• Tidak ada hasil yang ditemukan

Distribusi Serotipe Streptococcus agalactiae Penyebab Mastisis Subklinis pada Sapi Perah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Distribusi Serotipe Streptococcus agalactiae Penyebab Mastisis Subklinis pada Sapi Perah di Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Barat"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

I, ISSN : 1411 - 8327

Distribusi Serotipe

Streptococcus

agaloctiae

penyebab Mastitis

Subklinis pada Sapi Perah di Jawa Timur, Jawa Tengah

d m

Jawa Barat

(

DISTRIBUTION OF

SEROTYPE

OF

STREPTOCOCCUS AGALACTIAE

CAUSED SUBCLINICAL MASTITIS ON

DAIRY

CATTLE

IN

EAST JAVA,

CENTER JAVA

AND

WEST JAVA

)

A.E.T.H.

WAEWUNI~),

I

W.T.

WIBAWAN~~,

F.H.

PASAMBU~)~

B.P.

PRIO~OERYANT~~)

l)Laboratorium Mikrobiologi,

FKH-UGM,

Jl.

Olah Raga, Klebengan Yogyakarta, 55281

2'Staf Pengajar

FKH-IPB, J1.

Agatis

,

Kampus

Dermaga

,

Bogor

E-mail:

[email protected]

ABSTRAK

Mastitis masih merupakan masalah yang serius di peternakan sapi perah di Indonesia

S t r e p t m u s agahtiQe /Streptococcus

utama

p y e b a b

maatitis

s u b W

pada sapi perah

dan

meru manusla

bakteri

ini

menyebabh

ide?wi

ini bia~anya ditentukan

tinggi, karakterisasi bakteri

ini

distribusi serotipe dari S. agalctiae isolat dari Jawa Barat (Bogor),

Jawa Tengah

(Boyolali)

dan

Jawa Timur (Malang). Metode ang dilakukan

ad&

penapisan mastitis

subldinis

d

reagen IPB-1, pr eident i dasi

S.

ugakctia berdasarkan pada keberadaan

Muence Petersen (CAMP). Penentuan gru dilakukan dengan ar Gel

Reci

itation (AGP)

d

menggunakan antiserum spesifik terhadap GB d m antigen hasil 2 6tr&i autm

f

af. Penentuan

serotipe dilakukan dengan antiserum spesifik terhadap

S.

a alactiae islolat referen den an metde

f

f

AGPT dengan sumber anti en hasil "ekstraksi HCI". Hasi dari penelitian men+ an bahwa

kejadian mastitis subklinis i Bogor (76%), Boyolali (91%) d m Malan (81%). P m e n t a s e S. agalactiae sebagai bakteri penyebab mastitis svbklinis addah: Bogor

(a%),

~ o ~ o f a l i dan Malang (22%). Distribusi

serotipe S.a alactiae isolat Bo r: I1 (31,4%), V (8,5%), I W I8,5%) dm nontypeable strain(NT) (51,4%);

an Malang: I1 (34%), NT (66%). Isolat S. agalactiae yan mempunyai Boyolali:

v

f61961, NT (39%)

tfo

serotipe NT merupakan serotipe yang palin banyak (52%), sedang antigen protein X a alah antigen

I

f

protein yan palin serin muncu1 (35%). eluruh isolat S. agalactiae tidak ada yang mempunyai

serotipe la,

fb,

111,

b,

VI,%I, dan VIII.

Kata-kata kunci: Distribusi serotipe, Streptococcus agalactiae, Mastitis Subklinis, Sapi Perah, Jawa nmur, Jawa Tengah dan J a w a Barat

Mastistis is still a serious problem among diary cattle industries in Indonesia. Group B streptococci

(Streptococcus agalactiae) have been identified as the main cause of subclinical mastitis

in

dairy cattle and is an obligatory parasite in the udder. En human, this bacteria is the main cause of post- parturition and neonatal infection.

The

bacteria causing the infection is usually identified and characterized by s e r o t y p i n ~ Although the incidence rate of mastitis in Indonesia is very high, the report on the characterization of bacteria causing the mastitis is still very limited. A research was

therefore carried out to find out the distribution of S. agalactiae seroptypes isolated West Java (Bo or),

Central Java (Bo olali), and East Java (Malan ). The subclinical mastitis was firstly screened by PB-

K

t

f

1 reagent, and t en pre-identified based on t e presence of Christie, Atkins and Muence Peterson

phenomena. The presence of Group B streptococci was determined by agar gel recipitation test (AGFC) using grou B s ecific antisera and sero mg was also carried out by A& using reference sera

spenfie to a&factino. The result showed

4

t at the incidence of subclinical rnastitia were Bogor (76%),

(81%). The rcentages subclinical mastitis caused by S. agmtiae infection an&alang (22%). The distributions of S. ogalactiao serotypes in

V

(8.5%), sefotype

1

W

(8.5%) and nontypeable

(NT)

(51.4%). (61%), and NT (39%). In Malang, they were serotype I1 (34%), and

NT

(66%).

NT

S. agulactiae was the most frequent bacteria detected in subclinical mastitis. Prokh

X

was detected most frequently (35%). No S. agalactiae of serotype Ia, Ib, 11,

IV,

VK,

VII, and

VZU

were detected in this study.

Key

words : Distribution of serotype, Streptococcus agalactiae, Subclinical mastitis,

D w

Cattle

In

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)
(7)
(8)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan ini Saya menyatakan bahwa skripsi berjudul Panjang Puting dan Periode Laktasi sebagai Faktor Predisposisi Mastitis Subklinis pada Sapi Perah di Koperasi Peternak

Penyakit mastitis subklinis yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus pada sapi perah saat ini semakin sulit dibunuh oleh antibiotik karena bakteri ini

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian temu putih ( Curcuma zedoaria ) terhadap sapi perah penderita mastitis subklinis sebesar 0,04%

Kurang efektifnya pengendalian mastitis subklinis dengan cara celup puting dapat disebabkan oleh desain alat yang kurang sesuai dengan bentuk puting sapi perah di

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pemberian temu putih ( Curcuma zedoaria ) terhadap sapi perah penderita mastitis subklinis sebesar 0,04%

Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bah- wa sapi perah penderita mastitis subklinis ditandai dengan tingginya jumlah sel somatik umumnya me- miliki kadar kalsium darah

Telah dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui pengaruh iradiasi sinar gamma dalam melemahkan Streptococcus agalactiae sebagai bahan vaksin untuk pencegahan penyakit

Skrining dengan uji PCR terhadap 163 sampel susu dari peternakan sapi perah di wilayah tengah dan timur Pulau Jawa menunjukkan bahwa susu yang dihasilkan oleh sapi perah yang