• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Hasil Penelitian dan Pembahasan

1. Wawancara Guru

Wawancara guru dilakukan sebelum dan sesudah proses pembelajaran. Peneliti mewawancarai 2 orang guru yaitu guru A selaku guru fisika kelas XI MIA dan XII MIA dan guru B selaku guru fisika kelas X MIA. Wawancara dilakukan 2 kali untuk setiap guru. Wawancara pertama bertujuan untuk mengetahui pendapat guru tentang pendidikan karakter sedangkan wawancara kedua bertujuan untuk memperjelas beberapa hal yang ditemukan peneliti selama proses pengamatan dan merekam video pembelajaran di kelas.

a. Hasil Penelitian

Dalam wawancara dengan guru A, peneliti menemukan bahwa beliau setuju dengan semakin ditekankannya pendidikan karakter

dalam pembelajaran. Menurut guru A, karakter diperlukan untuk dapat membentuk seseorang menjadi pribadi yang berkepribadian, mandiri dan berprestasi. Hal ini sesuai dengan kutipan wawancara berikut: Kutipan wawancara 1:

Peneliti : Iya..Oh..terus tentang kurikulum ni bu..kurikulum 2013. Kan di Santa Maria sudah diterapkan nah salah satunya di

kurikulum 2013 kan semakin diterapkannya pendidikan

karakter. Nah seperti itu, nah kalo menurut ibu penerapan

pendidikan karakter di suatu sekolah itu perlu atau tidak bu?

Guru A : Oh iya perlu

Peneliti : Itu kira-kira kenapa bu menurut ibu?

Guru A : Karena kita harus menghasilkan siswa yang berkepribadian,,

Peneliti : Perlunya..

Guru A : Khususnya kalo Santa Maria mempunyai visi misi menjadikan siswa yang berpribadi, prestasi dan mandiri.

Tiga karakter yang akan dibentuk itu tidak cukup hanya

diberikan lewat pengetahuan saja. Untuk bisa menjadi

mandiri, untuk bisa menjadi berprestasi, untuk bisa menjadi

Beliau juga menyampaikan bahwa melalui fisika, pendidikan karakter juga dapat diterapkan. Akan tetapi, tidak semua karakter menurut Kemdikbud dapat diterapkan sekali mengajar karena pendidikan karakter tersebut disisipkan ketika proses pembelajaran berlangsung.

Kutipan wawancara 2:

Peneliti : Terus untuk pendidikan karakter itu menurut ibu juga dan sejauh pengalaman ibu melalui fisika itu dapat diterapkan

atau tidak?

Guru A : Banyak sebetulnya.

Peneliti : Bisa berarti ya bu.

Guru A : Bisa.

Peneliti : Trus itu sekali mengajar bu 18 itu bisa diterapkan atau?

Guru A : Tidak semuanya.

Peneliti : Ohh tidak semuanya..

Guru A : Tidak semuanya. Tidak langsung 18 karakter itu kita

terapkan. Ini kan sifatnya ya menyisipkan dalam kegiatan

kita. Kan tidak ada jam khusus untuk pendidikan karakter.

Dalam proses penerapannya, guru A menggunakan metode guru sebagai model. Jika dapat mencontohkan dengan baik, akan lebih mudah bagi siswa untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kutipan wawancara 3:

Peneliti : Terus berkaitan dengan penerapan itu bu,,nah apakah ibu ketika mengajar kan ibu menyisipkan pendidikan karakter

bu,,misalnya jujur apakah ibu cuma menyampaikan

anak-anak kita harus bersikap jujur atau kah ibu juga sendiri

menerapkan?

Guru A : Oh iya kalo untuk bagaimana kita memasukkan

pendidikan karakter itu khususnya jujur itu kita yang

pertama kita jujur dulu. Pertama kita terbuka dengan

siswa. Contohnya kalo kita salah ngitung ya kita akui saja

klo kita salah ngitung,,,ayo kita koreksi sama-sama

mungkin saya salah ngitung. Terbuka enak. Jadi mereka

tau oh gurunya terbuka, kami juga harus terbuka.

Dalam wawancara dengan guru B, beliau juga menyatakan hal yang sama yakni bahwa beliau setuju dengan semakin ditekankannya pendidikan karakter dalam proses pembelajaran.

Kutipan wawancara 4:

karakter di sekolah itu penting gag pak? Kira-kira

kenapa?

Guru B : Menurut saya penting ya apalagi untuk sekolah

menengah. Di kurikulum 2013 itu kan dicantumkan watak

yang sebaiknya dimiliki seseorang..di fisika juga ada..kan

di fisika bukan cuma konten tapi juga ada nilai yang

diterapkan didalamnya..Kecepatan ya? Gag bisa dicatat

ya?

Guru B juga menyampaikan bahwa penerapan pendidikan karakter dalam fisika dapat dilakukan dengan menyisipkannya dalam proses pembelajaran.

Kutipan wawancara 5:

Peneliti : Hehe,,iya pak. Terus itu dalam fisika pak itu pendidikan karakter itu bisa diterapkan atau tidak pak?

Guru B : Iya,, Saya kira ada 3 aspek ya. Ada sikap, produk, proses.

Kita masukkan karakter dalam fisika,,itu include dalam

pembelajaran. Misalnya memecahkan masalah. Jujur

dalam memasukkan data. Jadi karakter masuk dalam

pembelajaran. Itu pintar-pintar guru lah untuk

memasukkannya dalam pelajaran.

kan penerapan karakternya itu dengan menyisipkan. Nah

itu cara bapak menyisipkan itu seperti apa pak?

Guru B : Kadang-kadang itu gag kepikiran. Ternyata itu ada

karakternya. Tapi selalu ada. Entah itu mau seperti apa.

Kita mikir saja materinya oh ternyata dalam materi juga

ada. Tapi kalau mau di seting juga bisa ya kalau kita mau

kerja sama oh misalnya kelompok. Kalo kejujuran tolong

datanya ya. Selama ini fisika dan karakter itu campur

aduk ya. Tahu materinya tahu karakternya. Dari situ kita

ngambil oh kegiatannya bisa yang ini.

Tentang penerapannya dalam pembelajaran, guru B menyampaikan bahwa seorang pribadi yang hendak menyampaikan pendidikan karakter dengan menjadi contoh, hendaknya melakukannya dengan tidak dibuat-buat.

Kutipan wawancara 6:

Peneliti : Iya tapi selebihnya itu penerapannya..nah kita kan mau bicara guru sebagai model,,itu bapak juga saat-saat

tertentu bapak menyampaikan dengan menjadi contoh.

Misalnya jujur ni pak, bapak mengerjakan soal terus ada

salah hitung, siswa mengoreksi terus bapak mengakui oh

Guru B : Nek sepanjang itu teladan,,,teladan itu kan gag

dibuat-buat itu muncul dengan sendirinya. Misalnya datang tepat

waktu, menghargai orang yang bicara. Itu muncul dengan

sendirinya. Tapi misalnya kayak kerjasama ada itunya.

Jadi contoh secara eksplisit itu seperti itu. Kalau ini loh

contohnya seperti ini itu malah wagu ya..

Karakter yang akan diterapkan di kelas, dapat dimasukkan dalam RPP. Dengan kata lain, guru memiliki perencanaan dalam menyampaikan pendidikan karakter di kelas. Meskipun karakter tersebut tertulis dalam RPP, penerapannya dalam proses pembelajaran kadang sesuai dan kadang tidak. Ketidaksesuaian yang dimaksud tidak berarti bahwa karakter yang tertulis dalam RPP tidak dapat diterapkan. Ketidaksesuian yang dimaksud adalah kadang-kadang guru menemukan bahwa dalam proses pembelajaran, karakter yang diterapkan ternyata lebih banyak dari yang tertulis di RPP.

Menerapkan pendidikan karakter dengan menjadikan diri sebagai contoh atau teladan ternyata bukan hal yang mudah. Guru A maupun guru B menyadari betul akan hal itu. Bagi guru A, kesulitan penerapan pendidikan karakter terletak pada penyesuaian dengan latar belakang anak. Hal ini sesuai dengan kutipan wawancara berikut: Kutipan wawancara 7:

pertama kan ibu bilang salah satu kesulitan itu tentang

ya masalah perkembangan pergaulan, perkembangan IT

itu. Nah kalo untuk didalam kelas itu sendiri bu, kesulitan

yang ibu temukan pas penerapan pendidikan karakter itu

apa saja bu?

Guru A : Dalam kelas?

Peneliti : Iya bu..

Guru A : Itu anak-anaknya kan dari berbagai daerah..yang latar belakang budayanya berbeda-beda sehingga untuk

penyesuaian itu kan butuh waktu..tidak bisa langsung.

Jadi latar belakang anak yang berbeda-beda.

Peneliti : Jadi menyesuaikan dengan latar belakang itu ya bu..

Guru A : Iya..itu kan butuh waktu.

Berbeda dengan guru A, menurut guru B letak kesulitan penerapan karakter di dalam kelas adalah menjadi contoh itu sendiri.

Kutipan wawancara 8:

Peneliti : Iya pak. Ok pak. Ni 2 lagi ni pak,,tinggal 2. Kan bapak menerapkan pendidikan karakter, kalau yang saya lihat

ya pak, itu lebih banyak juga bapak

Nah itu kesulitannya itu apa pak?

Guru B : Ya itu menjadi contoh. Kadang-kadang yo kita berusaha sebagus-bagusnya. Contoh nek dong ya kita contoh.

Kadang-kadang gag terasa ya, yang menilai itu orang

lain tapi prinsip teladan itu nomor satu. Ya itu kan seribu

kata-kata kalah dengan satu teladan dan itu yang

diusahakan. Memang belum maksimal ya kita sebagai

guru disini. Yang jelas tetap berusaha memberikan yang

terbaik. Itu mbak. Prinsipnya begitu tapi ya memang

belum sempurna ya,,teladan. Jadi kita perkuat dengan

kata-kata. Seperti tadi kesalahan memang saya kuati.

Nek memang susah loh ngomong minta maaf gitu tapi itu

bagus. Kita kuatkan dengan kata-kata supaya mereka

tahu seperti itu ada harganya. Nek orang gag bisa minta

maaf itu ngotot loh dengan alasan macam-macam. Saya

gag suka nek seperti itu. Tapi kalau bagus dengan rendah

hati mengakui kesalahan menurut saya top.

b. Pembahasan

Dari kegiatan wawancara yang dilakukan oleh peneliti, baik itu wawancara dengan guru A maupun guru B, peneliti menemukan bahwa pendidikan karakter penting untuk diterapkan dan kedua guru menyetujui hal itu. Sekolah bukan hanya tempat siswa mendapatkan pengetahuan. Lebih dari itu, sekolah kiranya juga dapat menjadi

tempat siswa untuk berlatih, mengasah kepribadiannya agar kelak menjadi pribadi yang sungguh baik. Di SMA Santa Maria Yogyakarta, penerapan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran sudah lama dilakukan termasuk dalam mata pelajaran fisika. Bukan hanya karena tuntutan kurikulum. SMA Santa Maria Yogyakarta mempunyai visi menjadikan siswa yang berpribadi, prestasi dan mandiri. Bertolak pada visi tersebut, guru dan siswa bekerja sama untuk membantu siswa membentuk dirinya menjadi siswa yang berpribadi, prestasi dan mandiri.

Oleh karena pendidikan karakter penting untuk diterapkan di sekolah, maka peran guru sebagai pendidik tentu sangat diperlukan. Guru dengan caranya masing-masing diharapkan mampu membantu siswa membentuk watak dan kepribadiannya. Banyak hal yang dapat dilakukan guru untuk menyampaikan hal tersebut. Salah satunya dengan menjadi contoh atau teladan; menjadi model bagi siswa. Jika guru dapat menjadi mencontohkan dengan baik maka akan lebih mudah bagi siswa untuk menerapkan pendidikan karakter dalam kehidupan sehari-hari. Hal inilah yang dilakukan oleh guru fisika di SMA Santa Maria Yogyakarta.

Menjadi contoh bagi siswa memang bukan hal yang mudah untuk diterapkan. Kadang guru mengalami kesulitan untuk menjadi contoh bagi siswa. Alasannya beragam, antara lain guru mengalami kesulitan untuk melakukan penyesuaian dengan latar belakang siswa

atau guru tidak mengerti contoh yang sungguh baik untuk menyampaikan suatu nilai karakter.

2. Observasi

a. Hasil Penelitian

Peneliti melakukan observasi untuk 3 kelas yaitu kelas X MIA, XI MIA dan XII MIA dengan jumlah pertemuan masing-masing 3 kali pertemuan, 3 kali pertemuan dan 4 kali pertemuan. Observasi ini bertujuan untuk melihat apakah guru dapat menerapkan pendidikan niai-karakter dengan menjadi contoh dan apakah siswa mampu menerapkan karakter di dalam kelas. Observasi ini dilakukan dengan cara pengamatan langsung (dengan panduan lembar observasi), membuat catatan lapangan dan merekam video pembelajaran.

Dari pengamatan langsung, peneliti menemukan bahwa baik guru maupun siswa dapat menerapkan pendidikan karakter selama proses pembelajaran berlangsung. Secara umum, data pengamatan langsung dapat dilihat dalam tabel 5 dan tabel 6 berikut:

Tabel 5. Hasil Pengamatan Langsung Terhadap Guru

Aspek Yang Diamati

X MIA XI MIA XII MIA

Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak 1.Menyampaikan

karakter

√ √ √

mampu menerapkan nlai karakter

3.Merespon siswa yang tidak mampu

menerapkan nlai karakter

√ √ √

Tabel 6. Hasil Pengamatan Langsung Terhadap Siswa

Aspek Yang Diamati

X MIA XI MIA XII MIA

Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak 1. Siswa memperhatikan

penjelasan guru

√ √ √

2.Siswa mengerjakan tugas dengan baik

√ √ √

3.Siswa mendengarkan ketika siswa/ guru berbicara

√ √ √

4.Siswa menjawab jika diberi pertanyaan

√ √ √

5.Siswa bertanya ketika mengalami kesulitan memahami materi

√ √ √

membantu ketika mengalami kesulitan memahami materi

Selain pengamatan langsung, peneliti juga mendapatkan data dengan membuat catatan lapangan. Data hasil catatan lapangan disajikan dalam tabel 7 dan tabel 8 berikut:

Tabel 7. Karakter yang Dimunculkan Guru

No Karakter yang Muncul X MIA XI MIA XII MIA

1. Toleransi √ √ √

2. Disiplin √ √ √

3. Rasa Ingin Tahu √ √ √

4. Demokratis √ √ √ 5. Menghargai Prestasi √ √ √ 6. Bersahabat/ Komunikatif √ √ √ 7. Gemar Membaca √ - - 8. Peduli Sosial √ √ √ 9. Tanggungjawab √ √ √ 10. Kreatif √ - -

Tabel 8. Karakter yang Dimunculkan Siswa

No Karakter yang Muncul X MIA XI MIA XII MIA

2. Toleransi √ √ √

3. Disiplin √ √ √

4. Kerja Keras √ √ √

5. Mandiri - √ √

6. Rasa Ingin Tahu √ √ √

7. Demokratis √ √ √ 8. Menghargai Prestasi √ √ √ 9. Bersahabat/ Komunikatif √ √ √ 10. Peduli Sosial √ √ √ 11. Tanggungjawab √ - √ 12. Kreatif √ - -

Selanjutnya, peneliti juga merekam jalannya proses pembelajaran. Melalui rekaman video pembelajaran, peneliti juga menemukan bahwa ada banyak karakter yang dapat ditemukan. Hasil coding untuk rekaman video pembelajaran dapat dilihat pada tabel 9 berikut:

Tabel 9. Kategorisasi Data

No

Karakter yang Muncul

Pelaku

Frekuensi Kemunculan X MIA XI MIA XII MIA

1 Jujur Siswa 4 3 3

2 Toleransi

Guru 22 10 8

3 Disiplin

Guru 12 6 8

Siswa 10 5 8

4 Kerja Keras Siswa 6 3 4

5 Kreatif Guru 4 8 5 Siswa 6 2 3 6 Mandiri Siswa - 2 3 7 Demokratis Guru 10 2 3 Siswa 10 2 3

8 Rasa Ingin Tahu

Guru 5 - - Siswa 12 6 8 9 Menghargai Prestasi Guru 8 3 4 Siswa 6 2 2 10 Bersahabat/ Komunikatif Guru 5 14 10 Siswa 3 10 7 11 Peduli Sosial Guru 7 18 16 Siswa 4 3 4 12 Tanggungjawab Guru 13 31 20 Siswa 22 8 5

Karakter yang ditemukan oleh peneliti, tampak pada tindakan-tindakan yang dilakukan oleh guru dan siswa. Guru dan siswa secara tidak langsung menerapkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran. Misalnya karakter jujur muncul ketika siswa mengakui bahwa siswa kurang memahami bagian tertentu dalam penjelasan materi atau ketika siswa mengakui belum menyelesaikan soal latihan yang diberikan oleh guru. Toleransi muncul ketika siswa dan guru saling mendengarkan ketika ada yang bicara. Berikut, pada tabel 10, disajikan beberapa contoh tindakan yang menggambarkan karakter yang dimunculkan guru dan siswa:

63 Tabel 10. Contoh Karakter yang Dimunculkan Guru dan Siswa

No. Karakter yang Muncul

Contoh Tindakan Contoh Gambar

1 Jujur Siswa mengakui ketika tidak memahami materi yang diajarkan. Hal ini terjadi di kelas X MIA, XI MIA dan XII MIA.

2 Toleransi Siswa dan guru saling mendengarkan ketika salah satu dari mereka berbicara. Hal ini terjadi di kelas X MIA, XI MIA dan XII MIA.

3 Disiplin Siswa dan guru memulai dan mengakhiri pembelajaran fisika sesuai alokasi waktu. Hal ini terjadi di kelas X MIA, XI MIA

64 dan XII MIA.

4 Kerja Keras Siswa menyelesaikan tugas mereka (proyek untuk siswa X MIA; menyelesaikan soal latihan untuk siswa XI MIA dan XII MIA) dengan baik.

5 Mandiri Siswa menyelesaikan soal latihan secara mandiri. Siswa bertanya ketika benar-benar tidak menemukan jawaban dari soal latihan yang dikerjakan (untuk siswa XI MIA dan XII MIA).

65 6 Rasa Ingin Tahu Siswa bertanya ketika ada bagian materi yang menarik atau

bagian materi yang belum mereka mengerti. Hal ini terjadi di kelas X MIA, XI MIA dan XII MIA.

7 Demokratis Siswa dan guru saling mendengarkan ketika salah satu dari mereka menyampaikan pendapat. Hal ini terjadi di kelas X MIA, XI MIA dan XII MIA.

66 8 Menghargai Prestasi Siswa dan guru memberikan apresiasi terhadap keberhasilan

siswa, baik dalam presentasi kelompok maupun penyelesaian soal. Hal ini terjadi di kelas X MIA, XI MIA dan XII MIA.

9 Bersahabat/ Komunikatif

 Guru mendekati siswa ketika akan menjawab pertanyaan siswa dan dengan ramah memberikan penjelasan atas pertanyaan siswa. Hal ini terjadi di kelas X MIA, XI MIA dan XII MIA.

 Pada kelas XI MIA dan XII MIA. siswa berdiskusi dengan teman tentang penyelesaian soal (untuk soal yang

diselesaikan bersama).

 Pada kelas X MIA, siswa bekerja sama dengan baik dalam menyelesaikan tugas proyek.

67 10 Peduli Sosial  Guru bertanya pada siswa tentang sejauh mana mereka

memahami materi yang diajarkan. Hal ini terjadi di kelas X MIA, XI MIA dan XII MIA.

 Siswa membantu siswa lain yang kesulitan dalam

memahami materi yang diajarkan. Hal ini terjadi di kelas X MIA, XI MIA dan XII MIA.

11 Tanggungjawab  Guru menjelaskan materi pembelajaran. Hal ini terjadi di kelas X MIA, XI MIA dan XII MIA.

 Siswa mendengarkan penjelasan guru, menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru dengan baik. Hal ini terjadi di kelas X MIA, XI MIA dan XII MIA.

68 12 Kreatif  Guru memanfaatkan media dalam proses pembelajaran.

Hal ini terjadi di kelas XI MIA dan XII MIA.

 Guru menggunakan metode yang dapat meningkatkan keaktifan siswa (model proyek di kelas X MIA)

 Pada kelas X MIA, siswa mengukur besaran benda yang lebih kompleks (misalnya mengukur luas dan volume)  Pada kelas XI MIA dan XII MIA, siswa menyelesaikan

b. Pembahasan

Berdasarkan data-data yang ditemukan oleh peneliti, penerapan pendidikan karakter sungguh dapat kita temukan melalui proses pembelajaran fisika di kelas. Entah disadari atau tidak, guru yang berperan sebagai pendidik telah dapat menerapkan pendidikan karakter dengan menempatkan dirinya sendiri sebagai model bagi siswa. Siswa menjadi lebih mudah menerima maksud guru karena siswa menemukan contoh nyata yang hidup.

Nilai-nilai karaker seperti yang telah ditetapkan oleh Kemdikbud memang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran. Akan tetapi, ke-18 karakter tersebut tidak dapat diterapkan sekaligus dalam 1 bab pembelajaran. Penerapan pendidikan karakter di kelas juga ditentukan oleh metode pembelajaran yang digunakan guru. Karakter yang dapat disampaikan oleh guru dalam proses pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah akan berbeda dengan karakter yang dapat disampaikan guru dengan metode proyek.

Di kelas X MIA, peneliti melakukan observasi sebanyak 4 kali. Empat kali pertemuan ini digunakan guru untuk menyampaikan materi pengukuran. Guru menggunakan metode proyek dalam pembelajaran ini. Siswa dibebaskan untuk mengukur berbagai besaran benda sesuai dengan kesepakatan kelompok. Dalam proses ini, peneliti menemukan bahwa siswa dapat melakukan tugasnya dengan baik. Siswa dibagi menjadi 6 kelompok dengan masing-masing kelompok beranggotakan

4 orang. Nama-nama kelompok siswa diambil dari nama tokoh/ ilmuwan fisika. Kelompok-kelompok tersebut adalah kelompok Sir Isaac Newton, kelompok James Watt, kelompok Galileo Galilei, kelompok Albert Einstein, kelompok Nicolaus Copernicus dan kelompok Thomas Alfa Edison. Keenam kelompok ini terbilang kreatif karena masing-masing kelompok mengukur besaran benda yang berbeda satu dengan yang lainnya. Bahkan ada 2 kelompok yang mengukur luas benda.

Ketika kelompok presentasi menyampaikan hasil proyeknya, guru dan siswa lain mendengarkan. Setelah itu, siswa lain akan diberikan kesempatan bertanya. Pada tahap akhir dari kegiatan ini, guru akan memberikan komentar dan memberikan penjelasan tambahan terkait kegiatan pengukuran yang dilakukan. Guru bersikap terbuka. Kelompok diberi penghargaan berupa tepukan tangan dan pujian atas usaha kelompok menyelesaikan proyek ini dengan baik. Ketika kelompok melakukan kekeliruan, guru akan mengingatkan.

Dalam proses pembelajaran ini, peneliti menemukan banyak karakter yang muncul melalui tindakan siswa dan guru. Guru menyampaikan pendidikan karakter pada siswa melalui ucapan dan tindakan. Salah satu contoh ucapan guru adalah ketika guru memberikan pujian ketika ada kelompok yang berani mengakui kesalahannya dalam pengukuran dan meminta maaf seperti kutipan berikut: “Tadi ketika kelompok menyampaikan angka penting, saya

suka kelompok ini ya mau mengakui kesalahan,,minta maaf. Itu

penting. Bagus sekali,,”. Selebihnya, guru menyampaikan karakter melalui tindakan. Begitu pula dengan siswa. Tindakan yang dimaksud oleh peneliti antara lain guru bertanya pada siswa tentang sejauh mana siswa memahami materi (peduli sosial), guru menjawab pertanyaan siswa dengan sikap ramah (bersahabat/ komunikatif), guru dan siswa saling mendengarkan ketika salah satu dari mereka berbicara (toleransi), siswa bertanya ketika menemukan hal yang menarik dalam presentasi atau hal yang kurang siswa pahami (rasa ingin tahu), guru dan siswa bertepuk tangan ketika kelompok presentasi selesai menyampaikan hasil proyeknya (menghargai prestasi).

Di kelas XI MIA dan XII MIA, proses pembelajaran berlangsung dengan suasana yang tentu berbeda dari kelas X MIA. Peneliti melakukan observasi sebanyak 3 kali untuk masing-masing kelas. Guru kelas XI MIA dan kelas XII MIA merupakan guru yang sama yaitu Ibu Sutilah sedangkan guru kelas X MIA adalah Bapak Andre. Dalam proses pembelajaran, guru menggunakan metode ceramah aktif baik itu di kelas XI MIA dan kelas XII MIA. Guru menggunakan papan tulis dan PPT untuk membantu guru dalam penyampaian materi.

Dalam proses pembelajaran, guru banyak menerapkan karakter baik itu melalui kata-kata maupun tindakan. Salah satu contoh ucapan guru adalah ketika pernah mengingatkan siswa untuk menjaga kertas

soal latihan sebagai bentuk tanggungjawab siswa, seperti kutipan ucapan guru berikut: “Soal-soal latihanmu jangan sampai hilang. Nanti ulangannya juga saya ambil dari situ. Jadi harus dijaga dan

jangan lupa dikerjakan. Itu sebagai bentuk tanggungjawabmu..”. Guru

juga banyak menyampaikan tentang karakter melalui sharing pengalaman tentang alumni SMA Santa Maria Yogyakarta. Siswa terlihat tertarik mendengarkan sharing tersebut.

Cara lain yang digunakan guru untuk menyampaikan karakter adalah melalui tindakan. Guru bersikap sabar ketika harus menghadapi pertanyaan siswa meskipun pertanyaan tersebut hanya bertujuan untuk membangkitkan suasana kelas. Untuk pertanyaan terkait materi, guru akan mendekati siswa dan memberikan penjelasan pada siswa tersebut (bersahabat/ komunikatif). Guru juga akan memantau sejauh mana perkembangan siswa dalam memahami materi yang disampaikan (peduli sosial). Bukan cuma guru. Siswa pun dalam proses

Dokumen terkait