• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor yang diduga selanjutnya adalah interaksi antara tekanan dan waktu pemeraman. Berdasarkan nilai kadar garam metode dehidrasi osmosis bertekanan dilakukan uji ANOVA untuk membuktikan dugaan tersebut. Hasil uji ANOVA

0 10 20 30 40 50 60 70

24 jam 48 jam 72 jam

mg/L

Lama Waktu Pemeramaan

Waktu Pemeramaan Terhadap Nilai Kadar

Garam

commit to user

untuk interaksi tekanan dan waktu pemeramaan menunjukkan bahwa interaksi kedua faktor tersebut berpengaruh terhadap kadar garam.

Berdasarkan dari data pemeraman telur asin metode dehidrasi osmosis bertekanan dengan uji ANOVA maka yang mempengaruhi kadar garam adalah tekanan, waktu pemeraman dan interaksi antar tekanan dan waktu pemeraman. Berdasarkan data tersebut maka nilai kadar garam metode dehidrasi osmosis bertekanan dapat membangun sebuah model regresi. Model regresi digunakan untuk menetukan model kadar garam metode dehidrasi osmosis bertekanan dan koefisiensi-koefisiensi tekanan, waktu pemeraman dan interaksi waktu dan tekanan.

Berdasarkan hasil SPSS dengan uji F maka model regresi dari nilai kadar garam metode dehidrasi osmosis bertekanan dapat digunakan untuk mempredeksi tekanan, waktu pemeramaan dan interaksi antara tekanan dan waktu pemeramaan yang berpengaruh tehadap nilai kadar garam. Berdasarkan hasil SPPS dapat dilihat tiga variabel independen yang dimasukkan dalam regresi, variabel tekanan, waktu pemeraman dan interaksi tekanan dan waktu pemeraman yang berpengaruh secara signifikan terhadap kadar garam. Sehingga dapat dimodelkan sebagai berikut:

ö= ƼĖ,ŠƼǴ+Ė, ŠƼ+Ė, Ǵ− Ė.ĖĖ Ƽ Ǵ+e Keterangan

Y : Nilai rata-rata kadar tradisional

X1 : Tekanan

X2 : Waktu pemeraan

X1X2 : Interaksi tekanan dan waktu pemeraman

e : Error

Pada model regresi metode dehidrasi osmosis bertekanan dipengaruhi oleh variabel tekanan, waktu pemeraman dan interaksi tekanan dan waktu pemeraman. Variabel tekanan memberikan nilai koefisiensi parameter terbesar sekitar 0,586 dengan tingkat signifikan 0,000. Variebel waktu memberikan nilai koefisiensi parameter sebesar 0,493 dengan tingkat signifikan 0,000. Sedangkan variabel interaksi yang merupakan interaksi tekanan dan waktu pemeraman memberikan nilai koefisiensi parameter sebesar -0.003. Variabel interaksi tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap model karena tingkat signifikan 0,023. Dengan demikian variabel tekanan, waktu pemeraman dan interaksi waktu dan pemeraman lebih

commit to user

kecil dari pada signifikansi yang ditetapkan  = 0,05, maka tolak H0 dan berarti bahwa koefisien tekanan, waktu pemeraman dan interaksi tekanan dan waktu pemeraman berpengaruh signifikan terhadap model regresi tersebut.

Hubungan persamaan regresi ditandai dengan adanya hubungan antara nilai kadar garam (Y), tekanan (X1) dan waktu pemeraman (X2). Jika nilai kadar garam tinggi maka tekanan dan pemeraman yang dibutuhkan tinggi pula. Pada persaman regresi koefisie interaksi antara tekanan dan waktu pemeraman bernilai negatif dan mempunyai pengaruh kecil karena koefisien kecil akan tetapi koefisiensi interaksi tersebut signifikan. Saat tekanan dan waktu pemeraman tinggi maka akan berpengaruh terhadap koefisien interaksi bernilai negatif makin tinggi. Pengaruh ini dapat terlihat ketika terjadi penurunan tekanan pada proses pemeraman dikarenakan waktu yang dibutuhkan pada proses pemeraman lama.

Terjadinya penurunan tekanan disebabkan koefisiensi interaksi negatif. Penurunan tekanan berbanding lurus dengan tekanan dan waktu pemeraman. Sehingga semakin tinggi tekanan waktu proses pemeraman semakin lama maka penurunan tekanan semakin besar. Dalam penelitian ini penurunan tekanan diminimalkan dengan pembuatan alat pemeraman yang baik. Pada alat

pemeraman bahan yang digunakan Stenlistel berbentuk silinder berukuran

diameter 20 cm, tinggi 30 cm dan tebal 0.5 cm dan pada tutup bagian atas diberi perekat dan 12 baut. Semua ini dilakukan supaya menjaga tekanan tidak bocor keluar. Sehingga perlu dilakukan pemeriksaan tekanan secara berkala dan penambahan tekanan jika pada pemeriksaan tekanan berkurang.

Model regresi yang dibangun dari nilai kadar garam metode dehidrasi osmosis bertekanan digunakan untuk menentukan tekanan, waktu pemeraman dan interaksi tekanan dan waktu pemeraman yang sesuai dengan nilai kadar garam rata-rata metode tradisional yaitu 64,5 mg/L. Dengan menggunakan model regresi metode dehidrasi osmosis bertekanan maka didapatkan dua perlakuan yang menghasilkan nilai kadar garam yang mirip dengan kadar garam metode tradisional yaitu:

1. Perlakuan pertama: 60 jam dan 60 psi 2. Perlakuan kedua : 72 jam dan 50 psi

commit to user

Setelah dihasilkan dua perlakuan dari model regresi metode dehidrasi osmosis bertekanan, perlu dilakukan uji nilai rata-rata dan uji organoleptik untuk mengetahui kemiripan nilai kadar garam metode dehidrasi osmosis bertekanan terhadap metode tradisional.

Nilai rata-rata digunakan untuk menentukan kemiripan kadar garam pemeraman telur asin antara perlakuan pertama dan perlakuan kedua dari model regresi metode dehidrasi osmosis bertekanan dibandingkan dengan metode tradisional. Berdasarkan hasil pengolahan data dengan pengujian hipotesis yang mengenai nilai rata-rata atau mean. Rata-rata nilai kadar garam metode tradisional sebesar 64,5 mg/L dengan pendugaan rata-rata (mean) dengan α = 0.01 diperoleh selang kepercayaan bagi rata-rata nilai kadar garam metode tradisional dalam populasi terletak di antara 63,419< µ < 65,51.

Dengan uji yang bersifat dua arah statistik ujinya menggunakan nilai a/2

karena luas daerahnya berada di kanan dan kiri kurva baik. Karena uji yang digunakan bersifat dua arah maka wilayah kritiknya terletak di salah satu ujung baik kiri maupun kanan kurva. Untuk pengambilan kesimpulan ditentukan oleh besarnya nilai statistik uji. Berdasarkan pengolahan untuk menyatakan kesamaan nilai kadar garam metode tradisional dengan perlakuan pertama (72 jam dengan 50 psi), kesamaan nilai kadar garam metode tradisional dengan perlakuan kedua (60 jam dengan 60 psi) dan kesamaan nilai kadar garam perlakuan pertama dengan perlakuan kedua metode dehidrasi osmosis bertekanan maka diperlukan pengujian hipotesa.

Berdasarkan pengolahan data uji nilai rata-rata antara nilai kadar garam perlakuan pertama dengan rata-rata nilai kadar garam metode tradisional, diperoleh nilai statistik uji perlakuan pertama sebesar 1,048. Ini berarti nilai uji

statistik perlakuan pertama terletak di wilayah penerimaan

821 . 2 821 . 2 > - < dant

t . Sehingga dapat disimpulkan diterima Ho berarti rata-

rata nilai kadar garam dengan perlakuan pertama sama dengan nilai kadar garam metode tradisional.

Berdasarkan pengolahan data uji nilai rata-rata nilai kadar garam perlakuan kedua dengan rata-rata nilai kadar garam metode tradisional. Diperoleh nilai statistik uji perlakuan 1 sebesar 1,023. Ini berarti nilai uji statistik perlakuan

commit to user

pertama terletak di wilayah penerimaan t<-2.821dant >2.821. Sehingga dapat disimpulkan diterima Ho berarti rata-rata nilai kadar garam perlakuan kedua sama dengan nilai kadar garam metode tradisional.

Pada pengujian antara nilai rata-rata perlakuan pertama dengan perlakuan kedua digunakan adalah pengujian mengenai selisih dua mean untuk membuktikan bahwa rata-rata nilai kadar perlakuan pertama berbeda dengan perlakuan kedua, jika diasumsikan perlakuan pertama tidak sama dengan perlakuan kedua. Uji yang digunakan bersifat dua arah karena hipotesis alternatifnya bersifat dua arah yaitu H1 : µ 1 ¹ µ 2. Wilayah kritiknya (t0.025 < - 2.552 dan t0.025 > 2.552) terletak di kedua ujung baik kiri dan kanan kurva. Nilai statistik uji yang digunakan adalah t yang diperoleh hasilnya sebesar 1,749. sehingga nilai statistik uji berada pada wilayah penerimaan. Kesimpulan yang diambil adalah menerima H0 yang berarti bahwa rata-rata niali kadar garam perlakuan pertama sama dengan nilai rata-rata kadar garam perlakuan kedua.

Uji nilai rata-rata yang dihasilkan yaitu adanya kemiripan antara kadar garam pemeraman telur asin perlakuan pertama metode dehidrasi osmosis bertekanan dengan metode tradisional, adanya kemiripan antara kadar garam pemeraman telur asin perlakuan kedua metode dehidrasi osmosis bertekanan dengan metode tradisional, dan adanya kemiripan kadar garam pemeraman telur asin antara perlakuan pertama dan perlakuan kedua metode dehidrasi osmosis bertekanan. Hasil uji nilai rata-rata dapat disimpulkan bahwa kadar garam proses pemeraman telur asin metode dehidrasi osmosis bertekanan sama dengan metode tradisional.

5.1.2 Analisis Uji Organoleptik antara Pemeraman Telur Asin Metode

Tradisional dengan Metode Dehidrasi Osmosis Bertekanan

Berdasarkan uji organoleptik dapat diketahui bahwa pemeraman telur asin antara metode dehidrasi osmosis bertekanan perlakuan pertama tekanan 50 psi dengan waktu pemeraman 72 jam dengan metode tradisonal mempunyai skala kemiripan skala diatas 3. Berarti skala 3 menunjukan bahwa antara perlakuan pertama dengan metode tradisional mempunyai kemiripan berdasarkan rasa, warna, aroma dan tekstur. Pada pemeraman telur asin metode dehidrasi osmosis

commit to user

bertekanan antara perlakuan kedua tekanan 60 psi dengan waktu pemeraman 60 jam dengan metode tradisonal memiliki skala diatas 3 dan 2. Berdasarkan skala 3 berarti antara perlakuan kedua dengan metode tradisional mempunyai kemiripan rasa dan warna. Sedangkan pada skala diatas 2 berarti antara perlakuan kedua dengan metode tradisional mempunyai ketidak mirip aroma dan tekstur pada uji organoleptik. Sehingga dapat disimpulkan perlakuan kedua metode dehidrasi osmosis bertekanan dengan metode tradisonal mirip terhadap rasa dan warna dan tidak mirip terhadap aroma dan tekstur.

5.2. INTERPRESTASI HASIL PENELITIAN

Pada pengujian kadar garam dengan argentometri (mohr) sesuai dengan SNI 06-6989.19.2004 diperoleh nilai kadar garam pemeraman telur asin metode tradisional dan metode dehidrasi osmosis bertekanan. Pada metode dehidrasi osmosis bertekanan dilakukan uji ANOVA. Berdasarkan uji ANOVA didapatkan bahwa yang mempengaruhi kadar garam pemeraman telur asin metode dehidrasi osmosis bertekanan adalah tekanan, waktu pemeraman dan interaksi antara waktu dan tekanan. Setelah melakukan uji ANOVA selanjutnya melakukan uji Uji

pembanding ganda menggunakan Student Newman-Keuls (SNK). Uji SNK

menunjukan bahwa kelompok data tekanan, waktu pemerama dan interaksi antara waktu dan tekanan berbeda secara signifikan antara satu dengan lainnya.

Nilai rata-rata kadar garam telur asin metode tradisional adalah 64,5 mg/L. Nilai rata-rata kadar garam metode tradisional ini digunakan untuk mengendalikan agar nilai kadar garam metode dehidrasi osmosis bertekanan yang dihasilkan mirip dengan nilai kadar garam rata-rata metode tradisional. Pada nilai kadar garam metode dehidrasi osmosis bertekanan digunakan pendekatan regresi untuk mendapatkan model yang digunakan untuk menentukan tekanan dan waktu pemeraman yang nilai kadar garamnya sesuai metode tradisional. Dari regresi tersebut maka diperoleh 2 perlakuan yaitu perlakuan72 jam dan tekanan 50 dan perlakuan 60 jam dengan tekanan 60.

Pada uji nilai rata-rata perlakuan-perlakuan tersebut dinyatakan sama dengan nilai kadara garam metode tradisional. Pada uji organoleptik metode dehidrasi osmosis bertekanan pada perlakuan 72 jam dan tekanan 50 psi mirip terhadap rasa, warna, tekstur dan aroma. Sedangkan pada perlakuan 60 jam

commit to user

dengan tekanan 60 psi mirip terhadap rasa dan warna, dan tidak mirip terhadap tekstur dan aroma. Ini disebabkan setiap perlakuan mempengaruhi sifat organoleptik tersebut.

commit to user

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

Bab ini merupakan bagian terakhir yang membahas tentang kesimpulan yang diperoleh serta usulan atau saran untuk pengembangan penelitian lebih lanjut. Penjelasan dari kesimpulan dan saran tersebut diuraikan pada sub bab di bawah ini.

6.1 KESIMPULAN

Bagian kesimpulan ini merupakan jawaban atas tujuan penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya. Berdasarkan hasil pengumpulan dan pengolahan data yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan, sebagai berikut:

1. Tekanan dan waktu pemeraman kadar garam metode dehidrasi osmosis

bertekanan berpengaruh secara signifikan terhadap kadar garam telur asin dan nilai tekanan berpegaruh terbesar terhadap kadar garam.

2. Berdasarkan uji rata-rata telur asin metode dehidrasi osmosis bertekanan mirip dengan telur asin metode tradisional.

3. Melakukan pengaturan tekanan dan waktu pemeraman pada metode dehidrasi

osmosis bertekanan maka waktu yang dibutuhkan dalam proses pemeraman akan lebih singkat dibandingkan metode tradisonal meskipun nilai kadar sama akan tetapi organoleptiknya berbeda.

6.2 SARAN

Saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian untuk langkah pengembangan atau penelitian selanjutnya, sebagai berikut:

1. Penelitian lebih lanjut mengenai kadar garam telur asin yang berada baik di kuning telur dan putih telur.

2. Alat pengujian proses pemeraman harus lebih rapat agar tekanan yang ada di dalam alat pemeraman tidak bocor keluar.

3. Tekanan dalam Alat pengujian proses pemeraman harus dilakukan

Dokumen terkait