• Tidak ada hasil yang ditemukan

HUKUM INTERNASIONAL Perkembangan Sejarah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "HUKUM INTERNASIONAL Perkembangan Sejarah"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

P

erkembangan

S

ejarah

Dasar dari Hukum Internasional (atau Hukum antar Negara) bersumber dengan kuat pada perkembangan dari kebudayaan Barat dan organisasi-organisasi

politik.

Pertumbuhan dari gagasan mengenai kedaulatan dan Negara-Negara mandiri di Eropa membutuhkan metode yang dapat diterima dimana hubungan

antar-Negara dapat diselenggarakan bersesuaian dengan standar yang dapat diterima secara umum akan tingkah laku, dan Hukum Internasional yang dapat

memenuhi kebutuhan. Tetapi meskipun Hukum antar-Negara berakar dari pengalaman masa Renaissance di Eropa, hal ini berasal dari sejarah yang jauh

lebih tua.

A

WAL

A

SAL

U

SUL

Pada sekitar 2100 BC, sebuah perjanjian resmi ditandatangani antara penguasa-penguasa di Lagash dan Umma, Negara-Negara yang terletak pada area yang diketahui oleh sejarawan sebagai Mesopotamia. Hal ini diukirkan pada bongkahan batu dan terkait mengenai pendirian perbatasan yang ditetapkan dan harus di hormati oleh kedua belah pihak dibawah Hukuman pengasingan oleh sejumlah dewa-dewi Sumerian. 1000 tahun kemudian, ditemukan perjanjian Internasional antara kekuasaan Rameses II dari Mesir dan Raja dari Hittites untuk pelaksanaan perdamaian abadi dan persaudaraan diantara keduanya. Poin penting lainnya yang ditemukan ialah suatu perjanjian pada Kadesh, sebelah utara Damascus, yang berisi penghormatan untuk kedaulatan teritori masing-masing, penghentian penyerangan antar-Negara, dan pembentukan persekutuan pasukan pertahanan.

Semenjak itu banyak perjanjian antara kekuatan-kekuatan yang bersaing di Timur Tengah diakhiri, biasanya bertujuan untuk usaha

menciptakan kerjasama politik yang memuat pengaruh dari Kerajaan dengan kekuatan besar.

Bagaimanapun juga, pendekatan utama kepada peradaban kuno adalah terlarang dari sisi geografis dan budaya. Pada waktu itu tidak ada gambaran tentang komunitas Internasional atas Negara-Negara hidup bersama didalam kerangka kerja yang ditetapkan. “Hukum Internasional” dalam bentuk apapun pada waktu itu sangatlah terbatas, dan segala hal yang dapat digarisbawahi ialah keberadaan beberapa kondisi ideal, seperti kesucian dari suatu perjanjian, yang mana masih dipertahankan hingga saat ini sebagai elemen penting dalam masyarakat. Tetapi gagasan mengenai komunitas Universal dengan peraturan dunia yang ideal masih belum ditemukan.

(2)

dan sebagian dari keadaan yang mengagumkan tentang antar-hubungan yang dibangun selama masa Hellenistic. Sejumlah perjanjian menyatukan Negara-Negara tersebut dalam suatu jaringan kerjasama perdagangan dan politik. Hak seringkali diberikan kepada warga Negara pada masing-masing teritori dan peraturan mengenai kesucian dan perlindungan utusan diplomatik dikembangkan. Tidak ada pemikiran mengenai komunitas mendunia yang dapat ditelusuri kembali hingga kepada ideologi Mesir meskipun pesatnya pertumbuhan koloni-koloni Mesir diseluruh Mediteranian.

Negara-Negara di Roma memiliki penghormatan yang amat sangat besar untuk organisasi dan Hukum. Hukum lah yang menyatukan Kerajaan-Kerajaan mereka dan mengangkat sumber vital akan referensi untuk setiap penduduk di daerah kekuasaan yang sangat luas. Awal Hukum di Roma (jus civile) diaplikasikan hanya kepada penduduk Roma. Hal ini bersifat formal, sulit, dan mencirikan sebuah status akan masyarakat yang kecil, sederhana, dan berkehidupan dari tanah.

Jus Gentium kemudian menyediakan peraturan yang disederhanakan untuk menentukan hubungan antara orang asing dengan orang asing, dan hubungan antara orang asing dengan warga Negara. Instrumen yang digunakan pada sistem perkembangan khusus ini diketahui secara resmi adalah Praetor Peregrinus, yang berfungsi untuk mengawasi semua hubungan Hukum, termasuk birokrasi dan hal-hal perdagangan, didalam Kerajaan.

Kemajuan peraturan Jus Gentium secara berangsur-angsur mengesampingkan Jus Civile yang terbatas sampai akhirnya sistem tersebut berhenti digunakan. Dengan demikian, Jus Gentium menjadi Hukum Adat dari Kerajaan Roma dan

dianggap sebagai salah satu aplikasi Universal.

Salah satu konsep Mesir yang sangat mempengaruhi Roma adalah ide mengenai Hukum Alam. Hal ini dirumuskan oleh para filsuf di Stoic pada abad ke-3 BC dan teori mereka adalah bahwa Hukum Alam berisi sekumpulan peraturan mengenai hubungan secara Universal. Karena pemikiran dan ajaran Hukum Alam berakar pada kecerdasan manusia, hal ini dimengerti dengan peraturan bahwa hal ini tidak dapat terbatas kepada Negara atau kelompok manapun tetapi bersangkut-paut dengan seluruh dunia. Elemen Universal ini adalah dasar untuk doktrin modern tentang Hukum Internasional dan penningkatan kekuatan manusia dalam deduksi logis untuk mencapai puncak dari “penemuan” Hukum memberi inspirasi kepada filsuf-filsuf rasional di dunia Barat. Selain daripada menjadi konsep dasar pada teori Hukum, Hukum Alam juga vital kepada pengertian tentang Hukum Internasional, seperti halnya berperan sebagai perintis kepada perhatian mengenai hak asasi manusia yang tidak dapat diabaikan.

Beberapa filsuf Roma menyatukan ide-ide dari Mesir tersebut mengenai Hukum Alam kedalam teori Hukum mereka sendiri, sebagai pokok dasar kebenaran dari Jus Gentium, yang mana dianggap untuk mengabadikan prinsip-prinsip rasional umum kepada seluruh Negara yang beradab.

(3)

saat itu sekumpulan peraturan Hukum yang berkembang telah siap dibuat dan menunggu pemindahan ke Negara-Negara Eropa yang berkembang.

Pada tingkat ini, referensi harus dibuat merujuk kepada pertumbuhan Negara-Negara Islam. Pendekatannya kepada hubungan dan Hukum Internasional berdasarkan atas

keadaan permusuhan terhadap dunia non-muslim dan konsep kesatuan diantara Negara-Negara Muslim. Ketika periode penjajahan selesai dan kekuatan-kekuatan digabungkan, norma-norma yang mengatur memimpin dengan Negara-Negara non-muslim mulai berkembang.

M

ASA

A

BAD

P

ERTENGAHAN DAN

R

ENAISSANCE

Masa abad pertengahan diperkenalkan oleh wewenang organisasi Gereja dan struktur kekuasaan yang meliputi banyak hal yang diperintah olehnya. Untuk sebagian besar dari periode ini, terdapat banyak sekali perebutan kewenangan antara Gereja dengan pemerintah dari Kerajaan Suci Roma.

Konflik ini secepatnya diselesaikan dengan dukungan Papacy, tetapi kemenangan kaum penganut sekuler terbukti secara relatif bertahan sebentar. Agama dan warisan umum yang diperoleh dari Kerajaan Roma secara kuat mempersatukan pengaruh, sementara persaingan politis dan regional tidak.

Kepentingan yang dikhususkan selama era ini adalah kewenangan dari Kerajaan Suci Roma dan peran Canon Law yang melampaui batas-batas Negara. Hukum Negara Inggris menetapkan Hukum Perdagangan, suatu kode peraturan yang meliputi perdagangan dengan Negara asing, dan ini dinyatakan untuk digunakan secara Universal.

Di sepanjang Eropa, pengadilan niaga telah disiapkan untuk menyelesaikan perselisihan antara para pedagang pada pasar yang berbeda-beda, suatu jaringan yang

berisi peraturan umum dan praktek menenun jalannya melintasi kain perdagangan di Eropa dan merupakan janin dari Hukum perdagangan Internasional. Dengan cara yang sama, kebiasaan atau adat yang berlaku pada kelautan mulai diterima di sepanjang benua.

Peraturan-peraturan yang demikian tumbuh dari awal Masa Abad Pertengahan, yang merupakan bakal dari Hukum Internasional, tetapi sebelum hal ini maju, Negara-Negara di Eropa berpikir mengalami sebelumnya perkembangan yang diakibatkan oleh ledakan intelektual yang dikenal sebagai Renaissance.

Keruntuhan dari Kerajaan Roma Timur terpusat pada Konstatinopel sebelum angkatan bersenjata Turki pada tahun 1453 menggerakkan banyak sarjana Mesir untuk mencari tempat perlindungan di Itali dan memeriahkan kehidupan berbudaya di daerah Barat Eropa.

(4)

memerintah dan kebutuhan untuk mengatur aktivitas yang demikian dengan mode yang dapat diterima secara umum. Pencarian atas kekuatan politik dan supermasi menjadi jelas dan terkenali.

Dari sekian jumlah keributan mengenai perebutan, muncullah banyak pokok-pokok kehidupan Internasional modern: diplomasi, kenegarawanan, teori mengenai keseimbangan antara kekuasaan dan ide tentang himpunan Negara-Negara.

Gagasan yang demikian segera menjadi cukup besar dan dapat diidentifikasi dengan berbagai manuver untuk keunggulan politik. Persekutuan, penghianatan, manipulasi lembaga kenegaraan, dan gerakan untuk mencapai kekuasaan bukanlah sesuatu yang oleh kita.

Masa Renaissance mewariskan prasyarat yaitu independensi, pemikiran kritis dan secara kemanusiaan, pendekatan sekuler kepada kehidupan juga kerangka politis di masa depan. Tetapi faktor yang belakangan muncul lah yang menjadi vital untuk pertumbuhan Hukum Internasional yang berikutnya. Dalam banyak cara peperangan ini ditandai dengan penolakan dari sistem continental yang ditemukan dalam Agama dan kelahiran dari sistem continental yang ditemukan dalam supermasi sebuah Negara.

Teori Hukum Internasional secara Alami dan mendalam terlibat pada penilaian kembali kehidupan politis yang demikian dan amat terpengaruh oleh penemuan kembali ide-ide dari masa Greco-Roman. Jadi, nilai sistem yang jelas untuk menyokong hubungan Internasional telah diubah menjadi Hukum antar Negara dan digembar-gemborkan sebagai bagian dari Hukum Alam Universal.

Dengan kebangkitan Negara modern dan emansipasi hubungan Internasional, doktrin mengenai kedaulatan muncul. Konsep ini, pertama kali dianalisa secara sistematis pada tahun 1576 dalam buku Six Livres de la Republique oleh Jean Bodin, yang mana merupakan orang pertama yang berniat untuk berurusan dengan struktur kewenangan di dalam Negara modern. Ia menekankan kebutuhan akan kekuatan kekuasaan yang memerintah di dalam Negara yang akan menciptakan Hukum. Sementara kekuasaan yang memerintah yang seperti ini tidak dapat dibatasi oleh Hukum yang dimulai oleh dirinya sendiri, ia adalah subyek dari Hukum Tuhan dan Hukum Alam.

Ide mengenai kekuasaan yang memerintah sebagai pembuat undang-undang tertinggi telah menjadi rangkaian yang mengubah waktu menjadi asas-asas yang memberikan suatu Negara kekuasan supreme untuk berhadap-hadapan dengan Negara lain. Negara dihormati dengan berada diatas Hukum. Gagasan yang demikian membentuk dasar-dasar intelektual pada suatu paham yang dikenal sebagai paham Positivisme.

(5)

kemudian hari yang menekankan konsep dari hak-hak dasar.

Dengan latar belakang intelektual yang demikian para sarjana pada masa Renaissance mencapai pertanyaan mengenai

asas-asas dan dasar kebenaran dari suatu sistem Hukum Internasional. Hukum Internasional kemudian mulai muncul sebagai topik terpisah untuk dipelajari dari isinya sendiri, walaupun berasal dari asas-asas Hukum Alam.

P

ARA

P

ENEMU

H

UKUM

I

NTERNASIONAL

M

ODERN

Dasar dari pendekatan baru kepada Hukum Internasional dapat ditelusuri kembali hingga kepada filsuf Spanyol pada masa keemasan Negara tersebut, Fransisco Vitoria, profesor pada bidang Teologi dari University of Salamanca (1480 – 1546). Ia mengatakan bahwa Hukum Internasional ditemukan dalam Hukum Alam Universal dan ini berarti bahwa Negara-Negara non-Eropa pasti termasuk dalam pengecualiannya. Akan tetapi, Vitoria tanpa maksud apapun mencetuskan pengakuan terhadap kebangsaan Indian yang sederajat dengan Negara-Negara Kristen di Eropa. Baginya, menentang pekerjaan dari para utusan dalam teritori hanya menjadi alasan untuk memulai perang, dan ia mengadopsi pandangan yang cenderung luas terhadap hak-hak orang Spanyol di Selatan Amerika.

Suarez (1548 – 1608) adalah seorang profesor Teologi yang secara mendalam terbenam pada kebudayaan sejarah abad pertengahan. Ia mencatat bahwa peranan wajib Hukum Internasional berdasarkan atas Hukum Alam, sementara hakekat atau isi pokoknya berasal dari Hukum Alam yang memuat persetujuan yang diikutsertakan.

Alberico Gentili (1552 – 1608) lahir di belahan utara Itali dan melarikan diri ke Inggris untuk menghindari penganiayaan, yang

kemudian berpindah agama menjadi seorang penganut Protestan. Pada tahun 1598 tulisannya De Jure Belli

dipublikasikan. Tulisannya tersebut meliputi diskusi yang luas mengenai Hukum dalam perang dan memuat bagian berharga dalam Hukum perjanjian. Gentili, yang kemudian menjadi profesor di Oxford, disebut-sebut sebagai pencetus sekolah pemikiran sekuler dalam Hukum Internasional dan ia sampai sekarang meremehkan pentingnya tesis Teologis.

Bagaimanapun juga, Hugo Grotius, seorang sarjana Jerman, yang namanya menjulang tinggi pada periode ini dan telah dielu-elukan sebagai Bapak Hukum Internasional. Ia lahir pada tahun 1583 dan merupakan seorang yang sangat berkebudayaan Renaissance. Seorang sarjana yang sangat sukses dalam pembelajarannya, ia menguasai Sejarah, Teologi, Matematika, dan Hukum. Hasil karya utamanya adalah

De Jure Belli ac Pacis, yang ditulis selama 1623 hingg 1624. Karyanya ialah suatu hasil kerja yang luas dan termasuk didalamnya cukup banyak ketaatan daripada penjelasan yang terperinci mengenai Hukum partikelir dan gagasan yang mungkin akan terlihat pantas saat ini.

(6)

apapun dan sebagainya tentang Hukum KeTuhanan. Ia berpendapat bahwa Hukum Alam tetap akan sah walau tidak ada Tuhan. Keadilan adalah bagian dari tatanan manusia dan kemudian tidak hanya bermanfaat tapi juga bersifat dasar. Pengertian Grotius mengenai sistem yang luas akan Hukum Internasional dan hasil kerjanya dengan cepat menjadi buku pelajaran di Universitas. Ia menahan perbedaan Teologis antara perang yang adil dan yang tidak adil, sebuah pemikiran yang kemudian segera menghilang dari risalat Hukum Internasional, tetapi yang mana dengan cara tertentu menjadi penyokong pendekatan modern kepada penyerangan, pertahanan diri, dan kemerdekaan.

Salah satu pendapatnya yang paling kronis terdiri dalam proklamasinya mengenai kemerdekaan perairan laut. Para sarjana Jerman menentang konsep “perairan tertutup” milik Portugis yang belakangan dijelaskan oleh penulis asal Inggris John Selden.

Bagaimanapun juga, hal ini memberitahukan apa yang seharusnya tidak diabaikan, yakni konsep dari Hukum-Hukum sebagai politik dan disiplin ilmu lain yang dengan kuat mengakar pada dunia realitas, dan mencerminkan ketertarikan pada jaman sekarang. Dengan tidak mengacuhkan ini adalah untuk mengubah teorinya sendiri.

P

OSITIVISME DAN

N

ATURALISME

Mengikuti ajaran Grotius, tanpa memisahkan pemikiran dari sarjana-sarjana yang lainnya, pembagian dapat dideteksi dan dua aliran yang berbeda teridentifikasi. Pada satu sisi terdapat aliran “Naturalis”, diberikan contoh oleh Samuel Pufendorf (1632 – 1694), yang berusaha untuk mengidentifikasi Hukum Internasional sepenuhnya dengan Hukum Alam; dan pada sisi lainnya terdapat aliran “Positivisme”, yang membedakan antara Hukum Internasional dan Hukum Alam dan menekankan pada permasalahan praktis dan keadaan praktis saat ini. Pufendorf menghormati Hukum Alam sebagai suatu sistem yang bermoral, dan salah mengerti arah dari Hukum Internasional modern dengan menolak keabsahan suatu peraturan mengenai kebiasaan. Ia juga menolak untuk mengakui perjanjian-perjanjian dalam berbagai cara bersangkutan

dengan diskusi mengenai dasar dari Hukum Internasional.

Salat satu dari pemrakarsa dasar dari aliran positivis ialah Richard Zouche (1590 – 1660), ia tidak cukup menaruh perhatian kepada doktrin-doktrin tradisional. Perhatiannya adalah untuk situasi spesifik dan bukunya mengandung banyak contoh dari kejadian yang baru saja terjadi. Ia meninggikan Hukum Perdamaian diatas pertimbangan sistematis tentang Hukum Peperangan dan menjauhkan diri dari karangan teoritis yang terperinci.

(7)

mengenai fakta yang bersangkutan ia memutuskan untuk menyokong kebebasan perairan laut.

Pendekatan Positivis berasal dari metode empiris yang diadopsi oleh Renaissance. Hal ini berfokus tidak pada bangunan besar teori yang terstruktur berdasarkan deduksi dari prinsip-prinsip dasar, tetapi lebih kepada memperhatikan kejadian-kejadian selama itu berlangsung dan mendiskusikan permasalahan aktual yang muncul. Metode ilmiah melalui eksperimen dan pembuktian dari hipotesis ditekankan pada pendekatan ini.

Dari sikap filosofis ini, adalah langkah pendek untuk penginterpretasian ulang Hukum Internasional tidak dalam terminologi konsep yang berasal dari alasan, tetapi lebih kepada terminologi atas apa yang sebenarnya terjadi antara Negara-Negara yang bersaing. Apa yang Negara-Negara tersebut lakukan adalah kuncinya, bukan apa yang Negara-Negara tersebut seharusnya lakukan memberikan aturan dasar atas Hukum Alam. Kesepakatan dan kebiasaan dikenali oleh Negara-Negara sebagai dasar dari Hukum Antar-Negara.

Positivisme berkembang selagi sistem Negara kesatuan modern muncul, setelah Perdamaian di Westphalia pada tahun 1648, dari perang keagamaan.

Elemen-elemen dari Positivisme dan Naturalisme muncul dalam hasil karya Vattel (1714-1767), seorang pengacara di Swiss. Karyanya Droit des Gens berdasarkan pada prinsip-prinsip dasar Hukum

Alam tetapi berorientasi praktikal. Ia mengenalkan doktrin kesamaan derajat atas Negara-Negara kepada Hukum Internasional, menyatakan bahwa Negara kecil tidaklah kurang kedaulatannya dibanding Kerajaan yang paling kuat. Dengan membedakan antara Hukum berdasarkan hati nurani dan Hukum berdasarkan aksi dan menyatakan bahwa kekhawatiran praktikal adalah hal yang paling akhir, ia menyepelekan pentingnya Hukum Alam.

Pemikiran akan kontrak Sosial, bahwa suatu kesepakatan antara individu mendahului dan dibenarkan oleh masyarakat, menekankan pada peran utama dari seorang individu, dan apakah teori yang demikian ditafsirkan dengan pesimis untuk menuntut kekuasaan yang memerintah absolut sesuai dengan yang dikatakan oleh Hobbes, atau secara optimis dimaksudkan suatu penerimaan yang bersyarat atas kewenangan seperti yang Locke setujui, hal ini tidak dapat gagal untuk menjadi doktrin yang revolusioner.

Sekalipun demikian, pada sisi lain, doktrin dari Hukum Alam telah dipekerjakan untuk mempertahankan kepastian dari kedaulatan dan kesucian dari kepemilikan privat. Teorinya memiliki aspek reaksioner karena hal itu dapat diperdebatkan, dan apa yang seharusnya terjadi semenjak hal itu berevolusi dari kontrak sosial atau dengan sempurnanya ditakdirkan tergantung kepada seberapa sekuler sebuah Hukum Alam dikonstruksikan untuk dijadikan.

(8)

Abad ke-19 bersifat praktikal, ekspansionis dan era positivis. Kongres di Vienna, yang mana menandai akhir dari perang Napoleon, mengabadikan ketentraman Internasional baru yang berdasarkan atas keseimbangan kekuatan di Eropa. Hukum Internasional menjadi berpusat di Eropa, pemeliharaan dari yang beradab, Negara-Negara Kristen, penyeberangan laut dan Negara asing yang dapat masuk hanya dengan persetujuan dan dalam kondisi yang ditetapkan oleh kekuatan-kekuatan di Barat. Abad ini juga melihat kedatangan kemerdekaan di Amerika Latin dan tempaan dari pendekatan yang berbeda kepada elemen-elemen tertentu dari Hukum Internasional oleh Negara-Negara pada daerah tersebut, terutama dengan memperhatikan pada, misalnya, suaka diplomatik dan perlakuan oleh perusahaan-perusahaan asing dan warga Negara.

Terdapat banyak ciri-ciri yang menandai abad ke-19. Demokrasi dan nasionalisme, keduanya menghimbau peperangan pada revolusi Perancis dan kerajaan, menyebar sepanjang benua dan mengubah inti dari hubungan Internasional. Demokrasi dibawa kepada pengaruh politik individual dan perkataan di dalam pemerintahan. Hal ini juga membawa pulang kenyataan berupa tanggung jawab, untuk peperangan yang menjadi perhatian bagi semua. Revolusi Industri berpusat di Eropa, menciptakan pembagian ekonomi menjadi dua, yakni kapital dan buruh dan mendorong pengaruh Barat keseluruh dunia. Semua faktor ini menciptakan pertambahan jumlah yang sangat besar dan variasi dari Lembaga Internasional baik publik maupun privat, dan Hukum Internasional berkembang dengan pesat untuk menampung mereka. Aksi dari Kongres di Vienna mewujudkan dasar-dasar dari

kebebasan bernavigasi dengan memperhatikan terusan Internasional dan mengatur Komisi Sentral dari Rhine untuk mengatur kegunaannya. Pada tahun 1856 Komisi untuk Danube diciptakan dan sejumlah sungai di Eropa juga menjadi subyek dari persetujuan dan pengaturan Internasional. Pada tahun 1865 Persatuan Telegraf Internasional diciptakan dan pada tahun 1874 didirikan Universal Postal Union.

Komite Palang Merah Internasional didirikan pada 1863, membantu mempromosikan sejumlah seri dari Konvensi Geneva dimulai pada tahun 1864 yang berurusan dengan konflik kemanusiaan, dan Konverensi Hague pada tahun 1899 dan 1907 didirikan Permanent Court of Arbitration dan berurusan dengan cara memperlakukan tawanan dan kontrol dari peperangan.

Teori positivis mendominasi abad ini. Pendekatan telah dipindahkan kedalam kejadian Internasional dan segera berhadapan dengan realita dari kekurangan terhadap kewenangan tertinggi. Semenjak Hukum sepenuhnya tergantung kepada kehendak dari kekuasaan yang mengatur di sistem nasional, hal ini terlihat bahwa Hukum Internasional ikut tergantung pada keinginan dari Negara-Negara dengan kekuasaan yang mengatur.

(9)

Pertumbuhan dari kesepakatan Internasional, adat, dan peraturan membujuk teori-teori positivis untuk menggasak masalah ini di Hukum Internasional dan Negara; dan sebagai hasilnya dua aliran pemikiran muncul.

Penganut Monis mengakui bahwa terdapat satu prinsip fundamental yang mendasari baik Hukum nasional maupun Hukum Internasional. Penganut Dualis, yang berjumlah lebih dan cenderung berpikiran dalam aliran positivis, menekankan elemen dari persetujuan.

Bagi Triepel, seorang teoris Jerman lainnya, Hukum Internasional dan Hukum Domestik ada pada latar atau bidang yang berbeda, hal yang dulunya mengatur hubungan

Internasional, hubungan akhir antara individu dengan individu dan antara individu dengan Negara.

Hal ini merujuk kepada suatu paradox. Dapatkah pengaturan umum ini mengikat Negara-Negara individual, dan, apabila iya, kenapa? Hal ini akan muncul untuk mengarah kepada kesimpulan bahwa keinginan sautu kekuasaan Negara dapat memberikan kelahiran kepada peraturan yang mana hal itu tidak memiliki kontrol.

Abad ke-19 juga melihat publikasi dari sejumlah pekerjaan dari Hukum Internasional, yang mana menekankan praktek suatu Negara dan kepentingan dari sikap sautu Negara terhadap perkembangan dari peraturan-peraturan dalam Hukum Internasional.

A

BAD

K

E-20

Kerajaan Eropa menguasai dunia dan ideologi Negara-Negara di Eropa menjadi hal yang utama, tetapi Great War pada Tahun 1914 – 1918 melemahkan dasar-dasar dari peradaban Negara-Negara di Eropa.

Harta waris yang paling penting dari Perjanjian Perdamaian pada tahun 1919 dari sudut pandang hubungan Internasional adalah penciptaan Liga Bangsa-Bangsa. Sistem anarkis yang sudah tua telah gagal dan dibutuhkan lembaga-lembaga baru untuk mempertahankan dan mengamankan perdamaian. Liga tersebut terdiri dari Majelis dan Dewan Eksekutif, tetapi telah buntung semenjak awal dengan ketiadaan Amerika dan Uni Soviet untuk sepanjang umur hidupnya dan pada dasarnya tetap sebagai organisasi Negara-Negara di Eropa.

Perserikatan ini gagal ketika dihadapkan kepada para penyerang yang bertekad untuk berperang. Jepang menyerang Cina pada tahun 1931 dan dua tahun kemudian mengundurkan diri dari LBB. Italia menyerang Ethiopia, dan German memulai serangkaian penyerangan internal dan eksternal yang tak terelakkan. Uni Soviet, pada langkah final, akhirnya dikeluarkan dari organisasi pada tahun 1939 mengikuti penyerangannya ke Finland.

(10)

Setelah kejadian traumatis dari Perang Dunia kedua LBB sukses pada tahun 1946 dengan pembentukan Perserikatan Bangsa Bangsa, yang mana berusaha untuk memperbaiki banyak kerusakan yang diakibatkan oleh pendahulunya. Munculnya dekolonisasi memenuhi ekspetasi dan Majelis Umum di Perserikatan

Bangsa-Bangsa sampai saat ini memiliki 192 Negara anggota.

Peningkatan besar dalam jumlah kebiasaan dan perjanjian Internasional, penetapan dari sistem arbitrase dan perkembangan dari organisasi Internasional telah didirikan dan inti dari Hukum Intersional seperti yang diakui saat ini.

P

ENDEKATAN

K

OMUNIS

T

ERHADAP

H

UKUM

I

NTERNASIONAL

Teori klasik Marxist menjabarkan Hukum dan politik sebagai alat dimana pihak yang mengatur mempertahankan dominasi mereka terhadap masyarakat. Inti dari kehidupan ekonomi adalah kepemilikan atas alat-alat produksi, dan semua kekuasaan berasal dari kontrol ini. Sesungguhnya, teori bahwa Hukum dan Negara akan menghilang ketika dasar baru untuk masyarakat telah ditetapkan dan, karena Hukum Internasional klasik ditemukan berdasarkan Negara, maka Hukum Internasional juga akan turut menghilang.

Profesor Tunkin menekankan bahwa Revolusi Oktober Rusia menghasilkan serangkaian baru ide-ide Hukum Internasional yang dibedakan menjadi tiga kelompok yang saling berhubungan: (a) Prinsip-prinsip Internasionalisme dalam hubungan antara Negara-Negara sosialis, (b) Prinsip-prinsip kesamaan dan penentuan nasib sendiri oleh bangsa-bangsa dan manusia, yang terutama ditujukan terhadap kolonialisme, dan (c) Prinsip-prinsip dari kehidupan damai bersama pada hubungan antar Negara dengan sistem sosial yang berbeda.

Selama periode pasca-revolusi yang baru berakhir, pada waktu itu didalilkan bahwa fase transisi telah

dimulai. Selama waktu ini, Hukum Internasional sebagai metode pemanfaatan akan dikritisi oleh Negara sosial, tetapi Hukum Internasional tetap akan diakui sebagai sebuah sistem yang sah.

Pashukanis mengatakan bahwa Hukum Internasional bukanlah suatu bentuk dari kompromi sementara antara Negara kapitalis dan USSR, melainkan sebagai saran untuk melaksanakan perang antar kelas. Uni Soviet diikat hanya oleh aturan-aturan dari Hukum Internasional yang mana selaras dengan tujuannya.

(11)

Mengenai hal teoritis akan Hukum dari tahap peralihan telah digantikan oleh Hukum Internasional mengenai kehidupan berdamai dan berdampingan. Perang tidak lagi dianggap sebagai suatu hal yang tidak terelakkan antara Negara kapitalis dan Negara sosialis dan periode saling toleransi dan kerjasama dimulai.

Tunkin mendefinisikan Hukum Internasional modern sebagai berikut:

Sekumpulan norma-norma yang mana dibuat oleh kesepakatan antar Negara-Negara dengan sistem sosial yang berbeda, mencermikan kehendak yang bersesuaian dari Negara-Negara tersebut dan memiliki secara umum karakter demokratis, mengatur hubungan antara mereka dalam proses memperjuangkan dan kerja sama dalam pengarahan yang menjamin perdamaian dan kehidupan damai berdampingan dan kebebasan serta kemandirian dari masyarakat, dan dilindungi ketika dibutuhkan dengan paksaan untuk menyelenggarakan oleh masing-masing Negara ataupun secara bersama.

Profesor Kozhevnikov dan lainnya mengatakan bahwa:

Hukum Internasional dapat didefinisikan sebagai sekumpulan aturan yang mengatur hubungan antar Negara dalam proses mengenai pertentangan dan kerjasama diantara mereka, dirancang uuntuk melindungi perdamian dalam kehidupan berdampingan bersama, menyatakan kehendak dari pihak-pihak yang mengatur dari Negara-Negara yang terlibat dan melakukan pertahanan apabila dibutuhkan

dengan paksaan yang dilaksanakan oleh masing-masing Negara atau secara bersama.

Hal ini merupakan usaha, yang pada intinya, dilaksanakan untuk mengurangi konsep-konsep dasar dari Hukum internsional dengan cara yang dilaksanakan untuk mencermikan tren ideologis. Tetapi harus ditekankan bahwa prinsip-prinsip itu sendiri telah lama diterima oleh komunitas Internasional.

Meskipun prinsip-prinsip dasar tentang penghormatan terhadap kedaulatan Negara, ketiadaan campur tangan dalam perkara internal dan kesamaan derajat antar Negara dan individu diakui dalam Hukum Internasional, prinsip-prinsip yang sama dalam Hukum Internasional sosialis dibuat lebih tegas dengan pengurangan dari persaingan ekonomis dan eksploitasi dan meningkatnya kerja sama. Karena itu, prinsip-prinsip ini tergabung tidak hanya sebagai kewajiban materiil untuk tidak melanggar hak masing-masing, tetapi juga tugas untuk menolong satu sama lain dalam menikmati dan melindungi hak-hak seperti ini terhadap ancaman kapitalis.

Uni Soviet menekanan pada keutuhan dan kedaulatan territorial, yang sementara itu diranang pada praktiknya untuk melindungi Negara-Negara sosialis dalam lingkunan yang didominasi oleh kapitalis, membuktikan adanya ketertarikan besar terhadap Negara-Negara berkembang pada Blok Ketiga.

(12)

ketertarikan umum. Hal ini juga ditekankan bahwa Hukum Internasional harus bersifat Universal dan tidak secara artifisal dipisahkan menjadi kapitalis, sosialis, dan blok ketiga sistem “Hukum Internasional”.

Pembubaran dari Uni Soviet pada tahun 1991 menandai akhir dari perang dingin dan munculnya kembali sistem dari hubungan Internasional yang didasarkan pada beragam sumber kekuasaan yang tidak terhalang oleh determinasi ideologis.

Perang dingin telah mengenakan suprastruktur dualistik terhadap hubungan Internasional yang mana sebenarnya telah mengakibatkan segala perselisihan politis Internasional yang serius dan telah membelenggu pengoperasian dari persatuan bangsa-bangsa secara khusus.

Pengertian Hukum oleh cina adalah suatu birokrasi yang rumit yang dikerjakan untuk mencapai keselarasan dan keseimbangan dan suatu sistem tentang hak legal untuk melindungi individu dari pengaruh dunia Barat tidak terlalu berkembang. Hal ini diyakini bahwa masyarakat akan lebih baik jika dilayani dengan contoh dan moralitas yang ditetapkan, daripada oleh aturan dan sanksi.

Cina sepertinya telah mengakui beberapa sistem Hukum Internasional dan telah menyiratkan bahwa hanya dengan penyebaran akhir dari sosialisme sebuah sistem Universal dapat dilaksanakan. Kesepakatan Internasional dianggap sebagai sumber utama dari Hukum Internasional dan Cina telah terlibat dalam banyak perjanjian dan konvensi dan melaksanakan semuanya sebaik Negara-Negara lainnya.

Bagaimanapun juga, sekarang bahwa fase dari pengasingan diri dari

Referensi

Dokumen terkait

Hukum laut internasional adalah seperangkat norma hukum yang mengatur hubungan hukum antara negara pantai atau yang berhubungan dengan pantai, yang terkurung oleh

Adanya perubahan terhadap pola sistem pemerintahan yang dipicu oleh Revolusi Perancis dianggap sebagai revolusi rakyat karena banyak menciptakan berbagaii bentuk tatanan

Menurut sistem hukum laut internasional, permukaan laut secara horizontal dibagi atas beberapa zona dan yang paling dekat dengan pantai dinamakan Laut Wilayah. Zona

Namun kemudian gagalnya LBB dalam menjaga keamanan dan mencegah pecahnya Perang Dunia II menjadi titik untuk perlunya merevisi ide organisasi internasional dari Oppenheim.. Memang

“basic law” yang baru-baru ini tentang Yerusalem adalah batal demi hukum dan harus dibatalkan segera, kemudian memutuskan untuk tidak mengakui “basic law” dan

Selain itu, terdapat penulis lain berkebangsaan Spanyol bernama Fransisco Suarez yang menulis De legibus ae Deo Legislatore (on Laws and God as Legislator)

Bentuk dan konsep baru serta ide-ide kreatif mengenai bagaimana berbelanja dengan lebih nyaman dan lebih menyenangkan dengan lokasi yang mudah dicapai akan menjadi

Bila tempat kedudukan hukum dari suatu jenis hubungan hukum telah dapat ditentukan, maka Sistem Hukum dari Tempat itulah yang digunakan sebagai Lex Cause... • Setelah tempat