• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mencantumkan Sitasi Mencegah Plagiarisme

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2016

Membagikan "Mencantumkan Sitasi Mencegah Plagiarisme"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MENCANTUMKAN SITASI MENCEGAH PLAGIARISME

Oleh: A. Ridwan Siregar Departemen Ilmu Perpustakaan

Universitas Sumatera Utara

Makalah disampaikan pada

LOKAKARYA PREVENSI PLAGIARISME DALAM PENULISAN KARYA ILMIAH

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara

(2)

MENCANTUMKAN SITASI MENCEGAH PLAGIARISME

A. Ridwan Siregar

Departemen Ilmu Perpustakaan, Universitas Sumatera Utara [email protected]

Pendahuluan

Dewasa ini para akademisi memberikan perhatian lebih besar terhadap tindakan plagiarisme

yang mungkin terjadi di lingkungan pendidikan tinggi. Plagiat semakin mudah dilakukan dan banyak

terjadi yang dipicu oleh peningkatan signifikan jumlah informasi dan pengetahuan yang dihasilkan

terutama dalam bentuk elektronik yang dipublikasikan melalui situs web. Semua unsur dalam

perguruan tinggi mulai dari para pimpinan di semua tingkatan sebagai administrator hingga dosen

dan mahasiswa berkewajiban untuk melakukan pencegahan. Hal ini dapat dilakukan dengan

pengaturan lebih rinci perihal plagiat dalam kode etik mahasiswa dan dosen serta melaksanakan

penegakannya secara konsisten.

Publikasi karya ilmiah melalui situs web sebenarnya selain memudahkan seseorang

melakukan plagiat juga sekaligus memudahkan untuk melakukan pembandingan untuk mengetahui

apakah dalam suatu karya telah terjadi plagiat. Untuk itu, diperlukan tenaga dan waktu untuk

menelitinya melalui suatu proses penyandingan. Sehubungan dengan itu, pemerintah melalui

Menteri Pendidikan Nasional mewajibkan pimpinan perguruan tinggi untuk mengunggah (upload)

semua karya ilmiah mahasiswa dan dosen dalam bentuk elektronik melalui portal Garuda (Garba

Rujukan Digital) yang telah dikembangkan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Kementerian

Pendidikan Nasional, 2010).

Berkenaan dengan uraian di atas, perlu kiranya para sivitas akademika memperoleh

pemahaman yang memadai tentang plagiat dan pencegahannya untuk mendukung misi perguruan

tinggi dalam hal mencari, menemukan, mempertahankan, dan menjunjung tinggi kebenaran. Tulisan

ini dimaksudkan untuk memenuhi hal tersebut dengan tujuan agar kualitas karya ilmiah yang

dihasilkan oleh sivitas akademika dapat ditingkatkan dan terhindar dari tuntutan pihak lain yang

dapat merugikan citra universitas dan para anggota sivitas akademika serta alumni. Oleh karena itu,

tulisan ini memuat beberapa hal yang berkaitan dengan plagiat antara lain pengertiannya, cara

menghindarinya, pencantuman sitasi dalam teks, dan gaya sitasi untuk rujukan dan daftar pustaka.

Pengertian Plagiat

Ada banyak definisi tentang plagiat atau plagiarisme (plagiarism), tetapi pada dasarnya

semua memiliki arti atau makna yang sama yaitu pengambilan karya orang lain dan menjadikannya

(3)

plagiarius yang berarti penculik harfiah (literally kidnapper) untuk menunjukkan seseorang yang mencuri karya orang lain. Proses pencurian tersebut disebut plagium (kidnapping) yang berarti tindakan menculik (Wikipedia, 2011).

Plagiat dapat terjadi karena disengaja atau tanpa disengaja. Plagiat dapat dikategorikan

sebagai plagiat yang disengaja (intentional or deliberate plagiarism) sebagai pencurian terhadap ide

orang lain. Sedangkan plagiat yang tanpa disengaja (unintentional) biasanya terjadi ketika seseorang

berupaya menulis-ulang (paraphrasing) materi dari suatu sumber atau mengutip materi dari suatu

sumber tetapi tidak melakukannya dengan cara yang tepat (Ualberta Unversity, 2011). Plagiat yang

tidak disengaja juga menunjukkan ketidak-jujuran (dishonesty) akademik dan oleh sebab itu dapat

dijatuhkan hukuman. Selain kedua kategori tersebut, masih dikenal istilah autoplagiarism atau self-plagiarism (vide infra), yaitu penggunaan kembali bagian yang signifikan, identik atau hampir identik karya sendiri tanpa mencantumkan sumber aslinya atau menggunakan kembali karya yang sudah

pernah digunakan untuk tujuan lain untuk memperoleh kredit yang sering disebut dengan istilah

daur-ulang (recycling).

Suatu karya dapat berupa ide orisinal, strategi, penelitian, seni, grafik, program komputer,

musik, dan ekspresi kreatif lainnya. Karya tersebut dapat berbentuk tulisan, bagan, gambar, grafik,

diagram, data, situs web, atau media komunikasi atau rekaman lainnya, termasuk di dalamnya

kalimat, frasa, dan terminologi inovatif. Istilah sumber meliputi karya yang diterbitkan seperti buku,

jurnal, majalah, surat kabar, situs web, permainan, film, foto, lukisan, dan buku teks; dan karya yang

tidak diterbitkan seperti catatan kuliah, handouts, pidato, laporan penelitian, kertas karya, skripsi, tesis, dan disertasi.

Banyak orang memiliki persepsi bahwa plagiat adalah suatu tindakan menjiplak secara utuh

suatu karya dengan perubahan minor. Padahal plagiat sebenarnya bisa terjadi dalam satu kalimat

atau alinea. Dengan kata lain, plagiarisme dapat berupa pencurian sebuah kata, frasa, kalimat, atau

pencurian suatu bab dari sebuah tulisan atau karya seseorang. Pencurian ide atau hasil pemikiran

tersebut dapat merugikan orang lain baik secara material maupun nonmaterial sehingga dapat

dikategorikan sebagai tindak kejahatan. Disebutkan sebagai tindak kejahatan karena menyangkut

pelanggaran terhadap hak atas kekayaan intelektual (intellectual property right) yang nota bene di

dalamnya juga termasuk hak cipta (copyright).

Dalam Undang-undang R.I. No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

disebutkan bahwa lulusan perguruan tinggi yang karya ilmiahnya digunakan untuk memperoleh

gelar akademik, profesi, atau vokasi terbukti merupakan jiplakan dapat dicabut gelarnya (pasal 25

ayat 2) dan dipidana penjara paling lama dua tahun dan/atau pidana denda paling banyak dua ratus

(4)

pelanggaran hak cipta dengan ancaman pidana penjara paling singkat satu bulan dan/atau denda

paling sedikit satu juta rupiah, atau pidana penjara paling lama tujuh tahun dan/atau denda paling

banyak lima milyar rupiah.

Pengaturan yang lebih spesifik dan dapat dilaksanakan di suatu perguruan tinggi diatur di

dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 17 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan

Penanggulangan Plagiat di Perguruan Tinggi. Peraturan tersebut selain mengharuskan suatu

perguruan tinggi untuk melakukan tindakan pencegahan terhadap plagiat juga mengatur tentang

sanksi terhadap tindakan plagiat. Pelaku dikelompokkan ke dalam kategori sebagai mahasiswa,

dosen, dan dosen sebagai guru besar. Sanksi bagi mahasiswa yang terbukti melakukan plagiat

dimulai dari teguran, pemberhentian sebagai mahasiswa hingga pembatalan ijazah. Hal senada juga

berlaku bagi dosen dengan penjatuhan sanksi mulai dari teguran, penundaan hak dosen, hingga

pemberhentian sebagai dosen. Sedangkan untuk dosen dengan jabatan guru besar dapat dijatuhi

sanksi tambahan berupa pemberhentian dalam jabatan guru besar (lihat pasal 12 ayat 1 s.d. 3).

Berikut ini adalah daftar tindakan yang dapat dianggap sebagai plagiarisme:

(1) Menyatakan tulisan penulis lain sebagai karya sendiri

(2) Menyatakan gagasan penulis lain sebagai gagasan sendiri

(3) Menyatakan hasil temuan penulis lain sebagai temuan sendiri

(4) Menyatakan fakta, data statistik, grafik, gambar dan segala jenis informasi yang bukan

common knowledge tanpa penyebutan sumber aslinya (5) Menyatakan karya bersama (kelompok) sebagai karya sendiri

(6) Mengutip tulisan orang lain secara langsung dan identik tanpa mencantumkan sumber

aslinya dan tanpa tanda petik (tanda dua kutip)

(7) Tulisan yang sama disajikan dalam kesempatan yang berbeda, tanpa penyebutan

sumber rujukan tulisan pertama

(8) Mengutip tidak langsung tanpa menyatakan sumber informasinya

(9) Mengutip dengan hanya mengganti beberapa kalimat penulis asli tanpa menyatakan

sumber informasinya

(10) Meringkas dan mengutip karya orang lain secara tidak langsung tanpa menyebutkan

sumbernya (Nisa, Napitupulu, Siregar, & Batubara, 2011).

Menghindarkan Plagiat

Pencantuman sitasi bibliografis bertujuan antara lain untuk menghargai karya orang lain,

agar pembaca dapat mempelajari lebih lanjut sumber yang digunakan, menghindari plagiat,

(5)

subyek tertentu dan mengetahui bagaimana melakukan penelitian. Seorang penulis dapat

menghindarkan plagiarisme dengan melakukan hal-hal seperti berikut ini.

(1) Bila menggunakan ide orang lain sebutkan sumbernya.

(2) Bila menggunakan kata atau kalimat orang lain sebutkan sumbernya, dengan catatan:

a. Gunakan tanda kutip … apabila kata atau kalimat aslinya disalin secara utuh

b. Tanda kutip tidak diperlukan bila kata atau kalimat telah diubah menjadi kalimat

penulis sendiri tanpa mengubah artinya (telah dilakukan parafrase)

c. Mengubah satu atau beberapa kata dalam satu paragraf bukan merupakan

parafrase karenanya tanda kutip perlu disertakan

d. Parafrase tanpa menyebut sumbernya adalah plagiarisme.

(3) Bila kita mengajukan tulisan yang sudah pernah diajukan sebelumnya harus pula

dinyatakan bahwa tulisan sudah diajukan atau dipublikasi sebelumnya; bila tidak, maka

dapat dianggap sebagai auto-plagiarism atau self-plagiarism. Jenis plagiarisme ini sebenarnya dapat dianggap berkualifikasi ringan, namun bila dimaksudkan atau

kemudian dimanfaatkan untuk menambah perolehan kredit akademik dapat dianggap

pelanggaran etika akademik yang berat.

(4) Baca ulang apa yang hendak dikutip secara cermat, singkirkan naskah asli, agar tidak

terpengaruh untuk menggunakan kata-kata yang sama.

(5) Gunakan kata-kata dan ide sendiri dengan cara banyak berlatih merangkai kalimat,

dengan demikian tulisan dan ide dapat lebih berkembang.

(6) Periksa dan baca kembali parafrase yang telah dibuat, serta bandingkan dengan naskah

aslinya agar yakin bahwa penggunaan kata-kata atau istilah dan informasi yang hendak

disampaikan sudah tepat.

(7) Dosen pembimbing atau pemberi tugas mencermati langkah penyusunan tulisan dan

bila perlu meminta daftar atau salinan dari tulisan yang dikutip oleh penulis. (Nisa,

Napitupulu, Siregar, & Batubara, 2011)

Pencantuman Sitasi dalam Teks

Ada dua elemen penting dalam pencantuman sitasi yaitu citing berarti menempatkan rincian ringkas sebagai suatu tanda lokasi di dalam teks yang memandu pembaca kepada rujukan atau

daftar pustaka. Rujukan atau daftar pustaka memberikan rincian penuh sumber-sumber yang dirujuk

dalam urutan angka atau secara alpabetis. Ada berbagai gaya dalam pencantuman sitasi di dalam

teks antara lain sistem nama dan tahun (Harvard system) dan sistem urutan sitasi (citation order

(6)

Dalam sistem Harvard digunakan nama dan tahun, sedangkan dalam sistem urutan sitasi

digunakan angka yang dicantumkan di atas (superscript). Penggunaan sistem nama dan tahun dapat

bervariasi sesuai dengan standar gaya sitasi tertentu, misalnya (Calvez, 2004: 41), (Calvez, 2004, p.

41), (Calvez 2004, 41) atau (Calvez 41). Dalam sistem urutan sitasi, pengurutan nomor dilakukan

berdasarkan pemunculannya pertama sekali dalam teks, dan selanjutnya nomor yang sama

digunakan untuk sumber yang sama dalam tulisan. Selain itu, dalam sistem nama dan tahun,

penggunaan superscript bisa dilakukan untuk merujuk kepada catatan kaki (footnote) yang berisikan penjelasan tambahan terhadap suatu ungkapan atau istilah di dalam teks.

Berikut ini adalah contoh untuk sistem nama dan tahun dan sistem urutan yang dimuat di

dalam teks.

Sistem nama dan tahun

Hasil studi yang dilakukan oleh Ha aii’s O ea Ma al I stitute menunjukkan bahwa ikan hiu terpengaruh oleh kebisingan mesin kapal (Calvez, 2004: 41).

atau:

Menurut Leigh Calvez (2004: 41), studi yang dilakukan oleh Ha aii’s O ea Ma al I stitute menunjukkan bahwa ikan hiu terpengaruh oleh kebisingan mesin kapal.

Sistem urutan (pemberian nomor berurut)

Hasil studi yang dilakukan oleh Ha aii’s O ea Ma mal Institute menunjukkan bahwa ikan

hiu terpengaruh oleh kebisingan mesin kapal1.

atau:

Menurut Leigh Calvez1, studi yang dilakukan oleh Ha aii’s O ea Ma al I stitute menunjukkan bahwa ikan hiu terpengaruh oleh kebisingan mesin kapal.

Gaya Sitasi

Pencantuman sitasi bibliografis dengan cara yang benar dan konsisten sesuai dengan salah

satu standar (citation style) merupakan keharusan dalam tradisi akademik. Pencantuman sitasi

dengan tepat dapat mencegah penulis dari kemungkinan terjadinya plagiat. Suatu karya tulis yang

tidak mengikuti salah satu standar dapat merendahkan nilai akademik karya tersebut. Setiap

kelompok disiplin ilmu menggunakan gaya sitasi yang lazim digunakan dalam komunitasnya.

Pemberlakuan penggunaan satu standar untuk suatu universitas tidak mungkin dilakukan karena

setiap disiplin ilmu memiliki komunitasnya sendiri. Tetapi penetapan salah satu standar gaya sitasi

yang ada untuk digunakan dalam suatu departemen atau program studi dapat dilakukan. Uraian

(7)

Oleh karena itu setiap orang dianjurkan untuk mempelajari lebih jauh tentang suatu standar yang

sesuai dengan komunitas masing-masing.

Sitasi (citation) adalah rujukan terhadap suatu buku, artikel, halaman web, atau publikasi

lain dengan rincian yang cukup untuk secara unik mengidentifikasi sumber tersebut. Rujukan

(Referensi, Acuan, atau References) biasanya terdapat pada akhir setiap bab dari suatu buku atau

pada akhir suatu artikel jurnal atau makalah. Entri rujukan disusun sesuai urutan kutipan di dalam

teks atau secara alpabetis. Daftar Pustaka (Daftar Kepustakaan, Bibliografi, atau Bibliography)

terdapat pada akhir suatu buku atau jenis monograf lainnya. Entri dalam daftar pustaka harus

disusun secara alpabetis (A–Z). Jika pengarang yang sama dikutip beberapa kali dari karya yang

berbeda, entri didaftar secara kronologis berdasarkan tahun publikasi. Jika pengarang dikutip untuk

dua atau lebih karya yang dipublikasi pada tahun yang sama, tambahkan huruf kecil a, b, c, dan

seterusnya setelah tahun penerbitan. Contoh: 2007a, 2007b, 2007c.

Perbandingan Gaya Sitasi

Ada sejumlah standar gaya sitasi yang dapat dipilih untuk digunakan dalam suatu penulisan

karya. Setiap standar tersebut dikembangkan dan dipelihara secara berkelanjutan oleh suatu

organisasi, asosiasi atau institusi. Beberapa di antaranya adalah seperti berikut ini.

(1) APA (American Psychological Association), psikologi, pendidikan dan ilmu-ilmu sosial

lainnya.

(2) Chicago style, semua bidang.

(3) MLA (Modern Language Association), kesusasteraan, seni, dan humaniora.

(4) Turabian style, semua bidang.

(5) AMA (American Medical Association) kedokteran, kesehatan dan biologi.

(6) NLM (National Library of Medicine).

(7) ACS (American Chemical Society).

(8) APSA (American Political Science Association), politik.

(9) CBE (Council of Biology Editors).

(10) IEEE Style.

(11) ASA (American Sociological Association).

(12) Columbia style.

(13) MHRA (Modern Humanities Research Association)

(14) dan lain-lain.

Dari sekian banyak gaya sitasi yang ada empat diantaranya merupakan yang paling banyak

(8)

contoh cantuman entri bibliografis dari keempat gaya sitasi tersebut. Perhatikan dengan seksama

perbedaan entri antara suatu gaya dengan gaya lainnya.

Buku (monograf)

APA

Okuda, M., & Okuda, D. (1993). Star Trek chronology: The historyof the future. New York: Pocket Books.

Chicago

Okuda, Michael, and Denise Okuda. 1993. Star Trek chronology: The history of the future. New York: Pocket Books.

MLA

Okuda, Michael, and Denise Okuda. Star Trek Chronology: The History of the Future.

New York: Pocket, 1993. Print.

Turabian

Okuda, Michael, and Denise Okuda. Star Trek chronology: The history of the future.

New York: Pocket Books. 1993.

Artikel jurnal

APA

Wilcox, R. V. (1991). Shifting roles and synthetic women in Star Trek: The next

generation. Studies in Popular Culture, 13(2), 53-65. Chicago

Wilcox, Rhonda V. 1991. Shifting roles and synthetic women in Star Trek: The next

generation. Studies in Popular Culture 13(2): 53-65. MLA

Wilcox, Rhonda V. "Shifting Roles and Synthetic Women in Star Trek: The Next

Generation." Studies in Popular Culture 13.2 (1991): 53-65. Print. Turabian

Wilcox, Rhonda V. "Shifting Roles and Synthetic Women in Star Trek: The next

generation." Studies in Popular Culture 13 (April 1991):53-65.

Situs Web

APA

Lynch, T. (1997, October 8). DS9 trials and tribble-ations review. Retrieved from http://www.bradley.edu/campusorg/psiphi/DS9/ep/503r.html.

(9)

Lynch, Tim. 1996. Review of DS9 trials and tribble-ations. Psi Phi: Bradley's Science

Fiction Club. Last modified October 8, 1997.

http://www.bradley.edu/campusorg/psiphi/DS9/ep/503r.html

MLA

Lynch, Tim. "DSN Trials and Tribble-ations Review." Psi Phi: Bradley's Science Fiction Club. Bradley University. 8 Oct. 1997. Web. 10 Oct. 2010.

Turabian

Lynch Tim. DSN Trials and tribble-ations review.

http://www.bradley.edu/campusorg/psiphi/DS9/ep/503r.htm. (October, 8 1997).

Pencantuman Entri

Berikut in adalah beberapa contoh pencantuman entri bibliografi atau sumber pada Rujukan

atau Daftar Pustaka yang disusun berdasarkan format APA.

Pengarang tunggal

Martin, E. (1992). The woman in the body: A cultural analysis of reproduction. Boston: Beacon Press.

Pengarang lebih dari satu

Cott, N. R., & Pleck, E.H. eds. (1979). A heritage of her own: Toward a new social history of American women. New York: Simon and Schuster.

Pengarang korporasi

Alan Guttmacher Institute. (1988). State legislative record: 1988 fertility-related bills and laws as of December 31. Washington, D.C.: Alan Guttmacher Institute.

Kumpulan tulisan

Rosser, S. V., ed. (1986). Teaching science and health from a feminist perspective. NewYork: Pergamon.

Fee, E. (1982). "Women and health care: A comparison of theories." Women and health: The politics of sex in medicine. Ed. E. Fee. Farmingdale, N.Y.: Baywood Publishing Company. pp. 17-34.

Karya terjemahan

Keesing, R. M. (1992). Antropologi budaya: Suatu perspektif kontemporer. Trans. S. Gunawan. Jakarta: Erlangga.

Nice, R., trans. (1977). Outline of a theory of practice. By P. Bourdieu. Cambridge: Cambridge University Press.

Darmawan, I., trans. (1985). Harper’s re ie of io he istry. By D. W. Martin. Jakarta: EGC.

Tanpa pengarang

(10)

M. H. Abrams. 4th ed. Vol. 1. New York: W.W. Norton. 2 vols.

Buku cetak dan terbit ulang

Gibbon, L. G. (1988). Sunset song. (1932). Intro. Tom Crawford. Edinburgh: Canongate Classics.

Buku edisi khusus

Yeats, W. B. (1989). The collected poems of W. B. Yeats. Ed. R. J. Finneran. New York: Macmillan.

Karya multivolume

Lucas, R. E., Jr. and Sargent, T. J., eds. (1981). Rational expectations and econometric practice. 2 vols. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Bab buku

Jones, J. (1986). American economy before the Civil War. American history. New Haven: Yale University Press.

Artikel ensiklopedi

Garvey, L. (1982) ed. El Paso, Illinois. Encyclopedia Americana.

Refrigeration. (1989). The new illustrated science and invention encyclopedia. Ed. D. Clarke. 28 vols. Westport: H. S. Stuttman.

Artikel jurnal

Cooksey, E. C. (1997). Co se ue ces of you g othe s‘ a ital histo ies fo child e 's cog itive

development. Journal of Marriage and the Family 59 : 245-61. Artikel jurnal halaman berlanjut

Gardner, E. (1993). This attempt of their sister: Harriet Wilson's our nig from printer

to readers. New England Quarterly 66: 226-46. Situs web

Burka, Lauren P. (1999, December 5). A Hypertext history of multi-user dimensions. MUD history.

Retrieved from http://www.ccs.neu.edu/home/1pb/mud-history.htm.

Disertasi yang tidak diterbitkan

Johnstone, S. (1993). Feminism and pornography: Policing the boundary between art

and popular culture. Dissertation. Rutgers University.

Rujukan

Kementerian Pendidikan Nasional (2010). Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 17/2010.

Kementerian Pendidikan Nasional. Pusat Bahasa (2011, March 16). Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI). Retrieved from http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php.

(11)

Republik Indonesia (2003). Undang-undang R.I. No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Ualberta University (2011, March 16) Retrieved from

http://guides.library.ualberta.ca/content.php?pid=62200&sid=457953

Referensi

Dokumen terkait

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,