PENENTUAN KADAR AIR DAN KADAR MINYAK
DALAM KULIT KAYU MANIS
DI PT. PALMCOCO LABORATORIES
KARYA ILMIAH
RIKA DESMELIANA KABAN
112401068
PROGRAM STUDI DIPLOMA 3 KIMIA DEPARTEMEN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PERNYATAAN
PENENTUAN KADAR AIR DAN KADAR MINYAK DALAM KULIT KAYU MANIS DI PT.PALMCOCO LABORATORIES
KARYA ILMIAH
Saya mengkui bahwa karya ilmiah ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebutkan sumbernya
Medan, Juni 2014
PERSETUJUAN
Judul : Penentuan Kadar Air Dan Kadar Minyak Dalam Kulit Kayu Manis Di PT.Palmcoco Laboratories Katagori : Karya Ilmiah
Nama : Rika Desmeliana Kaban Nomor Induk Mahasiswa : 112401068
Program Studi : Diploma 3 Kimia Analis Departemen : Kimia
Faakultas : Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Sumatera Utara
Disetujui di Medan, juni 2014
Diketahui/Disetujui oleh
Program Studi D3 Kimia FMIPA USU
Ketua, Pembimbing,
Dra. Emma Zaidar Nst, M.Si. Dr. Cut Fatimah Zuhra M.Si NIP 195512181987012001 NIP 197404051999032001
Departemen Kimia FMIPA USU
Ketua,
PENGHARGAAN
Salam sejahtera,
Segala puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan yang Maha Esa karena telah memberikan kesehatan dan rahmat yang berlimpah kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan Karya Ilmiah ini.
Karya Ilmiah ini disuse untu melengkapi persyaratan dalam mencapai gelar Ahli Madya pada Program Studi Diploma 3 Kimia Analis Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara
Adapun judul Karya Ilmiah ini adalah “PENENTUAN KADAR AIR DAN KADAR MINYAK DALAM KULIT KAYU MANIS DI PT.PALMCOCO LABORATORIES”
Penulis menyadari bahwa tersusunnya Karya Ilmiah ini tidak terlepas dari perhatian, bimbingan, dan dukungan dari berbagai pihak baik bantuan moril, maupun materil, sehingga dengan keikhlasan dan kerendahan hati pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada pihak yang telah mendukung.
1. Ibu Dr. Rumondang Bulan Nst, M.S. selaku ketua Departemen Kimia FMIPA USU
2. Ibu Cut Fatimah Zuhra Ssi.,M.S. selaku dosen pembimbing Karya Ilmiah
3. Bapak Zul Alkaf BSc. Selaku kepala laboratorium PT.PALMCOCO LABORATORIES yang dengan sabar mengajarkan penulis dan telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan Karya Ilmiah
4. Kakak-kakak pegawai PT.PALMCOCO LABORATORIES kak Tari dan kak Lya yang telah banyak mengajarkan penulis dalam menyelesaikan Karya Ilmiah
5. Abangda Bripda. Alexander Manihuruk yang selalu memberikan semangat, perhatian, motivasi dan doa kepada penulis dalam menyelesaikan Karya Ilmiah
6. Teman – teman sekaligus saudara penulis (Sandy, Melinda, Anggi, kak Siska, kak Rina, kak Evi, Maria, Ila, kak Stefany, Togu) yang telah banyak memberikan doa dan motivasi kepada penulis
7. Rekan – rekan Mahasiswa Program Studi Diploma 3 Kimia Analis
angkatan 2013, 2012, dan terkhusus 2011 FMIPA USU yang selalu memberikan motivasi dan doa kepada penulis
8. Teman – teman PKL penulis (Dhesy dan Monica) yang senantiasa
Terkhusus Ayahanda R.Kaban dan Ibunda I. br Sembiring yang tiada berhenti mendoakan, memberikan dukungan semangat, dan perhatian yang lebih kepada penulis dalam menyelesaikan Program Studi Diploma 3 Kimia Analis FMIPA USU.
Medan, Juni 2014
Penulis
PENENTUAN KADAR AIR DAN KADAR MINYAK DALAM KULIT KAYU MANIS
DI PT. PALMCOCO LABORATORIES
ABSTRAK
DETERMINATION OF MOISTURE AND OIL CONTENT CASSIAVERA IN PT.PALMCOCO LABORATORIES
ABSTRACT
DAFTAR ISI
2.2.1. Sistem Penanaman Kayu Manis 7 2.2.2. Sistem Panen Kayu Manis 9 2.3. Produk Kulit Kayu Manis 10
2.4. Khasiat dan Manfaat Kulit Kayu Manis 12
2.5. Penetapan Kadar Air 14
2.6. Penetapan Kadar Minyak 15 BAB 3. BAHAN DAN METODE
3.1. Alat 18
3.2. Bahan 19
3.3. Prosedur Percobaan 19
3.3.1. Prosedur Percobaan Penentuan Kadar Air 19 3.3.2. Prosedur Percobaan Penentuan Kadar Minyak 20 BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil Percobaan 21
4.2. Pembahasan 25
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan 26
5.2. Saran 26
DAFTAR TABEL
Halaman
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1. Kulit Kayu Manis 4
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Data Penentuan Kadar (%) Air Kulit Kayu Manis Potongan 28 Dari Hasil Metode Sokletasi Dengan Pelarut n-Heksan
Lampiran 2. Data Penentuan Kadar (%) Air Kulit Kayu Manis Serpihan 29 Dari Hasil Metode Sokletasi Dengan Pelarut n-Heksan
Lampiran 3. Data Penentuan Kadar (%) Air Kulit Kayu Manis Serbuk 30 Dari Hasil Metode Sokletasi Dengan Pelarut n-Heksan
Lampiran 4. Data Penentuan Kadar (%) Minyak Kulit Kayu Manis Potongan 31 Dari Hasil Ekstraksi Sokletasi Dengan Pelarut n-Heksan
Lampiran 5. Data Penentuan Kadar (%) Minyak Kulit Kayu Manis Serpihan 32 Dari Hasil Ekstraksi Sokletasi Dengan Pelarut n-Heksan
PENENTUAN KADAR AIR DAN KADAR MINYAK DALAM KULIT KAYU MANIS
DI PT. PALMCOCO LABORATORIES
ABSTRAK
DETERMINATION OF MOISTURE AND OIL CONTENT CASSIAVERA IN PT.PALMCOCO LABORATORIES
ABSTRACT
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Kulit manis atau lebih dikenal dengan nama kulit kayu manis (Cinamomun
zeylanicum) ialah sejenis pohon penghasil rempah-rempah. Termasuk kedalam
jenis rempah-rempah yang amat beraroma, manis, dan pedas.
Kayu manis dibudidayakan untuk diambil kulit kayunya, tanaman ini dapat tumbuh di daerah pegunungan yang ketinggiannya 1.500m, dengan Tinggi pohon 1-12m, tanaman ini berdaun lonjong atau bulat telur, dan berwarna hijau, jika daun masih muda maka akan berwarna merah. Kulit kayu tanaman ini berwarna kelabu, setelah dibersihkan kulit kayu manis bagian luar, lalu dijemur dan digolongkan dengan panjang asal kulit (dari dahan atau ranting) dan dijual dalam betuk kering (Haris, 1990).
Manfaat lain minyak kayu manis dipakai sebagai obat tradisional, yaitu mengeluarkan angin dan membangkitkan selera makan atau menguatkan lambung (Rismunandar dan Paimin, 2001)
Sokletasi adalah suatu proses pemisahan suatu komponen yang terdapat dalam zat padat dengan cara penyaringan berulang-ulang dengan menggunakan pelarut tertentu, sehingga semua komponen yang diinginkan akan terisolasi. Kelebihan dari metode sokletasi adalah sampel terekstraksi dengan sempurna, proses ekstraksi lebih cepat, dan pelarut yang digunkan sedikit. Sedangkan kelemahannya adalah sampel yang digunakan harus tahan terhadap panas jika tidak tahan panas maka akan teroksidasi atau teroksidasi ketika proses sokletasi berlangsung.
Berdasarkan uraian diatas, penulis tertarik untuk menganalisis karya
ilmiah dengan judul “ Penentuan Kadar Air Dan Kadar Minyak Dalam
Kulit Kayu Manis Di PT. PALMCOCO LABORATORIES”
1.2. Permasalahan
1. Berapakah kadar air yang terkandung dalam sampel kulit kayu manis yang berbentuk potongan, serpihan, dan serbuk ?
2. Berapakah kadar minyak yang terkandung dalam sampel kulit kayu manis yang berbentuk potongan, serpihan, dan serbuk ?
3. Apakah kadar air dan kadar minyak dalam kulit kayu manis sesuai dengan spesifikasi SNI ?
1.3.Tujuan
1. Untuk mengetahui kadar air yang terkandung dalam sampel kulit kayu manis yang berbentuk potongan, serpihan, dan serbuk
2. Untuk mengetahui kadar minyak yang terkandung dalam sampel kulit kayu manis yang berbentuk potongan, serpihan, dan serbuk
3. Untuk mengetahui kadar air dan kadar minyak dalam kulit kayu manis apakah telah sesuai dengan spesifikasi SNI
1.4.Manfaat
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kayu Manis
kayu manis merupakan produk rempah-rempah yang paling banyak dijumpai di Indonesia. Ada empat jenis kulit kayu manis dalam dunia perdagangan ekspor maupun lokal, yaitu : Cinnamomum burmanii, Cinnamomum zeylanicum,
cinnamomum cassia, cinnamomum cillialawan. Cinnamomum burmanii ini
berasal dari Indonesia (Rismunandar dan Paimin, 2001). Bentuk kayu manis seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1 berikut.
Gambar 1. Kulit Kayu Manis
atau bunga sempurna dengan warna kuning, ukurannya kecil. Buahnya adalah buah buni, berbiji satu dan berdaging. Bentuknya bulat memanjang, buah muda berwarna hijau tua dan buah tua bewrna ungu tua. Tanaman ini banyak dijumpai di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu.
Klasifikasi morfologi kayu manis adalah :
Kingdom : Plantae
Divisi : Gymnospermae
Subdivisi : Spermatophyta
Kelas : Dicotyledonae
Subkelas : Dialypetalae
Ordo : Policarpicae
Famili : Lauraceae
Genus : Cinnamomum
Spesies : Cinnamomum burmanii (Rismunandar dan Paimin, 2001)
Saat ini Indonesia hanya mengekspor produk kayu manis dalam
(Cinnamomun burmanni Blume) dalam bentuk kulit yang merupakan komoditas
Negara pengimpor utama kayu manis antara lain adalah Amerika, Kanada, dan Jerman. Indonesia dikenal sebagai produsen utama kayu manis tetapi harga jual komoditas itu sangat rendah karna di ekspor dalam bentuk bahan baku(www.eprints.undip.ac.id/tesis-penelitian-ekstraksi-kayu-manis.pdf)
Adapun spesifikasi kulit kayu manis dilihat dari persen kadar air, persen kadar minyak, rasa, dan warna seperti yang ditunjukkan pada tabel 2.1
Tabel 2.1. Spesifikasi Kulit Kayu Manis
Warna Kuning Kecoklatan
Rasa Manis dan Pedas
Kadar Air Maksimal 14%
Kadar Minyak 2 – 2,5 %
Panjang Kulit Kayu Manis Batangan Antara 1 – 10 cm www.rempahsari.com/our-productst/47-cassiavera
2.2. Budidaya Kayu Manis
2.2.1. Sistem Penanaman Kayu Manis
Cinnamomun zeylanicum dan Cinnamomun burmanni merupakan jenis tanaman
berumur panjang penghasil kulit kayu yang diindonesia disebut dengan kayu manis. Tanaman asli Indonesia ini dapat dimanfaatkan sebagai tanaman penghijauan karena mempunyai kriteria sebagai tanaman penghijauan yaitu pertumbuhannya cepat, berakar tunjang dalam, berumur panjang dan mempunyai nilai ekonomis. Kayu manis dapat bertumbuh degan baik apabila syarat pertumbuhannya terpenuhi antara lain; tinggi tempat, curah hujan, kondisi tanah, topografi, dan air tanah.
a) Tinggi tempat, beberapa jenis kayu manis dapat tumbuh hingga ketinggian 2.000meter diatas permukaan laut (m dpl), namun C.burmanni akan berproduksi baik apabila ditanaman didaerah dengan ketinggian 500-1.500 m dpl. Bila ditanam didaerah kurang dari 500 m dpl tanaman akan tumbuh lebih cepat namun kualitas kulit kayunya rendah yaitu ketebalan kulit dan aromanya berkurang. Untuk jenis C. zeylanicum, tumbuh baik pada ketinggian 0-500 m dpl.
manis membutuhkan sinar matahari untuk berfotosintesis, sinar matahari yang dibutuhkan kayu manis adalah sekita 40%-70%
c) Keadaan tanah yang dibutuhkan kayu manis adalah berpasir, banyak mengandung humus, remah, dan mudah menyerap air seprti latosol. Keasaman (pH) tanah yang cocok untuk kayu manis adalah pH 5,0 - 6,5 d)Persiapan lahan, lubang tanaman yang ideal untuk kayu manis adalah 50cm
x 50cm x 50cm x 40cm x 40cm x 40cm. selanjutnya lubang tananaman dibiarkan terbuka selama 1-2 bulan, lubang tanaman kemudian ditutup degan tanah galian, namun sebelum ditutup dimasukkan dahulu pupuk kandang sebanyak 20-30 kg/lubang.
1. penyiapan bibit
Bibit kayu manis dapat berasal dari; 1) bibit asal biji yang akan ditanam sebaiknya berumur 8-12 bulan di pesemaian; 2) bibit asal tunas yaitu tunas yang sudah ditebang dapat ditanam dikebun setelah ditumbuhi akar. Selain berakar seharusnya sudah mencapai 50-60 cm, lalu diberikan perlakuan dengan membungkus bagian perakaran dengan tanah. Bibit dar I tuna harus sehat dan daunnya sudah tua minimal sudah berumur minimal 6 bulan; 3) bibit asal atek, harus sehat dan memiliki tinggi sekitar 50-60 cm.
2. penanaman
3. Waktu tanam
Waktu yang tepat untuk melakukan penanaman kayu manis adalah pada saat musim hujan, karna kayu manis pada saat beberapa bulan setelah tanam memerlukan nangan dan air yang cukup.
4. Cara tanam
Setelah dibuat lubang, bibit bisa dimasukkan ke bagian tengah, lalu ditimbun tanah. Timbunan tanah harus kuat dan padat agar kuat menahan terpaan angin. Bibit yang berasal dari tunas, penanamannya agak miring. Jumlah daun juga dikurangi untuk mencegah penguapan yang berlebihan
(http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/penanaman-kayu-manis).
2.2.2. Sistem Panen Kayu Manis
Sistem panen sangat menentukan mutu kayu manis yang dihasilkan. Panen yang kurag benar dapat menurunkan mutu. Ada empat system panen yang dikenal, yaitu : sistem tebang sekaligus, sistem situmbuk, sistem batang dipukuli sebelum ditebang dan sistem vietnam .
memukuli kulit batang hingga melingkar. Dengan cara ini diharapkan kulit yang dipeoleh lebih tebal .
Bertambahnya ketebalan kulit karena pada bekas pukulan akan terjadi memar atau keretakan pada kulit. Selanjutnya dari retakan kulit akan tumbuh kalus baru sehingga kulit tampak ada pembengkakan. Pemukulan batang dilakukan dua bulan sebelum tanaman dikuliti. Dan pada system Vietnam dilakukan pengelupasan kulit membentuk persegi panjang dengan ukuran 10cmx30cm atau 10cmx60cm. pengelupasan kulit ini secara berselang-seling sehingga tampak seperti kotak papan catur. Pada kulit batang ditoreh dengan bentuk dan ukuran kulit yang akan dikupas. Kulit yang dikupas tersebut merupakan hasil panen untuk dijemur menjadi bentuk produk kulit kayu manis kering. Setelah tanaman dirawat, pada kulit bekas pengupasan akan tumbuh kalus baru yang akhirnya kulit akan saling bertaut. Pada saat itulah batang sebelumnya tidak dipanen dengan menyisakan kulit yang baru tumbuh. Demikian seterusnya panen dilakukan pada kulitnya saja.
2.3. Produk kulit kayu manis
kulit bermutu rendah karena kadar airnya masi tinggi, kadar air tinggi diakibatkan oleh kurangnya waktu penjemuran selain kadar air masih tinggi, mutu kulit dipengaruhi oleh kebersihan tempat penjemuran. Agar dapat menghasilkan mutu kulit yang baik, penjemuran sebaiknya dilakukan dibawah sinar matahari penuh (Rismunandar dan Paimin, 2001).
Kayu manis mengandung minyak terbang (sinamaldehida, eugenol, terpen) pati, kalsium oksalat, dan lemak. Akarnya mengandung glisiridin, gula, asparagin, dammar, dan kalsium oksalat (Sri, 2006). Komposisi kimia kulit kayu manis dapat dilihat seperti yang ditunjukkan pada tabel 2.2.
Tabel 2.2. komposisi kimia Cinnamomum burmanni
Parameter Komposisi
Kadar Minyak 7,90 %
Minyak Atsiri 2,40 %
Alkohol Ekstrak 10-12 %
Abu 3,55 %
Serat Kasar 20,30 %
Karbohidrat 59,55 %
Lemak 2,20 %
2.4 Minyak Atsiri Kulit Kayu Manis
Minyak atsiri adalah zat yang berbau yang terkandung dalam tanaman. Minyak ini disebut juga minyak menguap, minyak esteris atau minyak essential karena pada suhu biasa (suhu kamar) mudah menguap di udara terbuka. Istilah essensial dipakai karena minyak atsiri mewakili bau dari tanaman asalnya. Dalam keadaan segar dan murni tanpa pencemaran, minyak atsiri umumnya tidak berwarna. Namun, pada Penyimpanan lama minyak atsiri dapat teroksidasi membentuk resin serta warnanya berubah menjadi lebih tua (gelap). Untuk mencegah supaya tidak berubah wrna, minyak atsiri harus terlindungi dari pengaruh cahaya, misalnya disimpan dalam bejana gelas yang berwarna gelap. Bejana tersebut juga diisi sepenuh mungkin sehingga tidak memungkinkan berhubungan langsung dengan oksigen udara, ditutup rapat serta disimpan ditempat yang kering dan sejuk
Peranan utama minyak atsiri terhadap tumbuhan adalah sebagai pengusir serangga (mencegah daun dan bunga rusak) serta sebagai pengusir hewan pemakan daun. Namun, sebaliknya minyak atsiri juga berfungsi sebagai penarik serangga guna membantu terjadinya penyerbukan silang dari bunga. (Gunawan dan Mulyani 2004)
Minyak atsiri yang berasal dari kulit kayu manis komponen terbesarnya ialah cinnaldehida 60-70% ditambah dengan eugenol, beberapa jenis aldehida, benzyl-benzoat, phelandrene, dan lain-lainnya. Kadar eugenol rata-rata 80-66%. Dalam kulit masih banyak komponen-komponen kimiawi misalnya damar. Pelekat, tannin, gula, kalsium, oksalat, dan sebagainya (Rismunandar, 1995). Sinamaldehida merupakan kandungan yang paling tinggi kadar persenya, hal tersebut dapat dilihat pada tabel 2.3.
Tabel 2.3. Spesifikasi Minyak Atsiri Kayu Manis
Parameter Zat/Ukuran
Warna, penampilan, dan bau Cairan kuning dengan bau kayu manis dan rasa pedas yang membakar
Berat jenis pada 250C 1,010 - 1,030 Putaran optic 00 - 20
Kandungan sinamaldehida 55-78 %
mengeluarkan angin. Selain itu minyaknya dapat digunakan dalam industri sebagai obat kumur dan pasta, penyegar bau sabun , deterjen , lotion parfum dan cream. Dalam pengolahan bahan makanan dan minuman minyak kayu manis digunakan sebagai pewangi atau peningkat cita rasa, diantaranya untuk minuman keras, minuman ringan, agar-agar, kue, kembang gula, bumbu gulai dan sup. Kayu manis berkhasiat sebagai obat batuk, sariawan, encok, darah tinggi asma dan masuk angin (Sri, 2006).
2.5. Penetapan kadar air
Penetapan kandungan air dapat dilakukan dengan beberapa cara. Hal ini tergantug pada sifat bahannya. Ada 3 cara penentuan kadar air yaitu; (1) cara hot plate; (2) cara oven terbuka; (3) cara oven hampa udara.
2.5.1 Cara Hot Plate
Cara hot plate dapat digunakan untuk menentukan kadar air dan bahan lainnya yang menguap yang terdapat dalam minyak, termasuk emulsi seperti margarine atau mentega. Contoh dipanaskan minyak dengan suhu tidak lebih dai 1300C kemudian letakan pada gelas arloji dan air dapat dilihat dari air yang mengembun pada gelas arloji. Selanjutnya contoh dimasukkan kedalam desikator dan didinginkan pada suhu kamar, kemudian ditimbang.
2.5.2. Cara Oven Terbuka
cawan kadar air lalu dimasukkan kedalam oven dan dikeringkan pada suhu 1050C selama30 menit. kemudian diangkat, lalu ditimbang.
2.5.3 Cara Oven Hampa Udara
Pada umumnya penentuan kadar air dilakukan dengan meringankan bahan dalam oven pada suhu 105-1100C selama 3 jam atau sampai didapat berat konstan. Selisih berat sebelum dan sesudah pengeringan adalah banyaknya air yang diuapkan. Untuk bahan-bahan yang tidak tahan panas, seperti bahan berkadar gula tinggi, minyak, daging, kecap, dan lain-lain pemanasan dilakukan didalam oven vakum dengan suhu yang lebih rendah. Kadang-kadang pengeringan dilakukan tanpa pemanasan, bahan dimasukkkan kedalam desikator dengan H2SO4 pekat sebagai pengering, hingga mencapai berat konstan (Ketaren,1986).
2.6.Penetapan kadar Minyak
Penentuan kadar minyak sesuatu bahan dapat dilakukan dengan soxhlet
apparatus. Cara ini dapat juga digunakan untuk ekstraksi minyak dari sesuatu
bahan yang mengandung minyak. Ekstraksi dengan alat soxhlet apparatus merupakan cara ekstraksi yang efisien karena dengan alat ini pelarut yang digunakan dapat diperoleh kembali. Bahan padat pada umumnya membutuhkan waktu ekstraksi yang lebih lama, karena itu dibutuhkan pelarut yang lebih banyak.
ekstraksi (pemisahan/pengambilan) yang menggunakan pelarut selalu baru dalam mengekstraknya sehingga terjadi ekstraksi yang kontinyu dengan adanya jumlah pelarut konstan yang juga dibantu dengan pendingin yang baik (kondensor).
Gambar 2. Soklet Aparatus
Dalam penentuan kadar minyak contoh yang diuji harus cukup kering dan biasanya digunakan contoh dari bekas penentuan kadar air. Jika contoh masih basah maka selain memperlambat proses ekstraksi , air dapat turun ke dalam labu suling (labu lemak) sehingga akan mempersulit penentuan berat tetap dari labu suling.
Prosedur
akan diekstraksi ditimbang kira-kira 5 gram, lalu dimasukkan kedalam tabung
“penyaring” atau dapat digunakan kertas saring yang dibuat seperti kantong dan
ditutup dengan kapas yang tidak berlemak. Tabung “penyaring” atau kertas saring
yang berisi sampel dimasukkan kedalam soklet aparatus dan diekstrak dengan n-heksan atau pelarut minyak lainnya. Diatas penangas air selama 24 sampai 48 jam. Pelarut dapat dipisahkan dari minyak dengan cara menguapkan pelarut dengan cara penyulingan.
BAB III
BAHAN DAN METODE
3.1. Alat
a. Kondensor b. Timbal
c. Soklet Aparatus d. Labu alas e. Heating mantle f. Pinset
g. Penjepit tabung h. Erlenmeyer ASA i. Selang
j. Kapas
3.2. Bahan
a. Kulit kayu manis (batangan) b. Kulit kayu manis (serpihan) c. Kulit kayu manis (bubuk) d. N-heksan
e. Air
3.3.Prosedur
3.3.1. Prosedur Penetapan Kadar Air
a. Dihaluskan sampel dengan mixer dan diayak dengan ayakan No.40 (35 mesh)
b. Ditimbang cawan petri yang kosong, dicatat beratnya kemudian dinolkan c. Ditimbang sampel yang sudah halus kedalam cawan petri yang sudah
dinolkan sebanyak 10gr
d. Dicatat berat sampel yang sebenarnya
e. Dimasukkan kedalam oven selama 3 jam pada suhu 1100 C f. Dipindahkan kedalam desikator selama 30 menit
3.3.2. Prosedur Penetapan Kadar Minyak
a. Dihaluskan sampel dengan mixer dan diayak dengan ayakan No.40 (35mesh)
b. Ditimbang Erlenmeyer yang kosong kemudian dinolkan
c. Ditimbang beaker dan kertas penyaring timbal , kemudian dinolkan d. Dimasukkan sampel yang sudah halus sebanyak 10 gr kedalam kertas
penyaring timbal yang sudah dinolkan e. Dicatat berat sampel sebenarnya
f. Diisi Erlenmeyer yang telah diketahui beratnya degan N-heksan sebanyak 150 ml
g. Dirangkai alat soklet, masukkan kertas penyaring timbal, kemudian alirkan air melalui selang dan hidupkan pemanas soklet dengan suhu 400C
h. Dilakukan proses ekstraksi dengan 6 siklus ( selama ± 4 jam) i. Dikeluarkan kertas peyaring timbal dari dalam alat soklet dengan
menggunakan pinset
j. Diuapkan N-heksan sampai menguap seluruhnya
k. Dimasukkan Erlenmeyer yang berisi minyak kedalam oven selama 1 jam l. Dipindahkan Erlenmeyer kedalam desikator selama 30 menit
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Data
Adapun data yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Tabel 4.1 Data Penentuan Kadar Air (%) Dari Hasil Ekstraksi Sokletasi Dengan Pelarut n-heksan
Tabel 4.2. Data Penentuan Kadar Minyak (%) Dari Hasil Ekstraksi Sokletasi Dengan Pelarut n-heksan
Nama Kayu manis 105,9915 10,0125 116,0040 106,0935 1,02
Potongan 105,4963 10,0683 115,5646 105,6022 1,05 1,05 105,5532 10,0696 115,6228 105,6630 1,09
Kayu Manis 109,3971 10,0075 119,4046 109,5308 1,34
Serpihan 109,3256 10,0065 119,3321 109,4520 1,26 1,30 109,4523 10,0082 119,4605 109,5828 1,30
Kayu Manis 105,9956 10,0744 116,0700 106,1006 1.04
Serbuk 105,7383 10,0635 115,8018 105,8523 1,13 1,09 105,7126 10,0125 115,7251 105,8232 1,10
4.2.Pembahasan
Dari hasil percobaan diperoleh kadar air dari kulit kayu manis potongan, serpihan, dan bubuk adalah 11,56%; 11,41%; dan 12,49%. Kadar air kulit kayu manis diperoleh melalui metode oven hampa udara. Kadar air kulit kayu manis sesuai dengan spesifikasi SNI bahwa kadar air kulit kayu manis maksimal 14%.
Dari hasil percobaan yang dilakukan diperoleh kadar minyak dari kulit kayu kayu manis potongan, serpihan, dan bubuk adalah 1,05%; 1,30%; dan 1,09. Ekstrak minyak kayu manis diperoleh melalui melalui metode sokletasi. Hasil kadar minyak kulit kayu manis ini sesuai dengan spesifikasi SNI bahwa kadar inyak kulit kayu manis tidak melebihi dari 1,75%.
perbedaan nilai yang terjadi pada kayu manis potongan, serpihan, dan serbuk dilihat dari perolehan kadar air dimana kayu manis serbuk lebih besar nilainya dibandingkan dengan kayu manis bentuk lainnya. Hal itu disebabkan karena ukuran partikel kayu manis serbuk lebih kecil sehingga lebih mudah menyerap air dari udara ( bersifat higroskopis) yang terjadi pada saat proses penghalusan kulit kayu manis,. Dimana semakin cepat kayu manis serbuk menyerap air maka persen kadar air serbuk yang diukur dengan penimbangan semakin besar.
Ukuran kulit kayu manis serpihan memudahkan pelarut masuk kedalam sel-sel kulit kayu manis yang berisi minyak, dimana pelarut akan mendorong minyak keluar dari dalam sel-sel kulit kayu manis. hal itu memudahkan minyak terkekstraksi sempurna dan mempunyai kadar minyak yang lebih tinggi dibanding dengan kayu manis bentuk potongan, dan serbuk,
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
1. Dari data analisa diperoleh hasil kadar air kayu manis potongan (11,56%) lebih kecil daripada kayu manis serpihan (11,81%) dan kayu manis serbuk (12,49%)
2. Dari data analisa diperoleh hasil kadar minyak kayu manis potongan (1,09%) lebih tinggi daripada kayu manis serpihan (1,30%) dan kayu manis serbuk (1,05%)
3. Kadar minyak dan kadar air yang dipeoleh sesuai dengan spesifikasi kulit kayu manis, dimana kadar minyak yang diperoleh tidak lebih dari 2,5% dan kadar air yang diperoleh tidak lebih dari 14%.
4.2. Saran
a) Diharapkan kepada peneliti selanjutnya agar meneliti Cassiavera (Kulit Kayu Manis) dengan mengukur bilangan iodine (IV), melihat warna dan mengukur Asam Lemak Bebas (FFA)
DAFTAR PUSTAKA
Gunawan, D. Mulyani, S. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi). Jilid 1. Jakarta. Penebar swadaya
http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/penanaman-kayu-manis
Ketaren, S. 1986. Minyak dan Lemak Pangan. Jakarta. Edisi 1. Cetakan 1. Universitas Indonesia-Press
Nugroho, S.H. 2006. Sehat dan bugar secara alami. Cetakan pertama. Jakarta. Penebar swadaya.
Rismunandar. 1995. Kayu Manis. Jakarta. Penebar swadaya
Rismunandar. Dan Paimin, F.B. 2001. Kayu Manis Budidaya dan pengolahan. Jakarta.
Penerbit swadaya
www.eprints.undip.ac.id/tesis-penelitian-ekstraksi-kayu-manis.pdf
Lampiran 1. Data Penentuan Kadar Air (%) Kayu Manis (Potongan) Dari Hasil Ekstraksi Sokletasi Dengan Pelarut N-heksan
Lampiran 2. Data Penentuan Kadar Air (%) Kayu manis (Serpihan) Dari Hasil Ekstraksi Sokletasi Dengan Pelarut N-heksan
Lampiran 3. Data Penentuan Kadar Air (%) Kayu Manis (Serbuk) Dari Hasil Ekstraksi Sokletasi Dengan Pelarut N-heksan
Lampiran 4. Data Penentuan Kadar (%) Minyak Kayu Manis (Potongan) Dari Hasil Ekstraksi Sokletasi Dengan Pelarut N-heksan
Nama Kayu Manis 105,9915 10,0125 116,0040 106,0935 1,02
Potongan 105,4963 10,0683 115,5646 105,6022 1,05 1,05 105,5532 10,0696 115,6228 105,6630 1,09
Kayu Manis 106,2657 10,0423 116,3080 106,3756 1,09
Potongan 106,3614 10,0364 116,3978 106,4638 1,02 1,06 104,4268 10,0284 114,4552 104,5326 1,06
Kayu Manis 104,4469 10,0365 114,4834 104,5538 1,07
Lampiran 5. Data Penentuan Kadar Minyak (%) Kayu Manis (Serpihan) dari Hasil Ekstraksi Sokletasi Dengan Pelarut N-heksan
Nama Kayu Manis 109,3971 10,0075 119,4046 109,5308 1,34
Serpihan 109,3256 10,0065 119,3321 109,4520 1,26 1,30 109,4523 10,0082 119,4605 109,5828 1,30
Kayu Manis 109,4498 10,0025 119,4523 109,5842 1,34
Serpihan 109,4663 10,0247 119,4910 109,5925 1,26 1,31 106,4498 10,0054 116,4552 106,5832 1,33
Kayu Manis 105,6821 10,0145 115,5966 105,8154 1,33
Lampiran 6. Data Penentuan Kadar (%) Minyak Kayu Manis (Serbuk) Hari Hasil Ekstraksi Sokletasi Dengan Pelarut N-heksan
Nama Kayu Manis 105,9956 10,0744 116,0700 106,1006 1.04
Serbuk 105,7383 10,0635 115,8018 105,8523 1,13 1,09 105,7126 10,0125 115,7251 105,8232 1,10
Kayu Manis 106,2547 10,0088 116,2635 106,3628 1,08
Serbuk 106,5587 10,0223 116,5810 106,6782 1,19 1,10 106,6456 10,0058 116,6514 106,7487 103
Kayu Manis 106,5244 10,0053 116,5297 106,6323 1,08