BAB III : METODOLOGI PENELITIAN
B. Variabel Penelitian
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : 1. Jumlah pasien keluar hidup tahun 2010 - 2014
2. Jumlah pasien keluar mati >48 jam tahun 2010 - 2014 3. Jumlah pasien keluar mati <48 jam tahun 2010 - 2014 4. GDR ( Gross Death Rate)
5. NDR (Net Death Rate)
37
C. Definisi Operasional
No Variabel Definisi Operasional
1 Jumlah pasien keluar hidup Banyaknya pasien rawat inap yang keluar rumah sakit dalam keadaan hidup setelah dilakukan perawatan di RSUD Tugurejo Semarang pada tahun 2010 - 2014.
Data ini di peroleh dari rekapitulasi laporan rawat inap.
2 Jumlah pasien keluar mati
>48 jam
Banyaknya pasien rawat inap yang keluar rumah sakit dalam keadaan mati setelah dilakukan perawatan selama >48 jam di RSUD Tugurejo Semarang pada tahun 2010 - 2014. Data ini di peroleh dari rekapitulasi laporan rawat inap.
3 Jumlah pasien keluar mati
<48 jam
Banyaknya pasien rawat inap yang keluar rumah sakit dalam keadaan mati setelah dilakukan perawatan selama <48 jam di RSUD Tugurejo Semarang pada tahun 2010 - 2014. Data ini di peroleh dari rekapitulasi laporan rawat inap.
4 GDR (Gross Detah Rate) Angka kematian kasar , untuk tiap – tiap 1000 penderita keluar baik hidup/ mati
Rumus:
Total pasien mati (<48 jam dan ≥48 jam) X 1000
‰
Jumlah pasien keluar (H+M)
5 NDR (Net Death Rate) Angka kematian ≥48 jam setelah di rawat untuk tiap – tiap 1000 penderita yang keluar baik hidup / mati
38 Rumus:
Jumlah pasien mati ≥48 jam X 1000
‰
Jumlah pasien keluar (H+M)
D. Objek Penelitian
Objek penelitian rekapitulasi bulanan kunjungan pasien rawat inap periode tahun 2010 - 2014 di RSUD Tugurejo Semarang.
E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :
Pedoman observasi yang berisi data tentang jumlah pasien keluar (H+M) , jumlah pasien mati (<48 jam dan >48 jam).
F. Pengumpulan Data
Pengumpulan data yaitu dengan cara observasi data primer yaitu rekapitulasi bulanan kunjungan pasien rawat inap untuk mengumpulkan data tentang jumlah pasien keluar (H+M), jumlah pasien mati >48 jam , jumlah pasien mati <48 jam pada tahun 2010 - 2014.
39
G. Cara Pengolahan Data
Penelitian ini menggunakan pengolahan data dengan :
1. Editing yaitu data diperiksa keseragaman, kelengkapan data, kejelasan tulisan, dan kebenaran data yang dikumpulkan.
2. Klasifikasi yaitu mengelompokkan data yang sudah terkumpul.
3. Tabulasi yaitu memasukkan angka kedalam tabel, mengatur angka sehingga dapat dihitung jumlahnya dalam berbagai kategori.
4. Kalkulasi data yaitu menghitung data untuk mendapatkan angka GDR dan NDR.
H. Analisis Data
Menggunakan analisa deskriptif dengan cara yaitu :
1. Membandingkan hasil perhitungan GDR dan NDR yang ada di RSUD Tugurejo dengan standar mutu pelayanan yang telah ditetapkan menurut Depkes yaitu <45
‰
untuk GDR dan <25‰
untuk NDR.2. Menjelaskan hasil perhitungan secara deskriptif.
40
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
A. Gambaran Umum Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang
RSUD Tugurejo Semarang memiliki letak yang cukup strategis dari sisi geografis karena selain terletak pada ruas jalan utama yang merupakan rangkaian jalur pantai utara Jawa yang menghubungkan kota Semarang dengan kota Kendal, juga dikelilingi oleh pemukiman penduduk yang cukup padat serta dilingkupi oleh tiga daerah sentra industri besar, yaitu : Kawasan Industri Cilacap, Kawasan Tugu indah Industri, Kawasan Guna Mekar Industri.
Rumah sakit Tugurejo Semarang terletak pada ruas jalur utama Semarang – Jakarta pada koordinat LS : 06o 59’ 04,8” dan BT : 110o 21’ 22,7” yang merupakan jalur utama pantai utara Jawa antara Semarang dan Kendal, tepatnya pada jalan raya Walisongo Semarang
Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo merupakan Rumah Sakit kelas B non pendidikan milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, yang terletak di Semarang Bagian Barat dengan kapasitas tempat tidur yang beroperasional saat ini 323 tempat tidur. Luas tanah 36.566 m2, luas bangunan 15.381 m2 terdiri dari gedung rawat jalan, gedung IGD, 8 bangsal perawatan, kamar bedah, kamar bersalin, bangunan penunjang, kantor, auditorium dan wisma.
41
Pada awal pendiriannya, Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang merupakan Rumah Sakit Kusta (Khusus) milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.
Akan tetapi seiring dengan perkembangan jaman dan teknologi serta perkembangan penduduk yang mulai pesat, maka tanggal 26 Desember 2000 Menteri Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial melalui keputusannya nomor 1810/Menkes-Kesos/SK/XII/2000 merubah status Rumah Sakit Khusus Kusta menjadi Rumah Sakit Umum dengan status kelas C. Kemudian sejak tanggal 19 Nopember 2003 berdasarkan SK Menkes RI No. 1600/Menkes/SK/XI/2003 berubah menjadi Rumah Sakit Umum dengan status kelas B Non Pendidikan milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Walaupun berubah menjadi rumah sakit umum, namun rumah sakit ini tetap mempertahankan kekhususannya dengan masih menerima pasien kusta.
Visi Rumah Sakit Umum Tugurejo adalah Rumah Sakit Prima, Mandiri dan Terdepan di Jawa Tengah. Untuk mewujudkan' visi tersebut, dijabarkan dalam Misi dan langkah-langkah strategik, dengan didasari oleh nilai-nilai luhur dan budaya kerja rumah sakit yang diyakini akan mampu memberikan inspirasi kepada segenap karyawan untuk bersama mewujudkan visi tersebut.
1. Visi
Rumah Sakit Prima, Mandiri Dan Terdepan Di Jawa Tengah 2. Misi
a. Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia.
42
b. Meningkatkan sarana dan prasarana dalam rangka menunjang pelayanan medis dan memberikan kenyamanan kepada pasien, keluarga pasien dan karyawan.
c. Meningkatkan program pengembangan mutu pelayanan medis dan non medis secara berkesinambungan.
d. Mewujudkan kemandirian, efisiensi, efektifitas dan fleksibilitas pengelola keuangan.
e. Menjadi pusat pendidikan kedokteran dan kesehatan lain, serta penelitian dan pengembangan bidang kesehatan.
f. Mengembangkan pelayanan unggulan.
3. Motto
“Kesembuhan dan Kepuasan Anda Adalah Kebahagiaan Kami”
4. Nilai
Tuntunan dan pandangan umum orang yang bekerja di RSUD Tugurejo Provinsi Jawa Tengah.
Di Rumah Sakit Umum Daerah Tugurejo Semarang juga terdapat Instalasi Unit Rekam Medis yang terdiri dari fungsi assembling, koding, indeksing, filing, analising dan reporting. Di unit rekam medis inilah data diolah untuk membuat laporan harian, bulanan, tribulan, maupun tahunan yang dilaporkan kepada Direktur RSUD Tugurejo Semarang, Dinas Kesehatan, dan unit yang dilaporkan. Pengolahan data rumah sakit diwujudkan ke dalam statistik rumah sakit yang bermanfaat dalam
43
pengolahan manajemen rumah sakit antara lain BOR, LOS, TOI, BTO, GDR, NDR dan indikator rumah sakit lainnya.
B. Hasil Pengamatan
1.
Pasien Keluar Hidup Tahun 2010 – 2014
Tabel 4.1 Pasien Keluar Hidup di RSUD Tugurejo Semarang No Tahun Pasien Keluar Hidup
1 2010 14.946
2 2011 16.099
3 2012 16.944
4 2013 18.616
5 2014 19.174
JUMAH 85.779
Sumber : Laporan rekapitulasi kunjungan pasien rawat inap tahun 2010 – 2014
Pasien keluar hidup adalah jumlah pasien rawat inap yang keluar rumah sakit dalam keadaan hidup setelah dilakukan perawatan baik pemulangan pasien atau pemindahan ke rumah sakit lain. Berdasarkan tabel 4.1 total jumlah pasien keluar hidup tahun 2010 -2014 adalah 85.779 pasien. Dengan jumlah terendah berada pada tahun 2010 yaitu 14.946 pasien dan jumlah tertinggi berada pada tahun 2014 yaitu 19.174 pasien.
44
2.
Pasien Mati < 48 jam Tahun 2010 – 2014
Tabel 4.2 Pasien Mati <48 jam No Tahun Pasien keluar mati <48 jam
Sumber : Laporan rekapitulasi kunjungan pasien rawat inap tahun 2010 – 2014
Pasien mati <48 jam adalah pasien rawat inap yang keluar rumah sakit dalam keadaan mati setelah dilakukan perawatan selama <48 jam.
Berdasarkan tabel 4.2 total jumlah pasien mati <48 jam pada tahun 2010 - 2014 sebesar 1.233 pasien. Dengan jumlah terendah pada tahun 2010 yaitu 78 pasien, dan jumlah tertinggi pada tahun 2014 dengan jumlah 322 pasien.
3.
Pasien Mati > 48 jam Tahun 2010 – 2014
Tabel 4.3 Pasien >48 Mati
No Tahun Pasien keluar mati <48 jam
1 2010 187
Sumber : Laporan rekapitulasi kunjungan pasien rawat inap tahun 2010 – 2014
45
Pasien keluar mati >48 jam adalah banyaknya pasien rawat inap yang keluar rumah sakit dalam keadaan mati setelah dilakukan perawatan >48 jam di rumah sakit. Berdasarkan tabel 4.3 total pasien mati > 48 jam adalah 2.745.
Dengan jumlah terendah pada tahun 2010 dengan jumlah 187 pasien, dan jumlah tertinggi pada tahun 2013 dengan jumlah 720 pasien.
4.
Perhitungan GDR (Gross Death Rate)
Tabel 4.4 Hasil Perhitungan GDR tahun 2010 – 2014 di RSUD Tugurejo Semarang
Tahun Rumus
GDR (Gross Death Rate) adalah angka kematian umum untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar baik hidup atau mati . Berdasarkan tabel 4.5 dapat dilihat bahwa GDR yang terendah adalah pada tahun 2010 dengan nilai 17,42‰ , sedangkan GDR tertinggi adalah pada tahun 2013 dengan nilai 51,99‰.
46
Berdasarkan hasil penghitungan GDR dapat disimpulkan bahwa selama tahun 2010 – 2015 dari 1000 pasien yang keluar rumah sakit terdapat 17 pasien sampai dengan 52 pasien yang keluar dari rumah sakit dalam keadaan meninggal.
Grafik 4.1 GDR pada tahun 2010 – 2014
Berdasarkan grafik GDR, 4.1 pada tahun 2010 – 2014 dapat diijelaskan bahwa pada tahun 2010 GDR berada pada angka 17,42 , kemudian pada tahun 2011 menunjukkan angka kenaikan yang drastis dari 17,42 menjadi 48,40, pada tahun 2012 masih menunjukkan kenaikan dari 48,40 menjadi 49,31, pada tahun 2013 masih tetap menunjukkan angka kenaikan yaitu dari 49,31 menjadi 51,99, dan pada tahun 2014 angka GDR menunjukkan penurunan dari 51,99 menjadi
47 5.
Perhitungan NDR (Net Death Rate)
Tabel 4.5 Hasil Perhitungan NDR tahun 2010 – 2014 di RSUD Tugurejo Semarang
Tahun Rumus
Berdasarkan hasil penghitungan NDR dapat disimpulkan bahwa selama tahun 2010 – 2014, dari 1000 pasien yang keluar rumah sakit terdapat 12 pasien sampai 37 pasien yang keluar dari rumah sakit dalam keadaan meninggal setelah dilakukan perawatan >48 jam.
48
Grafik 4.2 NDR pada tahun 2010 – 2014
Berdasarkan grafik 4.2, NDR pada tahun 2010-2014 dapat dideskripsikan bahwa pada tahun 2010 NDR berada pada angka 12,29, kemudian pada tahun 2011 mengalami kenaikan drastis dari 12,29 menjadi 30,79 , pada tahun 2012 masih mengalami kenaikan yang cukup drastis dari 30,79 menjadi 36,18, pada tahun 2013 mengalami kenaikan dari 36,18 menjadi 36,66, dan pada tahun 2014 menunjukkan angka penurunan dari 36,66 menjadi 33,32.
12,29
49
6.
Analisis Hasil Perhitungan Indikator GDR dan NDR di RSUD Tugurejo pada Tahun 2010 – 2014
Trend GDR dan NDR pada tahun 2010 – 2014 menggunakan Trend linear (trend garis lurus)
Dari hasil GDR dan NDR yang diperoleh, dapat diketahui trend GDR dan NDR selama tahun 2010 – 2014 dengan menggunakan perhitungan Trend linear ( trend garis lurus) sebagai berikut :
I. Mengetahui GDR selama 5 tahun dan menentukan nilai X dan Y Tabel 4.6
Perhitungan Trend GDR Tahun 2010 - 2014
Tahun Y X XY X2 Trend
50 GDR mengalami peningkatan 6,731‰ atau 6,7 ‰ setiap tahunnya.
I. Mengetahui nilai NDR selama 5 tahun dan menentukan nilai X dan Y
Tabel 4.7
Perhitungan Trend NDR Tahun 2010 - 2014
Tahun Y X XY X2 Trend NDR
51 III. Menghitung Y = a + b X
Trend 2010 = 29,848 + 6,793 (-2) = 16,262 2011 = 29,848 +6,793 (-1) = 23,055 2012 = 29,848+ 6,793 (0) = 29,848 2013 = 29,848+ 6,793 (1) = 36,641 2014 = 29,848+ 6,793 (2) = 43,434
Berdasarkan tabel 4.7 NDR diatas dapat diketahui bahwa angka NDR mengalami peningkatan seebsar 6,793 ‰ atau 6,8 ‰ setiap tahunnya.
C. Pembahasan
1. GDR (Gross Death Rate)
Dari hasil perhitungan GDR pada tahun 2010 - 2014 didapatkan angka GDR di RSUD Tugurejo Semarang pada tahun 2010 yaitu 17,42 ‰, tahun 2011 sebesar 48,40‰, tahun 2012 sebesar 49,31‰, tahun 2013 sebesar 51,99‰, tahun 2014 sebesar 49,28‰.
Standar yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan adalah <45‰
dari hasil perhitungan tersebut menunjukkan GDR pada tahun 2011, 2012, 2013, 2014 melebihi standar yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan yaitu
<45 ‰.
Dari hasil perhitungan Trend GDR dapat diketahui bahwa angka Trend GDR mengalami peningkatan 6,731‰ atau 6,7 ‰ setiap tahunnya, yang berarti menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan.
52
Kecenderungan kenaikan / peningkatan nilai GDR di RSUD Tugurejo Semarang secara drastis dari tahun ke tahun, sampai pada tahun 2014 mengalami penurunan tetapi masih melebihi batas standar, dengan nilai GDR tertinggi pada tahun 2013 dengan nilai sebesar 51,99‰.
Angka pencapaian indikator GDR pada tahun 2010 – 2014 sangat dipengaruhi oleh variabel jumlah pasien keluar hidup dan mati, variabel jumlah pasien keluar hidup, keluar mati <48 jam dan jumlah pasien keluar mati >48 jam, sangat penting dan sangat mempengaruhi angka indikator GDR. Maka perlu diperhatikan kelengkapan dan keakuratan dalam hal pencatatan data mengenai waktu pasien keluar yaitu hari, tanggal, dan jam.
Berdasarkan angka GDR tersebut dapat di analisis mutu pelayanan medis di RSUD Tugurejo Semarang pada tahun 2010 – 2014 sebagai berikut :
Tabel 4.8
Analisis Pelayanan Medis Berdasarkan Indikator GDR pada tahun 2010-2014
Tahun GDR Analisa Mutu Pelayanan
Medis
53 2. NDR ( Net Death Rate)
Angka NDR di RSUD Tugurejo Semarang pada tahun 2010 sebesar 12,29‰, tahun 2011 sebesar 30,79‰, tahun 2012 sebesar 36,18‰, tahun 2013 sebesar 36,66‰, tahun 2014 sebesar 33,32‰.
Angka NDR di RSUD Tugurejo pada tahun 2010 – 2014 menunjukkan kecenderungan kenaikan atau peningkatan yang cukup drastis dari tahun ke tahun dengan nilai NDR tertinggi pada tahun 2013 dengan nilai 36,66‰, meskipun pada tahun 2014 terjadi penurunan akan tetapi masih melebihi standar yang telah di tetapkan oleh Depkes.
Indikator NDR lebih mencerminkan mutu pelayanan medis karna hanya pasien yang mati >48 jam, yang berarti pasien sudah mendapatkan pelayanan medis di Rumah Sakit. Angka pencapaian indikator NDR pada tahun 2010 – 2014 sangat dipengaruhi oleh variabel jumlah pasien keluar hidup dan mati, variabel jumlah pasien keluar hidup, keluar mati <48 jam dan jumlah pasien keluar mati
>48 jam, sangat penting dan sangat mempengaruhi angka indikator NDR.
Dari hasil perhitungan Trend NDR pada tahun 2010 – 2014 dapat diketahui bahwa angka NDR mengalami peningkatan sebesar 6,793 ‰ atau 6,8 ‰ setiap tahunnya.
Berdasarkan hasil perhitungan NDR tersebut dapat di analisis mutu pelayanan medis di RSUD Tugurejo Semarang pada tahun 2010 – 2014 sebagai berikut :
54 Tabel 4.9
Analisis Pelayanan Medis Berdasarkan Indikator NDR pada tahun 2010-2014
Tahun NDR Analisa Mutu
Berdasarkan data indeks kematian, kematian paling tinggi selama tahun 2010 – 2014 yaitu :
Tabel 4.10
Jumlah Indeks Kematian Paling Tinggi Tahun 2010 - 2015 Tahun Nama Penyakit Kode ICD-10 Jumlah yang
meninggal
2010 Congestive Heart Failure I.50 66
2011 Chronic Ischaemic Heart Failure
I.25.9 175
2012 Congestive Heart Failure I.50 172
2013 Congestive Heart Failure I.50 180
2014 DHF (Dengue Haemorrhagic Fever)
A.91 181
Sumber : Indeks Kematian tahun 2010 – 2014
Bersarkan tabel 4.10 di atas jumlah kematian tertinggi adalah karna kasus penyakit, yaitu penyakit Congestive Heart Failure (I.50), yang selalu menjadi sebab kematian paling tinggi selama 3 tahun yaitu pada tahun 2010 sebanyak 66 pasien, tahun 2012 sebanyak 172 pasien,dan tahun 2013 sebanyak 180 pasien, oleh karna itu perlu penanganan dan perawatan yang lebih untuk penyakit tersebut.
55
Dari tahun ke tahun Indikator GDR dan NDR di RSUD Tugurejo Semarang cenderung mengalami peningkatan yang melebihi standar yang telah di tetapkan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia dan mencerminkan mutu pelayanan medis, sehingga perlu adanya suatu upaya perbaikan dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan, antara lain dengan cara yaitu :
a. Mengidentifikasi masalah yang menyebabkan angka indikator GDR dan NDR pada tahun 2011 – 2014 yang mengalami kenaikan
b. Mengadakan infrastruktur yang diperlukan bagi upaya peningkatan mutu, antara lain :
1) Perbaikan sarana dan prasarana
2) Dengan mengadakan perbaikan organisasi yang ada di rumah sakit 3) Meningkatkan pengetahuan para tenaga medis maupun non medis
4) Menerapkan keramahtamahan petugas medis maupun non dalam memberikan pelayanan kepada pasien dan melakukan keidisipilinan
c. Membentuk tim untuk melakukan identifikasi, analisis, dan menemukan penyabab masalah
d. Menyediakan sumber daya, mengadakan pelatihan dan motivasi untuk memecahkan masalah secara efektif dan mengendalikan agar tetap mencapai tujuan
56
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pasien Keluar Hidup
Pasien keluar hidup adalah jumlah pasien rawat inap yang keluar rumah sakit dalam keadaan hidup setelah dilakukan perawatan baik pemulangan pasien atau pemindahan ke rumah sakit lain. Berdasarkan hasil pengamatan total jumlah pasien keluar hidup adalah 85.779 pasien.
Dengan jumlah terendah berada pada tahun 2010 yaitu 14.946 pasien dan jumlah tertinggi berada pada tahun 2014 yaitu 19.174 pasien.
2. Pasien keluar mati < 48 jam
Pasien mati <48 jam adalah pasien rawat inap yang keluar rumah sakit dalam keadaan mati setelah dilakukan perawatan selama <48 jam.
Berdasarkan hasil pengamatan total jumlah pasien mati <48 jam sebesar 1.233 pasien. Dengan jumlah terendah pada tahun 2010 yaitu 78 pasien, dan jumlah tertinggi pada tahun 2014 dengan jumlah 322 pasien.
3. Pasien keluar mati > 48 jam
Pasien keluar >48 jam adalah banyaknya pasien rawat inap yang keluar rumah sakit dalam keadaan mati setelah dilakukan perawatan >48 jam di rumah sakit. Berdasarkan hasil pengamatan total pasien mati > 48 jam adalah 2.745. Dengan jumlah terendah pada tahun 2010 dengan jumlah
57
187 pasien, dan jumlah tertinggi pada tahun 2013 dengan jumlah 720 pasien.
4. GDR (Gross Death Rate)
GDR adalah angka kematian umum untuk tiap-tiap 1000 penderita keluar baik hidup atau mati . Standar yang telah di tetapkan oleh Departemen Kesehatan adalah <45‰, Dari hasil perhitungan GDR pada tahun 2010 - 2014 didapatkan angka GDR di RSUD Tugurejo Semarang pada tahun 2010 yaitu 17,42 ‰, tahun 2011 sebesar 48,40‰, tahun 2012 sebesar 49,31‰, tahun 2013 sebesar 51,99‰, tahun 2014 sebesar 49,28‰. GDR yang terendah adalah pada tahun 2010 dan merupakan yang tidak melebihi standar dengan nilai 17,42‰ , sedangkan GDR tertinggi adalah pada tahun 2013 dengan nilai 51,99‰.
5. NDR (Net Death Rate)
NDR adalah angka kematian >48 jam setelah dirawat untuk tiap – tiap 1000 penderita keluar baik hidup maupun mati. Standar yang telah di tetapkan oleh Departemen Kesehatan adalah <25‰. Dari hasil perhitungan NDR pada tahun 2010 – 2014 di RSUD Tugurejo Semarang yaitu, angka NDR di tahun 2010 sebesar 12,29‰, tahun 2011 sebesar 30,79‰, tahun 2012 sebesar 36,18‰, tahun 2013 sebesar 36,66‰, tahun 2014 sebesar 33,32‰. NDR terendah adalah pada tahun 2010 dengan nilai 12,29‰, dan yang tertinggi pada tahun 2013 dengan nilai NDR 36,66‰.
58
7. Analisis Hasil Perhitungan Indikator GDR dan NDR di RSUD Tugurejo pada Tahun 2010 – 2014.
Berdasarkan perhitungan Trend GDR dan NDR tahun 2010 – 2014 ,menunjukkan hasil bahwa terjadi peningkatan atau kenaikan dari tahun ke tahun yaitu GDR mengalami peningkatan sebesar 6,7‰ setiap tahunnya, dan NDR sebesar 6,8‰ setiap tahunnya. Berdasarkan data indeks kematian, indeks sebab kematian paling tinggi menunjukkan karena sebab penyakit yaitu Congestive Heart Failure (I50) yang menjadi penyabab kematian paling banyak yaitu pada tahun 2010, 2012, dan 2013.
B. Saran
Jika dilihat dari angka GDR dan NDR yang semakin meningkat dari tahun ke tahun yang merupakan indikator kualitas pelayanan medis di RSUD Tugurejo Semarang, oleh karena itu penulis menyarankan :
1. Mengingat pentingnya data tentang jumlah pasien keluar hidup dan mati, yang digunakan dalam penghitungan GDR dan NDR maka perlu diperhatikan dalam hal ketelitian pencatatan data.
2. Pada tahun 2011, 2012, 2013, 2014, angka GDR dan NDR tidak sesuai dengan standar mutu pelayanan yang ditetapkan oleh DepKes , oleh karna itu perlu dilakukan audit medis dan intervensi mendalam mengenai peningkatan indikator GDR dan NDR tersebut.
3. Untuk melihat kecenderungan angka GDR dan NDR di RSUD Tugurejo Semarang, sebaiknya dibuat grafik GDR dan NDR dalam triwulan, agar
59
dapat selalu terpantau naik atau turunnya mengenai angka indikator ini, dan bagi upaya perencanaan peningkatan mutu pelyanan kesehatan.
4. Mempertahankan dan meningkatkan kinerja rumah sakit yang terdiri dari paramedis, non medis, dokter yang ahli di bidangnya, perawat yang berpengalaman, untuk mendukung keberhasilan pelayanan rumah sakit.
5. Trend GDR dan NDR menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun, oleh karna itu perlu suatu perbaikan mutu, sarana,sumber daya manusia (SDM)
6. Khusus penyakit Congestive Heart Failur (I50) sebagai penyebab kematian paling tinggi di RSUD Tugurejo Semarang, Oleh karna itu perlu dilakukan perbaikan dalam penanganan, perawatan pasien dengan penyakit Congestive Heart Failure (I50).
60
DAFTAR PUSTAKA
1. Menkes Republik Indonesia, Peraturan Menteri Kesehatan No.749a/Menkes/PER/XII/1989, tentang rekam medis atau medical record.
Jakrta, 2008.
2. Rustiyanto,Ery.Statistik Rumah Sakit untuk Pengambilan Keputusan, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010.
3. Lily,wijaya. Training of trainer Hospital Statistic. Jakarta, Juli 1999.
4. Soejadi. Efisiensi pengelolaan Rumah Sakit, Bina Katiga, Jakarta, 1996 5. Direktorat Jendral Pelayanan Medis, Petunjuk Teknis Penyelenggaraan
Rekam Medis / Medical Record RS, Jakarta : Departemen Kesehatan RI 1993.
6. Direktorat Jendral Pelayanan Medik No.78/yanmed/RS/RSU medik/YMU/1/91. Penyelenggaraan Rekam Medis di RS, Jakarta,1991.
7. Sudra,Rano Indardi .Statistik Rumah Sakit, Graha Ilmu, Yogyakarta, 2010.
8. Suhartini,Imam, Dasar Organisasi Manajemen, Magister manajemen Rumah Sakit Universitas Gadjah Mada ,1996.
9. Sulaeman. Peranan Rekam Medis Dalam Penerapan Standar Pelayanan Rumah Sakit dan Akeditasi, 2000.
10. Gatot,Kunanto , Statistik Pelayanan Kesehatan, Jakarta, 2010.
11. Pohan, Imbalo.S. Jaminan Mutu Pelayanan Kesehatan.EGC.Jakarta:2006 12. Sunyoto,Danang, Statistik Rumah Sakit, Graha Ilmu. Yogyakarta 2010
61
LAMPIRAN
62 Surat Ijin Penelitian UDINUS
63 Surat Ijin Penelitian RSUD Tugurejo Semarang
64
Pedoman Observasi
Tabel jumlah pasien keluar (H+M) , Mati (<48 jam & >48 jam) tahun 2010 – 2014 di RSUD Tugurejo Semarang
NO Tahun Pasien Keluar Pasien Mati Jumlah pasien
keluar (H+M) Hidup Mati <48 jam >48 jam
1 2010
2 2011
3 2012
4 2013
5 2014
JUMAH
65
REKAPITULASI KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP TAHUN 2010
66
REKAPITULASI KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP TAHUN 2011
67
REKAPITULASI KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP TAHUN 2012
68
REKAPITULASI KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP TAHUN 2013
69
REKAPITULASI KUNJUNGAN PASIEN RAWAT INAP TAHUN 2014
70
Perhitungan Gross Death Rate (GDR) dan Net Death Rate
1. GDR (GROSS DEATH RATE)
REKAPITULASI KUNJUNGAN RAWAT INAP TAHUN 2010 - 2014 NO TAHUN PASIEN KELUAR
71 Tahun 2013 :
‰ Tahun 2014 :
‰ = 33,32
72 PROTAP ANALISING DAN REPORTING
73
PROTAP PEMBUATAN LAPORAN BBULANAN INTERNAL