• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pidana Mati/Hukuman mati adalah suatu hukuman atau vonis yang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA. Pidana Mati/Hukuman mati adalah suatu hukuman atau vonis yang"

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

12 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 TINJAUAN UMUM TENTANG PIDANA MATI

2.1.1 Pengertian Pidana Mati

Pidana mati atau hukuman mati menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) merupakan pencabutan nyawa terhadap terpidana.

Pidana Mati/Hukuman mati adalah suatu hukuman atau vonis yang dijatuhkan pengadilan (atau tanpa pengadilan) sebagai bentuk hukuman terberat yang dijatuhkan atas seseorang akibat perbuatannya.1 Hukuman mati merupakan jenis pidana yang usianya setua usia kehidupan manusia dan paling kontroversial dari semua sistem pidana, baik di negara-negara yang menganut sistem Common Law, maupun di negara-negara yang menganut Civil Law. Menurut Djoko Prakoso, hukuman mati tersebut masih diterapkan sebagai salah satu sanksi bagi mereka yang terbukti melakukan salah satu tindak kejahatan. Hukuman mati dapat dikategorikan sebagai pidana paling kejam, karena tidak ada lagi harapan bagi terpidana untuk memperbaiki kejahatannya.2

Hukuman atau pidana mati adalah penjatuhan pidana dengan mencabut hak hidup seseorang yang telah melakukan tindak pidana yang diatur dalam undang-undang yang diancam dengan hukuman mati. Hukuman mati berarti telah menghilangkan nyawa seseorang.

1 Wikipedia, Hukuman mati, https://id.wikipedia.org, diakses 15 Oktober 2021

2 Djoko Prakoso, Pembaruan Hukum Pidana di Indonesia, Yogyakarta: Liberty, (1997), hlm. 32.

(2)

13

Pidana mati tidak hanya diatur oleh Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) dan untuk tindak pidana umum saja, tetapi pidana mati juga diatur di dalam Undang-Undang Pidana Militer atau disebut juga KUHPM yang tindak pidananya khusus dilakukan oleh anggota TNI/militer baik untuk delik umum maupun delik militer.

Secara faktual, keberadaan hukuman mati bertentangan dengan hak hidup. Keberadaannya tidak dengan sendirinya membuat efek jera bagi pelaku kejahatan dan belum tentu menurunkan tingkat kejahatan.

Uni Eropa (EU) merupakan pihak yang paling gencar melakukan kampanye penghapusan hukuman mati bahkan EU mewajibkan anggotanya untuk menghapuskan hukuman mati. Sementara Indonesia, penghapusan hukuman mati masih menjadi wacana karena masih tingginya kejahatan berat, seperti terorisme, korupsi dan narkoba.3

2.1.2 Sanksi Pidana Mati di Indonesia.

Dalam bukunya Sahetapy yang berjudul “Ancaman Pidana Mati dalam pembunuhan berencana”, masih banyak peraturan perundang-

undangan yang masih mencantumkan pidana mati dalam hukum positif Indonesia 5 antara lain:4

1) Kejahatan terhadap keamanan negara (Pasal 104, Pasal 111 ayat (2), Pasal 124 ayat (3), Pasal 140 ayat (3) KUHP;

3 Hendarman Supandji., Eksistensi pidana mati dalam proses penegakan hukum di Indonesia, Jurnal Kajian Wilayah Eropa, Vol. IV , No.2 , (2008), hal. 2

4 J.E. Sahetapy, Ancaman Pidana Mati Terhadap Pembunuhan Berencana, cet.ketiga, Setara Press Malang, Malang, (2009)

(3)

14

2) Pembunuhan Berencana (Pasal 340) KUHP;

3) Pencurian dengan kekerasan yang mengakibatkan luka berat atau mati (Pasal 365 ayat (4))

4) Pembajakan dilaut, dipantai, dipesisir atau disungai dengan kekerasan (Pasal 444 ) KUHP;

5) Kejahatan penerbangan dan Kejahatan terhadap sarana/prasarana penerbangan (Pasal 479k ayat (2) dan Pasal 479o ayat (2) KUHP).

Sedangkan diluar Kitab Undang-undang Hukum Pidana, maka kejahatan-kejahatan yang diancam dengan pidana mati antara lain tercantum pada :

1) Pasal 1 ayat (1) UU No. 12 Tahun 1951 tentang senjata api, munisi atau sesuatu bahan peledak;

2) Undang-undang Nomor 11 PNPS Tahun 1963 tentang Pemberantasan Kegiatan Subversi, namun dalam perkembangannya Undang-undang ini telah dicabut dengan dikeluarkannya UU No. 26 Tahun 1999 tentang Pencabutan UU No.11/PNPS/Tahun 1963.

3) Pasal 2 ayat (2) UU No. 31 Tahun 1999 Jo UU No. 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

4) Pasal 36, Pasal 37 dan Pasal 41, UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.

(4)

15

5) UU No. 15 Tahun 2003 tentang Tindak Pidana Terorisme.

6) Pasal 116 ayat (2), Pasal 118 ayat (2), Pasal 119 ayat (2), Pasal 121 ayat (2), UU No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.

7) UU No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia 8) Pasal 89 ayat (1), UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No.

23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.5

Hingga saat ini tercatat 133 negara telah menghapus hukuman mati dalam sistem hukum pidana masing-masing. Tetapi masih ada negara lainnya termasuk Indonesia yang masih mempertahankan hukuman mati.

2.1.3 Tata Cara Pelaksanaan Eksekusi Pidana mati di Indonesia.

Tata cara pelaksanaan pidana mati berdasarkan Hukum Acara Peradilan Militer dalam Pasal 225 HAPMIL menentukan bahwa pelaksaan pidana mati dilakukan menurut peraturan perundang- undangan yang berlaku dan tidak dimuka umum. Pidana mati yang dijatuhkan oleh hakim sudah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, artinya terpidana tidak naik banding tidak mohon grasi, bahkan menerima pidana yang telah dijatuhkan, namun pidana mati itu belum boleh dilaksanakan sebelum mendapat putusan presiden mengenai pelaksanaannya hal ini diatur dalam Pasal 2 dan 3 Undang-Undang Grasi Nomor 3 Tahun 1950 LN. No. 40 Tahun 1950. Ditempatkannya

5 Ibid

(5)

16

ketentuan dalam Undang-Undangg Grasi mempunyai arti bahwa walaupun terpidana tidak memohon grasi, namun demi mencegah kesalahan yang mungkin terjadi, melalui prosedur yang ketat masih dianggap perlu untuk meminta keputusan Presiden.6

Apabila keputusan presiden tidak mengubah pidana mati yang dijatuhkan oleh pengadilan, maka pelaksanaannya diatur dalam undang-undang No.2 PNPS 1964, pelaksaan pidana mati dilakukan dengan ditembak sampai mati. Cara-cara pelaksaan pidana mati orang sipil yustisiabel peradilan umum diatur dalam pasal 2 s/d 16 undang- undang No.2 PNPS 1964 dan untuk anggota militer yustisiabel peradilan militer diatur dalam pasal 17. Pasal 11 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana sebelum Undang-Undang No. 2/Pnps/1964 menentukan bahwa pidana mati itu dijalankan dengan menggantung si terpidana, kemudian Ketentuan Pasal 11 KUHP diubah oleh Undang-Undang Nomor 02/Pnps/1964 juncto Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 Tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati yang Dijatuhkan oleh Pengadilan di Lingkungan Pengadilan Umum dan Militer. pemerintah membuat pengaturan yang lebih teknis terkait pelaksanaan pidana mati yang mana diatur dalam Peraturan Kapolri No. 12 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati.7

6 Faisal Salam, Hukum Pidana Militer di Indonesia, Mandar Maju, Bandung, (2006), hlm 63

7 Faisal Salam, Ibid, hlm. 64

(6)

17

Tata cara pelaksanaan pidana mati yang dijatuhkan oleh pengadilan di Lingkungan peradilan umum dan Militer, yang dalam Pasal 2 s/d Pasal 16 UU No. 2/Pnps/1964, ditentukan bahwa tata caranya sebagai berikut :8

a. Dalam jangka waktu tiga kali dua puluh empat jam saat pidana mati dilaksanakan Jaksa Tinggi/Jaksa yang bersangkutan harus memberitahukan kepada terpidana tentang akan dilaksanakan pidana mati tersebut dan apabila terpidana hendak mengemukakan sesuatu, keterangannya atau pesannya itu diterima oleh Jaksa Tinggi atau Jaksa tersebut (Pasal 6 ayat (1), (2));

b. Apabila terpidana sedang hamil, pelaksanaan pidana mati baru dapat dilaksanakan empat puluh hari setelah anaknya dilahirkan (Pasal 7);

c. Tempat pelaksanaan pidana mati ditentukan oleh Menteri Kehakiman yaitu di suatu tempat dalam daerah hukum pengadilan yang menjatuhkan putusan dalam tingkat pertama (Pasal 2 ayat (1));

d. Kepala Kepolisian dari daerah yang bersangkutan bertanggung jawab mengenai pelaksanaan pidana mati tersebut setelah mendengar nasihat dari Jaksa Tinggi/Jaksa yang telah

8 Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana Normatif, Teoreti, Praktik dan Permasalahannya, Cet ke-1, edisi pertama, PT Alumni, Bandung, (2007), hal.290

(7)

18

melakukan penuntutan pidana mati pada peradilan tingkat pertama (Pasal 3 dan Pasal 4);

e. Pelaksanaan pidana mati dilakukan oleh regu penembak yang terdiri dari seorang Bintara, 10 orang Tamtama, dibawah pimpinan seorang Perwira yang semuanya dari Brigade Mobile (Pasal 10 ayat (1));

f. Kepala Polisi dari daerah yang bersangkutan (atau perwira yang ditunjuk) dan Jaksa Tinggi/Jaksa yang bertanggung jawab harus menghadiri pelaksanaan pidana mati tersebut (Pasal 4);

g. Sebelum pelaksanaan pidana mati, maka terpidana dapat disertai rohaniawa (Pasal 11 ayat (1). Kemudian terpidana dapat menjalani pidana mati secara berdiri, duduk atau berlutut (Pasal 12 ayat(1)) dan pelaksanaan pidana mati dilaksanakan tidak dimuka umum dan dengan carasesederhana mungkin kecuali ditetapkan lain oleh Presiden (Pasal 9);

h. Penguburan jenazah terpidana diserahkan kepada keluarganya atau sahabat terpidana kecuali berdasarkan kepentingan umum Jaksa Tinggi/Jaksa yang bersangkutan dapat menetukan lain (Pasal 15);

i. Kemudian setelah pelaksanaan pidana mati dilaksanakan, Jaksa Tinggi/Jaksa yang bersangkutan harus membuat berita acara mengenai pelaksanaan pidana mati dan isi dari berita acara

(8)

19

tersebut kemudian harus dicantumkan didalam surat keputusan dari pengadilan yang bersangkutan (Pasal 16 ayat (1) dan (2)).

Tata cara pelaksanaan pidana mati pada Pasal 4 Peraturan Kapolri Nomor 12 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati terbagi menjadi 4 tahap yaitu: persiapan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengakhiran. Mengenai proses pelaksanaan pidana mati, lebih spesifik diatur dalam Pasal 15 Peraturan Kapolri Nomor 12 Tahun 2010 tentang Tata Cara Pelaksanaan Pidana Mati:

1) Terpidana diberikan pakaian yang bersih, sederhana, dan berwarna putih sebelum dibawa ke tempat pelaksanaan pidana mati; Pada saat dibawa ke tempat pelaksanaan pidana mati terpidana dapat didampingi oleh seorang rohaniawan; Regu pendukung telah siap di tempat yang telah ditentukan 2 jam sebelum waktu pelaksanaan pidana mati; Regu penembak telah siap di lokasi pelaksanaan pidana mati 1 jam sebelum pelaksanaan dan berkumpul di daerah persiapan; Regu penembak mengatur posisi dan meletakkan 12 pucuk senjata api laras panjang di depan posisi tiang pelaksanaan pidana mati pada jarak 5 meter sampai dengan 10 meter dan kembali ke daerah persiapan;

2) Jaksa Eksekutor mengadakan pemeriksaan terakhir terhadap terpidana mati dan persenjataan yang akan digunakan; Atas perintah dari Jaksa Eksekutor, Komandan Pelaksana

(9)

20

memerintahkan Komandan Regu penembak untuk mengisi amunisi dan mengunci senjata ke dalam 12 pucuk senjata api laras panjang dengan 3 butir peluru tajam dan 9 butir peluru hampa yang masing-masing senjata api berisi 1 butir peluru;

Jaksa Eksekutor memerintahkan Komandan Regu 2 bersama anggotanya untuk membawa terpidana ke posisi penembakan dan melepaskan borgol lalu mengikat kedua tangan dan kaki terpidana ke tiang penyangga pelaksanaan pidana mati dengan posisi berdiri, duduk, atau berlutut, kecuali ditentukan lain oleh Jaksa;

3) Terpidana diberi kesempatan terakhir untuk menenangkan diri paling lama 3 menit dengan didampingi seorang rohaniawan;

Komandan Regu 2 menutup mata terpidana dengan kain hitam, kecuali jika terpidana menolak; Dokter memberi tanda berwarna hitam pada baju terpidana tepat pada posisi jantung sebagai sasaran penembakan; Komandan Regu 2 melaporkan kepada Jaksa Eksekutor bahwa terpidana telah siap untuk dilaksanakan pidana mati;

4) Jaksa Eksekutor memberikan tanda/isyarat kepada Komandan Pelaksana untuk segera dilaksanakan penembakan terhadap terpidana; Komandan Pelaksana memberikan tanda/isyarat kepada Komandan Regu penembak untuk membawa regu penembak mengambil posisi dan mengambil senjata dengan

(10)

21

posisi depan senjata dan menghadap ke arah terpidana;

Komandan Pelaksana mengambil tempat di samping kanan depan regu penembak dengan menghadap ke arah serong kiri regu penembak dan mengambil sikap istirahat di tempat; Pada saat Komandan Pelaksana mengambil sikap sempurna regu penembak mengambil sikap salvo ke atas; Komandan Pelaksana menghunus pedang sebagai isyarat bagi regu penembak untuk membidik sasaran ke arah jantung terpidana; Komandan Pelaksana mengacungkan pedang ke depan setinggi dagu sebagai isyarat kepada Regu penembak untuk membuka kunci senjata; Komandan Pelaksana menghentakkan pedang ke bawah pada posisi hormat pedang sebagai isyarat kepada regu penembak untuk melakukan penembakan secara serentak;

5) Setelah penembakan selesai Komandan Pelaksana menyarungkan pedang sebagai isyarat kepada regu penembak mengambil sikap depan senjata; Komandan Pelaksana, Jaksa Eksekutor, dan Dokter memeriksa kondisi terpidana dan apabila menurut Dokter terpidana masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan, Jaksa Eksekutor memerintahkan Komandan Pelaksana melakukan penembakan pengakhir; Komandan Pelaksana memerintahkan komandan regu penembak untuk melakukan penembakan pengakhir dengan menempelkan ujung laras senjata genggam pada pelipis terpidana tepat di atas

(11)

22

telinga; Penembakan pengakhir ini dapat diulangi, apabila menurut keterangan Dokter masih ada tanda-tanda kehidupan;

Pelaksanaan pidana mati dinyatakan selesai, apabila dokter sudah menyatakan bahwa tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan pada terpidana.

Eksekusi pidana mati tidak dapat dilaksanakan sebelum surat Keputusan Presiden yang menyatakan tentang penolakan grasi tersebut diterima oleh terpidana (pemohon grasi).

2.1.4 Penempatan Teripidana Mati.

Terpidana mati selama menjalani proses hukum dari di jatuhi hukuman mati hingga di tolaknya grasi oleh presiden, ditempatkan di dalam Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) untuk menjalani hukuman.

Penempatan terpidana dilapas tersebut, berlaku juga bagi terpidana mati. Pada prinsipnya terpidana mati di tempatkan dilapas bersama dengan Warga binaan lainnya bukan dimaksudkan untuk menjalani hukuman, melainkan hanya ditempatkan sementara selama masa tunggu eksekusinya.9

2.2 TINJAUAN UMUM TENTANG EKSEKUSI

Menurut R. Subakti “Eksekusi adalah upaya dari pihak yang dimenangkan dalam putusan guna mendapatkan yang menjadi haknya dengan bantuan kekuatan umum (polisi, militer) guna memaksa pihak yang dikalahkan

9 Nelvita Purba dan Sri Sulistyawati, Pelaksanaan Hukuman Mati, Yogyakarta, 2015. hlm. 8

(12)

23

untuk melaksanakan bunyi putusan.10 Eksekusi merupakan bagian dari seluruh rangkaian proses penegakan hukum pidana atau proses peradilan pidana.11 Syarat suatu putusan dapat dilakukan eksekusi yaitu pada saat putusan pengadilan telah memperoleh kekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde).

Dalam Pasal 195 HIR/Pasal 207 RBG dikatakan : “Hala menjalankan Putusan Pengadilan Negeri dalam perkara yang pada tingkat pertama diperiksa oleh Pengadilan Negeri atas perintah dan tugas Pimpinan ketua pengadilan negeri yang pada tingkat pertama memeriksa perkara itu menurut cara yang diatur dalam pasal-pasal HIR”. Hakikat pelaksanaan putusan pengadilan (eksekusi) bertujuan agar amar putusan dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Seorang terdakwa yang ditahan dan dalam amar putusan bebas (vrijspraak) atau lepas dari segala tuntutan hukum (onslag van recht vervolging), maka diperlukan tahap pelaksanaan putusan (eksekusi) untuk segera mengeluarkan terdakwa dari tahanan.12

Putusan yang memuat pemidanaan juga memerlukan tahapan eksekusi yang bertuan agar pemidanaan dilaksanakan sesuai dengan amar putusan pengadilan. Adapun jenis pidana yang diatur dalam pasal 10 KUHP, terdiri dari:

a. Pidana Pokok.

1. Pidana mati

10 Subekti, Hukum Acara Perdata,Bandung, Bina Cipta, (1997), Hlm. 128

11 Djernih Sitanggang, Kepastian Hukum Masa Tunggu Eksekusi Pidana Mati Dalam Mewujudkan Rasa Keadilan Menuju Pembaharuan Hukum Pidana, Pustaka Reka Cipta, (2018), hlm. 112-113.

12 Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana Indonesia: Suatu Tinjauan Khusus Terhadap surat Dakwaan, Eksepsi dan putusan peradilan, cet.4, Citra Aditiya Bakti, Bandaung, (2012), hlm. 27- 29.

(13)

24 2. Pidana penjara

3. Pidana kurungan 4. Pidana denda 5. Pidana tutupan

b. Pidana Tambahan

1. Pencabutan hak-hak tertentu 2. Perampasan barang-barang tertentu 3. Pengumuman putusan hakim

Putusan pemidanaan pada hakikatnya merupakan putusan yang berisikan suatu perintah menghukum terdakwa atas perbuatan yang dilakukannya sesuai dengan amar putusan. Berkaitan dengan hal tersebut, maka eksekusi putusan pemidanaan bertujuan agar mamastikan terpidana segera menjalani hukumannya, termasuk eksekusi putusan pidana mati.13

Eksekusi hukuman mati juga merupakan salah satu bagian dari seluruh rangkaian proses penegakan hukum pidana, yang bertujuan untuk memastikan terpidana mati segera menjalani hukuman mati. Tata cara eksekusi pidana mati sebagaimana diatur dalam pasal 11 KUHP, sebenarnya berasal dari ketentuan pasal 11 WvS.Voor Nederlands Indie, yang mengatur pelaksanaan pidana mati dengan jalan menggantung terpidana mati oleh seorang algojo yang telah berlangsung sampai tanggal 8 maret 1942 ketika pemerintahan

13 Djernih Sitanggang, Kepastian Hukum Masa Tunggu Eksekusi Pidana Mati Dalam Mewujudkan Rasa Keadilan Menuju Pembaharuan Hukum Pidana, Op.cit, (2018), hlm. 15-16

(14)

25

belandamenyerah kepada Jepang. Jepang mengeluarkan peraturan Osamu Gunrei No.1 Tahun 1942 yang menyatakan bahwa pelaksanaan pidana mati

dengan jalam menembak mati terpidana. Sejak diberlakukan WvS.Voor Nederlands Indie yang diubah menjadi Wetboek van Strafrecht atau disebut

KUHP melalui Undang – undang Nomor 1 Tahun 1946, maka berlaku pasal 11 WvS.14 Sehingga pada akhirnya diundangkannya UU No.2/Penpres/1964 pada tanggal 27 April 1964, mengubah pelaksanaan pidana mati dengan ditembak sampai mati.

Eksekusi merupakan cerminan dari tanggung jawab negara melalui apparat penegak hukumnya yaitu kejaksaan. Eksekusi pidana mati oleh kejaksaan harus dilaksanakan dengan penuh kehati – hatian, ketelitian dan kecermatan, karena eksekusi pidana mati mempunyai karakteristik yang berbeda dengan eksekusi putusan pidana penjara atau seumur hidup. Terpidana mati yang telah meninggal dunia setelah dieksekusi mati pada saat pengajuan peninjauan kembali, maka akan menimbulkan persoalan pelanggaran Hak Asasi Manusia manakala permohonan peninjauan Kembali dikabulkan. Begitu juga dengan persoalan eksekusi jika dihadapkan dengan hak untuk mengajukan permohonan grasi, sehingga eksekusi pidana mati tidak dapat hanya didasarkan pada ketentuan yang berlaku di KUHAP, melainkan juga didasarkan pada ketentuan – ketentuan yang berlaku di luar KUHAP. 15

14Andi Hamzah, Hukum Acara Pidana Indonesia, ed.2, cet. 10, Sinar Grafika, Jakarta, (2016), hlm. 312-313.

15Djernih Sitanggang, Kepastian Hukum Masa Tunggu Eksekusi Pidana Mati Dalam Mewujudkan Rasa Keadilan Menuju Pembaharuan Hukum Pidana, Op.cit, (2018), hlm. 230-231

(15)

26

2.3 TINJAUAN UMUM TENTANG KEPASTIAN HUKUM

Kepastian hukum merupakan salah satu tujuan hukum dapat diartikan sebagai bagian dari upaya mewujudkan keadilan. Bentuk nyata dari sebuah kepastian hukum adalah pelaksanaan atau penegakan hukum terhadap suatu tindakan tanpa memandang siapa yang melakukan.Kepastian diperlukan untuk mewujudkan prinsip persamaan dihadapan hukum tanpa diskriminasi.

Kata “kepastian” berkaitan erat dengan asas kebenaran, yaitu sesuatu yang secara ketat dapat disilogismekan secara legal-formal. Melalui logika deduktif, aturan-aturan hukum positif ditempatkan sebagai premis mayor, sedangkan peristiwa konkret menjadi premis minor. Melalui sistem logika tertutup akan serta merta dapat diperoleh konklusinya. Konklusi itu harus sesuatu yang dapat diprediksi, sehingga semua orang wajib berpegang kepadanya. Dengan pegangan inilah masyarakat menjadi tertib. Oleh sebab itu, kepastian akan mengarahkan masyarakat kepada ketertiban.16 Beberapa definisi dikemukakan oleh beberapa ahli mengenai kepastian hukum salah satunya menurut Sudikno Mertukusumo, kepastian hukum adalah jaminan bahwa hukum dijalankan, bahwa yang berhak menurut hukum dapat memperoleh haknya dan bahwa putusan dapat dilaksanakan.17

Kepastian hukum menghendaki adanya upaya pengaturan hukum dalam perundang-undangan yang dibuat oleh pihak yang berwenang dan berwibawa,

16Sidharta Arief, Meuwissen Tentang Pengembanan Hukum, Ilmu Hukum, Teori Hukum dan Filsafat Hukum, PT Refika Aditama, Bandung, (2007), hlm. 8

17Chairul Arrasjid, Dasar-Dasar Ilmu Hukum (Jakarta : Sinar Grafika, 2008), hlm.160.

(16)

27

sehingga aturan-aturan itu memiliki aspek yuridis yang dapat menjamin adanya kepastian bahwa hukum berfungsi sebagai suatu peraturan yang harus ditaati.18 Tujuan hukum adalah mengatur pergaulan hidup secara damai jika ia menuju peraturan yang adil, artinya peraturan dimana terdapat keseimbangan antara kepentingan – kepentingan yang dilindungi, dan setiap orang memperoleh sebanyak mungkin yang menjadi bagiannya.19 Dalam tujuan hukum bukan hanya keadilan saja, melainkan juga kepastian hukum dan kemanfaatan hukum.

Kepastian hukum merupakan nilai lebih dari peraturan tertulis daripada tidak tertulis. Dengan adanya peraturan tertulis orang dapat lebih mudah menemukan, membaca, dan memastikan bagaimana hukumnya.20 Kepastian hukum dapat dilihat dari dua sudut, yaitu kepastian hukum itu sendiri dan kepastian karena hukum.21

Kepastian hukum secara normatif adalah ketika suatu peraturan dibuat dan diundangkan secara pasti karena mengatur secara jelas dan logis. Jelas dalam artian tidak menimbulkan keragu-raguan (multi tafsir) dan logis. Jelas dalam artian ia menjadi suatu sistem norma dengan norma lain sehingga tidak berbenturan atau menimbulkan konflik norma. Kepastian hukum menunjuk kepada pemberlakuan hukum yang jelas, tetap, konsisten dan konsekuen yang pelaksanaannya tidak dapat dipengaruhi oleh keadaan-keadaan yang sifatnya

18Asikin zainal, Pengantar Tata Hukum Indonesia, Rajawali Press, Jakarta, 2012.

19L.J. Van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, terj. Oetarid Sadino, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1993), hlm. 11

20Donald Albert Rumokoy dan Frans Maramis, Pengantar Ilmu Hukum, Rajawali Pers, Jakarta, 2014, hlm. 141

21Syafiruddin Kalo, “Penegakan Hukum yang Menjamin Kepastian Hukum dan Rasa Keadilan Masyarakat Suatu Sumbangan Pemikiran” Makalah disampaikan pada Pengukuhan Pengurus Tapak Indonesia Coordinator Daerah Sumatra Utara, Medan, 27 April 2007, hlm. 4.

(17)

28

subjektif. Kepastian dan keadilan bukanlah sekedar tuntutan moral, melainkan secara factual mencirikan hukum. Suatu hukum yang tidak pasti dan tidak mau adil bukan sekedar hukum yang buruk.22

Radbuch sebagaimana dikutip oleh Riswandi (2005 : 167) mengemukakan adanya tiga cita (idée) dalam hukum yaitu nilai keadilan, nilai kemanfaatan dan nilai kepastian hukum. Keadilan menuntut agar hukum selalu mengedepankan keadilan, kemanfaatan menuntut agar hukum selalu mengedepankan manfaat, sedangkan kepastian hukum menuntut terutama adanya peraturan hukum. Tujuan hukum adalah mengatur pergaulan hidup secara damai jika ia menuju peraturan yang adil, artinya peraturan dimana terdapat keseimbangan antara kepentingan – kepentingan yang dilindungi, dan setiap orang memperoleh sebanyak mungkin yang menjadi bagiannya.23

a. Nilai Kepastian.

Kepastian hukum menurut Soedikno Mertokusumo, merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi dalam penegakan hukum. Sehingga kepastian hukum merupakan perlindungan yustisiabel terhadap tindakan sewenang- wenang, yang berarti bahwa seseorang akan dapat memperoleh sesuatu yang diharapkan dalam keadaan tertentu.24 Montesquieu memberikan gagasan yang kemudian dikenal sebagai asas

22Cst Kansil, Christine , S.T Kansil, Engelien R, Palandeng dan Godlieb N Mamahit, Kamus Istilah Hukum, Jakarta, (2009), Hlm. 385

23L.J. Van Apeldoorn, Pengantar Ilmu Hukum, terj. Oetarid Sadino, (Jakarta: Pradnya Paramita, 1993), hlm. 11

24Marwan Mas, Pengantar Ilmu Hukum (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1997), hlm. 73-74.

(18)

29

nullum crimen sine lege, yang tujuannya memberikan perlindungan hukum bagi setiap warga Negara terhadap kesewenangan negara.25 b. Nilai Kemanfaatan.

Dalam pelaksanaan atau penegakan hukum, masyarakat mengharapkan manfaatnya. Hukum adalah untuk manusia, maka pelaksanaan hukum atau penegakan hukum harus memberi manfaat atau kegunaan bagi masyarakat. Jangan sampai pelaksanaan atau penegakan hukum menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.26

Proses peninjauan kembali yang dapat dilakukan lebih dari satu kali ditujukan untuk penegakkan keadilan, serta untuk melindungi kepentingan umum atau kepentingan Negara dalam proses penyelesaian perkara pidana. Kepentingan itu sendiri adalah tuntutan perorangan atau kelompok yang diharapkan untuk dipenuhi dan pada hakekatnya mengandung kekuasaan yang dijamin dan dilindungi oleh hukum dalam melaksanakannya. Tidak dapat disangkal bahwa tindakan Negara harus ditujukan kepada pelayanan umum dengan memperhatikan dan melindungi kepentingan orang banyak (kepentingan umum).27

Amar putusan yaitu pemidanaan, bukan diberikan kepada negara tetapi terpidana sebagai orang atau subyek hukum, sesuai ketentuan Peninjauan Kembali, maka hanya terpidana saja yang berhak

25 Ibid.

26 Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, Bab-Bab Tentang Penemuan Hukum (Bandung Citra Aditya Bakti, 1993), hlm. 2

27 Sudikno Mertokusumo, Kapita Selekta Ilmu Hukum (Jakarta : Liberty, 2011), hlm. 74-75

(19)

30

mengajukan Peninjauan Kembali, dan ahli waris dalam penyebutan tidaklah berdiri sendiri tetapi demi hukum mewakili terpidana.28

Upaya hukum luar biasa tidak dapat dibatasi waktu atau ketentuan formalitas untuk pengajuan upaya hukum luar biasa, seperti PK, karena sangat dimungkinkan adanya novum yang substansial baru ditemukan yang pada saat PK sebelumnya belum ditemukan.29 Hal ini yang didambakan para pencari keadilan (justiciabelen) sangat mendambakan perkara yang diajukan ke pengadilan dapat diputus oleh hakim yang profesional dan memiliki integritas moral tinggi sehingga dapat melahirkan putusan yang tidak saja mengandung aspek kepastian hukum (keadilan prosedural), tetapi juga berdimensikan legal justice, moral justice, dan social justice mengingat keadilan itulah menjadi tujuan utama yang hendak dicapai dari proses penyelesaian sengketa di pengadilan.30 Oleh karena itu, pembatasan upaya hukum PK hanya dapat dilakukan satu kali sehingga harus dikaji dari perspektif kesetaraan pemberian kesempatan mengajukan PK kepada para pihak.

c. Nilai Keadilan

Nilai keadilan dalam peninjauan kembali yang dapat dilakukan lebih dari satu kali yaitu memberikan kebebasan hak dalam mengajukan

28Adi Harsanto, Jubair dan Sulbadana, Upaya Hukum Peninjauan Kembali Dalam Perkara Pidana Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, e-Jurnal Katalogis, Vol. 5, No. 3,(2017), hlm. 5

29Mahkamah Konstitusi, “Meniti Keadilan dalam Pengajuan PK Lebih dari Satu Kali”, Jurnal Konstitusi No. 86 April 2014, hlm. 6. Serta dalam Putusan Mahkamah Konstitusi No. 34/PUU- XI/2013 tanggal 22 Juli 2013, hlm. 86.

30Bambang Sutiyoso, Metode Penemuan Hukum: Upaya Mewujudkan Hukum Yang Pasti dan Berkeadilan, UII Press, Yogyakarta, (2009), hlm. 6.

(20)

31

peninjauan kembali dengan alasan adanya novum terkait dengan perkembangan teknologi dan pengetahuan yang belum pernah diajukan sebelumnya dalam persidangan maupun PK awal, dan juga benar-benar merupakan bukti yang memuat fakta baru bukan merupakan perulangan semata. Sebab PK berulang tersebut dapat juga memperhatikan keadilan korektif, dimana perlu memperbaiki sesuatu yang salah ketika kesalahan dilakukan negara melalui putusan hakim yang sudah berkekuatan hukum tetap. Keadilan korektif berupaya untuk memberikan kompensasi yang memadai bagi pihak yang dirugikan, yaitu pihak terpidana yang telah dirampas hak-haknya oleh negara meliputi penangkapan, penyidikan, penahanan, dan proses persidangan. Oleh karena itu peninjauan kembali bertujuan untuk mengembalikan hak-hak terpidana, apabila ditemukan bukti atau keadaan baru dimana dimungkinkan untuk hakim akan memberikan putusan bebas atau lepas kepada terpidana.

Menurut Aristoteles, hukum dibentuk berlandaskan kepada keadilan, dan ia diarahkan sebagai pedoman bagi perilaku individu - individu dalam keseluruhan hal yang bersinggungan dengan konteks kehidupan masyarakat. Proses pembentukan itu dengan demikian bertitik berat pada atau melingkupi keseluruhan tema yang berhubungan dengan masyarakat.31 Keadilan dikualifikasikan ke dalam model keadilan distributif dan keadilan komunikatif.32Keadilan distributif adalah suatu

31Ni‟matul Huda, Hukum Tata Negara Indonesia (Jakarta : Rajawali Pers, 2005), hlm. 48

32Bagir Manan, Teori dan Politik Konstitusi (Yogyakarta : Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia Press, 2003), hlm. 59

(21)

32

keadilan yang memberikan kepada setiap orang didasarkan atas jasa- jasanya atau pembagian menurut haknya masing-masing. Keadilan distributif berperan dalam hubungan antara masyarakat dengan perorangan. Keadilan komunikatif adalah perlakuan kepada seseorang tanpa melihat jasa – jasanya. Keadilan komunikatif berhubungan dengan sanksi tanpa mempedulikan jasa yang telah diperbuatnya.33

Ketiga cita dalam hukum tersebut harus ada kompromi yang seimbang dan proporsional. Namun dalam prakteknya untuk mewujudkan suatu kompromi yang seimbang dan proporsional tidaklah mudah. Dalam hukum tanpa adanya kepastian hukum seseorang tidak paham apa yang harus diperbuatnya sehingga menimbulkan keresahan. Tetapi jika terlalu menekankan pada kepastian hukumnya, tentunya dalm menaati peraturan hukum menjadi terlalu ketat sehingga mengakibatkan kaku pada hukum tersebut dan menimbulkan rasa tidak adanya keadilan.

Selanjutnya Kepastian hukum adalah perihal (keadaan) yang pasti, ketentuan atau ketetapan. Hukum secara hakiki harus pasti dan adil. Pasti sebagai pedoman kelakukan dan adil karena pedoman kelakuan itu harus menunjang suatu tatanan yang dinilai wajar. Hanya karena bersifat adil dan dilaksanakan dengan pasti hukum dapat menjalankan fungsinya. Kepastian hukum merupakan pertanyaan yang hanya bisa dijawab secara normatif, bukan sosiologi.34

33Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Sebuah Pengantar (Yogyakarta : Liberty, 2005), hlm.

24

34Dominikus Rato, Filsafat Hukum Mencari: Memahami dan Memahami Hukum, Laksbang Pressindo, Yogyakarta, (2010), hlm.59

(22)

33

2.4 TINJAUAN UMUM TENTANG PENINJAUAN KEMBALI.

Peninjauan Kembali (PK) merupakan salah satu bentuk upaya hukum luar biasa. Luar biasa yang dimaksud dalam hal ini karena upaya hukum tersebut diajukan untuk melawan suatu putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde).35 Menurut KUHAP Peninjauan Kembali (PK) merupakan upaya hukum yang dapat ditempuh oleh terpidana/orang yang dijatuhi hukuman dalam suatu kasus hukum terhadap suatu putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap dalam sistem peradilan di Indonesia. Peninjauan Kembali (PK) atau dalam Bahasa Belanda dikenal dengan istilah Herziening adalah suatu upaya hukum luar biasa dalam hukum pidana, untuk melakukan peninjauan kembali terhadap suatu putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap (inkracht van gewjisde). Hal ini sesuai dengan ketentuan yang terdapat di dalam Pasal 263 ayat (1) Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang pada intinya menyebutkan bahwa PK dapat diajukan terhadap semua putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap. PK dapat dimintakan/diajukan kepada Mahkamah Agung (MA). PK baru bisa dimintakan/diajukan ke MA setelah semua upaya hukum biasa berupa banding dan kasasi telah tertutup untuk dilakukan. PK dapat dimintakan/diajukan terhadap semua putusan pengadilan, baik Pengadilan Negeri (PN), Pengadilan

35Jimly Asshidiqie, Negara Hukum Indonesia (Jakarta : Universitas Jayabaya Press, 2010), hlm.

63.

(23)

34

Tinggi (PT) maupun Mahkamah Agung (MA), dengan persyaratan bahwa putusan instansi pengadilan sebagaimana tersebut di atas telah mempunyai kekuatan hukum tetap.

Putusan PN dapat dimintakan/diajukan PK dengan syarat bahwa putusan PN tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan telah tertutup upaya hukum biasa untuk melakukan banding ke PT. Demikian pula putusan PT yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dan telah tertutup upaya hukum biasa untuk melakukan kasasi ke MA. Putusan MA dapat diajukan PK, setelah putusan MA tersebut telah mempunyai kekuatan hukum tetap. Mempunyai kekuatan hukum tetap berarti telah dibacakan putusan pengadilan (vonis) terhadap terdakwa di depan sidang terbuka untuk umum, dan ditandai pula dengan telah diberitahukannya secara sah putusan pengadilan tersebut kepada terdakwa dalam tenggang waktu 180 hari, maka sejak saat itu terbuka jalan untuk meminta/mengajukan PK baik terhadap putusan PN, PT maupun MA.

Dalam Peninjauan Kembali terdapat prinsip – prinsip umum didalamnya yang berisikan.

1) Pidana yang dijatuhkan tidak boleh melebihi putusan semula.

Ketentuan ini diatur dalam Pasal 266 ayat (3) KUHAP yang berbunyi "Pidana yang dijatuhkan dalam putusan peninjauan kembali tidak boleh melebihi pidana yang telah dijatuhkan dalam putusan semula" Mahkamah Agung tidak diperkenankan menjatuhkan putusan yang hukuman pidananya melebihi putusan pengadilan negeri. Prinsip ini sesuai dengan tujuan diadakannya upaya peninjauan kembali yaitu

(24)

35

untuk memenuhi hak pemohon untuk mencari keadilan. Dengan upaya peninjauan kembali, terpidana diberikan kesempatan untuk membela kepentingannya agar terbebas dari ketidakbenaran penegakan hukum.36 2) PK tidak menangguhkan atau menghentikan eksekusi.

Secara normatif undang-undang mengatur bahwa PK tidak menangguhkan atau menghentikan eksekasi (pelaksanaan putusan).

Objek permohonan upaya hukum PK adalah suatu putusan yang berkekuatan hukum tetap (BHT). Hal ini berarti bahwa saat putusan BHT, terdakwa telah berubah status hukumnya menjadi terpidana.

Putusan pengadilan yang BHT demikian tidak terpengaruh dengan proses PK yang diajukan sehingga tetap dilaksanakan.37

3) PK dapat dilakukan lebih dari satu kali.

Dalam Pasal 268 ayat (3) KUHAP, disebutkan bahwa PK terhadap suatu putusan pengadilan hanya dapat dilakukan satu kali.

Setelah adanya putusan Mahkamah Konstitusi Nomor. 34/PUU-XI/2013 yang mengabulkan seluruhnya mengenai peninjauan Kembali, maka setiap terpidana berhak mengajukan peninjauan kembali lebih dari sekali dengan ketentuan adanya novum baru berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi.

36Yahya Harahap, Upaya Hukum Luar Biasa : Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP Pemeriksaan Sidang Pengadilan, Banding, Kasasi, dan Peninjauan Kembali (Jakarta:

Sinar Grafika, 2008), hlm. 607.

37M. Yahya Harahap, Ruang Lingkup Peninjauan Kembali : Kekuasaan Mahkamah Agung Pemeriksaan Kasasi dan Peninjauan Kembali Perkara Perdata (Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hlm. 431.

(25)

36

Berdasarkan ketentuan Pasal 263 ayat (2) KUHAP upaya hukum peninjauan kembali (PK)/Herziening dapat diajukan karena adanya alasan- alasan sebagai berikut :

1) Apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat, bahwa jika keadaan itu sudah diketahui pada waktu sidang masih berlangsung, hasilnya akan berupa putusan bebas atau putusan lepas dari segala tuntutan hukum atau tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima atau terhadap perkaraitu diterapkan ketentuan pidana yang lebih ringan;

2) Apabila dalam pelbagai putusan terdapat pernyataan bahwa sesuatu telah terbukti, akan tetapi hal atau keadaan sebagai dasar dan alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu, ternyata telah bertentangan satu dengan yang lain.

3) Apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata.

Menurut Leden Marpaung, hal tersebut diatas merupakan syarat materil pengajuan upaya hukum peninjauan kembali (PK)/Herziening. Hanya karena alasan tersebutlah upaya hukum peninjauan kembali (PK)/Herziening dapat dilakukan.38

Permintaan peninjauan kembali ini adalah hak yang diberikan pada terpidana atau ahli warisnya. Permintaan pemeriksaan peninjauan kembali

38 Leden Marpaung, Perumusan Memori Kasasi dan Peninjauan Kembali Perkara Pidana, Sinar Grafika, Jakarta, (2004), hlm. 75.

(26)

37

tidak dibatasi dengan suatu jangkawaktu. Peninjauan kembali dilakukan secara tertulis dengan alasan-alasan sebagai berikut:

1) Apabila terdapat keadaan baru yang menimbulkan dugaan kuat bahwa jika keadaan itu sudah diketahui pada waktu sidang masih berlangsung, hasilnya akan berupa putusan bebas atau putusan lepas dari segala tuntutan hukum atau tuntutan penuntut umum tidak dapat diterima atau terhadap perkara itu ditetapkan ketentuan pidana yang lebih ringan.

2) Apabila dalam pelbagai putusan terdapat pernyataan bahwa sesuatu telah terbukti, akan tetapi hal atau keadaan sebagai dasar dan alasan putusan yang dinyatakan telah bertentangan satu dengan yang lain.

3) Apabila putusan itu dengan jelas memperlihatkan suatu kekhilafan hakim, atau sesuatu kekeliruan yang nyata.39

Permintaan pemeriksaan peninjauan kembali diajukan kepada panitera pengadilan yang telah memutus perkaranya dalam tingkat pertama.

Pemeriksaan dilakukan oleh hakim yang berbeda dengan dihadiri pemohon dan jaksa dapat menyampaikan pendapatnya. Terakhir, atas pemeriksaan peninjauan kembali dibuat berita acara pemeriksaan yang ditandatangani oleh hakim, jaksa, pemohon dan panitera. Dalam prakteknya dewasa ini, kehadiran pemohon in-person menjadi kewajiban. Apabila pemohon sendiri tidak hadir dan menandatangani berita acara itu, maka MA cenderung untuk menyatakan

39 Luhut M.P. Pangaribuan, Hukum Acara Pidana: Surat Resmi Advokat Di Pengadilan, (Jakarta : Papas Sinar Santika, 2013), hlm. 187

(27)

38

permohonan peninjauan kembali itu tidak dapat diterima. Tingkat pemeriksaan di pengadilan wajib didukung oleh alat – alat bukti yang sah mengenai tindak pidana yang disangkakan, sehingga tidak memerlukan proses peninjauan kembali secara berulang-ulang dengan dalih untuk mencapai keadilan.40

Permintan peninjauan kembali tidak dibatasi dengan suatu jangka waktu Pasal 264 ayat (3) KUHAP. Ketentuan ini merupakan ciri khas dari upaya hukum luar biasa dan membedakan dengan upaya hukum biasa. Dalam hal permohonan peninjauan kembali adalah terpidana yang kurang memahami hukum, panitera pada waktu menerima permintaan peninjauan kembali wajib menanyakan apakah alasan ia mengajukan permintaan tersebut dan untuk itu panitera membuat surat permintaan peninjauan kembali Pasal 264 ayat (4) KUHAP.41

40Adi Harsanto, Jubair, dan Sulbadana, Upaya Hukum Peninjauan Kembali DalamPerkara Pidana Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi, Jurnal Katalogis, Vol. 5, No. 3, Maret 2017, hlm. 1- 11

41Mohammad Taufik Makarao dan Suhasril, Hukum Acara Pidana Dalam Teori Dan Praktek, Penerbit Ghalia Indonesia. Bogor, (2004), hlm. 233.

(28)

39

Referensi

Dokumen terkait

XI/2013 tentang Peninjauan Kembali yang dapat dilakukan lebih dari satu. kali terhadap vonis

Istilah perjanjian sering disebut juga dengan pesetujuan, yang berasal dari bahasa Belanda yakni overreenkomst. 7 Perjanjian dalam KUH Perdata diatur dalam Buku III tentang

Implikasi Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 34/PUU-XI/2013 Terhadap Upaya Hukum Peninjauan Kembali Dalam Hukum Acara Pidana Terkait Asas Litis Finiri Oportet, disusun

Istilah Tindak Pidana atau strafbaarfeit atau perbuatan pidana merupakan suatu perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman

adalah anoreksia atau istilah kerennya dikenal dengan istilah anoreksia nervosa. Anoreksia adalah aktivitas untuk menguruskan badan dengan melakukan pembatasan makan secara

(4) Merupakan upaya peninjauan dari penilaian kembali pokok-pokok pemikiran, ide-ide dasar, nilai-nilai sosio-filosofik, dan kebijakan hukum pidana selama

12Berdasarkan pembahasan tersebut, maka pada putusan upaya hukum peninjauan kembali dengan nomor 134 PK/Pdt.Sus-Pailit/2016, upaya hukum yang diajukan oleh Pemohon Peninjauan Kembali

Tindakan pasangan calon suami istri yang berbeda agama kemudian melakukan perkawinan di luar negeri disebut dengan istilah penyelundupan hukum yang dalam bahasa Belanda dikenal dengan