BAB IV PEMBAHASAN
4.4 Analisis Hasil Penelitian
4.4.2 Weaknesses (Kelemahan)
Weaknesses (kelemahan) merupakan keterbatasan atau kekurangan dalam hal sumber, keterampilan, dan kemampuan menjadi penghalang serius bagi penampilan kinerja organisasi yang memuaskan. Kelemahan yang dianalisis merupakan faktor yang terdapat dalam tubuh organisasi, proyek atau konsep bisnis itu sendiri. BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang dalam menyelenggarakan program jaminan sosial masih memiliki beberapa kelemahan dalam menyelenggarakan program jaminan sosial yang perlu diperbaiki agar kualitas penyelenggaraan program jaminan sosial dapat dijalankan dengan lebih baik lagi, seperti yang diungkapkan oleh Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang seperti berikut :
“Kelemahan BPJS Ketenagakerjaan ini salah satunya masih belum bisa merubah sepenuhnya pola pikir dari pengusaha dan buruh kalau program jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan itu merupakan suatu kebutuhan yang harus dipenuhi bukan lagi hanya kewajiban dalam membayar iurannya. Pemahaman dari pengusaha maupun buruh masih kurang karena masih beranggapan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan itu hanya membayar iuran saja padahal manfaat dari program jaminan sosial ini sangat besar sekali bagi perusahaan dan buruh.” (Wawancara dengan Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang, 27 Juli 2015, pukul 08.30 WIB, di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, salah satu kelemahan BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang ini masih belum bisa memberikan pemahaman yang baik dan benar baik kepada perusahaan maupun kepada buruh. Hal ini menyebabkan buruh dan perusahaan menganggap kalau menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan hanya menjadi beban saja karena harus membayar iuran setiap bulannya. Hal ini juga diungkapkan oleh Kepala Bidang Pemasaran Formal BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang sebagai berikut :
“Disini BPJS Ketenagakerjaan ingin merubah pola pikir dari pengusaha dan buruh sehingga membuat program jaminan sosial sebagai kebutuhan yang harus dipenuhi karena manfaatnya sangat besar baik bagi perusahaan maupun bagi buruh itu sendiri. Program jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan ini merupakan suatu kebutuhan yang harus ada dalam setiap pekerja ataupun berjalannya perusahaan untuk menjamin apabila nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan dalam lingkungan kerjanya.” (Wawancara dengan Kepala Bidang Pemasaran Formal BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang, 28 Juli 2015, Pukul 09.00 WIB di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang)
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa BPJS Ketenagakerjaan sedang melakukan upaya untuk merubah pola pikir bahwa program jaminan sosial merupakan kebutuhan yang harus dipenuhi sehingga tidak dianggap sebagai beban saja karena harus membayar iuran setiap bulannya sehingga pengusaha dan buruh akan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan tanpa harus adanya paksaan dari BPJS Ketenagakerjaan.
Upaya-upaya yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan belum dapat berjalan dengan maksimal. Hal ini disebabkan BPJS Ketenagakerjaan kurang dalam melakukan pembinaan kepada peserta, karena bentuk pembinaan yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan belum dilaksanakan secara rutin. Hal ini sebagaimana
120
diungkapkan oleh Kepala Bidang Pemasaran Formal BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang sebagai berikut :
“BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang melaksanakan pembinaan langsung ke perusahaan jika perusahaan mengundang BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu, pembinaan juga dilakukan melalui telepon yang berfungsi untuk memberitahukan peserta tentang informasi terbaru tentang BPJS Ketenagakerjaan dan apabila ada data-data dari peserta yang masih harus dilengkapin lagi.” (Wawancara dengan Kepala Bidang Pemasaran Formal BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang, 28 Juli 2015, Pukul 09.00 WIB di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, BPJS Ketenagakerjaan melaksanakan pembinanaan dengan dua cara, yaitu secara langsung dan melalui telepon. Pembinaan secara langsung dilaksanakan ketika perusahaan atau peserta mengundang BPJS Ketenagakerjaan untuk melakukan pembinaan. Pembinaan melalui telepon dilakukan untuk memberikan informasi terbaru mengenai BPJS Ketenagakerjaan dan data-data peserta yang masih kurang dan harus segera dilengkapi oleh peserta. Hal ini juga diungkapkan oleh Relationship Officer BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang sebagai berikut :
“Untuk pembinaan yang dilakukan kepada peserta itu terdapat 2 jenis pembinaan, yaitu kami akan mendatangi perusahaan sesuai dengan permintaan perusahaan agar melakukan pembinaan. Pihak perusahaan akan hadir dalam pembinaan begitu juga pihak buruh yang diwakilkan oleh serikat buruh untuk mengikuti pembinaan dan bentuk pembinaannya itu seperti sosialisasi. Selain itu, ada pembinaan yang dilakukan dengan menelepon perusahaan apabila ada data-data dari perusahaan itu masih kurang dan dilakukan setiap 1 bulan sekali.” (Wawancara dengan Relationship Officer BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang 16 Oktober 2015, di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, upaya-upaya yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan untuk mengubah pola pikir dari buruh dan peserta terhadap program jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan sudah ada.
Namun upaya yang dilakukan ini belum maksimal, karena BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang melakukan pembinaan langsung kepada perusahaan dan buruh tergantung permintaan yang diajukan perusahaan untuk melakukan pembinaan di perusahaannya dan bentuk pembinaannya yang dilakukan seperti sosialisasi dan diskusi yang diikuti pihak perusahaan dan serikat buruh.
Selain itu, BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang melakukan pembinaan melalui telepon kepada perusahaan. BPJS Ketenagakerjaan akan menelepon perusahaan setiap 1 bulan sekali untuk memberitahu tentang informasi terbaru tentang BPJS Ketenagakerjaan dan kekurangan data yang diberikan oleh perusahaan agar segera dilengkapi data-data perusahaan tersebut.
Upaya-upaya yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang belum dapat memberikan hasil yang maksimal karena pembinaan langsung kepada perusahaan dan buruh masih sangat kurang, karena dilakukan tidak rutin hanya sesuai permintaan perusahaannya saja. Disamping itu, kegiatan pembinaan yang rutin hanya melalui telepon yang dilakukan setiap sebulan sekali kepada perusahaan dan hasil pembinaannya tidak maksimal.
Selain itu, pertumbuhan kepesertaan yang berjalan lambat juga menjadi suatu hambatan bagi BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang untuk dapat memberikan manfaat dari program jaminan sosial kepada seluruh perusahaan dan buruh di Kota Tangerang sehingga menunjukan belum semua perusahaan dan buruh menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Kepala Cabang Kantor BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang sebagai berikut :
122
“Seharusnya dengan menjadi BPJS Ketenagakerjaan ini kan ikut meningkatkan laju pertumbuhan kepesertaan namun untuk saat ini belum ada dampak yang besar terhadap pertumbuhan kepesertaan. Kurangnya SDM di bidang marketing officer ikut mempengaruhi laju pertumbuhan kepesertaan karena sebelum terjadinya mutasi di BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang ini hanya memiliki 1 marketing officer dan setelah terjadi mutasi belum ada yang menggantikannya. Sementara tugas marketing officer diberikan kepada relationship officer dan BPJS Ketenagakerjaan sudah membuka open rekrutmen untuk menambah pegawai yang ada saat ini.” (Wawancara dengan Kepala Cabang Kantor BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang, 27 Juli 2015, pukul 08.30 WIB, di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang pertumbuhan kepesertaannya belum berjalan dengan baik. Hal ini disebabkan transformasi PT Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan belum memberikan dampak yang besar terhadap pertumbuhan kepesertaannya seperti bertambahnya daya tarik BPJS Ketenagakerjaan terhadap calon peserta BPJS Ketenagakerjaan. Disamping itu, belum adanya yang mengisi posisi marketing officer setelah terjadi mutasi juga menyebabkan kinerja BPJS Ketenagakerjaan dalam menambah jumlah kepesertaan menjadi kurang maksimal. Hal ini juga diungkapkan oleh Kepala Bidang Pemasaran Formal BPJS Ketenagakerjaan Cabang Kota Tangerang sebagai berikut :
“Untuk pertumbuhan kepesertaan sendiri masih belum cepat hal ini dikarenakan berubahnya Jamsostek menjadi BPJS Ketenagakerjaan belum memberikan dampak yang besar untuk kepesertaan. Kekurangan SDM di bidang marketing officer juga berpengaruh terhadap laju pertumbuhan kepesertaan dan sementara ini tugas tersebut dibebankan kepada relationship officer.” (Wawancara dengan Kepala Bidang Pemasaran Formal BPJS Ketenagakerjaan Cabang Kota Tangerang, 28 Juli 2015, Pukul 09.00 WIB di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, laju pertumbuhan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang belum berjalan dengan baik dan cepat. Salah satu penyebabnya adalah masih belum adanya staff marketing officer yang baru untuk menggantikan yang telah di mutasi sebelumnya, sehingga dalam usaha mendapatkan peserta menjadi kurang maksimal. Hal ini juga ditambahkan oleh Relationship Officer BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang sebagai berikut :
“Sekarang tugas marketing officer sementara diberikan kepada relationship officer jadi kalau ada relationship officer yang tidak terlalu sibuk biasanya yang nanti bertugas ke lapangan menggantikan tugas marketing officer. Hal ini dilakukan karena belum ada pengganti marketing officer sebelumnya disini jadi bergantian saja sama relationship officer yang lain karena kebetulan disini ada 5 relationship officer yang bisa bergantian menjalani tugas marketing officer.” (Wawancara dengan Relationship Officer BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang, 04 Agustus 2015, di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, pertumbuhan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang berjalan lambat karena disebabkan beberapa faktor-faktor antara lain terbentuknya BPJS Ketenagakerjaan menggantikan PT Jamsostek belum memberikan dampak yang besar terhadap pertumbuhan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Disamping itu, kurangnya SDM di bidang marketing officer juga ikut mempengaruhi pertumbuhan kepesertaan yang lambat karena tugas dari marketing officer ini sangat penting dalam mendapatkan peserta seperti mendatangi perusahaan yang belum menjadi peserta dan juga melakukan sosialisasi kepada perusahaan tersebut.
124
Belum adanya petugas marketing officer yang baru membuat relationship officer menjalankan tugas marketing officer untuk sementara sampai ada petugas marketing officer yang baru nanti. BPJS Ketenagakerjaan juga sudah membuka lowongan pekerjaan untuk menambah jumlah pegawai agar kegiatan penyelenggaraan program jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan dapat berjalan dengan lancar dan lebih baik lagi.
Selain itu, kurangnya kesadaran perusahaan dan buruh di Kota Tangerang untuk menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan juga memberikan dampak kepada pertumbuhan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sehingga perlu segera diatasi agar ikut mempercepat pertumbuhan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan, hal seperti yang diungkapkan oleh Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang sebagai berikut :
“Salah satu kelemahan lainnya, yaitu masih kurang kesadaran yang dimiliki oleh perusahaan dan juga buruh tentang pentingnya manfaat jaminan sosial ini padahal jaminan sosial ini menjamin kesejahteraan buruh yang bekerja di perusahaan tersebut. Perusahaan dan buruh masih berpikir kalau menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan itu hanya menjadi beban saja, karena kewajiban membayar iuran setiap bulannya.” (Wawancara dengan Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang, 27 Juli 2015, pukul 08.30 WIB, di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, kurangnya kesadaran perusahaan akan pentingnya program jaminan sosial juga menyebabkan terhambatnya pertumbuhan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang. Perusahaan masih berpikir menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan hanya akan menjadi beban karena diwajibkan membayar iuran setiap bulannya tanpa memikirkan manfaat yang akan didapat oleh perusahaan dari program jaminan
sosial tersebut. Hal ini juga diungkapkan oleh Kepala Bidang Pemasaran Formal BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang sebagai berikut :
“Masih kurang kesadaran yang dimiliki perusahaan dan buruh tentang jaminan sosial ini maka dari itu juga menyebabkan pertumbuhan kepesertaan tidak berjalan dengan cepat. Perusahaan dan buruh masih menganggap membayar iuran setiap bulannya ke BPJS Ketenagakerjaan sebagai beban dan tidak melihat manfaat yang akan didapat dari jaminan sosial kepada perusahaan dan buruh.” (Wawancara dengan Kepala Bidang Pemasaran Formal BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang, 28 Juli 2015, Pukul 09.00 WIB di Kantor Cabang BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang)
Berdasarkan hasil wawancara di atas dapat diketahui bahwa kesadaran yang dimiliki perusahaan dan juga buruh akan manfaat jaminan sosial yang akan diterima masih kurang hal ini juga menyebabkan pertumbuhan kepesertan BPJS Ketenagakerjaan menjadi ikut terhambat. Perusahaan dan buruh masih beranggapan menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan beban tambahan karena diharuskan membayar iuran setiap bulannya tanpa memikirkan manfaat yang akan diterimanya nanti.
Kurangnya kesadaran perusahaan dikarenakan berbagai faktor seperti kondisi ekonomi yang berlangsung di Indonesia saat ini dan penghasilan yang dimiliki perusahaan hanya cukup buat membayar buruhnya dan biaya produksinya saja sehingga tidak memungkinkan untuk membayar iuran yang diwajibkan oleh BPJS Ketenagakerjaan, sehingga perusahaan tersebut belum menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, hal ini sebagaimana diungkapkan Direktur Operasional PT Anugerah Komala Tunggal sebagai berikut :
126
“Dikatakan kurang juga sebenarnya tidak biasanya kalau ada perusahaan yang belum ikut BPJS Ketenagakerjaan itu karena belum mampu bayar iurannya karena penghasilannya yang cukup membayar pekerjanya saja. Kondisi ekonomi sekarang juga membuat perusahaan yang penghasilannya tidak besar harus tetap bisa bertahan. Hal ini juga yang membuat perusahaan terpaksa nakal untuk tidak ikut BPJS Ketenagakerjaan.” (Wawancara dengan Direktur Operasional PT Anugerah Komala Tunggal, 26 Agustus 2015, Pukul 09.00 WIB, di kantor PT Anugerah Komala Tunggal)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, kurangnya kesadaran perusahaan disebabkan oleh ketidakmampuan perusahaan dalam membayar iuran yang diwajibkan setiap bulannya. Hal ini menyebabkan perusahaan tidak menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan karena penghasilannya yang belum mencukup untuk membayar iuran dan kondisi ekonomi Indonesia juga ikut berpengaruh terhadap penghasilan dari perusahaan itu, karena biaya produksi dan harga jual barang ikut dipengaruhi oleh kondisi perekonomian Indonesia. Hal ini juga dikatakan oleh Kepala Bagian Personalia PT Shinta Group :
“Kesadaran sudah ada namun untuk perusahaan kecil yang penghasilannya hanya cukup untuk membayar pekerjanya yang terpaksa tidak ikut BPJS Ketenagakerjaan karena tidak mampu membayar iurannya.” (Wawancara dengan Kepala Bagian Personalia PT Shinta Group, 13 Agustus 2015, pukul 10.00 WIB, di kantor PT Shinta Group)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa kesadaran yang dimiliki perusahaan sudah ada namun dikarenakan penghasilan yang kecil membuat perusahaan itu tidak mampu membayar iuran dari BPJS Ketenagakerjaan sehingga perusahaan itu tidak menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Hal ini juga diperkuat oleh pernyataan dari Wakil Ketua Bidang Jasa APINDO Kota Tangerang :
“Sebenarnya kesadaran dari perusahaan tentang jaminan sosial sudah ada, tetapi biasanya perusahaan yang belum menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan dikarenakan tidak mampu membayar iurannya karena membuat beban yang ditanggung perusahaan itu semakin besar. Disamping itu, penghasilan yang dimiliki perusahaan tidak besar untuk bisa membayar iuran dari BPJS Ketenagakerjaan.” (Wawancara dengan Wakil Ketua Bidang Jasa APINDO Kota Tangerang, 20 Agustus 2015, pukul 11.00 WIB, di kantor APINDO Kota Tangerang)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa kesadaran perusahaan tentang program jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan sudah ada namun untuk menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan terkendala dalam membayar iuran karena penghasilan dari perusahaan itu tidak mencukupi untuk membayar iuran BPJS Ketenagakerjaan sehingga perusahaan itu tidak ikut dalam program jamian sosial BPJS Ketenagakerjaan.
Disamping itu, kurangnya sosialisasi yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan kepada buruh juga menyebabkan kurangnya kesadaran yang dimiliki buruh serta kurangnya pengetahuan tentang program jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan yang sudah ditambah dengan program jaminan pensiun. Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh buruh PT Shinta Group sebagai berikut :
“Kelemahannya masih kurang sosialisasi yang dilakukan kepada buruh karena biasanya BPJS Ketenagakerjaan melakukan sosialisasi ke perusahaan melalui perwakilan perusahaan saja, sosialisasi seperti itu kurang bagus harusnya kan selain ke perusahaan juga sosialisasi ke buruhnya juga agar pemahaman tentang BPJS Ketenagakerjaan pun dapat tersampaikan dengan baik.” (Wawancara dengan Buruh PT Shinta Group, 10 Agustus 2015, pukul 12.00 WIB di PT Shinta Group)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang kurang melakukan sosialisasi langsung kepada buruh karena sosialisasi langsung kepada buruh dilakukan oleh perwakilan dari perusahaa yang telah mengikuti proses sosialisasi yang dilakukan oleh BPJS
128
Ketenagakerjaan Kota Tangerang. Hal ini menyebabkan informasi yang disampaikan oleh perwakilan perusahaan kepada buruh menjadi tidak maksimal, karena informasi yang disampaikan bisa sedikit berbeda dari yang sudah disampaikan BPJS Ketenagakerjaan Kota Tangerang. Hal ini juga dikatakan oleh Satpam PT Anugerah Komala Tunggal :
“Biasanya sosialisasi dilakukan ke perusahaannya saja nanti dari perusahaan yang akan menyampaikan lagi ke buruhnya seharusnya buruh juga ikut mendapatkan sosialisasi langsung dari BPJS Ketenagakerjaan supaya lebih memahami tentang BPJS Ketenagakerjaan.” (Wawancara dengan Satpam PT Anugerah Komala Tunggal, 21 Agustus 2015, Pukul 10.00 WIB di PT Anugerah Komala Tunggal)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, sosialisasi yang dilakukan oleh BPJS Ketenagakerjaan hanya kepada pihak perusahaan saja sedangkan buruh kurang dilibatkan dalam proses sosialisasi tersebut. Kurangnya sosialisasi langsung kepada buruh menyebabkan kurangnya komunikasi yang terjalin antara buruh dan juga BPJS Ketenagakerjaan, sehingga informasi yang didapatkan buruh tentang BPJS Ketenagakerjaan masih belum maksimal. Hal ini juga diungkapkan oleh buruh PT Intan Pertiwi Industri sebagai berikut :
“Kelemahannya itu masih kurangnya sosialisasi yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan kepada buruh, karena BPJS Ketenagakerjaan hanya melakukan sosialisasi kepada perusahaannya saja. Seharusnya buruh juga mendapatkan sosialisasi dari BPJS Ketenagakerjaan tidak hanya dari perwakilan perusahaan saja yang sosialisasi kepada buruh.” (Wawancara dengan buruh PT Intan Pertiwi Industri, 13 Oktober 2015, pukul 13.00 WIB, di PT Intan Pertiwi Industri)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, kurangnya sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan kepada buruh menyebabkan terbatasnya informasi yang diketahui buruh tentang program jaminan sosial BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Ketenagakerjaan melakukan sosialisasi lebih sering
kepada perusahaan saja dibanding dengan buruh dan perwakilan perusahaan yang akan melakukan sosialisasi kepada buruh sehingga informasi yang diterima buruh menjadi tidak maksimal. Terkait kurangnya sosialisasi juga dinyatakan oleh buruh PT Sanvin sebagai berikut :
“Sosialisasi yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan masih sangat kurang terutama sosialisasi kepada buruh, karena biasanya BPJS Ketenagakerjaan melakukan sosialisasi ke perusahannya saja. Setelah itu perusahaan yang akan melakukan sosialisasi kepada buruh, tetapi akan lebih efektif kalau sosialisasi itu dilakukan langsung oleh BPJS Ketenagakerjaan.” (Wawancara dengan buruh PT Sanvin, 09 Oktober 2015, pukul 13.30 WIB, di PT Sanvin)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, sosialisasi langsung kepada buruh masih kurang karena BPJS Ketenagakerjaan melakukan sosialisasi kepada perusahannya dan disosialisasikan lagi kepada buruh oleh perusahaan tersebut. Hal ini menyebabkan belum terjalinnya komunikasi yang baik antara buruh dengan BPJS Ketenagakerjaan dan pengetahuan buruh tentang BPJS Ketenagakerjaan menjadi terbatas. Hal ini juga diungkapkan Ketua Pengurus Unit Kerja Serikat Pekerja Seluruh Indonesia Kota Tangerang sebagai berikut :
“Kelemahannya yang paling utama adalah dalam hal sosialisasi ke buruh ini karena biasanya BPJS Ketenagakerjaan hanya melakukan sosialisasi ke perwakilan perusahaan saja atau jika ada kepentingan saja baru melakukan sosialisasi ke perusahaan kalau ke buruh sendiri masih kurang sosialisasinya seharusnya sosialisasi juga dilakukan ke buruh langsung tidak hanya melalui perwakilan perusahannnya.” (Wawancara dengan Ketua Pengurus Unit Kerja SPSI Kota Tangerang, 10 Agustus 2015, pukul 12.30 WIB, di PT Shinta Group)
Berdasarkan pernyataan di atas dapat diketahui bahwa, sosialisasi yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan sudah dilakukan namun lebih sering sosialisasi ke perusahaannya saja sedangkan untuk ke buruhnya langsung intensitas sosialisasinya masih kurang. Informasi yang didapatkan buruh kurang dan belum
130
bisa untuk memahami secara menyeluruh tentang program jaminan sosial yang dijalankan BPJS Ketenagakerjaan sehingga mengakibatkan kurangnya kesadaran buruh akan pentingnya program jaminan sosial ini.
Oleh karena itu, pengetahuan buruh tentang pelayanan maupun program jaminan sosial masih kurang sehingga membuat penyelenggaraan program jaminan sosial menjadi tidak berjalan dengan baik. Pelayanan online untuk mendapatkan informasi mengenai saldo JHT dari buruh melalui handphone masih kurang sosialisanya, hal ini sebagaimana diungkapkan buruh PT Shinta Group sebagai berikut :
“Saya tidak tahu sekarang sudah bisa cek saldo JHT dari handphone.” (Wawancara dengan Buruh PT Shinta Group, 10 Agustus 2015, pukul 12.30 WIB di PT Shinta Group)
Berdasarkan hasil wawancara dapat diketahui bahwa, buruh masih belum mengetahui informasi mengenai cek saldo Jaminan Hari Tua (JHT) sudah bisa dilakukan melalui handphone. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi yang dilakukan BPJS Ketenagakerjaan kepada buruh, sehingga informasi yang dimiliki buruh tentang BPJS Ketenagakerjaan masih terbatas. Hal ini juga diutarakan Satpam PT Anugerah Komala Tunggal :
“Saya kurang tahu bisa cek saldo JHT dari handphone.” (Wawancara dengan Satpam PT Anugerah Komala Tunggal, 21 Agustus 2015, Pukul 10.00 WIB di PT Anugerah Komala Tunggal)
Berdasarkan pernyataan di atas dapat diketahui bahwa kurangnya sosialisasi ini membuat buruh kurang mengetahui tentang pelayanan-pelayanan yang diberikan BPJS Ketenagakerjaan seperti pelayanan online cek saldo Jaminan
Hari Tua (JHT) lewat handphone sehingga pelayanan ini menjadi kurang efektif karena buruh belum mengetahui tentang pelayanan ini.
Selain itu, dengan adanya program jaminan pensiun dari BPJS Ketenagakerjaan maka beban iuran yang akan dibebankan kepada perusahaan akan bertambah. Beban tambahan pembayaran iuran dari jaminan pensiun ini membuat beban perusahaan menjadi semakin besar, hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Direktur Operasional PT Anugerah Komala Tunggal sebagai berikut :
“Kelemahannya itu beban iuran yang perusahaan tanggung akan semakin