• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kekonsistenan Hamiltonian pada Gerak Gelombang Interfacial

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kekonsistenan Hamiltonian pada Gerak Gelombang Interfacial"

Copied!
154
0
0

Teks penuh

(1)

KEKONSISTENAN HAMILTONIAN PADA GERAK

GELOMBANG INTERFACIAL

IHSANUDIN

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(2)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Kekonsistenan Hamiltonian pada Gerak Gelombang Interfacial adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, September 2008

Ihsanudin

(3)

ABSTRACT

IHSANUDIN. Hamiltonian Consistency of Interfacial Wave Motion. Under supervision of JAHARUDDIN and ALI KUSNANTO.

The interfacial wave is an internal wave that occurs at boundary of two layers fluid. It appears because there is difference of mass density between the two layers. The objective of this thesis is to formulate the motion of internal wave with flat base and flat as well as free upper bound surface. The motion equation obtained is a Hamiltonian system. The Hamiltonian in this system is expressed by variable of wave deviation and horizontal component of potential velocity. Under assumption that interfacial wave moves only in one direction, it can be shown that the Hamiltonian depends on the solution of the wave motion equation. The coefficients of the equation depend on the physical characteristics of the two layers of fluid, i.e. thickness and mass density. The numerical results show that Hamiltonian in the system is constant. It is consistent with Hamiltonian characteristic, which does not depend on time.

(4)

RINGKASAN

IHSANUDIN. Kekonsistenan Hamiltonian pada Gerak Gelombang Interfacial. Dibimbing oleh JAHARUDDIN dan ALI KUSNANTO.

Gelombang internal adalah suatu gelombang yang terjadi di bawah permukaan fluida, karena adanya perbedaan rapat massa pada setiap lapisan fluida. Perbedaan rapat massa air laut dapat disebabkan oleh perbedaan kadar garam dan temperatur pada setiap lapisan air laut. Perbedaan rapat massa dapat menimbulkan aliran partikel-partikel fluida. Aliran dari partikel-partikel fluida membentuk suatu gelombang yang disebut gelombang internal. Pada fluida dua lapisan, gelombang internal terjadi pada batas kedua lapisan fluida (interface). Gelombang internal ini disebut gelombang interfacial. Beberapa peneliti pernah mengamati adanya gelombang internal yang memiliki amplitudo 100 meter pada kedalaman kurang dari 1000 meter dengan panjang gelombang 1 kilometer sampai dengan 10 kilometer.

Dalam penelitian ini diformulasikan suatu persamaan gerak gelombang interfacial dengan batas bawah berupa dasar rata dan batas atas berupa permukaan rata dan juga batas atas berupa permukaan bebas. Persamaan gerak dinyatakan dalam suatu sistem Hamiltonian. Berdasarkan sistem Hamiltonian tersebut diturunkan suatu persamaan gerak gelombang yang merambat hanya dalam satu arah yang dinyatakan dalam peubah simpangan gelombang interfacial. Selanjutnya kekonsistenan dari Hamiltoniannya dikaji secara numerik.

Fluida yang ditinjau dalam penelitian ini adalah fluida ideal, yaitu fluida

yang tak mampat (incompressiable) dan tak kental (inviscid). Domain fluida

adalah fluida dua lapisan, dengan batas bawah berupa dasar rata dan batas atas berupa bidang sembarang. Berdasarkan hukum kekekalan massa dan hukum kekekalan momentum diturunkan persamaan dasar fluida dua lapisan yang dinyatakan dalam besaran potensial kecepatan. persamaan dasar fluida tersebut berupa persamaan Laplace yang berlaku pada seluruh domain. Sedangkan syarat batasnya adalah syarat batas kinematik dan syarat batas dinamik. Persamaan dasar yang diperoleh selanjutnya dinyatakan dalam sistem Hamiltonian dengan Hamiltonian (energi total) didefinisikan sebagai penjumlahan energi kinetik dan energi potensial. Salah satu sifat Hamiltonian yang ditinjau adalah bahwa besaran Hamiltonian tetap, artinya nilai Hamiltonian tidak berubah terhadap waktu.

Pada penelitian ini, formulasi Hamiltonian pada gerak gelombang interfacial dengan batas bawah berupa dasar rata dan batas atas ditinjau dua kasus, yaitu batas atas berupa permukaan rata dan batas atas berupa permukaan bebas. Formulasi yang dibuat melibatkan suatu operator Dirichlet-Neumann. Penyederhanaan dilakukan dengan menggunakan asumsi gelombang panjang dengan amplitudo kecil. Penyederhanaan ini memberikan suatu persamaan gerak gelombang yang merambat dalam dua arah. Selanjutnya ditinjau gelombang yang merambat hanya dalam satu arah, dan memberikan suatu sistem Hamiltonian. Hamiltonian dalam sistem ini dihitung secara numerik.

(5)

komponen kecepatan potensial dalam arah horizontal. Untuk gelombang interfacial yang ditinjau bergerak hanya dalam satu arah, sistem Hamiltonian yang

diperoleh merupakan suatu persamaan Korteweg-de Vries (KdV). Nilai

Hamiltonian dalam sistem Hamiltonian ini konstan terhadap waktu atau dengan kata lain tidak mengalami perubahan sampai waktu yang lama. Hal ini konsisten

dengan sifat Hamiltonian, yaitu tidak berubah terhadap perubahan waktu. Untuk

kasus dalam penelitian ini, dengan menggunakan data perbandingan ketebalan

lapisan atas dan lapisan bawah adalah 1/10, sedangkan perbandingan rapat massa

antar lapisan atas dan lapisan bawah adalah 1/5, memberikan nilai Hamiltonian masing-masing untuk kasus batas atas berupa permukaan rata dan berupa pemukaaan bebas adalah 9,1 x 10-7 dan 1.3 x 10-6 .

(6)

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2008 Hak cipta dilindungi Undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian Bogor.

(7)

KEKONSISTENAN HAMILTONIAN PADA GERAK

GELOMBANG INTERFACIAL

IHSANUDIN

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Departemen Matematika

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(8)

(9)

Judul Tesis : Kekonsistenan Hamiltonian pada Gerak Gelombang Interfacial

Nama : Ihsanudin

NIM : G551060261

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Jaharuddin, M.S. Drs. Ali Kusnanto, M.Si.

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

Matematika Terapan

Dr. Ir. Endar H. Nugrahani, M.S. Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S.

(10)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala

karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam

penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Nopember 2007 ini adalah gelombang

internal, dengan judul Kekonsistenan Hamiltonian pada Gerak Gelombang

Interfacial.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Jaharuddin, M.S dan

Bapak Drs. Ali Kusnanto, M.Si masing-masing selaku ketua dan anggota Komisi

Pembimbing, serta Ibu Dr. Ir. Endar H. Nugrahani, M.S selaku penguji luar

Komisi dan selaku ketua Program Studi Matematika Terapan yang telah banyak

memberikan saran. Ucapan terima kasih juga penulis disampaikan pada

Departemen Agama Republik Indonesia yang telah memberikan beasiswa.

Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada istri dan anak serta seluruh

keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya. Semoga karya ilmiah ini

bermanfaat

Bogor, September 2008

Ihsanudin

(11)

KEKONSISTENAN HAMILTONIAN PADA GERAK

GELOMBANG INTERFACIAL

IHSANUDIN

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(12)

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN

SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Kekonsistenan Hamiltonian pada Gerak Gelombang Interfacial adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, September 2008

Ihsanudin

(13)

ABSTRACT

IHSANUDIN. Hamiltonian Consistency of Interfacial Wave Motion. Under supervision of JAHARUDDIN and ALI KUSNANTO.

The interfacial wave is an internal wave that occurs at boundary of two layers fluid. It appears because there is difference of mass density between the two layers. The objective of this thesis is to formulate the motion of internal wave with flat base and flat as well as free upper bound surface. The motion equation obtained is a Hamiltonian system. The Hamiltonian in this system is expressed by variable of wave deviation and horizontal component of potential velocity. Under assumption that interfacial wave moves only in one direction, it can be shown that the Hamiltonian depends on the solution of the wave motion equation. The coefficients of the equation depend on the physical characteristics of the two layers of fluid, i.e. thickness and mass density. The numerical results show that Hamiltonian in the system is constant. It is consistent with Hamiltonian characteristic, which does not depend on time.

(14)

RINGKASAN

IHSANUDIN. Kekonsistenan Hamiltonian pada Gerak Gelombang Interfacial. Dibimbing oleh JAHARUDDIN dan ALI KUSNANTO.

Gelombang internal adalah suatu gelombang yang terjadi di bawah permukaan fluida, karena adanya perbedaan rapat massa pada setiap lapisan fluida. Perbedaan rapat massa air laut dapat disebabkan oleh perbedaan kadar garam dan temperatur pada setiap lapisan air laut. Perbedaan rapat massa dapat menimbulkan aliran partikel-partikel fluida. Aliran dari partikel-partikel fluida membentuk suatu gelombang yang disebut gelombang internal. Pada fluida dua lapisan, gelombang internal terjadi pada batas kedua lapisan fluida (interface). Gelombang internal ini disebut gelombang interfacial. Beberapa peneliti pernah mengamati adanya gelombang internal yang memiliki amplitudo 100 meter pada kedalaman kurang dari 1000 meter dengan panjang gelombang 1 kilometer sampai dengan 10 kilometer.

Dalam penelitian ini diformulasikan suatu persamaan gerak gelombang interfacial dengan batas bawah berupa dasar rata dan batas atas berupa permukaan rata dan juga batas atas berupa permukaan bebas. Persamaan gerak dinyatakan dalam suatu sistem Hamiltonian. Berdasarkan sistem Hamiltonian tersebut diturunkan suatu persamaan gerak gelombang yang merambat hanya dalam satu arah yang dinyatakan dalam peubah simpangan gelombang interfacial. Selanjutnya kekonsistenan dari Hamiltoniannya dikaji secara numerik.

Fluida yang ditinjau dalam penelitian ini adalah fluida ideal, yaitu fluida

yang tak mampat (incompressiable) dan tak kental (inviscid). Domain fluida

adalah fluida dua lapisan, dengan batas bawah berupa dasar rata dan batas atas berupa bidang sembarang. Berdasarkan hukum kekekalan massa dan hukum kekekalan momentum diturunkan persamaan dasar fluida dua lapisan yang dinyatakan dalam besaran potensial kecepatan. persamaan dasar fluida tersebut berupa persamaan Laplace yang berlaku pada seluruh domain. Sedangkan syarat batasnya adalah syarat batas kinematik dan syarat batas dinamik. Persamaan dasar yang diperoleh selanjutnya dinyatakan dalam sistem Hamiltonian dengan Hamiltonian (energi total) didefinisikan sebagai penjumlahan energi kinetik dan energi potensial. Salah satu sifat Hamiltonian yang ditinjau adalah bahwa besaran Hamiltonian tetap, artinya nilai Hamiltonian tidak berubah terhadap waktu.

Pada penelitian ini, formulasi Hamiltonian pada gerak gelombang interfacial dengan batas bawah berupa dasar rata dan batas atas ditinjau dua kasus, yaitu batas atas berupa permukaan rata dan batas atas berupa permukaan bebas. Formulasi yang dibuat melibatkan suatu operator Dirichlet-Neumann. Penyederhanaan dilakukan dengan menggunakan asumsi gelombang panjang dengan amplitudo kecil. Penyederhanaan ini memberikan suatu persamaan gerak gelombang yang merambat dalam dua arah. Selanjutnya ditinjau gelombang yang merambat hanya dalam satu arah, dan memberikan suatu sistem Hamiltonian. Hamiltonian dalam sistem ini dihitung secara numerik.

(15)

komponen kecepatan potensial dalam arah horizontal. Untuk gelombang interfacial yang ditinjau bergerak hanya dalam satu arah, sistem Hamiltonian yang

diperoleh merupakan suatu persamaan Korteweg-de Vries (KdV). Nilai

Hamiltonian dalam sistem Hamiltonian ini konstan terhadap waktu atau dengan kata lain tidak mengalami perubahan sampai waktu yang lama. Hal ini konsisten

dengan sifat Hamiltonian, yaitu tidak berubah terhadap perubahan waktu. Untuk

kasus dalam penelitian ini, dengan menggunakan data perbandingan ketebalan

lapisan atas dan lapisan bawah adalah 1/10, sedangkan perbandingan rapat massa

antar lapisan atas dan lapisan bawah adalah 1/5, memberikan nilai Hamiltonian masing-masing untuk kasus batas atas berupa permukaan rata dan berupa pemukaaan bebas adalah 9,1 x 10-7 dan 1.3 x 10-6 .

(16)

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2008 Hak cipta dilindungi Undang-undang

1. Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber

a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah.

b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian Bogor.

(17)

KEKONSISTENAN HAMILTONIAN PADA GERAK

GELOMBANG INTERFACIAL

IHSANUDIN

Tesis

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada

Departemen Matematika

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(18)

(19)

Judul Tesis : Kekonsistenan Hamiltonian pada Gerak Gelombang Interfacial

Nama : Ihsanudin

NIM : G551060261

Disetujui

Komisi Pembimbing

Dr. Jaharuddin, M.S. Drs. Ali Kusnanto, M.Si.

Ketua Anggota

Diketahui

Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana

Matematika Terapan

Dr. Ir. Endar H. Nugrahani, M.S. Prof. Dr. Ir. Khairil A. Notodiputro, M.S.

(20)

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala

karunia-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam

penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Nopember 2007 ini adalah gelombang

internal, dengan judul Kekonsistenan Hamiltonian pada Gerak Gelombang

Interfacial.

Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Jaharuddin, M.S dan

Bapak Drs. Ali Kusnanto, M.Si masing-masing selaku ketua dan anggota Komisi

Pembimbing, serta Ibu Dr. Ir. Endar H. Nugrahani, M.S selaku penguji luar

Komisi dan selaku ketua Program Studi Matematika Terapan yang telah banyak

memberikan saran. Ucapan terima kasih juga penulis disampaikan pada

Departemen Agama Republik Indonesia yang telah memberikan beasiswa.

Ungkapan terima kasih juga disampaikan kepada istri dan anak serta seluruh

keluarga, atas segala doa dan kasih sayangnya. Semoga karya ilmiah ini

bermanfaat

Bogor, September 2008

Ihsanudin

(21)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Serang pada tanggal 16 Februari 1979 dari ayah

A. Rif’adi Imku dan ibu Jawita Z. Penulis merupakan putra pertama dari enam

bersaudara.

Tahun 1997 penulis lulus dari SMA Negeri Ciruas, dan pada tahun yang

sama lulus seleksi masuk Universitas Diponegoro Semarang. Penulis memilih

Jurusan Matematika Terapan pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan

Alam dan selesai pada tahun 2002.

Tahun 2002 penulis menjadi staf pengajar di MTs Al-Khaeriyah

Kepandean-Serang. Pada tahun 2006 penulis lulus seleksi masuk Program

Magister Program Studi Matematika Terapan di Institut Pertanian Bogor melalui

(22)

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR GAMBAR ... xi DAFTAR LAMPIRAN ... xii

I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang ... 1 1.2 Tujuan Penelitian ... 2 1.3 Sistematika Penulisan ... 2

II LANDASAN TEORI

2.1 Persamaan Dasar Fluida ... 4 2.2 Fluida Dua Lapisan ... 5 2.3 Sistem Hamilton ... 7

III PEMBAHASAN

3.1 Formulasi Hamiltonian ... 13 3.1.1 Batas Permukaan Rata ... 13 3.1.2 Batas Permukaan Bebas ... 15 3.2 Gerak Gelombang Interfacial ... 17 3.2.1 Batas Permukaan Rata ... 17 3.2.2 Batas Permukaan Bebas ... 22 3.3 Kajian Numerik …………... 26

IV KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan ……….... 33

4.2 Saran ………..…… 34

DAFTAR PUSTAKA ... 35

(23)

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. Domain Fluida Dua Lapisan ... 6

2. Hamiltonian dari gerak gelombang interfacial dengan batas atas berupa

permukaan rata ... 30

3. Hamiltonian dari gerak gelombang interfacial dengan batas atas berupa

(24)

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

1. Hamiltonian dengan Batas Atas Rata ... 37

2. Hamiltonian dengan Batas Atas Bebas ... 39

3. Linearisasi Operator dengan Mathematica 5. 1 ... 43 4. Gerak Gelombang Interfacial dengan Batas Atas Rata ... 44

5. Gerak Gelombang Interfacial dengan Batas Atas Bebas ... 52

(25)

I PENDAHULUAN

1. 1 Latar Belakang

Gelombang merupakan suatu fenomena alam yang menarik untuk diamati.

Hal ini karena pengaruh yang ditimbulkan dapat merusak lingkungan dan

kehidupan manusia. Pada dasarnya gelombang dibagi dua jenis, yaitu gelombang

permukaan dan gelombang internal. Gelombang permukaan adalah suatu

gelombang yang terjadi di permukaan, yang merupakan batas antara air dan udara.

Gelombang internal adalah suatu gelombang yang terjadi di bawah permukaan,

karena adanya perbedaan rapat massa pada setiap lapisan fluida. Perbedaan rapat

massa air laut dapat disebabkan oleh perbedaan kadar garam dan temperatur pada

setiap lapisan air laut. Perbedaan rapat massa dapat menimbulkan aliran

partikel-partikel fluida. Aliran dari partikel-partikel-partikel-partikel fluida membentuk suatu gelombang

yang disebut gelombang internal.

Pada penelitian ini, fluida yang ditinjau adalah fluida ideal, yaitu fluida

yang tak mampat (incompressiable) dan tak kental (inviscid). Selain itu domain fluida diasumsikan terdiri dari dua lapisan. Pada fluida dua lapisan, gelombang

internal terjadi pada batas kedua lapisan fluida (interface). Gelombang internal ini

disebut gelombang interfacial. Sebagai contoh, gelombang yang terjadi pada

pencampuran air dan minyak.

Beberapa peneliti pernah mengamati adanya gelombang internal dengan

amplitudo lebih dari 100 meter pada kedalaman fluida kurang dari 1000 meter

dengan panjang gelombang 1 sampai dengan 10 kilometer [2]. Pengaruh dari

gelombang internal diantaranya adalah dapat mengakibatkan kerusakan pada tiang

penyangga kilang minyak lepas pantai seperti yang terjadi di Laut Andaman.

Kerusakan ini dapat diantisipasi, jika kekuatan gelombang internal di daerah

tersebut dapat diketahui.

Zakharov pada tahun 1968 mengkaji masalah gelombang permukaan air

pada laut dalam yang dapat ditinjau sebagai sistem Hamiltonian dan melibatkan

integral Dirichlet [9]. Selain itu, formulasi Hamiltonian pada fluida dua lapisan

yang masing-masing lapisan berupa fluida ideal dengan batas bawah dan batas

(26)

tahun 1997 [3]. Penelitian Zakharov dilanjutkan oleh Craig dan Sulem pada

masalah gelombang permukaan air dengan meninjau sistem Hamiltonian yang

melibatkan operator Dirichlet-Neumann dan sifat dari kecepatan potensial di

permukaan, dan hasil yang diperoleh lebih efisien [6]. Craig dan Groves

memperoleh hasil yang sama dengan yang dilakukan Benjamin dan Bridges dalam

masalah Hamiltonian pada fluida dua lapisan, tetapi melibatkan operator

Dirichlet-Neumann pada seluruh domain fluida baik lapisan atas maupun lapisan

bawah [4].

Pada penelitian ini akan diformulasikan gerak gelombang interfacial

dengan batas atas berupa permukaan rata dan batas atas berupa permukaan bebas

dengan menggunakan formulasi Hamiltonian dan melibatkan operator

Dirichlet-Neumann.

1.2 Tujuan Penelitian

Berdasarkan uraian di atas, tujuan dari penelitian ini adalah

memformulasikan gerak gelombang interfacial dengan batas atas berupa

permukaan rata dan juga batas atas berupa permukaan bebas dan batas bawah

berupa dasar rata dengan menggunakan formulasi Hamiltonian.

Berdasarkan sistem Hamiltonian yang diperoleh akan diturunkan

persamaan gerak gelombang yang merambat hanya dalam satu arah yang

dinyatakan dalam peubah simpangan gelombang interfacial. Selanjutnya,

berdasarkan persamaan gerak yang diperoleh akan dikaji kekonsistenan dari

Hamiltoniannya. Besarnya Hamiltonian pada setiap saat akan ditentukan secara

numerik dengan menggunakan pemotongan deret Fourier.

1.3 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan pada penelitian ini terdiri dari empat bab. Bab I

pendahuluan terdiri dari latar belakang, tujuan penelitian, dan sistematika

penulisan.

Bab II landasan teori terdiri dari persamaan dasar fluida, fluida dua

lapisan, dan sistem Hamilton. Bab III pembahasan terdiri dari formulasi

(27)

permukaan bebas, gerak gelombang interfacial dengan batas atas berupa

permukaan rata dan batas atas berupa permukaan bebas, dan kajian numerik.

(28)

II LANDASAN TEORI

Pada bagian ini akan diuraikan beberapa konsep yang mendasari penelitian

ini. Konsep dinamika fluida akan disajikan dari pustaka [5] dan [1], sedangkan

teori sistem Hamiltonian dirangkum dari pustaka [7] dan [8].

2.1 Persamaan Dasar Fluida

Persamaan dasar fluida diturunkan dengan menggunakan hukum

kekekalan massa dan hukum kekekalan momentum. Menurut hukum kekekalan

massa, laju perubahan massa dalam suatu sel adalah selisih antara massa yang

masuk dan massa yang keluar dari sel tersebut. Sedangkan hukum kekekalan

momentum menyatakan bahwa laju keseimbangan momentum adalah selisih

antara momentum yang masuk dengan yang keluar ditambah dengan gaya-gaya

yang bekerja pada sel tersebut.

Misalkan gerak partikel fluida dinyatakan dalam dua dimensi dengan

kecepatan partikel dalam arah horizontal dan vertikal berturut-turut adalah u(x,y,t)

dan w(x,y,t). Fluida memiliki rapat massa ( , , )x y t dengan x, y, dan t berturut-turut menyatakan koordinat horizontal, koordinat vertikal, dan waktu.

Berdasarkan hukum kekekalan massa diperoleh persamaan kontinuitas

berikut

0

t u x w y (2.1)

0,

x y

u w (2.2)

dan hukum kekekalan momentum memberikan persamaan Euler berikut

(ut uux wuy) px 0

(2.3)

(wt uwx wwy) py g 0, (2.4)

dengan p dan g berturut-turut menyatakan tekanan dan percepatan grafitasi.

Berdasarkan asumsi fluida tak berotasi (irrotational), yaitu q 0

dengan q u w , maka terdapat fungsi skalar yang disebut fungsi kecepatan

potensial, sehingga q x y . Jadi persamaan (2.2) dapat ditulis

0

(29)

Syarat batas untuk gerak partikel fluida adalah syarat batas kinematik dan

syarat batas dinamik. Syarat batas kinematik diturunkan berdasarkan gerak

partikel fluida. Misalkan y 0( , )x t adalah kurva yang membatasi air dan udara

dan dinyatakan oleh persamaan permukaan S x y t( , , ) 0 dengan

0

( , , ) ( , )

S x y t x t y. Jika diasumsikan tidak ada partikel fluida yang

menembus permukaan, maka berlaku DS 0 ,

Dt dengan

D

u w

Dt t x y.

Sehingga diperoleh syarat batas kinematik pada permukaan fluida berikut

0t x 0x y 0

di y 0( , )x t . (2.6)

Sedangkan syarat batas kinematik di dasar fluida yang rata (y h) adalah

0

y di y h. (2.7)

Syarat batas dinamik hanya berlaku pada permukaan saja, diturunkan

berdasarkan persamaan Euler dengan asumsi fluida tak kental (invicid) dan

tekanan di permukaan sama dengan tekanan udara, misalnya nol. Jadi syarat batas

dinamik adalah

2 2 0

1

( ) 0

2 x y g

t

di y 0( , )x t , atau

2 0

1

0

2 g

t

di y 0( , )x t . (2.8)

2.2 Fluida Dua Lapisan

Fluida dua lapisan adalah fluida yang terdiri atas dua lapisan yang

masing-masing mempunyai rapat massa yang konstan. Tinjau fluida dua lapisan dengan

domain fluida adalah titik (x, y) dengan h2 y h1 1( , )x t . Misalkan

domain fluida dibagi menjadi dua daerah, yaitu

(i). S t1( , , )2 1 ( , ) :x y 2( , )x t y h1 1( , )x t (ii). S t2( , 2) ( , ) :x y h2 y 2( , )x t .

Misalkan fluida lapisan atas dan bawah masing-masing memiliki rapat

massa 1dan 2 dengan 2 1. Fungsi 1( , )x t dan 2( , )x t berturut-turut

(30)

interfacial. Sedangkan fungsi 1 x y t, , dan 2 x y t, , berturut-turut menyatakan kecepatan potensial pada lapisan atas dan lapisan bawah dengan batas

[image:30.612.188.474.169.298.2]

atas y h1 1( , )x t dan batas bawah y h2, seperti yang diberikan pada

Gambar 1.

Berdasarkan asumsi fluida tak berotasi (irrotational), diperoleh persamaan

berikut

1xx 1yy 0 pada S t1( , 2, 1)

2xx 2yy 0 pada S t2( , 2). (2.9)

Syarat batas kinematik pada dasar fluida yang rata (y = - h2)adalah

2y 2 N2 0 di y = -h2 , (2.10)

dengan N2 0 1T, yakni vektor normal satuan di y = -h2. Syarat batas

kinematik di y 2( , )x t adalah

1 2 2

2 2 2 2 2 2 2

1 2 2

2 1 2 1 1 2 2

1

( ) 1

t y x x x

t y x x x

N N

di y 2( , )x t , (2.11)

dengan 2 2

2 2

1

1 1

T x x

N , yakni vektor normal satuan di y 2( , )x t .

Syarat batas dinamik di y 2( , )x t adalah

2 1

2

2 2 2 2

2 1

2

1 1 1 2

( )

( )

t

t g

g

diy 2( , )x t . (2.12) h1

h2

1 1 ,

y h x t

2 ,

y x t

2

1

x 0

- h2

h1

(31)

Berikut ini akan ditinjau dua kasus untuk batas atas fluida, yaitu (i) batas

atas berupa permukaan rata (y h1) dan (ii) batas atas berupa permukaan bebas

1 1( , )

y h x t . Pada kasus batas atas berupa permukaan rata diperoleh

1y 1 N1 0

di y h1, (2.13)

dengan N1 0 1T, yakni vektor normal satuan di y h1. Pada kasus batas atas

berupa permukaan bebas diperoleh

1 2 2 1t 1y 1x 1x 1 N1 1 x 1

di y h1 1( , )x t , (2.14)

dengan 1 1

2 1

1

1 1

T x x

N , yakni vektor normal satuan di y h1 1( , )x t .

Syarat batas dinamik di permukaan bebas y h1 1( , )x t adalah

2 1

2

1t 1 g 1 0 di y h1 1( , )x t , (2.15)

dengan menganggap tekanan permukaan sama dengan tekanan udara yang

diasumsikan nol.

2.3 Sistem Hamiltonian

Didefinisikan fungsi pada ruang M, yaitu pemetaan H M: R dengan

( ) ( , . ,x xx,...) ,

H v h x v v v dx v M , (2.16)

dan h adalah fungsi sembarang dari v beserta turunannya. Turunan variasi dari fungsional H terhadap v didefinisikan sebagai berikut. Jika terdapat operator

simetri miring di ruang M sehingga untuk setiap bilangan real berlaku

0 ,

d

H v s sdx s M

d , (2.17)

maka disebut turunan variasi dari H terhadap v, ditulis dengan notasi vH .

Turunan variasi vH dapat ditentukan dengan cara berikut. Perhatikan

fungsional

, , x x, xx xx,... .

(32)

Misalkan r v s, maka diperoleh

2 2

...

...

... .

x xx

x xx

x xx

x xx

x x

dr dr

dH h dr h h

dx

d r d r d r d

h h h

s s s dx

r r r

h d h d h

s dx r dx r dx r

Setelah dilakukan integrasi parsial berulang dan untuk 0, diperoleh

2

2 ...

v

x xx

h d h d h

H

v dx v dx v . (2.19)

Selanjutnya operator :M M disebut operator simetri miring, jika

, , , ,

v s v s v s M , (2.20)

dengan , adalah notasi untuk perkalian dalam. Pada penelitian ini perkalian

dalam yang digunakan berbentuk

, , ,

v s vsdx v s M. (2.21)

Suatu persamaan diferensial parsial dikatakan sebagai sistem Hamiltonian

jika terdapat fungsional H dan sehingga persamaan diferensial parsial tersebut dapat ditulis dalam bentuk

tv vH. (2.22)

Hamiltonian H merupakan besaran yang tetap, artinya jika v(x,t)

merupakan penyelesaian dari persamaan (2.22), maka nilai H(v(x,t)) tidak berubah

terhadap waktu. Penjelasan mengenai hal ini adalah sebagai berikut.

Jika r v tv, maka

0

0 0

0

,

, t ,

dH r

d r

H v x t

dt dr t

dH r r dH r

dr d

d

H v x t v d

(33)

sehingga diperoleh

,

v t

dH

H v

dt . (2.24)

Jika persamaan (2.22) disubsitusikan ke persamaan (2.24), maka diperoleh

,

v v

dH

H H

dt . (2.25)

Karena operator simetri miring, maka vH, vH 0, sehingga

0

dH

dt . (2.26)

Hal ini menunjukan bahwa nilaiH v x t, tidak berubah terhadap waktu t.

Berikut ini akan dibahas sistem persamaan diferensial yang merupakan

sistem Hamiltonian. Didefinisikan fungsional H adalah

1 2 1 2, 1 2 1

( , ) ( , , x, x, xx,....)

H v v h x v v v v v dx , (2.27)

dengan h fungsi sembarang dari v1 dan v2 beserta turunannya. Turunan variasi

dari fungsi H terhadap v1, yaitu

1

vH , memenuhi

1

1 1 2 1 1

0

, v , ,

d

H v s v H s s M

d , (2.28)

dan turunan variasi dari fungsi H terhadap v2, yaitu

2

v H, memenuhi

2

1 2 2 2 2

0

, v , ,

d

H v v s H s s M

d . (2.29)

Suatu sistem persamaan diferensial parsial dikatakan sistem Hamiltonian,

jika terdapat fungsional H dan operator simetri miring sehingga sistem

persamaan diferensial parsial tersebut dapat ditulis dalam bentuk

1

2

1 11 12

21 22 2

,

v t

v H v

v H . (2.30)

Sebagai contoh, diberikan persamaan diferensial parsial berikut

0

0

x t

x A

u B u , (2.31)

dengan A dan B adalah konstanta positif. Persamaan (2.31) dapat dinyatakan

(34)

0

, 0

x t

x u

H

u H (2.32)

dengan Hamiltonian H didefinisikan oleh

2 2

1 2

H Au B dx. (2.33)

Contoh lainnya adalah sistem Hamiltonian yang diberikan oleh persamaan

diferensial parsial berikut

2

1

2

1

2 1 2 1

0 0 0

0 0 0

,

0 0 0

0 0 0

x x t

x u

x u

H H

u H

u H

(2.34)

dengan Hamiltonian

2 2 2 2

2 1 2 1 2 1

1

2 2

H Au Bu u Cu dx, (2.35)

atau

2 2 2 2

1 1 1 1

0 1

0 2

T T

u u

I A B

H dx

I u B C u . (2.36)

Kemudian, jika dua vektor v dan y memenuhi v = By dengan B suatu matriks, maka hubungan sisitem Hamiltonian kedua vektor tersebut diberikan

pada proposisi berikut.

Proposisi 1

Misalkan y memenuhi persamaan ty yH.

Jika v memenuhi v = By,maka tv vH,

dengan

*

( ) ( ).

B B H v H y

(35)

Sebagai contoh, didefinisikan transformasi berikut

r F

s u , (2.37)

dengan

4 4

4 4

4 4

4 4

B A

A B

F

B A

A B

. (2.38)

Dalam hal ini

, , ,

v r s y u , 0

0

x x

. (2.39)

Berdasarkan persamaan (2.32) dan proposisi 1 diperoleh

tv yH, (2.40)

dengan

*

.

F F H v H y

Sebagai contoh lain, didefinisikan transformasi berikut

2 2

1 1

2 2

1 1

R

v u

v u

, (2.41)

dengan

1

0 0

0 0

0 0

0 0

T a b

a b

R R

a b a b

(36)

dan

1

2 2

2

1

2 2

2 2

2 1

2 2

1

1 2 1

2 2 2

.

a

b

C A B

Dalam hal ini

2, 1, 2, 1 , 2, 1, 2, 1 ,

v v v y u u

0 0 0

0 0 0

0 0 0

0 0 0

x x x

x

.

Berdasarkan persamaan (2.34) dan proposisi 1 diperoleh

tv yH,

atau

2

1

2

1

2 1 2 1

0 0 0

0 0 0

,

0 0 0

0 0 0

x x t

x v

x v

H H

v H

v H

(2.43)

dengan

2 2

2 2 2 2

2 1 2 1 2 0 2 1 0 1

1

, , , ,

2

H v v c v c v dx (2.44)

dan

2 2 2

0

1

4 2

(37)

III PEMBAHASAN

Pada penelitian ini akan dibahas formulasi Hamiltonian bagi gerak

gelombang interfacial. Pembahasan dibagi dalam dua kasus yaitu kasus pertama

dengan batas atas berupa permukaan rata dan kasus kedua dengan batas atas

berupa permukaan bebas. Hamiltonian H didefinisikan sebagai energi total, yaitu

penjumlahan energi kinetik K dan energi potensial P yang dinyatakan oleh

.

H K P (3.1)

3.1 Formulasi Hamiltonian

3.1.1 Batas Permukaan Rata

Pada gerak gelombang interfacial dengan batas atas berupa permukaan

rata, energi kinetik K dan energi potensial P berturut-turut didefinisikan sebagai berikut

2 1

2 2

( )

2 2

1 1

2 2 2 2 1 1

( )

x h

h x

K dy dx dy dx, (3.2)

2 1

2 2

2 2

2 1

2 2( ) 2 1 .

x h

h x

P g y dydx g y dydx

g x dx

(3.3)

Selanjutnya, energi kinetik direduksi menggunakan operator

Dirichlet-Neumann untuk lapisan bawah (S t2( , 2)). Misalkan 1( )x 1( ,x 2( ))x dan

2( )x 2( ,x 2( ))x . Definisikan operator Dirichlet-Neumann untuk domain

fluida lapisan bawah sebagai berikut

1 2 2 2 2 2 2 2 1 x 2

G N

(3.4)

1 2 2 1 2 1 2 2 1 x 2

G N , (3.5)

dengan 2 2

2 2

1

1 1

T x x

(38)

Jadi energi kinetik pada persamaan (3.2) dapat dinyatakan berikut

1 1

2 2 2 2( 2) 2 2 1 1 1( 2) 1

K G G dx. (3.6)

Berdasarkan definisi operator Dirichlet-Neumann, syarat batas kinematik

pada persamaan (2.9) dapat dinyatakan oleh

2 2 2 2 2 1 2 1,

t t

G

G (3.7)

dengan penyelesaian masing-masing berbentuk 1 G11( )2 2t dan

1

2 G2 ( )2 2t. Selanjutnya, definisikan Lagrangian L = K - P, maka dengan

menggunakan persamaan (3.3) dan (3.6), diperoleh

1 1

2 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 2

2 1 2

1

( , ) ( ( ) ( ) )

2

1

( ) ( ) .

2

t t t t t

L G G dx

g x dx

(3.8)

Definisikan peubah

2

2( )x tL, diperoleh

1 1

2 2 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 1

( ) ( ) ( )

( ) ( ),

t t

x G G

x x (3.9)

dan berdasarkan persamaan (3.7) dan (3.9), diperoleh

1 2 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2 2 1

( ) ( ( ) ( ))

( ) ( ( ) ( )) ,

G G G

G G G

(3.10)

sehingga Hamiltonian H pada persamaan (3.1) menjadi

1 1

2

2 2 2 1 2 1 2 2 2 1 2 2 2 2 2

1

2 2 1 2

( , ) ( ) ( ) ( ) ( )

( ) .

H G G G G dx

g dx

(3.11)

Jadi sistem persamaan bagi gerak gelombang interfacial dinyatakan dalam

sistem Hamiltonian berikut

2 2

2 , 2

t H t H. (3.12)

Persamaan (3.12) merupakan sistem persamaan tak linear dengan Hamiltonian H

diberikan pada persamaan (3.11). Penurunan persamaan (3.8), (3.9), (3.10), dan

(39)

3.1.2 Batas Permukaan Bebas

Formulasi Hamiltonian untuk gerak gelombang interfacial dengan batas

atas berupa permukaan bebas memiliki Lagrangian yang bergantung pada 1( , )x t

dan 2( , )x t . Energi kinetik K dan energi potensial P pada kasus ini berturut-turut didefinisikan

2 1 1

2 2

( ) ( )

2 2

1 1

2 2 2 2 1 1

( )

x h x

h x

K dy dy dx, (3.13)

2 1 1

2 2

2 2

2 2

1 1

2 ( 2 1) 2( ) 2 1 1 1( ) .

x h x

h x

P g y dy dx g y dy dx

g x g h x dx

(3.14)

Selanjutnya, definisikan 1( )x 1( ,x 2( ))x , 2 2( ,x 2( ))x , dan

3 1( ,x h1 1( ))x . Operator Dirichlet-Neumann untuk domain fluida lapisan

bawah (S t2( , 2)) adalah

1 2 2 2( 2) 2( ) 2 (1 ( x 2) )

G x N dan operator

Dirichlet-Neuman untuk domain fluida lapisan atas (S t1( , 2, 1)) didefinisikan oleh 1 2 1 2 2

1 2 2

1 11 12

2 21 22 3

1 1 1

( . ) (1 ( ( )) ) ( )

, ( ) ( . ) (1 ( ( )) )

x

x

N x

x

G G

G G x N x (3.15)

dengan 1 1

2 1 1 1 1 T x x

N dan 2 2

2 2 1 1 1 T x x N berturut-turut

menyatakan vektor normal satuan di y h1 1 dan y 2. Jadi energi kinetik

pada persamaan (3.13) dapat dinyatakan berikut

1 11 12 1

1 1

2 2 2 2 2 2 2 1

21 22

3 3

( )

T

G G

K G dx

G G . (3.16)

Berdasarkan Operator Dirichlet-Neumann pada persamaan (3.4) dan

(3.15), maka syarat batas kinematik (3.7) untuk 2berlaku, sedangkan persamaan

(2.9) dan (2.12) berturut-turut menjadi

2 11 1 12 3 1 21 1 22 3

( )

.

t t

G G

(40)

Dengan menggunakan persamaan (3.14) dan (3.16), Lagrangian diperoleh

dalam bentuk

1

2 11 12 2

1

2 2 2 2 2 1

21 22

1 1

2 2

2 1 2 1 1 1

1 ( ) 2 1 1 ( ) ( ) ( ) . 2 2 T t t t t t t R R G G

L G dx dx

G G

g x dx g h dx

(3.18)

Definisikan

1

1 tLdan 2 2tL, maka diperoleh

1 1

2

2 2 2 2 11 12

2 1

21 22

1 1

2 2 1 1 1 3 ( ) 0 . t t t G G G G G (3.19)

Dengan menggunakan persamaan (3.19), maka persamaan (3.16) dapat ditulis

2 1

2 2 11 12

21 22 3

1 1 1

1 1 2 2 T T t t G G

K dx dx

G G . (3.20)

Penyelesaian persamaan (3.15) dan (3.19) untuk 1, 2, dan 3 dalam variabel

2, 1 adalah

2 1

1

1 2 2 2 12 1

1

2 11 2 12 1 1

3 1

( ( ) )

( )

B G G

B G G (3.21)

dengan B 2G11 1G2( 2).

Jadi persamaan (3.20) dapat dinyatakan oleh

2

1 1

1 1

11 2 2 2 2 12

2 2

1 1 1

21 2 2 22 21 12

1 1 ( ) ( ) 1 ( ) 2 T

G B G G B G

K dx

G B G G G B G . (3.22)

Sehingga Hamiltonian diperoleh dalam bentuk

2

1 1

1 1

11 2 2 2 2 12

2 2

1 1 1

21 2 2 22 21 12

1 1

2 2

2 1 2 1 1 1

( ) ( ) 1 ( ) 2 1 1 ( ) ( ) ( ) . 2 2 T R R

G B G G B G

H dx

G B G G G B G

g x dx g h dx

(41)

Jadi sistem persamaan gerak untuk gelombang interfacial dengan batas

atas berupa permukaan bebas dinyatakan oleh sistem Hamiltonian berikut

2 2

1 1

2 2

1 1

,

, .

t t

t t

H H

H H (3.24)

Persamaan (3.24) merupakan sistem persamaan tak linear dengan Hamiltonian H

diberikan pada persamaan (3.23). Penurunan persamaan (3.18), (3.19), (3.20),

(3.22), dan (3.23) dapat dilihat di Lampiran 2.

3.2 Gerak Gelombang Interfacial

3.2.1 Batas Permukaan Rata

Berikut ini akan diturunkan persamaan gerak gelombang interfacial

dengan batas atas berupa permukaan rata menggunakan asumsi gelombang

panjang dan amplitudo kecil sehingga diperkenalkan parameter kecil pada

penskalaan berikut

' 2 ' 2

2 2 2

' , ,

x x , (3.25)

yang memberi pengertian bahwa 2 dan u x 2 berorde sama, yaitu O( 2).

Parameter dan penskalaan tersebut akan diaplikasikan pada bentuk Hamiltonian

persamaan (3.11). Agar bentuk Hamiltonian H dinyatakan secara eksplisit, maka

opertor Dirichlet-Neumann pada persamaan (3.4) dan (3.5) dinyatakan dalam

uraian deret Taylor yang masing-masing berbentuk

2 2 2 2 2 2 2

2 3 2

1 2 1 2 1 2 1

2 3 2

tanh tanh tanh

,

tanh tanh tanh

,

G D h D D D D h D D h D

O D

G D h D D D D h D D h D

O D

(3.26)

dengan D i x. Penurunan persamaan (3.26) dapat dilihat pada pustaka [5].

Jika persamaan (3.25) digunakan, maka persamaan (3.26) yang masing-masing

(42)

' ' '

2 2 2

4 ' ' ' ' ' ' ' ' 8

2 2 2 2

2 ' 2 4 3 ' 4 ' ' '

2 2 2

6 5 ' 6 2 ' 2 ' ' 2 8

2 2 2

tanh tanh tanh 1 3 2 , 15

G D h D

D D D h D D h D O

h D h D D D

h D h D D O

(3.27)

dan

' ' '

1 2 1

4 ' ' ' ' ' ' ' ' 8

2 1 2 1

2 ' 2 4 3 ' 4 ' ' '

1 1 2

6 5 ' 6 2 ' 2 ' ' 2 8

1 1 2

tanh tanh tanh 1 3 2 . 15

G D h D

D D D h D D h D O

h D h D D D

h D h D D O

(3.28)

Selanjutnya definisikan operator B sebagai berikut

2 1( 2) 1 2( 2)

B G G . (3.29)

Berdasarkan persamaan (3.27) dan (3.28), operator B menjadi

2 2

1 2 2 1

4 ' 3 3 4

1 2 2 1 2 2 1

6 5 5 6 2 2

1 2 2 1 1 2 2 1 2 ' 2 8

2 ' 1 ' ' ' 3 2 ' 15 ' ' .

B h h D

D D h h D

h h D h h

D D O

(3.30)

Sedangkan invers dari operator B adalah

1 1

2

1 2 2 1 3 3

2 1 2 2 1 2 1 2 ' 2 1 2 2 1 1 2 2 1

5 5 2 2

4 '

1 2 2 1 1 2 2 1 2 1 2 2 1 1 2 2 1 4

2 3 3

2 ' 6

1 2 2 1 1 2 2 1 2 2 1 1 2 2 1

1 ' 1 1 ' 3 2 ' ' ' 15 1 ' 3 B D h h h h D

h h h h

h h h h

D D D

h h h h

h h

D O

h h h h

1

' .

D

(3.31)

(43)

Integrand pada Hamiltonian dalam persamaan (3.11) berupa fungsi dari

operator G1 2 B G1 2 2 , sehingga dengan menggunakan penskalaan (3.25)

dan persamaan (3.27), (3.28) dan (3.30), maka persamaan (3.11) menjadi

4

2 2

2 1

2 2 2 2 2 1 2

1 2 2 1 2

4 2 1

1 1 2 2 6

1 2 2 1 7

2 2 2 2

2 1 1 2 2 2 1 2 2 1

, 2 1 3 , 2

h h dx

H D

h h

h h

h h D

h h dx

O h h D D h h

(3.32)

setelah tanda aksen dihilangkan. Dengan mengunakan turunan variasi terhadap

Hamiltonian H pada persamaan (3.32), maka persamaan (3.12) menjadi

2 3 2 2 2 1 2 1 2 2 1

2

2 1 2 2 1 1 4

2 2

1 2 2 1 2

2 2

2 1 1 2

2 2

2 1 2 2 1 3

2

2 2

2

2 2 1 1 2

2 1 2 2 2

1 2 2 1 1 3 , . 2 t x x x x t x H h h h h

h h h h

h h h h h h H h h g h h (3.33)

Penurunan persamaan (3.32) dan (3.33) dapat dilihat di Lampiran 4. Bentuk

Hamiltonian H pada persamaan (3.32) dapat dinyatakan dalam peubah 2 dan u

sebagai berikut

4

2 2

2 1

2 2 1 2

1 2 2 1 2 6

2 2 1

1 1 2 2 1 2 2 1

2 2

6

2 2 1 1 2

2 2 1 2 2 1

, 2 1 2 3 . 2 x

h h dx

H u u g

h h

h h dx

h h u

h h

h h dx

u

h h

(44)

Dengan mengunakan turunan variasi terhadap Hamiltonian H pada persamaan (3.34), maka persamaan (3.33) menjadi

2 1

1 2 2 1 2

2 1 2 2 1 1 2 2 2

1 2 2 1 2

2 2

2 1 1 2 2 2 1 2 2 1

2 2

2

2 1 1 2

2 1 2 2

1 2 2 1 1

3

. 2

x

t x

t x

h h u

h h

h h h h

u

h h

h h

u

h h

h h

u g u

h h

(3.35)

Persamaan (3.35) merupakan persamaan gerak gelombang interfacial

dengan batas atas berupa permukaan rata yang merambat dalam dua arah.

Persamaan (3.35) sering disebut sebagai persamaan Boussinesq. Penurunan

persamaan (3.34) dan (3.35) dapat dilihat di Lampiran 4.

Berikut ini akan dibahas persamaan gerak gelombang interfacial yang

merabat hanya dalam satu arah. Untuk membahas gerak gelombang tersebut,

maka berikut ini akan dibahas lebih dahulu bentuk eksplisit persamaan gerak

gelombang yang merambat dalam dua arah. Untuk itu, didefinisikan transformasi

berikut

2 1 1 2 2 1 2 1

4 4

2 1 2 1 1 2 2 1 2

2 1 1 2 2 1 2 1

4 4

2 1 2 1 1 2 2 1

4 4

4 4

g h h h h

h h g h h

r

s g h h h h u

h h g h h

, (3.36)

dengan r dan s masing-masing menyatakan simpangan gelombang yang bergerak

dalam arah kanan dan kiri. Dengan menggunakan persamaan (3.36), persamaan

(45)

3 2

7 4

4

2 1 2 1 2 2

1 2 2 1

6

2 1

2 1 1 2 2 1 1 2 2 1

2 2

2 1 1 2

2 2

1 2 2 1

2 1 3 2 2 3

4 2 1 , 2 1 2 6 1 2 2 2 .

x x x x

g h h dx

H r s r s

h h

h h

g h h

h h

h h

r r s s

h h

g dx

r r s rs s

h h

(3.37)

Dengan mengunakan turunan variasi terhadap Hamiltonian H pada persamaan

(3.37), maka persamaan (3.35) menjadi

3 2

7 4

2 1 2 1 1 2 2 1 2

3 3 2 1

2 1 1 2 2 1 1 2 2 1

2 2

2

2 1 1 2 2 1 2 2

4

2 1 1 2 2 1

6

3 2 ,

4 2

t x

x x

x

g h h

r r

h h

h h

g h h r s

h h

h h g

r rs s h h h h (3.38) 3 2 7 4

2 1 2 1 1 2 2 1 2

3 3 2 1

2 1 1 2 2 1 1 2 2 1

2 2

2

2 1 1 2 2 1 2 2

4

2 1 1 2 2 1

6

2 3 .

4 2

t x

x x

x

g h h

s s

h h

h h

g h h r s

h h

h h g

r rs s h h

h h

(3.39)

Penurunan persamaan (3.37), (3.38) dan (3.39) dapat dilihat di Lampiran 4.

Selanjutnya asumsikan gelombang yang ditinjau bergerak dalam arah

kanan, sedangkan arah kiri relatif kecil, sehingga s O( 2). Dengan demikian persamaan gerak gelombang interfacial yang bergerak hanya dalam arah kanan

(46)

3 2

7 4

2 1 2 1 1 2 2 1 2

3 2 1

2 1 1 2 2 1 1 2 2 1

2 2

2

2 1 1 2 2 1 4

2 1 1 2 2 1

6

, 2 2

t x

x

x

g h h

r r

h h

h h

g h h r

h h

h h g

r r h h

h h

atau

2 2

0 0

t x x xxx

r c r rr r (3.40)

dengan

3 2

7 4

2 1 2 1 0

1 2 2 1 2 1

2 1 1 2 2 1 1 2 2 1

2 2

2 1 1 2 2 1

4

2 1 1 2 2 1

1 6

1

. 2 2

g h h

c

h h

h h

g h h

h h

h h g

h h

h h

(3.41)

Persamaan (3.40) merupakan persamaan gerak gelombang interfacial dengan

batas atas berupa permukaan rata yang merambat hanya dalam arah kanan saja.

Persamaan (3.40) sering disebut persamaan KdV.

3.2.2 Batas Permukaan Bebas

Berikut ini akan diturunkan persamaan gerak gelombang interfacial

dengan batas atas berupa permukaan bebas menggunakan asumsi gelombang

panjang dan amplitudo kecil sehingga diperkenalkan parameter kecil pada

penskalaan berikut

' 2 ' 2 ' 1 ' 1

2 2 2 1 2 1

' , , , ,

(47)

Dengan menggunakan penskalaan (3.42), maka persamaan (3.23) menjadi

3

2 2 2 2 2

2 1 2 1 1 2 2 1

2 2

2 2

2

2 2

1 2 2 1 1 2 2 2 1 1 2

2 1 2

2

2 2

2

2 2 1 2 1 2 1 2 1 2

2 2

2

2 3 3 2 2 2

2 1 1 2 2 1 2 2 1 1 2 1 1 2

2 1

2 2 2

2

2 2 2 2 1

2 2 2 1

2 2

1

3 3

2 6 3

3 3 3 3 2 x x x x h h

H g g u u u

h

h h u h h u

h

h h h h u u

h h h h h h u

u u u 2 1 2 12

2 2 7 1 1 1 , u

u dx O

(3.43)

setelah tanda aksen dihilangkan. Dengan mengunakan turunan variasi terhadap

Hamiltonian H pada persamaan (3.43), maka persamaan (3.24) memberikan

sistem persamaan berikut

2 2

2 2

2 2 1 2 2 2 1

2 2 2 2

2

3 2 3

2 2 1 2 1 2 1 2

2 2

3 2 2 3

2 1 1 2 1 2 2 1 1 2

2

2 2

2 2 1 2 2 2 2 1

2 2

2

2 1 1 1 2 1

2

1 2 1 2 2 1 1

2 2 1

3 3

2 6 3

6

1

t x x x x

x x

x

t x x x

x

t x x

h h

u u u u

h h h u u

h h h h h u

u g u u u u

u u h

u h h u

2

2 2 2

2 2

1 2 2 1 1 1

2 1 1

2

3 2 2 3

2 2 1 2 1 2 1 2 2 2

2 2

2 3 3 2 2 2 3

2 1 2 1 2 1 2 2 1 1 1 2 1 2

2 1

2

1 1 1 1 1

2

2 6 3

6 3 3 6 . x x x x x

t x x

u

u u

h h h h h u

h h h h h h u

u g u u

(3.44)

(48)

Selanjutnya didefinisikan transformasi

2 1 '

2 1 2

'

1 1

'

2

2 2 1

'

1 1

1

0 0 0

0 0 0

1

0 0 0

1

0 0 0

g

g

u

u g

u u

g

(3.45)

dan

2 2

1 1

2 2

1 1

0 0

0 0

0 0

0 0

a b a b

v a b u

v a b u

, (3.46)

dengan

2 2

1

, ,

1 1

d

a b

d d

(3.47)

dan

2 1 2 1

2 1

1 1 1

1 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 1 2 1 2

1

4 .

d h

h h h h h h h

(3.48)

Misalkan batas atas permukaan bebas berupa gelombang dengan

amplitudo yang jauh lebih kecil dari amplitudo gelombang interfacial yang

ditinjau, maka diperkenalkan penskalaan berikut

' '

1 1, v1 v1. (3.49)

Dengan demikian Hamiltonian H pada persamaan (3.43) menjadi

3

2

2 2

2 0 2

2 2

2 2 2 2 7

1 0 1 2 2 2

2

,

x

H c v

c v D v N v dx O

(49)

dengan

2 2

0 2 1 2 1 2 1 2 1

2

2 2

2 1 2 2 1 1 2

2 2

2 2

1 2 1 2 2 1 2 1 2 1 2

2

2

2 3 3 2 2 2

2 1 2 1 2 2 1 2 1 1 2 1 2

2

3 2

2 1 1

2 2 2 3 2 1 2 1 1 4 , 2 3 3

2 6 3

3

3 3 ,

3

2

,

c g h h h h h h

gh

D h h a

gh

h h h h a b

g

h h h h h h b

g g

N a a b

g g

a b b

(3.51)

setelah tanda aksen dihilangkan. Dengan menggunakan turunan variasi terhadap

Hamiltonian H pada persamaan (3.50), maka persamaan (3.44) menjadi

2 2 2

2 0 2 2 2 2

2 2

2 2 2

2

1 0 1

1 1

1 2

.

t x x

t x

t x

t x

c v D v N v

v Nv

c v v

(3.52)

Persamaan (3.52) merupakan persamaan gerak gelombang interfacial dengan

batas atas berupa permukaan bebas yang merambat dalam dua arah (persamaan

Boussinesq). Penurunan persamaan (3.50) dan (3.52) dapat dilihat di Lampiran 5. Berikut ini akan dibahas persamaan gerak gelombang interfacial dengan

batas atas berupa permukaan bebas yang bergerak hanya dalam satu arah. Untuk

membahas gerak gelombang tersebut, maka berikut ini akan dibahas lebih dahulu

bentuk eksplisit persamaan gerak gelombang yang merambat dalam dua arah,

sehingga diperkenalkan transformasi berikut

2 0 2 0 2 0 2 0 4 1 4 4 4 2 2 4 1

4 4 4

c c

c c

r

(50)

dengan r dan s masing-masing menyatakan simpangan gelombang yang bergerak dalam arah kanan dan kiri.

Selanjutnya asumsikan gelombang yang ditinjau bergerak dalam arah

kanan, sedangkan arah kiri relatif kecil, sehingga s O( 2). Sehingga dengan

menggunakan persamaan (3.53), Hamiltonian H pada persamaan (3.50) menjadi

3 2 0 5

2 2

2 2 3

1 0 1

0 0

2

.

2 2 x 2 2

H c r dx

D N

c v r r dx

c c

(3.54)

Dengan menggunakan turunan variasi terhadap Hamiltonian H pada persamaan

(3.54), maka persamaan (3.52) menjadi

2 3 2

0

0 0

2 2 2

t x x x

D N

r c r r r r

c c ,

atau

2 2

0 0

t x x xxx

r c r rr r , (3.55)

dengan

0 0

0 0

3

, ,

2 2 2

D N

c c

c c , (3.56)

dimana c0 , D, dan N diberikan pada persamaan (3.51). Persamaan (3.55)

merupakan persamaan gerak gelombang interfacial dengan batas atas berupa

permukaan bebas yang merambat hanya dalam arah kanan saja (persamaan KdV).

Penurunan persamaan (3.54) dan (3.55) dapat dilihat di Lampiran 5.

3.3 Kajian Numerik

Misalkan penyelesaian persamaan (3.40) dan (3.55) merupakan fungsi

periodik dengan perioda 2p dan penyelesaiannya dapat dinyatakan oleh deret

Fourier berikut

0

1

( , ) ( ) k( ) cos( ) k( ) sin( )

k

r x t a t a t kx b t kx ,

(3.57)

dengan

1

( ) ( , ) cos( ) ; 0,1,...

2

k

(51)

dan

1

( ) ( , ) sin( ) ; 1, 2,... .

2

k

b t r x t kx d x k

Persamaan (3.57) merupakan uraian deret Fourier untuk fungsi r dengan

koefisien-koefisien ak dan bk tergantung pada variabel waktu t. Dalam

realisasinya, perhitungan dilakukan secara numerik dengan bantuan komputer dan

dilakukan pemotongan terhadap deret tersebut hingga n suku, yaitu

0

1

( , ) ( ) ( ) cos( ) ( ) sin( )

n

k k

k

r x t a t a t kx b t kx . (3.58)

Hasil yang diperoleh dengan adanya pemotongan ini tidak akan jauh

berbeda dengan penyelesaian eksaknya. Hal ini karena koefisien-koefisien ak dan

bk untuk indeks k yang besar biasanya bernilai sangat kecil. Untuk memudahkan,

maka deret (3.58) ditulis dalam bentuk

( , ) ( ) ( ),

n

k k

k n

r x t c t x (3.59)

dengan

( ), 0

( )

( ), 0.

k

Cos kx k x

Sin kx k

(3.60)

Dengan notasi ini, maka

.

x k k k (3.61)

Dalam penerapannya di komputer, deret Fourier untuk fungsi r cukup

ditulis komponen ck yang dinyatakan dalam bentuk vektor berikut

1 1 0 1 1

( n, n ,..., , , ,..., n , n)

r c c c c c c c (3.62)

Dengan struktur data di atas, maka turunan r terhadap x juga dapat dinyatakan dalam bentuk vektor, yaitu

1 1 1 1

( , 1 ,..., 1 , 0, ,..., 1 , )

xr ncn n cn c c

Gambar

Gambar 1.
Gambar 2.  Hamiltonian dari gerak gelombang interfacial
Gambar 3.  Hamiltonian dari gerak gelombang interfacial  dengan batas berupa permukaan bebas
Gambar 1.
+3

Referensi

Dokumen terkait

ILOS for Computer Science dah cukup memadai untuk mengisi kegiatan mata kuliah / praktikum, karena dari segi fungsi dan tampilan cukup mirip dan tidak

Pada lahan terbuka terjadinya erosi tanah akan semakin tinggi, karena permukaan tanah yang tidak terlindung akan mengakibatkan air hujan yang jatuh ke tanah akan menggerus

Berdasarkan hasil penelitian dapat diambil kesimpulan bahwa, praktek perlindungan hukum bagi pemegang unit penyertaan reksadana berbentuk KIK pada PT Danareksa

Kepiting Parathelphusa pardus merupakan spesies kepiting air tawar yang baru ditemukan di rawa Desa Sawah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis makanan yang

Hasil penelitian menunjukkan bahwa suplementasi somatotropin dosis 9 mg/kg BB dapat meningkatkan bobot badan, tampilan reproduksi pada ovarium dan uterus yang digambarkan

Dengan ditemukannya model estimasi regresi ini, lebar intermolar dan interkaninus dapat diprediksi sehingga untuk menentukan lebar intermolar dan interkaninus bagi

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan memberi