• Tidak ada hasil yang ditemukan

Fungtor u-eksak dan u-fungtor

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Fungtor u-eksak dan u-fungtor"

Copied!
47
0
0

Teks penuh

(1)

FUNGTOR U-EKSAK DAN U-FUNGTOR

MAFTUL FAHRULROHMAN

PROGRAM STUDI MATEMATIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

FUNGTOR

U

-EKSAK DAN U-FUNGTOR

SKRIPSI

Sebagai syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains

Oleh

MAFTUL FAHRULROHMAN

1111094000038

PROGRAM STUDI MATEMATIKA

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(3)
(4)

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI

BENAR-BENAR HASIL KARYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH DIAJUKAN

SEBAGAI SKRIPSI ATAU KARYA ILMIAH PADA PERGURUAN TINGGI

ATAU LEMBAGA MANAPUN

Jakarta, Juni 2015

Maftul Fahrulrohman

(5)

ABSTRAK

Maftul Fahrulrohman, Fungtor U eksak dan U fungtor. Di bawah

bimbin-ganGustina Elviyanti, M.Si dan Mahmudi, M.Si.

Kategori adalah suatu struktur aljabar yang terdiri dari koleksi objek, koleksi homomor…sma antar objek dan sebuah operasi komposisi. Mor…sma yang men-gaitkan kategori satu dengan kategori yang lain disebut fungtor.

Davvaz dan Parnian memperkenalkan generalisasi dari konsep barisan eksak yang disebut barisanU eksak. Kemudian Davvaz dan Shabani memperkenalkan konsep fungtorU eksak danU fungtor. FungtorU eksak adalah fungtor yang mengawetkan sifat keeksakan dari suatu barisan U eksak. U fungtor adalah fungtor dengan kondisi jika setiap homomor…sma ' : A ! B dan setiap U submodulB dengan U Im' makaT (U) ImT (').

Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan struktur fungtor U eksak dan

U fungtor dan membuktikan sifat-sifat dari struktur U eksak fungtor dan U

fungtor.

(6)

ABSTRACT

Maftul Fahrulrohman,U exact functor and U functor.

Category is an algebraic structure consisting of the collection of objects, homomorphism between objects, and the composition operation. The notion of U exact sequence was introducted by Davvaz and Parnian as a generalization of exact sequences. Davvaz and Shabani introducted the concepts of U exact functor andU functor. In this paper, we prove the futher results aboutU exact functor and U functor.

(7)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini saya persembahkan untuk

Kedua orang tua saya tercinta

Yang aku ketahui hanyalah satu: aku tidak tahu apa-apa.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul"FungtorU eksak danU fungtor".

Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu kewajiban akhir mahasiswa untuk memperoleh gelar sarjana. Penulis mendapat banyak pelajaran selama mengkaji bahan-bahan penelitian yang tidak didapatkan dalam bangku perkuli-ahan. Pelajaran yang paling penting adalah kesabaran, kerja keras dan pantang menyerah dalam mencapai tujuan.

Penulis menyadari tanpa bantuan, dorongan, bimbingan dan do’a dari berba-gai pihak penelitian ini tidak mungkin terselesaikan dengan baik. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Dr. Agus Salim M.Si. sebagai Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus sebagai pembimbing akademik.

2. Dr. Nina Fitriyati, M.Kom. sebagai Ketua Prodi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Suma’inna M.Si. sebagai Sekretaris Prodi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus sebagai penguji I.

4. Gustina El…yanti M.Si. sebagai dosen Prodi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus sebagai pembimbing I.

5. Mahmudi M.Si sebagai dosen Prodi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus sebagai pembimbing II.

6. Yudi Mahatma M.Si. sebagai dosen Prodi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus sebagai penguji II.

7. Edo Abdullah Faqih, S.Si. sebagai dosen Prodi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

8. Para dosen Prodi Matematika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, tetapi tidak mengurangi rasa hormat penulis kepada mereka.

(9)

10. Seluruh teman matematika 2011 yang telah bekerja sebagai rekan seper-juangan selama masa pekuliahan.

11. Pihak-pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu tanpa mengu-rangi rasa hormat, yang telah memberikan dorongan dan bantuan sehingga skripsi ini selesai disusun.

Akhir kata, semoga skripsi ini bermanfaat khususnya bagi penulis dan umumnya bagi kita semua dalam rangka menambah wawasan pengetahuan kita.

Jakarta, Juli 2015

(10)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

HALAMAN PENGESAHAN ii

PERNYATAAN iii

ABSTRAK iv

ABSTRACT v

PERSEMBAHAN vi

KATA PENGANTAR vii

DAFTAR ISI ix

1 PENDAHULUAN 1

1.1 Latar Belakang . . . 1

1.2 Rumusan Masalah . . . 2

1.3 Batasan Masalah . . . 2

1.4 Tujuan . . . 2

2 LANDASAN TEORI 3 2.1 Gelanggang dan Modul . . . 3

2.2 Modul Projektif . . . 5

2.3 Rantai Kompleks dan Barisan Eksak . . . 8

2.4 Kategori dan Fungtor . . . 9

2.5 Fungtor Eksak . . . 14

2.6 Rantai U Kompleks dan BarisanU Eksak . . . 15

2.7 Mor…sma U Kompleks dan Rantai U Homotopi . . . 17

3 Fungtor U eksak dan U fungtor 20 3.1 Fungtor U eksak . . . 20

(11)

4 KESIMPULAN DAN SARAN 34

4.1 Kesimpulan . . . 34 4.2 Saran . . . 35

(12)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kategori adalah suatu struktur aljabar yang terdiri dari koleksi objek, koleksi

homomor…sma antar objek dan sebuah operasi komposisi. Kategori merupakan

generalisasi dari struktur objek-objek aljabar seperti ruang vektor, grup,

gelang-gang, lapangan, dan modul. Pada struktur ruang vektor kita mengenal pemetaan

linier, pada grup kita mengenal homomor…sma grup, pada gelanggang kita

men-genal homomor…sma gelanggang, dan sebagainya, sedangkan pada kategori, suatu

pengaitan dari kategori satu dengan kategori lain dikenal dengan konsep fungtor.

Suatu rantai kompleks

Pertanyaan yang muncul adalah bagaimana jikaf0gdiganti dengan Un 1 sebuah

submodul dari Cn 1: Dalam [1]; Davvaz dan Parnian memperkenalkan

gener-alisasi dari konsep ini yang disebut barisan U eksak, yang merupakan

modi-…kasi dari notasi barisan eksak biasa dan menjawab permasalahan di atas.

Ke-mudian dalam [3] Davvaz dan Shabani memperkenalkan generalisasi dari

be-berapa topik dalam aljabar homologik. Mereka mende…nisikan konsep rantai

U kompleks, U homologi, rantai (U; U0) pemetaan; rantai (U; U0) homotopi

dan U fungtor.

Dari itu, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur fungtorU eksak

dan U fungtor yang telah diperkenalkan oleh Davvaz dan Shabani pada [3] dan

(13)

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas maka permasalahan yang akan dikaji

dalam penulisan ini adalah:

1. Bagaimana struktur dan sifat dari fungtor U eksak?

2. Bagaimana struktur dan sifat dari U fungtor?

1.3 Batasan Masalah

Pembahasan pada penulisan ini menggunakan kategori R Mod.

1.4 Tujuan

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan struktur fungtor U eksak dan

U fungtor yang telah diperkenalkan oleh Davvaz dan Shabani pada[3]dan

(14)

BAB 2

LANDASAN TEORI

2.1 Gelanggang dan Modul

De…nisi 2.1 Gelanggang adalah himpunan tak kosong R dengan dua operasi,

disebut penjumlahan dan perkalian, sehingga memenuhi

1. (R;+) grup abel

2. (R; :) monoid

3. (R;+; :) distributif, yaitu a(b +c) = ab +ac dan(a +b)c=ac+bc untuk

setiapa; b; c2R

Jika(R ; :)grup maka Rdisebut gelanggang pembagian dan jika (R; :)grup abel

makaR disebut gelanggang komutatif.

Contoh 2.2 Himpunan bilangan bulat Z adalah gelanggang komutatif.

De…nisi 2.3 Misalkan R suatu gelanggang. Sebuah R-modul kanan adalah

him-punan tak kosong M, dengan dua operasi. Operasi pertama disebut penjumlahan

(+) yang mengaitkan (M1; M2) 2 M1 M2 ke M1 +M2 2 M. Operasi kedua

disebut perkalian skalar yang mengaitkan (M; r)2M r ke M r2M: Memeuhi.

1. (M;+) grup abel

2. Untuk setiap M1; M2 2M dan r; s2R berlaku

(a) M1r 2M

(b) M1(rs) = (M1r)s

(c) M1(r+s) =M1r+M1s

(d) (M1+M2)r=M1r+M2r

(15)

Dan M dikatakan R modul kiri jika perkalian skalar dilakukan di sebelah kiri.

JikaM merupakan modul kiri sekaligus modul kanan makaM disebutR modul.

Submodul dari M.adalah subhimpunan tak kosong S dengan S M yang

ter-tutup terhadap operasi penjumlahan dan perkalian skalar diM:

Contoh 2.4 1. Himpunan bilangan real R membentuk modul atas dirinya

sendiri dan atas himpunan bilangan bulat Z terhadap operasi penjumlahan

dan perkalian skalar.

2. Himpunan bilangan bulatZmembentuk modul atas dirinya sendiri terhadap

operasi penjumlahan dan perkalian skalar.

3. Himpunan bilangan bulat Zn membentuk modul atas Z terhadap operasi

penjumlahan dan perkalian skalar.

4. Himpunan bilangan bulat Z adalah submodul dari R:

De…nisi 2.5 Misalkan X; Y masing-masing adalah R modul, pemetaan

f :X !Y dikatakan homomor…smaR modul, ditulisR homomor…sma, jika:

1. f(a+b) = f(a) +f(b);8a; b2X

2. f(ka) =kf(a);8a 2X dan k 2R.

Lema 2.6 Misalkan X; Y masing-masing adalah R modul, pemetaan

f :X !Y dikatakan homomor…sma R modul, ditulis R homomor…sma, jika

dan hanya jika

f(ra+sb) = rf(a) +sf(b);8a; b2X dan r; s2R

Contoh 2.7 Diketahui Z modul atas dirinya sendiri. Pemetaan nol ; : Z ! Z

yang dide…nisikan dengan ;(x) = 0, untuk setiap x 2 Z, merupakan

homomor-…sma modul.

(16)

;(kx+ly) = 0 = 0 + 0 =k0 +l0

= k;(x) +l;(y)

maka;(kx+ly) = k;(x) +l;(y).

De…nisi 2.8 MisalkanM modul atasR dan S submodul dari M. Modul kuosien

dari M oleh S adalah M=S dimana

M=S =v+S =fv+sjs2Sg

dengan operasi penjumlahan dan perkalian skalar berikut :

(u+S) + (v+S) = (u+v) +S dan r(u+S) = (ru) +S

untuk setiap u+S; v+S 2M=S dan r2R.

Contoh 2.9 Diketahui R modul atas dirinya sendiri dan Z submodul dari R

DiketahuiR Z=fa+Zja2Rg.De…nisikan operasi penjumlahan dan perkalian

skalar pada R Z

(a+Z) + (b+Z) = (a+b) +Z

r(a+Z) = (ra) +Z

untuk setiap(a+Z);(b+Z)2R Zdanr2R. MakaR Zadalah modul kuosien dari R oleh Z.

2.2 Modul Projektif

Teori yang dijelaskan pada bagian ini mengacu pada [4] dan [5].

De…nisi 2.10 Sebuah pengangkatan dari pemetaanh:C !A00adalah pemetaan

g :C !A dengan pg =h

C

g . # h

(17)

makag adalah pengangkatan dari h, ditulis h=p (g),

dimana p : HomR(C; A) !HomR(C; A00):

Berikut ini adalah de…nisi dari modul projektif.

De…nisi 2.11 Misalkan P adalah R mod, P dikatakan projektif jika apabila

diberikan psurjektif dan h suatu pemetaan, maka terdapat pengangkatang, yaitu

terdapat pemetaan g sehingga diagram berikut komutatif

P

g . #h

A p! A00 ! 0

Contoh 2.12 Misalkan Z; Zm =

n

0;1; :::; m 1o; Zn = 0;1; :::; n 1 2

Obj(Z Mod) dengan mjn. Misalkan

p : Zn !Zm

x 7 ! xmodm

1. Jika h : Z ! Zm dengan h(y) = y modm maka g : Z ! Zn dengan

g(z) =z modn adalah pengangkatan dari h.

2. Jika h: Z ! Zm dengan h(y) =ky modm untuk k 2 Z maka g :Z !

Zn dengan g(z) = kz modn adalah pengangkatan dari h.

3. Jika h : Z ! Zm dengan h(y) = (k+y) modm untuk k 2 Z maka

g :Z !Zn dengan g(z) = (k+z) modn adalah pengangkatan dari h.

Bukti.

1. Perhatikan

(18)

karena mjn maka

p 0;1; :::; n 1 = 0;1; :::; n 1 modm

= n0;1; :::; m 1o

= Zmodm

= h(Z)

Makag adalah pengangkatan dari h.

2. Perhatikan

pg(Z) = p(kZmodn) = p((kmodn:Zmodn) modn) = p kmodn: 0;1; :::; n 1

karena mjn maka

p kmodn: 0;1; :::; n 1 = kmodn: 0;1; :::; n 1 modm

= (kmodn) modm:n0;1; :::; m 1o

= n0; k; k2; :::; k(m 1)o

= kZmodm =h(Z)

Makag adalah pengangkatan dari h:

3. Perhatikan

(19)

karena mjn maka

p kmodn+ 0;1; :::; n 1 = kmodn+ 0;1; :::; n 1 modm

= (kmodn) modm+n0;1; :::; m 1o

= nk; k+ 1; k+ 2; :::; k+ (m 1)o

= (k+Z) modm=h(Z)

Makag adalah pengangkatan dari h.

2.3 Rantai Kompleks dan Barisan Eksak

Teori-teori berikut mengacu pada [5]. Berikut ini de…nisi dari rantai

kom-pleks.

De…nisi 2.13 Rantai kompleksC dariR modul adalah koleksiC = (Cn; dn)n2Z

dimana Cn dan dn masing-masing adalahR modul dan R homomor…sma

(Cn; dn) : !Cn+1 ! dn+1

Cn ! dn

Cn 1 ! dn 1

Cn 2 !

sedemikian sehingga dndn+1 = 0: Pemetaan dn disebut di¤erensial dari C. Lebih

jauh jika Im (dn+1) = ker (dn) n2Z maka C disebut barisan eksak.

Berikut ini adalah de…nisi dari barisan eksak pendek.

De…nisi 2.14 MisalkanA; B;danC adalah modul. Barisan homomor…sma modul

0!A!f B !g C !0

adalah barisan eksak pendek jikaf adalah injektif,g adalah surjektif danIm(g) =

ker(h).

JikaB !g C !0adalah eksak maka g adalah surjektif dan jika0!A!f B

(20)

2.4 Kategori dan Fungtor

Teori-teori mengenai kategori dan fungtor berikut mengacu pada [6].

De…nisi 2.15 Suatu kategori C terdiri dari:

1. Kelas objek ObC yang elemennya disebut objek dari C

2. Koleksi himpunan Hom (X; Y); satu untuk setiap pasangan terurut

objek-objek dari X; Y 2 C. Unsur di Hom (X; Y) disebut mor…sma (dari C) dari

X ke Y

3. Koleksi pemetaan

: Hom (X; Y) Hom (Y; Z) ! Hom (X; Z)

(f; g) 7! gf

untuk setiap triple terurut X; Y; Z 2 C.

Ketiga data di atas harus memenuhi

1. Setiap mor…sma f secara tunggal menentukan X; Y 2 C sedemikian

se-hingga f 2Hom (X; Y).

Dengan perkataan lain jika(X; Y)6= (X0; Y0)makaHom (X; Y)\Hom (X0; Y0)

=;

2. Untuk setiap X 2 C terdapat mor…sma

1X 2Hom (X; X)

dinamakan identitas padaX, sedemikian sehingga jikaf 2Hom (X; Y)dan

g 2Hom (W; X) maka

(21)

3. Komposisi mor…sma bersifat asosiatif, yaitu jika f 2 Hom (X; Y); g 2

Hom (Y; Z) dan h2Hom (Z; W) maka

h(gf) = (hg)f

Dalam [6] dijelaskan bahwa kita juga dapat menulisX 2 Cuntuk menyatakan

X 2ObC, danHomC(X; Y) atau C(X; Y)untuk menyatakan Hom (X; Y):

Mor-…smaf 2Hom (X; Y)juga dapat ditulisf :X !Y atauX !f Y:Pada mor…sma

tersebut, objekX dan Y masing-masing disebut sumber dan target dari f:

Him-punan[X;Y2CHom (X; Y)dinotasikan dengan M or(C):

Jika X suatu objek di C maka 1X tunggal. Dengan demikian terdapat

ko-respondensi satu-satu antara kelas objek dari C dan kelas mor…sma identitas,

oleh karena itu dalam mende…nisikan sifat-sifat pada kategori cukup dilihat

mor-…sma dan komposisi (bukan objek). Pernyataan paling sederhana dalam kategori

adalah suatu komposisi mor…sma sama dengan suatu komposisi lainnya,

mis-alkangf =g0f0:Dalam hal ini kita katakan juga diagram berikut komutatif jika

gf =g0f0:

X !f Y

#f0 #g

X0 !g0 Y0

Contoh 2.16

1. Sets. Objeknya berupa himpunan, mor…smanya berupa pemetaan, dan

kom-posisinya adalah komposisi pemetaan biasa.

2. Groups. Objeknya berupa grup, mor…smanya berupa homomor…sma grup,

dan komposisinya adalah komposisi pemetaan biasa.

3. Ab. Objeknya berupa grup abel, mor…smanya berupa homomor…sma grup,

dan komposisinya adalah komposisi pemetaan biasa.

4. R Mod. Objeknya berupa R modul, mor…smanya berupa homomor…sma

(22)

Pemetaan yang mengawetkan operasi pada kategori disebut fungtor.

De…nisi 2.17 Sebuah fungtor dari kategori C ke kategori D, dinotasikan dengan

F :C ! D, terdiri dari:

1. Pemetaan ObC ! ObD :X!F (X)

2. Pemetaan M orC ! M orD :f !F (f) sedemikian sehingga untuk setiap

f 2 HomC(X; Y) kita punya F(f)2HomD(F (X); F (Y))

Kedua data di atas harus memenuhi kondisi berikut : F(f g) =F (f)F (g);untuk

setiapf; g 2M orC dimana f g terde…nisi. Lebih khusus, F (1X) = 1F(X):

De…nisi 2.18 Misalkan C kategori.

1. Mor…sma f : X ! Y di C dikatakan isomor…sma jika terdapat mor…sma

g :Y !X sehingga gf = 1X dan f g = 1Y:

2. Objek X dan Y dikatakan isomor…k jika terdapat isomor…sma diantara

ke-duanya.

Dengan analogi serupa kita juga dapat mende…nisikan isomor…sma kategori.

Isomor…sma antara ategori C dan Ddiberikan oleh fungtor F : C ! D dan

G : D ! C sedemikian sehingga F G = 1D dan GF = 1C: Namun syarat ini

terlalu kuat dan tidak realistis, oleh karena itu dide…nisikan istilah ekivalensi dua

kategori.

Lebih lanjut de…nisi dari fungtor kontravarian dan fungtor kovarian yang

beerdasarkan pada [5] adalah sebagai berikut.

De…nisi 2.19 Sebuah kontravarian fungtor T : C ! D, dimana C dan D

kate-gori, adalah pemetaan yang memenuhi:

1. Jika C2ObC maka T (C)2ObC

(23)

3. Jika C !f C0 !g C00 di C makaT (C00) T!(g) T (C0) T(!f) T(C) di D dan

T (gf) = T(f)T(g)

4. T(1A) = 1T(A) untuk setiap A2ObC

De…nisi 2.20 Sebuah kovarian fungtor T : C ! D, dimana C dan D kategori,

adalah pemetaan yang memenuhi:

1. Jika A2ObC makaT (A)2ObC

2. Jika f :A!A0 di C maka T(f) :T (A)!T (A0) di D

3. Jika A !f A0 !g A00 di C makaT (A) T!(g) T (A0) T(!f) T(A00) di D dan

T (gf) = T(g)T (f)

4. T(1A) = 1T(A) untuk setiap A2ObC

Berikut ini contoh dari fungtor kovarian yang berdasarkan pada [5].

Contoh 2.21 Misalkan C adalah kategori dan A 2 ObC, fungtor kovarian hom

TA:C !Sets, dinotasikan Hom (A; ), yaitu

TA(B) = Hom (A; B); 8B 2ObC

dan jika f :B !B0 di C maka

TA(f) : Hom (A; B) !Hom (A; B0)

yaitu

Hom (A; f) =TA(f) :h7 !f h

(24)

Misalkan f :B !B0 dan g :B0 !B" maka

Hom (A; f g) = Hom (A; f) Hom (A; g)

: Hom (A; B) !Hom (A; B")

dan bersifat assosiatif, yaitu

Hom (A; f) Hom (A; g) :h7 !f h7 !g(f h) = (gf)h

Misalkan 1B :B !B adalah pemetan identitas, maka

Hom (A;1B) :h7 !1Bh=h

8h2Hom (A; B), maka Hom (A;1B) = 1Hom(A;B)

De…nisi 2.22 Sebuah fungtor T :R Mod ! Ab dikatakan fungtor aditif jika

8R homomor…sma f; g:A !B maka

T (f +g) =T (f) +T(g)

Kemudian berikut ini adalah de…nisi kategori aditif. De…nisi berikut mengacu

pada [9].

De…nisi 2.23 Kategori A dikatakan kategori aditif jika berlaku:

A1 Untuk setiap pasang objek X; Y di A, himpunan HomA(X; Y) merupakan

grup abel dan komposisi mor…sma

HomA(X; Y) HomA(Y; Z)!HomA(X; Z)

bilinier atas Z:

A2 Amemuat objek0(yaitu untuk setiap objek diAmaka himpunanHomA(X;0)

(25)

A3 Untuk setiap pasang objek X; Y di A terdapat koproduk X Y:

Keterangan.

1. Kategori yang memenuhi kondisi (A1)dan (A2)disebut kategori pra-aditif

2. Misalkan C adalah kategori dan X; Y objek di C. Koproduk dari X dan

Y di C adalah objek X Y bersama mor…sma 1X : X ! X Y dan

1Y : Y ! X Y dan memenuhi kondisi universal berikut: untuk setiap

objek Z di C dan mor…sma fX : X ! Z dan fY : Y ! Z terdapat

tunggal homomor…smaf :X Y !Zsedemikian sehingga diagram berikut

komutatif.

Z

fX % " -fY

X !

1X

X Y 1Y

Y

Contoh 2.24 Kategori R Modadalah kategori aditif.

2.5 Fungtor Eksak

Teori yang dijelaskan pada bagian ini mengacu pada [5] dan [7].

De…nisi 2.25 Misalkan fungtor aditif F : R Mod ! Ab. F dikatakan

eksak kiri jika untuk setiap barisan eksak 0 ! A ! B ! C, maka barisan

0 !F (A) !F (B) !F (C) adalah barisan eksak.

F dikatakan eksak kanan jika untuk setiap barisan eksak A ! B ! C !

0, maka barisan F (A) ! F (B) ! F (C) ! 0 adalah barisan eksak. F

dikatakan eksak jika memenuhi keduanya.

Proposisi 2.26 HomR(D; ) adalah fungtor eksak adalah eksak kiri.

Proposisi 2.27 P adalah R mod projektif jika dan hanya jika HomR(P; )

(26)

2.6 Rantai U Kompleks dan Barisan U Eksak

Teori yang dijelaskan pada bagian ini mengacu pada [3]. Generalisasi dari

rantai kompleks adalah rantaiU kompleks. Berikut de…nisi dari rantaiU kompleks.

De…nisi 2.28 Diberikan keluarga C = (Cn; Un; dn)n2Z dimana Cn; Un adalah

Dari de…nisi di atas maka jelas bahwa rantai kompleks adalah rantai0 kompleks,

dimana 0 barisan submodul 0: Begitu juga dengan rantai (Cn; Un; dn) dengan

sifat dndn+1(Cn+1) = Un+1 juga rantai U kompleks. Jika (Cn; Un; dn) rantai

U kompleks makaIm (dn) d 1(Un 1):JikaIm (dn) =d 1(Un 1) 8n2Zmaka rantai U kompleks tersebut dikatakan barisanU eksak.

(27)

2. DiberikanZ12 =

Generalisasi dari barisan eksak pendek adalah barisan U eksak.

De…nisi 2.30 Misalkan 0 ! A f! B !g C ! 0 adalah f0g eksak di

A; U eksak di B; dan f0g eksak di C maka barisan tersebut dikatakan barisan

U eksak pendek.

Barisan 0 ! A f! B g! C ! 0 dikatakan U eksak pendek jika f

injektif, g surjektif, danImf =g 1(U).

Contoh 2.31 1. Diberikan barisan Z modul dan Z homomor…sma modul

(28)

2. Diberikan barisan Z modul dan Z homomor…sma modul 0 ! Zl

2.7 Mor…sma U Kompleks dan Rantai U Homotopi

Generalisasi dari mor…sma kompleks adalah mor…smaU kompleks. Berikut

adalah de…nisi dari mor…smaU kompleks.

De…nisi 2.32 Misalkan(C; U; @)adalah rantaiU kompleks dan(C0; U0; @0)adalah

rantaiU0 kompleks. Mor…smaU kompleks adalah barisanF = F

p :Cp !Cp p0 2Z

disubut juga rantai (U; U0) pemetaan.

Contoh 2.33 MisalkanZ8 = 0;1; :::;7 ,Z12=

n

0;1; :::;11o, Z8; 0;4 ;2xmod 8

adalah 0;4 kompleks dan

Z12;n0;4;8o;2xmod 12 adalah n0;4;8o kompleks. Misalkan F = (Fp)p2Z

(29)

Perhatikan

Kemudian generalisasi rantai homotopi adalah rantai (U; U0) homotopi.

De…nisi 2.34 Misalkan(C; U; @)adalah rantaiU kompleks dan(C0; U0; @0)adalah

rantai U0 kompleks. Dan misalkan F

p; Gp : Cp ! Cp0 adalah rantai (U; U0)

pemetaan. F dan G dikatakan rantai (U; U0) homotopik, dinotasikan F ' G,

jika terdapat barisan homomor…sma R modul D= (Dp)p2Z, sehingga memenuhi

(30)

De…nisikan D= (Dp)p2Z dengan Dp(x) = xmod 12 8x2Z8. Perhatikan

p+1Dp+Dp 1 p (x) = p+1Dp(x) +Dp 1 p(x)

= p+1(xmod 12) +Dp 1(2xmod 8)

= 2 (xmod 12) mod 12 + (2xmod 8) mod 12

= 2xmod 12 + 2xmod 12

= 2x+ 2x= 4x= 4xmod 12

= 5x xmod 12

= 5xmod 12 xmod 12

= Fp(x) Gp(x) = (Fp Gp) (x)

dan

Dp 0;4 = 0;4 mod 12

n

0;4;8o

(31)

BAB 3

Fungtor

U

eksak dan

U

fungtor

Pada bagian ini akan dibahas struktur dan sifat dari fungtor U eksak.

3.1 Fungtor U eksak

De…nisi 3.1 Misalkan R dan S gelanggang komutatif dan T fungtor kovarian

aditif dari R modul ke S modul. T adalah U eksak kiri jika memenuhi kondisi

berikut.

Misalkan diberikan barisanU eksak dari R modul dan R homomor…sma

0 !A '!B !C

maka barisan S modul dan S homomor…sma

0 !T (A) T(!') T(B)T(!)T (C)

adalah T (U) eksak.

Contoh 3.2 Diberikan barisan Z modul dan Z homomor…sma modul 0 !

Z2 f! Z5 g! Z5 dengan f(x) = x mod 5 dan g(x) = x mod 5, berdasarkan

Contoh2:31 (1)barisan tersebut adalah 0;1 eksak. Maka barisan0 !HomR

(Z;Z2) f!HomR(Z;Z5) g

!HomR(Z;Z5) adalah HomR Z; 0;1 eksak.

Z

. # &

0 ! Z2 f

! Z5 g

! Z5

Bukti.

(32)

Berdasarkan de…nisi f, kita puya f = 0, artinya f (x) = 0 8x 2 Z:

2. Ambil sebarang 2Imf, akan ditunjukkan 2g 1Hom

R Z; 0;1 :

Karenaf monomor…sma makaf :A !Imf isomor…sma. Konstruksikan

(33)
(34)

Karena f 2 1(HomR(D; U)) maka terdapat g 2 HomR(D; U) sehingga

(f) = f = g: Maka f(x) 2 U 8x 2 D: Oleh karena itu f(x) 2

1(U):

Karena 0 ! A '! B ! C adalah U eksak maka Im' = 1(U),

maka kita punya f(x)2Im':

Karena' monomor…sma maka':A !Im' isomor…sma. Konstruksikan

pemetaan komposisi h:D !A

D f!Imf Im' '

1

!A

makah2HomR(D; A) dan f ='h='(h)sehingga f 2Im':

D

h . #f &

A '! Im' B ! C

De…nisi 3.4 Fungtor aditif kovarian T adalah U eksak kanan jika memenuhi

kondisi berikut.

Misalkan diberikan barisanU eksak dari R modul dan R homomor…sma

A '!B !C !0

maka barisan S modul dan S homomor…sma

T(A) T(!') T (B)T(!) T(C) !0

adalah T (U) eksak.

Contoh 3.5 Diberikan barisan Z modul dan Z homomor…sma modul Zl

f

!

Zm g

! Zm ! 0 dengan f(x) = x modm dan g(x) = x modm, l <

(35)

Maka barisan HomR(Z;Zl)

1. Ambil sebarang 2Imf, akan ditunjukkan 2g 1 Hom

(36)

3. Ambil sebarang 2Img, akan ditunjukkan 2HomR(Z;Zm):

Karena g epimor…sma dan berdasarkan Contoh 2:12 maka terdapat h :

Z !Zm sehingga gh=g(h) = .

Proposisi 3.6 D adalah R modul projektif jika dan hanya jika HomR(D; )

(37)

1. Akan dibuktikan Im' 1(HomR(D; U)): Ambil sebarang f 2 Im',

epimor…sma dan karena D adalah R mod proyektif maka terdapat h :

(38)

4. Akan dibuktikan HomR(D; C) Im : Ambil sebarangf 2 HomR(D; C),

Karena epimor…sma danD adalah R mod proyektif maka terdapat h:

D !B sehingga h= (h) =f.

D

. #h &f

A '! B ! C

Sehingga f 2Im .

Maka dari (1) (4) terbukti bahwa HomR(D; ) adalah U eksak kanan.

Sebaliknya, jika HomR(D; ) adalah U eksak kanan maka epimor…sma.

Oleh karena itu jika : B ! C dan 2 HomR(D; C), yaitu : D ! C,

maka terdapat 2HomR(D; B), :D !C sedemikian sehingga = atau

( ) = . Maka D adalahR modul projektif.

De…nisi 3.7 Fungtor aditif kovarianT adalahU eksak, jika untuk setiap barisan

U eksak pendek dariR modul dan R homomor…sma

0 !A '!B !C !0

maka barisan S modul dan S homomor…sma

0 !T(A) T(!') T (B)T(!)T (C) !0

adalah T (U) eksak.

Contoh 3.8 Diberikan barisan Z modul dan Z homomor…sma modul 0 !

(39)

pendek. Maka barisan 0 ! HomR(Z;Zl)

Ambil sebarang 2kerf, akan ditunjukkan = 0:

Berdasarkan de…nisi f, kita puya f = 0, artinya f (x) = 0 8x 2 Z: Karena

f monomor…sma sehingga = 0.

Jelas bahwa

Proposisi 3.9 DadalahR mod proyektif.jika dan hanya jikaHomR(D; )adalah

U eksak.

Sebaliknya, jika HomR(D; ) adalah U eksak maka epimor…sma. Oleh

karena itu jika : B ! C dan 2 HomR(D; C), yaitu : D ! C, maka

terdapat 2 HomR(D; B), : D ! C sedemikian sehingga = atau

(40)

3.2 U fungtor

Pada bagian ini akan dibahas struktur dan sifat dari U fungtor kovarian.

De…nisi 3.10 Misalkan T adalah fungtor kovarian. T dikatakan U fungtor

ko-varian jika untuk setiap homomor…sma ' : A ! B dan setiap U submodul B

dengan U Im' sehingga memenuhi kondisi

T (U) ImT (')

Contoh 3.11 Misalkan f : Zm ! Zn; f(x) = xmodn 8x2 Zm dengan njm.

Diketahui 0;1 Imf. maka HomR Z; 0;1 Imf :

Bukti. Ambil sebarang 2HomR Z; 0;1 , akan dibuktikan 2Imf.

Karena 2 HomR Z; 0;1 = f :Z ! 0;1 f homomor…smag maka Im 0;1 dan Im 0;1 Imf sehingga kita punya diagram

Z

. #

Zm f

! Imf Zn

Berdasarkan Contoh 2:12, maka terdapat 2 HomR(Z;Zm) sehingga f =

atau f( ) = . Oleh karena itu 2Imf.

Proposisi 3.12 D adalah R modul projektif jika dan hanya jika HomR(D; )

adalah U fungtor kovarian.

Bukti. Misalkan homomor…sma ' : A ! B dan U submodul dari B dengan

U Im' ='(A).

(41)

Karena 2 HomR(D; U) = ff :D !U j f homomor…smag maka Im U

dan Im U Im' sehingga kita punya diagram

D

. #

A '! Im' B

KarenaD adalahR modul projektif maka terdapat 2HomR(D; A) sehingga

' = atau '( ) = . Oleh karena itu 2 Im'. Maka HomR(D; ) adalah

U fungtor kovarian.

Misalkan HomR(D; ) adalah U fungtor kovarian. Misalkan ' : A !

Im' B epimor…sma. Karena HomR(D; ) adalah U fungtor kovarian maka

' : HomR(D; A) ! Im' HomR(D; B) epimor…sma. Sehingga jika 2

Im' HomR(D; B), yaitu :D !Im' B maka terdapat 2HomR(D; A)

sehingga' = atau '( ) = . Akibatnya D adalah R modul projektif.

Contoh 3.13 Diketahui Z8; 0;4 ; f ; dengan f(x) = 2xmod 8 8x 2 Z8,

adalah rantai 0;4 kompleks. Maka HomR(Z;Z8);HomR Z; 0;4 ;HomR(Z; f)

adalah rantai HomR Z; 0;4 kompleks.

Bukti. Karena Z8; 0;4 ; @ adalah rantai 0;4 kompleks maka(f f) (Z8)

0;4 dan kita punya homomor…sma (f f) :Z8 ! 0;4 , sehingga

HomR(Z; f f) : HomR(Z;Z8) !HomR Z; 0;4

atau

HomR(Z; f) HomR(Z; f) : HomR(Z;Z8) !HomR Z; 0;4

sehingga(HomR(Z; f) HomR(Z; f)) (HomR(Z;Z8)) HomR Z; 0;4 :

Karena Z8; 0;4 ; @ adalah rantai 0;4 kompleks maka 0;4 Imf. Karenaf :Z8 !Z8; f(x) = 2xmod 8 8x2Z8 maka kita peroleh

(42)

Proposisi 3.14 Misalkan T adalah U fungtor kovarian dan (C; U; @) adalah

rantai U kompleks, maka barisan

(T (C); T (U); T (@)) : ::: !T (Cp+1)

T(@p+1)

! T(Cp) T(@p)

! T (Cp 1) !:::

adalah rantai T (U) kompleks.

Bukti.

1. Akan dibuktikan T (@p)T (@p+1)T (Cp+1) T (Up 1):

Karena(C; U; @)adalah rantai U kompleks maka

@p@p+1(Cp+1) Up 1 dan kita punya homomor…sma @p@p+1 : Cp+1 !

Up 1, sehingga T (@p@p+1) : T (Cp+1) ! T(Up 1). Karena T kovarian

makaT (@p@p+1) =T (@p)T (@p+1) :T(Cp+1) !T (Up 1)sehingga

T(@p)T (@p+1)T (Cp+1) T(Up 1).

2. Akan dibuktikan T (Up 1) ImT (@p):

Karena(C; U; @)adalah rantaiU kompleks makaUp 1 Im@p. Karena

T adalah U fungtor kovarian dan @p : Cp ! Cp 1 maka kita peroleh

T(Up 1) T (@p) (T (Cp)) atau T(Up 1) ImT (@p).

Contoh 3.15 Lihat Contoh2:33, kita punyaF adalah rantai (f0;4g;f0;4;8g)

pemetaan, makaHomR(Z; F)adalah rantai(HomR(Z;f0;4g);HomR(Z;f0;4;8g))

pemetaan.

Bukti. KarenaFp 1 p = pFp. makaHomR(Z; Fp 1) HomR(Z; p) = HomR Z; p

HomR(Z; Fp).

Karena Fp(f0;4g) f0;4;8g maka kita punya Fpjf0;4g : f0;4g ! f0;4g

se-hinggaHomR(Z; F) (HomR(Z;f0;4g)) HomR(Z;f0;4;8g):

(43)

Proposisi 3.16 Misalkan (C; U; @) adalah rantai U kompleks dan (C0; U0; @0)

adalah rantai U0 kompleks. Dan misalkan F = fF

(44)

Maka HomR(Z; F)'HomR(Z; G).

Proposisi 3.18 Misalkan T adalah kovarian aditif U fungtor. Jika

F; G : C ! C0 adalah rantai (U; U0) homotopik maka T F; T G : T (C) !

T(C0) adalah rantai (T(U); T(U0)) homotopik.

Bukti. KarenaT adalahU fungtor maka berdasarkan Proposisi 3:16

(45)

BAB 4

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Fungtor U eksak adalah fungtor yang mengawetkan sifat keeksakan dari

suatu barisanU eksak. Beberapa sifat dari fungtor U eksak adalah

1. HomR(D; ) adalah U eksak kiri.

2. D adalah R modul projektif jika dan hanya jika HomR(D; ) adalah

U eksak kanan.

3. D adalah R modul projektif jika dan hanya jika HomR(D; ) adalah

U eksak.

SuatuU fungtor kovarian adalah fungtor yang untuk setiap homomor…sma

':A !B dan setiap U submodulB dengan U Im', memenuhi kondisi

T (U) ImT (')

Beberapa sifat U fungtor adalah

1. D adalah R modul projektif jika dan hanya jika HomR(D; ) adalah

U fungtor.

2. Barisan ::: ! T (Cp+1)

T(@p+1)

! T (Cp) T(@p)

! T (Cp 1) ! :::adalah rantai

T(U) kompleks jika T adalah U fungtor.

3. JikaT adalahU fungtor makaF =fFpgadalah rantai(U; U0) pemetaan.

(46)

4.2 Saran

Untuk penulisan selanjutnya diharapkan megkaji lebih dalam topik-topik

(47)

DAFTAR PUSTAKA

[1] B.Davvaz dan Y.A Parnian - Gramaleky, A Note on Exact Sequence, Bull.

Malaysian Math. Soc. (2) 22 (1999); 53-56

[2] S.M. Anvariyeh dan B.Davvaz, U-Split Exact Sequence, Far East J. Math.

Sci. (FJMS) 4 (2002), 2, 209-219

[3] B.Davvaz dan H.Shabani-Solt, A generalization of Homological Algebra,

J.Korean Math. Soc, 39 (2002), 6, 881-898

[4] Muchtadi, Intan.Aljabar dan Modul. 2012.

[5] Rotman, Joseph J.An Introduction to Homological Algebra. London: Springer

Verlag.1992.

[6] Gelfand, S.I. dan Y.U.I. Manin,Methods of Homological Algebra, 2nd Editio,

Heidelberg: Springer-Verlag, 1997

[7] Weibel, C.A. An Introduction to Homological Algebra, Cambridge University

Press, United Kingdom, 1994.

[8] Gustina El…yanti. Generalisasi Kategori Kompleks. Laporan penulisan. UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta. Pusat penulisan dan Penerbitan, 2013.

[9] Holm, T. P.J /orgensen dan R.Rouquier, Trianglated Categories, London

Referensi

Dokumen terkait

Menganalisis dan membuat kategori dari unsur-unsur yang terdapat pada pengertian dan hasil operasi aljabar eksponen dan logaritma, kemudian menghubungkan

Program utama dari aplikasi pengujian ini terdiri dari 1 buah form dengan 5 modul, yaitu modul Input Anggota Himpunan, modul Input Hasil Operasi Biner, modul Uji Struktur Aljabar

Menganalisis dan membuat kategori unsur-unsur yang terdapat pada pengertian fungsi dan penerapan operasi aljabar pada fungsi, sifat suatu fungsi dan teknik

Menurut [1], modul adalah suatu struktur aljabar dari suatu himpunan tidak kosong atas sebuah ring yang dilengkapi dengan dua buah operasi biner, berupa operasi

menyelesaikan aljabar max-plus yang merupakan salah satu struktur dalam aljabar yaitu semi-field idempoten Rmax himpunan bilangan real dengan operasi max dan plus.. Tujuannya

Class diagram digunakan untuk membuat model class, hubungan antar class, dan juga untuk membuat model class dengan tingkat struktur yang lebih tinggi yang terdiri dari

Salah satu cabang matematika yang mempelajari struktur, hubungan dan kuantitas adalah aljabar, atau ilmu yang mempelajari mengenai aturan-aturan operasi dan

Program utama dari aplikasi pengujian ini terdiri dari 1 buah form dengan 5 modul, yaitu modul Input Anggota Himpunan, modul Input Hasil Operasi Biner, modul Uji Struktur Aljabar