(Analisis Keputusan Ijtima‘ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia V Tahun 2015)
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Hukum (SH)
OLEH:
MASRUR RAHMANSYAH NIM: 1110043100048
KONSENTRASI PERBANDINGAN MAZHAB FIKIH PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZHAB DAN HUKUM
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM UIN SYARIF HIDAYATULLAH
iv
KATA PENGANTAR
Alhamdu Lillahi Rabbi al-‘Alamin, segala puji hanya bagi Allah Swt, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan karunia ni’mat-Nya kepada hamba-Nya. Shalawat beriring salam tak luput selalu tercurahkan kepada Rasul pilihan
Baginda Nabi Besar Muhammad SAW.
Menuntut ilmu adalah suatu kewajiban yang harus dijalankan untuk
setiap manusia, karena menuntut ilmu dapat menghantarkan manusia menuju
gerbang masa depan yang cerah. Disebabkan hal itu penulis mencoba untuk
menyelesikan suatu karangan ilmiyah yang merupaka salah satu syarat demi
menggapai masa depan tersebut dengan cara menyelesaikan skripsi ini. Namun
penulis sadar dalam menulis skripsi ini masih banyak kekurangan didalamnya,
akan tetapi penulis berharap hasil tulisan ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan umumnya bagi orang banyak.
Perlu diketahui penulis tidaklah dapat menyelesaikan skripsi ini tanpa
bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Dr. Asep Saepudin Jahar, MA. Selaku Dekan Fakultas Syariah dan
Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak Fahmi Ahmadi, S.Ag, M.Si, selaku Ketua Program Studi Perbandingan
v
3. Prof. Dr. H. Abdul Wahab Abd Muhaimin, Lc., M.A selaku dosen
pembimbing akademik sekaligus dosen pembimbing skripsi yang telah banyak
meluangkan waktu dan arahannya dalam menyelesaikan skripsi ini. Semoga
beliau senantiasa diberikan kesehatan oleh Allah SWT.
4. Para dosen Fakultas Syriah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang
telah banyak memberikan ilmu yang bermanfaat kepada penulis semasa kuliah
dahulu, semoga senantiasa dimudahkan segala urusannya.
5. Ayahanda dan Ibunda penulis, Bapak Chairul Hadist dan Ibu Siti Masyitoh,
yang senantiasa mendoakan dan memberikan semangat juga membimbing
penulis, serta adik-adik tercinta Adib Adzkari, Siti Chairu Widha, dan Ahmad
Haikal Asyraq semoga mereka senantiasa dalam lindungan Allah SWT.
6. Adinda tercinta Rahmawati yang selalu memberikan semangat kepada penulis
hingga terselesaikannya skripsi ini.
7. Para sahabat seperjuangan, teman-teman bertukar pikiran, PMH Angkatan
2010, Ahmad Munir, Ahmad Fatih, Syukria, Ibnu Rusdi, Abdul Mukti, Abdul
Aziz, yang selalu menyemangati penulis.
8. Adik-adik kelas, Angkatan 2011, Edi Jon, Fauzan Ocid, Syardi Hakim,
Ma’mu Siroj.
9. Dan seluruh pihak yang terkait dengan penulisan skripsi ini, yang tidak dapat
penulis sebutkan satu-persatu. Semoga senantiasa dalam lindungan Allah
vi
kepada penulis senantiasa diridhoi setiap langkah kehidupannya serta
mendapatkan balasan yang lebih baik di akhirat kelak.
Jakarta: 12 September 2016 M 10 Zulhijjah 1437 H
vii
Masrur Rahmansyah, NIM 1110043100048, “HAK ASUH ANAK TERHADAP
ORANG TUA YANG BERCERAI KARENA BERBEDA AGAMA” (Analisis
Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-indonesia V Tahun 2015), konsenterasi Perbandingan Mazhab FIKIH, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, 1437 H / 2014 M. 1-67 halaman.
Skripsi ini bertujuan untuk mengetahui pandangan hukum Islam di dalam hukum hak asuh terhadap orang tua yang bercerai karena berbeda agama analisis
keputusan ijtima’ ulama komisi fatwa Se-Indonesia V tahun 2015, penyebab difatwakannya tentang hak hadhanah bagi orang yang bercerai beda agama adalah menyalahi kepada norma-norma agama yang saat ini banyak terjadi di Indonesia hak asuh anak jatuh kepada orang non muslim setelah bercerai, bukan itu saja penyebab lainnya yaitu banyak tindakan dikriminasi terhadap anak yang di asuh oleh orang tuanya oleh karenanya MUI mebuat suatu fatwa yang mengatur hal itu maka dalam hal ini penulis telah meneliti secara mendetail tentang keputusan fatwa dan kasus tersebut.
Hasil penelitian menunjukan Pandangan MUI berdasarkan hukum Islam tentang hak hadhanah terhadap orang tua yang bercerai karena berbeda agama hukumnya mutlak harus diasuh oleh pengasuh yang beragama Islam hal ini diatur oleh
al-Qur’an dan Assunah. Adapun Metode isthinbath hukum MUI dalam memecahkan permasalahan mengenai Hak Asuh Anak Terhadap Orang Tua yang Bercerai Karena Berbeda Agama memakai sumber hukum Islam yang sifatnya qot’i yaitu al-Qur’an, As-sunnah dan Ijma ulama mu’tabarah dan mengambil dari pendapat -pendapat ulama yang rojih, maka sifat fatwa yang dikeluarkan MUI sangat kuat dan tidak bisa di ganggu gugat.
Adapun penelitian skripsi ini menggunakan metode kuantitatif yag menekankan pada kualitas ranah pemahaman terhadap keputusan Ijtima’ ulama komisi fatwa Se-Indonesia V tahun 2015. Pendekatan yang penulis lakukan menggunakan metode normatif dengan melihat objek hukum yang berkaitan dengan fatwa MUI. Adapun bahan yang digunakan oleh penulis adalah bahan hukum primer dan sekunder kemudian bahan pengelolaan hukum dilakukan dengan cara deduktif yaitu menarik suatu kesimpulan dari permasalahan yang bersifat umum terhadap permasalahan konkret yang di hadapi.
Kata Kunci : Hak Asuh, Anak, Bercerai, Beda Agama
Pembimbing :Prof. Dr. Abdul Wahab Abdul Muhaimin, Lc., M.A.
viii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i
LEMBAR PERNYATAAN ... ii
LEMBAR PENGESAHAN ... iii
KATA PENGANTAR ... iv
ABSTRAK ... vi
DAFTAR ISI ... viii
BAB I : PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ... 4
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 5
D. Studi Riview Terdahulu ... 6
E. Metode Penelitian ... 7
F. Sistematika Penulisan ... 9
BAB II : TINJAUAN UMUM TENTANG HADHANAH ... 10
A. Pengertian Hadhanah ... 10
B. Hukum Hadhanah ... 11
C. Syarat-syarat Hadhanah ... 16
D. Orang-orang yang Berhak Melakukan Hadhanah ... 23
BAB III : KEPUTUSAN IJTIMA’ ULAMA KOMISI FATWA SE- INDONESIA V TAHUN 2015 TENTANG HAK ASUH ANAK TEHADAP ORANG TUA BERCERAI SEBAB BERBEDA AGAMA ... 28
A. Hadhanah Bagi Orang Tua Yang Tidak Cakap Perilaku .... 28
ix
BAB IV : ANALISIS TENTANG FATWA ... 44
A. Metode Istinbath MUI ... 44
B. Dalil ... 50
C. Analisis Hasil Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Tentang Hak Asuh Anak Akibat Orang Tua Bercerai Beda Agama... 56
BAB V : PENUTUP ... 62
A.Kesimpulan ... 62
B.Saran ... 63
44
BAB IV
ANALISIS TENTANG FATWA
A. Metode Istinbath MUI
Sejak dahulu kala, ulama memiliki posisi yang penting dan
menentukan di Indonesia. Pada masa colonial dan pada masa sebelumnya,
pada masa kerajaan Islam, ulama memiliki peran signifikan di masyarakat,
baik dalam bidang politik maupun sosial. Kerajaan Islam di Indonesia,
sebagian besar dimotori oleh para ulama dalam pendiriannya. Menurut
Mudzhar, pada abad ke-18, ketika kerajaan Islam telah dikuasai dan
dikendalikan oleh Penjajah Belanda, peran ulama dibatasi pada masalah
keagamaan dan isu-isu yang bersifat local, bahkan hanya boleh mengurusi
pesantren yang dimilikinya.1
Dasar-dasar dan Prosedur penetapan fatwa yang dilakukan oleh
Majelis Ulama Indonesia (MUI) dirumuskan dalam Pedoman Penetapan
Fatwa Majelis Ulama Indonesia Nomor: U-596/MUI/X/1997 yang ditetapkan
pada tanggal 2 Oktober 1997. Dasar-dasar penetapan fatwa dituangkan pada
bagian kedua pasal 2 yang berbunyi:2
1. Setiap Keputusan Fatwa harus mempunyai dasar atas Kitabullah dan
Sunnah Rasul yang mu’tabarah, serta tidak bertentangan dengan
kemaslahatan umat.
1
Mohamad Atho Mudzhar, “Fatwas of The Council of Indonesian Ulama: A Study
of Islamic Legal Thought in Indonesia 1975 -1988”, Disertasi, (Los Angels: University of California, 1990), h. 92.
2
2. Jika tidak terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Rasul sebagaimana
ditentukan pada pasal 2 ayat 1, Keputusan Fatwa hendaklah tidak
bertentangan dengan ijmă’, qiyas yang mu’tabar, dan dalil-dalil hukum
yang lain, seperti istihsan, maslahah mursalah, dan saddu al-dzarĭ’ah.
3. Sebelum pengambilan Keputusan Fatwa, hendaklah ditinjau
pendapat-pendapat para imam mazhab terdahulu, baik yang berhubungan dengan
dalil-dalil hukum maupun yang berhubungan dengan dalil yang
dipergunakan oleh pihak yang berbeda pendapat.
4. Pandangan tenaga ahli dalam bidang masalah yang akan diambil keputusan fatwanya, dipertimbangkan.
Dasar-dasar penetapan istinbath hukum yang digunakan oleh MUI
tidak berbeda jauh dengan metode istinbath hukum yang digunakan oleh
ulama salaf. Sikap tersebut yang digunakan dalam menetapkan fatwa MUI
adalah perlunya memikirkan semua kemaslahatan umat disaat menetapkan
fatwa, di samping itu pula juga perlunya memperhatikan pendapat para ulama
mazhab fikih, baik itu pendapat yang mendukung maupun yang menentang,
sehingga diharapkan apa yang diputuskan tersebut tidaklah cenderung kepada
dua pendapat, tetapi lebih mencari jalan tengah antara dua pendapat yang
bertolak belakang tersebut. Solusi cemerlang yang diberikan oleh MUI dalam
menetapkan fatwa, adalah perlunya mengetahui pendapat para pakar di
bidang keilmuan tertentu sebagai bahan pertimbangan dalam penetapan
fatwanya.3
3
Dari pembahasan diatas maka penulis berkesimpulan bahwa MUI
menetapkan Keputusan Komisi B1 Masalah Fikih Kontemporer (Masail
Fiqhiyah Mu’ashiroh) Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia V Tahun
2015 Tentang Hak Pengasuhan Anak Bagi Orang Tua Yang Bercerai
Karena Berbeda Agama berdasarkan metode isntibath hukum yang
bersumber dari Al-quran dan As-Sunah yang kemudian dikaji lebih dalam
oleh ulama salaf terdahulu. Adapun dalil yang digunakan dalam
meistinbathkan hukum Hadhanah akibat bercerai karena berbeda agama adalah sebagai berikut:
a. Al-Qur’an
Surat al-Baqarah ayat 233:
keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat
apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Baqarah : 233)
Surat at-Tahrim ayat 6:
Artinya; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.”(QS. at-Tahrim: 6)
Surat an-Nisa ayat 141:
b. As-Sunnah
َيِضَر َةَرْ يَرُه َِِأ ْنَع ،ِجَرْعَْأا َزُمْرُه ِنْب ِنَْْ رلا ِدْبَع ْنَع
" : َلاَق , َم لَسَو ِهْيَلَع ُه للا ى لَص ِه للا َلوُسَر نَأ ،ُهَْع ُه للا
ٍدوُلْوَم لُك
ِهِناَرِصَُ ي ْوَأ ،ِهِناَدِوَهُ ي ُاَوَ بَأَف ،ِةَرْطِفْلا ىَلَع ُدَلوُي
ِهِناَسِجَُُ
4Artinya: “Dari Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj dari Abi Hurairah semoga Allah meridhainya bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnyamenjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.
ُدْبَع اََ ث دَح ،َسُنوُي ُنْب ىَسيِع اََ ث دَح ،ٍرَْح ُنْب يِلَع اََ ث دَح
ُه نَأ ٍناَِس ِنْب ِعِفاَر ،يِدَج ْنَع ، َِِأ َِِرَ بْخَأ ،ٍرَفْعَج ُنْب ِديِمَْْا
ِهْيَلَع ُها ى لَص ِِ لا ِتَتَأَف ،َمِلْسُت ْنَأ ُهُتَأَرْما ْتَبَأَو َمَلْسَأ
َم لَسَو
َلاَقَ ف ، َِِْ با :ٌعِفاَر َلاَقَو ،ُهُهَ بَش ْوَأ ٌميِطَف َيِهَو ، َِِْ با :ْتَلاَقَ ف
:َم لَسَو ِهْيَلَع ُها ى لَص ِِ لا ُهَل
ًةَيِحاَن ْدُعْ قا "
" :اَََ َلاَقَو "
" : َلاَق ُُ ،اَمُهَ ْ يَ ب َة يِب صلا َدَعْ قَأَف " ًةَيِحاَن يِدُعْ قا
،" اَهاَوُعْدا
مُهللا " :َم لَسَو ِهْيَلَع ُها ى لَص ِِ لا َلاَقَ ف ،اَهِمُأ ََِإ ْتَلاَمَف
اَهَذَخَأَف اَهيِبَأ ََِإ ْتَلاَمَف " اَهِدْها
)دْأ اور( .
5
.
4
Abu Hanifah an-Nu’man, Musnad Abu al-Hashkafi, (Mesir: tp, th), Juz 1h. 513. 5
Artinya: “Telah menceritakan kepada Ali bin Bahr telah menceritakan
kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami
Abdul hamid bin Ja’far telah mengabarkan kepadaku ayahku
dari kakekku yaitu Rafi bin Shinan bahwa ia telah masuk Islam sedangkan isterinya menolak untuk masuk Islam. Kemudian wanita tersebut datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata; anak wanitaku ia masih menyusu -atau yang serupa dengannya. Rafi' berkata; ia adalah anak wanitaku. Beliau berkata kepada wanita tersebut; duduklah di pojok. Dan mendudukkan anak kecil tersebut diantara mereka berdua, kemudian beliau berkata; panggillah ia. Kemudian anak tersebut menuju kepada ibunya. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdoa: "Ya Allah, berilah dia petunjuk!" kemudian anak tersebut menuju kepada ayahnya. kemudian Rafi' bin Sinan membawa anak tersebut. (HR. Ahmad)
c. Ijma’ Ulama
Ulama sepakat bahwa syarat seseorang dapat mengasuk anak adalah
sebagai berikut:
1) Berakal sehat.
2) Dewasa (baligh)
3) Memiliki kemampuan untuk mengasuh, merawat dan mendidik
anak.
4) Dapat dipercaya (amanah) dan berbudi pekerti yang baik.
5) Beragama Islam.
Apabila salah satu persyaratan tidak terpenuhi, maka yang
bersangkutan tidak berhak untuk mengasuh anak dan hak asuh
berpindah pada anggota keluarga yang muslim dan memenuhi
ketentuan persyaratan orang yang akan mengasuh anak tersebut
Akan tetapi dari persyaratan diatas ulama fikih berbeda pendapat
mengenai syarat seseorang yang mengasuh beragama Islam. Berpendapat
kalangan dari ulama Hanafiyah dan Malikiyah tidak disyaratkan orang
yang memelihara anak harus beragama Islam akan tetapi jika non muslim
itu kitabiyah atau ghairu kitabiyah boleh menjadi hadhanah baik itu sendiri maupun orang lain.6 Kemudian ulama berbeda pendapat juga
dipemasalahan ketika hak itu merupakan hak anak (mahdun). Menurut
sebagian mazhab Hanafi hadhanah adalah hak anak karena anak dapat menentukan pilihannya ia akan di didik dan dipelihara dengan baik atau
tidak. Jika ia menginginkannya tentulah itu baik, jika ia tidak ingin
dipelihara oleh hadhin maka hadin tidak boleh untuk memaksanya karena
hak hadhanah itu milik si anak.7
Mazhab Syafi‘iyah dan Mazhab Hanabilah berpendapat bahwa
hādinlah yang berhak atas itu, apabila hādin tidak bersedia melaksanakan
hadhanah, maka ia tidak dapat dipaksa untuk melakukan atau tidak. Oleh karena itu apabila mengasuh seorang anak dilakukannya dengan secara
paksa, maka dikhawatirkan anak akan terlantar pendidikan dan
pemeliharaannya
B. Dalil
1. Al-Qur’an
Surat al-Baqarah ayat 233:
6
Wahbah Az-zuhaili, Fiqh Islam Wa Adillatuhu, Jlid 10, Penerjemah Abdul Hayyie Al-Katani, dkk:, h. 67
7
Direktorat Jenderal Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama,
Artinya: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi Makan dan pakaian kepada Para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabilakeduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha melihat
apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Baqarah : 233)
Pada ayat ini MUI mengambiil Istinbatul ahkam dari sepenggal ayat yaitu:
Penulis berpendapat pada potongan ayat tersebut sudah dapat diketahui
bahwa wajib bagi orang tua memberikan nafkah dari rizki yang halal.
Kewajiban tersebut dapat diketahui dari lafaz ‘ala yang diantaranya
secara syar’i. Maka tidak dapat dipungkiri MUI memberikan fatwa atau
syarat bahwa seorang pengasuh wajib memberikan rizki yang sifatnya
halal. Jika bertolak belakang dengan fatwa ini maka tidak boleh mengasuh
anak.
Surat at-Tahrim ayat 6:
Artinya; “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa
yang diperintahkan.”(QS. at-Tahrim: 6)
Pada ayat ini MUI memenggal potongan ayat yaitu jumlah
artinya adalah wajib bagi orang yang beriman agar menjaga
dirinya dan keluarganya dari api neraka. Maksudnya adalah lafaz qû itu
berbentuk amar yang memberikan artian wajib mengerjakan (Lithalab)
sebagaimana qaidah ushuliyah mengatakan:
َا َْأ
ْص
ُل
ِى
َْأا
ْم ِر
ِل ْل
ُو ُج
ْو
ِب
ِإ
ل
َم
َدا
ل
دلا
ِل ْي
ُل
َع َل
ِخ ى
َا
ِف ِه
8Asal perkara di suatu perintah itu wajib kecualai ada dalil yang memberikan prbedaannya.
8
Surat an-Nisa ayat 141:
Artinya: “(Yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: "Bukankah Kami (turut berperang) beserta kamu ?" dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: "Bukankah Kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.” (QS. An-Nisa: 141)
Menurut penulis MUI mengambil ayat ini sebagai dasar
seorang pengasuh tidak boleh beragama non Islam karena alasannya
adalah dilihat dari lafaz lan mengandung arti meniadakan untuk zaman akan datang maka dapat difahami bahwa hubungan antara manhtûq dan
mafhum menyimpulkan pada masa akan datang non muslim tidak berhak
mengasuh anak yang beragama Islam apalagi untuk saat ini maka mutlak
tidak boleh untuk mengasuh anak. Hal ini dapat difahami pula dari lafaz
sabila yang bentuk lafaznya isim mufrad sedangkan lafaz mufrad maknanya umum (tidak tertentu dan tidak dapat diketahui), maka
ini adalah hukum Islam tidak mentolelir bagi seorang non muslim untuk
mengasuh anaknya yang beragama Islam dalam seluruh aspek.
2. As-sunnah
َةَرْ يَرُه َِِأ ْنَع ،ِجَرْعَْأا َزُمْرُه ِنْب ِنَْْ رلا ِدْبَع ْنَع
َيِضَر
" : َلاَق , َم لَسَو ِهْيَلَع ُه للا ى لَص ِه للا َلوُسَر نَأ ،ُهَْع ُه للا
ِهِناَرِصَُ ي ْوَأ ،ِهِناَدِوَهُ ي ُاَوَ بَأَف ،ِةَرْطِفْلا ىَلَع ُدَلوُي ٍدوُلْوَم لُك
ِهِناَسِجَُُ
9Artinya: “Dari Abdurrahman bin Hurmuz al-A’raj dari Abi Hurairah semoga Allah meridhainya bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnyamenjadi Yahudi, Nasrani atau Majusi.
Menurut MUI Hadis ini menunjukkan bahwa orang tua yang
mengasuh anak sangat mempengaruhi agama yang akan dipeluk anaknya.
Oleh karena itu, hendaknya pihak yang akan mengasuh anak harus
beragama Islam sehingga anaknya menjadi generasi muslim, tetapi penulis
memahami dari makna pemahaman MUI ialah jika pihak yang akan
mengasuh anak tersebut harus beragama Islam maka pemahaman ini jika
dikaji dalam ushul fikih mengandung makna Dilālah Iltizāmiyah yaitu dilalah yang mesti harus dipenuhi seacara akal, Karena dari konteks
susunan kalam yang pada hadits tersebut menunjukan kedua orangtuangya
harus menanamkan jiwa dan dasar-dasar syariat Islam, karena di dalam
fikihpun seorang pengasuh (orangtua) wajib menananmkan dasar-dasar
9
pondasi Islam seperti mengenal rukun Islam dan rukun Imam sejak dini
maka pemahaman MUI terhadap hadits ini menjadi sesuai dengan
pendapat ulama yang terdahulu sampai saat ini.
ُدْبَع اََ ث دَح ،َسُنوُي ُنْب ىَسيِع اََ ث دَح ،ٍرَْح ُنْب يِلَع اََ ث دَح
ُه نَأ ٍناَِس ِنْب ِعِفاَر ،يِدَج ْنَع ، َِِأ َِِرَ بْخَأ ،ٍرَفْعَج ُنْب ِديِمَْْا
ْتَبَأَو َمَلْسَأ
َم لَسَو ِهْيَلَع ُها ى لَص ِِ لا ِتَتَأَف ،َمِلْسُت ْنَأ ُهُتَأَرْما
َلاَقَ ف ، َِِْ با :ٌعِفاَر َلاَقَو ،ُهُهَ بَش ْوَأ ٌميِطَف َيِهَو ، َِِْ با :ْتَلاَقَ ف
:َم لَسَو ِهْيَلَع ُها ى لَص ِِ لا ُهَل
ًةَيِحاَن ْدُعْ قا "
" :اَََ َلاَقَو "
ْ قا
،" اَهاَوُعْدا " :َلاَق ُُ ،اَمُهَ ْ يَ ب َة يِب صلا َدَعْ قَأَف " ًةَيِحاَن يِدُع
مُهللا " :َم لَسَو ِهْيَلَع ُها ى لَص ِِ لا َلاَقَ ف ،اَهِمُأ ََِإ ْتَلاَمَف
اَهَذَخَأَف اَهيِبَأ ََِإ ْتَلاَمَف " اَهِدْها
)دْأ اور (
10
.
Artinya: “Telah menceritakan kepada Ali bin Bahr telah menceritakan
kepada kami Isa bin Yunus telah menceritakan kepada kami
Abdul hamid bin Ja’far telah mengabarkan kepadaku ayahku
dari kakekku yaitu Rafi bin Shinan bahwa ia telah masuk Islam sedangkan isterinya menolak untuk masuk Islam. Kemudian wanita tersebut datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata; anak wanitaku ia masih menyusu -atau yang serupa dengannya. Rafi' berkata; ia adalah anak wanitaku. Beliau berkata kepada wanita tersebut; duduklah di pojok. Dan mendudukkan anak kecil tersebut diantara mereka berdua, kemudian beliau berkata; panggillah ia. Kemudian anak tersebut menuju kepada ibunya. Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berdoa: "Ya Allah, berilah dia petunjuk!" kemudian anak tersebut menuju kepada ayahnya. kemudian Rafi' bin Sinan membawa anak tersebut.(HR. Ahmad)
Hadist ini menunjukkan bahwa Rasulullah menghendaki
pengasuhan anak dilakukanoleh orang tua yang muslim.
10
C. Analisis Hasil Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa Tentang Hak Asuh Anak Akibat Orang Tua Bercerai Beda Agama
Allah SWT menciptakan makhluk-Nya berpasang-pasangan
sehingga Allah SWT memberikan Syariat manusia harus menikah sebagai
karunia dan nikmat yang besar dari Allah SWT. Namun didalam suatu ikatan
perkawinan banyak cobaan dan kesengan pula, sehingga tidak sedikit dari
manusia yang runtuh rumah tangganya akibat permasalahan yang berujung
perceraian.Perceraian terjadi karena ada bermacam-macam sebab diantaranya
kasus ketika seseorang yang bercerai akibat perbedaan agama anatara suami
isteri. Tetapi akibat setelah perceraian tersebut ialah jika pasangan suami isteri
tersebut mengsilkan keturunan yang hak asuhnya belum bisa ditentukan, maka
dalam hal permasalahan ini penulis ingin meneliti lebih lanjut tentang
permaslahan tersebut dengan bahan penelitian hasil fatwa MUI di dalam
hukum hak asuh anak akibat orang tua bercerai beda agama. Penulis sangat
menyadari bahwa MUI sangat hati-hati dalam memutuskan fatwa lebih-lebih
fatwa ini sifatnya untuk kemaslahatan masyarakat Indonesia oleh karena itu
penulis mendapatkan suatu kesimpulan tentang fatwa tersebut dan menyatakan
setuju dengan keputusan tersebut bahwa seorang pengasuh harus beragana
Islam. Adapun alasan penulis setuju dengan fatwa MUI adalah sebagai
berikut:
ُةَثَرَو ءاَملعْلا
ِءاَيِبْنَْأا
نَأَو ،
َءاَيِبْنَْأا
ُمِهْيَلَع ،
ُم َا سلا
َْل ،
ُ ي َو ِر
ُ ث ْو
ًراَيِد ا
ِد َلَو ا
ْر ًَه
َو اَ َِإَو ،ا
ر ُث
ْاو
ِعْلا
ْل َم
َمَف
ْن
َخَأ
َذ ُ
َخَأ
َذ
َِح
ظ
َو ِفا
ٍر
11
Artinya:“Ulama adalah pewaris para Nabi dan bahwasannya para Nabi mereka tidak mewariskan dinar dan tidak pula hanya saja mereka mewarisi ilmu maka siapapun yang mengambil ilmu maka dapatkanlah dengan tulisan (ilmu) dengan wadah yang
luas”.
Dari hadits tersebut dapat diambil pemahaman bahwa didalam diri
ulama membawa kemaslahatan untuk umat karena ulamalah yang
menerusakan risalah para Nabi-Nabi. Maka dari hadits ini dapat diambil
kesimpulan apa yang sudah diputuskan oleh MUI sudah benar kebenarannya
terlebih lagi penulis membaca dan mendapatkan pendapat-pendapat ulama
terdahulu seperti mazhab 4 mu’tabarah yang menyinggung tentang hak asuh
anak bagi pengasuh yang non muslim sehingga dari istinbath hukum yang
diputusakan oleh mujtahid mutlak tersebut sesuai dengan fatwa yang sudah
diputuskan oleh MUI. Sebab dikatakan oleh imam nawawi al-Bantani dalam
kitab an-Nihayatu az-Zain bahwa mazhab 4 salah satunya al-Imam Syafi’I di
juluki sebagai hudatul ummah Fil Furu’.
Dari pendapat penulis pada alasan pertama disana terdapat perbedaan
pendapat antara MUI dan penulis. Adapun perbedaan tersebut ialah penulis
lebih menjelaskan kepada sifat yang melekat pada ulama yaitu sifat
11
Abu Muhammad Mahmud, ‘Umdatu al-Qari Syarh as-Shahih al-Bukhari,
kepercayaan yang mana pasti benar apapun yang di tetapkan oleh ulama.
Sedangkan MUI tidak menjelaskan tentang hal tersbut, tetapi mereka lebih
cenderung kepada inti istinbath hukum.
Kedua,MUI mensyaratkan wajibnya pengasuh harus beragama Islam
alasannya menurut penulis adalah ketika seseorang mengasuh anaknya wajib
bagi ia mengenalkan arkanu al-Islam dan arkanu al-Imam. Alasan penulis ini berdasarkan perkataan Imam zainuddin Malibari didalam kitab Qurratu
al-‘Ain:
َو َأ و
ُل
َو
ِجا
ٍب
َع َل
ْأا ى
َب ِءا
َ ت ْع
ِل ْي ُم
ُه َأ
ن
َن ِب
ي َ
َُم ا
م
ًد
ص ا
ملسو هيلع ها ىل
ُب ِع
َث
َِب
ك
َة
َو ُد ِف
َن
ِب ْلا
َم ِد
ْ ي َ ِة
.
12
Artinya: “Wajib bagi para orang tua mengajarkan anaknya bahwa Nabi kita Muhammad SAW diutus di Makkah dan dikuburkan di Madinah.”
Imam an-Nawawi al-Bantani berpendapat bahwa mengajarkan
anak tentang arkanu al-Islam adalah hukumnya fardu al-Kifayah.Dari perkataan imam Zainuddin dapat diambil faham bahwa bukan hanya
mengenal Nabi Muhammad SAW saja tetapi wajib mengajarkan dan
mengenal Allah SWT dan yang lain sebagainya. Dari alasan penulis ini
maka tepat keputusan MUI mensyaratkan bahwa seorang pengasuh
hendaklah beragama Islam sebab jika seorang pengasuh beragama non
Muslim dikawatirkan ia tidak kenal kepada rukun Islam dan rukun iman
12Abu Bakar ‘Utsman, I’anah
dan yang dikhawartikan pula bahwa anak tersebut akan pindah akidahnya
kepada agama non Islam. Maka dari hal itu MUI sangat menegaskan
didalam fatwa tersebut apabila tidak memenuhi persyaratan pengasuh
beragama Islam tidak berhak mendapatkan hak asuh.
Adapun perbedaan pendapat didalam pemikiran antara penulis
dan MUI yaitu penulis ingin menunjukan tahap pertama yang harus dilalui
atau dipenuhi oleh seorang pengasuh secara mendetail. Tahap tersebut
ialah agar seorang pengasuh untuk memperkenalkan pendidikan agama
Islam kepada si anak. Sedangkan MUI hanya menjelaskan beragama Islam
adalah syarat pertama yang harus penuhi tetapi tidak secara mendetail
seperti MUI tidak menyebutkan pendapat ulama bahwa seorang pengasuh
harus memperkenalkan arkanu al-Islam atau arkanu al-Iman.
Ketiga, ketika hak asuh anak jatuh kepada pengasuh yang beragama non Islam maka hal ini menyalahi aturan firman Allah:
Kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?" Maka Allah akan memberi keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman.”
(QS. An-Nisa: 141)
Ayat diatas menyatakan bahwa Allah tidaklah Allah memberikan
jalan bagi orang kafir dalam seluruh aspek kehidupan termasuk dalam hal
mengasuh anak yang beragama Islam dan sabda Nabi yang mengatakan
ُاَوَ بَأَف
،ِهِناَدِوَهُ ي
ْوَأ
ِهِناَرِصَُ ي
merupakan dilalah lazimiyah yang artinya wajib seorangpengasuh beragama Islam. MUI memfatwakan syarat seorang pengasuh harus
beragama Islam faidahnya adalah agar anak tersebut dapat membuat Islam
menjadi kuat karena jika banyak pengikut Islam maka agama Islam menjadi
kokoh dan tidak dapat tergoyahkan oleh sesuatu apapun. MUI mengharuskan
seorang pengasuh bergama Islam gunanya juga adalah agar ia dapat mecetak
generasi yang bebudi pekerti yang baik karena Islam adalah agama yang
menjunjung tinggi tentang akhlak dan tatakrama yang luhur, dapat
melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangannya
dengan dibekali al-Quran dan hadits.
Di dalam pendapat yang ketiga ini penulis ingin mencoba
membedakan pola fikir antara penulis dan MUI dari segi dilalah lazimiyah.
Menurut penulis firman Allah SWT dan
artinya harus dipenuhi oleh seluruh manusia menjalakan perintah Allah SWT,
seperti manusia harus tahu dan menanamkan dihatinya bahwa Allah SWT
tidak meridhai bagi orang kafir, yahudi, nasrani dan majusi untuk
mendapatkan posisi sedikitpun didalam agama Islam sekalipun ia
mendapatkan posisi didalam agama Islam seperti ia mendidik anak atau
mengasuh maka semua itu dimata Allah SWT merupakan sesuatu hal yang
sia-sia karena di dalam firman Allah tersebut terdapat kalimat “lan” yang
1
A. Latar Belakang Masalah
Di dalam hukum Islam banyak aturan-aturan yang sudah diatur oleh
Allah SWT baik itu dari hal terkecil sampai hal yang terbesar. Semua aturan
tersebut berasal dari kalamullah dan hadits Nabi Muhammad SAW baik yang
bersifat qauliyah, fi’liyah maupun takririyah. Maka se bagai aturan yang harus
ditaati ulama membuat suatu sistem disiplin ilmu yang kemudian di
kelompok-kelompokan pada tempatnya masing-masing. Seperti salah satu
hukum syariat Islam yang sudah diatur secara sistematis yaitu tentang
perkawinan. Allah mensyariatkan pernikahan bertujuan agar manusia tidak
melakukan perbuatan-perbuatan keji dan yang Allah murkai, bukan hanya itu
saja, Allah SWT mensyariatkan pernikahan karena Allah menciptakan
makhluk-Nya dalam keadaan berpasang-pasangan sebagai rasa kasih sayang
Allah SWT kepada umatnya dan sebagai rahmat untuk alam semesta ini.
Membicarakan pernikahan, Hukum pernikahan didalam Islam diatur
pada firman Allah SWT surat An-Nisā ayat 3:
Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.
(QS. An-Nisā :3)
Kemudian hadits nabi Muhammad SAW mengatur pula tentang hukum pernikahan:
طتسا نم ,بابشلا رشعم اي
عا
,رصبلل ضغأ هنإف ,جوزتيلف ةءابلا مك م
)هيلع قفتم( .ءاجو هل هنإف ,موصلاب هيلعف عطتسي ل نمو ,جرفلل نصحأو
1
Artinya:“Wahai para pemuda barang siapa diantara kamu yang sudah
mampu maka menikahlah, sesungguhnya pernikahan itu mencegah penglihatan dan menjaga kemaluan, dan barang siapa yang belum mampu menikah maka wajib bagi kamu berpuasa. Sesungguhnya
puasa itu dapat mencegah nafsu (zina) untuk kamu” (HR. Al-Bukhari dan Musim)
Pada firman Allah SWT dan hadits Nabi Muhammad SAW jelas
bahwa hukum pernikahan mandub apabila seseorang telah mampu untuk
menikah. Menurut ulama menikah mempunya itujuan-tujuan antara lain
menjadikan seseorang sempurna dalam kehidupannya, terhin dari perbuatan
zina, dan mendapatkan keturunan.
Di dalam Islam mendapatkan seorang keturunan dari pernikahan
adalah suatu karunia yang besar karena anak adalah buah dari rasa cinta antara
kedua orang tua yang akan membawanya kesurga.
Namun kita tidak dapat dipungkiri bahwa di dunia ini banyak
permasalahan-permasalahan dalam perkawinan seperti ketika seseorang
menikah yang setatus asal keduanya beragama Islam kemudian bercerai
disebabkan istri telah murtad, sedangkan dari perkawinan tersebut
menghasilkan anak yang belum mumayyiz, maka dari hal ini timbul
1
permasalahan baru tetang hak mengasuh anak tersebut. Dalam hal ini ulama
sepakat bahwa dalam hal-hal mendidik anak mempunyai
persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi oleh orang tua sebagaimana yang telah
tercantum dalam hasil Fatwa Majelis Ulama Indonesia Komisi B1 Masalah
Fikih Kontemporer tentang” Hak Pengasuhan Anak Karena Orang Tua Yang
Bercerai Berbeda Agama”, yang berisikan mengenai persyaratan orang yang
akan mengasuh anak :
a. Berakal Sehat.
b. Dewasa (baligh)
c. Memiliki kemampuan untuk mengasuh, merawat dan mendidik anak.
d. Dapat dipercaya (amanah) dan berbudi pekerti yang baik.
e. Beragama Islam.
Apabila salah satu persyaratan tidak terpenuhi, maka yang
bersangkutan tidak berhak untuk mengasuh anak dan hak asuh berpindah pada
anggota keluarga yang muslim dan memenuhi ketentuan persyaratan orang
yang akan mengasuh anak tersebut diatas.2
Selanjutnya penulis mendapatkan pemahaman dari fatwa tersebut
bahwa hak asuh anak jatuh kepada orang tua yang beragama Islam. Namun
hadits nabi yang mengatakan:
َقا
َل
َأ ُ ب
ْو
َد ُوا
َد
َح :
َد ث
َ
َْم ا
ُم ْو
ُد
ْب ُن
َخ
ِلا
ٍد
ِسلا
ْل ِم
ْي
َح
د َ ث
َ
ْلا ا
َو ِل ْي
ُد
ْنَع ،
َأ
ِِْ
َع ْم
ٍر
ْعَ ي ،و
ِْن
َأا
ْو َز
ِعا
ْي
َح
د َث
ِْن
َع ْم
ٌر
ْب و
ُن
ُش َع
ْي
َب
َع
ْن
َأ ِب ْي
ِه
َع ْن
َج
ِد ِ
َع ْب
ِد
ِها
ْب ِن
َع
ْم ٍر
نأ و
ْما
َر َأ ًة
َق
َلا
ْت
َي
َر ا
ُس ْو
َل
ِها
ِإ
ن
ْبا
ِْن
َذه
َناك ا
َب
ْط
ِْن
َل ُه
ِو
َع
ٌءا
2َثو
َد ِي
ْي
َل ُه
َس َق
ٌءا
َو َح
ْج ِ
ر
ْي
َل ُه
َح َو
ٌءا
َو ِإ ن
َأ
ُاب
َط َل
َق
ِْن
َو َأ َر
َدا
َأ ْن
َ ي ْ
َت ِز
َع ُه
ِم
ِْن
،
َفاق
ل
َََ
َر ا
ُس ْو
ُل
ِها
َأ ملسو هيلع ها ىلص
ْن
َت
َأ
َح
ق
ِب ِه
َم
َْل ا
َ ت ْ
ِك
ِح
ْي
اور(
)دواد وبأ
.
3Artinya: “Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Khalid As-sulami, telah menceritakan kepada kami Al-Walid dari abu Amr Al-Auza’I, telah menceritakan kepada kami Amr bin Syuaib, dari ayahnya dari kakeknya yaitu Abdullah bin Amr bahwa seorang wanita berkata: Whai Rasulullah, sesungguhnya anakku ini, perutku adalah tempatnya, dan putting susuku adalah tempat minumnya, dan
pangkuanku adalah rumahnya, sedangkan ayahnya telah
mecraikannya dan ingin merampasnya dariku. Kemuadian
Rasulullah SAW bersabda: “Engkau lebih berhak terhadapnya selama engkau belum menikah. (HR. Abu Daud)
Hadits tersebut tidak mencantumkan bahwa agama bukan hak tetap
untuk menjadikan dasar berhaknya mendidik anak. Sedangkan dari kasus
diatas anak tersebut lebih memilih Ibunya yang telah murtad, dikarenakan
sang Ayah dinilai tidak pantas untuk mendidik anak. Dengan kata lain, ia tidak
cakap hukum dalam pandangan ajaran agama Islam.
Dari uraian diatas penulis masih ingin meneliti lebih lajut tentang
permasalahan mendidik anak dalam prerspektif fatwa MUI dengan memilih
judul“Hak Asuh Anak Terhadap Orang Tua Yang BerceraiI Karena Berbeda Agama” Analisis Hasil Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se-indonesia V tahun 2015.”
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
a. Pembatasan Masalah
Dalam penulisan ini penulis akan mengemukakan seputar
permasalahan hak asuh anak bagi orang tua yang bercerai akibat berbeda
3
Al-Khatabi, Ma’alimu As-sunan, (Lebanon: Al-mathba’ah Al-alamiyah, 1932),
agama. Mengingat luasnya pembahasan mengenai hak asuh anak maka
penulis hanya fokus pada analisa kasus metode MUI dalam
mengistinbatkan hukum hak pengasuhan anak tehadap orang tua yang
bercerai karena berbeda agama dan pandangan hukum Islam terhadap Hak
Asuh Anak Terhadap Orang Tua Yang Bercerai Karena Berbeda Agama”
Analisis Hasil Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se-indonesia
V tahun 2015.
b. Perumusan Masalah
Dari pemaparan latar belakang diatas, setidaknya terdapat
permasalahan yang dapat dicari kemudian diteliti dan ditemukan
jawabannya didalam penulisan skripsi ini. Adapun permasalahan tersebut
dapat dirumuskan oleh penulis sebagai berikut:
1. Bagaimanakah metode MUI dalam mengistinbatkan hukum hak
pengasuhan anak tehadap orang tua yang bercerai karena berbeda agama?
2. Bagaimana pandangan hukum Islam terhadap Hak Asuh Anak Terhadap
Orang Tua Yang Bercerai Karena Berbeda Agama” Analisis Hasil Keputusan
Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se-indonesia V tahun 2015” ?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Penulisan ini mempunyai tujuan untuk mengkaji secara mendalam
dengan mengharapkan bahwa hasil tulis skripsi ini dapat memberikan suatu
pengetahuan dan bernilai terhadap pemahaman lebih lanjut tengan hukum hak
asuh anak hasil keputusan fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Disamping
yang berharga bagi pembaca. Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penulisan
skripsi ini sebgai berikut:
1. Untuk mengetahui metode MUI dalam mengistinbatkan hukum hak
pengasuhan anak tehadap orang tua yang bercerai sebab berbeda agama.
2. Untuk mengetahui pandangan hukum Islam terhadap Hak Asuh Anak
Terhadap Orang Tua Yang Bercerai Karena Berbeda Agama” Analisis Hasil
Keputusan Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI se-indonesia V tahun 2015
Adapun manfaat dari penulisan skripsi ini adalah berharap agar
memberikan suatu kajian yang bermanfaat mengenai hak asuh anak akibat
orang tua yang bercerai beda agama, yang di tunjukkan untuk para pembaca
dan kepada mahasiswa yang berkecimpung dibidang ilmu hukum Islam.
D. Metode Penelitian dan Teknik Penulisan
Penelitian ini merupakan suatu penelitian yang dilakukan diruang
perpustakaan untuk menghimpun dan menganalisis data yang bersumber dari
perpustakaan, baik berupa buku-buku, priodikal-priodikal, seperti
majalah-majlah ilmiah yang diterbitkan secara berkala, kisah-kisah sejarah,
dokumen-dokumen dari materi perpustakaan lainnya yang dapat dijadikan sumber
rujukan untuk menyusun suatu laporan ilmiah. 4
Penelitian ini juga berpedoman dan mengacu pada:
1. Sumber Data
Yaitu data yang bersumber dari Hasil Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa
MUI Se- Indonesia V Tahun 2015tentang hak asuh anak akibat orang tua
yang bercerai beda agama.
4
2. Teknik Pengumpulan Data
Penggunaan penilitian bahan dilapangan seperti buku, kitan-kitab,
dokumen-dokumen, internet dan sebagainya dengan cara dibeca kemudian
dikaji dan disimpulkan sesuai dengan kelompok masalah-masalah yang
terdapat dalam skripsi ini.
3. Pengolahan dan Analisis Data
Setelah data diolah dengan menggunakan cara dikumpulkan,
kemudian di kaji dan dikelompokkan, lalu penulis menganalisanya dengan
metode-metode sebagai berikut:
a. Metode komperatif yaitu metode perbandingan antara hukum Islam
dan fatwa MUI yang membahas tentang pembahasan yang ada
b. Metode Induktif yaitu suatu cara dalam menganalisis datanya yang
bertitik tolak dari data-data yang mana data tersebut bersifat umum
kemudian ditarik dan diambil dengan bersifat khusus, atau data yang
bersifat khusus kemudian ditarik dan diambil dengan bersifat umum.
Teknik penulisan skripsi ini berpacu kepada buku pedoman
penulisan skripsi yang diterbitkan oleh Pusat Peningkatan dan Jaminan Mutu
(PPJM) Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah Jakarta tahun 2012.
E. Study Refiew Terdahulu
Dari beberapa literatur skripsi yang berada di fakultas Syariah dan
membahas masalah hak asuh anak akibat orang tua yang bercerai beda agama.
Adapun daftar skripsi tersebut adalah sebagai berikut:
1. Ibrohim, Moh. Anas Maulana. Dengan judul skripsi Pelimpahan Hak
AsuhAnak Kepada Bapak Kandung, PerkaraNomor:
345/Pdt.G/2007/PA.Bks.
Skripsi ini berisi tentang tentang hal-hal yang berkaitan dengan
pelimpahan hak asuh anak kepada bapak Perkara Nomor:
345/Pdt.G/2007/PA.Bks. pada skripsi ini penulis memilih Pengadilan
Agama Bekasi yang mana penulis ingin mengetahui hal-hal yang
menyebabkan pelimpahan anak kepada bapak kandungnya sebagai akibat
peceraian, yang seharusnya hak asuh anak itujatuh kepada Ibu
kandungnya.
2. Muawanah. Dengan judul skripsi Penetapan Hak Asuh Anak oleh Bapak: Analisis Putusan Pengadilan Agama Jakarta Timur Perkara Nomor : 171/Pdt.G/2010/PAJT.
Skripsi ini berisikan tentang cara Hakim memutuskan hak asuh anak
kepada Bapak padahal Ibunya mampu mendidik dan mengasuh anak
tersebut.
3. Nahrowi. Dengan judul skripsi Hak Asuh Anak Dibawah Umur Akibat Perceraian Menurut Undah-Undang No.23 th 2002 Tentang Perlindungan Anak: ( Analisis Putusan Perkara Mahkamah Agung no.349 K/AG/2006) .
yang lebih berhak dalam mendapatkan hak pemeliharaan anak, hal tersebut
kembali kepada kepentingan anak yang didasari pada putusan pengadilan.
Dari beberapa judul tersebut, maka jelas berbeda pembahasannya
dengan skripsi yang akan dibahas oleh penulis. Penulis akan mencoba
membahas Hukum Hak Asuh Anak Tehadap Orang Tua Yang Bercerai Karena
Berbeda Agama Hasil Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI Se-Indonesia V Tahun 2015
Tentang Hak Asuh Anak.
F. Sistematika Penulisan
Agar dapat mempermudah pada penulisan skripsi ini, maka penulis
membagi pembahasan skripsi menjadi beberapa bab yang dapat diuraikan
sistematikanya sebagai berikut:
Bab I. Merupakan bab pendahuluan yang terdiri dari latar belakang
masalah, pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat
penulisan, study riview terdahulu, dan sistematika penulisan.
Bab II. Berisikan tentang tinjauan umum yang meliputi
pembahasan,pengertian, hukum Hadhanah, Syarat-syarat Hadhanah
dan Orang-orang yang Berhak Melakukan Hadhanah
Bab III. Berisikan tentang Hadhanah bagi orang tua yang tidak cakap perilaku dan HasilFatwa Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI Tentang
Hak Hadhanah Akibat Perceraian Beda Agama.
Bab IV. Berisikan tentang pembahasan metode istinbath MUI, dalil-dalil, dan
analisi Hasil Ijtima’ Ulama Komisi Fatwa MUI.
Bab V. Bab ini berisi tentang penutup, kesimpulan dan saran dari isi
10
TINJAUAN UMUM TENTANG HADHANAH
A. Pengertian Hadhanah
Hak asuh anak menurut Hukum Islam dikenal dengan istilah
hadhanah. Hadhanah adalah kegiatan mengasuh, memelihara, mendidik anak hingga ia dewasa atau mampu menjaga dirinya sendiri.1
Sayyid Sabiq memberikan definisi Hadhanah adalah berasal dari
kata hidnan yaitu lambung. Seperti susunan kalimat bahasa Arab “hadhana ath-thaairu baidhahu”, burung itu menghimpit telur dibawah sayapnya, maka dari kalimat ini bias dipahami bahwa seorang Ibu menhimpit anaknya.2
Adapun menurut Abdurrahman Ghazaly yang dimaksud dengan hadhanah
yaitu merawat dan mendidik anak kecil yang belum mumayyiz sampai ia mampu mengatur dirinya sendiri.3
Ulama fikih mendefinisikan hadhanah adalah melakukan pemeliharaan anak-anak yang masih kecil, baik laki-laki maupun perempuan,
atau yang sudah besar tetapi belum mumayyiz, menyediakan sesuatu yang menjadikan kebaikannya, menjaganya dari sesuatu yang merusak dan
menyakitinya, mendidik jasmani, rohani, dan akalnya, agar kelak mampu
berdiri sendiri mengahadi hidup dan memikul tanggung jawabnya.4
1
Departemen Agama RI. Kompilasi Hukum Islam, (Jakarta: tp, 1996), h.4 2
As-Sayid Sabiq, Fiqh as-Sunah, (Jakarta: Dar as-Saqafah, tth), Jilid 2, h. 218. 3
Abdrahman Ghazali, Fikih Munakahat, (Jakarta: Prenada Media, 2013), h.175. 4
Hadhanah dalam Ensiklopedi Hukum Islam adalah mengasuh anak yang belum mumayyiz hal keadaan ia belum mampu mengurus dirinya sendiri (belum mandiri).5 Menurut Sa’ani, hadhanah adalah memelihara anak yang belum mampu mandiri. Pendidikannya dan pemeliharaannya dari segi sesuatu
yang membinasakannya atau membahayakannya.6
Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
pemeliharaan anak adalah merangkap kepada seluruh keperluan-keperluan
anak, baik itu yang bersifat jasmani ataupun rohani. Ulama mazhab fikih
berbeda pendapat mengenai masa pengasuhan anak. Imam Hanafi berpendapat
masa asuhan adalah tujuh tahun untuk laki-laki dan Sembilan tahun untuk
perempuan. Imam Hanbali bahwa masa asuhan untuk ank laki-laki dan
perepuan adalah 7 tahun dan setelah ia telah mumyayiz dibebaskan untuk
memilih. Imam Syafi’i berpendapat bahwa masa asuh i