WEWENANG DPR DALAM FUNGSI PENETAPAN APBN SESUAI DENGAN PRINSIP-PRINSIP DEMOKRASI
3.1. Wewenang DPR Dalam Fungsi Penetapan Sesuai Dengan Prinsip Demokrasi
Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan bahwa demokrasi yang mensejahterakan rakyat yang saat ini menjadi tujuan bersama pasti tidak akan membuka ruang sedikit pun bagi praktik-praktik korupsi yang menyengsarakan rakyat. 59
Alam demokrasi menuntut berfungsinya secara tertib seluruh pilar demokrasi dan perangkat hukum harus dapat berfungsi efektif. Keseimbangan antara peran legislatif, eksekutif dan yudikatif harus berjalan pada arah yang benar. Tak kalah pentingnya, penegakan hukum harus konsisten dan tidak boleh pandang bulu. "Tata kelola pemerintahan
good governance harus berfungsi dengan baik dan kebebasan harus
berjalan bergandengan dengan rule of law. Seluruh pilar dan elemen itulah yang dapat memastikan terpeliharanya kehidupan bernegara yang demokratis, damai dan stabil.
Pada tingkat regional dan global, penyelesaian berbagai permasalahan dan tantangan di abad ke-21 ini harus dijalankan secara 59
5 Susilo Bambang Yudhoyono,2010 Dalam Pidato Pembukaan BDF bertajuk :
Dimokrasi Untuk Meningkatkan Perdamaian dan Stabilitas, Bali Post tanggal 10 Desember , hal. I
transparan dan demokratis. "Ketegangan yang terjadi dalam hubungan internasional dewasa ini banyak yang disebabkan oleh adanya ketidakpercayaan atau bahkan kesalahpahaman". Kerja sama antarkawasan dalam tingkat regional maupun global seharusnya menganut prinsip-prinsip demokrasi dan berkeadilan.
Sistem yang demokratis dan transparan sangat diperlukan juga pada tingkat regional dan global. Hanya dengan menerapkan asas yang berkeadilan, persamaan dan transparansi, maka perdamaian dan stabilitas baik pada tingkat kawasan maupun global dapat diwujudkan dan dipelihara bersama. "Salah satu dari esensi dari demokrasi adalah bagaimana kita dapat memberdayakan seluruh elemen bangsa untuk meningkatkan harkat dan martabat rakyat kita semua. Kita juga harus memastikan agar segenap komponen bangsa dapat berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi dan pencapaian kesejahteraan bagi kita semua". Tidak ada formula yang baku tentang bagaimana demokrasi dapat bergandengan dengan stabilitas karena setiap negara mempunyai caranya sendiri. Selain itu, setiap negara masih menghadapi situasi ekonomi dan politik internasional yang masih labil dan terus bergulir dan perlu terus menjaga solidaritas untuk menyikapinya dengan arif dan bijaksana. "Demokrasi terus tumbuh dan berkembang dengan dinamikanya yang khas dan unik di berbagai negara,.
Menurut Susilo Bambang Yudhoyono, tidak ada istilah demokrasi telah selesai karena demokrasi harus menghasilkan democratic devidend yang dirasakan langsung utamanya oleh masyarakat di negara
masing-masing dan berimbas ke berbagai kawasan lainnya. Dikatakannya, demokrasi merupakan sebuah proses untuk meningkatkan kesejahteraan, keadilan, serta kesamaan hak dan kebebasan setiap umat manusia. "Demokrasi harus dapat menciptakan rasa aman, tenteram, dan damai bagi masyarakatnya”.60
CF Strong61 menyebutkan bahwa Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang mayoritas anggota masyarakat dewasa komunitas politiknya turut berpartisipasi melalui perwakilan yang menjamin bahwa pemerintah harus mempertanggung jawabkan segala tindakannya kepada kelompok mayoritas tersebut. Pada hakekatnya bahwa pemerintahan yang demokratis syarat utamanya harus melibatkan rakyat baik secara langsung maupun melalui wakil-wakilnya yang telahditunjuk atau dipilih oleh rakyat melalui partai politik dalam sistem pemilihan umum tersebut dalam menjalankan roda pemerintahannya maupun merencanakan dan menyusun program-program kegiatan dari pemerintah tersebut Bahwa pemerintahan yang demokratis itu yang mengsyaratkan keterlibatan masyarakat dalam setiap pengambilan kebijakan baik secara langsung maupun melalui wakil-wakilnya yang paling penting adanya kebebasan dari masyarakat untuk menentukan apa yang menjadi kebutuhannya dan harus diperjuangankan secara bebas pula oleh wakil-wakil yang dipilih melalui pemilu yang bebas tersebut adanya pengawasan terhadap apa yang dilakukan oleh wakil wakil rakyat tersebut serta dapat dipertanggungjawabkan kepada rakya yang diwakilinya dan yang memilih.
Pada intinya bahwa prinsip-prinsip pokok Negara yang demokrasi adalah :
Pertama hubungan demokrasi dan hukum, Bahwa hukum benar – benar menjadi kehendak dan kebutuhan masyarakat (hukum yang responsif) serta hukum tidak berlaku surut, hukum yang dibuat oleh
60
6 Ibid., hal 50
61 C.F. Strong, 2008, Konstitusi Politik Modern Kajian Tentang Sejarah dan Bentuk-Bentuk Konstitusi Dunia Terjemahan SPA Teamwork Nusa Media, Bandung, Hlm. 17.
parlemen (lembaga perwakilan rakyat) adalah hukum yang benar-benar dihendaki oleh masyarakat.
Kedua prinsip Legalitas, Hukum dibuat untuk mencegah tindakan sewenang wenang dari pejabat pemerintah, Apa yang dilakukan oleh pejabat pemerintah harus sesuai dengan hukum.
Ketiga Tentang Negara Hukum yang Demokratis, yang berkaitan dengan peradilan yang mandiri (tanpa campur tangan dari pemerintah maupun parlemen) baik menyangkut peradilan kriminal maupun peradilan administrasi (uji ulang putusan administrasi). Hakim diangkat untuk selamanya (tanpa campur tangan dari pandangan politik pemerintah maupun parlemen) yang bisa membubarkan adalah Mahkamah Agung bila ada situasi yang genting /ekstrim
Keempat Unsur materiil Negara Hukum yaitu pemerintah melindungi hak-hak masyarakat, khususnya hak-hak masyarakat yang klasik yaitu kebebasan berbicara dan menyatakan pendapat, kebebasan pers dan kebebasan berkumpul dan berserikat.
Didalam Pasal 23 ayat(1) dan ayat(3) Undang-Undang Dasar Negara Repulik Indonesia tahun 1945 disebutkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara ditetapkan tiap-tiap tahun dengan undang-undang. Apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui anggaran yang diusulkan presiden, maka pemerintah menjalankan anggaran yang tahun lalu.
Pasal tersebut memiliki hak Anggaran DPR, yang mana dalam hal penetapan pendapatan dan belanja negara kedudukan DPR lebih kuat daripada Pemerintah yang artinya menunjukan secara filosofis yuridis, hal ini merupakan tanda dari kedaulatan rakyat. Dengan demikian konsepsi keuangan Negara, hakikat APBN adalah kedaulatan rakyat yang diamanatkan kepada DPR.
Dalam hal pertanggungjawaban keuangan Negara dapat dilihat dari dua sisi yaitu :
1. Pertanggungjawaban keuangan Negara horizontal yaitu pertanggungjawaban pelaksanaan APBN yang diberikan pemerintah kepada DPR. Hal ini disebabkan sistem ketatanegaraan yang berdasarkan Undang Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 telah menentukan kedudukan pemerintah dan DPR sederajat. Hal ini dilakukan dalam bentuk persetujuan terhadap RUU Perhitungan Angaran Negara.
2 Pertanggungjawaban keuangan Vertikal, yaitu pertanggungjawab an keuangan yang dilakukan oleh setiap otoristor dari setiap departemen atau lembaga Negara non departemen yang menguasai bagian anggaran , termasuk didalamnya pertanggungjawaban bendaharawan kepada atasannya dan pertanggungjawaban para pimpinan proyek. Pertanggungjawaban keuangan ini pada akhirnya disampaikan kepada Presiden yang diwakili oleh Menteri keuangan selaku pejabat tertinggi pemegang tunggal keuangan Negara. 62
Berdasarkan konsep tersebut, pertanggungjawaban keuangan Negara merupakan konsekuansi logis dari kesediaan pemerintah melaksanakan APBN yang telah disetujui oleh DPR. Dalam hal pengelolaan keuangan Negara atau APBN, pertanggungjawaban keuangan Negara dituangkan kedalam perhitungan anggaran Negara sebagai kuasa dari DPR kepada pemerintah memberikan dasar yang kuat yang berhak menerima pertanggungjawaban keuangan Negara adalah DPR.
Sitti Nurhajati Daud menyatakan ; The Secretary General of the Indonesian House of Representatives is the head of the Secretariat General Which is a supporting system in the execution of the tasks and functions of the Indonesian House of Representative. The Indonesian Constitution (1945) stipulates three functions of the Indonesian House of Representative, namely law-making (legislation) function, national budget determination function, and control function.
Sekretaris Jenderal Dewan Perwakilan Rakyat lndonesia adalah Kepala Sekretariat Jenderal yang merupakan sistem pendukung dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat lndonesia. lndonesia Konstitusi (1945) menetapkan tiga fungsi dari Dewan Perwakilan Rakyat pembuat undang-undang (legislasi), fungsi anggaran nasional dan fungsi kontrol. 63
Untuk melaksanakan fungsi pengawasan, lembaga DPR dilengkapi dengan hak untuk meminta keterangan (interpelasi), hak untuk menyelidiki (angket), hak menyatakan pendapat (resolusi), hak untuk memperingatkan tertulis (memorandum), dan bahkan hak untuk menuntut pertanggungjawaban (impeachment). Dalam pelaksanaan fungsi legislasi, DPR mempunyai hak/ kewajiban untuk mengajukan rancangan undang-undang, hak amandemen atau hak untuk mengubah atau bahkan menolak sama sekali rancangan undang-undang yangdiajukan oleh pemerintah. DPR berhak mengajukan RAPBN dan berhak mengubah dengan mengurangi ataupun menambah anggaran yang diajukan pemerintah.
Untuk dapat menjalankan tugas dan wewenangnya tersebut secara efektif maka DPR perlu diberikan sejumlah hak yaitu hak interpelasi, hak angket dan hak menyatakan pendapat. Ketiga hak ini merupakan kewenangan atau hak DPR sebagai suatu lembaga. Hak interpelasi adalah hak untuk meminta keterangan kepada pemerintah tentang sesuatu
63Sitti Nurhajati Daud, 2003, The Role Of The Secretary General Of The Indonesian House Of Representatives in The Era Reform in Indonesia, Geneva Meeting, Hal. 1
kebijakan pemerintah yang penting dan strategis serta berdampak luas; hak angket adalah hak DPR untuk melakukan suatu penyelidikan terhadap kebijakan pemerintah yang penting dan strategis yang diduga bertentangan dengan peraturan perundangan; hak menyatakan pendapat adalah hak DPR sebagai lembaga untuk menyatakan pendapat terhadap kebijakan pemerintah atau mengenai kejadian luar biasa yang terjadi di tanah air atau situasi dunia internasional disertai dengan rekomendasi penyelesaiannya.
Anggota DPR juga memiliki hak dalam melaksanakan tugasnya. Hak-hak ini dimiliki setiap anggota DPR sebagai individu atau perorangan. Hak perseorangan anggota DPR itu adalah:
a. Hak mengajukan RUU. Penjelasan UU Susduk No 22 Tahun 2003 jo no 27 Tahun 2009 menyebutkan bahwa hak anggota DPR untuk mengajukan RUU dimaksudkan untuk mendorong, memacu kreativitas, semangat dan kualitas anggota DPR dalam menyikapi serta menyalurkan dan menindaklanjuti aspirasi rakyat yang diwakilinya dalam bentuk pengajuan usul RUU.
b. Hak mengajukan pertanyaan adalah hak anggota DPR untuk menyampaikan pertanyaan baik secara lisan maupun tertulis kepada pemerintah bertalian dengan tugas dan wewenang DPR.
c. Hak menyampaikan usul atau pendapat adalah hak anggota DPR untuk menyampaikan usul dan pendapat secara leluasa baik kepada pemerintah maupun kepada DPR sendiri sehingga ada jaminan
kemandirian sesuai dengan panggilan hati nurani serta kredibilitasnya
d. Hak imunitas atau hak kekebalan hukum yaitu hak setiap anggota DPR untuk tidak dapat dituntut di muka pengadilan karena pernyataan dan pendapat yang disampaikan dalam rapat-rapat DPR dengan pemerintah dan rapat-rapat DPR lainnya sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
e. Hak Protokoler yaitu hak anggota DPR untuk memperoleh penghormatan berkenaan dengan jabatannya dalam acara-acara kenegaraan atau acara resmi maupun dalam melaksanakan tugasnya.
Khusus mengenai hak mengajukan RUU ini merupakan hak yang jarang digunakan pada era sebelum reformasi karena inisiatif untuk mengajukan RUU selalu datang dari pemerintah. Kondisi ini bisa terjadi disebabkan oleh ketentuan pasal 5 ayat 1 UUD 1945 sebelum amandemen yang menyatakan: "Presiden memegang kekuasaan membentuk undang-undang dengan persetujuan DPR."
Kata "memegang kekuasaan" dalam pasal ini mengandung arti semacam kewajiban. Dengan demikian presiden mempunyai kewajiban untuk mengajukan suatu RUU kepada DPR. Kesimpulan ini didasarkan kepada beberapa hal yaitu (1) presiden sebagai eksekutif dan (2) presiden sebagai mandataris MPR.Sebagai eksekutif, sudah barang tentu pemerintahlah yang lebih mengetahui undang-undang apa yang
dibutuhkan dalam rangka melaksanakan pemerintahan. Dan sebagai mandataris MPR adakalanya presiden harus mengajukan RUU dalam rangka melaksanakan TAP MPR.
Amandemen UUD 1945 memindahkan kekuasaan membentuk undang-undang ke tangan DPR. Dengan demikian pada era reformasi ini, anggota DPR tidak bisa hanya bersikap menunggu saja RUU yang datang dari pemerintah namun DPR harus dapat menyusun RUU sendiri sesuai dengan aspirasi dan kebutuhan rakyat, dengan demikian setiap anggota DPR harus kreatif dan proaktif untuk mengetahui apa saja aspirasi dan keinginan rakyat itu.
Dalam hal kegentingan yang memaksa, presiden berhak menetapkan peraturan pemerintah sebagai pengganti undang-undang (Perpu). Namun Perpu itu harus mendapat persetujuan DPR dalam persidangan yang berikut, dan jika tidak mendapat persetujuan maka Perpu itu harus dicabut. Demikian pula halnya dalam menentukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara harus mendapat persetujuan dari DPR. Jika DPR menolak untuk memberikan persetujuan terhadap anggaran yang diusulkan oleh pemerintah maka pemerintah menjalankan anggaran tahun lalu.
Didalam hal penetapan APBN, jika dikaitkan kedua pasal tersebut antara pasal 23 Undang-Undang Dasar Negara Repulik Indonesia tahun 1945 dengan pasal 20 Undang-Undang Dasar Negara Repulik Indonesia tahun 1945 mempunyai hubungan yang sangat erat, karena mencari persetujuan antara DPR dengan presiden dalam penetapan APBN merupakan wujud lahirnya undang-undang keuangan negara memberikan
pemahaman filosofis yang menentukan APBN sebagai bentuk penjelmaan kedaulatan rakyat.
Namun dalam kerangka teoritis hukum keuangan negara, berdasarkan pasal 23 ayat (1) dan ayat(3)Undang-Undang Dasar Negara Repulik Indonesia tahun 1945 yang dimaksud sebagai keuangan negara adalah yang ditetapkan dalam undang-undang APBN. Dengan dasar pemikiran hal tersebut dapat dikatakan bahwa keuangan negara adalah APBN.
Artinya dengan persetujuan DPR yang mewakili rakyat, persetujuan DPR merupakan sesuatu yang mutlak sifatnya. Oleh karena itu tanpa persetujuan dewan, anggaran negara tidak mungkin ditetapkan. Disinilah letak kedaulatan rakyat yang diwakili oleh DPR dalam menyetujui anggaran negara. Selain itu anggaran negara dapat dikatakan sebagai otorisasi dari rakyat kepada eksekutif melalui perwakilannya yaitu DPR dimana eksekutif dapat menggunakan pendapatan negara bagi pengeluaran bagi pelaksanaan pemerintahannya.
Oleh karena itu dilihat dari kewenangan lembaga legislatif berdasarkan hak budget yang dimilikinya apakah lembaga legislatif berhak mengelola anggaran sendiri yang ditetapkan dalam suatu undang-undang tersendiri, hal ini sah menurut hukum dan dapat dibenarkan dari segi teori kedaulatan, namun dari segi teori otorisasi, tidak mungkin badan legislatif memberi otorisasi pada dirinya sendiri. Berbeda dengan lembaga yudikatif atau lembaga negara lainnya yang secara mendasar tidak memiliki hak
budget dan secara teoritis bukan untuk memperoleh otorisasi dari lembaga
legislatif, sebagaimana halnya lembaga eksekutif yang menjalankan roda pemerintahan, administrasi negara dan melindungi serta meningkatkan taraf kehidupan masyarakat.
Kondisi demikian justru dikonkretkan dengan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara sebagai undang-undang, Pasal 23 Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 yang tidak memperhatikan kedudukan dan fungsi keuangan publik dari lembaga atau badan-badan hukum yang ada. Kondisi demikian terjadi kerana Pasal 23 Perubahan ketiga Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 tidak memberikan rambu-rambu yang secara yuridis dapat dipertanggungjawabkan.
Imperfektivitas ketentuan hukum keuangan negara karena produk peraturan perundang-undangan yang mengatur keuangan negara tidak mengandung landasan (a) filsafat yang merupakan latar belakang substansi pemikiran pembuat undang-undang tentang keuangan Negara, ia pun harus dirumuskan secara mendasar pada (b) ilmu pengetahuan (het dekken der
kennis) rumusannya ditata segera (c) landasan pemikiran ekonomis (Ekonomische Denkgeselz), menghindari substansinya yang (d) diulang dan /
atau saling bertentangan antara pasal satu dengan pasal yang lainnya
(Wiederspruchlos), (e) cakupan rumusan substansi undang-undang harus
bersifat menyeluruh (het dekken van de rechtsstoj), serta harus mengandung (f) estetika bahasa (taal aesteticd), (g) Bermanfaat sesuai dengan tujuannya
(doelmatig). Dengan demikian peraturan perundang-undangan keuangan
prinsip tersebut dalam menyusun undang, apalagi sebuah undang-undang dasar landasan filsafatnya adalah mutlak dan merupakan syarat utama, disamping syarat-syarat lain yang diperlukan untuk sebuah peraturan perundang-undangan.
Oleh sebab itu, perlu dikatakan secara tegas, materi Pasal 23 Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 dan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 merupakan produk hukum yang asal jadi dan meteri muatannya sama sekali tidak memenuhi syarat sebagai produk hukum atau undang-undang. Apalagi dari sudut ilmiah maupun filosofinya. Seharusnya, Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 mengatur pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan publik uang lebih efektif dalam melaksanakan tertib administrasi keuangan dengan akuntabilitas yang tinggi. Demikian pula ketentuan Pasal 23 Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 (Perubahan Ketiga) perlu diadakan kaji ulang agar mempunyai bobot sebagai sebuah meteri muatan dalam undang-undang dasar.
Secara teoritis DPR sebagai badan legislatif mempunyai dasar yang kuat dan sah menurut hukum untuk melakukan perubahan dalam Undang-Undang No. 17 Tahun 2003. Sementara itu, MPR mempunyai peran yang signifikan untuk kembali dalam undang-undang dasar dan undang-undang dapat memenuhi ketentuan teori hukum yang berlaku.
Disamping persoalan keuangan negara, hukum keuangan negara dalam hal pemeriksaannya juga mengalami disorientasi yang sangat pelik.
Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 melegitimasi perubahan fungsi pemeriksaan BPK yang diatur oleh pasal 23 E Undang-Undang Dasar Negara Repulik Indonesia tahun 1945 untuk memeriksa pengelolaan dan tanggung jawab tentang keuangan negara diadakan satu BPK yang bebas dan mandiri yang tidak hanya ditujukan pada tanggung jawab keuangan negara, tetapi juga pengelolaan keuangan negara. Peruhahan demikian jelas menciptakan disorietasi fungsi BPK yang melebar ke segala arah dalam melakukan pemeriksaan keuangan negara. Dari segi hukum keuangan publik, disorientasi fungsi pemeriksaan keuangan negara yang terlalu luas akan melemahkan rentang kendali (span of control), inmodernisasi, penyalahgunaan kewenangan, dan ketidakmampuan dalam mencegah penyimpangan keuangan negara secara efektif. Disorientasi pemeriksaan keuangan negara yang dilegitimasi Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 hanya akan mendorong ketidakberdayagunaan BPK dalam menjangkau segi strategis tanggung jawab keuangan negara karena berkutat menjelajah segi teknis pengelolaan keuangan negara.
Dengan demikian, tepat penyusun naskah asli Pasal 23 ayat (5) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 yang menempatkan BPK sebagai lembaga yang memeriksa tanggung jawab keuangan negara agar orientasi BPK tidak lepas dan pemeriksaan yang bersifat makro-strategis. Penyusun naskah asli Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 mempunyai pemahaman yang lebih strategis dan sangat memahami prinsip dasar efektivitas kinerja organisasi. Dengan fungsinya sebagai
pemeriksa tanggung jawab keuangan negara, BPK menempatkan secara sejajar kedudukannya sebagai lembaga negara. Sebagai lembaga negara yang memeriksa tanggung jawab keuangan negara, BPK merupakan lembaga yang langsung mengawasi dan memeriksa kebijakan keuangan negara (fiscal policy audit) yang dilakukan pemerintah. Fungsinya yang sangat strategis dan terhormat tersebut menempatkan BPK sebagai lembaga negara yang sejajar dengan lembaga negara lainnya, tennasuk pemerintah, untuk menjaga obyektifitasnya.
Oleh sebab itu, secara yuridis pemberian fungsi pemeriksaan BPK untuk memeriksa pcngelolaan keuangan ncgara melalui Pasal 23E ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 justru melemahkan kedudukannya sebagai lembaga negara. Apabila mendasarkan pada konsep hukum administrasi negara, BPK telah berubah dari bentuk organisasi negara menjadi organisasi administrasi negara. Dengan demikian, kedudukannya melemah sebagai bagian dari unsur pemerintah dan bukan sebagai lembaga yang mandiri. Salah satu bukti perubahan bentuk tersebut adalah dimungkinkannya BPK di setiap provinsi diatur dalam pasal 23 G ayat 1 Undang-Undang Dasar Negara Repulik Indonesia tahun 1945. BPK berkedudukan di ibu kota negara dan memiliki perwakilan di setiap provinsi.
Dari segi hukum administrasi negara, lembaga negara, guna menjaga citra kewibawaan dan pengaruhnya, tidak mungkin membuka perwakilannya di luar ibu kota negara. Hal ini dilakukan agar lembaga
negara tetap berfungsi hanya pada inti pokok tugasnya sebagai bagian dari lingkup masalahnya (kernzaken en problemen) dan menjaga kualitas kinerja dibandingkan hanya mengejar kuantitas. Berdasarkan hukum keuangan publik, pengutamaan kuantitas dalam pemeriksaan menyebabkan temuan atas penyimpangan keuangan negara dilakukan secara kebetulan
(by-chance) dan tidak secara sistematis (by-system).
Oleh sebab itu, kebertahanan BPK pada perubahan fungsinya sebagai pemeriksa tanggung jawab sekaligus pengelolaan keuangan negara dan kedudukannya yang "menurun" sebagai organisasi administrasi negara mengingatkan kembali pada keberadaan Alegmene Rekenkamer (ARK), lembaga pemeriksa zaman kolonial Belanda, yang merupakan lembaga di bawah Kroon (Pemerintah Kerajaan Belanda). Dengan kedudukannya tersebut, ARK memeriksa pengelolaan keuangan pemerintah dan mempunyai perwakilan di setiap daerah. Oleh sebab itu, secara yuridis-historis, fungsi dan kedudukan BPK berdasarkan Pasal 23 E ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 memuat kembali fungsi dan kedudukannya seperti tahun yang lalu.
Apabila kekeliruan tersebut hanya bersifat lokal, dampaknya tidak akan luas. Akan tetapi, apabila kekeliruan tersebut bersifat nasional, dampaknya tidak hanya berlaku secara lokal atau nasional, juga akan menyangkut secara internasional sepanjang yang berkaitan dengan negara. Terlepas dari adanya kesengajaan atau tidak oleh pembuat amandemen undang-undang dasar maupun ketiga paket undang-undang yang mengatur
keuangan negara, perubahan undang-undang dasar maupun paket ketiga undang-undang tersebut terkesan mengarah kepada suatu konsentrasi kekuasaan pemeriksaan tanpa memperhitungkan koneksitas hukum tatanegara dan hukum administrasi negara maupun prinsip-prinsip umum hukum yang berlaku.
Terkait dengan pengelolaan dan pertanggungjawaban keuangan oleh pemerintah diatur di dalam Undang-Undang No 17 Tahun 2003 tentang keuangan Negara, yang mana dalam Pasal 1 ayat (1) disebutkan tentang keuangan negara yaitu :
"Keuangan Negara adalah semua hak dan kewajiban negara yang dapat dinilai dengan uang, serta segala sesuatu baik berupa uang maupun berupa barang yang dapat dijadikan milik negara berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban tersebut."
Selanjutnya, didalam pelaksanaannya yang dimaksud dengan keuangan negara dalam Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang No 17 Tahun 2003 adalah :
a. Hak negara untuk memungut pajak, mengeluarkan dan mengedarkan uang, dan melakukan pinjaman;
b. Kewajihan negara untuk menyelenggarakan tugas layanan umum pemerintahan negara dan membayar tagihan pihak ketiga;
c. Penerimaan Negara; d. Pengeluaran Negara; e. Penerimaan Daerah; f. Pengeluaran Daerah;
g. Kekayaan negara/kekayaan daerah yang dikelola sendiri atau oleh pihak lain berupa uang, surat berharga, piutang, barang, serta hak-hak lain yang dapat dinilai dengan uang, termasuk kekayaan yang