HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN
STRES KERJA PADA ATLET SEPAK BOLA
PROFESIONAL DI KLUB PERSIJA
Skripsi Diajukan Untuk Memenuili Persyaratan dalam Memperoleil Gelar Sarjana Psikologi
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
Skripsi diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi syarat-syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi
Pembimbing I
Oleh:
KHAIRUL RIZAL
NIM: 102070025910Di Bawah Bimbingan
Ors. Sofiandy Zakaria, M Psi. T . /
FAKULTAS PSIKOLOGI
セ@
p・ュ「ゥュ「セセ@
セᄋセ@
/
Liany Luzvinda, M. Si
UNIVERSIT AS ISLAM NE GERI SY ARIF HIDAY A TULLAH
JAKARTA
)yarif Hidayatullah Jakarta pad a tanggal 24 Mei 2007. Skripsi ini telah diterima ;ebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi.
Jakarta, 24 Mei 2007
Sidang Munaqasyah
Cetua Mi ngkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota
Anggota:
Penguji II
eh M. Si Drs. Sofiandy Zakaria, M. Psi. T
1embimbing I
Mereka yang punya kendali atas orang lain
mungkin punya kuasa,
Tetapi hanya mereka yang mampu
mengendalikan diri sendirilah
yang memiliki kekuatan sebenarnya
- Lao Tzu
Ji/?..g, }Inda illerpikjr }Inda 7{afali, ?ll_a/?..g, }Inda 7{afali
Ji/?..g, }Inda illerpikjr tidaft 6erani, ?ll_a/?..g, }Inda tidak, 6erani
Jifta}lnda ingin menang, tapi 6erpikjr tidak,6isa,
sudali liampir pas ti
JI
nda tidak, 6isa.
Kakak, Adik dan Wanita ku
Tiga "bintang kecil" yang selalu menjadi
(C) Khairul Rizal
(D) Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Stres Kerja Pada Atlet Sepak Bola Profesional Di klub PERSIJA.
(E) xiv
+
62 halaman(F) Stres merupakan penyakit psikis yang dapat dialami oleh siapapun
termasuk atlet sepak bola, situasi stres yang melewati ambang batas akan menyebabkan hal-hal yang kurang menguntungkan bagi atlet yang
bersangkutan. Banyak sumber-sumber potensial stres, antara lain yaitu; faktor lingkungan kerja, organisasional, dan individu. Ketiga faktor di atas sangat erat hubungannya dengan aspek-aspek pengertian beban kerja.
Stres kerja adalah tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam diri atlet yang bersifat destruktif, yang pada akhirnya akan merugikan diri atlet tersebut dan juga klub yang dibelanya karena penurunan prestasi yang ditunjukan oleh atlet tersebut.
Beban kerja adalah tuntutan-tuntutan dan tugas-tugas yang diberikan pada atlet, sehingga performans harapan dan performans al<tual tidak seimbang yang pada akhirnya akan membuat atlet merasa tertekan dan tidak dapat menyelesaikan tuntutan dan tugasnya dengan maksimal.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat beban kerja dan hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada atlet sepak bola profesional di klub PERSIJA. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 16 mare! dan berakhir pada tanggal 23 april 2007.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif korelasional, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada atlet sepak bola prosefional. Karena peneliti menggunakan penelitian populasi atau total sampling, maka subjek penelltian ini adalah seluruh pemain PERSIJA yang berjumlah 22 pemain. Sedangkan instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah skala, yaitu: skala beban kerja dan skala stres kerja.
Adapun metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik korelasi rank spearman dengan menggunakan program SPSS versi 12.00. Dari hasil perhitungan diperoleh hasil r hitung
=
0.448 dan nilai reliabilitas pada skala beban kerja=
0.832 serta pada skala stres kerja =( B) May 2007 ( C) Khairul Rizal
( D) The Relation Between Work Load And Job Stress At Professional Football Player In PERSIJA Club.
( E) xiv + 62 page
( F) Stress represent the psychical disease which often experienced of by everyone including football player, stress situation passing boundary will cause the less things to the advantage of player above. Many potential sources of stress, for example that is; factor of environmental work, organization, and individual. Third factor above very hand in glove its relation with the aspect of workload congeniality.
Job stress is pressure or something that felt to depress in self of player having the character of destructive, which is on finally will harm the self off player as well as club advocated because achievement degradation which showing by the player.
Workload is demand and duties which is passed by the player, so that perform of expectation and uneven perform actual which is on finally will make the player under pressure and cannot finish the demand and its duty maximally.
Intention of this research is to know the level of workload and relation between workload and stress work at professional football player in PERSIJA club. This Research is conducted from 16 of March until 23 of April 2007.
This research use the quantitative descriptive correlation approach, with aim to know the relation between work load and stress work at
professional football player. Because researcher use the population research or total of sampling, hence this subject research all PERSIJA players amounting to 22 player. While instrument of data collecting used is scale, that is: scale of workload and scale of job stress.
Alhamdulil/aahirabbil alamiin .... segala puji hanya bagi Allah SWT yang Maha Menciptakan dan telah memberikan segala nikmat kepada hamba-Nya. Shalawat dan salam hanya untuk Nabi Muhammad SAW panutan semua umat. Oengan segala kemudahan, kendala dan hambatan yang dihadapi, akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Amien Ya Rabbal A'/amin.
Hampir delapan bulan lamanya penulis bergumul dengan buku, kamus, komputer, dan tinta printer hanya untuk menuntaskan tugas akhir yang begitu menguras tenaga, pikiran dan perasaan. Di samping itu juga banyak
pengorbanan moril dan materiil yang penulis terima dari berbagai pihak yang tak ternilai harganya. Maka, sudah sepantasnyalah bagi penulis untuk
menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu sampai akhir penyelesaian karya ini.
lbu Oekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, sekaligus dosen pembimbing akademik, Ora. Hj. Netty Hartati, M. Si, yang telah membantu
kelancaran administrasi untuk penelitian. Ors. Sofiandy Zakaria, M.Psi.T dan lbu Liany Luzvinda, M.Si, sebagai Pembimbing I dan II yang telah bersedia
mencurahkan perhatian, waktu dan limpahan ilmunya. Terima kasih semoga Allah memberikan balasan yang setimpal.
Seluruh Oosen Fakultas Psikologi tercinta, terutama Ors. Abdul Rahman Saleh, M.Si. sebagai dosen pembimbing seminar. lbu Ora. Zahrotun Nihayah, M. Si. lbu Neneng, lbu Fadillah, lbu Sholehah dan lbu Lili, terima kasih atas ilmu dan nasehatnya, para staff akademik, lbu Syariah, lbu Nur, dan lbu Sri yang telah membantu penulis dalam urusan nilai, petugas perpustakaan Fakultas Psikologi, terima kasih literaturnya, buat Bang Alek, Bang Ayung yang terus berjuang demi kenyamanan dan kebersihan Fakultas.
Ucapan terima kasih secara khusus penulis sampaikan kepada Papah dan Emak tercinta, yang dengan tetesan kasih sayang dan percikan kesabarannya telah membesarkan, membimbing, dan memahami keadaan ananda. Ananda tidak clapat membalas atas segala pengorbanan dan perjuangan Papah dan Emak, hanya baldi dan do'a setulus hati yang dapat ananda haturkan kepadamu. Kedua Kakak, Ketiga adikku, Abang lpar dan Keponakanku serta wanitaku tercinta (Shanty) yang lewat sentuhan do'a, pengorbanan dan motivasinya penulis dapat terus tetap dalam melangkah untuk menyelesaikan skripsi ini.
Sahabat-sahabat PMll, khususnya PMll Komfakpsi, teman-teman senior maupun junior di team sepak bola dan futsal Psikologi. Terima kasih atas wadah
aktualisasinya serta sumbangan ide dan bantuan selama kuliah.
Bang Tjucun dan seluruh pengurus serta pemain PERSIKAD Depok yang bersedia penulis bikin repot. Blacky dan pengurus Taruna FC yang jadi tempat
sharing penulis serta Mas Zul dan seluruh pengurus serta pemain PERSIJA
Jakarta yang telah rela membantu penulis dalam kelancaran pengumpulan data. Jaya terus PERSIJA, jaga kolektifitas, junjung sportifitas dan jadi yang teratas.
Jakarta, 24 Mei 2007
Halaman Pengesahan ... iii
Motto ... iv
Dedikasi ... v
Abstraksi ... vi
Kata Pengantar ... x
Daftar lsi ... xii
Daftar Tabet ... xiv
BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 -
8
1.1. Latar Belakang ... 11.2. ldentifikasi Masalah ... 6
1.3. Pembatasan Masalah ... 6
1.4. Perumusan Masalah ... 7
1.5. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ... 7
1.6. Sistematika Penulisan ... 8
BAB 2 KAJIAN PUSTAKA ... 9 - 24 2.1. Stres Kerja ... 9
2.1.1. Definisi Stres Kerja ... 9
2.1.2. Macam-macam Stres Kerja ... 11
2.1.3. Sumber-sumber Stres Pada Atlet. ... 12
2.1.4. Gejala-gejala Sires ... 15
2.1.5. Cara-cara Menanggulangi Stres ... 16
2.2. Beban Kerja ... 17
2.2.1. Definisi Beban Kerja ... 17
2.2.2. Macam-macam Beban Kerja ... 18
2.2.3. Faktor-faktor Pembangkit Beban Kerja ... 20
2.3. Kerangka Berpikir ... 23
2.4. Hipotesis ... 24
BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 25 - 40 3.1. Pendekatan Dan Metode Penelitian ... 25
3.2. Definisi Variabel Dan Definisi Operasional Variabel ... 26
3.3. Populasi. ... 27
3.4. Sampel ... 28
3.5. lnstrumen Pengumpul Data ... 29
3.6. Teknik Pengolahan dan Analisa Data ... 32
3.6.1. Uji Validitas Skala ... 32
, 3.6.2. Uji Reliabilitas Skala ... 35
3.7. Prosedur Penelitian ... 37
Bertanding ... 44
4.1.4. Gambaran Subjek Berdasarkan Lama Bermain Di PERSIJA ... 45
4.1.5. Gambaran Subjek Berdasarkan Tempat Tinggal ... 45
4.2. Presentasi Data ... 47
4.2.1. Deskripsi Statistik ... 47
4.2.2. Deskripsi Skar Subjek ... 47
4.2.3. Uji Persyaratan ... 52
4.2.4. Uji Hipotesis ... 54
4.3 Pembahasan ... 54
BAB 5 KESEIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN ... 56 - 62 5.1. Kesimpulan ... 56
5.2. Diskusi ... 57
5.3. Saran ... 59
DAFT AR PUST AKA LAMPI RAN
Tabel 3.1
Tabel 3.2
Tabel 3.3
Tabel 3.4
Tabel 3.5
Tabel 3.6
Tabel 4.1
Tabel 4.2
Tabel セNRNQ@
Tabel 4.3
Blue Print Beban Kerja ... 29
Blue Print Stres Kerja ... 30
Bobot nilai jawaban ... 31
Bleu print skala beban kerja hasil try out (yang valid) ... 34
Bleu print skala stress kerja hasil try out (yang valid) ... 36
Kaidah reliabilitas Guilford ... 38
Gambaran Responden berdasarkan usia ... 42
Gambaran Responden berdasarkan asal negara ... 43
Uji Beda Responden berdasarkan asal negara ... 43
Gambaran Responden berdasarkan posisi dalam bertanding ... 44
Tabel 4.4 Gambaran Responden berdasarkan lama bermain di PERSIJA. 45 Tabel 4.5 Gambaran Responden berdasarkan tempat tinggal ... 45
Tabel 4.5.1 Uji Beda Responden berdasarkan tempat tinggal. ... 45
Tabel 4.6 Deskripsi statistik ... 47
Tabel 4.7 Tabel 4.8 Tabel 4.9 Tabel 4.10 Tabel 4.11 Tabel 4.1·2 Norma Kategori beban kerja ... 49
Norma Kategori stress kerja ... 50
Komposisi responden berdasarkan pengkategorian skor ... 51
Uji normalitas beban kerja dan stress kerja ... 53
Uji hipotesis ... 54
1.1. LAT AR BELAKANG
Kompetisi sepak bola di Indonesia terutama divisi utama ligina 2007,
merupakan salah satu kompetisi sepak bola didunia yang memiliki peserta
terbanyak dan juga jadwal pertandingan terpadat. Hal ini dapat dilihat dari
peserta kompetisi ligina 2007 yang berjumlah 34 tim yang terbagi dalam
dua wilayah, (dalam www.bli-online.com).
Dalam satu musim kompetisi (± 6 bulan) sebuah tim harus memainkan 45
pertandingan ligina 2007, ini juga belum ditambah dengan jadwal
kompetisi copa Indonesia yang harus dimainkan oleh sebuah klub yang
juga cukup banyak. Apabila ditarik rata-rata, maka sebuah klub harus
memainkan 2 pertandingan dalam satu minggu, hal ini juga belum
ditambah dengan luasnya wilayah Indonesia yang berakibat pada cukup
ェ。オセョケ。@ jarak tempuh suatu tim dalam memainkan pertandingan tandang.
Padatnya jadwal pertandingan yang harus dimainkan oleh sebuah klub
dalam satu musim, cukup jauhnya jarak tempuh yang harus dilalui ketika
pertandingan tandang, dan sedikitnya hari libur dapat berakibat negatif
pada kondisi fisik dan psikis atlet. Salah satu penyakit psikis yang pemah
dialami oleh atlet adalah stres, Saparinah berpendapat bahwa setiap atlet
tidak terkecuali atlet profesional ataupun amatiran pemah mengalami stres
atau kecemasan (dalam Singgih, 1989).
Stres itu sendiri merupakan penyakit psikologis yang dapat dialami oleh
siapapun termasuk atlet sepak bola. Atlet sepak bola yang didiagnosa
terjangkit stres akan mengalami gangguan pada penampilannya baik
didalam ataupun diluar lapangan. Sehingga pada puncaknya atlet tersebut
tidak dapat menunjukan penampilan terbaiknya serta adanya penurunan
pada prestasinya.
Dalam dunia olahraga masalah stres telah lama menjadi perhatian para
ahli psikologi. Telah diakui bahwa stres berkembang sejalan dengan
peristiwa-peristiwa keolahragaan dan tidak dapar dihindari. Singer
berpendapat bahwa dalam olahraga kompetitif akan selalu muncul situasi
Namun demikian, sires pada batas-batas tertentu sangatlah diperlukan,
agar atlet tersebut siap menghadapi dan melaksanakan tugasnya. Singgih
(1989) menyatakan bahwa tanpa stres dalam batas tertentu menjelang
pertandingan, atlet dapat dikatakan masih "tidur" secar psikis, sehingga ia
tidak akan mampu berbuat banyak dalam menjalankan tugasnya tersebut.
Stres - yang harus ada menjelang pertandingan - itu sebagai kesiapan
mental (arousal) atlet untuk bertanding. Derajat sires yang diperlukan oleh
setiap atlet untuk ini sangatlah berbeda-beda atau sangat individual, hal
ini menunjukan bahwa setiap orang memiliki ambang stres tersendiri yang
berbeda pula pada situasi lain. Menjelang pertandingan atau turun
kelapangan derajat sires akan relatif meninggi namun ketika pertandingan
telah berlangsung derajat itu semakin lama akan semakin menurun.
Situasi sires yang melewati ambang batas akan menyebabkan hal-hal
yang tidak atau kurang menguntungkan bagi atlet yang bersangkutan.
Dalam kegiatan olahraga terutama olahraga kompetitif, stres akan selalu
menghantui para atlet maupun official, yang pada gilirannya akan
mengganggu penampilan mereka.
Banyak faktor yang menyebabkan seorang atlet mengalami stres, di
mendukung, interpersonal antara seorang atlet dengan atlet lainnya yang
kurang baik sehingga berdampak pada kurang kompaknya Um di dalam
ataupun di luar pertandingan. Sikap manajemen yang otoriterpun bisa
menjadi kendala tidak harmonisnya hubungan antara manajemen dengan
atlet-atletnya, jadwal pertandingan yang cukup padat atau beban kerja
yang cukup banyak yang harus dipikul oleh atlet juga dapat
mempengaruhi turunnya kondisi fisik dan psikis seorang atlet, dan juga
masalah adaptasi individu dengan kelompok. Dalam olahraga sepak bola,
seorang atlet haruslah beradaptasi dengan baik kedalam tim atau
kelompoknya, agar terjalin pengertian serta kesamaan dalam visi dan misi
antara atlet dengan atlet yang lain dan juga dengan manejemen klub serta
pendukung fanatik.
Pusat data dan informasi Departemen Kesehatan Republik Indonesia
(2006) dalam artikel : prinsip dasar kesehatan kerja menyatakan bahwa
.
.
Banyak faktor yang menyebabkan seorang atlet yang berkualitas menjadi
turun prestasinya, salah satu faktornya adalah karena beban kerja (fisik
dan mental) yang dipikulnya terlalu banyak atau berlebih. Sehingga atlet
yang memikul beban terlalu berlebih mengakibatkan dirinya banyak
Monty (2000) berpendapat bahwa beban latihan yang terlalu berat untuk
jangka waktu yang relatif panjang dapat berakibat pada menurunnya
penampilan kinerja olahraga seorang atlet.
Seorang atlet sepak bola profesional akan berprestasi dengan baik untuk
klub maupun bagi negaranya, apabila jiwanya tidak merasa terbebani
dengan beban yang cukup berat dari berbagai pihak. Namun, jika seorang
atlet sepak bola profesional sudah merasa terbebani dengan berbagai
macam tuntutan, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi pada jiwa atlet
tersebut. Yang pertama, ia akan menjadikan beban kerja itu sebagai
motivasi untuk berprestasi, hal ini dapat terjadi apabila kondisi jiwa atau
mental atlet tersebut memang "kuat". Dan yang kedua, beban kerja yang
diberikan padanya dijadikan sebagai beban yang memberatkan dirinya
dan perlahan atlet tersebut akan menjadi stres dan pada tahap yang
kronik akan menjadi depresi, hal ini dapat terjadi apabila kondisi jiwa dan
mental atlet tesebut "lemah".
Dari sekian banyaknya faktor pembangkit stres yang dialami oleh atlet,
maka peneliti berasumsi bahwa stres yang diderita oleh atlet sepak bola
salah satunya di pengaruhi oleh beban kerja yang diberikan oleh
lingkungan kerjanya. Maka, peneliti tertarik untuk meneliti psikologis para
judul "HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN STRES KERJA
PADA ATLET SEPAK BOLA PROFESIONAL DI KLUB PERSIJA"
1.2. IDENTIFIKASI MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas,
maka beberapa masalah yang dapat diidentifikasi dalam penelitian ini
adalah:
1. Bagaimana gambaran tingkat beban kerja pada atlet sepak bola ?
2. Bagaimana gambaran tingkat stres kerja pada atlet sepak bola ?
3. Apakah terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan dengan
stres kerja pada atlet sepak bola ?
4. Apakah terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja
pada atlet sepak bola ?
1.3. PEMBAT ASAN DAN PERUMUSAN MASALAH
1.3.1 Pembatasan Masalah
Dari beberapa permasalahan yang muncul dalam penelitian ini, maka
masalah dibatasi pada hubungan antara beban kerja dengan stres kerja
1.3.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan permasalahan di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara beban kerja dengan
stres kerja pada atlet sepak bola profesional.
1.4. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN
1.4.1 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya tingkat beban kerja dan
taraf signifikansi hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada
atlet sepak bola profesional.
1.4.2 Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1.
Manfaat teoritis, diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah. wawasan, khazanah ilmu pengetahuan dan wacana dalam hal
psikologi olahraga yang notabene belum banyak diteliti oleh
mahasiswa fakultas psikologi UIN Jakarta dan juga untuk mengetal1ui
psikis para atlet sepak bola.
2. Manfaat praktis, untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat
1.5. SISTEMATIKA PENULISAN
Dalam penelitian ini, sistematika penulisan yang digunakan adalah
sebagai berikut :
BAB 1 : Pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, identifikasi
masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan
penelitian, manfaat penelitian, sistematika penulisan.
BAB 2 : Kajian Pustaka, meliputi pengetian stress kerja, macam-macam
stres kerja, sumber-sumber stres pada atlet, gejala-gejala stres,
penanggulangan stres, pengertian beban kerja, macam-macam
beban kerja, faktor-faktor pembangkit beban kerja, kerangka
berfikir dan hipotesis.
BAB
3
BAB4
Metodologi Penelitian, meliputi pendekatan dan metode
penelitian, definisi variabel dan definisi operasional variabel,
populasi, sampel dan teknik pengambilan sampel, teknik
pengumpulan data, metode pengolahan dan analisa data.
Hasil Penelitian, meliputi gambaran umum responden,
hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada atlet
sepak bola profesional di klub PERSIJA.
2.1. STRES KERJA
2.1.1 Definisi Stres Kerja
Datam karnus tengkap psikotogi, Chaplin (2005) menjelaskan bahwa stres
· adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikotogis.
Kartono, K. dan Dali, G. (2003) menyatakan bahwa stres adalah stimulus
yang menegangkan kapasitas-kapasitas psikologis atau fisiotogis dari
suatu organisme.
Dalam kamus besar bahasa Indonesia, stres diartikan sebagai gangguan
atau kekacauan mental dan emosionat yang disebabkan oteh faktor luar.
Stres merupakan kondisi yang umum dihadapi seseorang dalam
rnenghadapi tantangan hidup. Atlet pada umumnya mengatami stres pada
taraf tertentu. Tuntutan dan tekanan untuk mengikuti jadwat latihan yang
menimbulkan stres. Terbatasnya porsi makan juga dapat menimbulkan
stres.
Berbagai kondisi sires dalam menghadapi kehidupan sehari-hari biasanya
dapat diatasi dengan baik oleh atlet yang baik. Namun sejumlah atlet
lainnya kerapkali mengalami kesulitan dalam menghadapi stres, yang
demikian sesungguhnya mereka membutuhkan bantuan pelatih dan pihak
terkait untuk dapat mengatasi stres yang mereka alami. Namun
adakalanya gejala-gejala stres yang dialami atlet lolos dari pantauan atau
obseivasi pelatih. Sehingga pelatih tidak cukup waspada terhadap kondisi
atletnya yang mengalami stres. Selanjutnya tanpa dapat diantisipasi
terlebih dahulu oleh pelatih dan pihak terkait, seolah-olah atlet secara
mendadak mengalami kemunduran prestasi. Kalau saja pelatih dan pihak
terkait dapat mengantisipasi stres yang dialami atlet sejak dini, mungkin
hambatan prestasi atlet tidak berlarut-larut dan kemunduran prestasi atlet
dapat dihindarkan.
· Ors. Mudji Harsono menjelaskan bahwa stres kerja adalah tekanan atau
sesuatu yang terasa menekan dalam diri seseorang akibat dari lingkungan
kerjanya. Perasaan tertekan ini timbul karena banyak faktor, yaitu faktor
yang berasal dari dalam diri sendiri atau dari luar (dalam Singgih D G,
Richelson berpendapat bahwa stres kerja merupakan suatu keadaan
dimana seseorang mengalami kelelahan atau frustasi karena merasa
bahwa apa yang diharapkan tidak tercapai. Kemudian Morch dan
Chestnut berpendapat bahwa stres kerja merupakan tekanan psikis yang
dirasakan seseorang yang sedang bekerja (dalam Wisnu, 2000).
Berdasarkan definisi-definisi stres kerja diatas maka, penulis
mendefinisikan stres kerja adalah tekanan atau sesuatu yang terasa
menekan dalam diri atlet yang bersifat destruktif, yang pada akhirnya akan
merugikan diri atlet tersebut dan juga klub yang dibelanya karena
penurunan prestasi yang ditunjukan oleh atlet tersebut.
2.1.2 Macam-Macam Stres
Pada umumnya kita merasakan bahwa stres merupakan suatu kondisi
negatif, suatu kondisi yang mengarah ketimbulnya penyakit fisik maupun
mental, atau mengarah ke perilaku yang tak wajar.
Dr. Hans Selye, "bapak" dari penelitian mengenai stres membedakan
antara stres yang rnerusak dan stres yang rnenguntungkan. Stres yang·
·•
rnerusak dapat rnenyebabkan seseorang rnerasa tidak berdaya, frustasi,
kecewa. Stres yang rnerusak dinarnakan distres. Jenis stres yang
kepuasan, kebermaknaan, keseimbangan dan kesehatan. Adapun stres
yang menguntungkan dinamakan eustres. (dalam Joehana, 2005).
2.1.3 Sumber-Sumber Stres Pada Atlet
Menurut Drs. Mudji Harsono (dalam Singgih, 1989) sumber ketegangan
atau stres dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:
1. Sumber stres dari dalam,
2. Sumber stres dari luar,
Sumber stres dari dalam maksudnya adalah penyebab stres yang berasal
dari dalam diri atlet sendiri, yakni:
a. Atlet sangat mengandalkan kemampuan teknisnya. Bila atlet hanya
mengandalkan kemampuan teknis, ia akan mengalami kesulitan
sewaktu menghadapi situasi pertandingan yang kurang
menguntungkan bagi dirinya. Umpamanya, ketika menghadapi lawan
yang ulet dan cermat, sehingga lawan itu mampu mengantisipasi
setiap serangan yang ia dan timnya lakukan. Akibatnya, atlet tersebut
akan merasa terpepet dan selanjutnya tidak mampu lagi menguasai
· situasi yang sedang dihadapinya.
b. Atlet merasa bermain baik sekali atau sebaliknya. Bila perasaan ini
menghinggapi atlet, maka akan menjadi pertanda mulai timbul adanya
sesuatu yang menekan pada dirinya. Perasaan ini memberikan beban
seakan-akan atlet tersebut telah memvonis dirinya bahwa ia tidak akan
mencapai sukses.
c. Adanya pikiran negatif karena dicemooh atau dimarahi. Dicemooh atau
dimarahi akan menimbulkan reaksi pada diri atlet. Reaksi tersebut
akan tetap tertahan, sehingga menjadi sesuatu yang menekan dan
menimbulkan frustasi yang mengganggu penampilannya.
d. Adanya pikiran puas-diri. Bila dalam diri atlet ada pikiran atau rasa
puas-diri, maka ia telah menanamkan benih-benih ketegangan dalam
dirinya sendiri. Atlet akan dituntut oleh diri sendiri untuk mewujudkan
sesuatu yang mungkin berada diluar kemampuannya. Bila demikian
keadaannya, maka sebenarnya atlet itu telah menerima tekanan yang
tidak disadari.
Sedangkan sumber-sumber stres dari luar adalah sebagai berikut:
a. Rangsangan yang membingungkan. Salah satu bentuk rangsangan
yang membingungkan adalah komentar para officials yang merasa
kompeten, baik atas koreksi, strategi atau taktik yang harus dilakukan
maupun petunjuk yang lain kepada atlet. Menerima beberapa petunjuk
dan perintah sekaligus akan membingungkan atlet.
b. Pengaruh massa. Massa penonton atau pendukung fanatik, terlebih
atlet. Penonton yang berada ditribun sangat berarti dalam suasana
pertandingan.
c. Saingan yang bukan tandingannya. Atlet yang mengetahui bahwa
lawan yang akan dihadapi adalah lawan yang lebih unggul dari pada
dirinya, maka dalam hati kecil atlet tersebut telah timbul pengakuan
akan ketidak mampuannya untuk menang. Situasi tersebu akan
menyebabkan berkurangnya kepercayaan pada diri sendiri.
d. Ketidak hadiran pelatih. Kondisi ini akan berakibat pada atlet yang
membutuhkan dukungan, arahan dan motivasi dari pelatihnya menjadi
terganggu.
Robin menerangkan bahwa sumber-sumber potensial stres (dalam Wisnu,
2000) antara lain:
a. Faktor lingkungan. Yang termasuk faktor lingkungan seperti
ketidakpastian ekonomi, ketidakpastian politik dan ketidakpastian
psikologis.
b. Faktor organisasional. Yang termasuk faktor organisasional seperti
tuntutan tugas, tuntutan peran, tuntutan antar pribadi, struktur
organisasi, kepemimpinan organisasi, dan taraf hidup organisasi.
c. Faktor individu. Yang termasuk faktor individu antara lain; masalah
2.1.4 Gejala-Gejala Stres
Singgih (1989) menjelaskan bahwa dengan mengetahui sumber stres,
maka pihak-pihak yang berkompeten perlu berupaya sedini mungkin untuk
memperkecil stres atau ketegangan pada atlet. Sebab telah disadari
bahwa atlet yang tegang akan menunjukkan penampilan yang kurang
optimal. Untuk itu perlu mengenali stres yang telah "menyerang" atlet,
gejala-gejala stres dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
1. Gejala Fisik.
a. Adanya perubahan yang signifikan pada tingkah laku, gelisah, tidak
tenang dan sulit tidur.
b. Terjadi peregangan pada otot-otot pundak, leher, perut terlebih lagi
pada otot-otot ekstremitas.
c. Terjadi perubahan irama pernafasan.
d. Terjadi kontraksi otot setempat: pada dagu, sekitar mata dan
rahang.
2. Gejala Psikis.
a. Gangguan pada perhatian dan konsentrasi.
b. Perubahan emosi, seperti sering marah atau terlalu banyak diam.
c. Menurunnya rasa percaya diri.
d. Timbul obsesi.
2.1.5 Cara-Cara Menanggulangi Stres
Menurut Drs. Mudji Harsono (dalam Singgih, 1989) teknik untuk mengatasi
atau paling tidak mengurangi stres, yaitu dengan:
1. Teknik intervensi.
a. Centering (pemusatan perhatian)
b. Pengaturan pernafasan.
c. Relaksasi otot secara progresif.
2. Mencari sumber stres
3. Pembiasaan pemberian stimuli stres pada batas yang wajar.
4. Konseling dan terapi.
Berbagai upaya telah dilakukan para pakar (Anshel, 1997; Weinberg &
Gould, 1995) untuk mengatasi stres, dan upaya tersebut secara garis
besar dapat dijelaskan seperti di bawah ini (dalam Monty, 2000).
1.
Rekreasi2. Variasi latihan
3.
Kesempatan komunikasi4. Relaksasi
5.
Program konseling, dan2.2. BEBAN KERJA
2.2.1 Definisi Beban Kerja
Rohmert menyatakan bahwa beban kerja adalah semua faktor yang
mempengaruhi orang yang sedang bekerja {dalam Wisnu, 2000).
Menurut Ghoper dan Donchin bahwa beban kerja adalah perbedaan
antara kapasitas sistem pemroses informasi yang dibutuhkan untuk
mengerjakan tugas sesuai dengan harapan {performans harapan) dan
kapasitas yang tersedia pada saat itu (performans aktual) (dalam Wisnu,
2000).
(
Munandar (2001) tidak secara spesifik menjelaskan mengenai beban kerja
ini, namun beban kerja ini dimasukkan ke dalam tuntutan tugas yang
diterima oleh seorang pekerja atau atlet. Beban kerja sendiri adalah
tuntutan-tuntutan dan tugas-tugas yang terlalu banyak yang diberikan
kepada tenaga kerja atau atlet. Sehingga pekerja atau atlet tersebut
merasa tertekan atau pada akhirnya tidak dapat menyelesaikan tugasnya
tersebut dengan maksimal dan seoptimal mungkin.
Sugiyanto (1993) menjelaskan, bahwa secara konseptual beban kerja
dengan energi yang diperlukan untuk mengerjakan suatu tugas dengan
sukses (dalam Wisnu, 2000). Hal ini berarti bahwa beban kerja dapat
berubah-ubah, yakni dinaikkan atau diturunkan dengan cara mengatur
penggunaan energi. Tujuan pengubahan beban kerja ini adalah agar
pekerja mempunyai persepsi bahwa telah terjadi kesesuaian antara
tuntutan tugas dan kemampuan performans yang dimiliki pekerja.
Bedasarkan definisi-definisi beban kerja diatas maka, beban kerja adalah
tuntutan-tuntutan dan tugas-tugas yang diberikan pada atlet sehingga
performans harapan dan performans aktual tidak seimbang yang pada
akhirnya akan membuat atlet merasa tertekan dan tidak dapat
menyelesaikan tuntutan dan tugasnya dengan maksimal.
2.2.2 Macam-Macam Beban Kerja
Singleton (1989) membedakan beban kerja kedalam dua bagian yaitu :
1. Beban kerja mental, yaitu beban kerja mental (mental work load)
biasanya dihubungkan dengan "stressor'' dan pengaruhnya dapat
dideteksi dengan alat ukur ketegangan.
2. Beban kerja fisik, yaitu beban kerja fisik (physical work load) biasanya
Selanjutnya Singleton (1989) mengatakan, tidak ada pengetahuan yang
membenarkan bahwa beban kerja mental dan beban kerja fisik adalah
sama, meskipun para ahli sepakat bahwa beban kerja mental dan beban
kerja fisik memiliki kesamaan ciri-ciri secara umum seperti : pekerjaan
berat, menuntut tanggung jawab baik pekerjaan itu dikerjakan secara
manual maupun menggunakan kemampuan intelektual ataupun
menggunakan kombinasi keduanya (dalam Wisnu, 2000).
Sedangkan Grandjean (1988) menjelaskan, bahwa aktivitas fisik dikaitkan
dengan pekerjaan (tugas) yang lebih menekankan pada aktivitas fisik,
sehingga menurutnya beban kerja fisik diestimasi dengan menggunakan
konsumsi energi yang dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan.
Sedangkan aktivitas mental dikaitkan dengan aktivitas otak manusia yang
mengolah proses informasi dalam diri manusia (dalam Wisnu, 2000).
Munandar (2001) membagi beban kerja kedalam dua bagian yaitu,
1. Beban kerja berlebih, yaitu secara fisikal ataupun mental adalah harus
melakukan terlalu banyak hal, unsur yang menimbulkan beban kerja
berlebih ini ialah desakan waktu. Waktu merupakan satu unsur yang
· sangat penting, sehingga setiap tugas diharapkan dapat diselesaikan
dengan secepat mungkin secara tepat dan cermat. Kondisi ini juga
untuk selalu memberikan kontribusi yang terbaik dengan selalu
menang dalam setiap pertandingan.
2. Beban kerja terlalu sedikit, yaitu timbul akibat dari tugas-tugas yang
terlalu sedikit yang diberikan kepada tenaga kerja atau atlet atau juga
tugas yang diberikan tidak menggunakan keterampilan atau potensi
dari tenaga kerja atau atlet.
2.2.3
Faktor-Faktor Pembangkit Beban Kerja1. Kelebihan Beban Latihan (overtraining)
Monty (2000) memberikan definisi yang sedikit berbeda namun pada
prinsipnya sama, ia menyatakan bahwa kelebihan beban latihan
(overtraining) adalah suatu keadaan menurunnya penampilan kinerja
olahraga individu akibat beban latihan yang terlalu berat untuk jangka
waktu yang relatif panjang. Dalam penerapan prinsip latihan, ada
pendekatan untuk meningkatkan beban latihan sedemikin rupa secara
bertahap dalam jangka waktu relatif panjang, dan berhasil meningkatkan
penampilan kinerja atlet. Hal ini dikenal ,sebagai periodized training atau
latihan menurut periodisasi. Tetapi bagi banyak atlet kondisi ini dapat
menjadi beban yang demikian besar, dan jika beban ini diberikan,
bukannya kemampuan atlet bertambah tetapi sebaliknya atlet akan
haruslah disesuaikan dengan kebutuhan atletnya. Jadi jika latihan
diberikan secara berlebihan atau jauh melebihi kebutuhan atlet sehingga
penampilan atlet bukannya meningkat melainkan menurun.
2. Keapakan (staleness)
Keapakan adalah suatu kondisi yang menunjukan status atlet dalam
keadaan tidak mampu mempertahankan kemampuan penampilan
terbaiknya, dengan kata lain penarnpilannya rnenunjukan penurunan
grafik, sebagai akibat dari kelebihan latihan, dan untuk selanjutnya
(apabila tidak dilakukan intervensi) atlet tidak akan lagi rnarnpu rnencapai
taraf kemampuan terbaiknya. Salah satu ciri dampak psikologis yang
dialami atlet yang rnengalarni keapakan adalah depresi (Weinberg &
gould, 1995 dalam Monty, 2000)
3. Kejenuhan (Burnout)
Kejenuhan adalah suatu kondisi psikologis yang dialami seseorang akibat
stres disertai kegagalan meraih harapan yang berlangsung berulang-ulang
atau dalam jangka waktu relatif panjang sehingga menimbulkan
kecendrungan menarik diri secara psikologis, emosional dan kerap kali ·
secara fisik dari kegiatan tertentu yang selama ini menjadi turnpuan
harapannya. Smith (1986) menjelaskan bahwa kejenuhan rnerupakan
[image:35.595.35.422.153.503.2]akibat gagalnya usaha seseorang memperoleh hasil yang diharapkan
padahal ia telah berusaha sekuat tenaga bahkan mungkin berlebihan.
Sebagai akibatnya, individu cenderung menarik diri baik dalam pengertian
psikologis maupun fisik.
Weinberg & Gould (1995) menjelaskan bahwa dalam beberapa keadaan
kejenuhan dapat mengakibatkan seseorang berhenti dari aktivitasnya
sebagai atlet (dalam Monty, 2000). Jadi kejenuhan merupakan salah satu
penyebab berhentinya individu menempuh karir sebagai atlet. Namun, hal
ini tidak berarti individu yang menghentikan karirnya sebagai atlet
melakukan hal tersebut karena faktor kejenuhan belaka. Artinya tidak
setiap kejenuhan mengakibatkan individu berhenti menjadi atlet.
4. Sumber Kelebihan Beban latihan dan Kejenuhan
Kelebihan beban latihan dan kejenuhan berdampak langsung pada
sejumlah kondisi atlet yang meliputi kondisi emosi, suasana hati (mood
states), penampilan, kemampuan menalar, kondisi fisik, kemampuan
mengatasi masalah (coping behavioi'), dan berbagai kondisi kehidupan
secara menyeluruh. Atlet yang mengalami kelebihan beban latihan serta
kejenuhan seringkali menunjukan sifat apatis, tanda-tanda serupa dengan
dalam beberapa kasus ekstrim, fungsi psikososial atlet ikut mengalami
penurunan yang signifikan.
Weinberg & Gould (1995) setuju dengan pandangan Raglin & Morgan
(1989) yang menjelaskan bahwa kelebihan latihan ditimbulkan oleh
faktor-faktor yang tertera berikut ini. Faktor-faktor-faktor tersebut tersusun menurut
urutannya sesuai dengan banyaknya atau tingginya frekuensi keluhan
atlet (dalam Monty, 2000).
1. Terlalu banyak tekanan dan tuntutan
2. Terlalu banyak berlatih dan latihan fisik
3. Kelelahan fisik dan Nyeri Otot
4. Kebosanan (boredom) akibat pengulangan kegiatan terus menerus
5. lstirahat yang tidak cukup dan pola tidur yang kurang layak.
2.3.
KERANGKA BERFIKIR
Padatnya jadwal kompetisi ligina 2007 dapat berakibat negatif pada
kondisi fisik dan psikis atlet. Banyak penyakit psikologis yang dapat
muncul karena kondisi psikis yang negatif dan salah satunya adalah stres.
Stres sendiri merupakan salah satu penyakit psikologis yang pasti pernah
diderita oleh atlet sepak bola profesional. Karena stres pula banyak atlet
kemampuannya dan pada akhirnya akan berakibat pada penurunan
prestasi atlet tersebut.
Stres pada atlet ditentukan oleh banyak faktor, salah satu faktor yang
diasumsikan dapat mengakibatkan stres kerja adalah beban kerja yang
diberikan kepada atlet tersebut. lni sesuai dengan pendapat Bridger
(dalam Wisnu, 2000) yang menjelaskan bahwa stres dapat terjadi dimana
seorang pekerja bekerja dalam situasi melebihi kapasitasnya, kemudian
berpengaruh terhadap perilakunya.
2.4.
HIPOTESIS
Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini adalah :
H0 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan
stres kerja pada atlet sepak bola profesional di klub PERSIJA.
Ha : Ada hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan stres
3.1.
PENDEKATAN DAN METODE PENELITIAN
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan
kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang informasinya atau
data-datanya dikelola dengan statistik. Hipotesis pada penelitian juga diuji
dengan menggunakan teknik-teknik statistik (Kountur, 2004). Sedangkan,
menurut Azwar (2005) penelitian dengan pendekatan kuantitatif
menekankan analisisnya pada data-data numerikal atau angka-angka
yang diolah dengan metode statistik. Pada dasarnya, pendekatan
kuantitatif dilakukan pada penelitian inferensial (dalam rangka pengujian
hipotesis) dan menyadarkan kesimpulan hasilnya pada suatu probabilitas
kesalahan penolakan hipotesis nihil. Dengan pendekatan kuantitatif akan
diperoleh signifikansi perbedaan kelompok atau signifikansi hubungan
antar variabel yang diteliti.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif
dengan jenis penelitian Korelasional. Menurut Gay (dalam Sevilla, et al.,
dalam rangka menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan yang
menyangkut keadaan pada waktu yang sedang berjalan dari pokok suatu
penelitian. Sedangkan penelitian Korelasional adalah penelitian yang
dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang
berbeda dalam suatu populasi (Sevilla, et al., 1993).
Dalam penelitian korelasional ini, ingin diketahui korelasi antara variabel
beban kerja dengan variabel stres kerja pada atlet sepak bola profesional.
3.2.
DEFINISI VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL
VARIABEL
Variabel dari penelitian ini terdiri dari beban kerja sebagai variabel bebas,
serta stres kerja sebagai variabel terikat.
1. Definisi beban kerja adalah tuntutan-tuntutan dan tugas-tugas yang
terlalu banyak yang diberikan pada atlet sehingga performans harapan
dan performans aktual tidak seimbang yang pada akhirnya akan
membuat atlet merasa tertekan dan tidak dapat menyelesaikan
tuntutan dan tugasnya dengan maksimal.
2. Definisi operasional variabel beban kerja adalah skor yang diperoleh
dari skala beban kerja yang terdiri dari terlalu banyak porsi latihan yang
pertandingan yang harus dimainkan dalam waktu tertentu, terlalu
banyak tekanan dan tuntutan dari lingkungan atlet tersebut, kebosanan
akan kondisi dan suasana di dalam tim, dan kurangnya waktu istirahat.
3. Definisi stres kerja pada atlet adalah tekanan atau sesuatu yang terasa
menekan dalam diri atlet yang bersifat destruktif, yang pada akhirnya
akan merugikan diri atlet tersebut dan juga klub yang dibelanya karena
penurunan prestasi yang ditunjukan oleh atlet tersebut.
4. Definisi operasional variabel sires kerja pada atlel adalah skor yang
diperoleh dari skala sires kerja pada allet yang indikalornya adalah
sulit tidur karena lerlalu banyaknya fikiran. sering gelisah, menurunnya
rasa percaya diri, lurunnya motivasi unluk berprestasi, gangguan pada
perhatian dan konsentrasi. dan perubahan emosi yang membual atlet
lerlihat sering marah atau banyak diam dan menyendiri.
3.3.
POPULASI
Gay (1976) mendefinisikan populasi sebagai kelompok dimana peneliti
akan menggeneralisasikan hasil penelitiannya (dalam Sevilla, et al.,
1993). Arikunto (2002) menyatakan bahwa populasi adalah keseluruhan
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh atlet sepak bola yang
bernaung di klub PERSIJA yang berjumlah 22 atlet.
PERSIJA (Persatuan Sepakbola Indonesia Jakarta) adalah salah satu
klub sepak bola yang berdomisili di Jakarta, julukan bagi tim sepak bola
asal ibukota ini adalah macan kemayoran. PERSIJA juga rnerupakan
salah satu klub sepak bola asal Indonesia yang cukup sukses. Didirikan
pada tahaun 1928 (dengan narna VIJ Jakarta dan baru pada tahun 1964
memakai nama PERSIJA). Pembina PERSIJA saat ini dipegang oleh
Bapak Sutiyoso yang juga merupakan Gubernur OKI Jakarta. (dalam
·J\J'._J ,:,, ';11i_1• __ ;_L' __ 1__._uru).
3.4.
SAMPEL
Arikunto (2002) menjelaskan bahwa apabila seseorang ingin meneliti
semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya
dinamakan dengan penelitian populasi atau sensus.
Di dalam Encyclopedia of Educational Evaluation tertulis:
A population is a set (or collection) of all elements possessing one or more
Dilihat dari jumlahnya, maka penelitian populasi ini dapat dibagi menjadi
dua yaitu:
a. Jumlah terhingga (terdiri dari elemen dengan jumlah tertentu atau
sedikit).
b. Jumlah tak terhingga (terdiri dari elemen yang sukar sekali dicari
batasnya).
Penelitian populasi ini dilakukan apabila peneliti ingin melihat semua
liku-liku yang ada di dalam populasi. Oleh karena subjeknya meliputi semua
yang terdaftar di dalam populasi, maka hasil kesimpulan dari penelitian
tersebut hanya berlaku bagi populasi penelitian saja. Adapun sampel
dalam penelitian ini adalah seluruh atlet sepak bola yang bernaung di klub
PERSIJA yaitu sebanyak 22 atlet.
3.5.
INSTRUMEN PENGUMPUL
DATA
lnstrumen pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kuesioner, yang terdiri dari :
a. Skala beban kerja. Skala ini disusun berdasarkan dari teori-teori yang
ada, yang terdiri dari 5 indikator yang telah dikembangkan oleh Raglin
& Morgan (1989), yaitu: terlalu banyak porsi latihan yang diberikan
kepada atlet, kelelahan fisik akibat dari padatnya jadwal pertandingan
dan tuntutan dari lingkungan atlet tersebut, kebosanan akan kondisi
dan suasana di dalam tim, dan kurangnya waktu istirahat. Skala ini
disusun menggunakan skala model Likert yang terdiri dari sejumlah
[image:44.595.24.436.178.498.2]pernyataan. Distribusi pernyataan-pemyataan ini dapat dilihat pada
tabel di bawah ini.
Tabel
3.1
Blue Print Beban Kerja
NO INDIKATOR NOMORITEM JUMLAH
F UF
1. Terlalu banyak porsi latihan 1,9,14, 4, 12, 18 10 26,32 '24,31 2. Kelelahan fisik akibat jadwal 2,10,27, 5,17,29 8
oertandinoan vano oadat 33 '35
3. Terlalu banyak tekanan dan 3,11,19 6,15,25 6 tuntutan dari lingkungan
4. Kebosanan akan kondisi dan 7,20,23 8, 13,28 6
suasana di dalam tim
-5. Kurangnya waktu istirahat 16,22,30 21,34,3 6 6
Jumlah 18 18 36
b. Skala stres kerja pada atlet. Skala ini disusun berdasarkan dari
teori-teori yang ada, yang terdiri dari 6 indikator yaitu: sulit tidur karena
terlalu banyak fikiran, sering gelisah, menurunnya rasa percaya diri,
turunnya motivasi untuk berprestasi, gangguan pada perhatian dan ·
konsentrasi, dan perubahan emosi sehingga atlet sering marah atau
model Likert yang terdiri dari sejumlah pernyataan. Distribusi
pernyataan-pernyataan ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel
3.2
Blue Print Stres Ketja Pada Atlet
NO INDIKATOR NOMORITEM JUMLAH
F UF
1. Sulit tidur karena terlalu 2, 14, 18 5, 10, 32 6 banyaknya fikiran
2. Sering gelisah 11, 31 1, 9 4
3. Menurunnya rasa percaya 3, 16,28 4, 13,24
6
diri
4. Turunnya motivasi untuk 6, 23 15,20 4
berprestasi
5. Gangguan pad a perhatian 7, 17 19,26 4
dan konsentrasi
6. Perubahan emosi sehingga 12, 22, 8, 21, 27, 8
atlet sering marah dan 25,29 30
セ@ men:tendiri
-Jumlah 16 16 32
Kedua skala ini menggunakan bentuk skala model Likert atau dikenal juga
dengan The Method Of Summated Rating. Dalam skala model Likert
terdapat 5 (lima) kategori jawaban dan masing-masing kategori ini
memiliki nilai tertentu. Namun dalam penelitian ini skala yang digunakan
hanya 4 (empat) kategori, yaitu Sangat Setuju (SS), setuju (S), Tidak
Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS), sedangkan Ragu-Ragu (R)
tidak digunakan. Menurut Sevilla, et al., (1993) banyak peneliti yang
[image:45.595.34.430.162.463.2]"mengamankan" dan menempatkan jawaban mereka di tengah sebagai
angka netral. Hal ini disebut pengaruh "kecenderungan sentral". lndividu
yang memiliki kecenderungan tersebut selalu menghindarkan perilaku
atau pengungkapan yang ekstrim. Dengan demikian, tidak digunakannya
kategori jawaban yang bersifat netral atau Ragu-Ragu (R) dilakukan untuk
mendorong responden memutuskan jawaban yang bersifat positif atau
negatif. Skoring dalam skala ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu untuk
pernyataan-pernyataan yang favorable dan yang unfavorable, untuk lebih
[image:46.595.27.426.147.501.2]jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.3
Nilai Dari Masing-masing Jawaban
JAWABAN FAVOURABLE UNFAVOURABLE
SS
4
1
s
3
2
-·
TS
2
3
STS 1 4
3.6. TEKNIK PENGOLAHAN DAN ANALISA DAT
A
3.6.1 Uji Validitas Skala
Analisis data dalam penelitian ini adalah dengan metode statistika, karena
data yang diperoleh berupa angka-angka. Setelah data terkumpul, diskor
Validitas artinya sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur
dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2003). Sedangkan untuk
menguji validitas item digunakan rumus Korelasi Product Moment, yaitu:
Keterangan :
rxy : Koefisien korelasi product moment
N : Jumlah subjek
Thy : Jumlah hasil perkalian antara skor X dan Y
:EX : Jumlah seluruh skor X
L:Y : Jumlah seluruh skor Y
Dari data try out indeks validitas item skala beban kerja yang diuji
cobakan pada responden (n=30) diperoleh hasil sebagai berikut:
lndeks Validitas skala Beban Kerja bergerak dari 0.372 sampai dengan
0.734. Dari 36 item yang diuji cobakan terdapat 15 item yang gugur atau
tidak valid, yaitu nomor 8, 10, 13, 15, 16, 19, 21, 24, 25, 26, 27, 29, 30,
31 dan 33 karena tidak memenuhi standar koefisien validitas yang
dianggap memuaskan untuk n=30 dengan taraf signifikansi 5%, yaitu
I-·
untuk penelitian selanjutnya adalah nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 9, 11, 12,
14, 17, 18, 20, 22, 23, 28, 32, 34, 35 dan 36.
[image:48.595.23.433.162.465.2]Berikut Blue Print Skala Beban Kerja pasca try out dapat dilihat pada
tabel 3.4.
Tabel 3.4
Blue Print Beban Kerja Pasca Try Out
NO
ASP EK
NOMORITEM
F
UF
JUMLAH
1. Terlalu banyak porsi latihan 1, 8, 11, 4, 10, 7
18 13
2. Kelelahan fisik akibat jadwal 2 5, 12, 4
pertandinqan yanq padat 20
3. Terlalu ban yak tekanan dan 3, 9 6 3
tuntutan dari linakunaan
4. Kebosanan akan kondisi dan 7, 14, 16 17 4 suasana di dalam tim
5. Kurananva waktu istirahat 15 19,21 3
Jumlah 11 10 21
Sedangkan untuk indeks validitas skala stres kerja pada atlet dari hasil
try out bergerak dari 0.331 sampai dengan 0.562. Dari 32 item yang diuji
cobakan terdapat 14 item yang gugur atau tidak valid, yaitu nomor 3, 9,
13, 14, 20, 22, 24, 26, 28, 29. 30, 31 dan 32 karena tidak memenuhi
standar koefisien validitas yang dianggap memuaskan untuk n=30
dengan taraf signifikansi 5%, yaitu sebesar 0.361. Sedangkan item yang
valid atau yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya adalah
Berikut Blue Print Skala Stres Kerja Pada Atlet pasca try out dapat
dilihat pada tabel 3.5 di bawah ini.
Tabel 3.5
Blue Print Stres Kerja Pada At/et Pasca Try Out
NO INDIKATOR NOMOR ITEM JUMLAH
F UF
1.
Sulit tidur karena terlalu 2, 14 4,8 4banyaknya fikiran
2. Sering gelisah 9
1
23. Menurunnya rasa percaya 12 3 2
diri
4. Turunnya motivasi untuk 5, 16
11
3berprestasi
5. Gangguan pad a perhatian 6, 13 2
dan konsentrasi
6. Perubahan emosi sehingga 12, 17 7, 15, 18 5 atlet sering ma rah dan
menyendiri
セᄋ@
Jumlah 10 8 18
3.6.2 Uji Reliabilitas Skala
Menurut Azwar (2003), reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu
pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya
apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok
subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama. lnstrumen yang
reliabel mengandung arti bahwa instrumen tersebut baik, sehingga
mampu mengungkapkan data yang bisa dipercaya (Arikunto,2002). Dari
[image:49.595.30.430.164.479.2]instrumen menghasilkan pengukuran yang relatif sama meskipun
dilakukan dalam waktu yang berbeda.
Dalam penelitian ini untuk menguji reliabilitas, rumus yang digunakan
adalah Alpha Cronbach. Data ini diperoleh dari satu kali pengujian.
Dengan cara ini permasalahan yang muncul pada pendekatan tes ulang
dapat dihindari (Azwar,2003). dengan rumus sebagai berikut :
a
=
{セ}@
[1 - ISj'
J
k-1 Sx 2
Keterangan :
a
Koefisien reliabilitask Jumlah belahan tes
Sj 2 : Varians belahan ; j
=
1, 2, .... , kSx 2 : Varians skor tes
Berdasarkan data try out diperoleh beberapa item yang valid kemudian di
uji reliabilitasnya dengan rumus di atas, untuk skala beban kerja diperoleh
hasil koefisien reliabilitas 0.832 yang berarti data tersebut reliabel, hal ini
dapat dilihat dari table 3.8 tentang kaidah reliabilitas Guilford dan hal ini.
sesuai dengan pendapat Azwar (2003) yaitu semakin koefisien reliabilitas
untuk skala stres kerja pada atlet diperoleh hasil koefisien reliabilitas 0.813
yang berarti data tersebut juga reliabel.
Tabel
3.6
Kaidah Reliabilitas Guilford
Koefisien Kriteria
<
0,2
Tidak Reliabel0,2-0,4
Kurang Reliabel0,4 - 0,7
Cukup Reliabel0,7 -0,9
Reliabel>
0,9
Sangat Reliabel3.7.
IPROSEDUR PENELITIAN
Prosedur penelitian adalah langkah-langkah yang harus dilalui dan
dikerjakan dalam suatu penelitian. Adapun prosedur dalam penilitian ini
adalah:
a. Persiapan Penelitian
1) Merumuskan permasalahan
2) Menentukan variabel penelitian
3) Melakukan studi pustaka untuk mendapatkan gambaran dan
[image:51.595.27.430.150.479.2]4) Menentukan, menyusun dan menyiapkan alat ukur yang
akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu skala beban kerja
dengan jumlah pernyataan sebanyak 36 item dan skala sres
kerja pada atlet dengan jumlah pernyataan sebanyak 32
item.
5) Menentukan lokasi dan menyelesaikan administrasi
perizinan.
Setelah jumlah item pernyataan tersusun, lalu dilakukan uji
coba skala untuk mengetahui validitas dan reliabilitas
instrumen. Uji coba dilakukan pada tanggal ·11 Januari 2007
sampai dengan 17 Februari 2007, yang diberikan kepada
seluruh atlet sepak bola di klub PERSIKAD - Depok yang
berjumlah 30 atlet.
6) Mengolah data hasil uji coba untuk mengetahui validitas dan
reliabilitas dari instrumen atau alat ukur penelitian.
b. Pelaksanaan Penelitian
Setelah melakukan proses persiapan penelitian, dan kedua alat
ukur memenuhi standar validitas dan reliabilitas, maka kedua
skala tersebut disebarkan sesuai dengan responden penelitian,
penelitian dilakukan pada tanggal 16 Maret 2007 sampai
adalah seluruh atlet sepak bola di klub PERSIJA - Jakarta yang
berjumlah 22 atlet.
c. Pengolahan Data
1) Melakukan skoring dari data yang diperoleh pada saat
penelitian.
2) Menghitung dan tabulasi data hasil penelitian.
3) Melakukan analisis data.
d. Penulisan Hasil Penelitian
3.8.
TEKNIK ANALISA DATA
Dalam penelitian deskriptif korelasional, besar atau tingginya hubungan
antar variabel dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi. Di dalam
penelitian deskriptif koefisien korelasi menerangkan sejauh mana dua
atau lebih variabel berkaitan atau berkorelasi (Arikunto, 2002). Untuk
menganalisis data yang diperoleh dan mengetahui ada tidaknya korelasi
antara dua variabel penelitian digunakan teknik statistik korelasi Rank
Spearman dengan rumus :
Keterangan :
6L:D2
rho=l---N(N2-1)
D
N
1dan6
=
Perbedaan skor antara dua kelompok pasangan=
Jumlah kelompok=
bilangan konstanPenghitungan statistik dilakukan menggunakan sistem komputerisasi
program SPSS versi 12. yang akan diinterpretasikan dengan mengacu
pada tabel koefisien korelasi Rank Spearman. Jika hasil penghitungannya
lebih besar dari r tabel, maka korelasinya dianggap signifikan dengan l<ata
lain
Ha
diterirna danHa
ditolak. Tetapi jika hasil penghitungannya lebihkecil dari r tabel maka korelasi dianggap tidak signifikan atau
Ha
ditolak4.1. GAMBARAN
UMUM
SUBJEK PENELITIAN
Untuk gambaran umum subjek penelitian akan dideskripsikan dan
diperjelas dengan penyajian data dalam b'entuk tabel dari jumlah subjek
penelitian, usia subjek, asal negara subjek, posisi dalam bertanding, iama
bermain di PERSIJA dan tempat tinggal subjek.
Dalam penelitian ini melibatkan seluruh atlet sepak bola di klub PERSIJA
- Jakarta yang berjumlah 22 atlet. Hal ini berdasarkan Arikunto (2002)
yang menjelaskan bahwa apabila seseorang ingin meneliti semua elemen
yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya dinamakan
dengan penelitian populasi. Penelitian populasi ini dilakukan apabila
peneliti ingin melihat semua liku-liku yang ada di dalam populasi. Oleh
karena subjeknya meliputi semua yang terdaftar di dalam populasi, maka
hasil kesimpulan dari penelitian tersebut hanya berlaku bagi populasi
Berikut ini akan diuraikan gambaran umum subjek penelitian berdasarkan
usia subjek, posisi dalam bertanding, lama bermain di PERSIJA dan
tempat tinggal atlet sekarang.
4.1.1. Subjek Berdasarkan Usia
Berdasarkan usia subjek dalam penelitian ini dapat digambarkan
[image:56.595.30.433.156.477.2]sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.1
Gambaran Subjek berdasarkan Usia
Usia Frekuensi %
20-25 11 50
26-30 9 40.90
31-35 1 4.54
36-40 1 4.54
Jumlah 22
100
Berdasarkan usianya, secara keseluruhan subjek penelitian yang paling
banyak adalah mereka yang berasal dari kategori usia 20 - 25, sebanyal<
11 atlet. Sedangkan untul< jumlah yang paling sedikit adalah pada l<ategori
usia 31 - 35 dan 36 - 40, yaitu sebanyal< 1 atlet.
4.1.2. Subjek Berdasarkan Asal Negara
Berdasarl<an asal negara subjek dalam penelitian ini dapat digambarkan
Tabel 4.2
Gambaran Subjek berdasarkan Asal Negara
Asal Frekuensi %
Indonesia 18 81.82 ·
-AsinQ 4 18.18
Jumlah
22
100
Berdasarkan asal negaranya, secara keseluruhan subjek penelitian yang
paling banyak adalah rnereka yang berasal dari kategori asal negara
Indonesia, sebanyak 18 atlet. Sedangkan untuk jumlah yang paling sedikit
adalah pada kategori asal negara Asing, yaitu sebanyak 4 atlet.
Sedangkan perbedaan tingkat beban kerja dengan stres kerja
berdasarkan asal negara pemain dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.2.1
Uji Beda Beban Kerja Dan Stres Kerja Subjek Berdasarkan Asal Negara
Std. Std. Error
asal neaara N Mean Deviation Mean
beban kerja indonesia 18 39.7778 6.74367 1.58950
a sing 4 43.2500 5.79511 2.89756
Std. Std. Error
asal neaara N Mean Deviation Mean
stres kerja Indonesia 18 37.7222 2.86573 .67546
Asing 4 38.0000 3.91578 1.95789
Berdasarkan asal negaranya, tingkat beban kerja yang lebih tinggi yang
diterima oleh pemain sepak bola di klub PERSIJA adalah pemain yang
tingkat beban kerja yang diterima oleh pemain asal Indonesia yaitu
sebesar 39.78 %. dan berdasarkan asal negaranya juga, tingkat stres
kerja yang lebih tinggi yang dialami oleh pemain sepak bola di klub
PERSIJA adalah pemain yang berasal dari luar Indonesia atau asing yaitu
sebesar 38.00 %, sedangkan tingkat stres kerja yang dialami oleh pemain asal Indonesia yaitu sebesar 37.72 %.
4.1.3. Subjek Berdasarkan Posisi Dalam Bertanding
Berdasarkan posisi dalam bertanding subjek dalam penelitian ini dapat
digambarkan sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.3
Gambaran Subjek berdasarkan Posisi Dalam Bertanding
Posisi Frekuensi %
Peniaaa Gawanq 2 9.09
Belakano 10 45.45
Gelandano 7 31.81
Depan 3 13.63
Jumlah
22
100
Berdasarkan posisi dalam bertandingnya, secara keseluruhan subjek
penelitian yang paling banyak adalah mereka yang berasal dari kategori
posisi belakang, yaitu sebanyak 10 atlet. Sedangkan untukjumlah yang
paling sedikit adalah pada kategori posisi penjaga gawang, yaitu
[image:58.595.31.423.189.510.2]4.1.4. Subjek Berdasarkan Lama Bermain Di PERSIJA
Berdasarkan lama bermain subjek dalam penelitian ini dapat digambarkan
sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.4
Gambaran Subjek berdasarkan Lama Bermain Di PERSIJA
Lama Bermain Frekuensi %
1 Tahun 10 45.45
2 Tahun 5 22.72
3 Tahun 3 13.63
4 Tahun 3 13.63
5 Tahun 1 4.54
Jumlah
22
100Berdasarkan lama bermainnya, secara keseluruhan subjek penelitian
yang paling banyak adalah mereka yang berasal dari kategori lama
bermain selama 1 tahun, yaitu sebanyak 10 atlet. Sedangkan untuk
jumlah yang paling sedikit adalah pada kategori lama bermain selama 5
tahun, yaitu sebanyak 1 atlet.
4.1.5. Subjek Berdasarkan Tempat Tinggal
Berdasarkan tempat tinggal subjek dalam penelitian ini dapat
digambarkan sebagaimana terlihat pada label berikut ini :
Tabel 4.5
Gambaran Subjek berdasarkan Tempat Tinggal
Tempat Tinggal
Mess
Frekuensi
[image:59.595.27.419.151.506.2]Bukan Mess
8
36.36Jumlah
22
100
Berdasarkan tempat tinggalnya, secara keseluruhan subjek penelitian
yang paling banyak adalah mereka yang berasal dari kategori bertempat
tinggal di mess, yaitu sebanyak
14
atlet. Sedangkan untuk jumlah yangpaling sedikit adalah pada kategori bertempat tinggal di bukan mess, yaitu
sebanyak
8
atlet.Sedangkan perbedaan tingkat beban kerja dengan stres kerja
[image:60.595.26.419.177.530.2]berdasarkan tempat tinggal pemain dapat dilihat pada label di bawah ini :
Tabel 4.5.1
Uji Seda Beban Kerja Dan Stres Kerja Subjek Berdasarkan Tempat
Tinggal
-tempat Std. Std. Error
tinnnal N Mean Deviation Mean
beban kerja mess 14 41.5714 6.03470 1.61284
bukan mess 8 38.3750 7.44384 2.63179
tempat Std. Std. Error
tinaaal N Mean Deviation Mean
sires kerja mess 14 38.2143 2.96592 .79268
bukan mess 8 37.0000 3.02372 1.06904
Berdasarkan tempat tinggalnya, tingkat beban kerja yang lebih tinggi yang
diterima oleh pemain sepak bola di klub PERSIJA adalah pemain yang
tinggal di mess yaitu sebesar
41.57
%, sedangkan tingkat beban kerja yang diterima oleh pemain yang tinggal diluar mess yaitu sebesar 38.37tinggi yang dialami oleh pemain sepak bola di klub PERSIJA adalah
pemain yang tinggal di mess yaitu sebesar 38.21 %, sedangkan tingkat
stres kerja yang dialami oleh pemain tang tinggal diluar mess yaitu
sebesar 37.00 %.
4.2. PRESENTASI DATA
Pada presentasi data ini, akan diberikan gambaran tentang deskripsi
statistik, deskripsi skor subjek, uji persyaratan dan uji hipotesis.
4.2.1. Oeskripsi Statistik
Tabel 4.6
Deskripsi Statistik Skor Skala Beban Kerja Dengan Stres Kerja Pada
Atlet Sepak Bola
Variabel N Mean Std. Deviation Minimum Maximum
Beban Kerja 22 40.4091 6.59480 26.00 53.00
Stres Kerja 22 38.7273 2.64002 33.00 43.00
Dari tabel 4.5, diketahui jumlah subjek penelitian 22 subjek, skor beban
kerja terendah adalah 26, skor tertinggi 53 dengan nilai rata-rata 40.40.
Kemudian skor terendah dari stres kerja pada atlet adalah 33, dan skor
tertinggi 43 dengan nilai rata-rata 38. 72.
4.2.2. Deskripsi Skor Subjek
Terlebih dahulu akan ditentukan kualitas atau tingkatan beban kerja dan
[image:61.595.26.425.145.488.2]dibuat kategori skor subjek. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan
kategorisasi jenjang ordinal yang bertujuan menempatkan individu
kedalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut
suatu kontinum berdasar atribut yang diukur (Az:war, 2004).
Skala beban kerja terdiri dari 21 item dengan empat alternatif jawaban
dengan skor 1 sampai dengan 4. Dengan demikian, skor yang mungkin
diperoleh tiap subjek berkisar dari 21 sampai 84. Skor terendah adalah 21
(hasil dari 1 X 21) dan skor tertinggi adalah 84 (hasil dari 4 X 21 ). Skor
tertinggi menunjukkan kualitas beban kerja tinggi, dan skor terendah
menunjukan kualitas beban kerja rendah. Sehingga luas jarak sebarannya
adalah 84 - 21 = 63. Dengan demikian, setiap satuan deviasi standarnya
bernilai SD= 63 / 6 = 1Q.5, dan mean toeritisnya adalah:
M
=(21X2)+(21X3)/2= (42 + 63) / 2
= 105 / 2
=
52.5Penggolongan skor subjek ke dalam tiga kategori diagnosis kualitas
beban kerja atlet terbagi menjadi tiga, yaitu; rendah, sedang dan tinggi.
Norma kategorisasi yang dapat digunakan adalah:
(M - 1 SD) セ@ X < (M + 1 SD) kategori sedang
(M + 1SD) セx@ kategori tinggi
Keterangan : X= skor subjek, M= mean teoritis, SD= standar deviasi
Dengan harga M= 55, dan SD= 11 akan diperoleh kategori-kategori yang
digunakan sebagai berikut :
Tabel
4.7
Kategori Beban Kerja
Interval Kateaori
x
<42 Rendah42 :;;X < 63 Sedang
VSセx@ Tinggi
Sesuai dengan tabel kategori beban kerja di atas, apabila subjek
mendapatkan total skor di bawah 42, maka kualitas beban kerja yang
diterima oleh atlet tergolong rendah. Apabila skor subjek berada di antara
42 - 63, maka dapat dikategorikan bahwa beban kerja yang diterima oleh
atlet adalah sedang, sedangkan jika subjek mendapat total skor lebih
besar dari 63, maka beban kerja yang diterima atlet tergolong tinggi.
Sedangkan skala stres kerja pada atlet sepak bola terdiri dari 18 item
dengan empat alternatif jawaban. Alternatif jawaban diberi skor dengan
rentangan 1 sampai 4. Dengan demikian, skor yang mungkin diperoleh . tiap subjek berkisar dari 18 sampai 72. Skor terendah adalah 18 (hasil dari
1 X 18) dan skor tertinggi adalah 72 (hasil dari 4 X 18). Skor tertinggi
[image:63.595.29.423.177.487.2]terendah mengindikasikan kualitas stres kerja yang rendah pula. Sehingga
luas jarak sebarannya adalah 72 - 18 = 54. Dengan demikian, setiap
satuan deviasi standarnya bernilai SD = 54/ 6 = 9, dan mean toeritisnya
adalah
M =(18X2)+(18X3)/2
= (36 + 54) I
2
=
45Kemudian, peneliti membuat kategori skor subjek ke dalam tiga
penggolongan diagnosis kualitas stes kerja, yaitu rendah, sedang, dan
tinggi. Norma kategorisasi yang dapat digunakan adalah:
X < M-1SD kategori rendah
(M-1SD) セx@ < (M + 1SD) kategori sedang
(M + 1SD) セx@ kategori tinggi
Keterangan : X= skor subjek, M= mean teoritis, SD= standar deviasi
Dengan harga M= 45, dan SD= 9 akan diperoleh kategori-kategori yang
[image:64.595.28.437.151.495.2]digunakan sebagai berikut :
Tabel 4.8
Kategori Stres Kerja Pada Atlet
-
IntervalKateaori