• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada atlet sepak bola profesional di klub persija

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada atlet sepak bola profesional di klub persija"

Copied!
132
0
0

Teks penuh

(1)

HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN

STRES KERJA PADA ATLET SEPAK BOLA

PROFESIONAL DI KLUB PERSIJA

Skripsi Diajukan Untuk Memenuili Persyaratan dalam Memperoleil Gelar Sarjana Psikologi

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

(2)

Skripsi diajukan kepada Fakultas Psikologi untuk memenuhi syarat-syarat memperoleh gelar Sarjana Psikologi

Pembimbing I

Oleh:

KHAIRUL RIZAL

NIM: 102070025910

Di Bawah Bimbingan

Ors. Sofiandy Zakaria, M Psi. T . /

FAKULTAS PSIKOLOGI

セ@

p・ュ「ゥュ「セセ@

セᄋセ@

/

Liany Luzvinda, M. Si

UNIVERSIT AS ISLAM NE GERI SY ARIF HIDAY A TULLAH

JAKARTA

(3)

)yarif Hidayatullah Jakarta pad a tanggal 24 Mei 2007. Skripsi ini telah diterima ;ebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Psikologi.

Jakarta, 24 Mei 2007

Sidang Munaqasyah

Cetua Mi ngkap Anggota, Sekretaris Merangkap Anggota

Anggota:

Penguji II

eh M. Si Drs. Sofiandy Zakaria, M. Psi. T

1embimbing I

(4)

Mereka yang punya kendali atas orang lain

mungkin punya kuasa,

Tetapi hanya mereka yang mampu

mengendalikan diri sendirilah

yang memiliki kekuatan sebenarnya

- Lao Tzu

Ji/?..g, }Inda illerpikjr }Inda 7{afali, ?ll_a/?..g, }Inda 7{afali

Ji/?..g, }Inda illerpikjr tidaft 6erani, ?ll_a/?..g, }Inda tidak, 6erani

Jifta}lnda ingin menang, tapi 6erpikjr tidak,6isa,

sudali liampir pas ti

JI

nda tidak, 6isa.

(5)

Kakak, Adik dan Wanita ku

Tiga "bintang kecil" yang selalu menjadi

(6)

(C) Khairul Rizal

(D) Hubungan Antara Beban Kerja Dengan Stres Kerja Pada Atlet Sepak Bola Profesional Di klub PERSIJA.

(E) xiv

+

62 halaman

(F) Stres merupakan penyakit psikis yang dapat dialami oleh siapapun

termasuk atlet sepak bola, situasi stres yang melewati ambang batas akan menyebabkan hal-hal yang kurang menguntungkan bagi atlet yang

bersangkutan. Banyak sumber-sumber potensial stres, antara lain yaitu; faktor lingkungan kerja, organisasional, dan individu. Ketiga faktor di atas sangat erat hubungannya dengan aspek-aspek pengertian beban kerja.

Stres kerja adalah tekanan atau sesuatu yang terasa menekan dalam diri atlet yang bersifat destruktif, yang pada akhirnya akan merugikan diri atlet tersebut dan juga klub yang dibelanya karena penurunan prestasi yang ditunjukan oleh atlet tersebut.

Beban kerja adalah tuntutan-tuntutan dan tugas-tugas yang diberikan pada atlet, sehingga performans harapan dan performans al<tual tidak seimbang yang pada akhirnya akan membuat atlet merasa tertekan dan tidak dapat menyelesaikan tuntutan dan tugasnya dengan maksimal.

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat beban kerja dan hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada atlet sepak bola profesional di klub PERSIJA. Penelitian ini dilakukan mulai tanggal 16 mare! dan berakhir pada tanggal 23 april 2007.

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif korelasional, yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada atlet sepak bola prosefional. Karena peneliti menggunakan penelitian populasi atau total sampling, maka subjek penelltian ini adalah seluruh pemain PERSIJA yang berjumlah 22 pemain. Sedangkan instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah skala, yaitu: skala beban kerja dan skala stres kerja.

Adapun metode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik korelasi rank spearman dengan menggunakan program SPSS versi 12.00. Dari hasil perhitungan diperoleh hasil r hitung

=

0.448 dan nilai reliabilitas pada skala beban kerja

=

0.832 serta pada skala stres kerja =
(7)
(8)

( B) May 2007 ( C) Khairul Rizal

( D) The Relation Between Work Load And Job Stress At Professional Football Player In PERSIJA Club.

( E) xiv + 62 page

( F) Stress represent the psychical disease which often experienced of by everyone including football player, stress situation passing boundary will cause the less things to the advantage of player above. Many potential sources of stress, for example that is; factor of environmental work, organization, and individual. Third factor above very hand in glove its relation with the aspect of workload congeniality.

Job stress is pressure or something that felt to depress in self of player having the character of destructive, which is on finally will harm the self off player as well as club advocated because achievement degradation which showing by the player.

Workload is demand and duties which is passed by the player, so that perform of expectation and uneven perform actual which is on finally will make the player under pressure and cannot finish the demand and its duty maximally.

Intention of this research is to know the level of workload and relation between workload and stress work at professional football player in PERSIJA club. This Research is conducted from 16 of March until 23 of April 2007.

This research use the quantitative descriptive correlation approach, with aim to know the relation between work load and stress work at

professional football player. Because researcher use the population research or total of sampling, hence this subject research all PERSIJA players amounting to 22 player. While instrument of data collecting used is scale, that is: scale of workload and scale of job stress.

(9)
(10)

Alhamdulil/aahirabbil alamiin .... segala puji hanya bagi Allah SWT yang Maha Menciptakan dan telah memberikan segala nikmat kepada hamba-Nya. Shalawat dan salam hanya untuk Nabi Muhammad SAW panutan semua umat. Oengan segala kemudahan, kendala dan hambatan yang dihadapi, akhirnya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Amien Ya Rabbal A'/amin.

Hampir delapan bulan lamanya penulis bergumul dengan buku, kamus, komputer, dan tinta printer hanya untuk menuntaskan tugas akhir yang begitu menguras tenaga, pikiran dan perasaan. Di samping itu juga banyak

pengorbanan moril dan materiil yang penulis terima dari berbagai pihak yang tak ternilai harganya. Maka, sudah sepantasnyalah bagi penulis untuk

menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada semua pihak yang telah mendukung dan membantu sampai akhir penyelesaian karya ini.

lbu Oekan Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah, sekaligus dosen pembimbing akademik, Ora. Hj. Netty Hartati, M. Si, yang telah membantu

kelancaran administrasi untuk penelitian. Ors. Sofiandy Zakaria, M.Psi.T dan lbu Liany Luzvinda, M.Si, sebagai Pembimbing I dan II yang telah bersedia

mencurahkan perhatian, waktu dan limpahan ilmunya. Terima kasih semoga Allah memberikan balasan yang setimpal.

Seluruh Oosen Fakultas Psikologi tercinta, terutama Ors. Abdul Rahman Saleh, M.Si. sebagai dosen pembimbing seminar. lbu Ora. Zahrotun Nihayah, M. Si. lbu Neneng, lbu Fadillah, lbu Sholehah dan lbu Lili, terima kasih atas ilmu dan nasehatnya, para staff akademik, lbu Syariah, lbu Nur, dan lbu Sri yang telah membantu penulis dalam urusan nilai, petugas perpustakaan Fakultas Psikologi, terima kasih literaturnya, buat Bang Alek, Bang Ayung yang terus berjuang demi kenyamanan dan kebersihan Fakultas.

Ucapan terima kasih secara khusus penulis sampaikan kepada Papah dan Emak tercinta, yang dengan tetesan kasih sayang dan percikan kesabarannya telah membesarkan, membimbing, dan memahami keadaan ananda. Ananda tidak clapat membalas atas segala pengorbanan dan perjuangan Papah dan Emak, hanya baldi dan do'a setulus hati yang dapat ananda haturkan kepadamu. Kedua Kakak, Ketiga adikku, Abang lpar dan Keponakanku serta wanitaku tercinta (Shanty) yang lewat sentuhan do'a, pengorbanan dan motivasinya penulis dapat terus tetap dalam melangkah untuk menyelesaikan skripsi ini.

(11)

Sahabat-sahabat PMll, khususnya PMll Komfakpsi, teman-teman senior maupun junior di team sepak bola dan futsal Psikologi. Terima kasih atas wadah

aktualisasinya serta sumbangan ide dan bantuan selama kuliah.

Bang Tjucun dan seluruh pengurus serta pemain PERSIKAD Depok yang bersedia penulis bikin repot. Blacky dan pengurus Taruna FC yang jadi tempat

sharing penulis serta Mas Zul dan seluruh pengurus serta pemain PERSIJA

Jakarta yang telah rela membantu penulis dalam kelancaran pengumpulan data. Jaya terus PERSIJA, jaga kolektifitas, junjung sportifitas dan jadi yang teratas.

Jakarta, 24 Mei 2007

(12)

Halaman Pengesahan ... iii

Motto ... iv

Dedikasi ... v

Abstraksi ... vi

Kata Pengantar ... x

Daftar lsi ... xii

Daftar Tabet ... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1 -

8

1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. ldentifikasi Masalah ... 6

1.3. Pembatasan Masalah ... 6

1.4. Perumusan Masalah ... 7

1.5. Tujuan Penelitian dan Manfaat Penelitian ... 7

1.6. Sistematika Penulisan ... 8

BAB 2 KAJIAN PUSTAKA ... 9 - 24 2.1. Stres Kerja ... 9

2.1.1. Definisi Stres Kerja ... 9

2.1.2. Macam-macam Stres Kerja ... 11

2.1.3. Sumber-sumber Stres Pada Atlet. ... 12

2.1.4. Gejala-gejala Sires ... 15

2.1.5. Cara-cara Menanggulangi Stres ... 16

2.2. Beban Kerja ... 17

2.2.1. Definisi Beban Kerja ... 17

2.2.2. Macam-macam Beban Kerja ... 18

2.2.3. Faktor-faktor Pembangkit Beban Kerja ... 20

2.3. Kerangka Berpikir ... 23

2.4. Hipotesis ... 24

BAB 3 METODOLOGI PENELITIAN ... 25 - 40 3.1. Pendekatan Dan Metode Penelitian ... 25

3.2. Definisi Variabel Dan Definisi Operasional Variabel ... 26

3.3. Populasi. ... 27

3.4. Sampel ... 28

3.5. lnstrumen Pengumpul Data ... 29

3.6. Teknik Pengolahan dan Analisa Data ... 32

3.6.1. Uji Validitas Skala ... 32

, 3.6.2. Uji Reliabilitas Skala ... 35

3.7. Prosedur Penelitian ... 37

(13)

Bertanding ... 44

4.1.4. Gambaran Subjek Berdasarkan Lama Bermain Di PERSIJA ... 45

4.1.5. Gambaran Subjek Berdasarkan Tempat Tinggal ... 45

4.2. Presentasi Data ... 47

4.2.1. Deskripsi Statistik ... 47

4.2.2. Deskripsi Skar Subjek ... 47

4.2.3. Uji Persyaratan ... 52

4.2.4. Uji Hipotesis ... 54

4.3 Pembahasan ... 54

BAB 5 KESEIMPULAN, DISKUSI DAN SARAN ... 56 - 62 5.1. Kesimpulan ... 56

5.2. Diskusi ... 57

5.3. Saran ... 59

DAFT AR PUST AKA LAMPI RAN

(14)

Tabel 3.1

Tabel 3.2

Tabel 3.3

Tabel 3.4

Tabel 3.5

Tabel 3.6

Tabel 4.1

Tabel 4.2

Tabel セNRNQ@

Tabel 4.3

Blue Print Beban Kerja ... 29

Blue Print Stres Kerja ... 30

Bobot nilai jawaban ... 31

Bleu print skala beban kerja hasil try out (yang valid) ... 34

Bleu print skala stress kerja hasil try out (yang valid) ... 36

Kaidah reliabilitas Guilford ... 38

Gambaran Responden berdasarkan usia ... 42

Gambaran Responden berdasarkan asal negara ... 43

Uji Beda Responden berdasarkan asal negara ... 43

Gambaran Responden berdasarkan posisi dalam bertanding ... 44

Tabel 4.4 Gambaran Responden berdasarkan lama bermain di PERSIJA. 45 Tabel 4.5 Gambaran Responden berdasarkan tempat tinggal ... 45

Tabel 4.5.1 Uji Beda Responden berdasarkan tempat tinggal. ... 45

Tabel 4.6 Deskripsi statistik ... 47

Tabel 4.7 Tabel 4.8 Tabel 4.9 Tabel 4.10 Tabel 4.11 Tabel 4.1·2 Norma Kategori beban kerja ... 49

Norma Kategori stress kerja ... 50

Komposisi responden berdasarkan pengkategorian skor ... 51

Uji normalitas beban kerja dan stress kerja ... 53

Uji hipotesis ... 54

(15)

1.1. LAT AR BELAKANG

Kompetisi sepak bola di Indonesia terutama divisi utama ligina 2007,

merupakan salah satu kompetisi sepak bola didunia yang memiliki peserta

terbanyak dan juga jadwal pertandingan terpadat. Hal ini dapat dilihat dari

peserta kompetisi ligina 2007 yang berjumlah 34 tim yang terbagi dalam

dua wilayah, (dalam www.bli-online.com).

Dalam satu musim kompetisi (± 6 bulan) sebuah tim harus memainkan 45

pertandingan ligina 2007, ini juga belum ditambah dengan jadwal

kompetisi copa Indonesia yang harus dimainkan oleh sebuah klub yang

juga cukup banyak. Apabila ditarik rata-rata, maka sebuah klub harus

memainkan 2 pertandingan dalam satu minggu, hal ini juga belum

ditambah dengan luasnya wilayah Indonesia yang berakibat pada cukup

ェ。オセョケ。@ jarak tempuh suatu tim dalam memainkan pertandingan tandang.

(16)

Padatnya jadwal pertandingan yang harus dimainkan oleh sebuah klub

dalam satu musim, cukup jauhnya jarak tempuh yang harus dilalui ketika

pertandingan tandang, dan sedikitnya hari libur dapat berakibat negatif

pada kondisi fisik dan psikis atlet. Salah satu penyakit psikis yang pemah

dialami oleh atlet adalah stres, Saparinah berpendapat bahwa setiap atlet

tidak terkecuali atlet profesional ataupun amatiran pemah mengalami stres

atau kecemasan (dalam Singgih, 1989).

Stres itu sendiri merupakan penyakit psikologis yang dapat dialami oleh

siapapun termasuk atlet sepak bola. Atlet sepak bola yang didiagnosa

terjangkit stres akan mengalami gangguan pada penampilannya baik

didalam ataupun diluar lapangan. Sehingga pada puncaknya atlet tersebut

tidak dapat menunjukan penampilan terbaiknya serta adanya penurunan

pada prestasinya.

Dalam dunia olahraga masalah stres telah lama menjadi perhatian para

ahli psikologi. Telah diakui bahwa stres berkembang sejalan dengan

peristiwa-peristiwa keolahragaan dan tidak dapar dihindari. Singer

berpendapat bahwa dalam olahraga kompetitif akan selalu muncul situasi

(17)

Namun demikian, sires pada batas-batas tertentu sangatlah diperlukan,

agar atlet tersebut siap menghadapi dan melaksanakan tugasnya. Singgih

(1989) menyatakan bahwa tanpa stres dalam batas tertentu menjelang

pertandingan, atlet dapat dikatakan masih "tidur" secar psikis, sehingga ia

tidak akan mampu berbuat banyak dalam menjalankan tugasnya tersebut.

Stres - yang harus ada menjelang pertandingan - itu sebagai kesiapan

mental (arousal) atlet untuk bertanding. Derajat sires yang diperlukan oleh

setiap atlet untuk ini sangatlah berbeda-beda atau sangat individual, hal

ini menunjukan bahwa setiap orang memiliki ambang stres tersendiri yang

berbeda pula pada situasi lain. Menjelang pertandingan atau turun

kelapangan derajat sires akan relatif meninggi namun ketika pertandingan

telah berlangsung derajat itu semakin lama akan semakin menurun.

Situasi sires yang melewati ambang batas akan menyebabkan hal-hal

yang tidak atau kurang menguntungkan bagi atlet yang bersangkutan.

Dalam kegiatan olahraga terutama olahraga kompetitif, stres akan selalu

menghantui para atlet maupun official, yang pada gilirannya akan

mengganggu penampilan mereka.

Banyak faktor yang menyebabkan seorang atlet mengalami stres, di

(18)

mendukung, interpersonal antara seorang atlet dengan atlet lainnya yang

kurang baik sehingga berdampak pada kurang kompaknya Um di dalam

ataupun di luar pertandingan. Sikap manajemen yang otoriterpun bisa

menjadi kendala tidak harmonisnya hubungan antara manajemen dengan

atlet-atletnya, jadwal pertandingan yang cukup padat atau beban kerja

yang cukup banyak yang harus dipikul oleh atlet juga dapat

mempengaruhi turunnya kondisi fisik dan psikis seorang atlet, dan juga

masalah adaptasi individu dengan kelompok. Dalam olahraga sepak bola,

seorang atlet haruslah beradaptasi dengan baik kedalam tim atau

kelompoknya, agar terjalin pengertian serta kesamaan dalam visi dan misi

antara atlet dengan atlet yang lain dan juga dengan manejemen klub serta

pendukung fanatik.

Pusat data dan informasi Departemen Kesehatan Republik Indonesia

(2006) dalam artikel : prinsip dasar kesehatan kerja menyatakan bahwa

.

.

Banyak faktor yang menyebabkan seorang atlet yang berkualitas menjadi

turun prestasinya, salah satu faktornya adalah karena beban kerja (fisik

dan mental) yang dipikulnya terlalu banyak atau berlebih. Sehingga atlet

yang memikul beban terlalu berlebih mengakibatkan dirinya banyak

(19)

Monty (2000) berpendapat bahwa beban latihan yang terlalu berat untuk

jangka waktu yang relatif panjang dapat berakibat pada menurunnya

penampilan kinerja olahraga seorang atlet.

Seorang atlet sepak bola profesional akan berprestasi dengan baik untuk

klub maupun bagi negaranya, apabila jiwanya tidak merasa terbebani

dengan beban yang cukup berat dari berbagai pihak. Namun, jika seorang

atlet sepak bola profesional sudah merasa terbebani dengan berbagai

macam tuntutan, ada dua kemungkinan yang dapat terjadi pada jiwa atlet

tersebut. Yang pertama, ia akan menjadikan beban kerja itu sebagai

motivasi untuk berprestasi, hal ini dapat terjadi apabila kondisi jiwa atau

mental atlet tersebut memang "kuat". Dan yang kedua, beban kerja yang

diberikan padanya dijadikan sebagai beban yang memberatkan dirinya

dan perlahan atlet tersebut akan menjadi stres dan pada tahap yang

kronik akan menjadi depresi, hal ini dapat terjadi apabila kondisi jiwa dan

mental atlet tesebut "lemah".

Dari sekian banyaknya faktor pembangkit stres yang dialami oleh atlet,

maka peneliti berasumsi bahwa stres yang diderita oleh atlet sepak bola

salah satunya di pengaruhi oleh beban kerja yang diberikan oleh

lingkungan kerjanya. Maka, peneliti tertarik untuk meneliti psikologis para

(20)

judul "HUBUNGAN ANTARA BEBAN KERJA DENGAN STRES KERJA

PADA ATLET SEPAK BOLA PROFESIONAL DI KLUB PERSIJA"

1.2. IDENTIFIKASI MASALAH

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas,

maka beberapa masalah yang dapat diidentifikasi dalam penelitian ini

adalah:

1. Bagaimana gambaran tingkat beban kerja pada atlet sepak bola ?

2. Bagaimana gambaran tingkat stres kerja pada atlet sepak bola ?

3. Apakah terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan dengan

stres kerja pada atlet sepak bola ?

4. Apakah terdapat hubungan antara beban kerja dengan stres kerja

pada atlet sepak bola ?

1.3. PEMBAT ASAN DAN PERUMUSAN MASALAH

1.3.1 Pembatasan Masalah

Dari beberapa permasalahan yang muncul dalam penelitian ini, maka

masalah dibatasi pada hubungan antara beban kerja dengan stres kerja

(21)

1.3.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan di atas, maka rumusan masalah dalam

penelitian ini adalah apakah ada hubungan antara beban kerja dengan

stres kerja pada atlet sepak bola profesional.

1.4. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya tingkat beban kerja dan

taraf signifikansi hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada

atlet sepak bola profesional.

1.4.2 Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai

berikut:

1.

Manfaat teoritis, diharapkan hasil penelitian ini dapat menambah

. wawasan, khazanah ilmu pengetahuan dan wacana dalam hal

psikologi olahraga yang notabene belum banyak diteliti oleh

mahasiswa fakultas psikologi UIN Jakarta dan juga untuk mengetal1ui

psikis para atlet sepak bola.

2. Manfaat praktis, untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang dapat

(22)

1.5. SISTEMATIKA PENULISAN

Dalam penelitian ini, sistematika penulisan yang digunakan adalah

sebagai berikut :

BAB 1 : Pendahuluan, meliputi latar belakang masalah, identifikasi

masalah, pembatasan masalah, perumusan masalah, tujuan

penelitian, manfaat penelitian, sistematika penulisan.

BAB 2 : Kajian Pustaka, meliputi pengetian stress kerja, macam-macam

stres kerja, sumber-sumber stres pada atlet, gejala-gejala stres,

penanggulangan stres, pengertian beban kerja, macam-macam

beban kerja, faktor-faktor pembangkit beban kerja, kerangka

berfikir dan hipotesis.

BAB

3

BAB4

Metodologi Penelitian, meliputi pendekatan dan metode

penelitian, definisi variabel dan definisi operasional variabel,

populasi, sampel dan teknik pengambilan sampel, teknik

pengumpulan data, metode pengolahan dan analisa data.

Hasil Penelitian, meliputi gambaran umum responden,

hubungan antara beban kerja dengan stres kerja pada atlet

sepak bola profesional di klub PERSIJA.

(23)

2.1. STRES KERJA

2.1.1 Definisi Stres Kerja

Datam karnus tengkap psikotogi, Chaplin (2005) menjelaskan bahwa stres

· adalah suatu keadaan tertekan, baik secara fisik maupun psikotogis.

Kartono, K. dan Dali, G. (2003) menyatakan bahwa stres adalah stimulus

yang menegangkan kapasitas-kapasitas psikologis atau fisiotogis dari

suatu organisme.

Dalam kamus besar bahasa Indonesia, stres diartikan sebagai gangguan

atau kekacauan mental dan emosionat yang disebabkan oteh faktor luar.

Stres merupakan kondisi yang umum dihadapi seseorang dalam

rnenghadapi tantangan hidup. Atlet pada umumnya mengatami stres pada

taraf tertentu. Tuntutan dan tekanan untuk mengikuti jadwat latihan yang

(24)

menimbulkan stres. Terbatasnya porsi makan juga dapat menimbulkan

stres.

Berbagai kondisi sires dalam menghadapi kehidupan sehari-hari biasanya

dapat diatasi dengan baik oleh atlet yang baik. Namun sejumlah atlet

lainnya kerapkali mengalami kesulitan dalam menghadapi stres, yang

demikian sesungguhnya mereka membutuhkan bantuan pelatih dan pihak

terkait untuk dapat mengatasi stres yang mereka alami. Namun

adakalanya gejala-gejala stres yang dialami atlet lolos dari pantauan atau

obseivasi pelatih. Sehingga pelatih tidak cukup waspada terhadap kondisi

atletnya yang mengalami stres. Selanjutnya tanpa dapat diantisipasi

terlebih dahulu oleh pelatih dan pihak terkait, seolah-olah atlet secara

mendadak mengalami kemunduran prestasi. Kalau saja pelatih dan pihak

terkait dapat mengantisipasi stres yang dialami atlet sejak dini, mungkin

hambatan prestasi atlet tidak berlarut-larut dan kemunduran prestasi atlet

dapat dihindarkan.

· Ors. Mudji Harsono menjelaskan bahwa stres kerja adalah tekanan atau

sesuatu yang terasa menekan dalam diri seseorang akibat dari lingkungan

kerjanya. Perasaan tertekan ini timbul karena banyak faktor, yaitu faktor

yang berasal dari dalam diri sendiri atau dari luar (dalam Singgih D G,

(25)

Richelson berpendapat bahwa stres kerja merupakan suatu keadaan

dimana seseorang mengalami kelelahan atau frustasi karena merasa

bahwa apa yang diharapkan tidak tercapai. Kemudian Morch dan

Chestnut berpendapat bahwa stres kerja merupakan tekanan psikis yang

dirasakan seseorang yang sedang bekerja (dalam Wisnu, 2000).

Berdasarkan definisi-definisi stres kerja diatas maka, penulis

mendefinisikan stres kerja adalah tekanan atau sesuatu yang terasa

menekan dalam diri atlet yang bersifat destruktif, yang pada akhirnya akan

merugikan diri atlet tersebut dan juga klub yang dibelanya karena

penurunan prestasi yang ditunjukan oleh atlet tersebut.

2.1.2 Macam-Macam Stres

Pada umumnya kita merasakan bahwa stres merupakan suatu kondisi

negatif, suatu kondisi yang mengarah ketimbulnya penyakit fisik maupun

mental, atau mengarah ke perilaku yang tak wajar.

Dr. Hans Selye, "bapak" dari penelitian mengenai stres membedakan

antara stres yang rnerusak dan stres yang rnenguntungkan. Stres yang·

·•

rnerusak dapat rnenyebabkan seseorang rnerasa tidak berdaya, frustasi,

kecewa. Stres yang rnerusak dinarnakan distres. Jenis stres yang

(26)

kepuasan, kebermaknaan, keseimbangan dan kesehatan. Adapun stres

yang menguntungkan dinamakan eustres. (dalam Joehana, 2005).

2.1.3 Sumber-Sumber Stres Pada Atlet

Menurut Drs. Mudji Harsono (dalam Singgih, 1989) sumber ketegangan

atau stres dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:

1. Sumber stres dari dalam,

2. Sumber stres dari luar,

Sumber stres dari dalam maksudnya adalah penyebab stres yang berasal

dari dalam diri atlet sendiri, yakni:

a. Atlet sangat mengandalkan kemampuan teknisnya. Bila atlet hanya

mengandalkan kemampuan teknis, ia akan mengalami kesulitan

sewaktu menghadapi situasi pertandingan yang kurang

menguntungkan bagi dirinya. Umpamanya, ketika menghadapi lawan

yang ulet dan cermat, sehingga lawan itu mampu mengantisipasi

setiap serangan yang ia dan timnya lakukan. Akibatnya, atlet tersebut

akan merasa terpepet dan selanjutnya tidak mampu lagi menguasai

· situasi yang sedang dihadapinya.

b. Atlet merasa bermain baik sekali atau sebaliknya. Bila perasaan ini

menghinggapi atlet, maka akan menjadi pertanda mulai timbul adanya

sesuatu yang menekan pada dirinya. Perasaan ini memberikan beban

(27)

seakan-akan atlet tersebut telah memvonis dirinya bahwa ia tidak akan

mencapai sukses.

c. Adanya pikiran negatif karena dicemooh atau dimarahi. Dicemooh atau

dimarahi akan menimbulkan reaksi pada diri atlet. Reaksi tersebut

akan tetap tertahan, sehingga menjadi sesuatu yang menekan dan

menimbulkan frustasi yang mengganggu penampilannya.

d. Adanya pikiran puas-diri. Bila dalam diri atlet ada pikiran atau rasa

puas-diri, maka ia telah menanamkan benih-benih ketegangan dalam

dirinya sendiri. Atlet akan dituntut oleh diri sendiri untuk mewujudkan

sesuatu yang mungkin berada diluar kemampuannya. Bila demikian

keadaannya, maka sebenarnya atlet itu telah menerima tekanan yang

tidak disadari.

Sedangkan sumber-sumber stres dari luar adalah sebagai berikut:

a. Rangsangan yang membingungkan. Salah satu bentuk rangsangan

yang membingungkan adalah komentar para officials yang merasa

kompeten, baik atas koreksi, strategi atau taktik yang harus dilakukan

maupun petunjuk yang lain kepada atlet. Menerima beberapa petunjuk

dan perintah sekaligus akan membingungkan atlet.

b. Pengaruh massa. Massa penonton atau pendukung fanatik, terlebih

(28)

atlet. Penonton yang berada ditribun sangat berarti dalam suasana

pertandingan.

c. Saingan yang bukan tandingannya. Atlet yang mengetahui bahwa

lawan yang akan dihadapi adalah lawan yang lebih unggul dari pada

dirinya, maka dalam hati kecil atlet tersebut telah timbul pengakuan

akan ketidak mampuannya untuk menang. Situasi tersebu akan

menyebabkan berkurangnya kepercayaan pada diri sendiri.

d. Ketidak hadiran pelatih. Kondisi ini akan berakibat pada atlet yang

membutuhkan dukungan, arahan dan motivasi dari pelatihnya menjadi

terganggu.

Robin menerangkan bahwa sumber-sumber potensial stres (dalam Wisnu,

2000) antara lain:

a. Faktor lingkungan. Yang termasuk faktor lingkungan seperti

ketidakpastian ekonomi, ketidakpastian politik dan ketidakpastian

psikologis.

b. Faktor organisasional. Yang termasuk faktor organisasional seperti

tuntutan tugas, tuntutan peran, tuntutan antar pribadi, struktur

organisasi, kepemimpinan organisasi, dan taraf hidup organisasi.

c. Faktor individu. Yang termasuk faktor individu antara lain; masalah

(29)

2.1.4 Gejala-Gejala Stres

Singgih (1989) menjelaskan bahwa dengan mengetahui sumber stres,

maka pihak-pihak yang berkompeten perlu berupaya sedini mungkin untuk

memperkecil stres atau ketegangan pada atlet. Sebab telah disadari

bahwa atlet yang tegang akan menunjukkan penampilan yang kurang

optimal. Untuk itu perlu mengenali stres yang telah "menyerang" atlet,

gejala-gejala stres dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

1. Gejala Fisik.

a. Adanya perubahan yang signifikan pada tingkah laku, gelisah, tidak

tenang dan sulit tidur.

b. Terjadi peregangan pada otot-otot pundak, leher, perut terlebih lagi

pada otot-otot ekstremitas.

c. Terjadi perubahan irama pernafasan.

d. Terjadi kontraksi otot setempat: pada dagu, sekitar mata dan

rahang.

2. Gejala Psikis.

a. Gangguan pada perhatian dan konsentrasi.

b. Perubahan emosi, seperti sering marah atau terlalu banyak diam.

c. Menurunnya rasa percaya diri.

d. Timbul obsesi.

(30)

2.1.5 Cara-Cara Menanggulangi Stres

Menurut Drs. Mudji Harsono (dalam Singgih, 1989) teknik untuk mengatasi

atau paling tidak mengurangi stres, yaitu dengan:

1. Teknik intervensi.

a. Centering (pemusatan perhatian)

b. Pengaturan pernafasan.

c. Relaksasi otot secara progresif.

2. Mencari sumber stres

3. Pembiasaan pemberian stimuli stres pada batas yang wajar.

4. Konseling dan terapi.

Berbagai upaya telah dilakukan para pakar (Anshel, 1997; Weinberg &

Gould, 1995) untuk mengatasi stres, dan upaya tersebut secara garis

besar dapat dijelaskan seperti di bawah ini (dalam Monty, 2000).

1.

Rekreasi

2. Variasi latihan

3.

Kesempatan komunikasi

4. Relaksasi

5.

Program konseling, dan
(31)

2.2. BEBAN KERJA

2.2.1 Definisi Beban Kerja

Rohmert menyatakan bahwa beban kerja adalah semua faktor yang

mempengaruhi orang yang sedang bekerja {dalam Wisnu, 2000).

Menurut Ghoper dan Donchin bahwa beban kerja adalah perbedaan

antara kapasitas sistem pemroses informasi yang dibutuhkan untuk

mengerjakan tugas sesuai dengan harapan {performans harapan) dan

kapasitas yang tersedia pada saat itu (performans aktual) (dalam Wisnu,

2000).

(

Munandar (2001) tidak secara spesifik menjelaskan mengenai beban kerja

ini, namun beban kerja ini dimasukkan ke dalam tuntutan tugas yang

diterima oleh seorang pekerja atau atlet. Beban kerja sendiri adalah

tuntutan-tuntutan dan tugas-tugas yang terlalu banyak yang diberikan

kepada tenaga kerja atau atlet. Sehingga pekerja atau atlet tersebut

merasa tertekan atau pada akhirnya tidak dapat menyelesaikan tugasnya

tersebut dengan maksimal dan seoptimal mungkin.

Sugiyanto (1993) menjelaskan, bahwa secara konseptual beban kerja

(32)

dengan energi yang diperlukan untuk mengerjakan suatu tugas dengan

sukses (dalam Wisnu, 2000). Hal ini berarti bahwa beban kerja dapat

berubah-ubah, yakni dinaikkan atau diturunkan dengan cara mengatur

penggunaan energi. Tujuan pengubahan beban kerja ini adalah agar

pekerja mempunyai persepsi bahwa telah terjadi kesesuaian antara

tuntutan tugas dan kemampuan performans yang dimiliki pekerja.

Bedasarkan definisi-definisi beban kerja diatas maka, beban kerja adalah

tuntutan-tuntutan dan tugas-tugas yang diberikan pada atlet sehingga

performans harapan dan performans aktual tidak seimbang yang pada

akhirnya akan membuat atlet merasa tertekan dan tidak dapat

menyelesaikan tuntutan dan tugasnya dengan maksimal.

2.2.2 Macam-Macam Beban Kerja

Singleton (1989) membedakan beban kerja kedalam dua bagian yaitu :

1. Beban kerja mental, yaitu beban kerja mental (mental work load)

biasanya dihubungkan dengan "stressor'' dan pengaruhnya dapat

dideteksi dengan alat ukur ketegangan.

2. Beban kerja fisik, yaitu beban kerja fisik (physical work load) biasanya

(33)

Selanjutnya Singleton (1989) mengatakan, tidak ada pengetahuan yang

membenarkan bahwa beban kerja mental dan beban kerja fisik adalah

sama, meskipun para ahli sepakat bahwa beban kerja mental dan beban

kerja fisik memiliki kesamaan ciri-ciri secara umum seperti : pekerjaan

berat, menuntut tanggung jawab baik pekerjaan itu dikerjakan secara

manual maupun menggunakan kemampuan intelektual ataupun

menggunakan kombinasi keduanya (dalam Wisnu, 2000).

Sedangkan Grandjean (1988) menjelaskan, bahwa aktivitas fisik dikaitkan

dengan pekerjaan (tugas) yang lebih menekankan pada aktivitas fisik,

sehingga menurutnya beban kerja fisik diestimasi dengan menggunakan

konsumsi energi yang dibutuhkan dalam melakukan pekerjaan.

Sedangkan aktivitas mental dikaitkan dengan aktivitas otak manusia yang

mengolah proses informasi dalam diri manusia (dalam Wisnu, 2000).

Munandar (2001) membagi beban kerja kedalam dua bagian yaitu,

1. Beban kerja berlebih, yaitu secara fisikal ataupun mental adalah harus

melakukan terlalu banyak hal, unsur yang menimbulkan beban kerja

berlebih ini ialah desakan waktu. Waktu merupakan satu unsur yang

· sangat penting, sehingga setiap tugas diharapkan dapat diselesaikan

dengan secepat mungkin secara tepat dan cermat. Kondisi ini juga

(34)

untuk selalu memberikan kontribusi yang terbaik dengan selalu

menang dalam setiap pertandingan.

2. Beban kerja terlalu sedikit, yaitu timbul akibat dari tugas-tugas yang

terlalu sedikit yang diberikan kepada tenaga kerja atau atlet atau juga

tugas yang diberikan tidak menggunakan keterampilan atau potensi

dari tenaga kerja atau atlet.

2.2.3

Faktor-Faktor Pembangkit Beban Kerja

1. Kelebihan Beban Latihan (overtraining)

Monty (2000) memberikan definisi yang sedikit berbeda namun pada

prinsipnya sama, ia menyatakan bahwa kelebihan beban latihan

(overtraining) adalah suatu keadaan menurunnya penampilan kinerja

olahraga individu akibat beban latihan yang terlalu berat untuk jangka

waktu yang relatif panjang. Dalam penerapan prinsip latihan, ada

pendekatan untuk meningkatkan beban latihan sedemikin rupa secara

bertahap dalam jangka waktu relatif panjang, dan berhasil meningkatkan

penampilan kinerja atlet. Hal ini dikenal ,sebagai periodized training atau

latihan menurut periodisasi. Tetapi bagi banyak atlet kondisi ini dapat

menjadi beban yang demikian besar, dan jika beban ini diberikan,

bukannya kemampuan atlet bertambah tetapi sebaliknya atlet akan

(35)

haruslah disesuaikan dengan kebutuhan atletnya. Jadi jika latihan

diberikan secara berlebihan atau jauh melebihi kebutuhan atlet sehingga

penampilan atlet bukannya meningkat melainkan menurun.

2. Keapakan (staleness)

Keapakan adalah suatu kondisi yang menunjukan status atlet dalam

keadaan tidak mampu mempertahankan kemampuan penampilan

terbaiknya, dengan kata lain penarnpilannya rnenunjukan penurunan

grafik, sebagai akibat dari kelebihan latihan, dan untuk selanjutnya

(apabila tidak dilakukan intervensi) atlet tidak akan lagi rnarnpu rnencapai

taraf kemampuan terbaiknya. Salah satu ciri dampak psikologis yang

dialami atlet yang rnengalarni keapakan adalah depresi (Weinberg &

gould, 1995 dalam Monty, 2000)

3. Kejenuhan (Burnout)

Kejenuhan adalah suatu kondisi psikologis yang dialami seseorang akibat

stres disertai kegagalan meraih harapan yang berlangsung berulang-ulang

atau dalam jangka waktu relatif panjang sehingga menimbulkan

kecendrungan menarik diri secara psikologis, emosional dan kerap kali ·

secara fisik dari kegiatan tertentu yang selama ini menjadi turnpuan

harapannya. Smith (1986) menjelaskan bahwa kejenuhan rnerupakan

[image:35.595.35.422.153.503.2]
(36)

akibat gagalnya usaha seseorang memperoleh hasil yang diharapkan

padahal ia telah berusaha sekuat tenaga bahkan mungkin berlebihan.

Sebagai akibatnya, individu cenderung menarik diri baik dalam pengertian

psikologis maupun fisik.

Weinberg & Gould (1995) menjelaskan bahwa dalam beberapa keadaan

kejenuhan dapat mengakibatkan seseorang berhenti dari aktivitasnya

sebagai atlet (dalam Monty, 2000). Jadi kejenuhan merupakan salah satu

penyebab berhentinya individu menempuh karir sebagai atlet. Namun, hal

ini tidak berarti individu yang menghentikan karirnya sebagai atlet

melakukan hal tersebut karena faktor kejenuhan belaka. Artinya tidak

setiap kejenuhan mengakibatkan individu berhenti menjadi atlet.

4. Sumber Kelebihan Beban latihan dan Kejenuhan

Kelebihan beban latihan dan kejenuhan berdampak langsung pada

sejumlah kondisi atlet yang meliputi kondisi emosi, suasana hati (mood

states), penampilan, kemampuan menalar, kondisi fisik, kemampuan

mengatasi masalah (coping behavioi'), dan berbagai kondisi kehidupan

secara menyeluruh. Atlet yang mengalami kelebihan beban latihan serta

kejenuhan seringkali menunjukan sifat apatis, tanda-tanda serupa dengan

(37)

dalam beberapa kasus ekstrim, fungsi psikososial atlet ikut mengalami

penurunan yang signifikan.

Weinberg & Gould (1995) setuju dengan pandangan Raglin & Morgan

(1989) yang menjelaskan bahwa kelebihan latihan ditimbulkan oleh

faktor-faktor yang tertera berikut ini. Faktor-faktor-faktor tersebut tersusun menurut

urutannya sesuai dengan banyaknya atau tingginya frekuensi keluhan

atlet (dalam Monty, 2000).

1. Terlalu banyak tekanan dan tuntutan

2. Terlalu banyak berlatih dan latihan fisik

3. Kelelahan fisik dan Nyeri Otot

4. Kebosanan (boredom) akibat pengulangan kegiatan terus menerus

5. lstirahat yang tidak cukup dan pola tidur yang kurang layak.

2.3.

KERANGKA BERFIKIR

Padatnya jadwal kompetisi ligina 2007 dapat berakibat negatif pada

kondisi fisik dan psikis atlet. Banyak penyakit psikologis yang dapat

muncul karena kondisi psikis yang negatif dan salah satunya adalah stres.

Stres sendiri merupakan salah satu penyakit psikologis yang pasti pernah

diderita oleh atlet sepak bola profesional. Karena stres pula banyak atlet

(38)

kemampuannya dan pada akhirnya akan berakibat pada penurunan

prestasi atlet tersebut.

Stres pada atlet ditentukan oleh banyak faktor, salah satu faktor yang

diasumsikan dapat mengakibatkan stres kerja adalah beban kerja yang

diberikan kepada atlet tersebut. lni sesuai dengan pendapat Bridger

(dalam Wisnu, 2000) yang menjelaskan bahwa stres dapat terjadi dimana

seorang pekerja bekerja dalam situasi melebihi kapasitasnya, kemudian

berpengaruh terhadap perilakunya.

2.4.

HIPOTESIS

Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis yang diajukan dalam

penelitian ini adalah :

H0 : Tidak ada hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan

stres kerja pada atlet sepak bola profesional di klub PERSIJA.

Ha : Ada hubungan yang signifikan antara beban kerja dengan stres

(39)

3.1.

PENDEKATAN DAN METODE PENELITIAN

Pendekatan yang digunakan dalam penelitian adalah pendekatan

kuantitatif. Penelitian kuantitatif adalah penelitian yang informasinya atau

data-datanya dikelola dengan statistik. Hipotesis pada penelitian juga diuji

dengan menggunakan teknik-teknik statistik (Kountur, 2004). Sedangkan,

menurut Azwar (2005) penelitian dengan pendekatan kuantitatif

menekankan analisisnya pada data-data numerikal atau angka-angka

yang diolah dengan metode statistik. Pada dasarnya, pendekatan

kuantitatif dilakukan pada penelitian inferensial (dalam rangka pengujian

hipotesis) dan menyadarkan kesimpulan hasilnya pada suatu probabilitas

kesalahan penolakan hipotesis nihil. Dengan pendekatan kuantitatif akan

diperoleh signifikansi perbedaan kelompok atau signifikansi hubungan

antar variabel yang diteliti.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Deskriptif

dengan jenis penelitian Korelasional. Menurut Gay (dalam Sevilla, et al.,

(40)

dalam rangka menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan yang

menyangkut keadaan pada waktu yang sedang berjalan dari pokok suatu

penelitian. Sedangkan penelitian Korelasional adalah penelitian yang

dirancang untuk menentukan tingkat hubungan variabel-variabel yang

berbeda dalam suatu populasi (Sevilla, et al., 1993).

Dalam penelitian korelasional ini, ingin diketahui korelasi antara variabel

beban kerja dengan variabel stres kerja pada atlet sepak bola profesional.

3.2.

DEFINISI VARIABEL DAN DEFINISI OPERASIONAL

VARIABEL

Variabel dari penelitian ini terdiri dari beban kerja sebagai variabel bebas,

serta stres kerja sebagai variabel terikat.

1. Definisi beban kerja adalah tuntutan-tuntutan dan tugas-tugas yang

terlalu banyak yang diberikan pada atlet sehingga performans harapan

dan performans aktual tidak seimbang yang pada akhirnya akan

membuat atlet merasa tertekan dan tidak dapat menyelesaikan

tuntutan dan tugasnya dengan maksimal.

2. Definisi operasional variabel beban kerja adalah skor yang diperoleh

dari skala beban kerja yang terdiri dari terlalu banyak porsi latihan yang

(41)

pertandingan yang harus dimainkan dalam waktu tertentu, terlalu

banyak tekanan dan tuntutan dari lingkungan atlet tersebut, kebosanan

akan kondisi dan suasana di dalam tim, dan kurangnya waktu istirahat.

3. Definisi stres kerja pada atlet adalah tekanan atau sesuatu yang terasa

menekan dalam diri atlet yang bersifat destruktif, yang pada akhirnya

akan merugikan diri atlet tersebut dan juga klub yang dibelanya karena

penurunan prestasi yang ditunjukan oleh atlet tersebut.

4. Definisi operasional variabel sires kerja pada atlel adalah skor yang

diperoleh dari skala sires kerja pada allet yang indikalornya adalah

sulit tidur karena lerlalu banyaknya fikiran. sering gelisah, menurunnya

rasa percaya diri, lurunnya motivasi unluk berprestasi, gangguan pada

perhatian dan konsentrasi. dan perubahan emosi yang membual atlet

lerlihat sering marah atau banyak diam dan menyendiri.

3.3.

POPULASI

Gay (1976) mendefinisikan populasi sebagai kelompok dimana peneliti

akan menggeneralisasikan hasil penelitiannya (dalam Sevilla, et al.,

1993). Arikunto (2002) menyatakan bahwa populasi adalah keseluruhan

(42)

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh atlet sepak bola yang

bernaung di klub PERSIJA yang berjumlah 22 atlet.

PERSIJA (Persatuan Sepakbola Indonesia Jakarta) adalah salah satu

klub sepak bola yang berdomisili di Jakarta, julukan bagi tim sepak bola

asal ibukota ini adalah macan kemayoran. PERSIJA juga rnerupakan

salah satu klub sepak bola asal Indonesia yang cukup sukses. Didirikan

pada tahaun 1928 (dengan narna VIJ Jakarta dan baru pada tahun 1964

memakai nama PERSIJA). Pembina PERSIJA saat ini dipegang oleh

Bapak Sutiyoso yang juga merupakan Gubernur OKI Jakarta. (dalam

·J\J'._J ,:,, ';11i_1• __ ;_L' __ 1__._uru).

3.4.

SAMPEL

Arikunto (2002) menjelaskan bahwa apabila seseorang ingin meneliti

semua elemen yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya

dinamakan dengan penelitian populasi atau sensus.

Di dalam Encyclopedia of Educational Evaluation tertulis:

A population is a set (or collection) of all elements possessing one or more

(43)

Dilihat dari jumlahnya, maka penelitian populasi ini dapat dibagi menjadi

dua yaitu:

a. Jumlah terhingga (terdiri dari elemen dengan jumlah tertentu atau

sedikit).

b. Jumlah tak terhingga (terdiri dari elemen yang sukar sekali dicari

batasnya).

Penelitian populasi ini dilakukan apabila peneliti ingin melihat semua

liku-liku yang ada di dalam populasi. Oleh karena subjeknya meliputi semua

yang terdaftar di dalam populasi, maka hasil kesimpulan dari penelitian

tersebut hanya berlaku bagi populasi penelitian saja. Adapun sampel

dalam penelitian ini adalah seluruh atlet sepak bola yang bernaung di klub

PERSIJA yaitu sebanyak 22 atlet.

3.5.

INSTRUMEN PENGUMPUL

DATA

lnstrumen pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah

kuesioner, yang terdiri dari :

a. Skala beban kerja. Skala ini disusun berdasarkan dari teori-teori yang

ada, yang terdiri dari 5 indikator yang telah dikembangkan oleh Raglin

& Morgan (1989), yaitu: terlalu banyak porsi latihan yang diberikan

kepada atlet, kelelahan fisik akibat dari padatnya jadwal pertandingan

(44)

dan tuntutan dari lingkungan atlet tersebut, kebosanan akan kondisi

dan suasana di dalam tim, dan kurangnya waktu istirahat. Skala ini

disusun menggunakan skala model Likert yang terdiri dari sejumlah

[image:44.595.24.436.178.498.2]

pernyataan. Distribusi pernyataan-pemyataan ini dapat dilihat pada

tabel di bawah ini.

Tabel

3.1

Blue Print Beban Kerja

NO INDIKATOR NOMORITEM JUMLAH

F UF

1. Terlalu banyak porsi latihan 1,9,14, 4, 12, 18 10 26,32 '24,31 2. Kelelahan fisik akibat jadwal 2,10,27, 5,17,29 8

oertandinoan vano oadat 33 '35

3. Terlalu banyak tekanan dan 3,11,19 6,15,25 6 tuntutan dari lingkungan

4. Kebosanan akan kondisi dan 7,20,23 8, 13,28 6

suasana di dalam tim

-5. Kurangnya waktu istirahat 16,22,30 21,34,3 6 6

Jumlah 18 18 36

b. Skala stres kerja pada atlet. Skala ini disusun berdasarkan dari

teori-teori yang ada, yang terdiri dari 6 indikator yaitu: sulit tidur karena

terlalu banyak fikiran, sering gelisah, menurunnya rasa percaya diri,

turunnya motivasi untuk berprestasi, gangguan pada perhatian dan ·

konsentrasi, dan perubahan emosi sehingga atlet sering marah atau

(45)

model Likert yang terdiri dari sejumlah pernyataan. Distribusi

pernyataan-pernyataan ini dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel

3.2

Blue Print Stres Ketja Pada Atlet

NO INDIKATOR NOMORITEM JUMLAH

F UF

1. Sulit tidur karena terlalu 2, 14, 18 5, 10, 32 6 banyaknya fikiran

2. Sering gelisah 11, 31 1, 9 4

3. Menurunnya rasa percaya 3, 16,28 4, 13,24

6

diri

4. Turunnya motivasi untuk 6, 23 15,20 4

berprestasi

5. Gangguan pad a perhatian 7, 17 19,26 4

dan konsentrasi

6. Perubahan emosi sehingga 12, 22, 8, 21, 27, 8

atlet sering marah dan 25,29 30

セ@ men:tendiri

-Jumlah 16 16 32

Kedua skala ini menggunakan bentuk skala model Likert atau dikenal juga

dengan The Method Of Summated Rating. Dalam skala model Likert

terdapat 5 (lima) kategori jawaban dan masing-masing kategori ini

memiliki nilai tertentu. Namun dalam penelitian ini skala yang digunakan

hanya 4 (empat) kategori, yaitu Sangat Setuju (SS), setuju (S), Tidak

Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS), sedangkan Ragu-Ragu (R)

tidak digunakan. Menurut Sevilla, et al., (1993) banyak peneliti yang

[image:45.595.34.430.162.463.2]
(46)

"mengamankan" dan menempatkan jawaban mereka di tengah sebagai

angka netral. Hal ini disebut pengaruh "kecenderungan sentral". lndividu

yang memiliki kecenderungan tersebut selalu menghindarkan perilaku

atau pengungkapan yang ekstrim. Dengan demikian, tidak digunakannya

kategori jawaban yang bersifat netral atau Ragu-Ragu (R) dilakukan untuk

mendorong responden memutuskan jawaban yang bersifat positif atau

negatif. Skoring dalam skala ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu untuk

pernyataan-pernyataan yang favorable dan yang unfavorable, untuk lebih

[image:46.595.27.426.147.501.2]

jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3.3

Nilai Dari Masing-masing Jawaban

JAWABAN FAVOURABLE UNFAVOURABLE

SS

4

1

s

3

2

TS

2

3

STS 1 4

3.6. TEKNIK PENGOLAHAN DAN ANALISA DAT

A

3.6.1 Uji Validitas Skala

Analisis data dalam penelitian ini adalah dengan metode statistika, karena

data yang diperoleh berupa angka-angka. Setelah data terkumpul, diskor

(47)

Validitas artinya sejauhmana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur

dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 2003). Sedangkan untuk

menguji validitas item digunakan rumus Korelasi Product Moment, yaitu:

Keterangan :

rxy : Koefisien korelasi product moment

N : Jumlah subjek

Thy : Jumlah hasil perkalian antara skor X dan Y

:EX : Jumlah seluruh skor X

L:Y : Jumlah seluruh skor Y

Dari data try out indeks validitas item skala beban kerja yang diuji

cobakan pada responden (n=30) diperoleh hasil sebagai berikut:

lndeks Validitas skala Beban Kerja bergerak dari 0.372 sampai dengan

0.734. Dari 36 item yang diuji cobakan terdapat 15 item yang gugur atau

tidak valid, yaitu nomor 8, 10, 13, 15, 16, 19, 21, 24, 25, 26, 27, 29, 30,

31 dan 33 karena tidak memenuhi standar koefisien validitas yang

dianggap memuaskan untuk n=30 dengan taraf signifikansi 5%, yaitu

(48)

I-·

untuk penelitian selanjutnya adalah nomor 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 9, 11, 12,

14, 17, 18, 20, 22, 23, 28, 32, 34, 35 dan 36.

[image:48.595.23.433.162.465.2]

Berikut Blue Print Skala Beban Kerja pasca try out dapat dilihat pada

tabel 3.4.

Tabel 3.4

Blue Print Beban Kerja Pasca Try Out

NO

ASP EK

NOMORITEM

F

UF

JUMLAH

1. Terlalu banyak porsi latihan 1, 8, 11, 4, 10, 7

18 13

2. Kelelahan fisik akibat jadwal 2 5, 12, 4

pertandinqan yanq padat 20

3. Terlalu ban yak tekanan dan 3, 9 6 3

tuntutan dari linakunaan

4. Kebosanan akan kondisi dan 7, 14, 16 17 4 suasana di dalam tim

5. Kurananva waktu istirahat 15 19,21 3

Jumlah 11 10 21

Sedangkan untuk indeks validitas skala stres kerja pada atlet dari hasil

try out bergerak dari 0.331 sampai dengan 0.562. Dari 32 item yang diuji

cobakan terdapat 14 item yang gugur atau tidak valid, yaitu nomor 3, 9,

13, 14, 20, 22, 24, 26, 28, 29. 30, 31 dan 32 karena tidak memenuhi

standar koefisien validitas yang dianggap memuaskan untuk n=30

dengan taraf signifikansi 5%, yaitu sebesar 0.361. Sedangkan item yang

valid atau yang dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya adalah

(49)

Berikut Blue Print Skala Stres Kerja Pada Atlet pasca try out dapat

dilihat pada tabel 3.5 di bawah ini.

Tabel 3.5

Blue Print Stres Kerja Pada At/et Pasca Try Out

NO INDIKATOR NOMOR ITEM JUMLAH

F UF

1.

Sulit tidur karena terlalu 2, 14 4,8 4

banyaknya fikiran

2. Sering gelisah 9

1

2

3. Menurunnya rasa percaya 12 3 2

diri

4. Turunnya motivasi untuk 5, 16

11

3

berprestasi

5. Gangguan pad a perhatian 6, 13 2

dan konsentrasi

6. Perubahan emosi sehingga 12, 17 7, 15, 18 5 atlet sering ma rah dan

menyendiri

セᄋ@

Jumlah 10 8 18

3.6.2 Uji Reliabilitas Skala

Menurut Azwar (2003), reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu

pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya hanya

apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok

subjek yang sama diperoleh hasil yang relatif sama. lnstrumen yang

reliabel mengandung arti bahwa instrumen tersebut baik, sehingga

mampu mengungkapkan data yang bisa dipercaya (Arikunto,2002). Dari

[image:49.595.30.430.164.479.2]
(50)

instrumen menghasilkan pengukuran yang relatif sama meskipun

dilakukan dalam waktu yang berbeda.

Dalam penelitian ini untuk menguji reliabilitas, rumus yang digunakan

adalah Alpha Cronbach. Data ini diperoleh dari satu kali pengujian.

Dengan cara ini permasalahan yang muncul pada pendekatan tes ulang

dapat dihindari (Azwar,2003). dengan rumus sebagai berikut :

a

=

{セ}@

[1 - ISj'

J

k-1 Sx 2

Keterangan :

a

Koefisien reliabilitas

k Jumlah belahan tes

Sj 2 : Varians belahan ; j

=

1, 2, .... , k

Sx 2 : Varians skor tes

Berdasarkan data try out diperoleh beberapa item yang valid kemudian di

uji reliabilitasnya dengan rumus di atas, untuk skala beban kerja diperoleh

hasil koefisien reliabilitas 0.832 yang berarti data tersebut reliabel, hal ini

dapat dilihat dari table 3.8 tentang kaidah reliabilitas Guilford dan hal ini.

sesuai dengan pendapat Azwar (2003) yaitu semakin koefisien reliabilitas

(51)

untuk skala stres kerja pada atlet diperoleh hasil koefisien reliabilitas 0.813

yang berarti data tersebut juga reliabel.

Tabel

3.6

Kaidah Reliabilitas Guilford

Koefisien Kriteria

<

0,2

Tidak Reliabel

0,2-0,4

Kurang Reliabel

0,4 - 0,7

Cukup Reliabel

0,7 -0,9

Reliabel

>

0,9

Sangat Reliabel

3.7.

IPROSEDUR PENELITIAN

Prosedur penelitian adalah langkah-langkah yang harus dilalui dan

dikerjakan dalam suatu penelitian. Adapun prosedur dalam penilitian ini

adalah:

a. Persiapan Penelitian

1) Merumuskan permasalahan

2) Menentukan variabel penelitian

3) Melakukan studi pustaka untuk mendapatkan gambaran dan

[image:51.595.27.430.150.479.2]
(52)

4) Menentukan, menyusun dan menyiapkan alat ukur yang

akan digunakan dalam penelitian ini, yaitu skala beban kerja

dengan jumlah pernyataan sebanyak 36 item dan skala sres

kerja pada atlet dengan jumlah pernyataan sebanyak 32

item.

5) Menentukan lokasi dan menyelesaikan administrasi

perizinan.

Setelah jumlah item pernyataan tersusun, lalu dilakukan uji

coba skala untuk mengetahui validitas dan reliabilitas

instrumen. Uji coba dilakukan pada tanggal ·11 Januari 2007

sampai dengan 17 Februari 2007, yang diberikan kepada

seluruh atlet sepak bola di klub PERSIKAD - Depok yang

berjumlah 30 atlet.

6) Mengolah data hasil uji coba untuk mengetahui validitas dan

reliabilitas dari instrumen atau alat ukur penelitian.

b. Pelaksanaan Penelitian

Setelah melakukan proses persiapan penelitian, dan kedua alat

ukur memenuhi standar validitas dan reliabilitas, maka kedua

skala tersebut disebarkan sesuai dengan responden penelitian,

penelitian dilakukan pada tanggal 16 Maret 2007 sampai

(53)

adalah seluruh atlet sepak bola di klub PERSIJA - Jakarta yang

berjumlah 22 atlet.

c. Pengolahan Data

1) Melakukan skoring dari data yang diperoleh pada saat

penelitian.

2) Menghitung dan tabulasi data hasil penelitian.

3) Melakukan analisis data.

d. Penulisan Hasil Penelitian

3.8.

TEKNIK ANALISA DATA

Dalam penelitian deskriptif korelasional, besar atau tingginya hubungan

antar variabel dinyatakan dalam bentuk koefisien korelasi. Di dalam

penelitian deskriptif koefisien korelasi menerangkan sejauh mana dua

atau lebih variabel berkaitan atau berkorelasi (Arikunto, 2002). Untuk

menganalisis data yang diperoleh dan mengetahui ada tidaknya korelasi

antara dua variabel penelitian digunakan teknik statistik korelasi Rank

Spearman dengan rumus :

Keterangan :

6L:D2

rho=l---N(N2-1)

(54)

D

N

1dan6

=

Perbedaan skor antara dua kelompok pasangan

=

Jumlah kelompok

=

bilangan konstan

Penghitungan statistik dilakukan menggunakan sistem komputerisasi

program SPSS versi 12. yang akan diinterpretasikan dengan mengacu

pada tabel koefisien korelasi Rank Spearman. Jika hasil penghitungannya

lebih besar dari r tabel, maka korelasinya dianggap signifikan dengan l<ata

lain

Ha

diterirna dan

Ha

ditolak. Tetapi jika hasil penghitungannya lebih

kecil dari r tabel maka korelasi dianggap tidak signifikan atau

Ha

ditolak
(55)

4.1. GAMBARAN

UMUM

SUBJEK PENELITIAN

Untuk gambaran umum subjek penelitian akan dideskripsikan dan

diperjelas dengan penyajian data dalam b'entuk tabel dari jumlah subjek

penelitian, usia subjek, asal negara subjek, posisi dalam bertanding, iama

bermain di PERSIJA dan tempat tinggal subjek.

Dalam penelitian ini melibatkan seluruh atlet sepak bola di klub PERSIJA

- Jakarta yang berjumlah 22 atlet. Hal ini berdasarkan Arikunto (2002)

yang menjelaskan bahwa apabila seseorang ingin meneliti semua elemen

yang ada dalam wilayah penelitian, maka penelitiannya dinamakan

dengan penelitian populasi. Penelitian populasi ini dilakukan apabila

peneliti ingin melihat semua liku-liku yang ada di dalam populasi. Oleh

karena subjeknya meliputi semua yang terdaftar di dalam populasi, maka

hasil kesimpulan dari penelitian tersebut hanya berlaku bagi populasi

(56)

Berikut ini akan diuraikan gambaran umum subjek penelitian berdasarkan

usia subjek, posisi dalam bertanding, lama bermain di PERSIJA dan

tempat tinggal atlet sekarang.

4.1.1. Subjek Berdasarkan Usia

Berdasarkan usia subjek dalam penelitian ini dapat digambarkan

[image:56.595.30.433.156.477.2]

sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.1

Gambaran Subjek berdasarkan Usia

Usia Frekuensi %

20-25 11 50

26-30 9 40.90

31-35 1 4.54

36-40 1 4.54

Jumlah 22

100

Berdasarkan usianya, secara keseluruhan subjek penelitian yang paling

banyak adalah mereka yang berasal dari kategori usia 20 - 25, sebanyal<

11 atlet. Sedangkan untul< jumlah yang paling sedikit adalah pada l<ategori

usia 31 - 35 dan 36 - 40, yaitu sebanyal< 1 atlet.

4.1.2. Subjek Berdasarkan Asal Negara

Berdasarl<an asal negara subjek dalam penelitian ini dapat digambarkan

(57)
[image:57.595.28.422.93.600.2]

Tabel 4.2

Gambaran Subjek berdasarkan Asal Negara

Asal Frekuensi %

Indonesia 18 81.82 ·

-AsinQ 4 18.18

Jumlah

22

100

Berdasarkan asal negaranya, secara keseluruhan subjek penelitian yang

paling banyak adalah rnereka yang berasal dari kategori asal negara

Indonesia, sebanyak 18 atlet. Sedangkan untuk jumlah yang paling sedikit

adalah pada kategori asal negara Asing, yaitu sebanyak 4 atlet.

Sedangkan perbedaan tingkat beban kerja dengan stres kerja

berdasarkan asal negara pemain dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

Tabel 4.2.1

Uji Beda Beban Kerja Dan Stres Kerja Subjek Berdasarkan Asal Negara

Std. Std. Error

asal neaara N Mean Deviation Mean

beban kerja indonesia 18 39.7778 6.74367 1.58950

a sing 4 43.2500 5.79511 2.89756

Std. Std. Error

asal neaara N Mean Deviation Mean

stres kerja Indonesia 18 37.7222 2.86573 .67546

Asing 4 38.0000 3.91578 1.95789

Berdasarkan asal negaranya, tingkat beban kerja yang lebih tinggi yang

diterima oleh pemain sepak bola di klub PERSIJA adalah pemain yang

(58)

tingkat beban kerja yang diterima oleh pemain asal Indonesia yaitu

sebesar 39.78 %. dan berdasarkan asal negaranya juga, tingkat stres

kerja yang lebih tinggi yang dialami oleh pemain sepak bola di klub

PERSIJA adalah pemain yang berasal dari luar Indonesia atau asing yaitu

sebesar 38.00 %, sedangkan tingkat stres kerja yang dialami oleh pemain asal Indonesia yaitu sebesar 37.72 %.

4.1.3. Subjek Berdasarkan Posisi Dalam Bertanding

Berdasarkan posisi dalam bertanding subjek dalam penelitian ini dapat

digambarkan sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.3

Gambaran Subjek berdasarkan Posisi Dalam Bertanding

Posisi Frekuensi %

Peniaaa Gawanq 2 9.09

Belakano 10 45.45

Gelandano 7 31.81

Depan 3 13.63

Jumlah

22

100

Berdasarkan posisi dalam bertandingnya, secara keseluruhan subjek

penelitian yang paling banyak adalah mereka yang berasal dari kategori

posisi belakang, yaitu sebanyak 10 atlet. Sedangkan untukjumlah yang

paling sedikit adalah pada kategori posisi penjaga gawang, yaitu

[image:58.595.31.423.189.510.2]
(59)

4.1.4. Subjek Berdasarkan Lama Bermain Di PERSIJA

Berdasarkan lama bermain subjek dalam penelitian ini dapat digambarkan

sebagaimana terlihat pada tabel berikut ini :

Tabel 4.4

Gambaran Subjek berdasarkan Lama Bermain Di PERSIJA

Lama Bermain Frekuensi %

1 Tahun 10 45.45

2 Tahun 5 22.72

3 Tahun 3 13.63

4 Tahun 3 13.63

5 Tahun 1 4.54

Jumlah

22

100

Berdasarkan lama bermainnya, secara keseluruhan subjek penelitian

yang paling banyak adalah mereka yang berasal dari kategori lama

bermain selama 1 tahun, yaitu sebanyak 10 atlet. Sedangkan untuk

jumlah yang paling sedikit adalah pada kategori lama bermain selama 5

tahun, yaitu sebanyak 1 atlet.

4.1.5. Subjek Berdasarkan Tempat Tinggal

Berdasarkan tempat tinggal subjek dalam penelitian ini dapat

digambarkan sebagaimana terlihat pada label berikut ini :

Tabel 4.5

Gambaran Subjek berdasarkan Tempat Tinggal

Tempat Tinggal

Mess

Frekuensi

[image:59.595.27.419.151.506.2]
(60)

Bukan Mess

8

36.36

Jumlah

22

100

Berdasarkan tempat tinggalnya, secara keseluruhan subjek penelitian

yang paling banyak adalah mereka yang berasal dari kategori bertempat

tinggal di mess, yaitu sebanyak

14

atlet. Sedangkan untuk jumlah yang

paling sedikit adalah pada kategori bertempat tinggal di bukan mess, yaitu

sebanyak

8

atlet.

Sedangkan perbedaan tingkat beban kerja dengan stres kerja

[image:60.595.26.419.177.530.2]

berdasarkan tempat tinggal pemain dapat dilihat pada label di bawah ini :

Tabel 4.5.1

Uji Seda Beban Kerja Dan Stres Kerja Subjek Berdasarkan Tempat

Tinggal

-tempat Std. Std. Error

tinnnal N Mean Deviation Mean

beban kerja mess 14 41.5714 6.03470 1.61284

bukan mess 8 38.3750 7.44384 2.63179

tempat Std. Std. Error

tinaaal N Mean Deviation Mean

sires kerja mess 14 38.2143 2.96592 .79268

bukan mess 8 37.0000 3.02372 1.06904

Berdasarkan tempat tinggalnya, tingkat beban kerja yang lebih tinggi yang

diterima oleh pemain sepak bola di klub PERSIJA adalah pemain yang

tinggal di mess yaitu sebesar

41.57

%, sedangkan tingkat beban kerja yang diterima oleh pemain yang tinggal diluar mess yaitu sebesar 38.37
(61)

tinggi yang dialami oleh pemain sepak bola di klub PERSIJA adalah

pemain yang tinggal di mess yaitu sebesar 38.21 %, sedangkan tingkat

stres kerja yang dialami oleh pemain tang tinggal diluar mess yaitu

sebesar 37.00 %.

4.2. PRESENTASI DATA

Pada presentasi data ini, akan diberikan gambaran tentang deskripsi

statistik, deskripsi skor subjek, uji persyaratan dan uji hipotesis.

4.2.1. Oeskripsi Statistik

Tabel 4.6

Deskripsi Statistik Skor Skala Beban Kerja Dengan Stres Kerja Pada

Atlet Sepak Bola

Variabel N Mean Std. Deviation Minimum Maximum

Beban Kerja 22 40.4091 6.59480 26.00 53.00

Stres Kerja 22 38.7273 2.64002 33.00 43.00

Dari tabel 4.5, diketahui jumlah subjek penelitian 22 subjek, skor beban

kerja terendah adalah 26, skor tertinggi 53 dengan nilai rata-rata 40.40.

Kemudian skor terendah dari stres kerja pada atlet adalah 33, dan skor

tertinggi 43 dengan nilai rata-rata 38. 72.

4.2.2. Deskripsi Skor Subjek

Terlebih dahulu akan ditentukan kualitas atau tingkatan beban kerja dan

[image:61.595.26.425.145.488.2]
(62)

dibuat kategori skor subjek. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan

kategorisasi jenjang ordinal yang bertujuan menempatkan individu

kedalam kelompok-kelompok yang terpisah secara berjenjang menurut

suatu kontinum berdasar atribut yang diukur (Az:war, 2004).

Skala beban kerja terdiri dari 21 item dengan empat alternatif jawaban

dengan skor 1 sampai dengan 4. Dengan demikian, skor yang mungkin

diperoleh tiap subjek berkisar dari 21 sampai 84. Skor terendah adalah 21

(hasil dari 1 X 21) dan skor tertinggi adalah 84 (hasil dari 4 X 21 ). Skor

tertinggi menunjukkan kualitas beban kerja tinggi, dan skor terendah

menunjukan kualitas beban kerja rendah. Sehingga luas jarak sebarannya

adalah 84 - 21 = 63. Dengan demikian, setiap satuan deviasi standarnya

bernilai SD= 63 / 6 = 1Q.5, dan mean toeritisnya adalah:

M

=(21X2)+(21X3)/2

= (42 + 63) / 2

= 105 / 2

=

52.5

Penggolongan skor subjek ke dalam tiga kategori diagnosis kualitas

beban kerja atlet terbagi menjadi tiga, yaitu; rendah, sedang dan tinggi.

Norma kategorisasi yang dapat digunakan adalah:

(63)

(M - 1 SD) セ@ X < (M + 1 SD) kategori sedang

(M + 1SD) セx@ kategori tinggi

Keterangan : X= skor subjek, M= mean teoritis, SD= standar deviasi

Dengan harga M= 55, dan SD= 11 akan diperoleh kategori-kategori yang

digunakan sebagai berikut :

Tabel

4.7

Kategori Beban Kerja

Interval Kateaori

x

<42 Rendah

42 :;;X < 63 Sedang

VSセx@ Tinggi

Sesuai dengan tabel kategori beban kerja di atas, apabila subjek

mendapatkan total skor di bawah 42, maka kualitas beban kerja yang

diterima oleh atlet tergolong rendah. Apabila skor subjek berada di antara

42 - 63, maka dapat dikategorikan bahwa beban kerja yang diterima oleh

atlet adalah sedang, sedangkan jika subjek mendapat total skor lebih

besar dari 63, maka beban kerja yang diterima atlet tergolong tinggi.

Sedangkan skala stres kerja pada atlet sepak bola terdiri dari 18 item

dengan empat alternatif jawaban. Alternatif jawaban diberi skor dengan

rentangan 1 sampai 4. Dengan demikian, skor yang mungkin diperoleh . tiap subjek berkisar dari 18 sampai 72. Skor terendah adalah 18 (hasil dari

1 X 18) dan skor tertinggi adalah 72 (hasil dari 4 X 18). Skor tertinggi

[image:63.595.29.423.177.487.2]
(64)

terendah mengindikasikan kualitas stres kerja yang rendah pula. Sehingga

luas jarak sebarannya adalah 72 - 18 = 54. Dengan demikian, setiap

satuan deviasi standarnya bernilai SD = 54/ 6 = 9, dan mean toeritisnya

adalah

M =(18X2)+(18X3)/2

= (36 + 54) I

2

=

45

Kemudian, peneliti membuat kategori skor subjek ke dalam tiga

penggolongan diagnosis kualitas stes kerja, yaitu rendah, sedang, dan

tinggi. Norma kategorisasi yang dapat digunakan adalah:

X < M-1SD kategori rendah

(M-1SD) セx@ < (M + 1SD) kategori sedang

(M + 1SD) セx@ kategori tinggi

Keterangan : X= skor subjek, M= mean teoritis, SD= standar deviasi

Dengan harga M= 45, dan SD= 9 akan diperoleh kategori-kategori yang

[image:64.595.28.437.151.495.2]

digunakan sebagai berikut :

Tabel 4.8

Kategori Stres Kerja Pada Atlet

-

Interval

Kateaori

Gambar

grafik, sebagai akibat dari kelebihan latihan, dan untuk selanjutnya
tabel di bawah ini.
Tabel 3.2 Blue Print Stres Ketja Pada Atlet
Tabel 3.3 Nilai Dari Masing-masing Jawaban
+7

Referensi

Dokumen terkait

Apabila emosi yang muncul dirasa dapat merugikan dirinya dan diri orang lain, atlet tersebut dapat mengatur emosinya sehingga tidak sampai keluar menjadi suatu gerakan

Subjek dalam penelitian ini adalah atlet bola voli junior klub Binamarga Tanjungbalai dengan jumlah atlet 12 orang yang akan diberikan tindakan berupa latihan melalui

Berdasarkan hasil distribusi frekuensi stres kerja sebagian besar sedang sebanyak 38 orang (46,9%), hal ini menunjukkan bahwa stres kerja yang terjadi pada perawat di unit rawat

Kategori tinggi sebanyak 76 atlet (80%), 16 atlet remaja (17%) dalam kategori sangat tinggi, 3 remaja atlet (3%) kategori rendah dan tidak ada (0%) remaja atlet dalam ketegori

Berdasarkan hasil pemeriksaan saliva para calon atlet dalam fase awal sebelum pertandingan tidak memiliki tingkat stres yang tinggi, namun saat sebelum pertandingan menjadi

prestasinya, maka terdapat kewajiban bagi klub untuk memenuhi prestasinya juga terhadap pemain seperti yang telah disepakati sebelumnya. Perjanjian tersebut

Dalam survei awal, ada responden yang mengatakan bahwa karyawan mengalami stres akibat lingkungan fisik yang kurang nyaman, ada yang mengatakan bahwa karyawan mengalami stres akibat

Menurut Robbins 2001:563 stres juga dapat diartikan sebagai suatu kondisi yang menekan keadaan psikis seseorang dalam mencapai suatu kesempatan dimana untuk mencapai kesempatan tersebut