• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PROFIL BANK DKI SYARIAH

B. Visi dan Misi Perusahaan

Visi Bank DKI Syariah adalah Menjadi Bank Regional Modern dan Bernilai tinggi, yang menjaga keseimbangan antara keuntungan dan pembangunan Jakarta.

Lalu misi dari Bank DKI Syariah dapat dijabarkan sebagai berikut:29

1. Mendukung pengembangan Jakarta dengan menjadi bank pilihan untuk transaksi, UMKM dan mewujudkan masyarakat Less-Cash

2. Memaksimalkan peranan sebagai mitra jakarta untuk mendorong kesuksesan Komersial

3. Mencapai keberhasilan bisnis dengan mendayagunakan akses kepada komunitas Jakarta

29 “Visi Dan Misi Bank DKI Syariah,” accessed September 20, 2020, https://bankdkisyariah.co.id/index.php/bank-dki-syariah/visi-misi.

28

4. Bank DKI Syariah memiliki nilai-nilai budaya kerja antara lain:

a. Integritas

Berprilaku disiplin, jujur, dan menjunjung norma etika, serta menaati segala peraturan yang berlaku

b. Profesional

Proaktif, inovatif dan bekerjasama untuk mencapai kinerja yang terbaik c. Customer focus

Memberikan pelayanan yang terbaik untuk kenyamanan nasabah C. Tujuan Perusahaan

Tujuan dari dibentuknya Bank DKI Syariah adalah senantiasa berkomitmen untuk memberikan kinerja dan layanan Perbankan yang terbaik dan sesuai dengan prinsip syariah, sehingga memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk bertransaksi dengan Bank DKI Syariah.

D. Produk dan Layanan Perusahaan

Bank DKI Syariah memiliki beragam produk dan jasa perbankan yang mampu memenuhi berbagai kebutuhan nasabah, dan dalam menjalankan operasional bank DKI Syariah selalu berdasarkan prinsip syariah, seperti, jual beli dan bagi hasil.

Layanan Syariah, saat ini tidak terbatas pada masyarakat muslim namun juga dibutuhkan oleh seluruh golongan masyarakat. Bank DKI Syariah menyadari hal ini dengan memberikan layanan dan fasilitas perbankan yang aman, adil dan modern. Oleh karena itu produk yang dikeluarkan oleh Bank DKI Syairah terdiri dari produk dana dan pembiayaan, diantaranya:30

1. Produk Dana:

a. Tabungan iB SIMPEDA

Tabungan dengan prinsip mudharabah/bagi hasil antara bank dan nasabah dengan nisbah sesuai kesepakatan pada saat akad dimuka.

30 “Produk Dan Layanan Bank DKI Syariah,” September 20, 2020, https://bankdkisyariah.co.id/index.php/bank-dki-syariah/sekilas-bank-dki.

29

b. Tabungan iB Taharoh

Tabungan iB Taharoh (Haji dan Umroh) adalah simpanan dengan prinsip mudharabah atau wadiah sesuai dengan kemampuan dan jangka waktu pemberangkatan yang anda rencanakan.

c. iB Giro

Giro IB adalah sarana penyimpanan dana dengan prinsip titipan dalam bentuk mata uang rupiah maupun valas yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan Cek/Bilyet Giro sebagai alat penarikan simpanan/titipannya, dan bagi nasabah pembuka rekening giro akan mendapatkan bonus.

d. Deposito iB

Deposito IB adalah simpanan dalam bentuk deposito dengan prinsip mudharabah/bagi hasil antara Bank dan Nasabah, dengan nisbah sesuai kesepakatan.

e. Wakaf Uang

Wakaf Uang adalah wakaf dalam bentuk mata uang rupiah yang dikelola secara produktif hasilnya dimanfaatkan untuk mauquf alaih (pihak yang ditunjuk untuk memperoleh manfaat dari peruntukan wakaf). Wakaf uang Bank DKI Syariah terdiri dari wakaf uang abadi dan wakaf uang berjangka.

f. Tabunganku iB

Yaitu tabungan untuk perorangan dengan persyaratan mudah dan ringan yang diterbitkan secara Bersama oleh bank-bank di Indonesia. Tabunganku iB dikelola dengan prinsip wadiah.

2. Pembiayaan:

a. Pembiayaan iB Multiguna

Adalah pembiayaan dengan menggunakan skim murabahah yang diberikan kepada karyawan pemerintah maupun karyawan swasta yang bekerja sama dengan Bank DKI Syariah untuk kebutuhan kepemilikan suatu barang.

30

b. Pembiayaan iB Pemilikan Rumah

Fasilitas pembiayaan KPR diperuntukkan bagi para pegawai PNS, BUMN/BUMD, Swasta untuk: Pembelian rumah baru atau lama, Ruko, Rukan, Apartemen, Rusun dan Kavling Siap Bangun (KSB), Pembangunan atau renovasi, dan Take Over

c. Pembiayaan iB pemilikan kendaraan

Adalah pembiayaan dengan menggunakan skim murabahah yang ditujukan bagi nasabah yang bermaksud melakukan pembelian kendaraan

d. Modal kerja

Pembiayaan iB Modal Kerja menggunakan skim Musyarakah, mudharabah, murabahah, istishna, salam.

e. Pembiayaan iB Investasi:

1) Pembiayaan iB Investasi menggunakan skim Murabahah

Adalah pembiayaan Investasi untuk keperluan jasa konstruksi atau pengadaan pesanan, berdasarkan SPK (Surat Perintah Kerja), dimana Bak memberikan modal sesuai porsinya, setelah dikurangi self financing (modal sendiri)

2) Pembiayaan iB Investasi menggunakan skim Ijarah Muntahiya Bittamlik (IMBT)

Adalah pembiayaan Investasi untuk keperluan menyewa, membangun gedung, memiliki kendaraan dll, dengan mengangsur dimana diakhir periode angsuran nasabah dapat memiliki aktiva tersebut atau hanya sewa saja.

3) Pembiayaan iB Investasi menggunakan skim Salam

Adalah pembiayaan Investasi untuk pembelian barang yang masih dipesan dahulu dengan pembayarn tunai diawal. Nasabah memesan

31

barang ke Bank kemudian Bank membayar tunai kepada produsen.

Barang tersebut kemudian dibayar oleh nasabah ke Bank secara cicilan.

4) Pembiayaan iB Investasi menggunakan skim Istishna

Adalah pembiayaan Investasi untuk keperluan jasa konstruksi atau pengadaan pesanan, berdasarkan SPK (Surat Perintah Kerja)

5) Pembiayaan iB Usaha Kecil

Adalah pembiayaan modal kerja untuk program pemerintah dalam rangka pengembangan usaha kecil dilingkungan PD Pasar Jaya dan memiliki lokasi berdagang secara tetap, memiliki surat ijin tempat usaha (SITU) dan rekomendasi dari kepala PD Pasar Jaya.

f. Gadai Emas iB

Merupakan Produk Pembiayaan Dengan cara Memanfaatkan Jaminan Emas Meliputi Perhiasan Emas, Koin Emas, Koin Dinar Dan Emas Batangan/Lantakan. Hanya dalam hitungan menit nasabah sudah bisa mendapatkan pembiayaan (pinjaman) cukup menyerahkan emas untuk disimpan oleh bank. Serta membayarkan uang administrasi sebesear Rp.

25.000 serta biaya penitipan dan pemeliharaan emas Rp. 1.500/10hari/ gram (dapat berubah sesuai kebijakan bank).

32

E. Struktur Organisasi

Gambar 3.1

Struktur Organisasi Perusahaan

33

F. Pembiayaan Gadai Emas Syariah

Sebagai salah satu bank daerah yang besar, Bank DKISyariah memiliki berbagai macam produk pembiayaan. Hal tersebut untuk memenuhi layanan yang saat ini dibutuhkan oleh masyarakat, layanan pembiayaan gadai emas yang ditawarkan merupakan produk pembiayaan yang didasarkan pada sebuah jaminan yang berbentuk emas, baik emas batangan ataupun emas perhiasan. Produk pembiayaan gadai emas ini bertujuan untuk memberikan solusi alternatif kepada para calon nasabah yang sedang membutuhkan dana tunai secara cepat dan mudah baik untuk kebutuhan konsumtif ataupun untuk jangka panjang sebagai kebutuhan modal usaha tanpa kehilangan barang kesayangan miliknya. Berikut segala persyaratan serta mekanisme gadai emas di Bank DKI Syariah:31

1. Persyaratan Gadai Emas iB

a. Memiliki Emas perhiasan atau emas batangan asli minimal 18 karat berat 2 gram

b. Memiliki Kartu Identitas yang masih berlaku

c. Mengisi Form Aplikasi Permohonan & Persetujuan (disediakan Bank DKI Syariah) dan form lainnya

d. Perhitungan maksimal pembiayaan berdasarkan jenis emas: Jangka waktu Pembiayaan 120 hari dan dapat diperpanjang.

e. Perhiasan: 85 % dari Nilai Taksir

f. Batangan / Logam Mulia: 90 % dari Nilai Taksir

g. Nasabah membayar Biaya Administrasi Rp 25.000,- dan Biaya Penitipan dan Pemeliharaan Emas Rp 1.500 /10 hari / gram* (dapat berubah sesuai kebijakan Bank)

31 “Gadai Emas,” accessed September 9, 2020, https://bankdkisyariah.co.id/index.php/produk-layanan/produk-pembiayaan/gadai-emas-ib.

34

2. Ilustrasi Gadai Emas

Nasabah membutuhkan dana cepat untuk kebutuhan biaya anak masuk universitas. Nasabah mendatangi Bank DKI Syariah dengan membawa emas Logam Mulia (Antam) seberat 100 gram. Berdasarkan asumsi harga dasar emas Bank DKI Syariah, nilai taksir emas nasabah adalah sebesar Rp 50.000.000,-. (Rp 500 ribu / gram). Jangka waktu pembiayaan yang diinginkan nasabah adalah 4 bulan (120 hari). Jumlah pinjaman yang bisa diterima nasabah dan biaya yang harus dibayar nasabah adalah sebagai berikut :

• Jumlah Pinjaman (Nilai Taksiran x 90%): Rp 45.000.000 -

• Total biaya yang harus dibayar : Rp 1.825.000,-

• Biaya administrasi Rp 25.000,-

• Biaya Penitipan & Pemeliharaan Rp 1.500 x 12 x 100 = Rp1.800.000,-

3. Alur Prosedur Pemberian Gadai

Prosedur pemberian Gadai Emas di Bank DKI Syariah terdiri atas beberapa langkah yang harus dilalui. Dengan membawa barang gadai yang memiliki spesifikas berupa emas batangan ataupun emas perhiasan ke Bank DKI Syariah terdekat, emas ini nantiknya akan ditaksir melalui proses yang ketat oleh pihak bank yang akan diwakili oleh penaksir yang telah memiliki sertifikasi sehingga akan mendapatkan taksiran yang akurat. Berikut prosedur yang harus dilalui oleh nasabah sebelum mendapatkan pembiayaan gadai emas di Bank DKI Syariah.

35

36

4. Alur Prosedur Pelunasan

Dalam hal pelunasan pembiayaan yang akan dilakukan oleh nasabah kepada Bank DKI Sayriah dapat melalui dua mekanisme, yaitu pelunasan dan pengambilan barang jaminan oleh nasabah secara langsung ataupun melalui utusan nasabah yang harus diwakili dengan surat bukti kuasa yang akan ditunjukkan kepada pihak Bank DKI Syariah. Berikut alur yang dapat ditempuh oleh nasabah:

Gambar 3.3

Kerangka Prosedur Perlunasan

5. Alur Prosedur dan Sisa Penjualan Barang Jaminan

Dalam hal nasabah tidak ingin atau tidak dapat melunasi kewajibannya terhadap pembiayaan gadai emas syariah kepada pihak Bank DKI Syariah. Maka terdapat dua mekanisme penjualan yang akan diajukan kepada nasabah apabila

Nama yang

37

tidak dapat melunasi kewajibannya. Ketentuan tersebut dapat dilakukan dengan cara penjualan secara langsung oleh nasabah dengan didampingi oleh pihak bank serta dapat dilakukan juga oleh bank secara langsung atas persetujuan nasabah, penjualan tersebut dilakukan kepada toko emas tertentu yang telah melakukan kerjasama dengan pihak bank. Berikut alur prosedur penjualan barang jaminan:

Gambar 3.4

Kerangka Prosedur dan Sisa Penjualan Barang Jaminan

Nasabah

38 BAB IV

ANALISIS KESESUAIAN PRAKTIK DAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP NASABAH PADA PEMBIAYAAN GADAI EMAS DI BANK

DKI SYARIAH KC FATMAWATI

A. Kesesuaian Praktik pada Akad dan Pelaksanaan Pembiayaan Gadai Emas di Bank DKI Syariah KC Fatmawati

1. Analisis terhadap klausul pada akad pembiayaan gadai emas di Bank DKI Syariah Cabang Fatmawati

Prinsip syariah harus di jadikan sebagai landasan bagi bank apapun yang mengentitaskan dirinya sebagai bank syariah, hal ini sebagaimana yang telah ditekankan dalam Pasal 1 angka 12 Undang-Undang No.21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah, yang berbunyi :

“Prinsip syariah adalah prinsip hukum islam dalam kegiatan perbankan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah.”

Pengaturan tersebut memiliki arti bahwasanya segala bentuk usaha yang akan dioperasikan oleh Bank Syariah harus tunduk dan patuh terhadap aturan yang dikeluarkan oleh Dewan Syariah Nasional-Majlis Ulama Indonesia (DSN-MUI) selaku lembaga yang berwenang dan diamanatkan langsung dalam Undang-Undang tersebut guna membuat sebuah fatwa syariah. Hal itu pula sekaligus memberikan kekuatan hukum bagi sebuah fatwa yang dikeluarkan oleh DSN-MUI sebagai aturan yang memiliki kekuatan hukum mengikat bagi seluruh perbankan dan unit usaha yang menjalankan operasinya dengan entitas syariah.32

32 Dewi Gemala, Aspek-Aspek Hukum Dalam Perbankan & Perasuransian Syairah Di Indonesia (Depok: Kencana, 2017). h.203

39

Adapun ketentuan lain yang harus di taati oleh bank syariah dalam penelitian ini adalah Bank DKI Syariah, juga harus tunduk dan patuh terhadap aturan yang dikeluarkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hal tersebut mengingat OJK adalah lembaga yang di tunjuk langsung oleh Undang-Undang dan memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan baik secara langsung ataupun tidak langsung terhadap segala aktivitas kegiatan usaha jasa keuangan yang dilakukan dalam dunia perbankan. Hal tersebut ditegaskan pula dalam Pasal 1 angka 1 Undang-Undang No.21 tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan, yang berbunyi:

“Otoritas Jasa Keuangan, yang selanjutnya disingkat OJK. Adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini.”

Mengingat begitu rigit dan pentingnya lalu lintas kegiatan disektor lembaga keuangan oleh karena itu OJK mengeluarkan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) No. 1/POJK.07/2013 Tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan, aturan tersebut bertujuan untuk melindungi nasabah dari segala aktivitas yang dapat merugikan nasabah atas kegiatan yang timbul dalam lalu lintas di sektor jasa keuangan. Hal tersebut bertujuan agar lembaga keuangan tetap mengikuti prinsip-prinsip yang telah ditentukan.33

Dalam kegiatan di sektor pembiayaan gadai, DSN-MUI juga memiliki kewenangan dengan telah dikeluarkannya aturan berupa Fatwa DSN No.25/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn dan Fatwa DSN No.26/DSN-No.25/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn Emas. Tujuan ditetapkannya peraturan ini adalah mengatur segala ketentuan syarat dan pelaksanaan praktik yang diperbolehkan dan apa yang dilarang olehnya, guna dijadikan sebagai rujukan wajib bagi perbankan syariah ataupun unit usaha

33 Lihat Pasal 2 Undang-Undang No. 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah

40

syariah yang ingin mengeluarkan produk gadai agar tetap memegang prinsip syariah dan prinsip kehati-hatian sebagaimana amanat Undang-Undang Perbankan Syariah.

Dalam akad gadai emas terdapat point-point yang dinilai tidak sesuai dengan aspek yang terdapat dalam Fatwa DSN No.25/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn, Fatwa DSN No.26/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn Emas serta POJK No.

1/POJK.07/2013 Tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan.

Pasal yang tidak sesuai dalam akad gadai emas di bank DKI Syariah

Ketentuan yang seharusnya dilaksanakan sesuai regulasi yang berlaku

Pada ketentuan akad pembiayaan qardh dalam rangka rahn disebutkan pada pasal 7 bahwa

“Apabila terdapat kelebihan hasil penjualan atau Lelang Barang, maka nasabah berhak menerima kelebihan tersebut dan jika dalam jangka waktu lebih dari 1 (satu) tahun sejak dilakukan penjualan atau lelang barang, NASABAH tidak mengambil kelebihan tersebut maka NASABAH menyetujui dan memberikan kuasa kepada BANK untuk menyalurkan kelebihan tersebut sebagai sedekah (shodaqoh) yang pelaksanaannya diserahkan kepada BANK.”

Dalam Fatwa DSN No.25/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn seharusnya bank harus melaksanakan ketentuan umum pasal 5 huruf d dinyatakan

“ Kelebihan hasil penjualan menjadi milik Rahin dan kekurangannya menjadi kewajiban Rahin.”

Selanjutnya dalam POJK No.

1/POJK.07/2013 Tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan pada pasal 21, 22 ayat 1 dan pasal 22 ayat 3 huruf e dinyatakan bahwa “Pelaku Usaha Jasa Keuangan wajib memenuhi keseimbangan, keadilan, dan kewajaran dalam pembuatan perjanjian dengan konsumen”

“Dalam hal Pelaku Usaha Jasa Keuangan menggunakan perjanjian baku,

41

perjanjian baku tersebut wajib disusun sesuai dengan peraturan Perundang-Undangan”

“Perjanjian baku sebagaimana dimaksud ayat (2) yang digunakan oleh Pelaku Usaha Jasa Keuangan dilarang: e.

Memberi hak kepada Pelaku Usaha Jasa Keuangan untuk mengurangi kegunaan produk dan/atau layanan atau mengurangi kekayaan konsumen yang menjadi objek perjanjian produk dan layanan.”

Pada ketentuan akad pemeliharaan jaminan emas (ijarah) disebutkan pada pasal 7 bahwa

“Apabila NASABAH melakukan pelunasan dipercepat, maka terhadap NASABAH AKAN TETAP DIKENAKAN Biaya pemeliharaan berdasarkan Biaya pemeliharaan yang dihitung per 10 (sepuluh) hari.”

Dalam Fatwa DSN No.26/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn Emas seharusnya bank harus melaksanakan ketentuan pada pasal 3 dinyatakan

“Ongkos sebagaimana dimaksut ayat 2 besarnya didasarkan pada pengeluaran yang nyat-nyata diperlukan.”

Berdasarkan data tersebut, menurut penulis terdapat ketentuan yang dinilai tidak sesuai dengan Fatwa DSN No.25/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn terkait dengan penyedekahan sisa penjualan objek gadai. Seharusnya bank harus melaksanakan ketentuan umum Pasal 5 huruf b. Karena pada prinsipnya sisa

42

penjualan barang jaminan itu adalah mutlak hak milik dari nasabah, maka bank tidak diperbolehkan mengambil langkah sepihak terkait dengan penyedekahan sisa penjualan tanpa izin dari nasabah atau tanpa sepengetahuan nasabah. Hal tersebut juga dinilai bertentangan dengan apa yang telah diatur dalam POJK No.

1/POJK.07/2013 Tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan pada Pasal 21, Pasal 22 ayat 1 dan Pasal 22 ayat 3 huruf e. Hal ini dikarenakan klausul dalam akad tersebut dapat dinilai mengurangi dan menghilangkan hak kekayaan nasabah dalam perjanjian pembiayaan gadai emas.

Selanjutnya terdapat ketentuan yang dinilai tidak sesuai juga dengan Fatwa DSN No.26/DSN-MUI/III/2002 Tentang Rahn Emas pada ayat 3 terkait dengan biaya pemeliharaan yang nyata-nyata diperlukan. Namun dalam praktiknya terdapat klausul yang menyatakan bahwasanya biaya pemeliharaan di hitung per-sepuluh hari apabila nasabah melakukan pembiayaan dipercepat.

Maka menurut penulis hal ini bukanlah termasuk biaya yang nyata-nyata dikeluarkan oleh nasabah dikarenakan biaya yang dikeluarkan itu menjadi tidak sebanding dengan lama sewa yang didapatkan. Namun penulis memiliki pendapat bahwasanya kebijakan tersebut hanyalah sebatas ketidaksesuaian terhadap teknis Fatwa dan bukan mencakup pada pertentangan dalam unsur syariah baik rukun ataupun syarat sah nya rahn. Landasan berikutnya dalam hal Bank DKI Syariah Cabang Fatmawati membuat kebijakan tersebut dengan dilatar-belakangi untuk memudahkan proses pendataan dan sistem yang dibuat oleh bank dikarenakan jumlah nasabah yang dikelola oleh bank itu cukup banyak.

Sehingga kebijakan ini diambil selain untuk memudahkan juga sebagai langkah antisipasi dan mitigasi risiko. Sebagaimana yang disebutkan dalam kaidah fiqih yang berbunyi;

ِحِلا َصَمْلا ِبْلَج َلََع ٌمَّدَقُم ِد ِساَفَمْلا ُءْرَد

43

"Menghindarkan kerusakan (kerugian) harus didahulukan (diprioritaskan) atas mendatangkan kemaslahatan."

Berdasarkan kaidah ini penulis menyimpulkan bahwasanya praktik kebijakan tersebut masih dapat diperbolehkan dikarenakan tidak bertentangan dengan prinsip syariah secara langsung dan bank juga mengambil kebijakan dengan mendatangkan maslahat dan menghindari kerusakan. Kemaslahatan yang diambil oleh bank adalah untuk memudahkan proses administrasi dan mitigasi risiko.

2. Proses Penetapan Biaya Pemeliharaan Objek Gadai pada Pembiayaan Gadai Emas

Dalam pelaksanaan gadai emas di Bank DKI Syariah Cabang Fatmawati bahwasanya terdapat penetapan ijarah dan biaya administrasi yang timbul atas pemeliharan objek gadai. Penetapan biaya tersebut ditetapkan oleh Bank DKI Syariah Cabang Fatmawati merupakan bentuk perjanjian tambahan apabila nasabah melakukan pembiayaan gadai emas.

Bentuk penyimpanan dan pemeliharaan barang jaminan (marhun) yang dilakukan oleh Bank DKI Syariah Cabang Fatmawati melalui produk safe deposit box berdasarkan urutan dan teregistrasinya atau terdaftarnya nasabah dalam sistem bank. Bank DKI Syariah menetapkan jangka waktu untuk menyimpan marhun sampai rahin melunasi utangnya, yaitu maksimal 120 hari dan bisa diperpanjang 2 kali. Pimpinan cabang memiliki kewenangan dan tanggung jawab langsung terhadap segala bentuk kegiatan dalam pembiayaan gadai emas di Bank DKI Syariah Cabang Fatmawati.34

34 Febri Satria Nanda, Customer Service Bank DKI Syariah KC Fatmawati, Interview Pribadi, Oktober 2020.

44

Biaya-biaya yang ditetapkan oleh Bank DKI Syariah Cabang Fatmawati untuk nasabah adalah biaya administrasi barang jaminan dan biaya ijarah. Biaya administrasi dibayarkan oleh nasabah di awal akad ketika proses pencairan berlangsung, dan biaya ijarah dibayarkan diakhir kontrak ketika nasabah melunasi pembiayaan.35

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis, bahwasanya penentuan biaya ijarah dan biaya administrasi atas pemeliharaan objek jaminan adalah berdasarkan dari biaya-biaya nyata yang timbul atas pemeliharaan objek jaminan tersebut. Kebijakan ini dibuat berdasarkan ketentuan yang ada pada Fatwa DSN-MUI.

Berdasarkan Fatwa DSN No.25/DSNMUI/III/2002 ayat 3 dan ayat 4 dijelaskan bahwa “Pemeliharaan dan penyimpanan marhun pada dasarnya menjadi kewajiban rahin, namun dapat dilakukan juga oleh murtahin, sedangkan biaya dan pemeliharaan penyimpanan tetap menjadi kewajiban rahin dan Besar biaya pemeliharaan dan penyimpanan marhun tidak boleh ditentukan berdasarkan jumlah pinjaman” serta Fatwa DSN No.26/DSN-MUI/III/2002 ayat 2 dijelaskan bahwa “Ongkos dan biaya penyimpanan barang (marhun) ditanggung oleh penggadai (rahin)”.

Pada Fatwa DSN No.26/DSNMUI/ III/2002 ayat 3 juga telah dijelaskan bahwa “Ongkos sebagaimana dimaksudkan besarnya didasarkan pada pengeluaran yang nyata – nyata diperlukan”. Biaya administrasi yaitu biaya yang mencakup biaya materai dan biaya asuransi. Biaya ijarah adalah biaya titip yang ditentukan oleh Kantor Pusat DKI Syariah berdasarkan nilai taksiran biaya yang nyata-nyata timbul dari sewa tempat pemeliharaan barang jaminan bukan ditentukan pada besaran jumlah pinjaman.36

35 Nanda.

36 Nanda.

45

Berdasarkan data dan hasil wawancara diatas, menurut penulis hal tersebut telah merujuk pada fatwa yang telah ditetapkan. Pada Fatwa DSN No.25/DSNMUI/ III/2002 ayat 3 dan ayat 4 serta Fatwa DSN No.26/DSN-MUI/III/2002 ayat 2 dan ayat 3 maka Bank DKI Syariah Cabang Fatmawati dalam pelaksanaannya pada penetapan biaya pemeliharaan dan penyimpanan marhun telah sesuai dengan Fatwa DSN-MUI.

3. Proses Penjualan dan Sisa Penjualan Objek Jaminan Pembiayaan Gadai Emas

Dalam menjalankan produk pembiayaan gadai emas Bank DKI Syariah tak luput dari permsalahan yang timbul setelah terjadinya perjanjian antara bank dan nasabah. Salah satu bentuk masalah yang dapat timbul adalah nasabah tidak dapat melunasi pembiayaan gadai emas. Sebagai bentuk mitigasi risiko maka bank DKI Syariah memiliki kebijakan untuk melakukan penjualan objek jaminan yaitu emas yang digadaikan.

Sebagaimana keterangan hasil wawancara penulis dengan bapak Zaini Miftah selaku Pemimpin Departemen Bisnis Mikro dan Gadai sekiranya satu minggu sebelum jatuh tempo Bank DKI Syariah akan mengingatkan nasabah melalui pesan singkat atau via telepon agar bersiap melunasi segala apa yang menjadi kewajibannya, kebijakan ini pun sekaligus memberikan kesempatan berupa hak restrukturisasi.37 Sesuai dengan Fatwa DSN No.25/DSN-MUI/III/2002 ayat 5 huruf a juga telah dijelaskan “Apabila jatuh tempo, Murtahin harus memperingatkan Rahin untuk segera melunasi utangnya”.

Berdasarkan data yang telah diperoleh, penulis melakukan analisa lebih dalam yaitu dengan cara pengumpulan data dan informasi terkait dengan metode pelaksanaan penjualan barang jaminan gadai serta pengembalian sisa penjualan

37 Jaeni Miftah Fatunijar, Pemimpin Departement Bisnis Mikro & Gadai, Interview Pribadi, Agustus 2020.

46

pada Bank DKI Syariah Cabang Fatmawati, kemudian diolah menggunakan peraturan terkait yaitu Fatwa DSN No.25/DSN-MUI/III/2002 ayat 2 dan ayat 5

pada Bank DKI Syariah Cabang Fatmawati, kemudian diolah menggunakan peraturan terkait yaitu Fatwa DSN No.25/DSN-MUI/III/2002 ayat 2 dan ayat 5