• Tidak ada hasil yang ditemukan

XI EVALUASI CAPAI AN SASARAN

Realisasi I ndikator Kinerja Utama

XI EVALUASI CAPAI AN SASARAN

Tabel 11.1

EVALUASI CAPAI AN SASARAN 11

“Meningkatnya Stabilitas Pertumbuhan Ekonomi Daerah”

No

I NDI KATOR KI NERJA UTAMA (I KU) SATU- AN Tahun 2011 CAPAI AN KI NERJA 2013 Tahun 2012 CAPAI AN KI NERJA 2014 Target Realisasi Target Realisasi

1 Pertumbuhan Ekonomi Daerah

% 7,81 7,95 101,79 9,29 10,52 86,66

Rata- rata Capaian I KU ( % ) 101,79 86,66

Kinerja Capaian Sasaran 101,79 86,66

No

I NDI KATOR KI NERJA UTAMA (I KU) SATU- AN Tahun 2013 CAPAI AN KI NERJA 2013 Tahun 2014 CAPAI AN KI NERJA 2014 Target Realisasi Target Realisasi

1 Pertumbuhan Ekonomi Daerah

% 7,82 7,90 101,79 9,29 8,05 86,66

Rata- rata Capaian I KU ( % ) 101,79 86,66

Kinerja Capaian Sasaran 101,79 86,66

Sebagai bagian dari wilayah Provinsi Nusa Tenggara Barat, Kota Mataram sedikit banyak pasti terpengaruh dengan situasi perekonomian provinsi dan perekonomian global. Perekonomian Kota Mataram pada tahun 2012 tumbuh sebesar 10,52 persen (dengan perhitungan tanpa Sub Sektor Perhubungan Udara) meningkat dibandingkan tahun 2011 yang hanya 7,95 persen. Pada tahun 2013 pertumbuhan ekonomi daerah berkisar 7,90% dikarenakan berpindahnya bandara dari Kota Mataram ke Lombok Tengah dan pada tahun 2014 pertumbuhan ekonomi daerah meningkat dibandingkan menjadi 8,05% (dengan perhitungan tanpa Sub Sektor Perhubungan Udara).

Dari sembilan sektor yang tercakup dalam pembentukan PDRB Kota Mataram, empat diantaranya mengalami pertumbuhan diatas rata-rata pertumbuhan PDRB. Sektor-sektor tersebut adalah sektor listrik, gas dan air bersih, sektor bangunan, sektor perdagangan, hotel dan restoran serta sektor keuangan,persewaan dan jasa perusahaan tahun 2014, sektor perdagangan, hotel dan restoran mengalami pertumbuhan yang paling tinggi yakni sebesar 13 persen dibandingkan dengan tahun 2013. Percepatan pertumbuhan sektor ekonomi daerah juga tidak lepas terlepas dari kontribusi sektor usaha kecil dan mikro. Pengembangan produk ekonomi produktif di Kota Mataram dapat menjadi salah satu pendongkrak pembentukan PDRB.

Bertambahnya jumlah penduduk, jumlah kawasan bisnis dan kawasan pemukiman akan berdampak pada kebutuhan akan listrik, dan air bersih. Hal ini mendorong sektor listrik, gas dan air bersih mampu menciptakan pertumbuhan nilai tambah bruto-nya sebesar 9,61 persen. Selain sektor bangunan dan listrik, pertumbuhan sektor sekunder juga didorong oleh pertumbuhan sektor industri pengolahan yang mencapai 7,22 persen pada tahun 2013.

Pemerintah Kota Mataram tidak bergerak sendiri untuk berkontribusi dalam peningkatan pertumbuhan ekonomi. Penggerak utama pertumbuhan adalah sektor privat atau swasta, fungsi Pemerintah adalah mengarahkan, memberikan ruang dan mengatur kebijakan ekonomi daerah. Dalam meningkatkan perkembangan positif pertumbuhan ekonomi sehingga target pertumbuhan ekonomi dicapai 7,83 persen, maka upaya yang dilakukan, diarahkan pada mempertahankan kondusivitas wilayah, membuka peluang investasi, menjamin keterbukaan usaha, dan memberikan kemudahan perijinan usaha, meningkatkan pemerataan pembangunan infrastruktur ekonomi, dan meningkatkan partisipasi

angkatan kerja, serta menumbuhkan usaha mikro kecil dan industri rumah tangga, dan membuka akses permodalan usaha.

XI I . EVALUASI CAPAI AN SASARAN 12

Tabel 12.1

EVALUASI CAPAI AN SASARAN 12

“Meningkatnya Efektivitas Pemenuhan Kebutuhan Pangan Daerah”

No I NDI KATOR KI NERJA UTAMA(I KU)

SATU-

AN TARGET

REALI SASI CAPAI AN

KI NERJA 2014 2011 2012 2013 2014

1 Ketersediaan dan

Cadangan Pangan % 100 90,00 95,00 148,26 171,78 126,26

2 Distribusi dan Akses

Pangan % 100 100,00 100,00 100,00 100,00 100,00

3 Cakupan Bina Kelompok

Petani % 100 55,00 63,00 70,00 85,00 68,35

4 Cakupan layanan

penyuluhan % 100 66,29 66,79 67,23 68,17 67,12

Rata-rata Capaian I KU ( % ) 90,44

Kinerja Capaian Sasaran 90,44

Grafik 12.1

Realisasi I ndikator Kinerja Utama

“ Meningkatnya efektifitas pemenuhan kebutuhan pangan daerah”

Berdasarkan tabel dan grafik menunjukan bahwa capaian kinerja I ndikator Ketersediaan dan Cadangan Pangan dilihat dari Ketersediaan Energi dan Protein, tahun 2014 mengalami peningkatan dengan presentase sebesar 23,52 % dari tahun 2013 sebesar 148,26% menjadi 171,78 % pada tahun 2014 dimana energi dan protein per kapita ( energi : 119,66% ) lebih tinggi 19,65 % dari target 100 % dan (Protein : 223,91 % ) lebih tinggi 123,91 % dari target 100% . Sementara realisasi ketersediaan informasi pasokan, harga dan akses pangan daerah, stabilitas harga dan pasokan pangan masing-masing sebesar 100 % dengan target 100% pada tahun 2014. Skor Pola Pangan Harapan (PPH) yang menjadi indikator kinerja telah mencapai 80,80 % dengan peningkatan 3,6 % dibandingkan tahun 2013 sebesar 77,20% . Pada tahun 2014, Kinerja Pengawasan dan pembinaan keamanan pangan mengalami penurunan sebesar 50% dibandingkan dengan tahun 2013 yang mencapai realisasi 100% . Hal ini

didasarkan dari hasil uji laboraturium yang dilaksanakan oleh Laboratorium MI PA Universitas Mataram terdapat 2 sampel produk segar yang terkontaminasi oleh polutan, walaupun masih berada dibawah ambang Batas Maksimum Residu (BMR) sesuai standar yang berlaku untuk dikonsumsi.

Peningkatan Cakupan bina kelompok petani dari tahun 2011 sebesar 30% dari tahun 2014 sebesar 85,00% yang disebabkan oleh peningkatan pelatihan tani dan agrobisnis, penyuluhan dan pendampingan petani dan pelaku agrobisnis, pembinaan dan pendampingan kelompok tani, pemberdayaan dan pendampingan keluarga tani miskin/ Gakin (Program peningkatan kesejahteraan petani).

Cakupan layanan penyuluhan pada tahun 2011 sebesar 66,29% meningkat pada tahun 2014 mencapai 68,17% , hal ini dikarenakan adanya peningkatan kapasitas kelembagaan Penyuluhan Tingkat Kota, Peningkatan kapasitas Balai Penyuluhan Kecamatan sebagai posko pelaksanaan pembangunan pertanian, dan peningkatan penumbuhan dan pemberdayaan penyuluh pertanian swadaya melalui Pos Penyuluhan Desa.

Ketersediaan Pangan adalah tersedianya pangan dari hasil produksi dalam negeri dan atau sumber lain. Ketersediaan pangan berfungsi menjamin pasokan pangan untuk memenuhi kebutuhan seluruh penduduk dari segi kuantitas, kualitas, keragaman dan keamanannya. Ketersediaan pangan dapat dipenuhi dari 3 sumber yaitu produk dalam negeri, pemasokan pangan, dan pengelolaan cadangan pangan. Salah satu rekomendasi forum Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi (WKNPG) ke VI I I tahun 2004 menetapkan tingkat ketersediaan energi sebesar 2.200 Kkal/ Kapita/ Hari dan protein 57,00 Gram/ Perkapita/ Perhari. Untuk Kota Mataram, ketersediaan Energi dan Protein Per kapita sudah lebih dari target yaitu sebesar (energi : 104,87 % ) lebih tinggi 4,87% dari target sebesar 100 % .

Permasalahan dan Solusi

Permasalahan yang dihadapi dalam evaluasi capaian sasaran meningkatnya efektifitas pemenuhan kebutuhan pangan daerah tahun 2011-2014 adalah:

1. Sosialisasi terhadap keamanan pangan yang dikonsumsi oleh masyarakat belum dilaksanakan secara intensif. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan upaya meningkatkan sosialisasi mengenai keamanan pangan,

2. Pelaksanaan program kegiatan ketahanan pangan perlu ditingkatkan sinergitasnya antar SKPD yang melaksanakan urusan Ketahanan Pangan. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan upaya meningkatkan koordinasi dan sinkronisasi program yang dilaksanakan dengan SKPD serumpun.

3. Terbatasnya kemampuan teknis tenaga penyuluh. Untuk melakukan hal tersebut dilakukan upaya peningkatan kapasitas tenaga penyuluh melalui diklat teknis.

XI I I . EVALUASI CAPAI AN SASARAN 13

Tabel 13.1

EVALUASI CAPAI AN SASARAN 13