Lampiran: Kuisioner Penelitian
Saya yang bernama Hardiansyah adalah mahasiswa tingkat akhir
Departemen Ekonomi Pembangunan FE USU yang sedang mengadakan
penelitian di kota Pematang Siantar dalam rangka penyelesaian tugas
akhir/skripsi. Adapun penelitian saya ini berjudul: “Analisis Prospek
Pengembangan Usaha Oleh KSU-BMT Rahayu di Kota Pematang Siantar”.
Hasil penelitian saya ini nantinya diharapkan dapat menambah khasanah
penelitian disiplin ilmu Ekonomi Pembangunan FE USU dan juga diharapkan
dapat menabah pengetahuan peneliti maupun pihak lain mengenai Baitul Mal Wat
Tamwil (BMT) itu sendiri. Penelitian ini juga diharapkan dapat menjadi bahan
masukan untuk pengembangan BMT itu sendiri.
Demi kelancaran proses penelitian ini, sudi kiranya Bapak/Ibu/Sdr/I
meluangkan waktu untuk mengisi pertanyaan yang ada dalam kuesioner ini.
Identitas dari Bapak/Ibu/Sdr/I akan saya jaga kerahasiaannya. Oleh karena itu,
saya mengharapkan kesediaan Bapak/Ibu/Sdr/I dalam memberikan jawaban yang
dianggap paling benar. Atas kerjasama Bapak/Ibu/Sdr/I, saya ucapkan terima
kasih.
Peneliti,
Isilah titik-titik di bawah ini atau beri tanda silang (X) pada salah satu jawaban
yang paling sesuai menurut Bapak/Ibu/Sdara/i.
Nama :
Umur : a. < 25 Tahun d. 45-54 Tahun
b. 25-34 Tahun e. > 55 Tahun
c. 35-44 Tahun
Jenis Kelamin : a. Laki-laki b. Perempuan
Pendidikan Terakhir : a. SD d. Diploma
b. SMP e. Sarjana (S1)
c. SMA
Pekerjaan :
Pendapatan / bln : a. < Rp 1.000.000
b. Rp 1.100.000 – Rp 2.000.000
c. Rp 2.100.000 – Rp 3.000.000
d. Rp 3.100.000 – Rp 4.000.000
Lama Menjadi Nasabah : a. < 1 Tahun d. 3 – 4 Tahun
b. 1 – 2 Tahun e. > 4 Tahun
c. 2 – 3 Tahun
Besarnya pinjaman yang diterima:
a. Rp 1-5 juta c. Rp 11-15 juta
b. Rp 6-10 juta d. Rp 16-20 juta
Pertanyaan:
1. Apa jabatan Bapak/Ibu dalam perusahaan?
a. Pemilik usaha/perusahaan
b. Pekerja/anggota
2. Jenis produk usaha apa yang Bapak/Ibu kerjakan saat ini?
a. Makanan dan minuman
b. Pakaian
c. Perkakas rumah tangga
d. Kerajinan Tangan
e. Sayur dan buah
3. Mengapa Bapak/Ibu memutuskan untuk menjadi nasabah di BMT ini?
a. Di sarankan keluarga/teman
b. Prosesnya mudah dan cepat
c. Kerahasiaan lebih terjamin
e. Bebas bunga pinjaman
f. Fleksibilitas dalam membayar cicilan
g. Lain-lain
4. Bagaimana perkembangan usaha Bapak/Ibu setelah mendapat pembiayaan
dari BMT?
No Pernyataan Tetap Meningkat
1 Omset Produksi
2 Wilayah Penjualan
3 Total Laba
4 Jumlah Karyawan
5 Aset perusahaan
Tanggapan Nasabah Tentang BMT
No Lokasi (jarak tempat kegiatan nasabah
dengan lokasi BMT)
SS S KS TS STS
1 Kedekatan lokasi BMT dengan tempat tinggal nasabah
2 Kemudahan pencapaian lokasi BMT
Keterangan:
SS = Sangat Setuju TS = Tidak Setuju
S = Setuju STS = Sangat Tidak Setuju
No Pelayanan (tindakan/perbuatan yang di
terima nasabah dari karyawan saat bertransaksi)
SM M KM TM STM
1 Pemberian perhatian yang
sungguh-sungguh dari karyawan setiap ada keluhan dari nasabah
2 Pemberian informasi oleh karyawan dengan jelas dan mudah dimengerti 3 Kecepatan dan ketepatan karyawan dalam
melayani nasabah
4 Tindakan cepat dan tanggap oleh karyawan saat nasabah membutuhkan bantuan
Keterangan:
SM = Sangat memuaskan TM = Tidak memuaskan
M = memuaskan STM = Sangat Tidak memuaskan
KM = Kurang memuaskan
No. Pelayanan (sarana, alat dan kelengkapan
dalam bertransaksi)
SB B KB TB STB
1 Kebersihan gedung dan ruangan transaksi
2 Keindahan interior ruang transaksi
3 Cara berpakaian karyawan (bersih dan sopan)
4 Fasilitas pendukung (ruang tunggu, parkir dan lain-lain)
Keterangan:
SB = Sangat Baik TB = Tidak Baik
B = Baik STB = Sangat Tidak Baik
DAFTAR PUSTAKA
AL-Qur’an :
Surat Al-Baqarah ayat 275 Surat Ar-Rum ayat 39
Huda, Nurul & Mohamad Heykal. 2010. Lembaga Keuangan Islam: Tinjauan Teoritis dan Praktis, Edisi Pertama, Kencana, Jakarta
Kuncoro, Mudrajad. 2003. Metode Rised Untuk Bisnis & Ekonomi, Edisi 3, Erlangga, kaliurang KM 14
Irsyad Lubis, 2010. Bank & Lembaga Keuangan Lain, Terbitan Pertama, USU Press, Medan.
Ridwan, Ahmad Hasan.2004. BMT & Bank Islam: Instrumen Lembaga Keuangan Syariah, Pustaka Bani Quraisy. Bandung
Soemitra, Andri. 2010. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Edisi pertama, Kencana, Jakarta
Sudarsono, Heri. 2004. Bank dan Lembaga Keuangan Syariah, Edisi Kedua, Ekonosia, Yogyakarta
Sugiyono, 2006. Metode Penelitian Bisnis, Cetakan Kesembilan, CV. Alfabeta, Bandung
Artikel dan Jurnal :
Dian Ariani, 2007. Persepsi Masyarakat Umum Terhadap Bank Syariah di Medan
Kania Suci Utami. 2011. Analisis Peran Koperasi Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) Berkah Madani Dalam Pengembangan UMK di Kota Jakarta
Penulisan Online :
Situs WWW (World Wide Web) :
http://ethasyahbania.blogspot.com/2010/11/lembaga-keuangan-syariah.html (12 Oktober 2012)
http://www.rahasiasunnah.com/191/lembaga-keuangan-syariah.htms (13 Oktober 2012)
http://www.pidii.org/index.php/kota-pematang-siantar/82-gambaran-umum-kotamadya-pematangsiantar (10 September 2012)
http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pematangsiantar ( 10 September 2012)
http://acankende.wordpress.com/2010/11/28/baitul-mal-wat-tamwil-bmt/ (16 Desember 2012)
http://ekbisi.blogspot.com/2012/03/bmt-sejarah-masa-depannya.html (12 Oktober 2012)
BAB III
METODE PENELITIAN
Metode Penelitian merupakan suatu cara ilmiah guna memperoleh data
dan informasi dengan tujuan untuk memecahkan masalah dan menguji hipotesis
penelitian. Dalam penelitian ini untuk mendapatkan data menggunakan metode
penelitian sebagai berikut:
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian mengenai analisis prospek pengembangan usaha oleh
KSU-BMT Rahayu di kota Pematang Siantar yang digunakan adalah penelitian
analisis deskriptif. Analisis deskriptif merupakan teknik yang digunakan untuk
mengelola data dan informasi yang didapatkan dari lapangan, dengan cara:
mengumpulkan, merangkum, menggolongkan, menganalisa dan
menginterpretasikan, dan mengolah data yang diperoleh langsung dari lapangan,
sehingga memberikan gambaran dan keterangan yang lengkap tentang masalah
yang dihadapi (Mudrajat Kuncoro, 2003:172).
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan
kasus untuk mendapatkan informasi dari responden yang berhubungan dengan
penelitian ini.
3.2 Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Data Primer merupakan data yang diperoleh secara langsung oleh penulis
penulisan ini adalah data yang diterima langsung dari pengurus dan
nasabah KSU-BMT Rahayu di kota Pematang Siantar dengan
menggunakan daftar pertanyaan atau kuesioner yang teleh dipersiapkan
terlebih dahulu.
2. Data Skunder merupakan data atau informasi yang diperoleh melalui
jurnal, skripsi, buku-buku, majalah, internet, tesis serta bacaan lain yang
berhubungan dengan penelitian.
3.3 Populasi dan Sampel
Penelitian ini akan di lakukan di KSU-BMT Rahayu di Jln. Rakuta
Sembiring Lorong XX kota Pematang Siantar. Populasi dalam penelitian ini
adalah nasabah KSU-BMT Rahayu di kota Pematang Siantar dimana jumlah
populasinya adalah 1595 nasabah.
Sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan dapat mewakili
populasi penelitian (Kuncoro, 2009:122). Roscoe dan Sugiono (metode penelitian
pendidikan, 2004) memberikan saran-saran tentang ukuran sampel untuk
penelitian seperti berikut:
1. Ukuran sampel yang layak dalam suatu penelitian adalah antara 30 sampai
dengan 500.
2. Bila sampel dibagi dalam kategori (misalnya: pria- wanita, pegawai
negri-swasta, dan lain-lain) maka jumlah anggota sampel setiap kategori
3. Bila dalam penelitian akan melakukan analisis dengan multivariate
(korelasi atau regresi ganda misalnya), maka anggota sampel minimal 10
kali dari jumlah variabel.
Dalam penelitian ini sampel yang digunakan sebanyak 50 sampel
dikarenakan ukuran sampel yang layak dalam suatu penelitian adalah 30-500
sampel. Pemilihan sampel ini dengan menggunakan random sampling yaitu
pemilihan sampel dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut:
1. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan
cara memberikan daftar pertanyaan kepada responden yaitu nasabah
KSU-BMT Rahayu di kota Pematang Siantar.
2. Wawancara yaitu mengadakan tanya jawab langsung kepada pimpinan dan
anggota KSU-BMT Rahayu. Adapun hal-hal yang ditanyakan penulis
adalah segala sesuatu hal yang berkaitan dengan BMT tersebut.
3. Observasi yaitu dengan melakukan pengamatan langsung terhadap
nasabah KSU-BMT Rahayu di kota Pematang Siantar.
4. Penelitian kepustakaan (library research), yaitu meneliti sumber bacaan
yang berhubungan dengan penelitian ini seperti buku-buku, majalah, tesis,
artikel-artikel dan bahan bacaan lainnya yang dapat mendukung
3.5 Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik analisa data berupa
analisis diskriptif. Analisis deskriptif merupakan teknik yang digunakan untuk
mengelola data dan informasi yang didapatkan dari lapangan, dengan cara:
mengumpulkan, merangkum, menggolongkan, menganalisa dan
menginterpretasikan, dan mengolah data yang diperoleh langsung dari lapangan,
sehingga memberikan gambaran dan keterangan yang lengkap tentang masalah
yang dihadapi (Mudrajat Kuncoro, 2003:172). Selain itu penulis juga
menggunakan analisis lain seperti: grafik tabulasi silang (cross tab), tabel dan
gambar berupa chart atau grafik yang datanya telah di sesuaikan dengan tabel
sebelumnya.
Dari uraian teknik analisis di atas, diharapkan peneliti dapat
menggambarkan dengan kata-kata atau kalimat, bagaimana perkembangan usaha
nasabah KSU-BMT Rahayu di kota Pematang Siantar. Kemudian menghitung dan
menjumlahkan total jawaban dari seluruh responden yang diteliti, untuk dijadikan
dalam bentuk persen (%) sehingga dapat menarik kesimpulan.
3.6 Definisi Operasional
1. BMT adalah lembaga keuangan islam bukan Bank yang berbasis syari’ah
dengan kegiatan menghimpun dana dan menyalurkannya kepada
masyarakat yang ekonominya relatif rendah.
2. Masalah BMT adalah kendala, hambatan atau rintangan yang dihadapi
3. Tingkat pendidikan adalah jenjang pendidikan formal responden yang
meliputi pendidikan SD, SMP, SMA, Diploma dan Sarjana (S1).
4. Omset adalah nilai transaksi yang terjadi dalam hitungan waktu tertentu,
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Gambaran Umum Kota Pematang Siantar
4.1.1 Lokasi Penelitian
Kota Pematang Siantar adalah salah satu kota di Provinsi Sumatera Utara,
dan merupakan kota terbesar kedua setelah kota Medan di provinsi tersebut. Kota
Pematang Siantar berdiri pada tanggal 24 April 1871 dan terletak pada garis 01’
09” - 2° 54’ 40” LU dan 99° 6’ 23” – 99° 1’ 10” BT. Kota Pematang Siantar
memiliki luas wilayah 79,97 km2 dan berpenduduk sebanyak 250.997 jiwa (2009)
dengan penduduk laki-laki 123.481 jiwa dan penduduk perempuan 127.516 jiwa
(Sumber: BPS). Wilayah kota Pematang Siantar di bagi menjadi 8 kecamatan,
yaitu:
1. Kecamatan Siantar Marihat dengan luas 7,825 km2.
2. Kecamatan Siantar Marimbun dengan luas 18,006 km2.
3. Kecamatan Siantar Selatan dengan luas 2,020 km2.
4. Kecamatan Siantar Barat dengan luas 3,205 km2.
5. Kecamatan Siantar Utara dengan luas 3,650 km2.
6. Kecamatan Siantar Timur dengan luas 4,520 km2.
7. Kecamatan Siantar Martoba dengan luas 18,022 km2.
8. Kecamatan Siantar Sitalasari dengan luas 22,723 km2.
Kota Pematang Siantar memiliki letak geografis yang cukup strategis
karena merupakan daerah lintas antar kota/kabupaten yang menghubungkan
ketinggian 400-500m di atas permukaan laut dengan topografi datar hingga
bergelombang. Daerah bergelombang sampai berbukit di sebelah utara dan barat,
sementara sebelah selatan dan timur merupakan daerah landai dengan kemiringan
0%-15%. Kota ini tergolong ke dalam daerah tropis dengan iklim sedang. Suhu
maksimum rata-rata 30,500C dan suhu minimum rata-rata 19,700C. Kelembaban
udara rata-rata 86% dengan rata-rata tertinggi pada bulan Oktober dan November
mencapai 89%. Sedangkan curah hujan di kota ini rata-rata 306 mm dengan
tertinggi 574 mm terjadi pada bulan September.
Kota Pematang Siantar terdiri dari berbagai suku bangsa yaitu:
Simalungun (61,43%), Toba, Mandailing (9,6%), Jawa (14,2%), Tionghoa dan
Melayu. Secara geografis kota Pematang Siantar di batasi oleh:
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Simalungun.
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Simalungun.
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Simalungun.
Gambar 4.1 Kota Pematang Siantar
Gambar: kota Pematang Siantar
4.2 KSU-BMT Rahayu
KSU-BMT Rahayu merupakan salah satu lembaga keuangan mikro yang
di jalankan menurut syari’at islam yang sangat menentang adanya sistem bunga
dalam operasionalnya. Usaha pokok dari KSU-BMT Rahayu adalah menghimpun
dana dari umat (funding) dan menyalurkannya (landing) kembali kepada umat
secara produktif dan saling menguntungkan dengan sistem bagi hasil.
Sejarah berdirinya KSU-BMT Rahayu yaitu adanya pencanangan dari
menghidupkan dan memperlancar usaha mikro kecil di masyarakat. Dari
pencanangan itulah masyarakat mempunyai pemikiran yang sama untuk
membentuk suatu organisasi atau lembaga yang dapat membantu kegiatan usaha
kecil bawah untuk permodalannya. Maka di bentuklah suatu lembaga keuangan
BMT yang di beri nama dengan KSU-BMT Rahayu. Pada saat itu
pendiri/pemodal sebagai nasabah adalah 20 orang.
4.2.1 Profil KSU-BMT Rahayu
KSU-BMT Rahayu di dirikan oleh Bpk. Irwan Susandi pada tanggal 18
April 1998 dan beralamat di jln. Rakuta Sembiring lorong XX Perluasan kota
Pematang Siantar. KSU-BMT Rahayu berbadan hukum No:
570/99/BH/PMD/1/2005 pada tanggal 17 januari 2005. Adapun susunan
kepengurusan KSU-BMT Rahayu yaitu:
1. Pengurus Harian
a. Ketua : Irwan Susandi
b. Sekretaris : Irwan Sahputra
c. Bendahara : Atika Chaerani
2. Badan Pengawas
a. Ketua : Aman
b. Sekretaris : Rusli
Susunan kepengurusan tersebut berlaku hingga sekarang (2012). Adapun
jumlah tenaga kerja pada KSU-BMT Rahayu adalah 8 orang pegawai tetap.
pukul 08.30 s/d 14.00 atau sekitar 5½ jam kerja dalam 1 hari kerja dan aktif kerja
pada hari senin s/d sabtu.
Saat ini KSU-BMT Rahayu memiliki jumlah nasabah yang cukup banyak
yaitu 1595 orang, dengan rincian yaitu:
a. Nasabah menabung : 1095 orang
b. Nasabah pembiayaan : 500 orang
4.2.2 Visi dan Misi KSU- BMT Rahayu
a. Visi KSU-BMT Rahayu
Menjadi lembaga keuangan berbasis syari’ah yang dapat memberi solusi
bagi pengusaha mikro dan kecil secara berkelanjutan dan mengentaskan praktik
rentenir dan tengkulak yang ada di kota Pematang Siantar pada khususnya dan
Indonesia pada umumnya.
a. Misi KSU-BMT Rahayu
1. Meningkatkan kesejahteraan anggota pada khususnya dan masyarakat
pada umumnya.
2. Menciptakan lapangan kerja yang beroperasi dengan sistem islam.
3. Memajukan kegiatan usaha kecil bawah.
4. Meningkatkan akses permodalan bagi pengusaha mikro dan kecil baik
finansial maupun non-finansial.
4.2.3 Tujuan KSU-BMT Rahayu
Tujuan KSU-BMT Rahayu adalah meningkatkan kesejahteraan dan taraf
hidup anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya melalui gerakan
4.2.4 Produk-produk KSU-BMT Rahayu
KSU-BMT Rahayu menawarkan berbagai produk kepada masyarakat
dalam bentuk produk simpanan/tabungan dan produk pembiayaan.
a. Produk Simpanan/tabungan
1. Tabungan Amanah
Tabungan mudharabah mutlaqah yang diperuntukkan bagi
lembaga/anggota.
2. Tabungan Siswa
Tabungan mudharabah mutlaqah yang diperuntukkan bagi
pelajar/mahasiswa. Tabungan ini bebas administrasi bulanan.
3. Tabungan Hasil
Tabungan mudharabah mutlaqah yang diperuntukkan bagi
individu, guna mendapatkan bagi hasil tiap bulan yang halal dan
menguntungkan.
4. Tabungan Haji/Umrah
Tabungan mudharabah mutlaqah yang diperuntukkan untuk
keperluan ibadah haji dan umrah.
b. Produk Pembiayaan
1. Pembiayaan Mudharabah
Pembiayaan mudharabah adalah sistem pembiayaan yang di
berikan dimana BMT sebagai pemilik modal (shahibul mal) dan
mudharabah ini menggunakan sistem bagi hasil antara shahibul
mal dan mudharib sesuai dengan nisbah yang telah di sepakati
ketika akad.
2. Pembiayaan Musyarakah
Pembiayaan musyarakah adalah suatu sistem kerjasama antara
BMT dengan satu atau lebih mitra usaha dalam suatu
proyek/kegiatan usaha. Pihak yang terlibat sama-sama
berkontribusi baik dari segi permodalan maupun dari segi
pengelolahan usaha. Pembagian hasil yang diperoleh dari kegiatan
usaha sesuai dengan kesepakatan ketika akad dilakukan.
3. Piutang Murabahah
Piutang murabahah adalah BMT bertindak sebagai shahibul mal
memberikan modal kepada nasabah dimana sistem bagi hasil
dilakukan sesuai dengan kesepakatan ketika akad.
4. Ijarah
Ijarah adalah sistem dimana BMT menyewakan suatu barang atau
jasa kepada nasabah yang digunakan manfaatnya dan nasabah
memberikan sejumlah imbalan yang di bayarkan kepada BMT atas
4.2.5 Struktur Organisasi KSU-BMT Rahayu
Gambar 4.2 : Struktur Organisasi KSU-BMT Rahayu
4.2.6 Masalah KSU-BMT Rahayu
Dalam menjalankan kegiatannya, setiap lembaga keuangan pasti memiliki
masalah dalam pelaksanaannya termasuk KSU-BMT Rahayu. Berbagai macam
masalah dialami KSU-BMT Rahayu, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. KSU-BMT Rahayu masih kekurangan modal usaha. Modal ini
digunakan untuk keperluan persaingan ekonomi dengan organisasi
yang lain, kurangnya modal mengakibatkan KSU-BMT Rahayu kalah
bersaing dengan organisasi lain yang lebih besar modal usahanya.
2. KSU-BMT Rahayu mempunyai masalah terhadap kualitas dan
kuantitas sumber daya manusia (SDM). Hal ini diperlukan untuk
persaingan teknologi dan marketing dengan organisasi lain.
3. KSU-BMT Rahayu mengalami kredit macet pada nasabahnya. Hal ini
dikarenakan keadaan perekonomian para nasabah yang tidak stabil Pengawas
Pengurus
Manajer Administrasi Manajer Pembiayaan Manajer Pemasaran
4. KSU-BMT Rahayu mengalami kendala ketika mengeluarkan produk
yang ditawarkan. Hal ini dikarenakan sumber daya ilmu pengetahuan
nasabah yang terbatas mengenai produk-produk dari BMT.
5. KSU-BMT Rahayu masih kalah bersaing dengan lembaga keuangan
bank karena unit bank lain yang melayani mikro pembiayaan yang
tidak terkendali.
4.3 Hasil Analisa dan Pembahasan
4.3.1 Karakteristik Responden
Dalam penelitian ini tiap-tiap responden memiliki karakteristik yang
berbeda sehingga dilakukan pengelompokkan dengan karakteristik tertentu. Dari
50 responden yang di ambil sebagai sampel dalam penelitian ini, maka
karakteristik responden dapat di lihat sebagai berikut:
4.3.2 Umur
Berdasarkan karakteristik umur, responden di bagi menjadi 5 kelompok
umur yakni responden yang berumur di bawah 25 tahun, 26-35 tahun, 36-45
tahun, 46-55 tahun, dan di atas 55 tahun. Distribusi karakteristik responden
Tabel 4.1
Distribusi Responden Berdasarkan Usia
Umur Frekuensi Persentase %
< 25 tahun 5 10%
26-35 tahun 22 44%
36-45 tahun 13 26%
46-55 tahun 8 16%
>55 tahun 2 4%
Jumlah 50 100%
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel 4.1 dapat di lihat bahwa dari 50 responden yang telah di
teliti, nasabah yang kelompok umurnya di bawah 25 tahun sebanyak 5 orang atau
10%, 26-35 tahun sebanyak 22 orang atau 44%, 36-45 tahun sebanyak 13 orang
atau 26%, 46-55 tahun sebanyak 8 orang atau 16%, dan umur di atas 55 tahun
sebanyak 2 orang atau 4% dari 50 orang responden yang telah di teliti.
Berdasarkan penjelasan di atas dapat di simpulkan bahwa responden yang
menjadi nasabah KSU-BMT Rahayu yang paling banyak adalah nasabah yang
kelompok umurnya 26-35 tahun yaitu sebanyak 22 orang atau 44% dari jumlah
responden. Hal ini di karenakan nasabah yang kelompok umurnya 26-35 tahun
adalah masyarakat yang baru memulai untuk membuka usaha perdagangan dan
membutuhkan dana sehingga masyarakat memutuskan untuk menjadi nasabah di
Gambar 4.3 : Distribusi Responden Berdasarkan Usia
4.3.3 Jenis Kelamin
Perbandingan jenis kelamin nasabah KSU-BMT Rahayu dapat dilihat dari
hasil kuisioner yang telah di sebar. Dari 50 responden yang telah di teliti, maka
perbandingan jenis kelamin nasabah adalah sebagai berikut:
Tabel 4.2
Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Frekuensi Persentase %
Laki-laki 30 60%
Perempuan 20 40%
Jumlah 50 100%
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel 4.2 di atas dapat di jelaskan bahwa dari 50 orang
responden yang telah di teliti, masyarakat yang menjadi nasabah KSU-BMT
Rahayu lebih banyak berjenis kelamin laki-laki daripada perempuan. Hal ini dapat
sebanyak 30 orang dengan pesentase 60% dan perempuan sebanyak 20 orang
dengan persentase 40% dari 50 orang responden yang telah di teliti.
Gambar 4.4 : Distribusi Responden Berdasarkan Jenis Kelamin
4.3.4 Tingkat Pendidikan
Tingkat pendidikan nasabah KSU-BMT Rahayu berpariasi, mulai dari
tingkat pendidikan SD, SMP, SMA, Diploma, sampai dengan Sarjana (S1). Dari
50 responden yang telah di teliti, dapat diketahui tingkat pendidikan nasabah
sebagai berikut:
Tabel 4.3
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase %
SD 1 2%
Berdasarkan tabel 4.3 dapat diketahui bahwa nasabah KSU-BMT Rahayu
di dominasi oleh nasabah dengan tingkat pendidikan SMA yaitu sebanyak 27
orang atau 54%, kemudian SMP sebanyak 13 orang atau 26%, Diploma sebanyak
7 orang atau 14%, Sarjana (S1) sebanyak 2 orang atau 4%, dan SD sebanyak 1
orang atau 2%. Hal ini di karenakan pembiayaan KSU-BMT Rahayu di khususkan
bagi pedagang menengah ke bawah, dan tingkat pendidikan pedagang rata-rata
SMA sehingga nasabah KSU-BMT Rahayu di dominasi oleh nasabah dengan
tingkat pendidikan SMA.
Gambar 4.5 : Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pendidikan
4.3.5. Pekerjaan dan Jenis Produk Usaha
Pembiayaan KSU-BMT Rahayu hanya diperuntukkan bagi pedagang saja,
sehingga dari 50 responden yang telah di teliti semuanya bekerja sebagai
pedagang. Berbagai jenis produk usaha yang di miliki responden sangat berpariasi
mulai dari kebutuhan primer maupun kebutuhan sekunder mereka produksi. 0
5 10 15 20 25 30
SD SMP SMA Diploma Sarjana (S1) Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat
Keseluruhan responden atau 100% adalah sebagai pemilik perusahaan, dimana
usaha yang dilakukan adalah milik pribadi dari responden.
Dari 50 orang responden yang telah di teliti, jenis produk usaha nasabah
sebagai berikut:
Tabel 4.4
Distribusi Responden Menurut Jenis Produk Usaha
Jenis Produk Usaha Frekuensi Persentase %
Makanan dan Minuman 17 34 %
Pakaian 12 24 %
Perkakas Rumah Tangga 4 8%
Kerajinan Tangan 4 8%
Sayur dan Buah 13 26 %
Jumlah 50 100%
Sumber: Data Primer
Berdasarkan tabel 4.4 dapat diketahui bahwa dari keseluruhan responden
atau 100% yakni sebanyak 50 orang responden, jenis produk usaha yang digeluti
sangat berpariasi dan di bagi menjadi lima kelompok jenis produk usaha yaitu
makanan dan minuman, pakaian, perkakas rumah tangga, kerajinan tangan dan
sayur dan buah. Dari 50 orang responden, yang memiliki jenis produk usaha
makanan dan minuman sebanyak 17 orang atau 34%, pakaian sebanyak 12 orang
atau 24%, perkakas rumah tangga sebanyak 4 orang atau 8%, kerajinan tangan
Gambar 4.6 : Distribusi Responden Menurut Jenis Produk Usaha
4.3.6 Lama Menjadi Nasabah
Kepercayaan masyarakat menjadi nasabah pada suatu BMT dapat di lihat
dari berapa lama menjadi nasabah di BMT tersebut. Lamanya masyarakat menjadi
nasabah KSU-BMT Rahayu terbagi menjadi lima kelompok yaitu mulai kurang
dari 1 tahun, 1-2 tahun, 2-3 tahun, 3-4 tahun dan lebih dari 4 tahun. Data
responden berdasarkan lama menjadi nasabah adalah sebagai berikut:
Tabel 4.5
Distribusi Responden Berdasarkan Lama Menjadi Nasabah
Lama Menjadi Nasabah Frekuensi Persentase %
< 1 tahun 5 10% Distribusi Responden menurut Jenis Produk
Dari tabel 4.5 dapat dijelaskan bahwa dari 50 orang responden, yang
paling lama menjadi nasabah KSU-BMT Rahayu adalah 2-3 tahun dengan total
responden sebanyak 17 orang atau 34%, responden yang menjadi nasabah 3-4
tahun sebanyak 14 orang atau 28%, responden yang menjadi nasabah 1-2 tahun
sebanyak 11 orang atau 22%, responden yang menjadi nasabah di bawah 1 tahun
sebanyak 5 orang atau 10%, dan responden yang menjadi nasabah lebih dari 4
tahun sebanyak 3 orang atau 6% dari total responden. Berdasarkan data lama
menjadi nasabah KSU-BMT Rahayu dapat juga di gambarkan dengan grafik
sebagai berikut:
Gambar 4.7 : Distribusi Responden Berdasarkan Lama Menjadi Nasabah
4.3.7 Penghasilan
Penghasilan merupakan tujuan masyarakat melakukan suatu usaha. Untuk
kategori penghasilan responden selama satu bulan, ada lima kelompok yang di
sediakan oleh peneliti yaitu penghasilan dibawah Rp 1 juta/bulan, Rp 1.1-2 0
5 10 15 20
<1 tahun 1‐2 tahun 2‐3 tahun 3‐4 tahun >4 tahun Distribusi Responden Berdasarkan Lama Menjadi
juta/bulan, Rp 2.1-3 juta/bulan, 3.1-4 juta/bulan dan penghasilan lebih dari Rp 4
juta/bulan. Distribusi responden berdasarkan penghasilan adalah sebagai berikut:
Tabel 4.6
Distribusi Responden Berdasarkan Penghasilan/Bulan
Penghasilan/bulan Frekuensi Persentase %
<Rp 1.000.000 1 2%
Rp 1.100.000-2.000.000 12 24%
Rp 2.100.000-3.000.000 18 36%
Rp 3.100.000-4.000.000 13 26%
>Rp 4.000.000 6 12%
Jumlah 50 100%
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 4.6 dapat diketahui bahwa dari 50 orang responden,
kelompok penghasilan nasabah KSU-BMT Rahayu tertinggi adalah Rp 2.1-3
juta/bulan sebanyak 18 orang atau 36%, selanjutnya nasabah dengan penghasilan
Rp 3.1-4 juta/bulan sebanyak 13 orang atau 26%, nasabah dengan penghasilan Rp
1.1-2 juta/bulan sebanyak 12 orang atau 24%, nasabah dengan penghasilan lebih
dari Rp 4 juta/bulan sebanyak 6 orang atau 12% dan nasabah dengan penghasilan
dibawah Rp 1 juta/bulan sebanyak 1 orang atau 2% dari total responden. Dari data
Gambar 4.8 : Distribusi Responden Berdasarkan Penghasilan
Dari data di atas dapat diketahui bahwa masyarakat Kota Pematang Siantar
yang menjadi nasabah di KSU-BMT Rahayu merupakan masyarakat yang
perekonomiannya menengah ke bawah. Hal ini dapat dilihat dari penghasilan
nasabahnya paling banyak adalah kelompok penghasilan Rp 2.1-3 juta/bulan
sebanyak 18 orang dengan persentase 36% dari 50 orang responden yang di telah
teliti. Hal ini di karenakan pembiayaan yang di berikan oleh KSU-BMT Rahayu di
khususkan bagi masyarakat menengah ke bawah.
4.3.8 Motif Responden Untuk Menjadi Nasabah KSU-BMT Rahayu
Ada beberapa motif yang mendorong masyarakat memutuskan untuk
menjadi nasabah di KSU-BMT Rahayu. Berikut beberapa motif yang di anggap
sebagai alasan yang mendorong masyarakat untuk menjadi nasabah KSU-BMT
Rahayu:
1. Ajakan keluarga / teman 0
5 10 15 20
<Rp 1 juta Rp 1.1 ‐ 2 juta
Rp 2.1 ‐ 3 juta
Rp 3.1 ‐ 4 juta
3. Kerahasiaan lebih terjamin
4. Hubungan baik dengan pengelolah
5. Bebas bunga pinjaman
6. Fleksibilitas dalam membayar cicilan
7. Lain-lain
Dari hasil kuisioner yang telah di lakukan, maka diperoleh hasil sebagai
berikut:
Tabel 4.7
Motif Responden Untuk Menjadi Nasabah KSU-BMT Rahayu
Alasan Frekuensi Persentase %
Ajakan keluarga / teman 7 14 %
Prosesnya mudah dan cepat 21 42 %
Kerahasiaan lebih terjamin 1 2 %
Hubungan baik dengan pengelolah 8 16 %
Bebas bunga pinjaman 9 18 %
Fleksibilitas dalam membayar cicilan 4 8 %
Lain-lain - -
Jumlah 50 100 %
Sumber : Data Primer
Dari tabel 4.7 dapat dilihat bahwa motif responden memutuskan untuk
menjadi nasabah KSU-BMT Rahayu adalah yang pertama “prosesnya mudah dan
cepat” dengan jumlah responden sebanyak 21 orang atau 42%, kemudian pada
urutan kedua yakni “bebas bunga pinjaman” dengan jumlah responden sebanyak 9
orang atau 18%, kemudian pada urutan ketiga yakni “hubungan baik dengan
“disarankan keluarga / teman” sebanyak 7 orang atau 14%, kemudian pada urutan
kelima yakni “fleksibilitas dalam membayar cicilan” sebanyak 4 orang atau 8%,
dan terakhir pada urutan keenam yakni “kerahasiaan lebih terjamin” sebanyak 1
orang atau 2% dari total responden. Sementara pada opsi “lain-lain” tidak ada
responden yang merespon.
Maka kita dapat melihat mengapa masyarakat lebih memilih menjadi
nasabah BMT dibandingkan di bank. Dalam pelayanannya BMT memberikan
proses peminjaman yang cepat dan mudah jika dibandingkan dengan bank yang
proses peminjamannya berbelit-belit dan proses pencairan dananya lebih lama.
Gambar 4.9 : Motif Responden Untuk Menjadi Nasabah KSU-BMT
Rahayu
4.3.9 Tingkat Pinjaman
Besarnya tingkat pinjaman responden yang diterima dari BMT
berbeda-beda, yakni Rp 1-5 juta, Rp 6-10 juta, Rp 11-15 juta, dan Rp 16-20 juta. Besarnya 0
10 20 30
Tabel 4.8
Distribusi Responden Menurut Tingkat Pinjaman
Pinjaman Frekuensi Persentase %
Rp 1-5 juta 3 6 %
Rp 6-10 juta 14 28 %
Rp 11-15 juta 20 40 %
Rp 16-20 juta 13 26 %
Jumlah 50 100 %
Sumber : Data Primer
Berdasarkan tabel 4.8 dapat diketahui bahwa dari 50 orang responden yang
mendapat pinjaman dari KSU-BMT Rahayu terbanyak adalah kelompok pinjaman
Rp 11-15 juta sebanyak 20 orang dengan persentase 40%, selanjutnya kelompok
pinjaman Rp 6-10 juta sebanyak 14 orang dengan persentase 28%, kelompok
pinjaman Rp 16-20 juta sebanyak 13 orang dengan persentase 26%, dan terakhir
kelompok pinjaman Rp 1-5 juta sebanyak 3 orang dengan persentase 6%.
Gambar 4.10 : Distribusi Responden Menurut Tingkat Pinjaman 0
5 10 15 20
4.3.10 Perkembangan Usaha Nasabah Setelah Mendapat Pembiayaan
Tujuan BMT adalah meningkatkan kesejahteraan anggota dan nasabah dan
memajukan usaha para nasabahnya. Peran pembiayaan yang diberikan BMT
kepada nasabah dapat dilihat dari berbagai sisi kehidupan usaha. Seperti kenaikan
omset produksi, wilayah penjualan, total laba, jumlah karyawan dan aset
perusahaan. Dari pembiayaan yang diberikan BMT tersebut memberikan dampak
yang baik bagi perkembangan usaha nasabahnya, sebagaimana tujuan dari BMT
itu sendiri. Dari 50 responden yang telah di teliti diperoleh hasil mengenai
perkembangan usaha nasabah setelah mendapat pembiayaan dari BMT.
Perkembangan usaha nasabah setelah mendapat pembiayaan dapat dilihat dari
tebel berikut:
Tabel 4.9
Perkembangan Usaha Responden Setelah Mendapat
Pembiayaan dari BMT
Pernyataan Tetap Meningkat Total
Omset Produksi 0
Wilayah Penjualan 37
(64 %)
Jumlah Karyawan 30
(60 %)
20
(40 %)
50
(100 %)
Aset Perusahaan 0
(0 %)
50
(100 %)
50
(100 %)
Dari tabel 4.9 dapat dilihat bahwa perkembangan usaha nasabah setelah
mendapat pembiayaan dari BMT meningkat. Hal ini dapat dilihat dari 50
responden menyatakan terjadi peningkatan pada omset produksi, total laba yang
diterima dan aset perusahaan dengan persentase yang dicapai sebesar 100%. Hal
ini menunjukkan bahwa pembiayaan yang diberikan BMT berpengaruh positif
terhadap perkembangan usaha nasabahnya.
Namun pada sisi wilayah penjualan terdapat 13 orang responden dengan
persentase 26% menyatakan wilayah penjualannya meningkat dan 37 responden
dengan persentase 74% menyatakan bahwa wilayah penjualannya tetap.
Sedangkan pada sisi jumlah karyawan terdapat 20 orang responden dengan
persentase 40% menyatakan jumlah karyawannya meningkat dan 30 orang
responden dengan persentase 60% menyatakan bahwa jumlah karyawannya tetap
dan tidak mengalami perubahan.
Dari hasil penelitian terhadap 50 responden yang merupakan nasabah
KSU-BMT Rahayu, mereka menyatakan terjadi peningkatan kehidupan secara
financial setelah mendapat pembiayaan dari BMT dan dampaknya dirasakan
langsung oleh nasabah tersebut. Kehidupan nasabah meningkat, diikuti dengan
omset produksi dan total laba yang diterima meningkat. Hal ini menggambarkan
bahwa pembiayaan yang diberikan BMT memberikan dampak yang sangat positif
4.3.11 Peran KSU-BMT Rahayu Dalam Pengembangan Usaha Nasabah
KSU-BMT Rahayu sangat berperan dalam pengembangan usaha
nasabahnya. KSU-BMT Rahayu melakukan pemberdayaan kepada nasabah
dengan melakukan berbagai kegiatan seperti:
1. Pembiayaan
KSU-BMT Rahayu memberikan pembiayaan bagi nasabah yang
membutuhkan modal untuk mengembangkan usahanya. Proses
pembiayaan yang dilakukan KSU-BMT Rahayu lebih mudah dan tidak
berbelit-belit dalam proses pencairannya dibandingkan dengan perbankan.
Pembiayaan BMT ini sangat membantu untuk mengembangkan usaha para
nasabahnya.
2. Pembinaan
Nasabah KSU-BMT Rahayu khususnya pedagang kecil dan mikro dalam
melakukan usahanya dan agar mampu mempertanggungjawabkan
pembiayaannya, maka BMT sering melakukan pembinaan kewirausahaan
maupun pengelolahan keuangan. Bentuk pembinaan yang dilakukan BMT
dengan cara mengadakan seminar ataupun pelatihan-pelatihan. Hal ini
diharapkan dapat meningkatkan keterampilan yang dimiliki nasabah.
4.4 Tanggapan Nasabah Tentang KSU-BMT Rahayu
Berikut adalah tanggapan para nasabah tentang KSU-BMT Rahayu di kota
Tabel 4.10
Tanggapan Nasabah Tentang KSU-BMT Rahayu di Kota Pematang Siantar
No Uraian
Sumber : Data Primer
Dari tabel 4.10 dapat dilihat penilaian terhadap tanggapan nasabah, dapat
diketahui bahwa kedekatan lokasi BMT dengan tempat tinggal nasabah pada
uraian pertama jawaban mengatakan sangat setuju sebanyak 18 responden dengan
persentase 36%, menjawab setuju sebanyak 25 responden dengan persentase 50%,
sedangkan sisanya sebanyak 7 responden atau 14% menjawab kurang setuju.
Pada uraian kedua diketahui bahwa kemudahan pencapaian lokasi BMT
sebanyak 20 responden dengan persentase 40% menjawab sangat setuju,
menjawab setuju sebanyak 24 responden dengan pesentase 48%, sedangkan
Tabel 4.11
Tanggapan Nasabah Tentang Pelayanan KSU-BMT Rahayu di Kota
Pematang Siantar
Dari tabel 4.11 dapat dilihat bahwa dari uraian pertama yakni pemberian
perhatian yang sungguh-sungguh dari karyawan setiap ada keluhan dari nasabah
sebanyak 29 responden dengan persentase 58% menjawab sangat memuaskan,
sedangkan sisanya 21 responden dengan persentase 42% menjawab memuaskan.
Pada uraian kedua yakni pada opsi pemberian informasi oleh karyawan
dengan jelas dan mudah dimengerti sebanyak 19 responden dengan persentase
38% menjawab sangat memuaskan, sedangkan 28 responden dengan persentase
56% menjawab memuaskan. Dan sisanya sebanyak 3 responden dengan
persentase 6% menjawab kurang memuaskan.
Selanjutnya pada uraian ketiga yakni pada opsi kecepatan dan ketepatan
karyawan dalam melayani nasabah sebanyak 30 responden dengan persentase
60% menjawab sangat memuaskan, sedangkan 19 responden dengan persentase
38% menjawab memuaskan. Dan sisanya sebanyak 1 responden dengan
persentase 2% menjawab kurang memuaskan.
Terakhir pada uraian keempat yakni pada opsi tindakan cepat dan tanggap
oleh karyawan saat nasabah membutuhkan bantuan sebanyak 25 responden
dengan persentase 50% menjawab sangat memuaskan, sedangkan 23 responden
dengan persentase 46% menjawab memuaskan. Dan sisanya sebanyak 2
Tabel 4.12
Tabulasi Silang Antara Pendidikan Responden dengan Kepedulian
Karyawan Terhadap Nasabah
No Tingkat Pendidikan
Tanggapan
Total
SM M KM TM STM
1. SD 0 1 0 0 0 1
2. SMP 7 6 0 0 0 13
3. SMA 18 9 0 0 0 27
4. Diploma 3 4 0 0 0 7
5. Sarjana (S1) 1 1 0 0 0 2
Total 29 21 0 0 0 50
Sumber : Data Primer
Dari tabel tabulasi silang di atas dapat dilihat bahwa pada uraian
pertanyaan kepedulian karyawan terhadap nasabah pada tingkat pendidikan SD
sebanyak 1 responden yang menjawab memuaskan.
Pada tingkat pendidikan SMP sebanyak 7 responden menjawab sangat
memuaskan dan 6 responden menjawab memuaskan.
Pada tingkat pendidikan SMA sebanyak 18 responden menjawab sangat
memuaskan dan 9 responden menjawab memuaskan.
Pada tingkat pendidikan Diploma sebanyak 3 responden menjawab sangat
memuaskan dan 4 responden menjawab memuaskan.
Sedangkan pada tingkat pendidikan Sarjana (S1) sebanyak 1 responden
Tabel 4.13
Tabulasi Silang Antara Pendidikan Responden dengan Kejelasan Informasi
Dari Karyawan BMT
No Tingkat Pendidikan
Tanggapan
Total
SM M KM TM STM
1. SD 1 0 0 0 0 1
2. SMP 5 7 1 0 0 13
3. SMA 10 15 2 0 0 27
4. Diploma 3 4 0 0 0 7
5. Sarjan (S1) 0 2 0 0 0 2
Total 19 28 3 0 0 50
Sumber : Data Primer
Dari tabel tabulasi silang di atas dapat dilihat bahwa pada uraian
pertanyaan kejelasan informasi dari karyawan BMT pada tingkat pendidikan SD
sebanyak 1 responden menjawab sangat memuaskan.
Pada tingkat pendidikan SMP sebanyak 5 responden menjawab sangat
memuaskan, 7 responden menjawab memuaskan dan 1 responden menjawab
kurang memuaskan.
Pada tingkat pendidikan SMA sebnayak 10 responden menjawab sangat
memuaskan, 15 responden menjawab memuaskan dan 2 responden menjawab
kurang memuaskan.
Pada tingkat pendidikan Diploma sebanyak 3 responden menjawab sangat
memuaskan dan 4 responden menjawab memuaskan.
Sedangkan pada tingkat pendidikan Sarjana (S1) sebanyak 2 responden
Tabel 4.14
Tabulasi Silang Antara Pendidikan Responden dengan Kecepatan Dan
Ketepatan Karyawan Dalam Melayani Nasabah
No Tingkat Pendidikan
Tanggapan
Total
SM M KM TM STM
1. SD 1 0 0 0 0 1
2. SMP 9 4 0 0 0 13
3. SMA 17 10 0 0 0 27
4. Diploma 3 4 0 0 0 7
5. Sarjan (S1) 0 1 1 0 0 2
Total 30 19 1 0 0 50
Sumber : Data Primer
Dari tabel tabulasi silang di atas dapat dilihat bahwa pada uraian
pertanyaan kecepatan dan ketepatan karyawan dalam melayani nasabah pada
tingkat pendidikan SD sebanyak 1 responden yang menjawab sangat memuaskan.
Pada tingkat pendidikan SMP sebanyak 9 responden menjawab sangat
memuaskan dan 4 responden menjawab memuaskan.
Pada tingkat pendidikan SMA sebanyak 17 responden menjawab sangat
memuaskan dan 10 responden menjawab memuaskan.
Pada tingkat pendidikan Diploma sebanyak 3 responden menjawab sangat
memuaskan dan 4 responden menjawab memuaskan.
Sedangkan pada tingkat pendidikan Sarjana (S1) sebanyak 1 responden
Tabel 4.15
Tabulasi Silang Antara Pendidikan Responden dengan Kesigapan Karyawan
Saat Nasabah Membutuhkan Bantuan
No Tingkat Pendidikan
Tanggapan
Total
SM M KM TM STM
1. SD 0 0 1 0 0 1
2. SMP 5 8 0 0 0 13
3. SMA 16 11 0 0 0 27
4. Diploma 3 4 0 0 0 7
5. Sarjan (S1) 1 0 1 0 0 2
Total 25 23 2 0 0 50
Sumber : Data Primer
Dari tabel tabulasi silang di atas dapat dilihat bahwa pada uraian
pertanyaan kesigapan karyawan saat nasabah membutuhkan bantuan pada tingkat
pendidikan SD sebanyak 1 responden yang menjawab kurang memuaskan.
Pada tingkat pendidikan SMP sebanyak 5 responden menjawab sangat
memuaskan dan 8 responden menjawab memuaskan.
Pada tingkat pendidikan SMA sebanyak 16 responden menjawab sangat
memuaskan dan 11 responden menjawab memuaskan.
Pada tingkat pendidikan Diploma sebanyak 3 responden menjawab sangat
memuaskan dan 4 responden menjawab memuaskan.
Sedangkan pada tingkat pendidikan Sarjana (S1) sebanyak 1 responden
Tabel 4.16
Tanggapan Nasabah Tentang Pelayanan KSU-BMT Rahayu di Kota
Pematang Siantar
Sumber : Data Primer
Dari tabel 4.16 dapat dilihat bahwa dari uraian pertama yakni kebersihan
gedung dan ruang transaksi sebanyak 28 responden dengan persentse 56%
menjawab sangat baik, sedangkan sisanya 22 responden dengan persentase 44%
menjawab baik.
Pada uraian kedua yakni pada opsi keindahan interior ruang transaksi
sebanyak 16 responden dengan persentase 32% menjawab sangat baik, 30
Selanjutnya pada uraian ketiga yakni pada opsi cara berpakaian karyawan
(bersih dan sopan) sebanyak 32 responden dengan persentase 64% menjawab
sangat baik, sedangkan sisanya sebanyak 18 responden dengan persentase 36%
menjawab baik.
Terakhir pada uraian keempat yakni pada opsi fasilitas pendukung (ruang
tunggu, parkir dan lain-lain) sebanyak 15 responden dengan persentase 30%
menjawab sangat baik, 24 responden dengan persentase 48% menjawab baik,
sedangkan sisanya 11 responden dengan persentase 22% menjawab kurang baik.
Tabel 4.17
Tabulasi Silang Antara Pendidikan Responden dengan Kebersihan Gedung
Dan Ruang Transaksi
No Tingkat Pendidikan
Tanggapan
Total
SB B KB TB STB
1. SD 1 0 0 0 0 1
2. SMP 7 6 0 0 0 13
3. SMA 15 12 0 0 0 27
4. Diploma 4 3 0 0 0 7
5. Sarjan (S1) 1 1 0 0 0 2
Total 28 22 0 0 0 50
Sumber : Data Primer
Dari tabel tabulasi silang di atas dapat dilihat bahwa pada uraian
pertanyaan kebersihan gedung dan ruang transaksi pada tingkat pendidikan SD
sebanyak 1 responden menjawab sangat baik.
Pada tingkat pendidikan SMP sebanyak 7 responden menjawab sangat
Pada tingkat pendidikan SMA sebanyak 15 responden menjawab sangat
baik, sedangkan 12 responden menjawab baik.
Pada tingkat pendidikan Diploma sebanyak 4 responden menjawab sangat
baik, sedangkan 3 responden menjawab baik.
Sedangkan pada tingkat pendidikan Sarjana (S1) sebanyak 1 responden
menjawab sangat baik dan 1 responden menjawab baik.
Tabel 4.18
Tabulasi Silang Antara Pendidikan Responden dengan Keindahan Interior
Ruang Transaksi
No Tingkat Pendidikan
Tanggapan
Total
SB B KB TB STB
1. SD 0 0 1 0 0 1
2. SMP 4 9 0 0 0 13
3. SMA 10 16 1 0 0 27
4. Diploma 2 4 1 0 0 7
5. Sarjan (S1) 0 1 1 0 0 2
Total 16 30 4 0 0 50
Sumber : Data Primer
Dari tabel tabulasi silang di atas dapat dilihat bahwa dari uraian pertanyaan
keindahan interior ruang transaksi pada tingkat pendidikan SD sebanyak 1
responden menjawab kurang baik.
Pada tingkat pendidikan SMP sebanyak 4 responden menjawab sangat
baik, sedangkan 9 responden menjawab baik.
Pada tingkat pendidikan SMA sebanyak 10 responden menjawab sangat
Pada tingkat pendidikan Diploma sebanyak 2 responden menjawab sangat
baik, 4 responden menjawab baik dan 1 responden menjawab kurang baik.
Sedangkan pada tingkat pendidikan Sarjana (S1) sebanyak 1 responden
menjawab baik dan 1 responden menjawab kurang baik.
Tabel 4.19
Tabulasi Silang Antara Pendidikan Responden dengan Cara Berpakaian
Karyawan (Bersih dan Sopan)
No Tingkat Pendidikan
Tanggapan
Total
SB B KB TB STB
1. SD 1 0 0 0 0 1
2. SMP 5 8 0 0 0 13
3. SMA 19 8 0 0 0 27
4. Diploma 5 2 0 0 0 7
5. Sarjan (S1) 2 0 0 0 0 2
Total 32 18 0 0 0 50
Sumber : Data Primer
Dari tabel tabulasi silang di atas dapat dilihat bahwa dari uraian pertanyaan
cara berpakaian karyawan (bersih dan sopan) pada tingkat pendidikan SD
sebanyak 1 responden menjawab sangat baik.
Pada tingkat pendidikan SMP sebanyak 5 responden menjawab sangat
baik dan 8 responden menjawab baik.
Pada tingkat pendidikan SMA sebanyak 19 responden menjawab sangat
baik dan 8 responden menjawab baik.
Pada tingkat pendidikan Diploma sebanyak 5 responden menjawab sangat
Sedangkan pada tingkat pendidikan Sarjana (S1) sebanyak 2 responden
menjawab sangat baik.
Tabel 4.20
Tabulasi Silang Antara Pendidikan Responden dengan Fasilitas Pendukung
(Ruang Tunggu, Parkir dan Lain-lain)
No Tingkat Pendidikan
Tanggapan
Total
SB B KB TB STB
1. SD 0 1 0 0 0 1
2. SMP 4 7 2 0 0 13
3. SMA 10 13 4 0 0 27
4. Diploma 1 3 3 0 0 7
5. Sarjan (S1) 0 0 2 0 0 2
Total 15 24 11 0 0 50
Sumber : Data Primer
Dari tabel tabulasi silang di atas dapat dilihat bahwa dari uraian pertanyaan
fasilitas pendukung (ruang tunggu, parkir dan lain-lain) pada tingkat pendidikan
SD sebanyak 1 responden menjawab baik.
Pada tingkat pendidikan SMP sebanyak 4 responden menjawab sangat
baik, 7 responden menjawab baik dan 2 responden menjawab kurang baik.
Pada tingkat pendidikan SMA sebanyak 10 responden menjawab sangat
baik, 13 responden mnejawab baik dan 4 responden menjawab kurang baik.
Pada tingkat pendidikan Diploma sebanyak 1 responden menjawab sangat
baik, 3 responden menjawab baik dan 3 responden menjawab kurang baik.
Sedangkan pada tingkat pendidikan Sarjana (S1) sebanyak 2 responden
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai analisis prospek pengembangan
usaha oleh KSU-BMT Rahayu di kota Pematang Siantar, maka dapat ditarik
kesimpulan sebagai berikut:
1. Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa KSU-BMT Rahayu berperan
penting dalam prospek pengembangan usaha nasabah. Hal ini dapat dilihat
dari peran BMT dalam pengembangan usaha nasabahnya seperti
memberikan pembiayaan, pembinaan serta pelatihan usaha. Hasilnya
nasabah KSU-BMT Rahayu merasakan manfaat pembiayaan, pembinaan
dan pelatihan sehingga berpengaruh terhadap peningkatan omset produksi,
kenaikan laba, asset perusahaan, jaringan dan juga pemasaran usaha
nasabah.
2. Dari segi omset nasabah, terjadi perbedaan omset nasabah setelah
mendapat pembiayaan dari KSU-BMT Rahayu. Hal ini dapat dilihat dari
50 responden, seluruhnya menyatakan terjadi peningkatan pada omset
produksi, total laba dan asset perusahaan. Sedangkan pada wilayah
penjualan 13 responden menyatakan meningkat dan pada jumlah karyawan
5.2 Saran
1. Kehadiran KSU-BMT Rahayu di kota Pematang Siantar memberikan
pengaruh yang positif bagi pengembangan UMK yang saat ini belum dapat
perhatian yang lebih dari pemerintah. Karakteristik sistem BMT yang
berbeda dengan lembaga keuangan lainnya merupakan wadah yang cocok
bagi UMK untuk mendapatkan pembiayaan yang menguntungkan guna
mengembangkan usahanya. Bagi para UMK penelitian ini bermanfaat
sebagai informasi dalam keputusan pengambilan kredit modal usaha untuk
pengembangan usahanya.
2. Kepada pihak BMT diharapkan dapat terus membenahi kualitas
pelayanannya baik itu pelayanan (tindakan/perbuatan karyawan terhadap
nasabah) maupun kualitas pelayanan (sarana, alat dan kelengkapan dalam
bertransaksi) guna memenuhi harapan masyarakat terhadap lembaga
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Lembaga Keuangan Syari’ah
Sesuai dengan sistem keuangan yang ada di Indonesia, maka dalam
operasionalnya lembaga keuangan dapat berbentuk lembaga keuangan
konvensional dan lembaga keuangan syariah. Menurut SK Menkeu RI No. 792,
lembaga keuangan adalah semua badan yang kegiatannya bidang keuangan,
melakukan penghimpunan dan penyaluran dana kepada masyarakat terutama guna
membiayai investasi perusahaan. Lembaga keuangan menurut Dahlan Siamat
adalah “badan usaha yang kekayaannya terutama dalam bentuk aset keuangan
atau tagihan (claims) dibandingkan dengan aset nonfinansial atau aset riil. Dengan
demikian, lembaga keuangan adalah setiap perusahaan yang kegiatan usahanya
berkaitan dengan bidang keuangan (Soemitra, 2010: 29).
Maretha Syahbania mengatakan Lembaga keuangan syariah merupakan
suatu badan usaha atau institusi yang kekayaannya terutama dalam bentuk
aset-aset keuangan (financial asset) maupun non-financial asset atau aset-aset riil
berlandaskan konsep syariah (ethasyahbania.blogspot.com). Lembaga keuangan
syariah berbeda dengan lembaga keuangan konvensional baik secara tujuan,
mekanisme, kekuasaan, ruang lingkup serta tanggung jawabnya. Lembaga
keuangan syariah didirikan dengan tujuan mempromosikan dan mengembangkan
penerapan prinsip-prinsip islam, syariah dan tradisinya ke dalam transaksi
keuangan dan perbankan serta bisnis yang terkait. Adapun yang dimaksud dengan
keuangan berdasarkan fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki
kewenangan dalam penetapan fatwa di bidang syariah (Soemitra, 2010: 35-36).
Prinsip-prinsip lembaga keuangan syariah yaitu:
1. Keadilan, yakni berbagi keuntungan atas dasar penjualan riil sesuai
kontribusi dan resiko masing-masing pihak.
2. Kemitraan, yang berarti posisi nasabah investor (penyimpan dana), dan
pengguna dana, serta lembaga keuangan itu sendiri, sejajar sebagai mitra
usaha yang saling bersinergi untuk memperoleh keuntungan.
3. Transparansi, lembaga keuangan Syariah akan memberikan laporan
keuangan secara terbuka dan berkesinambungan agar nasabah investor
dapat mengetahui kondisi dananya.
4. Universal, yang artinya tidak membedakan suku, agama, ras, dan golongan
dalam masyarakat sesuai dengan prinsip islam sebagai rahmatan lil alamin.
Lembaga keuangan syariah memiliki ciri-ciri yang berbeda dengan
lembaga keuangan konvensional. Adapun ciri-ciri lembaga keuangan syariah
adalah sebagai berikut:
1. Dalam menerima titipan dan investasi, Lembaga Keuangan Syariah harus
sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah.
2. Hubungan antara investor (penyimpan dana), pengguna dana, dan
Lembaga Keuangan Syariah sebagai intermediary institution, berdasarkan
3. Bisnis Lembaga Keuangan Syariah bukan hanya berdasarkan profit
orianted, tetapi juga falah orianted, yakni kemakmuran di dunia dan
kebahagiaan di akhirat.
4. Konsep yang digunakan dalam transaksi Lembaga Syariah berdasarkan
prinsip kemitraan bagi hasil, jual beli atau sewa menyewa guna transaksi
komersial, dan pinjam-meminjam (qardh/ kredit) guna transaksi sosial.
5. Lembaga keuangan syariah hanya melakukan investasi yang halal dan
tidak menimbulkan kemudharatan serta tidak merugikan syiar islam.
2.1.1 Struktur Lembaga Keuangan Syariah di Indonesia
Sistem keuangan di Indonesia di jalankan oleh dua jenis lembaga
keuangan, yaitu lembaga keuangan bank dan lembaga keuangan nonbank.
1. Lembaga Keuangan Bank
Lembaga keuangan bank secara operasional di bina dan di awasi oleh
Bank Indonesia sebagai bank sentral di Indonesia. Sedangkan pembinaan dan
pengawasan dari sisi pemenuhan prinsip-prinsip syariah dilakukan oleh Dewan
Syariah Nasional MUI. Lembaga keuangan bank terdiri dari (Soemitra, 2010: 45):
a. Bank Umum Syariah
Sejak dikeluarkannya UU No. 7 Tahun 1992 yang di ubah dengan No. 10
Tahun 1998 bank umum terdiri dari bank konvensional dan bank syariah
belakangan, disahkan pula UU No. 21 Tahun 2008 tentang perbankan
syariah dalam rapat paripurna DPR tanggal 17 Juni 2008 yang menjadi
payung hukum perbankan syariah nasional di mana Bank Syariah terdiri
b. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
Bank Pembiayaan Rakyat Syariah merupakan bank yang khusus melayani
masyarakat kecil di kecamatan dan pedesaan. Jenis produk yang
ditawarkan oleh Bank Pembiayaan Rakyat Syariah relatif sempit
dibandingkan dengan bank umum, bahkan ada beberapa jenis jasa bank
yang tidak boleh diselenggarakan oleh Bank Pembiayaan Rakyat Syariah,
seperti pembukaan rekening giro dan ikut kliring.
2. Lembaga Keuangan Non-Bank
Lembaga keuangan nonbank lebih banyak jenisnya dari lembaga keuangan
bank. Masing-masing lembaga keuangan nonbank mempunyai ciri-ciri usahanya
sendiri. Lembaga keuangan nonbank secara operasional di bina dan di awasi oleh
Departemen Keuangan yang dijalankan oleh Bapepam LK. Sedangkan pembinaan
dan pengawasan dari sisi pemenuhan prinsip-prinsip syariah dilakukan oleh
Dewan Syariah Nasional MUI.
Lembaga keuangan nonbank dengan prinsip syariah antara lain
(Sudarsono, 2004: 8):
1. Baitul Mal Wat Tamwil (BMT) dan Koperasi Pondok Pesantren
Lembaga ini didirikan dengan maksud untuk memfasilitasi masyarakat
bawah yang tidak terjangkau oleh pelayanan bank syariah atau BPR
syariah. Prinsip operasinya didasarkan atas prinsip bagi hasil, jual beli
2. Asuransi Syariah (Takaful)
Asuransi syariah menggantikan prinsip bunga dengan prinsip dana
kebajikan (tabarru), di mana sesama umat di tuntun untuk saling
tolong-menolong ketika saudara mengalami musibah.
3. Reksadana Syariah
Reksadana syariah mengganti sistem deviden dengan bagi hasil
mudharabah dan hanya mempertimbangkan investasi-investasi yang halal
sebagai portfolionya.
4. Pasar Modal Syariah
Sebagaimana reksadana syariah, pasar modal syariah juga menggunakan
prinsip yang sama.
5. Pegadaian Syariah (Rahn)
Pegadaian syariah menggunakan sistem jasa administrasi dan bagi hasil
untuk menggantikan sistem bunga.
6. Lembaga Zakat, Infaq, Shadaqah dan Waqaf
Lembaga ini merupakan lembaga yang hanya ada dalam sistem keuangan
islam, karena islam mendorong umatnya untuk menjadi sukarelawan
dalam beramal. Dana inni hanya boleh di alokasikan untuk kepentingan
sosial atau peruntukan yang telah digaiskan meurut syariah islam
(misalnya alokasi zakat maal dan zakat fitrah telah di tentukan oleh
2.2 Sejarah Perkembangan BMT
a. Masa Rasulullah SAW
Pada masa Rasulullah SAW, Baitul Mal lebih mempunyai pengertian
sebagai pihak (Al-Jihat) yang menangani setiap harta benda kaum muslimin, baik
berupa pendapatan maupun pengeluaran. Saat itu Baitul Mal belum memiliki
tempat khusus untuk menyimpan harta karena saat itu harta yang diperoleh belum
begitu banyak. Jika ada, harta yang diperoleh hampir selalu habis dibagi-bagikan
kepada kaum muslimin serta dibelanjakan untuk pemeliharaan urusan mereka.
Rasulullah SAW senantiasa membagikan ghanimah dan seperlima bagian darinya
(al-akhmas) setelah usainya peperangan, tanpa menunda-nundanya lagi. Dengan
kata lain, beliau segera menginfakkannya sesuai peruntukannya masing-masing.
b. Masa Abu Bakar Ash Shiddiq
Pada masa Abu Bakar Ash Shiddiq, keadaan Baitul Mal berlangsung
masih seperti pada masa Rasulullah SAW di tahun pertama kekhalifahannya, Jika
datang harta kepadanya dari wilayah-wilayah kekuasaan khilafah islamiyah, Abu
Bakar membawa harta itu ke Masjid Nabawi dan membagikannya kepada
orang-orang yang berhak menerimanya. Pada tahun kedua kekhalifahannya, Abu Bakar
merintis embrio Baitul Mal dalam arti yang lebih luas. Baitul Mal bukan sekedar
berarti pihak (al-jihat) yang menangani harta umat, namun juga berarti suatu
temapat (al-makan) untuk menyimpan harta Negara. Abu bakar menyiapkan
tempat khusus di rumahnya berupa karung atau kantong (ghirarah) untuk
menyiapkan harta yang dikirimkan ke Madinah. Hal ini berlangsung sampai
c. Masa Umar bin Khaththab
Pada masa Umar bin Khaththab tetap memelihara Baitul Mal secara
hati-hati, menerima pemasukan dan sesuatu yang halal sesuai dengan aturan syariat
dan mendistribusikannya kepada yang berhak menerimanya. Dalam salah satu
pidatonya, yang dicatat oleh lbnu Kasir, penulis sejarah dan mufasir, tentang hak
seorang Khalifah dalam Baitul Mal, Umar berkata, “Tidak dihalalkan bagiku dari
harta milik Allah ini melainkan dua potong pakaian musim panas dan sepotong
pakaian musim dingin serta uang yang cukup untuk kehidupan sehari-hari
seseorang di antara orang-orang Quraisy biasa, dan aku adalah seorang biasa
seperti kebanyakan kaum muslimin.” (Dahlan, 1999).
d. Masa Utsman bin Affan
Pada masa Utsman bin Affan, kondisi Baitul Mal hampir sama pada masa
sebelumnya. Namun, dalam hal ini, lbnu Sa’ad menukilkan ucapan Ibnu Syihab
Az Zuhri, seorang yang sangat besar jasanya dalam mengumpulkan hadis, yang
menyatakan, “Usman telah mengangkat sanak kerabat dan keluarganya dalam
jabatan-jabatan tertentu pada enam tahun terakhir dari masa pemerintahannya. Ia
memberikan khumus (seperlima ghanimah) kepada Marwan yang kelak menjadi
Khalifah ke-4 Bani Umayyah, memerintah antara 684-685 M dari penghasilan
Mesir serta memberikan harta yang banyak sekali kepada kerabatnya dan ia
(Usman) menafsirkan tindakannya itu sebagai suatu bentuk silaturahmi yang
diperintahkan oleh Allah SWT. Ia juga menggunakan harta dan meminjamnya
dari Baitul Mal sambil berkata, ‘Abu Bakar dan Umar tidak mengambil hak
membagi-bagikannya kepada sementara sanak kerabatku.’ Itulah sebab rakyat
memprotesnya.” (Dahlan, 1999).
d. Masa Ali bin Abi Talib
Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Talib, kondisi Baitul Mal
ditempatkan kembali pada posisi yang sebelumnya. Ali, yang juga mendapat
santunan dari Baitul Mal, seperti disebutkan oleh lbnu Kasir, mendapatkan jatah
pakaian yang hanya bisa menutupi tubuh sampai separuh kakinya, dan sering
bajunya itu penuh dengan tambalan.
e. Masa Khalifah-Khalifah Sesudahnya
Ketika dunia Islam berada di bawah kepemimpinan Khilafah Bani
Umayyah, kondisi Baitul Mal berubah. Al Maududi menyebutkan, jika pada masa
sebelumnya Baitul Mal dikelola dengan penuh kehati-hatian sebagai amanat Allah
SWT dan amanat rakyat, maka pada masa pemerintahan Bani Umayyah Baitul
Mal berada sepenuhnya di bawah kekuasaan Khalifah tanpa dapat dipertanyakan
atau dikritik oleh rakyat (Dahlan, 1999). Keadaan itu berlangsung sampai
datangnya Khalifah ke-8 Bani Umayyah, yakni Umar bin Abdul Aziz
(memerintah 717-720 M). Umar berupaya untuk membersihkan Baitul Mal dari
pemasukan harta yang tidak halal dan berusaha mendistribusikannya kepada yang
berhak menerimanya. Umar membuat perhitungan dengan para Amir bawahannya
agar mereka mengembalikan harta yang sebelumnya bersumber dari sesuatu yang
tidak sah. Di samping itu, Umar sendiri mengembalikan milik pribadinya sendiri,
yang waktu itu berjumlah sekitar 40.000 dinar setahun, ke Baitul Mal. Harta
itu terdapat perkampungan Fadak, desa di sebelah utara Mekah, yang sejak Nabi
SAW wafat dijadikan rnilik negara. Namun, Marwan bin Hakam (khalifah ke-4
Bani Umayah, memerintah 684-685 M) telah memasukkan harta tersebut sebagai
milik pribadinya dan mewariskannya kepada anak-anaknya. (Dahlan, 1999)
f. Perkembangan BMT di Indonesia
Upaya merintis pendirian BMT di Indonesia telah dirintis sejak tahun
1990-an. Berdirinya BMT bersamaan dengan usaha pendirian Bank Syariah di
Indonesia. Bank Syariah pertama di Indonesia adalah Bank Mualalat Indonesia
(BMI). Pada saat itu operasionalisasi BMI kurang menjangkau usaha masyarakat
kecil dan menengah, maka muncul usaha untuk mendirikan Bank dan lembaga
keuangan mikro, seperti BPR syariah dan BMT yang bertujuan untuk mengatasi
hambatan operasionalisasi di daerah.
Seperti lembaga-lembaga ekonomi lainnya, kedudukan dan satus BMT
merupakan lembaga keuangan yang memiliki badan hukum. Tiga landasasn
pokok pendirian BMT yakni filosofis, sosiologis dan yuridis menjadi patokan
dasar utama kenapa BMT dianggap sebagai lembaga keuangan syariah yang
berbadan hukum.
Secara filosofis, gagasan pendirian BMT didasarakan kepada kepentingan
menjabarkan prinsip-prinsip ekonomi islam (fiqh al-muamalah) dalam praktek.
Prinsip-prinsip ekonomi islam sejenis tauhid, keadilan, persamaan, kebebasan,
tolong-menolong dan toleransi menjadi kerangka filosofis bagi pendirian BMT di
Indonesia. Selain itu, azas-azas muamalah seperti kekeluargaan, gotong-royong,
ekonomi lemah menjadi dasar utama bagi kepentingan mendirikan BMT di
Indonesia (Sadrah, 2004: 49).
Secara sosiologis, pendirian BMT di Indonesia lebih didasarkan kepada
adanya tuntutan dan dukungan dari umat islam bagi adanya lembaga keuangan
berdasarkan syariah. Seperti diketahui, umat islam merupakan mayoritas
penduduk Indonesia, tetapi belum ada lembaga keuangan berbasiskan syariah.
Pada akhirnya, ide pembentukan BMT semakin mencuat ke permukaan di awal
tahun 1990-an (Sadrah, 2004: 49).
Adapun secara yuridis, pendirian BMT di Indonesia diilhami oleh
keluarnya kebijakan pemerintah berdasarkan UU No. 7/1992 dan PP No. 72/1992
tentang perbankan. Pada saat bersamaan, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia
(ICMI) sangat aktif melakukan pengkajian intensif tentang pengembangan
ekonomi islam di Indonesia. Dari berbagai penelitian dan pengkajian tersebut,
maka terbentuklah BMT-BMT di Indonesia. ICMI berperan besar dalam
mendorong pendirian BMT-BMT di Indonesia (Sadrah, 2004:49).
Pengembangan BMT merupakan hasil prakarsa dari Pusat Inkubasi Bisnis
Usaha Kecil dan Menengah (PINBUK) yang merupakan badan pekerja yang
dibentuk oleh Yayasan Inkubasi Usaha Kecil dan Menengah (YINBUK).
YINBUK sendiri dibentuk oleh Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI),
Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), dan Direktur Utama
Bank Muamalat Indonesia (BMI) dengan akta notaries Leila Yudoparipurno, SH.
Nomor 5 tanggal 13 Maret 1995 (Soemitra, 2010: 455).
1. Mensupervisi dan membina teknis, administrasi, pembukuan, dan finansial
BMT-BMT yang terbentuk.
2. Mengembangkan sumber daya manusia dengan melakukan inkubasi bisnis
pengusaha baru dan penyuburan pengusaha yang ada.
3. Mengembangkan teknologi maju untuk para nasabah BMT sehingga
meningkat nilai tambahnya.
4. Memberikan penyuluhan dan latihan.
5. Melakukan promosi, pemasaran hasil dan mengembangkan jaringan
perdagangan usaha kecil.
6. Memfasilitasi alat-alat yang tidak mampu dimiliki oleh pengusaha secara
perorangan, seperti faks alat-alat promosi dan alat-alat pendukung lainnya.
2.2.1 Pengertian Baitul Mal Wat Tamwil (BMT)
Baitul Maal Wat Tamwil (BMT) merupakan suatu lembaga yang terdiri
dari dua istilah, yaitu baitulmaal dan baitul tamwil. Baitulmaal lebih mengarah
pada usaha-usaha pengumpulan dan penyaluran dana yang nonprofit, seperti;
zakat, infaq, dan sedekah. Adapun baitul tamwil sebagai usaha pengumpulan dan
penyaluran dana komersial (Sudarsono, 2004: 96). Baitul Maal Wat Tamwil
(BMT) adalah balai usaha mandiri terpadu yang isinya berintikan bayt al-mal wa
al-tamwil dengan kegiatan mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi
dalam meningkatkan kualitas kegiatan ekonomi pengusaha kecil bawah dan kecil
dengan antara lain mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan
BMT juga merupakan lembaga keuangan syariah yang mandiri dan
terpadu serta berfungsi untuk mengembangkan usaha-usaha produktif dan
investasi dalam rangka menunjang kegiatan usaha kecil dan menengah di
masyarakat. Berdirinya BMT dilatarbelakangi karena adanya tuntutan masyarakat
bagi adanya lembaga keuangan yang menggunakan prinsip-prinsip syariah.
Prinsip dan tujuan dari didirikannya BMT adalah menyelenggarakan berbagai
jenis produk pelayanan dan jasa keuangan kepada masyarakat yang terhindar dari
praktek-praktek usaha yang berbau riba (Sadrah, 2004: 114).
BMT (Baitul Mal Wat Tamwil) menurut Soemitra (2009) adalah “lembaga
keuangan mikro yang dioperasikan dengan prinsip bagi hasil, menumbuh
kembangkan bisnis usaha mikro dan kecil, dalam rangka mengangkat derajat dan
martabat serta membela kepentingan kaum fakir miskin”.
Baitul Mal Wat Tamwil mempunyai visi dan misi dalam operasionalnya.
Visi BMT, yaitu menjadi lembaga keuangan yang mandiri, sehat dan kuat, yang
kualitas ibadah anggotanya meningkat sedemikian rupa sehingga mampu
berperan menjadi wakil pengabdi Allah memakmurkan kehidupan anggota pada
khususnya dan umat manusia pada umumnya. Misi BMT, yaitu mewujudkan
gerakan pembebasan anggota dan masyarakat dari belenggu rentenir, jerat
kemiskinan dan ekonomi ribawi, gerakan pemberdayaan meningkatkan kapasitas
dalam kegiatan ekonomi riil dan kelembagaannya menuju tatanan perekonomian
yang makmur dan maju dan gerakan keadilan membangun struktur masyarakat
madani yang adil dan berkemakmuran berkemajuan, serta makmur maju