• Tidak ada hasil yang ditemukan

Effect of Applying Dolomite to Productivity and Quality of King Grass and Taiwan Grass on Latosol Ciampea-Bogor Soil

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Effect of Applying Dolomite to Productivity and Quality of King Grass and Taiwan Grass on Latosol Ciampea-Bogor Soil"

Copied!
115
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBERIAN DOLOMIT TERHADAP

PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS RUMPUT

RAJA DAN RUMPUT TAIWAN

PADA

TANAH LATOSOL CIAMPEA

BOGOR

SKRIPSI

SELVINA MUTIARA MANALU

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

(2)

i

RINGKASAN

SELVINA MUTIARA MANALU. D24080047. 2012. Pengaruh Pemberian

Dolomit terhadap Produktivitas dan Kualitas Rumput Raja dan Rumput Taiwan pada Tanah Latosol Ciampea-Bogor. Skripsi. Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.

Pembimbing Utama : Ir. Asep Tata Permana, M.Sc. Pembimbing Anggota : Ir. Muhammad Agus Setiana, MS.

Penyediaan pakan berperan penting dalam usaha peternakan dan memegang 60%-70% untuk biaya produksi. Beberapa peternakan berusaha untuk menyediakan pakan sendiri bagi peternakannya, seperti di daerah Ciampea. Ciampea dengan kondisi tanah pada umumnya bersifat masam. Tanah jenis ini digolongkan tanah latosol. Tanah latosol merupakan tanah yang bersifat masam, miskin unsur hara, dan dapat bersifat racun bagi tanaman jika mengandung aluminium dan besi yang tinggi. Salah satu cara untuk memperbaiki sifat tanah latosol adalah dengan pengapuran. Pengapuran merupakan penambahan senyawa yang mengandung kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) ke dalam tanah sehingga mampu mengurangi kemasaman tanah. Kapur yang umum digunakan berupa dolomit. Dolomit (CaMg(CO3)2) merupakan

kapur yang mengandung Ca dan Mg yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan membandingkan pengaruh pemberian dolomit pada tanah latosol terhadap produktivitas dan kualitas rumput raja dengan rumput taiwan. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) berpola faktorial 2 x 3 dengan 3 ulangan. Faktor pertama adalah jenis rumput yaitu rumput raja dan rumput taiwan dan faktor kedua adalah dosis pemberian dolomit yaitu 0 ton/ha (D0), 12,5 ton/ha (D1), dan 25 ton/ha (D2). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan program SPSS 16. Hasil penelitian menunjukkan bahwa interaksi antara jenis rumput dengan pemberian dolomit memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap jumlah daun, berat segar dan berat kering daun dan batang, serta analisis kimia (serat kasar, protein kasar, Ca, dan Mg). Rumput raja memiliki produktivitas dan kandungan magnesium yang lebih tinggi. Rumput taiwan memiliki tinggi vertikal yang melebihi rumput raja dan kandungan kalsium yang lebih tinggi. Pemberian dolomit terhadap tanah latosol dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas rumput raja dan rumput taiwan.

(3)

ii

ABSTRACT

Effect of Applying Dolomite to Productivity and Quality of King Grass and Taiwan Grass on Latosol Ciampea-Bogor Soil

Manalu, S. M., A. T. Permana, M. A. Setiana

Providing of feed plays an important role on a farm and holds 60%-70% on production costs. Farmers take effort to provide feed for their farm, as example on Ciampea. Ciampea has acidic soil. That is called latosol soil. Latosol is acidic soil, poor nutrient contents, and can be toxic if it contents high Al and Fe. The method for recondition the soil is by application of limestone (dolomite). Dolomite [CaMg(CO3)2] is limestone containing calcium and magnesium. This research aimed

to determine and to compare the effect of applying three level dolomite to productivity and quality of king grass and Taiwan grass on latosol soil. The design of the experiment was Complete Randomized Design (CRD) with factorial pattern (2 x 3) and three replications. Factor 1 is grass types: king grass and taiwan grass and factor 2 is level of dolomite: 0 ton/ha (D0), 12.5 tons/ha (D1), and 25 tons/ha (D3). The data were analyzed by using SPSS 16. The results showed that interaction between types of grass and dolomite were significantly affected the productivity and the quality (P<0.01) of grass. King grasss has the highest productivity and magnesium. Taiwan grass has the highest vertical height and calcium. Moreover, applying dolomite significantly affected the productivity and the quality of king grass and Taiwan grass.

Keywords: dolomite, latosol soil, king grass, taiwan grass

(4)

iii

PENGARUH PEMBERIAN DOLOMIT TERHADAP

PRODUKTIVITAS DAN KUALITAS RUMPUT

RAJA DAN RUMPUT TAIWAN PADA

TANAH LATOSOL CIAMPEA

BOGOR

SELVINA MUTIARA MANALU D24080047

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada

Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN FAKULTAS PETERNAKAN

(5)

iv

Judul : Pengaruh Pemberian Dolomit terhadap Produktivitas dan Kualitas Rumput Raja dan Rumput Taiwan pada Tanah Latosol Ciampea-Bogor

Nama : Selvina Mutiara Manalu NIM : D24080047

Menyetujui,

Pembimbing Utama Pembimbing Anggota

(Ir. Asep Tata Permana, M.Sc.) (Ir. Muhammad Agus Setiana, MS) NIP. 19640302 199103 1 002 NIP. 19570824 198503 1 001

Mengetahui, Ketua Departemen

Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan

(Dr. Ir. Idat Galih Permana, M.Sc. Agr.) NIP. 19670506 199103 1 001

(6)

v

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan pada tanggal 28 Juli 1990 di Medan, Sumatera Utara. Penulis adalah anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Bapak Sahat Mauliate Manalu (alm.) dan Ibu Yetti Siahaan. Penulis mengawali pendidikan pada tingkat kanak-kanak di Taman Kanak-kanak Methodist Lubukpakam pada tahun 1994 dan diselesaikan pada tahun 1996. Pendidikan dasar pada

tahun 1996-1997 di Sekolah Dasar Methodist

Lubukpakam dan tahun 1997-2002 di Sekolah Dasar

Roma Katolik Serdang Murni II Lubukpakam. Pendidikan lanjutan tingkat pertama dimulai pada tahun 2002 dan diselesaikan pada tahun 2005 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Lubukpakam. Penulis melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Lubukpakam pada tahun 2005 dan diselesaikan pada tahun 2008.

Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008 melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) dan diterima di Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2009. Penulis aktif di Unit Kegiatan Mahasiswa Persatuan Mahasiswa Kristen (PMK) Institut Pertanian Bogor. Penulis berkesempatan menerima beasiswa Bantuan Belajar Mahasiwa (BBM) pada tahun 2011-2012.

Bogor, September 2012

(7)

vi

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah melimpahkan berkat dan hikmatNya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan skripsi ini.

Skripsi ini berjudul “Pengaruh Pemberian Dolomit terhadap Produktivitas dan Kualitas Rumput Raja dan Rumput Taiwan pada Tanah Latosol Ciampea-Bogor”. Skripsi ini ditulis berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan mulai bulan Desember 2011 sampai Mei 2012 bertempat di Kebun Mitra Tani Farm, Ciampea, Bogor.

Rumput rajaadalah salah satu rumput yang umum digunakan sebagai hijauan pakan. Selain itu, ada jenis rumput yang belum dibudidayakan secara komersil di Indonesia namun memiliki potensi yang cukup baik untuk dikembangkan yaitu rumput taiwan. Rumput ini adalah salah satu varietas dari rumput gajah. Rumput taiwan memiliki potensi untuk dikembangkan di Indonesia sebagai hijauan pakan karena produksi bahan keringnya yang cukup tinggi dan sifat fisiknya yang disukai ternak. Kendala yang terjadi bahwa sebagian wilayah di Indonesia memiliki sifat tanah yang masam. Sebesar 9% jenis tanah masam ini digolongkan sebagai tanah latosol. Tanah latosol memiliki pH yang rendah, kandungan nutrisi yang rendah, dan mengandung aluminium dan besi yang tinggi sehingga berbahaya bagi tanaman. Salah satu cara untuk mengurangi kendala tersebut adalah dengan dilakukannya pengapuran. Kapur yang umum digunakan adalah dolomit karena harganya yang relatif murah, mudah didapat, dan mengandung kalsium dan magnesium yang tinggi. Penambahan dolomit diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan kualitas dari rumput raja dan rumput taiwan.

Penulis menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan agar skripsi ini menjadi lebih baik. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan memberikan informasi yang berguna bagi pembaca.

Bogor, September 2012

(8)

vii

Rumput Raja (Pennisetum purpureum Schumach x Pennisetum

typhoidesBurm.) ……….

Preparasi Sampel untuk Analisa Mineral (Wet Ashing)

Cara Penggunaan AAS (Atomic Absorption

(9)

viii

Rancangan dan Analisis Data ……….

HASIL DAN PEMBAHASAN ………...

Perbandingan Produksi Berat Kering Daun dan Batang

(10)

ix

Produksi Berat Segar Daun Rumput ………..

Produksi Berat Kering Daun Rumput ………

Produksi Berat Segar Batang Rumput ………

Produksi Berat Kering Batang Rumput ………..

Perbandingan Produksi Berat Kering Daun dan Batang Rumput

Raja ……….

Perbandingan Produksi Berat Kering Daun dan Batang Rumput

(11)

x

DAFTAR GAMBAR

Nomor 1. 2. 3. 4.

5. 6.

Rumput Raja ………..

Rumput Taiwan ………..

Petak Tanam Rumput ……….

Perubahan Jumlah Daun Rumput Raja (A) dan Rumput Taiwan (B) pada Berbagai Dosis Pemberian Dolomit ………....

Bunga Rumput ………...

Perubahan Tinggi Vertikal Rumput Raja (A) dan Rumput Taiwan

pada Berbagai Dosis Pemberian Dolomit (B) ………

Halaman 3 5 11 17

(12)

xi

Analisis Tanah Latosol Sebelum Diberi Perlakuan Dolomit ... Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Jumlah

Daun 3 MST ………..

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Jumlah

Daun 4 MST ………..

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Jumlah

Daun 5 MST ………..

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Jumlah

Daun 6 MST ………..

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Jumlah

Daun 7 MST ………..

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Jumlah

Daun 8 MST ………..

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Jumlah

Daun 9 MST ………..

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Jumlah

Daun 10 MST ………

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Jumlah

Daun 11 MST ………

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Tinggi

Vertikal 3 MST ………...

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Tinggi

Vertikal 4 MST ………...

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Tinggi

Vertikal 5 MST ………...

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Tinggi

Vertikal 6 MST ………...

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Tinggi

Vertikal 7 MST ………...

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Tinggi

Vertikal 8 MST ………...

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Tinggi

Vertikal 9 MST ………...

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Tinggi

Vertikal 10 MST ………...

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Rataan Tinggi

(13)

xii

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Produksi Berat

Segar Daun Rumput ………..

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Produksi Berat

Segar Batang Rumput ………...

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Produksi Berat

Kering Daun Rumput ………

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Produksi Berat

Kering Batang Rumput ……….

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Produksi Berat

Segar Rumput ………

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Produksi Berat

Kering Rumput ………..

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Protein Kasar

Daun ………..

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Serat Kasar

Daun ………..

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan

Kalsium (Ca) Daun ………...………

Hasil Analisis SPSS Pengaruh Perlakuan terhadap Kandungan

(14)

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hijauan sebagai salah satu pakan ternak ruminansia menjadi pilihan utama bagi peternak, khususnya rumput. Rumput sebagai hijauan pakan ternak telah umum digunakan oleh peternak dan dapat diberikan dalam jumlah yang besar. Rumput mengandung zat-zat makanan yang bermanfaat bagi kelangsungan hidup ternak, seperti air, lemak, serat kasar, beta-protein, mineral, dan vitamin. Rumput yang umum digunakan sebagai hijauan pakan adalah rumput raja dan rumput gajah. Rumput raja mudah dikenali dan sudah awam digunakan oleh peternak sebagai hijauan pakan. Ciri-ciri rumput ini memiliki batang yang besar dan keras, daun berbulu kasar dan berukuran besar, serta produksi bahan kering berkisar antara 40-63 ton/ha/tahun (Siregar, 1989). Protein kasar rumput ini sekitar 4,2%-13,5%, serat kasar 31,4%, dan kandungan Ca 0,37% (Yana, 2011).

Rumput taiwan merupakan salah satu kultivar dari rumput gajah. Rumput taiwan belum dibudidayakan secara komersil di Indonesia. Ciri-ciri rumput ini memiliki batang yang lebih kecil dari rumput gajah dan rumput raja dan berwarna kemerahan pada batang bagian bawah, daun berbulu halus dan sedikit, ukuran daun lebih kecil, produksi bahan kering sekitar 35,45 ton/ha/tahun, dan protein kasar 10,85% (Manurung et al., 2001).

Mitra Tani Farm adalah peternakan yang bergerak di bidang penggemukan domba, kambing, dan sapi. Peternakan ini berada di daerah Ciampea, Bogor. Tipe tanah di sekitar peternakan adalah latosol. Ciri-ciri tanah latosol adalah bertekstur liat berdebu, lempung berdebu sampai lempung berpasir. Bobot isi berkisar antara 0,90– 0,97 g/cm3, porositas tanah berkisar antara 63%-68%. Kesuburan kimia tanah biasanya sangat rendah sampai sedang dan bersifat masam. Jenis mineral liat tanah termasuk pada kelompok kaolinit, sehingga memiliki KTK yang relatif rendah. Kandungan Al dan Fe tanah relatif tinggi (Soeparto, 1982).

Salah satu cara untuk memperbaiki keadaan tanah adalah dengan pengapuran. Pengapuran merupakan penambahan senyawa yang mengandung Ca dan Mg ke dalam tanah sehingga mampu mengurangi kemasaman tanah. Kapur yang banyak digunakan adalah dolomit (CaMg(CO3)2). Zein et al. (1993) melaporkan bahwa

(15)

2 kandungan N, P, K, Ca, dan Mg rumput. Selain rumput, pemberian dolomit untuk legum (kacang-kacangan) juga menunjukan hasil yang nyata. Sumaryo dan Suryono (2000) melaporkan bahwa pemberian dolomit terhadap kacang tanah (Arachis hypogaea, L.) meningkatkan jumlah bintil akar dan hasil kacang tanah yang terlihat pada parameter jumlah bintil akar, jumlah polong isi, berat polong basah, dan berat polong kering. Wijaya (2011) juga melaporkan hasil yang sama untuk kacang tanah bahwa penambahan dolomit berpengaruh nyata terhadap jumlah bunga, persentase polong penuh dan setengah penuh, bobot kering batang dan ginofor, bobot biji per tanaman, bobot kering daun, dan bobot polong per tanaman.

Tujuan

(16)

3

TINJAUAN PUSTAKA

Rumput Raja (Pennisetum purpureum Schumach x Pennisetum typhoides

Burm.)

Rumput raja merupakan hasil persilangan antara rumput gajah (Pennisetum purpureum Schumach) dengan Pennisetum typhoides Burm. Rumput raja adalah jenis tanaman perenial yang membentuk rumpun, daya adaptasi yang baik di daerah tropis, dapat tumbuh di dataran rendah dan tinggi (50-1200 m dpl), tumbuh baik pada tanah yang tidak terlalu lembab dengan curah hujan di atas 1000 mm per tahun dan didukung dengan irigasi yang baik. Pertumbuhan awal rumput raja lebih lambat dan memerlukan perawatan yang lebih intensif dibandingkan dengan rumput gajah, namun memiliki pertumbuhan yang cepat mengalahkan rumput gajah (BPTHMT Baturaden, 1989).

Rumput raja merupakan rumput potongan yang mempunyai bentuk rumpun yang terdiri dari 20-50 batang dengan diameter sekitar 2,5 cm. Tingginya dapat mencapai 2-3 m, lebar daun 2-3 cm, dan panjangnya 60-90 cm. Rumput ini mudah ditanam dengan menggunakan stek batang atau sobekan rumpun. Bibit rumput raja sebaiknya tidak terlalu muda atau terlalu tua karena dapat mengakibatkan pertumbuhan terhambat, bahkan tidak tumbuh. Stek batang yang baik berdiamter 1,5-2 cm dengan panjang 1,5-25 cm dan memiliki 1,5-2-3 mata tunas. Bibit yang berupa sobekan rumpun terdiri dari 2-3 anakan (Kushartono, 1997).

Gambar 1. Rumput Raja

(17)

4 Pada umumnya rumput raja tumbuh baik pada curah hujan yang tinggi atau sebaliknya kurang tahan pada tanah yang kering karena rumput ini mengandung ± 80% air. Kebutuhan air yang cukup tinggi menjadi suatu acuan untuk penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan. Hujan memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan rumput raja. Bila hujan terus menerus maka pertumbuhan rumput akan berlangsung terus, sedang bila kekurangan air pertumbuhan akan terhambat. Penanaman dengan pengairan yang cukup akan menguntungkan karena dapat dilakukan sepanjang tahun. Salah satu faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya bibit stek bertunas adalah kadar air yang terdapat di dalam mata tunas. Ketersediaan air yang cukup juga diperlukan untuk pertumbuhan batang (Kushartono, 1997).

Rumput raja memiliki ciri ukuran batang yang lebih besar dan lebih keras daripada rumput gajah, ukuran daun yang lebih lebar, dan terdapat banyak bulu-bulu kasar. Produksi bahan kering berkisar antara 40-63 ton/ha/tahun (Siregar, 1989). Kandungan nutrisi rumput raja dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan Nutrien Rumput Raja

Kandungan Nutrien (%)

Bahan Kering* 22

Protein Kasar* 13,5

Serat Kasar* Ca**

34,1 0,37 Sumber: *) Soetanto, 2002

**) Yana, 2011

(18)

5

Rumput Taiwan (Pennisetum purpureum Schumachcv Taiwan)

Rumput taiwan merupakan salah satu varietas dari rumput gajah (Pennisetum purpureum Schumach). Rumput ini berasal dari Taiwan dan belum dibudidayakan secara komersial di Indonesia. Walaupun rumput ini masih termasuk rumput gajah, tetapi karakteristik dari rumput taiwan ini sedikit berbeda. Perbedaannya terdapat pada ukuran batangnya yang lebih kecil dan lunak. Pada batang yang lebih muda pangkal batang yang paling bawah (dekat ke tanah) berwarna kemerah-merahan, tinggi rumput bisa mencapai 4-5 m, daun lebar, dan terdapat bulu-bulu lembut pada daunnya (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bidang Produksi Peternakan, 2010; Nurhayu et al., 2009).

Rumput taiwan dapat tumbuh pada lingkungan hawa panas yang lembab, tetapi tahan terhadap musim panas yang cukup tinggi dan tahan terhadap naungan. Rumput ini tidak tahan hidup di daerah hujan yang terus-menerus. Tanah tempat rumput ini ditanam harus subur, gembur, tidak bercadas, dan pH tanahnya 5-7. Pertumbuhannya akan terangsang jika diberikan pupuk nitrogen (urea) (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bidang Produksi Peternakan, 2010).

Gambar 2. Rumput Taiwan

Sumber: PNPM Agribisnis Perdesaan (SADI) Nusa Tenggara Timur (2009)

(19)

6 dilakukan setelah rumput berumur minimal 60 hari. Pada musim hujan interval panen antara 30-40 hari dan musim kemarau 50-60 hari. Tinggi pemotongan 15-20 cm dari permukaan tanah (Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bidang Produksi Peternakan, 2010).

Tabel 2. Kandungan Nutrien Rumput Taiwan

Kandungan Nutrien (%)

Protein Kasar* 10,85

Serat Kasar** Ca**

30-32 0,24-0,31

Sumber: *) Manurung et al., 2002

**) Suyitman. 2003

Tanah Latosol

Tanah latosol adalah tipe tanah yang terbentuk melalui proses latosolisasi. Tanah ini merupakan tanah tua yang biasa dijumpai di daerah tropik. Area seluas 9% di Indonesia yaitu Jawa, Kalimantan, dan Sumatera memiliki jenis tanah latosol. Proses latosolisasi memiliki tiga proses utama, yaitu (1) pelapukan intensif yang terjadi terus menerus, (2) terjadi pencucian basa-basa yang mengakibatkan penumpukan seskuioksida, dan (3) terjadi penumpukan mineral liat kaolinit. Proses latosolisasi biasanya terjadi pada daerah-daerah yang memiliki curah hujan tinggi, sehingga gaya hancur bekerja lebih cepat (Soepardi, 1983).

Tanah latosol memiliki ciri berwarna merah, kuning ataupun cokelat. Kapasitas tukar kation rendah yang disebabkan rendahnya kadar bahan organik tanah dan sifat liat hidro-oksida. Kandungan aluminium (Al) dan besi (Fe) relatif tinggi dan kadar seskuioksida tinggi. Ciri-ciri ini dapat menjadi faktor pembatas bagi pertumbuhan tanaman. Tanah latosol biasanya memberikan respon baik terhadap pemupukan dan pengapuran (Soepardi, 1983).

(20)

7 Tabel 3. Hasil Analisis Tanah Latosol

Jenis Pengukuran Nilai Keterangan

pH H2O 5,4 Asam

Keterangan : Hasil Analisis Laboratorium Tanah, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor (1999)

Sumber : Feniara (2001)

Salah satu penyebab rendahnya produktivitas tanaman dan abnormalitas warna daun adalah karena rendahnya pH tanah. Setelah mampu menghadapi kondisi pH yang rendah, kemudian tanaman memberi respon terhadap faktor-faktor lainnya seperti kehadiran aluminium (Al), mangan (Mn), rendahnya nitrogen (N), fosfor (P), molibdenum (Mo), dan kalsium (Ca) tanah. Rendahnya pH tanah menyebabkan tanaman keracunan Al dan Mn serta menurunkan ketersediaan P tanah. Sebaliknya jika pH tanah tinggi akan menurunkan ketersediaan P tanah pula dan menurunkan unsur mikro lainnya seperti zink (Zn) dan boron (B). Tidak semua tanaman tahan terhadap kondisi tanah yang seperti ini sehingga diperlukan tanaman yang dapat beradaptasi pada jenis tanah ini atau dilakukan perbaikan terhadap sifat tanah latosol (Kidd dan Proctor, 2001; Stevens et al., 2001).

Pengapuran

(21)

8 Tujuan utama pengapuran dilakukan untuk perbaikan sifat kimia tanah. Selain daripada meningkatkan pH, pengapuran dapat berfungsi untuk (1) menurunkan kadar keracunan dari besi (Fe), aluminium (Al), dan mangan (Mn) serta (2) memperbaiki serapan molibdenum (Mo), fosfor (F), kalsium (Ca), dan magnesium (Mg) (Soepardi, 1983; Zambrano et al., 2007).

Sebelum melakukan pengapuran, ada beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan. Menurut Soepardi (1983) beberapa diantaranya adalah (1) perlu atau tidaknya kapur diberikan, (2) jenis kapur yang diberikan, dan (3) banyaknya kapur yang harus diberikan. Perlu tidaknya kapur diberikan tergantung dari keadaan kimia tanah yang ditentukan melalui pH dan kandungan aluminium tanah serta jenis tanaman yang akan ditanam. Pemilihan kapur yang tepat harus didasarkan pada lima faktor yaitu: (1) jaminan kimia dari kapur; (2) harga per ton; (3) kecepatan reaksi; (4) kehalusan bahan; dan (5) kemasan kapur. Menurut Hardjowigeno (1995) faktor-faktor yang menentukan banyaknya kapur yang diperlukan adalah pH tanah, tekstur tanah, kadar bahan organik tanah, mutu kapur, dan jenis tanaman. Apabila pemberian kapur melebihi pH tanah yang diperlukan akan berpengaruh buruk terhadap pertumbuhan optimum tanaman dan tidak efisien (ekonomis), juga waktu dan cara pengapuran harus diperhatikan. Pada dasarnya kapur diberikan pada tanah bila diperkirakan hujan tidak akan turun pada saat pemberian kapur (Leiwakabessy dan Sutandi, 2004).

Dolomit

Kapur yang umum digunakan adalah dari golongan karbonat, yaitu kalsium karbonat (CaCO3) dan dolomit (CaMg(CO3)2). Bila bahan tersebut tidak atau hanya

sedikit mengandung dolomit disebut kalsit. Bila jumlah magnesium meningkat disebut kapur dolomitik dan bila hanya mengandung sedikit kalsium karbonat dan hanya terdiri dari kalsium-magnesium-karbonat maka disebut dolomit. Kalsit dan dolomit merupakan kapur yang bersifat dingin sehingga dapat digunakan secara langsung pada tanaman (Soepardi, 1983).

Kapur dolomit memiliki sifat fisik berwarna putih keabu-abuan atau kebiru-biruan. Dolomit (CaMg(CO3)2) memiliki jumlah Ca dan Mg yang relatif seimbang,

(22)

9 yang paling umum dalam grup kecil ialah kristal rhombohedral dengan lengkungan, tampak seperti pelana. Dolomit memiliki sifat tembus transparan dan tembus cahaya dalam pecahan yang tipis serta memiliki ketahanan yang rapuh (Harjanti, 2009). Menurut Soepardi (1983) kapur dolomit bereaksi lebih lambat dengan tanah dibandingkan dengan kapur kalsit.

Bahan kapur yang diberikan ke dalam tanah akan mengalami reaksi sampai terbentuk keseimbangan baru. Reaksi yang terjadi pertama kali adalah penguraian bahan kapur membentuk ion CO3 serta ion-ion Ca dan Mg. Selanjutnya, ion CO3

yang terbentuk menarik ion H dari komplek jerapan dengan reaksi sebagai berikut:

(CaMg)CO3 (CaMg)2+ + CO3

2-CO32- + H2X H2CO3 + X

2-(CaMg)2+ + X2- (CaMg) X, dimana X adalah komplek jerapan (adsorb)

Dengan demikian yang berperan sebagai agen pengapuran adalah CO3, sebab ion Ca

sendiri tidak sanggup melepaskan H+ dari komplek jerapan (Kussow, 1971).

(23)

10

MATERI DAN METODE

Lokasi dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di kebun Mitra Tani Farm, Desa Tegal Waru, Ciampea, Bogor. Analisis tanah dilakukan di Laboratorium Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Kementerian Pertanian, Cimanggu, Bogor. Analisis protein kasar dan serat kasar dilakukan di Laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor. Analisis kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dilakukan di Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Desember 2011 sampai Mei 2012.

Keadaan Umum Lokasi Penelitian

Mitra Tani Farmberlokasi di Jl. Baru AMD No. 51 RT/RW 04/05 Desa Tegal

Waru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Kecamatan Ciampea adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Bogor tepatnya di bagian barat Kabupaten Bogor. Luas Kecamatan Ciampea adalah sekitar 55,63 km2, yang terdiri dari 13 desa dan terbagi menjadi 43 dusun, 120 rukun warga (RW), serta 470 rukun tetangga (RT). Batas-batas wilayah administrasi yang mengelilingi Kecamatan Ciampea adalah sebagai berikut:

1) Sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Ranca Bungur dan Kecamatan Kemang.

2) Sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tenjolaya. 3) Sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Cibungbulang.

4) Sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Dramaga.

(24)

11

Materi Alat dan Bahan

Peralatan yang digunakan selama penelitian adalah cangkul, meteran dengan ketelitian 0,5 cm, timbangan manual, timbangan digital, pisau, gunting, label, dan oven 60 ºC untuk pengeringan sampel rumput.

Bahan-bahan yang digunakan adalah stek rumput raja (Pennisetum

purpureum Schumach x Pennisetum typhoides Burm.), stek rumput taiwan (Pennisetum purpureum Schumach cv taiwan), dolomit, pupuk kandang, dan pupuk urea.

Prosedur Persiapan Lahan

Persiapan lahan meliputi pembersihan lahan dan penggaruan untuk menggemburkan tanah. Pembersihan dilakukan terhadap semak belukar dan alang-alang. Lahan berukuran 75 m2 dibentuk menjadi petakan-petakan dengan ukuran yang sama yaitu 2 m x 2 m. Jarak antar tanaman dan jarak antar petak tanam adalah 50 cm. Lalu diberikan pupuk kandang sebagai pupuk dasar dengan dosis yang sama untuk semua petak tanam yaitu ± 40 ton/ha. Kemudian diberi perlakuan yaitu pemberian dolomit sebesar 0 kg (0 ton/ha), 5,2 kg (12,5 ton/ha), dan 10,4 kg (25 ton/ha) (Zain, 1998) sesuai petakan yang telah ditentukan.

50 cm 50 cm

50 cm 2 m

2 m

Gambar 3. Petak Tanam Rumput

X X X

X X X

(25)

12

Penanaman

Tanah dilubangi dengan kedalaman lubang tanam ± 5 cm dan jumlah lubang tanam per petak tanam adalah sembilan lubang. Setiap lubang ditanami bibit rumput sebanyak satu stek, sehingga terdapat sembilan tanaman per petak tanam. Setiap satu petak tanam ditanami jenis rumput yang sama.

Pemupukan

Pemberian pupuk berupa urea sebagai pupuk dasar dilakukan pada dua minggu setelah tanam (MST) dengan dosis 250 kg/ha (N = 100 kg). Urea ditabur di sekeliling tanaman dengan dosis yang sama untuk setiap petak tanamnya.

Penyiangan

Pembersihan dilakukan terhadap gulma yang tumbuh di sekitar rumput. Pembersihan gulma dilakukan setiap minggu dengan cara mencabut gulma atau menggunakan cangkul.

Pemanenan

Pemanenan dilakukan pada 80 hari setelah tanam. Panen rumput dilakukan dengan memotong batang ± 10 cm dari permukaan tanah. Daun dan batang rumput dipisah, lalu dilakukan penimbangan terhadap berat masing-masing bagian.

Penghitungan Produktivitas Rumput

Berat Segar. Rumput dipotong ± 10 cm dari permukaan tanah. Kemudian daun dengan batang dipisah dengan menggunting daun pada ujung pelepahnya. Lalu ditimbang per bagiannya baik daun maupun batang untuk setiap petak tanamnya.

Berat Kering. Masing-masing daun dan batang dimasukkan ke dalam kantung kertas secara terpisah. Beri label sesuai dengan sampel yang telah dikeringkan. Sampel yang digunakan ± 100 g. Sebelum dikeringkan dalam oven, batang terlebih dahulu dibelah atau dipecah untuk memudahkan pengeringan. Sampel-sampel ini dimasukkan ke dalam oven 60 ºC selama ± 24 jam. Setelah 24 jam, sampel didinginkan hingga suhunya turun, lalu mulai ditimbang.

Analisis Kualitas Rumput

(26)

13 destruksi (pemanasan dalam keadaan mendidih) selama satu jam sampai larutan jernih. Setelah dingin, tambahkan 50 ml aquadest dan 20 ml NaOH 40%, lalu didestilasi. Hasil destilasi ditampung dalam labu Erlenmeyer yang berisi campuran 10 ml H3BO3 2% dan 2 tetes indikator Brom Cresol Green-Methyl Red berwarna

merah muda. Setelah volume hasil tampungan (destilat) menjadi 10 ml dan berwarna hijau kebiruan, destilasi dihentikan dan destilasi dititrasi dengan HCl 0,1 N sampai berwarna merah muda. Perlakuan yang sama dilakukan juga terhadap blanko. Dengan metode ini diperoleh kadar nitrogen total yang dihitung dengan rumus:

Keterangan:

S = volume titran sampel (ml)

B = volume titran blanko (ml)

W = berat sampel kering (mg)

Kadar protein diperoleh dengan mengalikan kadar nitrogen dengan faktor perkalian untuk berbagai bahan pangan berkisar 5,18-6,38 (AOAC, 1980).

Serat Kasar. Sebanyak satu gram sampel dilarutkan dengan 100 ml H2SO4 1,25%,

dipanaskan hingga mendidih lalu dilanjutkan dengan destruksi selama 30 menit. Kemudian saring dengan kertas saring dan dengan bantuan corong Buchner. Residu hasil saringan dibilas dengan 20-30 ml air mendidih dan dengan 25 ml air sebanyak tiga kali. Residu didestruksi kembali dengan NaOH 1,25% selama 30 menit. Lalu saring dengan cara seperti di atas dan dibilas berturut-turut dengan 25 ml H2SO4

1,25% mendidih, 25 ml air sebanyak tiga kali dan 25 ml alkohol. Residu dan kertas saring dipindahkan ke cawan porcelain dan dikeringkan dalam oven 130 ºC selama dua jam. Setelah dingin residu beserta cawan porcelain ditimbang (A), lalu dimasukan dalam tanur 600 ºC selama 30 menit, didinginkan dan ditimbang kembali (B).

Keterangan:

W = berat residu sebelum dibakar dalam tanur

= A – (berat kertas saring + cawan) : A: berat residu + kertas saring + cawan Wº = berat residu setelah dibakar dalam tanur

(27)

14

Preparasi Sampel untuk Analisa Mineral (Wet Ashing)

Sebanyak satu gram sampel rumput ditimbang, dimasukkan ke dalam Erlenmeyer ukuran 125 ml/100 ml. Tambahkan 5 ml HNO3 (p), lalu didiamkan selama

satu jam pada suhu ruang di ruang asam. Panaskan di atas hot plate dengan temperatur rendah selama 4-6 jam (dalam ruang asam). Biarkan semalam (sampel ditutup). Tambahkan 0,4 ml H2SO4 (p), lalu dipanaskan di atas hot plate sampai

larutan berkurang (lebih pekat), biasanya satu jam. Tambahkan 2-3 tetes larutan campuran HClO4 : HNO3 (2:1). Sampel masih tetap di atas hot plate, karena

pemanasan terus dilanjutkan sampai ada perubahan warna dari coklat kuning tua kuning muda (biasanya satu jam). Setelah ada perubahan warna, pemanasan masih dilanjutkan selama 10-15 menit. Pindahkan sampel, didinginkan, dan ditambahkan 2 ml aquades dan 0,6 ml HCl (p). Panaskan kembali agar sampel larut

(±15 menit) kemudian dimasukkan ke dalam labu takar 100 ml. Apabila ada endapan disaring dengan glass wool. Hasil pengabuan basah bisa dianalisa di AAS atau spektrofotometer untuk analisa berbagai mineral. Sebelumnya dipreparasi dulu dengan faktor pengenceran yang dibutuhkan dan penambahan bahan kimia untuk menghilangkan ion-ion pengganggu (Cl3La.7H2O) (Reitz et al., 1960).

Cara Penggunaan AAS (Atomic Absorption Spectrofotometer) Shimadzu AA-680

Alat dihubungkan dengan listrik, lalu stabilizer dinyalakan. Gas asetilen dibuka. Kompresor dinyalakan dengan menekan tombol ON, semua kran udara yang ada di kompresor ditutup, ditunggu sampai tekanan berhenti pada angka 2. Tombol

power pada alat ditekan dan tunggu hingga muncul ”SHIMADZU AA-680 READY”

pada printer.

Tombol MODE ditekan, lalu tekan angka 2, ENTER. SIGNAL PROC ditekan, lalu tekan angka 3, ENTER. Untuk memilih lampu, misalnya kalsium, #HC LAMP ditekan, tekan angka 1, ENTER. ELEM ditekan, tekan angka 9, ENTER.

Tombol START ditekan dan ditunggu sampai keluar ”ANALYTICAL LINE

SEARCH” pada print out. START dimatikan dan ditunggu sampai 15 menit. +

(28)

15 Tahap pengukuran sample. LEAK CHK dimatikan dan IGNITE dihidupkan, ditekan sampai api pada pembakaran hidup. Tekan START. Selang pengisap sampel dimasukkan pada aquadest untuk menolkan alat (BLANKO). Tekan MEASURE, selama nyala pada MEASURE belum hilang, selang jangan diangkat. Setelah nyala pada MEASURE hilang, selang diangkat dan dicelupkan pada larutan standar. Demikian seterusnya untuk pengukuran pada sampel dilakukan hal yang sama. Pengulangan injek larutan standar dilakukan setelah pengecekan ± 12 sampel.

Setelah semua sampel diukur, EXTINGUISH ditekan. Pada tahap ini, bila akan ganti lampu katoda (untuk analisis mineral yang lain), dilakukan lagi dari mulai tahap MODE. Apabila selesai analisis, gas asetilen ditutup, lalu EXTINGUISH ditekan. Kompresor di OFF kan, dibuka semua kran yang awalnya ditutup, dibiarkan sampai tekanan turun pada angka 0. Tekan power untuk mematikan alat. Stabilizer di OFF kan. Lalu stop kontak dicabut (Shimadzu Corporation, 1993).

Rancangan dan Analisis Data

Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) berpola faktorial 2 x 3 dengan 3 ulangan.

Faktor pertama: jenis rumput

1. Rumput raja (Pennisetum purpureum Schumach x Pennisetum typhoides Burm.)

2. Rumput Taiwan (Pennisetum purpureum Schumach cv Taiwan)

Faktor kedua : dosis pemberian dolomit 1. Pemberian dolomit dosis 0 ton/ha (D0) 2. Pemberian dolomit dosis 12,5 ton/ha (D1) 3. Pemberian dolomit dosis 25 ton/ha (D2).

Model matematik yang digunakan adalah sebagai berikut:

Yijk = µ + αi + βj + (αβ)ij + εijk

Keterangan:

Yijk = Nilai pengamatan pada faktor 1 taraf ke-i, faktor 2 taraf ke-j dan ulangan ke-k

µ = Nilai rataan umum

αi = Pengaruh faktor 1 ke-i

βj = Pengaruh faktor 2 ke-j

(αβ)ij = Pengaruh interaksi dari faktor 1 ke-i dan faktor 2 ke-j

(29)

16 Data diolah menggunakan program SPSS 16, lalu jika signifikan dilakukan uji lanjut menggunakan kontras ortogonal (Mattjik dan Sumertajaya, 2006).

Peubah yang Diamati

Peubah yang diamati adalah sebagai berikut:

1. Tinggi rumput tiap minggu mulai 3 MST, diukur dari permukaan tanah sampai daun bendera atau daun yang terpanjang.

2. Jumlah daun tiap minggu mulai 3 MST, dihitung jumlah daun untuk daun yang masih hijau, tidak termasuk bakal daun dan daun yang sudah menguning.

(30)

17

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pertumbuhan Rumput Jumlah Daun

Hasil penghitungan jumlah daun menunjukan terjadinya penurunan rataan jumlah daun pada 9 MST dan 10 MST untuk rumput raja perlakuan D0, sedangkan untuk perlakuan D2 terjadi penurunan dari 9-11 MST (panen). Penurunan rataan jumlah daun untuk perlakuan D1 terjadi lebih cepat daripada perlakuan D0 dan D2 yaitu pada 8 MST. Hal ini disebabkan karena jumlah daun yang tumbuh lebih sedikit daripada daun yang menguning sehingga menurunkan rataan jumlah daun. Daun tanaman yang menguning dapat disebabkan karena tanaman kekurangan nitrogen, dimana nitrogen merupakan bagian dari klorofil (zat hijau daun) yang dibutuhkan untuk proses fotosintesis (Soepardi, 1983). Pada rumput taiwan tidak terjadi penurunan rataan jumlah daun dari pengamatan setiap minggunya.

Gambar 4. Perubahan Jumlah Daun Rumput Raja (A) dan Rumput Taiwan (B) pada Berbagai Dosis Pemberian Dolomit

Hasil penghitungan rataan jumlah daun pada 3 MST, 8 MST, dan 9 MST (Lampiran 2, 7, dan 8) berpengaruh sangat nyata (P<0,01) pada jenis rumput. Rataan jumlah daun lebih banyak pada rumput taiwan untuk 3 MST, sedangkan pada 8 dan 9

(31)

18 MST adalah pada rumput raja. Rataan jumlah daun ini menunjukan bahwa pertumbuhan awal rumput raja lebih lambat daripada rumput gajah (cv taiwan), namun pertumbuhannya yang cepat dapat mengalahkan rumput taiwan (BPTHMT Baturaden, 1989).

Perlakuan dolomit berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap rataan jumlah daun tanaman rumput raja dan rumput taiwan untuk pemberian dolomit D1 dari 3 MST hingga 11 MST (panen) (Lampiran 2-10). Namun untuk pemberian dolomit D2 memberikan penghitungan jumlah daun rumput yang paling rendah dibandingkan dengan dolomit D1 dan D0. Pemberian dolomit D2 diduga tidak memberikan peningkatan jumlah daun karena dosisnya yang terlalu tinggi sehingga berlebihan bagi rumput.

Pengaruh interaksi antara jenis rumput dengan dolomit sangat nyata (P<0,01) terlihat pada 5 MST, 6 MST, dan 7 MST (Lampiran 4-6) untuk rumput raja dengan pemberian D0 dan D1. Pemberian dolomit D0 dan D1 tidak terlihat perbedaan pengaruhnya, karena rumput raja masih bisa mentolerir kemasaman tanah sehingga dengan pemberian dolomit D0 tidak menurunkan rataan jumlah daun rumput raja. Pengaruh interaksi tidak nyata terhadap rumput taiwan dengan semua dosis dolomit dapat disebabkan oleh sifat rumput taiwan yang tidak responsif terhadap perlakuan dolomit.

Tinggi Vertikal

Hasil pengamatan setiap minggu menunjukan penurunan pertambahan tinggi vertikal rumput raja pada 9-11 MST (panen), sedangkan rumput taiwan pada 7-11 MST (panen). Penurunan pertambahan tinggi vertikal tanaman disebabkan karena rumput mulai memasuki fase pertumbuhan generatif. Fase pertumbuhan generatif merupakan tahap dimana tanaman akan beregenerasi yang ditandai dengan pembentukan bunga, buah, dan biji (Hindratiningrum, 2010). Hasil pengamatan menunjukan rumput mulai berbunga pada 10 MST, yang berarti rumput mulai memasuki fase generatifnya.

(32)

19 setiap minggunya terus mengalami penurunan. Perbedaan pertumbuhan tiap jenis tanaman disamping disebabkan oleh potensi genetiknya juga disebabkan oleh respon masing-masing tanaman terhadap iklim seperti jenis tanah dan kandungan air tanah, intensitas radiasi matahari, dan curah hujan (Tilman et al., 1983).

Gambar 5. Bunga Rumput

Sumber: Dokumentasi Penelitian (2012)

Jenis rumput memberikan pengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap tinggi vertikal rumput. Hasil pengamatan mingguan menunjukan rumput taiwan memiliki tinggi vertikal yang melebihi tinggi rumput raja. Hal yang sama juga dinyatakan oleh Tudsri et al. (2002) bahwa rumput taiwan memiliki batang yang relatif tinggi. Ini yang menjadi salah satu keunggulan dari rumput taiwan. Pengaruh terhadap perbedaan jenis rumput ini dapat dilihat pada 3-11 MST (Lampiran 11-19). Pada minggu terakhir pengamatan, rataan tinggi vertikal rumput taiwan 329 cm sedangkan rumput raja 287 cm.

(33)

20 Gambar 6. Perubahan Tinggi Vertikal Rumput Raja (A) dan Rumput Taiwan (B)

pada Berbagai Dosis Pemberian Dolomit

Penelitian sebelumnya oleh Zain (1998) yang menggunakan tanah latosol sebagai media penanaman rumput gajah mini menunjukan tidak ada pengaruh yang nyata terhadap perlakuan dolomit 25 ton/ha (D2). Pemberian dolomit hingga taraf D2 diduga melebihi kebutuhan tanaman sehingga tidak memberikan pengaruh terhadap jumlah daun maupun tinggi vertikal rumput.

Produktivitas Rumput

(34)

21

Produksi Daun

Perlakuan dolomit D0 memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap produksi berat segar daun rumput raja dan rumput taiwan. Pengaruh reaksi dolomit pada taraf D0 mengindikasikan bahwa reaksi dolomit (D1 dan D2) berjalan lebih lambat terhadap tanah, sehingga tidak mendukung produksi daun hingga akhir masa panen (Soepardi, 1983). Selain itu, rumput raja dan rumput taiwan masih mentolerir kemasaman tanah hingga 5,6 sehingga tanpa pemberian dolomit atau D0 rumput masih dapat berproduksi. Produksi berat segar daun rumput raja dan rumput taiwan ditampilkan pada Tabel 4.

Tabel 4. Produksi Berat Segar Daun Rumput

Dosis Dolomit Jenis Rumput Rataan

Rumput Raja Rumput Taiwan

--- (g/tanaman)---

D0 (0 ton/ha) 1120±454 1383±1067 1252±761a

D1 (12,5 ton/ha) 1043±286 533±169 788±228b

D2 (25 ton/ha) 515±105 447±135 481±120b

Rataan 893±282 788±457 840±370

Keterangan: Nilai rataan yang diikuti huruf superskrip yang tidak sama menunjukan berbeda nyata pada taraf uji 5%.

Tabel 5. Produksi Berat Kering Daun Rumput

Dosis Dolomit Jenis Rumput Rataan

Rumput Raja Rumput Taiwan

--- (g/tanaman)---

D0 (0 ton/ha) 218,1±81,8a 329,3±249,1b 273,7±165,4

D1 (12,5 ton/ha) 235,5±61,0a 123,7±36,2b 179,6±48,6

D2 (25 ton/ha) 112,7±21,0b 115,1±47,8b 113,9±34,4

Rataan 188,8±54,6 189,4±111,0 189,1±82,8

Keterangan: Nilai rataan yang diikuti huruf superskrip yang tidak sama menunjukan berbeda nyata pada taraf uji 5%.

(35)

22 D0 dan D1 berbeda nyata (P<0,05) terhadap rumput raja D2 dan rumput Taiwan D0, D1, dan D2. Walaupun rumput raja D0 dan D1 berbeda nyata terhadap perlakuan lainnya, namun rumput raja D0 dan D1 tidak berbeda nyata. Pengaruh yang diberikan oleh dolomit belum terlihat, sehingga pengaruh tanpa dan dengan dolomit terhadap berat kering rumput raja tidak tampak.

Jika dilihat dari pengamatan mingguan untuk rataan jumlah daun pada minggu terakhir pengamatan (11 MST), maka jumlah daun rumput taiwan lebih banyak. Hasil pengukuran terhadap produksi daun menunjukan rumput taiwan memiliki produksi daun yang lebih kecil. Hasil ini dapat menjadi indikator untuk mencirikan daun rumput Taiwan yang memiliki berat yang lebih kecil dibandingkan daun rumput raja untuk setiap helainya. Namun jenis rumput tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap produksi daun. Salah satu ciri tanaman yang dapat digunakan sebagai hijauan pakan adalah tanaman yang mampu menghasilkan daun yang banyak (Mansyur et al., 2005).

Produksi Batang

(36)

23 Tabel 6. Produksi Berat Segar Batang Rumput

Dosis Dolomit Jenis Rumput Rataan

Rumput Raja Rumput Taiwan

--- (g/tanaman)---

D0 (0 ton/ha) 2543±1096a 1580±347b 2062±721

D1 (12,5 ton/ha) 3450±993a 1617±510b 2533±751

D2 (25 ton/ha) 1217±292c 1057±356c 1137±324

Rataan 2403±794 1418±404 1911±599

Keterangan: Nilai rataan yang diikuti huruf superskrip yang tidak sama menunjukan berbeda nyata pada taraf uji 5%.

Pengaruh interaksi tidak terlihat untuk hasil produksi berat kering batang rumput. Dalam hal ini pengaruh dolomit yang terlihat sangat nyata (P<0,01) terhadap berat kering batang rumput. Pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa pemberian dolomit D0 dan D1 berbeda nyata (P<0,05) terhadap dolomit D2. Namun pengaruh dolomit D1 tidak berbeda nyata terhadap D0 sehingga tidak terlihat pengaruh terbaik untuk mendapatkan produksi berat kering batang rumput.

Tabel 7. Produksi Berat Kering Batang Rumput

Dosis Dolomit Jenis Rumput Rataan

Rumput Raja Rumput Taiwan

--- (g/tanaman)---

D0 (0 ton/ha) 202,5±81,0 154,3±74,9 178,4±78,0a

D1 (12,5 ton/ha) 284,5±78,6 240,7±69,9 262,6±74,3a

D2 (25 ton/ha) 118,9±34,7 155,4±58,2 137,2±46,5b

Rataan 202,0±64,8 183,5±67,7 114,9±66,3

Keterangan: Nilai rataan yang diikuti huruf superskrip yang tidak sama menunjukan berbeda nyata pada taraf uji 5%.

(37)

24

Perbandingan Produksi Berat Kering Daun dan Batang

Perbandingan produksi daun dan batang dibutuhkan karena sebagian besar konsumsi ternak adalah daun. Salah satu ciri tanaman yang dapat digunakan sebagai hijauan pakan adalah tanaman yang mampu menghasilkan daun yang banyak (Mansyur et al., 2005). Perbandingan daun dan batang rumput berdasarkan berat keringnya disajikan pada Tabel 8 dan Tabel 9. Perbandingan ini diambil berdasarkan data produksi berat kering daun dan batang pada Tabel 5 dan Tabel 7.

Tabel 8. Perbandingan Produksi Berat Kering Daun dan Batang Rumput Raja

Dosis Dolomit Produksi Perbandingan

Daun Batang Daun Batang

--- (g/tanaman) --- --- (%) ---

D0 (0 ton/ha) 218,1 202,5 51,85 48,15

D1 (12,5 ton/ha) 235,5 284,5 45,29 54,71

D2 (25 ton/ha) 112,7 118,9 48,66 51,34

Rataan 188,8 202,0 48,60 51,40

Tabel 9. Perbandingan Produksi Berat Kering Daun dan Batang Rumput Taiwan

Dosis Dolomit Produksi Perbandingan

Daun Batang Daun Batang

--- (g/tanaman) --- --- (%) ---

D0 (0 ton/ha) 329,3 154,3 68,09 31,91

D1 (12,5 ton/ha) 123,7 240,7 33,95 66,05

D2 (25 ton/ha) 115,1 155,4 42,55 57,45

Rataan 189,4 183,5 48,20 51,80

(38)

25

Produksi Berat Segar

Produksi berat segar didapatkan dari hasil akumulasi produksi berat segar daun (Tabel 4) dan batang (Tabel 6) rumput. Produksi berat segar rumput raja dan rumput taiwan ditampilkan pada Tabel 10.

Tabel 10. Produksi Berat Segar Rumput

Dosis Dolomit Jenis Rumput Rataan

Rumput Raja Rumput Taiwan

--- (g/tanaman) ---

D0 (0 ton/ha) 3663±1548a 2963±770a 3313±1159

D1 (12,5 ton/ha) 4493±1237a 2150±679b 3322±958

D2 (25 ton/ha) 1732±394b 1503±490b 1618±442

Rataan 3296±1060 2206±646 2751±853

Keterangan: Nilai rataan yang diikuti huruf superskrip yang tidak sama menunjukan berbeda nyata pada taraf uji 5%.

Interaksi antara jenis rumput dengan pemberian dolomit memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap berat segar rumput. Rumput raja D0 dan D1 serta rumput Taiwan D0 berbeda nyata (P<0,05) terhadap rumput raja D2 dan rumput taiwan D1 dan D2. Sama halnya untuk produksi berat segar daun dan berat segar batang rumput raja perlakuan dolomit D0 dan D1 juga lebih tinggi. Namun, antara pemberian dolomit D0 dengan D1 tidak berbeda nyata sehingga pemberian dolomit tidak telihat. Pengaruh pemberian dolomit belum terlihat karena masa penanaman hanya untuk satu kali panen sehingga dolomit belum memberikan reaksi yang maksimal terhadap rumput.

Pada rumput taiwan, berat segar semakin menurun dengan bertambahnya dosis dolomit. Pemberian dolomit D0 berbeda nyata (P<0,05) terhadap dolomit D1 dan D2. Pemberian dolomit D1 dan D2 tidak berbeda nyata terhadap hasil produksi berat segar rumput taiwan. Penurunan jumlah produksi berat segar dapat disebabkan karena tanaman kurang responsif terhadap perlakuan dolomit yang diberikan dan karena masa penanaman yang terlalu pendek.

(39)

26 memberi pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap produksi berat segar rumput. Peningkatan interval pemotongan juga akan meningkatkan hasil panen untuk semua jenis rumput, namun tidak sama halnya untuk protein kasar. Peningkatan interval pemotongan dapat berakibat pada penurunan konsentrasi protein kasar di daun dan batang (Tudsri et al., 2002).

Pemberian dolomit pada tanah yang bersifat masam dalam kasus ini adalah tanah latosol, memberikan nilai ekonomis yang baik. Pemberian dolomit pada awal penanaman selama tahun pertama dan kedua setelah pemberian, mampu mempertahankan keseimbangan pH tanah sehingga tidak bersifat masam. Selain daripada itu, dua tahun awal pemberian dolomit dapat meningkatkan produksi panen rumput. Setelah itu produksi akan menurun, sehingga dibutuhkan pemberian dolomit dan pupuk lainnya untuk menyediakan kebutuhan mineral rumput (Couto et al., 1991; Wheeler, 1998; Brown et al., 2008).

Produksi Berat Kering

Produksi berat kering didapatkan dari hasil akumulasi produksi berat kering daun (Tabel 5) dan batang (Tabel 7) rumput. Persentase produksi berat kering rumput raja dari D0, D1, dan D2 berturut-turut adalah 11,48%, 11,57%, dan 13,37%. Persentase produksi berat kering rumput taiwan D0, D1, dan D2 berturut-turut adalah 16,32%, 16,96%, dan 18,00%. Hasil persentase dari berat segar ke berat kering pada rumput raja dan rumput taiwan mengalami peningkatan dengan adanya perlakuan dolomit. Pemberian dolomit D0 dan D1 berbeda nyata (P<0,05) terhadap dolomit D2.

Pengaruh pemberian dolomit D0 dengan D1 tidak nyata, seperti yang

dikemukakan oleh Carvalho et al. (2000) bahwa pemberian kapur tidak

mempengaruhi produksi berat kering rumput, walaupun terjadi perubahan dari sifat kimia tanah. Rumput yang digunakan adalah Imperata brasiliensis Trin. dan

(40)

27 Tabel 11. Produksi Berat Kering Rumput

Dosis Dolomit Jenis Rumput Rataan

Rumput Raja Rumput Taiwan

--- (g/tanaman) ---

D0 (0 ton/ha) 420,6±160,3 483,7±263,0 452,1±211,6a

D1 (12,5 ton/ha) 520,0±138,9 364,4±105,9 442,2±122,4a

D2 (25 ton/ha) 231,5±55,3 270,5±105,5 251,0±80,4b

Rataan 390,7±118,2 372,9±158,1 381,8±138,1

Keterangan: Nilai rataan yang diikuti huruf superskrip yang tidak sama menunjukan berbeda nyata pada taraf uji 5%.

Pengaruh perlakuan dolomit yaitu D2 memberikan pengaruh yang terendah terhadap berat kering rumput. Penyebabnya diduga karena perlakuan dolomit D1 sudah mencukupi kebutuhan rumput, sehingga perlakuan dolomit D2 yang mana dosisnya dua kali lipat dari D1 diduga berlebihan. Pemberian dolomit yang berlebihan dapat mengganggu ketersediaan dan serapan unsur lainnya seperti fosfor dan boron yang berdampak pada terganggunya metabolisme tanaman serta kekurangan besi, mangan, tembaga, dan seng (Soepardi, 1983). Alasan lainnya adalah respon dari tanaman terhadap dolomit dan juga kebutuhan mineral lain yang dibutuhkan bagi rumput tidak dapat disediakan oleh dolomit (Carvalho et al., 2000).

Kebutuhan rumput akan unsur lainnya dapat mempengaruhi produksi rumput. Diperlukan penambahan pupuk lainnya (TSP, KCl) yang dapat membantu dolomit untuk menyediakan unsur-unsur penting lainnya yang dibutuhkan oleh rumput. Penelitian sebelumnya oleh Zein et al. (1993) terhadap rumput raja yang ditanam pada tanah latosol dengan menggunakan dolomit dan urea, sangat nyata (P<0,01) meningkatkan rata-rata produksi bahan kering rumput raja. Penggunaan pupuk TSP dan KCl sebagai pupuk dasar juga dapat berperan terhadap peningkatan produksi berat kering, seperti yang ditunjukan pada penelitian Zain (1998) pengaruh perlakuan tanpa dan dengan menggunakan dolomit memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap produksi berat kering rumput gajah mini.

(41)

28 dibandingkan dengan umur tua. Semakin tua umur rumput, kandungan serat kasarnya akan semakin tinggi yang menyebabkan kandungan air semakin rendah. Menurut Prawirawinata et al. (1981) umur tanaman dapat mempengaruhi kandungan air tanaman, kandungan bahan kering semakin meningkat seiring dengan semakin tua umur tanaman.

Kualitas Rumput

Kualitas rumput dapat diukur dari kandungan zat nutrisinya. Menurut Hindratiningrum (2010) kualitas hijauan yang terbaik adalah pada akhir fase vegetatif atau menjelang fase generatif (reproduktif). Pengukuran kualitas rumput dapat dilakukan menggunakan bagian daun rumput. Penggunaan daun sebagai penentu kualitas didasarkan pada reaksi fotosintesis yang berlangsung di daun, sehingga kandungan nutrisinya lebih banyak terdapat di daun (Polakitan dan Kairupan, 2009).

Protein Kasar

Interaksi jenis rumput dengan dolomit memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap protein kasar rumput. Hasil analisis menyatakan bahwa rumput Taiwan untuk semua perlakuan dolomit berbeda nyata (P<0,05) terhadap rumput raja untuk semua perlakuan dolomit. Protein kasar rumput raja (13,5%) (Hendrawan, 2002) lebih tinggi daripada rumput taiwan (10,85%) (Manurung et al., 2001). Pemberian dolomit berhasil meningkatkan protein kasar rumput taiwan. Selain itu, rumput taiwan juga memberikan respon terhadap pemberian dolomit untuk meningkatkan protein kasarnya.

Rendahnya protein kasar rumput raja bila dibandingkan dengan hasil analisis protein kasar oleh Hendrawan (2002) yaitu 13,5% berhubungan dengan waktu pemotongan rumput. Rumput yang sudah memasuki fase generatifnya akan menurun protein kasarnya. Pemotongan hijauan rumput yang terbaik adalah pada saat fase

vegetatif (Siregar, 1989) atau menjelang fase generatif (reproduktif)

(42)

29 Tabel 12. Protein Kasar Daun

Dosis Dolomit Jenis Rumput Rataan

Rumput Raja Rumput Taiwan

Keterangan: Nilai rataan yang diikuti huruf superskrip yang tidak sama menunjukan berbeda nyata pada taraf uji 5%.

Hasil Analisis Laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (2012)

Serat Kasar

Interaksi antara jenis rumput dengan pemberian dolomit memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap serat kasar daun rumput. Serat kasar daun seperti yang ditampilkan pada Tabel 13 menunjukan rumput raja D0 dan D1 berbeda nyata (P<0,05) terhadap rumput raja D2 dan rumput taiwan D0, D1, dan D2. Rumput raja memberikan respon terhadap pemberian dolomit, namun untuk pemberian dolomit D0 dan D1 tidak berbeda nyata sehingga tidak terlihat pengaruh dolomit jika dibandingkan D0 dengan D1.

Tabel 13. Serat Kasar Daun

Dosis Dolomit Jenis Rumput Rataan

Rumput Raja Rumput Taiwan

--- (%) ---

D0 (0 ton/ha) 27,70±0,69a 25,45±0,60b 26,58±0,64

D1 (12,5 ton/ha) 27,78±0,58a 24,62±0,79b 26,20±0,68

D2 (25 ton/ha) 25,06±1,72b 25,90±0,76b 25,48±1,24

Rataan 26,85±1,00 25,33±0,72 26,09±0,86

Keterangan: Nilai rataan yang diikuti huruf superskrip yang tidak sama menunjukan berbeda nyata pada taraf uji 5%.

Hasil Analisis Laboratorium Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati dan Bioteknologi, Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat, Institut Pertanian Bogor (2012)

(43)

30 memasuki fase generatif yaitu pada 10 MST, sehingga terjadi peningkatan serat kasar daun. Serat kasar erat hubungannya dengan umur tanaman. Semakin tua umur tanaman, maka serat kasar akan meningkat. Nilai serat kasar ini akan berbanding terbalik dengan protein kasar. Jika serat kasar meningkat, maka protein kasar tanaman akan menurun dan begitu pula sebaliknya (Hindratiningrum, 2010).

Kandungan Kalsium (Ca)

Dolomit merupakan kapur yang mengandung kalsium dan magnesium dengan rumus kimia CaMg(CO3)2. Dolomit dapat memperbaiki kemasaman tanah

serta menekan jumlah aluminium (Al) dalam tanah sehingga dalam jumlah yang tidak meracuni tanaman. Hasil analisis tanah yang telah dilakukan pH tanah latosol sebesar 5,59 dengan kandungan aluminium sebesar 0,03 me/100 g. Nilai pH tanah ini bersifat masam, namun untuk kandungan aluminium sangat rendah sehingga tidak bersifat racun bagi tanaman. Selain untuk meningkatkan pH tanah, dolomit juga digunakan untuk meningkatkan kandungan kalsium dan magnesium tanah.

Pengecekan pH akhir juga dilakukan setelah panen. Untuk masing-masing perlakuan D0, D1, dan D2 nilai pH-nya adalah 6,09, 6,70, dan 7,28. Hasil analisis pH tanah menunjukan adanya peningkatan pH tanah dengan adanya pemberian dolomit. Hasil penelitian sebelumnya juga menunjukan pemberian dolomit berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap pH H20, P tersedia, Ca-dd, Mg-dd, dan Zn serta

sangat nyata (P<0,01) menurunkan Al-dd, Mn, dan serapan K (Sarkad, 1986). Hasil yang didapat membuktikan dolomit berhasil mengurangi kemasaman tanah.

Jika dilihat dari hasil analisis tanah, kandungan mineral kalsium tanah latosol setelah pemberian dolomit adalah 9,38 me/100 g. Kandungan kalsium tanah latosol ini bila dibandingkan dari hasil analisis tanah latosol tanpa pemberian dolomit oleh Feniara (1999) yaitu 2,10 me/100 g sangat meningkat.

(44)

31 pemberian dolomit pada taraf D2 dinilai berlebihan, akan tetapi untuk peningkatan kandungan kalsium memberikan pengaruh yang baik untuk kedua jenis rumput. Banyaknya jumlah kalsium yang tersedia dari dolomit untuk taraf dolomit D2 memudahkan akar untuk menyerap kalsium lebih banyak.

Hasil analisis kandungan kalsium daun yang tersaji pada Tabel 14 memperlihatkan bahwa rumput taiwan sangat respon terhadap keberadaan kalsium sehingga kandungan kalsium rumput taiwan lebih tinggi daripada rumput raja. Berdasarkan hasil ini dapat dimungkinkan sebagai pertimbangan pengembangan rumput taiwan di Indonesia sebagai salah satu hijauan pakan secara komersil. Rumput dengan kandungan kalsium yang tinggi dapat digunakan sebagai hijauan pakan khususnya untuk ternak perah.

Tabel 14. Kandungan Kalsium Daun

Dosis Dolomit Jenis Rumput Rataan

Rumput Raja Rumput Taiwan

--- (%) ---

D0 (0 ton/ha) 0,103±0,012b 0,120±0,006a 0,111±0,009

D1 (12,5 ton/ha) 0,097±0,007b 0,137±0,003a 0,117±0,005

D2 (25 ton/ha) 0,123±0,009a 0,133±0,013a 0,128±0,011

Rataan 0,108±0,009 0,130±0,007 0,119±0,008

Keterangan: Nilai rataan yang diikuti huruf superskrip yang tidak sama menunjukan berbeda nyata pada taraf uji 1%

Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan (2012)

Kandungan Magnesium (Mg)

(45)

32 Interaksi antara jenis rumput dengan pemberian dolomit memberikan pengaruh yang sangat nyata (P<0,01) terhadap kandungan magnesium daun rumput. Rumput raja untuk semua perlakuan dolomit berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap rumput taiwan untuk semua perlakuan dolomit. Rumput raja mampu menyerap ketersediaan magnesium oleh dolomit lebih cepat, sehingga kandungan magnesium daunnya lebih tinggi. Hasil yang didapat untuk perlakuan dolomit D0, D1, dan D2 tidak berbeda nyata. Tidak adanya perbedaan perlakuan tanpa (D0) dan dengan pemberian dolomit (D1 dan D2) untuk kedua jenis rumput dikarenakan akar belum menyerap magnesium sepenuhnya, sehingga kandungan magnesiumnya tidak berbeda nyata. Kandungan magnesium daun ditampilkan pada Tabel 15.

Tabel 15. Kandungan Magnesium Daun

Dosis Dolomit Jenis Rumput Rataan

Rumput Raja Rumput Taiwan

--- (%) ---

D0 (0 ton/ha) 0,100±0,045a 0,057±0,047b 0,078±0,046

D1 (12,5 ton/ha) 0,143±0,007a 0,020±0,000b 0,081±0,003

D2 (25 ton/ha) 0,093±0,037a 0,020±0,000b 0,056±0,018

Rataan 0,112±0,030 0,032±0,016 0,072±0,022

Keterangan: Nilai rataan yang diikuti huruf superskrip yang tidak sama menunjukan berbeda nyata pada taraf uji 1%

Hasil Analisis Laboratorium Nutrisi Ternak Perah, Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan (2012)

Reaksi dolomit yang lambat menyebabkan lamanya proses penyerapan akar terhadap magnesium. Alternatif untuk pemberian dolomit pada tanah adalah pemberian dolomit yang umumnya diaplikasikan pada daerah permukaan tanah saja, sebaiknya diberi lebih dalam mendekati zona akar agar lebih efektif dan mempercepat penyerapan mineral oleh akar (Yost dan Ares, 2007).

(46)

33

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Pemberian dolomit pada tanah latosol dengan kandungan Al 0,03 me/100 g yang diberikan pupuk dasar kotoran ternak terhadap rumput raja dan rumput Taiwan memberikan peningkatan produktivitas dan kualitas rumput. Rumput raja unggul dalam produksi daun dan batang serta kandungan magnesium, sedangkan rumput taiwan unggul dalam kandungan kalsium.

Saran

(47)

34

UCAPAN TERIMA KASIH

Penulis memanjatkan segala puji dan syukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena atas berkat dan kuasa-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Terima kasih Bapa untuk kekuatan dan kesabaran yang diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini tepat pada waktunya.

Terima kasih penulis sampaikan kepada Bapak Ir. Asep Tata Permana, M.Sc. dan Bapak Ir. M. Agus Setiana, MS selaku dosen pembimbing yang telah banyak meluangkan waktunya untuk memberikan arahan serta bimbingan kepada penulis dalam pelaksanaan penelitian hingga penyusunan skripsi ini terselesaikan. Kepada dosen penguji seminar Bapak Iwan Prihantoro, S.Pt M.Si. dan dosen penguji sidang Bapak Dr. Ir. Jajat Jahcja Fahmi Arief, M.Agr. dan Bapak Bramada Winiar Putra, S.Pt. terima kasih atas masukan-masukan yang diberikan untuk penulisan skripsi ini serta kepada Ibu Ir. Lidy Herawati, MS selaku panitia seminar dan Ibu Ir. Widya Hermana, M.Si. selaku panitia sidang.

(48)

35

DAFTAR PUSTAKA

[AOAC] Association of Official Analytical Chemist. 1980. Official Method of

Analysis of The Association of Official Analytical of Chemist. The Association of Official Analytical Chemist, Inc., Arlington.

Balai Penelitian Ternak dan Hijauan Makanan Ternak Baturaden. 1989. King grass. Direktorat Bina Produksi Peternakan. Direktorat Jenderal Peternakan Baturaden, Baturaden.

Brown, T. T., R. T. Koenig, D. R. Huggins, J. B. Harsh, & R. R. Rossi. 2008. Lime effects on soil acidity, crop yield and aluminium chemistry in direct-seeded cropping systems. Journal Soil Science Society of America 72 (3): 634-640. Carvalho, M. M., D. F. Xavier, V. de Paula Freitas, & R. da Silva Verneque. 2000.

Soil acidity correction and control of Sapé-grass. Rev. bras. Zootec. 29 (1): 33-39.

Couto, W., G. G. Leite, & C. Sanzonowicz. 1991. Response of andropogon grass to P fertilizers and lime in a dark-red latosol of the cerrados. Pesq. Agropec. Brasilia 26 (3): 297-304.

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Bidang Produksi Peternakan. 2010. Budidaya rumput Taiwan (Pennisetum purpureum Schumach). Pemerintah

Provinsi Lampung.

http://disnakkeswan.lampungprov.go.id/brosur/leafletGP.pdf [11 Februari 2012].

Feniara. 2001. Efektivitas cendawan mikoriza arbuskula (CMA), pupuk P dan N terhadap pertumbuhan dan produksi rumput gajah (Pennisetum purpureum

Schum). Skripsi. Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor. Hardjowigeno, S. 1995. Ilmu Tanah. Akademika Presindo, Jakarta.

Harjanti, R. S. 2009. Pengujian efektivitas bahan pembenah tanah dolomit untuk tanah masam. Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Hindratiningrum, N. 2010. Produksi dan kualitas hijauan rumput Meksiko. Jurnal Ilmiah Inkoma 21 (3): 111-122.

Kidd, P. S. & J. Proctor. 2001. Why plants grow poorly on very acid soils: are ecologists missing the obvious?. Journal of Experimental Botany 52 (357): 791-799.

Kushartono, B. 1997. Teknik penanaman rumput raja (king grass) berdasarkan prinsip penanaman tebu. Lokakarya Fungsional Non Peneliti 1997. Balai Penelitian Ternak Ciawi, Bogor.

(49)

36 Leiwakabessy, F. & A. Sutandi. 2004. Pupuk dan Pemupukan. Jurusan Tanah,

Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Lukiwati, D. R., N. Nurhidayat, C. A. H. Wibowo, & J. B. T. Nurdewanto. 2005. Peningkatan produksi dan nilai nutrisi hijauan Pueraria phaseoloides oleh pemupukan fosfor dalam suspensi fermentasi Acetobacter- Saccharomyces.

Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Indonesia 7 (2): 82-86.

Mansyur, Nyimas, P. Indrani, I. Susilowati, & T. Dhalalika. 2005. Pertumbuhan dan produktivitas tanaman pakan di bawah naungan perkebunan pisang. Prosiding Lokakarya Tanaman Pakan Ternak. Bogor, 16 September 2005. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Litbang Pertanian.

Manurung, T., Sajimin, B. R. Prawiradiputra, Nurhayati, E. Sutedi, S. Yuhaeni, & Sumarto. 2001. Uji palatabilitas dan kecernaan plasma nutfah tanaman pakan ternak untuk seleksi lebih lanjut. Laporan Tahunan T.A. 2001. Balitnak Ciawi, Bogor.

Mattjik, A. A. & I. M. Sumertajaya. 2006. Perancangan Percobaan: dengan Aplikasi SAS dan MINITAB. IPB Press, Bogor.

Nurhayu, A., A. Saenab, & M. Sariubang. 2009. Introduksi beberapa jenis rumput dan leguminosa unggul sebagai penyedia hijauan pakan pada lahan kering dataran rendah di Kabupaten Pinrang. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009, Makasar. Hal 733-738.

PNPM Agribisnis Perdesaan (SADI) Nusa Tenggara Timur. 2009. Hijauan pakan

ternak: rumput gajah.

http://nusataniterpadu.wordpress.com/2009/02/17/hijauan-ternak-rumput-gajah/ [9 Oktober 2011].

Polakitan, D. & A. Kairupan. 2009. Pertumbuhan dan produktivitas rumput gajah dwarf (Pennisetum purpureum cv Mott) pada umur potong berbeda. Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, Mendukung Program Pembangunan Pertanian Propinsi Sulawesi Utara. Hal 427-436.

Prawirawinata, W., S. Harran, & Tjondronegoro. 1981. Dasar-dasar Fisiologi Tumbuhan. Diktat Kuliah. Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Prihandoko, A. 2009. Sifat fisik kulit samak khrom domba ekor gemuk dan domba ekor tipis awet garam. Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Reitz, L. L., W. H. Smith, & M. P. 1960. Analytical Chemistry. Plumlee, Animal Science Department, Purdue University, West Lafayette, Ind.

Gambar

Tabel 1. Kandungan Nutrien Rumput Raja
Tabel 3. Hasil Analisis Tanah Latosol
Gambar 4. Perubahan Jumlah Daun Rumput Raja (A) dan Rumput Taiwan (B) pada
Gambar 5. Bunga Rumput
+7

Referensi

Dokumen terkait

Untuk pinjaman yang diberikan dan piutang yang dicatat pada biaya perolehan diamortisasi, Perusahaan terlebih dahulu menentukan apakah terdapat bukti obyektif mengenai

Pada percobaan menggunakan mem- bran Ultrafiltrasi, terjadi penurunan yang nyata terhadap nilai bilangan asam (10,61 %) dibandingkan dengan proses wet degumming maupun

Responden yang menjawab tidak ada perbaikan dalam pelayanan sampah beranggapan bahwa fasilitas yang diberikanbank sampah masih belum cukup memadai untuk menampung semua

Harga jual yang menjadi prioritas dalam penelitian ini adalah subkriteria pada kriteria pendapatan yang utama untuk menjadi perhatian dalam pengembangan usahatani mina padi

Berdasarkan hasil sidik ragam, perlakuan waktu pemberian bokashi (B) berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman umur 15 hari, umur 30 hari, umur 45 hari,

Kegiatan company visit merupakan bagian integral dari kurikulum Program Studi MM UPN &#34;Veteran&#34; Jakarta, wajib diikuti oleh setiap mahasiswa. Sebagai bagian dari

Kondisi kemiskinan masyarakat di Desa Manukan pada saat ini sudah cukup berkurang karena dilihat dari kon- disi tempat tinggal yang sudah layak dan tingkat pendidikan

Wulan (mbak hefek), Mohammad Romadhani (mas dani), Ratna Yulia Sari (na’e) yang tak hentinya memberikan semangat, motivasi, dan doa yang luar biasa sehingga saya