PENGARUH ENDORSER AGNES MONICA TERHADAP MINAT BELI KARTU SELULAR SIMPATI
(Studi Pada Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang)
SKRIPSI
Oleh:
Bibin Saiful Hudan
09610262
JURUSAN MANAJEMEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
SKRIPSI
PENGARUH ENDORSER AGNES MONICA TERHADAP MINAT BELI KARTU SELULAR SIMPATI
Oleh:
Bibin Saiful Hudan 09610262
Diterima dan disetujui Pada tanggal……….
Pembimbing I
Drs. Eko Handayanto, M.M.
Pembimbing II
Dra. Sri Nastiti, M.M.
Mengetahui
Dekan Fakultas Ekonomi
Dr. H. Nazaruddin Malik, M.si
Ketua Jurusan Manajemen
LEMBAR PENGESAHAN SKRIBSI
PENGARUH ENDORSER AGNES MONICA TERHADAP MINAT BELI KARTU SELULAR SIMPATI
Yang disiapkan dan disusun oleh :
Nama : Bibin Saiful Hudan
NIM : 09610262
Jurusan : Manajemen
Telah dipertahankan di depan penguji pada tanggal ………dan dinyatakan telah memenuhi syarat diterima sebagai kelengkapan guna memperoleh gelar Sarjana Ekonomi pada Universitas Muhammadiyah Malang.
Susunan Tim Penguji;
Penguji I : 1……….
Penguji II : 2……….
Penguji III : 3……….
Penguji IV : 4……….
Mengetahui Dekan Fakultas Ekonomi,
Dr. H. Nazaruddin Malik, M.si
Ketua Jurusan Manajemen,
PERNYATAAN ORISINILITAS SKRIPSI
Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa sepanjang sepengetahuan saya, di dalam Naskah Skripsi ini tidak terdapat karya ilmiah yang pernah
diajukan oleh orang lain untuk memperoleh gelar akademik di suatu Perguruan Tinggi, dan tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah diteliti atau
diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam sumber kutipan dan daftar pustaka.
Malang, ……….. Mahasiswa
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadiran Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.
Skripsi yang berjudul “Pengaruh Endorser Agnes Monica Terhadap Minat Beli Kartu Selular Simpati” disusun untuk memenuhi serta melengkapi syarat memperoleh gelar kesarjanaan di bidang Ekonomi, program studi manajemen
pada Universitas Muhammadiyah Malang.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis berusaha memberi sebaik mungkin
namun demikian penulis menyadari akan kemampuan dan keterbatasan pengetahuan serta pengalaman penulis, sehingga masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini, maka dari itu dengan segala kerendahan hati penulis
mengharapkan kritik saran yang bersifat membangun guna kesempurnaan skripsi ini. Skripsi ini tidak akan terselesaikan tanpa adanya bantuan serta dukungan dari
berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat:
1. Dr. H. Muhadjir Effendy, M.AP, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah
Malang.
2. Dr. H. Nazaruddin Malik, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas
3. Dra. Aniek Rumijati, MM, selaku Ketua Jurusan Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang.
4. Drs. Eko Handayanto, MM, selaku Dosen Pembimbing I yang penuh kesabaran telah memberikan bimbingan serta petunjuk hingga selesainya
penulisan skripsi ini.
5. Dra. Sri Nastiti, MM, selaku Dosen Pembimbing II yang telah sudi meluangkan waktunya untuk mengoreksi serta memberikan petunjuk yang
sangat bermanfaat guna penyusunan skripsi ini.
6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah
membantu terselesaikannya skripsi ini baik materiil maupun spiritual.
Akhirnya segala amal baik yang telah mereka berikan kepada penulis semoga mendapatkan balasan dari Allah SWT dan penulis berharap semoga skripsi ini
bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Malang, Februari 2013
vii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PERSETUJUAN ... ii
HALAMAN PENGESAHAN ... iii
HALAMAN PERNYATAAN ... iv
KATA PENGANTAR ... v
KARTU KENDALI KONSULTASI ... vi
DAFTAR ISI ... vii
ABSTRAK ... x
ABSTRACT ... xi
LEMBAR PENGESAHAN ... xii
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 6
1.3 Batasan Masalah ... 6
1.4 Tujuan Penelitian ... 7
1.5 Manfaat Penelitian ... 7
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 8
2.1 PenelitianTerdahulu ... 8
2.2 Landasan Teori ... 9
2.2.1 Iklan ... 9
viii
2.2.3 Endorser ... 12
2.2.4 Kreativitas Iklan ... 13
2.2.5 Minat Beli ... 14
2.2.6 Penggunaan Endorser Guna Meningkatkan Minat Beli ... 16
2.3 Kerangka Pikir ... 18
2.4 Hipotesis ... 20
BAB III. METODE PENELITIAN ... 21
3.1 Lokasi Penelitian ... 21
3.2 Jenis Penelitian ... 21
3.3 Populasi ... 22
3.4 Sampel ... 22
3.5 Teknik Pengambilan Sampel ... 23
3.6 Jenis Data dan Sumber Data ... 24
3.7 Teknik Pengumpulan Data ... 24
3.8 Teknik Pengukuran Data ... 25
3.9 Definisi Operasional Variabel ... 25
3.10 Teknik Pengujian Instrumen ... 27
3.11 Teknik Analisis Data ... 30
3.12 Pengujian Hipotesis ... 32
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 34
4.1 Karakteristik Responden ... 34
4.1.1 Jurusan Responden ... 34
ix
4.2 Hasil Penelitian ... 36
4.2.1 Deskripsi Jawaban Responden ... 36
1 Variabel Endorser (Agnes Monica) ... 37
2 Variabel Minat Beli ... 38
4.2.2 Hasil Analisis Data ... 40
1. Hasil Uji Asumsi Klasik ... 40
2. Hasil Regresi Linier Sederhana ... 42
4.3 Pengujian Hipotesis ... 44
4.4 Pembahasan ... 44
BAB V Kesimpulan dan Saran ... 46
A. Kesimpulan ... 46
B. Saran ... 46
DAFTAR PUSTAKA
Assael, Henry. 2001. Consumer Behavior 6th Edition. New York: Thomson-Learning.
Brown, S. P. and Stayman, D. M. 1992. Antecedents And Consequences Of Attitude Toward The Ad: A Meta-Analysis,Journal of Consumers Research, 19 (June), 34-51.
Effendy, Uchjana Onong. 2005. Ilmu Komunikasi: Teori dan Praktek. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Engel, F. James. 1994. Perilaku Pelanggan, 6 Edition. Jakarta: Binarupa Aksara. Ferdinand, A. T. 2006. Metode Penelitian Manajemen, BP Undip. Semarang. Fishbein, Martin and Ajzen, Icek. 1975. Belief, Attitude, Intention, and Behavior:
An Introduction to Theory and Research, Reading, MA: Addison-Wesley. Fombrum, C. J. 1996. Reputation, Boston, MA: Harvard Business School Press. Goldsmith, Ronald E., Lafferty, Barbara A., and Newell, Stephen J. 2000a.The
Impact Of Corporate Credibility On Consumer Reaction To Advertisements and Brands, Journal of Advertising, (Fall), 43-54.
Ghozali, Imam. 2001. Analisis Multivanate dengan program SPSS. Edisi ke 2. universitas Diponegoro, Semarang.
Ghozali, Imam. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS, Cetakan Keempat, Badan Penerbit Universitas Diponegoro, Semarang
Id.wikipedia.org/wiki/Telekomunikasi_seluler_di_Indonesia.
Joshi, Sangita. 2003. Face Value: A Celebrity is Used to Impart Credibility and Aspirational values to a Brand but the Celebrity Needs to Match the Product. Business line. Chennai, April 24, 2003, 1.
Jalaluddin, Rakhmat. 2001. “Psikologi Komunikasi”. Remaja Rosdakarya. Bandung.
Keller, K. L. 1998. “Strategic Brand Management”. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall.
Lafferty, B. A. and Goldsmith, R. E. 1999.“Corporate Credibility’s Role In Consumers Attitudes And Purchase Intentions When A High Versus A Low Credibility Endorser Is Used In The Ad”,Journal of Business Research, 44, (February), 109-116.
Malhotra, K.Naresh. 2005. Riset Pemasaran Pendekatan Terapan. Jakarta: Indeks Kelompok Gramedia.
Menon, Mohan K. 2001. Celebrity Advertising: An Assessment of Its Relative Effectiveness.http :// www.sbaer.uca.Edu/research/2001/sma/018.html.
O‟Mahony, Sheila and Meenaghan, Tony.1997/1998.The Impact of Celebrity Endorsement on Consumers. Irish Marketing Review, 10 (2), 15-24.
Rangkuti, Freddy.2009. Strategi Promosi Kreatif dan Analisa Kasus Integrated Marketing Communication. Jakarta.
Setyawan dan Anton A. Ihwan Susila. (2004). Pengaruh Service Quality Perception terhadap Purchase Intentions. Studi Empirik Pada Konsumen Supermarket. Usahawan, No. 7 th XXXIII Juli. Halaman 29-37.
Shimp, Terence A. 2003. Periklanan Promosi Aspek Tambahan Komunikasi Pemasaran Terpadu, edisi kelima, jilid 1. Jakarta: Erlangga.
Singarimbun, Masri dan Effendi, Sofyan. 1989. Metode Penelitian Survey, LP3ES, Jakarta.
SWA Magazine, Mei 2011. (diakses 8 November 2012).
O‟Mahony, Sheila. 1998. The Impact of Celebrity Endosemen on Consumers. Irish Marketing Review, 15-24
Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: ALFABET.
Till, Brian D. and Terence A. Shimp. Endorsers in Advertising: The Case of Negative Celebrity Information, Journal of Advertising, 27, Spring 1998: 67-82.
Widayat. 2004. Metode Penelitian Pemasaran, UMM press. www.lifestyle.kompasiana.com (diakses 8 November 2012).
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Iklan merupakan media komunikasi yang paling umum bagi perusahaan untuk mengenalkan produknya kepada konsumen. Iklan menurut Goldsmith, Lafferty dan Newell (2000) adalah dengan memahami hubungan antara minat beli konsumen
terhadap iklan, minat beli mereka terhadap merek yang diiklankan, dan bagaimana minat beli mempengaruhi keputusan pembelia. Kredibilitas memiliki sedikit efek
pada minat beli terhadap merek, peneliti menunjukkan efek yang lebih kuat pada minat beli terhadap iklan, peneliti dan pemasar menyebutkan adanya faktor-faktor yang mempengaruhi minat beli konsumen terhadap iklan dan merek lebih lengkap
dalam mengembangkan iklan persuasif.
Iklan menurut Brown dan Stayman (1992) adalah dengan menggunakan hipotesis
media ganda yang telah terbukti kuat dalam menggambarkan urutan penyebab minat beli konsumen terhadap iklan dan minat beli mereka terhadap merek yang diiklankan dalam konteks periklanan, sehingga memberikan pemasar dengan pemahaman yang
lebih baik tentang keterkaitan antara variabel-variabel. Iklan menurut McKenzie dan Lutz (1989) adalah sebagai pendahuluan penting untuk sikap terhadap merek dan
2
Minat beli merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan
tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian (Assael, 2001). Menurut Keller (1998), minat beli konsumen seberapa besar kemungkinan konsumen membeli
suatu merek atau seberapa besar kemungkinan konsumen untuk berpindah dari satu merek ke merek lainnya.
Iklan yang efektif adalah iklan yang menghasilkan keuntungan-keuntungan
spesifik dan dapat mencapai tujuan-tujuan yang diinginkan pengiklan. Minat beli sering diartikan sebagai tindakan ketertarikan seseorang terhadap sebuah barang atau
jasa untuk dibeli. Menurut Goldsmith, Lafferty, dan Newell (2000) minat beli dipengaruhi kredibilitas iklan yang telah ditunjukkan untuk memainkan peran penting
dalam efektivitas iklan.
Menurut McKenzie dan Lutz (1989) minat beli dan sikap konsumen hanya disinggung dalam literatur persuasi dalam kredibilitas iklan. Menurut Fombrum (1996), Keller (1998), meskipun diakui menjadi bagian penting dari citra merek,
kredibilitas iklan belum sistematis dipelajari dalam konteks pengaruhnya terhadap sikap dan minat beli, tetapi akan menjadi efektif bila disertakan nama perusahaan,
logo dan endorser.
Efektivitas iklan memainkan peranan penting terhadap minat beli konsumen
3
endorser pada efektivitas periklanan telah didokumentasikan dalam literatur psikologi
pemasaran dan sosial, bahwa endorser mempengaruhi klaim pesan yang akan
diterima, secara umum pesan dari endorser disampaikan oleh sumber kredibilitas tinggi akan diterima lebih mudah dan cenderung mengarah pada perubahan sikap
yang lebih besar.
Menurut Goldsmith, Lafferty, dan Newell (2000) kredibilitas endorser dirasakan telah terbukti memiliki efek yang berpengaruh pada minat beli konsumen terhadap
iklan. Menurut McKenzie dan Lutz (1989) menunjukkan bahwa endorser lebih merupakan isyarat pengolah pusat akan menunjukkan kredibilitas iklan yang akan dimasukkan ke dalam penilain merek dan mendorong proses kognitif yang lebih. Jadi
endorser berhubungan langsung terhadap minat beli konsumen melalui pesan yang
diterima dan kredibilitas endorser memiliki efek langsung terhadap minat terhadap
merek yang diiklankan.
Menurut Joshi (2003) pada dasarnya, tujuan utama dari sebuah iklan adalah untuk
membuat produk atau merek mudah dikenal dan untuk membantu kesadaran instan. Menurut Menon (2001) penggunaan endorser dalam iklan, konsumen dapat mencari tahu lebih lanjut mengenai produk dan pertimbangan untuk membeli produk serta
4
Dengan demikian, endorser dapat membantu perusahaan untuk meningkatkan efektifitas iklannya mengingat mereka dapat menciptakan kesadaran konsumen yang
pada akhirnya meningkatkan minat beli konsumen, Lafferty dan Newell (2000). Hal ini membuat banyak perusahaan yang memanfaatkan pesona endorser untuk
efektivitas pesan iklannya, meskipun perusahaan harus mengeluarkan biaya besar untuk kontrak dengan mereka setiap tahunnya, O‟Mahony and Meenaghan
(1997/1998).
Salah satu perusahaan yang sering mengiklankan produknya adalah perusahaan telkomsel. Salah satu kartu seluler prabayar dari telkomsel adalah kartu simpati. Pada
saat ini telkomsel merupakan operator terbesar ke-7 di dunia yang dipercaya oleh 100 juta pelanggan lebih di satu Negara. Ada standar-standar tertentu yang digunakan telkomsel untuk menghitung pelanggan yang berkualitas, bukan sekedar total jumlah
pelanggan (SWA, Mei 2011).
Berdasarkan perkembangan telekomunikasi di Indonesia pada tahun 2009 sampai
2012 terdapat 5 merek kartu prabayar unggulan. Kartu simpati menempati urutan pertama dengan jumlah pelanggan sebanyak 81,644 juta pelanggan. Kartu IM3 menempati urutan kedua dengan jumlah pelanggan sebanyak 33,1 juta pelanggan.
Kartu XL menempati urutan ketiga dengan jumlah pelanggan sebanyak 31,437 juta pelanggan. Katu 3 (three) menempati urutan keempat dengan jumlah pelanggan
5
jumlah pelanggan sebanyak 5 juta pelanggan. Hal ini membuktikan dengan
banyaknya pelanggan yang percaya terhadap kartu simpati.
Kartu Simpati merupakan kartu prabayar yang diterbitkan oleh perusahaan telkomsel yang sudah menyeluruh dan dikenal banyak oleh masyarakat dan jaringannya terluas di Indonesia. Seiring dengan perkembangan zaman, kartu simpati
banyak menyalurkan program yang sangat menguntungkan banyak pelanggan simpati seperti halnya club simpati yang disebut dengan Simpatizone yang banyak diminati
pelanggan simpati. Dengan adanya Simpatizone, pelanggan simpati dapat menikmati program yang sudah ditentukan seperti halnya, Main zone, Corner zone, Free zone
dan mengetahui program apa saja yang sedang dibuat simpati ataupun kegiatan yang dapat menarik perhatian para pelanggan simpati. Dari program tersebut, salah satu endorser dari simpati adalah selebriti Agnes Monica.
Nama Agnes Monica semakin melejit seiring dirinya menjadi endorser atau icon produk simpati. Dengan tema “my simpati my style” simpati kini lebih membidik
kalangan anak muda yang berminat membeli kartu simpati, diakses dari: www.lifestyle.kompasiana.com (8 November 2012). Entah karena nama besar
simpati atau karena nama besar Agnes Monica, tapi yang jelas adalah kolaborasi luar
biasa dari kartu seluler simpati dan Agnes Monica.
Dari beberapa hal tersebut, Agnes Monica diharapkan mampu mempengaruhi
6
Kartu Selular Simpati ini pernah menggunakan endorser Christian Sugiono dan Sherina. Alasan peneliti menggunakan endorser Agnes Monica adalah karena Agnes
Monica memiliki nama yang sudah “Go International” atau artis dunia dibandingkan dengan endorser simpati yang lain seperti contohnya artis Christian Sugiono dan
Sherina. Alasan lain peneliti menggunakan endorser Agnes Monica karena peneliti mengetahui bukti nyata bahwa Agnes Monica adalah seorang selebriti yang smart dan tidak pernah terlibat kasus kriminal dibandingkan Sherina yang pernah terlibat kasus
narkoba. Beberapa pertimbangan tersebut maka peneliti mengambil judul skripsi
“PENGARUH ENDORSER AGNES MONICA TERHADAP MINAT BELI
KARTU SELULAR SIMPATI”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, hal yang menjadi masalah dalam
penelitian ini adalah: Apakah ada pengaruh endorser Agnes Monica terhadap minat beli Kartu Selular Simpati?
1.3 Batasan Penelitian
Penelitian dilakukan terbatas agar penelitian lebih terfokus, terarah, dan sesuai dengan apa yang diharapkan, maka peneliti dibatasi pada pengaruh variabel
7
1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah maka tujuan penelitian ini adalah: untuk mengetahui pengaruh endorser Agnes Monica terhadap minat beli
Kartu Selular Simpati.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki kegunaan sebagai berikut:
1. Kegunaan Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk pengembangan teori,
khususnya teori dalam minat beli. Penelitian ini juga bermanfaat untuk melengkapi dan untuk menambah pengetahuan teoritis bagi penulis dan juga pembaca, khususnya mengenai tentang penggunaan endorser Agnes Monica
terhadap minat beli Kartu Selular Simpati.
2. Kegunaan Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi
kepentingan manajemen dalam mengelola sumber pesan atau endorser. Kontribusi praktis bagi manajerial dalam bidang iklan adalah menemukan
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Penelitian Terdahulu
1. Penelitian saudara Ashari (2011) yang berjudul “Pengaruh Desain Kemasan Produk
dan Daya Tarik Iklan Terhadap Brand Awareness dan Dampaknya Pada Minat Beli Konsumen”. Alat analisis yang digunakan adalah alat analisis regresi berganda untuk
mengetahui pengaruh dua atau lebih variabel bebas terhadap variabel terikat, uji koefisien determinasi, uji F dan uji t. Hasil penelitiannya adalah menunjukkan bahwa desain kemasan produk dan daya tarik iklan terhadap brand awareness dan dampak pada minat
beli menunjukkan penilaian yang tinggi dan memiliki pengaruh positif dan signifikan. 2. Penelitian saudara Deddy (2011) yang berjudul “Pengaruh Daya Tarik Endorser
(Sherina) dalam Iklan Terhadap Brand Image Produk Simpati”. Alat analisis yang digunakan adalah alat analisis regresi sederhana untuk mengetahui pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, uji koefisien determinasi, dan uji t. Hasil penelitiannya
adalah menunjukkan bahwa endorser (Sherina) dalam iklan terhadap brand image produk simpati juga menunjukkan penilaian yang tinggi dan memiliki pengaruh positif dan
signifikan.
2.2 Landasan Teori
2.2.1 Iklan
membangun kekuatan merek yang telah ada, serta mencegah penurunan kekuatan tersebut di pasar. Secara umum, periklanan dihargai karena dikenal sebagai pelaksana beragam
fungsi komunikasi yang penting bagi perusahaan bisnis dan organisasi. Menurut Shimp (2003) fungsi periklanan itu diantaranya adalah:
1. Memberi informasi (informing) yakni membuat konsumen sadar akan merek-merek
baru, mendidik mereka tentang berbagai fitur dan manfaat merek, serta memfasilitasi penciptaan citra merek yang positif.
2. Membujuk (persuading), yang berarti iklan yang efektif akan mampu membujuk pelanggan untuk mencoba produk dan jasa yang diiklankan.
3. Mengingatkan (reminding), dimana iklan berfungsi untuk menjaga agar merek
perusahaan tetap segar dalam ingatan para konsumen.
4. Memberi nilai tambah (adding value), periklanan memberi nilai tambah pada konsumen
dengan mempengaruhi persepsi konsumen.
5. Mendampingi upaya-upaya lain perusahaan (assisting), iklan sebagai pendamping yang
memfasilitasi upaya-upaya lain dari perusahaan dalam proses komunikasi pemasaran. Menurut Rangkuti (2009) setiap media iklan mempunyai keuntungan dan kerugian sebagai berikut:
a. Iklan televisi, merupakan iklan yang ditayangkan melalui media televisi dan pesan dapat disampaikan dalam bentuk audio, visual, dan gerak. Televisi merupakan media iklan yang paling berpengaruh dan menjangkau spectrum konsumen. Iklan televisi mempunyai
b. Iklan cetak, dapat memberikan banyak informasi tentang produk dan secara efektif mengkombinasikan penggunaan dengan gambaran penggunaan tetapi perlu dilakukan
suatu pembuatan iklan yang benar agar mencapai tujuan yang diinginkan.
c. Iklan radio, iklan ini relatif murah untuk diproduksi, dipasang, dan penutupan yang singkat memungkinkan tanggapan yang tepat. Tetapi kerugiannya tidak adanya gambaran
visual dari produk atau jasa tersebut dan sifat konsumen yang relatif pasif dalam mengolah dari maksud utama iklan tersebut.
2.2.2 Efektifitas Iklan
Kefektifitasan iklan biasanya memberikan keuntungan yang lebih bagi konsumen. Menurut Shimp (2003), Supaya berguna bagi perusahaan dalam pelaksanaan fungsi-fungsi
pemasaran, maka suatu periklanan harus fleksibel, stabil, berkesinambungan dan sederhana serta mudah untuk dipahami. Hal ini memerlukan analisa, peramalan dan pengembangan
usaha periklanan dengan mempertimbangkan segala sesuatu pembuatan iklan sebagai proses yang berkesinambungan. Kegiatan iklan harus dievaluasi untuk mengetahui apakah
jelas, mudah dipahami, dan akurat dan tepat pada sasarannya. Berbagai keputusan dan kegiatan perusahaan hanya efektif bila didasarkan atas informasi yang tepat.
Iklan yang memikirkan dan memahami kebutuhan pelanggan. Iklan yang efektif adalah
iklan yang mengkomunikasikan keuntungan-keuntungan yang spesifik, iklan yang menekankan pada tindakan spesifik yang harus diambil oleh konsumen. Iklan juga disebut
1. Iklan harus memperpanjang suara strategi pemasaran. Iklan bisa jadi efektif hanya bila cocok dengan elemen lain dari strategi komunikasi pemasaran yang dilakukan yang
diarahkan dengan baik dan terintegrasi.
2. Periklanan yang efektif harus menyertakan sudut pandang konsumen. Para konsumen membeli manfaat- manfaat produk, bukan atribut / lambangnya. Oleh karena itu, iklan
harus dinyatakan dengan cara yang berhubungan dengan kebutuhan-kebutuhan, keinginannya, serta apa yang dinilai oleh konsumen daripada si pemasar.
3. Periklanan yang efektif harus persuasif. Persuasi biasanya terjadi ketika produk yang diiklankan dapat memberikan keuntungan tambahan bagi konsumen.
4. Iklan harus menemukan cara yang unik untuk menerobos kerumunan iklan. Pada
pengiklan secara berkelanjutan dapat berkompetisi dengan para pesaingnya dalam menarik perhatian konsumen.
5. Iklan yang baik tidak pernah menjanjikan lebih dari apa yang bisa diberikan. Intinya adalah menerangkan dengan apa adanya, baik dalam pengertian etika serta dalam
pengertian bisnis yang cerdas.
6. Iklan yang baik mencegah ide kreatif dari strategi yang berlebihan. Tujuan iklan adalah mempersuasi dan mempengaruhi tujuannya bukan untuk membagus-baguskan yang
bagus dan melucu-lucukan yang lucu. 2.2.3 Endorser
Endorser adalah tokoh (aktor, penghibur, atau atlet) yang dikenal masyarakat karena
a. Attractiveness (daya tarik), Daya tarik bukan daya tarik fisik, meskipun daya tarik bisa menjadi faktor yang sangat penting tetapi meliputi sejumlah karakteristik yang dapat
dilihat khalayak dalam diri pendukung, kecerdasan, sikap, kepribadian, gaya hidup, dan lain-lain.
b. Trustworthines (kepercayaan), Kepercayaan mengacu pada kejujuran, integritas dan
dapat dipercayainya sebagai sumber. Sementara keahlian dan kepercayaan tertentu saling berhubungan timbal balik, sering kali pendukung tertentu dianggap sangat dipercaya
padahal bukan orang yang ahli dibidang tertentu. Kepercayaan juga mengacu pada keyakinan
penerima pesan bahwa sumber pesan akan memberikan informasi yang valid. Dalam
beberapa riset diketahui bahwa selebritas lebih bisa dipercaya dibandingkan dengan non
selebritas secara signifikan.
c. Expertise (keahlian) Mengacu pada pengetahuan, pengalaman atau ketrampilan yang
dimiliki seorang pendukung yang berhubungan dengan topik iklannya. Hal itu dianggap sebagai hal yang dirasakan daripada sebagai fenomena mutlak.
2.2.4 Kreativitas Iklan
Untuk menciptakan iklan-iklan yang kreatif, para kreator iklan harus menghasilkan dampak yang positif kepada konsumen.Menciptakan sesuatu hal yang kreatif tidaklah
mudah. Maka dari itu, suatu hal yang kreatif dan inovatif akan terlihat sangat menarik dibanding hal lain yang terkesan monoton. Begitu pula dengan iklan, iklan yang kreatif
akan menarik perhatian konsumen. Iklan yang kreatif adalah iklan yang dianggap original, asli, tidak meniru iklan yang mencengangkan, tidak terduga, tidak disangka sangka, penuh arti dan mempengaruhi emosi. Iklan yang sama dengan sebagian besar iklan lainnya tidak
Menurut Shimp (2003) iklan yang kreatif merupakan kategori iklan yang menarik yang mana akan membuat audience memperhatikan iklan secara detail dan rinci. Iklan yang
kreatif yakni iklan yang berbeda diantara sebagian besar iklan. Iklan yang sama dengan iklan yang lain atau seragam tidak akan mampu membuat audience tertarik tetapi akan membuatnya bosan.
2.2.5 Minat Beli
Minat beli merupakan kecenderungan konsumen untuk membeli suatu merek atau
mengambil tindakan yang berhubungan dengan pembelian yang diukur dengan tingkat kemungkinan konsumen melakukan pembelian (Assael, 2001). Menurut Keller (1998), minat beli konsumen adalah seberapa besar kemungkinan konsumen membeli suatu merek
atau seberapa besar kemungkinan konsumen untuk berpindah dari satu merek ke merek lainnya.
Menurut Kotler dan Keller (2003), customer buying decision – all their experience in learning, choosing, using, even disposing of a product. yang kurang lebih memiliki arti
minat beli konsumen adalah sebuah perilaku konsumen dimana konsumen mempunyai
keinginan dalam membeli atau memilih suatu produk, berdasarkan pengalaman dalam memilih, menggunakan dan mengkonsumsi atau bahkan menginginkan suatu produk.
Minat beli merupakan proses dimana para konsumen tertarik dan ingin melakukan kegiatan pembelian terhadap barang atau jasa yang diinginkan. Beberapa pengertian dari
minat beli (Setyawan dan Ihwan, 2004 : 13) adalah sebagai berikut:
2. Minat beli juga mengindikasikan seberapa jauh seorang mempunyai kemauan untuk mencoba.
3. Minat beli menunjukkan pengukuran kehendak seseorang. 4. Minat beli berhubungan dengan perilaku yang terus menerus.
Minat beli merupakan kondisi seseorang untuk melakukan pembelian. Menurut
Effendy (2005: 10) mengungkapkan minat adalah kelanjutan perhatian yang merupakan titik tolak kelanjutan timbulnya hasrat untuk melakukan kegiatan yang diharapkan. Lebih
lanjut Effendy mengemukakan bahwa minat muncul karena adanya stimulasi motif yang menimbulkan motivasi. Motif adalah kondisi seseorang yang mendorong seseorang untuk mencari suatu kepuasan atau mencapai tujuan. Sedangkan motivasi adalah kegiatan yang
memberikan dorongan kepada seseorang atau diri sendiri untuk mengambil tindakan yang dikehendaki. Minat diperoleh oleh beberapa faktor, diantaranya adalah:
1. Perhatian terhadap stimulus
2. Mengerti atau tidaknya audiens terhadap stimulus
3. Penerimaan terhadap stimulus itu serta frekuensi
Dari penjelasan di atas, minat adalah suatu keadaan dalam individu yang mampu mengarahkan perhatiannya terhadap obyek tertentu yang mampu mendorong seseorang
untuk cenderung mencari obyek yang disenangi.
2.2.6 Penggunaan Endorser Guna Meningkatkan Minat Beli
Penggunaan endorser sebuah produk dipercaya dapat mendongkrak penjualan produk.
Karena selain meningkatkan brand awareness, sang endorser juga sekaligus mewakili kepribadian merek yang mereka bawakan dan diharapkan dapat mendekati target
public figure. Ini berarti bahwa penggunaan endorser diharapkan dapat meningkatkan
minat beli produk (Menon, 2001).
Kebanyakan merek memang memilih endorser untuk tujuan awareness. Dalam periklanan, maka haruslah menampilkan sesuatu yang mudah diingat agar merek tersebut juga mudah diingat. Apabila tidak menampilkan sesuatu yang mudah diingat, merek juga
tidak akan mudah diingat sehingga akan menjadi hilang begitu saja. Salah satu caranya adalah melalui endorser (Menon, 2001).
Penggunaan endorser sendiri sebenarnya tidak hanya sebatas itu. Endorser haruslah mewakili citra dari produk itu sendiri. Tanpa ada karakter personal, setiap merek bisa kehilangan rohnya. Ada yang dipersepsi modern, fun, dinamis, cocok untuk kawula muda,
seksi dan lain-lain. Oleh karena itu, pilihan endorser pun harus disesuaikan dengan karakter yang dibangun. Karakter endorser sendiri bisa dipersepsi berbeda-beda (Menon,
2001).
Dalam iklan faktor penting yang harus diperhatikan adalah komunikator. Endorser
merupakan salah satu pilihan yang tepat untuk dijadikan komunikator. Pemilihan komunikator harus tepat sesuai dengan aspek kepercayaan dan kemenarikan (trustworthiness dan attractiveness), termasuk juga keahlian (expertise). Kepercayaan
kepada komunikator ditentukan oleh keahliannya dan bisa tidaknya ia dipercaya.
Kepercayaan kepada komunikator mencerminkan bahwa pesan yang diterima oleh
komunikan dianggap benar dan sesuai dengan kenyataan empiris. Apabila komunikator dianggap sebagai seorang ahli dalam suatu bidang, misalnya ahli dalam bidang ekonomi atau status sosial atau jabatan profesi yang lebih tinggi, maka pesan yang disampaikan
Informasi yang ditangkap konsumen dari hasil komunikasi yang diiklankan oleh komunikator / endorser dalam iklan maka akan menjadi salah satu hal yang memotivasi
seseorang untuk menggunakan produk yang diiklankan tersebut. Hubungan endorser dengan minat beli memiliki 3 item minat beli antara lain pencarian informasi lanjut mengenai produk, pertimbangan membeli produk, dan kesungguhan ingin membeli produk
(Menon, 2001).
2.3 Kerangka Teori
Teori S – O – R (Stimulus – Organisme – Respon)
Teori S - O- R sebagai singkatan dari stimulus - organisme - respon ini merupan proses
yang berasal dati komunikator untuk menyampaikan stimulus atau pesan kepada komunikan dan komunikan memperhatikan, mengerti dan menerima pesan atau stimulus tersebut sehingga komunikan memberikan response. “Teori S - O - R mengemukakan bahwa tingkah
laku sosial dapat dimengerti melalui suatu analisis dari stimulus yang diberikan dan
mempengaruhi reaksi yang spesifik dan didukung oleh penghargaan sesuai dengan reaksi” (Rakhmat, 2001:59).
Teori ini berpendapat bahwa setiap tingkah laku pada hakekatnya merupakan tanggapan
atau respon terhadap suatu stimulus. Stimulus adalah peristiwa yang terjadi baik diluar maupun didalam tubuh manusia yang menyebabkan timbulnya suatu perubahan tingkah laku.
Proses Stimulus – Organisme – Respon
Menurut Rakhmat (2001: 59) proses tersebut di atas menggambarkan perubahan sikap
bergantung pada proses yang terjadi pada individu dan ada perhatian dari organisme. Dalam hal ini dapat efektif dan ada reaksi. Penjelasan sebagai berikut:
1. Yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Maka pada proses selanjutnya terhenti, ini berarti bahwa stimulus tersebut tidak efektif dalam mempengaruhi organisme, maka tidak ada perhatian dari organisme jika stimulus
diterima oleh organisme berarti ada komunikan.
2. Jika stimulus telah mendapat perhatian dari organisme, maka proses selanjutnya adalah
mengerti terhadap stimulus. Kemampuan dari organisme itulah yang dapat melanjutkan proses selanjutnya.
3. Setelah memahami atau mengerti mana stimulus, organisme dapat menerima secara baik
apa yang telah diolah sehingga muncul kesediaan untuk merubah sikap.
Stimulus dalam penelitian ini adalah produk simpati yang dibintangi Agnes Monica
sebagai endorser yang mengiklankan produk simpati. Sedangkan yang dimaksud dengan responden adalah tanggapan dari konsumen berupa sikap tertarik terhadap suatu produk yang ditawarkan yang kemudian berlanjut pada timbulnya keputusan membeli yang berulang–
ulang. Berdasarkan telaah pustaka dan teori yang ada maka dapat dikembangkan sebuah
kerangka pemikiran teoritis yang disajikan dalam model berikut: Stimulus
Organisme - Perhatian - Pengertian - Penerimaan
Respon / Perubahan
Gambar 2
Kerangka Pemikiran Teoritis
Berdasarkan kerangka pemikiran di atas, maka dapat dijelaskan bahwa iklan dengan
menggunakan selebritas endoser merupakan cara paling efektif untuk menginformasikan produk. Melalui iklan, produsen dapat menyampaikan kelebihan atau kekurangan produk,
begitu juga melalui iklan konsumen dapat mengetahui kelebihan dan kekurangan produk tersebut. Penggunaan endorser efektif digunakan oleh para pemasang iklan untuk berkomunikasi dengan pasar-pasar mereka. Para endorser dapat menjadi kekuatan yang
berpengaruh dalam menimbulkan minat atau tindakan yang berhubungan dengan pembelian atau penggunaan barang-barang dan jasa yang dipilih.
2.4 Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap masalah penelitian yang ingin dipecahkan (Ferdinand, 2006). Oleh karena itu, hipotesis harus memberikan jawaban
sementara secara langsung dari permasalahan yang ada, tentunya bedasarkan teori yang bervaliditas tinggi. Hipotesis yang diajukan sebagai jawaban sementara terhadap
permasalahan penelitian ini adalah sebagai berikut: Diduga Endorser Agnes Monica berpengaruh positif terhadap minat beli Kartu Selular Simpati.