Menghasilkan SDM yang unggul prestasi, berwawasan kebangsaan dan berakhlakul karimah.
(2) Misi
• Meningkatkan mutu kegiatan belajar mengajar siswa dan guru
• Meningkatkan prestasi akademik dan non akademik
• Meningkatkan pemahaman tentang wawasan kebangsaan
• Mengupayakan suasana lingkungan yang kondusif untuk belajar dan beribadah
• Membina hubunga n yang baik antara sesama warga sekolah dan warga luar sekolah
5.3 Gambaran Umum Responden
5.3.1 Karakteristik Individu
Responden yang dipilih merupakan siswa dan siswi Sekolah Menengah Atas Plus Bina Bangsa Sejahtera (SMA Plus BBS), yang sedang duduk di kelas XI. Jumlah sampel yang diambil dalam penelitian ini adalah sebanyak 39 orang. Ada tiga karakteristik individu yang diamati dalam penelitian ini antara lain jenis kelamin, uang saku, dan waktu luang. Untuk lebih jelasnya, ketiga identitas responden tersebut akan diuraikan dibawah ini.
5.3.1.1 Jenis Kelamin Individu
Responden dari penelitian ini ternyata lebih banyak responden laki- laki yang berjumlah 23 orang (59 persen) dan 16 orang (41 persen) responden perempuan (Tabel 6). Hal ini dikarenakan jumlah siswa laki- laki yang bersekolah di Sekolah Menengah Atas Plus Bina Bangsa Sejahtera (SMA Plus BBS) ternyata memiliki jumlah siswa yang lebih banyak dari pada siswi perempuan, selain itu responden perempuan banyak yang tidak bersedia untuk mengisi kuesioner karena pada saat pengisian kuesioner berlangsung merupakan kegiatan proses belajar mengajar dan siswi tersebut merasa sedikit terganggu dan takut akan ketinggalan pelajaran, karena dalam pengisian kuesioner dilakukan di ruangan terpisah di luar kelas (di ruang perpustakaan).
Tabel 6. Jumlah Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah (Orang) Persentase (%)
Laki- laki 23 59
Perempuan 16 41
Jumlah 39 100
5.3.1.2 Uang Saku
Uang saku merupakan penghasilan yang diperoleh oleh remaja yang digunakan untuk kepentingan tertentu. Berdasarkan Tabel 7 terlihat bahwa cukup beragam uang saku yang diperoleh para responden. Kisaran uang saku yang dimiliki responden yang terbanyak adalah berjumlah Rp321.000-510.000 (62 persen). Hal ini dikarenakan orang tua responden memiliki pekerjaan dan penghasilan yang tetap tiap bulannya, seperti responden (R):
“ Saya anak kedua dari tiga bersaudara. Ayah saya bekerja sebagai pegawai negeri PLN, sedangkan ibu saya bekerja sebagai guru, karena pekerjaan kedua orang tua saya sebagai pegawai negeri tiap bulannya saya mendapatkan uang saku sebesar Rp 450 ribu. Besarnya uang saku yang saya peroleh tiap bulannya biasanya saya gunakan uang jajan dan ongkos” (R 16 tahun, laki-laki).
Tabel 7. Jumlah Responden Berdasarkan Uang Saku
Uang Saku Jumlah (Orang) Persentase (%)
Rendah (130.000 - 320.000) 11 28
Sedang (321.000 - 510.000) 24 62
Tinggi (511.000 – 700.000) 4 10
Jumlah 39 100
Uang saku terendah yang dimiliki responden adalah Rp130 ribu dan 182 ribu per bulannya. Uang saku tersebut biasanya hanya digunakan untuk jajan dan ditabung. Kecilnya uang saku yang diperoleh responden tiap bulannya, dikarenakan penghasilan yang diperoleh orang tuanya tidak pernah tetap tiap harinya, seperti responden (A):
“Saya anak pertama dari empat bersaudara. Ayah saya hanya bekerja sebagai supir, sedangkan ibu saya hanya sebagai ibu rumah tangga. Banyaknya kebutuhan ynag harus dipenuhi tiap harinya dan pekerjaan orang tua saya yang hanya sebagai supir dengan penghasilan yang tidak tetap diperoleh tiap harinya sehingga orang tua saya hanya mampu memberikan uang saku perbulannya hanya sebesar Rp182 ribu “ (A 16 tahun, laki-laki).
Uang saku yang tertinggi adalah sebesar Rp700 ribu, sebut saja F:
“Saya adalah seorang anak kos dan seorang perantau dari daerah Sumatera. Bila dibandingkan dengan teman-teman saya, saya memiliki uang saku yang jauh lebih besar. Biasanya uang saku tersebut saya pergunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti untuk makan, jajan di sekolah dan yang utama adalah untuk tansportasi” (F 16 tahun, laki-laki).
5.3.1.3 Waktu Luang
Berdasarkan hasil jawaban responden dari kuesioner yang diperoleh dari lapangan, ternyata sebagian besar waktu luang yang digunakan tidak hanya untuk
searching internet, akan tetapi melakukan kegiatan lain seperti main bersama teman-teman sekolah, mendengarkan musik, membaca buku mengenai sex
education dan main games. Waktu luang merupakan waktu kosong yang digunakan untuk mengisi suatu kegiatan yang sifatnya santai dalam satu minggu (Tabel 8).
Tabel 8. Jumlah Responden Berdasarkan Waktu Luang
Waktu luang Jumlah (Orang) Persentase (%)
Rendah (4-20) 17 44
Sedang (21-36) 16 41
Tinggi (37-52) 6 15
Jumlah 39 100
Berdasarkan Tabel 8 di atas, terlihat bahwa waktu luang yang dimiliki para responden sangat beragam. Responden yang memiliki waktu luang terendah adalah hanya 4 jam per minggu (2,6 persen) sedangkan waktu luang tertinggi yang dimiliki responden adalah 52 jam per minggu (2,6 persen).
Responden yang hanya memiliki waktu luang 4 jam per minggu (2,6 persen), biasanya digunakan untuk mendengarkan musik dan main bersama teman-teman sekolah, sedangkan responden yang memiliki waktu luang 52 jam per minggu (2,6 persen), hampir seluruh waktu yang ada setelah pulang dari sekolah digunakan untuk menikmati masa- masa muda bersama teman-teman sekolah, main games bersama, jalan-jalan naik motor dan lain- lain. Kebersamaan bersama teman-teman sekolah merupakan hal yang terindah yang harus dilalui bersama ( T 16 tahun, laki-laki).
5.4 Komunikasi Interpersonal
Komunikasi interpersonal merupakan suatu proses dimana terjadinya interaksi yang melibatkan dua orang atau lebih sehingga ada pesan atau informasi
yang saling dipertukarkan. Terdapat dua kategori komunikasi interpersonal yang dilihat, yaitu orang tua dan teman sebaya.
5.4.1 Komunikasi Interpersonal dengan Orang Tua
Orang tua merupakan orang yang dapat dijadikan sebagai landasan kepercayaan seorang remaja terhadap berbagai permasalahan keremajaan yang akan dihadapi dan memiliki tanggung jawab penuh terhadap pertumbuhan dan perkembangan seorang anak (remaja). Berdasarkan Tabel 9 terlihat bahwa sebagian responden yaitu sebanyak 30 orang (77 persen) menjawab bahwa remaja tidak memiliki hubungan yang dekat dengan orang tua di dalam masa perkembangan mereka.
Tabel 9. Jumlah Responden Berdasarkan Hubungan dengan Orang Tua
Pengaruh Jumlah (Orang) Persentase (%)
Tidak dekat 30 77
Dekat 9 23
Jumlah 39 100
Di antara para responden tersebut ada yang beranggapan bahwa orang tua merupakan sosok yang harus dijadikan sebagai landasan kepercayaan tentang masalah apapun, akan tetapi membicarakan seputar masalah seks bagi sebagian orang tua masih merupakan hal yang tidak wajar untuk diketahui remaja. Hal ini diungkapkan oleh seorang responden (M):
“Orang tua aku bekerja dalam bidang yang sama (bidang kesehatan). Ayah bekerja sebagai Dokter, sedangkan ibu bekerja sebagai bidan. Masalah seks seperti adanya perubahan pada fisik maupun psikis yang akan saya bertahu dan saya tanyakan yang pertama sekali pastinya orang tua apalagi ibu, karena aku lebih percaya pada orang tua aku. Ga mungkin donk teman aku lebih tau dibandingkan kedua orang tua aku, meskipun ada perasaan canggung, takut, dan malu untuk menanyakannya” (M 15 tahun, Perempuan).
5.4.2 Komunikasi Interpersonal dengan Teman Sebaya
Teman sebaya merupakan orang terdekat yang memiliki suatu hubungan/ pengaruh antara individu remaja yang satu dengan individu remaja yang lain, sehingga saling terkait antar sesamanya.
Tabel 10. Jumlah Responden Berdasarkan Hubungan dengan Teman Sebaya
Pengaruh Jumlah (Orang) Persentase (%)
Tidak dekat 1 3
Dekat 38 97
Jumlah 39 100
Berdasarkan Tabel 10 menunjukkan bahwa di dalam lingkungan pergaulan teman sebaya merupakan orang yang paling asyik diajak bicara apalagi seputar masalah keremajaan. Bagi para responden teman sebaya memiliki arti yang cukup besar, tidak hanya sebagai teman untuk bermain, akan tetapi merupakan teman untuk saling berbagi baik suka maupun duka, tempat bercerita yang bisa lebih terbuka, lebih nyaman, tidak adanya perasaan canggung bahkan malu- malu, seperti yang dikemukakan oleh responden (S):
“Ya pasti donk punya teman sebaya. Hal yang paling membuat saya malu pasca menstruasi adalah perubahan fisik yang paling utama. Awalnya saya ga pernah tau kalo perempuan tuch akan mengalami perubahan yang luar biasa dahsyatnya., misalnya itu lho mbak tumbuhnya rambut disekitar kemaluan, pokoknya dibagian-bagian tertentu dech. Malu donk mbak nanya kayak gitu-gituan ( masalah pribadi) ama ortu, apalagi orang tua aku ga pernah cerita masalah apa yang akan terjadi setelah mengalami menstruasi, apa yang akan berubah, ya udah mendingan aku nanya ama teman-teman aku, yang sama halnya mengalami perubahan, sambil tukar-tukar pikiran gitu lho mbak, aku lebih nyaman, lebih nyambung, lebih bebas, ga ada perasaan malu-malu, dan canggung, kalo nanya kayak begituan ama teman sebaya, bagi aku teman sebaya itu adalah segala-galanya, yang membuat aku bisa curhat lebih nyaman mengenai masalah pribadi baik suka dan duka” (S 15 tahun, Perempuan).