VISI DAN MISI PEMBANGUNAN DAERAH
4.1. VISI PEMBANGUNAN 2005 - 2025
Rumusan visi pembangunan jangka panjang Kabupaten Sumbawa didasarkan dengan mempertimbangkan kondisi, analisis dan prediksi faktor strategis yang dimiliki daerah dari aspek geomorfologi, lingkungan hidup, demografi, ekonomi, sumberdaya alam, sosial budaya, politik, prasarana dan sarana serta pemerintahan. Visi Kabupaten Sumbawa juga merupakan kristalisasi dari nilai-nilai luhur yang menggambarkan makna sekaligus sebagai tujuan hidup masyarakat Sumbawa baik secara individual maupun secara komunal. Disamping itu, karena pembangunan Kabupaten Sumbawa adalah bagian dari pembangunan nasional, maka perumusan Visi Kabupaten Sumbawa juga mempedomani Visi Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Visi Nasional. Atas pertimbangan itu, rumusan Visi Kabupaten Sumbawa Tahun 2005-2025 adalah :
“Terwujudnya Kabupaten Sumbawa Sebagai Daerah Agribisnis Berdaya Saing menuju Masyarakat Sejahtera”
Daerah agribisnis berdaya saing merupakan kata kunci visi pembangunan jangka panjang Kabupaten Sumbawa. Daerah Agribisnis adalah daerah yang kegiatan utama masyarakat berbasis pada bisnis sumberdaya pertanian (dalam arti luas) meliputi kegiatan budidaya, pascapanen, proses pengolahan dan pemasaran. Daerah agribisnis yang dituju oleh Kabupaten Sumbawa merupakan proses transformasi kehidupan masyarakat dari proses produksi untuk pemenuhan kebutuhan sendiri (subsisten) kearah peningkatan produksi dan nilai tambah yang berorientasi pasar (market oriented). Produk agribisnis dapat berasal dari tumbuhan, hewan maupun organisme lainnya dan seiring dengan perkembangan teknologi, produk agribisnis berkaitan erat dengan farmasi, teknologi bahan, dan penyediaan energi. Aktivitas agribisnis meliputi seluruh rangkaian proses pengolahan dari hulu hingga hilir dalam pemanfaatan sumberdaya pertanian,
IV| 2 jadi meliputi pengolahan di sektor primer (bahan baku), sekunder (setengah jadi) dan tersier (barang jadi). Bidang usaha agribisnis meliputi pertanian tanaman pangan, perkebunan, kehutanan, peternakan, perikanan dan
kelautan. Berdasarkan kondisi kekinian, perekonomian Kabupaten Sumbawa
bertumpu pada aktivitas agribisnis di sektor primer. Pembangunan jangka panjang bertujuan mempercepat proses transformasi ke sektor sekunder dan tersier yang lebih banyak memberikan penciptaan nilai tambah sehingga mempercepat terwujudnya masyarakat yang dicita-citakan, yaitu masyarakat yang beriman, rukun, maju dan sejahtera.
Konsepsi Daya saing mencakup aspek yang lebih luas dari sekedar
produktivitas atau efisiensi pada level mikro perusahaan atau individu, namun mencakup aspek yang lebih luas. Sebagaimana dipahami bahwa pelaku ekonomi daerah mencakup unsur pemerintah, masyarakat dan dunia usaha, yang kesemuanya berpadu dalam suatu sistem ekonomi daerah yang sinergis. Kata kunci daya saing adalah kompetisi, yaitu kondisi persaingan dengan para kompetitor dalam suatu sistem perekonomian yang terbuka. Tujuan akhir dari kondisi yang berdaya saing adalah meningkatnya taraf kesejahteraan masyarakat. Berdasarkan tinjauan berbagai literatur mengenai daya saing disimpulkan bahwa daya saing dalam konteks perekonomian daerah adalah kemampuan perekonomian daerah dalam mencapai pertumbuhan tingkat kesejahteraan yang tinggi dan berkelanjutan dengan tetap terbuka pada persaingan domestik dan internasional (PPSK BI, 2002).
Konsepsi kesejahteraan dalam masyarakat Sumbawa memiliki tiga
dimensi, yakni dimensi kesejahteraan spritual (senap semu), kesejahteraan sosial (riam remo) dan kesejahteraan ekonomis (nyaman nyawe mura era). Dimensi kesejahteraan tersebut sejalan dengan visi masyarakat yang hendak dituju baik dalam lingkup Provinsi Nusa Tenggara Barat maupun Nasional.
Secara lebih lengkap masyarakat sejahtera dalam konsepsi “Senap Semu,
Riam Remo, Nyaman Nyawe Mura Era” sebagai berikut.
Senap semu merupakan dimensi kesejahteraan spritual yaitu situasi kehidupan masyarakat sejahtera secara spritual, masyarakat yang diliputi oleh suasana kedamaian dan ketentraman sebagai berkah Allah SWT, Tuhan yang Maha Esa atas ketaqwaan hamba-Nya dalam menjalankan perintah agama.
IV| 3 Masyarakat yang “Senap Semu” merupakan masyarakat yang memiliki kesalehan sosial (tauhid sosial) yang tinggi sebagai implikasi perwujudan dari keimanan yang kuat seorang hamba kepada Sang Khalik (tauhid individu). Kesejahteraan spritual tersebut juga didukung oleh kesehatan jasmani dan ruhani. Kondisi tersebut dapat terwujud dari keberhasilan pembangunan dibidang agama, pendidikan dan kesehatan sehingga membentuk anggota masyarakat yang sehat secara lahiriah dan batiniah. Karena menyangkut sikap mental, maka kesejahteraan spritual pada dasarnya adalah masalah kesejahteraan ruhaniah dalam arti seluas-luasnya yang berhubungan timbal balik dengan aspek kehidupan lainnya seperti aspek ekonomi, politik, sosial dan budaya.
Tingkat kesejahteraan daerah juga diukur berdasarkan berbagai indikator sosial yang pada umumnya berkaitan dengan kualitas sumber daya manusianya. Suatu daerah dikatakan makin maju apabila makin tinggi tingkat pendidikan penduduknya, yang tercermin dari semakin tingginya rata-rata tingkat pendidikan penduduk, tingkat partisipasi pendidikan dan jumlah tenaga ahli serta profesional yang dihasilkan oleh sistem pendidikan, laju pertumbuhan penduduk yang lebih kecil; angka harapan hidup yang lebih tinggi; dan kualitas pelayanan sosial yang lebih baik. Secara keseluruhan kualitas SDM yang makin baik tercermin dari produktivitas yang makin tinggi. Kesejahteraan suatu daerah tidak hanya dicerminkan dari perkembangan ekonomi semata, tetapi mencakup aspek yang lebih luas. Kesejahteraan juga tercermin dalam keseluruhan aspek kehidupan, dalam kelembagaan, pranata-pranata, dan nilai-nilai yang mendasari kehidupan politik, sosial dan spritual-religius. Secara lebih mendasar lagi, kesejahteraan sesungguhnya mencerminkan sikap individu, daerah atau bangsa mengenai dirinya, masyarakatnya, serta semangatnya dalam menghadapi peluang dan tantangan yang melingkupinya.
Riam remo merupakan dimensi kesejahteraan sosial yaitu gambaran suasana masyarakat yang penuh dengan kedamaian, persahabatan dan rasa kekeluargaan dalam menjalankan kehidupannya sebagai warga negara.
IV| 4 memiliki kesadaran yang tinggi akan hak dan kewajibannya sehingga berangkat dari kesadaran ini terbentuk keteraturan tatanan sosial. Keteraturan ini sebagai buah dari keberhasilan pembangunan dibidang hukum, politik, sosial dan budaya. Selain indikator sosial ekonomi, daerah yang maju juga ditandai dengan sistem dan kelembagaan politik, termasuk hukum yang mantap. Lembaga politik dan kemasyarakatan telah berfungsi berdasarkan aturan. Daerah yang maju juga ditandai oleh peran serta rakyat secara nyata dan efektif dalam segala aspek kehidupan, baik ekonomi, hukum, sosial, politik, maupun keamanan dan ketertiban. Dalam aspek politik, daerah yang maju pada umumnya adalah yang telah memiliki budaya demokrasi, warganya terjamin hak-haknya, yang terjamin rasa keamanan dan ketenteraman dalam kehidupannya. Kesejahteraan juga mencerminkan kondisi kemandirian dalam hubungan saling ketergantungan dalam kehidupan bermasyarakat, baik masyarakat daerah, regional dan nasional maupun dalam hubungannya dengan masyarakat internasional. Terlebih lagi dalam era globalisasi dan perdagangan bebas ketergantungan antar daerah, antar bangsa semakin kuat. Kemandirian dengan demikian adalah paham yang proaktif dan bukan reaktif atau defensif. Kemandirian merupakan konsep yang
dinamis karena mengenali bahwa kehidupan dan kondisi saling
ketergantungan senantiasa berubah, baik konstelasinya, perimbangannya, maupun nilai-nilai yang mendasari dan mempengaruhinya. Dengan demikian
“masyarakat yang Riam Remo” merupakan wujud dari masyarakat yang rukun.
Nyaman nyawe mura era merupakan dimensi kesejahteraan ekonomis merupakan gambaran kondisi masyarakat yang berkecukupan.
Berkecukupan mengandung pengertian bahwa ketersediaan dan
pemenuhaan kebutuhan sandang, pangan dan papan telah tersedia dan
terdistribusi secara cukup. Artinya masyarakat “Nyaman Nyawe mura era”
merupakan masyarakat wujud masyarakat yang maju dan sejahtera sebagai implikasi keberhasilan pembangunan dibidang ekonomi dengan tingkat perrtumbuhan yang tinggi dan terdistribusi secara merata. Tingkat kesejahteraan suatu daerah dapat dinilai berdasarkan berbagai indikator.
IV| 5 Ditinjau secara material-ekonomis, kemajuan dan kemakmuran suatu daerah tercermin dari tingkat pendapatan dan distribusinya. Tingginya tingkat pendapatan rata-rata yang diiringi dengan distribusi yang merata pada suatu daerah, maka dapat dikatakan daerah tersebut makmur, dan dengan demikian dikatagorikan sebagai daerah yang maju dan sejahtera. Daerah yang maju juga pada umumnya adalah daerah yang tingkat konstribusi sektor industri dan sektor jasanya telah berkembang. Peran sektor industri manufaktur sebagai penggerak utama laju pertumbuhan makin meningkat, baik dilihat dari segi sumbangannya dalam penciptaan Produk Domestik Regional Bruto maupun dalam penyerapan tenaga kerja. Selain itu dalam proses produksi berkembang keterpaduan antar sektor, terutama sektor industri, sektor pertanian, dan sektor jasa-jasa; serta pemanfaatan sumber alam secara rasional, efisien, dan berwawasan lingkungan. Lembaga dan pranata ekonominya telah tersusun dan tertata, dan berfungsi dengan baik, sehingga mendukung perekonomian yang efisien dengan produktivitas yang tinggi. Daerah yang maju umumnya adalah daerah yang perekonomiannya stabil. Gejolak yang bersifat lokal dan regional maupun nasional dapat diredam oleh ketahanan ekonominya. Daerah yang sejahtera adalah daerah yang mampu mewujudkan kehidupan sejajar dan sederajat dengan daerah lain yang telah maju dengan mengandalkan pada kemampuan dan kekuatan sendiri. Oleh karena itu, untuk membangun kemandirian, mutlak harus dibangun kemajuan ekonomi. Kemampuan untuk berdaya saing menjadi kunci untuk mencapai kemajuan sekaligus kemandirian. Daya saing suatu daerah tercermin antara lain dari SDM yang berkualitas dan mampu memenuhi
tuntutan kebutuhan dan kemajuan pembangunannya; pembiayaan
pembangunan bersumber dari pendapatan asli daerah (PAD), yang berarti sumber pembiayaan pembangunan daerah tidak semata-mata tergantung dari pembiayaan yang bersumber dari pemerintah pusat, dan kemampuan memenuhi sendiri kebutuhan pokok daerahnya. Apabila karena SDA tidak lagi memungkinkan, kelemahan itu diimbangi dengan keunggulan lain, sehingga tidak membuat ketergantungan dan kerawanan; dan daya tahan tinggi terhadap perkembangan dan gejolak ekonomi nasioanl maupun ekonomi
IV| 6 global. Pembangunan Kabupaten Sumbawa bukan hanya untuk mencapai kesejahteraan untuk kemajuan dan kemandirian, tetapi juga untuk mewujudkan keadilan. Sebagai pelaksana dan penggerak pembangunan sekaligus objek pembangunan, rakyat mempunyai hak baik dalam melaksanakan maupun dalam menikmati hasil pembangunan. Pembangunan haruslah dilaksanakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Oleh karena itu, masalah keadilan merupakan ciri yang menonjol pula dalam pembangunan Kabupaten Sumbawa. Keadilan ini harus tercermin pada semua aspek kehidupan. Semua rakyat mempunyai kesempatan yang sama dalam meningkatkan taraf hidupnya dan memperoleh lapangan pekerjaan, mendapatkan pelayanan sosial, pendidikan dan kesehatan, mengemukakan pendapat dan melaksanakan hak politiknya, serta perlindungan dan persamaan di depan hukum, tidak ada diskriminasi dalam bentuk apapun baik antarindividu, gender, dan wilayah. Kesejahteraan juga terkait dengan terwujudnya kesalehan individu dan sosial dalam kehidupan masyarakat Tana
Samawa. Dengan demikian masyarakat “Nyaman Nyawe mura era”
merupakan masyarakat yang maju dan sejahtera.
Masyarakat yang sejahtera sebagai wujud masyarakat yang dicita-citakan melalui proses pembangunan yang diselenggarakan dalam kurun waktu 2005 hingga 2025 didorong melalui melalui pengerahan segala sumberdaya pembangunan yang dimiliki masyarakat Tana Samawa sesuai dengan kekuatan dan kelemahan faktor internal serta peluang dan ancaman faktor eksternal yang melingkupinya. Oleh karena itu pilihan perencanaan
pembangunan hingga tahun 2025 diarahkan dan bahkan wajib difokuskan pada terbentuknya Kabupaten Sumbawa dengan core
competency sebagai daerah agribisnis yang memiliki daya saing di
IV| 7