Lampiran 2
PENJELASAN PENELITIAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Mustika Dewi Pane
NIM : 121101075
Fakultas/Universitas : Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara
Bermaksud mengadakan penelitian dengan judul “Kinerja Perawat dalam
Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI) di RSUP Haji Adam Malik Medan.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kinerja perawat dalam
PPI.
Penelitian ini tidak akan menimbulkan kerugian dan pengaruh apapun pada pekerjaan
ataupun jabatan saudara/i. Hal tersebut karena semua informasi dan kerahasiaan
identitas yang diberikan akan dijaga dan hanya digunakan untuk kepentingan
penelitian saja. Apabila saudara/i merasa tidak nyaman dengan penelitian ini,
saudara/i diperkenankan untuk tidak bersedia menjadi responden.
Saya sangat berharap saudara/i bersedia menjadi responden untuk penelitian ini dan
mengisi lembar persetujuan sebagai bukti bahwa saudara/i telah menjadi responden.
Atas perhatian dan kesediaannya, saya ucapkan banyak terimakasih.
Medan, Mei 2016
Peneliti
Lampiran 3
PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN
Judul Penelitian : Kinerja Perawat dalam Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI) di RSUP Haji Adam Malik Medan
Peneliti : Mustika Dewi Pane
Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan
Universitas Sumatera Utara
Saya telah diminta untuk berpartisipasi dalam penelitian ini sesuai dengan judul di
atas. Saya mengerti bahwa sebelumnya peneliti telah melihat (mengobservasi)
bagaimana kinerja saya dalam PPI. Saya mengerti penelitian ini tidak mempunyai
resiko terhadap pekerjaan saya dan mengerti manfaat penelitian sebagai masukan
untuk perkembangan pelayanan keperawatan.
Saya mengerti bahwa data dan identitas saya dalam penelitian akan dirahasiakan dan
akan dimusnahkan bila penelitian ini selesai. Apabila saya merasa tidak nyaman ikut
berpartisipasi, saya berhak untuk membatalkan peran serta saya.
Saya menerima persetujuan untuk berperan serta pada penelitian ini secara sukarela
dan sadar dengan menandatangani surat persetujuan sebagai subjek penelitian.
DATA DEMOGRAFI
Nomor Urut
Diisi oleh peneliti
Petunjuk pengisian :
A. Mohon bantuan dan kesediaan saudara/i untuk menjawab kuisioner dibawah ini
dengan cara mengisi titik-titik yang tersedia
B. Berikan tanda chek (v) pada kotak yang tersedia
Umur : ……… tahun
Jenis kelamin : Pria
Wanita
Tingkat pendidikan : SPK
DIII Keperawatan
S1 Keperawatan
Lama bekerja : < 1 tahun
1 – 3 tahun
> 3 tahun
Pelatihan PPI : Pernah
Lampiran 4
LEMBAR OBSERVASI TINDAKAN PERAWAT DALAM PPI
No Tindakan
4. Pencegahan dari cedera jarum
suntik dan benda tajam
Lampiran 5
DATA DEMOGRAFI PERAWAT YANG BEKERJA DI RSUP HAM MEDAN
NO UMUR JENIS KELAMIN TINGKAT PENDIDIKAN LAMA BEKERJA PELATIHAN PPI
Lampiran 6 Statistics
UMUR
N Valid 43
Missing 0
Mean 1.47
Median 1.00
Mode 1
Std. Deviation .505
Minimum 1
Maximum 2
UMUR
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 1 23 53.5 53.5 53.5
2 20 46.5 46.5 100.0
Total 43 100.0 100.0
Statistics
JENIS KELAMIN
TINGKAT
PENDIDIKAN LAMA BEKERJA PELATIHAN PPI
N Valid 43 43 43 43
Frequency Table
JENIS KELAMIN
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid Laki-lak 1 2.3 2.3 2.3
Perempua 42 97.7 97.7 100.0
Total 43 100.0 100.0
TINGKAT PENDIDIKAN
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid DIII Kep 33 76.7 76.7 76.7
S1 Keper 8 18.6 18.6 95.3
SPK 2 4.7 4.7 100.0
Total 43 100.0 100.0
LAMA BEKERJA
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid > 3 tahu 32 74.4 74.4 74.4
PELATIHAN PPI
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid PERNAH 33 76.7 76.7 76.7
TIDAK PE 10 23.3 23.3 100.0
Lampiran 7
Hasil Kinerja Perawat dalam PPI di RSUP HAM Medan
33 2 1 1 2 3 9
34 2 3 3 2 3 13
35 2 3 2 3 3 13
36 3 3 2 2 3 13
37 3 3 1 3 3 13
38 2 1 1 2 3 9
39 3 3 1 3 3 13
40 2 3 2 2 3 12
41 3 1 3 3 3 13
42 2 3 1 2 3 11
Lampiran 8
Statistics
CUCI TANGAN
SARUNG
TANGAN MASKER JARUM SUNTIK SAMPAH
N Valid 43 43 43 43 43
Missing 0 0 0 0 0
Mean 2.40 2.28 1.72 2.35 3.00
Median 2.00 3.00 2.00 2.00 3.00
Mode 2 3 1 2 3
Std. Deviation .495 .908 .734 .529 .000
Minimum 2 1 1 1 3
Maximum 3 3 3 3 3
Frequency Table
CUCI TANGAN
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid melakukan seluruh tindakan
tapi tidak benar 26 60.5 60.5 60.5
Melakukan seluruh tindakan
dengan benar 17 39.5 39.5 100.0
SARUNG TANGAN
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Frequency Percent Valid Percent
SAMPAH
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative
Percent
Valid melakukan seluruh tindakan
Lampiran 9
KINERJA PERAWAT DALAM PPI
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Baik 23 53.5 53.5 53.5
cukup 20 46.5 46.5 100.0
Total 43 100.0 100.0
Statistics
KINERJA PERAWAT DALAM PPI
N Valid 43
Missing 0
Mean 1.47
Median 1.00
Mode 1
Std. Deviation .505
Minimum 1
Lampiran 13
TAKSASI DANA
1. Print dan penjilidan proposal Rp 170.000,-
2. Konsumsi sidang proposal Rp 250.000,-
3. Perbanyak kuesioner Rp 100.000,-
4. Biaya transportasi Rp 200.000,-
5. Print dan jilid skripsi Rp 200.000,-
6. Biaya tak terduga Rp 100.000,-
Lampiran 14
RIWAYAT HIDUP
Nama : Mustika Dewi Pane
Tempat Tanggal Lahir : Malintang Julu, 4 Agustus 1994
Jenis Kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Alamat : Jl. Dr. Mansyur Gang Citra No. 15 Medan
Email : [email protected]
Riwayat Pendidikan :
1. SD Negeri 200201Padangmatinggi Tahun 2000-2006
2. SMP Negeri 1 Padangsidimpuan Tahun 2006-2009
3. SMA Negeri 6 Padangsidimpuan Tahun 2009-2012
46
DAFTAR PUSTAKA
Cherry, B., & Jacob, S. R. (2014). Contemporary Nursing : Issues, Trends, and
Management. Ed 6. St. Louis: Elsevier
Clinical Governance. (2013). Standar Infection Prevention and Control
Guidelines. NHS Professionals.
Darmawati, R., Amonito, C., & Ernawati. (2014). Hubungan Pengetahuan
Perawat tentang Pencegahan Infeksi dengan Keptuhan Menggunakan
Sarung Tangan dalam Pemasangan Infus. Jurnal Ilmiah Kesehatan
Keperawatan, 10 (3), 113 – 118.
Depkes RI. (2008). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah
Sakit dan Fasilitas Kesehatan Lainnya. Jakarta
_________. (2010). Pedoman Pelaksanaan Kewaspadaan Universal di Pelayanan
Kesehatan. Jakarta: Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular
dan Penyehatan Lingkungan
Evans, Liz. (2012). Essential Practice for Infection Prevention and Control
Guidance for Nursing Staff. London: CareFusion
Infection Control Team. (2015). National Infection Prevention and Control
Manual. Scotlandia: NHS
Kemenkes RI. (2012). Standar Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Pelayanan
Kesehatan Gigi dan Mulut di Fasilitas Pelayanan Kesehatan. Direktorat
Jenderal Bina Upaya Kesehatan.
____________ (2014). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi Kasus
Konfirmasi atau Probabel Infeksi Virus Middle East Respiratory
Syndrome-Corona Virus (MERS-CoV). Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit dan Penyehatan Lingkungan.
Mangkunegara, P. A. A. (2004). Manajemen Sumber Daya Manusia Perusahaan.
Bandung : Rosdakarya.
National Center for Emerging and Zoonotic Infectious Diseases. (2011). Basic
Infection Control and Prevention Plan for Outpatient Oncology Settings.
47
Nurjannah. (2015). Pelaksanaan Five Moments Hand Hygiene di RSUD Deli
Serdang. Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Tidak
Dipublikasikan
Nursalam. (2009). Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu
Keperawatan, Edisi 2. Surabaya: Salemba Medika
Puspasari, Yunita. (2015). Hubungan Pengetahuan, Sikap dengan Praktik
Perawat dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial di Ruang Rawat Inap
Rumah Sakit Islam Kendal. FIKkes Jurnal Keperawatan, 8 (1), 23 – 43.
Puspitasari, N., & Tarigan, M. (2012). Gambaran Cuci Tangan Perawat di Ruang
RA, RB, ICU, CVCU, RSUP H. Adam Malik Medan. Fakultas
Keperawatan Universitas Sumatera Utara. Tidak Dipubliskan.
Putra, R. A. (2010). Tindakan Perawat dalam Pencegahan Infeksi Nosokomial
Luka Pasca Bedah. Fakultas Keperawatan Universitas Sumatera Utara.
Tidak Dipublikasikan
Ritchie, L., & McIntyre, J. (2015). Standardising Infection Control Precautions.
Nursing Time, 3 (38), 17 - 20.
Simanjuntak, P. J. (2005). Manajemen dan Evaluasi Kinerja. Jakarta : Fakultas
Ekonomi Universitas Indonesia
Wigglesworth, N. (2014). National Model Policies for Infection Prevention and
Control. Retrieved from http://www.hps.scot.nhs.uk
WHO. (2002). Prevention of Hospital-Acquired Infections A Practical Guide 2nd
Edition. Departement of Communicable Disease, Surveilance and
Response. (http : www.who.int/research/en/emc, diunduh tanggal 13
September 2015).
______ (2007). Standard Precautions in Health Care Aide-Memoire.
(http://www.who.int/scr/resources/publications/standardprecautions/en/)
25
BAB 3
KERANGKA PENELITIAN
3.1.Kerangka Penelitian
Kerangka konseptual dalam penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi kinerja perawat dalam PPI di RSUP H. Adam Malik
Medan. Sumber PPI pada penelitian ini berdasarkan WHO tahun 2014 yang
terdiri dari 10 (sepuluh) item, meliputi kebersihan tangan, penggunaan
sarung tangan, pemakaian pelindung wajah (masker), penggunaan gaun,
pencegahan cedera dari jarum suntik dan benda tajam lainnya, etika batuk,
kebersihan lingkungan, penatalaksanaan linen, manajemen limbah, dan
perawatan peralatan pasien.
Penelitian ini hanya akan meneliti 5 (lima) item dari pendapat WHO
tersebut yaitu, kebersihan tangan, penggunaan sarung tangan, pemakaian
pelindung wajah (masker), pencegahan cedera dari jarum suntik dan benda
tajam lainnya, dan manajemen limbah. Hal ini dikarenakan penelitian ini
dilakukan dalam jangka waktu satu bulan sehingga untuk meneliti kesepuluh
item ini dikhawatirkan tidak akan cukup karena ada beberapa item PPI yang
tidak bisa sering ditemukan pengapliksiannya seperti etika batuk, dan juga
penelitian ini hanya untuk mengobservasi tindakan invasif saja seperti
pemasangan infus, pengambilan sampel darah, dan kateter yang sesuai
26
Skema 3.1
Kerangka penelitian kinerja perawat dalam Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI)
Keterangan :
: item yang diteliti
: item yang tidak diteliti Kinerja perawat dalam Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI) :
- Cuci tangan
- Memakai sarung tangan - Penggunaan masker
- Pencegahan cedera dari jarum suntik dan benda tajam lainnya
- Manajemen limbah
- Baik - Cukup - Kurang
- Penggunaan apron dan gaun
- Etika batuk
- Kebersihan lingkungan
- Penatalaksanaan linen
- Perawatan peralatan pasien
27
3.2.Defenisi Operasional
Defenisi operasional variabel yang digunakan dalam penelitian ini
dijelaskan sebagai berikut.
Variabel Defenisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala Kinerja
28
BAB 4
METODOLOGI PENELITIAN
4.1. Desain Penelitian
Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan tujuan untuk
mengidentifikasi kinerja perawat dalam PPI di RSUP H. Adam Malik
Medan.
4.2 Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling
4.2.1. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah perawat pelaksana yang bekerja
di ruang Rindu A RSUP H. Adam Malik Medan yang berjumlah 74 orang.
4.2.2. Sampel
Banyak sampel yang digunakan pada penelitian ini sebanyak:
n = 1 + N dN
Keterangan :
n = besar sampel
N = besar populasi
d = tingkat signifikansi/ketepatan yang diinginkan (0,1)
Maka :
n = N
29
4.2.3. Teknik Sampling
Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini
adalah teknik purposive sampling, dimana perawat yang dijadikan
sampel penelitian adalah perawat yang sudah menjadi pegawai di RSUP
H. Adam Malik Medan, perawat yang sedang melakukan pengambilan
sampel darah, pemasangan infus, pemasangan kateter, dan perawatan
luka di ruangan Rindu A.
4.3. Lokasi dan Waktu Penelitian
4.3.1. Lokasi Penelitian
Penelitian ini telah dilaksanakan di ruang Rindu A RSUP H. Adam
Malik Medan. Alasan peneliti memilih RSUP H. Adam Malik Medan
karena rumah sakit tersebut sudah menerapkan standar PPI, dan peneliti
tertarik untuk melihat penerapan standar ini dilakukan di RSUP H. Adam
Malik Medan.
4.3.2. Waktu Penelitian
Penelitian ini telah dilakukan dimulai dari tahap penyusunan
proposal pada September 2015 hingga laporan penelitian pada bulan Juli
2016. Pengumpulan data dilakukan pada bulan April 2016 hingga Mei
30
4.4. Pertimbangan Etik
Pengumpulan data dilakukan dengan memperhatikan aspek-aspek
etika sebagai berikut :
1. Autonomy
Perawat memiliki kebebasan menentukan pilihan dan bebas dari
paksaan untuk berpartisipasi dalam penelitian. Peneliti akan
menghormati keputusan dari perawat dengan memberikan informed
consent untuk meminta persetujuan perawat yang terdiri dari : (1)
penjelasan manfaat penelitian; (2) penjelasan kemungkinan risiko dan
ketidaknyamanan yang dapat ditimbulkan; (3) penjelasan manfaat yang
akan didapatkan; (4) persetujuan perawat dapat mengundurkan diri
kapan saja; dan (5) jaminan anonimitas dan kerahasiaan.
2. Confidentiality
Menjelaskan kepada perawat bahwa identitas tidak akan
ditampilkan untuk menjaga anonimitas dan kerahasiaan identitas
perawat. Peneliti menggunakan koding (nomor responden) sebagai ganti
indentitas.
3. Beneficience
Prinsip ini dilakukan dengan maksud penelitian yang dilakukan
membawa manfaat yang besar khususnya bagi institusi yang diteliti.
31
4.5. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan pada penelitian ini terdiri dari 2 bagian
yaitu lembar data demografi, dan lembar observasi.
4.5.1. Lembar Data demografi
Lembar data demografi yang diisi oleh perawat berupa identitas
responden yang meliputi, nomor urut, umur, jenis kelamin, tingkat
pendidikan, lama masa kerja perawat di rumah sakit, dan pernah atau tidak
mengikuti pelatihan PPI.
4.5.2. Lembar Observasi PPI
Lembar observasi digunakan untuk mengamati kinerja perawat
pelaksana dalam PPI yang terdiri dari 5 item, meliputi kebersihan tangan,
penggunaan sarung tangan, pemakaian pelindung wajah (masker),
pencegahan cedera dari jarum suntik dan benda tajam lainnya, dan
manajemen limbah. Masing-masing item ini terdapat tindakan-tindakan
yang mengacu dan sesuai dengan tinjauan pustaka dan juga WHO (2014).
Pengamatan dilakukan sebanyak 1 (satu) kali untuk satu tindakan untuk
setiap perawat.
Setiap tindakan diberi nilai 3 jika melakukan seluruh tindakan
dengan benar (100%), nilai 2 jika melakukan seluruh tindakan tapi tidak
benar (40% - 90%), dan nilai 1 jika ada beberapa tindakan yang tidak
dilakukan (10% - 30%). Kemudian nilai diakumulasikan untuk
32
13 – 15 kinerja baik
9 – 12 kinerja cukup baik
5 – 8 kinerja kurang baik
4.6. Validitas dan Reliabilitas
4.6.1. Validitas
Penelitian ini tidak dilakukan uji validitas karena instrumen yang
digunakan merupakan instrumen baku yang mengacu pada ketentuan
WHO (2014).
4.6.2. Reliabilitas
Penelitian ini tidak dilakukan uji reliabilitas karena penelitian ini
merupakan observasi dan instrumen digunakan oleh peneliti sendiri.
4.7. Pengumpulan Data
Prosedur yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu, pada tahap
awal peneliti mengajukan permohonan izin pelaksanaan penelitian pada
institusi pendidikan (Fakultas Keperawatan USU) kemudian surat dari
Fakultas Keperawatan USU di kirim ke RSUP H. Adam Malik Medan
sebagai tempat penelitian. Setelah mendapat izin dari Direktur RSUP H.
Adam Malik Medan, peneliti menjumpai kepala ruangan Rindu A RSUP
33
Pengumpulan data dilakukan dengan cara pengamatan tindakan PPI
yang dilakukan oleh perawat pelaksana melalui tindakan invasif,
pengamatan dilakukan tanpa pengetahuan responden, dengan alasan apabila
responden mengetahui kegiatannya akan diobservasi oleh peneliti maka
dikhawatirkan hasilnya akan bias. Kinerja perawat pelaksana yang diamati
ada 5 (lima) poin, yaitu : cuci tangan, penggunaan sarung tangan saat
tindakan, pemakaian pelindung wajah (masker) saat melakukan tindakan,
pencegahan cedera dari jarum suntik dan benda tajam lainnya, dan
manajemen limbah.
Setelah memperoleh data dari pengamatan (observasi) tidakan
perawat dalam PPI, peneliti memberikan informed consent untuk meminta
persetujuan dari responden, apabila responden bersedia dan telah
menandatangani informed consent peneliti akan memberikan lembar data
demografi untuk diisi responden. Peneliti memeriksa kelengkapan data dan
mengumpulkan lembar data demografi responden. Apabila lembar data
belum diisi secara lengkap, peneliti meminta responden untuk melengkapi
data demografinya dan mengumpulkan kembali lembar tersebut.
4.8. Analisis Data
Analisis data dilakukan setelah semua data dalam lembar observasi
dikumpulkan melalui beberapa tahap dimulai dengan editing untuk
memeriksa kelengkapan data, kemudian data yang sesuai diberi kode
34
data. Kemudian memasukkan (entry) data ke dalam komputer dan
dilakukan pengolahan data dengan menggunakan program komputerisasi.
Analisis dalam penelitian ini menggunakan univariat dengan tujuan
untuk mendapatkan deskriptif dari tiap variabel. Selanjutnya menyajikan
hasil univariat dalam bentuk tampilan distribusi frekuensi dan persentase
dari karakteristik perawat (umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, masa
kerja, dan pernah atau tidak mengikuti pelatihan PPI), dan gambaran
perawat yang melaksanakan tindakan PPI dari hasil observasi yang telah
dilakukan. Sehingga mendapatkan hasil akhir yaitu kinerja perawat dalam
35
BAB 5
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil
Pada bab ini diuraikan hasil penelitian dan pembahasan mengenai
kinerja perawat dalam PPI di RSUP HAM. Hasil dari penelitian ini
diperoleh dengan cara mengobservasi langsung tindakan yang dilakukan
perawat ketika melakukan tindakan invasife saat merawat pasien dan
penyebaran informed consent serta lembar data demografi untuk data dari
perawat yang sudah bersedia menjadi responden untuk penelitian ini.
Hasil penelitian ini terdiri dari karakteristik demografi responden dan
juga hasil dari kinerja perawat dalam PPI. Hasil penelitian ini akan
dijabarkan sebagai berikut.
5.1.1. Karakteristik Demografi Responden
Diperoleh data bahwa rata-rata usia perawat berada pada rentang usia
dewasa awal sebanyak 53,5%, mayoritas berjenis kelamin wanita
sebanyak 97,7%, tingkat pendidikan kebanyakan DIII Keperawatan
sebanyak 76,7%, kebanyakan perawat telah bekerja di rumah sakit selama
lebih dari 3 tahun sebanyak 74,4%, dan hasil untuk perawat yang pernah
36
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi dan Persentase Data Demografi Perawat di RSUP HAM Medan ( n = 43 )
NO Data Demografi Frekunsi
( f )
5.1.2. Kinerja Perawat dalam PPI
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja perawat dalam PPI
yang dikaitkan dengan item penelitian, menunjukkan bahwa seluruh
perawat memiliki nilai yang baik dalam manajemen limbah sebanyak
100%, memakai sarung tangan 58,1%, cuci tangan 39,5%, memakai
masker 16,3%, dan pencegahan dari jarum suntik dan benda tajam lainnya
37
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi dan Persentase Tindakan Perawat dalam PPI di RSUP HAM Medan ( n = 43 )
2. Menggunakan sarung tangan
sebanyak 53,5%, hasil ini tidak jauh berbeda dengan nilai kinerja perawat
yang memiliki kinerja cukup baik yaitu sebanyak 48,8%.
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi dan Persentase Kinerja Perawat dalam PPI di RSUP HAM Medan (n=43)
Kinerja Perawanat dalam PPI Frekuensi ( f )
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan terkait kinerja
perawat dalam pengendalian pencegahan infeksi. Didapatkan hasil bahwa
sebanyak 53,5% perawat memiliki kinerja baik dalam PPI. Hasil ini tidak
38
Hal ini dikarenakan adanya item yang dilakukan dengan nilai baik tapi di
item lain memiliki nilai buruk. Berdasarkan hasil, hal ini bisa dilihat dari
perbedaan nilai item manajemen limbah dan penggunaan masker.
Hasil yang diperoleh seluruh perawat 100% mampu untuk
melakukan manajemen limbah dengan sangat baik. Perawat mampu
membedakan untuk membuang spuit jarum suntik ke tempat sampah
berwarna merah, handscoon yang sudah digunakan dibuang ketempat
sampah berwarna kuning, dan sampah seperti plastik atau tisu dibuang ke
tempat sampah berwarna hitam. Tindakan ini juga didukung dengan
adanya ditemukan tempat sampah dengan tiga warna di setiap troli yang
diletakkan di samping pintu perawatan pasien.
Hasil dari item manajemen limbah apabila dibandingkan dengan
item penggunaan masker memiliki nilai yang sangat jauh berbeda. Hasil
observasi yang telah dilakukan diperoleh data bahwa sebanyak 25,6%
perawat yang menggunakan masker ketika melakukan tindakan perawatan.
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan sarana seperti masker dapat
ditemukan di setiap troli yang diletakkan di samping pintu perawatan
pasien.
National Center for Emerging and Zoonotic Infectious Diseases
(2011) menyebutkan beberapa tindakan yang sebaiknya menggunakan
39
yang dilakukan perawat hanya menggunakan masker ketika melakukan
tindakan pada pasien yang memiliki diagnosa infeksius. Tindakan
perawatan seperti pemasangan kateter atau membuang cairan dari kateter
sebanyak 69,8% perawat tidak menggunakan masker. Hal ini berbeda
dengan penjelasan National Center for Emerging and Zoonotic Infectious
Diseases.
Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Puspasari (2015),
diperoleh data sebanyak 52,7% perawat memiliki praktik yang baik dalam
pencegahan infeksi nosokomial, dan nilai untuk perawat yang memiliki
praktik kurang baik sebanyak 47,3%.
Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kinerja seseorang.
Simanjuntak (2005) menyebutkan bahwa faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kinerja terdiri dari kompetensi individu, dukungan
organisasi, dan dukungan majemen. Kompetensi individu seperti
kemampuan, keterampilan, motivasi, dan sikap. Dukungan organisasi
seperti sarana dan prasarana. Dukungan majemen seperti hubungan antara
supervise atau kepala ruangan dengan perawat pelaksana.
Berdasarkan hasil dari penelitian bila dihubungkan dengan
pernyataan dari Simanjuntak tentang faktor yang mempengaruhi kinerja.
Hal ini bisa saja karena motivasi dan sikap dari perawat yang kurang
dalam pemahaman PPI, dan juga kurangnya dukungan supervisi untuk
memberikan motivasi kepada perawat pelaksana untuk lebih mematuhi
40
Dukungan organisasi seperti sarana dan prasarana. RSUP H. Adam
Malik sudah cukup memadai, karena sarana seperti cairan handrub ada
disetiap pintu ruangan perawatan pasien, handscoon juga ada di dalam
troli, tempat sampah dengan tiga warna yang ada di setiap sudut rumah
sakit, dan juga poster seperti pemakaian masker, dan juga poster cuci
tangan yang baik ada di setiap sudut rumah sakit.
Kemenkes RI (2012) menyatakan bahwa prinsip penting dari
keberadaan institusi pelayanan kesehatan berkualitas adalah
perlindungan bagi pasien, tenaga kesehatan, tenaga pendukung dan
komunitas masyarakat di sekitarnya dari penularan infeksi sehingga
penerapan PPI ini harus efektif dan efisien. Tindakan PPI seperti cuci
tangan, penggunaan masker, dan penggunaan jarum suntik perlu sangat
diperhatikan. Hal ini karena masih ada perawat yang melakukan ketiga
tindakan ini tidak sesuai dengan standar prosedur.
Hasil dari observasi yang telah dilakukan untuk tindakan cuci tangan
yang dilakukan perawat diperoleh data bahwa sebanyak 39,5% yang
melakukan tindakan cuci tangan dengan baik dan sesuai dengan ketetapan
WHO (2014), yaitu mencuci tangan sebelum dan setelah menyentuh
pasien dan juga mencuci tangan selama 15 detik dengan 6 langkah.
Ritchie & McIntyre (2015) menyatakan bahwa kebersihan tangan
41
tangan ini dengan baik dan sesuai dengan standar prosedur WHO (2014)
sehingga infeksi silang antara pasien dan perawat dapat dihindari.
Berdasarkan hasil dari observasi yang telah dilakukan, ditemukan
bahwa sebanyak 60,4% perawat yang melakukan teknik cuci tangan yang
tidak sesuai dengan standar prosedur dari WHO (2014). Hal ini bisa dilihat
ketika peneliti melakukan observasi, teknik cuci tangan dilakukan dengan
seadanya hanya mengusap telapak tangan satu kali usapan dengan cairan
cuci tangan.
Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh
Putra (2010), didapatkan hasil bahwa 100% perawat RSUP HAM Medan
memiliki tindakan cuci tangan yang baik. Hasil penelitian Puspitasari
(2012) yang juga berbeda didapatkan hasil bahwa 86,1% perawat RSUP
HAM Medan dinyatakan baik dalam tindakan cuci tangan.
Tindakan lain yang juga sebaiknya menjadi perhatian yaitu
pencegahan dari cedera jarum suntik dan benda tajam lainnya. Hasil yang
diperoleh yaitu 37,2% perawat yang menggunakan jarum suntik sesuai
dengan standar prosedur WHO (2014).
WHO (2014) menjelaskan bahwa penutupan kembali jarum suntik
setelah digunakan tidak perlu dilakukan, sebaiknya jarum dan syring-nya
langsung dibuang ke kotak khusus. WHO (2014) juga menyebutkan
melepaskan syring dari jarum suntik dengan tangan, membengkokkan,
ataupun mematahkan sebaiknya dihindari karena akan berbahaya bagi
42
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan ditemukan bahwa
sebanyak 62,8% perawat tidak patuh dalam penerapan standar prosedur
dari WHO (2014). Perawat masih melakukan tindakan yang bisa
membahayakan diri perawat sendiri dengan menutup kembali jarum suntik
dengan menggunakan dua tangan. Hal ini berbahaya bagi perawat ketika
melakukan perawatan pada pasien. Bahaya utama dari cedera benda tajam
adalah penyebaran virus hepatitis B, hepatitis C, dan HIV melalui darah
yang masih ada pada instrumen (Evans, Liz, dkk., 2012).
WHO (2007) menjelaskan tujuan dari penggunaan sarung tangan
yaitu untuk melindungi tangan dari kontak dengan darah, cairan tubuh,
secret, kulit yang tidak utuh, selaput lendir pasien dan benda yang
terkontaminasi. WHO (2014) juga menjelaskan bahwa untuk mengganti
sarung tangan dan mencuci tangan segera setelah selesai memberikan
perawatan pada pasien, dan menggunakan sarung tangan yang baru untuk
pasien yang akan diberikan perawatan.
Hasil dari observasi yang telah dilakukan diperoleh data bahwa
sebanyak 58,1% menggunakan handscone disetiap tindakan perawatan.
Hasil ini tidak jauh berbeda dengan perawat yang tidak menggunakan
sarung tangan ketika melakukan perawatan yaitu sebanyak 41,9%.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa kinerja perawat
43
adanya perawat yang tidak menggunakan sarung tangan ketika melakukan
perawatan seperti pemasangan infus.
Penelitian yang dilakukan oleh Darmawati, R., Amonito, C., &
Ernawati (2014) mendapatkan hasil bahwa perawat yang memiliki
pengetahuan tentang pencegahan infeksi kategori cukup sebanyak 57,1%
tidak patuh dalam menggunakan sarung tangan dalam pemasangan infus.
Darmawati, R., Amonito, C., & Ernawati menyebutkan bahwa hal ini
disebabkan perawat kurang menyadari dan sering mengabaikan standar
operasional pemakaian APD khususnya sarung tangan.
Berdasarkan penjelasan yang sudah disebutkan, sebaiknya kepala
ruangan lebih memperhatikan kinerja perawat dalam PPI dan memberikan
motivasi yang baik sehingga perawat akan lebih memperhatikan dan
meningkatkan kinerja dalam pencegahan infeksi. Pemberian reward dan
punishment juga bisa digunakan untuk lebih memotivasi perawat dalam
meningkatkan kinerjanya. Tim PPI juga sebaiknya lebih meningkatkan
evaluasi kinerja perawat dalam PPI sehingga nantinya kinerja perawat
dalam PPI akan semakin baik dan meningkatkan pelayanan mutu bagi
44
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari pengamatan yang telah dilakukan didapatkan
hasil bahwa kinerja perawat dalam PPI tergolong cukup baik. Hal ini
dikarenakan selisih antara jumlah perawat yang melakukan tindakan baik
dengan tindakan cukup hanya sedikit. Berdasarkan dari hasil observasi
yang telah dilakukan, tindakan yang dilakukan perawat dengan sangat baik
terkait PPI yaitu penanganan sampah dan penggunaan handscone. Hal ini
karena tersedianya fasilitas yang memadai, terdapat tempat sampah
dengan tiga warna disetiap sudut rumah sakit, dan juga tersedianya
handscoon pada troli di setiap pintu sebelum masuk ruangan perawatan.
Tindakan lain seperti cuci tangan, penggunaan masker, dan
pencegahan dari cedera jarum suntik masih tergolong bernilai cukup. Hal ini
dengan masih adanya perawat yang tidak mematuhi standar prosedur WHO
(2014) dengan baik.
6.2. Saran
Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disarankan sebagai berikut :
6.2.1. Bagi Pendidikan Keperawatan
45
keperawatan, khususnya dalam pencegahan cedera dari jarum suntik. Hal
ini bertujuan untuk membiasakan diri mahasiswa untuk melakukan
tindakan PPI sedari awal sebelum memasuki lingkungan rumah sakit.
6.2.2. Bagi Pelayanan Keperawatan
Pelatihan PPI sebaiknya lebih diperhatikan lagi dan tim PPI lebih
meningkatkan evaluasi pengaplikasian PPI ketika perawat melakukan
tindakan perawatan pada pasien, pemberian reward, dan juga sosialisasi
tentang PPI. Hal ini untuk mencegah penyebaran infeksi lebih luas, dan
juga untuk meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.
6.2.3. Bagi Penelitian Keperawatan
Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk melakukan penelitian
tentang PPI ini dengan kesepuluh item dan hasil penelitian ini bisa
6
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Standar Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI)
PPI adalah tonggak yang harus selalu diterapkan di semua fasilitas
pelayanan kesehatan dalam memberikan pelayanan kesehatan yang aman
bagi semua pasien dan mengurangi resiko infeksi lebih lanjut. Standar PPI
adalah langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi dasar yang
diperlukan untuk mengurangi resiko penularan agen infeksi dari yang
diketahui atau tidak diketahui sumber infeksi (Infection Control Team,
2015).
Prinsip utama dari kewaspadaan standar pelayanan kesehatan adalah
menjaga hygiene sanitasi individu, hygiene sanitasi ruangan dan sterilisasi
peralatan (Depkes RI, 2010). Berikut dijelaskan standar PPI tenaga
kesehatan (WHO, 2007):
2.1.1. Kebersihan Tangan / Hand Hygiene
Kebersihan tangan merupakan hal yang paling penting dan
merupakan pilar untuk PPI. Petugas kesehatan memiliki potensi terbesar
untuk menyebarkan mikroorganisme yang dapat mengakibatkan infeksi
karena berhubungan langsung dengan pasien, sehingga tindakan
7
Tindakan cuci tangan ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu
dengan menggunakan alkohol ataupun menggunakan sabun dan air
mengalir (Clinical Govermance, 2013). Antiseptik berbasis alkohol adalah
metode yang paling disukai untuk mendesinfeksi tangan, kecuali ketika
tangan terlihat kotor (misalnya, kotoran, darah, cairan tubuh), atau setelah
merawat pasien yang diketahui atau dicurigai terkena infeksi diare
(misalnya, clostridium difficile, norovirus), dimana penggunaan sabun dan
air akan lebih efektif (National Center for Emerging and Zoonatic
Infectious Diseases, 2011)
Hal-hal yang harus diperhatikan mengenai kebersihan tangan
(Kemenkes RI, 2012) :
1) Sebelum kebersihan tangan, cincin, jam dan seluruh perhiasan yang
ada di perhelangan tangan harus dilepas
2) Kuku harus tetap pendek dan bersih
3) Jangan menggunakan pewarna kuku atau kuku palsu karena dapat
menjadi tempat bakteri terjebak dan menyulitkan terlihatnya kotoran di
dalam kuku
4) Selalu gunakan air mengalir, apabila tidak tersedia, maka harus
menggunakan salah satu pilihan sebagai berikut :
4.1. Ember berkeran yang tertutup
4.2. Ember dan gayung, dimana seseorang menuangkan air sementara
8
5) Tangan harus dikeringkan dengan menggunakan paper towel atau
membiarkan tangan kering sendiri sebelum menggunakan sarung
tangan
Berikut dijelaskan cara-cara mencuci tangan yang benar (WHO, 2009) :
1. Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir
1) Basahi tangan dengan menggunakan air mengalir
2) Usapkan sabun keseluruh permukaan tangan
3) Ikuti teknik mencuci tangan yang benar seperti gambar di bawah
ini
4) Gosok tangan selama 15 detik tapi tidak lebih dari 3 menit,
meliputi seluruh permukaan tangan dan jari.
5) Bilas tangan dengan air dan keringkan secara menyeluruh dengan
handuk kering
6) Gunakan hands-free (misalnya siku) untuk mematikan keran.
2. Cuci tangan dengan menggunakan alkohol
1) Tindakan ini dilakukan ketika tangan mungkin terkontaminasi,
tetapi tidak tampak kotor (misalnya memasuki atau meninggalkan
bangsal/daerah klinis/pasien)
2) Langkah-langkah mencuci tangan dengan menggunakan antiseptic
bebasis alkohol sama seperti ketika melakukan cuci tangan dengan
9
4) Banyaknya cairan yang digunakan sesuai dengan jumlah yang
direkomendasikan oleh produk biasanya sekitar 3 ml
Selain itu WHO juga menetapkan lima waktu untuk pelaksanaan
hand hygiene (WHO, 2009) :
1) Sebelum menyentuh pasien
2) Sebelum prosedur aseptic
3) Setelah terpajan resiko cairan
4) Setelah menyentuh pasien
5) Setelah menyentuh benda-benda yang melingkupi pasien
Jika tenaga kesehatan berada dalam lima kondisi tersebut, petugas
harus melaksanakan hand hygiene agar tangan petugas tidak
terkontaminasi. Hand hygiene yang dilakukan sesuai dengan prosedur
yang ditetapkan, agar kuman yang terdapat pada tangan bisa dihilangkan.
2.1.2. Penggunaan Sarung Tangan
Pemakaian sarung tangan bertujuan untuk melindungi tangan dari
kontak dengan darah, cairan tubuh, secret, kulit yang tidak utuh, selaput
lender pasien dan benda yang terkontaminasi (WHO, 2007).
Dikenal 3 jenis sarung tangan, yaitu (Depkes RI, 2008):
1) Sarung tangan bersih, yaitu sarung tangan yang didisinfeksi tinggi.
Dan digunakan sebelum tindakan rutin pada kulit dan selaput lender
10
2) Sarung tangan steril, yaitu sarung tangan yang disterilkan dan harus
digunakan pada tindakan bedah. Bila tidak ada sarung tangan steril
baru dapat digunakan sarung tangan yang didisinfeksi tingkat tinggi.
3) Sarung tangan rumah tangga, yaitu satung tangan yang terbuat dari
latex atau vinil tebal, seperti sarung tangan yang biasa digunakan
untuk keperluan rumah tangga. Sarung tangan ini biasanya dipakai
pada waktu membersihkan alat kesehatan, dan permukaan meja kerja,
dll.
Prosedur pemakaian sarung tangan steril (Kemenkes, 2012):
1) Ambil salah satu sarung tangan dengan memegang sisi sebelah dalam
lipatannya.
2) Posisikan sarung tangan setinggi pinggang dan menggantung ke lantai,
sehingga bagian lubang jari-jari tangannya terbuka, lalu masukkan
tangan
3) Ambil sarung tangan kedua dengan cara menyelipkan jari-jari tangan
yang sudah memakai sarung tangan ke bagian lipatan (bagian yang
tidak tersentuh dengan kulit tangan)
4) Pasang sarung tangan dengan kedua dengan cara memasukkan jari-jari
tangan yang belum memakai sarung tanagan, kemudian luruskan
11
Prosedur melepas sarung tangan (Depkes RI, 2008) :
1) Pegang salah satu tangan pada lipatan lalu tarik ke arah ujung jari-jari
tangan sehingga bagian dalam dari sarung tangan pertama menjadi sisi
luar
2) Jangan dibuka sampai terlepas sama sekali, biarkan sebagian masih
berada pada tangan sebelum melepas sarung tangan yang kedua. Hal
ini penting untuk mencegah terpajannya kulit tangan yang terbuka
dengan permukaan sebelah luar sarung tangan
3) Biarkan sarung tangan yang pertama sampai disekitar jari-jari, lalu
pegang sarung tangan yang kedua pada lipatannya lalu tarik kearah
ujung jari hingga bagian dalam sarung tangan menjadi sisi luar
4) Pada akhir setelah hampir di ujung jari, maka secara bersama dan
dengan sangat hati-hati sarung tangan dilepas
5) Perlu diperhatikan bahwa tangan yang terbuka hanya boleh menyentuh
bagian dalam sarung tangan
2.1.3. Pemakaian Pelindung Wajah (Mata, Hidung, dan Mulut)
Gunakan masker ataupun pelindung mata untuk melindungi
membran mukosa mata, hidung, dan mulut selama aktivitas yang
berhubungan langsung dengan darah, cairan tubuh, sekresi, dan ekskresi
(WHO, 2007; Depkes RI, 2008).
1. Alat Pelindung Mata
Alat pelindung mata melindungi petugas dari percikan darah atau
12
mencakup kacamata (googles) plastic bening, kacamata pengaman,
pelindung wajah, dan visor. Kacamata koreksi atau kacamata dengan
lensa polos juga dapat digunakan, tetapi hanya jika ditambahkan
pelindung pada bagian sisi mata. Petugas kesehatan harus
menggunakan masker dan pelindung mata atau pelindung wajah, jika
melakukan tugas yang memungkinkan adanya percikan cairan secara
tidak sengaja ke arah wajah. Bila tidak tersedia pelindung wajah,
petugas kesehatan dapat menggunakan kacamata pelindung atau
kacamata biasa serta masker (Depkes RI, 2008).
2. Masker
Masker harus cukup besar untuk menutupi hidung, mulut, bagian
bawah dagu, dan rambut pada wajah (jenggot). Masker dipakai untuk
menahan cipratan yang keluar sewaktu petugas kesehatan atau petugas
bedah berbicara, batuk atau bersin serta untuk mencegah percikan
darah atau cairan tubuh lainnya memasuki hidung atau mulut petugas
kesehatan. Bila masker tidak terbuat dari bahan tahan cairan, maka
masker tidak efektif untuk mencegah kedua hal tersebut (Depkes RI,
2008).
National Center for Emerging and Zoonotic Infectious Diseases
(2011) menyatakan pemakaian masker sebaiknya digunakan:
13
penggunaannya dengan kacamata atau pelindung wajah untuk
melindungi mulut, hidung, dan mata
2) Ketika pemasangan kateter atau menyuntikkan material kedalam
kanal spinal atau subdural. Masker juga sebaiknya digunakan
ketika melakukan kemoterapi.
2.1.4. Apron dan gaun
Gaun pelindung digunakan untuk menutupi atau mengganti
pakaian biasa atau seragam lain, pada saat merawat pasien yang
diketahui atau dicurigai menderita penyakit menular melalui
droplet/airbone. Pemakaian gaun pelindung terutama adalah untuk
melindungi baju dan kulit petugas kesehatan dari sekresi respirasi
(Depkes RI, 2008).
Clinical Govermance (2013) menyebutkan aturan penggunaan
apron dan gaun:
1) Harus segera dilepaskan setelah tindakan selesai
2) Jangan pernah dipakai ke pasien/klien/area yang berbeda
3) Celemek mungkin memiliki warna-kode untuk tindakan tertentu
dan/atau area tertentu sesuai dengan kebijakan ditempat tersebut
(misalnya ketika menangani atau melayani makanan dalam area
klinik)
4) Jika ada resiko percikan dari darah, cairan tubuh, sekresi atau
14
5) Untuk mencegah kontaminasi, saat melepas gaun/apron, sisi yang
terluar harus dibalik ke sisi bagian dalam, digulung menjadi bola
dan segera dibunag sebagai limbah klinis
2.1.5. Pencegahan Cedera dari Jarum Suntik dan Benda Tajam Lainnya
Benda tajam misalkan jarum, pisau bedah, stitch cutter, ampul kaca,
dan setiap instrumen yang tajam. Bahaya utama dari cedera benda tajam
adalah penyebaran virus hepatitis B, hepatitis C, dan HIV melalui darah
yang masih ada pada instrumen tersebut (Evans, Liz, dkk., 2012).
Keselamatan injeksi mengacu pada penggunaan yang tepat dan
penanganan persediaan injeksi dan infus (misalnya syringe, needle,
perangkat fingerstik, tabung infus, botol obat). Praktek-praktek ini
dimaksudkan untuk mencegah penularan penyakit menular antara satu
pasien dan yang lain, atau antara pasien dan petugas kesehatan selama
persiapan dan pemberian obat parenteral (National Center for Emerging
Zoomotic Infectious Diseases, 2011).
WHO (2014) menjelaskan pencegahan cedera dan manajemen
injeksi:
1) Setiap pasien harus diinjeksi dengan benar dan hati-hati dan peralatan
yang telah digunakan harus dibuang. Syringe, needle atau peralatan
sejenisnya tidak bisa digunakan lagi
15
3) Batasi pengeluaran darah dan tes laboratorium seperlunya untuk
evaluasi diagnostik dan perawatan pasien
4) Jika penggunaan benda tajam tidak dapat dihindari, pastikan
pencegahan berikut diamati:
4.1. Jangan ganti tutup jarum yang telah digunakan
4.2. Jangan mengarahkan ujung jarum yang digunakan pada bagian
tubuh
4.3. Jangan lepaskan syringe bekas dari jarum suntik sekali pakai
dengan tangan, dan jangan membengkokkan, ataupun
mematahkannya
4.4. Buang syringe, needle, pisau bedah dan benda tajam lainnya di
tempat atau wadah tahan tusukan
5) Pastikan bahwa wadah tahan tusukan untuk benda tajam ditempatkan
sedekat mungkin dengan daerah dimana objek digunakan untuk
membatasi jarak antara penggunaan dan pembuangan. Jika wadah
benda tajam jauh, jangan pernah membawa benda tajam di tangan,
tetapi menempatkannya dalam bengkok atau wadah yang serupa untuk
membawa ke wadah benda tajam
6) Pastikan bahwa wadah tahan tusukan aman dengan tutup yang kuat
dan rapat dan diganti ketika sudah penuh ¾
7) Pastikan wadah ditempatkan di daerah yang tidak mudah diakses oleh
16
2.1.6. Hygiene respirasi / Etika Batuk
National center for emerging and zoonotic infectious diseases
(2011), menjelaskan untuk mencegah penularan infeksi pernafasan di
rumah sakit, langkah-langkah pencegahan infeksi berikut ini
diimplementasikan untuk semua orang yang berpotensi terinfeksi. Hal ini
berlaku untuk semua orang (misalnya, pasien dan anggota keluarga yang
menemani, pengasuh, dan pengunjung) dengan tanda-tanda dan gejala
penyakit pernafasan, termasuk batuk, rhinorhhea, atau peningkatan
produksi sekresi pernafasan
1. Identifikasi orang dengan potensial infeksi pernafasan
1) Tenaga kesehatan harus tetap waspada untuk setiap orang dengan
gejala infeksi pernafasan
2) Tanda-tanda yang ditimbulkan di area resepsionis
menginstruksikan pasien dan orang yang menemani untuk:
3) Keluhan pasien dengan adanya infeksi pernafasan selama registrasi
4) Praktek kebersihan pernafasan dan etika batuk dan memakai
masker wajah yang diperlukan
2. Tersedianya persediaan
Persediaan berikut diberikan di ruang tunggu dan area tunggu
umum lainnya:
17
3. Etika batuk
Terapkan etika kebersihan pernafasan/batuk, sebagai berikut:
1) Tutup mulut & hidung saat batuk/bersin dengan tisu
2) Buang tisu ke tempat sampah
3) Lakukan kebersihan tangan
4) Jika tisu tidak tersedia, bersinkan atau batukkan ke lengan bagian
dalam
2.1.7. Kebersihan Lingkungan
Mencegah terjadinya infeksi akibat lingkungan dapat diminimalkan
dengan melakukan pembersihan lingkungan, desinfeksi permukaan
lingkungan yang terkontaminasi dengan darah atau cairan tubuh,
melakukan pemeliharaan peralatan medis dengan tepat, mempertahankan
mutu air bersih, mempertahankan ventilasi udara yang baik (Depkes RI,
2008)
Prinsip dasar manajemen lingkungan :
1) Pastikan lingkungan kerja Anda rapi dan ‘bebas kacau’ untuk
memastikan pembersihan yang efektif dapat dilakukan
2) Pastikan semua peralatan/wadah digunakan untuk membersihkan
lingkungan bersih sebelum digunakan
3) Deterjen netral cocok untuk membersihkan lingkungan secara rutin
18
4) Alkohol dan deterjen tisu tidak cocok untuk membersihkan permukaan
besar dan tidak harus digunakan untuk mebersihkan lingkungan secara
rutin
5) Chlorhexidine (misalnya Hibiscrub dan agen antiseptik tangan lain)
tidak boleh digunakan untuk membersihkan lingkungan
6) Segera bersihkan tumpahan darah atau bahan infeksius lainnya
menggunakan cairan desinfektan
7) Hindari penggunaan karpet dan furniture dari bahan kain yang
menyerap di daerah kerja, laboratorium dan daerah pemrosesan
instrument
2.1.8. Penatalaksanaan Linen
Kain kotor /linen dalam pengaturan kesehatan dapat menimbulkan
potensi sejumlah besar patogen mikroorganisme, oleh karena itu penting
bahwa tindakan ini dilakukan (Clinical Governance, 2013).
Tangani linen yang sudah digunakan dengan hati-hati dengan
menggunakan APD yang sesuai dan membersihkan tangan secara teratur.
Resiko terpajan atau mengalami ISPA akibat membawa linen yang sudah
digunakan relatif kecil. Namun demikian membawa linen yang sudah
digunakan harus dilakukan dengan hati-hati (Depkes RI, 2008).
WHO (2014) menjelaskan manajemen linen sebagai berikut:
19
sebaiknya tenaga kesehatan menggunakan APD , seperti sarung tangan
karet dan apron.
2) Linen kotor harus ditempatkan pada tas anti bocor atau ember di lokasi
penggunaan dan permukaan wadah harus didesinfeksi (menggunakan
desinfektan yang efektif) sebelum dipindahkan dari ruang isolasi. Jika
ada kotoran padat seperti feses atau muntahan, bersihkan dengan
hati-hati dan siram ke dalam toilet sebelum linen ditempatkan di wadah.
Jika linen diangkut dari ruangan pasien harus dimasukkan ke dalam
wadah terpisah dan tidak boleh mengenai tubuh
3) Jika linen memiliki kotoran yang bisa menyebabkan penularan infeksi,
sebaiknya linen dibakar atau diproses oleh autoklaf, terutama jika
pembersihan aman dan desinfeksi tidak mungkin atau dapat diandalkan
4) Linen dimaksudkan untuk dicuci dan didekontaminasi, harus diangkut
langsung ke area cuci dalam wadah dan dicuci segera
5) Untuk pencucian suhu rendah, cuci kain dengan deterjen dan air, bilas
dan kemudian rendam dalam larutan klorin 0,05% selama kurang lebih
15 menit. Linen kemudian harus dikeringkan sesuai dengan standar
dan prosedur yang telah ditetapkan
6) Jika linen yang terkontaminasi harus dicuci menggunakan tangan,
karena mesin cuci tidak ada atau daya tidak terjamin, letakkan linen
kotor pada ember besar dan isi dengan air dan sabun. Rendam linen
dalam ember dan pastikan sudah benar-benar tertutup dengan rapat.
20
dengan klorin 0,05% dan rendam selama 15 menit. Keluarkan linen
dan kemudian bilas dengan air bersih.
2.1.9. Manajemen Limbah
Depkes RI (2008) menyebutkan limbah yang berasal dari rumah
sakit/sarana kesehatan dapat dibedakan menjadi:
1) Limbah rumah tangga, atau limbah non-medis, yaitu limbah yang tidak
kontak dengan darah atau cairan tubuh sehingga disebut sebagai resiko
rendah
2) Limbah medis, yaitu bagian dari sampah rumah sakit/sarana kesehatan
yang berasal dari bahan yang mengalami kontak dengan darah atau
cairan tubuh pasien dan dikategorikan sebagai limbah beresiko tinggi
dan bersifat menularkan penyakit. Limbah medis dapat berupa : limbah
klinis, dan limbah laboratorium.
3) Limbah berbahaya, adalah limbah kimia ynag mempunyai sifat
beracun. Limbah jenis ini meliputi produk pembersih, desinfektan,
obat-obatan sitoksik dan senyawa radio aktif.
Upaya penanganan limbah di pelayanan kesehatan meliputi
penanganan limbah cair dan limbah padat (sampah). Adapun teknik
penanganan sampah meliputi pemisahan, penanganan, penampungan
21
1. Pemisahan
Pemilahan dilakukan dengan menyediakan wadah yang sesuai
dengan jenis sampah medis. Wadah-wadah sampah tersebut biasanya
menggunakan kantong plastik berwarna.
1) Hitam, sampah yang tidak mengandung bahan menular, benda
tajam, dan produk medis, hanya untuk bahan non medis.
Pembuangan akhir adalah ke TPA.
2) Orange/Biru Muda
1. Orange, terdiri dari item yang terkontaminasi atau mungkin
terkontaminasi dengan darah dan/atau cairan tubuh.
2. Biru muda, untuk limbah untuk laboratorium /mikrobiologi.
3) Kuning, limbah yang sangat menular atau item dengan infeksi
tinggi atau yang terkontaminasi. Ini termasuk jaringan tubuh
manusia, alat kesehatan, dan kotak sampah benda tajam.
4) Merah, limbah kimia (Infection Control Team, 2015; Wigglesworh,
2014)
2. Penanganan
Penanganan sampah dari masing-masing sumber dilakukan
dengan cara sebagai berikut :
1) Wadah tidak boleh penuh atau luber. Bila wadah sudah terisi
¾
bagian maka segera dibawa ke tempat pembuangan akhir
2) Wadah berupa kantong plastik dapat diikat rapat pada saat akan
22
3) Pengumpulan sampah dari ruang perawatan atau pengobatan harus
tetap pada wadahnya dan jangan dituangkan pada gerobak (kereta
sampah) yang terbuka. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari
terjadinya kontaminasi disekitarnya dan mengurangi resiko
kecelakaan terhadap petugas, pasien, dan pengunjung
4) Petugas yang menangani harus selalu menggunakan sarung tangan
dan sepatu, serta harus mencuci tangan dengan sabun setiap selesai
mengambil sampah.
3. Penampungan sementara
Pewadahan sementara sangat diperlukan sebelum sampah
dibuang. Syarat yang harus dipenuhi wadah sementara yaitu :
1) Ditempatkan pada daerah ynag mudah dijangkau petugas, pasien
dan pengunjung
2) Harus bertutup dan kedap air serta tidak mudah bocor agar
terhindar dari jangkauan serangga, tikus, dan binatang lainnya
3) Hanya bersifat sementara dan tidak boleh lebih dari satu hari.
4. Pembuangan/Pemusnahan
Seluruh sampah yang dihasilkan pada akhirnya harus dilakukan
pembuangan atau pemusnahan. System pemusnahan yang dianjurkan
adalah dengan pembakaran. Pembakaran dengan suhu tinggi akan
23
2.1.10. Perawatan Peralatan Pasien
Perawatan peralatan yang digunakan pada pasien/klien bisa
terkontaminasi dengan darah, cairan tubuh, sekret, dan eksresi selama
pemberian perawatan dan harus dikelola dengan tepat untuk membatasi
resiko kontaminasi dengan mikroorganisme. Untuk keperluan pedoman
ini, peralatan perawatan harus item yang non invasif dan dapat digunakan
kembali misalnya stetoskop, infuse pumps, drip stands, dan termometer
(Clinical Govermance, 2013).
Perawatan perlatan pasien diklasifikasikan sebagai berikut (Infection
Control Team, 2015) :
1) Alat sekali pakai, yaitu peralatan yang digunakan sekali pada satu
pasien dan jika sudah digunakan segera dibuang. Jangan gunakan
kembali meskipun pasien yang sama
1.1. Needles dan syringes adalah alat sekali pakai. Tidak
diperbolehkan digunakan untuk lebih dari satu pasien atau
digunakan kembali untuk memasukkan obat
1.2. Jangan pernah memberi obat dari satu botol intravena untuk
beberapa pasien
2) Single patient use, yaitu peralatan yang dapat digunakan kembali pada
pasien yang sama
3) Reusable invasive equipment, yaitu peralatan sekali pakai yang
24
4) Reusable non-invasive equipment, yaitu peralatan yang bisa dipakai
lebih dari satu pasien namun harus selalu didesinfeksi sebelum
digunakan kembali, misalnya commode, dan patient transfer trolley
Perawatan peralatan pasien menurut Kemenkes RI (2012)
disebutkan, sebagai berikut:
1) Bersihkan dan sterilkan peralatan kritis sebelum digunakan
2) Bersihkan dan sterilkan peralatan semi kritis sebelum digunakan
3) Biarkan pembungkus alat mengering di sterilisator sebelum ditangani
untuk menghindari kontaminasi
4) Area pemrosesan intrumen meliputi area penerimaan, pembersihan dan
desinfeksi, persiapan dan pembungkusan, sterilisasi dan penyimpanan
5) Gunakan alat pembersih otomatis (Ultrasonic cleaner atau
washer-desinfector)
6) Pakai sarung tangan rumah tangga untuk membersihkan instrumen dan
prosedur desinfeksi
7) Pakai APD selama melakukan pembersihan peralatan
8) Gunakan system container atau pembungkus yang cocok dengan tipe
proses sterilisasi yang digunakan
9) Sebelum instrumen kritis dan semi kritis disterilisasi, periksa
kebersihan instrument, kemudian bungkus atau tempatkan insrumen
1
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Rumah sakit sebagai salah satu sarana kesehatan yang memberikan
pelayanan kepada masyarakat memiliki peran yang sangat penting dalam
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat (Depkes RI, 2008). Salah satu
cara untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat yaitu rumah sakit
harus mampu meminimalkan resiko infeksi kepada tenaga kesehatan,
pengunjung, dan pasien rumah di sakit (Kemenkes RI, 2014). Infeksi yang
terjadi di rumah sakit dan sering menyerang tenaga kesehatan, pengunjung,
ataupun pasien ini sering disebut dengan infeksi nosokomial.
WHO (2007) menyatakan infeksi nosokomial atau disebut juga
dengan hospital-acquired infections adalah infeksi yang terjadi lebih dari 48
jam setelah pasien masuk rumah sakit atau tempat pelayanan kesehatan
lainnya. Geffers & Gasmeier (2011), menyebutkan bahwa infeksi
nosokomial adalah komplikasi dari rawat inap yang menyebabkan
peningkatan morbiditas dan mortalitas. Infeksi ini memperpanjang rawat
inap, membutuhkan diagnosa dan pengobatan yang lebih baik, dan tambahan
biaya.
Infeksi ini terus meningkat dari 1% di beberapa Negara Eropa dan
Amerika, sampai lebih dari 40% di Asia, Amerika Latin, dan Afrika
2
14 negara menunjukkan 8,7% dari rumah sakit tersebut terdapat pasien
dengan infeksi nosokomial. Selain itu survey mengatakan bahwa 1,4 juta
orang di seluruh dunia menderita infeksi akibat perawatan di rumah sakit
(WHO, 2002).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Anshar (2013) di 11 rumah
sakit di Jakarta pada tahun 2004 menunjukkan 9,8% pasien rawat inap
menderita infeksi nosokomial. Penelitian di RSUP Haji Adam Malik Medan
pada tahun 2007 terdapat angka kejadian infeksi nosokomial di ruangan
RB1 sebesar 2,6% dan infeksi nosokomial plebitis 4,48% di ruangan CVCU
(Habni, 2009).
Standar indikator infeksi nosokomial pada pasien rawat inap adalah
1,5% (Depkes RI, 2008). Hal ini menunjukkan bahwa angka infeksi
nosokomial yang terjadi di rumah sakit masih di atas standar yang telah
ditetapkan. Berdasarkan pernyataan tersebut, diperlukan suatu aturan untuk
meminimalkan resiko infeksi yang terjadi di rumah sakit yaitu dengan
menerapkan PPI.
Wigglesworth (2014) menyebutkan bahwa PPI adalah langkah-langkah
pencegahan dan pengendalian infeksi dasar yang diperlukan untuk
mengurangi resiko penularan mikroorganisme dari yang diketahui atau tidak
diketahui sumber infeksinya. Sumber-sumber (potensial) infeksi termasuk
3
PPI ini terdiri dari 10 (sepuluh) tindakan, yaitu kebersihan tangan
(hand hygiene), penggunaan sarung tangan, pemakaian pelindung wajah
(mata, hidung, dan mulut), apron dan gaun, pencegahan cedera dari jarum
suntik dan benda tajam lainnya, hygiene respirasi (etika batuk), kebersihan
lingkungan, penatalaksanaan linen, manajemen limbah, dan perawatan
peralatan pasien (WHO, 2014).
PPI perlu diterapkan untuk meminimalkan resiko infeksi dan
memastikan keselamatan pasien/klien, tenaga kesehatan, dan pengunjung
yang mengunjungi rumah sakit dan pelayanan kesehatan lainnya (Evans,
2012). Kemenkes RI (2012) juga menyatakan bahwa prinsip penting dari
keberadaan institusi pelayanan kesehatan berkualitas adalah perlindungan
bagi pasien, tenaga kesehatan, tenaga pendukung dan komunitas
masyarakat di sekitarnya dari penularan infeksi sehingga penerapan PPI ini
harus efektif dan efisien.
Tindakan ini adalah tanggungjawab semua staff yang bekerja di
bidang kesehatan dan kepedulian sosial, dan merupakan bagian dari
program patient safety. Ritchie & McIntyre (2015) menyebutkan bahwa
beberapa alasan dari ketidakpatuhan staf kesehatan dalam melakukan PPI
yaitu karena tekanan waktu, dan adanya kegagalan dalam mematuhi aturan
pencegahan dan pengendalian infeksi yang paling dasar.
Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung (2007) didapatkan 22 perawat
tertusuk jarum ketika melakukan tindakan perawatan, tahun 2008 ada 12
4
penelitian di RSUD Kota Bandung tempat praktik, pengawasan dan
penerapan APD pada perawat pelaksana maupun mahasiswa praktik
keperawatan masih kurang baik, banyak perawat yang tidak menggunakan
APD seperti masker dan sarung tangan dalam memberikan layanan
kesehatan. Penelitian lain, yang dilakukan oleh Nurnjannah (2015) di RSUD
Deli Serdang menyatakan bahwa dari 43 perawat hanya 4 orang saja yang
melaksanakan cuci tangan dengan teratur.
Kinerja merupakan hasil karya nyata dari pekerjaan karyawan yang
dapat diukur secara kualitas maupun kuantitas sesuai dengan standar
pekerjaannya dalam suatu organisasi (Mangkunegara, 2009). Kinerja
seseorang dalam suatu organisasi dapat dinilai melalui penilaian kinerja,
untuk mengetahui apakah karyawan bekerja sesuai dengan tugas dan
tanggung jawabnya (Mangkunegara).
Berdasarkan penjelasan tersebut, peneliti tertarik untuk meneliti
tentang kinerja perawat dalam PPI di RSUP H. Adam Malik Medan. Alasan
peneliti memilih RSUP H. Adam Malik Medan karena rumah sakit tersebut
sudah menerapkan standar PPI ini, dan peneliti tertarik untuk melihat sudah
sejauh mana penerapan standar ini dilakukan di RSUP H. Adam Malik
Medan.
5
1.3. Tujuan Penelitian
Mengidentifikasi gambaran kinerja perawat dalam PPI seperti cuci
tangan, memakai sarung tangan, penggunaan masker, pencegahan cedera
dari jarum suntik dan benda tajam lainnya, dan manajemen limbah di RSUP.
H. Adam Malik Medan.
1.4. Manfaat Penelitian
1.4.1. Bagi Pendidikan Keperawatan
Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi pendidik keperawatan
untuk mengajarkan teknik yang benar dalam PPI bagi mahasiswa
keperawatan. Hal ini bertujuan untuk membiasakan diri mahasiswa
untuk melakukan tindakan PPI sedari awal sebelum memasuki
lingkungan rumah sakit.
1.4.2. Bagi Pelayanan Keperawatan
Memberikan informasi bagi komite PPI dalam memperbaiki kinerja
perawat dalam PPI untuk mengurangi resiko infeksi nosokomial di
pelayanan kesehatan dan juga mengembangkan kualitas perawat
dalam memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal kepada
masyarakat.
1.4.3. Bagi Penelitian Keperawatan
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan bagi
peneliti-peneliti lain yang ingin membahas masalah yang berkaitan
dengan penelitian ini dan dapat menjadi sumber referensi pada
xii
Judul Penelitian : Kinerja Perawat dalam Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI) di RSUP Haji Adam Malik Medan
Nama Mahasiswa : Mustika Dewi Pane
NIM : 121101075
Fakultas : Keperawatan Universitas Sumatera Utara Tahun Akademik : 2015/2016
ABSTRAK
Pengendalian dan Pencegahan Infeksi (PPI) adalah tindakan yang harus dipatuhi oleh perawat untuk mencegah terjadinya penyebaran infeksi nosokomial yang bisa menyebar dari pasien ke perawat ataupun sebaliknya. Tindakan PPI antara lain mencuci tangan, menggunakan sarung tangan dan masker ketika melakukan perawatan, berhati-hati ketika menggunakan jarum suntik dan benda tajam lainnya, dan juga mengerti dalam manajemen sampah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kinerja perawat dalam PPI. Desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling dengan kriteria sampel yaitu perawat yang melakukan tindakan invasif dengan jumlah sampel sebanyak 43 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja perawat dalam PPI dalam kategori baik sebanyak 53,5%, nilai ini tidak jauh berbeda dengan nilai kinerja dengan kategori cukup baik sebanyak 46,5%. Berdasarkan hasil ini terlihat perbedaan nilai yang sedikit sehingga dapat disimpulkan bahwa ada beberapa item kinerja yang memiliki nilai kurang yang perlu untuk ditingkatkan lebih baik lagi.