• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

C. Waktu dan Tempat Penelitian

3. Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, dalam kasus ini sebagai pendalaman. Percakapan dilakukan oleh dua belah pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai yang memberikan jawaban atas pertanyaan yang diberikan. Wawancara ini, dilakukan di luar jam pelajaran.

G. Validitas dan Reliabilitas 1. Validitas`

Hasil penelitian dikatakan valid apabila terjadi kesamaan antara data yang terkumpul dengan data sesungguhnya pada obyek yang diteliti. Dalam penelitian ini validitas yang digunakan adalah validitas isi dan validitas butir.

a. Validitas Isi

Validitas isi dilakukan dengan tujuan untuk menentukan kesesuaian antara soal dengan materi ajar dengan tujuan yang diukur atau dengan kisi-kisi yang dibuat. Validitas ini diperoleh dengan meminta pertimbangan dari para ahli atau pakar dalam bidang evaluasi atau ahli dalam bidang yang sedang diuji, dalam kasus ini dosen pembimbing dan guru matapelajaran.

b. Validitas butir

Validitas butir mengkaji kesahihan alat ukur atau soal tes sebagai alat ukur. Dalam menentukan validitas suatu instrumen dapat menggunakan korelasi Product moment , dengan angka kasar yaitu sebagai berikut :

Untuk validitas butir, rumus menjadi

Dengan,

= koefisisen korelasi antara butir soal ke- dan skor total N = banyak siswa

= skor item soal = skor total

= jumlah skor item soal = jumlah skor total

= jumlah perkalian antara dan

Butir soal dikatakan valid apabila nilai , sedangkan dikatakan tidak valid apabila .

2. Reliabilitas

Reliabilitas soal merupakan ukuran yang menyatakan tingkat keajegan atau kekonsitenan suatu soal tes. Untuk mengukur tingkat keajegan soal ini digunakan perhitungan Alpha Cronbach. Rumus yang digunakan dinyatakan dengan (Suharsimi, Arikunto, 2006:178-196) :

Keterangan :

3. Uji Coba Instrumen

Uji validitas dan reliabilitas adalah uji yang dilakukan sebelum pengambilan data. Uji coba tersebut bertujuan untuk mengetahui valid atau tidaknya butir soal dan reliabel atau tidaknya instrumen.

a. Uji Validitas

1) Tes Evaluasi Belajar

Butir soal dikatakan valid apabila nilai . Perhitungan validitas butir soal terlampir.

Tabel 3.2 Uji Validitas Tes Hasil Belajar No soal rit Keterangan 1 0.34 Valid 2 0.63 Valid 3 0.62 Valid 4 0.58 Valid 5 0.54 Valid 6 0.12 Tidak valid 7 0.22 Tidak valid 8 0.70 Valid 9 0.60 Valid 10 0.73 Valid

Dari tabel di atas terdapat dua butir soal yang tidak valid. Butir soal yang tidak valid dikonsultasikan dengan dosen pembimbing kemudian dilakukan revisi.

2) Kuesioner Motivasi Belajar

Butir pertanyaan kuesioner yang valid apabila nilai . Perhitungan validitas kuesioner motivasi baik fakta maupun opini terlampir.

Tabel 3.3 Validitas Kuesioner Motivasi berdasarkan Fakta No pernyataan Keterangan 1 0, 44 Valid 2 -0, 01 tidak valid 3 0, 11 tidak valid 4 0, 70 Valid 5 0, 76 Valid 6 0, 63 Valid 7 0, 73 Valid 8 0, 36 Valid 9 0, 30 Valid 10 0, 65 Valid 11 0, 60 Valid 12 0, 21 tidak valid 13 0, 68 Valid 14 0, 70 Valid 15 0, 70 Valid 16 0, 50 Valid 17 -0, 06 tidak valid 18 0, 53 Valid 19 0, 70 Valid 20 0, 55 Valid

Dari tabel di atas terdapat 4 butir pernyataan yang tidak valid. Pernyataan yang tidak valid dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan kemudian dirubah kata-katanya.

Tabel 3.4 Validitas Kuesioner Motivasi Berdasarkan Opini

No pernyataan Keterangan

1 0, 29 Tidak valid

2 0,63 Valid

3 0, 68 Valid

No pernyataan Keterangan 5 0, 39 Valid 6 0, 70 Valid 7 0, 63 Valid 8 0, 81 Valid 9 0, 72 Valid 10 0, 56 Valid 11 0, 66 Valid 12 0, 39 Valid 13 0, 13 Tidak valid 14 0, 61 Valid 15 0, 49 Valid 16 0, 61 Valid 17 0, 32 Valid 18 0, 63 Valid 19 0, 70 Valid 20 0, 59 Valid

Dari tabel di atas terdapat 3 pernyataan yang tidak valid. Pernyataan yang tidak valid kemudian dikonsultasikan kepada dosen untuk direvisi.

b. Uji reliabilitas

Uji reliabiltas terhadap instrumen penelitian dilakukan untuk menguji reliabel atau tidaknya instrumen penelitian. Berdasarkan perhitungan reliabilitas tes hasil belajar sebesar . Perhitungan reliabiltas untuk kuesioner motivasi berdasarkan fakta sebesar 0,78, sedangkan reliabilitas kuesioner motivasi berdasarkan opini sebesar 0,82.

H. Metode Analisis Data 1. Kelayakan Analisis

Pelaksanaan penelitian direncanakan dapat diikuti oleh seluruh siswa di kelas tersebut sehingga data yang diperoleh lengkap sejumlah siswa di kelas tersebut. Berikut adalah persentase kelayakan analisis data:

Berdasarkan persentase di atas, data dianggap layak untuk dianalisis apabila responden, dalam kasus ini adalah siswa yang dapat mengikuti penelitian lebih besar sama dengan (≥) 80%.

2. Analisis Keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

Analisis keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II adalah sebagai berikut:

Dimana nilai 1 diberikan apabila tanda cek diberikan pada kolom YA dan nilai 0 diberikan apabila tanda cek diberikan pada kolom TIDAK. Katagori keterlaksanaan pembelajaran dapat dilihat dari tabel berikut :

Tabel 3.5 Katagori Keterlaksanaan RPP

No Persentase Katagori

1. 81 % - 100 % Sangat tinggi

2. 61 % - 80 % Tinggi

3. 41 % - 60 % Sedang

No Persentase Katagori

5. 0 % - 20 % Sangat rendah

3. Analisis Data Keaktifan Siswa

Tingkat keaktifan belajar siswa dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II dianalisis menggunakan lembar observasi pada saat pembelajaran berlangsung. Proses analisis keaktifan siswa dengan cara pemberian skor pada kriteria keaktifan belajar siswa yang tertera pada lembar observasi. Data dari dua observer dalam setiap pertemuan dijumlah menjadi satu kemudian dibagi dua. Data ini kemudian dianalisis dengan perhitungan skala Likert. Sehingga data keaktifan ini dapat dijadikan ddata berkelompok, dengan aturan sebagai berikut:

A = Jumlah skor terbesar B = Jumlah skor terkecil

C = , sehingga didapat lima kriteria keaktifan yaitu : Rendah sekali (RS) : B ≤ x < B + C

Rendah (R) : B + C ≤ x < B + 2C

Sedang (S) : B + 2C ≤ x < B + 3C

Tinggi (T) : B + 3C ≤ x < B + 4C

4. Analisis Data Motivasi

Motivasi belajar siswa dianalisis dari lembar jawab kuesioner yang telah diberikan dan telah dijawab oleh setiap siswa yang hadir dalam penelitian. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan skala Likert. Data mentah yang diperoleh tersebut, kemudian dideskripsikan sebagai data kelompok dengan rumusan sebagai berikut:

A = Jumlah skor terbesar B = Jumlah skor terkecil

C = , sehingga didapat lima kriteria motivasi yaitu : Rendah sekali (RS) : B ≤ x < B + C

Rendah (R) : B + C ≤ x < B + 2C

Sedang (S) : B + 2C ≤ x < B + 3C

Tinggi (T) : B + 3C ≤ x < B + 4C

Tinggi Sekali (TS) : B + 4C ≤ x < B + 5C

Pernyataan-pernyataan yang diberikan ada dua jenis yaitu pernyataan positif dan pernyataan negatif. Untuk kriteria penilaiannya adalah sebagai berikut:

Tabel 3.6 Kriteria penilaian kuesioner motivasi berdasarkan fakta

Pilihan pernyataan Skor

Positif Negatif

Selalu 5 1

Kadang-kadang 3 3

Jarang 2 4

Tidak pernah 1 5

Tabel 3.7 Kriteria penilaian kuesioner motivasi berdasarkan opini

Pilihan pernyataan Skor

Positif Negatif

Sangat Setuju 5 1

Setuju 4 2

Ragu-Ragu 3 3

Tidak Setuju 2 4

Sangat Tidak Setuju 1 5

5. Analisis Data Hasil Belajar Siswa

Tes hasil belajar siswa adalah tes yang digunakan untuk mengukur sejauh mana hasil belajar siswa terhadap materi yang telah diberikan. Tes ini diberikan setelah siswa selesai mempelajari prisma dan limas.

6. Analisis Korelasi

Analisis korelasi ini digunakan untuk mengetahui pengaruh antara keaktifan belajar dan hasil belajar atau motivasi belajar dengan hasil belajar. Dalam penelitian ini, uji korelasi ada dua cara yaitu dengan uji korelasi jenjang dan uji korelasi Product Moment. Uji korelasi jenjang digunakan untuk uji korelasi antara keaktifan dan hasil belajar.

Dikarenakan varibel keaktifan adalah variabel ordinal. Sedangkan korelasi antara motivasi belajar dan hasil belajar menggunakan Product Moment. Uji korelasi menggunakan Product Moment terlebih dahulu dilakukan uji normalitas data.

a. Uji Korelasi Jenjang

b. Uji Normalitas

Uji normalitas dipakai untuk mengetahui apakah pada data memenuhi sebaran kurva normal. Apabila terbukti normal maka selanjutnya dapat dilakukan perhitungan uji t untuk mengetahui korelasi antara kekatifan dan hasil belajar.

Uji Product Moment

Jika perhitungan koefisien korelasi lebih besar atau sama dengan (≥) koefisien korelasi pada tabel Product Moment, maka dapat dikatakan ada korelasi positif baik antara motivasi belajar dan hasil belajar siswa.

7. Regresi Linear

Regresi Linear ini digunakan untuk mengetahui grafik dari hubungan motivasi belajar dan hasil belajar pada sumbu positif. Untuk dapat

menggambar grafik maka dilakukan perhitungan terlebih dahulu dengan aturan sebagai berikut:

Dan

Sehingga diperoleh,

Setelah didapatkan maka dapat digambarkan dalam sumbu x dan sumbu y.

71

BAB IV

ANALISIS KELAYAKAN, DESKRIPSI DATA DAN INFERENSI A. Kelayakan Analisis

Pengambilan data penelitian dilaksanakan pada 20 Mei sampai 1 Juni di kelas VIII SMPK Kemasyarakatan Kalibawang. Sebelum pengambilan data dilakukan uji coba kuesioner motivasi dan tes hasil belajar siswa. Setelah uji coba, tes hasil belajar dan kuesioner motivasi dihitung validitas dan reliabilitasnya. Untuk pernyataan kuesioner yang tidak valid diubah kata-katanya supaya dapat dimengerti oleh siswa, sedangkan tes hasil belajar yang tidak valid diubah soalnya.

Proses pembelajaran dilaksankan selama tiga kali pertemuan dan satu kali pertemuan untuk tes evaluasi. Pada perencanaan penelitian direncanakan dapat diikuti oleh 32 siswa. Namun, pada saat penelitian hanya dapat diikuti oleh 30 siswa. Data ini melebihi 80% yaitu 93,75%, sehingga data yang diambil layak untuk dianalisis.

B. Deskripsi Data

Setelah melakukan penelitian maka didapat daat-data yang dapat dideskripsikan dan dianalisis. Data-data tersebut adalah:

1. Metode Pembelajaran

a. Data Mentah Keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Pengamatan keterlaksanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran diamati oleh dua observer selama pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II.

Tabel 4.1 Data Mentah Keterlaksanaan RPP

No Pertemuan Observer Total

I II 1 Pertemuan I 13 13 26 2 Pertemuan II 11 12 23 3 Pertmuan III 13 13 26 Total keseluruhan 75 b. Statisik Keterlaksanaan RPP

Rata-rata persentase keterlaksanaan RPP secara keseluruhan

didapat 89,29%, menunjukkan persentase

keterlaksanaan melebihi 80%, maka dapat dikatakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II telah terlaksana dengan baik.

2. Keaktifan

Keaktifan siswa saat pembelajaran diamati oleh dua observer dengan mengisi lembar keaktifan siswa. Hasil pengamatan tersebut adalah sebagai berikut.

a. Data mentah

Tabel 4.2 Rekapitulasi Skor Keaktifan Siswa Siswa PERTEMUAN 1 PERTEMUAN 2 PERTEMUAN 3 Total Ob 1 Ob 2 Ob 1 Ob 2 Ob 1 Ob 2 S1 21 21 20 21 22 21 126 S2 18 17 19 20 20 21 115 S3 14 14 15 14 15 16 88 S4 17 17 18 18 17 16 103 S5 21 22 20 21 20 20 124 S6 14 14 15 14 16 15 88 S7 20 19 19 18 18 18 112 S8 15 14 15 16 14 14 88 S9 15 13 14 14 18 18 92 S10 20 19 19 19 20 20 117 S11 14 13 13 14 15 15 84 S12 17 18 14 15 19 18 101 S13 16 15 15 14 18 18 96 S14 17 17 14 15 19 19 101 S15 14 12 13 14 15 15 83 S16 17 16 15 15 18 18 99 S17 22 21 20 20 21 21 125 S18 21 22 20 20 21 21 125 S19 17 17 15 15 19 19 102 S20 17 17 16 16 17 18 101 S21 14 14 14 14 15 16 87 S22 17 17 14 15 19 19 101 S23 17 17 15 16 19 19 103 S24 19 19 17 17 19 19 110 S25 20 19 20 20 20 20 119 S26 14 14 13 13 15 15 84 S27 19 17 17 17 19 19 108 S28 17 18 14 15 19 19 102 S29 17 17 14 14 19 19 100 S30 14 14 13 14 15 15 85

b. Statistik data keaktifan siswa

Data skor keaktifan siswa di atas dapat diringkas sebagai berikut.

Modus :101 Interkuartil : 23

c. Histogram

Data mentah keaktifan siswa dapat dideskripsikan menjadi data berkelompok sebagai berikut.

A = 126

B = 83

C = = 8,6 , dilakukan pembulatan menjadi 9.

Berikut adalah rentang yang diperoleh berdasarkan pengelompokan di atas : Rendah sekali (RS) 83 ≤ x < 92 Rendah (R) 92 ≤ x < 101 Sedang (S) 101 ≤ x < 110 Tinggi (T) 110 ≤ x <119 Tinggi Sekali (TS) 119 ≤ x < 128

Tabel 4.3 Frekuensi Keaktifan Belajar Siswa

Interval Batas bawah Batas atas Titik tengah frekuensi Frekuensi kumulatif 83 -91 82,5 91,5 87 6 6 92-100 91,5 100,5 96 5 11 101-109 100,5 109,5 105 9 20 110-118 109,5 118,5 114 4 24 119-127 118,5 127,5 123 6 30

Dari histogram di atas terlihat bahwa banyaknya siswa yang aktif sama dengan banyaknya siswa yang kurang aktif. Frekuensi yang paling banyak adalah siswa dalam kriteria sedang.

3. Motivasi

a. Data Mentah

Tabel 4.4 Data Mentah Skor Kuesioner Motivasi

Siswa Fakta Opini Skor Motivasi

S1 83 92 175 S2 83 85 168 S3 58 65 123 S4 68 81 149 S5 80 89 169 S6 60 75 135 S7 69 70 139 87 96 105 114 123 B nya k si swa Sangat rendah rendah sedang tinggi Sangat tinggi

Siswa Fakta Opini Skor Motivasi S8 73 82 155 S9 71 71 142 S10 81 84 165 S11 70 80 150 S12 69 81 150 S13 65 80 145 S14 65 80 145 S15 67 80 147 S16 69 77 146 S17 86 94 180 S18 71 74 145 S19 72 84 156 S20 86 77 163 S21 51 62 113 S22 78 74 152 S23 79 76 155 S24 76 77 153 S25 78 89 167 S26 67 71 138 S27 73 79 152 S28 60 77 137 S29 75 91 166 S30 69 84 153

b. Statistik data motivasi

Mean : 146,23 Skor terendah : 113

Modus : 145 Jangkauan : 67

Median : 151 Standar deviasi : 14,56

c. Histogram

Data mentah di atas dapat dideskripsikan menjadi data berkelompok seperti di bawah ini.

A = 180 B = 113

C = = 13,4. Maka dibulatkan menjadi 14

Berikut adalah rentang yang diperoleh berdasarkan pengelompokan di atas: Rendah sekali (RS) 113 ≤ x < 127 Rendah (R) 127 ≤ x < 141 Sedang (S) 141 ≤ x < 155 Tinggi (T) 155 ≤ x < 169 Tinggi Sekali (TS) 169 ≤ x < 183

Tabel 4.5 Frekuensi data kuesioner motivasi belajar siswa Interval Batas bawah Batas atas Titik tengah Frekuensi Frekuensi kumulatif 113- 126 112.5 126,5 119,5 4 4 127-140 126,5 140,5 133,5 2 6 141-154 140,5 154,5 147,5 13 19 155-168 154,5 168,5 161,5 8 27 169-182 112,5 182,5 175,5 3 30

Dari histogram di atas terliha bahwa siswa yang bermotivasi sangat rendah lebih besar dari siswa yang bermotivasi tinggi. Frekuensi kriteria motivasi sedang adalah yang paling banyak

4. Hasil Belajar

a. Data Mentah

Tabel 4.6 Data Mentah Skor Hasil Tes Evaluasi

Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor Keterangan

S1 10 8 6 10 10 10 10 10 5 10 89 Tuntas S2 10 10 5 6 4 7 10 4 5 10 71 Tuntas S3 10 3 5 10 2 7 10 5 7 5 64 Tidak Tuntas S4 10 8 4 5 2 10 10 3 4 4 60 Tidak Tuntas S5 10 8 8 10 10 10 10 8 6 5 85 Tuntas S6 10 4 4 6 2 10 10 4 3 3 56 Tidak Tuntas Sangat rendah rendah sedang Tinggi Tinggi sekali B anya k si swa BELAJAR 119,5 133,5 175,5 161,5 147,5

Siswa 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Skor Keterangan S7 10 10 5 10 0 10 10 2 0 7 64 Tidak Tuntas S8 10 2 8 0 2 10 10 8 8 10 68 Tuntas S9 10 10 5 10 2 10 10 0 0 7 64 Tidak Tuntas S10 10 5 6 4 7 10 10 7 5 9 73 Tuntas S11 10 2 6 1 2 10 10 6 5 10 60 Tidak Tuntas S12 10 4 4 6 3 10 10 4 3 3 57 Tidak Tuntas S13 10 5 4 6 6 10 10 5 3 5 64 Tidak Tuntas S14 10 2 5 8 3 10 10 4 7 9 68 Tuntas S15 10 2 2 0 0 10 10 0 0 0 34 Tidak Tuntas S16 10 10 6 7 6 7 10 7 8 7 78 Tuntas S17 10 10 5 7 7 10 10 5 0 10 74 Tuntas S18 10 4 5 7 3 10 10 4 7 9 69 Tuntas S19 10 4 4 7 3 10 10 4 7 8 67 Tidak Tuntas S20 10 8 4 5 2 10 10 3 4 3 59 Tidak Tuntas S21 10 2 6 1 1 10 10 5 10 10 60 Tidak Tuntas S22 10 4 6 6 3 10 10 4 4 3 57 Tidak Tuntas S23 10 4 5 6 7 10 10 6 7 9 74 Tuntas S24 7 0 4 3 2 7 10 4 4 5 46 Tidak Tuntas S25 10 8 5 7 0 10 10 2 3 0 55 Tidak Tuntas S26 10 10 4 6 4 7 10 3 5 10 69 Tuntas S27 10 2 0 0 9 10 10 1 0 0 42 Tidak Tuntas S28 10 4 6 6 3 10 10 4 3 4 58 Tidak Tuntas S29 7 2 5 6 3 3 7 3 6 6 48 Tidak Tuntas S30 10 4 4 6 3 10 10 4 3 3 57 Tidak Tuntas b. Statistik

Mean : 63 Skor terendah : 34

Modus : 64 Jangkauan : 55

Median : 64 Standar deviasi : 11,77

c. Histogram

Data mentah di atas dapat dideskripsikan menjadi data berkelompok seperti di bawah ini.

A = 89

B = 34

C = = 11, sehingga didapat lima kriteria hasil belajar yaitu : Rendah sekali (RS) : 34 ≤ x < 45

Rendah (R) : 45 ≤ x < 56

Sedang (S) : 56 ≤ x < 67

Tinggi (T) : 67 ≤ x < 78

Tinggi Sekali (TS) : 78 ≤ x < 89

Tabel 4.6 Frekuensi data kuesioner motivasi belajar siswa Interval Batas bawah Batas atas Titik tengah Frekuensi Frekuensi kumulatif 34-44 33,5 44,5 39 2 2 45-55 44,5 55,5 133,5 3 5 56-66 55,5 66,5 147,5 13 18 67-77 66,5 77,5 72 9 27 78-88 77,5 88,5 83 3 30

Dari histogram di atas banyaknya siswa yang hasil belajarnya tinggi lebih besar dibanding banyaknya siswa yang hasil belajarnya rendah sekali. Frekuensi kriteria sedang adalah yang terbanyak.

d. Analisis ketuntasan KKM

Kriteria Ketuntasan Minimal matapelajaran matematika di SMPK Kemasayarakatan Kalibawang ini adalah 68. Dari tabel di atas, maka didapat siswa yang tuntas sebesar 36,67 % dan yang tidak tuntas sebesar 63,33 %. 39 50 61 72 83 B anya k si swa Rendah sekali rendah sedang tinggi Tinggi sekali

HISTOGRAM 4.3 DISTRIBUSI FREKUENSI DATA HASIL BELAJAR (n=30)

C. Inferensi

Untuk mengetahui besar kecilnya variabel bebas (keaktifan dan motivasi) terhadap variabel terikat (hasil belajar), diperlukan uji korelasi dan regresi linear.

1. Korelasi

a. Korelasi Keaktifan dan Hasil Belajar

Variabel keaktifan dalam skala ordinal, sedangkan hasil belajar berada dalam skala interval. Untuk itu perhitungan korelasi mengikuti variabel keaktifan siswa yaitu dalam skala ordinal. Maka koefisien korelasinya disebut koefisien korelasi jenjang yaitu sebagai berikut:

H0 : tidak ada korelasi antara keaktifan dan hasil belajar

H1 : ada korelasi antara keaktifan dan hasil belajar

H0 ditolak apabila .

Karena 0,364 maka H0 ditolak dan H1

Kontribusi Keaktifan

Jadi kontribusi keaktifan terhadap hasil belajar adalah 22,66 %. b. Korelasi Motivasi dan Hasil Belajar

Variabel motivasi dan hasil belajar berada dalam skala interval, maka perhitungan korelasi menggunakan korelasi Product Moment. Sebelum dilakukan uji korelasi, maka terlebih dahulu dilakukan uji normalitas.

Uji Normalitas

Syarat untuk menggunakan analisis regresi linier adalah dengan uji normalitas masing-masing variabel.

a. Uji Normalitas Data Motivasi Belajar

Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan rumus uji Kolmogorov-Seminorv.

Hipotesis :

H0 : Data kuesioner motivasi belajar berdistribusi normal H1 : Data kuesioner motivasi belajar tidak berdistribusi normal Taraf signifikansi (α) = 0,05

Dtabel = 0,24

H0 diterima apabila Dhitung≤ Dtabel

H0 diterima sebab 0,20 ≤ 0,24 sehingga data kuesioner motivasi belajar siswa berdistribusi normal pada taraf signifikansi 0,05. Perhitungan secara lengkap terlampir.

b. Uji Normalitas Data Tes Hasil Belajar Siswa

Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan rumus uji Kolmogorov-Seminorv.

Hipotesis :

H0 = Data tes hasil belajar siswa berdistribusi normal H1 = Data tes hasil belajar siswa tidak berdistribusi normal Taraf signifikansi (α) = 0,05

Dtabel = 0,24

H0 diterima apabila Dhitung≤ Dtabel

Dhitung = 0.08

H0 diterima sebab 0,08 ≤ 0,24, sehingga tes hasil belajar siswa berdistribusi normal pada taraf signifikansi 0,05. Perhitungan secara lengkap terlampir.

c. Uji Korelasi

Untuk mengetahui berapa besar kontribusi motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa maka dilakukan uji korelasi.

H0 : Tidak ada hubungan antara motivasi belajar dan hasil belajar siswa

H1 : Ada hubungan antara motivasi belajar dan hasil belajar siswa Taraf signifikansi (α) = 0,05

rtabel = 0,361

H0 ditolak apabila rhitung > rtabel rhitung = 0,28

Karena rhitung = 0,28 < rtabel = 0,361, maka H0 diterima. Jadi tidak ada hubungan signifikan antara hasil belajar dan motivasi belajar.

Hubungan Numerik

Kontribusi motivasi belajar terhadap hasil belajar adalah 7.69%.

D. Regresi Linear

a. Regresi linear antara keaktifan belajar dan hasil belajar

Dari data mentah keaktifan dan hasil belajar diperoleh:

3069 319223

1890 123088 195358

Persamaan regresinya adalah sebagai berikut:

b. Regresi linear motivasi dan hasil belajar

Dari data mentah motivasi belajar dan hasil belajar dapat diperoleh:

4533 1890 286957

691083 123088

151.1 63

Gambar 4.4 Grafik Regresi Linear Antara Motivasi Belajar Dan Hasil Belajar

E. Pembahasan

1. Pengaruh model pembelajaran terhadap keaktifan siswa

Setelah pembelajaran menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II didapat kenaikan keaktifan siswa. Pada saat observasi terdapat 18,75 % siswa yang aktif dan saat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw II terdapat 63,33 % sebanyak siswa yang aktif.

2. Korelasi Antara Keaktifan dan Hasil Belajar

Berdasarkan hasil analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa ada keaktifan belajar siswa berpengaruh terhadap hasil belajar siswa dengan

korelasi sebesar . Persamaan regresi : yang

artinya setiap satu kenaikan keaktifan belajar terdapat kenaikan hasil belajar sebesar 0,38. Besarnya korelasi keaktifan adalah , sehingga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa. Sedangkan 77,34% adalah faktor-faktor lain seperti IQ, motivasi, minat, sikap , cara belajar, lingkungan, dll.

3. Korelasi Antara Motivasi dan Hasil Belajar

Berdasarkan hasil analisis di atas, di dapat koefisien korelasi sebesar 0,28. Persamaan regresi : , yang artinya setiap satu kenaikan motivasi belajar terdapat kenaikan hasil belajar sbesar 0,22. Besarnya korelasi motivasi belajar terhadap hasil belajar adalah . Kontribusi motivasi belajar mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar.

Namun, sangatlah kecil dan bukan menjadi faktor utama dalam keberhasilan belajar melainkan ada faktor-faktor lain seperti IQ, keaktifan, minat, sikap, cara belajar, dll.

4. Regresi Linear

Persamaan regresi untuk variabel keaktifan dan hasil belajar yaitu , yang artinya setiap satu kenaikan keaktifan belajar terdapat kenaikan hasil belajar sebesar 0,38. Persamaan regresi untuk motivasi belajar dan hasil belajara adalah: , yang artinya setiap satu kenaikan motivasi belajar terdapat kenaikan hasil belajar sebesar 0,22.

F. Pendalaman Analisis

Wawancara dilakukan untuk mengetahui informasi yang mendalam mengenai keaktifan siswa, motivasi belajar siswa dan hasil belajar siswa tergolong diskonkordan. Penggolongan diskonkordan berdasarkan pada pencapaian keaktifan belajar siswa terhadap hasil belajar siswa dan motivasi belajar siswa terhadap hasil belajar siswa.

Berdasarkan diskonkordan tersebut, terdapat dua kriteria yaitu keaktifan dan motivasi belajar tinggi tetapi hasil belajar rendah serta kekatifan dan motivasi belajar rendah tetapi hasil belajar tinggi.

1. Keaktifan tinggi dan hasil belajar rendah a. SISWA 24

Siswa 24 ini menunjukkan bahwa di dalam kelas dia aktif menjawab pertanyan dari guru, aktif dalam kelompok. Di dalam kelas ia mendengarkan penjelasan dari guru. Dalam kerja kelompok dia juga berani mengajukan pendapatnya. Sebelum ulangan dia telah mempersiapkannya. Namun, dia merasa kesulitan ketika mengerjakan ulangan karena lupa dengan apa yang telah dipelajarinya. Dapat dilihat dari wawancara di bawah ini.

P : Kalau ada pelajaran matematika, bagaimana perasaanmu? S24 : senang

P : kenapa?

S24 : rame aja .seru gitu

P : Apakah kamu kalau dikelas sering memperhatikan penjelasan dari guru?

S24 : iya

P :Apakah ketika guru mempersilakan untuk mengerjakan soal di depan kamu inisiatif untuk mengerjakannya atau menunggu guru menunjuk kamu untuk mengerjakannya?

S24 : iya, langsung ngerjain di depan

P : Kalau teman ngajak ngobrol, apakah kamu juga ikut ngobrol? S24 : kadang-kadang

P : Kalau kamu merasa belum jelas dengan apa yang dipaparkan oleh guru, apa yang kamu lakukan?tanya guru?tanya teman?diam saja?

S24 : tanya guru

P : Kalau kerja kelompok, kamu sering mengutarakan pendapatmu atau kamu Cuma ngikut-ngikut aja? Kenapa?

S24 : mengutarakan pendapat

P : Kalau ada yang bertanya ke kamu apakah kamu menjawabnya? S24 : ya kalo bisa ya menjawab

P : Kalau disuruh guru ngerjain tugas atau soal di kelas langsung ngerjain apa nunggu temannya ngerjain terus mencontek?

S24 : ngerjain sendiri, kadang ngerjain bareng gitu P : kemarin ulangannya susah enggak?

S24 : lumayan susah

P : Kemarin pas ulangan belajar nggak? S24 : belajar, tapi lupa-lupa

b. SISWA 25

Siswa 25 ini menunjukkan siswa yang aktif di kelas. Dalam kerja kelompok dia juga mampu mengutarakan pendapatnya maupun menjawab pertanyaan dari temannya. Namun hasil ulangan jelek. Ini dikarenakan saat ulangan dia merasa kebingunan dan juga lupa rumus-rumus yang dia pelajari .

P : Kalau ada pelajaran matematika, bagaimana perasaanmu? Sedihkahsenengkah atau takut, malas?

S25 : seneng. Karena asik gitu pelajarannya P :yang bikin asik apanya?

S25 : kalau disuruh ngerjain tugas gitu, bisa berbincang,tanya jawab gitu

P : Apakah kamu kalau dikelas sering memperhatikan penjelasan dari guru?

S25 : iya memperhatikan

P : Apakah ketika guru mempersilakan untuk mengerjakan soal di depan kamu inisiatif untuk mengerjakannya atau menunggu guru menunjuk kamu untuk mengerjakannya?

S25 : ya nyuruh dulu.

P : kalau menunggu, mengapa? S25 : malu

P : Kalau teman ngajak ngobrol, apakah kamu juga ikut mnegobrol? S25 : ya kalu ngobrolnya tentangpelajaran ya ikut ngobrol .kalo enggak

ya kadang-kadang aja sih

P : Kalau kamu merasa belum jelas dengan apa yang dipaparkan oleh guru, apa yang kamu lakukan?tanya guru?tanya teman?diam saja?

S25 :tanya pada guru lagi

P : Kalau kerja kelompok, kamu sering mengutarakan pendapatmu atau kamu Cuma ngikut-ngikut aja? Kenapa?

S25 : ya sering mengutarakan pendapat

P :Kalau ada yang bertanya ke kamu apakah kamu menjawabnya? S25 :ya menjawab

P :Kalau disuruh guru ngerjain tugas atau soal di kelas langsung ngerjain apa nunggu temannya ngerjain terus mencontek?

Dari kedua siswa tersebut dapat disimpulkan bahwa mereka aktif di dalam kelas. Namun, dalam mempersiapkan ulangan kurang dipersiapkan dengan baik. Sehingga ketika ulangan mengalami kebingungan dan lupa dengan apa yang dipelajari.

2. Keaktifan rendah dan hasil belajar tinggi a. Siswa 8

Siswa 8 ini ketika di dalam kelas memilih untuk diam. Terkadang dia tidak memperhatikan penjelasan dari guru. Namun hasil belajarnya baik karena dia mempersiapkan dengan sungguh-sungguh. Dapat dilihat dari wawancara di bawah ini.

P : Kalau ada pelajaran matematika, bagaimana perasaanmu? Sedihkah, senengkah atau takut, malas?

S8 : seneng. Ya asik-asik gitu P : gak takut?

S8 : enggak

P : Apakah kamu kalau dikelas sering memperhatikan penjelasan dari guru?

S8 : kadang-kadang

P : kenapa kog kadang-kadang? S8 : ngantuk

P :Apakah ketika guru mempersilakan untuk mengerjakan soal di depan kamu inisiatif untuk mengerjakannya atau menunggu guru menunjuk kamu untuk mengerjakannya?

S8 : ya kadang-kadang maju. Kadang-kadang nunggu disuruh dulu P : Kalau teman ngajak ngobrol, apakah kamu juga ikut ngobrol? S8 :kadang-kadang. Tapi kadng kalo temen ngajak ngobrol tu rasanya sebel

P : Kalau kamu merasa belum jelas dengan apa yang dipaparkan oleh guru, apa yang kamu lakukan?tanya guru?tanya teman?diam saja?

Dokumen terkait