TEORI BATAS HUKUM ISLAM:
STUDI TERHADAP PEMIKIRAN MUHAMMAD
SHAHRUR DALAM WARIS
Disusun Oleh : SUNARDI PANJAITAN
NIM: 103044128050
JURUSAN AHWALUSYAKHSHIYAH (PERADILAN AGAMA)
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
TEORI BATAS HUKUM ISLAM: STUDI TERHADAP
PEMIKIRAN MUHAMMAD SHAHRUR DALAM WARIS
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum
untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai
Gelar Sarjana Hukum Islam
Disusun Oleh : SUNARDI PANJAITAN
NIM: 103044128050
Dibawah Bimbingan
(DR. H. A. Djuaini Syukri, Lc, MA) (Drs. Umar Al Hadad, MA.g)
JURUSAN AHWALUSYAKHSHIYAH( PERADILAN AGAMA)
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
KATA PENGANTAR Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirabbi ‘alamin, segala puja hanya bagi Allah. Dia-lah sangkan
paran segala kehidupan. Shalawat serta salam hanya bagi Nabi Muhammad Saw, sang
pelita alam semesta.. Selanjutnya kami menghaturkan banyak terimakasih kepada
seluruh pihak yang turut serta dalam menyelesaikan skripsi yang berjudul “TEORI
BATAS HUKUM ISLAM: STUDI TERHADAP PEMIKIRAN MUHAMMAD
SHAHRUR DALAM WARIS”. Terimakasih ini kami persembahkan bagi :
1. Prof. Dr. HM. Amin Summa, SH., MA.,MM., selaku dekan Fakultas Syariah dan
Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, yang kepadanya segala prestasi fakulas
ditambatkan
2. Drs. H. A. Basiq Djalil, SH., MA., selaku ketua jurusan al-Akhwal al-Syakhsiyah,
yang memberikan bimbingan dan arahan kepada kami.
3. Kamarusdiana, SH., MH., selaku sekretaris jurusan al-Akhwal al-Syakhsiyah
yang kami anggap sebagai bapak dan sekaligus sahabat bagi kami.
4. Dr. H. A. Juaini Syukri, Lc., M.A dan Drs. Umar al Haddad, M.Ag., selaku
pembimbing skripsi ini, yang telah memberikan waktu untuk mengoreksi serta
memberikan bimbingan kepada kami.
5. Kepada seluruh dosen, di Fakultas Syariah yang selalu menyalakan bara api
pengetahuan yang begitu mulia.
6. Kepada Ayahanda dan bunda yang kasih sayangnya tak pernah sirna dalam
hidupku. Doa dan ridho mereka berdualah yang selalu menjadi obat penawar dan
7. Kepada adik-adikku yang selalu memberikanku dorongan dan motivasi untuk bisa
menyelesaikan studi ini secepatnya. Berkat Doa dan dorongannya saya bisa
menyelesaikan skripsi ini.
8. Kepada seluruh keluarga besarku, Pamanku, Kakek dan Nenek, Bibi dan
seluruhnya yang tidak bisa saya sebutkan satu-persatu yang selalu memberikan
dorongan bimbingan selama saya menempuh studi di UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
9. Kepada semua sahabatku yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu. Dari
mereka saya belajar banyak dalam mengarungi kehidupan yang tiada terduga ini.
Akhirnya penulis berharap kepada Allah Swt. Semoga skripsi ini
bermamfaat bagi semua pihak.
Jakarta, Medio Januari 2008
DAFTARA ISI
Lembar Pengesahan Skripsi
KATA PENGANTAR………..i
DAFTAR
ISI
……….iii
BAB I
PENDAHULUAN
…..…..………
1
A. Latar Belakang Masalah………2B. Pembatasan dan Perumusan Masalah………7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian………..8
D. Metode Penelitian………..9
E. Sistematika Penulisan……….………..10
II BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN MUHAMMAD SHAHRUR…...12
A. Biografi Muhammad Shahrur dan Latar Belakang Sosialnya..12
B. Dasar Pemikiran Muhammad Shahrur……….17
C. Karir dan Karya Muhammad Shahrur………..19
III TEORI BATAS HUKUM ISLAM………23
A. Pengertian dan Latar Belakang Lahirnya Teori Batas Hukum Islam……….23
C. Al-Istiqamah dan al-Hanifiyah………...………..32
IV IMPLEMENTASI TEOR BATAS DALAM HUKUM WARIS….44 A. Ketentuan Umum Hukum Waris Dalam al-Qur’an…………..44
B. Pemikiran Shahrur Dalam Waris………….……….48
C. Analisis……….55
V PENUTUP………...64
A. Kesimpulan………...64
B. Saran-saran...……….………67
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Diantara sekian banyak ayat-ayat tentang hukum (ayat ahkam) dalam al-Qur’an yang menurut Abdul Wahhab Khallaf berjumlah 2281, hanya ayat tentang warislah yang
secara riqid dan detail diterangkan oleh al-Qur’an dengan ad nauseum (secara panjang lebar). Beberapa ahli hukum meengakui bahwa tidak ada satu aspek hukumpun yang
secara teknis menunjukkan keistimewaan hukum Islam selain dari pada hukum waris2,
yang diyakini sebagai model hukum yang canggih dan lengkap. Karena hukum waris di
dalam al-Qur’an telah dipresentasikan dalam teks-teks yang rinci, sistematis, konkret dan
realistis sehingga menutup kemungkinan adanya multiinterpretasi3.
Pembagian warisan yang telah ditentukan oleh al-Qur’an diatas, oleh para ulama
dipahami sebagai sesuatu yang taken for granted sehingga memiliki signifikasi yang
aksiomatik4 meminjam istilah Nasr Hamid Abu Zayd yaitu merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Konsepsi ini terbentuk karena teks (nash) yang
mendasarinya dipandang sebagai qat’iyy as-subut dan qat’iyy ad-dalalah yang dalam
1
Abdul Wahhab Khallaf, Kaidah-kaidah Hukum Islam; (Ilmu Ushul Fiqih), (Jakarta: Rajawali pres, 1996),,Cet.ke-6 hal, 41-42
2
J.N.D Anderson, Hukum Islam di Dunia Modern, terj, (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994) hal.72
3
A. Sukris Sarmadi, Transendensi Keadilan Hukum Waris Islam Transformatif, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997) hal 1
4
agama dianggap sebagai sesuatu yang wajib diterima sebagaimana adanya, yang berlaku
secara mutlak (compulsory law).
Secara spesifik, masalah waris adalah yang paling kontroversi. Adalah Munawir
Sadjali yang telah menabuh genderang penggugatan terhadap hukum waris Islam. Ia
pertama kali yang menggelindingkan “bola salju pemikiran” yang ia istilahkan dengan
“Reaktualisasi Ajaran Islam”. Ia menawarkan peninjauan kembali mengenai ta’lil al-ahkam atau ratio legis meminjam istilah Fazlurrahman, terhadap formulasi 2:1 bagi anak laki-laki dan anak perempuan. Menurutnya, legislasi ini mempunyai latar belakang
sosio-kultural dimana ketentuan ini disyari’atkan, sehingga dengan demikian dimungkinkan
adanya modifikasi yang dirasa lebih adil5.
Munculnya gagasan diatas, karena secara faktual Munawir Sadjali melihat
ketentuan formulasi 2:1 sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat Indonesia, baik
secara langsung maupun tidak langsung. Menurut beliau banyak di berbagai daerah
termasuk daerah-daerah yang Islamnya kuat seperti Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan
dan bahkan Aceh yang menghendaki pembagian yang tidak sesuai dengan faraid dengan
pergi ke Pengadilan Agama. Sedangkan dipihak lain, semakin membudayanya kebijakan
mendahului (pre-empetive) seperti hibah yang dianggap Munawir sebagai “penyimpangan” secara tidak langsung atau meminjam istilah beliau menghindar secara
tidak jantan dari hukum waris Islam6. Dan fenomena ini menurut beliau termasuk
kategori helah atau bermain-main dengan agama.
5
M. Wahyu Nafis dkk. (ed.), Kontekstualisasi Ajaran Islam; 70 Tahun Prof. Dr. H. Munawir Sadjali, MA,. (Jakarta: paramadina, 1995), hal.89
6
Bak gayung bersambut, Komaruddin Hidayat justru melontarkan pendapat yang
kelihatan lebih ekstrim dari tawaran formulasi 1:1. ia berpendapat lebih Qur’ani jika kita
sekarang mengikuti tadisi orang Minang yang memberikan harta waris lebih banyak bagi
wanita daripada kaum laki-laki7. Argumentasi yang dibangun adalah berangkat dari
konsepsi bahwa secara historis-sosiologis semangat al-Qur’an adalah membela hak-hak
martabat kaum wanita dari penindasan kaum laki-laki. Dengan demikian Komaruddin
Hidayat menawarkan formulasi berbanding terbalik dengan formulasi 1:2. karena
formulasi 2:1 yang ada dalam al-Qur’an menurut Komaruddin adalah merupakan respon
sosiologis terhadap situasi sosial masyarakat Arab pada waktu itu yang menganggap
wanita sebagai “something” bukan “someone”.
Komaruddin Hidayat ternyata punya alasan tersendiri. Ia bahkan memandang
sangat penting untuk segera melakukan dekontruksi pemahaman terhadap bahasan
agama. Ada beberapa alasan yang dikemukakannya, Pertama, al-Qur’an sebagai firman Allah turun dalam konstrain sejarah, sehingga mau tidak mau ia terkurung oleh
penggalan ruang dan waktu. Kedua, bahasa yang digunakan al-Qur’an memiliki keterbatasan yang bersifat lokal, karena bahasa merupakan cerminan realitas budaya yang
menggunakan budaya tersebut. Ketiga, al-Qur’an merupakan rekaman dialog Allah dengan sejarah dimana kehadiran-Nya diwakili oleh rasul-Nya. Dan ketika dialog
tersebut dikodifikasi, sangat mungkin terjadi reduksi dan kehilangan ruh setelah ratusan
tahun kemudian hanya berupa teks8.
7
Komaruddin Hidayat , Tragedi Raja Midas; Moralitas Agama dan Krisis Modernisme, (Jakarta: Paramadina, 1999), hal. 121
8Ibid
Namun lain halnya lagi di wilayah Maghribi (Afrika Utara), sebahagian fuqaha
justru pernah memfatwakan bahwa apabila seorang istri telah mampu memenuhi
kebutuhannya sendiri terlepas dari suaminya, maka ia dinyatakan tidak berhak lagi
memperoleh bagian warisan ayahnya. Pendapat ini justru dikomentari oleh Muhammad
Abed Al-Jabiri –seorang pemikir Islam komtemporer- sebagai suatu penafsiran yang
kontekstual yang didesakkan oleh lingkungan sosialnya, walaupun secara lahiriah
bertentangan dengan teks al-Qur’an itu sendiri.9
Argumentasi al-Jabiri dibangun di atas konsepsi bahwa kemaslahatan adalah
prioritas utama, karena tujuan teks agama tiada lain untuk menjaga kemaslahatan umat
manusia. Dan ketentuan fuqaha untuk tidak memberikan warisan kepada perempuan yang
sudah bisa memenuhi kebutuhannya sendiri adalah untuk menghindari timbulnya
kekacauan dan disequilibrium. Karena pada esensinya yang diinginkan oleh nash al-Qur’an pada saat diturunkannya ketentuan tentang warisan menurut al-Jabiri adalah demi
harmonisasi dan keseimbangan, dimana tanpa keharmonisan tersebut kehidupan
masyarakat tribal tidak akan berlangsung lama10.
Disamping itu, dalam masayarakat modern kesadaran akan kesetaraan jender
semakin memperkuat posisi tawar perempuan untuk berdiri sejajar dengan laki-laki. Hak
dan tanggung jawab laki-laki dan perempuan adalah seimbang termasuk didalamnya
adalah masalah hak dalam warisan.
Sampai disini timbul banyak permasalahan. Pertanyaan mendasar sehubungan
dengan permasalahan teks al-Qur’an adalah bagaimana memahamai teks, terutama teks
ayat hukum yang sarih dan dinilai qath’i sehingga tidak bertentangan dengan tuntutan
9
Muhammad Abed al-Jabiri, Post Tradisionalisme Islam, terj. (Yogyakarta: LkiS 2000) hal. 46
10Ibid,
kondisi obyektif yang dihadapi masyarakat. Bukankah al-Qur’an sebagai sumber ajaran
Islam diturunkan untuk kepentingan manusia? Jika asumsi dasar ini diterima, maka perlu
dicari sebuah model pendekatan dalam memahami teks tersebut sehingga tidak terjadi
kontradiksi antara teks dan realitas. Pada dataran inilah perlu dieksplorasi lebih lanjut
konsep-konsep radikal filosofis yang mendasari teks, yaitu bagaimana menjembatani
antara teks dan konteks agar tidak terjadi paradoks dan kontradiktif, sehingga terbukti
bahwa ajaran Islam adalah shallih li kulli zaman wa makan.
Dalam kasus waris, ketika teks secara sarih menyebutkan perbandingan
pembagian 2:1 antara anak laki-laki dan anak perempuan, sementara kondisi obyektif
masyarakat menginginkan pembagian yang lebih adil, apakah teks tersebut bisa dipahami
dengan konteks yang sesuai dengan kondisi tersebut? Dari sinilah tawaran Munawir
Sadzali untuk membagi samaratakan antara laki-laki dan perempuan sebagai salah satu
bentuk reaktualisasi hukum Islam di Indonesia perlu di eksplorasi lebih lanjut.
Pada dataran metodologis, pendekatan yang digunakan para pembaharu hukum di
Indonesia, seperti Hasbi as-Siddiqi, Munawir Sadzali dan Komaruddin Hidayat
cenderung pada pendekatan kontekstual, dimana lebih mengedepankan rasa keadilan dan
pembagian rasional. Baik Munawir maupun Komaruddin, menolak pendekatan tekstual
untuk memahami nash yang berhubungan dengan fiqih atau hukum. Bagi mereka, tingkat
peradaban manusia yang tercermin dalam kondisi sosio-kultural suatu masyarakat
(masalih murshalah) yang merupakan alasan utama untuk memahami nas tersebut. Lantas seberapa kuat otoritas kondisi sosio-kultural masyarakat dalam menafsirkan teks?
Bukankah kondisi sosio-kultural masyarakat cenderung berubah serta bersifat lokal dan
Jika pendekatan tekstual diangap selalu tidak relevan, sementara pendekatan
kontekstual cenderung larut bersama relativitas dan kenisbian dinamika sosio-kultural
masyarakat, lantas pendekatan apalagi yang dapat digunakan dalam menyelesaikan
permasalahan warisan yang dianggap kurang memenuhi rasa keadilan?
Berangkat dari pertanyaan inilah, Muhammad Shahrur menawarkan teori
hukumnya, yang ia sebut dengan istilah Teori Batas (nazariyah al-hudud). Menurutnya, para ahli hukum perlu selalu berusaha mengembangkan teori-teori hukum baru sesuai
dengan latar belakang sosio-kultural dan pengetahuan obyektif masyarakat kontemporer.
Shahrur menganggap, kemandekan pemikiran Islam saat ini, lebih disebabkan tidak
adanya gaya penafsiran baru yang bersifat rasional, tetapi juga tidak menentang teks.
Shahrur berpendapat, bahwa dalam memahami al-Qur’an, ummat Islam hendaknya
bersifat sebagai generasi awal Islam. Selanjutnya Shahrur menjelaskan bahwa dalam
memahami ayat waris, tidak memahami teks (nash) sebagai pembuktian hukum yang hendak membatalkan atau menetapkan hukum syari’at, akan tetapi memahami ayat
sebagai salah satu bentuk aturan yang mengatur proses perpindahan harta kepemilikan
dari seorang kepada pihak lain11.
Berlatar belakang pendidikan tehnik, Shahrur menawarkan suatu pendekatan
metode dalam menafsirkan teks yang lebih rasional. Selain seorang Doktor Teknik
Shahrur juga merupakan ahli bahasa, sehingga kajian-kajian keislaman yang
dilakukannya berawal dari kajian kebahasaan yang kemudian dipadukan dengan ilmu
eksakta yang dimilikinya. Sehingga munculnya gagasan teori batas (teori limit/nazariyyah al-hudud) adalah perpaduan antara ilmu tafsir dengan ilmu eksakta yang
11
dilakukan oleh Shahrur. Dan inilah alasan kuat penulis untuk mencoba mendalami
pemikiran Shahrur yang penulis angkat dalam sebuah skripsi.
Berangkat dari latar belakang inilah, penulis tertarik untuk mengkaji lebih jauh
lagi pemikiran-pemikiran Muhammad Shahrur terutama dalam masalah waris. Untuk
itulah, judul skripsi ini adalah : TEORI BATAS HUKUM ISLAM: STUDI TERHADAP PEMIKIRAN MUHANMMAD SHAHRUR DALAM HUKUM WARIS.
Pembatasan dan Perumusan Masalah
Mengingat sangat luasnya cakupan teori batas yang digagas oleh Muhammad
Shahrur, yakni mencakup hampir seluruh masalah hukum Islam, maka pembahasan
skripsi ini, penulis akan membatasi pada permasalahan di sekitar bagian waris saja,
namun tidak menutup kemungkinan, untuk memperjelas pembahasan ini, penulis akan
menambahkan dengan permasalahan tersebut.
Sebagai pembatas masalah, penulis akan mengarahkan pembahasan pada bagaimana teori
batas ini dipergunakan menyelesaikan permasalahan waris yang selama ini menjadi
polemik antara penganut tekstual dan kontekstual.
Adapun masalah dalam pembahasan ini yang penulis jadikan acuan dalam penjabaran
dan penguraian agar tidak keluar dari permasalahan dan pembahasan dari skripsi ini
adalah Apa dan bagaimana sebenarnya konsep teori yang ditawarkan oleh Muhammad
Shahrur serta mplemetasinya dalam permasalahan waris?.
Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian
Sesuai dengan latar belakang dan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari
penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui alasan dan latar belakang pemikiran Muhammad Shahrur
sehingga memunculkan teori batas tersebut.
2. Mengetahui pemikiran Muhammad Shahrur dalam hukum waris secara
keseluruhan.
3. Untuk mengetahui apakah tawaran yang diberikan Muhammad Shahrur
mampu mengetengahkan problematika antara tekstual dan kotekstual dalam
permasalahan warisan.
b. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah:
1. Bagi para akademisi dapat memberikan sumbangan pemikiran, ide atau
gagasan untuk menambah literatur atau bahan, referensi pada Perpustakaan
Fakultas Syari’ah UIN Syarif Hidayatullah dan tentunya sumbangsih dalam
bidang pendidikan.
2. Bagi para desition maker dalam merumuskan hukum waris di Indonesia, dapat menambah referensi dalam menetapkan hukum. Bahwa dalam menetapkan
hukum tidak hanya berpatokan pada teks (nash) semata, akan tetapi juga
melihat sosio-kultural yang berkembang di masyarakat.
3. Manfaat bagi penulis adalah dapat menambah wawasan mengenai hukum
Metode Penelitian
Metodologi penelitian
Dari jenis data penelitian yang digunakan bersifat kualitatif. Secara metodologis,
metode yang digunakan dalam mengkaji masalah ini adalah metode penelitian
kepustakaan (library research), dengan menggali sumber-sumber primer.
Dan untuk lebih mempertajam yang dibahas, penulis menggunakan metode
deskriptif-analaitis. Deskriptif disini dimaksudkan sebagai upaya untuk mendiskripsikan
pemikiran-pemikiran Muhammad Shahrur tentang tema yang diangkat. Analitis berarti
menganalisa pemikiran-pemikiran Shahrur apakah bisa dijadikan sebagai tawaran
alternatif baru dalam menafsirkan teks waris.
Teknik Pengumpulan data
Pengumpulan data menggunakan studi dokumenter, yakni dengan memamfaatkan
bahan-bahan primer dan sekunder. Adapun sumber primer dalam masalah ini adalah buku
al-Kitab wa al-Qurán: Qiraáh Muashirah, Nahw Usul Jadidah Lil al-Fiqih al-Islami, Metodologi Fiqh Islam Kontemporer dan Hermeneutika al-Qur’an Kontemporer yang dikarang oleh Muhammad Shahrur. Adapun sumber sekundernya adalah data-data yang
berhubungan dengan masalah yang dibahas.
Teknik analisis data
Analisis data menggunakan teknik analisis isi secara kualitatif (Qualitative Content Analysis). Dalam analisis ini semua data yang dianalisis berupa teks. Dalam hal ini berupa teks-teks pemikiran Muhammad Shahrur. Analisis isi kualitatif digunakan
untuk menemukan, mengindetifikasi dan menganalisis teks atau dokumen untuk
Sistematika Penulisan
Pembahasan dalam skripsi ini dituangkan dalam lima bab. Adapun rincian sistematika
penulisan yang penulis susun adalah:
BAB I adalah pendahuluan meliputi dari latarbelakang masalah, pembatasan dan
perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi penelitian dan ditutup
dengan sistematika penulisan.
BAB II akan mengulas profil dari Muhammad Shahrur. Dalam bab ini akan dijelaskan
latar belakang kehidupan, pendidikan, karir akademik dan birokrasi serta karya-karya
Muhammad Shahrur.
BAB III akan membahas tentang teori batas, meliputi pengertian, konsep dan cakupan
teori tersebut dalam hukum Islam. Serta bagaimana sebenarnya konsep teori batas yang
digagas oleh Muhammad Shahrur.
BAB IV akan mempertajam pembahasan ini, dengan mengolaborasikan
pemikiran Shahrur dalam waris. Kemudian mencoba menggali tawaran Shahrur dalam
masalah waris dengan menggunakan teori batas. Kemudian ditutup dengan sebuah
analisis penulis.
BAB V sebagai penutup. Seluruh pembahasan diatas kemudian diikat dalam
beberapa kesimpulan dan “dibubuhi” beberapa saran yang penulis ajukan dalam bagian
BAB II
BIOGRAFI DAN PEMIKIRAN MUHAMMAD SHAHRUR
A. Biografi Muhammad Shahrur dan Latar Belakang Sosialnya
Syria dengan ibukota Damaskus, tercatat sebagai negara yang memiliki pengaruh
luar biasa di blantika pemikiran dunia Islam, baik sosial, politik, budaya dan intelektual.
Seperti umumnya yang dialami negara-negara Timur Tengah. Syria pernah mengalami
problematika modernitas, khususnya benturan keagamaan dengan gerakan modernisasi
Barat. Problema ini muncul disebabkan dampak dari invansi Prancis dan gerakan
modernisasi Turki. Selain itu, Syria pernah menjadi region dari dinasti Utsmaniyyah.
Problema ini pada gilirannya, memunculkan tokoh-tokoh semisal Jamal al-Din al-Qasimi
dan Thahir al-Jaza’ri yang berusaha menggalakkan reformasi keagamaan di Syria12.
Reformasi al-Qasimi berorientasi pada pembentangan umat Islam dari
kecendrungan Tanzimat yang sekular dan penggugahan intelektual Islam dari ortodoksi.
Untuk itu, umat Islam harus mampu meramu rasionalitas, kemajuan, dan modernitas
dalam bingkai agama. Dalam hal ini, al-Qasimi mencanangkan untuk menemukan
kembali makna Islam yang orisinil dalam al-Qur’an dan Al-Sunah dengan menekankan
ijtihat13. Ide al-Qasimi kemudian dilanjutkan oleh Thaha al-Jaza’iri. Kali ini gagasannya
lebih mengarah kepada upaya pemajuan di bidang pendidikan. Dari sinilah kemudian
terlihat iklim intelektual Syria, setingkat lebih “maju” ketimbang negara-negara muslim
Arab lainnya yang masih memberlakukan hukum Islam secara kaku, terutama dalam hal
kebebasan berekspresi. Angin segar bagi tumbuhnya suatu imperium pemikiran di Syria
12
Lihat. http://www.islamensipatoris.com.
lebih nyata dan menjanjikan dibanding negara-negara Arab lainnya, karena tidak semua
negara Arab menerima ide mengenai pembaharuan dalam Islam, misalnya yang harus
diterima Fazlur Rahman14 dan Nasr Hamid Abu Zayd15 yang harus hengkang dari
negaranya masing-masing. Kehadiran Muhammad Shahrur menjadi bukti bahwa Syria
merupakan negara yang menerima ide-ide segar yang muncul dalam pemikiran Islam.
Muhammad Shahrur yang bernama lengkap Muhammad Shahrur bin Daib Tahir
dilahirkan di Damaskus, Syria, pada 11 April 1938 M16. Ayahnya bernama Deyb bin
Deyb Shahrur dan Ibunya adalah Siddiqah binti Salih Filyun17. Dalam kehidupan
pribadinya, Shahrur dinilai telah berhasil membentuk sebuah keluarga yang bahagia. Dari
Istri tercintanya, Azizah, ia memperoleh lima anak dan dua cucu. Tiga anaknya yang
sudah menikah adalah Tariq (beristrikan Rihab), Lays (beristrikan Olga), dan Rima
(bersuamikan Luis). Sedangkan dua lainnya adalah Basil dan Mas’un dan dua cucunya
bernama Muhammad dan Kinan. Kasih sayang Shahrur terhadap keluarganya, paling
tidak, diindikasikan dengan selalu melibatkan mereka dalam lembaran persembahan
karya-karyanya.
Pendidikannnya diawali di sekolah dasar yakni Ibtida’iyah, I’dadiyah dan
Tsanawiyah ditempuh di kota kelahirannya pada lembaga pendidikan ‘Abdurrahman
al-Kawakibi. Ijazah Tsanawiyahnya ia peroleh dari sekolah itu pada tahun 1957. Pada bulan
14
Fazlur Rahman, Islam, terj. Ahsin Mohammad (Bandung: Pustaka, 2003) hal. vii
15
Nasr Hamid Abu Zayd, karena pemikiran kontroversialnya, harus hengkang dari negerinya ke Universitas Laiden, Belanda, Lihat. Hamid Abu Zayd al-Qur’an, Hermeutika dan Kekuasaan, terj. Dedi Iswandi, dkk ( Bandung, RqiS, 2003) hal. 18
16
Muhammad Shahrur, Al-Kitab wa AlQur’an; Qira’ah Mu’asirah. (Damaskus: Ahali li al-Tiba’ah wa al-Nasyr, 1999), hal.823
17
Maret 1958 dengan beasiswa dari pemerintah ia pergi ke Uni Soviet untuk mempelajari
Teknik Sipil (Hadanah Madaniyah) di Moskow.
Pada tahun 1959 dan tahun 1964, Shahrur menyelesaikan diplomanya di bidang teknik
tersebut dan kembali ke Syria pada tahun 1965 serta mulai mengabdi di Universitas
Damaskus. Pada tahun yang bersamaan, Shahrur melanjutkan studi ke Irlandia tepatnya
di Universitas College, Dublin dalam bidang studi yang sama. Pada tahun 1967, Shahrur
berhak melakukan penelitian pada Imparsial College, London, Inggris. Karena pada
tahun itu, terjadi konflik politik antara Syria-Inggris, lalu ia keluar dari Inggris18.
Selanjutnya Universitas Damaskus mengirimkannya ke Irlandia untuk melanjutkan
program Megister dan Doktoralnya di bidang teknik sipil konsentrasi Mekanika
Pertanahan (Soil mechanich) dan teknik pembangunan ( Fondation Engineering) di Universitas Nasional Irlandia. Gelar Magisternya ia dapat pada tahun 1969 dan gelar
Doktoralnya pada tahun 1972 dan sejak itulah Shahrur kembali ke Damaskus , kota
kelahirannya.
Setelah tercapainya gelar Doktor, Shahrur diangkat menjai dosen di fakultas Teknik Sipil
Universitas Damaskus di Bidang Mekanika Tanah dan dasar bumi sejak tahun 1972
sampai sekarang. Dari hasil belajarnya diluar negeri, ia tidak hanya belajat teknik sipil,
akan tetapi ia juga belajar ilmu Filsafat, Fiqih Lughah, dan ilmu Linguistik. Ia menguasai
dua macam bahasa selain bahasa Ibunya sendiri (bahasa Arab) yaitu bahasa Rusia dan
bahasa Inggris.
18
Kemudian pada tahun 1995, Shahrur juga pernah di undang menjadi peserta kehormatan
dan terlibat dalam debat publik mengenai pemikiran keislaman di Libanon dan Maroko.
Meskipun dasar pendidikan Muhammad Shahrur adalah teknik, namun ia tidak berarti ia
sama sekali kosong mengenai wawasan keislaman. Sebab akhirnya ia tertarik untuk
mengkaji al-Qur’an dan Hadits secara lebih serius dengan pendekatan filsafat bahasa dan
dibingkai dengan teori ilmu eksaktanya, bahkan ia juga menulis dan artikel tentang
pemikiran keislaman19. Konsen Shahrur terhadap kajian ilmu keislaman sebenarnya
dimulai sejak ia berada di Dublin, Irlandia pada tahun 1970-1980 ketika mengambil
program Magister dan Doktoralnya. Di samping itu, peranan temannya DR. Ja’far Dik
al-Bab juga sangat besar. Sebagaimana diakuinya, berkat pertemuannya dengan Ja’far pada
tahun 1958 dan 1964, Shahrur dapat belajar banyak tentang ilmu-ilmu bahasa20.
Dalam masa mengenyam studi di Moskow, antara tahun 1957-1964, Shahrur mulai
merasakan “benturan peradaban” antara latar belakang ideologisnya sebagai seorang
muslim dan fenomena sosial-intelektual di Moskow yang komunis. Di negara inilah,
Shahrur mulai berkenalan dan kemudian mengagumi pemikiran Marxisme. Sungguhpun
ia tidak mengklaim sebagai penganut aliran tersebut21. Namun demikian ia mengakui
banyak berhutang budi pada sosok Hegel22 –terutama dialektikanya- dan Alfred North
White Head23.
19
Abdul Mustaqim, Mempertimbangkan Metodologi Muhammad Shahrur, Dalam Shohiron Syamsuddin,dkk, (ed), Hermeneutika al-Qur’an Mazhab Yogya, (Yogyakarta: Islamika, 2003), hal. 124.
20
Ibid. hal. 129.
21
Muhammad Shahrur, Islam dan Konferensi Dunia Untuk Perempuan” Dalam Charles Kurzman (ed), Wacana Islam Liberal: Pemikiran Islam kontemporerTentang Isu-isu Global, terj. Bahrul Ulum (Jakarta: Paramadina, 2001), hal. 210.
22
Sebuah proses yang wajar yang dialami seseorang ketika mengalami
perbenturan kultural sebagaimana dialami oleh Shahrur adalah munculnya berbagai
pandangan baru yang cenderung berbeda dan kontradiktif. Hal ini kemudian melahirkan
berbagai pertanyaan yang berusaha mendobrak kemapanan prespektif dan keyakinan,
baik terkait dengan moralitas maupun doktrin teologis. Kegelisahan ini juga dialami oleh
Shahrur.
Kegelisahan ini belanjut hingga ia menempuh program magister dan doktoralnya di
Universitas Dublin Irlandia. Berdasarkan pengakuannya, sejak tahun 1970, Shahrur
mencoba melakukan kajian ulang terhadap berbagai konsep yang selama ini sudah
dianggap baku dalam doktrin teologi Islam. Ia mulai tertarik untuk mengkaji tema-tema
terkait dengan al-Qur’an, antara lain konsep al-Zikr, ar-Risalah dan an-Nubuwah. Sepuluh tahun berlalu, Shahrur masih bergelut dengan berbagai pertanyaan yang belum
terjawab secara memuaskan. Shahrur merasakan bahwa kajiannya sejak tahun 1970-1980
tersebut tidak membuahkan hasil.
Pada tahun 1980 Shahrur bertemu dengan Ja’far Dikki al-Bab seorang Doktor ilmu
bahasa lulusan Unversitas Moskow tahun 1973 sekaligus teman sejawatnya sebagai
tenaga pengajar di Universitas Damaskus. Pertemuan yang dilanjutkan dengan rangkaian
diskusi serius dan intensif hingga tahun 1986 ini, merupakan “fase pencerahan” dalam
diri Shahrur yang secara konsekuen membentuk pola pikir Shahrur dan
kecenderungannya untuk mendalami filsafat bahasa dan humanisme. Fase tersebut
Pendidikan filsafat dan teologi di peroleh Hegel dari Universitas Tubingen, Jerman. Dari Tubingen, Hegel lalu pindah ke Switzerland dan memperdalam filsafat pengetahuan di Frankfurt. Karir akademisnya menanjak ketika ia mengajar di Universitas Jena dan pada tahun 1805 Hegel diangkat menjadi Profesor Filsafat. Lih. Donny Gahral Adian, Pilar-pilar Filsafat Kontemporer, (Yogyakarta: Jalasutra, 2002), hal. 26.
23
menunjukkan pengaruh besar yang diperoleh Shahrur dari pemikiran Ja’far tentang
rahasia bahasa Arab.
B. Dasar Pemikiran Muhammad Shahrur
Mengetahui dasar pemikiran seorang tokoh merupakan hal yang mutlak untuk diketahui
sebelum kita masuk untuk mengetahui pemikirannya. Karena dasar pemikiran merupakan
pijakan yang dijadikan titik tolak yang sudah barang tentu sangat mempengaruhi seluruh
kontruksi dan bangunan pemikiran seseorang. Shahrur dalam pola pemikirannya bertolak
dari pada Landasan Metodologis.
Dalam melakukan pembacaan terhadap al-Qur’an, Shahrur menjadikan linguistik sebagai
dasar pandangan dalam membaca al-Qur’an (majhad lughawi), karena ia disamping sebagai eksak (teknik sipil), ia juga seorang ahli filsafat bahasa24.
Memang pada dasarnya secara akademis Shahrur tidak memahami dan mendalami bahasa
Arab, akan tetapi pengetahuannya tentang bahasa Arab tidak bisa diremehkan, terutama
sejak pertemuannya dengan temannya yaitu Ja’far Dikki al-Bab. Shahrur dalam
menyampaikan pemikirannya dalam al-Kitab al-Qur’an: Qira’ah Mu’ashirah
menggunakan suatu metode kebahasaan yang terilhami oleh ilmu linguistik modern.
Metode tersebut dinamakan dengan al-manhaj at-tarikh al-ilmi (metode histories
ilmiah)25. Akan tetapi Shahrur sendiri tidak membahas secara detail tentang manhaj yang
dipergunakannya. Dan Ja’far Dikki al-Bab merupakan orang yang paling berperan dalam
pemahaman metode yang dibawakan Shahrur.
24
Abdul Mustaqim, Op Cit. hal. 129
25
Metode Shahrur yang disebut sebagai al-manhaj at-tarikh al-ilmi merupakan sebuah metode yang digali dari teori linguistik Ibn Jinni dan a-Jurjani. Kristalisasi dari kedua
tokoh tersebut meyatu menjadi teori Farisian yang dikembangkan oleh Abu al-Farisi26.
Sintesa tersebut secara garis besar memberikan ketentuan-ketentuan bahwa bahasa adalah
suatu tatanan, bahasa merupakan bentuk realitas sosial, dan struktur bahasa selalu
berkaitan dengan fungsi iblaqh (fungsi penyampai), serta adanya korelasi antara bahasa dan pemikiran.
Dari Abu al-Farisi, Shahrur menganut prinsip sebagai berikut :
1. Bahwa bahasa merupakan sebuah sistem (anna al-lughah nizam)
2. Bahasa merupakan fenomena sosiologis dan kontruksi bahasanya sangat terkait
dengan kontek dimana bahasa itu disampaikan.
3. Ada keterkaitan (at-talazum) antara bahasa dan pemikiran27.
Metode linguistik Shahrur secara utuh sebagai bahan pembacaan terhadap
al-Qur’an secara keseluruhan memberikan aturan-aturan sebagai berikut: Bahasa sebagai
medium komunikasi antara manusia sehingga menimbulkan adanya keterkaitan antara
ucapan dan pikiran manusia. Maksudnya manusia sejak awal telah berbicara yaitu
melalui suara untuk mengkomunikasikan tujuan-tujuan (pikirannya) kepada orang lain.
Sementara proses pemikiran manusia tidaklah terbentuk sekali waktu, akan tetapi
terbentuk secara bertahap dari ilmu pengetahuan inderawi kemudian meningkat menjadi
pengatahuan abstrak.
26
Muhammad Shahrur, Dasar-dasar Hermeneutika Al-Qur’an Kontemporer, terj. Sohiron Syamsuddin, dkk.(Yogyakarta: eLSAQ Press, 2004), hal. 26.
27
Begitu pula tatanan bahasa, ia tidak langsung terbentuk secara sempurna tetapi melalui
proses benturan dengan peradaban yang sejalan dan sesuai dengan perkembangan
pengetahuan manusia.
Dengan menggunakan metode linguistiknya, Shahrur kemudian membangun teori batas
(teori hudud), yang di dasarkan atas pemahaman terhadap dualitas yakni hanif dan al-istiqamah.
C. Karir dan Karya Muhammad Shahrur
a. Karir Akademis dan Pemeritahan Muhammad Shahrur
Setelah menyelesaikan program doktoralnya di Dublin, Shahrur menjadi salah satu staf
pengajar di Universitas Damaskus di Syria. Di universitas inilah Shahrur memulai karir
akademiknya.
Disamping menjadi dosen, Shahrur juga menjadi konsultan teknik. Pada tahun
1982-1983, Shahrur dikirim pihak Universitas untuk menjadi staf ahli pada al-Saud
Consult, Saudi Arabia. Selain itu, bersama beberapa rekannya di fakultas, Shahrur
membuka biro konsultan teknik (an engineering consultancy/ dar istisyarat al-handasiyah) di Damaskus28.
Tidak ada data dan penjelasan yang penulis dapatkan dari karir Shahrur dalam
bidang pemerintahan. Karir Shahrur hanya berada dalam lingkup akademis, yakni sebagai
dosen di Universitasnya.
b. Karya-karyanya
28
Syria merupakan negara yang sangat kondusif dalam menyokong aktualisasi
ide-ide dan pemikiran Shahrur sehingga ia menjadi muslim moderen yang cukup produktif.
Produktifitasnya terlihat ketika Shahrur menghasilkan berbagai karya tulis yang
dibukukannya. Buku pertama yang ia terbitkan adalah al-Kitab wa al-Qur’an: al-Qira’ah al-Mu’asirah pada tahun 1990. Buku tersebut merupakan hasil pengendapan pemikiran yang cukup panjang, sekitar 20 tahun. Pada fase pertama, yaitu tahun 1970-1980, Shahrur
merasa kajian keislaman yang selama ini dilakukan kurang membuahkan hasil dan tidak
ada teori baru yang diperoleh. Karena dirinya merasa terkungkung dalam kerangkeng
literatur-literatur keislaman klasik yang cenderung memandang Islam sebagai ideologi,
baik dalam bentuk pemikiran kalam atau fiqih. Sebagai implikasinya, pemikiran
keislaman mengalami kejumudan dan tidak bergerak sama sekali, karena selama ini
pemikiran keislaman dianggap final29. Menurut Eickelman-Piscatori, sebagaimana
dikutif Bisri Efendi, buku tersebut secara umum mencoba melancarkan kritik terhadap
kebijakan agama konvensional maupun kepastian radikal keagamaan yang tidak toleran30.
Pada tahun 1994, Shahrur merampungkan buku keduanya dengan judul Dirasat Islamiyah Mua’sirah fi al-Daulah wa al-Mujtama. Dalam buku ini Shahrur secara spesifik menguraikan dan membahas tema-tema sosial-politik yang berkait erat dengan
permasalahan masyarakat (al-mujtama’) dengan negara (al-Daulah), tetapi tetap pada tawaran metodologisnya dalam memahami al-Qur’an sebagaimana tertuang dalam buku
pertamanya. Secara tegas dan konsisten Shahrur membangun konsep keluarga,
masyarakat, negara, dan tindakan kesewenang-wanangan (al-Istibdad) dalam prespektif
29
Abdul Mustaqim Loc It hal 124 30
al-Qur’an . Dalam buku inipun Shahrur menjelaskan dan menguraikan berbagai
tanggapan terhadap buku pertamanya di samping menegaskan bahwa ia berbeda dengan
mereka dalam metodologi.
Di tahun 1996 Shahrur meluncurkan buku ketiganya yang berjudul al-Islam wa al-Iman: Manzumah al-Qiyam. Buku ini dicetak dan diterbitkan oleh al-Ahali Publishing House. Dalam buku ini Shahrur mencoba untuk mengkaji konsep-konsep klasik
mengenai rukun Islam dan rukum iman, suatu yang penting dalam Islam. Setelah
mengkaji cukup lama terhadap ayat-ayat al-Qur’an, yang berkaitan dengan kedua konsep
diatas, Shahrur menemukan pemahaman yang berbeda dengan ulama terdahulu31. Selain
kedua konsep di atas, buku ini berbicara tentang kebebasan manusia, perbudakan dan
tentang ritual ibadah yang terangkum dalam konsep al-Ibad wa al-‘Abid. Hal lain yang menjadi kajian buku ini tentang hubungan anak dan orang tua dan terakhir tentang
sejarah monoteisme dalam al-Qur’an32.
Buku terakhir Shahrur adalah, Nahw Usul Jadidah LiI al-Fiqh al-Islami, ditulis pada tahun 2000. Khusus dalam buku ini, melalui refleksi yang sangat mendasar, ia
menyuguhkan satu model pembacaan, khususnya yang terkait dengan isu-isu perempuan,
soal waris, wasiat, poligami, dan kepemimpinan, yang masih aktual dan belum
terpecahkan secara komprehensif hingga dewasa ini33.
31
Lima rukun Islam yang selama ini diyakini oleh umat Islam, seperti : membaca dua kalimat syahadat, mengerjakan sholat, membayar zakat, puasa di bulan ramadhan dan pergi haji bagi yang mampu ternyata dipahami Shahrur sebagai rukun iman bukan rukun Islam. Sedangkan rukun Islam oleh Shahrur adalah percaya kepada Allah, Percaya kepada hari akhir dan beramal soleh. Lih. Dr. Muhammad Shahrur,
Islam dan Iman: Aturan-aturan pokok, terj. M. Zaid Su’di, hal. 22.,
32Ibid,
hal. 23-24
33
Dalam bidang teknik sipil sebagai latar belakan pendidikannya, Shahrur menerbitkan
beberapa buku antara lain: Handasah al-Asasiyah (tiga Juz), Handasah al-Turabiyah. Selain dalam bentuk buku Shahrur juga menulis di majalah dan jurnal antara lain dapat
BAB III
TEORI BATAS HUKUM ISLAM
A.
Pengertian dan Latar Belakang Lahirnya Teori Batas Hukum
Islam
Salah satu kontribusi baru dalam kajian fiqih kontemporer yang diusung Shahrur
dalam karyanya yang monumental sekaligus kontroversial, Kitab wa Qur’an: al-Qira’ah al-Mu’asirah adalah teori limit (Teori Batas/ Nazariyyat al-Hudud). Shahrur menegaskan bahwa teori batas merupakan salah satu pendekatan dalam berijtihat, yang
digunakan dalam mengkaji ayat-ayat muhkamat (ayat-ayat yang berisi pesan hukum)
dalam al-Qur’an.
Abdullah Ahmed an-Naim menerangkan bahwa konsep hudud meskipun diambil
dari al-Qur’an, tetapi masih memunculkan masalah definisi yang serius34. Al-Qur’an
sebagai teks keagamaan hanya memberikan sedikit tuntunan dalam ayat-ayat yang
relevan mengenai definisi yang sah dan unsur-unsur yang spesifik. Dalam persoalan
hudud al-Qur’an telah menyebutkan terutama perilaku zina, pencurian dan tuduhan zina.
Bagi pezina, hukuman itu berupa cambuk 100 kali, untuk pencuri hukumannya potong
tangan, dan tuduhan zina hukumannya cambuk 800 kali35. Dalam “yuresprudensi” Islam,
istilah hukuman tersebut adalah hadd yang secara literal berarti “batas, batasan, atau
34
Abdullah Ahmed an-Naim, ” Dekonstruksi Syariah” terj. Ahmad Suhaedy dan Nuruddin Arrani (Yogyakarta: LKiS, 1997) hal. 28
35
faktor-faktor yang membatasi”. Hukuman ini membatasi tindakan kejahatan, karenanya
hukuman itu disebut hudud.
Teori limit (hudud) yang digunakan Shahrur mengacu pada pengertian batas-batas ketentuan Allah yang tidak boleh dilanggar, tapi didalamnya terdapat wilayah ijtihat yang
bersifat dinamis, fleksibel, dan elastis.
Shahrur membangun teorinya berdasarkan pengalaman dalam dunia teknik. Latar
belakang bagaimana ia menyusun teori batasnya berawal dari kuliah yang ia berikan
kepada mahasiswanya. Ia menuturkan:
“Suatu hari sebuah ide muncul dalam kepala saya ketika saya menyampaikan mata kuliah
teknik jurusan di Teknik Sipil tentang bagaimana membuat jalan padat. Kami sedang
melakukan apa yang disebut sebagai ‘uji keamanan’, yang kami gunakan sebagai contoh
dan cara menguji tanah yang digunakan untuk mengisi tanggul. Dalam ujian ini kami
mengeluarkan dan menambahkan (tanah). Kami mendapatkan sumbu x dan sumbu y,
sebuah hiperbola. Kami menemui resiko yang mendasar. Lalu kami menggambarkan
sebuah kurva dan meletakkan garis di atasnya. Garis ini adalah batas maksimum.
Kemudian timbul ide dalam pikiran saya tentang ‘batas Tuhan’ (hududullah). Sampai disini, saya kembali kerumah dan membuka al-Qur’an. Dalam matematika kita hanya
mendapatkan lima cara menyuguhkan batas (limit). Saya menemukan lima kasus dalam menampung ide tentang batas hukum Tuhan. Pemahaman yang sudah umum adalah
bahwa Allah tidak menentukan aturan tingkah laku secara tepat, tetapi hanya
menciptakan batas-batas yang di dalamnya masyarakat dapat menyusun aturan-aturan
menjadi catatan saya dalam pembahasan terakhir dalam buku saya, tetapi saya melihat
bahwa teori ini merupakan perwujudan ide utama saya, maka saya mengoreksi semua
yang telah saya tulis tentang hududullah di buku agar pembahasan menjadi konsiten. Hingga saya menilai bahwa pendapat saya telah benar36.
Berawal dari pengalaman inilah kemudian Shahrur kemudian merumuskan teori
batasnya. Shahrur menandaskan bahwa jalan lurus yang telah disediakan Tuhan bagi
manusia agar mereka dapat bergerak sepanjang jalan lengkung di dalam teori batas
Tuhan, sesuai dengan hukum manusia yang diperkenankan di antara batas-batas (hudud)
bahwa al-kitab telah menetapkan seluruh tindakan manusia dan fenomena alam. Karena
itu, dia menegaskan bahwa variasi hukuman yang secara rinci disebut dalam al-Qur’an
menandaskan batas tertinggi, bukan menggambarkan hukuman yang mutlak. Demikian
pula al-Kitab telah menetapkan sejumlah hukuman minimum bagi berbagai kejahatan.
Shahrur merumuskan teori hududnya berangkat dari Q.S. an-Nisa: 13-14 yang terkait
dengan pembagian waris. Pada ayat 13, terdapat kalimat tilka hududullah dan pada ayat 14 terdapat kalimat wa yata’adda hududahu. Kata “hudud” disini berbentuk jamak
(plural) bentuk mufrodnya hadd artinya batas (limit). Pemakian bentuk plural di sini menandakan bahwa hadd yang ditentukan oleh Allah berjumlah banyak, dan manusia memiliki keleluasaan untuk memilih batasan-batasan tersebut sesuai dengan tuntutan dan
situasi dan kondisi yang melingkupinya. Selama ini masih berada dalam koridor batasan
36
tersebut, manusia tidak menanggung beban dosa. Pelanggaran hukum Tuhan terjadi jika
manusia melampaui batasan-batasan tersebut37.
Menurut Shahrur, ayat ini secara eksplisit menyebutkan bahwa masalah
pembagian waris merupakan salah satu batasan dari sekian batasan (hudud) hukum syariat yang ditentukan oleh Allah. Redaksi tilka hududallah merujuk pada penjelasan ayat 11-12, dan pada saat yang sama juga menegaskan bahwa batasan hukum yang
dimaksud berasal dari Allah.
Pada ayat 14, kalimat wa yata’adda hududahu berarti melanggar batas-batas (hukum) Tuhan. Penggunaan terma “hudud” di sini dinisbatkan kepada damir mufrat (kata ganti tunggal) “hu” (dia) yang merujuk kepada Tuhan (Allah) saja. Sedangkan penggalan ayat sebelumnya yang berbunyi wa man ya’sillaha wa rasulahu wa ya ta’adda hududahu
menegaskan bahwa perbuatan maksiat (menolak untuk melaksanakan) dapat dilakukan
terhadap Allah dan Rasul-Nya, tetapi pelanggaran hukum hanya terjadi pada Tuhan saja,
karena otoritas penentuan hukum syariat yang terus berlaku hingga hari kiamat itu hanya
milik Allah. Dia tidak pernah memberikan otoritas ini kepada yang lain, bahkan kepada
nabi Muhammad sekalipun. Karena jika Muhammad mempunyai otoritas penentuan
hukum ini, niscaya ayat tersebut akan berbunyi wa man ya’sillaha wa rasulahu wa ya ta’adda hududahuma dengan menggunakan kata ganti huma, tetapi ternyata tidak demikian38.
37
Buranuddin, “Artikulasi Teori Batas (Nazariyyah al-Hudud) Muhammad Shahrur Dalam Pengembangan Epistemologi Islam Di Indonesia”, Editor, Sohiron Syamsuddin, dkk, Hermeneutika al-Qur’an Mazhab Yogya, (Yogyakarta: Islamika, 2003) hal. 152.
38Ibid,
Dengan demikian dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa semua syariat (ketentuan
hukum) yang berasal dari nabi Muhammad bersifat temporal (marhali) dan tidak ada keharusan untuk memberlakukannya hingga akhir zaman. Pada tataran ini tersembunyi
rahasia dan hikmah bahwa adanya Sunnah untuk diakui pada satu sisi, sedangkan pada
sisi lain adanya posisi Nabi sebagai suri tauladan untuk berijtihat dalam lingkup batasan
ketentuan Allah dan disesuaikan dengan kondisi obyektif sejarah manusia.
Sebagaimana disebut di atas bahwa otoritas penentuan hukum (syariat) hanya dimiliki Allah saja, karena itu Allah adalah satu-satunya penentu hukum yang berlaku hingga
akhir zaman. Asumsi ini meniscayakan bahwa hukum yang bersumber dari Tuhan
memiliki sifat universal, berlaku untuk segala situasi dan kondisi, sesuai di setiap waktu
dan tempat (shallih li kulli zaman wa makan).
Konsekuensinya, hukum tidak boleh bersifat “tunggal” dengan satu pemahaman dan
prespektif. Hukum Tuhan harus sesuai dengan kecenderungan manusia yang selalu
berubah, maju, dan berkembang. Maka dalam al-Qur’an akan selalu dijumpai bahwa
syari’at hanya menentukan batasan-batasan (hudud) saja, ada yang berupa batasan maksimal (al-had al-a’la) atau batasan minimal (al-had al adna) maupun variasi
keduanya. Ajaran syariat yang disampaikan kepada Rasullah bersifat hududiyah, berbeda
dengan syariat para rasul yang disampaikan sebelumnya yang a’iniyyah. Periode kerasulan Muhammad SAW merupakan babak baru syariat moderen bagi generasi
kontemporer39.
39Ibid,
Berdasarkan presfektif diatas, Shahrur kemudian mengenalkan apa yang disebut dengan
teori batas. Ia menyatakan bahwa Allah Swt. telah menetapkan konsep-konsep hukum
yang maksimum dan yang minimum, al-istiqamah (straightness) dan al-hanifiyyah (curvature), sedangkan ijtihat manusia bergerak dalam dua batasan tersebut.
Dalam batas-batas hukum ini, masyarakat manusia tidak hanya bebas, tetapi diwajibkan
untuk mengembangkan dan mengadopsi hukum mereka menurut kesepakatan dan
keadaan sosial politik masyarakat mereka. Shahrur melihat teori batasnya menampakkan
sisi moderen dari apa yang dia pandang sebagai prinsip inti al-Qur’an: Syura
(Musyawarah/konsultasi) sebagai contoh, adalah tuntutan untuk menjawab persoalan
hukum bagi kebijakan moderen dalam batas yang ditentukan Allah. Hasil yang didapat
dari proses musyawarah ini hendaknya bersifat relatif terhadap lingkup khusus –keadaan
khusus secara sosial, ekonomi dan politik- pada masing-masing komunitas politik.
Pendirian politik Shahrur secara jelas juga tampak sebagaimana yang dia simpulkan
bahwa “pada masa kita, musyawarah yang asli berari dengan pluralisme dan
demokrasi”40.
B. Sumber-sumber Teori Batas
Dalam merumuskan teori batas yang digagas oleh Shahrur, beliau mendasarkan
teorinya pada dua hal, yaitu :
a. Dalil ayat-ayat al-Qura’an
40
Shahrur mendasarkan konsepnya dalam menyusun teori batas pada al-Qur’an surat
an-Nisa ayat 13-14 yaitu:
!
"#$%&'(
)*+!,
-
'.
/
+$'.12/3
456
7
$'
'.
4
89 :
;< =>?8
@A
B'C?8
DE*F
F1C
H 'C I
K'
K
!
L
2
M
7
$'
'.N
OP
=N
O5Q7.R
DEF
Artinya: (Hukum-hukum tersebut) adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya, dan itulah kemenangan yang besar. Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya serta melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah akan memasukkannaya ke dalam api neraka, sedang ia kekal di dalamnya, dan bagiannya siksa yang menghinakan (QS. An-Nisa: 13-14)
Shahrur mencermati penggalan ayat tilka hududallah yang menegaskan bahwa pihak yang memiliki otoritas untuk menetapkan batasan-batasan hukum adalah hanya Allah
semata. Dia berpendapat bahwa otoritas penetapan hukum (haq at-tasyri’) hanya milik Allah, sedangkan Muhammad walau beridentitas sebagai nabi dan rasul, pada hakikatnya
bukanlah seorang penentu hukum yang memiliki otoritas penuh (as-syari’). Dalam pandangan Shahrur, Muhammad adalah pelopor ijtihat dalam Islam. Pendapat ini
berarti “dan melanggar batas ketetapan hukum-Nya”. Kata ganti (dhamir)“hu” pada penggalan ayat diatas menunjuk kepada Allah saja, dan penggalan ayat secara lengkap
akan lebih menegaskan pemahaman ini “dan barang siapa yang bermaksiat kepada Allah
dan rasul-Nya serta melanggar ketetapan hukum-Nya”41.
Ayat ini harus dipahami bahwa otoritas penetapan hukum ada pada Allah saja.
Seandainya nabi Muhammad berhak dan mempunyai otoritas tasyri’ tentulah ayat
tersebut akan berbunyi “wa ya ta’adda hududahuma” yang artinya “ dan melanggar batas-batas hukum keduanya (Allah dan rasul-Nya).
Dengan demikian haruslah dipahami bahwa ketetapan hukum yang bersumber dari nabi
tidak semuanya identik dengan penetapan hukum dari Allah. Hukum yang ditetapkan
nabi lebih bersifat temporal-kondisional sesuai dengan derajat pemahaman, nalar zaman,
dan peradaban masyarakat waktu itu, maka ketetapan hukum tersebut tidak mengikat
hingga akhir zaman.
Dari sinilah menurut Shahrur, letak keutamaan Muhammad sebagai nabi, beliau adalah
uswatun hasanah dengan pengertian teladan dalam berijtihat dan penerapannya. Shahrur
mengajukan motivasi kepada para cendikiawan muslim untuk tidak ragu berijtihat
meskipun masalah-masalah hukum tersebut telah diklaim memiliki justifikasi nash hadits
nabi. Bagi Shahrur kondisi masyarakat yang dinamis dan selalu berubah sesuai ketentuan
situasi dan kondisi yang di latarbelakangi kemajuan ilmu pengtahuan, merupakan alasan
utama pemberlakuan ijtihat.
41
b. Analisis Matematis (Mathematic Analisys)
Shahrur juga merumuskan teori-teorinya dengan analisis matematis (at-tahlili ar-riyadi)42. Ia menggambarkan hubungan antara al-hanifiyyah dan al-istiqamah, bagai kurva lurus yang bergerak pad sebuah matriks.
Y
Kurva (al-Hanifiyah=Ruang Ijtihat
X
Sumbu X menggambarkan zaman atau konteks waktu, sejarah. Sumbu Y sebagai
undang-undang yang ditetapkan oleh Allah Swt. Kurva (al-hanifiyyah) menggambarkan dinamika
ijtihat manusia, bergerak sejalan dengan sumbu X. Namun gerakan itu dibatasi dengan
batasan hukum yang telah ditentukan oleh Allah Swt (sumbu Y). Dengan demikian,
hubungan antara kurva dengan garis lurus secara keseluruhan bersifa dialektik, yang tetap
dan akan berubah senantiasa saling terkait (intertwinet). Dialektika adalah kemestian untuk menunjukkan bahwa hukum itu adaptabel terhadap konteks ruang dan waktu.
42
Secara teoritis, Shahrur menggunakan analisis matematis sebagai landasan bangunan
teorinya, yaitu rumusan-rumusan matematika yang dikembangkan oleh Isac Newton
khususnya yang berkaitan dengan persamaan fungsi. Persamaan fungsi dirumuskan
dengan Y=f(x) jika mempunyai satu variabel atau Y=f(x,2)43 jika mempunyai dua
variabel atau lebih. Rumusan ini berbentuk suatu garis yang memanjang keatas yang
disimbolkan dengan Y dan garis memanjang ke samping yang ditimbulkan X.
Bagi Shahrur, persamaan fungsi ini dapat dijadikan basis teori pengembangan hukum
Islam44, karena teori ini mencakup dua karakter dari hukum Islam. Pertama, karakter permanen (sabit) dalam arti tetap dan tidak berubah dan universal. Karakter ini disebut sebagai al-istiqamah, dalam arti berlaku secara umum dan terus menerus. Kedua, karakter dinamis dan cenderung pada perubahan (al-hanifiyyah).
C. al-Istiqamah dan Al-hanifiyah
Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa, teori batas dibangun atas dua
pemahaman yakni al-istiqamah dan al-hanifiyah. Melalui analisis linguistik, Shahrur
menjelaskan bahwa kata hanif berasal dari kata hanafa, yang dalam bahasa Arab berarti bengkok, melengkung, (hanafa) atau juga bisa dikatakan orang yang berjalan diatas dua kakinya (ahnafa). Kata ini juga dibandingkan dengan kata janafa, yang berarti condong kepada kebagusan.
Adapun kata al-Istiqamah, derivasi dari kata qawm yang memiliki dua arti, yaitu kumpulan laki-laki dan berdiri tegak (al-istisab) atau kuat (al-‘azm). Dari kata al-intisab
43Ibid
hal. 450
44Ibid
muncul kata al-mustaqim dan al-istiqama, lawan dari melengkung (al-inhiraf).
Sedangkan kata al-azm, muncul kata ad-din al-qayyim (agama yang kuat dalam kekuasaannya).
• Berbagai analisi linguistik terhadap term al-hanifiyyah dan al-istiqamah
inilah yang kemudian membuat Shahrur sampai pada surat al-An’am :161. Terdapat tiga
terma pokok dalam ayat tersebut, yaitu: ad-din al-qayyim, al-mustaqim dan al-hanif yang kemudian menggelisahkannya. Bagaimana mungkin Islam menjadi kuat jika harus
disusun dari dua hal yang kontradiktif? Setelah menganalisa surah al-an’am , Shahrur
memperoleh pemahaman bahwa al-hunafa adalah sifat alami dari seluruh alam. Langit dan bumi yang nota bene sebagai susunan kosmos adalah bergerak dalam garis lengkung. Sifat inilah yang membuat tata kosmos menjadi teratur dan dinamis. Dengan demikian,
ad-din al-hanif adalah agama yang selaras dengan kondisi ini, karena al-hanif merupakan pembawaan yang bersifat fitrah. Manusia sebagai bagian dari alam materi juga memiliki
sifat pembawaan fitrah ini.
Sejalan dengan fitrah alam tersebut, dalam aspek hukum juga terjadi. Realitas
masyarakat senantiasa bergerak secara harmonis dalam wilayah tardisi sosial serta
kebiasaan atau adat. Oleh karena itu, sebuah as-sirat al-mustaqim adalah keniscayaan untuk mengontrol dan mengarahkan perubahan tersebut. Itulah sebabnya, mengapa
Selanjutnya Shahrur menetapkan enam prinsip batas (hudud) yang dibentuk oleh daerah
hasil (range) dari perpaduan kurva terbuka dan tertutup pada sumbu X dan sumbu Y. Perincian prinsip-prinsip tersebut sebagai berikut :
Pertama, daerah hasil (range) yang berbentuk kurva tertutup yang memiliki satu titik balik maksimum berhimpit garis lurus yang sejajar dengan sumbu X. Posisi ini
diistilahkan oleh Shahrur dengan halal al-had al-a’la ( posisi batas maksimum)45.
Pada posisi ayat-ayat hudud dalam umm al-Kitab hanya mempunyai batas maksimal saja sehingga penetapan hukum diperbolehkan bergerak tepat digaris batas atau dibawah garis
batas maksimal dan tidak diperbolehkan melampauinya. Ayat-ayat hudud yang termasuk
dalam kategori ini adalah ayat-ayat yang menjelaskan hukum-hukum bagi kasus
pencurian dan pembunuhan. Q.S. al-Maidah: 38, Q.S. al-Isra’: 33, dan Q.S. al-Baqarah:
17846, Contoh:
TU
VV8
CW X
VV8
Y
Z
C
?X
'[ .
1
\T
]'(
'[7^
_`V=a
b=$ c 2
-
d
c
e
f] R
gA
c'
D*OF
Artinya: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (al-Maidah: 38)
45Ibid
hal.450
46Ibid
Ayat diatas menegaskan bahwa hukuman bagi pencuri adalah potong tangan. Namun
perlu diperhatikan potong tangan merupakan hukuman maksimal menurut Shahrur bagi
pelaku pencurian. Tentunya alternatif hukuman disesuaikan oleh hukum yang berlaku
disuatu negara yang melaksanakan hukuman itu.
Kedua, range yang berbentuk kurva terbuka yang memiliki satu titik balik minimum yang berhimpit dengan garis lurus sejajar dengan sumbu X. Posisi ini diistilahkan dengan
al-halah al-adna (posisi batas minimal)47.
Pada posisi ini ayat-ayat hudud dalam umm al-Kitab hanya mempunyai batas minimal saja, sehingga penetapan hukum hanya diperbolehkan bergerak tepat digaris dan diatas
minimal dan tidak boleh melampauinya. Ayat-ayat hudud yang termasuk kategori ini
adalah ayat-ayat tentang pakaian wanita Q.S. An-nur: 31, ayat-ayat tentang muharramat
(orang-orang yang haram dinikahi) Q.S. an-Nisa: 22-23, ayat tentang jenis-jenis makanan
yang haram dimakan Q.S. al-Maidah: 3, ayat tentang utang piutang Q.S. al-Baqarah:
283-28448, Contoh:
hi
Y
c&
'= c 2
jBkT
^
T
4
d
T
`V
dl8
47Ibid
hal 450
48
mi7n
!
X
'
K '
o27n
p
hk
&W q
$
r/?n
T
'
s=N7t'
DuuF
!#
*v+
<jBt?NK
<jTcI$'.% w
<jTcC
xl ^
<jBtC 9
'
<jTcI$H[
<jTcI$K $'
j
xl ^
uy/3
j
xl ^
#1 b3
jBt/$'.% w
z{|\$ 8
<jTcxl1C`E<
jBtC 9
'
4
d
W'C$`E}+8
B#$'.% w
<jTc~
`V7•
jBtt€o$ ^
{|\$ 8
•7z
jBk
B,
-
d
jTc~
`V7W•
{|\$ 8
A/
' '
H-7.7^
p7‚
<j 8
Y
2 Tc
A/
' '
ƒ 7.7^
h=
''
xl (
<jBt?NK
„
…€o$K '
jBt~
xl<^
z6|N 8
!-<jBt7_$K !†
p
Y
C'[!,
451Q ^
Fz1Q I1 b3
mi7n
!
X
'
K '
c
m‡7n
pX=a
l
B>=f
M[
}
Du*F
Artinya: ”Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Seseungguhnya perbuatan itu amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruknya jalan (yang ditempuh). Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudara yang
menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (al-Nisa’: 22-23).
Ayat diatas menjelaskan haramnya menikahi al-aqarib yang tertera dalam dua ayat di
atas. Dalam kondisi apapun, dan dengan alasan apapun kita dilarang mengawini
kelompok-kelompok al-aqarib tersebut. Karena hal tersebut merupakan batas legis
minimal yang tidak bisa ditolerir lagi.
Ketiga, range-nya berupa gelombang (gabungan antara kurva terbuka dan kurva tertutup) yang memiliki sebuah titik balik maksimum dan sebuah titik balik minimum, keduanya
terhimpit pada garis lurus sejajar dengan sumbu X. Posisi ini diistilahkan dengan halah al-haddain al-a’la wa al-adna ma’an (posisi batas maksimal dan minimal bersamaan)49
Ayat-ayat hudud pada posisi ini mempunyai batas maksimal sekaligus batas minimalnya,
sehingga penetapan hukumnya berkisar antara dua batas tersebut, atau mungkin saja bisa
jadi produk hukum yang dihasilkan berada tepat pada garis dua batas tersebut. Ayat-ayat
49Ibid
hudud yang termasuk dalam kategori ini adalah ayat tentang waris Q.S. an-Nisa’: 11-14
dan ayat tentang poligami Q.S. an-Nisa’: 350. Contoh :
@ATc
†
e
Z•7z
<jBk
$ 81
Y
*+=a X
8
…1M
ˆ‰'
Fz1Q N M2b3
p7‚
H-Ta
ŠT
`V7•
U<
Fz1Q I ‹?A
H- .K
MC CA
=Œ +
Y
p7n
!# 2X=a
&x'
9
'.K
•
d&8
1
^\3
Fˆ…Tc
8
_
K9
'[•1•
d
‘%
’V8
H[
=Œ +
p7n
pX=a
8
{
p7‚
A 8
-Tc
{
>
A
K
^
d “`
•C ”b8
p7‚
pX=a
>
•x
1 7n
d “`
‘%
’V8
a-
1C ^
_W}N
†
{ $
W•–
1
—z?6'
c
<jTaT
^
T
<jTaT
xl<^
hi
p ‘ !
<j .R
˜ +?X
<^Tc 8
lC?> 2
&Whg *+
4
d
c
%p7n
pX=a
s[ 7
M[
c'
DEEF
‚
<jBt 8
•
2
=Œ +
<jBt (9
?;
p7n
A 8
-Tc
H- . 8
{
p7‚
p
hk
ƒ
. 8
{
jBtK
^)+8
H[
-™k +
a-
1C ^
_W}N
†
45Q
†
'.7^
1
5?6'
ƒ
. 8
^)+8
H[
A/?a +
p7n
<j 8
-Bt
<jTc 8
{
8
p7‚
p
hk
<jBt 8
{
H-
.K
- [”M8
H[
\Tš™k +
a-
d
1C ^
_W}N
†
4‡
† C
'.7^
1
z?6'
c
p7n
4‡X=a
•… (
‹
$›
$K hk
•x
+?
>
fy
1
•#1 w
Fˆ…Tc7
_
K9
'[
.1l
d
‘%
’V8
p7‚
Y
Z 2Xhk
œ l™k
-
'_
89 :
!# .
‘T
Xhk œB•
•7z
•C ”b8
50Ibid
1C ^
_W}N
†
{`$
W•–
1
—z?6'
œ<+=f
8v
hg
&W}N
†
-
d
c
e
A 7
„
gA 7 '
DEuF
4
!
"#$%&'(
)*+!,
-
'.
/
+$'.12/3
456
7
$'
'.
4
89 :
;< =>?8
@A
B'C?8
DE*F
F1C
H 'C I
K'
K
!
L
2
M
7
$'
'.N
OP
=N
O5Q7.R
DEF
neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan (QS. An-Nisa: 11-14)
Ayat di atas menjelaskan bahwa bagian laki-laki dua kali lipat perempuan. Dalam
konteks ini Syahrur menjelaskan bahwa bagian laki-laki adalah batasan maksimal dan
tidak bisa ditambah lagi, sementara perempuan adalah batas minimal, jadi dalam kondisi
tertentu seorang perempuan berpotensi mempunyai bagian lebih.
Keempat, range yang dihasilkan berupa garis lurus sejajar dengan sumbu X. Karena berbentuk garis lurus posisi ini tidak memiliki titik balik mimimum, dengan aman, kedua
titik tersebut berada pada satu titik secara bersamaan sehingga titik balik maksimum
identik dengan titik balik minimum. Posisi ini diistilahkan dengan halat al-hadd al-adna wa halat a-hadd al-a’la ma’an fi nuqthatin wahidah (Posisi batas minimal dan maksimal berada pada titik secara bersamaan) atau diistilahkan dengan halat al-musthaqim (posisi lurus tanpa ada alternatif lain)
Maksud dari tipe ini adalah dalam ayat-ayat hudud terdapat ayat-ayat yang tidak
mempunyai batas maksimal atau minimal, ayat tersebut berada pada posisi lurus dan
harus berada pada batas itu sendiri, sehingga ia tidak mempunyai alternatif lain dalam
yang nantinya akan menjadi penetapan hukum. Ayat-ayat hudud yang termasuk kategori ini adalah ayat yang menerangkan tentang hukuman bagi pelaku zina. Lihat an-Nur :251
CW N
2
%]8
•7“
%]8
Y
B
7
!(
%…Ta
_
K9
'[•1•
d
W ŸY
"x
'(
Y
hi
^TaNC3 ›
'[•–
•W
•7z
Fz6
p7n
1\Tš&Ta
p
&
1 C
7^
¡<
N?8
*+ /'
Y
! W•!¢
?8
'[•
–
=N
•W=>~
-
d
zQ
&
1
[?8
DuF
Artinya: “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap orang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman” (QS. An-Nur: 2)
Artinya dalam ayat diatas para pelaku zina wajib di cambuk sebanyak seratus kali
tidak boleh kurang dan lebih karena hukuman tersebut dalam batas maksismal dan
minimal.
Kelima, rangenya berupa kurva terbuka dengan titik final yang cenderung mendekati sumbu Y, sehingga bertemu pada daerah tak terhingga (‘ala al-aibayah). Demikian pula pada titik pangkalnya yang terletak pada daerah tak terhingga terhimpit
dengan sumbu X. Posisi ini di istilahkan dengan halat al-hadd al-‘ala li hadd al-muqarib duna al-mamas bi hadd abadan (Posisi batas maksimal cenderung mendekat tanpa ada persentuhan sama sekali kecuali di daerah tak terhingga)52.
51Ibid
hal 463
52Ibid
Daerah hasilnya berupa kurva terbuka yang terbentuk dari titik pangkal yang
hampir berhimpit dengan sumbu X dan titik final yang berhimpit dengan sumbu Y.
Secara matematis, titik final hanya benar-benar berhimpit dengan sumbu Y pada daerah
tak terhingga (‘ala la nihayah)
Ayat-ayat hudud yang termasuk tipe ini adalah ayat tentang larangan mendekati
zina. Q.S Al-Isra’:32. Tipe ini sangat terkait dengan kasus yang terjadi pada tipe
keempat. Pada ayat tersebut menjelaskan larangan “mendekati” hal yang membuka
peluang terjadinya zina. Mendekati “hal” tersebut merupakan batas legis minimal yang
tidak boleh dilampaui.
hi
Y
^ +?n
•x“*v]8
Y
o27n
pX=a
&W q
$
T
'
b=N7t'
D*uF
Artinya: “Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah sesuatu yang keji dan sesuatu yang buruk. (QS. Al-Isra’ :32)
Ayat diatas menjelaskan larangan mendekati hal yang berpeluang berbuat zina,
mendekati merupakan batas legis minimal yang tidak boleh dilampaui.
Keenam, rangenya berupa kurva gelombang dengan titik balik maksimal yang berad