PENGARUH MEDIA
ONLINE
, SENSITIVITAS
INDUSTRI DAN STRUKTUR
CORPORATE
GOVERNANCE
TERHADAP
KUALITAS
ENVIRONMENTAL DISCLOSURE
(Studi pada Perusahaan High Profile di Bursa Efek Indonesia)
SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi pada Universitas Negeri Semarang
Oleh
Arga Mustika Winarsih NIM 72111411119
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI
i
PENGARUH MEDIA
ONLINE
, SENSITIVITAS
INDUSTRI DAN STRUKTUR
CORPORATE
GOVERNANCE
TERHADAP
KUALITAS
ENVIRONMENTAL DISCLOSURE
(Studi pada Perusahaan High Profile di Bursa Efek Indonesia)
SKRIPSI
v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN
MOTTO :
Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu
telah selesai dari urusan kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang
lain (Q.S. Al-Insyirah: 6-7).
“Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu.” (Andrea
Hirata)
PERSEMBAHAN :
Bapak dan Ibuku tercinta yang senantiasa
mengiringi langkahku serta menyebut
namaku dalam doanya.
Adikku Dedy dan Prasetyo tersayang
yang selalu memberikan semangat dan
motivasi.
Mbak Uthe, Mbak Rida, Dwi, Mbak
Novi, Ghani, Kiki, Dhanu, Hendy dan
Mbak Ani yang selalu memberikan
semangat dan bantuan.
Dulur-dulur lanang (Abah Mansur, Roi,
Dedy, Bagus) dan sahabat tersayang Kak
Hesti, Kak Vira dan Kak Mekar.
vi PRAKATA
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang
senantiasa melimpahkan rahmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan Skripsi
yang berjudul “Pengaruh Media Online, Sensitivitas Industri dan Struktur Corporate
Governance Terhadap Kualitas Environmental Disclosure” dengan baik, untuk memenuhi salah satu syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana pada Jurusan
Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang.
Dalam penulisan skripsi penulis banyak mendapat bantuan baik secara
langsung maupun tidak langsung dari berbagai pihak dalam hal membimbing,
mengumpulkan data, pengarahan dan saran-saran. Pada kesempatan ini penulis
menyatakan ucapan terimakasih kepada :
1. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum, selaku Rektor Universitas Negeri Semarang
yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk belajar di Universitas
Negeri Semarang.
2. Dr. Wahyono, M.M, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Negeri
Semarang yang memberikan kesempatan dan fasilitas untuk mengikuti program
vii
3. Drs. Fachrurrozie, M.Si, selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan fasilitas dan pelayanan
selama masa studi.
4. Bestari Dwi Handayani, SE, M.Si, selaku Dosen Wali Akuntansi B 2011 yang
telah memberikan bimbingan, pengarahan dan motivasi selama penulis menimba
ilmu di Universitas Negeri Semarang.
5. Badingatus Sholikhah, SE, M.Si, selaku Dosen Pembimbing sekaligus Penguji 3
yang telah memberikan bimbingan, arahan dan nasihat kepada penulis, sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan lancar.
6. Dr. Agus Wahyudin, M.Si, selaku Penguji 1 yang telah memberikan masukan
dan penilaian terhadap penelitian ini.
7. Indah Anisykurlillah, SE, M.Si., Akt, CA, selaku Penguji 2 yang telah
memberikan masukan dan penilaian terhadap penelitian ini.
8. Nanik Sri Utaminingsih, SE, M.Si., Akt, selaku dosen akuntansi terima kasih
atas bimbingan, arahan dan masukan dalam proses penyusunan skripsi ini.
9. Semua dosen dan staff tata usaha yang telah membantu kelancaran penulis
selama menuntut ilmu di Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universtas
Negeri Semarang.
10. Seluruh kerabat, sahabat, teman dan pihak-pihak yang sudah membantu namun
viii
Penulis memohon maaf apabila dalam penyusunan maupun pembahasan
skripsi ini masih jauh dari sempurna karena keterbatasan pengetahuan dan
pengalaman. Semoga skripsi ini bermanfaat dan dapat digunakan sebagai tambahan
informasi bagi semua pihak yang membutuhkan.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Semarang, 5 Februari 2015
ix SARI
Winarsih, Arga Mustika. 2015. “Pengaruh Media Online, Sensitivitas Industri dan Struktur Corporate Governance Terhadap Kualitas Environmental Disclosure (Studi pada Perusahaan High Profiledi Bursa Efek Indonesia)”. Skripsi. Jurusan Akuntansi
S1. Fakultas Ekonomi. Universitas Negeri Semarang. Pembimbing Badingatus Solikhah, S.E., M.Si.
Kata Kunci : Corporate Governance, Environmental Disclosure, Liputan Media Online, Sensitivitas Industri.
Permasalahan tentang lingkungan dalam beberapa dekade menjadi perhatian oleh sebagian besar perusahaan di tingkat nasional maupun internasional, sehingga menyebabkan permintaan akan pengungkapan lingkungan semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh environmental media,
sensitivitas industri dan struktur corporate governance terhadap kualitas
environmental disclosure.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh perusahaan high profile industry
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2011, 2012 dan 2013. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling, dengan kriteria: 1) Merupakan perusahaan non keuangan; 2) Merupakan perusahaan high profile
industri yaitu pertambangan, energi, kimia, farmasi, kosmetik dan makanan dan minuman; 3) Menerbitkan laporan tanggung jawab sosial. Jumlah sampel yang diobservasi yaitu 129 data. Teknik analisis yang digunakan adalah regresi berganda yang dikembangkan menjadi lima model. Pengembangan model tersebut didasarkan pembagian tingkatan kualitas Environmental Disclosure, yaitu: Disclosure Quality Compliance (DQ_COMP), Disclosure Quality Pollution Prevention
(DQ_POLLPREV), Disclosure Quality Product Stewardship (DQ_PRODSTEW),
Disclosure Quality Sustainable Development (DQ_SUSDEV) dan Disclosure Quality Total (DQ_TOTAL).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sensitivitas industri berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas environmental disclosure di tingkat pencengahan polusi (pollution prevention) dan pengembangan berkelanjutan (sustainable development). Komisaris independen berpengaruh negatif signifikan terhadap kualitas
environmental disclosure di tingkat kepatuhan (compliance), pencengahan polusi (pollution prevention), penanganan produk (product stewardship) dan secara total. Keberagaman gender berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas environmental disclosure di tingkat kepatuhan (compliance). Dewan komisaris yang mempunyai pekerjaan lebih dari satu berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas
environmental disclosure di tingkat pencengahan polusi (pollution prevention) dan total. Ukuran dewan komisaris berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas
environmental disclosure di tingkat pencengahan polusi (pollution prevention),
x
pencengahan polusi (pollution prevention), penanganan produk (product stewardship), pengembangan berkelanjutan (sustainable development) dan secara total. Kepemilikan institusional berpengaruh positif signifikan terhadap kualitas
environmental disclosure di tingkat pencengahan polusi (pollution prevention),
pengembangan berkelanjutan (sustainable development).
Simpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah: 1) environmental disclosure di tingkat sustainable development merupakan pengungkapan yang paling tinggi, sehingga perusahaan yang sudah mencapai di tingkat sustainable development
xi ABSTRAK
Winarsih, Arga Mustika. 2015. “The Influence of Online Media, Sensitivity Industrial and Corporate Governance Structure on the Quality of Environmental Disclosure (Study on High Profile Company in Indonesia Stock Exchange)”. Final Project. S1 Accounting Department. Faculty Of Economics. Semarang State University. Advisor: Badingatus Solikhah, S.E., M.Si.
Keywords: Corporate Governance, Environmental Disclosure, Online Media, Sensitivity Industry.
Environmental issues of concern in recent decades by the majority of companies in the national and international levels, causing the demand for increased environmental disclosure. This study aims to determine the influence of environmental media, the sensitivity industry and the structure of corporate governance on the environmental disclosures quality.
The population in this study are all high-profile industry companies listed in Indonesia Stock Exchange in 2011, 2012 and 2013. The sampling method used in this research is purposive sampling, with the following criteria: 1) Is a non-financial company; 2) It is a high profile company is the mining industry, energy, chemical, pharmaceutical, cosmetic and food and beverage; 3) publish social responsibility reports. The number of samples was observed that 129 data. The analysis technique used is multiple regression developed into five models. The model development is based division of the Environmental Disclosure quality levels, namely: Disclosure Quality Compliance (DQ_COMP), Disclosure Quality Pollution Prevention (DQ_POLLPREV), Disclosure Quality Product Stewardship (DQ_PRODSTEW), Disclosure Quality Sustainable Development (DQ_SUSDEV) and Disclosure Quality Total (DQ_TOTAL).
The results showed that the sensitivity industry significant positive effect on the environmental disclosure quality in level of pollution prevention and sustainable development. Independent Commissioner significant negative effect on the environmental disclosure quality in the level of compliance, pollution prevention, product stewardship and in total. Gender diversity significant positive effect on the environmental disclosure quality in the level of compliance. Commissioners who have more work than one significant positive effect on the environmental disclosure quality in level of pollution prevention and total. Board size significant positive effect on the environmental disclosure quality in level of pollution prevention, product stewardship, sustainable development and in total. Independent audit committee significant negative effect on the environmental disclosure quality in level of pollution prevention, product stewardship, sustainable development and in total. Institutional ownership significant positive effect on the environmental disclosure quality in level of pollution prevention, sustainable development.
xii
xiii DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
PENGESAHAN KELULUSAN ... iii
PERNYATAAN ... iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v
PRAKARTA ... vi
SARI ... ix
ABSTRAK ... xi
DAFTAR ISI ... xiii
DAFTAR TABEL ... xvii
DAFTAR GAMBAR ... xix
DAFTAR LAMPIRAN ... xx
BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 13
1.3. Tujuan Penelitian ... 14
1.4. Kegunaan Penelitian ... 15
BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Teori Legitimasi ... 16
xiv
2.3. Corporate Social Responsibility (CSR) ... 19
2.4. Kinerja Lingkungan ... 20
2.5. Kualitas Environmental Disclosure ... 21
2.6. Environmental Disclosure Index Scorecard...25
2.7. Environmental Media ... 27
2.8. Sensitivitas Industri... 29
2.9. Corporate Governance ... 30
2.9.1. Definisi dan Konsep Corporate Governance ... 30
2.9.2. Asas Corporate Governance ... 32
2.9.3. Struktur Corporate Governance ... 33
2.10. Penelitian Terdahulu ... 41
2.11. Kerangka Pemikiran Teoritis dan Pengembangan Hipotesis ... 45
2.11.1. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 45
2.11.2. Pengembangan Hipotesis ... 46
BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Jenis dan Desain Penelitian... 56
3.2. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ... 57
3.2.1. Populasi...57
3.2.2. Sampel...57
3.2.3. Teknik Pengambilan Sampel...57
3.3. Variabel Penelitian... ... 58
3.3.1. Variabel Dependen ... 58
xv
3.3.3. Variabel Kontrol ... 62
3.4. Metode Pengumpulan Data ... 66
3.5. Metode Analisis Data ... 66
3.5.1. Analisis Deskriptif ... 66
3.5.2. Uji Asumsi Klasik ... 66
3.5.3. Analisis Regresi Berganda (Multiple Regression Analysis) ... 68
3.5.4. Uji Hipotesis ... 70
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Objek Penelitian ... 72
4.2. Statistik Deskriptif ... 75
4.3. Uji Asumsi Klasik ... 82
4.3.1. Uji Normalitas ... 82
4.3.2. Uji Multikolinearitas ... 82
4.3.3. Uji Heteroskedastisitas ... 83
4.3.4. Uji Autokorelasi ... 84
4.4. Uji Hipotesis ... 85
4.5. Uji Statistik t dan Model ... 97
4.6. Uji Koefisien Determinasi (R2)... 104
4.7. Pembahasan ... 106
4.7.1. Pengaruh Environmental Media Terhadap Kualitas Environmental Disclosure ... 106
xvi
4.7.3. Karakteristik Dewan Komisaris ... 108
4.7.4. Pengaruh Komite Audit Independen Terhadap Kualitas Environmental Disclosure ... 115
4.7.5. Pengaruh Kepemilikan Institusional Terhadap Kualitas Environmental Disclosure ... 116
4.7.6. Variabel Kontrol ... 118
BAB V PENUTUP 5.1. Simpulan ... 121
5.2. Keterbatasan... 123
5.3. Saran ... 123
DAFTAR PUSTAKA...125
xvii
DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1. Indikator Lagging dan Leading Ukuran Kinerja Lingkungan ... 21
Tabel 2.2 A Natural Resource-Based View: Conceptual Framework ... 23
Tabel 2.3. Ringkasan Penelitian Terdahulu ... 44
Tabel 3.1. Definisi Variabel ... 63
Tabel 4.1. Populasi dan Sampel ... 73
Tabel 4.2. Daftar Sampel Perusahaan... 73
Tabel 4.3. Statistik Deskriptif ... 75
Tabel 4.4. Frekuensi Sensitivitas Industri (SEN_IND) ... 80
Tabel 4.5. Hasil Analisis Frekuensi Variabel Sensitivitas Industri ... 80
Tabel 4.6. Statistik Non-Parametrik Kolmogorov-Smirnov (KS) ... 82
Tabel 4.7. Uji Multikolinearitas ... 83
Tabel 4.8. Uji Glejser ... 84
Tabel 4.9. Uji Run Test ... 85
Tabel 4.10. Uji Hipotesis DQ_COMP ... 86
Tabel 4.11. Uji Hipotesis DQ_POLLPREV ... 88
Tabel 4.12. Uji Hipotesis DQ_PRODSTEW ... 90
Tabel 4.13. Uji Hipotesis DQ_SUSDDEV ... 92
Tabel 4.14. Uji Hipotesis DQ_TOTAL ... 95
Tabel 4.15. Uji Statistik t DQ_COMP ... 97
Tabel 4.16. Uji Statistik t DQ_POLLPREV ... 99
xviii
Tabel 4.18. Uji Statistik t DQ_SUSDEV ... 101
Tabel 4.19. Uji Statistik t DQ_TOTAL ... 102
Tabel 4.20. Ringkasan Hasil Uji Regresi ... 103
xix
DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 1.1. Perbandingan Jumlah Protes Lingkungan Hidup Satu Dekade. ... 5
Gambar 1.2. Provisi Kasus Lingkungan Hidup Tahun 2013 ... 6
xx
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1 Daftar Sampel Perusahaan ... 131
Lampiran 2 Kualitas Environmental Disclosure ... 133
Lampiran 3 Environmental Disclosure Index Scorecard ... 137
Lampiran 4 Deskriptif Statistik ... 146
1 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Berdasarkan pedoman pengungkapan lingkungan yang diterbitkan oleh
Global Reporting Initiative (GRI), perusahaan dituntut untuk tidak hanya
memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi saja, tetapi juga dapat
membantu dalam memecahkan permasalahan terkait resiko dan ancaman terhadap
keberlanjutan (sustainability) dalam lingkup hubungan sosial, lingkungan dan
perekonomian (GRI, 2006). Menurut Elkington (1997), saat ini paradikma dan tujuan
bisnis tidak hanya mencari keuntungan (profit), tetapi juga bertanggung jawab
kepada masyarakat (people) dan bumi (planet). Paradigma bisnis inilah yang dikenal
dengan Triple–P Bottom Line (Profit, People, Planet).
Konsep Triple–P Bottom Line didasarkan pada konsep sustainability
development yaitu konsep pembangunan dimana untuk memenuhi kebutuhan hidup
manusia sekarang, tidak boleh mengurangi kemampuan generasi yang akan datang
dalam memenuhi kebutuhan hidup mereka (GRI, 2006). Konsep bisnis ini dibuat
guna pemenuhan kesejahteraan masyarakat agar perusahaan turut berkontribusi
dalam menjaga kelestarian lingkungan. Itulah sebabnya mengapa perusahaan perlu
mengungkapkan informasi tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Informasi mengenai tanggung jawab sosial dan lingkungan ini dapat
diungkap melalui laporan keberlanjutan (sustainability report). Sustainability report
2
dikembangkan sejak tahun 1990 dan disusun tersendiri secara terpisah dari laporan
keuangan atau laporan tahunan. Laporan ini menyajikan nilai-nilai organisasi, model
pemerintahan dan menunjukkan hubungan antara strategi dan komitmennya untuk
ekonomi global yang berkelanjutan. Pelaporan informasi tanggung jawab sosial dan
lingkungan merupakan bentuk pertanggungjawaban perusahaan dalam rangka
mendapatkan legitimasi serta perwujudan komitmennya kepada stakeholders.
Perusahaan harus memperhatikan kepentingan para stakeholder baik dari segi sosial,
lingkungan maupun ekonomi khususnya dalam hal lingkungan dan sosial.
Permasalahan tentang lingkungan telah menjadi perhatian oleh sebagian besar
perusahaan baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional. Permasalahan
tersebut timbul akibat aktivitas industri ekstraktif yang menyebabkan pencemaran
lingkungan mulai dari pengadaan bahan baku sampai proses produksi seperti:
kerusakan tanah, rusaknya ekosistem, polusi air, polusi udara dan polusi suara. Atas
dasar berbagai permasalahan lingkungan tersebut menyebabkan permintaan akan
pengungkapan lingkungan semakin meningkat.
Penelitian berbagai perusahaan yang dilakukan di Amerika Serikat
menunjukkan adanya peningkatan minat masyarakat terhadap pengungkapan
sukarela atas informasi lingkungan. Peningkatan tersebut terjadi setelah
diterbitkannya berbagai peraturan dan pedoman mengenai tanggung jawab sosial dan
lingkungan. Peraturan dan pedoman tersebut diantaranya: Securities and Exchange
Commision (SEC) yang menerbitkan persyaratan yang berkaitan dengan resiko bisnis
dan perubahan iklim (SEC, 2010), GRI yang mengeluarkan pedoman pelaporan
Standardization (ISO) yang menetapkan ISO 14001 tentang sistem manajemen
lingkungan (ISO, 2004) dan United States Environmental Protection Agency (US
EPA) yang mengeluarkan data Toxics Release Inventory (TRI) (EPA, 2013).
Mengacu berbagai peraturan tersebut sebagian besar perusahaan berkeinginan untuk
mengungkapkan informasi lingkungannya dalam rangka mendapatkan legitimasi dari
para stakeholder dan meningkatkan transparansi serta akuntabilitas perusahaan.
Sejalan dengan perkembangan, berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun
2007 tentang Perseroan Terbatas, pelaporan tanggung jawab sosial dan lingkungan
bukan lagi bersifat sukarela bagi perusahaan dalam mempertanggungjawabkan
kegiatan perusahaannya. Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 Pasal 74 menyatakan :
(1) Perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan
dengan sumber daya alam wajib melaksanakan Tanggung Jawab Sosial dan
Lingkungan. (2) Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan merupakan kewajiban
Perseroan yang dianggarkan dan diperhitungkan sebagai biaya Perseroan yang
pelaksanaannya dilakukan dengan memperhatikan kepatutan dan kewajaran. (3)
Perseroan yang tidak melaksanakan kewajiban dikenai sanksi sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan. Sedangkan Pasal 66 ayat 2c mewajibkan
semua perseroan terbatas untuk melaporkan pelaksanaan tanggung jawab sosial dan
lingkungan dalam Laporan Tahunan. Dengan demikian, perusahaan atau perseroan di
bidang sumber daya alam harus melaporkan tanggung jawab sosial dan lingkungan
sebagai bentuk pertanggungjawaban perusahaan terhadap masyarakat serta
4
Berdasarkan data ISRA (Indonesia Sustainability Reporting Award) dalam
antaranews.com menyatakan bahwa pada tahun 2005 hanya ada 1 perusahaan yang
membuat laporan tanggung jawab sosial dan lingkungan secara terpisah. Selanjutnya
di tahun 2013 terdapat 42 perusahaan yang melaporkan seara terpisah. Data tersebut
menunjukkan ketika pelaporan sustainability report masih bersifat sukarela hanya
ada 1 perusahaan yang melaporkan. Peningkatan pengungkapan di tahun 2013,
terjadi setelah terdapat aturan tentang pelaporan sustainability report. Namun
peningkatantersebut mengindikasikan masih minimnya perusahaan yang melakukan
pelaporan sustainability report, apabila dibandingkan dengan perusahaan publik di
Bursa Efek Indonesia pada tahun 2013 yaitu kurang lebih terdapat 500 emiten.
Berbagai kasus lingkungan menjadi penyebab masih minimnya pelaporan
tanggung jawab sosial dan lingkungan di Indonesia. Kasus-kasus tersebut
diantaranya: kasus PT. Indah Kiat Pulp and Paper (PT. IKPP) Serang Banten yang
tidak memiliki sistem pengolahan limbah yang baik dengan membuang limbah ke
Sungai Ciujung yang mengakibatkan pencemaran dan berdampak pada menurunnya
kualitas sungai (WALHI, 2014). PT. Power Steel Mandiri (PT. PSM) yang berada di
Tangerang mengoperasikan empat dari sepuluh tungku pembakaran baja yang belum
mendapatkan izin Amdal dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten
Tangerang yang mencemari udara dengan bahan B3 yaitu Bahan Beracun dan
Berbahaya (WALHI, 2014). Selain itu hasil audit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
menyebutkan terdapat 15 temuan yang dilakukan 22 perusahaan di empat provinsi
(Kalimantan Tengah, Riau, Maluku Utara dan Papua Barat) dimana menambang dan
penyimpangan tersebut total kerugian negara mencapai Rp 100 miliar (WALHI,
2014).
Media lingkungan WALHI (Wahana Lingkungan Hidup Indonesia)
menyatakan bahwa pada tahun 2011 terdapat kasus pelanggaran lingkungan hidup
sebanyak 107 kasus, tahun 2012 terdapat 118 kasus dan pada semester pertama di
tahun 2013 sebanyak 123 kasus. Kasus-kasus tersebut terkait dengan berbagai krisis
lingkungan dan pengambilan tanah-tanah rakyat untuk kepentingan investasi. Grafik
di bawah ini mengungkapkan protes lingkungan hidup akibat kurangnya kepedulian
terhadap lingkungan, sehingga permasalahan terkait pentingnya pengungkapan
lingkungan merupakan masalah yang harus diperhatikan di Indonesia.
Gambar 1.1. Perbandingan Jumlah Protes Lingkungan Hidup Satu Dekade Sumber : Walhi 2014
Berdasarkan grafik di atas, kondisi lingkungan ekonomi mengalami
perubahan yang berdampak pada dunia industri. Pada semester pertama di tahun
2013 protes lingkungan hidup terbanyak terjadi di DKI Jakarta yaitu sebanyak 38
bangunan-6
bangunan pabrik untuk kepentingan investasi. Akibatnya terjadi berbagai konflik
serta krisis lingkungan di daerah tersebut. Di tahun 2013, terdapat sedikitnya 40
kasus yang ditangani WALHI di berbagai daerah yang dibawa ke tingkat nasional.
Hal ini terkonfirmasi dalam analisa media di tahun 2013, sebagai berikut:
Gambar 1.2. Provinsi Kasus Lingkungan Hidup Tahun 2013 Sumber : Walhi 2014
Data di atas menjelaskan persentase kasus-kasus lingkungan hidup yang
terjadi di berbagai provinsi di Indonesia. Secara nasional terdapat 32,3% kasus
lingkungan hidup yang terjadi di tahun 2013. Kasus-kasus tersebut terkait dengan
beberapa sektor seperti hutan, perkebunan besar, pertambangan, kelautan dan pesisir,
serta kasus-kasus yang terkait dengan pencemaran dan tata ruang. Dari pengalaman
advokasi yang WALHI lakukan, khususnya di sepanjang tahun 2013, korporasi
menempati angka tertinggi sebagai aktor/pelaku perusakan dan pencemaran
lingkungan hidup, dengan prosentase 82,5%. Pada tahun 2013, sedikitnya ada 52
agraria. Angka-angka ini menunjukkan bahwa industri ekstrakif seperti tambang dan
perkebunan sawit skala besar merupakan predator puncak ekologis.
Dari berbagai kasus lingkungan hidup yang terjadi, perusahaan harus lebih
transparan dalam pelaporan informasi baik dalam hal sosial, ekonomi dan lingkungan
khususnya pengungkapan dalam hal lingkungan. Kondisi perusahaan yang besar
akan memberikan dampak yang besar pula terhadap lingkungan. Oleh karena itu
semakin besar perusahaan akan semakin berkepentingan untuk mengungkap
informasi yang lebih luas (Kristi, 2013). Hal ini disebabkan oleh kegiatan perusahaan
yang berpengaruh secara langsung dengan alam, sehingga berpotensi mencemari
lingkungan.
Pengungkapan informasi lingkungan memberikan beberapa keuntungan
kepada berbagai pihak, diantaranya ketertarikan pemegang saham dan stakeholders
(Pflieger, et al., 2005 dalam Suhardjanto, 2010). Perusahaan yang memberikan lebih
banyak informasi terhadap lingkungan, akan memberikan citra positif di mata
masyarakat. Dengan mengungkapkan informasi lingkungan, perusahaan akan
berkontribusi positif dan negatif dalam kelangsungan hidup manusia dan lingkungan.
Pengungkapan dan pelaporan lingkungan di Amerika Serikat sebagian besar
ditujukan kepada board of director dan shareholder (Millstein, 1991 dalam Rupley,
et al., 2012). Dalam Two Tier Board System, board of director dibagi menjadi dua
badan yang terpisah, yaitu Dewan Pengawas (Dewan komisaris) dan Dewan
Manajemen (Dewan direksi). Negara-negara dengan Two Tier System antara lain:
Denmark, Jerman, Belanda dan Jepang (Saptono, 2014). Termasuk Indonesia dalam
8
berasal dari sistem hukum Belanda. Oleh karena itu, perusahaan-perusahaan di
Indonesia mempunyai dua badan yang terpisah yaitu dewan komisaris dan dewan
direksi.
Dewan Komisaris merupakan salah satu organ khusus yang terdapat dalam
Corporate Governance. Tugas utama dewan komisaris adalah bertanggung jawab
untuk mengawasi tugas-tugas manajemen (dewan direksi). Corporate Governance
mencakup berbagai mekanisme dalam board of directors guna menjalankan kontrol
atas manajemen, dalam rangka melindungi kepentingan stakeholder dan
meningkatkan transparansi (Ingley dan Vander Walt, 2004 dalam Rupley, et al.,
2012). Teori agensi juga menyatakan bahwa di dalamnya terdapat dua sisi
kepentingan yang berbeda yaitu pihak agen (manajemen) dan pihak prinsipal
(pemegang saham). Untuk memberikan bentuk pertanggungjawaban perusahaan
terhadap dua kepentingan tersebut salah satu cara yang dilakukan perusahaan adalah
dengan menggunakan sistem tata kelola perusahaan (corporate governance), dimana
didalamnya terdapat Corporate Social Responsibility (CSR) sebagai bentuk
kepedulian perusahaan terhadap lingkungan.
Berdasarkan penelitian Gillan (2006); Suchman (1995) dalam Rupley, et al.
(2012), selain dewan komisaris terdapat stakeholders lainnya seperti institusional
investors, lenders, regulators, governmental agencies, non-governmental
organizations, business associations, customers dan suppliers semua berpengaruh
atas keputusan manajemen. Stakeholder disini dibagi menjadi dua yaitu shareholder
dan non-shareholder. Tugas utama shareholder berkaitan dengan keberhasilan
perusahaan yaitu kepedulian terhadap lingkungan (environmental stewardship),
kemitraan perusahaan (company partnerships), dll).
Keberadaan dewan komisaris dalam menjalankan tugasnya di perusahaan
Indonesia belum memadai. Untuk itu diperlukan suatu komite guna membantu
dewan komisaris dalam memenuhi tugas dan fungsinya. Komite ini sering disebut
komite audit. Hal ini didukung dengan dikeluarkannya Keputusan Ketua Badan
Pengawas Pasar Modal Nomor: Kep-29/PM/2004 Pasal 2 yang mewajibkan emiten
atau perusahaan publik membentuk komite audit. Komite ini diwajibkan
beranggotakan minimal tiga orang independen dan salah satu diantaranya berasal
dari komisaris independen yang merangkap sebagai ketua komite audit. McMullen
(1996) dikutip oleh Suhardjanto (2010) menyatakan keberadaan anggota komite
audit independen dalam komite audit akan meningkatkan transparansi komite audit
dalam menjalankan tugasnya.
Ashforth dan Gibbs (1990) dalam Rupley, et al. (2012) menyatakan bahwa
teori legitimasi akan menyampaikan informasi perusahaan kepada berbagai pihak
agar sesuai dengan harapan masyarakat (stakeholder). Legitimasi lingkungan
(environmnetal legitimacy) sebagai atribut eksternal yang diamati suatu perusahaan,
dapat mempengaruhi bagaimana perusahaan memilih untuk mengungkapkan
komitmen lingkungannya (Aerts dan Cormier, 2009 dalam Rupley, et al., 2012).
Berdasarkan Bansal dan Clelland (2004) dalam Rupley, et al. (2012),
mempertimbangkan legitimasi lingkungan perusahaan berdasarkan liputan media
10
digunakan sebagai proxy untuk menangkap beberapa aspek dalam non-shareholder
dan memeriksa hubungannya dengan kualitas environmental disclosure (ED).
Hasil penelitian yang dilakukan Gamerschlag et al. (2011) mengenai
hubungan antara karakteristik perusahaan dengan pengungkapan sosial dan
lingkungan sosial pada perusahaan-perusahaan di Jerman menunjukkan bahwa
ukuran perusahaan dan industri berhubungan dengan jumlah pengungkapan. Menurut
Utomo (2000), para peneliti akuntansi sosial tertarik untuk menguji pengungkapan
sosial pada berbagai perusahaan yang memiliki perbedaan karakteristik. Salah satu
perbedaan karakteristik yang menjadi perhatian adalah tipe industri, yaitu industri
yang high profile dan low profile. Sedangkan fokus perusahaan yang dijadikan
sampel dalam penelitian ini hanya perusahaan dalam kategori high profile.
Perusahaan yang termasuk dalam tipe industri high profile merupakan perusahaan
yang mempunyai tingkat sensitivitas tinggi terhadap lingkungan, tingkat risiko
politik yang tinggi, atau tingkat kompetisi yang kuat (Robert, 1992 dalam Utomo,
2000).
Penelitian Reverte (2009) dikutip oleh Kristi (2013) melakukan penelitian
terhadap 46 perusahaan yang terdaftar di bursa efek Spanyol pada tahun 2008. Dalam
penelitiannya menggunakan 7 variabel yaitu, ukuran perusahaan, sensitivitas industri,
profitabilitas perusahaan, struktur kepemilikan perusahaan, media exposure,
international listing, leverage. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran
perusahaan, sensitivitas industri, media exposure, berpengaruh positif terhadap
indeks pengungkapan CSR perusahaan. Dengan mengukur pengaruh sensitivitas
dampak yang besar terhadap lingkungan dan masyarakat akan mengungkapkan lebih
banyak informasi sosial. Dalam hal ini, berdasarkan teori legitimasi pengungkapan
informasi sosial yang dilakukan perusahaan bertujuan untuk melegitimasi kegiatan
operasinya dan menurunkan tekanan dari para stakeholder.
Pengujian pengaruh stakeholder, manajemen menggunakan dewan komisaris,
komite audit independen dan atribut investor institusional terhadap kualitas
environmental disclosure. Sementara beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan
bahwa corporate governance perusahaan yang memandu tingkat dan metode
pengungkapan informasi yang dilakukan oleh perusahaan. Ajinkya, et al. (2005)
dikutip oleh Prasetianti (2014) menemukan bukti yang konsisten dengan governance
yang lebih kuat (misalnya board independence dan institutional ownership)
menyebabkan pengungkapan sukarela lebih transparan.
Penelitian ini didasarkan pada penelitian terdahulu yang mengungkapan
Corporate Social Responsibility (CSR), khususnya dalam pengungkapan lingkungan
(environmental disclosure). Berthelot et al. (2003), hal. 1 dalam Rupley, et al.
(2012), mendefinisikan environmental disclosure perusahaan sebagai set item
informasi yang berhubungan dengan masa lalu perusahaan, kegiatan pengelolaan
lingkungan saat ini dan masa depan serta kinerja masa lalu, implikasi keuangan saat
ini dan mendatang yang timbul dari keputusan manajemen lingkungan suatu
perusahaan atau tindakan.
Penelitian Rupley, et al. (2012), memberikan bukti dampak pemerintahan
multi-stakeholder dalam kualitas environmental disclosure. Variabel dependen yang
12
menggunakan atribut media, board of directors dan institusional investor. Hasil
menunjukkan adanya liputan media lingkungan dikaitkan dengan kualitas
environmental disclosure, sejalan dengan gagasan bahwa stakeholder memiliki
pengetahuan tentang masalah lingkungan. Penelitian ini konsisten dengan
perusahaan-perusahaan yang berusaha untuk mengubah persepsi masyarakat melalui
peningkatan environmental disclosure, yang menunjukkan bahwa atribut board of
director termasuk independence, diversity dan multiple directorship berpengaruh
terhadap kualitas environmental disclosures. Hasil ini sesuai dengan pernyataan
bahwa pemerintahan yang baik mengarah pada peningkatan transparansi.
Penelitian yang dilakukan oleh Rupley, et al. (2012), terdapat empat kategori
yang digunakan dalam mengukur variabel dependen yaitu Compliance (kepatuhan),
yang menunjukkan tingkat kepatuhan perusahaan dalam mengungkapkan tanggung
jawab lingkungan perusahaan. Pollution Prevention (pencegahan polusi),
menunjukkan tingkat pencegahan polusi perusahaan terhadap lingkungan. Product
Stewardship (penanganan produk), dimana perusahaan mulai melakukan pengawasan
terhadap produk mulai dari menggunakan bahan-bahan produk yang ramah
lingkungan sampai adanya proses daur ulang atas produk yang telah diproduksi.
Sustainable Development (pengembangan berkelanjutan) merupakan kategori paling
baik, pada tahap ini perusahaan telah melakukan ketiga kategori sebelumnya dan
sudah melakukan tanggung jawab lingkungan secara berkelanjutan. Oleh karena itu
kualitas environmental disclosure menjadi variabel dependen dalam penelitian ini.
Penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Rupley, et al.
environmental disclosure terhadap perusahaan-perusahaan yang terdapat di Amerika
Serikat dan disesuaikan dengan kondisi perusahaan yang berada di Indonesia.
Penelitian yang dilakukan oleh Rupley, et al. (2012) dalam meneliti environmental
disclosure menggunakan environmental disclosure index scorecard yang lebih
menunjukkan kualitas environmental disclosure daripada menggunakan pengukuran
secara dummy.
Berdasarkan beberapa penelitian di atas peneliti bermaksud mengadakan
penelitian mengenai pengaruh environmental media, sensitivitas industri dan struktur
corporate governance terhadap kualitas environmental disclosure dengan
environmental disclosure index scorecard sebagai alat ukur kualitas environmental
disclosure serta ukuran perusahaan (firm size) dan profitabilitas sebagai variabel
kontrol.
1.2. Rumusan Masalah
Pengungkapan lingkungan sekarang ini bukan menjadi fenomena baru lagi,
akan tetapi isu mengenai pengungkapan lingkungan atau yang sering disebut
environmental disclosure masih menjadi topik yang sering diperbincangkan.
Environmental disclosure merupakan pengungkapan informasi perusahaan yang
berkaitan dengan lingkungan hidup, dimana bentuk pertanggungjawaban sosial dan
lingkungan perusahaan terhadap masyarakat. Dengan pengungkapan environmental
disclosure yang berkualitas, perusahaan akan memperoleh perhatian, kepercayaan
dan dukungan dari masyarakat sehingga perusahaan dapat tetap eksis.
Dari uraian latar belakang di atas, permasalahan yang akan diteliti dalam
14
struktur corporate governance terhadap kualitas environmental disclosure. Sehingga
rumusan masalah dalam penelitian ini dapat dijabarkan sebagai berikut :
1. Seberapakah luas environmental disclosure yang dilakukan perusahaan?
2. Apakah keberadaan environmental media berpengaruh terhadap kualitas
environmental disclosure?
3. Apakah sensitivitas industri berpengaruh terhadap kualitas environmental
disclosure?
4. Apakah karakteristik dewan komisaris berpengaruh terhadap kualitas
environmental disclosure?
5. Apakah komite audit independen berpengaruh terhadap kualitas environmental
disclosure?
6. Apakah kepemilikan institusional berpengaruh terhadap kualitas environmental
disclosure?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui sejauh mana kualitas environmental disclosure yang
dilakukan perusahaan high profile di Bursa Efek Indonesia.
2. Untuk memperoleh bukti empiris apakah terdapat pengaruh antara
environmental media, sensitivitas industri, karakteristik dewan komisaris,
komite audit independen dan kepemilikan institusional terhadap kualitas
1.4. Kegunaan Penelitian
Manfaat yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Bagi Akademisi dan Perguruan Tinggi
Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan referensi untuk mengetahui
variabel-variabel apa saja yang mempengaruhi kualitas environmental
disclosure, serta dapat memberikan manfaat dalam perkembangan ilmu
khususnya di bidang kualitas environmental disclosure.
2. Bagi Perusahaan
Penelitian ini diharapkan mampu menjadi masukan bagi perusahaan- perusahaan
dalam melakukan pertimbangan dan pengambilan keputusan yang nantinya akan
bermanfaat dalam memberikan nilai tambah perusahaan. Selanjutnya merupakan
wujud tanggung jawab perusahaan dalam memberikan transparansi kepada para
stakeholder terkait masalah lingkungan sosial.
3. Bagi Investor
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan para investor sebagai dasar
penentuan serta pertimbangan dalam membuat keputusan untuk berinvestasi,
kepada perusahaan mana yang mempunyai kinerja perusahaan yang baik serta
memiliki prospek yang bisa dipertanggungjawabkan dalam jangka panjang.
4. Bagi Pemerintah
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pedoman serta acuan kinerja pemerintah
dalam menentukan kebijakan dan standar dalam mengatur praktik environmental
16 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Teori Legitimasi
Beberapa studi tentang pengungkapan sosial lingkungan telah menggunakan
teori legitimasi sebagai basis dalam menjelaskan basisnya (Ghozali dan Chariri,
2007). Teori legitimasi menjelaskan bahwa perusahaan beroperasi dalam lingkungan
eksternal yang berubah secara konstan dan mereka berusaha meyakinkan bahwa
perilaku mereka sesuai dengan batas-batas dan norma masyarakat (Brown dan
Deegan, 1998). Teori legitimasi memfokuskan pada interaksi antara perusahaan
dengan masyarakat (Ulman, 1982; dalam Ghozali dan Chariri, 2007).
Dowling dan Pfeffer (1975) p. 131 dikutip oleh Ghozali dan Chariri (2007)
menjelaskan bahwa teori legitimasi sangat bermanfaat dalam menganalisis perilaku
organisasi. Mereka mengatakan :
Karena legitimasi adalah hal yang penting bagi organisasi, batasan-batasan yang ditekankan oleh norma-norma dan nilai-nilai sosial dan reaksi terhadap batasan tersebut mendorong pentingnya analisis perilaku organisasi dengan memperhatikan lingkungan .
Legitimasi suatu perusahaan dapat dilihat sebagai sesuatu yang diberikan
masyarakat kepada perusahaan dan sesuatu yang diinginkan atau dicari perusahaan
dari masyarakat. Dengan demikian, legitimasi dapat katakan sebagai manfaat atau
dalam Rupley, et al., 2012) dan dapat mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk
melanjutkan kegiatan usahanya yang akan mengancam keberlangsungan perusahaan.
Perusahaan harus memperdulikan keadaan sosial lingkungan disekitarnya,
karena dengan kepedulian tersebut perusahaan akan mendapatkan kepercayaan dari
masyarakat. Perusahaan harus menyelaraskan aktivitas perusahaan dan harapan
masyarakat dengan melakukan aktivitas perusahaan sesuai dengan norma-norma
masyarakat agar tidak terjadi legitimacy gap. Legitimacy gap dapat terjadi karena
karena tiga (3) alasan (Warticl dan Mahon, 1994 dalam Chariri, 2008):
1. Ada perubahan dalam kinerja perusahaan tetapi harapan masyarakat terhadap
kinerja perusahaan tidak berubah.
2. Kinerja perusahaan tidak berubah tetapi harapan masyarakat terhadap kinerja
perusahaan telah berubah.
3. Kinerja perusahaan dan harapan masyarakat terhadap kinerja perusahaan
berubah ke arah yang berbeda, atau ke arah yang sama tetapi waktunya berbeda.
Keberadaan dan besarnya legitimacy gap bukanlah hal yang mudah untuk
ditentukan, karena yang terpenting adalah bagaimana perusahaan berusaha
memonitor nilai-nilai perusahaan dan sosial masyarakat serta mengidentifikasi
kemungkinan munculnya gap tersebut. Jadi, untuk mengurangi legitimacy gap,
perusahaan harus mengidentifikasi aktivitas yang berada dalam kendalinya dan
mengidentifikasi publik yang memiliki power sehingga mampu memberikan
legitimacy kepada perusahaan (Neu, et al., 1998 dalam Chariri, 2008). Legitimasi
dapat dilihat sebagai diskursif masalah terfokus interaksi antara perusahaan dan
18
perilaku mengurangi risiko yang mendukung stabilitas jangka panjang dengan
memenuhi harapan sosial para stakeholders (Suchman, 1995; Zucker, 1977, dalam
Rupley, et al., 2012).
Berdasarkan teori legitimasi yang dijelaskan diatas, mengindikasikan bahwa
perusahaan harus bertindak seminimal mungkin sesuai dengan aturan-aturan serta
norma-norma yang berlaku di masyarakat. Environmental disclosure yang dilakukan
perusahaan seharusnya menjadi prioritas strategi perusahaan agar mendapatkan
legitimasi dari masyarakat. Dengan adanya struktur governance yang baik
merupakan kontrol bagi perusahaan supaya manajemen perusahaan dapat
menjalankan tugas serta tanggungjawabnya terhadap para stakeholder.
2.2. Teori Agensi
Teori agensi merupakan teori yang menjelaskan hubungan antara agen dan
prinsipal. Agen disini merupakan pihak manajemen perusahaan dan prinsipal
merupakan investor atau pemegang saham. Teori ini menyatakan bahwa hubungan
keagenan timbul ketika salah satu pihak (prinsipal) menyewa pihak lain (agen) untuk
melakukan beberapa jasa untuk kepentingannya yang melibatkan pendelegasian
beberapa otoritas pembuatan keputusan kepada agen (Jensen dan Mecking, 1976)
Teori ini menyatakan bahwa dengan adanya asimetri informasi, manajer
sebagai agen akan memilih kebijakan untuk memaksimalkan kepentingan para
prinsipal yaitu para pemilik perusahaan baik itu dalam jangka panjang maupun
jangka pendek. Selain itu manajer juga memiliki kepentingan untuk memaksimalkan
manajer bertindak semaunya sendiri tanpa memperdulikan kepentingan pihak
prinsipal. Untuk menghindari hal tersebut beberapa penelitian menyatakan teori
keagenan dapat dikurangi dengan meningkatkan pengungkapan. Ball (2006) dalam
Almilia (2008) menyatakan bahwa peningkatan transparansi dan pengungkapan akan
memberikan kontribusi untuk menyelaraskan kepentingan manajer dan pemegang
saham.
Corporate governance merupakan mekanisme pengelolaan yang didasarkan
pada teori agensi. Dengan adanya konsep corporate governance pihak manajemen
(agen) diharapkan dapat dipercaya dalam mengelola kekayaan pemilik (prinsipal),
dan pemilik juga yakin bahwa agen bertindak sewajarnya dan tidak melakukan
kecurangan untuk kepentingan agen sendiri sehingga dapat meminimalkan konflik
serta biaya keagenan.
2.3. Corporate Social Responsibility (CSR)
Konsep CSR adalah mekanisme bagi suatu organisasi untuk secara sukarela
mengintegrasikan perhatian terhadap lingkungan dan sosial ke dalam operasinya dan
interaksinya dengan stakeholder, yang melebihi tanggung jawab organisasi di bidang
hukum (Darwin, 2004 dalam Anggraini, 2006).
Pengungkapan tanggung jawab sosial adalah proses pengkomunikasian
efek-efek sosial dan lingkungan atas tindakan-tindakan ekonomi perusahaan pada
kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat dan pada masyarakat secara
keseluruhan (Gray et al., 1987 dalam Waryanto, 2010). Dengan mengungkapkan
informasi mengenai operasi perusahaan yang berkaitan dengan lingkungan
20
melaksanakan aktivitasnya, perusahaan tidak hanya berfokus pada keuntungan
semata melainkan perusahaan juga memperhatikan dampak yang ditimbulkan
terhadap lingkungan. Selain itu upaya perusahaan dalam rangka mengembangkan
potensi energi yang tidak diimbangi dengan upaya pemeliharaan lingkungan akan
berakibat pada keadaan yang merugikan bagi pihak terkait manapun.
2.4. Kinerja Lingkungan
Kinerja lingkungan perusahaan merupakan kinerja perusahaan dalam
menciptakan lingkungan yang baik sesuai dengan tujuan para stakeholders. Kinerja
lingkungan berfokus pada kegiatan perusahaan dalam melestarikan lingkungan serta
mengurangi dampak lingkungan seperti limbah hasil aktivitas perusahaan.
Pengkajian kinerja lingkungan didasarkan pada tiga aspek diantaranya kebijakan
lingkungan, sasaran lingkungan dan target lingkungan.
Kinerja lingkungan dibagi menjadi dua yaitu secara kuantitatif dan kualitatif.
Kinerja lingkungan secara kuantitatif adalah kinerja lingkungan yang hasilnya dapat
diukur dari sistem manajemen lingkungan terkait dengan kontrol aspek lingkungan
fisiknya. Sedangkan kinerja lingkungan secara kualitatif merupakan kinerja yang
hasilnya diukur dari hal-hal yang terkait dengan ukuran aset non fisik, misalnya:
prosedur, proses inovasi, motivasi dan semangat kerja yang dialami pelaku kegiatan,
dalam mewujudkan kebijakan lingkungan organisasi, sasaran dan targetnya.
Berdasarkan Global Enviromental Management Initiatives (GEMI) tahun
1998, jenis ukuran indikator kinerja lingkungan secara umum terdiri dari dua
1. Indikator lagging yaitu ukuran kinerja end-process, mengukur output hasil
proses seperti jumlah polutan dikeluarkan.
2. Indikator leading yaitu ukuran kinerja in-process guna mengukur faktor apa saja
yang dapat membawa perubahan bagi kinerja lingkungan perusahaan.
Tabel 2.1.
Indikator Lagging dan Leading Ukuran Kinerja Lingkungan Tipe
Indikator
Indikator tertinggal (lagging) Indikator memimpin (leading) Ukuran Indikator output/end-of-process Indikator manajemen / in-process Fokus Hasil (output) Tingkat status aktifitas (input) Pendekatan Kuantitatif Kuantitatif dan kualitatf Contoh Jumlah kimia beracun dilepas
ke udara
Persen fasilitas berfungsi audit lingkungan sendiri
Kekuatan Mudah menjumlahkan dan dimengerti; umum disukai publik dan pihak pemerintah
Merefleksikan tidak hanya kinerja masa lalu, namun sekarang dan masa depan.
Kelemahan Kesenjangan waktu dalam lingkar umpan balik; akar penyebab tidak teridentifikasi.
Lebih sulit dihitung dan dievaluasi; sulit membangun dukungan penggunaaan; tidak mengarah pada semua perhatian pemegang saham.
Sumber GEMI, 1998
2.5. Kualitas Environmental Disclosure
Environmental Disclosure merupakan pengungkapan informasi yang
berkaitan dengan lingkungan hidup. Kualitas environmental disclosure dalam
penelitian ini mengacu pada penelitian yang dilakukan oleh Rupley, et al. (2012).
Standar yang digunakan berdasarkan Global Reporting Indeks (GRI) masih terlalu
umum dan tidak mengidentifikasi langkah-langkah khusus yang mencerminkan
dampak lingkungan dari bisnis. Indeks dalam Rupley, et al. (2012) lebih operasional
dalam menangkap dampak bisnis terhadap lingkungan dan lebih deskriptif tentang
22
mencakup beberapa karakteristik masing-masing indikator untuk meningkatkan
kemampuan guna menangkap kualitas. Karakteristik indikator ini didasarkan pada
implikasi strategi untuk perilaku lingkungan. Dalam penelitian Rupley, et al. (2012)
kualitas environmental disclosure dibagi menjadi empat tingkatan yaitu :
1. Compliance
2. Pollution Prevention
3. Product Stewardship
4. Sustainable Development
Perpindahan dari tingkat compliance sampai tingkat sustainable development
menyiratkan integrasi semakin holistik terhadap pengelolaan lingkungan ke dalam
organisasi proses, strategi dan budaya. Roome (1992) dalam Rupley, et al. (2012)
dan Hunt dan Auster (1990) telah menyarankan klasifikasi indikator pengungkapan
sehingga perusahaan proaktif dalam pengelolaan lingkungan. Roome (1992) dalam
Rupley et al. (2012) mengidentifikasi 5 (lima) strategi manajemen lingkungan yaitu :
1. Non-compliance
2. Compliance
3. Compliance plus
4. Commercial and environmental excellence
5. Leading edge
Non-compliance terjadi ketika beban sebuah perusahaan dibatasi dan tidak
bisa bereaksi atau memilih untuk tidak bereaksi terhadap perubahan standar
lingkungan. Compliance adalah posisi reaktif yang didorong oleh undang-undang.
lingkungan untuk mendapatkan keuntungan kompetitif. Compliance plus adalah
posisi reaktif dalam pengelolaan lingkungan. Sehubungan dengan compliance,
compliance plus menunjukkan kemauan pada bagian dari senior manajemen
perusahaan untuk menggunakan sistem manajemen dan kebijakan untuk mendorong
perubahan organisasi. Commercial and environmental excellence dan leading edge
menunjukkan pengelolaan manajemen lingkungan yang baik dan berusaha untuk
menjadi pemimpin lingkungan dalam industri mereka.
Dalam penelitian Hart (1995) terdapat kemungkinan bahwa strategi dan
keunggulan kompetitif dalam beberapa tahun mendatang akan berakar pada
kemampuan yang memfasilitasi lingkungan yang berkelanjutan adalah kegiatan
ekonomi berbasis sumber daya alam perusahaan. Hart (1995) memperkenalkan
conceptual framework yang terdiri dari tiga strategi yang saling berhubungan, yaitu :
pollution prevention, product stewardship dan sustainable development. Berikut
penjelasan dari ketiga strategi tersebut :
Tabel 2.2.
Sumber : Hart, 1995
Pollution prevention merupakan strategi pencegahan polusi yang berusaha
24
difokuskan pada tujuan lingkungan (Hart, 1995). Menurut Cairncross (1991) dalam
Hart (1995) pollution prevention dapat dicapai melalui dua cara utama :
1. Control : emisi dan limbah disimpan, dirawat dan dibuang menggunakan
peralatan pollution-control.
2. Prevention: emisi dan limbah berkurang, diubah atau dicegah melalui rumah
tangga yang lebih baik, substitusi bahan, daur ulang atau inovasi proses.
Melalui pollution prevention, perusahaan dapat mewujudkan penghematan
yang signifikan, sehingga keuntungan biaya relatif terhadap pesaing (Hart & Ahuja,
1994 dalam Hart 1995). Pollution prevention dapat menyimpan tidak hanya biaya
instalasi dan operasi perusahaan tetapi juga dapat meningkatkan produktivitas dan
efisiensi. Selain itu pollution prevention juga dapat mengurangi waktu siklus dengan
menyederhanakan atau menghapus langkah-langkah yang tidak perlu dilakukan
dalam operasi produksi. Pada akhirnya pollution prevention menawarkan potensi
untuk mengurangi emisi jauh di bawah tingkat yang diperlukan, mengurangi
kepatuhan perusahaan dan biaya kewajiban (Rooney, 1993). Dengan demikian,
strategi polusi pencegahan harus memfasilitasi biaya yang lebih rendah, yang pada
gilirannya, harus menghasilkan arus kas ditingkatkan dan profitabilitas bagi
perusahaan (Hart, 1995).
Strategi selanjutnya yaitu product stewardship dimana strategi sebelumnya
pollution prevention berfokus pada kemampuan dalam produksi dan operasi,
sedangkan product stewardship berfokus pada pengawasan produk, pengembangan
produk dan memandu dalam pemilihan bahan baku serta mendisiplinkan desain
Menurut Hart (1995) melalui strategi product stewardship perusahaan dapat :
1. Terhindar dari dampak lingkungan yang berbahaya.
2. Mendesain ulang sistem produk yang ada untuk mengurangi kewajiban.
3. Mengembangkan produk baru dengan biaya siklus hidup yang lebih rendah.
Strategi terakhir adalah sustainable development. Strategi ini merupakan
strategi yang paling baik, dimana perusahaan telah menghubungkan antara
lingkungan, bisnis dan kegiatan ekonomi perusahaan (Hart, 1995). Dengan
menerapkan sustainable development berarti perusahaan telah mampu
mengimplementasikan perkembangan substansial baru dan komitmen terhadap
perkembangan pasar dalam jangka panjang. Perusahaan yang mencapai strategi ini
dimungkinkan akan meningkatkan harapan perusahaan untuk kinerja masa depan
terhadap pesaing yang nantinya akan memberikan dampak positif dihadapan para
stakeholder.
2.6. Environmental Disclosure Index Scorecard
Environmental disclosure index scorecard dalam penelitian ini didasarkan
pada penelitian yang dilakukan Rupley, et al. (2012). Indikator kategori yang
digunakan untuk mengukur kualitas environmental disclosure menggunakan
environmental disclosure index scorecard berdasarkan kerangka global reporting
initiative (GRI). Indikator kategori tersebut dapat dilihat di lampiran 3.
Pelaporan mengenai lingkungan yang dibuat oleh Global Reporting Initiative
(GRI) dinamakan the sustainability reporting guidelines. Standar pelaporan ini
26
digunakan oleh berbagai organisasi yang berbeda ukuran, sektor dan lokasinya (GRI,
2006). Standar pengungkapan yang harus dimasukkan dalam laporan keberlanjutan
terdiri dari tiga tipe yaitu :
1. Strategi dan Profil : Pengungkapan yang membentuk keseluruhan konteks untuk
dapat memahami kinerja organisasi, seperti strategi yang dimiliki, profil dan tata
kelola.
2. Pendekatan Manajemen : Pengungkapan yang mencakup mengenai bagaimana
sebuah organisasi menggunakan topik tertentu untuk memberikan konteks
dalam memahami kinerja pada sebuah bidang spesifik tertentu.
3. Indikator Kinerja : Indikator yang memberikan perbandingan informasi terkait
kinerja ekonomi, lingkungan dan sosial dari organisasi.
Pelaporan yang dibuat GRI mengandung kandungan isi umum dan sektor secara
spesifik yang telah disetujui oleh berbagai stakeholders di seluruh dunia dan dapat
diaplikasikan secara umum dalam melaporkan kinerja keberlanjutan dari sebuah
organisasi.
Environmental disclosure index scorecard dalam penelitian Rupley, et al.
(2012), terdiri dari berbagai karakteristik dari setiap indikator untuk meningkatkan
kemampuan indeks dalam menggambarkan kualitas environmental disclosure.
Karakteristik indikator ini didasarkan pada implikasi strategi lingkungan. Strategi
lingkungan terdiri dari empat strategi yaitu compliance, pollution prevention, product
stewardship dan sustainable development. Selain keempat strategi tersebut,
penelitian ini juga mengukur jumlah total indikator untuk menjelaskan strategi
Perpindahan dari tingkat kepatuhan ke tingkat pembangunan berkelanjutan
menyiratkan integrasi semakin holistik mengenai pengelolaan lingkungan ke dalam
proses organisasi, strategi dan budaya. Penelitian Rupley, et al. (2012) menggunakan
tingkat strategi ini dan pemahaman tentang kualitas pengungkapan penilaian, dengan
skema pengkodean yang dikembangkan dan diuji. Sebagai contoh, pengungkapan
konsumsi energi termasuk pengungkapan total konsumsi energi (compliance-level),
pengungkapan per-unit energi konsumsi (pollution prevention-level) dan
pengungkapan konsumsi energi terbarukan dari sumber daya (product
stewardship-level). Sebuah pengungkapan tingkat sustainable development adalah penyediaan
'Green' balanced score card.
2.7. Environmental Media
Ettredge et al. (2001) menjelaskan bahwa sebagian besar perusahaan yang
terdaftar di negara maju sekarang memiliki situs web internet dimana mereka
mempublikasikan informasi keuangan. Semakin banyak pengungkapan yang
dilakukan perusahaan memberikan dampak positif dalam mengubah persepsi
masyarakat khususnya pengungkapan dibidang lingkungan yang dalam hal ini
berkaitan langsung dengan kepedulian perusahaan terhadap lingkungan masyarakat.
Dengan adanya media memungkinkan lebih fleksibel terhadap kemampuan dan
ketersediaan pengungkapan informasi sosial dan lingkungan.
Allam dan Lymer (2002) meneliti jenis informasi yang tersedia di Internet
dari 50 perusahaan dari lima negara, yaitu Amerika Serikat, Inggris, Kanada,
28
Amerika Serikat dan situs web perusahaan Australia. Dari 50 perusahaan yang
disurvei, hanya 23 (46 persen) dari situs web perusahaan AS memiliki informasi
lingkungan. Survei KPMG (2002) yang dikutip oleh Joshi dan Simon (2009), yang
terlihat pada praktek pelaporan dari 100 perusahaan di 19 negara, menemukan bahwa
72 persen perusahaan Jepang, 49 persen Perusahaan Inggris dan 36 persen dari
perusahaan-perusahaan AS mengeluarkan informasi lingkungan, sosial atau laporan
keberlanjutan, selain laporan keuangan mereka.
Pelaporan sukarela mengenai dampak lingkungan dan inisiatif dalam laporan
tahunan perusahaan telah meluas di kalangan organisasi yang menerima kewajiban
untuk memperpanjang tanggung jawab lingkungan di luar kepatuhan terhadap
peraturan (Brophy dan Starkey, 1996 dalam Joshi dan Simon, 2009). Rupley, et al.
(2012) dalam penelitiannya menunjukkan adanya liputan media lingkungan dikaitkan
dengan kualitas pengungkapan sukarela, kompatibel dengan gagasan bahwa
stakeholder memiliki pengetahuan tentang masalah environmental disclosure. Dalam
penelitiannya juga meneliti media yang negatif yang dikaitkan dengan kualitas
environmental disclosure. Temuan ini konsisten dengan perusahaan-perusahaan yang
berusaha untuk mengubah persepsi masyarakat melalui peningkatan environmental
disclosure.
Teori legitimasi (Ashforth dan Gibbs, 1990 dalam Rupley, et al., 2012)
menyatakan bahwa legitimasi sebuah perusahaan dapat diperoleh melalui berbagai
tindakan, termasuk mengkomunikasikan informasi perusahaan kepada stakeholder
yang relevan. Perusahaan dengan legitimasi lingkungan yang rendah lebih bertindak
2004 dalam Rupley, et al., 2012). Sehingga untuk mendapatkan kepercayaan serta
legitimasi dari masyarakat, perusahaan senantiasa berusaha dalam menjaga
reputasinya. Dengan demikian liputan media dapat membentuk kesadaran
masyarakat terkait isu-isu tertentu.
2.8. Sensitivitas Industri
Sensitivitas industri dapat diartikan sebagai seberapa besar pengaruh aktivitas
industri yang bersinggungan langsung dengan lingkungan. Pada umumnya
perusahaan dengan tingkat sensitivitas industri yang tinggi terhadap lingkungan akan
memperoleh perhatian yang tinggi pula dari masyarakat karena aktivitas operasinya
yang memiliki potensi mempengaruhi alam. Penelitian yang dilakukan Anggraini
(2006) menggambarkan perusahaan yang memiliki tingkat sensitivitas industri tinggi
akan memperoleh perhatian yang lebih dari masyarakat dan kepentingan lain karena
aktivitas industri yang berpotensi mempengaruhi kepentingan luas, baik dari segi
ekonomi, sosial dan lingkungan. Hasil penelitiannya menyatakan sensitivitas industri
berpengaruh secara signifikan terhadap pengungkapan tanggung jawab sosial.
Perusahaan yang termasuk kategori sensitive industry merupakan perusahaan
tipe high profile. Umumnya perusahaan high profile merupakan perusahaan yang
memperoleh sorotan dari masyarakat karena aktivitas operasi perusahaan memiliki
potensi dan kemungkinan berhubungan dengan kepentingan masyarakat luas
(Purwanto, 2011). Menurut Zuhroh dan Sukmawati (2003) perusahaan yang
30
tenaga kerja yang besar dan dalam proses produksinya mengeluarkan residu, seperti
limbah dan polusi.
Penelitian ini mengukur kualitas environmental disclosure dengan jenis
industri high profile yang terbagi atas dua kelompok yaitu non sensitive industri dan
sensitive industri. Perusahaan yang terklasifikasi dalam kelompok non sensitive
industri pada penelitian ini antara lain: cosmetic and household, farmasi, kimia dan
makanan dan minuman. Sedangkan perusahaan yang terklasifikasi dalam kelompok
sensitive industri antara lain: energi dan pertambangan (batubara, batu-batuan, logam
dan mineral lainnya dan minyak dan gas bumi).
2.9. Corporate Governance
2.9.1. Definisi dan Konsep Corporate Governance
Menurut Organization for Economic Cooperation and Development (OECD)
dalam (Surya dan Yustivandana, 2006) bahwa corporate governance merupakan
sekumpulan hubungan antara perusahaan dan para stakeholder-nya (pemegang
saham dan pihak lain) yang terlibat dalam suatu perusahaan. Hubungan ini berkaitan
dengan tanggung jawab perusahaan terhadap para stakeholder. Tanggung jawab yang
dimiliki dapat diwujudkan melalui good corporate governance dan leading yang
seimbang antara asas dan realisasinya. Tanpa adanya corporate governance yang
baik perusahaan atau institusi apapun dapat terjebak dalam pola kerja yang
cenderung mengahalalkan segala cara dan tidak mampu untuk menjalankan
Konsep Good Corporate Governance (GCG) semakin mendapatkan perhatian
di kalangan dunia usaha. Sejak era reformasi bergulir, masyarakat semakin kritis dan
mampu melakukan kontrol sosial terhadap dunia usaha. Menurut Monks dan Minow,
(2001) dikutip oleh Dewi (2008), Good Corporate Governance (GCG) merupakan
tata kelola perusahaan yang menjelaskan hubungan antara berbagai partisipan dalam
perusahaan yang menentukan arah dan kinerja perusahaan. Implementasi Good
Corporate Governance dalam kinerja perusahaan merupakan kunci sukses untuk
memperoleh keuntungan dalam jangka panjang dan dapat bersaing dalam bisnis
global. Selain itu penerapan Good Corporate Governance berhubungan dengan
peningkatan citra perusahaan. Perusahaan yang menerapkan Good Corporate
Governance, akan mendapatkan citra positif dan peningkatan nilai perusahaan.
Hasil survei yang dilakukan Mc Kinsey & Co. (2002) dalam Windah (2013)
mengatakan bahwa para investor cenderung menghindari perusahaan-perusahaan
dengan predikat buruk dalam Corporate Governance. Di era sekarang ini, investor
meyakini bahwa dalam menerapkan praktek GCG perusahaan telah berupaya
meminimalkan risiko keputusan yang akan menguntungkan diri sendiri. Sehingga
dapat meningkatkan kinerja perusahaan serta nilai perusahaan. Hal lain juga
diungkapkan oleh FGCI (2011) yang dikutip oleh Ratih (2011), yang menyatakan
bahwa ada empat manfaat dalam penerapan GCG yaitu, 1) lebih mudah untuk
meningkatkan modal (Easier to raise capital), 2) biaya yang lebih rendah dari modal
(Lower cost of capital), 3) memperbaiki kinerja usaha dan peningkatan kinerja
ekonomi (Improved business performance and improved economic performance), 4)