• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Komunitas Rumah Merah Putih Terhadap Bakat dan Minat Anak Jalanan di Kampung Ciheleut Bogor Jawa Barat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Pengaruh Komunitas Rumah Merah Putih Terhadap Bakat dan Minat Anak Jalanan di Kampung Ciheleut Bogor Jawa Barat"

Copied!
116
0
0

Teks penuh

(1)

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Mencapai Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh: Nurul Pratiwi NIM : 1112015000063

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

(2)
(3)
(4)

Jalanan

di

Kampung Ciheleut Bogor Jawa Barat yang disusun oleh Nurul

Pratiwi,

NIM

1L12015000063, Program Studi Pendidikan IPS, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta,

tealh diuji oleh dosen pembimbing pada 17 November 2016.

(5)
(6)

v  

ABSTRAK

NURUL PRATIWI. NIM 1112015000063. Pengaruh Komunitas Rumah Merah Putih Terhadap Bakat dan Minat Anak Jalanan di Kampung Ciheleut Bogor Jawa Barat. Skripsi. Jakarta: Program Studi Sosiologi Antropologi, Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial/IPS Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah. 2016.

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh komunitas Rumah Merah Putih terhadap bakat dan minat anak jalanan di Kampung Ciheleut Bogor, Jawa Barat. Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah korelasi dengan pendekatan kuantitatif.

Populasi dari penelitian ini adalah anak asuh komunitas Rumah Merah Putih sejumlah 30 anak asuh. Dalam penelitian ini, sampel dipilih 15 orang yang memenuhi kriteria penelitian yaitu berusia 11- 15 tahun. Instrumen penelitian dalam penelitian ini berupa angket/kuesioner dan wawancara. Metode angket digunakan untuk mengungkap variabel komunitas Rumah Merah Putih terhadap bakat dan minat anak jalanan yang sesuai dengan kondisi sesungguhnya. Uji validitas instrumen menggunakan teknik correted itemtotal correlation, dan uji reliabilitas menggunakan rumus Alpha Cronbach’s dengan jumlah responden 15 pada anak asuh komunitas Rumah Merah Putih. Uji prasyarat analisis menggunakan uji median. Uji hipotesis menggunakan teknik korelasi tata jenjang.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan mengenai Komunitas Rumah Merah Putih terhadap bakat dan minat anak jalanan di Kampung Ciheleut, Bogor, Jawa Barat dengan koefisien korelasi di dapat

ρhitung

sebesar 0,933

,

ρtabel

sebesar df 5% yaitu 0,521 dan 1% yaitu

0,654 maka

ρ

hitung 0,933>

ρ

tabel 0,521 dan 0,654 dan dari uji median didapatkan

hasil X2 sebesar 4,033 sedangkan x2α ; d.b.1 sebesar 3,841 maka X2 4,033 > x2α

; d.b.1. 3,841 dengan N= 15.

(7)

vi  

ABSTRACT

NURUL PRATIWI. NIM 1112015000063. Effect of Red and White House Community Talents and Interests Against Street Children in Kampung Ciheleut Bogor, West Java. Essay. Jakarta: Anthropology Sociology Program, Department of Education Social Science / Social Science Faculty and Teaching Tarbiyah State Islamic University Syarif Hidayatullah. 2016. The purpose of this study to determine the effect on the community of Rumah Merah Putih talents and interests of street children in Kampung Ciheleut Bogor, West Java. In this research method used is a correlation with a quantitative approach. The population of this research is in foster care community Red and White House number 30 foster children. In this study, the sample selected 15 people who met the study criteria are aged 11- 15 years. The research instrument in this study a questionnaire / questionnaire and interview. The questionnaire method used to reveal community variables Home Merah Putih on the talents and interests of street children in accordance with the actual conditions. Test the validity of the instrument using the technique correted item - total correlation, and reliability test using Cronbach's alpha formula with the number of respondents 15 to the foster care community of Rumah Merah Putih. Prerequisite test analysis using the median test. Test hypotheses using correlation techniques governance levels. The results show that there is a positive and significant impact on the Community House Red and White on the talents and interests of street children in Kampung Ciheleut, Bogor, West Java, with the correlation coefficients can ρhitung amounted to 0.933, ρtabel by df 5% ie 0.521 and 1% is 0.654 then ρhitung 0.933> ρtabel 0.521 and 0.654 and a median of test results obtained amounted to 4.033 while the x2 X2 α; d.b.1 amounted to 3.841 then 4.033 X2> x2 α; d.b.1. 3,841 with N = 15.

(8)

vii  

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum, wr.wb

Segala puja dan puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT dan

Rosul-Nya yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga skripsi ini

dapat terselesaikan. Skripsi ini disusun dan diajukan untuk melengkapi syarat

menyelesaikan studi S-1 Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas

Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Judul skripsi “Pengaruh Komunitas

Rumah Merah Putih Terhadap Bakat dan Minat Anak Jalanan di Kampung

Ciheleut Bogor Jawa Barat.”

Dalam proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapat bantuan

dari berbagai pihak, baik moril maupun materil, maka penulis mengucapkan

terima kasih yang tak terhingga kepada:

1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A., Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan

Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Dr. Iwan Purwanto, M.Pd., Ketua Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan

Sosial (IPS) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Prof. Dr. H. Rusmin Tumanggor, M.A., selaku dosen pembimbing skripsi,

yang senantiasa meluangkan waktu dan memberikan nasehat, saran dan kritik

membangun dalam menyelesaikan skripsi ini.

4. Syaripulloh, M.Si., selaku dosen pembimbing dua dan Sekretaris Jurusan

Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Universitas Islam Negeri Syarif

Hidayatullah Jakarta yang juga senantiasa meluangkan waktu dan

memberikan nasehat, saran dan kritik membangun dalam menyelesaikan

skripsi ini.

5. Dr. Ulfah Fajarini, M.Si., selaku dosen pembimbing akademik, yang

senantiasa meluangkan waktu dan memberikan nasehat, saran dan kritik

semasa kuliah.

6. Bapak dan Ibu Dosen Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS),

(9)

viii  

7. Pengelola Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Tarbiyah UIN

Syarif Hidayatullah Jakarta, terima kasih atas buku-bukunya dan pelayanan

yang telah diberikan kepada penulis.

8. Ayahanda Matroji dan Ibunda Nani Haerani, S.Pd.I., tercinta, kedua adik

tersayang adik Najah Rahmatika Nuzula dan M. Fawwaz Rabbani serta

keluarga yang telah memberikan motivasi penulis selama menempuh

pendidikan di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Negeri Islam

(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.

9. Founder Komunitas Rumah Merah Putih kak Aulia dan kak Indah serta pengurus anggota komunitas Rumah Merah Putih yaitu Novi, Aul, Naada,

Manda, Ratih, Andri, dan Maqqi yang telah memberikan izin dan bimbingan

kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.

10. Sahabat seperjuangan skripsi member “Laskar Skripsi Tujuh Bab”, QQ, Rika,

Aida, dan Rais yang selalu saling memberikan motivasi dan semangat satu

sama lain, jika penulis merasa galau tentang penyusunan skripsi ini. Terima

kasih atas kebersamaan dan pertemuan ini.

11. Sahabat-sahabat MA tersayang, Rahmi, Mia, Awa, Firdha, Lia, dan Mela.

Terima kasih atas dukungan motivasi dan semangat untuk penulis walau kita

masing-masing berbeda perguruan tinggi.

12. Bunda Ati dan Bunda Siti guru PAUD Kenanga yang mengajar di rumah

peneliti, yang selalu memberikan arahan dan saran bahwa menulis skripsi itu

mudah dan pasti bisa untuk mendapatkan gelar sarjana pendidikan.

13. Wali murid dari Bimbel Kenanga yang telah memberikan izin kepada penulis

jika jadwal les privat berubah-rubah karena penulis sedang membuat

penelitian skripsi.

14. Murid-murid dari Bimbel Kenanga, yaitu Akieko, Mieko, Zahra, Rizki, Anin,

Axel, Ezra, Krisna, Leo, dan Rifki yang telah memberikan semangat dan doa

untuk penulis agar skripsi nya cepat terselesaikan dan mendapat gelar

(10)

ix  

15. Anak asuh komunitas Rumah Merah Putih yang telah bersedia mengisi

angket dan selalu memberi semangat kepada penulis agar skripsi ini dapat

terselesaikan dengan baik.

16. Dan semua pihak yang telah membantu penulis,sehingga terselesaikannya

skripsi ini.

Atas bantuan mereka yang sangat berharga, penulis berdo’a semoga Allah

SWT memberikan balasan yang berlipat ganda sebagai amal shaleh dan ketaatan

kepada-Nya, Aamiin.

Harapan penulis semoga penyusunan skripsi ini akan dapat membantu

mahasiswa dalam penyusunan skripsi di semester akhir dan dapat menjadi acuan

pula bagi adik-adik kelas yang hendak pula akan mengerjakan skripsi.

Wassalamu’alaikum wr.wb

Jakarta, 29 November 2016

Penulis

(11)

x  

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN UJIAN MUNAQASAH ... i

LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI ... ii

LEMBAR UJI REFERENSI ... iii

SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH ... iv

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GRAFIK ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Pembatasan Masalah ... 7

D. Perumusan Masalah ... 7

E. Pertanyaan Penelitian ... 8

F. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 8

1. Tujuan Penelitian ... 8

a.Secara Akademis ... 8

b.Secara Terapan ... 8

2. Manfaat Penelitian ... 8

a.Secara Akademis ... 8

b.Secara Terapan ... 9

BAB II DESKRIPSI TEORITIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS ... 10

A. Deskripsi Teoritis ... 10

(12)

xi  

a. Definisi Komunitas ... 10

b. Sejarah Berdirinya Komunitas Rumah Merah Putih ... 13

c. Profil Komunitas Rumah Merah Putih ... 14

2. Bakat dan Minat ... 16

a. Pengertian Bakat ... 16

b. Pengertian Minat ... 19

c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Bakat ... 21

d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat ... 22

3. Anak Jalanan ... 23

a. Pengertian Anak Jalanan ... 23

b. Ciri-Ciri Anak Jalanan ... 24

c. Pengaruh Komunitas Rumah Merah Putih Terhadap Bakat dan Minat Anak Jalanan ... 25

B. Hasil Penelitian yang Relavan ... 26

C. Kerangka Berfikir... ... 27

D. Hipotesis Penelitian ... 29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 30

A. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ... 30

B. Metode Penelitian ... 30

C. Variabel Penelitian ... 30

D. Populasi dan Sampel ... 31

E. Definisi Konseptual ... 31

F. Definisi Operasional ... 33

G. Teknik Pengumpulan Data ... 33

H. Uji Coba Instrumen ... 36

1.Uji Validitas ... 36

2.Uji Reliabilitas ... 37

I. Teknik Pengolahan Data ... 38

J. Teknik Analisis Data ... 39

(13)

xii  

L. Sumber Data ... 42

M. Time Schedule ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 43

A. Hasil Penelitian ... 43

1.Gambaran Umum Komunitas Rumah Merah Putih ... 43

a.Sejarah Berdirinya Komunitas Rumah Merah Putih ... 43

b.Visi, Misi, dan Program Komunitas Rumah Merah Putih ... 43

c.Keadaan Pengurus, Kakak Tentor (Pengajar Kelas Bakat Minat), Anak Asuh, dan Struktur Organisasi Komunitas Rumah Merah Putih ... 47

d.Profil Komunitas Rumah Merah Putih ... 49

e.Hubungan Komunitas Rumah Merah Putih dengan Masyarakat.50 f.Hubungan Komunitas Rumah Merah Putih dengan Lembaga . .. 51

B. Deskripsi Data ... 52

C. Perhitungan Uji Coba Instrumen ... 59

1. Uji Validitas ... 59

2. Uji Reliabilitas ... 59

D. Uji Prasyarat Analisis Data ... 59

1.Uji Median ... 60

E. Uji Hipotesis ... 60

1. Teknik Korelasi Tata Jenjang... 60

F. Pembahasan Hasil Wawancara ... 62

G. Keterbatasan Penelitian ... 64

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 65

A. Kesimpulan ... 65

B. Saran ... 65

DAFTAR PUSTAKA ... 67

(14)

xiii  

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Bagan Struktur Kepengurusan Komunitas Rumah Merah Putih

(15)

xiv  

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Instrumen

Tabel 3.2 Pedoman Untuk Memberikan Interpretasi Koefisien Korelasi

(sumber: Metode Penelitian Pendidikan (Pendidikan Kuantitatif,

Kualitatif, dan R&D)

Tabel 3.3 Jumlah Pengamatan Dalam Dua Sampel

Tabel 3.6 Jadwal Penelitian Tahun 2016

Tabel 4.1 Program Kelas Minat Bakat

Tabel 4.2 Data Pengurus dan Kakak Tentor (Pengajar Kelas Minat Bakat)

Komunitas Rumah Merah Putih Kota Bogor

Tabel 4.3 Data Anak Asuh Komunitas Rumah Merah Putih Kota Bogor

Tabel 5.1 Data Hasil Angket Komunitas Rumah Merah Putih

Tabel 5.2 Tabel Distribusi Frekuensi Komunitas Rumah Merah Putih

Tabel 5.3 Tabel Means, Varians dan Simpangan Baku Komunitas Rumah

Merah Putih

Tabel 5.4 Interpretasi Kategori Komunitas Rumah Merah Putih

Tabel 5.5 Data Hasil Angket Bakat dan Minat Anak Jalanan

Tabel 5.6 Tabel Distribusi Frekuensi Bakat dan Minat Anak Jalanan

Tabel 5.7 Tabel Means, Varians dan Simpangan Baku Bakat dan Minat Anak

Jalanan

Tabel 5.8 Interpretasi Kategori Bakat dan Minat Anak Jalanan

Tabel 5.9 Indeks Korelasi antara Komunitas Rumah Merah Putih dengan

(16)

xv  

DAFTAR GRAFIK

Grafik 5.1 Komunitas Rumah Merah Putih (Variabel X)

(17)

xvi  

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Kuesioner Penelitian

Lampiran 2 Pedoman Wawancara Founder Rumah Merah Putih

Lampiran 3 Rangkuman Hasil Perhitungan Uji Validitas dan Reliablitas

Lampiran 4 Data Mentah Hasil Skor Angket Variabel X (Komunitas Rumah

Merah Putih)

Lampiran 5 Data Mentah Hasil Skor Angket Variabel Y (Bakat dan Minat

Anak Jalanan)

Lampiran 6 Tabulasi Data Pokok

Lampiran 7 Langkah-Langkah Membuat Tabel Distribusi Variabel X

(Komunitas Rumah Merah Putih)

Lampiran 8 Langkah-Langkah Membuat Tabel Distribusi Variabel Y (Bakat

dan Minat Anak Jalanan)

Lampiran 9 Perhitungan Uji Median

Lampiran 10 Perhitungan Korelasi Tata Jenjang

Lampiran 11 Tabel Korelasi Tata Jenjang (Nilai Rho)

Lampiran 12 Lembar Uji Referensi

Lampiran 13 Surat-Surat

Lampiran 14 Dokumentasi

(18)

1

Landasan yuridis atau hukum pendidikan dapat diartikan sebagai seperangkat konsep peraturan perundang-undangan yang berlaku dan dijadikan titik tolak atau acuan (bersifat material dan bersifat konseptual) dalam rangka praktek pendidikan dan studi pendidikan. Maka dari itu, landasan hukum pendidikan adalah dasar atau fondasi perundang-undangan yang menjadi landasan dan pegangan dalam melaksanakan pendidikan di suatu negara. Pada amanat Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 BAB II Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menyatakan bahwa tujuan dan fungsi pendidikan Nasional adalah “agar berkembangnya potensi peserta didik untuk menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.1

Sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 Ayat 1 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.2

Antara pendidikan dan perkembangan masyarakat tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Kemajuan suatu masyarakat dan suatu bangsa sangat ditentukan pembangunan sektor pendidikan dalam penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang sesuai dengan perkembangan zaman.3 Dalam

       1

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional

2

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 1 Ayat 1 (Bandung: Citra Umbara, 2006). Hal 71-72

3

(19)

 

pembangunan di Indonesia ini, pendidikan merupakan salah satu yang menjadi tolak ukur kemajuan suatu bangsa Indonesia. Bagaimana rakyat Indonesia mendapatkan hak mereka untuk mengenyam pendidikan sekolah selama dua belas tahun? Sudahkah mereka memperoleh pendidikan yang layak?

Namun, pada kenyataannya masih banyak rakyat Indonesia yang belum merasakan pendidikan yang layak. Mereka tidak dapat merasakan bagaimana merasakan duduk di bangku sekolah sebagaimana mestinya.

Tujuan pendidikan, sebagaimana diungkapkan oleh A. Tresna Sastrawijaya adalah mencakup kesiapan jabatan, keterampilan memecahkan masalah, penggunaan waktu senggang secara membangun, dan sebagainya karena tiap siswa/ anak mempunyai harapan yang berbeda. Sementara itu, tujuan pendidikan berkaitan dengan bidang studi dapat dinyatakan lebih spesifik. Misalnya dalam pelajaran bahasa untuk mengembangkan kemampuan berkomunikasi secara mahir secara lisan dan tulisan. Tujuan pendidikan secara umum seperti itu menyangkut kemampuan yang luas yang akan membantu siswa untuk berpartisipasi dalam masyarakat.4

Tahun 1999 pada konferensi dunia tentang anak berbakat di Turki, World Council for Gifted and Talented Children (WCGTC) melakukan suatu survei dengan wakil-wakil dari setiap negara yang hadir sebagai responden, dari hasil survei nyata bahwa jumlah tertinggi tentang adanya pelayanan pendidikan anak berbakat dicapai oleh negara Australia dan USA (31), berarti jangkauan pelayanan pendidikan anak berbakat paling banyak di ke dua negara tersebut. Indonesia menempati posisi ke enam (25) dari 14 negara, yaitu sesudah Australia (31), USA (31), Canada (27), New Zealand (26), dan Taiwan (26).5

Indonesia termasuk enam negara yang mempunyai kebijakan (mandat) nasional tentang pelayanan pendidikan anak berbakat, yaitu dalam

Undang-      

4

A. Tresna Sastrawijaya, Pengembangan Program Pengajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 1991), hal. 26. 

5

(20)

 

Undang Pendidikan Republik Indonesia nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UUSPN 1989) Pasal 8 ayat (2): bahwa “Warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak memperoleh perhatian khusus”. Hal ini dipertegas pada Pasal 24 ayat (1) bahwa setiap peserta didik pada suatu satuan pendidikan mempunyai hak “mendapat perlakuan sesuai dengan bakat, minat dan kemampuannya”, dan ayat (6) “menyelesaikan program pendidikan lebih awal dari waktu yang ditentukan”.6 Dari kebijakan (mandat) nasional tentang pelayanan pendidikan anak berbakat, bahwa pada kenyataannya tidak semua sekolah memberikan kesempatan untuk pendidikan anak berbakat. Walupun Indonesia termasuk kategori negara maju tetapi dalam realitas kebijakan tidak diikuti implementasinya, sehingga banyak warga Indonesia yang belum merasakan pendidikan khususnya untuk anak berbakat.

Sejalan dengan landasan hukum sitem pendidikan nasional menurut Undang-Undang, apabila ditinjau dari badan hukum suatu organisasi yang terdapat dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 17 Tahun 2013 pasal 1 ayat 1 tentang Organisasi Masyarakat menyatakan bahwa Organisasi Kemasyarakatan yang selanjutnya disebut Ormas adalah organisasi yang didirikan dan dibentuk oleh masyarakat secara sukarela berdasarkan kesamaan aspirasi, kehendak, kebutuhan, kepentingan, kegiatan, dan tujuan untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.7

Dari sudut pengertian Ormas terdapat juga fungsi Ormas yang terdapat dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 17 Tahun 2013 Pasal 6 yaitu Ormas berfungsi sebagai sarana:8

a. Penyalur kegiatan sesuai dengan kepentingan anggota dan/atau tujuan organisasi;

       6

IbId., h. 105 7

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan Pasal 1 Ayat 1

8

(21)

 

b. Pembinaan dan pengembangan anggota untuk mewujudkan tujuan organisasi;

c. Penyalur aspirasi masyarakat; d. Pemberdayaan masyarakat; e. Pemenuhan pelayanan sosial;

f. Partisipasi masyarakat untuk memelihara, menjaga, dan memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa; dan/atau

g. Pemelihara dan pelestari norma, nilai, dan etika dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 17 Tahun 2013 Pasal 10 ayat 1 menyatakan bahwa Ormas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 dapat berbentuk; a. Badan hukum; atau b. Tidak berbadan hukum.9 Dalam hal ini adanya Komunitas Rumah Merah Putih merupakan suatu komunitas yang tidak berbadan hukum karena tidak berbasis anggota dan tidak mendapatkan surat pengesahan badan hukum, tetapi Komunitas Rumah Merah Putih berdiri secara independen yang memiliki visi dan misi serta tujuan untuk pendidikan anak jalanan. Sebagaimana yang tertulis dalam Undang-Undang Republik Indonesia No. 17 Tahun 2013 Pasal 18 ayat 1 menyatakan dalam hal Ormas tidak berbadan hukum yang tidak memenuhi persyaratan untuk diberi surat keterangan terdaftar sebagaiman dimaksud dalam Pasal 16 dilakukan pendataan sesuai dengan alamat dan domisili.10 Serta Pasal 18 ayat 3 pendataan Ormas sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:11

a. Nama dan alamat organisasi; b. Nama pendiri;

c. Tujuan dan kegiatan; d. Susunan pengurus

Di zaman yang modern ini tentu bukanlah hal yang tidak asing lagi dengan istilah komunitas. Komunitas adalah suatu perkumpulan dari beberapa manusia yang memiliki satu kebutuhan, satu pandangan, dan satu

       9

Ibid., Pasal 10 ayat 1 10

Ibid., Pasal 18 ayat 1 11

(22)

 

tujuan yang sama serta salin berinteraksi untuk memberikan suatu hal yang bermanfaat bagi orang lain. Dari adanya suatu komunitas terciptalah rasa solidaritas yang tinggi antar sesama anggota komunitas. Tujuan terbentuknya suatu komunitas adalah agar dapat saling membantu dalam menghasilkan visi dan misi yang telah disepakati bersama dan dapat mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Hampir di setiap wilayah terdapat beberapa komunitas-komunitas yang memiliki visi dan misi berbeda-beda sesuai dengan bidangnya masing-masin, salah satunya komunitas dibidang pendidikan. Dari sudut pandang sistem pendidikan yang sangat memperhatikan di negara Indonesia ini.

Sistem pendidikan di Indonesia mungkin carut-marut. Kurikulum yang selalu berganti, kekacauan program Ujian Nasional, hingga mahalnya biaya “siluman” walau pendidikan gratis sudah berlaku. Di antara apatis dan keprihatinan, masih ada gerakan di masyarakat yang begitu peduli agar pendidikan bisa dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Kemajuan negeri ini di masa depan ada di tangan para generasi penerus, dan kepada merekalah bekal-bekal pengajaran yang berguna harus terus diberdayakan.12 Maka dari keprihatinan itulah, banyak para founder-founder yang mendirikan sebuah komunitas untuk kemajuan bangsa Indonesia ini dari keterpurukan yang mengancam generasi penerus masa depan.

Komunitas Rumah Merah Putih merupakan komunitas independen gerakan kepemudaan bidang pendidikan bagi anak-anak jalanan kota Bogor yang berfokus pada minat dan bakat. Komunitas ini berdomisili di kota Bogor, Jawa Barat. Rumah Merah Putih didirikan berdasarkan kenyataan mirisnya kehidupan sosial yang menimpa anak-anak jalanan. Anak-anak yang bekerja di jalanan seolah-olah telah kehilangan masa dini meraih impian dan cita-cita mereka.13

       12

http://www.apakabardunia.com/2013/05/10-komunitas-yang-mendidik-indonesia. Diakses pada tanggal 19 Juni 2016 pukul 21.41 WIB

13

(23)

 

Rumah Merah Putih didirikan sejak 20 Desember 2012 oleh dua orang wanita yang sangat memikirkan akan pentingnya pendidikan bagi anak jalanan yaitu bernama Aulia Rizqi Nur Abidi, S.Tp dan Indah Khoiriyah, S.Si.Besar harapan mereka untuk menjadikan komunitas Rumah Merah Putih sebagai wadah untuk mengekspresikan kreativitas dalam mewujudkan cita-cita anak-anak jalanan.

Kegiatan rutin yang dilakukan Rumah Merah Putih yaitu kegiatan kelas minat bakat yang diadakan setiap hari kamis dan sabtu di Kampung Mongol Ciheuleut dan kelas belajar yang diadakan setiap hari minggu di Warung Jambu. Kelas minat bakat yang terdapat di Rumah Merah Putih yaitu kelas tari, kelas menyanyi, kelas lukis, kelas keterampilan, dan kelas futsal. Kini, anak-anak asuh yang sudah mengikuti kegiatan rutin setiap minggunya kurang lebih 50 anak asuh dari gabungan anak asuh di Kampung Mongol dan di Warung Jambu dengan komposisi anak asuh berusia dari 4 tahun hingga 14 tahun.

Ada beberapa media surat kabar yang telah meliput kegiatan komunitas Rumah Merah Putih diantaranya Harian Bogor, Radar Bogor, Media Indonesia, Koran Sindo, dan ada salah satu dari Lembaga Pers Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang meliput kegiatan komunitas Rumah Merah Putih melalui alamat website yaitu http://.lpminstitut.com/2015/04/pendidikan-bagi-si-malang.htmlyang ditulis oleh Arini Nurfadilah.

Dalam website tersebut Arini mengutip dari founder Rumah Merah Putih, Indah Khoiriah memberi keleluasaan bagi siapa saja yang ingin bergabung menjadi bagian RMP. “Mudah, hanya perlu berkomitmen dan memiliki passion di bidang sosial dan anak-anak serta mengikuti program magang yang kami adakan,” ujar alumnus UIN Jakarta ini bersemangat.14

Sesuai dengan kondisi yang dipaparkan di atas. Maka dalam penelitian ini anak jalanan yang dijadikan responden adalah anak asuh komunitas

       14

Arini Nur Fadilah, Pendidikan Bagi Si Malang,

(24)

 

Rumah Merah Putih yang berada di kampung Ciheleut Kota Bogor, Jawa Barat. Untuk pemilihan respondennya dipilih secara acak baik anak asuh laki-laki atau perempuan. Komunitas ini dijadikan sample karena memiliki kriteria tertentu yang sesuai dengan objek yang peneliti inginkan dan sudah dikenal oleh khalayak masyarakat khususnya di wilayah kampung Ciheleut Kota Bogor, Jawa Barat.

Bertitik tolak dari latar belakang masalah yang telah diuraikan. Maka peneliti tertarik untuk meneliti, membahas, dan mengangkat sebuah judul skripsi, yaitu: “Pengaruh Komunitas Rumah Merah Putih Terhadap Bakat dan Minat Anak Jalanan di Kampung Ciheleut Bogor Jawa Barat”

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan. Maka masalah-masalah yang terkait dengan hal tersebut dapat diidentifikasikan sebagai berikut: a. Kurangnya pengetahuan akan pendidikan bakat dan minat khususnya bagi

anak jalanan di wilayah kampung Ciheleut kota Bogor.

b. Keadaan bakat dan minat anak jalanan di kampung Ciheleut, Bogor tidak dapat dikembangkan dengan baik.

c. Kurangnya perhatian orang tua terhadap bakat dan minat anak mereka. d. Biaya yang menjadi penghalang untuk mengembangkan bakat anak

jalanan.

C. Pembatasan Masalah

Untuk membatasi meluasnya permasalahan penelitian, maka masalah yang diteliti dibatasi pada:

Pengaruh komunitas Rumah Merah Putih terhadap bakat dan minat anak jalanan.

D. Perumusan Masalah

(25)

 

permasalahan yang telah disebutkan di atas, peneliti merumuskan masalah dalam penelitian ini yaitu “Apakah ada pengaruh komunitas Rumah Merah Putih terhadap bakat dan minat anak jalanan di kampung Ciheleut Bogor Jawa Barat?”

E. Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan masalah yang di atas, maka pertanyaan yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

a. Bagaimana keadaan bakat dan minat anak-anak jalanan di komunitas Rumah Merah Putih?

b. Seberapa besar pengaruh komunitas Rumah Merah Putih dalam menumbuhkan bakat dan minat anak jalanan?

F. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian

a. Secara Akademis

Secara akademis penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja konsep-konsep dan teori serta filsafat yang terkait dengan pengaruh komunitas Rumah Merah Putih terhadap bakat dan minat di kampung Ciheleut, Bogor Jawa Barat.

b. Secara Terapan

Secara terapan penelitian ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang pentingnya bakat dan minat untuk anak jalanan, sehingga pihak yang terkait dengan kondisi anak jalanan dapat membantu pendidikan mereka.

2. Manfaat Penelitian a. Secara Akademis

(26)

 

b. Secara Terapan

(27)

10 BAB II

DESKRIPSI TEORITIS DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritis

1. Komunitas Rumah Merah Putih a. Definisi Komunitas

Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki keterkaitan dan habitat yang sama. Dalam komunitas manusia, individu-individu di dalamnya dapat memiliki maksud, kepercayaan, sumber daya, preferensi, kebutuhan, resiko, kegemaran dan sejumlah kondisi lain yang serupa. Komunitas berasal dari bahasa latin communitas, yang berarti “kesamaan”, kemudian dapat diturunkan dari communis yang berarti “sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak”.1

Menurut Robbins dan Judge, “Organisasi adalah unit sosial yang secara sadar dikoordinasikan, terdiri dari 2 orang atau lebih yang berfungsi secara relatif berkelanjutan untuk mencapai tujuan bersama atau serangkain tujuan”.2

Dalam buku sosiologi yang ditulis Soejono Soekanto istilah

Community di terjemahkan sebagai masyarakat setempat. Istilah nama menunjuk pada warga sebuah desa, kota, suku atau bangsa. Istilah lainnya yaitu kelompok, itu besar atau kecil, hidup bersama sedemikian rupa sehingga merasakan bahwa kelompok tersebut dapat memenuhi kepentingan hidup yang utama.3

Pada umumnya sebuah komunitas memiliki tujuan visi dan misi yang sama. Antar anggota-anggota di dalam sebuah komunitas saling bekerja sama satu sama lain untuk mencapai suatu tujuan. Bentuk kerja

       1

Wanger, 2002:4, Pengertian Komunitas. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Komunitas Di akses pada tanggal 11 Oktober 2015 pukul 22.43 WIB

2

Wibowo, Perilaku Dalam Organisasi, (Rajawali Pers: Jakarta, 2014), hal. 1 3

(28)

sama tersebut seperti, kerja sama dalam hal kegiatan-kegiatan yang bersifat sosial misalnya, kegiatan untuk menggalang dana, bakti sosial, mengadakan seminar, ataupun kegiatan sosial lainnya yang bersifat positif dan bermanfaat untuk orang lain.

Dalam sebuah komunitas adanya pembagian dan peraturan kerja. Pembagian dan peraturan kerja tersebut berguna untuk para anggota komunitas dalam bekerja sama. Apabila sebuah komunitas tidak adanya pembagian dan peraturan kerja yang jelas, maka dapat dipungkiri komunitas tersebut tidak dapat berjalan dengan baik.

Stuart-Kotze melihat pentingnya mempelajari perilaku karena berkaitan dengan kinerja sumber daya manusia. Kinerja sumber daya manusia akan dapat meningkat apabila perilakunya sesuai dengan tuntutan pekerjaan. Oleh karenanya Stuart-Kotze mendukung perlunya

Behavior Kinetic yang merupakan pendekatan saintifik pada perubahan perilaku karena dapat menunjukkan empat fungsi penting sain: (1) mendeskripsikan, (2) menjelaskan, (3) memprediksi, dan (4) megontrol.4

Menurut Jeffrey Pfeffer, “Hanya 12% dari organisasi sekarang ini yang mempunyai pendekatan sistematik dan terus menerus dikualifikasi sebagai people-centered organization, karenanya memberikan keunggulan kompetitif.” 5

Tidak dapat dipungkiri dalam sebuah komunitas pasti mempunyai struktur organisasi yang berfungsi untuk mengkoordinasikan pola interaksi para anggota organisasi secara formal. Dalam hal ini struktur organisasi menetapkan pembagian tugas sesuai dengan posisinya masing-masing agar tercapainya visi dan misi yang telah ditetapkan.

       4

Stuart-Kotze. Sosiologi Suatu Pengantar (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada. 2006) hal. 13.

5

(29)

Kita menetapkan bahwa sebuah struktur organisasi mempunyai tiga komponen: kompleksitas, formalitas, dan sentralisasi.6 Berikut akan dijelaskan definisi dari kompleksitas, formalias, dan sentralisasi menurut Stephen P. Robbins.

Kompleksitas mempertimbangkan tingkat diferensiasi yang ada dalam organisasi. Termasuk di dalamnya tingkat spesialisasi atau tingkat pembagian kerja, jumlah tingkatan di dalam hierarki organisasi, serta tingkat sejauh mana unit-unit organisasi tersebar secara geografis.

Formalisasi adalah tingkat sejauh mana sebuah organisasi menyandarkan dirinya kepada peraturan dan prosedur untuk mengatur perilaku dari para pegawainya. Beberapa organisasi beroperasi dengan pedoman yang telah distandarkan secara minimum; yang lainnya, di antaranya organisasi yang berukuran kecil pun mempunyai segala macam peraturan yang memerintahkan kepada pegawainya mengenai apa yang dapat dan tidak dapat mereka lakukan. Sentralisasi

mempertimbangkan di mana letak dari pusat pengambilan keputusan. Di beberapa organisasi, pengambilan keputusan sangat disentralisasi. Masalah-masalah dialirkan ke atas, dan para eksekutif senior memilih tindakan yang tepat. Pada kasus lainnya, pengambilan keputusan didesentralisasi. Kekuasaan disebar ke bawah di dalam hierarki.7

Dari deifinisi komunitas tersebut maka peneliti dapat menganalisis bahwa suatu komunitas terbentuk karena adanya persatuan, persaudaraan, kumpulan, masyarakat. Dalam penelitian ini komunitas yang dimaksud adalah komunitas sosial.

Komunitas sosial adalah suatu kelompok teritorial yang membina hubungan para anggotanya dengan menggunakan sarana-sarana yang sama untuk mencapai tujuan bersama. Komunitas sosial ini merupakan kelompok sosial yang memiliki ciri tersendiri dalam hal kebersamaannya dan juga merupakan bagian dari masyarakat, tetapi

       6

Stephen P. Robbins, Alih bahasa: Jusuf Udaya, Lic., Ec, TEORI ORGANISASI Struktur, Desain & Aplikasi, (Jakarta: Arcan, 1994), hal. 6.

7

(30)

berbeda dengan kolektivitas atau kerumunan. Perbedaan ini dapat dianalisis dari pengertian kerumunan. Kerumunan adalah sekumpulan orang yang berbeda di suatu tempat, akan tetapi diantara mereka tidak berhubungan secara tetap dan tidak memiliki tujuan kebersamaan dan terjadi secara kebetulan beda halnya dengan komunitas yang memiliki tujuan kebersamaan dan terbentuk secara terencana.

b. Sejarah Berdirinya Komunitas Rumah Merah Putih

Komunitas Rumah Merah Putih merupakan komunitas independen gerakan kepemudaan bidang pendidikan bagi anak-anak jalanan kota Bogor yang berfokus pada minat dan bakat. Komunitas ini berdomisili di kota Bogor, Jawa Barat. Rumah Merah Putih didirikan berdasarkan kenyataan mirisnya kehidupan sosial yang menimpa anak-anak jalanan. Anak-anak-anak yang bekerja di jalanan seolah-olah telah kehilangan masa dini meraih impian dan cita-cita mereka.

Rumah Merah Putih didirikan sejak 20 Desember 2012 oleh dua orang wanita yang sangat memikirkan akan pentingnya pendidikan bagi anak jalanan yaitu bernama Aulia Rizqi Nur Abidi, S.Tp dan Indah Khoiriyah, S.Si. Tidak hanya sosok ke dua wanita yang hebat tersebut untuk mengelola komunitas Rumah Merah Putih. Mereka dibantu oleh delapan team yang terdiri dari dua orang laki-laki dan enam orang perempuan. Dari delapan team inilah yang membantu

founder Rumah Merah Putih untuk menjadi suatu komunitas yang dapat membantu pendidikan khususnya dibidang minat dan bakat bagi anak-anak jalanan di kota Bogor. Besar harapan mereka untuk menjadikan komunitas Rumah Merah Putih sebagai wadah untuk mengekspresikan kreativitas dalam mewujudkan cita-cita anak-anak jalanan.

(31)

di Kampung Mongol Ciheuleut dan kelas belajar (membaca, menulis, dan berhitung) yang diadakan setiap hari minggu di Warung Jambu.

Kelas minat bakat yang terdapat di Rumah Merah Putih yaitu kelas tari, kelas menyanyi, kelas lukis, kelas keterampilan, dan kelas futsal. Di dalam kelas minat bakat inilah anak-anak asuh komunitas Rumah Merah Putih diajarkan oleh para pengajar atau yang disebut kakak-kakak tentor yang ahli dibidangnya masing-masing. Dengan adanya kakak-kakak tentor ini, anak asuh komunitas Rumah Merah Putih dapat mengembangkan bakatnya yang nantinya diharapkan dapat terwujudnya cita-cita mereka.

Kini, anak-anak asuh yang sudah mengikuti kegiatan rutin setiap minggunya kurang lebih 50 anak asuh dari gabungan anak asuh di Kampung Mongol dan di Warung Jambu dengan komposisi anak asuh berusia dari 4 tahun hingga 15 tahun.

c. Profil Komunitas Rumah Merah Putih

Setiap suatu komunitas pasti memiliki visi dan misi untuk tercapainya tujuan yang diharapkan. Adapun visi dan misi komunitas Rumah Merah Putih sebagai berikut:

Visi

Menjadi komunitas yang peduli terhadap pendidikan anak marjinal berbasis pengembangan karakter

Misi

1) Membangun gerakan peduli pendidikan

2) Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam memenuhi hak pendidikan anak

3) Mendukung pendidikan formal anak marjinal

(32)

Beberapa program yang telah dilaksanakan oleh Rumah Merah Putih diantaranya :

1) Program Kakak Asuh; merupakan program dimana pengurus Rumah Merah Putih sebagai fasilitator menghimpun dana dari kakak di luar Rumah Merah Putih yang bersedia untuk membiayai sekolah dari anak didik Rumah Merah Putih. Adapun mekanisme dari program ini, yaitu dengan menghubungi salah satu pengurus Rumah Merah Putih yaitu Novita Sari sebagai penanggung jawab program, lalu kami mengadakan kesepakatan dengan pihak kakak asuh. Program ini telah mendapatkan amanah dari 4 orang kakak asuh.

2) Program RMP Peduli Akte; program dimana pengurus Rumah Merah Putih sebagai fasilitator menghimpun kelengkapan berkas anak didik Rumah Merah Putih untuk dibuat akte kelahiran. Program ini telah menghimpun berkas sebanyak 20 anak didik Rumah Merah Putih.

3) Program belajar rutin (Kelas Minat Bakat); program ini dilakukan rutin setiap hari Kamis dan Sabtu di Kampung Mongol Ciheleut. 4) Program Jalanan Berbagi (JalBer); program tahunan dalam rangka

mengisi bulan Ramadhan. Program ini dalam bentuk bakti sosial atau kunjungan ke panti di sekitar Bogor.

(33)
[image:33.595.63.568.148.746.2]

Gambar 2.1

Bagan Struktur Kepengurusan Komunitas Rumah Merah Putih

2. Bakat dan Minat a. Pengertian Bakat

Setiap orang memang dilahirkan dengan berbagai bakat yang berbeda-beda. Bakat adalah kemampuan yang merupakan sesuatu yang

“inherent” dalam diri seseorang, dibawa sejak lahir dan terakait dengan struktur otak. Biasanya kemampuan itu dikaitkan dengan intelegensi.8

Cattel, mengembangkan pengertian intelegensi sebagai “kombinasi sifat-sifat manusia yang mencakup kemampuan untuk pemahaman terhadap hubungan yang kompleks; semua proses yang terlibat dalam berpikir abstrak; kemampuan penyesuaian dalam pemecahan masalah” dan “kemampuan untuk memperoleh

       8

Conny Semiawan, Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, (Jakarta: PT Gramedia, 1997), hal. 11

Ketua Novita Sari

Sekretaris Naada Raachmawati Bendahara

Aulia Anggita Sari

Anggota Ismail Maqqi

Anggota Andrie Efendi

Anggota Nurul Pratiwi

Anggota Ratih Septiyanti

Anggota Amanda Yunita

Founder

(34)

kemampuan baru”. Ini berarti manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk meningkatkan diri sendiri, dengan menggunakan kemampuannya seoptimal mungkin dalam struktur yang dimilikinya.9

Bakat merupakan suatu kemampuan khusus yang dimiliki oleh setiap individu yang memerlukan rangsangan atau latihan agar bakat yang dimilikinya dapat berkembang dengan baik. Apabila seseorang sudah dapat diketahui bakat yang dimilikinya maka dengan mudah dapat diamati karena kemampuan bakat yang dimilikinya berkembang dengan pesat seperti kemampuan di bidang seni, olah raga, atau keterampilan. Sebaliknya bakat tidak akan berkembang jika lingkungan tidak memberikan kesempatan, dalam arti tidak ada rangsangan dan latihan yang baik. Dalam hal pengembangan bakat ini, makna pendidikan menjadi sangat penting artinya.

Pada sekolah tingkat dasar bakat belum begitu terlihat dalam tahun-tahun permulaan dibanding tahun-tahun selanjutnya. Barulah pada tingkat sekolah menengah atau perguruan tinggi, program pendidikan perlu memperhatikan dan mengupayakan proses belajar mengajar yang mampu merangsang pengembangan bakat. Karena hasil test inteligensi lebih banyak berhubungan dengan keberhasilan atau kemampuan bidang akademik, perencanaan pendidikan harus lebih memperhatikan kemampuan akademik dari pada kemampuan khusus seseorang.10

Menurut Guilford, “mengemukakan bahwa bakat itu mencakup tiga dimensi psikologis, yaitu dimensi perseptual, dimensi psikomotor, dan dimensi intelektual”.11

Dimensi perseptual meliputi kemampuan persepsi, yang mencakup: kepekaan pengindraan; perhatian; orientasi terhadap waktu;

       9

Cattel, Perspektif Pendidikan Anak Berbakat, (Jakarta: PT Gramedia,1971) hal. 11-13 10

Enung Fatimah, Psikologi Perkembangan (Perkembangan Peserta Didik), (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hal. 34.

11

(35)

luasnya daerah persepsi; kecepatan persepsi, dan sebagainya. Dimensi psikomotor mencakup enam faktor, yaitu: kekuatan; impuls; kecepatan gerak; ketelitian (yang terdiri atas dua macam: kecepatan statis yang menitikberatkan pada posisi dan ketepatan dinamis yang menitikberatkan pada gerakan); koordinasi; dan keluwesan (flexibility).12

Dimensi intelektual meliputi lima faktor berikut:

1) Faktor ingatan, yang mencakup: substansi; relasi; dan sistem.

2) Faktor ingatan, mengenai pengenalan terhadap: keseluruhan informasi; golongan (kelas); hubungan-hubungan; bentuk atau struktur; dan kesimpulan.

3) Faktor evaluatif, yang meliputi: identitas; relasi-relasi; sistem; dan problem yang dihadapi.

4) Faktor berpikir konvergensi, yang meliputi: nama-nama; hubungan-hubungan; sistem-sistem; transformasi; dan implikasi-implikasi yang unik.

5) Faktor berpikir divergen meliputi: menghasilkan unit-unit, seperti:

word fluency, ideational fluency; pengalihan kelas-kelas secara spontan; kelancaran dalam menghasilkan hubungan-hubungan; menghasilkan sistem, seperti expressional fluency; transformasi divergen; dan susun bagian-bagian menjadi garis besar atau kerangka.13

Renzulli mengemukakan 3 komponen yang saling berhubungan untuk menentukan keberbakatan seseorang, yakni:14

1) Komponen kemampuan: kemampuan di atas rata-rata (above average ability). Pada komponen ini keberbakatan ditentukan oleh kondisi luar biasa yang dimiliki seseorang dan yang bisa dinilai (diukur) dengan pendekatan psikometri. Misalnya kemampuan

       12

Ibid., hal. 71. 13

Ibid., hal. 71.

14

(36)

umum (general mental abilities) atau kemampuan khusus (specific abilities). Suatu kondisi yang pada dasarnya diperoleh dan dibawa dari lahir.

2) Komponen “task commitment”. Komponen ini adalah komponen non-intelektif yang menjadi sumber dorongan dan pengarahan untuk memperlihatkan sesuatu. Komponen ini sejalan dengan apa yang telah dikemukakan oleh Thomas A. Edision: “Genius is one percent inspiration and ninety-nine percent perspiration”.

3) Komponen kreativitas. Keberbakatan seseorang ternyata tergantung pula dari unsur kreativitas seperti: keaslian

(originalitas), mencari dan mencipta hal-hal yang baru dan kekhususan yang diperlihatkan dan dipergunakan untuk mencapai sesuatu.

Dari deifinisi bakat tersebut maka peneliti dapat menganalisis bahwa bahwa bakat adalah kemampuan dasar seseorang untuk belajar dalam tempo yang relatif pendek dibandingkan orang lain, namun hasilnya justru lebih baik. Bakat merupakan potensi yang dimiliki oleh seseorang sebagai bawaan sejak lahir. Contoh seseorang yang berbakat melukis akan lebih cepat mengerjakan pekerjaan lukisannya dibandingkan seseorang yang kurang berbakat.

b. Pengertian Minat

Suatu “minat” telah diterangkan sebagai “sesuatu dengan apa anak mengidentifikasikan keberadaan pribadinya”. Minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih.15Mereka memilih sesuai hati nurani yang timbul, sehingga minat yang ada dalam diri seseorang dapat terlaksanakan apabila adanya tindakan dari diri mereka masing-masing.

       15

(37)

Minat merupakan salah satu faktor psikis yang membantu dan mendorong individu dalam memberi stimulus suatu kegiatan yang dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang hendak dicapai. Ditinjau dari segi bahasa, minat adalah “kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu; gairah; keinginan”16

Sedangkan minat menurut istilah yang dikemukakan oleh beberapa ahli psikologi adalah sebagai berikut:

Alisuf Sabri menjelaskan bahwa:

“Minat (interst) adalah kecenderungan untuk selalu memperhatikan dan mengingat sesuatu secara terus menerus. Minat ini erat kaitannya dengan perasaan terutama perasaan senang, karena itu dapat dikaitakan minat itu terjadi karena sikap senang kepada sesuatu. Orang yang berminat kepada sesuatu berarti sikapnya senang kepada sesuatu itu”.17

Menurut Muhibbin Syah dalam buku Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru menerangkan bahwa minat adalah “ kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu”.18

Menurut H. Djaali dalam buku Psikologi Pendidikan

menerangkan bahwa minat adalah rasa lebih suka dan keterkaitan pada satuhal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan suatu di luar diri, semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, maka semakin besarnya.19

Sementara itu, Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab mengatakan bahwa:

“Minat juga diartikan sebagai suatu kecenderungan untuk memberikan perhatian dan bertindak terhadap orang, aktivitas atau

       16

Tim Penyusun Kamus Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 2008), hal. 957

17

Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 2007), hal. 84. 18

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2001), hal. 136.

19

(38)

situasi yang menjadi objek dari minat tersebut dengan disertai perasaan senang. Dalam batasan tersebut terkandung suatu pengertian bahwa di dalam minat ada pemusatan perhatian subjek, ada usaha (untuk mendekati, mengetahui, memiliki, menguasai dan berhubungan) dari subjek yang dilakukan dengan perasaan senang, ada daya penarik dari objek”.20

Ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi minat, apabila ditinjau dari pengertian bahwa minat merupakan rasa suka atau senang yang timbul dalam diri setiap individu pada suatu hal atau aktivitas. Minat terhadap suatu hal dapat diperoleh karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya minat tersebut di antaranya adalah bakat, kemampuan, dan cita-cita.

Dari beberapa pendapat para tokoh di atas dapat disimpulkan bahwa minat adalah suatu keinginan seseorang yang erat kaitannya dengan perasaan senang (positif) terhadap sesuatu tindakan yang dianggapnya berharga atau sesuai dengan kebutuhan yang ada pada dirinya sehingga dapat memberi kepuasan kepada dirinya.

c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Bakat

Faktor-faktor yang mempengaruhi bakat dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1) Faktor internal, faktor ini meliputi kematangan fisik atau kematangan biologis. Kematangan juga terjadi dari segi mentalnya.

2) Faktor eksternal, yang mencakup lingkungan dan pengalaman. Lingkungan yang baik akan memfasilitasi perkembangan bakat yang dimiliki individu yang bersangkutan.21

       20

Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikolog: Suatu Pengantar, (Jakarta: Prenada Media, 2004), hal. 263.

21

(39)

Dari faktor-faktor yang mempengaruhi bakat maka peneliti dapat menganalisis bahwa bakat terjadi karena adanya faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti faktor kematangan biologis serta faktor lingkungan dan pengalaman. Tanpa adanya kedua faktor tersebut maka bakat tidak akan terjadi dengan baik dalam diri seseorang. Maka dari faktor inilah harus terpenuhi agar bakat berkembang dengan baik..

d. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi minat menurut Crow and Crow adalah :

1) Faktor pendorong dari dalam (The factor inner urge)

Merupakan rangsangan yang datang dari lingkungan/ ruang lingkup yang sesuai dengan keinginan/kebutuhan seseorang akan mudah menimbulkan minat : cenderung terhadap belajar, dalam hal ini seseorang mempunyai hasrat ingin tahu terhadap ilmu pengetahuan.

2) Faktor motif sosial (The factor of social motif)

Adalah minat seseorang terhadap obyek/suatu hal, disamping hal dipengaruhi oleh faktor dalam diri manusia juga dipengaruhi oleh motif social, misalnya: seseorang berminat pada prestasi tertinggi agar dapat status sosial yang lebih tinggi pula.

3) Faktor emosi (Emosional Factor)

Faktor perasaan dan emosi mempunyai pengaruh terhadap subyek misalnya : perjalanan sukses yang dipakai seseorang dalam sesuatu kegiatan tertentu dapat membangkitkan perasaan senang dan dapat menambah semangat/ kuatnya minat dalam kegiatan tersebut.22

       22

(40)

3. Anak Jalanan

a. Pengertian Anak Jalanan

Pengertian mengenai anak marjinal atau anak jalanan sangat banyak sekali, salah satunya adalah pengertian yang dikemukakan oleh PBB, sebagaimana PBB mengemukakan bahwa anak jalanan adalah mereka, anak-anak yang menghabiskan waktunya untuk melakukan berbagai aktivitas, baik itu bekerja, bermain dan aktivitas lainnya. Selain itu ada juga pengertian anak jalanan adalah, “anak jalanan itu berusia di antara tujuh hingga lima belas tahun yang mana mereka memilih untuk mencari penghasilan di jalanan, yang tidak jarang menimbulkan konflik ketenangan, ketentraman dan kenyamanan orang lain di sekitarnya, serta tidak jarang membahayakan dirinya sendiri”.23

Anak jalanan dilihat dari sebab dan intensi mereka berada di jalanan memang tidak dapat disamaratakan. Dilihat dari sebab, sangat dimungkinkan tidak semua anak jalanan berada dijalanan karena tekanan ekonomi, boleh jadi karena pergaulan, pelarian, tekanan orang tua, atau atas dasar pilihannya sendiri. Hal ini senada juga dengan yang diungkapkan oleh Saparinah Sadli bahwa ada berbagai faktor yang saling berkaitan dan berpengaruh terhadap timbulnya masalah gelandangan, antara lain: faktor kemiskinan (struktural dan pribadi), faktor yang berhubungan dengan urbanisasi dan masih ditambah lagi dengan faktor pribadi seperti tidak disiplin, biasa hidup sesuai dengan keinginannya sendiri dan berbagai faktor lainnya.24

Menurut Departemen Sosial RI, anak jalanan adalah “anak yang sebagian besar menghabiskan waktunya untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya”.25

       23

Soedijar 1998, Pengertian Anak Jalanan  www.caksandi.com/pengertian-anak-jalanan-dari-para-ahli-secara-garis-besar-/ diakses pada tanggal 10 Oktober 2015 pukul 22.21 WIB

24

Armai Arief, “Upaya Pemberdayaan Anak Jalanan” Artikel diakses pada 13 Oktober 2015 dari www.bpk.go.id/publikasi/mp87102002xxii55.pdf

25

(41)

UNICEF memberikan batasan tentang anak jalanan yaitu: street child are those who have abandoned their homes, school and

immediate communities before they are sixteen years of age, and have

drifted into nomadic street life (anak jalanan merupakan anak-anak berumur dibawah 16 tahun yang sudah melepaskan diri dari keluarga, sekolah dan lingkungan masyarakat terdekatnya, larut dalam kehidupan yang berpindah-pindah di jalan raya).26

Dari definisi anak jalanan tersebut peneliti dapat menyimpulkan bahwa anak jalanan adalah seseorang yang masih belum dewasa (secara fisik dan physkis) yang menghabiskan sebagian besar waktunya di jalanan dengan melakukan kegiatan- kegiatan untuk mendapatkan uang guna mempertahankan hidupnya yang terkadang mendapatkan tekanan fisik atau mental dari lingkungannya.

b. Ciri-Ciri Anak Jalanan

Berdasarkan hasil kajian lapangan, membedakan tiga kelompok anak jalanan, yaitu:27

1) Children on the street, yaitu anak-anak yang memiliki kegiatan ekonomi sebagai pekerja anak di jalan, namun masih memiliki hubungan yang kuat dengan orang tua dan keluarganya. Sebagian penghasilan mereka di jalan diberikan kepada orang tuanya. Fungsi anak jalanan pada kategori ini adalah untuk membantu perekonomian keluarganya.

2) Children of the street, yaitu anak-anak yang berpartisipasi penuh di jalan, baik secara sosial maupun ekonomi. Beberapa diantara mereka masih mempunyai hubungan dengan orang tuanya, tapi frekuensi pertemuan tidak menentu. Dalam kategori ini banyak anak-anak yang karena suatu sebab biasanya kekerasan, lari atau pergi dari rumah. Anak dalam kategori ini sangat rawan terhadap

      

26

Armai Arief, “Upaya Pemberdayaan Anak Jalanan” Artikel diakses pada 13 Oktober 2015 dari www.bpk.go.id/publikasi/mp87102002xxii55.pdf

27

(42)

perlakuan salah, baik secara sosial emosional, fisik maupun seksual.

3) Children from families of the street, yaitu anak yang berasal dari keluarga yang hidup di jalanan. Walaupun mereka memiliki hubungan kekeluargaan yang cukup kuat, tetapi hidup mereka terombang-ambing dari satu tempat ke tempat yang lain dengan segala resikonya. Salah satu ciri dari kategori ini adalah sejak anak masih bayi bahkan masih dalam kandungan sudah hidup di jalanan, mudah ditemui di kolong jembatan, rumah-rumah liar di sepanjang rel kereta api, dan sebagainya.

Anak-anak jalanan yang berada di Komunitas Rumah Merah Putih pada umumnya termasuk dalam kategori Children on the street dan Children of the street.

.

c. Pengaruh Komunitas Rumah Merah Putih Terhadap Bakat dan Minat Anak Jalanan

Sebuah komunitas yang mementingkan akan pendidikan anak jalanan khususnya dibidang bakat dan minat harus dipertahankan, agar mereka dapat mengembangkan kreativitas melalui bakat yang mereka punya. Dalam komunitas Rumah Merah Putih ini anak jalanan juga dapat merasakan bagaimana caranya bakat mereka dapat tersalurkan dengan baik.

(43)

B. Hasil Penelitian Yang Relavan

Ada tiga Ada tiga penelitian yang relavan terkait dengan Komunitas Pendidikan dan Anak jalanan diantaranya adalah :

1. Skripsi yang berjudul Peran Sekolah Masjid Terminal (MASTER) di Depok Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Anak Jalanan Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang ditulis oleh Ajami Solichin dengan nomer induk 109015000045 merupakan mahasiswa Jurusan Pendidikan IPS FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyatakan bahwa keberadaan sekolah MASTER telah memberikan peran besar dalam meningkatkan motivasi belajar mereka sebagai anak jalanan. Para anak jalanan beralasan bahwa selain mendapatkan pelajaran formal mereka juga mendaptkan pelajaran lain seperti kesenian, mengaji, daur ulang dan pelatihan skill lainnya.28

2. Skripsi yang berjudul Peran Komunitas Save Street Child dalam Meningkatkan Kemandirian Anak Jalanan di Malioboro Yogyakarta yang ditulis oleh Cika Fauziyah dengan nomer induk 11230019 mahasiswa Jurusan Pengembangan Masyarakat Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peran komunitas Save Street Child Yogyakarta dalam meningkatkan kemandirian anak jalanan di SSCJ meliputi dua faktor yaitu faktor yang mempengaruhi dan faktor yang kurang mempengaruhi. Faktor yang mempengaruhi diantaranya: faktor pendidikan, faktor interaksi sosial, dan faktor intelegensi. Sedangkan faktor yang kurang mempengaruhi dalam kemandirian anak jalanan diantaranya: faktor lingkungan dan faktor pola asuh orang tua.29

3. Yudit Oktaria Kristiani Pardede dalam jurnal yang berjudul “Konsep Diri Anak Jalanan Usia Remaja” adalah mahasiswa Fakultas Psikologi

       28

Ajami Solichin, Peran Sekolah Masjid Terminal (MASTER) di Depok Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Anak Jalanan Tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) (FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta), 2014.

29

(44)

Universitas Gunadarma, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa secara umum konsep diri yang terbentuk pada diri subyek adalah konsep diri yang negatif. Hal ini terlihat dari beberapa bagian dari subyek yang sebagian besar memandang dirinya secara negatif. Hal tersebut juga dapat diakibatkan oleh beberapa faktor yang membentuk konsep diri subyek ke arah negatif, yakni orang tua, kawan sebaya, dan masyarakat.30

C. Kerangka Berfikir

Berdasarkan latar belakang dan landasan teori yang telah dikemukakan sebelumnya, maka dapat diambil suatu kerangka pemikiran sebagai berikut. Adanya komunitas Rumah Merah Putih, dalam mengembangkan bakat dan minat anak jalanan diharapkan dapat tersalurkannya bakat dan minat meraka dengan baik agar tujuan dan visi misi dari komunitas Rumah Merah Putih tercapai secara optimal.

Penelitian ini ditulis untuk mengukur komunitas Rumah Merah Putih terhadap bakat dan minat anak jalanan agar dapat tercapainya program kerja dari komunitas Rumah Merah Putih itu sendiri dan diharapkan agar cita-cita anak jalanan dapat tercapai melalui program kelas bakat dan minat ini. Dalam penelitian ini komunitas yang dimaksud adalah komunitas dibidang sosial. Komunitas sosial adalah suatu kelompok teritorial yang membina hubungan para anggotanya dengan menggunakan sarana-sarana yang sama untuk mencapai tujuan bersama. Bakat dan minat adalah sesuatu yang ada dalam diri seseorang yang saling berkaitan satu sama lain. Dapat disimpulkan bahwa diharapkan komunitas Rumah Merah Putih dapat menyalurkan bakat dan minat anak jalanan yang mereka punya agar suatu saat nanti mereka dapat mengembangkan bakatnya sehingga meraka merasa senang dengan bakat yang dimilikinya.

       30

(45)
[image:45.595.37.570.200.729.2]

Berikut bagan kerangka berfikir dari penelitian ini tentang pengaruh komunitas Rumah Merah Putih terhadap bakat dan minat anak jalanan di kampung Ciheleut Bogor Jawa Barat:

Gambar 2.2

Bagan Kerangka Berfikir

Pengaruh Komunitas Rumah Merah Putih Terhadap Bakat dan Minat Anak Jalanan

Komunitas Rumah Merah Putih

Bakat dan minat anak jalanan Sejarah berdirinya komunitas rumah merah putih Profil komunitas rumah merah putih Profil komunitas rumah merah putih Pengertian Minat Pengertian anak jalanan Pengertian Bakat Faktor yang mempengaruhi minat Ciri-ciri anak jalanan Faktor yang mempengaruhi bakat Children on the street

Children

of the street Children form families of the street Faktor pendorong dari dalam Faktor motif social Faktor emosi Faktor internal Faktor eksternal Kematangan fisik

(46)

D. Hipotesis Penelitian

Dalam penelitian yang berjudul Pengaruh Komunitas Rumah Merah Putih Terhadap Bakat dan Minat Anak Jalanan Di Kampung Ciheleut Bogor Jawa Barat diharapkan mempunyai hipotesis sebagai berikut:

(47)

30

Tempat yang dipilih sebagai lapangan penelitian adalah Kampung

Ciheuleut RT 04, Kelurahan Cibuluh, Kecamatan Bogor Utara. Penelitian ini

dilakukan pada bulan September – Oktober 2016.

B. Metode Penelitian

Menurut Sugiyono, “Metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah

untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”.1 Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif atau statistik

inferensial yang meliputi statistik nonparametris. Jadi data yang diperoleh

berupa angka absolut dan hasil notasi atau simbol (bukan kata-kata).

Keterangan tersebut diperoleh dengan mengambil sampel dari populasi

dengan menggunakan angket (kuisioner) untuk mengetahui komunitas

Rumah Merah Putih terhadap bakat dan minat anak jalanan.

C. Variabel Penelitian

Dalam penelitian ini terdapat dua jenis variabel yaitu variabel bebas

(Independent variabel) dan variabel terikat (dependent variabel). Adapun variabel-variabel yang digunakan dalam peneltian ini adalah:

1. Variabel bebas/independent variabel (X) adalah komunitas Rumah Merah Putih.

2. Variabel terikat/ dependent variabel (Y) adalah bakat dan minat anak jalanan.

      

1

(48)

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Dalam penelitian kuantitatif, populasi diartikan sebagai wilayah

generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan

karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajarai dan

kemudian ditarik kesimpulannya.2

Adapun yang menjadi populasi adalah seluruh anak asuh Komunitas

Rumah Merah Putih yang berjumlah 30 anak asuh di Kampung Ciheuleut,

Kelurahan Cibuluh, Kecamatan Bogor Utara.

2. Sampel

Sampel adalah sebagian dari populasi itu.3 Dalam penelitian ini digunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling, yaitu digunakan bila populasi mempunyai anggota/ unsur yang tidak homogen

dan berstrata secara proporsional. Adapun yang menjadi sampel adalah

anak asuh Komunitas Rumah Merah Putih yang berada di kampung

Ciheleut dari 30 anak asuh dipilih 15 orang yang memenuhi kriteria

penelitian yaitu berusia 11- 15 tahun

E. Definisi Konseptual

Agar tidak terjadi kesalahpahaman dari pembaca, penulis perlu

menjelaskan beberapa istilah yang berkaitan dengan judul di atas, yakni:

1. Pengaruh

Pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang

atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan atau perbuatan

seseorang. Jadi, bisa dikatakan bahwa pengaruh merupakan daya atau

tenaga yang timbul dari sesuatu baik dari orang atau benda serta segala

sesuatu yang ada di alam sehingga memberikan suatu perubahan terhadap

hal-hal disekelilingnya seperti watak, kepercayaan maupun perbuatan

seseorang.

      

2

Ibid., hal 215

3

(49)

2. Komunitas

Komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa

organisme yang berbagi lingkungan dan melakukan kegiatan sosial karena

memiliki keterkaitan satu sama lain dan habitat yang sama. Dalam hal ini

komunitas Rumah Merah Putih adalah sebuah komunitas nonformal

dibidang pendidikan yang berfokus pada bakat dan minat anak jalanan di

wilayah kota Bogor tepatnya di kampung Ciheleut.

3. Bakat dan Minat

a. Bakat

Bakat adalah suatu kemampuan khusus yang dimiliki oleh setiap

individu yang memerlukan rangsangan atau latihan agar bakat yang

dimilikinya dapat berkembang dengan baik. Apabila seseorang sudah

dapat diketahui bakat yang dimilikinya maka dengan mudah dapat

diamati karena kemampuan bakat yang dimilikinya berkembang

dengan pesat seperti kemampuan di bidang seni, olah raga, atau

keterampilan.

b. Minat

Minat adalah suatu keinginan seseorang yang erat kaitannya

dengan perasaan senang (positif) terhadap sesuatu tindakan yang

dianggapnya berharga atau sesuai dengan kebutuhan yang ada pada

dirinya sehingga dapat memberi kepuasan kepada dirinya.

Kesimpulannya adalah bakat merupakan kemampuan yang sudah ada

dalam diri seseorang untuk dapat dikembangkan dengan baik, dalam hal

ini adalah bakat anak jalanan. Sedangkan minat adalah keinginan

seseorang yang mereka senangi atau mereka sukai untuk mengembangkan

bakat yang dimiliki, dalam hal ini adalah minat yang ada pada anak

(50)

4. Anak Jalanan

Anak jalanan adalah sebuah istilah yang mengacu pada anak-anak

tunawisma yang tinggal di wilayah jalanan dan sebagian waktunya

dihabiskan untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalanan dan

tempat-tempat umum lainnya.

F. Definisi Operasional

Agar konsep data diteliti secara empiris maka konsep tersebut harus

didefinisikan dengan cara mengubahnya menjadi variabel atau sesuatu yang

mempunyai nilai. Penjelasan definisi operasional dari variabel-variabel

penelitian ini adalah:

1. Komunitas Rumah Merah Putih adalah skor penilaian dari jawaban

responden yang mengukur dimensi pengaruh komunitas Rumah Merah

Putih (dengan indikator: Keberadaan komunitas Rumah Merah Putih,

Pengajar di komunitas Rumah Merah Putih, Dukungan dari keluarga untuk

mengikuti komunitas Rumah Merah Putih, dan Program kerja komunitas

Rumah Merah Putih sebagai keberlangsungan visi misi dan tujuan

komunitas).

2. Bakat dan minat anak jalanan adalah skor penilaian dari jawaban

responden yang mengukur dimensi tentang keadaan bakat dan minat anak

jalanan (dengan indikator: Keberadaan kelas bakat dan minat sebagai

mengembangkan bakat anak jalanan, Keberadaan kelas bakat dan minat

sebagai tambahan ilmu pengetahuan, Pengajar di kelas bakat dan minat).

G. Teknik Pengumpulan Data

Setiap penelitian memerlukan metode dan teknik pengumpulan data

yang sesuai dengan masalah yang dihadapi. Metodologi penelitian ini sangat

tepat digunakan untuk memperoleh data dan informasi yang objektif. Dalam

pelaksanaannya penulis menggunakan dua jenis penelitian, adalah sebagai

(51)

1. Library Research (studi kepustakaan), digunakan untuk melihat dan mempelajari buku-buku, literatur-literatur dan bahan referensi lainnya

sebagai sumber untuk menguraikan landasan teoritis dari skripsi ini.

2. Field Research (studi lapangan), digunakan untuk mencari dan mengumpulkan data dari lapangan. Yang dalam pelaksanaannya

digunakan 2 (Dua) instrumen penelitian yaitu:

a. Angket (Kuesioner)

Kuesioner merupakan cara untuk mengumpulkan data yang

dilakukan dengan cara memberi serangkaian pertanyaan atau

pernyataan tertulis yang harus dijawab oleh reponden. Kuesioner ini

merupakan cara yang paling tepat untuk mengumpulkan data jika

peneliti mengetahui dengan pasti variabel yang akan di ukur dan

mengetahui apa yang bisa diharapkan dan di dapatkan dari responden.4 Jenis angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket

tertutup, yaitu berupa pernyataan-pernyataan yang telah disediakan

jawabannya sehingga responden tinggal memilih jawaban yang paling

tepat pada lima alternative jawaban yang disediakan.

Angket diberikan kepada lima belas anak asuh komunitas

Rumah Merah Putih di kampung Ciheleut, kota Bogor. Dalam

penelitian ini, digunakan angket langsung untuk memperoleh data,

karena data yang diperoleh langsung dari sumber utama. Angket ini

dilakukan untuk mendapatkan data tentang komunitas Rumah Merah

Putih dan bakat dan minat anak jalanan di kampung Ciheleut Bogor

Jawa Barat. Angket ini dimaksud sebagai suatu daftar pertanyaan

untuk memperoleh data-data berupa jawaban dari para anak asuh

komunitas Rumah Merah Putih atas pertanyaan-pertanyaan tentang

komunitas Rumah Merah Putih dan bakat dan minat anak jalanan di

kampung Ciheleut Bogor Jawa Barat. Kemudian angket yang

digunakan dan didesain dengan menggunakan skala likert.

      

4

(52)

Skala likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.

Dengan skala likert maka variabel yang akan diukur dijabarkan

menjadi indikator variabel.5Adapun bobot yang diberikan adalah sebagai berikut:

1) Sangat setuju : Mempunyai bobot nilai 5

2) Setuju : Mempunyai bobot nilai 4

3) Ragu-ragu : Mempunyai bobot nilai 3

4) Tidak setuju : Mempunyai bobot nilai 2

5) Sangat tidak setuju : Mempunyai bobot nilai 1

Agar penelitian menjadi lebih mudah, sebelum membuat

pertanyaan pertanyaan kuesioner peneliti membuat kisi-kisi kuesioner.

[image:52.595.119.516.205.731.2]

Adapun rincian kisi-kisi instrumen penelitian ini dapat dilihat pada

tabel berikut:

Tabel 3.1

Kisi-Kisi Instrumen Penelitian

No Variabel Kisi-kisi No soal

1. Komunitas Rumah

Merah Putih

1. Keberadaan

komunitas Rumah

Merah Putih

2. Pengajar di

komunitas Rumah

Merah Putih

3. Dukungan dari

keluarga untuk

mengikuti komunitas

Rumah Merah Putih,

4. Program kerja

komunitas Rumah 1,2,5,

3

4

6,7,8,9,10

      

5

(53)

Merah Putih sebagai

keberlangsungan visi

misi dan tujuan

komunitas

2. Bakat dan minat anak

jalanan

1. Keberadaan kelas

bakat dan minat

sebagai

mengembangkan

bakat anak jalanan

2. Keberadaan kelas

bakat dan minat

sebagai tambahan

ilmu pengetahuan

3. Pengajar di kelas

bakat dan minat

11,12,14,15

13, 16, 17

18,19,20

b. Wawancara

Wawancara yaitu cara yang ditempuh untuk mewawancarai para

informan demi memperoleh data-data yang diperlukan dalam

penelitian ini. Wawancara ditujukan dengan jalan mengajukan

pertanyaan langsung kepada founder komunitas Rumah Merah Putih dan ketua komunitas Rumah Merah Putih.

H. Uji Coba Instrumen

1. Uji Validitas

Validitas adalah sebuah ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat

ke validan atau keshahihan suatu instrumen.6 Perhitungan validitas dilakukan dengan menggunakan teknik correted item total correlation

sebagai berikut:7

      

6

Ibid., h.168

7

(54)

x i ix i x i x x i

s

s

r

s

s

s

s

r

r

ix

1 2 2

Keterangan :

 x1 i

r = Koefisien korelasi item – total setelah dikoreksi

ix

r = Koefisien korelasi item total sebelum dikoreksi

x

S = Standar dev

Gambar

Gambar 2.2 Bagan Kerangka Berfikir
Grafik 5.2 Bakat dan Minat (Variabel Y)
Tabel Distribusi
Gambar 2.1
+7

Referensi

Dokumen terkait