• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perancangan Informasi Di Museum Mandala Wangsit Siliwangi Bandung

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perancangan Informasi Di Museum Mandala Wangsit Siliwangi Bandung"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb. Penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Tugas Akhir ini.

Penulisan laporan tugas akhir ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan Diploma Tiga Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Komputer Indonesia dengan mengangkat judul “PERANCANGAN INFORMASI DI MUSEUM MANDALA WANGSIT SILIWANGI BANDUNG”.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan Tugas Akhir ini masih banyak terdapat kelemahan dan kekurangan baik dalam penyajian materi maupun dalam pemberian analisis. Hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman yang penulis miliki. Oleh karena itu, penulis tidak menutup diri untuk menerima saran dan kritik dari berbagai pihak yang bersifat membangun. Dalam kesempatan ini dan dengan segala hormat, penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih sebanyak – banyaknya kepada semua pihak yang telah membimbing, membantu, mengarahkan, dan memberikan dukungan serta motivasi kepada penulis dalam menyusun laporan tugas akhir ini ini.

(5)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i

LEMBAR PERNYATAAN ORISINILITAS ... ii

SURAT KETERANGAN HAK EKSLUSIF ... iii

ABSTRAK ... iv

KATA PENGANTAR ... vi

DAFTAR ISI ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

BAB I : PENDAHULUAN ... 1

I.1 Latar Belakang ... 1

I.2 Identifikasi Masalah ... 2

I.3 Rumusan Masalah ... 3

I.4 Batasan Masalah ... 3

I.5 Tujuan Perancangan ... 3

I.6 Manfaat Perancangan ... 3

BAB II : SISTEM TANDA (SIGN SYSTEM) DI MUSEUM MANDALA WANGSIT SILIWANGI ... 4

II.1 Pengertian Museum ... 4

II.1.1 Jenis-jenis Museum ... 4

II.2 Pengertian Sign System ... 5

II.2.1 Sejarah Sign System ... 8

II.2.2 Jenis-jenis dan Fungsi Sign System ... 9

II.3 Sejarah Mandala Wangsit Siliwangi ... 10

II.4 Profil Museum Mandala Wangsit Siliwangi ... 11

II.4.1 Alur Masuk Museum ... 14

II.5 Isi dari Museum Mandala Wangsit Siliwangi ... 16

(6)

II.5.2 Sebagian Benda Koleksi yang berada diluar Museum ... 19

II.5.3Ruangan yang berada didalam Museum Mandala Wangsit Siliwangi ... 21

II.5.4 Fasilitas yang berada di Museum Mandala Wangsit Siliwangi... 27

II.6 Masyarakat yang mengunjungi Museum Mandala Wangsit Siliwangi ... 27

II.7 Kondisi Sign Sytem di Museum Mandala Wangsit Siliwangi ... 28

II.8 Solusi Permasalahan ... 29

II.9 Khalayak Sasaran ... 30

BAB III : STRATEGI PERANCANGAN ... 31

III.1 Strategi Perancangan ... 31

III.1.1 Pendekatan Komunikasi ( pendekatan visual dan verbal ... 31

III.1.2 Strategi Kreatif ... 32

III.1.3 Strategi Media ... 34

III.2 Konsep Visual ... 34

III.2.1 Format Desain ... 35

III.2.2 Layout ... 35

III.2.3 Tipografi ... 36

III.2.4 Ilustrasi ... 37

III.2.5 Warna ... 37

BAB IV : TEKNIS PRODUKSI MEDIA ... 39

IV.1 Teknis Media ... 39

IV.1.1 Sketsa ... 39

IV.1.2 Eksekusi Visual ... 40

IV.1.3 Tahap Perancangan ... 41

IV.2 Media Utama ... 41

(7)

IV.4 Aplikasi Pada Lokasi ... 49

DAFTAR PUSTAKA ... 52

LAMPIRAN ... 53

(8)

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Museum adalah sebuah tempat yang dibangun untuk mengabadikan sebuah peristiwa sejarah-sejarah besar yang mempengaruhi kehidupan manusia serta peradaban dan sistem pemerintahan. Museum juga selain berfungsi sebagai tempat mengabadikan peristiwa-peristiwa sejarah yang telah terjadi dan menyimpan benda-benda yang mengandung sejarah, juga berfungsi sebagai media pembelajaran atau sumber pengetahuan langsung yang dapat dilihat dengan nyata oleh semua orang yang ingin mengetahui persitiwa-peristiwa yang telah terjadi dimasa lampau.

Di Bandung sendiri memiliki peristiwa-peristiwa sejarah yang sangat banyak dan menarik sehingga dibangunlah beberapa museum untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa sejarah. Museum di Bandung terdiri dari Museum Kantor Pos Indonesia, Museum Sribaduga, Museum Geologi. Museum-museum tersebut sangat dikenal oleh wisatawan daerah atau luar daerah. Selain dari museum-museum tersebut Bandung juga memiliki museum lain yang tidak kalah menarik dan unik, yaitu museum Mandala Wangsit Siliwangi. Museum Mandala Wangsit Siliwangi merupakan sebuah markas yang di alih fungsikan menjadi sebuah museum.

(9)

terdapat banyak senjata-senjata rampasan perang, kendaraan perang militer, biorama perang, foto-foto panglima siliwangi yang dari awal ditunjuk menjadi pengelola museum sampai sekarang, foto-foto penumpasan pemberontak DI/TII ( Darul Islam/Tentara Islam Indonesia).

Namun untuk menuju ruangan-ruangan yang berada didalam museum Mandala Wangsit Siliwangi pengunjung akan mengalami kesulitan dikarenakan saat memasuki area museum pengunjung tidak melihat adanya petunjuk arah atau peta informasi yang terpampang untuk memasuki area museum.

Oleh karena itu diperlukan media informasi petunjuk arah yang menarik didalam area museum Mandala Wangsit Siliwangi sehingga para pengunjung yang baru pertama kali berkunjung ke museum Mandala Wangsit Siliwangi merasa nyaman. Maka dari itu alasan penulis mengangkat museum Mandala Wangsit Siliwangi sebagai objek tugas akhir perkuliahan.

I.2 Identifikasi Masalah

Dalam hal ini terdapat beberapa masalah pokok mengenai Museum Mandala Wangsit Siliwangi, masalah tersebut adalah seperti berikut ini:

1. Sulitnya menemukan lokasi yang dituju.

2. Bentuk petunjuk arah yang belum dikemas dengan baik sehingga membuat pengunjung tidak tertarik untuk membacanya.

3. Media informasi pada benda pamer museum memiliki tingkat keterbacaan yang rendah karena ukuran tulisan yang kecil dan media informasi yang posisinya menumpuk sehingga menyulitkan pembaca.

4. Ciri khas dari Museum Mandala Wangsit yang kurang ditonjolkan pada media informasi.

I.3 Rumusan Masalah

(10)

I.4 Batasan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan diatas, dapat dikemukakan fokus permasalahan, yaitu media informasi pada sistem tanda yang berada di museum Mandala Wangsit Siliwangi.

I.5 Tujuan Perancangan

Melihat permasalahan yang telah dipaparkan sebelumnya, maka tujuan perancangan ini adalah untuk menyampaikan informasi secara jelas dan tepat kepada pengunjung mengenai petunjuk arah, tanda larangan, dan denah keseluruhan lokasi yang berada di kawasan museum. Sehingga pengunjung memberikan respon dengan melakukan tindakan yang benar.

I.6 Manfaat Perancangan

 Hasil perancangan ini mempermudah pengunjung mengakses area yang akan dituju.

 Hasil perancangan ini diharapkan dapat berguna untuk pengmbangan ilmu desain, khususnya desain komunikasi visual dalam hal media informasi.

(11)

BAB II

SISTEM TANDA (SIGN SYSTEM ) DI MUSEUM MANDALA WANGSIT

SILIWANGI

II.1 Pengertian Museum

Menurut Mohammad Zakaria( seperti yang dikutip dari Ayo kita mengenal museum ; 2009 ) Museum adalah lembaga yang diperuntukkan bagi masyarakat umum. Museum berfungsi mengumpulkan, merawat, dan menyajikan serta melestarikan warisan budaya masyarakat untuk tujuan studi, penelitian dan kesenangan atau hiburan (2011). Sedangkan menurut Caleb Setiawanma (Ericson Damanik, 2015 ; 8) Museum adalah bangunan untuk menempatkan koleksi obyek untuk diteliti, dipelajari dan dinikmati. Museum mengumpulkan berbagai material dari berbagai tempat dan waktu yang berbeda ke dalam sebuah bangunan. Disamping itu museum merupakan lembaga tetap tempat memelihara, menyelidiki, mengajar, memamerkan dan memeragakan benda konservasi kepada masyarakat luas untuk tujuan publikasi, informasi, edukasi dan rekreasi.

II.1.1 Jenis – Jenis Museum

Museum yang terdapat di Indonesia dapat dibedakan melaui beberapa jenis klasifikasi ( Ayo kita Mengenal Museum ; 2009 ) yakni sebagai berikut :

a. Museum Khusus

(12)

Gambar II.1 Salah satu contoh museum khusus

Sumber : www.kompasiana.com

/arieanam/yuk-ke-museum-geologi-dan-museum-pos-indonesia ( 11 Agustus 2015 )

b. Museum Umum

Museum yang koleksinya terdiri dari kumpulan bukti material manusia dan lingkungannya yang berkaitan dengan berbagai cabang seni, disiplin ilmu dan teknologi.

Gambar II.2 Salah satu contoh museum umum. Sumber : http//.keepo.me ( 11 Agustus 2015 )

II.2 Pengertian Sign System

(13)

terpisahkan, yaitu tanda dan sistem dimana sebuah tanda (berwujud kata atau gambar) memiliki dua hal yang akan ditangkap oleh indra kita, signifier (penanda) dan signified (petanda). Penanda lebih jelas dijelaskan sebagai tingkatan ungkapan yang berwujud fisik seperti warna, gambar, huruf, kata atau objek. Sementara petanda lebih bersifat isi atau gagasan dari apa yang diungkap penanda. Kesimpulannya, hubungan antara keduanyalah yang melahirkan makna (Tinarbuko, 2009: h.91). Sistem tanda berhubungan erat dengan ikon, indeks, dan simbol. Ikon adalah bentuk tanda yang menyerupai bentuk yang diwakilinya, yang mengambil ciri-ciri yang sama dari bentuk aslinya. Indeks adalah tanda yang mempunyai hubungan sebab akibat atau bukti dari apa yang diwakilinya. Sementara simbol berarti tanda yang lahir karena adanya peraturan atau kesepakatan bersama. Menurut Piliang (1998, h.17), kode adalah cara kombinasi tanda yang disepakati bersama untuk menyampaikan pesan agar dapat sampai pada si penerima pesan yang lain (tinarbuko: 2009, h.17).

Sign system dalam konteks desain komunikasi visual merupakan rangkaian

representasi visual yang memilki tujuan sebagai media interaksi manusia dalam ruang publik (Sumbo Tinarbuko: 2012, h.12). Terdapat 4 (empat) bagian dari sign system antara lain:

Sign system sendiri dibagi kedalam empat jenis, yaitu Traffic sign

Yaitu sign system yang berada di jalan yang berguna untuk memberikan informasi kepada pengguna jalan seperti penunjuk arah, peringatan, dan larangan.

Commercial sign

Yaitu sign system yang berfungsi komersil.  Wayfinding

Yaitu sign system yang bersifat mengarahkan dan menjadi penunjuk jalan yang biasa ada didalam area gedung atau area publik yang digunakan untuk memandu arah ke fasilitas yang ada didalam gedung bagi orang yang berada didalam gedung.

(14)

Yaitu sign system yang berfungsi untuk menginformasikan pesan yang bersifat peringatan, larangan maupun himbauan guna mengingatkan pengguna mengenai suatu sistem keamanan.

Berbagai jenis sign system diatas dapat digunakan berdasarkan fungsi dan keperluan pembuatannya. Misalnya dalam suatu lokasi/ruang umum, biasanya memiliki beberapa ruang atau lokasi yang berbeda sehingga membutuhkan media penunjuk seperti Wayfinding Sign yang dapat didefinisikan sebagai kemampuan untuk menemukan jalan menuju suatu lokasi (Tanuwidjaja, 2012, h.1). Didalam menciptakan suatu sign system (wayfinding) yang efektif diperlukan beberapa langkah mulai dari menetapkan tujuan menemukan jalan, menganalisa profile pengguna, meneliti tingkat kesulitan menemukan jalan, menganalisa kebutuhan desain, menyusun desain sign system, mengumpulkan detail informasi serta menyusunnya kedalam sistem grafis.

Informasi yang disampaikan dalam sign system sendiri bersifat deskriptif

karena memang ditujukan untuk membedakan orang dan tempat secara khusus dan jelas. Hal ini dilakukan dengan mengelompokkan tempat dan memberikan nama pada tempat atau ruang. Informasi yang dikandung oleh informasi lingkungan ialah informasi tentang lokasi (Passini, 1984) dalam Tanuwidjaja 7(2012, hal.15). Dalam menciptakan suatu sign system, diperhatikan pula hal-hal yang perlu dihindari seperti penggunaan tanda-tanda yang terlalu banyak sehingga menghasilkan kebingungan bagi penggunanya. Adapula peletakan lokasi serta tingkat keterbacaan yang kurang baik menyebabkan sign system tidak dapat berfungsi dengan baik. Penggunaan warna dan tekstur material yang digunakan juga mempengaruhi mudah-sulitnya ketersampaian informasi. Ukuran huruf dan pencahayaan juga akan berpengaruh, tergantung dari seberapa jauh jarak pandang yang dibutuhkan, juga jenis huruf apa yang digunakan.

Dalam desain, terdapat beberapa sistem tanda yang biasa digunakan dalam

(15)

bukan lagi menjadi sebagai pemisah, menurut Follins & Hammer (1979, h.7) sign system justru merupakan bagian dari kesatuan lingkungan itu sendiri. Dalam pembuatan sign system terdapat elemen-elemen yang menjadi faktor kejelasan sign system antara lain:

a. Elemen Orientasi

Diwujudkan dalam bentuk peta, denah setiap lantai, dan gedung yang merupakan suatu bentuk informasi grafis awal yang berfungsi untuk memberikan informasi dalam pengambilan keputusan oleh seseorang di dalam lingkungan yang belum dikenali. Alat-alat ini berfungsi utama untuk menyadari di mana ia berada, ke mana ia akan pergi, dan rute apa yang sebaiknya dipilih.

b. Elemen Informasi Arahan

Biasanya berupa sign yang dilengkapi dengan tanda-tanda panah atau panel-panel tombol. Elemen ini berfungsi bagi seseorang yang telah menemukan orientasinya, dan memberikan arahan melalui rute untuk menemukan lokasi yang ia tuju.

c. Elemen Identifikasi Tujuan

Elemen ini dapat berupa papan identitas dari nama gedung, identitas ruangan, dan nomor lantai. Penanda jenis ini dapat berada di dalam maupun di luar ruangan karena berfungsi sebagai pembeda antara tempat yang satu dengan lainnya.

d. Elemen Situasi dan Identitas Obyek

Elemen ini berfungsi menginformasikan suatu kondisi/situasi yang berlaku di dalam suatu lingkungan kepada orang-orang yang sedang berada didalamnya. Misalnya papan pemberitahuan/arahan mengenai ruangan studio yang sedang on air agar masyarakat tidak membuat keributan.

II.2.1 Sejarah Sign System

(16)

menghasilkan sistem tanda lalu lintas yang menunjukan kondisijalan yang berlubang, persimpangan jalan, jalan yang berliku serta persimpangan jalan rel kereta api. Sistem ini mulanya digunakan oleh beberapa negara di Eropa hingga pada akhirnya digunakan oleh negara-negara di dunia.

II.2.2 Jenis-jenis dan Fungsi Sign System

Dalam bentuk komunikasi visual, tanda mengalami perkembangan berdasarkan fungsinya antara lain yang pertama adalah tanda petunjuk dan informasi. Tanda ini berfungsi mengarahkan dan menginformasikan dimana benda/lokasi berada. Kedua, tanda penunjuk arah, yang mencakup tanda-tanda yang mengarahkan untuk menuju suatu tempat seperti ruangan, toilet dan lain-lain. Ketiga, tanda pengenal, merupakan tanda yang digunakan untuk membedakan objek yang satu dengan lainnya misalnya identitas ruangan, kantor, dan gedung. Yang terakhir adalah tanda larangan dan peringatan. Tanda ini bertujuan menginformasikan hal-hal yang boleh dilakukan, berhati-hati maupun yang dilarang. (Boines & Dixon, 2001, h.12) tanda-tanda tersebut menyampaikan suatu informasi sehingga bersifat komunikatif. Keberadaannya mampu menggantikan sesuatu yang lain, dapat dipikirkan, atau dibayangkan. Sehingga masyarakat dapat menentukan tujuan atau arah yang akan di laluinya.

Pembuatan sign system yang baik menurut Sumbo Tinarbuko ( 2008, h.13) adalah harus memenuhi 4 (empat) kriteria mudah dilihat, mudah dibaca, mudah dimengerti dan dapat dipercaya. Dalam penempatan dan pembuatannya, sign system harus mudah diakses oleh orang, memiliki tingkat keterbacaan yang baik, dapat dipahami dengan benar dan informasinya tidak menyesatkan. Sumbo Tinarbuko (2008, h.14) berpendapat bahwa:

Dalam merancang desain untuk sign system harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut ini:

1. Memahami institusi dan lingkungannya serta mengetahui kegiatan utama institusi tersebut.

(17)

3. Menentukan lokasi penempatan serta lokasi harus mudah dilihat dan mudah di akses oleh semua orang.

4. Penerapan sign system. Selain desain, kita juga harus memperhatikan material dalam pembuatan sign. Sekarang ini, desain menarik dan informasi yang benar tidaklah cukup.

Sign system menurut Hunter (2010, h.1) sangat penting karena beberapa alasan antara lain: karena merupakan akses untuk fasilitas umum, menaikan kepuasan masyarakat, mengurangi tekanan, meminimalisir kekurangan fasilitas ruang publik, mengurangi kebingungan pengunjung dan kesalahan pegawai, menghemat waktu serta meminimalisir kecelakaan. Didalam sign system yang berhubungan dengan penunjuk arah dalam ruangan-ruangan, terdapat 4 (empat) komponen penting yang perlu diperhatikan yaitu bentuk/desain, tata letak, bentuk arsitektur, dan identifikasi ruangan (Hunter, 2010, h.2). masing-masing unsur tersebut baik kata verbal maupun citra visual dihubungkan dengan memanfaatkan konsep sosok, latar, bentuk positif dan negatif yang dirancang dengan memperhatikan komposisi, keseimbangan, irama dan kontras yang berfungsi untuk menjaga keseimbangan bentuk visual. Penggunaan ikon juga dapat digunakan sebagai bagian dari proses berpikir kreatif dalam rangka menginformasikan pesan verbal yang divisualkan dalam bentuk gambar.

II.3 Sejarah Mandala Wangsit Siliwangi

Gambar II.3 Mandala Wangsit tempo dulu

(18)

Museum Wangsit Mandala Siliwangi adalah museum senjata yang berada di Bandung, Jawa Barat. Nama Siliwangi sendiri diambil dari nama seorang pendiri kerajaan Pajajaran yang kekuasaanya tak terbatas, konon raja yang arif dan bijaksana serta wibawa dalam menjalankan roda pemerintahaan, sedangkan arti Mandala Wangsit adalah sebuah tempat untuk menyimpan amanat, petuah atau nasihat dari pejuang masa lalu kepada generasi penerus melalu benda-benda yang ditinggalkannya.

Nama jalan tempat museum ini berada di Jl. Lembong, nama jalan tersebut diambil dari nama Letkol Lembong, salah satu prajurit Siliwangi yang menjadi korban dalam Peristiwa Kudeta Angkatan Perang Ratu Adil. Sebelumnya jalan itu bernama Oude Hospitaalweg.

Museum Mandala Wangsit terdiri dari alat yang digunakan pada saat perang antara Jepang dan Indonesia. Terdapat beberapa alat yang digunakan pada saat perang, seperti bedug simarame, senjata laras panjang dan pistol, tentang terjadinya Peristiwa Bandung Lautan Api pada tanggal 24 Maret 1946 di Bandung, peristiwa peracunan pada tanggal 17 Februari 1949.

II.4 Profil Museum Mandala Wangsit Siliwangi

(19)

Gambar II.4 Bangunan museum tampak depan

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Gambar II.5 Pintu gerbang utama area museum

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Gambar II.6 Bangunan kantor yang berada di lokasi museum

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Gambar II.7 Bangunan Museum Mandala Wangsit tampak samping

(20)

Gambar II.8 Denah Lokasi area dalam Museum lantai 1

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Gambar II.9 Denah Lokasi area dalam Museum lantai 2

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

(21)

II.4.1 Alur Masuk Museum

Gambar II.10 Ruang Informasi

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Sebelum Memasuki area museum para pengunjung diwajibkan mengisi buku tamu yang tersedia di bagian informasi dan membayar uang dengan seikhlasnya untuk biaya perawatan benda koleksi yang terdapat di dalam museum Mandala Wangsit Siliwangi.

Gambar II. 11 Lorong menuju pintu masuk ruangan museum

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Gambar II.12 Pintu masuk menuju ruangan museum

(22)

Gambar II.13 Ruangan pertama museum Mandala Wangsit Siliwangi

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Setelah mengisi buku tamu dan menitipkan barang bawaan pengunjung melewati sebuah lorong kecil untuk memasuki area museum. Di dalam Museum pengunjung bisa melihat benda – benda koleksi yang beraneka ragam pada setiap ruangan yang ada.

Gambar II.14 Tangga menuju lantai dua museum

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Gambar II.15 Ruangan pertama di lantai dua museum

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

(23)

Gambar II.16 Pintu keluar Museum Mandala Wangsit ini berada

didalam ruangan informasi

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Setelah selesai mengunjungi dan melihat – lihat isi dari museum, pengunjung tidak perlu repot-repot untuk kembali ke pintu awal masuk untuk mengambil barang yang dititipankan pada bagian informasi dikarenakan pintu keluar dari area dalam museum merangkap dengan ruangan bagian informasi.

II.5 Isi Dari Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Museum Mandala Wangsit Siliwangi menyimpan benda-benda bersejarah yang pernah digunakan oleh pasukan Divisi Siliwangi, mulai dari senjata primitif yang digunakan oleh rakyat Jawa Barat dan Banten seperti tombak, pedang, keris, dan bom molotov, sampai senjata modern para prajurit TNI. Koleksi lain berupa bendera merah putih yang dikibarkan pertama kali di alun-alun kota Bandung, pada 17 Agustus 1945. Ada meja, kursi, teko, dan cangkir yang pernah dipergunakan para pejuang dan Proklamator saat mempersiapkan proklamasi di Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945.

(24)

Gambar II.17 Meja,Bendera,Monumen,Ambulans

Sumber : Dokumen Pribadi (2014)

II.5.1 Sebagian Benda Koleksi yang berada didalam Museum

Benda koleksi yang berada didalam ruangan Museum Mandala Wangsit Siliwangi memiliki beragam jenis, mulai dari senjata tajam tradisional yang dipakai untuk melawan para pemberontak – pemberontak yang berada di Indonesia, diorama yang menggambarkan sebuah peristiwa yang terjadi pada saat peperangan, serta dokumen – dokumen berupa surat dan foto pada masa pemberontakan. Berikut gambar sebagaian benda koleksi yang berada didalam ruangan museum :

Gambar II.18 Senjata tradisional.

(25)

Senjata tradisional ini digunakan para pejuang kemerdekaan untuk membasmi para penjajah dan pemeberontak yang berada di Indonesia.

Gambar II.19 Bedug Simareme.

Sumber : Dokumen Pribadi (2014)

Bedug ini digunakan sebagai tanda untuk memperingati adanya bahaya atau untuk mengumpulkan warga pada jaman peperangan

Gambar II.20 Bendera Merah Putih yang pertama kali dikibarkan

Di Bandung

Sumber : Dokumen Pribadi (2014)

(26)

Gambar II.21 Meja, kursi, teko, dan cangkir yang digunakan para pejuang

proklamator unutuk menyiapkan proklamasi.

Sumber : Dokumen Pribadi (2014)

Meja ini digunakan para pejuang proklmataor untuk mendiskusikan dan menyiapkan proklamasi yang dimana isi proklamasi itu untuk memberitahukan kepada seluruh rakyat Indonesia bahwa negara Indonesia telah Merdeka.

II.5.2 Sebagian Benda Koleksi yang berada diluar Museum

Selain benda koleksi yang berada didalam ruangan, museum Mandala Wangsit Siliwangi juga menyimpan sebagian benda koleksi yang berukuran besar yang tidak memungkinkan untuk diletakan didalam ruangan museum. Berikut benda koleksi museum Mandala Wangsit Siliwangi yang tersimpan dengan baik di luar ruangan museum :

Gambar II.22 Meriam 40 MM L 60 BOFORS buatan Amerika

Sumber Photo : Dokumen Pribadi (2014)

(27)

Gambar II.23 Patung Mayor Adolf Lembong

Sumber: Dokumen Pribadi (2014)

Mayor Adolf Lembong adalah seorang tokoh prajurit yang gugur di area sekitaran museum Mandala Wangsit Siliwangi yang tewas terbunuh oleh pasukan APRA (angkatan perang ratu adil) yang ingin melakukan kudeta

Gambar II.24 Tank STUART M.3.A.I buatan Amerika

Sumber : Dokumen Pribadi (2014)

(28)

Gambar II.25 Monumen daftar nama para pejuang yang telah gugur

Sumber : Dokumen Pribadi (2014)

Monumen ini dibangun untuk menghormati jasa-jasa para tentara yang telah gugur di medan pertempuran saat menumpas para pemberontak yang berada di Indonesia.

Gambar II.26 Ambulan (Si Dukun) yang berperan besar membantu tim kesehatan

dalam operasi militer Kodam Siliwangi dalam menumpas gerombolan DI/TII

Kartosoewirjo

Sumber: Dokumen Pribadi (2014)

Mobil berjenis mini van pabrikan Chevrolet ini digunakan oleh rumah sakit Majalaya untuk membantu korban keganasan gerombolan Kartusuwiryo.

II.5.3 Ruangan yang berada didalam Museum Mandala Wangsit Siliwangi Ruangan 1 Pergerakan Nasional Indonesia 1918 – 1944

(29)

Gambar II.27 Isi dari Ruangan Pergerakan Nasional Indonesia

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Ruangan 2 Detik - detik Proklamasi

Ruangan ini berisikan diorama, sebuah bendera merah putih, lukisan detik – detik proklamasi dan meja beserta kursi, teko teh, dan gelas yang digunakan oleh para proklamator untuk merundingkan dan menyusun teks proklamasi.

Gambar II.28 Isi dari Ruangan Detik-detik Proklamasi

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Ruangan 3 Palagan Bandung 1945 – 1946

Ruangan ini berisikan lukisan – lukisan peristiwa yang terjadi di Bandung salah satu dari peristiwa tersebut yaitu peristiwa Bandung Lautan Api yang dimana kota Bandung merah membara dengan aksi pembakaran yang disengaja oleh warga kota Bandung. Selain dari lukisan di ruangan ini terdapat pula alat komunikasi berupa sebuah telepon dan telegram.

Gambar II.29 Isi dari Ruangan Palagan Bandung

(30)

Ruangan 4 Perang Kemerdekaan 1947 – 1949

Ruangan ini berisikan senjata – senjata api berjenis senjata berat, senjata laras panjang dan senjata laras pendek yang diperoleh dari hasil rampasan perang dari para penjajah. Selain dari senjata api di ruangan ini terdapat sebuah peta long march pasukan Divisi Siliwangi 1 menuju Yogyakarta dengan berjalan kaki serta lukisan perang kemerdekaan dan lukisan Bung Karno.

Gambar II.30 Isi dari Ruangan Perang Kemerdekaan Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Ruangan 5 Pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam

Indonesia) Jawa Barat

[image:30.595.117.510.554.685.2]

Ruangan ini berisikan foto – foto dan dokumen – dokumen bersejarah tentang pemberontakan DI/TII ( Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia ), serta lukisan – lukisan kekejaman para pemberontak DI/TII ( Darul Islam/Tentara Islam Indonesia )

Gambar II.31 Isi dari Ruangan Pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara

(31)

Ruangan 6 Penumpasan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) Ruangan ini berisikan foto – foto korban tewas dari para pemberontak DI/TII yang tewas selama peperangan berlangsung dengan pasukan satuan divisi siliwangi. Di ruangan ini pula terdapat foto pemimpin pasukan pemberontak DI/TII yaitu Kartosuwiryo yang telah tewas. Selain foto – foto di ruangan ini juga terdapat sebuah diorama yang menceritakan pasukan dua orang pasukan dari gerombolan pemberontak yang merencanakan peracunan.

[image:31.595.116.510.532.665.2]

Gambar II.32 Isi dari Ruangan Penumpasan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam

Indonesia)

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Ruangan 7 Lambang – Lambang Satuan Divisi Siliwangi

Ruangan ini berisikan lambang – lambang satuan divisi Siliwangi yang berupa bendera dari beragam satuannya.

Gambar II.33 Isi dari ruangan Lambang – Lambang

(32)

Ruangan 8 Pemberontakan APRA – RMS di Sulawesi Selatan

Ruangan ini berisikan foto – foto, dokumen bersejerah tentang peristiwa pemberontakan dari APRA ( Angkatan Perang Ratu Adil ) yang mau melancarkan kudeta terhadap satuan divisi Siliwangi. Pemberontakan tersebut dipimpin oleh Reymond Westerling. Sedangkan kelompok pemberontak RMS ( Republik Maluku Selatan ) dipimpin oleh Christian Robert Steven Soumokil yang menginginkan maluku merdeka dan lepas dari NKRI ( Negara Kesatuan Republik Indonesia ).

Gambar II.34 Isi dari ruangan Pemberontakan APRA – RMS di Sulawesi Selatan Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Ruangan 9 Penumpasan G.30 S PKI & Tugas Internasional 1965 – 1974

Ruangan ini berisikan dokumen dan foto tentang penumpasan gerakan pemberontak PKI ( partai komunis Indonesia ). Selain foto dan dokumen di ruangan ini terdapat sebuah gambar ilustrasi dari perubahan seragam pasukan militer indonesia dari jaman dahulu sampai sekarang.

Gambar II.35 Isi dari ruangan Penumpasan G.30 S PKI & Tugas Internasional

(33)

Ruangan 10 Operasi Seroja Timor – Timur

Ruangan ini berisikan senjata laras panjang dan bendera Portugis, serta beberapa lirik lagu yang sering dinyanyikan pasukan Siliwangi untuk membangun semangat juang. Selain itudi ruangan ini juga terdapat foto dan dokumen – dokumen.

Gambar II.36 Isi dari ruangan Operasi Seroja Timor – Timur Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Ruangan 11 Mantan – Mantan Panglima Divsi Siliwangi

[image:33.595.116.513.182.319.2]

Ruangan ini berisikan foto – foto para panglima divisi Siliwangi yang menjabat sebagai petinggi militer di Indonesia dari foto petinggi militer yang mendirikan museum Mandala Wangsit Siliwangi, sampai foto petinggi militer sekarang.

[image:33.595.119.511.483.616.2]
(34)

II.5.4 Fasilitas yang berada di Museum Mandala Wangsit Siliwangi

[image:34.595.114.513.168.409.2]

Fasilitas yang berada di area kawasan Museum Mandala Wangsit Siliwangi seperti toilet, mushola, kantin, koperasi, kantor , mess, pos provost dan tempat parkir.

Gambar II.38 Fasilitas yang ada pada Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

II.6 Masyarakat yang Mengunjungi Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Berdasarkan hasil penelitian dan data buku tamu serta data golongan rata-rata pengunjung yang terdapat pada arsip museum Mandala Wangsit Siliwangi, menyebutkan terdapat beberapa golongan masyarakat yang datang ke museum Mandala Wangsit Siliwangi dengan catatan mereka jarang/belum pernah berkunjung ke museum antara lain :

- Pelajar/mahasiswa, berkunjung dengan tujuan mempelajari sejarah penumpasan pemberontak-pemberontak yang berada di Indonesia oleh Pasukan Siliwangi.

- Pengunjung umum atau wisatawan lokal, berkunjung dengan tujuan wisata serta mempelajari sejarah-sejarah yang disajikan oleh museum.

(35)

II.7 Kondisi Sign Sytem di Museum Mandala Wangsit Siliwangi

Sebagaimana halnya sebuah museum yang keberadaannya selalu dikunjungi oleh para pengunjung baru dengan kepentingan tertentu, museum Mandala Wangsit Siliwangi masih tergolong dalam kategori museum yang kurang optimal dalam memberi informasi kepada masyarakat. Hal ini terbukti sign system yang salah penempatannya.

[image:35.595.212.414.353.487.2]

Dari sekian banyak ruangan yang ada hampir semua ruangan memiliki sign system yang penempatannya kurang optimal sehingga menyulitkan para pengunjung untuk mengetahui jenis ruangan yang sedang dikunjungi, maka dari semua itu tidak ditemukan sign system yang mencerminkan sebuah identitas dari instasi ini.

Gambar II.39 Tidak adanya sign system yang terpampang disetiap lorong museum

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Gambar II.40 Sign system yang tidak dikemas dengan baik

[image:35.595.211.416.516.665.2]
(36)
[image:36.595.212.415.84.220.2]

Gambar II.41 Penempatan sign system yang terlalu jauh sehingga

pengunjung baru mengetahui jenis ruangan setelah sign system

tersebut di dekati

(Sumber : Dokumen Pribadi) 2015

Peletakan sign system yang kurang tepat menjadikan sign system yang ada menjadi kurang terlihat. Penggunaan material sign system yang tidak pas, warna yang digunakan kurang mencolok, serta bentuk sign system yang terlihat seadanya yang tidak memberikan kesan dari museum itu sendiri, kalimat yang tidak memiliki standarisasi selayak sign system pada umumnya, menjadikan sign system yang ada belum memiliki kesatuan antara yang satu dengan lainnya.

Didalam museum ini juga tidak terdapat denah yang ditujukan untuk mempermudah pengunjung yang baru datang untuk mengarahkan lokasi yang akan dikunjungi oleh si pengunjung. Penelitian lapangan juga menemukan fakta bahwa denah yang ada di front office tidak diperlihatkan untuk umum , sementara denah lokasi tersebut sangatlah membantu para pengunjung yang baru pertama kali datang ke museum Mandala Wangsit Siliwangi.

II.8 Solusi Permasalahan

(37)

yang hampir selalu didatangi oleh para pengunjung baru yang bertujuan mengetahui sejarah-sejarah kemiliteran yang berada di Indonesia dan Jawa Barat dengan berkunjung ke museum Mandala Wangsit Siliwangi.

II.9 Khalayak Sasaran

Media Informasi ini dibuat untuk menginformasikan segala sesuatu yang berhubungan dengan segala aspek yang berada di Museum Mandala Wangsit Siliwangi, maupun dari segi informasi lokasi sampai informasi arahan menuju suatu tempat yang akan dituju oleh para pengunjung.

Maka target audiens yang ditentukan berdasarkan segi demografis, psikografis dan geografis sebagai berikut :

A.Demografis

 Usia : Dewasa 21 – 30 Tahun  Status Ekonomi : Semua kalangan

 Jenis Kelamin : Laki-laki dan Perempuan  Status : Pelajar dan pekerja kantor  Asal : Dalam Negeri

B.Psikografis

 Psikologi umur 21 – 30 Tahun ( Dewasa Awal )

(38)

Dalam segi komunikasi dapat disimpulkan bahwa umur 20 – 30 tahun mampu menangkap dan memahami sebuah informasi dengan baik dan benar.

C.Geografis

(39)

BAB III

STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL

III.1 Strategi Perancangan

Permasalahan yang ditemukan setelah melakukan penelitian di Museum Mandala Wangsit Siliwangi adalah kurangnya media informasi di mana dalam penyampaiannya suatu informasi atau menunjukan tempat hanya menggunakan tulisan saja. Di dalam kajian visual kurang menarik dan tidak tepat sasaran serta media aplikasi yang digunakan juga belum tepat, bahkan hanya menggunakan selembar kertas. Dalam pemecahan masalah akan dirancang media informasi sesuai dengan target sasaran yang telah ditentukan. Mencari bagian dari Museum Mandala Wangsit Siliwangi yang menjadi ciri khas dan kemudian menjadikannya sebagai identitas yang mewakili Museum Mandala Wangsit Siliwangi namun tetap sesuai karakter dari target sasaran yang telah ditentukan. Memberikan daya tarik kepada pengunjung yang datang ke Museum Mandala Wangsit Siliwangi sehingga informasi yang disampaikan dapat dilihat dan dipahami dengan jelas. Dengan cara memberikan respons dengan melakukan tindakan yang tepat sesuai dengan informasi yang disampaikan.

Informasi yang ingin disampaikan berupa media informasi seperti peta lokasi dan informasi yang berada di Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Perancangan media informasi ini dituangkan kedalam dua media, yakni media utama dan media pendukung. Dimana pengetahuan akan informasi lebih banyak di media utamanya. Media pendukung hanya sebagai pelengkap saja yang tujuannya agar target audiens mendapatkan informasi dari media utama.

III.1.1 Pendekatan Komunikasi

(40)

1. Pendekatan Visual

[image:40.595.226.445.246.377.2]

Pendekatan secara visual dilakukan dengan cara menyampaikan informasi kepada pengunjung dengan menggunakan ilustrasi yang menggunakan jenis ikon. Aliyah Muthoharoh (10 januari 2013) Ikon merupakan tanda yang mirip dengan objek yang diwakilinya atau tanda dan acuanya memiliki kemiripan. Tanda yang dimiliki ciri-cirinya sama dengan apa yang dimaksudkan.

Gambar III.1 Icon

Sumber : https://icons8.com/ (20 Agustus 2015)

2. Pendekatan Verbal

Pendekatan komunikasi verbal dalam strategi perancangan ini menggunakan penyampaian komunikasi menggunakan bahasa Indonesia. Hal ini ditujukan agar penyampaian komunikasi menjadi mudah dimengerti oleh pengunjung.

III.1.2 Strategi Kreatif

(41)

dan lain – lain. Penggunaan warna diutamakan mengikuti ide gagasan visual yang sudah ada dari Museum Mandala Wangsit Siliwangi.

Elemen gambar dan bentuk yang digunakan dalam media informasi mengikuti pertimbangan, namun dilakukan penyederhanaan bentuk terutama untuk penggunaannya sebagai ikon. Sehingga penyampaian informasi dapat dipahami dan dimengerti dengan melakukan tindakan sebagai responnya.

[image:41.595.218.408.312.454.2]

Dengan konsep yang dibuat diharapkan dapat selaras dengan karakter khas yang dimiliki Museum Mandala Wangsit Siliwangi dan informasi yang akan disampaikan dapat dipahami dengan mudah dan jelas. Berikut bentuk – bentuk yang diambil dari ciri khas museum Mandala Wangsit Siliwangi :

Gambar III.2 Kepala macan dari lambang Siliwangi sebagai bentuk

dasar dari sign system

[image:41.595.172.458.538.665.2]

Sumber : Dokumen Pribadi (2014)

Gambar III. 3 Bentuk Pangkat Militer yang

diambil sebagai dasar media informasi

(42)

III.1.3 Strategi Media

Media informasi utama yang dirancang berupa signage yang dimana pada media ini meliputi lokasi-lokasi yang berada didalam area museum dan sistem tanda pengenal pada obyek. Sedangkan pada media pendukung berupa petunjuk arah, himbauan dan larangan pada obyek.

Media utama ini dibuat untuk menginformasikan kepada pengunjung setiap lokasi yang dimiliki oleh Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Sedangkan media pendukung yang dibuat untuk menunjang kebutuhan yang dibutuhkan di Museum Mandala Wangsit Siliwangi.

III.2 Konsep Visual

Konsep visual yang ditampilkan dalam media informasi ini memanfaatkan teknik penyampaian dengan mengambil bentuk sederhana berupa outline dari objek yang sesungguhnya, sedangkan warna mengambil dari warna militer.

III.2.1 Format Desain

Format desain yang digunakan dalam merancang sistem tanda Museum Mandala Wangsit Siliwangi dibuat sederhana dengan menonjolkan isi informasi dari Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Dengan tujuan mempertegas isi pesan dari sistem tanda yang dibuat dengan beberapa format tampilan, yaitu:

 Format tampilan landscape (tidur/memanjang)  Format tampilan potrait (tegak/berdiri)

III.2.2 Layout

(43)

III.2.3 Tipografi

Penggunaan tipografi yang sangat jelas dalam media informasi ini sangat berperan besar terutama dalam tingkat keterbacaan sehingga dapat mempermudah dalam penyerapan informasi yang diberikan. Oleh karena itu jenis huruf yang dipilih dalam media informasi ini ialah jenis huruf yang tidak memiliki banyak variasi sehingga tingkat keterbacaannya sangat jelas. Jenis huruf yang dipilih :

[image:43.595.215.413.251.378.2]

Huruf untuk Body Text :

Gambar III.4 Huruf Humnst777 BT yang digunakan pada sign system

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Adapun jenis huruf lainnya yang digunakan untuk Headline pada media informasi ini adalah:

Gambar III.5 Huruf Army Expanded yang digunakan pada judul peta kreatif

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

III.2.4 Ilustrasi

[image:43.595.210.420.484.617.2]
(44)

perancangan media informasi ini adalah foto-foto dari lokasi, sarana dan prasarana yang ada di Museum Mandala Wangsit Siliwangi.

[image:44.595.198.434.162.393.2]

Berikut ini adalah beberapa foto-foto lokasi yang akan digunakan dalam perancangan media informasi ini adalah :

Gambar III.6 Studi Visual bagan Map dan petunjuk arah

Sumber : Dokumen Pribadi ( 2015 )

III.2.5 Warna

Setiap warna memiliki karakteristik yang berbeda-beda, yang dimaksudkan karaketeristik disini adalah sifat khas yang dimiliki dalam suatu warna.

Warna yang dipakai untuk perancangan media ini mengambil sebagian silsilah warna dari logo atau patch Siliwangi.

Berikut warna yang digunakan :

Gambar III.7 Warna utama yang digunakan dalam membuat sign system

[image:44.595.190.439.560.702.2]
(45)

Hijau : Mengandung arti di dalam lambang pasukan Siliwangi yaitu sebagai tempat/arenanya Angkatan Darat, terutama Infanteri dalam melaksanakan tugasnya

(46)

BAB IV

TEKNIS PRODUKSI MEDIA

IV.1 Teknis Media

IV.1.1 Sketsa

[image:46.595.221.422.247.684.2]

Sketsa awal adalah proses pencarian bentuk visual yang nantinya akan menjadi dasar dari bentuk visual media informasi ini.

Gambar IV.1 Sketsa awal

(47)

IV.1.2 Eksekusi Visual

Eksekusi visual adalah tahap dimana dilakukannya proses visual menggunakan

software Corel Draw X6, dalam hal ini eksekusi visual berkonsep kepada

penyederhanaan dari bentuk lambang siliwangi dan benda-benda koleksi yang

(48)
[image:48.595.208.431.85.205.2]

Gambar IV.2 Eksekusi Visual

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

IV.1.3 Tahap Perancangan

Tahap perancangan adalah tahapan mempersiapkan media utama dan media pendukung. Tahapan pembuatan bentuk dasar sistem informasi, warna, tipografi, ilustrasi dan ikon yang akan disampaikan kepada target audiens.

IV.2 Media Utama

Sign (dalam bahasa indonesia berarti tanda) adalah bentuk komunikasi yang dapat

berbentuk verbal dan visual. Sistem tanda berhubungan erat dengan ikon, indeks dan simbol. Ikon adalah bentuk tanda yang menyerupai bentuk dari yang diwakilinya, yang mengambil ciri-ciri yang sama dari bentuk aslinya.

Fungsi sign system adalah mengarahkan dan menginformasikan benda atau lokasi obyek berada. Berikut uraian ukuran, material dan teknis sign system yang akan dibuat :

Ukuran Media :

(49)

1. Sign Identification atau Tanda Pengenal

a. Tanda pengenal benda koleksi

Ukuran Media : 20cm x 32cm

[image:49.595.121.464.62.714.2]

Material : Akrilik 2mm, Sticker Teknis Produksi : Digital print and cut Laser

Gambar IV.3 Tanda Pengenal ruangan

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

b. Tanda pengenal ruangan

Ukuran Media : 14cm x 20cm

Material : Akrilik 2mm, Sticker Teknis Produksi : Digital print and cut Laser

Gambar IV.4 Tanda Pengenal Ruangan

[image:49.595.135.457.341.684.2]
(50)

c. Tanda Pengenal Tempat

[image:50.595.133.462.84.414.2]

Ukuran Media : 30cm x 12,5cm Material : Akrilik 2mm, Sticker Teknis Produksi : Digital print and cut Laser

Gambar IV.5 Tanda Pengenal tempat

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

2. Sign Regulation atau larangan dan peringatan a. Tanda larangan yang berlaku di museum

[image:50.595.132.463.449.693.2]

Ukuran Media : 25cm x 10,9cm Material : Akrilik 2mm, Sticker Teknis Produksi : Digital print and cut laser

Gambar IV.6 Tanda Larangan

(51)

b. Tanda peringatan

[image:51.595.122.461.77.798.2]

Ukuran Media : 25cm x 10,9cm Material : Akrilik 2mm, Sticker Teknis Produksi : Digital print and cut laser

Gambar IV.7 Tanda Peringatan

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

3. Sign Direction atau Arahan dan himabauan

a. Petunjuk arah

Ukuran Media : 38,5cm x 12,7cm Material : Akrilik 2mm, Sticker Teknis Produksi : Digital print and cut laser

Gambar IV.8 Tanda petunjuk arah

[image:51.595.131.467.101.405.2]
(52)

b. Himbauan

Ukuran Media : 20cm x 10cm

[image:52.595.197.445.185.320.2]

Material : Akrilik 2mm, Sticker Teknis Produksi : Digital print and cut laser

Gambar IV.9 Tanda Himbauan mengunjungi museum

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

IV.3 Media Pendukung

4. Baju

[image:52.595.138.460.395.667.2]

Ukuran Media : All Size ( S, M, L, XL ), A4 Material : Combat 24S, DTG Printing Teknis Produksi : Printing

Gambar IV.10 Desain Baju Sebagai Merchandise Museum Mandala

Wangsit Siliwangi

(53)

6. Stiker

Ukuran Media : 10 x 9 cm

Material : Bahan Stiker Graftac Teknis Produksi : Digital Printing

Gambar IV.11 Stiker Mandala Wangsit

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Stiker ini di desain dengan konsep mengambil binatang peliharaan dari Prabu Siliwangi yang berupa macan atau harimau dalam bahasa Sunda maung dan

sedikit di kolaborasikan dengan seragam militer Indonesia

7. Mug

Ukuran Media : 19cm x 8 cm Material : keramik

Teknis Produksi : Press Digital Printing

(54)

8. Peta Kreatif atau Infotainment Map

Ukuran Media : A2 (59,4cm x 42cm) Material : Luster

[image:54.595.129.434.92.333.2]

Teknis Media : Digital Printing

Gambar IV.13 Media pendukung berupa Infotainment map

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

Peta kreatif dibuat untuk menjadi media utama, karena untuk memberikan informasi letak lokasi dan arahan kepada pengunjung agar dapat dengan mudah mengakses fasilitas-fasilitas yang ada di area Museum Mandala Wangsit Siliwangi ini. Peta kreatif atau Infotainment Map adalah suatu bentuk informasi visual yang berguna untuk memberikan kemudahan memahami sebuah lokasi.

Pada umumnya map hanyalah sebuah gambar yang berguna untuk mencari lokasi, akan tetapi sulit untuk dipahami. Karena kendala tersbut, maka dibuatlah infotainment map yang menerapkan unsur estetis sehingga mudah diterima oleh konsumen.

(55)

IV.4 Aplikasi pada Lokasi

a. Tanda Pengenal (Identification)

1. Mushola

[image:55.595.236.457.162.334.2]

Diletakan pada tiang yang terdapat pada Mushola

Gambar IV.14 Penempatan sign system pada mushola

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

2. Ruangan

Diletakan pada dinding di setiap ruangan

Gambar IV.15 penempatan penanda ruangan

[image:55.595.211.485.458.639.2]
(56)

b. Tanda Petunjuk Arah (Direction)

[image:56.595.171.495.114.322.2]

1. Arah Menuju Museum

Gambar IV.16 Penempatan petunjuk arah museum

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

c. Tanda Larangan (Regulatio) 1. Larangan di dalam Museum

Gambar IV.17 Penempatan tanda larangan

[image:56.595.274.417.424.642.2]
(57)

d. Media pendukung

Gambar IV.18 Penempatan media pendukung infotainment map

Sumber : Dokumen Pribadi (2015)

(58)

DAFTAR PUSTAKA

Website:

Ayo Kita Mengenal Museum (2009) Diakses pada 11 Agustus 2015 http://belajaritutiadaakhir.blogspot.com.

Wisata.kompasiana.com http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2012/10 ( di akses pada 11 Agustus 2015)

Andilgerakanpendidikan.blogspot.com http://4.bp.blogspot.com( di akses pada 11 Agustus 2015)

http://www.kompasiana.com/arieanam/yuk-ke-museum-geologi-dan-museum-pos-indonesia ( di akses pada 11 Agustus 2015)

http://isma-ismi.com/pengertian-sejarah.html ( di akses pada 11 Agustus 2015)

http://globallavebookx.blogspot.com/2014/02/pengertian-museum-menurut-para-ahli.html ( di akses pada 11 Agustus 2015)

Tanuwidjaja, Gunawan. 2012. Tinjauan Pustaka Wayfinding & Oreientation System. http://www.scribd.com/doc/86547166/SS-Tinjauan-Pustaka-Way-Finding. (diakses pada 11Agustus2015)

http://aliyahmuthoharoh.web.unair.ac.id/artikel_detail-70764-Umum-Teori Semiotika Charles Pierce.html. ( diakses 20 agustus 2015 )

http://guntursatriajati.blogspot.com/2015/01/makalah-psikologi-perkembangan-dewasa.html ( diakses 21 agustus 2015 )

http://www.psychoshare.com/file-119/psikologi-dewasa/perkembangan-dewasa-awal.html ( diakses 22 Agustus 2015 )

Buku:

31Museum di Jawa Barat, Edi Dimyati. Museum Mandala Wangsit Siliwangi “Pertuah dari Rumah Perwira, hal 90-92.

Tinarbuko, Sumbo. 2012. Semiotika Komunikasi Visual. Yogyakarta: Jalasutra. Formigari, Lia & Gambarara, Daniele. 1995. Historical Roots of

LinguisticTheories. Philadelphia: John Benjamins Publishing Company. Follins, John & Hammer, Dave. 1979. Architectural Signing & Graphics.

(59)

Boines, Phil & Dixon, Catherine. 2001. Signs: Lettering In The Environment. France. Laurence King Publishing. Vendee France.

Hunter, Susan. 2010. Design Resources DR-01 Architectural Wayfinding. NewYork: IDEA Center.

(60)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1. Data Pribadi

a. Nama Lengkap : Agy Gustiawan Ruswandi b. Tempat Tanggal Lahir : Bandung, 16 Agustus 1991

c. Agama : Islam

d. Alamat : Jln. Cihaurgeulis No. 43 RT/RW. 03/03 Bandung Kel. Cihaurgeulis Kec. Cibeunying kaler

e. Contact : 085659111563

f. Email : [email protected]

2. Data Keluarga a. Nama orang tua

Ayah : Wawan Ruswandi

Ibu : Djuariah

b. Agama orang tua

Ayah : Islam

Ibu : Islam

c. Pekerjaan orang tua

Ayah : Pegawai Negeri Sipil

Ibu : Pegawai Swasta

d. Anak ke : 2 (Dua)

g. Alamat : Jln. Cihaurgeulis No. 43 RT/RW. 03/03 Bandung Kel. Cihaurgeulis Kec. Cibeunying kaler

3. Pendidikan

a. Sekolah Dasar : SDN Cihaurgeulis II Tahun 2003 b. Sekolah Menengah Pertama : SMP Kartika Siliwangi 3.1 Tahun 2006 c. Sekolah Menengah Kejuruan : SMA Pasundan 8 2009

Gambar

Gambar II.31 Isi dari Ruangan Pemberontakan DI/TII (Darul Islam/Tentara
Gambar II.32 Isi dari Ruangan Penumpasan DI/TII (Darul Islam/Tentara Islam
Gambar II.36 Isi dari ruangan Operasi Seroja Timor – Timur
Gambar II.38 Fasilitas yang ada pada Museum Mandala Wangsit Siliwangi
+7

Referensi

Dokumen terkait

Tesis ini menawarkan pengembangan Ruang Pamer Gedung Sate menjadi Museum Pemerintahan Jawa Barat melalui penambahan koleksi berupa koleksi yang berhubungan dengan

terhadap cahaya, tetapi bahan organik lainnya s, koleksi ilmu hayati adalah bahan yang peka te Perancang museum harus memahami dan m um yang paling profesional lebih menghargai

Semua sistem penyimpanan telah sesuai dengan standar baku yang ditetapkan Bagian Dokumentasi Museum Geologi Bandung, sehingga diperoleh sebuah data dan informasi koleksi

Maksud dari Penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah untuk merancang sebuah aplikasi pada proses pengolahan data Akademik yang sedang berjlan di SMA Kartika Siliwangi 1

Material disini juga harus mempertimbangkan storyline dari tiap-tiap area/ruangan pada museum tersebut agar tercipta atmosfer yang berbeda-beda pada setiap ruangan

penyertaanMu dalam penulisan ini, sehingga selalu tugas akhir yang berjudul “ Strategi Pengelolaan Museum Dirgantara Mandala Sebagai Destinasi Wisata Pendidikan di

Dari tiga jenis ruang penyimpanan di Museum Nasional, akan diambil beberapa satu ruangan untuk setiap jenis, yaitu ruang penyimpanan koleksi emas yang ruang

Museum Astronomi dan Planetarium adalah tempat penyimpanan koleksi- koleksi yang berhubungan dengan ilmu astronomi untuk dipamerkan kepada seluruh kalangan masyarakat yang