• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II KEBIJAKAN PELITA III ORDE BARU: POLITISASI

A. Wacana Pembangunan Nasional Sampai Isu Krisis Pangan

Wacana pembangunan terkenal sebagai paham atau aliran modernisasi,

berawal dari pidato Harry S. Truman pada saat dikukuhkan sebagai presiden

Amerika Serikat tanggal 20 Januari 1939. Truman dalam pidatonya

mengemukakan pentingnya untuk memberikan perhatian secara serius terhadap

apa yang disebutnya dengan negara-negara yang tergolong underdeveloped areas yang umumnya terletak di bagian selatan katulistiwa. Dengan kata lain Truman

memperkenalkan sebuah kategorisasi “Negara-negara Utara” vs “Negara-negara

29

Wahyudi Djafar, “Politisasi Beras yang Tak Berkesudahan”,

http://wahyudidjafar.wordpress.com/2008/11/20/politisasi-beras-yang-tak-berkesudahan/, tulisan ini juga dipublikasikan pada Buletin ASASI ELSAM Edisi September-Oktober 2008.

Selatan”. Negara-negara Utara adalah negara-negara industri maju, terutama

Eropa Barat dan Amerika Utara, sementara Negara-negara Selatan adalah

negara-negara miskin yang terdapat di Afrika, Asia termasuk Hindia Belanda dan

Amerika Selatan. Negara-negara Utara diidentikkan sebagai negara yang telah

memiliki tradisi demokrasi liberal, sementara Negara-negara Selatan termasuk

Nusantara dianggap masih hidup dalam tradisi politik otoritarian, bahkan belum

mengenal sistem politik modern. Truman telah memposisikan Amerika Serikat

sebagai pelopor pembangunan, dan sekaligus memberlakukan sebuah paham

bahwa ukuran kemajuan peradaban manusia terletak pada tingkat produktivitas

suatu negara. Negara-negara Selatan dalam kacamata Truman harus dibantu

teknologi dan modal, disamping dorongan untuk melakukan demokratisasi

politik.30

Kelahiran Bank Dunia danInternational Monetary Fund(IMF) pada tahun 1944, lima tahun setelah pidato presiden Harry Truman, memperlihatkan adanya

perkembangan baru yang ditandai oleh tekanan dari negara-negara kaya terhadap

negara-negara miskin untuk menjalankan program restrukturisasi ekonomi agar

dapat mengikuti irama produktivitas global, dan secara bertahap melakukan

berbagai penyesuaian dan pengurangan kemiskinan yang diderita sebagaian besar

penduduknya. Negara-negara Barat melalui mekanisme Bank Dunia dan IMF,

30

Muhamad Hisyam, dkk, Krisis Masa Kini dan Orde Baru (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2003). Hal:438-439

melakukan penetrasi terhadap negara-negara miskin, dan kenyataan bantuan

ekonomi tidak mungkin dilepaskan dari kepentingan politik.31

Indonesia memiliki potensi pembangunan yang besar dari kekayaan alam,

keadaan iklim dan geografi yang menguntungkan, bersama dengan tenaga kerja

yang cukup. Pada masa penjajahan, potensi ini hanya dikembangkan secara

terbatas bagi kepentingan penjajah, dengan mengolah pertanian, khususnya

perkebunan, yang hasilnya untuk diolah di luar negeri.

Pada tahun 1945 bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaannya, maka

terbukalah harapan bahwa dalam alam kemerdekaan ini dapat diusahakan

pembangunan yang sungguh-sungguh membawa rakyat Indonesia pada

peningkatan taraf hidup dan kemajuan termasuk dalam penyediaan kebutuhan

pangan seperti beras.

Sukarno dalam kepemimpinannya sangat anti imperialis, beliau

mengiginkan Indonesia menjadi satu bangsa yang bebas merdeka, berdaulat

penuh, bermasyarakat adil makmur, satu bangsa besar atau hanyakrawati, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja, otot kawat balung wesi, ora tedas tapak palune pande, ora tedas gurindo. Pada tahun 1953, dilakukan nasionalisasi terhadap Bank Java dan kemudian namanya berubah menjadi ”Bank Indonesia”

dan juga perusahaan-perusahaan yang vital. Indonesia bahkan berani menyatakan

keluar dari Bank Dunia.

Dalam Ekonomi Terpimpin, kegiatan perekonomian ditekankan pada

konsep gotong royong dan kekeluargaan sebagaimana dirumuskan dalam

31

Pasal 33 UUD 1945. Dalam perkembangan selanjutnya, kegiatan ekonomi pada

masa itu juga dilandaskan atas strategi dasar ekonomi Indonesia yang

diamanatkan dalam Deklarasi Ekonomi (DEKON) oleh Presiden Sukarno pada

tanggal 28 Maret 1963. Dalam pidato yang berjudul “Banting Stir untuk

Berdikari” di depan sidang umum MPRS tanggal 11 April 1965, Sukarno

menyerukan kepada seluruh kekuatan pokok revolusi: buruh, petani, mahasiswa

progresif, perempuan, termasuk etnis Tionghoa untuk memperbesar kekuatan

ekonomi Indonesia agar lepas dari kepentingan asing.32 Namun, ada kebijakan

Presiden Sukarno seperti mencari dukungan politik guna memproteksi

kekuasaannya dengan cara memasukkan beras sebagai komponen gaji bulanan

pegawai negeri sipil dan militer mengingat vitalnya bahan pokok ini.33 Melalui

program Kesejahteraan Kasimo (1952-1956), ataupun swasembada beras dan

Program Sentra Padi (1956-1965) Sukarno juga sebenarnya telah merintis untuk

memproduksi padi secara lebih baik guna penyediaan pangan penduduk.

Kemunculan Soeharto sebagai orang kuat di Indonesia yang berhasil

membasmi komunisme merupakan faktor penting bagi strategi politik Blok Barat,

khususnya Amerika Serikat. Soeharto kemudian mampu menggantikan Sukarno

melalui usaha kudeta 1965, usaha itu tentu tidak bisa sukses tanpa bantuan pihak

32

Anonim, “Berdikari”, http://papernas.org/berdikari/index.php?/option= com_content&task=view&id=42&Itemid=44 diakses tanggal 31 Agustus 2010.

33

Makalah Jonatan Lassa, “Politik Ketahanan Pangan Indonesia 1952-2005”, http://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:dViusLEMdv0J:nttacademia .org/nttstudies/Lassa-2009.pdf diakses tanggal 10 Januari 2011

asing34dan dikemas secara rapi sehingga sampai saat ini mengenai peristiwa 1965

dan turunnya Sukarno dari jabatan masih menjadi perdebatan.

Soeharto mendapat legitimasi pertamanya melalui Supersemar. Surat

Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) begitu kontroversial, bahkan menurut

kesaksian pembantu utama Sukarno Supersemar hanyalah rekayasa Soeharto dan

ini tidak pernah ditandatangani oleh Sukarno.35 Namun, isinya dipercaya

menugaskan Soeharto untuk menjaga keamanan negara dan institusi

kepresidenan. Setelah pertanggungjawaban Presiden Sukarno ditolak Majelis

Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) pada sidang umum keempat tahun

1967, ia diberhentikan dari jabatan presiden pada Sidang Istimewa MPRS pada

tahun yang sama kemudian mengangkat Soeharto sebagai pejabat Presiden

Republik Indonesia. Soeharto menamakan pemerintahannya dengan Orde Baru

dan menyebut pemerintahan Sukarno sebagai Orde Lama. Hal ini memberi kesan

pemerintahan Soeharto itu lebih baik. Dalam waktu beberapa tahun berkuasa, elit

Orde Baru intinya terdiri atas fraksi militer.

Di luar spekulasi soal penyebab peristiwa G30S 1965 hingga kemudian

Sukarno diturunkan dari kekuasaannya 1967, masalah pangan khususnya beras

saat itu memang sangat berat. Inflasi bahan makanan pada tahun tersebut

mencapai 685,36 persen. Harga beras naik 900 persen.36 Meski demikian, hingga

sekarang masih muncul perdebatan tentang krisis pangan saat itu. Ada pendapat

34

Pihak asing yang disebutkan bisa saja Amerika.

35

Baskara T. Wardaya, Mencari Supriyadi: Kesaksian Pembantu Utama Bung Karno.(Yogyakarta: Galang Press, 2008). Hal: 144-145.

36

Andreas Maryoto, Jejak Pangan: Sejarah, Silang Budaya dan Masa Depan (Jakarta: Penerbit Buku KOMPAS, 2009). Hal:129-130.

bahwa krisis pangan memang benar-benar terjadi dan sangat menyengsarakan

rakyat. Kondisi itu kemudian mengilhami gerakan mahasiswa agar pemerintah

segera menurunkan harga sebagai bagian dari tiga tuntutan rakyat (Tritura).

Namun, tidak sedikit pendapat bahwa krisis pangan saat itu merupakan

hasil rekayasa oleh kekuatan tertentu. Penampilan gambar antrian beras juga

kelaparan disebutkan sebagai bagian dari rekayasa itu. Cara-cara ini digunakan

untuk menurunkan kepercayaan rakyat terhadap Sukarno yang lebih memberi

angin kepada komunisme. Mereka yang mempunyai dugaan ini yakin kondisi saat

itu tidak separah seperti yang digambarkan.37

Kebijakan Orde Baru dan kebijakan periode politik etis pemerintahan

kolonial Belanda pada dekade awal memiliki kesamaan, Orde Baru juga berjanji

akan membangun ekonomi nasional dan meningkatkan taraf pendidikan dan

kesejahteraan. Orde Baru memang mampu membangun ekonomi nasional, tetapi

tidak mampu meningkatkan taraf pendidikan dan kesejahteraan.

Orde Baru mengembangkan gaya pemerintahan yang paternalistik38, dan

menindas. Orde Baru berusaha mencari keterlibatan rakyat untuk mendapatkan

legitimasi, tetapi hanya melalui cara-cara yang dikendalikan dengan cermat.39

Orde Baru seolah mengoreksi penyimpangan yang dilakukan pada masa

Orde Lama seperti “penataan kembali seluruh aspek kehidupan rakyat, bangsa,

dan negara Indonesia, melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan

37

Ibid.

38

Paternalistik dalam hal ini seperti seorang ayah yang harus ditaati.

39

M.C Ricklefs, Sejarah Indonesia Modern 1200-2008 (Jakarta: PT Serambi Ilmu, 2008). Hal: 587-589.

konsekuen dan menyusun kembali kekuatan bangsa untuk menumbuhkan

stabilitas nasional guna mempercepat proses pembangunan bangsa”.40

Dokumen terkait