Pengaruh Kualitas Pelayanan Dan Sanksi Perpajakan Terhadap Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan

80 

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH KUALITAS PELAYANAN DAN SANKSI PERPAJAKAN TERHADAP MOTIVASI WAJIB PAJAK MEMENUHI KEWAJIBAN PERPAJAKAN

(Survei Pada Wajib Pajak Orang Pribadi di KPP Pratama Bandung Karees)

THE EFFECT OF QUALITY SERVICE AND STRICT OF TAX PUNISHMENT TOWARDS THE MOTIVATION TO FULLFILL TAX OBLIGATION

(Survey on Individual Taxpayers in the KPP Pratama Bandung Karees)

Oleh :

Theresia Anggreni S. 21111089

PROGRAM STUDI AKUNTANSI, FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

(2)

2

ABSTRACT

Motivation Taxpayers Fulfill Obligations Taxation to calculate and pay their taxes correctly apparently not optimal. Judging when the Tax Office which examined three companies coal mining which allegedly did not report indicated annual tax notification letter correctly. The aim of research was conducted to analyze the results of the influence of service quality and motivation of tax penalties against taxpayers meet tax obligations.

Sampling was done using non-probability sampling technique Sampling Design is by using incidental sampling, with survey respondents as many as 100 individual taxpayers (WPOP). Data collected through questionnaires. Data were analyzed using a SEM analysis with PLS approach, calculators using SEM-PLS 2.0 program.

The results of this study the influence of service quality to fulfill the motivation of the taxpayer meet the tax obligations amounting effect to 20.139%. While the influence of tax penalties on the motivation of the taxpayer meet the tax obligations amounting to 8.547% effect. This study provides empirical evidence where the quality of service and tax penalties significant effect on the motivation of the taxpayer meet the tax obligations of private persons on KPP Pratama Bandung Karees.

Keywords: Quality of Service, Tax Penalties, Motivation Taxpayers Tax Compliance Obligations

I. PENDAHULUAN Latar Belakang

(3)

3

sebagian harta yang dimiliki rakyat kepada Negara dengan cuma-cuma, beberapa motivasi yang diberikan penguasa di Negara maju untuk rakyatnya dalam membayar pajak adalah slogan pay as you earn, membayar seperti diperoleh, diperkenalkan pada masa pemerintahan F.D Rooselvelt untuk memotivasi warga Amerika Serikat memenuhi kewajiban perpajakannya (Siti Kurnia Rahayu, 2010:10).

Menurut Direktorat Jenderal Pajak menyatakan bahwa pihaknya sedang memeriksa tiga perusahaan tambang batubara miliknya grup Bakrie yaitu PT. Bumi Resources Tbk (BUMI) dan PT. Kaltim Prima Coal (KPC) serta PT. Arutmin Indonesia (AI), yang diduga terindikasi tak melaporkan surat pemberitahuan tahunan pajak secara benar. “Nilainya kurang lebih Rp. 2,1 triliun”, kata Mochamad Tjiptardjo, Direktur Jenderal Pajak. Jumlah sebesar Rp. 2,1 trilyun itu terdiri dari PT. BUMI sebesar Rp. 376 miliar, dan PT. KPC sebesar Rp. 1,5 triliun, serta PT. AI sebesar Rp. 300 miliar. Adapun tahapan pemeriksaan terhadap ketiga perusahaan tersebut, PT. BUMI dan PT. KPC sudah masuk tahap penyidikan, sedangkan PT. AI baru dalam tahap pemeriksaan bukti permulaan. Demikian kabar yang sempat ramai diberitakan oleh media massa sekitar pertengahan bulan Desember tahun 2009 yang lalu, dimana pada saat itu waktunya bersamaan dengan Pansus DPR sedang dalam proses penyelidikan atas kasus Skandal Bailout Bank Century yang melibatkan uang negara senilai sekitar Rp. 6,7 trilyun. Selanjutnya entah karena sebab apa, serunya kabar tentang perkembangan kasus pajak grup Bakrie itu berangsur surut sejalan dengan surutnya kabar tentang perkembangan penyelesaiannya kasus Skandal Century. Padahal, sebagaimana diketahui menurut Undang-Undang Ketentuan Umum Perpajakan (KUP) jika suatu kasus pajak telah sampai pada penyidikan pidana, maka penghentian penyidikan atas kasus itu hanya bisa dilakukan oleh Jaksa Agung atas permintaan Menteri Keuangan, setelah wajib pajak mengakui kesalahannya dan membayar tunggakan pajak ditambah denda sebesar empat kali pajak terutang. Itu berarti, jika kasus ketiga perusahaan batubara milik grip Bakrie itu dianggap kurang bayar sebesar Rp. 2,1 triliun, maka pihak grup Bakrie hanya bisa menghentikan penyidikan itu jika membayar sebesar Rp. 10,5 triliun (Rifky Pradana, 2015).

(4)

4

bertanggung jawab, pelayanan pegawai pajak yang baik akan memberikan kenyamanan bagi wajib pajak, keramah tamahan petugas pajak dan kemudahan dalam sistem informasi perpajakan termasuk dalam pelayanan perpajakan tersebut (Jatmiko, 2006).

Tantangan terbesar dari para petugas pajak adalah memberikan pelayanan yang terbaik. Program yang sudah dijalankan di kantor-kantor pelayanan pajak seolah tak mendapat dukungan yang memadai. Sejatinya tujuan dari sebuah pelayanan hanyalah satu kata, kepuasan. Namun yang terlihat banyak terjadi di lapangan, meskipun secara fisik kantor tersebut sudah menarik tetapi pelayanan yang diberikan oleh petugasnya masih belum bisa disandingkan dengan pelayanan di bank misalnya. Menghubungi kantor pajak melalui telepon pun susahnya bukan main. Coba bandingkan dengan menghubungi informasi Telkom. Sumber daya yang ada seolah tak pernah memadai karena masih banyak kantor pelayanan yang kekurangan pegawai. Tahun 2010 Ditjen Pajak telah memrogramkan menambah jenis pelayanan unggulan dari tahun lalu yang berjumlah 8 jenis (Albert Aruan, 2010).

Selain pelayanan yang baik, motivasi wajib pajak dapat dipengaruhi oleh sanksi perpajakan, dimana sanksi merupakan bentuk hukuman yang diberikan kepada wajib pajak yang melakukan pelanggaran terhadap kewajiban perpajakan (Jatmiko,2006). Sanksi diperlukan untuk memberikan pelajaran dan mempunyai kesadaran bagi pelanggaran pajak agar patuh terhadap kewajiban pajak dengan demikian, diharapkan agar peraturan perpajakan dipatuhi oleh para wajib pajak, wajib pajak akan memenuhi kewajiban perpajakan apabila memandang bahwa sanksi perpajakan akan lebih banyak merugikan para wajib pajak (Thia Dwi Utami dan Kardinal, 2013).

(5)

5

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan suatu penelitian dengan judul ”Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Sanksi Perpajakan Terhadap Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan”.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang dapat diambil peneliti dalam uraian diatas adalah :

1. Seberapa besar pengaruh kualitas pelayanan terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan.

2. Seberapa besar pengaruh sanksi perpajakan terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan.

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui besarnya pengaruh kualitas pelayanan terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan.

2. Untuk mengetahui besarnya pengaruh sanksi perpajakan terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan.

Kegunaan Penelitian

Kegunaan ini diharapkan dapat mengembangkan ilmu akuntansi dan memecahkan masalah yang terdapat pada kajian penelitian yaitu mengenai pengaruh kualitas pelayanan dan sanksi perpajakan terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan.

Kegunaan Praktis

1. Bagi Kantor Pelayanan Pajak (KPP)

(6)

6 2. Bagi Direktorat Jenderal Pajak (DJP)

Diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelayanan dan sanksi perpajakan terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan dan menjadi masukan bagi pihak Direktorat Jenderal Pajak tersebut.

Kegunaan Akademis

1. Bagi Pengembangan Ilmu

Hasil penelitian sebagai pengembangan ilmu akuntansi terutama dalam bidang perpajakan, melalui pembuktian empiris dari konsep-konsep yang telah dikaji yaitu hasil-hasil penelitian sebelumnya dan teori-teori yang telah ada mengenai pengaruh kualitas pelayanan dan sanksi perpajakan terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan.

2. Bagi Peneliti

Untuk membantu peneliti dalam memahami penerapan disiplin ilmu akuntansi perpajakan yang diperoleh dari perkuliahan dan memperhitungkan tingkat persaingan dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh tuntutan profesi mengenai pengaruh kualitas pelayanan dan sanksi perpajakan terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan.

3. Bagi Peneliti Selanjutnya

Diharapkan dapat memberi pengetahuan dan dapat dijadikan referensi atau

tambahan informasi yang diperlukan untuk pengembangan pengetahuan lebih lanjut mengenai pengaruh kualitas pelayanan dan sanksi perpajakan terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajjiban perpajakan.

II. KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS Kajian Pustaka

Pengertian Kualitas Pelayanan

(7)

7

Indikator Kualitas Pelayanan

Pengukuran kinerja pelayanan dapat dilakukan dengan menggunakan instrumen kinerja pelayanan yang telah dikembangkan Zeithaml, Parasuraman, dan Berry, dalam Ratminto, 1999 yang kemudian dikutip kembali oleh Hessel Nogi (2007:219), yaitu:

1. Kesopanan (Courtesy)

2. Akses (Access)

3. Komunikasi (Communication)

4. Pengertian (Understanding the Costumer) Pengertian Sanksi Perpajakan

Menurut Erly Suandi (2013:L-1), Sanksi pajak merupakan Jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati/dipatuhi. Atau bisa dengan kata lain sanksi pajak merupakan alat pencegah (preventif) agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan.

Indikator Sanksi Perpajakan

Menurut Adam Smith dalam Soemitro (2010:68) Sanksi Perpajakan adalah sebagai berikut :

1. Sanksi yang diberikan kepada wajib pajak harus jelas dan tegas.

2. Sanksi perpajakan tidak mengenal kompromi (not arbitrary), tidak ada toleransi.

3. Sanksi yang diberikan hendaklah seimbang.

4. Hendaknya sanksi yang diberikan langsung memberikan efek jera. Pengertian Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan

(8)

8

Indikator Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan

Menurut Santrock (2009:204), bahwa indikator-indikator pada Motivasi Pajak adalah:

1. Dorongan untuk mendaftarkan dari untuk memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP)

2. Dorongan untuk melaksanakan setoran pajak

3. Dorongan untuk melaksanakan pembukuan

4. Dorongan untuk melaksanakan pemeriksaan

Kerangka Pemikiran

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan

Tidak dapat dipungkiri bahwa pelayanan konsumen merupakan bagian penting dalam strategi pemasaran. Marketing sering disebut sebagai aktivitas marketing mix atau yang sering dikenal dengan 4P yaitu Product, price, place, dan promotion. Tidak mudah mengidentifikasi motivasi pelanggan maka salah satu caranya adalah memuat pelayanan konsumen. (Tiptono dalam Hassel Nogi, 2007:66).

Pengaruh Sanksi Perpajakan Terhadap Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan

(9)

9

Berdasarkan uraian diatas, peneliti menuangkan kerangka pemikirannya dalam bentuk skema paradigma penelitian adalah sebagai berikut:

Daulat Fredy, (2013) Hassel Nogi, (2007:66)

Daulat Fredy, (2014)

Gatot S, M. Faisal, 2009:37

Gambar 2.1 Paradigma Penelitian

Hipotesis

Menurut Sugiyono (2012:64) menjelaskan tentang hipotesis adalah sebagai berikut: “Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empirik

Berdasarkan pada kerangka berpikir di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(10)

10

Hipotesis 2 : Terdapat pengaruh Sanksi Perpajakan terhadap Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan.

III. METODOLOGI PENELITIAN Metode Penelitian

Metode penelitan menurut Sugiyono (2012:2) adalah sebagai berikut :

“Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian ini didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis”.

Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan verifikatif. Dengan menggunakan metode penelitian akan diketahui pengaruh atau hubungan yang signifikan antara variabel yang diteliti sehingga menghasilkan kesimpulan yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti.

Operasionalisasi Variabel

Menurut Umi Narimawati, dkk. (2010:31),pengertian operasional variabel adalah sebagai berikut:

“Operasionalisasi Variabel adalah proses penguraian variabel penelitian ke dalam sub variabel, dimensi, indikator sub variabel, dan pengukuran. Adapun syarat penguraian operasionalisasi dilakukan bila dasar konsep dan indikator masing-masing variabel sudah jelas, apabila belum jelas secara konseptual maka perlu dilakukan analisis faktor”. Menurut Sugiyono (2012:38), variabel penelitian didefinisikan sebagai berikut:

(11)

11

Dalam operasionalisasi variabel ini, semua variabel diatas menggunakan konsep skala ordinal, yaitu baik variabel indepandent (X1) dan (X2) dan variabel dependent (Y) menggunakan skala ordinal. Pengertian dari skala ordinal menurut Sugiyono (2009) adalahsebagai berikut:

“Skala ordinal, adalah skala yang berjenjang dimana sesuatu lebih atau kurang dari yang lain. Data yang diperoleh dari pengukuran dengan skala ini disebut dengan data ordinal yaitu data yang berjenjang yang jarak antara satu data dengan yang lain tidak sama.” Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian yaitu data primer. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan data primer yang mencakup semua data yang langsung diperoleh dari responden yang belum diolah.

1. Data Primer

Data Primer menurut Sugiyono (2012:137) adalah sebagai berikut :

“Sumber primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data”.

Pengumpulan data primer dalam penelitian ini melalui cara menyebarkan kuesioner dan melakukan wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang berhubungan dengan penelitian yaitu pada Wajib Pajak yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Karees. Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis untuk mendapatkan dan mengumpulkan data adalah menggunakan metode survey.

Populasi dan Penarikan Sampel Populasi

(12)

12

Penarikan Sampel

Responden dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak Orang Pribadi pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Karees. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 65.465 orang Wajib Pajak Orang Pribadi. Penarikan sampel dilakuan dengan menggunakan teknik penarikan

Nonprobability Sampling Design yaitu dengan menggunakan sampling incidental. Menurut Sugiyono (2010:218) Nonprobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Metode Pengumpulan Data

Penelitian ini menggumpukan data secara primer dengan menyebarkan kuisioner, dari data yang diperoleh dari responden maka perlu dilakukan uji kebenaranya. Untuk menguji kebenaran dan kesungguhan dari jawaban responden diperlukan pengujian yaitu Uji Validitas dan Uji Reabilitas.

Uji Validitas

Menurut Cooper yang dikutip Umi Narimawati, dkk. (2010:42), validitas didefinisikan sebagai berikut:

Validity is a characteristic of measurement concerned with the extent that a test measures what the researcher actually wishes to measure”.

Menurut Sugiyono (2012:2), validitas didefinisikan sebagai berikut:

“Valid adalah menunjukkan derajat ketepatan antara data yang sesungguhya terjadi pada obyek dengan data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti”.

Uji Reliabilitas

Menurut Cooper yang dikutip oleh Umi Narimawati, dkk. (2010:43), realibitas adalah sebagai berikut:

(13)

13 Metode Pengujian Data

A.Analisis Deskriptif

Menurut Sugiyono (2010:44) menerangkan bahwa analisis deskriptif (kualitatif) adalah sebagai berikut:

“Metode penelitian deskriptif (kualitatif) itu dilakukan secara intensif, peneliti ikut berpartisipasi lama di lapangan, mencatat secara hati-hati apa yang terjadi, melakukan analisis reflektif terhadap berbagai dokumen yang ditemukan dilapangan, dan membuat laporan penelitian secara mendetail.”

B.Analisis Verifikatif

Menurut Sugiyono (2010:8) menjelaskan bahwa analisis verifikatif (kuantitatif) adalah sebagai berikut:

“Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.”

Analisis verifikatif dalam penelitian ini dengan menggunakan alat uji statistik yaitu dengan uji persamaan strukturan berbasis variance atau yang lebih dikenal dengan nama Partial Least Square (PLS) menggunakan software SmartPLS 2.0.

Menurut Imam Ghozali (2006:1), metode Partial Least Square (PLS) dijelaskan sebagai berikut:

“Model persamaan strukturan berbasis variance (PLS) mampu menggambarkan variabel laten (tak terukur langsung) dan diukur menggunakan indikator-indikator (variable manifest)”.

(14)

14

lebih terperinci indikator-indikator dari variabel laten yang merefleksikan paling kuat dan paling lemah variabel laten yang mengikutkan tingkat kekeliruannya.

Beberapa istilah umum yang berkaitan dengan SEM menurut Hair et al (1995), diuraikan sebagai berikut:

a) Konstruk Laten

Pengertian konstrak adalah konsep yang membuat peneliti mendefinisikan ketentuan konseptual namun tidak secara langsung (bersifat laten), tetapi diukur dengan perkiraan berdasarkan indikator. Konstruk merupakan suatu proses atau kejadian dari suatu amatan yang diformulasikan dalam bentuk konseptual dan memerlukan indikator untuk memperjelasnya.

b) Variabel Manifest

Pengertian variabel manifest adalah nilai observasi pada bagian spesifik yang dipertanyakan, baik dari responden yang menjawab pertanyaan (misalnya, kuesioner) maupun observasi yang dilakukan oleh peneliti. Sebagai tambahan, Konstrak laten tidak dapat diukur secara langsung (bersifat laten) dan membutuhkan indikator-indikator untuk mengukurnya. Indikator-indikator tersebut dinamakan variabel manifest. Dalam format kuesioner, variabel manifest tersebut merupakan item-item pertanyaan dari setiap variabel yang dihipotesiskan.

c) Variabel Eksogen, Variabel Endogen, dan Variabel Error

Variabel eksogen adalah variabel penyebab, variabel yang tidak dipengaruhi oleh variabel lainnya. Variabel eksogen memberikan efek kepada variabel lainnya. Dalam diagram jalur, variabel eksogen ini secara eksplisit ditandai sebagai variabel yang tidak ada panah tunggal yang menuju kearahnya. Variabel endogen adalah variabel yang dijelaskan oleh variabel eksogen. Variabel endogen adalah efek dari variabel eksogen. Dalam diagram jalur, variabel endogen ini secara eksplisit ditandai oleh kepala panah yang menuju kearahnya.

(15)

15 1) Merancang Model Pengukuran

Model pengukuran (outer model) adalah model yang menghubungkan variabel laten dengan variabel manifest. Untuk variabel laten hukum pajak terdiri dari 4 variabel manifest, kemudian untuk variabel laten sanksi administrasi terdiri dari 3 variabel manifest, dan untuk variabel laten kepatuhan wajib pajak terdiri dari 3 variabel manifest.

2) Merancang Model Struktural

Model struktural (inner model) pada penelitian ini terdiri dari dua variabel laten eksogen (hukum pajak dan sanksi administrasi) dan satu variabel laten endogen (kepatuhan wajib pajak).

Inner model yang kadang disebut juga dengan inner relation structural model dan substantive theory, yaitu untuk menggambarkan pengaruh antar variabel laten berdasarkan pada substantive theory, dengan model persamaannya dapat ditulis seperti di bawah ini:

�= Σ � + Σ ��� + �

Sumber: Imam Ghozali (2006:22)

Dimana dan � adalah koefisien jalur yang menghubungkan prediktor endogen dan variabel laten eksogen � dan � sepanjang range indeks i dan b dan � adalah inner residual

variabel.

3) Membangun Diagram Jalur

(16)

16 4) Uji Kecocokan Model (Goodness of Fit)

Uji kecocokan model pada Structural Equation Modelin melalui pendekatan Partial Least Square terdiri dari tiga jenis pengujian model, yaitu uji kecocokan model pengukuran, uji kecocokan model struktural, dan uji kecocokan seluruh model/model gabungan.

Pengujian Hipotesis

Untuk menguji hipotesis penelitian secara parsial dilakukan melalui uji hipotesis statistik sebagai berikut :

H0 : γ1.1 = 0 : Pengaruh ξ terhadap η tidak signifikan H1 : γ 1.1 ≠ 0 : Pengaruh ξ terhadap η signifikan H1 : γ 2.1 = 0 : Pengaruh ξ terhadap η tidak signifikan H1 : γ 2.1 ≠ 0 : Pengaruh ξ terhadap η signifikan Statistik uji yang digunakan adalah :

t = ў31 SE(ў31)

Tolak Ho jika thitung > tabel pada taraf signifikan. Dimana ttabel untuk α = 0,1 sebesar 1,645 Pengujian secara parsial

Hipotesis :

H01 ; γ1.1 = 0, kualitas pelayanan tidak berpengaruh terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan.

H11 ;γ1.1 ≠ 0, kualitas pelayanan berpengaruh terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan.

H02 ;γ2.1 = 0, sanksi perpajakan tidak berpengaruh terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan.

H12 ;γ2.1 ≠ 0, sanksi perpajakan berpengaruh terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan.

Kriteria Pengujian :

(17)

17

Jika t hitung ≤ t tabel (1,645) maka H0 diterima, berarti Ha ditolak

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pengaruh Kualitas Pelayanan Terhadap Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan

Kualitas Pelayanan terhadap Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan menunjukan bahwa kualitas pelayanan memberikan pengaruh sebesar 17,99%, serta tstatistik untuk variabel X1 diperoleh sebesar 3,557. Nilai tersebut lebih besar dari 1,645 (Yamin dan Kurniawan,2011 dalam Uce Indahyanti,2013), sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan menerima Ha, artinya bahwa kualitas pelayanan terbukti berpengaruh terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Karees.

Berdasarkan fenomena yang disampaikan oleh Albert Aruan (2010), yang mengatakan bahwa kualitas pelayanan belum berjalan dengan baik karena masih banyak wajib pajak yang mengeluh menghubungi kantor pajak melalui layanan telepon sangat sulit (Albert Aruan, 2010).

Pengaruh Sanksi Pepajakan Terhadap Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan

Sanksi Perpajakan terhadap Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan menunjukan bahwa sanksi perpajakan memberikan pengaruh sebesar 32,96%, serta tstatistik untuk variabel X2 diperoleh sebesar 5,629. Nilai tersebut lebih besar dari 1,645 (Yamin dan Kurniawan,2011 dalam Uce Indahyanti,2013), sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 ditolak dan menerima Ha, artinya bahwa sanksi perpajakan terbukti berpengaruh terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Karees.

(18)

18 V. KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Berdasarkan hasil fenomena, kerangka pemikiran, operasional variabel, hasil analisis data dan pembahasan mengenai pengaruh hukum pajak dan sanksi administrasi terhadap kepatuhan wajib pajak orang pribadi di KPP Pratama Bandung Karees, peneliti menarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Kualitas pelayanan terbukti berpengaruh terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Karees. Kualitas pelayanan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Karees secara umum berada dalam kategori cukup baik. Terkait masalah yang terjadi di dalam fenomena yang ada yaitu sulitnya menghubungi kantor pajak melalui layanan telepon. Masalah kualitas pelayanan tersebut ditandai dengan:

a) Tidak mudahnya wajib pajak menghubungi kantor pajak melalui layanan telepon. b) Kurangnya pegawai untuk melayani wajib pajak melalui layanan telepon.

c) Banyak wajib pajak yang sibuk sehingga untuk mendapatkan informasi tidak perlu datang kekantor pajak melainkan dengan memakai layanan telepon.

2. Sanksi perpajakan terbukti berpengaruh terhadap motivasi wajib pajak memenuhi kewajiban perpajakan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Karees. Sanksi perpajakan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Karees secara umum berada dalam kategori cukup baik. Terkait masalah yang terjadi di dalam fenomena yang ada yaitu masih kurang tegasnya sanksi yang diberikan karena masih banyak oknum-oknum (petugas pajak) yang melanggar sanksi, sehingga membuat wajib pajak kurang termotivasi untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya. Masalah sanksi perpajakan tersebut ditandai dengan :

a) Kurang tegasnya sanksi yang diberikan kepada wajib pajak

(19)

19 Saran

Setelah penulis memberikan kesimpulan dari hasil penelitian tentang Pengaruh Kualitas Pelayanan dan Sanksi Perpajakan terhadap Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Karees, maka penulis akan memberikan saran sebagai berikut:

1. Kualitas pelayanan pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Karees masih tergolong cukup baik. Hanya saja jika dilihat dari segi akses masih kurang, hal ini disebabkan layanan melalui telepon dirasa masih tidak mudah untuk digunakan. Banyak wajib pajak yang mengeluh akan hal tersebut. Oleh sebab itu akses dibidang pelayanan pajak harus lebih ditingkatkan karena sangat berpengaruh terhadap motivasi wajib pajak dengan cara menyediakan pegawai khusus untuk menerima layanan telepon sehingga fenomena tersebut dapat teratasi dengan baik.

(20)

20

DAFTAR PUSTAKA

Candra Dewi Puspitasari. Mendorong Tingkat Kepatuhan Pajak Melalui Penegakkan Hukum Terhadap Aparat pajak

Catur Ibnu Handoyo. Pengaruh Penerapan Hukum Pajak dan Sanksi Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak OP Pada KPP Pratama Bandung Tegalega

Farisya Widya Agustina. 2008. Pengaruh Sikap, Norma Subjektif, dan Kewajiban Moral Terhadap Tindakan Wajib Pajak Pribadi Di KPP Serpong

Gatot S.M. Faisal. 2009. How To Be A Smarter Taxpayer (Bagaimana Menjadi Wajib Pajak yang Lebih Cerdas). Jakarta: Grasindo

Harian Analisa,16 Februari 2010

Hengky Latan, Imam Ghozali. 2009. Konsep, Teknik dan Aplikasi SmartPLS 2.0. Yogyakarta : Badan Penerbit Universitas Diponegoro

Investor Daily Indonesia, 19 September 2008

Jatmiko, Nugroho Agus. 2006. Pengaruh Sikap Wajib Pajak pada pelaksanaan Sanksi Denda, Pelayanan Fiskus dan Kesadaran Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak (Studi Empiris Terhadap Wajib Pajak Orang Pribadi di Semarang)

(21)

21

Ken Devos. 2004. Penalties and Sanctions for Taxation Offences in Anglo Saxon Countries : Implications for Tax Payer Compliance and Tax Policy.

Liberti Pandingan. 2014. Administrasi Perpajakan. Jakarta : Erlangga

Ni Ketut Muliari. PENGARUH PERSEPSI TENTANG SANKSI PERPAJAKAN DAN KESADARAN WAJIB PAJAK PADA KEPATUHAN PELAPORAN WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI DI KANTOR PELAYANAN PAJAK PRATAMA DENPASAR TIMUR

Nugent David A., Morris Robert, 2013. Legisting Morality: The Effects Of Tax Law Complexity On Taxpayers’ Attitudes. September-Oktober 2013, Vol. 29 No.5

Risky Riyanda Rama Putra,. 2014. Pengaruh Sanksi Administrasi Perpajakan dan Kesadaran Wajib Pajak Terhadap Kepatuhan Penyampaian SPT Tahunan Wajib Pajak Orang Pribadi di Kota Malang. Vol. 1 No. 1 Tahun 2014

Ruhul Fitros, 2014. Pengaruh tingkat kepuasan pelayanan, pemahaman perpajakan, keadilan perpajakan, sanksi perpajakan dan kesadaran perpajakan terhadap tingkat kepatuhan wajib pajak orang pribadi pada kpp pratama senapelan Pekanbaru

Soemarso S.R. 2007. Perpajakan “Pendekatan Komprehensif”. Jakarta: Salemba Empat

Sri Rahayu. 2009. Pengaruh Modernisasi Sistem Administrasi Perpajakan terhadap Sikap Wajib Pajak Badan pada KPP Pratama Bandung. Jurnal Akuntansi. Vol. 1, No. 2: 119-138

Sri Putri Tita Mutia. 2013. Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Orang Pribadi pada KPP Pratama Palembang Seberang Ulu.

(22)

22

Syofrin Syofran, Asyhar Hidayat. 2004. Hukum Pajak & Permasalahannya. Bandung : PT. Refika Aditama

Titik Triwulan Tutik. 2006. Pengantar Ilmu Hukum. Yogyakarta: Graha Ilmu

Thia Dwi Utami. Pengaruh Kesadaran Wajib Pajak dan Sanksi Pajak Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak OP Pada KPP Pratama Palembang

Wirawan B. Ilyas, 2011. Kontradiktif Sanksi Pidana Dalam Hukum Pajak. JURNAL HUKUM NO. 4 VOL. 18 OKTOBER 2011: 525 – 542

Y. Sri Pudyatmoko.2014. Pengantar Hukum Pajak. Yogyakarta: Graha Ilmu

(23)

23 LAMPIRAN

Model SEM PLS

(24)
(25)
(26)

11

BAB II

KAJIAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN DAN HIPOTESIS

2.1 Kajian Pustaka

Dalam setiap melakukan penelitian diharuskan menjabarkan secara rinci

dari setiap variabel yang berhubungan dengan penelitian yang dilakukan agar

dapat dipahami secara jelas dan mudah. Serta keterkaitan dari satu variabel

dengan variabel lain yang dibuktikan secara teori.

2.1.1 Kualitas Pelayanan

2.1.1.1 Pengertian Kualitas

Menurut Garvin yang dikutip Tjiptono (2012:143) bahwa terdapat lima

perspektif mengenai kualitas, salah satunya yaitu bahwa kualitas dilihat

tergantung pada orang yang menilainya, sehingga produk yang paling memuaskan

preferensi seseorang merupakan produk yang berkualitas paling tinggi.

Menurut Goeth and Davis yang dikutip Tjiptono (2012:51) bahwa kualitas

merupakan:

“Suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia,

proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan”.

Sedangkan menurut J. Supranto (2006:226) bahwa kualitas merupakan:

“Sebuah kata yang bagi penyedia jasa merupakan sesuatu yang harus

(27)

12

Dari pengertian diatas maka dapat dikatakan bahwa, Kualitas merupakan

kondisi dinamis yang berhubungan dengan jasa yang memenuhi tingkat pelayanan

yang sesuai dengan ekspektasi pelanggan.

2.1.1.2 Pengertian Pelayanan

Menurut Boediono (2003:60) bahwa pelayanan merupakan:

“Suatu proses bantuan kepada orang lain dengan cara tertentu yang

memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal agar terciptanya

kepuasan dan keberhasilan”.

Melalui surat edaran Direktur Jendral Pajak No. SE-45/PJ/2007 ditegaskan

mengenai pelayanan merupakan:

“Sentra dan indikator utama untuk membangun citra DJP, sehingga kualitas pelayanan harus terus menerus ditingkatkan dalam rangka mewujudkan harapan dan membangun kepercayaan Wajib Pajak terhadap

DJP”.

Dari pengertian diatas maka dapat dikatakan bahwa, Pelayanan adalah

suatu proses bantuan kepada orang lain dengan cara tertentu untuk membangun

citra suatu perusahaan yang membutuhkan kepekaan agar terciptanya suatu

kepuasaan dan membangun kepercayaan.

2.1.1.3 Pengertian Kualitas Pelayanan

Menurut Boediono (2003:60) bahwa kualitas pelayanan merupakan:

“Suatu proses bantuan kepada wajib pajak dengan cara-cara tertentu yang

memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal agar terciptanya

(28)

13

Sedangkan menurut Lewis and Booms dalam Tjiptono dan Chandra

(2011:180) bahwa kualitas pelayanan merupakan:

“Ukuran seberapa bagus tingkat layanan yang diberikan mampu terwujud

sesuai harapan pelanggan”.

Dari pengertian diatas maka dapat dikatakan bahwa, Kualitas Pelayanan

adalah proses bantuan kepada wajib pajak secara menyeluruh dengan cara-cara

tertentu agar terwujud sesuai harapan pelanggan.

2.1.1.4 Konsep Kualitas Pelayanan

Menurut Wolkins (dalam Tjiptono, 2002) bahwa pelayanan publik kepada

masyarakat akan dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan, apabila

faktor-faktor pendukungnya cukup memadai serta dapat difungsikan secara berhasil guna

dan berdaya guna.

2.1.1.5 Indikator Kualitas Pelayanan

Pengukuran kinerja pelayanan dapat dilakukan dengan menggunakan

instrumen kinerja pelayanan yang telah dikembangkan Zeithaml, Parasuraman,

dan Berry, dalam Ratminto, 1999 yang kemudian dikutip kembali oleh Hessel

Nogi (2007:219), ada sebelas indikator kinerja pelayanan, yaitu:

1. Kenampakan fisik (Tangible), yaitu segala bukti fisik seperti pegawai, fasilitas, peralatan, tampilan fisik dari pelayanan misalnya kartu kredit plastik.

2. Reliabilitas (Reliability) yang mencakup konsistensi kerja

(performance) dan kemampuan untuk dipercaya (dependability). Hal ini

berarti perusahaan memberikan pelayanannya secara tepat sejak awal (right the first time) dan telah memenuhi janji (iklan)nya.

(29)

14

4. Kompetensi (Competence), artinya setiap pegawai perusahaan memiliki pengetahuan dan keterampilan yaitu kemauan atau kesiapan para pegawai untuk memberikan pelayanan yang dibutuhkan pelanggan. 5. Kesopanan (Courtesy), yaitu sikap sopan santun, respek, perhatian, dan

keramahan dari para kontak personal perusahaan.

6. Kredibilitas (Credibility), yaitu jujur dan dapat dipercaya. Disini menyangkut nama dan reputasi perusahaa, karakteristik pribadi, kontak personal, dan interaksi dengan pelanggan.

7. Keamanan (Security), yaitu aman (secara fisik, finansial dan kerahasiaan) dari bahaya, resiko atau keragu-raguan.

8. Akses (Access), yaitu kemudahan untuk dihubungi atau ditemui, yang berarti lokasi fasilitas pelayanan mudah dijangkau, waktu menunggu tidak terlalu lama, saluran komunikasi mudah dihubungi.

9. Komunikasi (Communication), yaitu memberikan informasi yang dapat dipahami pelanggan serta selalu mendengarkan saran dan keluhan pelanggan.

10.Pengertian (Understanding the Costumer), yaitu upaya untuk memahami kebutuhan pelanggan.

11.Akuntabilitas (Accountability), yaitu sebuah kewajiban melaporkan dan bertanggungjawab atas keberhasilan ataupun kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam mencapai hasil yang telah ditetapkan sebelumnya, lewat media pertanggungjawaban yang dilakukan secara berkala.

Dari penjelasan tersebut, yang menjadi indikator untuk variabel Kualitas

Pelayanan (X1) dalam penelitian ini ialah :

1. Kesopanan (Courtesy);

2. Akses (Access);

3. Komunikasi (Communication);

4. Pengertian (Understanding the Costumer).

2.1.2 Sanksi Perpajakan

Menurut Gatot S. M Faisal (2009:37) dari sudut pandang yuridis, pajak

memang mengandung unsur pemaksaan. Artinya, jika kewajiban perpajakan tidak

dilaksanakan, maka ada konsekuensi hukum yang bisa terjadi. Konsekuensi

(30)

15

2.1.2.1 Pengertian Sanksi Perpajakan

Menurut Erly Suandi (2013:L-1) bahwa sanksi pajak merupakan:

“Jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati/dipatuhi. Atau bisa dengan kata lain sanksi pajak merupakan alat pencegah (preventif) agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan”.

Sedangkan menurut Mardiasmo (2009:57) bahwa sanksi pajak merupakan:

“Jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati/dipatuhi. Atau bisa dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah (preventif) agar Wajib Pajak tidak melanggar norma perpajakan”.

Dari beberapa pengertian di atas, maka secara umum dapat didefinisikan

bahwa sanksi pajak adalah peraturan perundang-undangan perpajakan yang

merupakan alat pencegah agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan

sehingga dapat berdampak pada kepatuhan dan kesadaran untuk memenuhi

kewajiban perpajakannya.

2.1.2.2 Konsep Sanksi Perpajakan

Menurut Siti Kurnia Rahayu dan Ely Suhayati (2013:87) bahwa konsep

sanksi perpajakan:

“Sanksi administrasi dapat dijatuhkan apabila wajib pajak melakukan pelanggaran, terutama atas kewajiban yang ditentukan dalam UU KUP dapat berupa sanksi administrasi bunga, denda, kenaikan. Sedangkan sanksi pidana dapat berupa hukuman kurungan dan hukuman penjara”.

2.1.2.3 Indikator Sanksi Perpajakan

Menurut Adam Smith dalam Soemitro (2010:68) bahwa indikator

ketegasan sanksi perpajakan sebagai berikut:

(31)

16

2) Sanksi perpajakan tidak mengenal kompromi (not arbitrary), tidak

ada toleransi.

3) Sanksi yang diberikan hendaklah seimbang.

4) Hendaknya sanksi yang diberikan langsung memberikan efek jera.

Menurut Adam Smith dalam Soemitro (2010:68) bahwa, dari indikator

diatas dapat diambil kesimpulan:

“Jika wajib pajak melakukan pelanggaran maka harus diberikan sanksi

yang tegas yang tidak mengenal toleransi dan seimbang sehingga dapat

memberikan efek jera pada wajib pajak yang melanggar”.

2.1.3 Motivasi Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan

2.1.3.1Pengertian Motivasi

Istilah Motivasi (mothivation) berasal dari bahasa latin yakni “movere

yang berarti “dorongan: atau daya “penggerak”. Menurut Muhamad Ali yang

dikutip oleh Arep dan Tanjung (2003) bahwa motivasi merupakan:

“Motif diartikan sebagai sebab-sebab yang menjadi dorongan tindakan seseorang; dasar pemikiran dan pendapatsesuatu yang menjadi pokok. Lalu, disempurnakan menjadi motivasi adalah sesuatu yang pokok, yang menjadi dorongan seseorang untuk bekerja”.

Menurut Moenir (2010:136) bahwa motivasi merupakan:

“Rangsangan dari luar dalam bentuk benda atau bukan benda yang dapat

menumbuhkan dorongan pada orang untuk memiliki, menikmati,

menguasai, atau mencapai benda/bukan benda tersebut”.

Sedangkan dalam kutipan Harsuko Riniwati (2011:40) bahwa motivasi

(32)

17

“Kesediaan untuk mengeluarkan tingkat upaya yang tinggi ke arah tujuan

organisasi, yang dikondisikan oleh kemampuan upaya itu untuk memenuhi

sesuatu kebutuhan individual”.

Dari beberapa pengertian di atas, maka secara umum dapat didefinisikan

bahwa motivasi adalah suatu proses psikologis yang mencerminkan interaksi

antara sikap, kebutuhan, persepsi, keputusan yang dapat menggerakan seseorang

dalam melaksanakan suatu aktivitas.

2.1.3.2Pengertian Wajib Pajak

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 Pasal 1 ayat 2 mendefinisikan

Wajib pajak adalah Orang pribadi atau Badan, meliputi pembayaran pajak,

pemotongan pajak, dan pemungutan pajak yang mempunyai hak dan kewajiban

perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2.1.3.3Konsep Motivasi Wajib Pajak

Menurut Siti Kurnia Rahayu (2010:10) bahwa:

“Memberikan motivasi atau dorongan kepada rakyat untuk ikhlas

membayar pajaknya adalah sesuatu yang harus dilakukan, karena

membayar pajak merupakan tindakan pemberian sebagian harta yang

dimiliki rakyat kepada negara dengan cuma-cuma”.

2.1.3.4Indikator Motivasi Wajib Pajak

Menurut Santrock (2009:204) bahwa indikator-indikator pada Motivasi

Pajak terdiri dari:

1) Intriastik, Motivasi Intriastik adalah motif yang menjadi aktif atau

(33)

18

a) Dorongan untuk mendaftarkan dari untuk memiliki Nomor Pokok

Wajib Pajak (NPWP)

b) Dorongan untuk melaksanakan menghitung dan membayar

sendiri pajak dengan benar

2) Ekstrisik, Motivasi Ekstrisik adalah motif yang menjadi aktif karena

adanya rangsangan dari luar.

a) Dorongan untuk melaksanakan pembukuan. Menyelenggarakan

pembukuan dan pencatatan atau dokumen.

b) Dorongan untuk melaksanakan Pemeriksaan. Memperlihatkan

dan/atau meminjamkan buku atau catatan, dokumen yang menjadi

dasarnya dan dokumen lain yang berhubungan dengan

penghasilan yang diperole, kegiatan usaha, pekerjaan bebas wajib

pajak, atau objek terutang.

Berdasarkan indikator diatas dalam penelitian ini penulis menggunakan

indikator yaitu: Dorongan untuk mendaftarkan dari untuk memiliki Nomor Pokok

Wajib Pajak (NPWP), Dorongan untuk melaksanakan setoran pajak, Dorongan

untuk melaksanakan pembukuan dan Dorongan untuk melaksanakan pemeriksaan.

2.2 Kerangka Pemikiran

2.2.1 Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Motivasi Wajib Pajak

Memenuhi Kewajiban Perpajakan

Menurut Tiptono dalam Hessel Nogi (2007:66) bahwa:

(34)

19

price, place, dan promotion. Tidak mudah mengidentifikasi motivasi

pelanggan maka salah satu caranya adalah memuat pelayanan konsumen”.

Sedangakan menurut penelitian yang dilakukan oleh Daulat Freddy

(2013) bahwa:

“Kualitas pelayanan berpengaruh signifikan terhadap motivasi wajib pajak

dalam memenuhi kewajiban pajak. Jadi kualitas dapat meningkatkan

motivasi wajib pajak dalam memenuhi kewajiban pajak”.

Berdasarkan teori penghubung dan hasil penelitian terdahulu maka dapat

dikatakan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh terhadap motivasi wajib pajak

dalam memenuhi kewajiban perpajakan.

2.2.2 Pengaruh Sanksi Perpajakan terhadap Motivasi Wajib Pajak

Memenuhi Kewajiban Perpajakan

Menurut Gatot S, M Faisal (2009:37) bahwa:

“Dilihat dari aspek yuridis, pajak mengandung unsur pemaksaan. Artinya, jika kewajiban perpajakan tidak dilaksanakan, maka ada konsekuensi hukum yang bisa terjadi. Konsekuensi hukum tersebut adalah pengenaan sanksi-sanksi perpajakan. Pengenaan sanksi perpajakan, pada hakekatnya, bukan tujuan utama perpajakan. Walaupun ada potensi penerimaan negara pada setiap sanksi, namun motivasi penerapan sanksi adalah agar wajib pajak patuh melaksanakan kewajiban perpajakannya. Sanksi-sanksi perpajakan dirancang untuk memaksa wajib pajak membayar pajak serta memenuhi hak dan kewajiban perpajakan lainnya”.

Sedangkan berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Daulat Freddy

(2014) bahwa:

“Sanksi perpajakan berpengaruh signifikan terhadap motivasi wajib pajak

(35)

20

Berdasarkan teori penghubung dan hasil penelitian terdahulu maka dapat

dikatakan bahwa Ketegasan Sanksi Pajak berpengaruh terhadap Motivasi wajib

Pajak dalam memenuhi Kewajiban perpajakannya.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti menuangkan kerangka pemikirannya dalam

bentuk skema paradigma penelitian adalah sebagai berikut:

Daulat Fredy (2013)

Berdasarkan kerangka berpikir diatas maka hipotesis dalam penelitian ini

adalah X1 dan X2 berpengaruh terhadap Y. Perumusan hipotesis penelitian

merupakan langkah ketiga dalam penelitian. Setelah peneliti mengemukakan

landasan teori dan kerangka berpikir.

Menurut Sugiyono (2012:64) bahwa hipotesis merupakan:

“Jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian,

(36)

21

Berdasarkan pada kerangka berpikir di atas maka hipotesis dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

Hipotesis 1 : Terdapat pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Motivasi Wajib

Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan.

Hipotesis 2 : Terdapat pengaruh Sanksi Perpajakan terhadap Motivasi Wajib

(37)

22

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan cara yang digunakan oleh peneliti dalam

mengumpulkan data penelitiannya.

Menurut Sugiyono (2012:2) bahwa metode penelitan merupakan:

“Metode penelitian pada dasarnya merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu. Cara ilmiah berarti kegiatan penelitian ini didasarkan pada ciri-ciri keilmuan, yaitu rasional, empiris, dan sistematis”.

Berdasarkan definisi diatas, maka dapat dikatakan bahwa metode

penelitian adalah cara ilmiah yang digunakan untuk mendapatkan data dan

mencapai tujuan tertentu.

Metode penelitian ini menggunakan metode deskriptif dan verifikatif.

Dengan menggunakan metode penelitian akan diketahui pengaruh atau hubungan

yang signifikan antara variabel yang diteliti sehingga menghasilkan kesimpulan

yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti.

Menurut Sugiyono (2011:147) bahwa metode deskriptif merupakan: “Metode yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi”.

Berdasarkan definisi diatas, metode penelitian deskriptif digunakan untuk

(38)

23

diperlukan merupakan data-data yang sesuai dengan masalah yang ada sesuai

dengan tujuan penelitian ini.

Sedangkan pengertian metode verifikatif menurut Masyhuri (2008:45)

yang dikutip Umi Narimawati, dkk. (2010:29), bahwa metode verifikatif

merupakan:

“Memeriksa benar tidaknya apabila dijelaskan untuk menguji suatu cara

dengan atau tanpa perbaikan yang telah dilaksanakan di tempat lain

dengan mengatasi masalah yang serupa dengan kehidupan”.

Metode penelitian verifikatif digunakan untuk menguji kebenaran teori

dan hipotesis yang telah dikemukakan para ahli mengenai, pengaruh kualitas

pelayanan dan sanksi perpajakan terhadap motivasi wajib pajak memenuhi

kewajiban perpajakan.

Metode verifikatif digunakan untuk menguji hipotesis dalam penelitian ini

menggunakan alat uji statistik yaitu Model Persamaan Struktural (Structural

Equation Model/SEM) berbasis variance atau yang lebih dikenal dengan Partial

Least Square (PLS). Pertimbangan menggunakan model ini, karena

kemampuannya untuk mengukur konstruk melalui indikator-indikatornya serta

menganalisis variabel indikator, variabel laten, dan kekeliruan pengukurannya.

3.2 Operasionalisasi Variabel

Menurut Umi Narimawati, dkk. (2010:31) bahwa operasional variabel

merupakan:

(39)

24

variabel sudah jelas, apabila belum jelas secara konseptual maka perlu dilakukan analisis faktor”.

Menurut Sugiyono (2012:38), bahwa variabel penelitian merupakan: “Segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti

untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulan”.

Sesuai dengan judul penelitian yang diungkapkan oleh penulis, yaitu

pengaruh kualitas pelayanan dan sanksi perpajakan terhadap motivasi wajib pajak

memenuhi kewajiban perpajakan, maka variabel-variabel yang terkait dalam

penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Variabel Bebas / Independent Variable (X1) dan (X2)

Menurut Sugiyono (2010:61) bahwa variabel bebas merupakan: ”Variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya

atau timbul variabel dependen (terikat)”.

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah Kualitas Pelayanan (X1) dan

Sanksi Perpajakan (X2).

2. Variabel Terikat / Dependent Variable (Y)

Menurut Sugiono (2010:61) bahwa variabel terikat merupakan: ”Variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya

variabel bebas”.

Maka, dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat yaitu Motivasi

Wajib Pajak Memenuhi Kewajiban Perpajakan (Y). Agar lebih jelas indikator

(40)

25

Tabel 3.1

Operasionalisasi Variabel

Variabel Konsep Indikator Skala No

Kuesioner Kualitas

Pelayanan (X1)

Pelayanan publik kepada masyarakat akan dapat berjalan sebagaimana yang diharapkan, apabila faktor-faktor pendukungnya cukup memadai serta dapat difungsikan secara berhasil guna dan berdaya guna. Faktor-faktor dalam melaksanakan penyempurnaan kualitas secara berkesinambungan.

( Wolkins dalam Tjiptono,2002)

1) Kesopanan (Courtesy);

Ordinal dalam UU KUP dapat berupa sanksi administrasi bunga, denda,

kenaikan. Sedangkan sanksi pidana dapat berupa hukuman

kurungan dan hukuman penjara. (Siti Kurnia Rahayu 2010:28)

1) Sanksi yang jelas dan tegas kepada rakyat untuk ikhlas membayar pajaknya adalah sesuatu yang harus dilakukan. Karena membayar pajak merupakan tindakan pemberian sebagian harta yang dimiliki rakyat kepada negara dengan Cuma-Cuma. (Siti Kurnia Rahayu ,2010:110)

(41)

26

Dalam operasionalisasi variabel ini, semua variabel diatas menggunakan

konsep skala ordinal, yaitu baik variabel independent (X1) dan (X2) dan variabel

dependent (Y) menggunakan skala ordinal. Menurut Sugiyono (2009) bahwa

skala ordinal merupakan:

“Skala yang berjenjang dimana sesuatu lebih atau kurang dari yang lain. Data yang diperoleh dari pengukuran dengan skala ini disebut dengan data ordinal yaitu data yang berjenjang yang jarak antara satu data dengan yang lain tidak sama”.

Dari pengertian diatas tujuan dari penggunaan skala ordinal adalah

memperoleh informasi berupa nilai pada jawaban. Variabel-variabel tersebut

diukur oleh instrument pengukur dalam bentuk kuesioner yang memenuhi

pertanyaan atau pertanyaan skala rating scale. Penjelasan rating scale yang

dikemukakan oleh Erwan dan Dyah (2011:63) adalah untuk mengukur persepsi

atau opini responden dalam tingkatan yang berskala kontinum dan data yang

diperoleh berupa angka dan setelah itu ditafsirkan secara kualitatif. Sedangkan

menurut Sugiyono (2010:97) menyatakan bahwa Rating scale merupakan:

“Skala rating data nominal yang diperoleh berupa angka kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif. Dalam skala model ratingscale, responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Oleh karena itu, rating scale ini lebih fleksibel, tidak terbatas pengukuran sikap saja tetapi bisa juga mengukur persepsi responden terhadap fenomena”.

Berdasarkan beberapa definisi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

Rating scale adalah data nominal yang diperoleh dalam bentuk angka mengukur

persepsi atau opini responden dalam tingkatan yang berskala. Untuk menjawab

rating scale ini, responden memberi jawaban baik dalam mendukung pernyataan

(42)

27

mengukur setiap item jawaban pernyataan pada kuesioner. Jawaban responden

pada tiap item kuesioner mempunyai nilai yang sangat tidak baik untuk titik 1 dan

nilai yang sangat baik untuk titik 5. Untuk lebih jelasnya mengenai rating scale

dituangkan dalam tabel dibawah ini :

Tabel 3.2

Rating scale

Skor Kategori

5 Sangat Baik Sangat Setuju Sangat Paham Sangat jelas

4 Baik Setuju Paham Jelas

3 Cukup Baik Cukup Setuju Cukup paham Cukup jelas 2 Tidak Baik Tidak Setuju Tidak paham Tidak jelas 1 Sangat Tidak Baik Sangat Tidak Setuju Sangat Tidak paham Sangat Tidak jelas Sumber Erwan dan Dyah,2011

3.3 Sumber Data dan Teknik Pengumpulan Data

Sumber data yang digunakan dalam penelitian yaitu data primer. Dalam

penelitian ini, penulis menggunakan data primer yang mencakup semua data yang

langsung diperoleh dari responden yang belum diolah.

1. Data Primer

Menurut Sugiyono (2012:137) bahwa data primer merupakan:

“Sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data”.

Pengumpulan data primer dalam penelitian ini melalui cara menyebarkan

kuesioner dan melakukan wawancara secara langsung dengan pihak-pihak yang

berhubungan dengan penelitian yaitu pada Wajib Pajak yang terdaftar di Kantor

Pelayanan Pajak Pratama Bandung Karees. Teknik pengumpulan data yang

dilakukan oleh penulis untuk mendapatkan dan mengumpulkan data adalah

menggunakan metode survey. Menurut Sugiyono (2012:6) bahwa metode survey

(43)

28

“Metode survey digunakan untuk mendapatkan data dari tempat tertentu yang alamiah (bukan buatan), tetapi peneliti melakukan perlakuan dalam pengumpulan data, misalnya dengan mengedarkan kuesioner, test, wawancara terstruktur”.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis dilakukan dengan

metode survey menggunakan kuesioner. Menurut Umi Narimawati (2010:40)

bahwa kuesioner merupakan:

“Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk kemudian dijawabnya. Kuesioner yang digunakan adalah kuesioner tertutup yang telah diberi skor, dimana data tersebut nantinya akan dihitung secara statistik. Kuesioner tersebut berisi daftar pertanyaan yang ditunjukkan kepada responden yang berhubungan dalam penelitian”.

3.4 Populasi, Sampel dan Tempat serta Waktu Penelitian

Penelitian yang dilakukan penulis memerlukan objek atau subjek yang

harus diteliti sehingga permasalahan yang terjadi dapat dipecahkan. Populasi

merupakan objek dalam penelitian ini dan dengan menentukan populasi maka

penulis akan mampu melakukan pengolahan data. Untuk mempermudah

penelitian maka bagian populasi saja yang digunakan dalam penelitian dan proses

tersebut dinamakan sampel.

3.4.1 Populasi

Menurut Sugiyono (2013: 80) bahwa populasi merupakan:

“Wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai

kualitas dan karakteristik tertentu yangditetapkan oleh peneliti untuk

dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”.

Berdasarkan definisi diatas, populasi merupakan obyek atau subjek yang

(44)

29

masalah penelitian. Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah wajib

pajak orang pribadi yang terdaftar di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung

Karees sebanyak 65.465 orang.

3.4.2 Penarikan Sampel

Sampel merupakan bagian dari populasi yang diambil melalui cara–cara

tertentu yang juga memiliki karakteristik tertentu, jelas dan lengkap yang

dianggap bisa mewakili populasi.

Menurut Sugiyono (2013:81) bahwa sampel merupakan:

“Bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi

tersebut”.

Responden dalam penelitian ini adalah Wajib Pajak pada Kantor

Pelayanan Pajak Pratama Karees. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 65.465

orang Wajib Pajak. Penarikan sampel dilakuan dengan menggunakan teknik

penarikan Nonprobability Sampling Design yaitu dengan menggunakan sampling

incidental. Menurut Sugiyono (2010:218) Nonprobability sampling adalah teknik

pengambilan sampel yang tidak memberi peluang atau kesempatan sama bagi

setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.

Menurut Sugiyono (2010:122) bahwa sampling insidental merupakan: “Teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/insidental bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data”.

Sampel dilakukan karena keterbatasan peneliti dalam melakukan

penelitian baik dari segi dana, waktu, tenaga, dan jumlah populasi yang sangat

(45)

30

(dapat mewakili). Dalam mementukan sampel, penulis menggunakan metode

Slovin sebagai alat untuk menghitung ukuran sampel. Untuk lebih jelas, berikut

bentuk rumus Slovin yang dikutip oleh Husein Umar (2008:78):

Sumber :Husein Umar (2008:78)

Keterangan :

n = Jumlah Sampel

N = Jumlah Populasi

e = Tingkat kesalahan yang ditoleransi (1%, 5%, 10%)

Berdasarkan rumus diatas, maka dapat diketahui sampel yang akan

diambil dalam penelitian ini melalui perhitungan berikut ini :

Berdasarkan penjelasan diatas, maka sampel dari penelitian ini yaitu 100

wajib pajak orang pribadi yang terdaftar di KPP Pratama Bandung Karees.

3.5 Tempat dan Waktu Penelitian

3.5.1 Tempat

Penulis melakukan penelitian pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama

Bandung Karees yang beralamat di Jl. Ibrahim Adjie No. 372 (d/h Jalan Kiara

Condong), Bandung 40275.

n = N 1 + (N e²)

n = 65.465 . (1 + 65.465 x 0,10² )

(46)

31

3.5.2 Waktu Pelaksanaan Penelitian

Tabel 3.3

Penelitian ini menggumpukan data secara primer dengan menyebarkan

kuisioner, dari data yang diperoleh dari responden maka perlu dilakukan uji

kebenaranya. Untuk menguji kebenaran dan kesungguhan dari jawaban responden

diperlukan pengujian yaitu Uji Validitas dan Uji Reabilitas.

3.6.1 Uji Validitas

Menurut Cooper yang dikutip Umi Narimawati, dkk. (2010:42) bahwa

(47)

32

Validity is a characteristic of measurement concerned with the extent that

a test measures what the researcher actually wishes to measure”.

Menurut Sugiyono (2012:2) bahwa validitas merupakan:

“Menunjukkan derajat ketepatan antara data yang sesungguhya terjadi

pada obyek dengan data yang dapat dikumpulkan oleh peneliti”.

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, uji validitas dilakukan untuk

mengetahui apakah alat ukur yang telah dirancang dalam bentuk kuesioner itu

benar-benar dapat menjalankan fungsinya. Semua item pertanyaan dalam

kuesioner harus diuji keabsahannya untuk menentukan valid tidaknya suatu item.

Validitas dapat diartikan sebagai suatu karakteristik dari ukuran terkait dengan

tingkat pengukuran sebuah alat test (kuesioner) dalam mengukur secara benar apa

yang diinginkan peneliti untuk diukur. Validitas suatu data tercapai jika

pernyataan tersebut mampu mengungkapkan masing-masing pernyataan dengan

jumlah skor untuk masing-masing variabel. Teknik korelasi yang digunakan

adalah teknik korelasi pearson.

Adapun rumus dari korelasi pearson adalah sebagai berikut:

√[ ] [ ]

Sumber:Umi Narimawai (2010:42) Keterangan:

r = Koefisien korelasi pearson x = Skor item pertanyaan y = Skor total item pertanyaan

N = Jumlah respoden dalam pelaksanaan uji coba instrument

Pengujian validitas menggunakan korelasi pearson (indeks validitas)

(48)

33

“Butir pernyataan dinyatakan valid jika koefisien korelasi butir pernyataan

≥ 0,30. Kemudian pengujian reliabilitas menggunakan metode

alpha-cronbach dan dinyatakan reliabel jika koefisien reliabilitas > 0,70”.

3.6.2 Uji Reliabilitas

Menurut Cooper yang dikutip oleh Umi Narimawati, dkk. (2010:43)

bahwa realibitas merupakan:

Characteristic of measurement concerned with accuracy, precision, and

concistency”.

Uji realibilitas dilakukan untuk menguji kehandalan dan kepercayaan alat

pengungkapan dari data. Metode yang digunakan untuk uji reliabilitas adalah Split

Half Method (Spearman-Brown Correlation) atau Teknik Belah Dua. Metode ini

menghitung reliabilitas dengan cara memberikan tes pada sejumlah subyek dan

kemudian hasil tes tersebut dibagi menjadi dua bagian yang sama besar dengan

rumus sebagai berikut:

�= 2�� 1+��

Sumber: Sugiyono (2012:131)

Keterangan:

ri = Reliabilitas internal seluruh item

rb = Korelasi antara belahan pertama dan kedua

Uji reliabilitas merupakan salah satu ciri utama instrument pengukuran

yang baik. Adapun kriteria penilaian uji reliabilitas yang dikemukakan oleh

(49)

34

Menurut Umi Narimawati (2010:41) bahwa rancangan analisis

merupakan:

“Proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang telah diperoleh dari hasil observasi lapangan, dan dokumentasi dengan cara mengorganisasikan data kedalam katagori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun kedalam pola, memilih mana yang lebih penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dimengerti”.

Setelah data terkumpul penulis melakukan analisis terhadap data yangtelah

diuraikan dengan menggunakan metode deskriptif dan verifikatif.

A. Analisis Deskriptif

Menurut Sugiyono (2010:44) bahwa analisis deskriptif (kualitatif)

merupakan:

“Metode penelitian deskriptif (kualitatif) itu dilakukan secara intensif, peneliti ikut berpartisipasi lama di lapangan, mencatat secara hati-hati apa yang terjadi, melakukan analisis reflektif terhadap berbagai dokumen yang ditemukan dilapangan, dan membuat laporan penelitian secara mendetail.”

Penelitian deskriptif digunakan untuk menggambarkan bagaimana

pengaruh kualitas pelayanan dan sanksi perpajakan terhadap motivasi wajib pajak

(50)

35

Narimawati, dkk. (2010:41) langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai

berikut:

a. Setiap indikator yang dinilai oleh responden, diklasifikasikan dalam

lima alternatif jawaban yang menggunakan peringkat jawaban.

b. Dihitung total skor setiap variabel/subvariabel = jumlah skor dari

seluruh indikator variabel untuk semua responden.

c. Dihitung total skor setiap variabel/subvariabel = rata-rata dari total

skor.

d. Untuk mendeskripsikan jawaban responden, juga digunakan statistik

deskriptif seperti distribusi frekuensi dan tampilan dalam bentuk tabel

ataupun grafik.

e. Untuk menjawab deskripsi tentang masing-masing variabel penelitian

ini, digunakan rentang kriteria penelitian sebagai berikut:

Sumber: Umi Narimawati, (2010:45)

Skor aktual adalah jawaban seluruh responden atas kuesioner yang telah

diajukan. Skor ideal adalah skor atau bobot tertinggi atau semua responden

diasumsikan memilih jawaban dengan skor tertinggi. Penjelasan bobot nilai skor

aktual dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Skor aktual

(51)

36

B. Analisis Verifikatif

Menurut Sugiyono (2010:8) bahwa analisis verifikatif (kuantitatif)

merupakan:

“Metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik, dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.”

Analisis verifikatif dalam penelitian ini dengan menggunakan alat uji

statistik yaitu dengan uji persamaan strukturan berbasis variance atau yang lebih

dikenal dengan nama Partial Least Square (PLS) menggunakan software

SmartPLS 2.0.

Menurut Imam Ghozali (2006:1), metode Partial Least Square (PLS)

dijelaskan sebagai berikut:

“Model persamaan strukturan berbasis variance (PLS) mampu

menggambarkan variabel laten (tak terukur langsung) dan diukur

menggunakan indikator-indikator (variable manifest)”.

Penulis menggunakan Partial Least Square (PLS) dengan alasan bahwa

variabel yang digunakan dalam penelitian ini merupakan variabel laten (tidak

(52)

37

(variable manifest), serta secara bersama-sama melibatkan tingkat kekeliruan

pengukuran (error). Sehingga penulis dapat menganalisis secara lebih terperinci

indikator-indikator dari variabel laten yang merefleksikan paling kuat dan paling

lemah variabel laten yang mengikutkan tingkat kekeliruannya.

Menurut Imam Ghozali (2006:18) bahwa Partial Least Square (PLS)

merupakan:

“Merupakan metode analisis yang powerful oleh karena tidak mengasumsikan data harus dengan pengukuran skala tertentu, jumlah sampel kecil. Tujuan Partial Least Square (PLS) adalah membantu peneliti untuk mendapatkan nilai variabel laten untuk tujuan prediksi”.

Model ini dikembangkan sebagai alternatif untuk situasi dimana dasar

teori pada perancangan model lemah atau indikator yang tersedia tidak memenuhi

model pengukuran refleksif. PLS selain dapat digunakan sebagai konfirmasi teori

juga dapat digunakan untuk membangun hubungan yang belum ada landasan

teorinya untuk pengujian proposisi. Menurut Imam Ghozali (2006:19) bahwa

PLS merupakan:

“PLS menggunakan literasi algoritma yang terdiri dari seri analisis

ordinary least squares maka persoalan identifikasi model tidak menjadi

masalah untuk model recursive, juga tidak mengasumsikan bentuk distribusi tertentu untuk skala ukuran variabel. Lebih jauh lagi jumlah sampel dapat kecil dengan perkiraan kasar”.

Menurut Fornell yang dikutip Imam Ghozali (2006:1), kelebihan lain yang

didapat dengan menggunakan Partial Least Square (PLS) adalah sebagai berikut: “SEM berbasis variance atau PLS ini memberikan kemampuan untuk

melakukan analisis jalur (path) dengan variabel laten. Analisis ini sering

Figur

Gambar 2.1 Paradigma Penelitian
Gambar 2 1 Paradigma Penelitian . View in document p.35
Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel
Tabel 3 1 Operasionalisasi Variabel . View in document p.40
Tabel 3.2
Tabel 3 2 . View in document p.42
Tabel 3.3 Waktu Pelaksanaan
Tabel 3 3 Waktu Pelaksanaan . View in document p.46
Tabel 3.5 Kriteria Presentase Tanggapan Responden
Tabel 3 5 Kriteria Presentase Tanggapan Responden . View in document p.51
gambar di bawah ini:
gambar di bawah ini: . View in document p.58
Tabel 3.6
Tabel 3 6 . View in document p.59
Tabel 3.7 Kriteria Penilaian Koefisien Korelasi
Tabel 3 7 Kriteria Penilaian Koefisien Korelasi . View in document p.62
Tabel 3.8 Kriteria Penilaian Koefisien Determinasi
Tabel 3 8 Kriteria Penilaian Koefisien Determinasi . View in document p.63
Tabel 3.9        Kriteria Nilai GoF
Tabel 3 9 Kriteria Nilai GoF . View in document p.64
Gambar 3.2 Daerah Keputusan Hipotesis
Gambar 3 2 Daerah Keputusan Hipotesis . View in document p.65

Referensi

Memperbarui...