• Tidak ada hasil yang ditemukan

Jaringan Komunikasi Informasi Harga dan Pemasaran Sayur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Jaringan Komunikasi Informasi Harga dan Pemasaran Sayur"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

DESNI UTAMI

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(2)

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Jaringan Komunikasi Informasi Harga dan Pemasaran Sayur adalah benar karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Dengan ini saya melimpahkan hak cipta dari karya tulis saya kepada Institut Pertanian Bogor.

Bogor, September 2013

Desni Utami

(3)

Petani membutuhkan informasi yang memadai dan terpercaya untuk meningkatkan pemasaran sayur. Untuk memenuhi kebutuhan informasinya, petani menetapkan sebuah jaringan komunikasi diantara mereka. Penelitian ini bertujuan (1) untuk mendeskripsikan jaringan komunikasi dalam informasi harga dan pemasaran sayur di antara petani (2) menganalisis hubungan antara karakteristik personal petani dengan jaringan komunikasi pemasaran informasi harga dan pemasaran sayur. Seluruh anggota Kelompok Tani Tani Jaya, 21 orang menjadi responden dalam penelitian ini dengan menggunakan metode sensus. Responden diwawancarai menggunakan kuisioner terstruktur. Penelitian ini menghasilkan beberapa informasi yaitu (1) jaringan komunikasi informasi harga sayur adalah jaringan komunikasi tertutup dan jaringan komunikasi penjualan sayur adalah jaringan komunikasi radial (2) terdapat hubungan nyata antara luas lahan dan pekerjaan selain bertani dengan sentralitas lokal dan global jaringan komunikasi informasi harga sayur. Terdapat pula hubungan nyata antara luas lahan dengan sentralitas global jaringan komunikasi penjualan sayur.

Kata kunci: jaringan komunikasi, petani sayur, pemasaran sayur

ABSTRACT

UTAMI, DESNI. 2013. Communication Network in Price Information and Vegetable Marketing. Supervised by DJUARA P. LUBIS.

Farmers need an adequate and trusted information in order to increase vegetable marketing. For fulfilling their information requirement, farmers establish a communication network among them. The purposes of this research were (1) to describe the communication network in price information and vegetable marketing among farmers (2) to analyze the relationship between personal characteristics of farmer and the communication network in price information and vegetable marketing. All members of Tani Jaya Farmer-Group, 21 farmers were taken as sample by using sampling intact system. This research resulted several outputs i.e: (1) communication network about vegetable price information was interlocking personal network and communication network about vegetable selling was radial personal network (2) there was significant relationship between arable land area, side job in addition to farming with local and global centrality of communication network about vegetable price information. There was also significant relationship between arable land area with global centrality of communication network about vegetable selling.

(4)

Sayur. Di bawah bimbingan DJUARA P. LUBIS.

Perkembangan agribisnis hortikultura, khususnya sayuran saat ini menghadapi terbukanya arus informasi yang mendorong pada makin berkembangnya desakan produk ekspor maupun impor dan peningkatan selera konsumen, baik domestik maupun global. Permasalahan pokok pengembangan agribisnis sayuran adalah belum terwujudnya ragam, kualitas, kesinambungan pasokan, dan kuantitas yang sesuai dengan dinamika permintaan pasar dan preferensi konsumen. Permasalahan tersebut nampak nyata pada produk hortikultura untuk tujuan pasar konsumen institusi dan ekspor. Berbeda dengan petani yang mengelola komoditas padi dan palawija yang cenderung masih bersifat pasif, petani sayuran cenderung bersifat proaktif dan sudah lebih berorientasi pada pasar. Hal ini di antaranya disebabkan oleh harga komoditas sayuran yang selalu berfluktuasi dan sifatnya yang mudah rusak. Oleh karena itu petani sayur memerlukan informasi yang memadai dan dipercaya untuk meningkatkan pemasarannya.

Penelitian jaringan komunikasi dalam pemasaran sayur ini mengacu pada konsep model komunikasi konvergensi oleh Rogers dan Kincaid (1981). Model komunikasi konvergensi mendefinisikan komunikasi sebagai proses dimana partisipan-partisipan komunikasi menciptakan dan membagi informasi satu sama lain untuk mencapai kesamaan makna. Menurut Kincaid (1979) dalam Rogers dan Kincaid (1981) komponen utami pada model ini adalah informasi, ketidakpastian, konvergen, pengertian bersama, persetujuan bersama, aksi kolektif dan keterhubungan jaringan. Dalam penelitian ini, aspek kajian jaringan komunikasi meliputi peranan individu dan indicator jaringan komunikasi. Peranan individu ditunjukkan dengan peranannya sebagai bintang, jembatan, penghubung atau pencilan dalam sistem sosial. Indicator jaringan yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada pengukuran menurut Freeman (1979) dalam Scott (2000) yang terdiri dari sentralitas lokal dan sentralitas global.

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan jaringan komunikasi dalam pemasaran sayur di antara petani dan menganalisis hubungan antara karakteristik personal petani dengan jaringan komunikasi pemasaran sayur. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat deskriptif dan korelasional. Lokasi penelitian ini adalah Desa Ciaruteun Ilir, Kacematan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Unit analisis dalam penelitian ini adalah individu petani sayur. Responden dalam penelitian ini diambil menggunakan metode sampling intact system yaitu seluruh anggota Kelompok Tani Tani Jaya, berjumlah 21 orang. Waktu penelitian dilaksanakan pada bulan Mei sampai Agustus 2013. Pengolahan dan analisis data menggunakan analisis sosiometri, analisis mengenai jaringan dengan software UCINET VI serta analisis korelasi Pearson.

(5)
(6)

© Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2013

Hak cipta dilindungi undang-undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan

atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian Bogor.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis

(7)

DESNI UTAMI

Skripsi

sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

pada

Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

DEPARTEMEN SAINS KOMUNIKASI DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT FAKULTAS EKOLOGI MANUSIA

(8)
(9)

Judul Skripsi : Jaringan Komunikasi Informasi Harga dan Pemasaran Sayur Nama : Desni Utami

NIM : I34060369

Disetujui oleh

Dr Ir Djuara P. Lubis, MS Dosen Pembimbing

Diketahui oleh

Ketua Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat

Dr Ir Soeryo Adiwibowo, MS NIP. 19550630 198103 1 003

(10)

PRAKATA

Alhamdulillah, puji dan syukur penulis ungkapkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Jaringan Komunikasi Informasi Harga dan Pemasaran Sayur” dengan baik.

Penulis menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada pihak-pihak yang telah membantu penyelesaian skripsi ini, diantaranya:

1. Dr Ir Djuara P. Lubis, MS yang merupakan dosen pembimbing skripsi, dosen pembimbing studi pustaka serta dosen pembimbing akademik, atas segala bimbingan, motivasi, saran, dan kesabarannya mencurahkan waktu dan pemikirannya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

2. Dr Ir Sarwititi S. Agung, MS yang telah bersedia menjadi penguji utama dan Martua Sihaloho, SP, Msi selaku dosen penguji perwakilan departemen dalam sidang skripsi.

3. Dosen-dosen pada Departemen Sains KPM yang telah memberikan pengajaran kepada penulis selama perkuliahan.

4. Kedua orang tuaku tercinta, Bapak M Husen, SPd, MM dan Ibu Nima Romaita yang telah memberikan segenap kasih sayangnya, motivasi, dukungannya sehingga penulis tidak kekurangan suatu apapun dan untaian doa yang tidak pernah putus, serta adik-adikku Alvin Firdaus dan Mia Lestari yang selalu memotivasi penulis untuk selalu berusaha menjadi contoh yang baik. 5. Suamiku Setyo Dwi Wilopo dan putriku tercinta Sachie Pratami Wilopo

terima kasih untuk dukungan, semangat, doa dan ridhonya.

6. Kelompok Tani Tani Jaya Desa Ciaruteun Ilir, Kelurahan Cibungbulang, Kabupaten Bogor terima kasih atas kesempatan yang diberikan sehingga penulis dapat melaksanakan penelitian.

(11)

8. Sahabat-sahabat KSATRIA 43 dan saudari-saudariku JELITA terima kasih atas perhatian, kasih sayang, dan semangat yang terus diberikan sampai saat ini. Terima kasih atas bantuan-bantuannya.

9. Trio Macan KPM, Mbak Maria, Mbak Icha dan Mba Dhiny yang sabar sekali ”mencari” penulis jika penulis ”hilang”, semuanya tenaga kependidikan pada Departemen SKPM-FEMA, yang sangat membantu penulis terkait masalah administrasi dan kepustakaan selama penulis menyelesaikan studi .

Bogor, September 2013

(12)

DAFTAR ISI

Kegunaan Penelitian ... 3

PENDEKATAN KONSEPTUAL ... 5

Tinjauan Pustaka ... 5

Pengertian dan Konsep Jaringan Komunikasi………. 5

Analis Jaringan Komunikasi………... 7

Pemasaran Sayuran………... 12

Karakteristik Personal Petani Sayuran………. 16

Kerangka Pemikiran ... 17

METODE PENELITIAN ... 20

Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian... 20

Populasi dan Sampel……. ... 20

Data dan Instrumentasi………... 21

Definisi Operasional Peubah dan Pengukuran………... 21

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN……….. 24

Gambaran Umum Desa Penelitian... 24

Lokasi dan Kondisi Fisik... 24

Keadaan Penduduk... 25

Prasarana Komunikasi dan Informasi di Desa Ciaruteun Ilir 26 Profil Kelompok Tani Tani Jaya... 29

Karakteristik Anggota Kelompok Tani Tani Jaya……… 30

Tingkat Pendidikan... 30

Umur... 31

Lama Usahatani... 32

Jenis Mata Pencaharian Selain Bertani………... 32

Luas Lahan... 33

JARINGAN KOMUNIKASI INFORMASI HARGA DAN PEMASARAN SAYUR………..………... 34

Jaringan Komunikasi dalam Informasi Harga Sayur... 34

Jaringan Komunikasi dalam Penjualan Sayuran... 41

Analisis Jaringan Komunikasi di Tingkat Individu…………... 47

Sentralitas Lokal... 48

Sentralitas Global... 49

HUBUNGAN KARAKTERISTIK PERSONAL ANGGOTA KELOMPOK TANI TANI JAYA DENGAN JARINGAN KOMUNIKASI... 52 Hubungan Jaringan Komunikasi Pengumpulan Informasi Harga Sayur dengan Karakteristik Individu... 52 Sentralitas Lokal... 52

Luas Lahan... 53

(13)

Sentralitas Global... 54

Luas Lahan... 54

Pekerjaan Selain Bertani... 55

Hubungan Jaringan Komunikasi Penjualan Sayur dengan Karakteristik Individu... 1 Batas wilayah Desa Ciaruteun Ilir tahun 2012…………... 24 2 Jumlah dan persentase penduduk Desa Ciaruteun Ilir

menurut kelompok usia pada tahun 2012……….

25

3 Jumlah dan persentase penduduk Desa Ciaruteun Ilir berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2012………

25

4 Jumlah dan persentase penduduk Desa Ciaruteun Ilir menurut mata pencaharian tahun 2012………...

26

5 Jumlah dan persentase anggota Kelompok Tani Tani Jaya menurut tingkat pendidikan tahun 2013………...

31

6 Jumlah dan persentase anggota Kelompok Tani Tani Jaya menurut umur tahun 2013……….

32

7 Jumlah dan persentase anggota Kelompok Tani Tani Jaya menurut lama berusahatani tahun 2013………

32

8 Jumlah dan persentase anggota Kelompok Tani Tani Jaya menurut jenis mata pencaharian tahun 2013……….

33

9 Jumlah dan persentase anggota Kelompok Tani Tani Jaya berdasarkan luas lahan yang dikelolah tahun 2013……….

33

10 Identifikasi klik dalam jaringan komunikasi petani dalam informasi harga sayur………...

37

11 Identifikasi klik dalam jaringan komunikasi Kelompok Tani Tani Jaya mengenai penjualan sayur………

41

12 Karakteristik personal peran isolate pada jaringan

komunikasi mengenai penjualan sayur………

44

13 Perbedaan jaringan informasi harga dan penjualan sayur berdasarkan klik dan peran individu………..

46

14 Nilai rata-rata, maksimum dan minimum sentralitas lokal dan sentralitas global petani sayur anggota Kelompok Tani Tani Jaya berdasarkan topik jaringan komunikasi

(14)

mengenai informasi harga dan penjualan………. 15 Perbedaan jaringan komunikasi informasi harga dan

jaringan komunikasi penjualan sayur berdasarkan nilai sentralitas lokal dan global………

51

16 Hubungan antara karakteristik personal dengan sentralitas

lokal pengumpulan informasi harga sayur……… 52

17 Hubungan antara karakteristik personal dengan sentralitas global pengumpulan informasi harga sayur……… 54 18 Hubungan antara karakteristik personal dengan sentralitas lokal penjualan………. 56

19 Hubungan antara karakteristik personal dengan sentralitas global penjualan sayur……….. 56

5 Struktur jaringan komunikasi ……… 10

6 Saluran pemasaran sayuran segar ………….…………. 16

7 8 9 Kerangka pemikiran………...….. Garis kekerabatan Kelompok Tani Tani Jaya Jaringan komunikasi petani sayur mengenai pengumpulan informasi harga sayur……… 19 30 37 10 Jaringan komunikasi petani sayur mengenai penjualan sayur……… 42

DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Kuesioner Penelitian………...………. 63

2 Nomor responden dan nilai sentralitas lokal serta sentralitas global……….. 65 3 Hasil pengolahan data berdasarkan uji Pearson

karakteristik personal dengan jaringan komunikasi pengumpulan informasi harga sayur…………...……….

66

4 Hasil pengolahan data berdasarkan uji Pearson karakteristik personal dengan jaringan komunikasi penjualan sayur………...……….

(15)

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sektor pertanian merupakan sektor yang penting dalam perekonomian Indonesia karena pertanian mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan nasional. Peran strategis tersebut adalah (1) pemasok bahan makanan pokok penduduk, (2) pemasok bahan baku industri, (3) penyedia lapangan kerja terbesar penduduk, (4) pencipta nilai tambah atau produk domestik bruto (PDB) dan (5) penghasil atau sumber devisa (Kusnadi 2009 dalam Cindoswari 2012).

Indraningsih et al. (2007) menyatakan baik dari aspek potensi permintaan pasar maupun aspek potensi produksi mestinya sektor usaha komoditas sayuran dapat dijadikan sumber akselerasi pertumbuhan sektor pertanian dan sekaligus memecahkan dua masalah mendasar yang dihadapi bangsa Indonesia dewasa ini yaitu masalah pengangguran dan kemiskinan. Dari sisi permintaan, jumlah penduduk yang besar, kenaikan pendapatan, dan berkembangnya pusat kota-industri-wisata, serta liberalisasi perdagangan merupakan faktor utama yang mempengaruhi permintaan.

Perkembangan agribisnis hortikultura, khususnya sayuran saat ini menghadapi terbukanya arus informasi yang mendorong pada semakin berkembangnya desakan produk ekspor maupun impor dan peningkatan selera konsumen, baik domestik maupun global. Pada era globalisasi ekonomi seperti Asean Free Trade Area (AFTA) dan Asia Pacific Economic Cooperation (APEC), sebagian pasar domestik Indonesia saat ini telah diisi oleh produk hortikultura impor dengan kualitas, cara pengepakan, diversifikasi produk, dan penampilan yang lebih baik serta harga yang bersaing dengan produk domestik (Mulyandari 2011).

(16)

pertaniannya baik dalam segi kualitas maupun kuantitas agar terus dapat memenuhi permintaan pasar.

Permasalahan pokok pengembangan agribisnis sayuran adalah belum terwujudnya ragam, kualitas, kesinambungan pasokan, dan kuantitas yang sesuai dengan dinamika permintaan pasar dan preferensi konsumen, permasalahan tersebut nampak nyata pada produk hortikultura untuk tujuan pasar konsumen institusi dan ekspor. Permasalahan lain adalah ketimpangan dalam penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, aset utama lahan, modal, dan akses pasar antar pelaku agribisnis menyebabkan struktur kelembagaan kemitraan usaha pada komoditas sayuran yang rapuh (Indraningsih et al. 2007).

Peningkatan produksi bagi petani sayuran memerlukan suplai informasi-informasi yang memadai dan dipercaya dalam mencapai tujuannya. Informasi dirumuskan sebagai ide, fakta, karya imajinatif pikiran, data yang berpotensi untuk pengambilan keputusan, pemecahan masalah serta jawaban atas pertanyaan yang dapat mengurangi ketidakpastian (Kaniki 1992 dalam Ihsaniyati 2010). Informasi akan memberikan pilihan atau alternatif untuk komponen-komponen dari sistem. Komponen sistem akan mencari informasi untuk mengatasi kesulitan mereka atau memecahkan masalah mereka. Masyarakat memerlukan informasi sebagai bahan masukan untuk menghadapi ketidakpastian yang mereka hadapi (Flor and Matulac 1994 dalam Lubis 2000).

(17)

Berbeda dengan petani yang mengelola komoditas padi dan palawija yang cenderung masih bersifat pasif, petani sayuran cenderung bersifat proaktif dan sudah lebih berorientasi pada pasar. Hal ini di antaranya disebabkan oleh harga komoditas sayuran yang selalu berfluktuasi dan sifatnya yang mudah rusak. Oleh karena itu jaringan komunikasi petani sayuran pada proses pengumpulan informasi harga dan pemasaran produk hasil pertaniannya menjadi menarik untuk diteliti.

Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimanakah jaringan komunikasi dalam informasi harga dan pemasaran sayur yang terbentuk di antara petani?

2. Bagaimanakah hubungan karakteristik personal petani dengan jaringan komunikasi dalam informasi harga dan pemasaran sayur kelompok tani?

Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk menjawab rumusan permasalah yaitu:

1. Mendeskripsikan jaringan komunikasi dalam informasi harga dan pemasaran sayur yang terbentuk di antara petani.

2. Mengetahui hubungan antara karakteristik personal petani dengan jaringan komunikasi dalam informasi harga dan pemasaran sayur kelompok tani.

Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak, antara lain:

(18)

dan juga merupakan sarana untuk menerapkan ilmu-ilmu yang telah diperoleh yaitu dengan meilhat fenomena yang terjadi di lapangan yang kemudian dikaitkan dengan teori-teori yang sesuai.

2. Bagi masyarakat terutama petani sayuran, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman terhadap jaringan komunikasi petani sayuran.

(19)

PENDEKATAN KONSEPTUAL

Tinjauan Pustaka

Pengertian dan Konsep Jaringan Komunikasi

Secara sederhana, Beebe dan Masterson (1994) dalam Anty (2002) mendefinisikan jaringan komunikasi sebagai “siapa berbicara dengan siapa atau kepada siapa”. Menurut Gonzales dalam Jahi 1993 jaringan komunikasi dinyatakan sebagai hubungan siapa dengan siapa yang dapat diilustrasikan dalam sebuah sosiogram yang berguna untuk menelusuri jaringan informasi ataupun difusi suatu inovasi. Sedangkan menurut Hanneman dan Mc Iver (1975) dalam Anty (2002), yang disebut dengan jaringan komunikasi adalah pertukaran informasi secara teratur antara dua orang atau lebih. Pokok perhatian Hanneman dan Mc Iver adalah adanya pertukaran informasi yang teratur antar individu.

Jaringan komunikasi oleh Rogers dan Kincaid (1981) diterjemahkan sebagai suatu jaringan yang terdiri dari individu-individu yang saling berhubungan, yang dihubungkan oleh jaringan informasi yang terpola. Pokok perhatian Rogers dan Kincaid adalah bahwa jaringan komunikasi terdiri dari individu-individu yang membentuk hubungan yang relatif stabil.

Berkaitan dengan terbentuknya jaringan komunikasi, Rogers (1983) menjelaskan bahwa istilah jaringan dalam konteks komunikasi yang mengacu pada suatu pengelompokkan sejumlah individu atau lainnya yang berinteraksi satu sama lain menurut pola hubungan tertentu dari waktu ke waktu. Berdasarkan beberapa definisi jaringan komunikasi yang dikemukakan di atas, dapat ditarik kesimpulan mengenai definisi jaringan komunikasi yang terkait dengan penelitian ini, yakni suatu rangkaian hubungan antara individu yang relatif stabil dalam suatu sistem sosial, sebagai akibat terjadinya pertukaran informasi diantara individu tersebut sehingga membentuk suatu pola jaringan komunikasi.

(20)

a. Star (Bintang), yaitu orang yang merupakan pemusatan jalur komunikasi dari beberapa orang dalam jaringan. Contoh pada Gambar 1:

Gambar 1 Star

b. Liason (penghubung), yaitu orang yang menghubungkan dua kelompok (klik) atau lebih dalam suatu sistem jaringan komunikasi. Contohnya pada Gambar 2:

Gambar 2 Liason

Individu yang berperan sebagai liason dapat memperlancar proses komunikasi dalam suatu sistem jaringan dan para liason berada di luar antara kedua klik yang dihubungkannya.

c. Isolate (pemencil), yaitu orang yang berada dalam lingkungan atau sistem, tetapi tidak menjadi anggota jaringan. Contohnya pada Gambar 3:

(21)

d. Neglectee, yaitu orang yang memilih tetapi tidak dipilih. Neglectee adalah orang yang pernah membicarakan tetapi tidak pernah diajak bicara atau dijadikan tempat bertanya oleh anggota kelompok lainnya. Contohnya pada Gambar 4:

Gambar 4 Neglectee

e. Gate keeper, yaitu orang yang berada dalam suatu struktur jaringan komunikasi, yang memungkinkan dia melakukan kontrol arus komunikasi. Dalam hal ini gate keeper mempunyai kekuasaan dalam memutuskan apakah suatu informasi penting atau tidak untuk disampaikan kepada publik.

Analisis Jaringan Komunikasi

Menurut Kincaid dan Rogers (1981) dalam mempelajari tingkah laku manusia berdasarkan proses komunikasi yang terjadi di antara partisipan dalam suatu sistem adalah melalui suatu pendekatan analisis jaringan komunikasi. Analisis jaringan komunikasi merupakan suatu metode penelitian untuk mengidentifikasikan struktur komunikasi dalam suatu sistem, dimana hubungan mengenai aliran atau jaringan komunikasi dianalisis dengan menggunakaan beberapa jenis hubungan interpersonal sebagai unit analisisnya. Kincaid dan Rogers 1981; Rogers 1983 mengemukakan bahwa kumpulan individu yang saling berhubungan melalui jaringan informasi yang disebut sebagai jaringan komunikasi memiliki tingkat struktur tertentu yang sudah stabil.

(22)

hubungan atau kontak sosial dengan orang-orang yang memiliki atribut sama atau yang sedikit lebih tinggi dari posisi dirinya. Individu yang homofili ini kurang terbuka terhadap lingkungannya.

Muhammad (1995) menyatakan bahwa untuk mengetahui jaringan komunikasi serta peranan individu di dalamnya digunakan analisis jaringan. Dari hasil analisis jaringan dapat diketahui bentuk hubungan atau koneksi orang-orang dalam organisasi serta kelompok tertentu (klik), keterbukaan suatu kelompok dengan kelompok lainnya dan orang-orang yang memegang peranan utama dalam organisasi.

Ada tiga tipe analisis hubungan yang dapat digunakan untuk menganalisis bagaimana hubungan perilaku komunikasi:

a. Pada tingkat jaringan komunikasi personal

Tingkat jaringan komunikasi personal merupakan tingkat terbawah, ciri struktural yang penting adalah derajat dimana seseorang terintegrasi dengan individu-individu lainnya dalam jaringan komunikasi. Intergrasi jaringan komunikasi personal ialah derajat dimana hubungan-hubungan komunikasi ada di antara anggota jaringan individual jaringan komunikasi. Semakin besar jumlah hubungan ini, maka semakin besar derajat integrasi hubungan jaringan komunikasi khususnya secara individual. Derajat integrasi pada jaringan komunikasi ini berhubungan dengan peranan khusus komunikasi dalam suatu sistem, misalnya liason dan topik-topik percakapan yang berbeda.

b. Pada tingkat klik

(23)

c. Pada tingkat sistem

Pada tingkat sistem, kita dapat melakukan beberapa analisis: (1). Keterbukaan sistem, yakni derajat dimana klik-klik dalam suatu sistem berkaitan dengan sistem lainnya melalui arus komunikasi (2). Kedominan sistem, yakni derajat dimana polapola hubungan komunikasi antar klik dalam suatu sistem sosial yang tidak memungkinkan adanya kesamaan (3). Keterbukaan sistem, yakni derajat di mana anggota-anggota suatu klik saling bertukar infomasi dengan lingkungannya.

Jadi pada hakekatnya, suatu jaringan komunikasi adalah hubungan-hubungan yang bersifat homofili, yaitu kecenderungan manusia untuk melakukan hubungan dengan orang yang mempunyai atribut yang sama dengan dirinya. Namun demikian bukan berarti suatu jaringan komunikasi hanya dapat terjadi pada orang-orang yang memiliki atribut yang sama saja, karena hubungan komunikasi yang terjadi dalam jaringan akan mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku orang-orang yang terlibat didalamnya. Dalam penelitian mengenai jaringan komunikasi, biasanya terdapat beberapa prosedur penelitian, yaitu:

a. Tahap pengidentifikasian klik-klik yang terdapat dalam keseluruhan sistem

b. Tahap pengidentifikasian peranan khusus yang ada dalam jaringan, seperti star, liason, gate keeper.

c. Tahap pengukuran berbagai indeks ukuran struktur komunikasi pada individu, klik atau sistem (Setiawan 1989).

(24)

yang terbentuk pada suatu sistem terdiri dari lima yaitu: lingkaran, semua saluran, rantai, roda, dan bentuk Y. Seperti terlihat dalam Gambar 5:

Lingkaran Semua Saluran Rantai

Roda Y

Gambar 5. Struktur jaringan komunikasi

(25)

Ada tiga kerangka pemikiran Rogers dan Kincaid (1981) dalam meneliti jaringan komunikasi dalam hubungannya dengan karakteristik dan perubahan perilaku individu:

1. Secara langsung variabel karakteristik individu dan variabel jaringan bersama-sama berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu

2. Variabel jaringan berperan sebagai perantara antara variabel karakteristik individu dengan perubahan perilaku, sehingga hanya variabel jaringan yang berpengaruh terhadap perubahan perilaku individu

3. Pada beberapa kasus perubahan perilaku sebagai dependen variabel dipengaruhi oleh jaringan, namun variabel ini dikontrol oleh variabel karakteristik individu

Selain itu dalam jaringan komunikasi juga dikenal istilah yang mengungkapkan hubungan antar manusia dalam berbagi informasi, yaitu (1) tingkat keeratan (Connectedness Index) adalah derajat keeratan hubungan antara anggota jaringan yang satu dengan yang lainnya, (2) tingkat keragaman (Diversity Index) adalah sedikit banyaknya hubungan komunikasi yang terjadi antara anggota jaringan komunikasi, (3) tingkat integrasi (Integration Index) adalah keadaan anggota suatu jaringan yang dapat berhubungan dengan anggota lain dalam jaringan yg ditunjukkan langkah-langkah hubungan komunikasi, (4) tingkat keterbukaan (Openness Index) adalah tingkat keterbukaan hubungan anggota-anggota klik terhadap individu lain yang berada di luar klik tersebut dalam suatu jaringan komunikasi (Rogers dan Kincaid 1981).

Scott (2000) menyatakan indikator terhadap jaringan komunikasi dapat dilihat dari beberapa derajat pengukuran yakni:

1. Keterhubungan (connectedness)

(26)

2. Keterjangkauan (reachability)

Reachability adalah jumlah hubungan yang menghubungkan seseorang individu dengan individu lain dalam jaringan.

3. Resiprositas (reciprocity)

Adalah persetujuan dua orang tentang eksistensi hubungan mereka. 4. Kepadatan (density)

Konsep kepadatan menggambarkan level untuk keterhubungan individu dalam sosiogram.

5. Sentralitas (centrality)

Merupakan pengukuran terhadap jaringan komunikasi yang ditemukan dalam konsep sosiometri sebagai “star” yakni orang yang popular dalam kelompoknya atau yang berdiri di pusat perhatian.

6. Kebersamaan (betweeness)

Freeman 1979 dikutip oleh Scott 2000 mengusulkan konsep betweeness. Konsep ini mengukur sejauh mana individu terletak di antara individu-individu lain pada sosiogram.

Pemasaran Sayuran

Pertanian merupakan suatu usaha untuk mengadakan suatu ekosistem buatan yang bertugas menyediakan bahan makanan bagi manusia (Nasoetion 2002). Sedangkan menurut Leuwis (2004) pertanian memiliki fungsi untuk memproduksi makanan dan non makanan, tanaman atau produk-produk hewani. Adapun produk pertanian antara lain: buah-buahan, sayuran, bunga dan makanan olahan. Singkatnya pertanian merupakan segala kegiatan manusia, mencakup bercocok tanam, perikanan, peternakan, dan kehutanan.

(27)

untuk sementara atau secara tetap memiliki dan atau menguasai sebidang tanah pertanian dan mengerjakannya sendiri, baik dengan tenaganya sendiri (beserta keluarganya) maupun dengan menggunakan tenaga orang lain atau orang upahan. Termasuk dalam pengertian menguasai di sini adalah: menyewa, menggarap (penyakap), mamaro (bagi hasil), sedangkan buruh tani tak bertanah tidak masuk tidak masuk dalam kategori petani.

Petani adalah pengusaha, terlepas dari kelas mana berada, bergantung pada skala usahanya (Cindoswari 2012). Dengan demikian, petani sayuran dapat didefinisikan adalah seseorang yang bergerak di bidang bisnis pertanian utamanya dengan cara melakukan pengelolaan tanah dengan tujuan untuk menumbuhkan dan memelihara produk pertanian sayuran, dengan harapan untuk memperoleh hasil dari produk pertanian sayuran tersebut untuk digunakan sendiri ataupun menjualnya kepada orang lain (Hapsari 2012).

Berbeda dengan petani yang mengelola komoditas padi dan palawija yang cenderung masih bersifat pasif, petani sayuran cenderung bersifat proaktif dan sudah lebih berorientasi pada pasar. Hal ini di antaranya disebabkan oleh harga komoditas sayuran yang selalu berfluktuasi dan sifatnya yang mudah rusak. Sistem informasi yang handal baik untuk teknologi budidaya khususnya pola (jadwal) tanam maupun untuk pemasaran hasil komoditas sayuran sangat diperlukan untuk dapat mendorong pada keberdayaan petani sayuran (Hapsari 2012).

(28)

jauh. Daerah produksi sayuran di Indonesia ialah Tanah Karo untuk daerah pemasaran Medan dan Singapura, Bukit Tinggi untuk Padang, Pengalengan untuk Bandung, Bogor, dan Jakarta, Puncak/Sindanglaya untuk Bogor dan Jakarta, Batu untuk Malang dan Surabaya. Salah satu kelemahan dalam peningkatan mutu hasil pertanian sayuran ialah bahwa jenis-jenis unggul belum cepat dimanfaatkan oleh para petani karena belum banyak pengusaha yang berani menanamkan modalnya dalam budang penangkaran bibit unggul.

Rahardi et al. (1993) dalam Hapsari (2012) menjelaskan bahwa sayuran dapat digolongkan pada jenis sayuran komersial dan non komersial. Komersial di sini berarti sayuran tersebut mempunyai banyak peminat meskipun harganya relatif rendah atau sayuran tersebut diminati kalangan tertentu dengan harga tinggi atau mempunyai peluang bagus untuk komoditi ekspor.Idealnya seseorang mengkonsumsi sayuran sekitar 200 gram per hari. Berarti penduduk Indonesia yang berjumlah sekitar 170 juta jiwa memerlukan 34000 ton sayuran per hari. Jumlah total kebutuhan sayuran merupakan potensi yang besar bagi pasar sayuran.

Hapsari (2012) menyatakan diperlukan suatu penanganan yang baik mulai dari perencanaan tanam hingga pemasarannya ke konsumen untuk menghasilkan sayuran komersial yang segar dan bermutu tinggi dengan harga yang layak dan keuntungan yang memadai. Kesemuanya ini tercakup dalam manajemen sayuran komersial yang merupakan suatu kasus manajemen yang bersifat unik. Ada tiga aspek pokok yang penting diketahui dalam bisnis apapun termasuk bisnis sayuran. Ketiga aspek tersebut adalah sebagai berikut:

1. Aspek produksi, yaitu proses kegiatan manajemen yang diterapkan dalam sistem produksi. Manajemen produksi mencakup tentang perencanaan produksi dan pengendalian proses produksi yang di dalamnya terdapat pula pengambilan keputusan dalam bidang persiapan dan proses produksi untuk jangka pendek menengah atau panjang. Dengan demikian diharapkan pengusaha dapat diharapkan berproduksi secara efisien.

(29)

diperlukan manajemen yang baik agar pengusaha mendapatkan keuntungan yang diharapkan.

3. Aspek keuangan, yaitu kegiatan pengelolaan keuangan dalam suatu usaha. Di dalamnya termasuk pula bagaimana cara mendapatkan dan mengalokasikan dana untuk suatu rangkaian kegiatan usaha (bisnis).

Usaha sayuran komersial membutuhkan suatu manajemen yang sifatnya unik. Keunikan ini disebabkan karena beberapa hal, antara lain: produksi sayuran komersial tidak dipengaruhi musim, komoditi sayuran komersial relatif mudah rusak, usianya pendek (sayur musim) dan dalam pengusahaannya membutuhkan perawatan yang relatif intensif. Dalam bisnis sayuran manajemennya dapat didefinisikan sebagai kegiatan menghasilkan dan mendistribusikan pada pengusaha atau langsung pada konsumen, dan memrosesnya bila mungkin.

(30)

Gambar 6. Saluran pemasaran sayuran segar

Karakteristik Personal Petani Sayuran

Karakteristik personal atau yang disebut juga dengan karakteristik individual (individual characteristic) merupakan sifat-sifat atau ciri-ciri yang dimiliki seseorang yang berhubungan dengan semua aspek kehidupan dan lingkungannya (Cindoswari 2012). Kotler dalam Zahid (1997) mengemukakan bahwa karakteristik individu dapat diklasifikasikan ke dalam karakteristik demografik dan karakteristik psikografik. Karakteristik demografik mencakup umur, jenis kelamin, ukuran keluarga, daur kehidupan keluarga, penghasilan, pekerjaan, pendidikan, ras, kebangsaan dan tingkat sosial. Sedangkan karakteristik psikografik meliputi gaya hidup dan kepribadian.

Toko-toko Makanan: Retail, supermarket, pasar-pasar sayuran

Perusahaan Jasa makanan: Restoran

Perusahaan Pengumpul: Koperasi, petani-perusahaan pengepak, assamblers, agen dan pedagang perantara, kantor-kantor

pembelian

(31)

Menurut Lionberger (1960), karakteristik individu merupakan aspek personal seseorang yang meliputi umur, tingkat pendidikan dan ciri psikologisnya. Petani kecil menurut Soekartawi et al. (1986) yang dikutip oleh Soekartawi (2005) memiliki karakteristik diantaranya (1) pendapatan rendah yakni kurang dari 240 kg beras per kapita per tahun, (2) berlahan sempit yakni kurang dari 0.25 ha sawah di Jawa atau 0.5 ha di luar Jawa, (3) kekurangan modal dan memiliki tabungan terbatas dan (4) berpengetahuan terbatas dan kurang dinamis.

Aziz (2000) mengemukakan bahwa beberapa penelitian menyatakan bahwa profil petani yakni umur, pendapatan, luas lahan yang dimiliki, jumlah tanggungan keluarga, partisipasi dalam kelompok dan jarak ke sumber informasi berhubungan dengan upaya memperoleh informasi melalui saluran komunikasi interpersonal maupun media massa. Sedangkan Shiddeqy (2001) menyimpulkan bahwa karakteristik individu seperti umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, jumlah tanggungan keluarga, tingkat pendapatan dan luas lahan garapan berhubungan nyata dengan perilaku komunikasinya.

Kerangka Pemikiran

Salah satu permasalahan pertanian Indonesia adalah tingkat kesejahteraan petani. Padahal petani sebagai aktor penting dalam menggerakkan pembangunan pertanian pada kenyataannya masih belum dapat memaksimalkan perannya sebagai produsen pangan. Hal ini disebabkan oleh berbagai keterbatasan yang dialami petani, mulai dari sulitnya mengakses bibit hingga sulitnya mengakses pasar. Berbagai hambatan sebagian besar dapat di atasi dengan tersedianya sistem informasi yang terpadu serta sumber-sumber informasi yang kredibel. Hal ini akan membantu petani dalam memberikan pilihan pengambilan keputusan yang berguna untuk mengantisipasi kerugian bagi usahataninya.

(32)

membutuhkan informasi yang tepat dan dapat dipercaya. Informasi yang dibutuhkan dalam konteks ini adalah informasi mengenai harga sayur dan permintaan pasar yang berimplikasi pada pemasaran sayur yang tepat bagi petani.

Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kemampuan individu petani sayur dalam mengakses individu lain dan sumber informasi dalam sebuah jaringan. Faktor tersebut dapat berasal dari dalam maupun dari luar individu yang berkomunikasi. Penelitian ini akan melihat hubungan antara karakteristik individu petani sayuran dengan jaringan komunikasi yang terbangun antar petani tersebut. Penelitian ini mengacu pada kerangka pemikiran yang diajukan Rogers dan Kincaid (1981), dimana karakteristik individu diduga berhubungan dengan variable jaringan komunikasi. Hubungan antara petani sayuran berbeda-beda, tergantung pada karakteristik individu. Variabel karakteristik individu diukur melalui umur, tingkat pendidikan, luas lahan, pengalaman berusahatani, dan pekerjaan sampingan di luar bertani.

(33)
(34)

METODE PENELITIAN

Penentuan Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dipilih secara sengaja (purposive) yaitu Desa Ciaruteun Ilir, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor Jawa Barat. Pemilihan lokasi penelitian berdasarkan pertimbangan bahwa di Desa Ciaruteun Ilir 97.38% penduduknya bermata pencaharian sebagai petani sayuran dan buruh tani. Desa Ciaruteun Ilir termasuk dalam kategori lahan dataran rendah yang memiliki prospek pengembangan pertanian sayuran yang menjanjikan.

Waktu pelaksanaan penelitian dilakukan pada bulan Mei sampai Agustus 2013. Sebelumnya telah dilakukan studi penjajagan lapang terlebih dahulu terhadap lokasi penelitian. Pemilihan lokasi dan waktu penelitian disesuaikan dengan kemampuan tenaga, biaya, dan waktu yang dimiliki oleh peneliti.

Populasi dan Sampel

Unit analisis penelitian adalah individu petani sayuran. Penentuan responden dalam penelitian ini menggunakan metode sampling intact system (sensus) dimana responden dalam penelitian ini diambil dari keseluruhan populasi. Metode ini diambil karena mengingat penelitian ini adalah penelitian jaringan komunikasi yang menekankan pada penggambaran struktur komunikasi secara keseluruhan. Hal ini mengacu dari pendapat Rogers dan Kincaid (1981) bahwa:

“Sampling intact system is particulary advantageous for sociometric

measurement: data about the characteristic of both the respondents and

(35)

Jumlah petani sayuran di Desa Ciaruteun Ilir adalah 450 orang tersebar di beberapa dusun. Di Desa Ciaruteun Ilir terdapat empat dusun. Dalam satu dusun terdapat beberapa kelompok tani. Populasi penelitian ini adalah Kelompok Tani Tani Jaya, salah satu kelompok tani yang berada di Desa Ciaruteun Ilir. Kelompok Tani Tani Jaya anggotanya berjumlah 21 orang. Sehingga responden dalam penelitian ini berjumlah 21 orang petani sayuran. Kelompok tani Tani Jaya dipilih karena anggota kelompoknya yang beragam. Dalam kelompok ini ketua kelompoknya adalah petani organik namum angota lainnya adalah petani sayur non-organik. Data petani terlampir pada Lampiran 2.

Data dan Instrumentasi

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif yang didukung oleh data kualitatif, hal ini dilakukan untuk mendapatkan hasil dengan kuat dan akurat. Data kuantitatif diperoleh melalui wawancara kepada responden menggunakan kuesioner dan juga wawancara terbuka dengan beberapa informan seperti penyuluh pertanian, kepala desa dan tokoh masyarakat setempat sebagai narasumber. Data kualitatif sebagai pendukung penelitian untuk mengetahui gambaran umum serta lokasi penelitian. Data kualitatif diperoleh dari studi literatur, buku-buku dan lapran-laporan penelitian.

Instrumen adalah alat pada waktu peneliti menggunakan metode penelitian (Arikunto 1998). Instrumen yang digunakan dlaam penelitian ini adalah kuesioner yaitu sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden yang berkaitan dengan topik penelitian.

Definisi Operasional Peubah dan Pengukuran

Definisi operasional dan pengukuran peubah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

(36)

untuk memperoleh hasil dari produk pertanian sayuran tersebut untuk digunakan sendiri ataupun menjualnya kepada orang lain. Karakteristik individu petani adalah ciri individu yang bervariasi antara orang (petani), yang terdiri dari:

a. Umur adalah lamanya responden hidup sejak ia dilahirkan sampai pada saat penelitian dilakukan yang dinyatakan dalam tahun. Peubah ini diukur dengan skala rasio.

b. Tingkat pendidikan formal adalah lamanya petani duduk di bangku sekolah resmi yaitu tidak sekolah, tidak lulus SD, lulus SD, lulus SLTP, lulus SLTA, dan lulus Perguruan Tinggi. Peubah ini diukur dengan skala ordinal.

c. Luas lahan garapan adalah luas lahan pertanian yang digarap untuk usahatani komoditas sayur dalam satuan hektar. Data yang diperoleh merupakan data skala rasio dalam satuan hektar.

d. Pengalaman berusahatani adalah lamanya responden menjadi petani sayur, sejak pertama kali menjadi petani sayur sampai dengan wawancara penelitian dilakukan. Data yang diperoleh merupakan data skala rasio dalam satuan tahun.

e. Pekerjaan sampingan adalah pekerjaan lain yang dikerjakan petani secara rutin di luar profesinya sebagai petani. Peubah ini diukur dengan skala ordinal.

2. Jaringan komunikasi, menggambarkan interaksi antara satu petani dengan petani lain yang berkaitan dengan upaya memperoleh dan memberikan dan menyebarkan informasi mengenai teknologi produksi. Dari data jaringan yang diperoleh dapat dilihat derajat sentralitas lokal (local centrality) dan derajat sentralitas global (global centrality)

(37)

berada dalam lingkungan terdekatnya, dengan mengunakan UCINET VI, derajat sentralitas local diperoleh melalui “normalized degree centrality” atau “centrality degree”. Nilai sentralitas lokal diperoleh melalui network>centrality>degree. Data yang diperoleh merupakan data skala rasio.

(38)

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN

Gambaran Umum Desa Penelitian

Desa Ciaruteun Ilir terletak di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat. Luas wilayah Desa Ciaruteun Ilir yaitu 360 hektar yang terdiri dari 4 Dusun, 10 RW, dan 35 RT. Desa Ciaruteun Ilir berbatasan dengan beberapa desa dan kecamatan yang berbeda.

Tabel 1 Batas wilayah Desa Ciaruteun Ilir tahun 2012

Batas Desa/Kelurahan Kecamatan

Sebelah utara Cidakom Rumpin

Sebelah selatan Leuweung Kolot Cibungbulang

Sebelah timur Ciampea Ciampea

Sebelah barat Cijujung Cibungbulang

Lokasi dan Kondisi Fisik

Jarak Kantor Desa Ciaruteun Ilir ke ibu kota kecamatan sekitar 3.5 kilometer, sedangkan jarak ke ibu kota kabupaten yaitu 15 kilometer. Jarak menuju ibu kota provinsi sekitar 110 kilometer dan jarak ke ibu kota negara yaitu 60 kilometer.

(39)

Keadaan Penduduk

Jumlah penduduk Desa Ciaruteun Ilir sebanyak 10459 jiwa, terdiri dari laki-laki 5374 jiwa dan perempuan 5119 jiwa. Jumlah penduduk dibedakan menurut usia, tingkat pendidikan dan jenis mata pencaharian.

Tabel 2 Jumlah dan persentase penduduk Desa Ciaruteun Ilir menurut kelompok usia pada tahun 2012

Tabel 2 menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Ciaruteun Ilir memiliki rentang umur 0 sampai 14 tahun (33.1 persen) dan 30 sampai 59 tahun (30.6 persen). Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian besar tingkat pendidikan penduduk Desa Ciaruteun Ilir termasuk kategori rendah yaitu Sekolah Dasar (33,5 persen) dan tidak pernah mengenyam bangku sekolah (57.7 persen). Adapun Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Desa Ciaruteun Ilir memiliki mata pencaharian sebagai buruh tani (68.16 persen) dan petani (29.22 persen).

Tabel 3 Jumlah dan persentase penduduk Desa Ciaruteun Ilir berdasarkan tingkat pendidikan tahun 2012

Tingkat Pendidikan Jumlah (orang) Persentase (%)

(40)

Tabel 4 Jumlah dan persentase penduduk Desa Ciaruteun Ilir menurut mata pencaharian tahun 2012

No. Jenis Mata Pencaharian Jumlah (orang)

Lembaga pemerintahan di Desa Ciaruteun Ilir berdasarkan hukum pembentukan BPD yaitu dari Perda/Keputusan Bupati/Camat. Aparat Pemerintahan Desa/Kelurahan berjumlah 10 orang dengan jumlah perangkat Desa /Kelurahan 6 unit kerja. Aparat Pemerintahan Desa/Kelurahan terdiri dari Kepala Desa/Lurah, Sekretaris Desa/Kelurahan, Kepala Urusan Pemerintahan, Kepala Urusan Pembangunan, Kepala Urusan Pemberdayaan Masyarakat, Kepala Urusan Kesejahtearan Rakyat, Kepala Urusan Umum, Kepala Urusan Keuangan, serta Kepala Urusan lain-lain.

Prasarana Komunikasi dan Informasi di Desa Ciaruteun Ilir

Prasarana komunikasi dan informasi yang terdapat di Desa Ciaruteun Ilir yaitu:

(41)

telepon rumah bersifat permanen karena menggunakan kabel sehingga penggunaannya terbatas. Telepon seluler tidak hanya dimiliki oleh kalangan orang tua, karena saat ini banyak kalangan muda dan juga anak usia sekolah sudah memiliki telepon seluler, khususnya telepon seluler yang memuat fitur kamera, radio, pemutar lagu dan aplikasi internet untuk akses jejaring sosial. Sinyal telepon seluler di Desa Ciaruteun Ilir hanya terbatas untuk beberapa operator. Hal ini dikarenakan kendala geografis yaitu letak desa yang dikelililingi oleh gunung kapur menyebabkan sinyal tidak menyebar secara maksimal.

Selain itu di Desa Ciaruteun Ilir terdapat warung internet (warnet) yang banyak dikunjungi oleh masyarakat usia muda yang ingin bermain game online ataupun ingin mencoba browsing jejaring sosial. Keberadaan warnet jarang atau bahkan tidak pernah digunakan untuk mencari informasi mengenai usahatani sayuran, warnet hanya menjadi sarana untuk mencari hiburan.

2. Layanan surat pos yaitu adanya tukang pos keliling yang mengantar surat. Adapun kantor pos dan kantor pos pembantu tidak ada. Layanan tukang pos sangat jarang digunakan oleh masyarakat, hanya pihak kantor Desa yang banyak menggunakan untuk mengirim surat-surat penting berkaitan tugas dinas. Layanan surat pos umumnya kurang diminati oleh masyarakat, karena masih ada masyarakat Desa Ciaruteun Ilir yang buta huruf (tidak bisa membaca dan menulis) sehingga motivasi untuk menulis atau membaca surat sangat rendah.

(42)

menghilangkan rasa jenuh ketika bekerja. Acara yang didengarkan dari radio umumnya acara musik dangdut. Irama lagu dangdut yang ceria menjadi hiburan bagi masyarakat yang menghabiskan waktunya untuk bekerja di ladang.

Masyarakat Desa Ciaruteun Ilir banyak mengakses televisi dan berbagai media elektronik lainnya karena sebagain besar mastarakat sudah menjadi konsumen Perusahaan Listrik Negara (PLN), walaupun masih ada sebagian masyarakat yang belum menjadi konsumen PLN karena keterbatasan ekonomi sehingga tidak mampu untuk memasang instalasi listrik.

4. Koran/majalah/buletin yaitu di Desa Ciaruteun Ilir sudah ada koran/surat kabar, majalah, papan iklan/reklame dan papan pengumuman. Prasarana ini jarang digunakan oleh masyarakat karena umumnya masyarakat malas membaca, rendahnya tingkat pendidikan menyebabkan tidak bisa membaca (buta huruf) karena untuk memahami isi koran/majalah/buletin, pembaca dituntut untuk bisa membaca serta memiliki intelektualitas tertentu. Koran/majalah/buletin dapat diperoleh masyarakat melalui kios agen penjual di pasar dekat desa atau pangkalan ojek motor, tidak ada agen yang berjualan keliling di wilayah desa. Beberapa koran/majalah/buletin tersedia di kantor desa, namun jumlahnya terbatas dan masyarakat boleh membacanya namun tidak boleh dibawa pulang kerumah.

(43)

Profil Kelompok Tani Tani Jaya

Kelompok tani Tani Jaya berdiri pada tahun 2008. Diawali dengan keterlibatan dua orang petani lokal dalam keanggotaan Balai Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP3) di Desa Ciaruteun Ilir. Bergabung menjadi anggota BP3 Pertanian membuat mereka mendapatkan informasi bahwa selama ini ada bantuan dari pemeritah desa dan kecamatan untuk petani, namun bantuan tersebut tidak tersalurkan karena tidak terdapatnya kelompok tani di Desa Ciaruteun Ilir. Akhirnya atas inisiatif dua orang petani tersebut berdirilah dua kelompok tani di dua rukun tetangga (RT) yang berbeda. Petani pertama yang berada di RT 03 mendirikan Kelompok Tani Mekar Tani dan petani kedua yang berada di RT 04 mendirikan Kelompok Tani Tani Jaya.

Pendiri Kelompok Tani Tani Jaya mengajak 12 orang petani di RT 04 untuk bergabung dengan kelompoknya. Sebagai pelopor ia juga menunjuk dua orang anggota keluarganya untuk menempati posisi sekretaris dan bendahara kelompok, Sejak berdiri hingga saat ini jabatan ketua kelompok masih dipegang olehnya. Nama tani jaya sendiri merupakan tujuan agar petani menjadi maju, makmur dan berjaya (berhasil).

Tahun 2009, International Cooperation and Development Fund (ICDF) misi teknik Taiwan menberikan pinjaman kepada ketua kelompok untuk mengembangkan pertanian organik. Kesuksesan bertani organik ini membuat petani lain tertarik bergabung hingga jumlah anggota kelompok bertambah menjadi 30 orang pada tahun 2010. Namun saat ini anggota yang tercatat dan masih aktif hanya 21 orang dan semua anggota kelompok adalah laki-laki.

(44)

Gambar 8. Garis kekerabatan Kelompok Tani Tani Jaya

Kelompok Tani Tani Jaya mempunyai kegiatan pertemuan rutin satu kali dalam satu bulan yang dihadiri sekitar 70 persen dari seluruh anggota aktif. Pertemuan ini membahas program sayuran organik dan permasalahan pertanian organik. Walaupun dalam kelompok hanya ketua kelompok yang bertani organik namun pembahasan mengenai pertanian organik menjadi fokus utama dengan tujuan pembelajaran, menambah ilmu dan wawasan bagi anggota kelompok.

Karakteristik Anggota Kelompok Tani Tani Jaya

(45)

Tingkat Pendidikan

Tingkat pendidikan responden penelitian ini tidak terlalu bervariasi. Tingkat pendidikan responden masih rendah, terbukti dari tingkat pendidikan responden tertinggi ada pada taraf lulus sekolah dasar. Sebanyak 14 persen (3 orang) tidak bersekolah, 43 persen (9 orang) tidak tamat sekolah dasar, dan sisanya lulus sekolah dasar. Hal tersebut sangat relevan dengan hasil sensus Badan Pusat Statistik pada tahun 2004 bahwa terdapat 24.9 juta rumah tangga yang berusaha di sektor pertanian, hampir setengah dari 53.1 juta rumah tangga yang ada di perdesaan memiliki tingkat pendidikan dan keterampilan yang rendah (paling tinggi Sekolah Dasar). Jumlah sebesar ini mengakibatkan produktivitas usahatani sangat rendah, padahal tingkat pendidikan pada umumnya sangat berpengaruh terhadap praktek usahatani yang dilakukan.

Tabel 5 Jumlah dan persentase anggota Kelompok Tani Tani Jaya menurut tingkat pendidikan tahun 2013

Tingkat Pendidikan Jumlah Responden (Orang) Persentase (%) Tidak Bersekolah

Usahatani sayuran lebih kompleks dibandingkan usahatani padi atau palawija di mana inovasi pada usahatani padi relatif kurang beragam dibandingkan dengan usahatani sayuran. Sehingga dalam usahatani sayuran diperlukan orang yang berusia relatif muda yang memiliki tingkat inovatif yang relatif tinggi.

(46)

Tabel 6 Jumlah dan persentase anggota Kelompok Tani Tani Jaya menurut umur

Lama berusahatani sayuran merupakan lamanya waktu petani terlibat langsung dalam mengelola usahatani sayuran. Sebagian besar petani memiliki pengalaman yang cukup lama, sebanyak 48 persen (10 orang) memiliki rentang pengalaman 16 sampai 29 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa dilihat dari lamanya menekuni usahatani sayuran, petani disini relatif cukup berpengalaman. Secara umum petani sayuran anggota Kelompok Tani Tani Jaya melakukan usahatani sayuran secara turun-temurun.

Tabel 7 Jumlah dan persentase anggota Kelompok Tani Tani Jaya menurut lama berusahatani tahun 2013

Jenis Mata Pencaharian Selain Bertani

(47)

Pedagang penggumpul adalah orang yang membeli sayuran petani-petani untuk dijual kembali ke pasar atau penyalur lainnya.

Tabel 8 Jumlah dan persentase anggota Kelompok Tani Tani Jaya menurut jenis mata pencaharian tahun 2013

Jenis Mata Pencaharian Jumlah (orang) Persentase (%) Hanya bertani

Soekartawi (2005) menjelaskan, telah dikenal baik bahwa pemilik-pemilik tanah mempunyai pengawasan yang lebih lengkap atas pelaksanaan usahataninya, bila dibandingkan dengan para penyewa. Lahan merupakan modal alam bagi petani dalam menjalankan usahataninya. Lahan merupakan salah satu faktor produksi yang sangat penting dalam pengembangan usahatani. Ketersediaan lahan yang terbatas berdampak pada perkembangan usahatani dan juga pendapatan petani. Kepemilikan luas lahan petani sayur dibedakan menjadi luas, cukup luas dan sempit.

Tabel 9 Jumlah dan persentase anggota Kelompok Tani Tani Jaya berdasarkan luas lahan yang dikelolah tahun 2013

(48)

JARINGAN KOMUNIKASI INFORMASI HARGA DAN PEMASARAN SAYUR

Struktur jaringan komunikasi yang terjadi akan digambarkan dalam bentuk sosiogram. Dalam hal ini, struktur jaringan komunikasi antara anggota kelompok tani akan dibagi menjadi dua proses, yaitu proses petani menggumpulkan informasi terkait harga sayur yang beredar di pasaran serta proses penjualan sayur yang dilakukan petani.

Jaringan Komunikasi dalam Informasi Harga Sayur

Gambar 6 menjelaskan dalam pemasaran sayur segar petani memiliki dua pilihan saluran. Pertama melalui saluran pengusaha pengumpul, meliputi koperasi, petani-perusahaan pengepak, assamblers, agen dan pedagang perantara, kantor-kantor pembelian. Kedua melalu jalur lain pasar petani yang langsung menuju konsumen. Petani sayur anggota Kelompok Tani Tani Jaya memiliki keragaman dalam memasarkan sayurnya. Petani organik memiliki pasar tersendiri yaitu ICDF yang akan memasukkan sayuran dari petani ke supermarket di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi (Jabodetabek). Sedangkan petani non-organik biasanya memasarkan sayurnya kepada tengkulak atau langsung menjual ke pedangan sayur di pasar tradisional di Bogor.

(49)

Produk sayuran yang dipasarkan anggota Kelompok Tani Tani Jaya berupa sayuran segar (fresh). Komoditas sayuran yang diusahakan oleh anggota Kelompok Tani Tani Jaya merupakan sayuran dataran rendah antara lain: kangkung, bayam, caisin dan selada. Sayuran-sayuran ini termasuk jenis sayuran komersial. Komersial di sini berarti sayuran tersebut mempunyai banyak peminat meskipun harganya relatif rendah atau sayuran tersebut diminati kalangan tertentu dengan harga tinggi bagi sayuran organik.

Petani sayur daun seperti anggota Kelompok Tani Tani Jaya memiliki pasar yang luas dan lebih beragam. Hal ini berbeda dengan komoditas pertanian yang dipasarkan kepada pabrik atau perusahaan untuk diolah lagi sebelum sampai ke konsumen, seperti singkong, ubi jalar, dan bengkoang. Umumnya sayur dipasarkan di pasar induk atau pasar umum di wilayah Bogor dan Jakarta. Selain itu karena sifatnya yang mudah rusak, maka jarak penyebaran informasi mengenai harga sayur menjadi lebih pendek. Petani sayuran lebih banyak berkomunikasi dengan tengkulak/pedagang pengumpul dalam hal pertukaran informasi mengenai pemasaran, khususnya distribusi hasil produksi sayuran petani anggota kelompok.

Jaringan komunikasi petani sayur mengenai pengumpulan informasi harga sayur digambarkan dalam sosiogram pada Gambar 9. Pada gambar tersebut terlihat struktur jaringan komunikasi petani merupakan struktur personal yang terpusat (interlock personal network).

(50)
(51)

pasaran input dan hasil-hasil produksi seringkali tidak disampaikan oleh tengkulak, artinya tengkulak menyimpan informasi-informasi penting mengenai pemasaran agar petani selalu tergantung kepada tengkulak dalam memasarkan produk sayurannya. Akibatnya keuntungan lebih banyak diperoleh tengkulak dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh petani sebagai pelaku utama produksi sayuran. Ketergantungan petani kepada tengkulak ditunjukkan dengan angka 76 persen petani menghubungi tengkulak untuk mencari informasi mengenai harga sayur di pasaran.

Sosiogram jaringan komunikasi dalam informasi harga sayur pada Gambar 9 dapat diidentifikasi adanya empat klik. Selanjutnya karakteristik klik dapat diamati pada Tabel 10.

Tabel 10 Identifikasi klik dalam jaringan komunikasi petani dalam informasi harga sayur

Klik Anggota Klik Jumlah Anggota Klik

I

(52)

penghubung klik I dan klik III. Berbeda dengan node 14 yang berkomunikasi dengan orang-orang yang lebih senior darinya, node 13 berkomunikasi dengan orang-orang yang memiliki kesamaan derajat, yaitu sama-sama tokoh dalam kelompok.

Peran individu sebagai cosmopolite ditunjukkan dari perilaku individu yang menghubungkan klik atau sistem dengan lingkungannya. Ia mengumpulkan informasi mengenai sistem dari sumber-sumber dan juga menyebarkan informasi kepada individu-individu lain atau klik lain yang ada dalam lingkungannya. Peran individu sebagai gatekeeper ditunjukkan dalam perilaku individu yang membatasi keluar masuknya informasi ke dalam sebuah sistem. Dalam hal ini gatekeeper berhak untuk menyeleksi, menyaring dan menyebarluaskan informasi mana saja yang layak untuk diteruskan atau dihentikan. Peran gatekeeper mencegah terjadinya overloading information atau informasi berlebih yang dialami oleh anggota-anggota sistem. Pada sosiogram jaringan komunikasi petani sayur dalam informasi harga individu yang berperan sebagai cosmopolite maupun gatekeeper ditunjukkan oleh node 13.

Sosiogram di Gambar 9 mengidentifikasi beberapa node yang berperan sebagai star. Pada klik I individu yang berperan sebagai star ditunjukkan oleh node 5. Pada klik II individu yang berperan sebagai star ditunjukkan oleh node 13. Pada klik III individu yang berperan sebagai star ditunjukkan oleh node 10. Pada klik IV tidak tampak individu yang menjadi star, ini disebabkan individu yang banyak dihubungi oleh anggota klik ini adalah individu di luar sistem atau di luar kelompok tani. Individu-individu yang berperan menjadi star pada jaringan komunikasi petani sayur mengenai pengumpulan informasi harga sayur merupakan individu yang memiliki jumlah total hubungan maksimal dengan individu-individu lain dalam sistem.

(53)

tahun, sehingga walaupun sejak tahun 2009 ia telah bertani organik dan memiliki pasar yang berbeda dengan anggota kelompok lainnya, para petani masih menghubunginya untuk bertanya tentang harga sayur. Node 5 memiliki lahan terluas dalam kelompok tani ini, yakni sebesar 8000 m2. Walaupun ia tidak lulus sekolah dasar, namun pengetahuannya sangat luas dan semangat mencari ilmunya besar. Ia berkali-kali melakukan percobaan hingga sekarang berhasil memanen sayurnya. hingga dua kali dalam satu kali persemaian bibit. Dengan lahan yang luas dan pengetahuannya ini, node 5 berhasil menjadi petani sayur terproduktif di Kelompok Tani Tani Jaya. Bahkan menurut ICDF, node 5 merupakan petani organik terproduktif di Bogor. Produktivitas node 5 menyebabkan makin luasnya pasar sayur yang dapat dijangkaunya. Ini pula yang menyebabkan node 5 memiliki informasi mengenai harga sayur lebih banyak dari pada petani lainnya pada kelompok. Selain itu ia merupakan individu yang ramah sehingga disenangi oleh anggota kelompok tani.

Node 10 termasuk petani berlahan sempit yaitu 1000 m2. Seperti kebanyakan petani lainnya di Desa Ciaruteun Ilir, Node 10 tidak merasakan bangku sekolah. Setelah bertani selama dua puluh tahun, tahun 1993 ia memilih menjalankan profesi tambahan selain bertani yaitu dengan menjadi pedagang pengumpul untuk mengubah keadaan ekonominya. Ia biasanya menjual sayur yang telah ia kumpulkan ke pengecer, ke Pasar Merdeka dan Pasar Cibinong. Selama hampir sepuluh tahun menjadi pedagang pengumpul, node 10 kini telah sukses. Node 10 memiliki tiga mobil bak terbuka yang membantunya membawa sayur-sayur petani Desa Ciaruteun Ilir ke pasar. Walau telah sukses, node 10 tetap membaur dengan petani lainnya. Ia tetap aktif hadir pada agenda kelompok tani.

(54)

Terdapat beberapa penyebab yang mengakibatkan individu tertentu menjadi star dalam jaringan komunikasi pengumpulan informasi harga sayur. Pada aspek pendidikan dan luas lahan bukan penyebab yang signifikan, akan tetapi pengalaman usahatani dan pendapatan merupakan salah satu penyebab utama seorang individu menjadi star. Selain itu kemampuan individu mengakses pasar sayuran menyebabkan seseorang dapat berperan sebagai star. Pelaku agribisnis hilir (tengkulak/pedagang pengumpul) lebih menguasai informasi tentang kualitas dan kuantitas produk yang dibutuhkan oleh pasar dibandingkan dengan pelaku agribisnis yang berada di hulu (petani yang memproduksi sayuran). Tengkulak/pedagang pengumpul menyimpan informasi-informasi penting mengenai pemasaran agar petani selalu tergantung kepada tengkulak dalam memasarkan produk sayurannya.

Analisis terhadap jaringan komunikasi petani mengenai aspek pengumpulan informasi harga sayur di Kelompok Tani Tani Jaya menunjukkan terdapat individu tertentu yang menjadi isolate yang ditunjukkan oleh node 3. Isolate merupakan individu yang memiliki jumlah hubungan paling sedikit dengan anggota sistem lainnya. Individu ini merupakan individu yang tidak terlibat dalam pertukaran informasi yang terjadi di lingkungannya, tidak menerima dan tidak juga menyebarkan informasi yang beredar di lingkungannya. Node 3 ini tidak mengumpulkan informasi mengenai harga sayur dari teman-teman anggota kelompoknya, ia lebih memilih bertanya langsung kepada tengkulak langganannya. Node 3 adalah petani muda, usianya baru 32 tahun dan pengalaman berusahataninya baru 18 tahun. Ia juga petani yang berlahan sempit, 200 m2 tanah yang ia kelolah adalah tanah sewaan. Tidak seperti petani lainnya yang aktif mengikuti pertemuan kelompok, ia sering kali tidak hadir.

(55)

mengenai harga, ia pun menjual sayurnya kepada tengkulak langganannya tersebut.

Jaringan Komunikasi dalam Penjualan Sayuran

Jaringan komunikasi mengenai penjualan sayuran merupakan jaringan komunikasi yang penting untuk digambarkan. Hal ini disebabkan oleh penjualan sayuran dalam kelompok tani sangat beragam. Petani menjual sayurnya kepada pedagang pengumpul, tengkulak dan ada pula yang menjual langsung ke pada konsumen.

Jaringan komunikasi petani sayur mengenai penjualan digambarkan dalam sosiogram pada Gambar 10. Pada gambar tersebut terlihat struktur jaringan komunikasi mereka merupakan struktur jaringan personal menyebar (radial personal network). Menurut Rogers dan Kincaid (1981) jaringan personal menyebar mempunyai derajat integrasi yang rendah, namun mempunyai sifat keterbukaan terhadap lingkungannya. Kondisi ini terlihat pada sosiogram di Gambar 9, dimana terjadi penyebaran arus informasi pada semua individu dalam sistem. Penyebaran komunikasi juga terjadi pada setiap klik dimana individu anggota klik berkomunikasi pada hampir semua individu lainnya.

Identifikasi klik dalam jaringan komunikasi Kelompok Tani Tani Jaya mengenai penjualan sayur menghasilkan lima klik yang secara rinci dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11 Identifikasi klik dalam jaringan komunikasi Kelompok Tani Tani Jaya mengenai penjualan sayur

Klik Anggota Klik Jumlah Anggota Klik

(56)
(57)

Jaringan komunikasi petani sayur mengenai penjualan sayur di Gambar 10 tidak terdapat individu yang berperan sebagai liason ataupun bridge. Pada gambar tersebut klik yang satu dengan klik lainnya tidak terhubung, hal ini menggambarkan bahwa tingkat individualitas petani anggota Kelompok Tani Tani Jaya ini dalam menjual sayurnya masih sangat tinggi. Petani belum berkolaborasi dalam memasarkan sayurannya dan belum terfokus pada kesejahteraan kelompoknya. Penjualan sayur juga masih didominasi oleh keberadaan pedagang pengumpul/tengkulak. Kondisi ini seperti prototipe kondisi kelompok tani kebanyakan yaitu petani memasarkan sayurnya sendiri namun saat produksi (pembibitan, penanaman, pemupukan dan panen) masih dilakukan secara bersama-sama.

Klik I dan III tidak dijumpai individu yang menjadi star. Komunikasi tersebar merata sehingga tidak ada individu yang menjadi pusat informasi. Sedangkan pada klik IV keberadaan star pada sistem tidak nampak dikarenakan petani lebih banyak berinteraksi langsung pada tengkulak yang merupakan individu di luar kelompok. Pada klik II node 12 adalah star. Pada Gambar 10 terlihat bahwa node 12 menjualkan sayur hasil pertanian node 14. Node 12 adalah saudara dekat dan juga tetangga Node 14. Selain berusia lebih tua dari node 14, node 12 memiliki pengalaman usahatani 15 tahun lebih lama dari node 14. Node 12 juga mempunyai jaringan penjualan sayur langsung ke pedagang sayur di Cibinong dan Cimanggu. Karena itulah node 14 mempercayakan sayurnya untuk dijual oleh node 12.

(58)

dikarenakan kedekatan hubungan pertemanan juga karena node 15. Kepiawaian node 10 menjalin hubungan dengan masyarakat, keaktifan mengikuti kegiatan kelompok tani, serta alasan hubungan kekerabatan yang mendasari petani menjual sayur kepadanya.

Individualitas petani dalam proses penjualan sayur terlihat jelas pada Gambar 10, dimana jumlah isolate pada jaringan komunikasi mengenai penjualan lebih banyak dari pada isolate pada jaringan komunikasi mengenai pengumpulan informasi harga sayur. Isolate adalah individu yang memiliki kontak minimum dengan sistem. Umumnya individu ini menyendiri dan tidak terlibak dalam interaksi sesama anggota dalam sistem. Individu yang berperan sebagai isolate pada sosiogram di Gambar 10 ditunjukkan oleh node 3, 7, 11, 19, dan 21. Node 3, 7, 11 dan 19 masing-masing menghubungi satu orang tengkulak yang berbeda untuk menjual sayurnya. Node 3, 7, dan 9 memillih menjual kepada tengkulak yang berada di pasar, mereka mengangkut sendiri sayur hasil panen ke pasar dengan motor. Sayur yang dijual kepada tengkulak di pasar harganya lebih tinggi dibanding sayur yang dijual kepada tengkulak di desa. Sedang node 11 adalah petani yang berusia lanjut 60 tahun lebih memilih menjual sayur kepada keponakannya yang tinggal di RT 13 yang juga merupakan tengkulak. Node 21 adalah buruh tani yang bekerja di lahan milik node 10 sehingga tidak menjual sayur kepada siapapun.

Gambar

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN……………………..
Gambar 3  Isolate
Gambar 5. Struktur jaringan komunikasi
Gambar 6. Saluran pemasaran sayuran segar
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sistem Informasi Manajemen Sebagai Bentuk Komunikasi Antar Anggota Jaringan dalam Perusahaan.. Ade

Judul penulis yang diajukan adalah “ A nalisis Karakteristik pedagang dan Jaringan perdagangan Sayur Pasar Tawangmangu Kabupaten Karanganyar”. Terwujudnya skripsi ini

Hal ini berarti semakin tinggi jumlah sumber informasi maka semakin pendek jarak yang diperlukan oleh petani karet untuk menghubungi aktor lain dalam jaringan komunikasi. Beragamnya

Disamping itu fluktuasi harga yang tinggi juga memberi peluang kepada pedagang untuk memanipulasi informasi harga di tingkat petani sehingga transmisi harga dari

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, terdapat beberapa klik dalam jaringan komunikasi; beberapa aktor yang berperan sebagai star dalam jaringan; beberapa individu

Disamping itu fluktuasi harga yang tinggi juga memberi peluang kepada pedagang untuk memanipulasi informasi harga di tingkat petani sehingga transmisi harga dari

Jaringan komunikasi antara petani merupakan proses pertukaran informasi yang terbentuk dalam suatu kelompok kecil yang berupa klik sosial (social clique) (Soekartawi, 1988)..

FAKTOR BERUPA MEDIA YANG BERHUBUNGAN DENGAN PRODUKSI VARIABEL PERNYATAAN STS TS N S SS Smartphone X1 Petani lebih banyak memperoleh informasi mengenai usahatani sayur kubis