• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisa Perhitungan Batas Delay Sistem Ofdma Dan Ofdm – Tdma Berdasarkan Standar 802.16

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Analisa Perhitungan Batas Delay Sistem Ofdma Dan Ofdm – Tdma Berdasarkan Standar 802.16"

Copied!
83
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS AKHIR

ANALISA PERHITUNGAN BATAS DELAY SISTEM OFDMA DAN

OFDM – TDMA BERDASARKAN STANDAR 802.16

Diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pedidikan sarjana (S-1) pada Departemen Teknik Elektro

Oleh Yensen 040402015

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

(2)

ANALISA PERHITUNGAN BATAS DELAY SISTEM OFDMA DAN

OFDM – TDMA BERDASARKAN STANDAR 802.16

Oleh:

Yensen

040402015

Tugas Akhir ini diajukan untuk melengkapi salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Teknik Elektro

Disetujui oleh: Dosen Pembimbing,

NIP: 131 945 349 Ir. Arman Sani, MT

Diketahui oleh:

Ketua Departemen Teknik Elektro FT USU,

NIP: 131 459 555 IR. NASRUL ABDI, MT

DEPARTEMEN TEKNIK ELEKTRO

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

ABSTRAK

Teknologi WiMAX adalah teknologi akses nirkabel terbaru yang telah

diadopsi oleh IEEE dikenal dengan sebutan 802.16x. Teknologi nirkabel ini

menawarkan kemampuan untuk mengakses dengan jarak jangkau yang cukup jauh,

yaitu lebih kurang 50 km dengan bit rate yang cukup tinggi, dengan harapan agar

dapat menggantikan sistem komunikasi nirkabel yang ada pada saat ini.

Tundaan adalah salah satu parameter yang sangat penting untuk diperhatikan

dalam unjuk kerja dari sebuah sistem komunikasi. OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing)-TDMA (Time Division Multiple Access) dan OFDMA ( Orthogonal Frequency Division Multiple Access) adalah metode akses yang

diterapkan pada WiMAX, maka analisa perhitungan yang disajikan adalah berupa

nilai tundaan sistem OFDM-TDMA dan OFDMA dalam melayani aplikasi sistem

paket yang bersifat tetap, yang mana waktu layanan rata – rata dari kedua sistem

ditentukan terlebih dahulu. Secara umum, hasil perhitungan performansi dari tundaan

OFDMA jauh lebih baik dari OFDM-TDMA karena OFDMA menawarkan

fleksibilitas dalam pemilihan subcarriers sehingga nilai layanan rata – rata dapat ditingkatkan.

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih

dan karunia sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir yang berjudul

“Analisa Perhitungan Batas Delay Sistem OFDMA dan OFDM-TDMA berdasarkan

Standar 802.16”.

Penulisan Tugas Akhir ini dibuat sebagai salah satu syarat untuk

menyelesaikan pendidikan sarjana di Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik

Universitas Sumatera Utara.

Tugas Akhir ini penulis persembahkan kepada orangtua penulis Handoko Ng

dan Janli Hasni serta saudara-saudara penulis Vinson Ng,Bba dan Wilson yang selalu

memberikan dukungan kepada penulis.

Penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya

kepada :

1. Bapak Ir. Nasrul Abdi, MT selaku Ketua Departemen Teknik Elektro Fakultas

Teknik, Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak Rahmad Fauzi, ST. MT selaku Sekretaris Departemen Teknik Elektro,

Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara

3. Bapak Ir. Arman Sani, MT selaku dosen pembimbing Tugas Akhir penulis

yang telah memberikan bimbingan, pengarahan, dan motivasi dalam

menyelesaikan Tugas Akhir ini.

4. Seluruh staf pengajar Departemen Teknik Elektro, khususnya Konsentrasi

Teknik Telekomunikasi yang telah membekali penulis di bidang Teknik

(5)

5. Teman-teman di Departemen Teknik Elektro USU angkatan 2004; Dedi, Alex

K.S, Bayu, Wisan, Halim, Budiman, Willy, Irsan, dan rekan-rekan lainnya

yang selama ini telah menjadi teman seperjuangan dalam hari-hari kuliah.

6. Serta semua pihak yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan

Tugas Akhir ini yang tidak dapat disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna. Oleh

karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk

Tugas Akhir ini.

Akhir kata penulis berharap semoga penulisan Tugas Akhir ini bermanfaat

bagi kita semua.

Medan,7Agustus2008

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK...i

KATA PENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...iv

DAFTAR GAMBAR...vii

DAFTAR TABEL...ix

I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ...1

1.2 Rumusan Masalah...2

1.3 Tujuan Penulisan...3

1.4 Batasan Masalah...3

1.5 Metode Penulisan...4

1.6 Sistematika Penulisan...4

II. WiMAX………...6

2.1 Umum………...6

2.2 Perkembangan WiMAX………...8

2.3 Teknologi WiMAX...…………...……...10

2.3.1 OFDM……….………....11

2.3.2 Kanalisasi (Subchannelization)…… ………...11

2.3.3 Sistem Antena ………...12

2.3.4 Modulasi Adaptif ……….………...12

2.3.5 Teknik Koreksi Kesalahan ……….……….13

2.3.6 Diversitas Pngirim dan Penerima………..……...13

2.3.7 Penghematan Daya………...14

(7)

2.4.1 Fixed WiMAX……….17

2.4.2 Mobile WiMAX………..……….18

2.5 Lapis MAC………19

2.5.1 Mekanisme Kanal-Akses………..22

2.5.2 Kualitas Pelayanan………....23

2.5.3 Dukungan Mobilitas………..25

2.5.4 Fungsi Sekuritas……….26

2.6 Struktur Slot dan Frame ………..28

2.7 Topologi WiMAX………....30

2.8 Hybrid ARQ……….32

2.9 Aplikasi WiMAX……….33

2.9.1 WMANs……….33

2.9.2 Pengga nti Teknologi Wi-Fi………33

2.9.3 BackHaul Wireless……….34

III. OFDM & OFDMA...35

3.1 Umum……….………....35

3.2 Modulasi Multicarrier...36

3.3 Orthogonalitas……….38

3.4 Prinsip Kerja………....39

3.4.1 Transmitter………...40

3.4.2 Kanal………..43

3.4.3 Receiver……….44

3.5 Modulasi/Demodulasi QPSK………..46

3.5.1 Modulator QPSK………...46

3.5.2 Demodulator QPSK………47

3.6 Cyclic Prefix……….………48

3.7 Orthogonal Frequency Division Multiple Access………49

3.7.1 Multi Akses untuk OFDM……….50

(8)

3.7.3.1 Algoritma Maximum Sum Rate………..54

3.7.3.2 Algoritma Maximum Fairness……….54

3.7.3.3 Algoritma Proportional Rate Constrain………...55

3.7.3.4 Proporitional Fairness Scheduling………...56

3.8 Protokol OFDMA ……….………..57

3.8.1 Sub-kanalisasi………....57

3.8.2 Mapping Message………..………57

3.8.3 Ranging………...…58

3.9 Time Division Multiple Access-“Round Robin”………58

IV. ANALISIS PERHITUNGAN BATAS DELAY OFDM-TDMA DAN OFDMA………...60

4.1 Pendahuluan………...60

4.2 Pengalokasian bit pada OFDM-TDMA dan OFDM.………....60

4.3 Batas delay pada OFDM-TDMA dan OFDMA...62

4.4 Perhitungan Batas delay pada OFDM-TDMA …....……….65

4.5 Perhitungan Batas delay pada OFDMA ………...………67

V. KESIMPULAN DAN SARAN...72

5.1 Kesimpulan...72

5. 2 Saran...72

Daftar Pustaka... 73

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Implementasi Teknologi WiMAX………..…7

Gambar 2.2 Contoh Beberapa Frame WiMAX………...………..21

Gambar 2.3 Struktur Slot dan Frame…...………..……….29

Gambar 2.4 Topologi Jaringan Point To Point………...…….…………..31

Gambar 2.5 Topologi Jaringan Point To MultiPoint ………...31

Gambar 2.6 BackHaul Jaringan Seluler………....…...…………...34

Gambar 3.1 Blok Rangkain Dasar Transmiter Multicarrier………...……...36

Gambar 3.2 Blok Rangkain Dasar Receiver Multicarrier…...37

Gambar 3.3 Prinsip Dasar OFDM………...………...……...39

Gambar 3.4 Diagram Blok Dasar OFDM………...………..40

Gambar 3.5 Diagram Blok Transmitter OFDM………...……….40

Gambar 3.6 Konversi Bit Serial ke Paralel………...……....41

Gambar 3.7 Proses Modulasi………...……….41

Gambar 3.8 Proses IFFT………...………....42

Gambar 3.9 Bentuk Umum Kanal……….43

Gambar 3.10 Kanal dan Respon Kanal dari Dekomposisi Multicarrier…………...44

Gambar 3.11 Diagram Blok Receiver OFDM………....44

Gambar 3.12 Diagram Blok Modulator QPSK………...46

Gambar 3.13 Sinyal Keluaran Modulator QPSK………...47

(10)

Gambar 3.15 Cyclic Prefix pada OFDM…...………....………...49

Gambar 3.16 Kombinasi antara TDMA dan FDMA…...…..…...51

Gambar 3.17 Perbandingan Daya OFDM dengan OFDMA………...52

Gambar 3.18 Ilustrasi TDMA round robin...59

Gambar 4.1 Frame OFDM-TDMA………...61

Gambar 4.2 Model Sistem OFDM-TDMA dan OFDMA...63

Gambar 4.3 Grafik Perbandingan Batas Delay 64-QAM dan 256-QAM……....….66

Gambar 4.4 Grafik Komparasi Batas Delay OFDMA; 256 subcarriers …...…….68

Gambar 4.5 Grafik Komparasi Batas Delay OFDMA; 512 subcarriers ……....…..69

Gambar 4.6 Grafik Komparasi Batas Delay OFDMA; 1024 subcarriers………....70

(11)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Karakteristik Dasar Standar 802.16………...………9

Tabel 2.2 Komparasi Teknologi WiMAX...………...16

Tabel 2.3 Perbandingan Parameter Fixed dan Mobile WiMAX ………19

Tabel 3.1 Keluaran Modulator QPSK………..47

Tabel 3.2 Komparasi Skema Laju Data dan Subcarrier OFDMA………….…..56

Tabel 4.1 Hasil perhitungan Batas Delay OFDM-TDMA………….…………..62

Tabel 4.2 Hasil perhitungan Batas Delay OFDM-TDMA ………..63

Tabel 4.3 Hasil Perhitungan Batas Delay OFDMA; 216 subcarriers……….…65

Tabel 4.4 Hasil Perhitungan Batas Delay OFDMA; 512subcarriers………...…68

Tabel 4.5 Hasil Perhitungan Batas Delay OFDMA; 1024 subcarriers…………69

(12)

ABSTRAK

Teknologi WiMAX adalah teknologi akses nirkabel terbaru yang telah

diadopsi oleh IEEE dikenal dengan sebutan 802.16x. Teknologi nirkabel ini

menawarkan kemampuan untuk mengakses dengan jarak jangkau yang cukup jauh,

yaitu lebih kurang 50 km dengan bit rate yang cukup tinggi, dengan harapan agar

dapat menggantikan sistem komunikasi nirkabel yang ada pada saat ini.

Tundaan adalah salah satu parameter yang sangat penting untuk diperhatikan

dalam unjuk kerja dari sebuah sistem komunikasi. OFDM (Orthogonal Frequency Division Multiplexing)-TDMA (Time Division Multiple Access) dan OFDMA ( Orthogonal Frequency Division Multiple Access) adalah metode akses yang

diterapkan pada WiMAX, maka analisa perhitungan yang disajikan adalah berupa

nilai tundaan sistem OFDM-TDMA dan OFDMA dalam melayani aplikasi sistem

paket yang bersifat tetap, yang mana waktu layanan rata – rata dari kedua sistem

ditentukan terlebih dahulu. Secara umum, hasil perhitungan performansi dari tundaan

OFDMA jauh lebih baik dari OFDM-TDMA karena OFDMA menawarkan

fleksibilitas dalam pemilihan subcarriers sehingga nilai layanan rata – rata dapat ditingkatkan.

(13)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pada saat ini perkembangan di bidang telekomunikasi sangat pesat, khususnya

dalam komunikasi digital. Kebutuhan akan teknologi komunikasi yang handal baik dalam

penyajian kecepatan laju data maupun kualitas pelayanan metode akses semakin

meningkat dalam upaya untuk memenuhi kebutuhan aplikasi multimedia. Untuk

memenuhi kebutuhan tersebut maka teknologi WiMAX dikembangkan.

Teknologi WiMAX merupakan teknologi yang dikembangkan dengan tujuan

untuk pelayanan koneksi pita lebar secara nirkabel. Teknologi ini secara umum

dikembangkan untuk komunikasi LOS dan NLOS berbasis point to multi-point dengan

sistem operasi pada frekuensi 10 – 66 GHz dengan daerah jangkauan yang mencapai 50

km dan kecepatan laju data yang mencapai 75 Mbps.

Secara umum aplikasi point to multi-point digunakan untuk beberapa macam

aplikasi, yaitu:

1. Layanan broadband untuk pemukiman, industri rumah tangga (Small Office/

Home Office).

2. Menyediakan kecepatan layanan laju data setingkat aplikasi layanan T1

3. Jaringan utama penghubung Wi-Fi Hotspot.

Dua metode metode akses yang terkenal adalah TDMA (Time Division Multiple

Access) dan FDMA (Frequency Division Multiple Access). Ketika kedua metode akses

(14)

menghasilkan OFDM – TDMA dan OFDMA (OFDM - Access). Baik teknologi OFDM –

TDMA dan OFDMA diadopsi untuk digunakan dalam sistem komunikasi 802.16

Sistem komunikasi 802.16 telah mengintegrasikan kualitas pelayanan (QoS) pada

lapis metode akses (MAC) dengan berbagai sistem transmisi metode akses. Pada kualitas

pelayanan yang dimaksudkan ialah dengan berbagai metode penjadwalan transmisi yang

dikenal. Adapun teknik penjadwalan yang dikenal dalam sistem komunikasi 802.16 yang

memenuhi kualitas pelayanan adalah teknik penjadwalan kelas premium hingga teknik

penjadwalan kelas best –effort.

Oleh karena itu pada Tugas Akhir ini akan dibahas salah satu dari metode teknik

penjadwalan yakni kelas premium. Dalam hal ini, pembahasan meliputi studi metode

akses yakni OFDM – TDMA dengan OFDMA terhadap batas delay (tundaan) yang

diizinkan dalam upaya memenuhi kualitas pelayanan (QoS) dalam teknik penjadwalan

kelas premium.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan beberapa permasalahan antara

lain :

1. Bagaimana prinsip kerja OFDM ?

2. Bagaimana batas delay OFDM - TDMA ?

(15)

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari Tugas Akhir ini adalah:

1. Menyajikan teori mengenai dasar –dasar teknologi WiMAX.

2. Menyajikan hasil studi batas delay OFDM –TDMA dan OFDMA berdasarkan

standar 802.16 untuk keperluan perancangan sistem.

3. Menyajikan data yang diharapkan dapat membantu penelitian yang berkenaan

dengan 802.16.

1.4 Batasan Masalah

Untuk menghindari pembahasan menjadi terlalu luas, maka diperlukan suatu

pembatasan masalah. Adapun batasan masalah dalam Tugas Akhir ini adalah:

1. Hanya membahas tentang WiMAX-802.16

2. Studi dibatasi hanya untuk menyajikan hasil batas delay dari 802.16

menggunakan OFDM-TDMA dan OFDMA pada sistem penjadwalan kelas

premium.

3. Metode modulasi yang digunakan adalah QAM.

4. Panjang paket data yang masuk ke dalam sistem adalah tetap dengan terlebih

dahulu melewati flow control.

5. Metode antrian dalam teknik penjadwalan mengikuti sistem FIFO (First In First

Out), namun tidak membahas proses kedatangan dan pelayanan.

6. Alokasi bit dan penugasan pada subcarriers baik OFDM –TDMA maupun

OFDMA dianggap statis.

(16)

1.5 Metode Penulisan

Metode penulisan yang digunakan dalam penulisan Tugas Akhir ini adalah :

1. Studi Literatur, berupa studi kepustakaan dan kajian dari buku-buku teks

pendukung.

1.6 Sistematika Penulisan

Penulisan Tugas Akhir ini disajikan dengan sistematika penulisan sebagai berikut:

BAB I Pendahuluan

Bab ini merupakan pendahuluan yang berisikan tentang latar belakang

masalah, tujuan penulisan, batasan masalah, metode penulisan dan

sistematika penulisan.

BAB II Pengenalan WiMAX

Bab ini merupakan pengenalan kepada teknologi WiMAX,

teknologi-teknologi yang diterapkan, dan alasan-alasan mengapa teknologi-teknologi ini sangat

diminati untuk dikembangkan.

BAB III OFDM dan OFDMA

Bab ini membahas tentang multiplexing dan metode akses yang digunakan

(17)

BAB IV Analisa Perhitungan Batas Delay OFDM-TDMA dan OFDMA

Bab ini menganalisa batas delay yang diberikan oleh OFDM-TDMA

dengan OFDMA dalam upaya memenuhi kualitas pelayanan dalam sistem

penjadwalan kelas premium dalam kerangka 802.16.

BAB V Kesimpulan dan Saran

Bab ini berisi kesimpulan dari Tugas Akhir yang disajikan dan saran dari

(18)

BAB II

WIMAX

2.1 Umum

Worldwide Interoperability for Microwave Access (WiMAX) merupakan

teknologi berdasarkan pada standar wireless metropolitan area networking (WMAN)

yang diadopsi baik oleh Institute Of Electrical and Electronic Engineering (IEEE)

maupun oleh ETSI HiperMAN (European Telecomunications Standard Institute-High

Performance Metropolitan Area Network). Pada saat sekarang ini teknologi WiMAX

lebih dikenal dengan teknologi IEEE 802.16x [1].

Tahun 1998, IEEE membentuk grup yang dikenal dengan nama grup IEEE

802.16 yang bertujuan untuk mengembangkan standar antar muka untuk teknologi

nirkabel pita lebar. Pada tahun 2001, WiMAX forum berhasil mendefinisikan WiMAX

sebagai standar teknologi yang memungkinkan akses broadband wireless last mile

sebagai alternatif pengganti pita lebar kabel dan DSL (Digital Subscriber Line).

Teknologi WiMAX secara umum dapat digunakan untuk mendukung akses

internet pita lebar bagi pelanggan bersifat tetap (fixed), maupun untuk pelanggan bersifat

nomaden (nomadic) dan memiliki pergerakan tinggi (mobile). Implementasi teknologi

(19)

Gambar 2.1 Implementasi Teknologi WiMAX

Selain itu, teknologi WiMAX juga menyediakan berbagai keuntungan bila

dibandingkan dengan teknologi DSL yakni pada kemampuan untuk menjangkau daerah

pelanggan yang mencapai radius 30 Mil, bekerja pada kondisi NLOS (Non-Line of Sight)

dengan kecepatan laju data hingga mencapai 75 Mbps (tergantung spesifikasi yang

dipakai). Kemampuan yang dimiliki WiMAX membuat WiMAX menjadi teknologi yang

sangat berkembang di seluruh dunia [1].

Implementasi WiMAX yang mudah dengan kemampuan teknologi yang memadai

memungkinkan bagi WiMAX untuk dikembangkan dan dipakai di Indonesia yang

berbentuk kepulauan dan memiliki wilayah yang luas. Secara umum, dari Gambar 2.1

dapat dilihat WiMAX dipakai sebagai jaringan backhaul yang bersifat tetap. Selain itu

WiMAX juga dapat digunakan untuk mendukung koneksi LOS terhadap pengguna di

rumah yang memiliki perangkat komputer yang bersifat bergerak (portable) maupun

melayani jaringan NLOS terhadap pelanggan di dalam gedung perkantoran, jaringan

(20)

2.2 Perkembangan WiMAX

Perkembangan teknologi WiMAX telah melalui berbagai tahapan pengembangan

dan standarisasi. Sesuai dengan standarisasi yang dilakukan maka perkembagan teknologi

WiMAX dapat dibagi ke dalam berbagai tahapan yakni :

1. 802.16, diperkenalkan pada tahun 2001, standar lapis MAC mengadaptasi standar

teknologi yang digunakan pada modem DOCSIS (data over cable service

interface spesification). Teknologi ini umumnya digunakan untuk pelanggan yang

sifatnya tetap (fixed) dan bekerja pada frekuensi 10 – 66 GHz [1].

2. 802.16a, diperkenalkan pada tahun 2003, merupakan amandemen lanjutan dari

standar sebelumnya. 802.16a dan ditujukan untuk pelanggan yang bersifat tetap

(fixed). 802.16a telah mengadopsi kemampuan untuk bekerja secara NLOS pada 2

– 11GHz dan telah mengadopsi teknologi orthogonal frequency division

multiplexing (OFDM) [1].

3. 802.16d, diperkenalkan tahun 2004, 802.16 memiliki semua standar yang terdapat

pada 802.16 dan 802.16a dengan berbagai tambahan pada lapis MAC. Salah

satunya ialah kemampuan untuk mendukung penggunaan orthogonal frequency

multiple access (OFDMA). 802.16d juga dikenal sebagai spesifikasi dasar untuk

jaringan nirkabel pita lebar tetap (fixed broadband wireless). 802.16d juga dikenal

dengan sebutan IEEE 802.16-2004 atau fixed WiMAX [2].

4. 802.16e, diperkenalkan pada Desember 2005, 802.16e merupakan amandemen

lanjutan terhadap 802.16d. 802.16e telah mendukung kemampuan untuk melayani

pelanggan yang bersifat bergerak (mobile) maupun nomaden (nomadic). 802.16

(21)

(mobile broadband wireless). 802.16e juga dikenal dengan sebutan WiBRO

(diperkenal di Korea Selatan), IEEE 802.16-2005 atau mobile WiMAX. Adapun

karakteristik dasar dari standar IEEE 802.16 dapat dilihat pada Tabel 2.1 [2].

Tabel 2.1 Karakteristik dasar standar IEEE 802.16

Standar

Spesifikasi

802.16 802.16-2004 802.16-2005

Status Desember 2001 Juni 2004 Desember 2005 Frekuensi kerja 10GHz-66GHz 2GHz-11GHz 2GHz-11GHz untuk fixed

2GHz-6GHz untuk mobile

Aplikasi Fixed LOS Fixed NLOS Fixed dan mobile NLOS Arsitektur MAC

Point-to-mulipoint,mesh

Point-to-mulipoint,mesh Point-to-mulipoint,mesh

Skema transmisi Single carrier Single carrier, 256 OFDM atau 2048 OFDM

Single carrier, 258 OFDM atau

scalable OFDM dengan 126, 512, 1024 atau 2048

subcarriers.

Modulasi QPSK, 16QAM, 64QAM

QPSK, 16QAM, 64QAM QPSK, 16QAM, 64QAM

Laju data kotor 32Mbps-134.4 Mbps

1Mbps-75Mbps 1Mbps-75Mbps

Multiplexing Burst

TDM/TDMA

Burst

TDM/TDMA/OFDMA

Burst TDM/TDMA/OFDMA

Duplexing TDD dan FDD TDD dan FDD TDD dan FDD Lebar pita kanal 20MHz, 25MHz,

28MHz

1.75MHz,3.5MHz, 7 MHz, 14MHz,

1.25MHz,5MHz,10MHz,15 MHz,8.75MHz

1.75MHz,3.5MHz, 7 MHz, 14MHz,

Scalable OFDMA sebagai

mobile WiMAX

(22)

Adapun beberapa kualitas fitur yang ditawarkan oleh WiMAX secara umum

adalah :

1. Lapis fisik pada WiMAX yang berdasarkan pada orthogonal frequency division

multiplexing (OFDM) yang memungkinkan WiMAX mempunyai ketahanan yang

lebih terhadap multipath dan dapat beroperasi pada kondisi NLOS.

2. WiMAX menawarkan laju data yang sangat tinggi mencapai 74Mbps dengan

lebar spekturm 20MHz.

3. Kemudahan dalam pengaturan lebar pita dan dukungan terhadap laju data.

4. Modulasi adaptif dan pengkodean yang memungkinkan untuk pemaksimalan

throughput pada kanal yang berubah menurut waktu.

5. Mendukung automatic retransmission request (ARQ) pada lapis link.

6. Telah mendukung time division duplexing (TDD) dan frequency division

duplexing (FDD).

7. Pengaplikasian orthogonal frequency division multiple access (OFDMA) yang

meningkatkan kapasitas kanal secara signifikan.

8. Memungkinkan pengalokasian kapasitas kanal secara dinamis.

9. Memungkinkan dukungan terhadap mobilitas pelanggan.

10.WiMAX telah mengadopsi arsitektur yang berbasis internet protocol (IP).

2.3 Teknologi WiMAX

Implementasi teknologi nirkabel pada umumnya memerlukan adanya jalur line of

sight (LOS) antara pengirim dan penerima, jika terdapat kondisi NLOS maka akan

(23)

yang telah dibahas sebelumnya, teknologi WiMAX menawarkan kemampuan untuk

bekerja secara baik pada kondisi NLOS dengan beberapa fitur tambahan yang berkualitas

karena didukung oleh penerapan teknologi OFDM dan OFDMA.

2.3.1 Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM)

Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) merupakan teknik

pentransmisian yang sangat mumpuni. Skema transmisi OFDM lebih dikenal dengan

sebutan multicarrier modulation. Ide dasar dari modulasi multicarrier adalah membagi

laju data yang tinggi ke dalam beberapa aliran paralel laju data rendah dan memodulasi

setiap aliran paralel tersebut dengan carriers yang berbeda (subcarriers). Frekuensi pada

subcarrierss tersebut tegak lurus (orthogonal) antara satu dengan lainnya sehingga secara

teoritis telah mengeliminasi inteferensi antar kanal. Dengan teknik modulasi multicarrier

ini diharapkan dapat mengatasi masalah multipath dan delay spread yang sering menjadi

kendala dalam komunikasi nirkabel [2].

2.3.2 Sub-Kanalisasi (Sub-channelization)

Sub-kanalisasi (Subchannelization) didefinisikan sebagai sub-kanal yang dapat

dialokasikan kepada pelanggan yang berbeda tergantung kepada kondisi kanal dan

kebutuhan data pelanggan. Kanalisasi mengkonsentrasikan daya ke dalam sejumlah

carrier OFDM dan meningkatkan penguatan sistem sehingga dapat digunakan untuk

memperluas jangkauan sistem, mengurangi konsumsi daya dan mengatasi rugi – rugi

akibat adanya bangunan. Kanalisasi juga memberikan kemudahan dalam manajemen

(24)

2.3.3 Sistem Antena

Standar WiMAX menyediakan dukungan yang luas untuk pengimplementasian

multi-antenna untuk meningkatkan performansi sistem. Dengan menggunakan Advanced

Antenna Systems (AAS), maka efisiensi spektrum dan peningkatan kapasitas sistem dapat

dicapai. AAS memberikan solusi multi-antena berupa keragaman transmisi (transmit

diversity), beamforming dan spatial multiplexing [1].

Untuk mendapatkan keragaman transmisi (transmit diversity), maka sejumlah

skema space-time block coding dapat digunakan pada sisi downlink. Keragaman transmit

(transmit diversity) memungkinkan adanya satu atau lebih antenna pada sisi pengirim

maupun penerima. Beamforming dapat memberikan peningkatkan yang signifikan pada

area jangkauan, kapasitas dan ketahanan (reliability). Spatial multiplexing yang

memungkinkan beberapa aliran yang independen ditransmisikan melalui beberapa antena

[1].

2.3.4 Modulasi Adaptif (Adaptive Modulation)

WiMAX mendukung berbagai skema modulasi dan pengkodean yang

mengizinkan skema untuk berubah pada setiap transmisi per link tergantung kondisi

kanal. Ketika kondisi kanal pada keadaan terbaik maka digunakan pola modulasi terbaik

sehingga dapat memberikan kapasitas yang besar kepada sistem. Jika kondisi kanal pada

keadaan terburuk maka sistem akan bergeser kepada modulasi yang lebih rendah

sehingga konektivitas dapat dipertahankan secara baik. Kualitas kanal downlink dapat

dideteksi dengan menggunakan indikator umpan – balik kualitas kanal yang ada pada

(25)

kualitas kanal berdasarkan kualitas sinyal yang diterima. Modulasi adaptif dan

pengkodean secara umum dapat meningkatkan kapasitas kanal karena mengizinkan

pertukaran antara throughput dan robustness pada setiap link secara real-time [1] [2].

2.3.5 Teknik Koreksi Kesalahan

Teknik koreksi kesalahan pada WiMAX ditujukan untuk mengurangi kebutuhan

SNR. Forward error correction (FEC) dengan Reed Solomon, convolutional encoding,

dan algoritma interleaving digunakan untuk mendeteksi dan memperbaiki kesalahan

sehingga thoughput dapat ditingkatkan. Teknik ini dapat memperbaiki frame yang rusak

yang mungkin disebabkan oleh frequency selective fading atau burst errors. Automatic

repeat request (ARQ) digunakan untuk memperbaiki kesalahan yang tidak dapat

dilakukan oleh metode FEC. ARQ meningkatkan kinerja bit error rate (BER) secara

signifikan pada tingkat threshold yang sama [1] [2] [3].

2.3.6 Diversivitas Pengirim dan Penerima

Pola diversitas digunakan untuk mendapatkan sinyal yang lebih baik pada kondisi

lingkungan yang NLOS. Algoritma diversitas dilakukan pada stasiun pemancar maupun

penerima untuk meningkatkan kemampuan sistem. Pilihan diversitas pada pemancar

menggunakan space time coding (STC) untuk menyediakan transmisi daya yang

independen, yang dapat mengurangi kebutuhan fade margin dan mengatasi interferensi.

Pada diversitas penerima, teknik kombinasi digunakan untuk meningkatkan kemampuan

(26)

penerima untuk mengatasi fading dan mengurangi path loss. Diversitas merupakan cara

yang efektif untuk mengatasi propagasi NLOS [1].

2.3.7 Penghematan Daya

Mobile WiMAX menyediakan salah satu fitur handal yang mendukung

pemakaian baterai yang lebih lama yakni penghematan daya. Penghematan daya

dilakukan ketika mobile stastion (MS) tidak aktif dalam melakukan transmisi dan

penerimaan data. Hal ini dilakukan dengan metode pensinyalan yang membuat MS

berada dalam kondisi tidur (sleep mode) dan kondisi tidak aktif (idle mode). Ketika MS

berada dalam kondisi tidur (sleep mode), maka MS secara efektif mati dan berada dalam

kondisi tidak dapat mengirimkan data untuk periode tertentu. Sementara kondisi tidak

aktif (idle mode) ialah kondisi yang mana MS mati secara keseluruhan, tidak terdaftar

dalam base station mana pun namun tetap menerima aliran trafik downlink. Fitur idle

mode memberikan penghematan daya yang lebih [1].

2.4 Perbandingan Teknologi WiMAX dengan Teknologi Nirkabel Pita Lebar Lain

Selain WiMAX sebagai salah satu teknologi nirkabel pita lebar, masih terdapat

teknologi lain yang menyediakan layanan yang sama yakni Wi-Fi dan jaringan seluler

3G. Wi –Fi (wireless fidelity) merupakan sistem layanan nirkabel pita lebar yang berbasis

standar IEEE 802.11x dengan tujuan utama untuk menyediakan jaringan lokal (LAN)

pada suatu bangunan. Pada saat ini, Wi–Fi dapat menyajikan kecepatan laju data

(27)

memiliki keunggulan dalam pengimplementasian karena dapat menggunakan spektrum

frekuensi yang tidak memerlukan pengaturan/lisensi (unlisenced) [1].

Selain Wi-Fi, sistem seluler 3G juga memberikan layanan nirkabel pita lebar.

Sistem seluler yang beroperasi menggunakan GSM menawarkan layanan UMTS

(universal mobile telephone system) dan HSDPA (high speed downlink packet access)

sebagai layanan 3G sedangkan sistem telepon seluler berbasis CDMA menggunakan

layanan 1x EV-DO (1x evolution data optimized) sebagai solusi layanan 3G. HSDPA

merupakan layanan penghantar muka downlink berdasarkan standar 3GPP UMTS release

5 dengan kemampuan menyajikan laju data hingga 14.4 Mbps dengan lebar pita 5 MHz.

Sedangkan 1x EV-DO merupakan standar data cepat yang berdasar pada sistem IS – 95

CDMA dengan kecepatan penyajian data sekitar 2.4 Mbps dengan lebar pita 1.25MHz.

Perbandingan teknologi WiMAX dengan teknologi nirkabel pita lebar lainnya disajikan

(28)

Tabel 2.2 Komparasi Teknologi WiMAX dengan Teknologi Nirkabel Pita Lebar Lain

Parameter Fixed WiMAX

Mobile WiMAX HSPA 1x EV-DO Rev A

Wi-FI

Standar IEEE 802.16-2004

46Mbpsa 14.4Mbps dengan 15 kode; 7.2 Mbps dengan 10 kode

pada 10MHz dengan rasio TDD DL-UL 3:1; 32Mbps dengan rasio 1:1

3.1Mbps 54Mbpsb dipakai

Multiplexing TDM TDM/OFDMA TDM/CDMA TDM/CDMA CSMA

(29)

Tidak seperti teknologi seluler 3G yang hanya memiliki lebar pita tetap, WiMAX

memiliki lebar pita kanal yang dapat dipilih mulai dari 1.25 MHz hingga 20 MHz

sehingga memudahkan dalam pemilihan teknologi yang bersesuaian dengan kebutuhan.

Lebih lanjut, lapis fisik WiMAX yang menggunakan teknologi OFDM lebih mudah

untuk mendukung implementasi MIMO bila dibandingkan dengan sistem CDMA. OFDM

pada sistem WiMAX juga memungkinkan untuk mengeksploitasi diversitas frekuensi dan

pelanggan dibandingkan dengan sistem seluler 3G. Keuntungan lain dari WiMAX adalah

kemampuannya untuk mendukung link yang bersifat simetris untuk berbagai aplikasi

tetap (fixed) dan fleksibilitas dalam pengaturan rasio data antara downlink dan uplink bila

dibandingkan dengan sistem seluler 3G yang hanya menawarkan rasio laju data downlink

dan uplink asimetris yang bersifat tetap. Selain laju data, WiMAX juga telah menyajikan

komunikasi data yang berbasis teknologi packet switch dibandingkan dengan sistem

seluler 3G yang masih berbasis circuit switch. Dari Tabel 2.2 dapat dilihat bahwa

WiMAX juga mendukung peruntukan dua model penggunaan yakni Fixed dan Mobile

[1].

2.4.1 Fixed WiMAX

Standar IEEE 802.16-2004 didesain untuk model penggunaan tetap (fixed).

Standar ini dikenal sebagai “fixed wireless” karena sifatnya yang memberikan layanan

yang tetap dan tidak mendukung kemampuan mobilitas bagi pelanggannya. IEEE

802.16-2004 juga dapat digunakan untuk instalasi dalam ruangan (indoor), tetapi kemampuannya

tidak sama dengan instalasi luar ruangan (outdoor). Standar 802.16-2004 dikenal sebagai

(30)

carrier-pita frekuensi 2.5-GHz, 3,5 GHz, dan 5,8 GHz. Teknologi ini menyediakan jaringan

tanpa kabel sebagai alternatif pengganti dari cable modem, digital subscriber lines

dengan beberapa tipe (xDSL), transmit/exchange (Tx/Ex), dan jaringan optical carrier

level (OC-x) [1].

2.4.2 Mobile WiMAX

Standar IEEE 802.16e merupakan amandemen lanjutan terhadap 802.16 untuk

mendukung kemampuan mobilitas dengan menambahkan portabilitas dan kemampuan

roaming pada perangkat CPE-nya. Standar 802.16e menggunakan orthogonal frequency

division multiple access (OFDMA) yang bekerja dengan mengelompokkan berbagai

subcarriers ke dalam sub-channel. Client tunggal atau subscriber station (SS) dapat

ditransmisikan dengan menggunakan seluruh sub-channels dalam suatu carrier, atau

multiple client dapat ditransmisikan dengan masing-masing menggunakan sebagian dari

total sub-channel secara bersama-sama [1].

Karena kemampuannya dalam mendukung pengguna fixed dan portable, WiMAX

dapat digunakan pula untuk backhaul sistem seluler. Layanan WiMAX dapat

diperuntukan untuk melayani aplikasi berupa broadband on demand, broadband untuk

perumahan, undeserved areas, dan best connected wireless service. Secara umum

(31)

Tabel 2.3 Perbandingan Parameter Fixed dan Mobile WiMAX

Parameter Fixed WiMAX Mobile WiMAX

Ukuran FFT 256 128, 512, 1028, 2048

Jumlah subcarriers yang digunakan untuk data

192 72, 360, 720, 1440

Jumlah subcarriers pilot 8 12, 60, 120, 140

Jumlah guard subcarriers 56 44, 92, 184, 368

Lebar pita kanal (MHz) 3.5 1.25, 5, 10, 20

Subcarriers frekuensi spacing (KHz)

15.725 10.94

Useful symbol time (mikro second)

64 91.4

Guard time (mikro second) 8 11.4

Durasi symbol OFDM 72 102.9

2.5 Lapis MAC

Tugas utama lapis MAC adalah menyajikan penghantar muka antara lapis

transport dengan lapis fisik. Lapis MAC bertugas untuk mengambil paket dari lapis di

atasnya yang dikenal dengan sebutan MAC service data units (MSDUs) dan

mengorganisir MDUs tersebut dengan MAC protocol data units (MPDUs) untuk

pentransmisian melalui udara. Untuk bagian penerima, lapis MAC melakukan kebalikan

dari pentransmisian. Desain MAC IEEE 802.16-2004 dan IEEE 802.16E-2005 telah

mencakup sebuah sub-lapis konvergensi (convergence sublayer) yang dapat

menghubungkan dengan berbagai protokol lapis yang lebih tinggi seperti ATM, TDM

(32)

(mapping) ke dan dari lapis yang lebih tinggi, sub-lapis konvergensi (convergence

sublayer) juga mendukung penahanan header MSDU untuk mengurangi overhead lapis

yang lebih tinggi pada setiap paket [1] [4].

MAC WiMAX didesain untuk mendukung laju bit yang sangat tinggi dan juga

memberikan kualitas pelayanan yang hampir serupa dengan ATM dan DOCSIS. MAC

WiMAX menggunakan sebuah panjang MPDUs yang bervariasi dan menawarkan

berbagai fleksibilitas yang mengizinkan transmisi yang efisien. Sebagai contoh, beberapa

MPDUs yang panjangnya sama ataupu berbeda dapat digabungkan ke dalam satu

pentransmisian untuk menghemat overhead PHY. Hal yang sama juga berlaku bagi

MSDUs. Berbagai MSDUs yang berasal dari lapis atas yang sama dapat digabung ke

dalam sebuah MPDU untuk menghemat overhead header MAC. Demikian sebaliknya,

MSDUs yang besar dapat dipecah ke dalam beberapa MPDUs yang lebih kecil dan

(33)

Gambar 2.2 Contoh Beberapa Frame WiMAX

Gambar 2.2 menunjukan beberapa contoh frame MAC PDU (packet data unit).

Setiap frame MAC diawali dengan header MAC (GMH) yang berisi sebuah connection

identifier (CID), panjang frame dan bit untuk mengizinkan kehadiran dari CRC,

subheader, dan kondisi payload apakah dalam keadaan terenkripsi dan dapat dibuka

dengan kunci apa. Payload MAC bisa berupa pesan transport atau pesan manajemen.

Selain MSDUs, payload transport dapat berupa permintaan yang berisi lebar pita ataupun

retransmisi. Tipe payload transport diidentifikasi melalui subheader yang berada di

depannya. MAC WiMAX juag mendukung ARQ, yang dapat digunakan untuk meminta

retransmisi dari MSDUs yang dipecah maupun MSDUs yang tidak dipecah. Panjang

maksimun dari frame adalah 2047 bytes yang direpresentasikan dengan 11 bits pada

(34)

2.5.1 Mekanisme Pengaksesan Kanal

Dalam sistem WiMAX, lapis MAC pada base station bertanggung jawab penuh

dalam pengalokasian lebar pita kepada setiap penguna baik untuk uplink maupun

downlink. MS dapat mengendalikan alokasi lebar pita ketika terjadi beberapa sesi atau

terjadi koneksi dengan base station. Dalam kasus tersebut, BS mengalokasikan lebar pita

secara keseluruhan dan diserahkan sepenuhnya kepada MS untuk membagikannya ke

dalam beberapa sesi koneksi. Penjadwalan pada downlink maupun uplink dilakukan

sepenuhnya oleh BS. Untuk downlink, BS dapat mengalokasikan lebar pita kepada setiap

MS berdasarkan pada trafik yang datang tanpa melibatkan MS. Untuk uplink, alokasi

harus dilakukan berdasarkan permintaan dari MS [1].

Standar WiMAX mendukung beberapa mekanisme yang mana sebuah MS dapat

meminta and mendapatkan lebar pita uplink bergantung pada kualitas pelayanan (QoS)

tertentu dan parameter yang berkenaan dengan pelayanan. Satu atau lebih mekanisme ini

dapat dipakai oleh MS. BS mengalokasikan atau membagi sumber daya yang ada secara

periodik kepada setiap MS yang dapat digunakan untuk meminta lebar pita. Proses ini

dikenal dengan polling. Polling dapat dilakukan secara individu (unicast) ataupun dalam

kelompok (multicast). Polling secara kelompok (multicast) dilakukan ketika tidak

tersedia lebar pita yang cukup untuk men-pool setiap MS secara individu. Ketika polling

dilakukan secara berkelompok, maka slot yang dialokasikan untuk permintaan lebar pita

adalah slot yang dibagi antara setiap MS yang ingin menggunakannya [1] [4].

WiMAX juga menawarkan sebuah resolusi bagi kasus ketika lebih dari satu MS

(35)

untuk pengirim trafik, namun MS dalam kondisi tidak ter-pool maka permintaan lebar

pita yang lebih besar dapat dilakukan dengan:

1. Mentransmisikan MPDU yang berisikan permintaan lebar pita secara tersendiri.

2. Mengirimkan permintaan lebar pita melalui kanal yang bebas.

3. Menumpangkan permintaan lebar pita kedalam sebuah generic MAC packet.

2.5.2 Kualitas Pelayanan (Quality of Service)

Dukungan terhadap Quality of Service merupakan bagian penting dalam

perancangan lapis MAC pada WiMAX. WiMAX mengadapatasi ide dasar dari standar

modem kabel DOCSIS. Pengendalian Quality of Service dapat dilakukan dengan

menggunakan arsitektur MAC yang berbasis koneksi (connection – oriented MAC

architecture), yang mana koneksi uplink maupun downlink dikendalikan sepenuhnya oleh

BS. Sebelum transmisi data terjadi, BS dan MS membangun sebuah hubungan logika satu

arah (koneksi) antara dua lapis MAC tersebut. Koneksi tersebut diidentifikasi melalui

connection indentifier (CID) yang berfungsi sebagai alamat sementara untuk transmisi

data melalui link tertentu [1].

Selain itu, WiMAX juga memperkenal sebuah konsep service flow. Service flow

adalah aliran paket satu arah dengan sejumlah parameter Quality of Service dan

diidentifikasi melalui sebuah service flow identifier (SFID). Base station bertanggung

jawab terhadap CID dan SFID. Berdasarkan jenisnya, maka Quality of Service pada

(36)

1. Unsolicited Grant Services (UGS)

Didesain untuk mendukung penggunaan pada ukuran paket data yang tetap pada

laju bit yang konstan, contohnya pada aplikasi T1/E1 dan VoIP tanpa halangan.

Parameter service flow pada QoS ini harus mendefinisikan laju trafik maksimun,

maximum latency, toleransi jitter dan aturan permintaan/transmisi [1] [3].

2. Real-Time Polling Services (rtPS)

Didesain untuk mendukung layanan secara real time seperti aplikasi video

MPEG, yang menggunakan ukuran paket data yang bervariasi pada waktu

tertentu. Parameter service flow pada QoS ini harus mendefinisikan laju trafik

maksimun, maximum latency, laju trafik minimum yang disediakan dan aturan

permintaan/transmisi [1] [3].

3. Non-Real-Time Polling Services (nrtPS)

Didiseain untuk mendukung aliran data yang toleransi terhadap tundaan (delay)

seperti FTP. Parameter service flow pada QoS ini harus mendefinisikan laju

trafik maksimun, maximum latency, laju trafik minimum yang disediakan,

pioritas trafik dan aturan permintaan/transmisi [1] [3].

4. Best Effort Services (BE)

Dirancang untuk mendukung aliran data yang tidak memerlukan jaminan

pelayanan minimum seperti web browsing. Parameter service flow pada QoS ini

harus mendefinisikan laju trafik maksimun, pioritas trafik dan aturan permintaan atau

(37)

5. Extended-Real-Time Variable Rate Services (ERT-VR)

Didesain untuk mendukung aplikasi real-time yang laju datanya bervariasi dan

memerlukan jaminan laju data minimun dan tundaan. Service ini hanya terdapat

pada IEEE 802.16-2005. [1] [3]

2.5.3 Dukungan Mobilitas

Secara umum, standar WiMAX mendukung mobilitas bagi penggunanya. Namun

pada saat ini, WiMAX hanya dapat dipakai pada aplikasi bersifat tetap dan nomaden.

Kerangka kerja yang ditetapkan dalam IEEE 802.16e-2005 telah mendukung

pengembangan lebih lanjut dalam mobilitas dengan menggunakan jaringan arsitektur

end to end. Arsiktektur ini juga mendukung lapis mobilitas IP yang menggunakan

mobile IP [1] [4].

Ada tiga metode handoff yang ada dalam IEEE 802.16e-2005 yakni hard

handover (HHO) yang sifatnya wajib dan dua yang bersifat opsional yakni fast base

station switching (FBSS) dan marco diversity handover (MDHO). Pada HHO,

keputusan handoff dilakukan oleh BS dengan berdasarkan pada hasil pengukuran

yang dilakukan oleh MS. Pada FBSS, MS secara hanya berkomunikasi dengan satu

BS yang disebut BS jangkar. Ketika pergantian BS diperlukan oleh MS maka

pemindahan dapat dilakukan dengan channel quality indicator channel (CQCIH)

tanpa perlu melakukan pensinyalan secara eksplisit. MDHO hampir sama dengan

FBSS, perbedaannya hanya MS berkomunikasi dalam downlink dan uplink dengan

(38)

2.5.4 Fungsi Sekuritas

Sistem WiMAX dirancang dengan memperhatikan faktor sekuritas, standar ini

meliputi metode untuk memastikan privasi penggunaan data dan mencegah akses

yang tidak diotorisasi, dengan dukungan protokol tambahan untuk optimasi mobilitas,

sekuritas ditangani oleh sub-lapis privasi dalam MAC WiMAX. Kunci aspek

sekuritas WiMAX adalah sebagai berikut:

1. Privacy Support

Data pengguna dienkripsi dengan menggunakan skema kriptografi yang

menyediakan privasi. Mendukung baik AES (Advanced Encryption Standard) dan

3DES (Triple Data Encryption Standard). Kebanyakan implementasi sistem

menggunakan AES, karena telah memenuhi standar sesuai dengan Federal

Information Processing Standard dan kemudahan implementasi 128 bit dan 256

bit dihasilkan selama proses autentifikasi dan diperbaharui secara periodik

untuk perlindungan tambahan [1] [2] [4].

2. Device/user authentication

Kemudahan juga disediakan oleh WiMAX untuk autentifikasi pelanggan dan

mencegah dari pengguna yang tidak terotorisasi. Sistem autentifikasi berdasarkan

pada Internet Enginering Task Force (IETF) EAP. Yang mendukung berbagai

fungsi seperti nama pengguna, sandi, sertifikasi digital dan kartu pintar. Perangkat

awal dari WiMAX telah dilengkapi dengan X.509 digital certificates yang di

(39)

WiMAX dapat menggunakan sertifikasi khusus untuk proses autentifikasi seperti

dengan menggunakan nama pengguna, sandi ataupun kartu pintar [1] [2] [4].

3. Flexible key-management protocol

Privacy and Key Management Protocol Version 2 (PKMv2) digunakan untuk

memindahkan materi penting dari base station ke mobile station, reotorisasi

secara periodik dan pembaharuan kunci. PKM adalah protokol klien-server yang

mana MS sebagai klien dan BS sebagai server. PKM menggunakan X.509 dan

algoritma RSA (Rivest-Shamer-Adleman) [1] [2] [4].

4. Protection of control messages

Integritas kontrol pesan di udara di proteksi dengan menggunakan skema pesan

digest seperti AES berdasarkan CMAC (chipher-based message authentication

codes) atau MD5 (message-digest 5 algorithm) berdasarkan HMAC (hash-based

message authentication codes) [1] [2] [4].

5. Fast handover support

Untuk mendukung handover secara cepat, WiMAX mengizinkan MS

menggunakan pre-autentifikasi dengan BS tertentu untuk mempercepat re-entry

(40)

2.6 Struktur Slot dan Frame

Lapis fisik WiMAX bertanggung jawab untuk pengalokasian slot dan frame di

udara. Waktu dan frekuensi minimun yang dapat dialokasikan oleh sistem WiMAX pada

sebuah link disebut dengan slot. Setiap slot terdiri dari satu sub kanal yang terdiri dari

satu, dua atau tiga simbol OFDM tergantung skema subkanalisasi yang digunakan. [1]

Gambar 2.3 menunjukan bahwa sebua frame OFDMA dan OFDM beroperasi

dalam mode TDD. Frame dibagi kedalam dua sub-frame yakni sebuah frame downlink

kemudian diikuti dengan frame uplink tetapi diselingi dengan sedikit interval. Rasio

downlink terhadap uplink dapat bervariasi mulai dari 3:1 hingga 1:1 untuk mendukung

profil trafi yang berbeda.WiMAX juga mendukung frequency division duplexing. Namun

TDD memberikan keuntungan berupa kemudahan yang lebih dalam pembagian antara

uplink dan downlink, tidak memerlukan pasangan spektrum, dan memiliki pemancar dan

penerima yang lebih sederhana. Di sisi lain, TDD mempunyai kekurangan berupa

diperlukan sinkronisasi terhadap berbagai base station untuk menjamin tidak adanya

(41)

Gambar 2.3 Struktur Slot dan Frame

Seperti yang terlihat dalam gambar 2.3, subframe downlink dimulai dengan

sebuah downlink preamble yang digunakan untuk prosedur lapis fisik seperti sinkronisasi

waktu, frekuensi dan estimasi kanal. Downlink preamble diikuti oleh FCH (frame control

header) yang menyediakan informasi konfigurasi frame seperti panjang MAP, modulasi,

skema pengkodean dan subcarriers yang bisa digunakan. Beberapa pengguna dialokasian

dalam daerah data yang terdapat dalam uplink dan downlink MAP (DL-MAP dan

UL-MAP) yang mengikuti FCH. MAP berisikan informasi berupa skema modulasi dan

pengkodean. WiMAX memberikan kemudahan dalam ukuran frame, setiap transmisi

dapat terdiri dari gabungan beberapa paket data yang ukurannya tetap dan dapat juga

(42)

Subframe Uplink tersusun dari beberapa transmisi uplink yang terdiri dari

beberapa pengguna berbeda. Beberapa bagian dari subframe disisihkan untuk keperluan

yang berbeda. Subframe ini biasa digunakan sebagai kanal jangkauan untuk peformasi

closed-loop frequency, penyesuaian daya selama entry ke dalam jaringan dan

diperbaharui berkala setelah entry tersebut. Kanal jangkauan juga dapat digunakan oleh

subcriber station dan mobile station untuk meminta lebar pita. Selain itu, subframe uplink

mempunyai sebuah channel quality indicator channel (CQICH) yang berfungsi bagi SS

untuk memberikan umpan balik tentang kondisi kualitas kanal yang dapat digunakan oleh

base station dan kanal acknowledgement bagi subcriber station untuk memberikan

umpan balik berupa acknowledgement downlink [1].

2.7 Topologi Jaringan WiMAX

WiMAX mendefinisikan dua jaringan topologi yakni point to point (PTP) dan

point to multipoint (PTMP). Hubungan PTP merujuk hanya kepada sebuah hubungan

khusus antara BS dan pelanggan. Hubungan ini sangat tidak efektif dalam pemanfaatan

sumber daya dan mengakibatkan biaya yang tinggi. Topologi ini biasanya dikhususkan

untuk pelanggan dengan kebutuhan lebar pita yang sangat tinggi. Untuk mengakomodasi

hal tersebut, lebar pita dikonsentrasikan dalam satu hubungan untuk memberikan

throughput yang lebih tinggi. Antena direksional dengan penguatan yang besar

diperlukan untuk meminimalkan inteferensi dan memaksimalkan sekuritas. Topologi PTP

(43)

Gambar 2.4 Topologi Jaringan Point To Point (PTP)

Topologi PMP merupakan topologi yang digunakan untuk para pelanggan yang

tidak membutuhkan lebar pita secara keseluruhan. Pelanggan terkoneksi secara terpisah

terhadap BS dengan menggunakan antenna parabola direksional yang terhubung ke

sebuah sektor sel untuk mendukung penggunaan kembali frekuensi. seperti terlihat dalam

Gambar 2.5 [1].

(44)

2.8 Hybrid ARQ

Hybrid ARQ adalah sistem ARQ yang diimplementasikan pada lapis fisik bersama

dengan FEC untuk menyediakan performansi hubungan yang lebih baik bila

dibandingkan dengan ARQ tradisional. Versi sederhana dari kombinasi ARQ dan FEC

adalah H-ARQ yang mana blok data bersama dengan kode CRC dienkodekan dengan

menggunakan koder FEC sebelum transmisi. Retransmisi dilakukan jika decoder tidak

mampu mendekodekan blok kode secara baik. Ketika blok kode retransmisi diterima,

blok kode tersebut dikombinasikan dengan blok kode yang terdeteksi sebelumnya dan

dimasukan ke dalam decoder FEC. Kombinasi kedua versi blok kode tersebut akan

menghasilkan kode yang benar. H-ARQ demikian dikenal dengan tipe I chase combining

[1].

Hal di atas dimungkinkan karena standar WiMAX mengkombinasikan N-kanal

stop and wait ARQ bersama dengan beberapa variasi kode FEC. Dengan melakukan

beberpa kanal paralel H-ARQ pada waktu bersamaan, maka throughput dapat

ditingkatkan karena ketika satu H-ARQ menunggu acknowledgement, proses lain dapat

menggunakan kanal tersebut untuk pengiriman data. WiMAX juga mendukung

mekanisme pensinyalan yang dapat memungkinkan operasi asinkron H-ARQ dan

mendukung sebuah kanal khusus acknowledgement pada sisi uplink untuk keperluan

pensinyalan ACK/NACK. Operasi asinkron ini memberikan delay bervariasi antara

retransmisi yang memberikan kemudahan dalam penjadwalan. Untuk keperluan

tambahan, WiMAX juga menyediakan tipe II yakni incremental redundancy yang mana

(45)

2.9 Aplikasi WiMAX

WiMAX merupakan jaringan nirkabel teknologi berbasis WMAN, WiMAX

dikembangkan dengan harapan dapat memberikan pelayanan yang murah, berkualitas,

menjawab kebutuhan atas akses internet pita lebar dan memiliki kompabilitas dengan

berbagai peralatan yang berasal dari vendor berbeda. Kemampuan dalam memberikan

jangkauan yang luas dan laju data yang cepat menjadi salah satu faktor yang menunjang

bagi WiMAX untuk diimplementasikan.

2.9.1 WMANs

Salah satu faktor yang membuat WiMAX yang dikembangkan dewasa ini adalah

kemudahan dalam memberikan layanan akses pita lebar terhadap area perkotaan dengan

hasil yang sama seperti yang diberikan oleh teknologi pendahulunya. WiMAX dapat

mengatasi beberapa kendala yang mungkin dihadapi oleh DSL yang diakibatkan oleh

sulitnya instalasi jaringan kabel yang diperlukan [2].

2.9.2 Pengganti Teknologi Wi-Fi

Teknologi yang ada sekarang sangat menyulitkan dalam penyediaan akses

internet pita lebar khususnya dalam ruangan. WiMAX dapat mengatasi kendala ini

karena kemampuan untuk bekerja dalam kondisi NLOS dan tersedianya topologi

pelayanan dalam kondisi point to mulipoint. Dengan keunggulan hal tersebut maka

WiMAX dapat dipakai sebagai pengganti teknologi Wi-Fi dan kabel lokal dalam

(46)

2.9.3 Backhaul Wireless

Kelebihan lain dari WiMAX adalah kemampuan teknologi ini untuk dioperasikan

sebagai backhaul bagi jaringan telepon seluler dan Wi-Fi. Khusus bagi jaringan telepon

seluler, hadirnya teknologi WiMAX dapat menghemat biaya investasi perusahaan dalam

instalasi jaringan kabel sebagai backhaul mereka. Hal ini dapat dilihat pada Gambar 2.6

[2].

(47)

BAB III

ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLEXING DAN

ORTHOGONAL FREQUENCY DIVISION MULTIPLE ACCESS

3.1 Umum

Orthogonal frequency division multiplexing (OFDM) adalah skema transmisi

parallel yang mana sebuah data laju tinggi yang bersifat seri dibagi ke dalam sebuah

kumpulan substream dengan laju data yang lebih rendah; setiap substream tersebut di

modulasi dengan menggunakan subcarrierss yang berbeda. Dengan demikian, lebar pita

dari subcarriers menjadi lebih kecil bila dibandingkan dengan lebar pita kanal yang

berelasi. Subcarriers yang independen tersebut mengalami fading yang rata sehingga

memudahkan pengaplikasian equalisasi yang lebih sederhana. Hal ini akan memberikan

implikasi berupa waktu simbol substream yang lebih panjang bila dibandingkan dengan

delay spread dari waktu pentransmisian kanal radio tersebut. Selain itu, dengan

menggunakan frekuensi carrier yang tegak lurus, maka effisiensi spectra dapat dicapai.

Untuk mempertahankan agar frekuensi carrier tetap tegak lurus (orthogonal) maka

diperkenalkan sebuah cara yang dikenal dengan sebutan cyclic prefix [1] [5].

OFDM juga dikenal sebagai teknik modulasi multicarriers. OFDM mulai banyak

digunakan dalam berbagai sistem komunikasi yang menuntut laju data yang cepat.

Teknik ini mulai diadopsi untuk digunakan dalam berbagai teknologi xDSL (digital

subscriber lines), 802.11x, digital video broadcasting dan WiMAX (802.16x). Secara

umum, OFDM pada WiMAX dimanfaatkan untuk mengatasi persoalan seperti delay

(48)

3.2 Modulasi Multicarrier

Ide dasar dari modulasi multicarrier sebenarnya sangat sederhana dan bertujuan

untuk mengakomodasi kebutuhan akan laju data yang cepat dengan kanal yang bebas dari

ISI. Secara umum, komunikasi digital tidak dapat berlangsung dengan baik apabila

adanya ISI. Adanya ISI tersebut akan mengakibatkan munculnya kesalahan bit melewati

ambang batas toleransi. Untuk mengatasi hal tersebut, maka waktu simbol (symbol

time,Ts) biasanya harus diusahakan lebih besar dari delay spread (r) [1].

Gambar 3.1 Blok Rangkaian Dasar Transmitter Multicarrier

Untuk mengatasi hal tersebut, modulasi multicarrier membagi transmisi data laju

tinggi ke dalam sejumlah L substreams dengan laju yang lebih rendah, dengan asumsi

setiap substream memiliki Ts/L >> r. Apabila kondisi tersebut dipenuhi maka kanal akan

dipastikan bebas dari ISI. Setiap substreams tersebut kemudian dikirimkan melalui L

sub-kanal paralel dengan tujuan untuk mempertahankan laju data keseluruhan yang

(49)

setiap sub-kanal tersebut biasanya lebih rendah daripada laju data keseluruhan, hal ini

mengakibatkan lebar pita pada sub-kanal tersebut akan jauh lebih kecil dibandingkan

dengan lebar pita kanal secara keseluruhan. Jumlah dari substream harus dipilih secara

seksama agar lebar pita sub-kanal lebih kecil dari lebar pita kanal yang berhubungan.

Dengan demikian diharapkan agar sub-kanal tersebut mengalami fading yang relatif kecil

sehingga ISI pada setiap kanal menjadi relatif kecil. Seperti yang disinggung sebelumnya,

untuk menjamin kanal bebas dari ISI maka digunakan cyclic prefix. Gambaran umum

mengenai teknik modulasi multicarrier dapat dilihat pada Gambar 3.1 dan Gambar 3.2

[1].

Gambar 3.2 Blok Rangkaian Dasar Receiver Multicarrier

3.3 Ortogonalitas

(50)

dalam Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) mengandung makna

hubungan matematis di antara frekuensi-frekuensi yang digunakan [6].

Dua buah sinyal dikatakan saling tegak lurus, dapat dinyatakan :

a. Untuk sinyal waktu kontinu

0

b. Untuk sinyal waktu diskrit

I cos 2 cos 2 0

adalah periode simbol dan N adalah jumlah subcarriers.

Jika terdapat sejumlah N- subcarriers pada sistem OFDM tertentu maka, secara

matematis besarnya frekuensi subcarriers yang digunakan dapat dinyatakan sebagai :

; k =0,1,2,...,N−1 (3.3)

Dari Persamaan 3.3 di atas dapat diperoleh jarak setiap frekuensi subcarriers agar

orthogonal minimal harus dipisahkan sejauh 1/Tss

s

T f = 1

dan dapat dinyatakan sebagai:

(3.4)

Dimana : ∆f adalah jarak antara frekuensi subcarriers;

Tss

Prinsip kerja OFDM pada dasarnya adalah untuk membagi sejumlah bit data

serial dengan laju tinggi ke dalam deretan laju data paralel yang lebih rendah. Bit tersebut adalah periode simbol

(51)

kemudian dimasukan ke dalam beberapa subcarrierss yang saling tegak lurus

(orthogonal). Secara umum prinsip dasar OFDM ditunjukan melalui Gambar 3.3 [6].

Serial

Gambar 3.3 Prinsip Dasar OFDM

Dari Gambar 3.3 dapat dilihat bahwa deretan informasi (b[0], b[1],..., b[M-1])

diubah menjadi deretan data paralel dan kemudian ditransmisikan dengan menggunakan

Nsubcarriers yang saling tegak lurus (orthogonal)(φ(t), φ1(t), ..., φN-1

Untuk mengetahui prinsip kerja teknik OFDM lebih lanjut dapat dilihat pada blok

diagram dasar OFDM yang diperlihatkan pada Gambar 3.4. Blok diagram dasar OFDM

terbagi atas tiga bagian dasar yakni: transmitter (serial to paralel converter, modulator,

IFFT, paralel to serial converter, kanal (channel) dan receiver (serial to paralel

(52)

Gambar 3.4 Diagram Blok Dasar OFDM

3.4.1 Transmitter

Gambar 3.5 menunjukkan blok diagram transmitter OFDM yang terdiri dari

blok-blok serial to paralel, modulasi, IFFT dan paralel to serial.

Serial to paralel converter

Modulasi IFFT Paralel to

Serial

Transmitter

Data In Sinyal OFDM

Gambar 3.5 Diagram Blok Transmitter OFDM

Deretan data yang akan ditransmisikan (data in) yaitu deretan bit-bit serial

dikonversikan ke dalam bentuk paralel oleh serial to paralel converter, sehingga bila bit

rate semula adalah R maka bit rate di tiap jalur paralel adalah R/N yang mana N adalah

jumlah jalur paralel atau jumlah subcarriers. Secara umum prinsip konversi bit serial ke

paralel ditunjukkan pada Gambar 3.6 [6].

Serial To Paralel X[0] X[1] ... X[N-1]

X[0]

X[1]

X[N-1]

(53)

Kemudian ke-N bit paralel ini (X[0], X[1], ..., X[N-1]) dimodulasikan pada setiap

subcarriers yang berbeda yang mana setiap subcarriers dipisahkan sejauh ∆f , seperti

yang terlihat pada Gambar 3.7 [6].

Modulator

Gambar 3.7 Proses Modulasi

Sinyal hasil modulasi tersebut secara matematika dapat ditulis sebagai:

=

Atau dapat ditulis sebagai:

=− ∆

Sinyal OFDM hasil modulasi kemudian dialirkan ke dalam Inverse Fast Fourier

Transform (IFFT) untuk mengubah sinyal dari domain frekuensi ke dalam sinyal domain

waktu dengan cara mencuplik sinyal x(t) dengan laju Tss/N. Proses IFFT ditunjukkan pada

(54)

IFFT

Gambar 3.8 Proses IFFT

Sinyal keluaran IFFT dapat dinyatakan sebagai:

=− ∆

Karena setiap subcarriers adalah saling tegak lurus (orthogonal) yang mana

s

T f = 1

∆ , maka persamaan di atas dapat dinyatakan sebagai:

=− =

Sinyal OFDM yang telah diaplikasikan ke dalam IFFT ini kemudian

dikonversikan ke dalam bentuk serial dan kemudian sinyal ditransmisikan. Sinyal dikirim

secara umum dapat ditulis dalam bentuk persamaan matematisnya sebagai berikut:

(55)

3.4.2 Kanal

Kanal adalah media elektromagnetik di antara pemancar (transmitter) dan

penerima (receiver). Bentuk umum model kanal adalah kanal gaussian yang secara umum

disebut sebagai kanal Additive White Gaussian Noise (AWGN). Gambar 3.9

mengilustrasikan sebuah kanal dengan respon impuls h(t) dan noise additive [6].

h(t)

y(t)

x(t)

u(t)

Gambar 3.9 Bentuk Umum Kanal

Pada OFDM, ketika jumlah subarrier (N) besar, fungsi transfer kontinu dari

respon kanal H(f) dapat digambarkan sebagai kurva diskrit persegi empat, seperti yang

diilustrasikan pada Gambar 3.10 [6].

1

Gambar 3.10 Kanal dan Respon Kanal dari Dekomposisi Multicarrier

Masing-masing persegi empat memiliki lebar band frekuensi 1/TsHz. Semakin

besar N; lebar pita frekuensi persegi empat akan semakin kecil, secara persamaan

(56)

Yang mana Yi[k] = adalah output kompleks dari N-titik FFT dan Ui

Sinyal OFDM Data Out

[k] adalah noise.

3.4.3 Receiver

Gambar 3.11 menunjukkan blok diagram penerima (receiver) yang terdiri dari

blok-blok serial to paralel, FFT, demodulasi, dan paralel to serial.

Gambar 3.11 Diagram Blok Receiver OFDM

Pada bagian sisi penerima dilakukan proses yang berkebalikan dengan apa yang

dilakukan pada stasiun pengirim. Sinyal yang diterima dikonversikan ke dalam bentuk

paralel oleh serial to paralel converter. Kemudian sinyal paralel ini dialirkan kedalam

FFT (Fast Fourier Transform) untuk mengubah sinyal dari domain waktu ke dalam

domain frekuensi [6].

(57)

= X[m]

Disini δ[mk] adalah fungsi delta yang didefinisikan sebagai:

Sinyal yang telah dialirkan ke dalam FFT ini kemudian didemodulasikan dan

dikonversikan lagi ke dalam bentuk serial oleh paralel to serial converter dan akhirnya

kembali menjadi bentuk data informasi X~[k] [6].

3.5 Modulasi/Demodulasi QPSK

Salah satu teknik modulasi yang sering digunakan didalam teknik OFDM adalah

teknik modulasi QPSK. Pada teknik modulasi ini, informasi digit biner digunakan untuk

memodulasi fasa gelombang pembawa. Dengan M = 4, maka terdapat 4 simbol yang

berbeda, yaitu: 00, 01, 11, dan 10 yang direpresentasikan dengan 4 gelombang pembawa

dengan fasa yang berbeda satu sama lainnya.

3.5.1 Modulator QPSK

Gambar 3.12 mengilustrasikan diagram blok dari modulator QPSK. Modulator

tersebut terdiri dari pengubah seri ke paralel, modulator I/Q, penjumlah sinyal, dan BPF.

Dua bit diumpankan ke serial to parallel. Setelah keduanya masuk secara serial,

kemudian diumpankan serempak secara paralel. Bit yang satu menuju kanal I dan yang

lainnya menuju kanal Q. Pada QPSK logic 1 diwakili +1 Volt sedangkan logic 0 diwakili

(58)

I

Gambar 3.12 Diagram Blok Modulator QPSK

Keluaran modulator QPSK ini berupa penjumlahan linear dari kanal I dan kanal Q

seperti yang terlihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.1 Keluaran Modulator QPSK

Input

Terlihat bahwa jarak anguler antara dua phasor yang berdekatan pada QPSK

adalah 900. karena itu suatu sinyal QPSK bisa mengalami pergeseran phase +450 atau

-450 selama transmisi dan tetap akan berupa informasi yang benar saat didemodulasikan

pada penerima. Sedangkan bentuk sinyal keluaran modulator QPSK ditunjukkan oleh

(59)

Q I 0 1

Q I 0 0 Q I

1 1 Q I

1 0

Waktu

derajat

+ 135 - 45 + 45 - 135 Debit

Input

QPSK

Output phase

Gambar 3.13 Sinyal Keluaran Modulator QPSK

3.5.2 Demodulator QPSK

Gambar 3.14 mengilustrasikan diagram blok demodulator QPSK yang terdiri dari

detektor, LPF, dan pengubah paralel ke seri.

Gambar 3.14 Diagram Blok Demodulator QPSK

Pada Gambar 3.14 di atas diperlihatkan sinyal masukan demodulator berupa

sinyal OFDM yang telah terdistorsi dengan kanal transmisi yang disebabkan AWGN dan

Fading Rayleigh dimasukkan ke kanal I dan Q. Sinyal pada kanal I dikalikan dengan cos

ωct, sedangkan pada kanal Q dikalikan dengan sinωct. Kemudian kedua keluaran kanal

(60)

3.6 Cyclic Prefix

Salah satu kunci keberhasilan teknologi OFDM adalah penggunaan algoritma

FFT yang memiliki kompleksitas yang rendah. Untuk menjamin bahwa IFFT/FFT

menciptakan sebuah kanal yang bebas ISI, maka kanal harus menyediakan konvolusi

sirkular. Dengan menambahkan cyclic prefix ke dalam sinyal yang ditransimikan maka

akan menciptakan sinyal yang berupa x[n]L, dan y[n]= x[n]*h[n]. Hal ini dapat dilihat

pada Gambar 3.15 [1].

Gambar 3.15 Cyclic Prefix pada OFDM

Secara umum, jika sebuah kanal memiliki delay spread maksimum sebesar v+1

samples, dengan menambahkan sebuah guard band dengan panjang v samples di antara

simbol OFDM maka akan membuat simbol OFDM tersebut bebas antara satu dengan

yang lainnya. Meskipun cyclic prefix menawarkan sesuatu yang sangat sederhana, namun

terdapat kompensasi terhadap lebar pita dan daya. Karena terdapat sejumlah v simbol

yang berulang yang harus ditransmisikan, (L+v/L)B. Hal yang sama juga berlaku untuk

daya transmitter, dengan penambahan sejumlah simbol v maka cyclic prefix akan

memberikan penalti daya sebesar 10log10

v L

L +

(L+v/L) dB sebagai tambahan terhadap penalti

lebar pita sebelumnya. Secara keseluruhan, penggunaan cyclic prefix menghasilkan

kerugian daya dan laju data sebesar :

Gambar

Tabel 2.3 Perbandingan Parameter Fixed dan Mobile WiMAX
Gambar 2.2 Contoh Beberapa Frame WiMAX
Gambar 2.3 Struktur Slot dan Frame
Gambar 2.5 Topologi Jaringan Point to Multipoint (PMP)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Protective fences have been processed regarding the interconnection of the same types of protective fences steel - steel, concrete - concrete, the interconnection of different types

Kedudukan seorang anak angkat dari berbagai daerah menjadi landasan yang mana adat istiadat masyarakatnya setempat dalam memberikan status hukum kepada anak angkat.Status

Dari hasil perhitungan didapatkan balok portal As-2 (dengan dimensi 35/60) dari perhitungan peneliti dan struktur balok yang telah di rencanakan dengan nilai koreksi A s

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari kualitas sumber daya manusia, sistem pengendalian internal, serta teknologi informasi terhadap tingkat kualitas

Penilaian teknik supervisi dengan observasi pada poin nomor 4 sampai dengan 14 Sebanyak 17 kali observasi momen supervisi pada Oktober 2015 dengan tiap observasi

Studi yang memenuhi syarat untuk diinklusi ke dalam kajian sistematis ini apabila memenuhi kriteria berikut: 1) Randomized controlled trials (RCTs), dan cohort studies

Sehingga dengan latar belakang diatas, maka penulis berminat untuk meneliti lebih lanjut terkait kejelasan kedudukan peraturan Mahkamah Agung di dalam sistem perundang-undangan