• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sekolah Tinggi Seni Musik di Medan (Ekspresionisme Arsitektur)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Sekolah Tinggi Seni Musik di Medan (Ekspresionisme Arsitektur)"

Copied!
145
0
0

Teks penuh

(1)

SEKOLAH TINGGI SENI MUSIK MEDAN

(EKSPRESIONISME ARSITEKTUR)

LAPORAN PERANCANGAN

TGA 490 - STUDIO TUGAS AKHIR

SEMESTER B TAHUN AJARAN 2010/2011

Sebagai Persyaratan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Arsitektur

Oleh :

WILCEN 07 0406 033

DEPARTEMEN ARSITEKTUR FAKULTAS TEKNIK

(2)

SEKOLAH TINGGI SENI MUSIK MEDAN

(EKSPRESIONISME ARSITEKTUR)

Oleh :

WILCEN 07 0406 033

Medan, 22 Juni 2011

Disetujui Oleh :

Ketua Departemen Arsitektur

Ir. N. Vinky Rahman, MT. NIP. 196606221997021001

Ir. Morida Siagian , MURP. Pembimbing I

(3)

SURAT HASIL PENILAIAN PROYEK TUGAS AKHIR (SHP2A)

Nama : Wilcen

NIM : 07 0406 033

Judul Proyek Tugas Akhir : Sekolah Tinggi Seni Musik di Medan

Tema : Ekspresionisme Arsitektur

Rekapitulasi Nilai :

Dengan ini mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan :

No. Status

Waktu Pengumpulan

Laporan

Paraf Pembimbing I

Paraf Pembimbing II

Koordinator TKA-490 1. Lulus Langsung

2. Lulus Melengkapi

3. Perbaikan Tanpa Sidang

4. Perbaikan Dengan Sidang

5. Tidak Lulus

Medan, 22 Juni 2011

A B+ B C+ C D E

Ketua Departemen Arsitektur,

Bapak Ir. N. Vinky Rahman, MT. NIP: 196606221997021001

Koordinator TGA-490,

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah menjadi sumber kekuatan dan penghiburan selama berlangsungnya pengerjaan tugas akhir ini.

Tugas akhir ini mengambil judul: Sekolah Tinggi Seni Musik di Medan. Tugas akhir ini merupakan syarat yang diwajibkan bagi mahasiswa untuk memperoleh gelar Sarjana Teknik.

Pada kesempatan ini, dengan tulus dan kerendahan hati, penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih serta penghargaan sebesar-besarnya kepada pembimbing tugas akhir ibu Ir. Morida Siagian , MURP dan kepada bapak Firman Edy, ST. MT sebagai pembimbing tugas akhir, atas kesediaannya membimbing, brain storming , motivasi , pengarahan dan waktu beliau kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.

Rasa hormat dan terima kasih yang sama juga penulis tujukan kepada:

1. Bapak Ir. N. Vinky Rahman, MT., Ketua Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

2. Bapak dan Ibu dosen staff pengajar Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

3. Orang tua saya yang tercinta, Ibu Ng Moi Kie untuk semua kasih, perhatian, dukungan, doa, kesabaran dan segala pengorbanannya selama ini sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini.

4. Saudara saya, Vincent, Viona, Vivian dan Kevin yang memberikan motivasi , serta perhatiannya.

5. Sahabat saya tercinta, Melisa yang selalu memberikan dukungan, doa, serta kesabarannya dalam memotivasi saya.

(5)

7. Semua teman – teman Studio Tugas Akhir Semester B TA 2010 / 2011, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara, Hendra (2007), Syahriza (2007), Anggrelany (2007), Catherine (2007), Claudia (2007), Shelly (2007), Jessica (2007), Julaiha (2007), Yohana (2007), Agus (2007), Maik (2007) dan semua teman-teman lainnya yang menaruh perhatian dan siap membantu ketika saya mengahadapi masalah di dalam tugas akhir ini.

8. Adik – adik stambuk 2008 - 2010, Departemen Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara. Terima kasih atas dukungan, bantuan, pendapat, waktu, dan dorongan kepada penulis selama proses pengerjaan tugas akhir ini.

Kiranya Tuhan Yang Maha Esa memberikan dan melimpahkan kasih dan berkat-Nya bagi mereka atas segala yang telah diperbuat untuk penulis.

Penulis sungguh menyadari bahwa tugas akhir ini masih mempunyai banyak kekurangan. Karena itu penulis membuka diri terhadap kritikan dan saran bagi penyempurnaan tugas akhir ini. Dan, akhirnya penulis berharap tulisan ini memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya di lingkungan Departemen Arsitektur USU.

Medan, Juni 2011 Hormat saya,

Wilcen

(6)

DAFTAR ISI

LEMBARAN PENGESAHAN

SURAT HASIL PENILAIAN PROYEK AKHIR ( SHP2A ) ...i

KATA PENGANTAR ...ii

DAFTAR ISI...iv

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR TABEL ...xi

BAB I PENDAHULUAN 1 I.1 Latar Belakang ... 1

I.2 Maksud dan Tujuan Proyek ... 2

I.3 Perumusan Masalah ... 3

I.4 Metoda Pendekatan ... 3

I.5 Lingkup dan Batasan Proyek ... 4

I.6 Kerangka Berpikir ... 5

I.7 Sistematika Penulisan Laporan ... 6

BAB II DESKRIPSI PROYEK 7 II.1. Pengertian Judul ... 7

II.2. Tinjauan Umum ... 7

II.2.1 Sistem Pendidikan di Indonesia ... 8

II.2.1.1. Jalur Pendidikan ... 8

II.2.1.2. Jenis Perguruan Tinggi ... 13

II.2.1.3. Gelar Akademik di Indonesia ... 15

II.2.1.4. Struktur Organisasi ... 17

II.2.2 Tinjauan Terhadap Musik ... 18

II.2.2.1 Pengertian Musik ... 18

II.2.2.2 .Sejarah Musik ... 21

II.2.2.3. Pendidikan Musik ... 27

II.2.2.4. Kurikulum Pendidikan Musik ... 28

(7)

II.3.1 Kriteria Pemilihan Lokasi ... 32

II.3.2 Analisis Pemilihan Lokasi ... 33

II.3.2.1. Alternatif Pemilihan Lokasi ... 33

II.3.2.2 .Penilaian Alternatif Lokasi ... 36

II.3.3 Kondisi Eksisting Lokasi Proyek ... 47

II.4. Tinjauan Fungsi Bangunan ... 39

II.4.1 .Deskripsi Pengguna dan Kegiatan ... 39

II.4.2 .Deskripsi Pelaku ... 42

II.4.3 .Deskripsi Kebutuhan Ruang ... 43

II.4.4 .Deskripsi Persyaratan dan Kriteria Ruang ... 44

II.4.5 .Studi Banding Arsitektur dengan Fungsi Sejenis ... 45

BAB III. ELABORASI TEMA 48 III.1. Pengertian Arsitektur Ekspresionisme ... 48

III.2. Interpretasi Tema ... 50

III.3. Studi Banding Tema Sejenis ... 51

BAB IV ANALISA 56 IV.1. Analisa Eksisting ... 56

IV.1.1. Analisa Lokasi ... 56

IV.1.2. Kondisi Eksisting Lahan ... 57

IV.1.3. Tata Guna Lahan ... 58

IV.1.4. Batas Site ... 60

IV.1.5. Sarana dan Prasarana ... 61

IV.1.6. Eksisting Bangunan Sekitar Site ... 62

IV.2. Analisa Potensi dan Kondisi Site ... 63

IV.2.1. Analisa Sirkulasi ... 63

IV.2.1. Analisa Pedestrian ... 64

IV.2.3. Analisa Pencapaian ... 65

IV.2.4. Analisa View ... 67

IV.2.5. Analisa Vegetasi dan Matahari ... 69

IV.2.6. Analisa Kebisingan ... 70

IV.3. Analisa Bangunan ... 72

(8)

IV.3.2. Orientasi dan View ... 73

IV.3.3. Sirkulasi dan Penzoningan ... 74

IV.3.4. Struktur ... 79

IV.3.5. Utilitas ... 82

IV.4. Analisa Fungsional ... 94

IV.4.1. Pola Kegiatan ... 94

IV.4.2. Analisa Jumlah Mahasiswa ... 95

IV.4.3. Besaran Ruang ... 98

IV.4.4. Kebutuhan Areal Parkir ... 103

BAB V KONSEP PERANCANGAN 104 V.1. Penerapan Tema Pada Bangunan ... 104

V.2. Konsep Site ... 104

V.2.1. Konsep Penzoningan berdasarkan Bangunan ... 104

V.2.2. Konsep Sirkulasi dan Parkir kendaraan bermotor ... 105

V.3. Konsep Massa Bangunan ... 106

V.3.1. Konsep Bentuk...106

V.3.2. Konsep Zoning Bangunan...109

V.3.3. Konsep Orientasi Bangunan...109

V.3.4. Konsep Sirkulasi Bangunan...110

V.4. Konsep Ruang ... 111

BAB VI HASIL RANCANGAN VI.1. Site Plan... ... 113

VI.2. Ground Plan... ... 114

VI.3. Denah Bangunan... ... 115

VI.4. Tampak Bangunan... ... 119

VI.5. Potongan Bangunan... ... 122

VI.6. Rencana Pondasi dan Pembalokan... ... 123

VI.7. Aksonometri Rencana... ... 127

VI.8. Detail... 129

VI.9. Perspektif ... ... 131

DAFTAR GAMBAR ...vii

DAFTAR TABEL ...ix

(9)

DAFTAR GAMBAR

HALAMAN

Gambar 1 Kerangka Berpikir ...5

Gambar 2 Diagram Struktur Organisasi Sekolah Tinggi Seni Musik...17

Gambar 3 Skema Pembagian Kurikulum Major Study ...29

Gambar 4 Peta Wilayah Pengembangan Pembangunan Kota Medan ...31

Gambar 5 Peta Lokasi Alternatif Site I ...33

Gambar 6 Peta Lokasi Alternatif Site II ...34

Gambar 7 Peta Lokasi Alternatif Site III ...35

Gambar 8 Kondisi Existing Site ...38

Gambar 9 Walt Disney Concert Hall ...45

Gambar 10 University of Music in Karlsruhe, Germany ...46

Gambar 11 Sydney Conservatorium of Music...47

Gambar 12 Het Schip ...51

Gambar 13 Glass Pavillion ...52

Gambar 14 Einstein Tower ...52

Gambar 15 Chilehaus ...53

Gambar 17 Sydney Opera House ...54

Gambar 18 Lokasi Site...56

Gambar 19 Analisa Kondisi Sekitar Site ...57

Gambar 20 Peta tata guna lahan...58

Gambar 21 Analisa batas site ...60

Gambar 22 Analisa sarana dan prasarana pada site ...61

Gambar 23 Bangunan eksisting sekitar site ...62

Gambar 24 Analisa sirkulasi sekitar site ...63

Gambar 25 Analisa Pedestrian ...64

Gambar 26 Analisa pencapaian ke site ...65

Gambar 27 Penempatan entrance berdasarkan analisa pencapaian ...66

Gambar 28 Analisa view ke luar site ...67

Gambar 29 Analisa view ke dalam site...68

Gambar 30 Analisa vegetasi dan matahari ...69

(10)

Gambar 32 Diagram Zoning Ruang ...78

Gambar 33 Bagan Sistem Deteksi Kebakaran ...85

Gambar 34 Bagan Sistem Listrik ...87

Gambar 35 Penyaluran suaran secara airbone dan structurebone ...90

Gambar 37 Sistem dinding ganda pada auditorium ...91

Gambar 38 Sistem dinding belakang panggung ...92

Gambar 39 Sistem plafon bertrap ...92

Gambar 40 Skema kedalaman balkon...92

Gambar 41 Ruang Praktek Musik ...93

Gambar 42 Skema Kegiatan Siswa ...94

Gambar 43 Kegiatan Staff Pengajar dan Pengelola Gedung ...94

Gambar 44 Kegiatan Pengunjung ...95

Gambar 45 Grafik kenaikan jumlah siswa di Era Musika Medan ...97

Gambar 46 Konsep penzoningan ...104

Gambar 47 Konsep Sirkulasi dan Parkir kendaraan bermotor...105

Gambar 48 Konsep Massa Bangunan ...106

(11)

DAFTAR TABEL

HALAMAN

Tabel 1 Pembagian Wilayah Pengembangan Pembangunan Kota Medan ...31

Tabel 2 Kriteria Pemilihan lokasi ...32

Tabel 3 Perbandingan alternatif lokasi ...36

Tabel 4 Tabel kegiatan pengguna ...41

Tabel 5 Tabel deskripsi kegiatan ...42

Tabel 6 Tabel deskripsi kebutuhan ruang ...44

Tabel 7 Persyaratan dan kriteria ruang ...48

Tabel 8 Tabel karakteristik Ekspresionisme berdasarkan studi banding ...55

Tabel 9 Kondisi eksisting sekitar site ...57

Tabel 10 Analisa sirkulasi ...63

Tabel 11 Keterangan analisa sirkulasi pejalan kaki ...64

Tabel 12 Keterangan penempatan entrance berdasarkan analisa pencapaian ...66

Tabel 13 Keterangan analisa view ke luar site ...67

Tabel 14 Keterangan analisa kebisingan ...70

Tabel 15 Deskripsi penanganan kebisingan ...71

Tabel 16 Perbandingan bentuk dasar bangunan...73

Tabel 17 Jenis sirkulasi ...74

Tabel 18 Penzoningan ...76

Tabel 19 Pembagian zona bangunan ...77

Tabel 20 Struktur atas ...79

Tabel 21 Struktur bawah ...80

Tabel 22 Bahan struktur ...80

Tabel 23 Bahan bangunan ...81

Tabel 24 Analisa sistem penangkal petir ...88

Tabel 25 Jumlah penduduk kota medan...95

(12)

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Dalam buku World Book Encyclopedy Music, dikatakan musik adalah seni tertua dalam peradaban umat, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun pada keagamaan. Musik telah ada dalam kehidupan masyarakat sejak berabad-abad yang lalu, dan saat ini musik telah menjadi kebutuhan penunjang bagi masyarakat. Musik juga dapat berperan dalam merubah suasana (mood) dan meningkatkan semangat kita, sering kita melihat para pemandu sorak menggunakan musik untuk menambah semangat kepada tim mereka. Selain itu musik juga dapat meningkatkan produktivits kerja.

Dalam olahraga musik juga sangat berperan penting, saat ini penggunaan musik dalam kegiatan olahraga sangat bermacam-macam bentuk dan fungsinya. Misalnya saja dalam salah satu cabang olahraga atletik yaitu senam aerobik, dimana musik berperan sebagai pengiring untuk melakukan gerakan-gerakan yang telah diatur sedemikian rupa menurut aturan senam tersebut. Selain itu musik juga kerap dipergunakan sebagai media ekspresi dan pemberi motivasi.

(13)

Dalam beberapa dekake ini, Industri musik mengalami peningkatan yang sangat cepat. Begitu pula di Indonesia, industri musik telah menjadi lahan bisnis yang sangat menjanjikan. Beberapa major label maupun band-band baru mulai bermunculan. Hal ini membuktikan bahwa Bangsa Indonesia memiliki antusiasme yang sangat baik terhadap musik, serta memiliki banyak potensi-potensi musik yang luar biasa.

Di Medan sendiri musik merupakan hal yang cukup mendapat tanggapan yang respon yang baik dari masyarakat. Berbagai sekolah musik mulai berdiri dengan berbagai fasilitas dan kelebihan masing-masing. Beberapa sekolah dan lembaga pendidikan musik yang terdapat di kota Medan antara lain adalah Medan Musik, Era Musika Medan, Lembaga Pendidikan Musik Farabi, LMM (Lembaga Musik Murni) dan lain – lain. Berbagai sekolah musik yang sudah ada itu sudah diakui secara internasional yang dapat dibuktikan dengan banyak tamatan – tamatan dari sekolah musik di medan yang diterima dengan baik dan berprestasi baik di sekolah tinggi musik di luar negeri.

Di Medan, perguruan tinggi yang menyediakan pendidikan formal di bidang musik masih begitu minim. Berbagai perguruan tinggi itu antara lain di USU jurusan etnomusikologi, di Nommensen jurusan seni, di Unimed jurusan seni dan tari. Fasilitas yang terdapat pada perguruan tinggi tersebut pun masih begitu terbatas. Hal ini bisa dilihat dari keterbatasan jumlah ruang serta kualitas ruangan yang sebenarnya kurang layak untuk sebuah perguruan tinggi di bidang musik yang sangat memperhatikan kualitas akustik dalam ruangan. Berbagai perguruan tinggi tersebut juga masih belum memiliki alat musik yang memadai, serta fasilitas gedung pertunjukan (auditorium) tersendiri.

(14)

I.2. Maksud dan Tujuan Proyek

Adapun maksud dan tujuan dari perencanaan Sekolah Tinggi Seni Musik di kota Medan ini, yaitu :

 Meningkatkan kualitas musisi kota Medan dan meningkatkan minat serta daya tarik terhadap musik bagi warga Kota Medan.

 Menghadirkan sebuah sarana untuk melanjutkan pendidikan formal di bidang musik, juga sebagai tempat diadakannya berbagai kegiatan pelatihan, seminar serta kegiatan pertemuan musik.

 Menyediakan fasilitas pertunjukan musik sebagai sarana penyaluran bakat bagi para pemusik dan juga sebagai sarana hiburan dan apresiasi bagi warga masyarakat kota Medan,

 Mengembangkan program pendidikan musik di Medan ke arah pendidikan profesional dalam mencetak para sarjana musik (Bachelor of Musik; Bmus) yang dapat bersinergi dengan tuntutan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni musik di tanah air.

I.3. Perumusan Masalah

Secara umum, perumusan masalah yang timbul yaitu bagaimana mendesain/ menerapkan bangunan Sekolah Tinggi Seni Musik di kota Medan yang berfungsi sebagai sarana pendidikan yang mampu mewadahi kebutuhan dan aktivitas sesuai fungsi serta tema yang diterapkan.

 Bagaimana mengisolir polusi suara dari lingkungan sekitar sehingga tidak mengganggu aktifitas belajar ataupun konser di dalama site mengingat proyek ini berhubungan erat dengan masalah suara.

 Bagaimana menghadirkan suasana alam terbuka dalam site namun tidak dimasuki oleh suara atau kebisingan dari luar site.

 Bagaiaman keterkaitan hubungan ruang antar fungsi publik, privat dan semi privat.

(15)

I.4. Metoda Pendekatan

Adapun metode-metode pendekatan yang dilakukan dalam mengerjakan proyek

―Sekolah Tinggi Seni Musik di Medan‖ yaitu melalui:

 Pemahaman terhadap kasus proyek yaitu Sekolah Tinggi Seni Musik di Medan melalui studi pustaka, mencakup pemahaman kebutuhan dan kelayakan akan lokasi, pola aktifitas yang terjadi di dalamnya dan kebutuhan akan ruang-ruang dan bentuknya.

 Pemahaman terhadap tema Arsitektur Simbolisme dan penerapannya ke dalam perancangan proyek Sekolah Tinggi Seni Musik di Medan.

 Berbagai studi banding kasus dan tema.

 Wawancara dengan masyarakat musik (seniman, dosen, pencinta musik).

 Data lokasi yang terpilih.

I.5. Lingkup dan Batasan Proyek

Lingkup batasan proyek yang menjadi batasan perancangan dalam proyek ini adalah :

 Memadukan perancangan bangunan secara rekreatif dan edukatif.

 Menyangkut masalah pemilihan lokasi site, dan peraturan pemerintah yang berlaku pada daerah di sekitar site.

 Fokus perancangan dikaitkan dengan aspek fisik dan non fisik perancangan yang menyangkut pemakai, pemgunjung, struktur, kebutuhan ruang, sirkulasi dalam dan luar. Perancangan tapak, massa bangunan, serta potensi pada lokasi.

(16)

I.6. Kerangka Berpikir

Gambar 1. Kerangka Berpikir

DATA PERENCANAAN  Data Tapak

 Studi Literatur  Studi Banding  Survei Lapangan  Wawancara TUJUAN DAN MANFAAT

 Sebagai tempat untuk melanjutkan pendidikan formal di bidang musik.

 Menyediakan fasilitas pertunjukan musik sebagai sarana penyaluran bakat bagi para pemusik dan juga

sebagai sarana hiburan dan apresiasi bagi warga masyarakat kota Medan,  Meningkatkan kualitas musisi kota Medan

 Menciptakan Sekolah Tinggi yang dapat membangkitkan minat seni dan kreatifitas penggunanya.

Desain Perancangan Konsep Perancangan

Konsep ruang luar, Konsep ruang dalam, Konsep massa, Konsep tema, Konsep struktur, Konsep utilitas. ANALISA

Analisa Tapak (Analisa Fisik) View, sirkulasi, pencapaian, orientasi,dll.

Analisa Fungsional (Analisa Nonfisik)

Pengguna, alur kegiatan, dll  Programming

Program ruang dalam dan ruang luar  Hubungan Antar ruang

LATAR BELAKANG

 Setiap orang berhubungan dengan musik.

 Medan terdapat banyak bibit – bibit Musisi yang handal

 Medan masih kekurangan fasilitas di bidang musik dan gedung pertunjukan musik yang memadai.  Medan memerlukan suatu lembaga pendidikan formal di bidang musik yang memiliki fasilitas musik

yang memadai.

PERUMUSAN MASALAH

 Bagaimana mengisolir polusi suara dari lingkungan sekitar sehingga

tidak mengganggu aktifitas belajar ataupun konser di dalama site

mengingat proyek ini berhubungan erat dengan masalah suara.  Bagaimana menghadirkan suasana alam terbuka dalam site namun

tidak dimasuki oleh suara atau kebisingan dari luar site.

 Bagaiaman hubungan dan keterkaitan ruang antar fungsi public,

private dan semi private.

 Bagaimana menerapkan tema dalam desain bangunan. Judul Perancangan Sekolah Tinggi Seni Musik di

Medan

(17)

I.7. Sistematika Penulisan Laporan

Secara garis besar, urutan pembahasan dalam penulisan laporan ini adalah sebagai berikut:

Bab I Pendahuluan, berisi kajian tentang latar belakang pembangunan Universitas

Musik Medan, maksud dan tujuan, masalah perancangan, lingkup dan batasan, dan metode pendekatan.

Bab II Deskripsi Proyek, berisi tentang pembahasan mengenai terminologi judul,

pemilihan lokasi, deskripsi kondisi eksisting, luas lahan, peraturan dan keistimewaan lahan, tinjauan fungsi dan studi banding arsitektur dengan fungsi sejenis.

Bab III Elaborasi Tema, menjelaskan tentang pengertian tema yang diambil,

interpretasi tema, keterkaitan tema dengan judul dan studi banding arsitektur dengan tema sejenis.

Bab IV Analisa Perancangan, menjelaskan tentang analisa kondisi tapak dan

lingkungan, analisa fungsional, analisa teknologi, analisa dan penerapan tema, serta kesimpulan.

Bab V Konsep Perancangan, menjelaskan konsep penerapan hasil analisis

(18)

BAB II DESKRIPSI PROYEK

II.1. Pengertian Judul

Judul dari proyek ini adalah Sekolah Tinggi Seni Musik di Medan. Berikut ini merupakan penjelasan terhadap judul kasus proyek tersebut.

Sekolah:

Sekolah adalah bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat

menerima dan memberi pelajaran (tinggi) menurut tingkatannya. (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

Sekolah Tinggi

 Sekolah Tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan ilmiah dan atau professional dalam satu disiplin ilmu tertentu.(Kamus Besar Bahasa Indonesia).

Seni :

 Segala proses dan produk dari invention, imajinasi dan ketrampilan manusia. Pada penggunaan kontemporer, defenisi seni biasanya direfleksikan pada kriteria estetika dan kondisi yang mungkin musik, drama, lukis, dan pahat/patung. (Dictionary of the Arts).

Musik :

 Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia:

 ilmu atau seni menyusun nada atau suara dalam urutan, kombinasi: dan hubungan temporal untuk menghasilkan komposisi (suara) yang mempunyai kesatuan dan kesinambungan.

 nada atau suara yang di susun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu dan keharmonisan (terutama yang menggunakan alat-alat yang dapat menghasilkan bunyi).

 Berdasarkan Ensiklopedi Nasional Indonesia:

 sebuah cetusan ekspresi perasaan atau pikiran yang dikeluarkan secara teratur dalam bentuk bunyi.

(19)

II.2. Tinjauan Umum

Tinjauan umum membahas tentang sistem pendidikan secara keseluruhan dan musik secara umum.

II.2.1 Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia

Sistem Pendidikan Nasional merupakan Keseluruhan komponen pendidikan yang saling terkait secara terpadu untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. Pelaksanaan pendidikan nasional dilandaskan kepada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

II.2.1.1 Jalur Pendidikan

Jalur pendidikan merupakan Wahana yang dilalui peserta didik untuk mengembangkan potensi diri dalam suatu proses pendidikan yang sesuai dengan tujuan pendidikan.

Jalur Pendidikan yang terdapat di Indonesia terdiri dari : 1. Pendidikan Formal

2. Pendidikan Non Formal 3. Pendidikan Informal

1. Pendidikan Formal

Pendidikan formal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri atas pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan tinggi.

(20)

a.Pendidikan Dasar

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar. Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjamin terselenggaranya wajib belajar bagi setiap warga negara yang berusia 6 (enam) tahun pada jenjang pendidikan dasar tanpa memungut biaya.

Pendidikan dasar berbentuk:

1) Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang sederajat.

2) Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat.

b.Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas:

1) Pendidikan menengah umum 2) Pendidikan menengah kejuruan. Pendidikan menengah berbentuk:

1) Sekolah Menengah Atas (SMA), 2) Madrasah Aliyah (MA),

3) Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dan

4) Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat. c.Pendidikan Tinggi

Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi. Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi.

Perguruan tinggi dapat berbentuk:

1) Akademi 4) Institut

(21)

2. Pendidikan Non Formal

Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan di luar pendidikan formal yang dapat dilaksanakan secara terstruktur dan berjenjang. Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan. Pendidikan nonformal meliputi pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik.

Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan/atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat.

Pendidikan nonformal berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian professional.

Menurut Departemen Pendidikan Nasional, pendidikan nonformal meliputi: a. Pendidikan kecakapan hidup

b. Pendidikan anak usia dini c. Pendidikan kepemudaan

d. Pendidikan pemberdayaan perempuan e. Pendidikan keaksaraan

f. Pendidikan keterampilan dan pelatihan kerja g. Pendidikan kesetaraan

h. Pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Satuan pendidikan nonformal terdiri atas:

a. Lembaga kursus b. Lembaga pelatihan c. Kelompok belajar

d. Pusat kegiatan belajar masyarakat

(22)

Kursus dan pelatihan diselenggarakan bagi masyarakat yang memerlukan bekal pengetahuan, keterampilan, kecakapan hidup, dan sikap untuk mengembangkan diri, mengembangkan profesi, bekerja, usaha mandiri, dan/atau melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Hasil pendidikan nonformal dapat dihargai setara dengan hasil program pendidikan formal setelah melalui proses penilaian penyetaraan oleh lembaga yang ditunjuk oleh Pemerintah atau Pemerintah Daerah dengan mengacu pada standar nasional pendidikan.

3. Pendidikan Informal

Pendidikan informal adalah jalur pendidikan keluarga dan lingkungan yang berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Hasil pendidikan informal diakui sama dengan pendidikan formal dan nonformal setelah peserta didik lulus ujian sesuai dengan standar nasional pendidikan.

Di samping jalur pendidikan tersebut terdapat berbagai jenis pendidikan lainnya menurut Departemen Pendidikan Nasional, antara lain :

1. Pendidikan Anak Usia Dini

Pendidikan anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar. Pendidikan anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal, dan/atau informal.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal berbentuk: 1. Taman Kanak-kanak (TK),

2. Raudatul Athfal (RA), atau bentuk lain yang sederajat.

Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan nonformal berbentuk: 1. Kelompok Bermain (KB),

2. Taman Penitipan Anak (TPA), atau bentuk lain yang sederajat.

(23)

2. Pendidikan Kedinasan

Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. Pendidikan kedinasan berfungsi meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam pelaksanaan tugas kedinasan bagi pegawai dan calon pegawai negeri suatu departemen atau lembaga pemerintah nondepartemen. Pendidikan kedinasan diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal dan nonformal.

3. Pendidikan Keagamaan

Pendidikan keagamaan diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau kelompok masyarakat dari pemeluk agama, sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Pendidikan keagamaan dapat diselenggarakan pada jalur pendidikan formal, nonformal, dan informal.

Pendidikan keagamaan berbentuk: 1. Pendidikan Diniyah

2. Pesantren 3. Pasraman

4. pabhaja samanera, dan bentuk lain yang sejenis. 4. Pendidikan Jarak Jauh

Pendidikan jarak jauh dapat diselenggarakan pada semua jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Pendidikan jarak jauh berfungsi memberikan layanan pendidikan kepada kelompok masyarakat yang tidak dapat mengikuti pendidikan secara tatap muka atau reguler. Pendidikan jarak jauh diselenggarakan dalam berbagai bentuk, modus, dan cakupan yang didukung oleh sarana dan layanan belajar serta sistem penilaian yang menjamin mutu lulusan sesuai dengan standar nasional pendidikan.

5. Pendidikan Khusus dan Pendidikan Layanan Khusus

(24)

terpencil atau terbelakang, masyarakat adat yang terpencil, dan/atau mengalami bencana alam, bencana sosial, dan tidak mampu dari segi ekonomi.

II.2.1.2 Jenis Perguruan Tinggi

Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi. Peserta didik perguruan tinggi disebut mahasiswa, sedangkan tenaga pendidik perguruan tinggi disebut dosen. Di Indonesia, perguruan tinggi dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, dan universitas. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan pendidikan akademik, profesi, dan vokasi dengan program pendidikan diploma (D1, D2, D3, D4), sarjana (S1), magister (S2), doktor (S3), dan spesialis.

Menurut Departemen Pendidikan Nasional, perguruan tinggi dapat berbentuk: 1) Akademi

2) Politeknik, 3) Sekolah tinggi, 4) Institut, atau 5) Universitas.

1) Akademi

Pendidikan akademik adalah pendidikan tinggi yang diarahkan terutama pada penguasaan dan pengembangan disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu, yang mencakup program pendidikan sarjana, magister, dan doktor. Akademi adalah seluruh lembaga pendidikan formal baik pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan kejuruan maupun perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan vokasi dalam satu cabang atau sebagian cabang ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni tertentu.

2) Politeknik

(25)

3) Sekolah Tinggi

Sekolah tinggi adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam lingkup satu disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

4) Institut

Institut adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam sekelompok disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi.

5) Universitas

Universitas adalah perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan akademik dan/atau vokasi dalam sejumlah ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau seni dan jika memenuhi syarat dapat menyelenggarakan pendidikan profesi. Kata universitas berasal dari bahasa Latin yang artinya adalah umum dan menyeluruh.

Berbagai jenis lembaga pendidikan lainnya yang tergolong dalam perguruan tinggi yang terdapat di Indonesia antara lain :

Pendidikan vokasi adalah pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan

keahlian terapan tertentu, yang mencakup program pendidikan diploma 1, diploma 2, diploma 3, dan diploma 4, maksimal setara dengan program pendidikan sarjana. Lulusan pendidikan vokasi akan mendapatkan gelar vokasi. Di Indonesia, gelar vokasi diatur oleh senat perguruan tinggi dan ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan singkatannya. Gelar vokasi yang ada di Indonesia antara lain adalah Ahli Pratama (A.P.) , Ahli Muda (A.Ma.) , Ahli Madya (A.Md.) , Sarjana Sains Terapan (S.S.T.)

Pendidikan profesi adalah pendidikan tinggi setelah program pendidikan sarjana

(26)

II.2.1.3 Gelar Akademik di Indonesia

Gelar akademik atau gelar akademis adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan akademik bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi. Gelar akademik kadangkala disebut dengan istilahnya dalam bahasa Belanda yaitu titel. Gelar akademik terdiri dari sarjana (bachelor), magister (master), dan doktor (doctor).

1. Sarjana (S1)

Kata sarjana berasal dari bahasa Sansekerta, dan dalam Bahasa Inggris disebut sebagai Bachelor. Sarjana adalah gelar akademik yang diberikan kepada lulusan program pendidikan sarjana (S1) atau undergraduate. Untuk mendapatkan gelar sarjana, biasanya dibutuhkan waktu selama 4 (empat) sampai 6 (enam) tahun dan harus menyelesaikan SKS (satuan kredit semester) sebanyak 144 SKS.

Sebelum tahun 1993, gelar sarjana yang ada di Indonesia antara lain Doktorandus (Drs.), Doktoranda (Dra.), dan Insinyur (Ir.). Setelah tahun 1993, penggunaan baku gelar sarjana yang ada di Indonesia antara lain Sarjana Ekonomi (S.E.), Sarjana Hukum (S.H.), Sarjana Teknik (S.T.), Sarjana Teknologi Pertanian (S.TP), Sarjana Agama (S.Ag.) dan Sarjana Pendidikan (S.Pd.). Gelar sarjana ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf S diikuti inisial bidang studi. Strata pendidikan Sarjana ini disebut sebagai Strata 1 atau biasa disingkat S1.

Gelar sarjana yang ada di Indonesia pada saat ini antara lain sebagai berikut :

- Sarjana Arsitektur (S.Ars. ) - Sarjana Komunikasi (S.Kom)

- Sarjana Agama (S.Ag. ) - Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos.)

- Sarjana Ekonomi (S.E. ) - Sarjana Kedokteran (S.Ked.)

- Sarjana Farmasi (S.F ) - Sarjana Kehutanan (S.Hut.)

- Sarjana Filsafat (S.Fil. ) - Sarjana Kedokteran Gigi (S.KG. )

- Sarjana Hukum (S.H. ) - Sarjana Ilmu Kedokteran Hewan

- Sarjana Hukum Islam (S.HI. ) (S.KH.)

- Sarjana Humaniora (S.Hum.) - Sarjana Keperawatan (S.Kep.) - Sarjana Ilmu Alam : Fisika, Biologi, - Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.Km.)

Kimia, Matematika (S.Si. ) - Sarjana Pendidikan (S.Pd. )

- Sarjana Ilmu Komputer (S.Komp) - Sarjana Seni (S.Seni)

(27)

- Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) - Sarjana Teknologi Pertanian (S.TP. )

- Sarjana Psikologi (S.Psi. ) - Sarjana Teknik (S.T. )

- Sarjana Sains (S.Si. ) - Sarjana Theologi (S.Th. )

- Sarjana Sains Terapan (S.ST. ) - Sarjana Pertanian (S.P. )

- Sarjana Sosial (S.Sos. ) - Sarjana Peternakan (S.Pt. )

- Sarjana Sastra (S.S. ) - Sarjana Perikanan (S.Pi. )

2. Magister (S2)

Gelar magister yang ada di Indonesia antara lain Magister Manajemen (M.M.), Magister Sains (M.Si.), dan Magister Teknik (M.T.). Gelar magister ditulis di belakang nama yang berhak dengan mencantumkan huruf M diikuti inisial bidang studi. Strata pendidikan Magister ini disebut sebagai Strata 2 atau biasa disingkat S2.

3. Doktor (S3)

Gelar doktor dari bidang studi apapun bergelar Doktor dan ditulis di depan nama yang berhak dengan mencantumkan singkatan Dr. Strata pendidikan Doktor ini disebut sebagai Strata 3 atau biasa disingkat S3.

Selain gelar Akademik , di Indonesia juga terdapat yang disebut Gelar Profesi. Gelar profesi adalah gelar yang diberikan kepada lulusan pendidikan profesi bidang studi tertentu dari suatu perguruan tinggi. Di Indonesia, gelar profesi diatur oleh senat perguruan tinggi dan organisasi profesi berdasarkan standar profesi yang terkait sebagai dan ditulis di belakang nama yang berhak. Gelar profesi yang ada di Indonesia antara lain :

- Dokter (dr.)

- Dokter gigi (drg.)

- Dokter spesialis (Sp.)

- Akuntan (Ak.)

(28)

II.2.1.4 Struktur Organisasi

Dari hasil studi banding literatur dan survey yang diperoleh, struktur organisasi dari Sekolah Tinggi Seni Musik yang akan dibangun nantinya adalah sebagai berikut :

(29)

II.2.2 Tinjauan Terhadap Musik II.2.2.1 Pengertian Musik

Banyak ahli telah mencoba memberikan definisi tentang musik, namun hingga saat ini belum ditemukan definisi musik yang memiliki pengertian paling lengkap. Berikut berbagai pengertian tentang musik :

Musik , dalam buku kamus besar bahasa Indonesia ,dapat diartikan sebagai nada atau

suara yang disusun sedemikian rupa sehingga mengandung irama, lagu , dan keharmonisan . Musik merupakan sebuah seni dan pengetahuan terhadap suara yang terorganisasi . Hal ini memanifest didalam setiap kebudayaan.

Musik secara etimologi , kata musik berasal dari bahasa Yunani ―mousikê‖ yang

berarti sebagai segala jenis seni ataupun pengetahuan yang diatur oleh muses . Musik

dalam bahasa latin ―musica‖ pada abad ke V terbagi dalam tiga major , yaitu musica

universalis ( yang termasuk order dari dunia dimana Tuhan menciptakannya dalam

―ukuran , angka , dan berat ) ; musica humana (mendesain daripada proporsi tubuh

manusia ) ; dan musica instrumentalis (musik sebagai suara yang dihasilkan dalam keteraturan ).( www.wikipedia.com)

Musik dalah suatu hasil karya seni bunyi dalam bentuk lagu atau komposisi musik

yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penciptanya melalui unsur-unsur musik yaitu irama, melodi, harmoni, bentuk dan struktur lagu dan ekspresi sebagai satu kesatuan. (Jamalus - 1988, 1)

Musik adalah pengalaman estetis yang tidak mudah dibandingkan pada setiap orang,

sebagaimana seseorang dapat mengatakan sesuatu dengan berbagai cara (Ewen 1963, vii-viii).

 ―Music is The science and art of the rhytmic combination of tones, vocal or

instrumental, embracing melody and harmony for the expression of anything possible

by this means, but chiefly emotional‖. Terjemahannya, ―Musik adalah Ilmu dan seni dari kombinasi ritmis nada-nada, vokal maupun instrumental, yang melibatkan melodi dan harmoni untuk mengekspresikan apa saja yang memungkinkan, namun khususnya bersifat emosional.‖(Ewen 1963, vii)

(30)

 Tchaikovsky berkata bahwa musik adalah ilham yang menurunkan kepada kita keindahan yang tiada taranya. Musik adalah logika bunyi yang tidak seperti sebuah buku teks atau sebuah pendapat. Ia merupakan suatu susunan vitalitas, suatu mimpi yang kaya akan bunyi, yang terorganisasi dan terkristalisasi.

Dari beberapa pendapat di atas dapat dipahami bahwa musik merupakan salah satu cabang seni pertunjukan seperti tari, drama, puisi, dan sebagainya. Sebagai sebuah karya seni, musik adalah ungkapan perasaan seseorang yang dituangkan lewat komposisi jalinan nada atau melodi, baik dalam bentuk karya vokal maupun instrumental. Di samping itu musik adalah suatu karya seni yang tersusun atas kesatuan unsur-unsur seperti irama, melodi, harmoni, bentuk atau struktur, dan ekspresi.

Alat musik adalah suatu instrumen yang dibuat atau dimodifikasi untuk tujuan menghasilkan musik. Pada prinsipnya, segala sesuatu yang memproduksi suara, dan dengan cara tertentu bisa diatur oleh musisi, dapat disebut sebagai alat musik. Walaupun demikian, istilah ini umumnya diperuntukkan bagi alat yang khusus ditujukan untuk musik.

Jenis – Jenis alat musik berdasarkan sumber bunyinya

Idiofon, adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari bahan dasarnya.

Contoh: kolintang, drum, bongo, kabasa, angklung.

Aerofon, adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari hembusan udara

pada rongga. Contoh: suling, terompet, harmonika, trombone.

Chordofon, adalah alat musik yang sumber bunyinya berasal dari dawai.

Contoh: bass, gitar, biola, gitar, sitar, piano, kecapi

Membranofon, adalah alat musik yang sumber bunyinya dari selaput atau

membran. contoh : tifa, drum, kendang, tam-tam, rebana

Elektrofon, adalah alat musik yang sumber bunyinya dibangkitkan oleh tenaga

(31)

Musik memiliki berbagai elemen ataupun unsur yang menjadi bagian dari tubuh musik musik itu sendiri. Berbagai elemen tersebut adalah sebagai berikut :

Suara. Teori musik menjelaskan bagaimana suara dinotasikan atau dituliskan dan

bagaimana suara tersebut ditangkap dalam benak pendengarnya. Dalam musik, gelombang suara biasanya dibahas tidak dalam panjang gelombangnya maupun periodenya, melainkan dalam frekuensinya. Aspek-aspek dasar suara dalam musik biasanya dijelaskan dalam tala (Inggris: pitch, yaitu tinggi nada), durasi (berapa lama suara ada), intensitas, dan timbre (warna bunyi).

Nada. Suara dapat dibagi-bagi ke dalam nada yang memiliki tinggi nada atau tala

tertentu menurut frekuensinya ataupun menurut jarak relatif tinggi nada tersebut terhadap tinggi nada patokan. Perbedaan tala antara dua nada disebut sebagai interval. Nada dapat diatur dalam tangga nada yang berbeda-beda. Tangga nada yang paling lazim adalah tangga nada mayor, tangga nada minor, dan tangga nada pentatonik. Nada dasar suatu karya musik menentukan frekuensi tiap nada dalam karya tersebut.

Ritme. Ritme adalah pengaturan bunyi dalam waktu. Birama merupakan

pembagian kelompok ketukan dalam waktu. Tanda birama menunjukkan jumlah ketukan dalam birama dan not mana yang dihitung dan dianggap sebagai satu ketukan. Nada-nada tertentu dapat diaksentuasi dengan pemberian tekanan (dan pembedaan durasi).

Notasi. Notasi musik merupakan penggambaran tertulis atas musik. Dalam notasi

balok, tinggi nada digambarkan secara vertikal sedangkan waktu (ritme) digambarkan secara horisontal. Kedua unsur tersebut membentuk paranada, di samping petunjuk-petunjuk nada dasar, tempo, dinamika, dan sebagainya.

Melodi. Melodi adalah serangkaian nada dalam waktu. Rangkaian tersebut dapat

dibunyikan sendirian, yaitu tanpa iringan, atau dapat merupakan bagian dari rangkaian akord dalam waktu (biasanya merupakan rangkaian nada tertinggi dalam akord-akord tersebut).

Harmoni. Harmoni secara umum dapat dikatakan sebagai kejadian dua atau lebih

(32)

II.2.2.2 Sejarah Musik

Perkembangan musik klasik dapat dikelompokkan dengan berbagai sistem. Sebagai contoh ialah yang mengacu pada perkembangan tekstur musikal, seperti periodesasi yang di buat oleh Ewen (1963:7-13). Sementara itu Stein (1963) merdasarkan periodesasi historis musik klasik atas prosedur komposisi dan bentuk musik. Menurut sitem tersebut taksonomi historis musik klasik adalah sebagai berikut: Era Abad Pertengahan (300-1000), Romanesque (1000-1150), Ars Antiqua (1150- 1300), Ars Nova (1300-1400), Renaisans Awal (1400-1500), Renaisans Tinggi (1500-1600), Barok (1600-1750), Rococo (1725-1778), Klasikisme (1750-1827), Romantikisme (1800-1900), Impresionisme (1880-1918), dan Abad ke-20 (1900 hingga sekarang). Berikut ini akan dipaparkan sejarah musik di dunia menurut pembagian jamannya.

Era Kuno / Antiquity (sebelum tahun 500 M)

Musik Barat Awal terbentuk oleh tiga komponen budaya meliputi tradisi-tradisi yang tidak sepenuhnya Eropa: Pertama, Timur Tengah dan Mesir Kuno (daerah Mesopotamia di sekitar sungai Tigris dan Euphrate yang didiami suku-suku bangsa Sumeria, Babylonia, dan Assyria) meninggalkan artefak gambar-gambar instrumen musik yang sudah lengkap (idiofon, aerofon, kordofon, dan membranofon) untuk memainkan himne yang diukir pada batu tahun 800 SM. Lima ratus tahun kemudian Bangsa Mesir melakukan hal yang sama, sedangkan bangsa Yahudi tercatat sejak tahun 2000 SM dan didokumentasikan dalam Kitab Perjanjian Lama yang lebih berkembang karena kemudian diadobsi dan diadaptasikan dalam liturgi agama Kristen kemudian. Tradisi peribadatan Yahudi di synagoge (kuil) berupa gaya menyanyi silabis dan melismatis hingga kini tetap digunakan di seluruh dunia.

(33)

etos seperti yang dijelaskan filsuf Plato dan Aristoteles meyakini bahwa musik memberikan efek langsung pada perilaku seseorang yang mendengarkannya. Akibatnya, sistem sosial dan politik menjadi belit-membelit dengan musik, pendidikan berfokus pada musik dan olahraga senam (musica dan gymnastica), bahkan untuk membentuk tatanan fundamental masyarakat dilakukan rasionalisasi musik seperti: penalaan nada, memilih instrumen musik, mencipta modus dan ritme-ritme. Ahli matematik Pythagoras menjadi orang pertama yang meneliti perbandingan-perbandingan getaran dawai dan menetapkan urutan nada-nada yang hingga kini menjadi dasar sistem musik diatonik. Ketiga, Romawi Kuno, bilamana budaya musikal wilayah Mediterania timur dicangkok-kan ke dalam wilayah Mediterania barat oleh kembalinya serdadu-serdau Romawi, maka modifikasi dengan berbagai selera dan tradisi-tradisi lokal yang ada tak bisa dihindarkan. Modifikasi nyatanya bahkan hanya lebih menyederhanakan saja dari model-model yang diadobsi. Tangga nada diatonik (tujuh nada) dijadikan standar menggantikan struktur-struktur kromatik dan enharmonik dari sistem musik Yunani. Romawi tidak memiliki kekayaan warisan musikal berupa: teori akustik, konsep modus, pengelompokan ritme, organologi instrumen musik, sistem notasi yang meliputi pitch dan durasi, dan banyak repertoar 29 berupa melodi-melodi yang digunakan untuk contoh-contoh pada komposisi selanjutnya.

Era Abad Pertengahan (Medieval Era) 600-1450

Meliputi suatu periode masa yang paling panjang terkait dengan semua kehidupan dan seni untuk pelayanan gereja. Musik untuk keperluan ibadat, sebagai alat utama untuk memahami karya-karya Tuhan Allah. Mewarisi modus-modus Yunani, bangsa Romawi yang kristen mengembangkan modus-modus gereja sebagai sistem tangga nada yang hingga kini masih digunakan dalam berbagai peribadatan kristen. Standarisasi dalam berbagai lapangan pengetahuan juga terjadi dalam musik, biarawan dan teoretikus musik

Guido d‘Arezzo merancang sistem menyanyi yang dinamakan ‘solmisasi‘. Pemimpin gereja Paus Gregorius I mengatur penggunaan lagu-lagu pujian untuk peribadatan gereja yang dikenal dengan Gregorian chant.

(34)

penting seperti Francisco Landini, Giovanni da Cascia, dan Jacopo da Bologna. Untuk pertama kali di Paris para pencipta musik Léonin dan Perotin yang notabene adalah biarawan Katedral Notre-Dame disebut sebagai komposer-komposer ‖Aliran Notre

-Dame‖ (The Notre-Dame School). Sebuah risalah penting berjudul Ars Nova (Seni Baru) oleh Philippe de Vitry muncul lebih awal pada abad ke-14 dan sekaligus menunjukkan bahwa seni yang berkembang sebelumnya menjadi kuno.

Era Renaisans (1450-1600)

Berwatak klasik, pengekangan, menahan diri, dan kalem. Selain tertarik pada kebudayaan Yunani Kuno, juga berkembang humanisme khususnya di Italia dan fundamentalisme di Eropa Utara, tetapi sarat dengan penemuan ilmiah. Kebudayaan termasuk musik berkembang baik di dalam maupun di luar gereja. Manusia seperti telah menemukan kembali jati dirinya terutama tampak pada idealisme kaum Protestan yang meyakini bahwa manusia bisa berhubungan langsung dengan Tuhan-nya. Melodi dan tekstur musik masih menggunakan modus-modus sebelumnya, tetapi akord-akord mulai disusun dengan cara menghubungkan melodi-melodi yang menghasilkan konsonan atau disonan. Selain musik vokal, era ini ditandai mulainya komposisi solo dengan iringan ansambel instrumental. Selama abad ke-16 musik instrumental merangkak naik cepat terkait dengan perkembangan teknikteknik permainan instrumen yang idiomatis seperti ritme-ritme beraksen kuat, nada-nada yang diulang-ulang, wilayah nada semakin luas dan panjang, nada-nada yang ditahan dan frase-frase, dan banyak ornamentasi melodi. Renaisans dapat diartikan sebagai periode dalam Sejarah Eropa Barat dimana manusia mulai melakukan eksplorasi terhadap dunia, baik melalui perjalanan atau penjelajahan ke Timur maupun ke Selatan belahan bumi, tetapi mereka juga gemar mengembangkan ilmu pengetahuan dan kesenian. Oleh karena pikiran manusia menjadi semakin bebas, maka musik sekuler mulai muncul dan berkembang pula musik-musik instrumental yang semula kurang mendapatkan tempat di lingkungan tradisi gereja. Tetapi musik gereja tetap sangat penting dan gaya polifonik vokal sangat berkembang pada periode ini.

Era Barok (1600-1750)

(35)

menggunakan tangga nada diatonik sebenarnya berlangsung hingga pada awal abad ke-20, selebihnya musik modern mulai banyak yang meninggalkan sistem diatonik itu. Sekalipun kata Perancis Baroque; Inggris/Jerman: Barock; Italy: Barocco—semua

menunjuk pada kata sifat ‘bizaree‘ (aneh, ajaib, dan ganjil)—pada mulanya berkonotasi buruk, digunakan untuk tujuan menghina, merendahkan, dan abnormal; tetapi definisinya semakin menjadi positif, agung, dramatik, dan bahkan mengandung spirit kuat dalam seni. Spirit itu diperlukan untuk mengembangkan kekayaan musikal dan menumbuhkan dengan cepat teknik-teknik yang diperlukan. Dua gaya musik yang terpenting adalah gaya antik (prima prattica, stile antico) dan (sconda prattica, stile moderno) yang lebih teatrikal daripada yang pertama.

Dua gaya musikal yang sangat berbeda dari Renaisans adalah gaya musik concertato dan basso continuo. Gaya pertama menerapkan teknik kontras, kombinasi, dan alternasi antara solo dan iringan; sedangkan yang kedua teknik menggarap iringan musik berbasis nada-nada bas (nada paling bawah). Dua gaya itu banyak digunakan dalam komposisi instrumental yang menjadikan era ini merupakan masa gemilang musik instrumental seperti jenis musik ‖sonata‖ dan ‖concerto‖. Musik hiburan (entertainment music) secara bertahap mulai berkembang baik secara kualitas maupun kuantitasnya dan memperkaya musik gereja yang sudah ada. Mulai tahun 1700 beberapa bentuk musik berbeda muncul seperti solo sonata, trio sonata, suita tarian, dan concerto grosso.

Era Klasik (1750-1820)

(36)

Kata ―klasik‖ bermakna sesuatu yang ber-‗kelas‘ tinggi, bukan sesuatu yang berkualitas sembarangan. Musik klasik (semua musik serius) termasuk dalam kategori itu, tetapi era Klasik tidak mendadak menemukan jati-dirinya melainkan dimulai oleh gaya rokoko yang riang (galant style) khususnya di Perancis dan gaya sentimental (empfindsamer stil) yang dikembangkan pada tahun 1750 hingga 1760- an di Jerman.

Perubahan fundamental gaya musikal Klasik dari Barok diinspirasikan oleh Rokoko yang memurnikan kembali idealisme klasik Yunani Kuno oleh para komposer hebat seperti Joseph Haydn, Wolgang Amadeus Mozart, Christoph Willibald Gluck, dan Ludwig van Beethoven. Untuk pertama kali dalam sejarah musik bahwa musik instrumental lebih penting daripada musik vokal. Orkestra dan musik kamar seperti kuartet, kuintet, dan trio piano—dijadikan standar dan menggantikan dominasi ansambel-ansambel Barok. Polifoni digantikan gaya homofoni yang membedakan fungsi melodi dan progresi akord-akord sebagai iringan. Bentuk musik (musical form) terpenting adalah bentuk sonata (sonata form) yang digunakan pada simfoni, sonata, dan konserto.

Era Romantik (1820-1900)

Komposer-komposer Jerman seperti Beethoven merespon gerakan Sturm und Drang dan menjadikan pergantian gaya musikal dan sikap estetik yang lebih personal, nasionalistik, bebas, dan menjadikan ciri khas Romantik. Batasan romantik berasal dari sastra Jerman pada akhir abad ke-18, seorang penulis Franco-Swiss bernama Mme de Staël mengaitkan gagasan-gagasan baru dengan gerakan yang terjadi pada tahun 1813 sebagai sesuatu yang asli, modern, populer, natural, religius, dan pemberlakuan institusi-institusi sosial. Maka musik Romantik berbeda dari gaya sebelumnya dan acapkali dikatakan berlawanan dengan Klasik karena wataknya yang emosional, subjektif, nasionalis, individual, eksotis, melarikan diri, nafsu bebas, dan bahkan tidak rasional.

(37)

kemungkinan-kemungkinan baru secara idiomatis pada perwatakan instrumen digali dan dikembangkan. Elemen-elemen harmoni dan tonal terus-menerus dikembangkan selama abad itu, dengan kromatikisme, sonoritas diperkaya misalnya dengan akord tujuh dan akord sembilan, dan bunyi-bunyi yang nonharmonis banyak digunakan secara lebih bebas. Modulasi-modulasi semakin menjauh dari tonalnya, tetapi musik masih berpusat pada melodi dan harmoni.

Era Kontemporer 1900-Sekarang

Periode ini dalam sejarah musik sering disebut sebagai periode Modern sejak tahun 1900 sebagai titik awalnya. Era kontemporer musik dipicu oleh peran komposer-komposer Romantik yang mengembangkan gaya nasionalistik terutama yang berkembang di negara negara Eropa Timur. Romantik di Eropa Timur banyak menghadirkan musik yang bernuansa budaya nasional, idiom-idiom lokal, dan tertarik dengan keindahan pemandangan alam setempat. Claude Debussy dan Maurice Ravel mereka adalah komposerkomposer Perancis yang mengawali periode komtemporer dengan gaya impresionisme. Musik era ini menggunakan pola-pola ritme yang tak berbentuk, tangga nada whole-tone, konsep tentang hubungan bebas pada harmoni-harmoni berdekatan, dan tekstur-tektur kalaedokopik dari impresionisme musikal.

(38)

II.2.2.3 Pendidikan Musik

Pendidikan musik adalah suatu cabang pendidikan yang berkonsentrasi di pengajaran

dan pembelajaran musik. Selain mengajarkan teori-teori musik, pendidikan musik diharapkan untuk dapat mengembangkan seseorang secara keseluruhan. Hal itu mencakup pada mengapresiasi musik dan kepekaan terhadap musik. Pendidikan musik mengembangkan kemampuan saraf motorik bagi siswa yang memainkan alat musik. dan pendidikan ini menegembangkan kemampuan seseorang melalui pengenalan dan intrepretasi pada simbol dan notasi musik. Pada pendidikan dasar, musik juga termasuk dari salah satu bagian kurikulumnya. (www.wikipedia.com)

Di Amerika, sejarah pendidikan musik formal dimulai pada abad ke 18 yaitu diterbitkannya berbagai buku musik yang bersifat pengajaran dan edukatif. Pada abad ke 19, dibentuknya Boston Acadamy of Music oleh Lowell Mason yang menjadi sekolah musik formal pertama di dunia dan selanjutnya menjadi panutan dan standar untuk pembangunan sekolah musik lainnya. Pada abad ke 20, sudah dibentuk suatu organisasi yang bergerak di bidang musik dan mulai diadakannya gelar Bachelor of Music pada pendidikan formal musik. Hingga pada saat ini, di Amerika sudah terdapat banyak sekolah musik formal, baik pada tingkat pendidikan dasar, menengah, hingga pada jenjang pendidikan tinggi.

Sekolah tinggi di bidang musik juga biasa disebut dengan Conservatory. Conservatory berasal dari bahasa Perancis yakni Conservatoire adalah lembaga perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan musik formal di bidang performance, teori musik, sejarah musik, memainkan alat musik dan penulisan lagu. Berbagai macam gelar pendidikan musik yang umum di luar negeri adalah Bachelor of Art in Music, Bachelor of Art in Music Education, Master of Art in Music, Doctor of Music.

(39)

II.2.2.4 Kurikulum Pendidikan Musik

Melalui hasil studi banding diketahui bahwa Kurikulum musik pada umumnya dapat dibagi ke dalam dua pembagian utama menurut sifatnya, yaitu Teori Musik dan Praktek Musik.

Teori musik merupakan cabang ilmu yang menjelaskan unsur-unsur musik. Cabang

ilmu ini mencakup pengembangan dan penerapan metode untuk menganalisis maupun menggubah musik, dan keterkaitan antara notasi musik dan pembawaan musik.

Hal-hal yang dipelajari dalam teori musik mencakup misalnya suara, nada, notasi, ritme, melodi, Kontrapun Musik, harmoni, Bentuk Musik, Teori Mencipta Lagu, dsb.

Adapun mata kuliah yang termasuk ke dalam kategori teori musik ini antara lain :

 Music History ( 2 SKS )

 English for Musician ( 2 SKS )

 Basic Aranging ( 2 SKS )

 Song Writing ( 2 SKS )

 Music Theory & Harmony (2 x 2 SKS = 4 SKS)

 Ear Training (4 x 2 SKS = 8 SKS)

 Expression & Interpretation ( 2 SKS )

 Music Research Paper ( 4 SKS )

 Final Project ( 8 SKS )

 Live Band Workshop – Jurusan Pop Music (8 SKS)

 Rhytm learning (4 x 3 SKS = 12 SKS )

 Sightreading ( 4 x 3 SKS = 12 SKS )

 Midi Sequencing ( 2 x 3 SKS = 6 SKS )

Praktek Musik merupakan Praktek musik berupa pembelajaran musik secara

praktikal. Yang termasuk dalam praktek musik adalah sebagai berikut :

 Major (Instrument / Voice) ( 4 x 3 SKS = 12 SKS )

 Ensemble ( 4 x 3 SKS = 12 SKS )

 Performance Class ( 3 x 3 = 9 SKS )

(40)

Untuk Mata Kuliah Pilihan terdapat 24 mata kuliah pilihan yang termasuk dalam kategori teori musik masing – masing sebanyak 2 SKS, berarti total jumlah SKS untuk mata kuliah pilihan adalah 48 SKS.

Mahasiswa diwajibkan mengambil seluruh mata kuliah wajib dan 20 mata kuliah pilihan. Untuk memperoleh Gelar Sarjana (S1) mahasiswa diwajibkan menyelesaikan SKS sebanyak 144 SKS.

[image:40.595.165.515.278.632.2]

Jenis pembagian jurusan major instrument / voice pada Universitas Musik adalah sebagai berikut :

Gambar 3. Skema Pembagian Kurikulum Major Study

TRADISIONAL POP

CONTEMPORER

MAJOR

- Piano - Guitar - Keyboard - Bass - Drum -Vokal - Gamelan

(41)

II.3. Lokasi Proyek

Lokasi proyek disesuaikan dengan kebijakan pemerintah terhadap pertuntukan lahan kota. Berdasarkan RUTRK (Rencana Umum Tata Ruang Kota). Wilayah Kotamadya Daerah tingkat II Medan ditetapkan menjadi 5 wilayah pengembangan Pembangunan (WPP), yaitu:

WPP Kecamatan Pusat

Pengembangan

Peruntukan Wilayah

Program Pembangunan

A M. Belawan

M. Marelan

M. Labuhan

BELAWAN Pelabuhan, Industri,

Permukiman,

Rekreasi, Maritim

Jalan baru, jaringan air

minum, septic tank,

sarana pendidikan dan

permukiman.

B M. Deli TJ. MULIA Perkantoran,

Perdagangan,

Rekreasi Indoor,

Permukiman

Jalan baru, jaringan air

minum, pembuangan

sampah, sarana

pendidikan.

C M. Timur

M. Perjuangan

M. Tembung

M. Area

M. Denai

M. Amplas

AKSARA Permukiman,

Perdagangan,

Rekreasi

Sambungan air

minum, septic tank,

jalan baru, rumah

permanen, sarana

pendidikan dan

kesehatan.

D M. Johor

M. Baru

M. Kota

M. Maimoon

M Polonia

INTI KOTA CBD, Pusat

Pemerintahan,

Hutan Kota, Pusat

Pendidikan, Perkantoran, Rekreasi Indoor, Permukiman Perumahan permanen, pembuangan sampah, sarana pendidikan.

E M. Barat

M. Helvetia SEI SEKAMBING Permukiman, Perkantoran, Sambungan air

(42)

M. Petisah M. Sunggal M. Selayang M. Tuntungan Perdagangan, Konservasi, Rekreasi, Lapangan

Golf, Hutan Kota

jalan baru, rumah

permanen, sarana

pendidikan dan

[image:42.595.81.509.254.604.2]

kesehatan.

Tabel 1. Pembagian Wilayah Pengembangan Pembangunan Kota Medan.

Keberadaan kawasan perencanaan dapat dilihat pada peta di bawah ini :

WPP D

CBD, Pusat

Pemerintahan, Hutan

Kota, Pusat

Pendidikan, Perkantoran,

Rekreasi Indoor, Permukiman WPP E Permukiman, Perkantoran, Perdagangan, Konservasi,

Rekreasi, Lapangan Golf, Hutan Kota

WPP A

Pelabuhan, Industri, Permukiman, Rekreasi, Maritim WPP B Perkantoran, Perdagangan, Rekreasi Indoor, Permukiman

Gambar 4. Peta Wilayah Pengembangan Pembangunan Kota Medan

WPP C

Permukiman,

(43)

II.3.1 Kriteria Pemilihan Lokasi

NO KRITERIA LOKASI

1 Tinjauan Terhadap Struktrur kota Lokasi yang dipilih berdasarkan wilayah pusat kota, dekat dengan hotel, perkantoran, kampus, permukiman, mengingat kasus proyek memiliki fungsi sarana edukatif, komunikatif dan kreatif. Dari tabel di atas, maka lokasi tapak berada pada WPP C, dimana lokasi tapak yang merupakan kawasan pembangunan sarana pendidikan .

2 Pencapaian Dapat diakses dari seluruh penjuru kota, baik angkutan umum maupun pribadi, Idealnya lokasi proyek terletak di sudut atau persimpangan jalan, sehingga memiliki berbagai akses masuk ke dalam site baik dari jalan primer maupun jalan sekunder.

3 Potensi kawasan Adanya fasilitas-fasilitas yang berhubungan dengan pendidikan seperti toko-toko alat tulis, alat-alat kantor, fotokopi dan lain sebagainya.

4 Area Pelayanan Berdasarkan RUTRK tentang Konsep Pola Hierarki Fasilitas Pelayanan Kota adalah antara 2-3 km. Adapun kriteria untuk area pelayanannya yaitu merupakan lingkungan permukiman dan pendidikan.

5 Status Kepemilikan Status kepemilikan lahan proyek dan proyek Sekolah Tinggi Musik ini diasumsikan sebagai milik swasta dan sepenuhnya dikelola oleh pihak swasta.

(44)

II.3.2 Analisis Pemilihan Lokasi

Berikut akan diuraikan tentang analisis pemilihan lokasi yang tepat bagi Sekolah Tinggi Musik Medan.

II.3.2.1 Alternatif Pemilihan Lokasi

- Alternatif I

Jl. Perintis kemerdekaan

 Batas Utara : Jln. Perintis Kemerdekaan dan Perkantoran

 Batas Timur : Jln. Timor dan Kampus Nommensen

 Batas Selatan : Jln. Sena dan perumahan penduduk

 Batas Barat : Jln. Gaharu

 Luas Lahan : ± 2,6 Ha (± 26.000 m2)

 Potensi Lahan :

o Terletak di pusat kota

o Berada pada kawasan pendidikan dan pariwisata o Transportasi lancar dan baik

[image:44.595.130.464.447.710.2]

o Luas site mendukung + 2,6 Ha o Memiliki jalur utilitas yang baik.

Gambar 5. Peta Lokasi Alternatif Site I

(45)

- Alternatif II

Jl. Perintis kemerdekaan – Jl. Sutomo Ujung Batas-batas :

 Utara : Jalan IAIN

 Timur : Jalan Adinegoro

 Barat : Jalan Sutomo Ujung

 Selatan : Jalan Perintis Kemerdekaan

 Luas Lahan : ± 1,7 Ha ( ±17.000 m2)

 Potensi lahan :

oTerletak di pusat kota

oBerada pada jalan arteri sekunder, yaitu Jalan Perintis Kemerdekaan oPencapaian site mudah karena banyak angkutan umum yang melewati site oKawasan telah dikenal sangat baik oleh penduduk kota Medan.

oSite cukup strategis karena terletak di persimpangan dan di depan Hotel Grand

[image:45.595.108.453.441.714.2]

Angkasa Medan, sehingga mudah dicapai.

Gambar 6. Peta Lokasi Alternatif Site II

(46)

- Alternatif III

Jalan Sudirman

 Utara : Jl. Sudirman, Hotel Polonia, Sekolah Imanuel Medan.

 Timur : Jl. Slamet Riyadi,Taman Ahmad Yani.

 Selatan : Jl. H.Misbah, Pemukiman.

 Barat : Jl. R4ai, Pemukiman.

 Luas Lahan : ± 1,9 Ha (± 19.000 m2)

 Potensi Lahan :

oBerada pada kawasan pendidikan dan permukiman. oBanyak terdapat perumahan kalangan menengah atas.

[image:46.595.93.452.92.659.2]

oTransportasi lancar dan baik. oMemiliki jalur utilitas yang baik.

(47)

Tabel 3. Perbandingan alternatif lokasi

II.3.2.2 Penilaian Alternatif Lokasi

Kriteria Lokasi

Alternatif 1 Alternatif 2 Alternatif 3 Luas lahan (2)

2.6Ha

(2)

1.7 Ha

(3)

1,9 Ha

Tingkatan Jalan (3) Jalan Arteri Primer

(3)

Jalan Arteri Primer

(3)

Jalan Arteri Primer

Pencapaian ke Lokasi (3)

Mudah karena dapat

diakses dari segala

penjuru Medan baik

dengan kendaraan pribadi

maupun angkutan umum

(3)

Mudah karena dapat

diakses dari segala

penjuru Medan baik

dengan kendaraan pribadi

maupun angkutan umum

(3)

Mudah karena dapat

diakses dari segala

penjuru Medan baik

dengan kendaraan pribadi

maupun angkutan umum

Jangkauan terhadap Struktur kota

(3)

Berada dipusat kota dan

merupakan daerah pengembangan pendidikan, kesehatan, pemukiman, dan perkantoran (3)

Berada dipusat kota dan

merupakan daerah pengembangan pendidikan, kesehatan, pemukiman, dan perkantoran. (3)

Berada dipusat kota dan

merupakan daerah

pengembangan

pendidikan, kesehatan,

pemukiman, dan

perkantoran.

Fungsi Pendukung sekitar

lokasi

(3)

Pertokoan, kantor, plaza,

hotel, pendidikan, sarana

pariwisata lainnya.

(3)

Perkantoran ,hotel,

pendidikan, sarana

pariwisata lainnya,

pemukiman mewah .

(3)

Perkantoran ,hotel,

pendidikan, sarana

pariwisata lainnya,

pemukiman mewah .

RUTRK (Pengembangan Perdagangan dan Rekreasi) (3) Sesuai (3) Sesuai (1) Kurang sesuai

Fungsi eksisting (3) Lahan kosong dan

perumahan (2) Institut Musik Gedung Kebudayaan (3) RumahTinggal, bangunan kolonial

Kontur Realtif datar Realtif datar Realtif datar

Pengenalan Entrance (3)  Baik Sekali  Berada di

persimpangan jalan

(2)  Baik  Berada pada

persimpangan jalan .

(1) Baik  Berada pada

pertemuan jalan

Total Nilai 23 21 20

(48)

Berdasarkan potensi kawasan yang ada dan juga berbagai pertimbangan atas dasar kriteria pemilihan lokasi proyek maka lokasi tapak di Jalan Perintis Kemerdekaan Medan dipilih menjadi lokasi proyek.

II.3.3 Kondisi Eksisting Lokasi Proyek

 Lokasi Proyek : Jln. Perintis Kemerdekaan, Kecamatan Medan Timur, Kotamadya Medan, Sumatera Utara , Indonesia.

 Batas – Batas Site

 Batas Utara : Jln. Perintis Kemerdekaan dan Perkantoran

 Batas Timur : Jln. Timor dan Kampus Nommensen

 Batas Selatan : Jln. Sena dan perumahan penduduk

 Batas Barat : Jln. Gaharu

 Luas Lahan : ± 2,6 Ha (± 26.000 m2)

 Kontur : Datar

 KDB : 60 %

 KLB : 3-5 lantai

 GSB:

 Jln. Perintis Kemerdekaan : 7 meter

 Jln. Gaharu : 6 meter

 Jln. Kemuning : 3,5 meter

 Jln. Timor : 5,3 meter

 Bangunan Existing : Lahan Kosong

 Potensi Lahan :

o Terletak dipusat kota

o Berada pada kawasan pendidikan dan pariwisata o Transportasi lancar dan baik

o Luas site mendukung ± 2,6 Ha

(49)

KETERANGAN Jalan dengan kepadatan tinggi

Jalan dengan kepadatan sedang

Gambar 8. Kondisi Existing Site

Rumah Penduduk 1 lantai di jalan Gaharu.

Kawasan Perkantoran Kawasan Perkantoran

(50)

II.4. Tinjauan Fungsi Bangunan

II.4.1 Deskripsi Pengguna dan Kegiatan

Beberapa pemakai gedung Sekolah Tinggi Seni Musik ini berdasarkan hasil survey dan data literature antara lain adalah :

1. Murid / Mahasiswa

Mahasiswa merupakan orang yang melanjutkan jenjang pendidikan setelah menyelesaikan pendidikan SMA. Syarat orang yang dapat kuliah di Institut Musik Medan ini adalah memiliki sertifikat ijazah SMA atau juga orang yang memiliki keahlian yang khusus yang harus melewati ujian saringan secara khusus atau memiliki latar belakang keahlian dan pengalaman musik atau memiliki surat rekomendasi dari instansi atau pihak tertentu yang dapat dipercaya.

2. Dosen / Staff Pengajar

Dosen adalah pendidik profesional dan ilmuwan dengan tugas utama mentransformasikan, mengembangkan, dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Secara garis besar, dosen yang mengajar di Sekolah Tinggi Seni Musik ini terbagi atas beberapa bagian pengajaran, yakni :

 Dosen Vokal

 Dosen Alat Musik

 Dosen Teori Musik 3. Pengunjung

Sekolah Tinggi Seni Musik ini terbuka untuk umum. Masyarakat umum boleh datang mengunjungi dan melakukan berbagai aktivitas dan keperluan tertentu di Sekolah Tinggi Seni Musik. Namun daerah yang dapat diakses terbatas, yaitu perpustakaan , daerah pertunjukan (auditorium), ruang – ruang

Gambar

Gambar 3. Skema Pembagian Kurikulum Major Study
Tabel 1. Pembagian Wilayah Pengembangan Pembangunan Kota Medan.
Gambar 5. Peta Lokasi Alternatif Site I
Gambar 6. Peta Lokasi Alternatif Site II
+7

Referensi

Dokumen terkait

Akademi adalah seluruh lembaga pendidikan formal baik pendidikan anak usia dini, pendidikan dasar, pendidikan menengah, pendidikan kejuruan maupun perguruan tinggi

Merencanakan dan merancang STSI di Semarang serta meningkatkan mutu pendidikan berlandaskan seni dan tradisi budaya bangsa dengan penguasaan teknologi yang sesuai, sehingga

Oleh karena itu, untuk mengatasi hal tersebut perlu adanya wadah yang dapat mewadahi kebutuhan dan keinginan masyarakat dalam bidang seni musik yaitu perancangan

perguruan tinggi yang menyelenggarakan program pendidikan akademik dalam sejumlah disiplin ilmu pengetahuan, teknologi, seni, dan olahraga, serta jika memenuhi

Pembangunan ilmu pengetahuan dan teknologi harus ditunjang oleh kemampuan pemanfaatan, pengembangan, dan penguasaan teknik produksi, teknologi, ilmu pengetahuan terapan dan

Peran Pendidikan Seni di Sekolah Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikakan KTSP, cabang mata pe- lajaran Seni Budaya yang tediri dari seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater

ii Institut Teknologi Nasional ABSTRAK Nama : Nama Mahasiswa Program Studi : Arsitektur Judul : Rancangan Sekolah Tinggi Seni Musik Dan Tari Di Kota Baru Parahyangan Dengan

24 Memiliki pemikiran logis, kritis, sistematis dan inovatif dalam konteks pengembangan atau implementasi ilmu pengetahuan atau teknologi Pendidikan Seni Pertunjukan sesuai dengan