SKRIPSI
PENGARUH MEA 2015 TERHADAP INTEGRASI EKONOMI
PADA SISTEM PERDAGANGAN DI INDONESIA
OLEH :
MUTIARA PRATIWI
110501011
PROGRAM STUDI EKONOMI PEMBANGUNAN
DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi saya yang berjudul pengaruh MEA 2015 terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia adalah benar hasil karya tulis saya sendiri yang disusun sebagai tugas akademik guna menyelesaikan beban akademik pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
Bagian atau data tertentu yang saya peroleh dari perusahaan atau lembaga, dan/atau saya kutip dari hasil karya orang lain telah mendapat izin, dan/atau dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila kemudian hari ditemukan adanya kecurangan dan plagiat dalam skripsi ini, saya bersedia menerima sanksi sesuai dengan peraturan yang berlaku.
Medan...
ABSTRAK
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana prediksi perkembangan ekspor dan impor dengan adanya pengaruh MEA 2015 terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis prediksi perkembangan ekspor dan impor dengan adanya pengaruh MEA 2015 terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu prediksi perkembangan ekspor dan impor berpengaruh positif dengan adanya MEA 2015 terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia. Metode analisis yang digunakan yakni regresi logaritma berganda. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa Prediksi perkembangan ekspor berpengaruh positif terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia, tetapi untuk prediksi perkembangan impor tidak berpengaruh positif terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia dimana hal ini tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa Prediksi perkembangan impor berpengaruh positif terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia.
ABSTRACT
Formulation of the problem in this study is how to predict the impact of Economic Asean Community 2015 to export and import in economic integration trading system in Indonesia. Purpose of this study is to predict export and import changes influenced by Economic Asean Community 2012 in trading system in Indonesia. Method of analysis in this study is multiplier linear regression. The result of this study is state that export development give positive influence in economic integration of trading system in Indonesia, but import is not influence the economic integration of trading system in Indonesia, that is inconsistent with the hypothesis which states that prediction of import development give positive influence to economic integration of trading system in Indonesia.
KATA PENGANTAR
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul “Pengaruh MEA 2015 Terhadap Integrasi Ekonomi Pada Sistem Perdagangan Di Indonesia”. Skripsi ini disusun dengan maksud untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar sarjana ekonomi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara. Penulis telah banyak menerima bimbingan, saran, motivasi, dan doa dari berbagai pihak selama penulisan skripsi ini. Oleh karena itu dalam kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan dan bimbingan, yaitu:
1. Prof. Dr. Azhar Maksum SE, MSc, Ak selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Wahyu Ario Pratomo, SE, M.Ec selaku Ketua Departemen Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Drs. Syahrir Hakim Nasution, M.Si selaku sekretaris Departemen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara. 4. Bapak Irsyad Lubis, SE, Msoc, Sc, PhD selaku Ketua Program Studi S-1
5. Bapak Paidi Hidayat, SE. M,Si selaku Sekretaris Program Studi S-1 Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara.
6. Ibu DR. Murni Daulay, SE, M.Si selaku dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu, memberi bimbingan dan masukan dari awal pengerjaan sampai dengan selesainya skripsi ini.
7. Bapak Drs. Syahrir Hakim Nasution, M. Si dan Ibu Inggrita Gusti Sari Nasution, SE, M. Si selaku dosen penguji I dan II yang telah banyak memberikan petunjuk dan masukan untuk penyempurnaan skripsi ini.
8. Seluruh staf pengajar dan pegawai di Fakultas Ekonomi terkhusus Departemen Ekonomi Pembangunan atas pengajaran, bimbingan, dan bantuannya kepada penulis selama mengikuti perkuliahan.
9. Ayah, Ibu, dan Adik tercinta terima kasih tak terhingga karena telah memberikan bantuan dan dukungan secara moril dan materil.
10. Agus Riyanto yang terus memberikan semangat dan dukungannya hingga saat ini. Terima kasih untuk semuanya.
12. Berbagai pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang terlibat dalam pembuatan skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung.
Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari sempurna, namun penulis berharap karya kecil ini berguna bagi semua pihak yang memerlukan. Semoga kebaikan semua pihak yang membantu mendapat balasan dari Allah SWT.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb
Medan, Oktober 2014
DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK... i
ABSTRACT ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
DAFTAR ISI... vi
DAFTAR TABEL... ix
DAFTAR GAMBAR... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang Masalah... 1
1.2 Perumusan Masalah... 7
1.3 Tujuan Penelitian... 7
1.4 Manfaat Penelitian... 8
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 9
2.1 Uraian Teoriti... 9
2.1.1. Pengertian Perdagangan Internasional ... 9
2.1.2. Teori-Teori Perdagangan Internasional... 10
2.1.2.1. Teori Klasik ... 10
2.1.2.2. Teori Neoklasik ... 13
2.1.2.3. Teori Modren: Teori Kerjasama (NewTheory)... 16
2.1.3. Kebijakan PerdagangannInternasional... 16
2.1.5. Sistem Perdagangan Indonesia Terhadap Masyarakat
Ekonomi ASEAN (MEA) 2015... 21
2.2 Penelitian Terdahulu... 29
2.3 Kerangka Konseptual... 34
2.4 Hipotesis... 35
BAB III METODE PENELITIAN... 36
3.1 Jenis Penelitian... 36
3.2 Batasan Operasional... 36
3.3 Definisi Operasional... 37
3.4 Jenis dan Sumber Data... 39
3.5 Teknis Analisis... 39
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN... 43
4.1. Gambaran Umum Penelitian ... 43
4.1.1. Sejarah Terbentuknya ASEAN ... 43
4.1.2. Proses Menuju Kesepakatan MEA ... 45
4.1.3. Perkembangan Kondisi Perdagangan Internasional Indonesia Terhadap MEA 2015: Ekspor dan Impor.. 49
4.1.4. Hubungan Perdagangan Antara Indonesia Dengan ASEAN... 55
4.2. Hasil Analisis dan Pembahasan ... 62
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 75
5.1. Kesimpulan ... 75
5.2. Saran ... 75
DAFTAR PUSTAKA ...77
DAFTAR TABEL
No.Tabel Judul Halaman
1.1 Perdagangan Di Luar dan Dalam ASEAN periode 2011 ...
4
1.2 Ekspor Dalam dan Luar ASEAN periode 2011 ...
5
1.3 Total Ekspor dan Impor Periode 2011-2012 ...
6
2.1 Neraca Perdagangan Indonesia China 2007-2010 ...
28
3.1 Operasionalisasi Variabel ... 38 4.1 Perbandingan ASEAN dengan Integrasi
Ekonomi Lainnya tahun 2006
... 50 4.2 Perkembangan Ekspor dan Impor
Indonesia, Periode 2000-2013....
51 4.3 Perkembangan Impor Indonesia Periode
2012-2013 ...
55
4.4 Total Harga Produk Industri Indonesia (Juta US$)...
57
4.5 Total Perdagangan Indonesia... 59 4.6 Perkembangan Tarif Indonesia ... 59 4.7 Pemberlakuan Tarif ASEAN Economy
Community (AEC)
2015... 60 4.8 Hasil Estimasi Uji Autokorelasi Dengan
Uji Durbin-Watson ...
4.9 Hasil Estimasi Uji Autokorelasi dengan Lagrange Multiplier Test...
63 4.10 Hasil Estimasi Uji Multikolineritas
Dengan Correlation Matrix...
63
4.11 Hasil Estimasi Multikolineritas dengan Uji Korelasi Parsial...
64 4.12 Hasil Estimasi Mengobati
Multikolineritas dengan Uji Wald..
66 4.13 Hasil Estimasi Regresi Logaritma
Berganda Sebelum Ada Tarif dan
Harga... 67 4.14 Hasil Estimasi Regresi Logaritma
Berganda Setelah Ada Tarif dan
DAFTAR GAMBAR
No.Gambar Judul Halaman
2.1 Kerangka Konseptual ... 35 4.1 Total Nilai Ekspor Indonesia Intra
dan Ekstra Ke ASEAN 2000-2013
... 52 4.2 Total Nilai Impor Indonesia Intra
dan Ekstra Dari ASEAN
2000-2013... 53 4.3 Perkembangan Ekspor Indonesia
Periode 2012-2013 ...
54 4.4 Grafik Estimasi Regresi Logaritma
Berganda Sebelum Ada Tarif dan
Harga... 72 4.5 Grafik Estimasi Regresi Logaritma
Berganda Setelah Ada Tarif dan
DAFTAR LAMPIRAN
No.Lampiran Judul Halaman
1 Data-data Indonesia yang di analisis dalam jutaan US$ (diolah)
... 80 2 Hasil Estimasi Uji Autokorelasi
Dengan Uji
Durbin-Watson... 81 3 Hasil Estimasi Uji Autokorelasi dengan
Lagrange Multiplier Test ...
82
4 Hasil Estimasi Uji Multikolineritas Dengan Correlation
Matrix... 82 5 Hasil Estimasi Multikolineritas dengan
Uji Korelasi
Parsial... 83 6 Hasil Estimasi Mengobati
Multikolineritas dengan Uji Wald ...
85
7 Hasil Estimasi Regresi Logaritma Berganda Sebelum Ada Tarif dan
Harga... 86
8 Hasil Estimasi Regresi Logaritma Berganda Setelah Ada Tarif dan
Harga... 87
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
Sebagai dosen pembimbing saya telah memberikan bimbingan dan perbaikan seperlunya atas skripsinya:
Nama : Mutiara Pratiwi NIM : 110501011
Program Studi : S1 Ekonomi Pembangunan Kosentrasi : Perencanaan
Judul : Pengaruh MEA 2015 Terhadap Integrasi Ekonomi Pada Sistem Perdagangan Di Indonesia
Setelah memperhatikan proposal, proses penulisan, substansi dan teknik penulisan saya memberikan nilai ... untuk skripsi tersebut di atas.
Medan, ... Dosen Pembimbing,
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
Sebagai pembaca penilai saya telah memberikan koreksi dan perbaikan seperlunya atas skripsinya:
Nama : Mutiara Pratiwi NIM : 110501011
Program Studi : S1 Ekonomi Pembangunan Kosentrasi : Perencanaan
Judul : Pengaruh MEA 2015 Terhadap Integrasi Ekonomi Pada Sistem Perdagangan Di Indonesia
Setelah memperhatikan substansi dan teknik penulisan saya memberikan nilai ... untuk skripsi tersebut di atas.
Medan, ... Pembaca Penilai,
Drs. Syahrir Hakim Nasution, M.Si NIP 195601121985031002
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
Sebagai pembaca penilai saya telah memberikan koreksi dan perbaikan seperlunya atas skripsinya:
Nama : Mutiara Pratiwi NIM : 110501011
Program Studi : S1 Ekonomi Pembangunan Kosentrasi : Perencanaan
Judul : Pengaruh MEA 2015 Terhadap Integrasi Ekonomi Pada Sistem Perdagangan Di Indonesia
Setelah memperhatikan substansi dan teknik penulisan saya memberikan nilai ... untuk skripsi tersebut di atas.
Medan, ... Pembaca Penilai,
Inggrita Gusti Sari Nasution, SE, M.Si NIP 198011102008122003
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS DEPARTEMEN EKONOMI PEMBANGUNAN
PERSETUJUAN PENCETAKAN Nama : Mutiara Pratiwi
NIM : 110501011
Program Studi : S1 Ekonomi Pembangunan Kosentrasi : Perencanaan
Judul : Pengaruh MEA 2015 Terhadap Integrasi Ekonomi Pada Sistem Perdagangan Di Indonesia
Tanggal: ... Ketua Program Studi
(Irsyad Lubis, SE, Msoc, Sc, PhD) NIP. 197105032003121003 Tanggal:... Ketua Departemen
ABSTRAK
Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana prediksi perkembangan ekspor dan impor dengan adanya pengaruh MEA 2015 terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis prediksi perkembangan ekspor dan impor dengan adanya pengaruh MEA 2015 terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia. Hipotesis dalam penelitian ini yaitu prediksi perkembangan ekspor dan impor berpengaruh positif dengan adanya MEA 2015 terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia. Metode analisis yang digunakan yakni regresi logaritma berganda. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa Prediksi perkembangan ekspor berpengaruh positif terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia, tetapi untuk prediksi perkembangan impor tidak berpengaruh positif terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia dimana hal ini tidak sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa Prediksi perkembangan impor berpengaruh positif terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia.
ABSTRACT
Formulation of the problem in this study is how to predict the impact of Economic Asean Community 2015 to export and import in economic integration trading system in Indonesia. Purpose of this study is to predict export and import changes influenced by Economic Asean Community 2012 in trading system in Indonesia. Method of analysis in this study is multiplier linear regression. The result of this study is state that export development give positive influence in economic integration of trading system in Indonesia, but import is not influence the economic integration of trading system in Indonesia, that is inconsistent with the hypothesis which states that prediction of import development give positive influence to economic integration of trading system in Indonesia.
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) / ASEAN Economic Community
(AEC) merupakan salah satu bentuk realisasi integrasi ekonomi dimana ini
merupakan agenda utama negara ASEAN 2020. Adapun visi dari ASEAN tersebut adalah aliran bebas barang (free flow of goods) dimana tahun 2015 perdagangan barang dapat dilakukan secara bebas tanpa mengalami hambatan, baik tarif maupun non-tarif. Selain itu untuk menciptakan kawasan Asia Tenggara yang berintegrasikan dalam membangun ekonomi yang merata dan dapat pula mengurangi kesenjangan sosial-ekonomi. Namun pada tahun 2003 Deklarasi ASEAN Concord II, para pemimpin ASEAN sepakat untuk membentuk sebuah komunitas atau masyarakat ASEAN pada tahun 2020 yang terdiri dari 3 pilar, yakni Masyarakat Politik-Keamanan ASEAN, Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Masyarakat Sosial-Budaya ASEAN. Kemudian pada tahun 2007, mereka memutuskan untuk mempercepat terciptanya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) / ASEAN Economic Community (AEC) pada tahun 2015. Dimana untuk para pemimpin ASEAN setuju bahwa proses integrasi ekonomi regional di percepat dengan Cetak Biru Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2007 agar di bentuknya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015.
menciptakan kawasan yang sejahtera dan sangat kompetitif dimana terdapat arus barang, jasa, dan modal yang berintegrasi di ASEAN. Namun adapun tujuan utama MEA 2015 adalah untuk menciptakan pembangunan ekonomi yang setara dengan negara anggota-anggota ASEAN dan untuk membuat ASEAN menjadi sebuah kawasan ekonomi yang sangat kompetitif yang akan sepenuhnya dapat terintegrasi dalam ekonomi global (Tulus T.H.Tambunan: 2013).
MEA berinisiatif agar negara-negara anggota ASEAN dapat mempromosikan pergerakan bebas barang, jasa-jasa, investasi, dan pekerja-pekerja terdidik lintas kawasan ASEAN. Upaya yang dapat dilakukan dalam mewujudkan ASEAN sebagai kawasan dengan aliran bebas barang dalam MEA merupakan kelanjutan dan penyempurnaan dari agenda yang sebelumnya pernah dilaksanakan yaitu Preferential Trading Arrangement (PTA) pada tahun 1977 dan
ASEAN Free Trade Area (AFTA) pada tahun 1992. Adapun perbandingan yang
dapat kita lihat dari ketiga agenda tersebut adalah bahwa PTA dan AFTA lebih menekankan pada pengurangan dan penghapusan hambatan tarif, sedangkan untuk MEA lebih menekankan pada pengurangan dan penghapusan hambatan non-tarif
(Sjamsul Arifin dkk, 2008:71).
antara sesama negara anggota ASEAN. Penerapan MEA 2015 ini juga akan mentransformasikan ASEAN ke sebuah pasar tunggal yang berbentuk basis produksi, seperti Masyarakat Eropa (ME). Pasar tunggal dan basis produksi ASEAN tersebut memiliki lima pilar liberalisasi sebagai kerangka kerja MEA 2015 yang meliputi: liberalisasi arus barang, arus jasa, arus investasi, arus modal, dan pasar tenaga kerja. Dalam arus barang ini sudah jelas akan dapat mempengaruhi arus ekspor dan impor barang dari masing-masing negara anggota ASEAN.
Tabel 1.1 Perdagangan Di Luar dan Dalam ASEAN, Periode 2011 (Dalam juta dollar AS)
Negara
Darussalam 2.912,1 19,6 11.910,2 80,4 14.822,3 Kamboja 3.003,8 23,4 9.840,3 76,6 12.844,1 Indonesia 99.353,2 26,1 281.579,1 73,9 380.932,3 Lao PDR 2.530,3 64,0 1.425,5 36,0 3.955,9 Malaysia 108.139,7 26,0 307.582,2 74,0 415.559,1 Myanmar 7.207,7 48,3 7.717,4 51,7 14.925,1 Filipina 23.675,6 21,2 88.076,0 78,8 111.751,2 Singapura 205.670,9 26,5 569.481,7 73,5 775.167,2 Thailand 111.450,8 24,3 347.453,5 75,7 458.904,4 Viet nam 34.298,1 17,2 165.284,0 82,8 199.582,1 ASEAN 598.242,2 25,0 1.790.350,0 75,0 2.388.444,0
Sumber: ASEAN database (www.asean.org)
Namun walaupun demikian jumlah perdagangan ASEAN tersebut berbeda antara negara-negara anggota, sedangkan untuk negara China, Jepang, Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (EU) merupakan negara yang menjadi mitra utama dalam perdagangan luar negeri untuk ekspor maupun impornya.
kawasan ASEAN mengalami peningkatan sebesar 1.254.580,7 dan 1.221.846,8 juta dollar AS maka total perdagangan di kawasan ASEAN sebesar 2.476.427,4 juta dollar AS. Dimana nilai ekspor dan impor Indonesia sebesar 190.031,8 dan 191.689,5 juta dollar AS, sehingga totalnya 381.721,3 juta dollar AS (Tabel 1.2 dan Tabel 1.3)
Tabel 1.2 Ekspor Dalam dan Luar ASEAN Periode 20011 (Dalam juta dollar AS)
Negara Anggota
Ekspor Dalam ASEAN Ekspor Luar ASEAN
Total Ekspor
Darussalam 1.72,1 13,9 10.641,2 86,1 12.362,3 Kamboja 833,7 12,4 5.876,8 87,6 6.710,6 Indonesia 42.098,9 20,7 161.397,8 79,3 203.496,7 Lao PDR 959,8 55,0 786,7 45,0 1.746,5 Malaysia 56.049,7 24,6 172.129,5 75,4 228.179,1 Myanmar 3.957,4 48,7 4.161,8 51,3 8.119,2 Filipina 8.635,3 18,0 39.406,9 82,0 48.042,2 Singapura 127.544,5 31,2 281.899,0 68,8 409.443,5 Thailand 72.226,6 31,6 156.594,1 68,4 228.820,7 Viet nam 13.504,8 14,2 81.860,7 85,8 95.365,6 ASEAN 327.531,8 26,4 914.754,6 73,6 1.242.286,4
Tabel 1.3 Total Ekspor dan Impor Periode 2011-2012
ekspor Impor Ekspor Impor
B.Darussa
lam 12.362,3 2.460,0 14.822,3 13.182,2 3.674,1 16.856,3 Kamboja 6.710,6 6.133,6 12.844,1 7.434,9 11.228,8 18.663,7 Indonesia 203.496,7 177.435,6 380.932,3 190.031,8 191.689,5 381.721,3 Lao PDR 1.746,5 2.209,4 3.955,9 2.655,2 3.503,5 6.158,8 Malaysia 228.179,1 187.473,1 415.559,1 227.537,8 196.392,6 423.930,3 Myanmar 8.119,2 6,805,9 14.925,1 9.314,9 9.188,4 18.503,3 Filipina 48.042,2 63.709,4 111.751,6 51.995,2 65.386,4 117.381,6 Singapura 409.443,5 365.718,0 775.167,2 408.393,6 379.723,3 788.116,9 Thailand 228.820,7 2230.083,6 458.904,4 229.524,2 247.777,7 477.301,9 Viet nam 95.365,6 104.216,5 199.582,1 114.510,7 113.282,5 227.793,3 ASEAN 1.242.286,4 1.146.245,0 2.388.444,0 1.254.580,7 1.221.846,8 2.476.427,4
Sumber: ASEAN database (www.asean.org)
Oleh sebab itu pemerintah selalu berusaha meningkatkan volume perdagangannya baik di dalam ASEAN maupun di luar ASEAN, demi terciptanya perekonomian Indonesia yang berintegrasi secara global. Tetapi pada dasarnya Indonesia mempunyai berbagai potensi dan sumber daya yang tidak dimanfaatkan jadi negara-negara ASEAN pula yang memanfaatkan untuk kepentingan ekonomi nasional, sehingga hubungan Indonesia pada bidang ekonomi dan perdagangan bersama ASEAN kurang mampu bersaing.
1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang yang dikemukakan sebelumnya maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut: “Bagaimana prediksi perkembangan ekspor dan impor dengan adanya pengaruh MEA 2015 terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia?”.
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
2. Manfaat Penelitian 1. Bagi penulis
Penelitian ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis dalam perkembangan Indonesia yang menghadapi pengaruh terciptanya MEA 2015 ini terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan. Bukan hanya itu peneliti juga dapat kesempatan dalam menerapkan teori-teori yang telah diperoleh di bangku perkuliahan.
2. Bagi pelaku bisnis
MEA 2015 ini menerapkan sebuah pasar tunggal yang berbasis produksi, maka ini akan menyebabkan hilangnya biaya tukar yang tinggi antara negara ASEAN sehingga akan merangsang sistem perdagangan di negara Indonesia, ini akan menjadikan peluang bagi pelaku bisnis untuk meningkatkan profit.
3. Bagi ASEAN dan negara-negara Asia lainnya
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Uraian Teoritis
2.1.1. Pengertian Perdagangan Internasional
Perdagangan dalam suatu negara memegang peranan yang sangat penting. Dimana sebuah perdagangan dapat berpengaruh pada perkembangan ekonomi global maupun perekonomian domestik. Karena negara yang melakukan perdagangan dapat memberikan keuntungan, akan tetapi ini menyebabkan kerugian bagi negara lain. Ini terjadi disebabkan oleh ketidakseimbangan antara ekspor dan impor yang tidak terjadi secara timbal balik.
Menurut Hendra (2002), “perdagangan internasional bisa terjadi apabila kedua belah pihak memperoleh manfaat atau keuntungan dari dalam perdagangan tersebut (gains from trade)”. Sedangkan menurut Basri dan Munandar (2010), “Perdagangan internasional terjadi karena dua alasan utama. Pertama, negara-negara yang berdagang karena memiliki sumber daya yang berbeda satu sama lain. Kedua, negara-negara melakukan perdagangan dengan tujuan skala ekonomi
(economies of scale) dalam produksi”. Maksudnya, jika setiap negara
2.1.2. Teori-Teori Perdagangan Internasional 2.1.2.1. Teori Klasik
Dalam melakukan sebuah perdagangan, negara memiliki alasan yaitu untuk mendapatkan keuntungan dalam perdagangan dan bertujuan agar dalam proses produksi dilakukan dengan skala ekonomis sehingga negara dapat berdagang satu sama lainnya. Dengan demikian aliran kaum klasik yakni Adam Smith dan David Ricardo mengemukan teori Absolute Advantage (Keunggulan Mutlak) dan Comparative Advantage (Keunggulan Komparatif).
1. Teori Absolute Advantage (Keunggulan Mutlak)
Adam Smith berprinsip bahwa, “pendapatnya merupakan pengkoreksian dari kelemahan kaum merkantilisme terhadap pernyataan surplus perdagangan internasional sebagai suatu doktrin. Surplus Perdagangan dilakukan dengan memanfaatkan sepenuhnya sumberdaya alam yang tersedia. Akan tetapi smith berpendapat bahwa pemanfaatan sumber daya alam sepenuhnya kelak akan membahayakan negara itu sendiri, yaitu berupa peningkatan impor secara besar-besaran”. Jadi inti dari teori ini adalah suatu negara akan melakukan spesialisasi terhadap ekspor suatu jenis atau beberapa jenis barang tertentu, dimana negara tersebut tidak mempunyai keunggulan absolut dan melakukan impor dengan jenis lain dimana negara tersebut dengan tidak memiliki keunggulan absolut terhadap negara lain yang memproduksi barang lain (Tambunan: 2001).
tidak diperhitungkan. Disinilah terlihat satu kelemahan dari teori Absolute
Advantage (Keunggulan Mutlak) yang dikemukan oleh Adam Smith.
2. Teori Comparative Advantage (Keunggulan Komparatif)
David Ricardo mengkritik teori Absolute Advantage oleh Adam Smith dimana ini termasuk aliran klasik juga bahwa Absolute Advantage sangat sederhana sekali. Menurut David Ricardo (1817) adalah “Perdagangan internasional bisa saja terjadi walaupun negara tidak mempunyai keunggulan mutlak, akan tetapi mempunyai keunggulan komparatif dari negara lain. Ada beberapa asumsi yang membangun konsep komparatif oleh David Ricardo, yakni: 1. Dua negara masing-masing memproduksi dua jenis komoditi dengan hanya
menggunakan satu faktor produksi tenaga kerja. 2. Kedua komoditi bersifat identik (homogen).
3. Kedua komoditi dapat dipindahkan antar negara dengan biaya transportasi nol. 4. Tenaga kerja merupakan faktor produksi yang bersifat homogen dalam suatu
negara, namun heterogen tidak identik antar negara.
5. Tenaga kerja dapat bergerak antar industri dalam suatu negara namun tidak antar negara.
6. Pasar barang dan pasar tenaga kerja dalam kondisi persaingan sempurna.
1. Banyak negara dan banyak barang.
Bahwa perdagangan dilakukan tidak hanya pada dua negara akan tetapi banyak negara sehingga barang yang diperdagangkan juga tidak dua barang melainkan banyak barang. Namun bisa saja terjadi satu negara unggul dapat menghasilkan berbagai jenis barang.
2. Berbagai input produksi
Dalam proses produksi input yang digunakan tidak hanya menggunakan tenaga kerja saja, akan tetapi banyak input produksi yang lainnya dimana input tersebut meliputi: tenaga kerja, sumber daya lahan, barang-barang modal, teknologi, dan lain-lain. Sehingga dalam menciptakan suatu output banyak diperlukan berbagai kombinasi input.
3. Keunggulan disebabkan faktor selera
Suatu negara dapat menghasilkan barang yang sama dengan negara lain dan dengan biaya yang lebih murah dan harga barang yang lebih rendah, dengan itu negara tersebut tidak lagi perlu untuk mengimpor barang yang sama dari negara lain. dimana konsumen sangat berpengaruh pada naiknya pendapatan yang diikuti naiknya hasrat konsumsi dan selera.
4. Kekayaan sumber daya potensi ekonomi
Dengan kekayaan sumber daya potensi ekonomi ini negara tentunya dapat menghasilkan jenis-jenis barang yang dapat diperdagangkan. Indonesia mempunyai perbedaan dengan negara ASEAN lainnya yang dinyatakan dalam
advantage disebabkan bahwa Indonesia mempunyai berbagai jenis komoditas
5. Penggunaan/penguasaan teknologi
Dalam suatu proses produksi untuk menghasilkan barang diperlukan penggunaan teknologi yang maju. Dimana dengan ini tentunya dapat membuat biaya produksi akan lebih rendah dan harga barang juga lebih murah.
6. Karakteristik sumber daya alam
Potensi yang di miliki oleh suatu negara yakni termasuk sumber daya lahan, ini merupakan yang diperlukan bagi negara untuk mendapatkan penghasilan dari jenis-jenis komoditas yang dapat dikembangkan sehingga menjadi negara yang advantage.
7. Berbagai faktor lain juga dapat menentukan konsep advantage.
Hal ini merupakan suatu bentuk dari kelompok-kelompok negara penghasil komoditas dan dapat menjadikan kelompok negara-negara produsen.
2.1.2.3. Teori Neoklasik
Menurut para aliran kaum neoklasik, mereka mengemukakan teorinya yakni dapat dilihat dari model Eli Heckscher dan Bertil Ohlin (teori H-O) dan Leontiev Paradox.
1. Model Eli Heckscher dan Bertil Ohlin (teori H-O)
memproduksi barang”. Dimana suatu negara akan mengekspor komoditinya dalam proses produksinya memerlukan penggunaan dari faktor produksi yang relatif lebih murah dan mengimpor dengan serelatif mungkin dengan faktor produksi yang langka sehingga mahal di negara tersebut. Ada beberapa asumsi dari teori H-O bagi kedua negara yang melakukan perdagangan internasional, yaitu:
a. Negara yang melakukan perdagangan internasional mempunyai karakteristik yang berbeda terhadap tenaga kerja yang berlimpah dan sebaliknya berlimpah barang-barang modal.
b. Kedua negara mempunyai kesamaan teknologi. c. Selera adalah homogen bagi kedua negara.
d. Kedua komoditas diproduksi berdasarkan constant return to scale. e. Masing-masing negara melakukan spesialisasi produk.
f. Kompetitif adalah sempurna sehingga barang ditentukan oleh masing-masing pihak.
g. Tidak terdapat biaya transportasi, tarif, atau bentuk lainnya yang akan menghambat pola perdagangan internasional.
2. Leontiev Paradox
Wessily Leontiev melihat kelemahan dalam konsep labor intensive
maupun capital intensive oleh Heckscher-Ohlin, dimana ia melihat bahwa Heckscher-Ohlin tidak memperhitungkan perbedaan diantara labor cost dan
capital cost untuk dalam menggunakan kedua produksi pada negara yang berbeda.
Adapun pengujian yang empiris dapat dibuktikan oleh Wessily Leontiev (1953) bahwa untuk memperhitungkan total persyaratan penggunaan input modal dan tenaga kerja per unit untuk penciptaan sesuatu barang ekspor Amerika Serikat untuk barang pengganti, dimana fakta ini mengenai struktur perdagangan luar negeri (ekspor dan impor) tahun 1947 yang bertentangan dengan teori Heckscher - Ohlin. Paradox (pembuktian) meliputi beberapa pertimbangan pemikiran yaitu: a. Kekeliruan statistik, yaitu pengambilan suatu data yang tidak representatif dan
ternyata banyak negara yang melimpah modal bahkan mengekspor barang yang padat karya daripada yang perlu diimpor.
b. Faktor kepadatan timbal balik, sesuatu usaha yang akan memecahkan kembali
leontiev paradox dan meneliti secara empiris kepadatan timbal balik.
c. Kondisi permintaan, selera (taste) merupakan faktor yang mempengaruhi masyarakat untuk meminta suatu produk.
d. Proteksi, upaya untuk melidungi produksi dalam negeri melalui instrument tarif perdagangan bebas perlu proteksi yang tinggi.
f. Lebih banyak faktor produksi, faktor produksi tersebut seperti modal, tenaga kerja, tenaga profesional, tanah dan lainnya menentukan kuantitas dan kualitas produk.
2.1.2.3. Teori Modren: Teori Kerjasama (New Theory)
New Theory muncul setelah teori absolute advantage dari Adam Smith
dan Comparative advantage dari David Ricardo dan teori tradisonal perdagangan
internasional dari Eli Hecsksher dan Bertil Ohlin. New Theory ini ditulis oleh beberapa tokoh yakni: Dixit dan Norman (1980), Helpman (1981), Ethier (1982), dan Peter Krugman (1984). Dalam perkembangannya New Theory menuju kepada kondisi perdagangan bebas yang disebut dengan liberalisasi perdagangan. Teori ini berupaya untuk mengatasi berbagai hambatan perdagangan internasional melalui beberapa perundingan dimana pada akhirnya dapat memberikan keuntungan untuk negara yang sedang melakukan perdagangan internasional.
2.1.3. Kebijakan Perdagangan Internasional
1. Alasan infant industry
Infant industry merupakan suatu alasan dimana berupaya untuk melindungi
suatu produksi industri didalam sebuah negeri agar dapat tumbuh dan berkembang dan termasuk untuk mempromosi ekspor.
2. Alasan strategi
Alasan strategi ini merupakan suatu bentuk upaya lanjutan dalam memproduksikan dan mengkonsumsikannya sendiri dalam keadaan perang.
Adapun beberapa bentuk dari proteksi, antara lain: 1. Kuota
Kuota merupakan suatu hambatan dalam bentuk kuantitatif yang berupaya membatasi impor barang-barang khusus dan menspesifikasikan dengan jumlah unit atau nilai total pada periode waktu tertentu.
2. Perdagangan Oleh Pemerintah
Pada hakikatnya pemerintah adalah pelaku utama dalam mengupayakan memonopoli impor dimana terletak kebebasan secara administratif.
3. Kontrol Devisa
Kontrol devisa adalah sebuah hambatan dimana administratif atau transaksi yang terlibat oleh mata uang asing.
4. Larangan Impor
5. Hukum Lokal Mengenai Pembelian
Untuk negara yang menerapkan hukum seharusnya menetapkan terlebih dahulu barang-barang lokal yang dibeli melalui pemilihan produk luar negeri agar dapat dibedakan dengan produk-produk lokal yang tersedia. Biasanya terjadi pada barang-barang modal.
6. Hambatan Nontarif
Hambatan nontarif merupakan suatu hambatan birokrasi dimana sebagian dari fungsi formal harus melewati peraturan yang khusus yang diumumkan secara resmi terhadap suatu barang-barang impor.
Kebijakan Proteksi memiliki beberapa langkah yaitu: Tarif dan Kuota. a. Tarif
Tarif (bea cukai) biasanya dikenakan pada barang-barang impor. Tarif terbagi menjadi:
a. Advalorem tariffs; yaitu pengenaan tarif pada barang-barang yang
menggunakan satuan unit tertentu.
b. Specific tariffs; yaitu tarif yang dikenakan pada barang-barang dengan
satuan ukuran tertentu.
c. Coumpound tariffs; yaitu tarif yang digunakan baik itu Advalorem tariffs
maupun Specific tariffs, dimana disebut juga sebagai tarif ganda. b. Kuota
barang impor ataupun ekspor yang dilakukan pemerintah. Kuota terbagi menjadi: kuota ekspor dan kuota impor.
a. Kuota ekspor merupakan kuota yang dilakukan untuk melindungi konsumen di dalam negeri sekaligus kebutuhan dalam negeri.
b. Kuota impor merupakan suatu bentuk pembatasan langsung dimana jumlah barang yang diperbolehkan untuk impor dan dilakukan dengan memberikan lisensi kepada beberapa kelompok individu perusahaan maupun perusahaan domestik agar sejumlah produk yang diimpor dapat langsung dibatasi.
2.1.4. Perdagangan Internasional Pada Perekonomian Indonesia
konsumen) melalui impor dengan tingkat harga yang relatif rendah sehingga daya beli masyarakat meningkat. Adapun besarnya suatu nilai ekspor negara merupakan kemampuan bagi negara tersebut untuk melakukan impor. Tetapi pengertian ekspor menurut Tambunan (2004), “ekspor diartikan sebagai mengeluarkan atau membawa barang dan jasa yang berasal dari pasar atau produk domestik (dalam daerah pabean) ke suatu tempat tertentu di luar negeri (luar daerah pabean) dengan tujuan dipertukarkan atau dijual”. Sedangkan impor menurut Salvatore (1997), “impor adalah sejumlah barang atau jasa yang diproduksi negara lain yang kemudian di kirim dan di jual dalam pasar domestik (pasar dalam negeri)”.
Sedangkan untuk ekspor Indonesia sendiri pada tahun 2008 perlahan mengalami peningkatkan setelah melewati krisis ekonomi yang terjadi pada tahun sebelumnya. Pada tahun 2008 nilai ekspor mencapai 20,1 persen dibanding tahun 2007 namun pada tahun 2009 ekspor mengalami penurunan, dimana terjadi krisis ekonomi dunia yang menyebabkan kemunduran permintaan untuk ekspor produk Indonesia. Namun pada tahun 2010 ekspor mulai tumbuh, sehingga meningkat sampai 35,4 persen dibanding tahun 2009. Kemudian untuk impor Indonesia pada tahun 2008 mengalami pertumbuhan yang signifikan sampai mencapai sebesar 73,6 persen. Pertumbuhan yang signifikan ini mengalami penurunan hingga 25 persen pada tahun 2009. Inilah kondisi perkembangan perdagangan internasional Indonesia didalam pasar ASEAN yaitu perdagangan bebas.
negara, dimana ini merupakan nilai produk yang berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) yang disebut GDP (Gross Domestic product). Untuk nilai GDP Indonesia sendiri di kanca ASEAN dari tahun 2011 sebesar 246.467,7 juta dollar AS dan 2012 sebesar 261.813,9 juta dollar AS mengalami peningkatan walaupun hanya cuma beberapa persen dari peningkatan tersebut. Sedangkan untuk konsumsi dan investasi Indonesia juga mengalami peningkatan dari tahun 2011-2012.
Dalam hal ini perhitungan pendekatan pengeluaran yang dapat menjelaskan bagaimana pendapatan suatu negara. Persamaan tersebut dapat dinyatakan sebagai Y = C + I + G + (X-M), dimana Y merupakan jumlah output yang dihasilkan oleh suatu negara, C merupakan pengeluaran konsumsi (belanja rumah tangga dan belanja pemerintah), I merupakan pengeluaran investasi suatu negara, X merupakan ekspor yang dilakukan negara dan M merupakan barang atau jasa yang dibeli dari negara ke negara lain. Ini akan menjadi satu hal yang baik untuk perkembangan ekonomi Indonesia. Akan tetapi pengaruh perdagangan internasional ini juga akan membawa neraca perdagangan negara ke surplus (X – M > 0) atau defisit (X – M < 0). Jadi dari hal ini kenaikan ekspor juga akan membuat peningkatan jumlah output dan pertumbuhan ekonomi akan meningkat.
2.1.5. Sistem Perdagangan Indonesia Terhadap Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015
merupakan bentuk visi dari ASEAN yang akan menjadikan sebuah kawasan pasar tunggal yang berarti bahwa barang-barang dan jasa akan bergerak secara bebas. Pada dasarnya MEA tertuju pada sasaran dalam mengintegrasikan ekonomi regional Asia Tenggara, dimana dalam pembentukan kawasan ekonomi yang kompetitif memerlukan kerjasama yang erat bagi negara-negara anggota ASEAN agar kawasan yang terintegrasi ini sepenuhnya dapat menjadi kawasan ekonomi global.
(http://bppt.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/informasi/artikel/detailartikel/7(1 5 Mei 2014)
sesungguhnya menganggap bahwa liberalisasi didalam suatu ekonomi akan mengarah pada kebebasan pasar dan bukan hanya itu peran negara pun dapat diminimalisir. Bahkan selain itu kaum liberal mengemukakan bahwa semua bentuk ekonomi yang menyebar pada teori liberal akan berharap mekanisme harga dan pasar merupakan media yang sangat efektif agar dapat mengatur hubungan kerjasama ekonomi domestik maupun internasional. Oleh sebab itu pernyataan kaum liberal terhadap kebebasan pasar bertujuan untuk mencapai efisiensi yang semaksimal mungkin agar pertumbuhan ekonomi. Namun menurut Tinbergen (2006) menyatakan bahwa:
integrasi ekonomi merupakan penciptaan struktur perekonomian internasional yang lebih bebas dengan jalan menghapuskan semua pembatasan-pembatasan (barriers) yang dibuat terhadap bekerjanya perdagangan bebas dengan jalan mengintroduksi semua bentuk-bentuk kerjasama. Integrasi juga dapat dipakai untuk alat mengakses pasar yang lebih besar, menstimulasi pertumbuhan ekonomi sebagai bentuk upaya untuk meningkatkan kesejahteraan nasional
Akan tetapi integrasi ekonomi mempunyai prinsip-prinsip dan mekanisme yang sama dengan perdagangan bebas. Menurut dari pengertian diatas maka istilah integrasi ekonomi dapat dibagi menjadi dua pengertian, yakni:
b. Penyatuan politik (kebijakan) dengan kata kunci harmonisasi, disebut juga integrasi positif.
Griffin dan Pustay (2002) menyatakan bahwa “membuat susunan dari integrasi ekonomi regional yang kemungkinan dapat terjadi. Ada beberapa tingkatan yakni kawasan perdagangan bebas, persekutuan pabean, pasar bersama, ekonomi, dan politik”. Adapun beberapa bentuk perjanjian dari tingkatan integrasi ekonomi yang di mulai dari Perdagangan Prefensial (Preferential Trade
Arrangement), Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Area), Persekutuan
Pabean (Custom Union), common market, dan Economi Union. Yang dimaksud diatas tersebut antara lain:
1. Pengaturan Perdagangan Preferensial (Preferential Trade Arrangement)
Preferential Trade Arrangement merupakan pengaturan yang dibentuk oleh
negara-negara yang sepakat menurunkan hambatan-hambatan perdagangan yang berlangsung di antara mereka dan membedakannya dengan yang berlaku pada negara luar yang bukan anggota. Preferential Trade Arrangement ini merupakan bentuk integrasi yang paling longgar.
2. Kawasan Perdagangan Bebas (Free Trade Area)
Free Trade Area merupakan suatu bentuk integrasi ekonomi karena semua
a. Akan meningkatkan daya saing ASEAN untuk basis produksi disebuah pasar internasional dengan melalui penghapusan bea dan hambatan non-bea didalam ASEAN.
b. Dapat menarik investasi asing secara langsung ke dalam ASEAN.
3. Custom Union
Custom Union merupakan sebuah bentuk integrasi ekonomi yang selanjutnya dimana persekutuan pabean (Custom Union), semuanya mewajibkan negara anggota agar tidak hanya menghilangkan bentuk-bentuk perdagangan saja akan tetapi juga harus menyamakan sebuah kebijakan perdagangan dengan negara-negara luar yang bukan merupakan negara anggota. Sebenarnya untuk persekutuan pabean ini negara anggota dengan negara anggota lainnya akan berlaku ketentuan-ketentuan dalam perdagangan bebas dan tarif bea masuk dan disertakan kuota yang sama untuk impor terhadap negara-negara bukan anggotanya. Dengan begitu para negara anggota tidak bebas menentukan kebijakan komersil sendiri dengan negara lainnya. Adapun menurut Jacob Viner mengatakan bahwa “penghapusan tarif (bea cukai) sesama anggota customs union akan menyebabkan kesejahteraan masyarakat meningkat
(consumer surplus), dimana di sisi lainnya jumlah produksi akan berkurang
didalam negeri dan penerimaan bea cukai tidak dapat diperoleh negara”.
4. Common Market
5. Economic Union
Merupakan bentuk integrasi ekonomi yang dilaksanakan dengan cara menyamakan kebijakan moneter dan fiskal bagi negara anggota masing-masing. Pembentukan Economic Union ini sejak selesainya Perang Dunia II.
Adapun beberapa bentuk persetujuan dari perdagangan yang di bentuk sebelumnya yang mengarah ke perdagangan bebas, seperti ASEAN Free Trade Area (AFTA), World Trade Organization (WTO), dan lain-lain. Integrasi sebenarnya membuat globalisasi ekonomi menjadi fundamental dimana ini dapat merubah sebuah struktur perekonomian dunia. Namun hal ini bisa menyebabkan kesulitan bagi negara-negara yang tidak mempunyai infrastruktur dan kapasitas institusional yang kurang memadai, sehingga akan mengalami kesulitan berintegrasi dengan negara yang lain. Namun dalam penentuan tarif bea masuk, besar tarif yang ditentukan Indonesia lebih rendah dengan beberapa negara seperti Jepang, China, Thailand, dan beberapa negara lainnya.
http://indaharitonang-fakultaspertanianunpad.blogspot.com/2013/06/integrasi-ekonomi.html(sabtu, 7 juni 2014 09: 31 WIB).
lain perdagangan barang dan jasa, perdagangan produksi, integrasi dalam moneter dan integrasi kebijakaan ekonomi yang menyeluruh.
Dari hal inilah perekonomian dapat semakin dilihat dalam berbagai bidang baik di Indonesia maupun di dunia internasional. Sejak adanya perjanjian-perjanjian yang di buat terkait dengan kerjasama dalam perdagangan baik bilateral maupun multilateral Indonesia dengan negara lainnya yang terkait menyebabkan terbentuknya gejala-gejala liberalisasi. Konsep liberalisasi perekonomian merupakan kecenderungan kebebasan bagi para pelaku kegiatan ekonomi untuk dapat menguasai perekonomian di Indonesia. Liberalisasi perdagangan ini juga cenderung memberikan dampak yang negatif untuk Indonesia. Dimana setelah terbentuknya perjanjian perdagangan neraca perdagangan Indonesia dengan negara patner menjadi semakin defisit. Misalnya kerjasama Indonesia dengan CAFTA, yang dimulai pada tahun 2002 dan ditandatangani di Phnom Penh. Azizah dan Bagas (2011) mengatakan bahwa kerjasama CAFTA bertujuan untuk: a. Memperkuat dan meningkatkan perdagangan kedua belah pihak
b. Meliberalisasikan perdagangan barang dan jasa melalui pengurangan dan penghapusan tarif
c. Mencari area baru dan mengembangkan kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan kedua belah pihak
Kemudian pada kenyataannya setelah terlaksananya Free Trade Area
dengan China, ekspor Indonesia tidak mengalami peningkatan sehinnga ekspor lebih kecil daripada impor barang dan jasa ke china (Tabel 2.1).
Tabel 2.1 Neraca Perdagangan Indonesia China
NERACA PERDAGANGAN
2007 2008 2009 2010 2011 Ekspor ke
China 9.675.512,7 11.636,503,7 11.499.327,3 15.692.611,1 22.941.004,9
Impor dari
China 8.557,877,1 15.247.168,9 14.002.170,5 20.424.218,2 26.212.187,4
Neraca
perdagangan 1.117.635,6 -3.6106652 -2.5028432 -4.7316071 -3.2711825
Sumber : dhietamustofa.wordpress.com/2013/11/20/ (Litbang “Kompas”/RSW,
diolah dari Kementerian Perdagangan, 2012. Dikutip kompas, Rabu 21 Maret 2012).
Menurut Amin et. al (2010) liberalisasi perdagangan meliputi “kebijakan yang bertujuan untuk perekonomian terbuka dengan mengurangi hambatan perdagangan dalam bentuk pengurangan tarif dan peningkatan PDB”.
(http://dhietamustofa.wordpress.com/2013/11/20/liberalisasi-perdagangan-indonesia-di-dunia-internasional-dalam-perspektif-ekonomi-politik/(sabtu,7 jun 2014, 10:30WIB))
2.2. Penelitian Terdahulu
Rasio Impor Terhadap PDB sebesar 1 unit akan menurunkan rasio penerimaan pajak terhadap GDP sebesar 0,057342 dimana hal ini sesuai dengan hipotesis yang menyatakan bahwa peningkatan ekspor akan meningkatkan kapasitas perpajakan suatu negara dan variabel boneka Tingkat Pembangunan Masing-masing Negara. Untuk variabel boneka AFTA, ternyata tidak signifikan mempengaruhi kapasitas pajak negara-negara ASEAN.
Duvian Erika Puspaningrum (2008) melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Integrasi Perdagangan Terhadap Sinkronisasi Business Cycle ASEAN+3”. Tujuan dari penelitian tersebut yaitu untuk mengetahui bagaimana pengaruh integrasi perdagangan terhadap sinkronisasi business cycle ASEAN+3. Metode analisis yang digunakan adalah Metode data panel. Hasil dari penelitian tersebut yakni bahwa meningkatnya sinkronisasi business cycle China dengan ASEAN+3 lebih dipengaruhi oleh meningkatnya perdagangan intra industri serta semakin terkoordinasinya kebijakan nilai tukar antara China dengan ASEAN+3, dimana hasil uji signifikansi dengan menggunakan uji hausman pada metode panel data didapatkan bahwa model (1), model (2) signifikan pada taraf 1 persen dan model (3) pada taraf 5 persen dengan koefisien masing-masing sebesar 0.4761, 0.4603 dan 0.3924 menggunakan estimasi regresi dengan pendekatan
random effect. Hasil estimasi untuk negara Jepang menunjukkan bahwa
ASEAN+3. Dimana dari ketiga model tersebut hanya variabel koordinasi kebijakan moneter yang memiliki nilai signifikan pada taraf nyata 1 persen dengan masing-masing koefisien sebesar 0.3714, 0.3359 dan 0.3267 menggunakan menggunakan estimasi regresi dengan pendekatan fixed effect. Dapat diketahui sinkronisasi business cycle Korea dengan ASEAN+3 lebih dipengaruhi oleh meningkatnya demand spillover serta semakin terkoordinasinya kebijakan moneter dan kebijakan nilai tukar Korea dengan ASEAN+3. Dimana signifikan pada taraf nyata 1 persen untuk model (1), model (2) dan model (3) namun memiliki nilai koefesien yang negatif baik dari sisi ekspor, impor maupun total perdagangan dengan masingmasing koefisien sebesar 7.9884, 7.278 dan -9.105 menggunakan estimasi regresi dengan pendekatan fixed effect. Hasil estimasi untuk negara Indonesia menunjukkan terjadinya integrasi perdagangan hanya akan mengurangi sinkronisasi business cycle Indonesia dengan ASEAN+3. Meningkatnya perdagangan intra industri akan meningkatkan sinkronisasi
business cycle Malaysia dengan negara ASEAN+3. Dimana hal ini dapat dilihat
pada model (2) dan model (3) dimana nilai intensitas perdagangan impor dan total perdagangan signifikan pada taraf nyata 1 persen namun memiliki nilai yang negatif dengan masing-masing memiliki koefisien sebesar -58.5225 dan -98.7548 menggunakan estimasi regresi dengan pendekatan fixed effect. Hasil estimasi untuk Filipina didapatkan bahwa meningkatnya intensitas perdagangan hanya akan mengurangi sinkronisasi business cycle Filipina dengan ASEAN+3 dimana meningkatnya sinkronisasi business cycle lebih dipengaruhi oleh meningkatnya
dengan ASEAN+3. Meningkatnya sinkronisasi business cycle sangat dipengaruhi oleh meningkatnya perdagangan intra industri Singapura dengan ASEAN+3. Hasil estimasi menunjukkan meningkatnya intensitas perdagangan dan perdagangan intra industri akan mengurangi sinkronisasi business cycle Thailand dengan negara ASEAN+3. Maka dengan hasil penelitian tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa terjadinya integrasi perdagangan belum memberikan manfaat yang sama bagi negara-negara ASEAN+3, dimana negara-negara dengan tingkat perekonomian yang lebih rendah belum memperoleh keuntungan dari terjadinya integrasi perdagangan.
dibangun dengan China-India, maka akan terjadi peningkatan economic skills oleh negara-negara ASEAN. Dan juga merupakan tantangan, karena apabila tidak ada penguatan dalam internal ASEAN terhadap berbagai sektor, maka perekonomian negara-negara ASEAN akan mengalami stagnasi atau bahkan mengalami kemunduran.
Indonesia ke China lebih sering bergantung pada pertumbuhan permintaan impor komoditas tersebut di pasar China. Sedangkan, komposisi produk ekspor Indonesia masih terkonsentrasi pada produk yang permintaannya relatif lemah dipasar China, dengan kata lain ekspor produk Indonesia tidak mengikuti laju pertumbuhan produk yang diimpor oleh China. Kinerja impor Indonesia yang dianalisis dengan DKG menunjukkan bahwa ketergantungan Indonesia pada impor dari China relatif kecil, namun adanya peningkatan impor yang signifikan sejak implementasi ACFTA perlu diperhatikan.
2.3. Kerangka Konseptual
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual
2.4. Hipotesis
Hipotesis merupakan jawaban sementara yang hendak dicari kebenarannya melalui penelitian. Dikatakan jawaban sementara karena hipotesis pada dasarnya merupakan jawaban dari permasalahan yang telah dirumuskan dalam perumusan masalah, sedangkan kebenaran dari hipotesis perlu diuji terlebih dahulu melalui analisis data, Sulisyanto (2006 : 53). Sedangkan menurut Ginting dan Situmorang (2008 : 99) hipotesis adalah kesimpulan yang diperoleh dari penyusunan kerangka pikiran, berupa proposisi dedukasi. Merumuskan hipotesis berarti membentuk proposisi yang sesuai dengan kemungkinan-kemungkinannya serta tingkat-tingkat kebenarannya.Berdasarkan latar belakang masalah dan kerangka konseptual, maka hipotesis penelitian ini adalah “Prediksi Perkembangan ekspor dan impor berpengaruh positif dengan adanya MEA 2015 terhadap integrasi ekonomi pada sistem perdagangan di Indonesia”.
MEA 2015
Perkembangan Ekspor Idonesia
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah analisis deskriptif kuantitatif. Tujuan dari penelitian deskriptif kuantitatif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki berdasarkan hasil analisis berupa angka-angka (Nazir, 2003).
3.2. Batasan Operasional
Batasan operasional dalam penelitian ini adalah :
1. Varibel dependen dalam penelitian ini adalah jumlah GDP Indonesia di ASEAN terhadap pengaruh MEA 2015 (Y).
2. Variabel independen dalam penelitian ini adalah
Konsumsi (Cons)
Investasi (Invs)
Ekspor (X)
3.3. Definisi Operasional
Definisi operasional dari variabel-variabel yang diteliti, yang terdiri dari :
1. Variabel dependen atau variabel terikat merupakan variabel yang menjadi pokok perhatian dalam sebuah penelitian. Variabel dependen adalah variabel yang nilainya dipengaruhi variabel bebas. Variabel dependen juga menentukan adanya pengaruh variabel bebas dari faktor-faktor yang diobservasi dan dapat diukur. Adapun yang menjadi variabel dependen dalam penelitian ini adalah pengaruh MEA 2015 (Y) yang dinyatakan dalam jumlah nilai produk yang berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) yang disebut GDP (Gross Domestic product) selama satu tahun, dimana nilai GDP Indonesia di ASEAN.
2. Variabel independen atau variabel bebas merupakan variabel yang dapat mempengaruhi perubahan faktor-faktor dalam variabel dependen dan memiliki hubungan yang positif ataupun negatif bagi variabel dependen nantinya. Variabel independen adalah variabel yang tidak tergantung nilainya pada variabel lain. Adapun yang menjadi variabel independen dalam penelitian ini adalah :
Konsumsi (Cons) yang merupakan suatu kegiatan yang mengurangi dan
Investasi (Invs) yang merupakan pengeluaran penanaman modal atau
perusahaan yang membeli barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian.
Ekspor (X) yang merupakan penjualan barang ke luar negeri dengan
menggunakan sistem pembayaran, kualitas, kuantitas dan syarat penjualan lainnya yang telah disetujui oleh pihak eksportir dan importer
Impor (M) merupakan proses pembelian barang atau jasa asing dari suatu
negara ke negara lain, dimana impor barang secara umum memerlukan adanya campur tangan dari bea masuk dinegara pengirim maupun penerima.
Tabel 3.1 Operasionalisasi Variabel
Variabel Defenisi Hubungan
Variabel
jumlah nilai produk yang berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara
(domestik) selama satu tahun.
-
Konsumsi (Cons)
suatu kegiatan yang mengurangi dan
menghabiskan nilai guna suatu barang dan jasa baik secara berangsur-angsur maupun sekaligus.
Positif
Investasi (Invs)
pengeluaran penanaman modal atau perusahaan yang membeli barang-barang dan jasa-jasa yang tersedia dalam perekonomian.
Ekspor (X)
penjualan barang ke luar negeri dengan menggunakan sistem pembayaran, kualitas, kuantitas dan syarat penjualan lainnya yang telah disetujui oleh pihak eksportir dan importer.
Positif
Impor (M)
Proses pembelian barang atau jasa asing dari suatu negara ke negara lain, dimana impor barang secara umum
memerlukan adanya campur tangan dari bea cukai dinegara pengirim maupun
3.4. Jenis dan Sumber Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder dengan jenis data runtun waktu (time series) dari tahun 2000-2013 yang bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS), website resmi BPS (www.bps.com), website resmi ASEAN (www.asean.org), website resmi world bank
(www.worldbank.org), website resmi kementerian perdagangan
(www.kemendag.go.id) dan data-data penjelas serta pendukung deskripsi
diperoleh dari artikel, buku dan jurnal mengenai integrasi ekonomi perdagangan yang relevan dalam penelitian ini.
3.5. Teknis Analisis
Analisis regresi logaritma berganda dalam penelitian ini menngunakan bantuan aplikasi software Eviews. 5.1. Sebelum melakukan analisis regresi logaritma berganda, maka terlebih dahulu melakukan pengujian asumsi klasik yang harus dipenuhi, yaitu:
Uji Autokorelasi
Uji autokorelasi bertujuan untuk menguji apakah didalam model regresi terjadi korelasi antara kesalahan pengganggu periode t dengan kesalahan pengganggu pada periode t -1.
Uji Multikolineritas
Uji Multikolineritas bertujuan untuk menguji apakah pada model regresi ditemukan korelasi antar variabel bebas. Jika terjadi korelasi maka terdapat masalah multikolineritas pada penelitian ini.
Metode Analisis Regresi Logaritma Berganda
Metode ini bertujuan untuk mengetahui atau menganalisis hubungan antara pengaruh MEA 2015 pada sistem perdagangan dengan ekspor dan impor di negara Indonesia. Sehingga dapat diketahui pengaruh MEA 2015 pada sistem perdagangan di Indonesia. Model Persamaan secara sistematisnya dapat dijelaskan sebagai berikut:
LOG(Y) = Â + Âlog(CONS) + ÂLOG(INVS) + ÂLOG(X) + ÂLOG(M) + µ Dimana:
LOG(Y) = Logaritma dari Jumlah GDP Indonesia di ASEAN terhadap pengaruh MEA 2015
Âlog(CONS) = Logaritma total pengeluaran konsumsi Indonesia ÂLOG(INVS) = Logaritma total pengeluaran investasi Indonesia
ÂLOG(X) = Logaritma ekspor Indonesia intra dan ekstra ke ASEAN ÂLOG(M) = Logaritma impor Indonesia intra dan ekstra dari ASEAN μ = Standard Error
Kemudian model tersebut dalam bentuk persamaan baku regresi logaritma berganda adalah sebagai berikut:
Yt = δ0 + δ1 CONS1 + δ2 INVS2 + δ3 X3 + δ4 M4 + μ
Selanjutnya variabel-variabel kebijakan fasilitas perdagangan, yang meliputi : tarif dan harga (produk-produk industri Indonesia), dimasukan sebagai variabel dalam permodelan.
Yt = δ0 + δ1 CONS1 + δ2 INVS2 + δ3 X3 + δ4 M4 + δ5 t5 + δ6 p6 + μ Dimana: t = Tarif
p = Harga (produk-produk industri Indonesia)
Pengujian dalam Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Tanda koefisien parameter
Ini merupakan uji tanda atau hipotesa/teori apakah hubungan itu negatif (-) atau positif (+).
2. Uji signifikan Parsial (Uji-t)
secara bersama-sama tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Ha : X, M ≠ 0, artinya variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.
Kriteria pengambilan keputusan:
Uji t untuk nilai tstat dan nilai ttable, dengan ketentuan : Jika tstat < ttable : H0 diterima (no sign)
Jika tstat > ttable : Ha diterima (sign) Uji t untuk nilai pro/sign/P-value
Jika nilai prob/sign/P-value > α = 0.01
α = 0.05 α = 0.10
Jika nilai prob/sign/P-value < α = 0.01
α = 0.05 α = 0.10
3. R-square (R2)
Nilai R-square (R2) mengukur tingkat bagaimana model tersebut dapat dijelaskan dengan baik, nilai R2 antara nol samapi satu dimana semakin mendekati satu maka model tersebut akan semakin baik. Maka dapat dikatakan bahwa pengaruh varibel bebas (X, M) adalah besar terhadap variabel terikat (Y). Sebaliknya jika R-square (R2) semakin mengecil mendekati nol maka dapat dikatakan bahwa pengaruh variabel bebas (X, M) terhadap variabel terikat (Y) semakin mengecil.
H0 diterima (no sign)
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Gambaran Umum Penelitian
4.1.1. Sejarah Terbentuknya ASEAN
ASEAN (Association of Southeast Asian Nations) merupakan suatu tempat wadah persekutuan antara negara-negara di kawasan Asia Tenggara. ASEAN didirikan pada tanggal 8 Agustus 1967 di Bangkok oleh lima negara dengan masing-masing menteri luar negeri, yakni: Adam Malik dari Indonesia, Tun Abdul Rajak dari Malaysia, Narcisco R. Ramos dari Filipina, S. Rajaratnam dari Singapura dan Thanat Khoman dari Thailand melalui penandatanganan suatu deklarasi, atau yang biasa disebut dengan Deklarasi Bangkok. Kemudian negara-negara sekawasan lainnya juga ikut bergabung, yakni: Brunai Darussalam (bergabung 8 Januari 1984), Vietnam (bergabung tanggal 28 Juli 1995), Laos dan Myanmar (bergabung tanggal 23 Juli 1997) dan Kamboja pada tanggal 30 April 1999, sehingga jumlah negara anggota ASEAN sampai sekarang berjumlah sepuluh negara.
Tujuan dari dibentuknya ASEAN yang tercantum didalam Deklarasi Bangkok yaitu:
2. Meningkatkan perdamaian dan stabilitas regional dengan keadilan dan ketertiban hukum di dalam sebuah hubungan antara negara-negara di kawasan serta mematuhi semua prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa.
3. Meningkatkan kerjasama yang secara aktif dan saling membantu di dalam sebuah masalah yang menjadi kepentingan bersama terutama di bidang ekonomi, sosial, teknik, ilmu pengetahuan dan administrasi.
4. Saling memberikan bantuan dalam bentuk sarana-sarana pelatihan dan penelitian dalam bidang-bidang pendidikan, profesi, teknik dan administrasi. 5. Bekerjasama secara lebih efektif untuk meningkatkan pemanfaatan pertanian
dan industri mereka, memperluas perdagangan dan pengkajian masalah-masalah komoditi internasional, memperbaiki sarana-sarana pengangkutan dan komunikasi, serta meningkatkan taraf hidup rakyat.
6. Memajukan pengkajian mengenai Asia Tenggara.
7. Memelihara kerjasama yang erat dan berguna dengan berbagai organisasi internasional dan regional yang mempunyai tujuan sama, dan untuk menjaga semua kemungkinan untuk saling bekerjasama secara erat di antara mereka.
Adapun prinsip utama dalam kerjasama ASEAN, yakni seperti yang terdapat di dalam perjanjian (treaty) yang mengatur prinsip-prinsip dasar dalam berhubungan antar sesama negara penandatangan. Perjanjian ini bernama Treaty
of Amity and Cooperation (TAC) pada tahun 1976 adalah:
1. Saling menghormati.
4. Penyelesaian perbedaan atau sengketa dengan cara damai.
5. Menghindari ancaman dan penggunaan kekuatan atau senjata, dan 6. Kerjasama efektif antara anggota.
Perjanjian TAC diatas menyatakan bahwa kerjasama dan dialog politik serta keamanan haruslah ditujukan untuk meningkatkan stabilitas dan perdamaian kawasan melalui peningkatan kemajuan kawasan.
4.1.2. Proses Menuju Kesepakatan MEA
Dari awal dibentuknya ASEAN secara intensif melakukan berbagai kesepakatan dalam bidang ekonomi. Diawali pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ke-2 pada tanggal 15 Desember 1997 di Kuala Lumpur, Malaysia. Dengan disepakatinya sebuah visi ASEAN 2020, bahwa para kepala negara ASEAN menegaskan bahwa ASEAN akan:
a. Menciptakan Kawasan Ekonomi ASEAN yang stabil, makmur dan memiliki dayasaing yang tinggi yang ditandai dengan arus lalu lintas barang, jasa-jasa dan investasi yang bebas, arus lalu lintas modal yang lebih bebas, pembangunan ekonomi yang merata serta mengurangi kemiskinan dan kesenjengan sosial-ekonomi.
b. Mempercepat liberalisasi perdagangan di bidang jasa, dan
c. Meningkatkan pergerakan tenaga profesional dan jasa lainnya secara bebas dikawasan.
untuk merealisasikan tujuan visi 2020 ASEAN. Rencana ini mempunyai pembatasan waktu yaitu 6 tahun dari tahun 1999-2004. Dimana KTT ini para pemimpin ASEAN menyatakan Statement on Bold Measures dimana tujuannya untuk dapat mengembalikan kepercayaan para pelaku usaha dan mempercepat melakukan pemulihan ekonomi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi setelah terjadinya krisis ekonomi.
Selanjutnya pada KTT ke-7 ASEAN tanggal 5 November 2001 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam menyepakati dibentuknya Roadmap for
Integration of ASEAN (RIA). Sedangkan pada pertemuan yang ke-34 tanggal 12
September 2002 di Bandar Seri Begawan, Brunei Darussalam para Menteri Ekonomi ASEAN mengesahkan RIA tersebut. Dimana rencana aksi tersebut antara lain sebagai berikut:
a. Mengembangkan dan menggunakan pendekatan alternatif untuk liberalisasi. b. Mengupayakan penerapan kerangka regulasi yang sesuai.
c. Menghapuskan semua halangan yang menghambat pergerakan bebas perdagangan jasa di kawasan ASEAN.
d. Menyelesaikan Kesepakatan Pengakuan Timbal Balik untuk bidang jasa profesional.
Pada KTT ke-9 ASEAN di Bali tahun 2003 ASEAN menyetujui
Deklarasi Bali Concord II yang menyepakati pembentukan ASEAN Economic
Community sebagai upaya untuk mewujudkan integrasi ekonomi kawasan.
Vientiane Action Program (VAP) 2004-2010 yang merupakan strategi dan program kerja utuk mewujudkan ASEAN Vision. Berdasarkan program tersebut,
High Level Task Force (HLTF) diberikan kewenangan untuk melakukan evaluasi
dan memberikan rekomendasi dalam mewujudkan ASEAN sebagai pasar tunggal dan basis produksi, yang merupakan program pelaksanaan untuk 6 tahun ke depan sekaligus merupakan kelanjutan dari HPA guna merealisasikan tujuan akhir dari Visi ASEAN 2020 dan Deklarasi Bali Concord II. Pencapaian ASEAN
Community semakin kuat dengan ditandatanganinya “Cebu Declaration on the
Acceleration of the Establishment of an ASEAN Community by 2015” oleh para
Pemimpin ASEAN pada KTT ke- 12 ASEAN di Cebu, Filipina, tanggal 13 Januari 2007. Para Pemimpin ASEAN juga menyepakati percepatan pengintegrasian ekonomi kawasan dari tahun 2020 menjadi tahun 2015.
Dalam mempercepat keputusan pembentukan MEA/AEC menjadi 2015 akan ditetapkan dalam rangka untuk memperkuat dayasaing ASEAN dalam menghadapi kompetisi global. Selain itu ada beberapa pertimbangan yang mendasar dari hal ini, yaitu:
i. Potensi penurunan biaya produksi di ASEAN sebesar 10-20 persen untuk barang konsumsi sebagai dampak integrasi ekonomi;
ii. Meningkatkan kemampuan kawasan dengan implementasi standar dan praktik internasional, Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) dan adanya persaingan.
menjadi basis komitmen dalam meningkatkan dan mendorong kerjasama di antara negara-negara anggota ASEAN di kawasan asia tenggara. Piagam tersebut juga memuat prinsip-prinsip yang harus dipatuhi oleh seluruh negara anggota ASEAN dalam mencapai tujuan integrasi di kawasan ASEAN. Naskah Piagam ASEAN tersebut kemudian ditandatangani oleh kepala negara-negara anggota ASEAN pada KTT ke-13 di Singapura tanggal 20 November 2007. Piagam ini mulai berlaku secara efektif bagi semua negara anggota ASEAN yaitu pada tanggal 15 Desember 2008. Indonesia juga sudah melakukan ratifikasi Piagam ASEAN pada tanggal 6 November 2008 dalam bentuk Undang-undang No. 38 tahun 2008 Tentang Pengesahan Charter Of Ther Association Of Southeast Asian Nations
(Piagam Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara).
ASEAN Economic Community (AEC) Blueprint merupakan pedoman bagi
negara-negara anggota ASEAN dalam mewujudkan integrasi ekonomi kawasan.
AEC Blueprint memuat empat pilar utama yaitu:
i. ASEAN sebagai pasar tunggal dan berbasis produksi tunggal yang didukung dengan elemen aliran bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja terdidik dan aliran modal yang lebih bebas;
ii. ASEAN sebagai kawasan dengan daya saing ekonomi tinggi, dengan elemen peraturan kompetisi, perlindungan konsumen, hak atas kekayaan intelektual, pengembangan infrastruktur, perpajakan, dan e-commerse;
iv. ASEAN sebagai kawasan yang terintegrasi secara penuh dengan perekonomian global dengan elemen pendekatan yang koheren dalam hubungan ekonomi di luar kawasan, dan meningkatkan peran serta dalam jejaring produksi global.
Pada KTT ke-14 ASEAN tanggal 1 Maret 2009 di Hua Hin, Thailand, para Pemimpin ASEAN menandatangani Roadmap for an ASEAN Community
(2009-2015) atau Peta-jalan Menuju ASEAN Community (2009–2015), sebuah
gagasan baru untuk mengimplementasikan secara tepat waktu ASEAN Economic
Community Blueprint (Cetak-Biru Komunitas Ekonomi ASEAN.
4.1.3. Perkembangan Kondisi Perdagangan Internasional Indonesia Terhadap MEA 2015: Ekspor dan Impor
ASEAN. Integrasi ekonomi menjadi salah satu langkah yang penting untuk mencapai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang berdayasaing dan juga berperan secara aktif didalam sebuah perekonomian global. Untuk dapat menuju terwujudnya MEA 2015 ini pastinya tidak akan terlepas dari suatu peranan di ASEAN dimana ini akan menjadi organisasi regional yakni sebagai suatu langkah untuk mencapai tujuan tersebut.
Berdasarkan dengan perbandingan ASEAN dengan integrasi lainnya dapat dilihat bahwa pada tahun 2006 GDP per kapita ASEAN berada pada peringkat 11 dari 16 bentuk integrasi ekonomi lainnya.
Tabel 4.1
Perbandingan ASEAN dengan Integrasi Ekonomi Lainnya tahun 2006
Integrasi
EU 3.977.487 460.124.266 11.723.816 25.48 25 CARICOM 462.344 14.565.083 64.219 4.409 14 + 1 ECOWAS 5.112.903 251.646.263 342.519 1.361 15 CEMAC 3.020.142 34.970.529 85.136 2.435 6 EAC 1.763.777 97.865.428 104.239 1.065 3 CSN 17.339.153 370.158.470 2.868.430 7.749 10 GCC 2.285.844 35.869.438 536.223 14.949 6 SACU 2.693.418 51.055.878 541.433 10.605 5 COMESA 3.779.427 118.950.321 141.962 1.193 5 NAFTA 21.588.638 430.495.039 12.889.900 29.942 3 ASEAN 4.400.000 553.900.000 2.172.000 4.044 10 SAARC 5.136.740 1.467.255.669 4.074.031 2.777 8 Agadir 1.703.910 126.066.286 513.674 4.075 4 EurAsEC 20.789.100 208.067.618 1.689.137 8.118 6 CACM 422.614 37.816.598 159.536 4.219 5 PARTA 528.151 7.810.905 23.074 2.954 12 + 2
Kemudian dapat melihat bagaimana perkembangan total ekspor dan impor Indonesia baik intra dan ekstra dari ASEAN yang dapat dilihat dari tabel berikut ini:
Tabel 4.2
Perkembangan Ekspor dan Impor Indonesia Periode 2000-2013 (Juta US$)
Tahun Ekspor Impor
2000 62124 33514.8 2001 56320.9 30962.1 2002 57158.7 31288.8 2003 61058.2 32550.7 2004 71584.6 45524.5 2005 85659.9 57700.9 2006 100798.6 61065.5 2007 114100.9 74473.4 2008 137020.4 129197.3 2009 116510 96829.2 2010 157779.1 135663.2 2011 203496.7 177435.6 2012 190031.8 191689.5 2013 182551.8 186628.7 Sumber: BPS, ASEAN database (www.asean.org),
dan www.worldbank.org