40. Pengalaman Bank sama dengan pengalaman badan-badan pembangunan
internasional lainnya. Pendekatan kebijakan resmi untuk memadukan perempuan ke dalam kegiatan pembangunan dimulai pada awal 1970-an, dan selama 30 tahun terakhir berevolusi berdasarkan pengalaman, peninjauan, dan reformulasi strategi serta tujuan melalui beberapa tahap pendekatan berorientasi kesejahteraan, kesejajaran, perang melawan kemiskinan, dan pendekatan aliran-utama. Menjelang tahun 1980-an, WID telah diterima dan diterapkan secara internasional sebagai penekanan strategis dengan sasaran mencapai integrasi perempuan dalam semua aspek proses pembangunan.
41. Penerimaan internasional akan kebutuhan untuk menempatkan perempuan secara
transparan pada agenda pembangunan telah disertai dengan formulasi kebijakan WID dan pelembagaan pelbagai mekanisme, di antara badan pembangunan dan penerima bantuan pembangunan internasional, untuk menangani kepentingan, kebutuhan, dan sumbangsih kaumperempuan. Hal ini akan membawa suatu kelimpahan program-program WID dan proyek- proyek dengan sasaran meningkatkan kondisi kaum perempuan dan menyampaikan kue
pembangunan kepada kaum perempuan.25
42. Pada menjelang awal 1990-an, badan dan hasil tinjauan independen proyek-proyek
WID ini, pendekatan-pendekatan, dan mekanisme kelembagaannya, pada dasarnya, menarik 25
Bagian ini mengacu kepada penulis berikut ini: Jahan, Rounaq. 1995. The Elusive Agenda Mainstreaming Women in Development/Distorsi Agenda Pengarahan Perempuan ke Aliran-utama Pembangunan. London: Zed Books, Moser, Caroline.O.N. 1993. Gender Planning and Development Theory/Teori Perencanaan dan Pengembangan Gender. London,: Routledge. Lotherington, A.T., M. Haug, dan A.B. Flemmen. 1991. Implementation of WID Policy/Implementasi Kebijakan WID. Oslo: University of Oslo Center for Development and the Environment. Anderson, M. 1990. Women on the Agenda: UNIFEM's Experience in Mainstreaming with Women/Pengalaman UNIFEM dalam Penarikan Arah Perempuan ke Aliran-utama Pembangunan: 1985-1990. New York: UNIFEM, Bank Dunia.1994. Peningkatan Peranserta Perempuan dalam Pembangunan Ekonomi: Makalah Kebijakan, bulan Mei.
26. Istilah gender mengacu kepada fakta-fakta sosial seperti: kebudayaan, agama, dan kelas, yang mengkondisikan caranya peran maskulin dan feminin serta status dibangun dan didefinisikan di setiap tingkat masyarakat. Hubungan gender adalah dinamis dan berubah-ubah menurut waktu dalam menanggapi keadaan sosioekonomi dan ideologi yang berubah-ubah. Keadaan ini tidaklah statis ataupun menetap, namun kiranya, lebih berubah-ubah, tunduk kepada modifikasi, renegosiasi dan reinterpretasi, tidak seperti perbedaan biologis (jenis kelamin) antara laki-laki dan perempuan yang universal dan konstan. Sebagai gender (perbedaan sosial antara perempuan dan laki- laki) telah terbangun secara sosial dan budaya, peran gender dapat diubah oleh perubahan sosial (Moser 1993).
20
kesimpulan secara telak mengenai kekuatan dan kelemahan pendekatan WID tersebut. Hasil tinjauan unit-unit masalah perempuan pemerintah yang seringkali dengan sumber daya dibawah rata-rata dan sangat marjinal menunjukkan, bahwa mereka telah tidak dapat secara efektif mempengaruhi kebijakan nasional atau membawa kesejajaran gender yang tadinyadibayangkan dalam pikiran pada waktu pendiriannya. Proyek-proyek dengan sasaran dan pemisahan perempuan-saja, telah berkiprah untuk semakin menyisihkan perempuan ke marginal dan mengisolasi dari jalur pembangunan. Menurunkan tingkat tanggungjawab untuk meningkatkan status perempuan (50% dari populasi) ke dalam satu departemen, daripada secara merata ke semua departemen sektoral, benar-benar meng-"ghetto"-kan kaum perempuan Memperlakukan kaum perempuan sebagai suatu kelompok kesatuan khusus yang terpisah dari hubungan sosial lainnya, termasuk proses ekonomi dan sosial, tidaklah dapat mengakomodasi atau mencerminkan secara akurat pelbagai kelompok perempuan atau pelbagai aspirasi perempuan. Secara lebih penting, tinjauan dan evaluasi yang terungkap adalah, bahwa pendekatan semacam ini belum berhasil memperkecil jurang kesenjangan antara perempuan danlaki-laki. Proyek-proyek hanya- untuk-perempuan seringkali dipikirkan dan didanai secara kurang, bahkan kadang-kadang dibebankan ke pundak kaum perempuan yang telah terbebani dengan beban-kerja yang berat, hanya dengan imbalan yang kurang pula.
43. Tinjauan, analisis, dan kesimpulan ini akan membawa ke pemikiran kembali secara
signifikan pendekatan WID. Hal ini telah menjadi jelas, bahwa proyek-proyek yang berfokus secara eksklusif pada perempuan menyiratkan masalah dan oleh sebab itu pemecahannya, dapat hanya terbatas pada perempuan sendiri. Umpamanya, program-program kependudukan yang secara eksklusif ditargetkan bagi perempuan seringkali tidak berhasil, karena mitra laki-laki mereka, yang izinnya sangat integral dengan keberhasilan program, tidak menjadi sasaran target. Penerimaan kontrasepsi seringkali memerlukan izin nyata laki-laki. Hal ini jelas, bahwa kecuali laki-laki telah menjadi sedemikian peka terhadap bahaya dari kehamilan berulang dan sering, peningkatan kesehatan perempuan maupun pengurangan angka kesuburan perempuan tidak akan dapat tercapai. Pendekatan di atas akan gagal untuk mengenali pentingnya peranan laki-laki dalam pengambilan keputusan berkenaan dengan kehidupan kaum perempuan. Sama halnya, proyek-proyek pendidikan yang mentargetkan hanya anak-anak perempuan dengan membangun sekolah-sekolah khusus bagi mereka tidak selalu mencapai hasil sesuai yang diinginkan karena kaum laki-laki tidak peka akan manfaat yang akan dicapai dari pendidikan anak-anak perempuan ini, atau karena lingkungan sosial budaya mereka yang kurang dipertimbangkan.
44. Mengandalkan perempuan sebagai kelompok analitis untuk menangani masalah
ketidaksejajaran gender berarti suatu fokus pada perempuan dengan mengisolasikannya dari sisa kehidupannya dan dari hubungan-hubungan, yang melalui hubungan/interaksi ini ketidaksejajaran ini berlangsung dan dihasilkan. Hal ini akan menyebabkan pergeseran utama
dari perempuan sebagai fokus kunci analisis ke fokus pada hubungan gender26, yakni, hubungan
26
Istilah gender mengacu kepada fakta-fakta sosial seperti: kebudayaan, agama, dan kelas, yang mengkondisikan caranya peran maskulin dan feminin serta status dibangun dan didefinisikan di setiap tingkat masyarakat. Hubungan gender adalah dinamis dan berubah-ubah menurut waktu dalam menanggapi keadaan sosioekonomi dan ideologi yang berubah-ubah. Keadaan ini tidaklah statis ataupun menetap, namun kiranya, dapat berubah-ubah, tunduk kepada modifikasi, renegosiasi dan reinterpretasi, tidak seperti perbedaan biologis (jenis kelamin) antara
21
sosial antara laki-laki dan perempuan yang menghasilkan dan melangsungkan adanya ketidaksejajaran gender.
45. Memikirkan kembali pendekatan WID juga menjauhkan dari penilaian dampak
pembangunan yang merugikan terhadap perempuan, ke pemeriksaan dampak merugikan tersebut terhadap pengucilan perempuan dari pembangunan. "Perempuan memerlukan pembangunan" telah digantikan oleh "Pembangunan memerlukan perempuan". Keadilan sosial dan dalih kesejajaran telah dilengkapi dengan dalih efisiensi ekonomi. Marjinalisasi dan isolasi perempuan dari jalur utama proses pembangunan akan tampak sebagai ketidakefisienan ekonomis dan akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, pendekatan yang berorientasi kesejahteraan dan kesejajaran telah semakin digantikan dan dilengkapi dengan pendekatan aliran-utama dan efisiensi.
46. Akan tetapi, terdapat dua kritik yang sangat berpengaruh dalam pendekatan
efisiensi ekonomi, yang dilancarkan oleh para pengacara perempuan terkemuka. Kritik ini melontarkan bahwa (i) mengarahkan perempuan ke aliran-utama pembangunan telah tidak mempermasalahkan sifat pembangunan itu sendiri, yang pada gilirannya, dapat bertentangan dengan kepentingan dan minat perempuan; dan (ii) dengan mempertimbangkan dan mendukung peranan sesungguhnya perempuan dalam produksi tidak memberikan tantangan mendasar yang seringkali tidak sejajar, di mana peran-peran ini dialokasikan dalam masyarakat. Kritik ini telah menyebabkan suatu penekanan strategis baru pada pemberdayaan perempuan dalam proses pembangunan itu. Kritik ini mempunyai sasaran untuk mendukung langkah-langkah yang memberdayakan perempuan guna memberikan sumbangsih dalam aliran-utama agenda pembangunan, dan dalam memberikan tantangan pada sistem sosial ekonomi yang menempatkannya relatif kurang beruntung dibandingkan laki-laki.
47. Evaluasi kegagalan masa lalu juga menjurus kepada realisasi bahwa proses
pembangunan itu sendiri memerlukan pengelompokan gender. Oleh sebab itu, terdapat kebutuhan untuk memfokuskan kembali penekanan strategis dari suatu pendekatan WID yang sempit pada suatu pendekatan GAD yang dinamis. Pada pendekatan GAD, penekanan strategis diperluas untuk mencakup hak-hak perempuan, peranan perempuan sebagai peserta aktif dan pelaku dalam pembangunan dan peranan mereka sebagai aktor dengan suatu agenda khusus bagi pembangunan. Perbandingkan hal ini dengan pendekatan WID sebelumnya, yang mempersepsikan perempuan hanya sebagai re-produser (keluarga berencana), dan sebagai penerima pasif dari sumber daya (kebutuhan dan jasa dasar). Dengan demikian, dengan berorientasi kesejahteraan, pendekatan "tambahkan perempuan dan gerakkan" yang telah memperlakukan perempuan sebagai penerima pembangunan pasif telah digantikan oleh pendekatan yang mencoba melahirkan pembangunan memberdayakan perempuan dan memahami perempuan sebagai pelaku aktif dalam hak mereka sendiri.
laki-laki dan perempuan yang universal dan konstan. Sebagai gender (perbedaan sosial antara perempuan dan laki- laki) telah terbangun secara sosial dan budaya, peran gender dapat diubah oleh perubahan sosial (Moser 1993).
22
48. Perbedaan antara WID dan GAD, pada dasarnya, berdasarkan atas pendekatan
penilaian dan penanganan posisi yang tidak sama dari perempuan dalam masyarakat. GAD tidak menyisihkan perempuan sebagai subyek sentral. Namun kiranya lebih, sementara pendekatan WID difokuskan secara eksklusif pada perempuan untuk meningkatkan posisi ketidaksejajaran perempuan, maka pendekatan GAD mengakui, bahwa peningkatan status perempuan memerlukan analisis mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan maupun menyamakan pendapat dan kerjasama laki-laki . Penekanan ditempatkan pada kebutuhan untuk memahami cara-cara, dimana hubungan yang tidak sejajar antara perempuan dan laki-laki dapat memberikan sumbangsih pada rentang dan bentuk pemisahan yang akan dihadapi perempuan dalam proses pembangunan ini. Juga terdapat suatu pengakuan yang terbuka, bahwa peranserta dan komitmen laki-laki diperlukan untuk mengubah secara fundamental kedudukan sosial dan ekonomi perempuan. Pengakuan ini akan menyebabkan suatu pergeseran dari suatu fokus eksklusif mengenai perempuan pada pendekatan GAD, yang juga, menentukan faktor-faktor dalam persamaan hak laki-laki dan lingkungan sesuai dengan budaya yang lebih luas.
49. Pendekatan gender dan pembangunan melihat gender sebagai suatu masalah yang
membedah kedalam dengan relevansi mempengaruhi semua proses perekonomian, sosial, dan politik. Suatu pendekatan yang dipusatkan pada gender memperbaiki ketidaksejajaran gender dengan memudahkan solusi-solusi strategis, berazas luas dan multifaset pada masalah ketidaksejajaran gender.
50. Suatu pendekatan strategis atau tatanan agenda menganalisis dan menentukan
struktur yang menghasilkan dan menjaga disparitas (perbedaan) gender, yang menempatkan kendala pada pembangunan. Hal ini akan menyebabkan suatu pendekatan proaktif terhadap masalah-masalah gender dalam identifikasi dan perancangan proyek, dan mencakup suatu analisis dan diagnosis gender dalam definisi manfaat proyek. Hal ini mempunyai sasaran untuk mengindentifikasi, baik kebutuhan gender praktis dari perempuan , seperti perawatan kesehatan, pemasokan air, pendidikan, teknologi tidak padat karya, dst. dan gender strategis yang memerlukan jaminan, bahwa proyek akan membantu perempuan dalam meningkatkan manfaat dan menangani kendala-kendala struktural. Kebutuhan strategis perempuan dapat mencakup hak untuk kepemilikan lahan, akses pada pinjaman, atau partisipasi aktif dalam badan-badan pengambilan keputusan seperti asosiasi pengguna air. Kebutuhan gender yang praktis dan strategis sangat terkait erat sebagai salah satu faktor yang seringkali menimbulkan faktor lainnya, atau suatu prasyarat untuk mencapai lainnya. Umpamanya, meningkatkan akses perempuan pada pendapatan yang dapat dilihat sebagai kebutuhan praktis, tidak akan mungkin kecuali kebutuhan strategis dari pencapaian akses pinjaman dipenuhi pertama-tama. Untuk mencapai sasaran kesejajaran gender, maka dianggap sangat penting untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan gender praktis dan strategis.
51. Tercakup dalam pendekatan GAD adalah penarikan gender ke aliran-utama yang
merupakan sarana dalam menangani kepentingan perempuan secara lebih holistik dan efektif. Hal ini akan memerlukan suatu perencanaan gender yang dapat diterapkan bagi semua operasi dan proyek-proyek pembangunan, dan memungkinkan perempuan untuk menjadi faktor dalam kebijakan perekonomian dan pembangunan. Pendekatan GAD memanfaatkan analisis gender
23
yang merupakan suatu alat untuk menganalisis sifat khusus dari perbedaan-perbedaan gender dengan menanyakan pertanyaan dasar, seperti siapa, melakukan apa, dimana, bilamana, seberapa seringkah, dengan sumber daya dan imbal hasil apakah, dan siapa yang melakukan pengawasan apa. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini memungkinkan suatu penilaian dari diferensiasi gender
dalam kegiatan, kepemilikan sumberdaya, penggunaan, dan penguasaan.27 Berdasarkan atas
informasi yang diperoleh melalui analisis gender, maka kebijakan yang tepat, intervensi proyek, strategi, dan mekanisme dapat dirancang untuk membantu meningkatkan peranserta, status dan produktivitasperempuan.
52. Pendekatan GAD, bagaimanapun, tidak berarti bahwa proyek-proyek perempuan
berdiri sendiri atau proyek-proyek dengan komponen-komponen khusus yang mempunyai target perempuan harus ditinggalkan sama sekali. Sampai tidak terdapat kendala struktural, maka hambatan-hambatan yang akan membatasi peranserta perempuan, proyek-proyek yang diarahkan secara eksklusif pada perempuan, atau proyek-proyek dengan komponen khusus yang dialamatkan pada perempuan masih diperlukan, terutama dalam keadaan dimana budaya akan menentukan segregasi yang diperlukan pada jenis kelamin atau pada situasi dimana perempuan membutuhkan bantuan khusus untuk memungkinkan mereka berperanserta penuh dalam proyek- proyek terkini. Mengerahkan gender bukanlah untuk menyiratkan, bahwa perempuan tidak memerlukan lagi perhatian khusus dalam proyek-proyek, karena kepentingan mereka telah diarahkan dan semua masukan proyek secara sama telah dapat diakses bagi perempuan maupun laaki-laki.
53. Sampai perempuan mencapai suatu tahap, ketika mereka dapat benar-benar menjadi
mitra sejajar laki-laki dalam pembangunan, maka perhatian khusus untuk menangani kebutuhan dan kepentingan perempuan masih diperlukan. Proyek-proyek yang mengutamakan ciri-ciri perancangan khusus kebutuhan perempuan untuk memudahkan dan meningkatkan peranserta perempuan. Komponen-komponen harus dibangun kedalam proyek-proyek yang secara strategis dirancang untuk meningkatkan akses perempuan, kesejajaran, dan manfaat untuk menimbulkan suatu peningkatan jangka panjang dalam status sosial dan perekonomian mereka. Hal ini bukanlah suatu proposal yang ini ataupun yang lainnya, namun suatu perpaduan pendekatan yang menarik perempuan ke aliran-utma semua proyek, komponen-komponen khusus perempuan dan memisahkan proyek-proyek dan program-program yang diarahkan semata-mata bagi perempuan. Suatu jangka waktu transisi diperlukan, yang selama itu, pendekatan ganda dari penarikan ke aliran-utama plus proyek-proyek khusus dan inisiatif yang ditargetkan langsung kepada perempuan, diperlukan untuk memudahkan peranserta sepenuhnya dan sejajar dari perempuan dalam pembangunan.