• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Kadar Fosfat Pada Limbah Cair Rumah Sakit Dan Air Sungai Disekitarnya Secara Spektrofotometri UV - VIS

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisa Kadar Fosfat Pada Limbah Cair Rumah Sakit Dan Air Sungai Disekitarnya Secara Spektrofotometri UV - VIS"

Copied!
61
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISA KADAR FOSFAT PADA LIMBAH CAIR RUMAH

SAKIT DAN AIR SUNGAI DISEKITARNYA SECARA

SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS

KARYA ILMIAH

FEBRI YANTHI TAMBUNAN

102401058

PROGRAM STUDI D-3 KIMIA

DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(2)

ANALISIS KADAR FOSFAT PADA LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT DAN AIR SUNGAI DISEKITARNYA SECARA

SPEKTROFOTOMETRI UV – VIS

KARYA ILMIAH

Diajukan untuk melengkapi tugas dan mematuhi syarat memperoleh gelar Ahli Madya

FEBRI YANTHI TAMBUNAN 102401058

PROGRAM STUDI D-3 KIMIA DEPARTEMEN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

(3)

PERSETUJUAN

Judul : ANALISA KADAR FOSFAT PADA LIMBAH

CAIR RUMAH SAKIT DAN AIR SUNGAI DISEKITARNYA SECARA

SPEKTROFOTOMETRI UV - VIS

Kategori : KARYA ILMIAH

Nama : FEBRI YANTHI TAMBUNAN

Nomor Induk Mahasiswa : 102401058

Program Studi : D3 KIMIA ANALIS

Departemen : KIMIA

Fakultas : MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN

ALAM

Disetujui di Medan , Juli 2013

Diketahui/Disetujui Oleh:

Ketua Program Studi D3 Kimia Dosen Pembimbing F-MIPA USU

Dra. Emma Zaidar Nasution, M.Si Dr. Rumondang Bulan,M.S NIP. 195512181987012001 NIP.195408301985032001

Ketua Departemen Kimia F-MIPA USU

(4)

PERNYATAAN

ANALISIS KADAR FOSFAT PADA LIMBAH CAIR RUMAH SAKIT DAN AIR SUNGAI DISEKITARNYA SECARA

SPEKTROFOTOMETRI UV – VIS

KARYA ILMIAH

Saya mengakui bahwa Karya Ilmiah ini adalah hasil kerja saya sendiri. Kecuali beberapa kutipan dari ringkasan yang masing- masing disebutkan sumbernya.

Medan, Juli 2013

(5)

PENGHARGAAN

Bismillahirrahmanirrahim,

Alhamdulillahi Rabbil ‘alamin, berkat petunjuk dan Anugrah yang tak terhingga dari-Nya, serta Shalawat berangkaikan salam atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW, sehingga penulis dapat menyelesaikan perkuliahan dan penulisan karya ilmiah ini merupakan salah satu syarat guna menyelesaikan Studi Program Diploma (D-3) Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sumatera Utara.

Karya Ilmiah ini ditulis berdasarkan pengamatan penulis selama melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) di Balai Riset dan Standarisasi Industri Medan (Baristand Industri Medan), dengan judul “ Penentuan Kadar Fosfat Air Sungai Pembuangan Limbah Cair Rumah Sakit secara Spektrofotometer UV-VIS”.

Selama penulis mengikuti pendidikan di Universitas Sumatera Utara, penulis telah banyak mendapat bimbingan, petunjuk, bantuan, pengarahan, serta dorongan dari berbagai pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan program pendidikan dan penyusunan Karya Ilmiah ini dengan baik.

(6)

Penulis menyadari masih banyak kelemahan serta kekurangan dalam penulisan karya ilmiah ini baik dari segi isi maupun tata bahasa, untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari para pembaca. Semoga karya ilmiah ini dapat bermanfaat, dan tiada petunjuk kearah itu kecuali yang datang dari Allah SWT. Kepada-Nya kita bertawakkal dan kepada-Nya jualah kita kembali.

Wabillahittaufiq Walhidayah.

(7)

ABSTRAK

Telah dilakukan analisa kadar fosfat terhadap limbah cair rumah sakit dan air sungai disekitar rumah sakit. Penentuan kadar fosfat dengan menggunakan asam askorbat sebagai reduktor dengan cara spektrofotometer dengan panjang gelombang 880 nm, dimana dalam suasana asam Ammonium molibdat dan Kalium antimoniltartrat bereaksi dengan ortofosfat membentuk senyawa asam fosfomolibdat kemudian direduksi oleh asam askorbat menjadi kompleks biru molibden. Dari hasil analisa diperoleh kadar Fosfat sebesar: 0,00016 mg/L - 0,0058 mg/L. Adapun kadar Fosfat berdasarkan ketentuan baku mutu limbah cair bagi kegiatan Rumah Sakit adalah 2 mg/L. Jadi limbah cair rumah sakit masih memenuhi standar.

(8)

ANALYSIS PHOSPHATE IN WASTE WATER HOSPITAL AND RIVER SURROUNDING WITH SPEKTROFOTOMETRY

ABSTRACT

Have been made analysis phosphate content about waste water hospital and river around hospital. Act of determining phosphat with applying for ascorbic acid as reducer by gething UV-VIS spectrophotometry method with a wave lenght of 880 nm. Where on acid ambience Ammonium molybdate and Pottasium antimonyltartrat reacting to Orthophosphoric acid forming Phosphomolybdent and than reduction by ascorbic acid become blue Molibdent complex. From analysis results content phosphate is 0,00016 mg/L- 0,0058 mg/L. Phosphate content building on certainly standart waste water for hospital activity is 2 mg/L. So waste water from hospital still fill the standart.

(9)

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel Judul Halaman

4.1 Data absorbansi larutan seri standart 37

4.2 Data konsentrasi sampel 37

4.3 Data penentuan persamaan garis regresi dengan

(10)

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Judul Halaman

Lampiran

(11)

DAFTAR ISI

Daftar lampiran vii

Bab 1. Pendahuluan 1

1.1. Latar Belakang 1

1.2. Permasalahan 4

1.3. Tujuan Penelitian 4

1.4. Manfaat Penelitian 4

Bab 2. Tinjauan Pustaka 5 2.5.4. Kesalahan-Kesalahan dalam Spektrofotometri 31

Bab 3. Metodologi Percobaan 32

(12)

Bab 4. Hasil dan Pembahasan 37

4.1. Hasil Percobaan 37

4.2. Perhitungan 38

4.3. Pembahasan 41

Bab 5. Kesimpulan dan Saran 43

5.1. Kesimpulan 43

5.2. Saran 43

Daftar Pustaka 44

Lampiran 45

(13)

ABSTRAK

Telah dilakukan analisa kadar fosfat terhadap limbah cair rumah sakit dan air sungai disekitar rumah sakit. Penentuan kadar fosfat dengan menggunakan asam askorbat sebagai reduktor dengan cara spektrofotometer dengan panjang gelombang 880 nm, dimana dalam suasana asam Ammonium molibdat dan Kalium antimoniltartrat bereaksi dengan ortofosfat membentuk senyawa asam fosfomolibdat kemudian direduksi oleh asam askorbat menjadi kompleks biru molibden. Dari hasil analisa diperoleh kadar Fosfat sebesar: 0,00016 mg/L - 0,0058 mg/L. Adapun kadar Fosfat berdasarkan ketentuan baku mutu limbah cair bagi kegiatan Rumah Sakit adalah 2 mg/L. Jadi limbah cair rumah sakit masih memenuhi standar.

(14)

ANALYSIS PHOSPHATE IN WASTE WATER HOSPITAL AND RIVER SURROUNDING WITH SPEKTROFOTOMETRY

ABSTRACT

Have been made analysis phosphate content about waste water hospital and river around hospital. Act of determining phosphat with applying for ascorbic acid as reducer by gething UV-VIS spectrophotometry method with a wave lenght of 880 nm. Where on acid ambience Ammonium molybdate and Pottasium antimonyltartrat reacting to Orthophosphoric acid forming Phosphomolybdent and than reduction by ascorbic acid become blue Molibdent complex. From analysis results content phosphate is 0,00016 mg/L- 0,0058 mg/L. Phosphate content building on certainly standart waste water for hospital activity is 2 mg/L. So waste water from hospital still fill the standart.

(15)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang

Air merupakan kebutuhan yang sangat pokok bagi kehidupan. Semua makhluk

hidup memerlukan air. Tanpa air tak akan ada kehidupan. Demikian pula manusia

tak akan dapat hidup tanpa air. Kebutuhan air kita menyangkut dua hal. Pertama,

air untuk air untuk kehidupan kita sebagai makhluk hayati dan kedua, air untuk

kehidupan kita sebagai manusia yang berbudaya.

Tubuh kita sebagian besar terdiri atas air. Proses kimia yang terjadi di

dalam tubuh kita, yaitu yang disebut metabolisme, berlangsung dalam medium

air. Molekul air juga ikut dalam banyak reaksi kimia metabolisme. Air merupakan

alat untuk mengangkut zat dari bagian tubuh yang satu ke bagian tubuh yang lain.

Misalnya, darah, yang sebagian besar terdiri atas air, mengalir keseluruh bagian

tubuh dan membawa oksigen yang terikat pada sel darah merah ke semua sel

dalam tubuh. Air juga diperlukan untuk mengatur suhu tubuh.

Baik kuantitas maupun kualitas air harus dapat memenuhi kebutuhan kita.

Di sebagian besar tanah air kita, curah hujan cukup tinggi. Karena itu dari segi

kuantitas di banyak tempat di negara kita, air tidak jadi masalah, apalagi jika kita

dapat mengelolanya dengan baik. Akan tetapi dari segi kualitas, air kita makin

(16)

Kualitas air di tentukan banyak faktor, yaitu zat yang terlarut, zat yang

tersuspensi, dan makhluk hidup, khususnya jasad renik di dalam air. Air murni

yang tidak mengandung zat yang terlarut, tidak baik untuk kehidupan kita.

Sebaliknya zat yang terlarut ada yang debersifat racun. Apabila zat yang terlarut,

zat yang tersuspensi dan makhluk hidup dalam air membuat kualitas air menjadi

tidak sesuai untuk kehidupan kita, air itu disebut tercemar.

Pencemaran dapat berasal dari beberapa sumber. Sumber pencemaran

yang paling utama di negara kita adalah limbah rumah tangga. Limbah rumah

sakit termasuk limbah rumah tangga sesuai dengan peraturan Men.Kes R.I.

no.173/MenKes/Per/Vii/77. Dalam melakukan kegiatannya rumah sakit dapat

menimbulkan berbagai buangan, misalnya limbah kimia dari laboratorium, rumah

sakit. Limbah ini mengandung berbagai jenis zat kimia yang berbahaya, antara

lain fosfat.

Air biasanya mengandung fosfat anorganik terlarut. Fitoplankton dan

tanaman lain akan mengabsosbsi fosfat ini dan membentuk senyawa misalnya

adenosin trofosfat, ATP. Seperti nitrogen, fosfor memasuki air melalui berbagai

jalan seperti, limbah, kotoran, sisa pertanian, kotoran hewan, sisa tanaman dan

hewan yang sudah mati.

Fosfor terutama berasal dari sedimen yang selanjutnya akan terinfiltrasi

kedalam air tanah dan akhirnya masuk kedalam sistem perairan terbuka ( sungai

dan danau). Selain itu dapat berasal dari atmosfer dan bersama dengan curah

hujan masuk ke dalam sistem perairan. Fosfor bersama dengan nitrogen sangat

berperan dalam proses terjadinya eutrofikasi di suatu ekosistem air. Seperti

(17)

dan fosfor sebagai sumber nutrisi utama pertumbuhannya. Dengan demikian maka

peningkatan unsur fosfor dalam air akan dapat meningkatkan populasi algae

secara massal yang dapat menimbulkan eutrofikasi dalam ekosistem air.

Pencegahan populasi fosfor juga dilakukan dengan melarang deterjen

mengandung fosfat. Demikian pula dengan mewajibkan pengolahan limbah

industri memberikan air kapur atau aluminium sulfat agar fosfatnya mengendap

dan dibuang (Barus,T.A.2004).

Rumah sakit adalah suatu prasarana layanan kesehatan yang hasil dari

kegiatan sehari – harinya akan menghasilkan limbah cair yang mengandung zat-

zat kimia yang berbahaya. Salah satu diantaranya adalah fosfat. Kadar fosfat yang

tinggi berasal dari limbah cair yang dibuang ke suatu ekosistem air secara terus

menerus sehingga terakumulasi dalam jumlah yang banyak. Peningkatan unsur

hara tersebut akan meningkatkan proses pertumbuhan berbagai jenis tumbuhan air

yang sangat cepat sehingga terjadi ledakan populasi vegetasi yang sering disebut

sebagai blooming.

Berdasarkan uraian diatas , maka penulis ingin mengetahui kandungan kadar

fosfat pada limbah cair rumah sakit dan air sungai disekitar rumah sakit dan

mengangkat judul karya ilmiah “ ANALISA KADAR FOSFAT PADA LIMBAH

CAIR RUMAH SAKIT DAN AIR SUNGAI DISEKITARNYA SECARA

(18)

1.2. Permasalahan

Dari uraian diatas, timbul permasalahan apakah kadar fosfat dari limbah cair

Rumah Sakit memenuhi standar baku mutu sesuai dengan Keputusan Menteri

Negara Lingkungan Hidup, dan bagaimana dampak kelestarian lingkungan dari

pembuangan limbah rumah sakit ke sungai.

1.3. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui kadar fosfat dari limbah cair Rumah Sakit dan air

sungai di sekitar Rumah Sakit

2. Untuk memberikan informasi kepada masyarakat apakah air sungai di

sekitar Rumah Sakit masih layak digunakan atau tidak

2.4. Manfaat Penelitian

1. Dapat mengetahui kadar fosfat dalam air sungai

2. Dapat mengetahui cara penentuan kadar fosfat pada air

(19)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Manfaat Sumberdaya Air

a. Untuk kebutuhan domestik, penduduk yang bertempat tinggal di

perkampungan/desa memanfaatkan sungai sebagai tempat untuk mendapat

air untuk kebutuhan sehari-hari dan juga sebagai tempat pembuangan

limbah.

b. Untuk kebutuhan pertanian, untuk mengairi sawah dan ladang umumnya

digunakan air sungai, air danau, air irigasi serta air hujan. Sisa air yang tak

terambil oleh tanaman akan menguap, masuk kedalam tanah menjadi air

tanah dan masuk kedalam aliran air sungai.

c. Untuk industri, air di butuhkan di berbagai industri sebagai penunjang

proses industri, misalnya untuk pemanasan atau pendinginan mesin-mesin

industri serta juga sebagai komponen yang dibutuhkan untuk proses

produksi industri yang terletak dengan aliran air sungai umumnya

mengambil kebutuhan airnya dari sungai dan membuang limbahnya

kembali kedalam sungai.

d. Untuk perikanan, rekreasi dan alin-lain, untuk perikanan dan lain-lain

dapat memanfaatkan air sungai, air danau, air payau dan air laut sesuai

(20)

2.1.1 Pengolahan Air

1. Pengolahan fisika, yaitu suatu tingkat pengolahan yang bertujuan untuk

mengurangi/ menghilangkan kotoran yang kasar, penyisihan lumpur dan

pasir, serta mengurangi kadar zat-zat organik yang ada dalam air yang

akan diolah.

2. Pengolahan kimia, yaitu suatu tingkat pengolahan dengan menggunakan

zat-zat kimia untuk membantu proses pengolahan selanjutnya.

3. Pengolahan bakteriologis, yaitu suatu tingkat pengolahan untuk

membunuh atau memusnahkan bakteri-bakteri yang terkandung dalam air

minum yakni dengan cara/jalan membubuhkan kaporit ( zat desinfektan ).

2.1.2 Parameter Uji Kualitas Air

Untuk mengetahui apakah suatu perairan tercemar atau tidak, dilakukan

serangkaian tahap pengujian untuk menentukn tingkat pencemaran tersebut.

Beberapa parameter uji yang umumnya harus diketahui, yaitu:

a. Nilai keasaman (pH) dan alkalinitas

Umumnya air yang normal memiliki pH sekitar netral, berkisar antara 6

hingga 8. Air limbah atau air yang tercemar memiliki pH sangat asam atau

pH cenderung basa, tergantung dari jenis limbah dan komponen

pencemarnya.

b. Suhu

Kenaikan suhu air tersebut akan mengakibatkan menurunnya oksigen

(21)

kehidupan ikan dan hewan air lainnya. Naiknya suhu air yang relatif tinggi

seringkali ditandai dengan munculnya ikan-ikan dan hewan air lainnya ke

permukaan air pada suhu normal, lama kelamaan dapat menyebabkan

kematian ikan dan hewan lainnya.

c. BOD/COD

BOD (Biological Oxygen Demand) menunjukkan jumlah oksigen terlarut

yang dibutuhkan oleh organisme hidup didalam air untuk menguraikan

atau mengoksidasi bahan-bahan pencemar di dalam air.

COD (Chemical Oxygen Demand), merupakan uji yang lebih cepat

daripada uji BOD yaitu suatu uji yang berdasarkan suatu reaksi kimia

tertentu untuk menentukan jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bahan

oksidan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat didalam

air.

d. Warna, rasa dan bau

Air yang normal tampak jernih, tidak berwarna, tidak berasa dan tidak

berbau. Air yang tidak jernih seringkali merupakan petunjuk awal

terjadinya polusi di suatu perairan. Rasa air seringkali dihubungkan

dengan bau air. Bau air dapat disebabkan oleh bahan-bahan kimia terlarut,

ganggang, plankton, tumbuhan air dan hewan air, baik yang masih hidup

maupun yang mati.

e. Jumlah padatan

Padatan yang dapat mencemari air, berdasarkan ukuran partikel dan

sifat-sifat lainnya dapat dikelompokkan menjadi padatan terendap (sedimen),

(22)

f. Kehadiran mikroba pencemar

Air merupakan habitat berjenis-jenis mikroba, seperti alga, protozoa dan

bakteri. Dari sekian banyak jenis mikroba yang bersifat patogen atau

merugikan manusia, ada beberapa jenis mikroba yang sangat tidak

dikehendaki kehadirannya karena mikroba tersebut dapat berperan sebagai

bioindikator kualitas perairan.

g. Kandungan minyak dan lemak

Meskipun minyak mengandung senyawa volatil yang mudah menguap,

namun masih ada sisa minyak yang tidak dapat menguap. Karena minyak

tidak dapat larut didalam air, maka sisa minyak akan tetap mengapung di

air, kecuali jika minyak tersebut terdampar ke pantai atau tanah

disekeliling sungai. Minyak yang menutupi permukaan air akan

menghalangi penetrasi sinar mataharike dalam air. Selain itu, lapisan

minyak juga dapat mengurangi konsentrasi oksigen terlarut dalam air

karena fiksasi oksigen bebas menjadi terhabat. Akibatnya, terjadi

ketidakseimbangan ratai makanan di dalam air.

h. Kandungan bahan radioaktif

Meskipun jarang terjadi, namun pada perairan yang dekat dengan industri

peleburan dan pengolahan logam, sering kali ditemukan bahan-bahan

radioaktif seperti uranium, thorium-230 dan radium-226.

Komponen-komponen tersebut dapat terlarut dalam air hujan dan masuk ke

(23)

i. Kandungan logam berat

Logam berat atau logam toksik adalah terminologi yang umumnya

digunakan untuk menjelaskan sekelompok elemen-elemen logam

hkebanyakan tergolong berbahaya bila masuk kedalam tubuh manusia

dalam konsentrasi yang sangat rendah disebut juga sebagai trace metals.

j. Phospat

Banyak terdapat di peraiaran dalam bentuk inorganik dan organik sebagai

larutan , debu, dan tubuh organisme. Sumber utama phospat inorganik dari

penggunaan detergen, alat pembersih untuk keperluan rumah tangga atau

industri, dan pupuk pertanian.

k. Nitrat, nitrit dan amonia

Merupakan senyawa nitrogen organik yang sangat banyak mendapat

perhatian pada kualitas air. Nitrat biasanya ada di permukaan dalam

konsentrasi kecil, dan kemungkinan mencapai konsentrasi tinggi pada air

tanah. Dalam jumlah yang berlebihan dapat menimbulkan kelainan pada

bayi yang disebut inflantile methomolobinemia. Nitrit adalah unsur

penting dalam proses photosintesis tanaman air. Nitrit merupakan bentuk

antara oksida amonia ke nitrit atau reduksi nitrat ke amonia. Nitrit dapat

masuk perairan melalui air limbah industri. Nitrit adalah penyebab

sebenarnya, karena di dalam rubuh dapat mengikat zat besi dari

hemoglobin yang membentuk methemoglobinemia. Asam yang dibentuk

dari nitrat dapat bereaksi membentuk nitrosamin yang kebanyakan

diketahui potensi karsinogenik. Amonia secara alamiah ada di air

(24)

karena terikt pada partikel tanah sehingga tidak lepas dari tanah. Amonia

dihasilkan dari determinasi urea dan dan nitrogen organik melalui proses

hidrolisis.

2.1.3. Dampak pencemaran

Pencemaran air dapat menyebabkan berkurangnya keanekaragam atau punahnya

populasi organisme perairan seperti benthos, perifiton dan plankton. Dengan

menurunya atau punahnya organisme tersebut maka sistem ekologis perairan

dapat terganggu. Sistem ekologis perairan (ekosistem) mempunyai kemampuan

untuk memurnikan kembali lingkungan yang telah tercemar sejauh beban

pencemaran masih berada dalam batas daya dukung lingkungan yang

bersangkutan. Apabila beban pencemaran melebihi daya dukung lingkungannya

maka kemampuan itu tidak dapat dipergunakan lagi.

Pencemaran air selain menyebabkan dampak lingkungan yang buruk,

seperti timbulnya bau, menurunya keanekaragaman dan mengganggu estetika juga

berdampak negatif bagi kesehatan makhluk hidup, karena di dalam air yang

tercemar selain mengandung mikroorganisme patogen, juga mengandung banyak

(25)

2.2. Limbah

2.2.1 Limbah Rumah Sakit

Limbah rumah sakit mencakup semua hasil buangan yang berasal dari instalansi

kesehatan, fasilitas penelitian, dan laboratorium. Selain itu, limbah layanan

kesehatan juga mencakup limbah yang berasal dari sumber-sumber kecil atau

menyebar misalnya limbah hasil perawatan yang dilakukan di rumah sakit

(dialisis, suntikan insulin, dan sebagainya ).

Klasifikasi limbah berbahaya yang berasal dari layanan kesehatan

masyarakat yaitu: limbah infeksius, limbah patologis, limbah benda tajam, limbah

farmasi, limbah genotoksik, limbah kimia, limbah yang mengandung logam berat,

limbah radioaktif.

a. Limbah infeksius

Limbah infeksius adalah limbah yang diduga mengandung patogen

(bakteri, virus parasit, atau jamur) dalam konsentrasi atau jumlah yang

cukup untuk menyebabkan penyakit pada pejamu yang rentan.

b. Limbah patologis

Limbah patologis terdiri dari jaringan, organ, bagian tubuh, janin manusia

dan bangkai hewan, darah dan cairan tubuh.

c. Limbah benda tajam

Benda tajam merupakan materi yang dapat menyebabkan luka iris atau

luka tusuk antara lain jarum, jarum suntik, skalpel, pisau ,peralatan infus,

(26)

d. Limbah farmasi

Limbah farmasi mencakup produk farmasi, obat-obatan, vaksin, dan serum

yang sudah kadaluarsa, tidak digunakan, tumpah, dan terkontaminasi yang

tidak diperlukan lagi dan harus dibuang dengan tepat.

e. Limbah genotoksik

Limbah genotoksik sangat berbahaya dan bersifat mutagenik, teratogenik,

atau karsinogenik. Limbah ini menimbulkan persoalan pelik, baik di dalam

area kesehatan itu sendiri maupun setelah pembuangan sehingga

membutuhkan perhatian khusus. Limbah genotoksik dapat mencakup obat-

obatan sitostatik tertentu, muntahan, urine atau tinja pasien yang diterapi

dengan obat-obatan sitostatik, zat kimia, maupun radioaktif.

f. Limbah kimia

Limbah kimia mengandung zat kimia yang berbentuk padat, cair maupun

gas yang berasal dari, misalnya dari aktivitas diagnostik dan eksperiment

serta dari pemeliharaan kebersihan, aktivitas keseharian, dan prosedur

pemberian desinfektan. Limbah kimia dari instalansi kesehatan bisa

berupa limbah berbahaya, bisa juga tidak. pemeliharaan anstalasi

kesehatan dan kemungkinan ditemukan di dalam limbah yaitu,

formaldehid, zat kimia fotografis, solven, zat kimia organik, dan zat kimia

anorganik.

g. Limbah yang mengandung logam berat

Limbah yang mengandung logam berat dalam konsentrasi tinggi termasuk

(27)

Contohnya adalah limbah merkuri yang berasal dari bocoran peralatan

kedokteran yang rusak.

h. Limbah radioaktif

Limbah radioaktif juga mencakup benda padat, cair dan gas yang

terkontaminasi radionuklida. Limbah ini terbentuk akibat pelaksanaan

prosedur seperti analisis in-vitro pada jaringan dan cairan tubuh,

pencitraan organ dan lokalisasi tumor secara in- vivo, dan berbagai jenis

metode investigasi dan terapi lainnya.

2.2.2. Limbah Cair Rumah Sakit

Limbah cair dari layanan kesehatan mutunya serupa dengan limbah cair yang

berasal dari daerah perkotaan, tetapi mungkin juga mengandung berbagai

komponen berbahaya yang akan dibahas sebagai berikut:

a. Patogen mikrobiologis

Keprihatinan utama saat ini berkaitan dengan limbah cair yang

mengandung begitu banyak patogen usus, termasuk bakteri, virus, dan

cacing, yang mudah menular melalui air.

b. Zat kimia berbahaya

Sejumlah kecil zat kimia yang berasal dari aktivitas pembersihan dan

desinfektan biasanya dibuang secara teratur ke selokan. Jika rekomendasi

yang ada tidak diikuti, maka akan semakin banyak jenis zat kimia yang

(28)

c. Sediaan farmasi

Sejumlah kecil sediaan farmasi biasanya juga dibuang ke selokan dari

apotik rumah sakit dan dari berbagai bangsal. Jika rekomendasi pada

limbah sediaan farmasi tidak diikuti, akan semakin banyak jenis sediaan

farmasi, termasuk antibiotik dan obat-obatan genetoksik yang juga akan

dibuang ke selokan.

d. Isotop radioaktif

Sejumlah kecil isotop radioaktif akan dibuang ke selokan dari bagian

onkologi, tetapi pembuangan tersebut tidak akan menimbulkan resiko

terhadap kesehatan jika rekomendasi yang ada dipatuhi.

2.2.3. Pengolahan Limbah Rumah Sakit

Banyak rumah sakit, terutama rumah sakit yang sistem pembuangannya tidak

terhubung dengan instalasi pengolahan limbah kota, memiliki instalasi

pengolahan limbahnya sendiri. Pengolahan limbah cair rumah sakit ditempat

hanya akan efisien jika mencakup aktivitas sebagai berikut:

a. Pengolahan primer

b. Purifikasi biologis sekunder. Sebagian besar cacing akan mengendap

dalam lumpur akibat proses purifikasi sekunder, demikian pula dengan

bakteri (90-95%) dan virus; dengan demikian walau sudah terbebas dari

cacing efluen masih mengandung bakteri dan virus dalam konsentrasi

yang infektif.

c. Pengolahan tersier. Efluen sekunder kemungkinan akan mengandung

(29)

hasilnya tidak akan efisien. Dengan demikian, efluen harus menjalani

pengolahan tersier, misalnya pengolaman; jika tidak tersedia cukup ruang

untuk membuat kolam, teknik filtrasi pasir cepat dapat dipakai untuk

menghasilkan efluen tersier dengan kadar zat organik yang jauh lebih

berkurang (<10 mg/L).

d. Desinfeksi klor. Agar konsentrasi patogen sebanding dengan konsentrasi

yang ditemukan dalam air di alam, efluen tersier harus menjalani

desinfeksi klor sampai mencapai kadar yang ditetapkan. Desinfeksi

tersebut dapat dilakukan dengan menggunakan klor dioksida, natrium

hipoklorit, atau gas klor. Pilihan lainnya adalah dengan melakukan

desinfeksi sinar ultraviolet.

2.2.4. Pengolahan Lumpur

Lumpur yang bersal dari instalansi pengolahan limbah perlu menjalani proses

pengolahanan aerob dahulu untuk memastikan musnahnya sebagian besar patogen

melalui metode pemanasan. Cara lain adalah dengan menghamparkan lumpur

tersebut dalam kolam-kolam pengeringan kemudian dimasukkan insenerator

bersama dengan limbah layanan kesehatan yang infeksius. Pengolahan limbah

rumah sakit di tempat akan menghasilkan lumpur yang mengandung cacing dan

(30)

2.3. Fosfor

Fosfor merupakan salah satu bahan kimia yang sangat penting bagi mahluk hidup.

Fosfor terdapat di alam dalam dua bentuk yaitu senyawa fosfat organik dan

senyawa fosfat anorganik. Senyawa fosfat organik terdapat pada tumbuhan dan

hewan, sedangkan senyawa fosfat anorganik terdapat pada air dan tanah dimana

fosfat ini terlarut dia air tanah maupun air laut yang terkikis dan mengendap di

sedimen. Fosfor juga merupakan faktor pembatas. Perbandingan fosfor dengan

unsur lain dalam ekosistem air lebih kecil daripada dalam tubuh organisme hidup.

Diduga bahwa fosfor merupakan nutrien pembatas dalam eutrofikasi; artinya air

dapat mempunyai misalnya konsentrasi nitrat yang tinggi tanpa percepatan

eutrofikasi asalkan fosfat sangat rendah

2.3.1. Sifat Fosfor

1. Sifat Fisika Unsur Fosfor

a. Titik didih : 550 K

b. Wujud : padat

c. Warna : tidak berwarna/merah/putih

d. Titik leleh : 317,3 K (44,2 oC)¬(277 oC)

e. Massa jenis (fosfor putih) : 1,823 g/cm3¬2,34 g/cm3

f. Energi ionisasi (fosfor putih) : 1011,8. (fosfor hitam) : 2,609 g/cm3

g. Secara umum fosfor membentuk padatan putih yang lengket

h. Memiliki bau yang tak enak tetapi ketika murni menjadi tak

(31)

i. Fosfor putih mudah menguap

j. Larut dalam pelarut nonpolar

k. Fosfor merah tidak larut dalam semua pelarut (benzena)

l. Fosfor putih bersifat sangat reaktif.

2. Sifat Kimia Unsur Fosfor

a. Memancarkan cahaya.

b. Mudah terbakar di udara, beracun.

c. Fosfor putih digunakan sebagai bahan baku pembuatan asam fosfat

di industri.

d. Fosfor merah bersifat tidak reaktif, kurang beracun. Fosfor merah

digunakan sebagai bahan campuran pembuatan pasir halus dan

bidang gesek korek api.

http://www.slideshare.net/aghnanprahas/fosfor-14710430

2.3.2. Terjadinya Fosfor

Hanya beberapa persen saja fosfor yang ada di dalam tanah yang tersedia bagi

tumbuh- tumbuhan berderajat tinggi. Kebanyakan fosfat- fosfat dalam tanah

secara relatif tidak dapat larut. Fosfat-fosfat besi dan kelompok kombinasi-

kombinasi kalsium secara khusus tak dapat larut. Sumber fosfor yang langsung

untuk menumbuhkan tanaman-tanaman adalah dalam bentuk ion fosfat anorganik

dalam larutan tanah. Struktur tanah dan aerasi adalah sangat penting dalam

mengatur dapat diperolehnya fosfat pada tanah-tanah berkapur. Pencucian dari

(32)

itu. Suatu struktur tanah yang lepas meningkatkan daya serap dan aerasi yang

baik. Dalam kondisi-kondisi ini, jasad-jasad tanah disuplai dengan oksigen secara

baik. Keadaan demikian menyuburkan akan adanya karbon dioksida bebas.

2.3.3. Tersedianya Fosfor

Air limbah yang berasal dari rumah tangga sangat kaya akan senyawa-senyawa

fosfor. Kadar fosfor anorganik biasanya berkisar antara 2 sampai 3 mg/L;

bagian-bagian yang organik bervariasi dari 0,4 hingga 1 mg/L. Hal ini kebanyakan

tergantung pada , penduduk yang memberi sumbangan, dimana jumlah fosfor

yang dilepaskan merupakan suatu fungsi kadar fosfor air limbah rumah tangga

dengan cepat meningkat.(Mahida,U.N,1993)

2.3.4. Manfaat Fosfor

Kegunaan Fosfor/Fosfat. Kegunaan fosfor yang penting adalah dalam pembuatan

pupuk, dan secara luas digunakan dalam bahan peledak, korek api, pestisida, odol

dan deterjen. Selain itu juga diperlukan untuk memperkuat tulang dan gigi.

Proses Fosfor / Fosfat Dalam Lingkungan Hidup Perputaran unsur fosfor

dalam lingkungan hidup relatif sederhana bila dibandingkan dengan perputaran

bahan kimia lainnya, tetapi mempunyai peranan yang sangat penting yaitu sebagai

pembawa energi dalam bentuk ATP (Adenosin Trifosfat). Perputaran unsur fosfor

adalah perputaran bahan kimia yang menghasilkan endapan seperti halnya

(33)

Dalam lingkungan hidup ini tidak diketemukan senyawa fosfor dalam

bentuk gas, unsur fosfor yang terdapat dalam atmosfir adalah partikel-partikel

fosfor padat. Batu karang fosfat dalam tanah terkikis karena pengaruh iklim

menjadi senyawa-senyawa fosfat yang terlarut dalam air tanah dan dapat

digunakan/diambil oleh tumbuh-tumbuhan untuk kebutuhan hidupnya

/pertumbuhannnya.

Penguraian senyawa organik (tumbuh-tumbuhan dan hewan yang mati

serta detergen limbah rumah tangga ) menghasilkan senyawa-senyawa fosfat yang

dapat menyuburkan tanah untuk pertanian. Sebagai senyawa fosfat yang terlarut

dalam air tanah akan terbawa oleh aliran air sungai menuju ke laut atau ke danau,

kemudian mengendap pada dasar laut atau dasar danau.

Kegunaan Fosfor dalam kehidupan mikroorganisme membutuhkan fosfor

untuk membentuk fosfor anorganik dan akan mengubahnya menjadi organik

fosfor yang dibutuhkan untuk menjadi organik fosfor yang dibutuhkan, untuk

metabolisme karbohidrat, lemak. bahan makanan utama yang digunakan oleh

semua organisme untuk energi dan pertumbuhan.

Kegunaan fosfor yang paling umum ialah pada ragaan tabung sinar katoda

(CRT) dan lampu fluoresen, sementara fosfor dapat ditemukan pula pada berbagai

jenis mainan yang dapat berpendar dalam Asam fosfor yang mengandung 70% –

75% P2O5, gelap (glow in the dark). telah menjadi bahan penting pertanian dan

(34)

fosfor, dan produk-produk lainnya. Trisodium fosfat sangat penting sebagai agen

pembersih, sebagai pelunak air, dan untuk menjaga korosi pipa-pipa.

Fosfor juga merupakan bahan penting bagi sel-sel protoplasma, jaringan

saraf dan tulang. Bahan tambahan dalam deterjen, bahan pembersih lantai dan

insektisida. Selain itu fosfor diaplikasikan pula pada LED (Light Fosfor Emitting

Diode) untuk menghasilkan cahaya putih. bahan makanan utama yang digunakan

oleh semua organisme untuk energi dan pertumbuhan.

2.3.5. Efek Fosfor

Ada beberapa efek dari fosfor, antara lain:

1. fosfor berdampak negatif apabila bijih fosfor yang diolah menjadi fosfat

larut dalam air, sehingga menyebabkan terjadinya limbah radioaktif

(disebabkan bijih fosfor mengandung uranium)

2. meningkatnya unsur fosfor dalam air akan dapat meningkatkan populasi

algae secara massal yang dapat menimbulkan eutrofikasi dalam ekosistem

air

3. efek yang ditimbulkan akibat menghirup asam fosfor putih dalam jangka

pendek adalah batuk- batuk dan iritasi pada tenggorokan serta paru – paru.

Sedangkan dalam jangka panjang dapat menyebabkan patahnya tulang

(35)

4. fosfor kuning memberi efek kronis terhadap gangguan kesehatan dapat

menyebabkan kropos tulang. Dan fosfor kuning ini dapat mengeluarkan

uap sehingga apabila terhirup akan mengganggu kesehatan.

5. Mengkonsumsi fosfor putih yang terdapat pada minuman soda dalam

jumlah tertentu dapat menyebabkan kerusakan hati dan jantung, gagal

ginjal, muntah – muntah, lemas, dan bahkan kematian.

6. Penyalahgunan fosfor menjadi Bom yang sangat mengerikan. Kerugian

Fosfor bom yaitu memiliki sifat utama membakar.

2.3.6. Penghilangan Unsur Fosfor

Pada senyawa kimia, nitrogen dan fosfor adalah kunci penyebab pencemaran

dalam limbah cair. Oleh karena itu dalam konsentrasi yang tinggi, kita harus

mengurangi kandungan unsur-unsur ini didalam limbah cair. Cara penghilangan

unsur fosfor adalah sebagai berikut:

a. Penghilangan unsur fosfor oleh koagulan

Senyawa Ca(PO4)2 terdapat pada tulang ternak dan gigi hewan serta

senyawa protein yang terdiri atas unsur C,H,O,N,S,P dari bahan pangan

yang menyebabkan adanya limbah kimia fosfor (P). Pengendalian unsur

fosfor dilakukan dengan penambahan superfosfat. Unsur fosfor dalam

limbah cair harus dihilangkan dengan cara pengendapan menggunakan

bahan koagulan seperti garam Ca2+, ferro sulfat, Fe2+, dan ferri sulfat, Fe3+,

tawas atau aluminium sulfat Al2(SO4).18 H2O, dan bahan koagulan FeCl3

(36)

Penggunaan bahan koagulan tersebut harus diatur nilai pH dalam

limbah cair terlebih dahulu agar metode pengendapan berlangsung

maksimal. Nilai pH dalam limbah cair dijaga sekitar 6 sampai 8,5 agar

dapat digunakan bahan koagulan Fe(SO4)3 dan Al2(SO4)4. 18H2O.

Endapan yang diperoleh dipisahkan cairannya dengan cara filtrasi.

b. Pengambilan unsur fosfor oleh mikroba

Bakteri acinotebacter sp mampu mengambil fosfor dalam limbah cair

berbentuk polifosfat proses berlangsung secara anaerobik dan diikuti

dengan aerobik. Proses lumpur aktif termasuk perlakuan biologi aerobik

yang menggunakan oksigen untuk tumbuh dan berkembang biak mikroba

adalah perlakuan sinambung atau kontinu yang berupa sistem dengan

pertumbuhan sel mikrobah tersuspensi, hidup atau mati dalam limbah cair.

Lumpur aktif adalah kumpulan endapan sejumlah mikroba aktif yang

menyeruapai lumpur. (Suharto, 2011)

2.4. Fosfat

Dalam kimia ortofosfat (bahasa inggris: orthophosphate, inorganic phosphate, Pi)

atau sering disebut gugus fosfat adalah sebuah ion poliatomik atau radikal terdiri

dari satu atom fosforus dan empat oksigen. Dalam bentuk ionik, dia membawa

sebuah -3 muatan formal, dan dinotasikan PO43-.

Fosfat adalah unsur dalam suatu batuan beku (apatit) atau sedimen dengan

kandungan fosfor ekonomis. Biasanya, kandungan fosfor dinyatakan sebagai bone

(37)

kandungan P2O5. Fosfat apatit termasuk fosfat primer karena gugusan oksida

fosfatnya terdapat dalam mineral apatit (Ca10 (PO4)6.F2) yang terbentuk selama

proses pembekuan magma. Kadang kadang, endapan fosfat berasosiasi dengan

batuan beku alkali kompleks, terutama karbonit kompleks dan sienit.

Fosfat adalah sumber utama unsur kalium dan nitrogen yang tidak larut

dalam air, tetapi dapat diolah untuk memperoleh produk fosfat dengan

menambahkan asam .Fosfat dipasarkan dengan berbagai kandungan P2O5, antara

4-42 %. Sementara itu, tingkat uji pupuk fosfat ditentukan oleh jumlah kandungan

N (nitrogen), P (fosfat atau P2O5), dan K (potasium cair atau K2O).

Didalam air limbah fosfat terdapat sebagai senyawa ortofosfat, polifosfat

dan fosfat organis. Ortofosfat adalah senyawa monomer seperti H2PO4- , HPO4

2-dan PO43-, sedangkan polifosfat merupakan senyawa polimer seperti (PO3)6

3-(heksametafosfat), P3O105- (tripolifosfat) dan P2O74- (pirofosfat); fosfat organis

adalah P yang terikat dengan senyawa-senyawa organis sehingga tidak berada

dalam larutan secara terlepas. Dalam air alam atau buangan, fosfor yang terlepas

dan senyawa P selain yang disebut diatas hampir tidak ditemui.

Setiap senyawa fosfat tersebut terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi

atau terikat didalam sel organisme. Berdasarkan ikatan kimia, senyawa fosfat

dibedakan sebagai berikut: ortofosfat, polifosfat, dan fosfat organis. Sedangkan

klasifikasi penting lain berdasarkan sifat fisis adalah fosfat terlarut, fosfat

(38)

Analisis fosfat terdiri dari 4 tahap yang dapat digabungkan sedemikian

rupa sehingga setiap unsur fosfat dapat ditentukan. Adapun 4 tahap analisa fosfat

yaitu:

A. Penyaringan pendahuluan

Tahap ini dilakukan untuk dapat membedakan antara fosfat total dan fosfat

terlarut. Sebagai saringan digunakan filter membran dengan pori 0,45µm; bila

sampel terlalu sulit disaring karena sangat keruh, maka sampel dapat disaring

dahulu pada saringan kasar terbuat dari glass-fiber, kemudian disaring lagi dengan

filter membran.

B. Hidrolisa pendahuluan: analisis polifosfat

Bila sampel dipanaskan dalam suasana asam, maka akan dihidrolisa semua

polifosfat, pirofosfat, trifosfat, heksafosfat serta sebagian kecil fosfat organis

menjadi ortofosfat. Jumlah polifosfat (sebenarnya”acid hydrolyzable phosphate”)

adalah perbedaan jumlah ortofosfat pada sampel yang didapatkan setelah

pengolahan hidrolisa dalam suasana asam dan ortofosfat pada sampel tanpa

hidrolisa.

Pada analisis ortofosfat sebelum hidrolisa sebagian kecil polifosfat ikut

teranalisa namun dapat diabaikan. Kedua analisa ortofosfat dengan dan tanpa

hidrolisa dapat dilakukan pada sampel yang tidak disaring (polifosfat total) atau

sampel yang telah disaring (polifosfat terlarut).

(39)

Fosfat total adalah semua zat ortofosfat, polifosfat baik yang terlarut

maupun yang terikat dalam senyawa organis. Untuk melepaskan fosfat (atau

fosfor) dari senyawa organis maka diperlukan proses peleburan dengan asam serta

reaksi oksidasi. Setelah peleburan semua fosfat dan fosfat yang telah menjadi

ortofosfat dapat ditentukan dengan metode asam askorbik.

D. Analisis ortofosfat (metode asam askorbik)

Amonium molibdat dan antimoniltartrat bereaksi dalam suasana asam

dengan ortofosfat hingga membentuk asam fosfomolibdik; asam fosfomolibdik

tersebut kemudian direduksi oleh asam asorbik sampai menjadi molibden biru.

Warna ini sebanding dengan konsentrasi fosfor. Skala kadar P yang dapat diliputi

adalah 0,01 mg P/L sampai 2 mgP/L (Alaert,G.1987).

2.5. Spektrofotometri

Spektrofotometri dapat dianggap sebagai perluasan suatu pemeriksaan visual,

yang dengan studi lebih mendalam dari absorpsi energi radiasi oleh

macam-macam zat kimia memperkenankan dilakukannya pengukuran ciri-cirinya serta

kuantitatifnya dengan ketelitian yang lebih besar. Dalam penggunaan pada masa

sekarang, istilah spektrofotometri merupakan metode pengukuran berapa jauh

energi radiasi diserap oleh suatu sistem sebagai fungsi panjang gelombang dari

radiasi, maupun pengukuran absorpsi terisolasi pada suatu panjang gelombag

(40)

2.5.1. Spektrum UV- Visible

Spektrum absorpsi dalam daerah- daerah ultra violet dan visble umumnya terdiri

dari satu atau beberapa pita absorpsi yang lebar seperti terlihat pada gambar.

Semua molekul dapat menyerap radiasi dalam daerah UV- visible, oleh karena

mereka mengandung elektron, baik yang dipakai bersama maupun tidak yang

dapat dieksitasi ke tingkat energi yang lebih tinggi. Panjang gelombang pada

waktu absorpsi terjadi tergantung pada bagaimana erat elektron terikat didalam

molekul. Elektron dalam suatu ikatan kovalen tunggal erat terikat, dan radiasi

dengan energi tinggi, atau panjang gelombang pendek, diperlukan untuk

eksitasinya.

Spektofotometer UV- visible biasanya bekerja dari sekitar 220-1000 nm.

Identifikasi senyawa organik dalam daerah ini jauh lebih terbatas daripada

inframerah. Hal ini oleh karena pita absorpsi adalah luas dan kekurangan

perincian. Akan tetapi gugus-gugus fungsi tertentu, seperti karbonil, nitro, dan

sistem konjugat, memang menunjukkan puncak- puncak yang khas, dan

keterangan – keterangan berguna sering dapat diperoleh mengenai ada atau tidak

adanya gugus – gugus demikian didalam molekul.

Hubungan antara absorpsi radiasi dan panjang jalan melalui medium yang

menyerap pertama kali dirumuskan oleh Bouguer (1729), dan hubungan antara

konsentrasi macam zat penyerap dan besarnya absorpsi dirumuskan oleh Beer

dalam tahun 1859. Hukum Bouguer dan Beer dengan mudah digabung menjadi

pernyataan yang sesuai. Telah diketahui bahwa perubahan konsentrasi terhadap

(41)

tergantung pada besarnya harga tetapan. Dengan perkataan lain, dalam hukum

Beer tertulis, k4 = f(b). Demikian pula dalam hukum Bouguer, k2 = f(c). Substitusi

hubungan- hubungan dasar ini kedalam hukum – hukum Bouguer dan Beer

menghasilkan

Kedua hukum harus diberlakukan bersamaan pada setiap titik, sehingga

f(c)b = f(b)c

atau kalau dipisahkan variabelnya,

�(�) � =

�(�)

Substitusi pernyataan Bouguer maupun Beer menghasilkan pendapatan yang

sama:

log��

� = f(c)b = Kbc

log��

� = f(c)c = Kbc

Tanda- tanda Po dan P seperti digunakan disini disarankan untuk

tenaga-tenaga radiasi berturutan, untuk yang jatuh dan untuk ditransmisi. Istilah log

(42)

Tanda untuk panjang b diterima untuk panjang jalan lewat medium

penyerap: biasanya dinyatakan dalam sentimeter.

Dua satuan c yang berbeda untuk c, konsentrasi solut yang menyerap,

sering digunakan, gram per liter atau mol per liter.

Transmitans, T= �� �⁄ adalah hanya fraksi tenaga jatuh yang

ditransmisikan oleh suatu contoh. Transmitans persen, %T = P/PO x 100.

Jika A= log(Po/P) dan T= P/Po, maka A= log (1/T).

Karena dari hukum Beer, absorbansi adalah berbanding lurus dengan konsentrasi,

maka adalah jelas bahwa transmitans tidak demikian; log Tdigambarkan harus

digambarkan terhadap c untuk memperoleh suatu grafik linear.

2.5.2. Peralatan untuk Spektrofotometri

Spektrofotometer adalah alat untuk mengukur transmitans atau absorbans suatu

contoh sebagai fungsi panjang gelombang; pengukuran terhadap suatu deretan

contoh pada suatu panjang gelombang tunggal mungkin juga dapat dilakukan.

Spektrofotometer sinar tunggal amupun sinar rangkap dan alat-alat yang

bekerja dalam bermacam- macam daerah dari spektrum, semuanya mempunyai

unsur – unsur penting ini. Adapun unsur-unsur yang terdapat pada

(43)

1. Sumber

Sumber energi radiasi yang biasa bagi daerah tampa k dari spektrum

maupun inframerah dan ultraviolet adalah suatu lampu pijar dengan

filamen wolfram. Pada kondisi operasi biasa, hasil lampu wolfram ini

adalah memadai dari kira-kira 325 atau 350 nm hingga kira-kira 3µm.

2. Monokromator

Ini merupakan peralatan optik untuk mengisolasi dari sumber kontinu

suatu berkas radiasi dengan kemurnian spektral yang tinggi dari panjang

gelombang apapun yang dikehendaki. Unsur – unsur terpenting sebuah

monokromator adalah sistem celah dan unsur dispersif. Radiasi dari

sumber difokuskan ke celah masuk, kemudian dikumpulkan oleh sebuah

lensa atau cermin sehingga sinar paralel jatuh pada unsur dispersi yang

merupakan suatu prisma atau suatu fisi difraksi. Dengan pemutaran secara

mekanik prisma atau kisi, bermacam – macam bagian spektrum yang

dihasilkan oleh unsur dispersif difokuskan ke celah keluar, yang dari sini

melalui suatu jalan optik selanjutnya, menjumpai contohnya.

3. Wadah contoh

Wadah contoh merupakan sel untuk menempatkan cairan didalam sinar

dari spektrofotometer. Sel harus memancarkan energi radiasi dalam daerah

spektral yang penting; maka sel gelas melayani dalam daerah tampak,

kuarsa atau gelas berkadar silikat yang tinggi dan garam batuan dalam

inframerah. Sel – sel untuk UV-visible mempunyai panjang lintasan

(44)

batas lintasan sangat pendek, fraksi dari 1 milliliter, keatas sampai10 cm

atau bahkan lebih.

4. Detektor

Detektor untuk suatu spektrofotometer, kita mengharapkan kepekaan

tinggi di dalam daerah spektral yang penting, tanggap linear untuk tenaga

radiasi, waktu tanggap yang cepat, dapat dipengaruhi oleh amplifikasi, dan

tingkat stabilitas tinggi. Jenis deteksi yang digunakan paling luas

berdasarkan perubahan fotokimia, efek fotoelektrik, dan efek

termoelektrik. Fotografi tidak digunakan lebih lama dalam

spektrofotometri biasa; pada umumnya detektor fotoelektrik dipergunakan

dalam daerah tampak dan ultraviolet.

5. Penguatan dan pembacaan

Adalah alat elektronika yang terperinci dari penguatan (amplifikasi) dan

pembacaan. Unsur ini dapat menguatkan tahanan pemasukan yang tinggi

sehingga rangkaian fototabung tidak terkuras. Malahan voltase pada

tahanan beban digunakan untuk mengendalikan suatu rangkaian yang

menarik teganganya dari suatu sumber bebas dan yang mempunyai tenaga

cukup besar untuk menjalankan sebuah meteran atau peralatan pembaca

lain.

2.5.3. Prinsip Kerja Alat Spektrofotometer

Cahaya polikromatis yang berasal dari lampu wolfram sebagai sumber cahaya

akan melewati cermin yang bersifat mengumpulkan cahaya dan diteruskan

(45)

untuk melewati monokromator untuk diuraikan menjadi cahaya monokromatis

yang diteruskan ke celah untuk memperoleh panjang gelombang tertentu yang

kemudian masuk ke sel absorbansi dan sebagian lagi ditransmisikan dalam bentuk

energi radiasi ke detektor yang akan diubah menjadi sinyal – sinyal elektronik dan

diperkuat oleh amflifier untuk dibaca oleh recorder sebagai %T.

2.5.4. Kesalahan-Kesalahan dalam Spektrofotometri

Kesalahan dalam pengukuran secara spektrofotometri dapat timbul dari banyak

sekali sebab, beberapa diantaranya adalah:

1. Sel – sel contoh harus bersih

2. Gelembung gas tidak boleh ada dalam lintasan optik

3. Penerapan panjang gelombang harus teliti

(46)

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

3.1. Alat-alat

a. Neraca analitik

b. Spatula

c. Pipet tetes

d. Kuvet

e. Corong

f. Cawan

g. Kertas saring

h. Beaker glass 50mL Pyrex

i. Gelas ukur 100mL Pyrex

j. Erlenmeyer 250mL Pyrex

k. Malt pipet 50mL Pyrex

l. Pipet volume 5mL Pyrex

m. Pipet volume 10mL Pyrex

n. Pipet volume 15mL Pyrex

o. Pipet volume 20mL Pyrex

p. Pipet volume 25mL Pyrex

q. Pipet volume 50mL Pyrex

r. Labu ukur 50mL Pyrex

(47)

t. Labu ukur 250mL Pyrex

u. Spektrofotometer UV – VIS Parkin Elmer Precisely

3.2. Bahan

a. Kalium dihidrogen fosfat anhidrat (KH2PO4) p.a E’Merck

b. Amonium molibdat (NH4)6Mo7O2 p.a E’Merck

c. Asam sulfat (H2SO4) 5N p.a E’Merck

d. Kalium antimoniltartrat (K(SbO)C4H4O6) p.a E’Merck

e. Asam askorbat (C6H8O6) p.a E’Merck

f. Akuades

g. Indikator penolftalein

h. Air limbah

i. Air sungai

3.3. Prosedur

3.3.1. Pembuatan Pereaksi

a. Asam sulfat 5N

Dimasukkan 300mL akuades kedalam labu takar 500mL. Ditambahkan

70mL H2SO4(P) dengan hati-hati. Diencerkan dengan air suling sampai garis tanda.

(48)

b. Kalium antimoniltartrat

Ditimbang 1,3715 g K(SbO)C4H4.½H2O. Dimasukkan kedalam beaker

glass 250mL. Dilarutkan dengan ±200mL akuades. Dimasukkan kedalam labu

takar 500 mL. Diencerkan dengan akuades hingga garis tanda. Dihomogenkan.

c. Amonium molibdat

Ditimbang 10 g (NH4)6Mo7O24.4H2O. Dimasukkan kedalam beaker glass

100mL. Dilarutkan dengan akuades. Dimasukkan kedalam labu ukur 250mL.

Diencerkan dengan akuades hingga garis tanda. Dihomogenkan.

d. Asam askorbat

Ditimbang 1,76g asam askorbat. Dimasukkan kedalam beaker glass 50mL.

Dilarutkan dengan ± 40mL akuades. Dimasukkan kedalam labu takar 100mL.

Diencerkan dengan akuades hingga garis tanda. Dihomogenkan. Disimpan dalam

kulkas pada suhu 40C.

e. Larutan campuran

Dicampurkan secara berturut-turut 50mL H2SO4 5N, 5mL larutan Kalium

antimoniltartrat, 15mL larutan Amonium molibdat dan 30mL larutan Asam

askorbat. Dikocok hingga tercampur sempurna.

f. Larutan induk Fosfat 500mg

Ditimbang 0,2195g KH2PO4 . Dimasukkan kedalam beaker glass 50mL.

Dilarutkan dengan ±40mL akuades. Dimasukkan larutan kedalam labu takar

(49)

3.3.2. Pembuatan Larutan Standart

a. Pembuatan larutan standart 50 ppm

Dipipet 10mL larutan induk fosfat. Dimasukkan kedalam labu ukur

100mL. Diencerkan dengan akuades hingga garis tanda. Dihomogenkan.

b. Pembuatan larutan standart 10 ppm

Dipipet 20mL larutan standart 50 ppm. Dimasukkan kedalam labu ukur

100mL. Dincerkan dengan akudes hingga garis tanda. Dihomogenkan.

c. Pembuatan larutan standart 1 ppm

Dipipet 25 mL larutan standart 10 ppm. Dimasukkan kedalam labu ukur

250mL. Diencerkan dengan akuades hingga garis tanda. Dihomogenkan.

d. Pembuatan larutan seri standart 0,1 ppm; 0,3 ppm; 0,5 ppm; 0,7 ppm dan 1

ppm

Dipipet sebanyak 5mL, 15mL, 25mL, 35mL,50mL larutan standart 1 ppm

kedalam 5 buah labu ukur 50 mL. Diencerkan dengan akuades hingga garis tanda.

Dihomogenkan.

3.3.3. Penentuan Nilai Absobansi untuk Larutan Seri Standart 0,1 ppm; 0,3 ppm; 0,5 ppm; 0,7 ppm dan 1 ppm

Dipindahkan masing-masing larutan seri standart kedalam erlenmeyer 250

(50)

warna hilang ( jika terbentuk warna merah muda). Ditambahkan 8 mL larutan

campuran. Dihomogenkan. Didiamkan selama 10-30 menit. Dibaca dan dicata

absorbansinya pada λ 880 nm dengan alat spektrofotometer UV-VIS. Dibuat

kurva kalibrasinya.

3.3.4. Pengujian Sampel

Dipipet air limbah sebanyak 50 mL. Dimasukkan kedalam erlenmeyer 250 mL.

Ditambahkan 1 tetes indikator fenolftalein. Ditambahkan H2SO4 5N sampai

warna hilang (jika terbentuk warna merah muda). Ditambahkan 8 mL larutan

campuran. Dihomogenkan. Didiamkan selama 10-30 menit. Dibaca dan dicatat

absorbansinya pada λ 880 nm dengan alat spektrofotometer UV-VIS. Dibuat

(51)

BAB 4

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil percobaan

Tabel 4.1. Data absorbansi larutan seri standart

Tabel 4.2. Data konsentrasi sampel

No. Kode sampel Absorbansi (nm) Konsentrasi (mg/L)

(52)

4.2. Perhitungan

Tabel 4.3. Data penentuan persamaan garis regresi dengan metode least

square

Persamaan garis regresi untuk kurva kalibrasi dapat di turunkan dari persamaan

garis:

Y= a X + b

Dimana:

a = slope

b = intersept

Harga (a) ditentukan dengan persamaan metode least square sebagai berikut:

a = ∑(��−X�)(Yi−Y�) ∑(��−��)

= 0,4308

(53)

Maka harga (b) yaitu:

�� = a �� + b atau b = �� - a ��

b = 0,2629 - (0,6040) 0,4333

= 0,2629 – 0,2617

= 0,0012

Persamaan garis regresi baru yaitu:

Y = a X + b atau X = �−� �

Dimana :

Y = Absorbansi

X = Konsentrasi

Perhitungan untuk konsentrasi sampel

Dengan menggunakan persamaan sebagai berikut:

(54)

= 0,0021 mg/L

003b = 0,0024−0,0012 0,6040

= 0,0020 mg/L

d. 004a = 0,0035−0,0012 0,6040

= 0,0038 mg/L

004b = 0,0034−0,0012 0,6040

(55)

4.3. Pembahasan

Analisa Fosfat dengan menggunakan metode spektrofotometri dengan asam

askorbat sebagai reduktor yang akan mereduksi Asam fosfomolibdat menjadi

Molibdenum berwarna biru. Dalam limbah rumah sakit fosfat berasal dari limbah

kimia, yaitu dari larutan desinfektan, pembersih, minyak, insektisida dan zat- zat

kimia lainnya yang digunakan dalam pelayanan rumah sakit. Jika dalam perairan

terdapat kadar Fosfat yang sangat tinggi maka akan memicu terjadinya

eutrofikasi, yaitu merupakan suatu gejala peningkatan unsur hara. Peningkatan

unsur hara tersebut akan meningkatkan proses pertumbuhan berbagai jenis

tumbuhan air yang sangat cepat sehingga terjadi ledakan populasi vegetasi yang

sering disebut sebagai blooming. Biomassa dari vegetasi ini akan setelah mati

akan mengalami proses pembusukan dekomposisi yang dilakukan oleh bakteri

dan berlangsung secara aerob, artinya proses tersebut membutuhkan oksigen

terlarut di dalam air, dan hal ini dapat menyebabkan terganggunya kehidupan ikan

– ikan didalam air, dan apabila kadar Fosfat dalam air sangat rendah (<0,01

mgP/L), pertumbuhan tanaman dan ganggang akan terhalang, keadaan ini

dinamakan oligotrop.

Pada analisa limbah cair rumah sakit didapatkan kadar Fosfat yaitu,

0,0003mg/L, 0,00016mg/L pada inlet, dan 0,0058mg/L, 0,0056mg/L pada outlet.

Sedangkan pada air sungai yang disekitar rumah sakit kadar Fosfatnya yaitu,

0,0021mg/L, 0,0020mg/L pada hulu dan 0,0038mg/L, 0,0036mg/L pada hilir.

Dari hasil analisa diatas, air limbah dari rumah sakit dapat disalurkan ke induk

perairan karena kadar nya masih memenuhi standar yaitu di bawah 2mg/L. Hal ini

(56)

No.Kep-58/MENLH/12/1995 tanggal 21 Desember 1995. Tentang baku mutu limbah cair

bagi kegiatan rumah sakit, diman kadar fosfat yang diperolehkan yaitu 2mg/L. hal

ini menunjukkan bahwa sistem pengolahan limbah cair rumah sakit tersebut masih

(57)

BAB 5

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1. Kesimpulan

1. Dari data yang diperoleh bahwa kadar Fosfat yang terkandung pada

limbah cair Rumah Sakit yaitu 0,0003 mg/L pada inlet dan 0,0058 mg/L.

Berdasarkan peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup adapun kadar

Fosfat yang diizinkan pada limbah cair bagi kegiatan Rumah Sakit adalah

2 mg/L, maka limbah cair Rumah Sakit masih memenuhi standart yang

ditetapkan dan aman disalurkan ke perairan terbuka.

2. Dan kadar Fosfat pada air sungai yang berada disekitar Rumah Sakit yaitu

0,0021 mg/L pada hulu air sungai dan 0,0038 mg/L pada hilir air sungai.

Kadar Fosfat yang sangat rendah pada air alam yaitu < 0,01 mg/L, dapat

menyebabkan oligotrop ( kekurangan unsur hara) sehingga air sungai

tersebut kurang baik untuk digunakan sebagai pengairan di bidang

pertanian.

5.2. Saran

a. Sebaiknya pihak pengolahan limbah cair Rumah Sakit dapat

mempertahankan kualitas pengolahan limbah, agar kelestarian lingkungan

tetap terjaga.

b. Sebaiknya masyarakat tidak menggunakan air sungai di sekitar Rumah

(58)

DAFTAR PUSTAKA

Alaerts,G. 1984. Metode Penelitian Air. Usaha Nasional. Surabaya.

Barus, T.A. 2004. Pengantar Limnologi: Studi Tentang Ekosistem Air Daratan. USU Press. Medan.

http://id.wikipedia.org/wiki/Ortofosfat

Mahida,U.N. 1993. Pencemaran Air dan Pemanfaatan Limbah Industri. PT Raja Grafindo Persada. Jakarta.

Nugroho,A. 2006. Bioindikator Kualitas Air. Universitas Trisakti. Jakarta.

Pruss,A., Giroult,E. dan Rushbrook,P. 2002. Pengelolaan Aman Limbah Layanan Kesehatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Sastrawijaya,A.T. 2001. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta. Jakarta.

Suharto. 2011. Limbah Kimia dalam Pencemaran Udara dan Air. C.V.Andi Offset. Yogyakarta.

Sutrisno, T.C.,dkk. 2004. Teknologi Penyediaan Air Bersih. Rineka Cipta. Jakarta.

Underwood,A.T. 1981. Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi keempat. Penerbit Erlangga. Jakarta.

(59)

Lampiran 1. Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup

Nomor : Kep-58/MENLH/12/1995

Tentang : Baku Mutu Limbah Cair Bagi Kegiatan Rumah Sakit

Tanggal : 21 Desember 1995

Parameter Kadar maksimum (mg/L)

BOD 75

COD 100

TSS 100

pH 6-9

Parameter Kadar maksimum

a. Fisika

Suhu 300C

b. Kimia

pH 6-9

BOD5 30 mg/L

COD 80 mg/L

TSS 30 mg/L

NH3 bebas 0,1 mg/L

PO4 2 mg/L

c. Mikrobiologi

(60)

Lampiran 2: Grafik Kurva Kalibrasi Larutan Standar Fosfat (PO4-2)

Grafik kurva kalibrasi larutan standar posfat

(61)

Lampiran 3: Grafik kurva kalibrasi sampel limbah cair rumah sakit

,

Grafik kurva kalibrasi sampel limbah cair rumah sakit

y = 0,6016x

0 0,002 0,004 0,006 0,008 0,01

Gambar

Tabel 4.1. Data absorbansi larutan seri standart
Tabel 4.3. Data penentuan persamaan garis regresi dengan metode least
Grafik kurva kalibrasi larutan standar posfat
Grafik kurva kalibrasi sampel limbah cair rumah sakit

Referensi

Dokumen terkait

Bila dibandingkan kadar sulfat dari sampel air yang diambil dari daerah Sibiru-biru dengan standar baku mutu air kelas II (400 mg/l) maka kadar sulfat dari sampel air yang

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kualitas badan air Sungai Deli, apakah dugaan masyarakat bahwa kadar limbah cair rumah sakit yang dibuang ke perairan Sungai Deli

ANALISA KADAR FOSFAT DAN TSS (TOTAL SUSPENDED SOLID) PADA AIR SUNGAI DENGAN.

Kadar fosfat dalam limbah rumah sakit yang masih tinggi meskipun telah melalui proses pengolahan dalam IPAL dapat diturunkan dengan menggunakan reactor fitobiofilm

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel pH, hidrogen peroksida, dan waktu reaksi terhadap penurunan kadar COD pada pengolahan limbah cair rumah sakit

ANALISIS KANDUNGAN FOSFAT DALAM AIR SUNGAI SEKARBELA SECARA SPEKTROFOTOMETRI

(. 0imbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair dan gas. 0imbah cair rumah sakit adalah semua air buangan termasuk tinja

Penelitian efisiensi adsorpsi karbon aktif berbahan bijih plastik dalam menurunkan kadar amonia limbah cair rumah sakit untuk mencegah pencemaran