khusus “yang ketentuan umumnya terdapat dalam Pasal 56 KUHP.

Adapun bunyi dari Pasal 10 dan dan Pasal 23 UU RI NO. 21 TAHUN 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang adalah : Pasal 10 “setiap orang yang membantu atau melakukan percobaan untuk melakukan tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 , Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6. Pasal 23 “setiap orang yang membantu pelarian pelaku tindak pidana perdagangan orang dari proses peradilan dengan cara :

1) Memberikan atau meminjamkan uang, barang, atau harta benda, atau harta kekayaan lainnya kepada pelaku;

2) Menyediakan tempat tinggal bagi pelaku; 3) Menyembunyikan pelaku atau;

4) Memyembunyikan informasi keberadaan pelaku

Dipidana dengan pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun dan pidana denda paling sedikit 40 juta rupiah dan paling banyak 200 juta rupiah.

Bentuk perbuatan pembantuan (medeplictiheid), dalam tindak pidana perdagangan orang yang telah disebutkan “secara khusus” dalam Pasal 10 dan Pasal 23 UU RI NO. 21 TAHUN 2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, yaitu perbuatan-perbuatan tersebut yang secara “limitatif” hanya dapat berupa empat macam saja yaitu :

1) Memberikan atau meminjamkan uang, barang, atau harta benda, atau harta kekayaan lainnya kepada pelaku;

2) Menyediakan tempat tinggal bagi pelaku; 3) Menyembunyikan pelaku atau;

4) Memyembunyikan informasi keberadaan pelaku.

e. Orang yang turut melakukan (Mede pleger) sebagaimana halnya yang dimaksud dalam Pasal 55 (1) ke-1 KUHP.

Orang yang turut melakukan (Mede pleger) dapat menjadi pelaku tindak pidana perdagangan orang, berdasarkan Pasal 11 UU RI NO. 21 TAHUN 2007. adapun bunyinya “ setiap orang yang merencanakan atau atau melakukan permufakatan jahat untuk melakukan tindak pidana perdagangan orang, dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.

f. Pengguna adalah setiap orang yang menggunakan atau memanfaatkan korban tindak pidana perdagangan orang dengan cara melakukan persetubuhan atau perbuatan cabul lainnya dengan korban tindak pidana perdagangan orang, mempekerjakan korban tindak pidana perdagangan orang untuk meneruskan praktek eksploitasi, atau mengambil keuntungan dari hasil tindak pidana perdagangan orang

Pengguna dapat menjadi pelaku tindak pidana perdagangan orang, berdasarkan Pasal 12 UU RI NO. 21 TAHUN 2007. Adapun bunyinya “setiap orang yang menggunakan atau memanfaatkan korban tindak pidana perdagangan orang, dengan cara melakukan persetubuhan atau perbuatan cabul lainnya dengan korban tindak pidana perdagangan orang, mempekerjakan korban tindak pidana perdagangan orang untuk meneruskan praktek eksploitasi atau mengambil keuntungan dari hasil tindak pidana perdagangan orang dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 , Pasal 3, Pasal 4, Pasal 5, dan Pasal 6.

g. Kelompok terorganisasi adalah kelompok terstruktur yang terdiri dari 3 orang atau lebih, yang eksistensinya untuk waktu tertentu dan bertindak dengan tujuan melakukan satu atau lebih tindak pidana yang diatur dalam UU RI No. 21 Tahun 2007 dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan materiil atau finansial baik langsung maupun tidak langsung.

Kelompok terorganisasi dapat menjadi pelaku tindak pidana perdagangan orang, berdasarkan Pasal 16 UU RI NO. 21 TAHUN 2007. Adapun bunyinya : “dalam hal tindak pidana perdagangan orang dilakukan oleh kelompok yang terorganisasi, maka pelaku setiap tindak pidana perdagangan orang dalam kelompok yang terorganisasi tersebut dipidana dengan pidana yang sama sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ditambah sepertiga”.

3. Analisa perbandingan (Komparasi)

Dalam analisa perbandingan ini antara KUHP dan UU RI NO. 21 TAHUN 2007 berkaitan tentang “pelaku” yang dapat dipertanggungjwabkan dalam tindak pidana perdagangan orang”, dibedakan menjadi dua yaitu : persamaan dan perbedaan.

a. Analisa persamaan

Pelaku tindak pidana perdagangan orang yang dapat dipertanggungjawabkan ditinjau dari KUHP dan UU RI NO. 21 TAHUN 2007 mempunyai persamaan yaitu :

1) Subyek tindak pidana atau pelaku tindak pidana perdagangan orang, baik dalam KUHP maupun UU RI NO. 21 TAHUN 2007 dapat dimungkinkan berbentuk “Tunggal”, yaitu orang perorangan yang melakukan tindak pidana perdagangan orang secara tunggal atau sendirian.

2) Baik dalam KUHP maupun UU RI NO. 21 TAHUN 2007 juga dikenal Subyek tindak pidana atau pelaku tindak pidana perdagangan orang yang berupa para pembuat (Mede dader) yang dalam mewujudkan tindak pidana perdagangan orang terlibat banyak orang

3) Baik dalam KUHP maupun UU RI NO. 21 TAHUN 2007 juga dikenal pelaku pembantu dalam tindak pidana perdagangan orang b. Analisa perbedaan

Pelaku yang dapat dipertanggungjawabkan dalam tindak pidana perdagangan orang ditinjau dari KUHP maupun UU RI NO. 21 TAHUN 2007 mempunyai beberapa perbedaan antara lain :

1) Subyek tindak pidana atau pelaku tindak pidana perdagangan orang yang dapat dipertanggungjawabkan dalam KUHP tidaklah sama dengan UU RI NO. 21 TAHUN 2007, karena dalam UU RI NO. 21 TAHUN 2007, pelaku tindak pidana perdagangan orang dapat berupa “orang” (manusia) atau suatu “Korporasi”, sedangkan pelaku tindak pidana perdagangan orang dalam KUHP hanya terbatas pada “manusia”

2) Subyek tindak pidana atau pelaku tindak pidana perdagangan orang dalam KUHP meliputi :

a) pembuat tunggal (dader);

b) para pembuat (Mede dader) yang terdiri dari empat bentuk sebagaimana disebut dalam Pasal 55 ayat (1) KUHP yaitu : orang yang melakukan (pleger), orang yang menyuruh melakukan (doen pleger), orang yang turut serta melakukan (mede pleger) ,orang yang menganjurkan (uitloker).

c) pembuat pembantu (Medeplichtige) yaitu pada saat kejahatan dilakukan dan sebelum kejahatan dilakukan.

Subyek tindak pidana atau pelaku tindak pidana perdagangan orang dalam UU RI NO. 21 TAHUN 2007 meliputi :

a) Setiap orang yang terdiri dari Orang perorangan dan korporasi; b) Penyelengara negara;

c) Penganjur (Uitlokker) dan atau menyuruhlakukan (Doen pleger);

d) Pembantu (Medeplichtigheid), pembantuan tidak hanya sebelum atau pada saat kejahatan perdagangan orang dilakukan tetapi juga sesudah kejahatan perdagangan orang;

e) Orang yang turut melakukan (Mede pleger); f) Pengguna;

g) Kelompok terorganisasi.

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa dalam KUHP tidak dikenal subyek tindak pidana atau pelaku tindak pidana perdagangan orang yang berupa korporasi, penyelengara negara, pembantu sesudah kejahatan perdagangan orang, pengguna, dan kelompok yang terorgansiasi.

B. KOMPARASI PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA BAGI PELAKU PERDAGANGAN ORANG MENURUT KUHP DAN UU RI NO. 21 TAHUN 2007

1. Pertanggungjawaban Pidana Bagi Pelaku Perdagangan Orang Menurut KUHP

Dalam Bab II telah disinggung bahwa, dalam KUHP dan UU RI NO. 21 TAHUN 2007 tidak didapat rumusan tentang pengertian pertanggungjawaban pidana dan kemampuan bertanggungjawab, oleh kerena itu pengertian tersebut harus kita cari dalam dunia ilmu hukum (doktrin).

Berbicara tentang pertanggungjawaban pidana, maka tidak dapat dilepaskan dengan adanya tindak pidana. Tindak pidana tidak berdiri sendiri, itu baru bermakna manakala terdapat pertanggungjawaban pidana. Ini berarti setiap orang yang melakukan tindak pidana tidak dengan sendirinya harus dipidana. Untuk dapat dipidana harus ada pertanggungjawaban pidana. Pertanggungjawaban pidana lahir dengan diteruskannya celaan yang obyektif terhadap perbuatan yang dinyatakan sebagai tindak pidana berdasarkan hukum pidana yang berlaku, dan secara subyektif kepada pembuat yang memenuhi persyaratan untuk dapat dikenai pidana karena perbuatan tersebut.

Dasar adanya tindak pidana adalah asas legalitas sedangkan dasar dapat dipidananya pembuat adalah tiada pidana tanpa kesalahan. Ini

berarti bahwa pembuat tindak pidana hanya akan dipidana jika ia mempunyai kesalahan dalam melakukan tindak pidana tersebut. ” (Dwidja Priyatno, 2004 : 30).

Sudarto menyatakan “dipidananya seseorang tidaklah cukup apabila orang itu telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan hukum atau bersifat melawan hukum. Jadi meskipun perbuatan tersebut memenuhi rumusan delik dalam Undang-Undang dan tidak dibenarkan, Namun hal tersebut belum memenuhi syarat untuk penjatuhan pidana. Untuk pemidanaan masih perlu adanya syarat untuk penjatuhan pidana. Untuk pemidanaan masih perlu adanya syarat, bahwa orang yang melakukan perbuatan itu mempunyai kesalahan atau bersalah. Dengan perbuatan lain, orang tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatannya atau jika dilihat dari sudut perbuatannya perbuatannya baru dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tersebut” (Dwidja Priyatno, 2004 : 31).

Dalam Rancangan KUHP Pasal 32 ayat (2) dimungkinkan dalam hal tertentu seseorang dapat dipertanggungjwabakan atas tindak pidana yang dilakukan oleh orang lain, jika ditentukan dalam suatu Undang-Undang. Ketentuan ini merupakan pengecualian dari asas tiada pidana tanpa kesalahan. Dalam hal-hal tertentu tanggungjawab seseorang dipandang patut diperluas sampai kepada tindakan bawahannya yang melakukan pekerjaan atau perbuatan untuknya atau dalam batas-batas perintahnya. Oleh karena itu meskipun dalam kenyataannya orang tidak melakukan tindak pidana namun dalam rangka pertanggungjawaban pidana ia dipandang mempunyai kesalahan jika perbuatan orang lain yang berada dalam kedudukan yang sedemikian itu merupakan tindak pidana.

Asas pertanggungjawaban yang bersifat pengecualian ini dikenal dengan asas “Vicarious Liability” sering diartikan pertanggungjawaban

menurut hukum seseorang atas perbuatan salah yang dilakukan oleh orang lain (Dwidja Priyatno, 2004 : 49)

Dalam KUHP memang tidak ada rumusan yang tegas tentang kemampuan bertanggungjawab pidana. Pasal 44 ayat (1) KUHP justru merumuskan tentang keadaan mengenai bilamana seseorang tidak mampu bertanggungjawab agar tidak dipidana, artinya merumuskan kebalikan secara negative dari kemampuan bertanggungjawab (Adami Chazawi, 2002 : 142).

Dua keadaan jiwa yang tidak mampu bertanggungjawab sebagaimana yang dirumuskan didalam Pasal 44 ayat (1) KUHP, yakni jiwanya cacat dalam pertumbuhannya dan jiwanya terganggu karena penyekit. Orang yang dalam keadaan demikian jika melakukan tindak pidana tidak boleh dipidana (Adami Chazawi, 2002 : 143).

Adapun pertanggungjawaban pidana bagi pelaku perdagangan orang menurut KUHP akan dijelaskan sebagai berikut :

a. Orang yang secara tunggal perbuatannya mewujudkan tindak pidana perdagangan orang.

Ancaman pidana yang dapat dijatuhkan pada orang ini adalah pidana penjara paling lama dua belas tahun (berdasarkan Pasal 324 KUHP,) pidana penjara paling lama delapan tahun. (Pasal 333 ayat 1), pidana penjara paling lama sembilan tahun (Pasal 333 ayat 2), pidana penjara paling lama dua belas tahun (Pasal 333 ayat 3), pidana penjara paling lama enam tahun (Pasal 297), pidana penjara paling lama sembilan tahun (Pasal 289), pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak seribu rupiah (Pasal 296), pidana kurungan paling lama satu tahun. (Pasal 506).

b. Orang yang disebut dengan para pembuat (Mede dader) yang dalam mewujudkan tindak pidana perdagangan orang terlibat banyak orang dan terdiri dari empat bentuk yaitu orang yang melakukan (pleger),

orang yang menyuruh melakukan (doen pleger), orang yang turut serta melakukan (mede pleger), orang yang menganjurkan (uitloker). orang ini melakukan perbuatan yang dipertanggungjawaban sama seperti pembuat tunggal.

Ancaman pidana yang dapat dijatuhkan pada orang ini adalah pidana penjara paling lama dua belas tahun (berdasarkan Pasal 324 KUHP), pidana penjara paling lama delapan tahun.(Pasal 333 ayat 1), pidana penjara paling lama sembilan tahun (Pasal 333 ayat 2), pidana penjara paling lama dua belas tahun (Pasal 333 ayat 3), pidana penjara paling lama enam tahun (Pasal 297), pidana penjara paling lama sembilan tahun (Pasal 289), pidana penjara paling lama satu tahun empat bulan atau pidana denda paling banyak seribu rupiah (Pasal 296), pidana kurungan paling lama satu tahun. (Pasal 506).

c. Orang yang disebut dengan pembuat pembantu (Medeplichtige), baik membantu pada saat kejahatan dilakukan maupun sebelum kejahatan dilakukan.

Ancaman pidana yang dapat dijatuhkan pada orang ini adalah maksimum pidana pokok terhadap kejahatan dapat dikurangi sepertiga (berdasarkan Pasal 57 ayat 1 ). Jadi pidana seperti yang telah disebutkan dalam Pasal 324, 333 (1) (2) (3), 297, 289, 296, dan 506 dikurangi sepertiga.

Dalam KUHP terkait dengan tindak pidana perdagangan orang yaitu dalam Pasal 333 ayat (4) ada pengecualian terhadap pertanggungjawaaban pidana pembantu dimana pembantu dipidana sama dengan pembuat. Pasal 333 ayat (4) adalah membantu dengan sengaja memberi tempat untuk perampasan kemerdekaan yang melawan hukum. Ancaman pidana yang dapat dijatuhkan pada pembantu ini adalah sama dengan pembuat yang melakukan tindak

pidana dalam Pasal 333 (1), (2), (3) yaitu pidana penjara paling lama delapan tahun, sembilan tahun, dan dua belas tahun, tidak dijatuhi maksimum pidana pokok terhadap kejahatan dikurangi sepertiga

Pasal-Pasal dalam KUHP sebagaimana tersebut diatas berkaitan dengan pertanggungjawaban pidana bagi pelaku perdagangan orang memiliki banyak kelemahan yaitu :

1) Pasal 324 dapat dipergunakan untuk menjaring sebagian perbuatan perdagangan orang karena Pasal ini melarang perbuatan yang dapat dikategorikan sebagai perdagangan manusia, Namun obyeknya disebutkan secara khusus yaitu budak belian sehingga keberlakuan Pasal ini menjadi sempit sekali.

2) Upaya penuntutan kepada para germo yang sering berlaku sebagai trafficker menggunakan Pasal 333 KUHP tentang ‘merampas kemerdekaan seseorang’ juga sulit dilakukan, karena ‘anak asuhan’ nya bersedia memberikan pernyataan tertulis bahwa mereka datang atas kemauan sendiri dan seiijin orang tua.

3) Pasal 289, Pasal 296, dan Pasal 506 yang mengatur kegiatan pelacuran dimana Pasal-Pasal KUHP tersebut masih memerlukan suatu penafsiran bahwa pelacuran adalah perbuatan cabul sehingga dapat dianggap sebagai kejahatan terhadap kesusilaan atau pelanggaran terhadap ketertiban umum. Sebagaimana tertera dalam Pasal-Pasal tersebut di atas, maka kegiatan pemilik bordil atau pengelola, pelanggan, germo, dan penyelenggara yang seringkali melakukan tindak kekerasan, ancaman (secara halus), pemaksaan dan menyediakan fasilitas untuk berlangsungnya pelacuran telah dikriminalisasikan, Namun ancaman hukumannya sangat ringan (1 tahun, 1 tahun 4 bulan, paling lama 9 tahun atau denda) sehingga tidak mempunyai efek jera bagi pelakunya.

4) Pasal 297 KUHP yang secara khusus mengatur perdagangan perempuan dan anak laki-laki dibawah umur memiliki kelemahan-kelemahan antara lain :

a) Pada unsur wanita dan anak laki-laki di bawah umur. Unsur ini menimbulkan multi tafsir mengenai pengertian di bawah umur, apakah hanya dikenakan kepada wanita dan anak laki-laki yang dibawah umur, atau wanitanya adalah wanita dewasa dan anak laki-laki di bawah umur, yang akibatnya anak perempuan tidak terlindungi.

b) Unsur-unsur di dalam Pasal tersebut juga menunjukkan bahwa laki-laki dewasa tidak terlindungi oleh hukum apabila dia menjadi korban perdagangan.

c) Permasalahan lain yang berkaitan dengan Pasal 297 KUHP adalah tentang batas usia belum dewasa (di bawah umur) bagi anak laki-laki yang diperdagangkan. Seperti diketahui, dalam KUHP tidak ada satu ketentuan pun yang secara tegas memberikan batasan usia belum dewasa ataupun usia dewasa. d) Ancaman pidana maksimal 6 tahun bagi pelakunya dirasakan

terlalu ringan dan tidak memenuhi rasa keadilan. Selain itu dalam ketentuan tersebut tidak diatur ancaman pidana minimalnya. Ancaman pidana tersebut dirasakan tidak memenuhi rasa keadilan, mengingat penderitaan yang dialami oleh para korban, harga diri dan martabatnya sebagai manusia yang telah dirampas dan diinjak sedemikan rupa.

2. Pertanggungjawaban Pidana Bagi Pelaku Perdagangan Orang Menurut UU RI NO. 21 TAHUN 2007

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa dalam KUHP dan UU RI NO. 21 TAHUN 2007 tidak dikenal pengertian pertanggungjawaban pidana. oleh kerena itu pengertian tersebut harus kita cari dalam dunia ilmu hukum (doktrin).

Dalam hal pertanggungjawaban pidana unsur yang paling fondamental adalah unsur kesalahan, sebab orang atau korporasi tidak dapat diminta pertanggungjawaban kalau tanpa adanya suatu kesalahan. Dalam hal ini berkaitan dengan tindak pidana perdagangan orang tentunya kesalahan yang dimaksud berkaitan dengan pelanggaran terhadap ketentuan KUHP dan UU RI NO. 21 TAHUN 2007. Dalam Undang-Undang tersebut, terdapat klasifikasi tindak pidana perdagangan orang, yaitu tindak pidana materiil dan tindak pidana formil yang keduanya telah

Dokumen terkait